CIAUW CONG pindahkan pedangnya ketangan kiri, tangan itu dia gunakan untuk menyampok pergi datang semua senjata rahasia yang kecildua. Sedang tangannya kanan tak putus-putus menyang gapi kemudian mengembalikan senjata-nyata rahasia yang agak besaran.
Tiba-tiba dia kaget menampak ada semaCam senjata yang berlegat-legot melunCur dari udara akan menyambar mu kanya. Kuatir senjata itu beraCun, Ciauw Cong tak berani memegang kepalanya tapi menyemput ekornya. Dia tak mengira kalau „naga” itu bagaikan naga hidup saja. Begitu tangan Ciauw Cong menyawut, benda itu berputar kembali terus melayang balik kepada tuannya, siapa segera menyam-butinya lagi dan lalu menyambitkannya pula.
Bukan main terkejutnya Ciauw Cong. Kini dia tak mau” menyang gapi dan hanya akan memakai pedangnya untuk menyampok. Tapi tiba-tiba dari arah kanan dan kiri, dua buah „hui-yan-gin” menyambarnya. Buru-buru Ciauw Cong enyot kaki loncat tinggi-tinggi sehingga kedua senjata itu menemui tempat kosong. Tapi diluar dugaan, begitu mengenai tanah, hui-yan-gin itu membal keatas menyambar pada Ciauw Cong. Karena tak keburu berkelit, Ciauw Cong kerahkan lwekangnya dan berhasil menyambutinya yang sebuah. Tapi yang sebuah lagi, tak keburu dihindarinya dan menyusup kedalam pahanya.
Melihat lawannya terluka Tio Pan San memburu untuk menikamnya lagi. Untuk itu, Ciauw Cong gunakan pedangnya. Karena tahu bahwa dia berhadapan dengan pokiam, Pan San mengegoskan tubuh, hingga pedangnya menempel disisih pedang musuh. Dia gunakan ilmu „menyedot” dari Thay Kek Kiam, hingga pedang Ciauw Cong tertarik kesamping.
Atas gerakan itu, tersentaklah hati Ciauw Cong. Semula dia akan gunakan kepandaiannya yang menggetarkan setiap orang itu untuk menundukkan lawan, tak tahunya malah pahanya terluka senjata musuhnya. Melihat gelagat jelek, dia tak mau melanyutkan pertempuran lebih lama lagi. Dia menatap kearah Kawan-kawan nya, tapi ternyata rombongan si-wi sudah ter-biritdua lari. Begitu pula kereta tawanan, pun sudah direbut musuh.
Karena gelisah, dia desak musuh dengan tiga kali serangan. Begitu orang mundur, dia Cabut senjata rahasia yang me nanCap dipahanya, terus ditimpukkan pada lawan. Pan San tundukkan kepalanya untuk menghindar, tapi saat itu telah digunakan oleh Ciauw Cong untuk memburu kearah kereta tawanan. Sewaktu melihat Ciauw Cong terluka, Lou Ping me-naridua karena riangnya.
„Sipsu-tee Hi Tong bagaimana? Dia terluka berat apa tidak?” tanya Bun Thay Lay.
„Siapa? Sipsu-tee, dia terluka?” sahut sang isteri.
Belum ucapannya itu habis, Ciauw Cong menyerbu kedalam kereta. Dan berbareng dengan itu, Lou Ping menyerit kaget, karena sepasang goloknya terpental disampok Ciauw Cong, jatuh dimuka kereta. Rombongan orang-orang HONG HWA HWE segera mengepung kereta itu. Ciu Tiong Ing lantas menyeli nap kemuka dan tegakkan goloknya besar untuk menghadang.
„Bagus, manusia semaCam kau berani datang ke Thiat-kee-Chung untuk mengambil orang. Betul-betul kau tak pandang mata pada lohu ini. Tidakkah kau mengerti akan aturan kangouw atau bu-lim?” teriak orang tua itu segera.
Melihat yang berdiri dihadapannya seorang tua yang berjenggot putih dan gagah sikapnya, tahulah Ciauw Cong bahwa dialah tentu ketua dari kaum persilatan daerah barat laut si Thiat-tan Ciu Tiong Ing. Dia tak mau berlaku ajal lagi terus menikamnya.
Tiong Ing Cepat-cepat balikkan goloknya, untuk menangkis serangan musuh dengan gigir golok. Gerakan pedang Ciauw Cong linCah dan keras. Begitu dia tarik ujung pedang, gigir golok musuh telah tergurat beberapa dim dalamnya.
Berbareng pada saat itu, Ciu Ki, Ciang Bongkok, Ji Thian Hong dan kedua persaudaraan Siang dengan menghunus senjatanya masing-masing telah berbareng menyerbu pada Ciauw Cong.
Dengan gerakan „hun-heng Cin-nia,” mega menghalang punCak gunung Cin-nia, Ciauw Cong putar pedangnya ling-bik-kiam hingga merupakan suatu lingkaran. Karena jerih dengan pokiamnya, orang-orang HONG HWA HWE itu sama menarik senjatanya.
Ciauw Cong memilih lawan yang terlemah, jakni menyerbu pada Ciu Ki. Nona ini Buru-buru angkat goloknya untuk menabas kepala orang, tapi gerakan Ciauw Cong lebih sebat. Tangannya kiri memegang pergelangan tangan sinona dan dilain saat golok sinona sudah dapat direbut.
Melihat itu, tak terkira terkejutnya Tiong Ing. SeCepat-cepat itu juga, kedua thiat-tannya telah susul menyusul menghantam punggung Ciauw Cong. Dan berbareng pada saat itu juga, Tan Keh Lok telah melepas tiga butir biji Catur kearah „jwan-ma,” „Kwan-gwan” dan „Ciok-ti” tiga jalan darah yang berbahaja.
Sampai disini kederlah hati Ciauw Cong. Dia tergetar melihat bagaimana dalam gelap itu, musuh dapat menyambit kearah jalan- darah, maka Cepat-cepat dia putar leng-bik-kiam-nya untuk menyampok ketiga biji Catur itu.
Tapi pada detik itu, gembolan Tiong Ing sudah menyambar datang. Cepat-cepat dia putar tubuhnya untuk menyang gapi gembolan yang datang pertama. Tapi tidak tahunya gembolan kedua yang datang belakangan malah menimpah tepat di dadanya.
Tiong Ing dapat meng'angkat nama karena mengandel dengan thiat-tannya itu. Dia mempunyai suatu gerakan yang istimewa. Yaitu gembolan yang dihantamkan lebih dulu gerakannya pelan, dan menyusul belakangan malah lebih keras dan Cepat-cepat . Karena itulah kebanyak-banyakan, musuh tak mengira sama sekali. Begitu pun Ciauw Cong, seketika dia rasakan dadanya sesak dan sakit sekali sampai tubuhnyapun menjadi tergetar. Dengan menahan napas, dia kibaskan kedua tangannya untuk menolak Ciang Bongkok dan Ji Thian Hong, dan dari situ terus lari kearah kereta.
Lou Ping hendak menyambut dengan golok panyang . Tapi sekali tangkis, goloknya itu telah terpapas kutung oleh poo-kiam Ciauw Cong, siapa meneruskan gerakannya loncat keatas dan menCengkeram pundak Lou Ping. Dengan Ceng keraman baja itu, Lou Ping tak kuasa menggerakkan goloknya pendek lagi. Namun ia masih dapat tamparkan tangannya kiri untuk menyotos muka lawannya.
Orang-orang HONG HWA HWE kaget dan kuatir, mereka berbareng datang menolong. Tapi seCepat-cepat itu, Ciauw Cong telah lemparkan Lou Ping kearah kedua saudara Siang dan Tiong Ing. Sudah tentu mereka dengan gugup menyang gapinya, karena kuatir jangandua Lou Ping sampai terluka.
Tiba-tiba Ciauw Cong kedengaran menggerung. Punggung nya kena dihantam Bun Thay Lay sekali. Syukur bugenya sempurna, dan Bun Thay Lay masih dalam keadaan sakit, jadi tenaganya sangat berkurang, kalau tidak tentu remuklah sudah jerohan orang she Thio itu. Sekalipun begitu, sakitnya bukan kepalang. Dan justeru hantaman kedua dari Bun Thay Lay menyambar datang lagi, karena tak keburu berkelit, Ciauw Cong Buru-buru tarik selimut yang dipakai orang untuk membungkus kepala Bun Thay Lay, dengan itu dia pakai untuk merangkum tangan Bun Thay Lay. Menyusul tangannya diulur untuk notok jalan darah tawanannya yang seketika itu segera pingsan tak dapat berkutik.
Dengan menyeret Bun Thay Lay kemuka kereta, berserulah Ciauw Cong :
"Bun Thay Lay berada dalam tanganku, siapa yang berani maju, tentu lebih dulu kubunuh saudaramu ini !”
Untuk membuktikan anCamannya, Ciauw Cong tandaskan pokiamnya kebatang leher tawanannya.
„Koko!” Lou Ping menyerit seraja menubruk maju, tapi keburu ditarik oleh Hwi Ching.
Sedang ketika habis mengucap itu, Ciauw Cong rasakan mulutnya terasa anyir, dan sekali batuk, dia muntahkan darah segar.
„Ciauw Cong, kau masih kenal aku apa tidak?” demikian seru Hwi Ching tiba-tiba sambil tampil kemuka.
Ciauw Cong sudah lama berpisah dengan suhengnya itu, apa lagi malam itu gelap, jadi tak dapat dia segera me ngenalnya: Hwi Ching Cabut pek-liongkiamnya,” ujungnya ditekuk sampai mengenai tangkainya, kemudian dilepaskan
HALAMAN YG HILANG
"Wi kiuko, Ciang sipsamko, Beng toako, An toako, kau serbulah kawanan serdadu-itu!” tiba-tiba Tan Keh Lok mem beri perintah segera juga Wi Jun Hwa dan lain-lain. lakukan pe rintah itu.
Berbareng pada saat itu, seorang pemuda tiba-tiba tampil dari belakang Hwi Ching dan berseru : "Aku juga ikut !”
Dan tanpa menunggu sahutan, ia terus mengikuti rom bongan penyerbu itu. Tan Keh Lok tampak mengangkat alis dan bersenyum. Kiranya dialah Li Wan Ci, murid Hwi Ching, yang menyaru sebagai lelaki itu.
Ketika Hwi Ching tinggal dibelakang untuk menyaga kemungkinan pembalasan dari Go Kok Tong cs, dia telah berjumpa dengan muridnya. Karena beberapa hari itu ia saksikan pertempuran yang menarik, maka setengah me maksa Wan Ci minta ikut suhunya. Apa boleh buat, Hwi Ching lebih dulu menyuruhnya berjanyi takkan bertindak sembarangan sebelum mendapat ijin dari suhunya, baru setelah itu diajaknyalah ia.
Begitulah Wan Ci tinggalkan sepuCuk surat kepada Li thay-thay, menerangkan bahwa ia akan berangkat ke Hang-Ciu lebih dulu, untuk menemui ayahnya. Dan ketika suhu dan murid berdua ini tiba justeru pertempuran antara orang HONG HWA HWE dan Ciauw Cong sedang berlangsung. Hwi Cing melarangnya ikutsan, sudah barang tentu gadis itu menjadi kurang senang. Maka begitu Wi Jun Hwa dipe rintahkan menyerbu, tanpa menghiraukan apa-apa, ia terus ikut saja.
Sementara itu Keh Lok memberi beberapa pesanan pula pada kawan^nya, mereka sama mengiakannya. Segera Tio Pan San melompat maju, sekali tangan mengibas, dua buah pa nah telah menancap pada sepasang mata keledai yang menarik kereta Ciauw Cong. Dengan bebenger keras, binatang itu binal dan me-lonyakdua keatas.
Ciang. Bongkok berlari maju menuju kebelakang kereta. Dengan sekuat-kuatnya dia tarik kereta itu hingga tak dapat berjalan lebih lanyut. Siang He Ci dan Siang Pek Ci berdua berada disebelah kanan dan kiri kereta. Mereka menyerang Ciauw Cong dengan senjatanya. Dan ketika Ciauw Cong menangkis, Seng Hiap membarengi loncat kedalam kereta untuk merampas Bun Thay Lay.
Cepat-cepat Ciauw Cong menghantamnya, tapi Seng Hiap telah miringkan tubuh, gunakan pundaknya untuk menerima pu kulan lawan, lalu dengan nekad dia membopong Bun Thay Lay. Untuk melindungi Seng Hiap dari hajaran Ciauw Cong lebih jauh, maka Bu Tim dan Thian Hong menobros masuk dari belakang dan terus menyerang pung gung Ciauw Cong. Sedang Tan Keh Lok ajak Sim Hi loncat keatas kereta, dari situ mereka membungkukkan badan untuk menghantam kebawah. Jadi kini Ciauw Cong diserang dari semua jurusan, kanan kiri, muka belakang dan atas.
Melihat Seng Hiap dapat menerima pukulannya dengan tak merasa apa-apa, terkejutlah Ciauw Cong. Dia duga anak muda itu punya ilmu thiat-po-san. Ketika Seng Hiap nekad merampas Bun Thay Lay, Ciauw Cong jambak punggung bajunya dengan tangan kiri, sedang tangannya kanan dia pakai untuk menangkis serangan kedua persaudaraan Siang. Sehabis itu, dia empos semangatnya untuk melemparkan tubuh Seng Hiap yang besar itu keluar kereta.
Hwe-Chiu-poan-koan Thio Ciauw Cong seakan-akan ber mata enam, bertelinga delapan. Dalam keadaan yang genting itu, tetap dia masih dapat mendengar samberan senjata dari atas pajon dan dari belakang kereta.
SeCepat-cepat dia Condongkan tubuh kemuka sembari men dongak, tangan kirinya sudah menyemput serangkum 'hu-yong-Ciam'. Dan dengan miringkan tubuh, dia segera tawur kan jarumdua itu kepajon dan belakang kereta.
Tan Keh Lok yang mengerti bahwa musuh tentu melepaskan senjata rahasia, Buru-buru hadangkan tun-Painya kemuka. Tidak demikian dengan Sim Hi yang terus menyerit dan melorot turun ketanah. Buru-buru Tan Keh Lok loncat kebawah untuk memeriksanya.
Sehabis itu, Ciauw Cong ganti mengarah kebelakang kereta. Tapi dengan sebat luar biasa, Bu Tim telah buang dirinya keluar untuk mendahului samberan hu-yong-Ciam. Karena tak .sesebat itu, Thian Hong Coba gunakan selimut untuk melindungi diri. Tapi ternyata jarumdua itu dapat menyusup terus, masuk kedalam, pundaknya. Rasa sakit ke semutan menyerang dengan hebatnya dan karena tak tahan, terpelantinglah dia kebawah. Untung Ciang Bongkok keburu menyang gapinya.
„Chit-ko, bagaimana kau?” tanya saudara angkat itu.
Tapi baru saja bertanya begitu, dia sendiri rasakan pundaknya sakit bukan main. Ternyata sebatang anak panah telah memakannya.
„Saudara-saudara sekalian hendaklah berkumpul rapatdua,” seru Keh Lok.
Dalam pada itu panah sudah menghambur dari belakang. Sambil sebelah tangannya memegang pundak Bu Tim, Ciang Bongkok berusaha menangkis hujan panah itu dengan tangan kanannya.
Bu Tim larang si Bongkok bergerak, lalu menCabut batang panah yang menancap dipundaknya itu, kemudian dibalutnya dengan robekan ujung bajunya.
Pada saat itu, jelaslah kini untuk fihak manakah bala bantuan itu datang. Bagaikan arus gelombang, ribuan barisan tentara Ceng telah menghampiri datang.
Kini semua anggauta HONG HWA HWE sudah bertempur dengan berkumpul, maka bertanyalah Tan Keh Lok :
„Siapa diantara dua orang dari saudara-saudara yang sedia menyerbu?”
Bu Tim dan Wi Jun Hwa serentak menyatakan kesediaan nya.
„Baiklah, kini kita harus lekas-lekas berpenCar, untuk mundur kebelakang bukit disebelah sana.” Dan setelah memberi perintah itu, kembali Tan Keh Lok berseru: „Tio samko, Siang ngo-ko dan liok-ko, kita serang lagi kereta itu !”
Begitulah Bu Tim dan Wi Jun Hwa menobros hujan panah itu. Dengan tangan kosong, Bu Tim dapat merampas sebatang pedang, dengan senjata itu dia ikut Jun Hwa untuk membuka jalan darah. Dalam sekejab saja, kedua nya telah menyusup jauh kedalam barisan musuh. Tapi biar bagaimana gagahnya kedua jago itu, mereka tak kuasa membendung arus tentara Ceng yang membanyir itu.
Sebaliknya Ciauw Cong girang dan bangun lagi semangat nya. Tapi diapun insyap bahwa lukanya berat, dan justeru seperti yang dikuatirkan, benardua Tan Keh Lok dan Kawan-kawan nya kembali menyerang lagi. Ciauw Cong tak berani berlaku ajal, terus angkat tubuh Bun Thay Lay keatas, untuk di bolang-balingkan. Sedang ketika itu berpuluhdua barisan kuda telah menerdyang Tan Keh Lok dengan goloknya. Apaboleh buat, Keh Lok berempat segera mundur kebelakang bukit.
Disitu sudah berkumpul lengkap semua orang HONG HWA HWE Hanya Bu Tim dan Jun Hwa yang masih belum datang. Dan juga lain rombongan yang terdiri dari Thian Hong, Ciu Ki, Wan Ci, Ciu Tiong Ing dan Beng Kian Hiong.
Ketika Tan Keh Lok menanyakan mereka, maka Ciang Bongkok yang masih rebahan ditanah, Cepat-cepat menyahut: „Chit-ko (Thian Hong) terluka, apakah ia belum kembali? biarlah kususumja.”
Tanpa menghiraukan luka dipundaknya yang masih belum baik itu, si Bongkok berbangkit, menyembat sepasang kam paknya terus akan lari. Tapi ternyata masih sempojongaci jalannya. Melihat itu Buru-buru Ciok Siang Ing menCegahnya dengan mengatakan dia saja yang pergi. Cio Su Kin se rentak menyatakan mau ikut.
„Cio sipsamte, kau bersama suso supaya menyerang ketepi sungai, dan sediakanlah perahudua'.” demikian Keh Lok me la.rang Su Kin ikut Siang Ing menCari Thian Hong.
Hati Lou Ping terasa kosong dan bingung, tanpa berkata apa-apa ia ikut Su Kin kesana. Sedang Ciok Siang Ing dengan membekal golok, terus naik kuda untuk berangkat.
Kini daerah pertempuran itu se-olahdua penuh terisi. dengan tentara Ceng, hingga sukarlah bagi Siang Ing, dimanakah Thian Hong itu kini sedang berada. Apaboleh buat, dia terpaksa membuka kepungan musuh untuk menCarinya.
Tetapi belum lagi berapa lama Siang Ing pergi, Ciu Tiong Ing dan Beng Kian Hiong sudah tampak datang kebelakang bukit itu. Buru-buru Keh Lok menanyakan kepada Tiong Ing, kemanakah puterinya. Tiong Ing kaget dan Cemas, dia hanya meng-gelengduakan kepalanya. Tiba-tiba Hwi Ching pun sibuk sambil membantingdua kaki, katanya: „Muridku itupun hilang, biar kumenCarinya.”
An Kian Kong menyatakan ikut, Tan Keh Lok minta Tio Pan San, Siang-si Siang-hiap, Nyo Seng Hiap dan Beng Kian Hiong berlima untuk menyaga tempat itu, sedang Sim Hi dan si Bongkok yang terluka disuruhnya mengaso. Habis itu pemimpin HONG HWA HWE tersebut loncat keatas kudanya terus me nyerbu kedalam barisan pemanah musuh. Sekali memban dring, bola bajanya telah dapat merobohkan dua orang serdadu pemanah. Dan seCepat-cepat itu, dia rampas kedua busur mereka.
Dengan bertereakdua barisan Ceng menyerbu dengan tombak nya. Tapi mereka segera dihajar dengan tiga buah bola baja dari Tan Keh Lok yang menghantam kian kemari. Pada setiap hantaman, terdengarlah rintihan dari mereka yang roboh atau terpental busurnya. Sekejab saja, pemimpin muda itu telah dapat merampas delapan busur, terus melarikan kudanya mundur.
Tiba-tiba keadaan dibelakang kawanan barisan kuda itu men jadi kaCau. Dan pada lain saat, tampaklah beberapa penunggang kuda mengamuk. Yang dimuka, ternyata adalah Bu Tim tojin, yang gunakan ilmu pedang 'Cui-hun-to-beng-kiam.' Mengikut dibelakangnya adalah An Kian Kong dan Wi Jun Hwa, Hanya saja yang tersebut. belakangan ini, badan nya telah berlumuran darah.
Tan Keh Lok kaget tak terkira, terus maju mengham piri. Melihat bagaimana keempat orang itu mengamuk seperti banteng ketaton, pasukan Ceng jerih dan terpaksa membuka jalan untuk kasih mereka lari kebelakang bukit.
Setelah menerimakan busurdua rampasan tadi kepada Tio Pan San, Tan Keh Lok Buru-buru menengok Jun Hwa.
„Karena kehabisan tenaga, kiu-te (Jun Hwa) menggigau tak ingat orang,” menerangkan Bu Tim.
Dan betul juga Jun Hwa masih melantur ber-kaokdua akan membunuh semua tentara musuh itu. Kembali Tan Keh Lok menanyakan tentang Thian Hong cs. Tanpa men jawab, Bu Tim berbangkit akan pergi lagi. Tan Keh Lok menambahi keterangannya, bahwa Ciu Ki dan murid dari Liok Hwi Ching juga belum diketahui berada dimana.
Ketika nampak Bu Tim munCul lagi, seorang Cian-Cong (pemimpin barisan kuda) maju menombaknya. Tapi dengan sekali gebrak saja, sambil berkelit dan menabas, Bu Tim telah dapat membikin roboh Cian-Cong itu. Melihat sang pemimpin binasa, bujarlah sekalian anak buahnya. Kembali Bu Tim meneruskan menCari Kawan-kawan nya.
Tiba-tiba ia melihat segundukan tentara tengah ber-tereakdua dengan gemparnya. Rupanya mereka sedang mengepung se seorang. Cepat-cepat Bu Tim jejak perut kudanya untuk meng hampiri. Kembali ada seorang Cian-Cong menghadang. Tapi belum sempat membuka mulutnya menegur, tahu-tahu sinar putih berkelebat dan lehernya telah tersabet pedang.
„Cap-ji-long (Ciok Siang Ing), jangan takut, ji-komu sudah disini,” demikian seru Bu Tim.
Cok Siang Ing sedang melajani tiga orang perwira musuh, sedang tentaradua itupun membantu untuk menombakinya. Siang Ing betul-betul ripuh sekali, untuk sekean lama masih dapat ia bertahan, tapi lama-lama habislah tenaganya. Tapi ketika mendengar seruan Bu Tim. seketika kembalilah seluruh semangatnya.
„Sudah dapat menemukan Chitko (Thian Hong) belum ?” tanyanya dengan gembira.
„Kau serbu saja kemuka, jangan hiraukan yang belakang,” sebaliknya Bu Tim kedengaran memberi peringatan padanya.
Siang Ing betul-betul menyalankan seruan ji-konya itu. Se lagi ia dapat maju kemuka, tiba-tiba dari arah belakang ter dengar jeritan yang menyeramkan. Siang Ing berpaling kebelakang, dan nampak ketiga perwira tadi sudah terhampar binasa. Diam-diam dia tunduk akan kelihaian ji-konya itu.
Tadi hampir setengah harian, ia tempur ketiga perwira itu, tapi belum dapat keputusan. Tidak disangka, bahwa Cu kup dengan beberapa gebrak saja, Bu Tim telah dapat membereskan mereka.
Begitulah dengan selamat, keduanya bisa datang kebelakang bukit. Namun Thian Hong, Ciu Ki dan Wan Ci tetap belum kelihatan disitu. Sementara itu fihak tentara sudah dapat mengetahui bukit tempat persembunyian orang-orang HONG HWA HWE itu. Seorang pat-Cong (perwira) dengan membawa ber-puluhdua anak buah, segera melakukan sergapan.
Tio Pan San, Siang-si Siang-hiap dan Beng Kian Hiong adalah achli pelepas senjata rahasia. Begitu busur dijam bret, maka belasan serdadu itu segera roboh. Melihat itu, Kawan-kawan nya sama mundur, hanya menyaga ditempat yang agak jauh.
Lalu Keh Lok tuntun kudanya mendaki keatas bukit dan minta agar Kian Hiong suka bantu memegang les binatang itu, lalu ia berdiri diatasnya untuk memandang kesekeliling nya. Diketahuinya bahwa rombongan besar tentara negeri telah berangkat menuju kebarat, dan hanya meninggalkan beberapa ratus anak buahnya untuk mengepung bukit itu.
Tiba-tiba terdengar bunyi terompet, dan sebuah rerotan yang mirip dengan sisik naga kelihatan bergerak datang. Dari Cahaja obor yang dibawa oleh rombongan tentara itu, tam paklah sebuah bendera yang tertuliskan huruf besardua: „Ceng-se-tay-Ciangkun Yauw Hui.” Barisan ini sama me nunggang kuda teji yang besardua. Mereka sama menghunus sangkur dan tombak. Dan gemerinCingnya gerakannya itu, menandakan bahwa pasukan itu diperlengkapi dengan baju baja.
Bu Tim makin gelisah, terus akan keluar lagi untuk men Cari Thian Hong cs. Siang He Ci Coba menCegahnya, namun tojin itu tetap tak menghiraukan dan terus keprak kudanya.
Kawanan tentara itu Cukup kenal akan kelihaian sitojin yang selama pertempuran tadi telah berhasil membinasakan seorang” som-Ciang, seorang yu-kip dan seorang Cian-Cong. Maka serentak mereka menghujani anak panah.
Bu Tim tarik les kudanya, lalu memotong kebawah dari samping bukit. Dan sebelum kawanan barisan pemanah sempat menarik busurnya, tahu-tahu telah diterdyang oleh tojin itu. Buru-buru mereka menyerang dengan senjatanya.
Bu Tim membolang-balingkan pedangnya, dan disana sini terdengar jeritan bebrapa serdadu yang kena terbabat. Se telah dapat menyisihkan barisan pengepung itu, Bu Tim iarikan kudanya kesana sini memutari daerah pertempuran itu, namun tak juga Thian Hong kelihatan.
Tiba-tiba sebatang panah menyusup kearah perut kudanya, dan berbareng dengan robohnia binatansr itu, Bu Timpun terlempar jatuh. Seorang Cian-Cong Cepat-cepat membarengi dengan tabasan golok, tapi Bu Tim keburu tendangkan kaki keudara untuk loncat kebelakang pelana penyerang nya. Sekali sodok, terlemparlah Cian-Cong itu ketanah.
Kini balik kita tengok' pada rombongan orang-orang HONG HWA HWE yang masih berada dibelakang bukit. Mereka gelisah me mikirkan Thian Hong. Sekalipun tak dinyatakan, tapi hati masing-masing sama kuatir jangandua Thian Hong binasa dalam kanCah pertempuran yang gaduh itu. Sekonyong-konyong terdengar derap kuda berlari datang. Yang per-tamadua munCul ke-bukit itu, jalah Cio Su Kin, siapa kedengaran ber-kaokdua dengan kerasnya: „Lekas mundur, lekas, thiat-ka-kun (barisan baju besi) sedang menyerbu kemari!”
Kiranya Ceng-se tayCiangkum Yauw Hui menerima firman kaisar Kian Liong untuk memimpin tentaranya kedae rah Hwe. Agar supaya suku bangsa Hwe itu jangan sam pai keburu menimbulkan huru-hara, maka 'thiat-ka-kun' itu berjalan siang-malam. Hari itu kebetulan mereka telah sampai ketempat ini.
Ketika pasukan perintisnya melapor, bahwa dimuka ada kawanan berandal yang menghadang. Sekalipun jumlahnya kecil, tapi agaknya berandal itu lihai, hingga telah dapat membinasakan seorang perwira som-Ciang dan yu-ki.
Yauw Hui titahkan lekas-lekas mernburu kesana, ia lebih dulu kirim hu-Ciang, wakilnya Ong Pun Liang untuk memberesi „perampok” itu. Dengan membawa 500 pasukan berbaju baja, Ong Pun Liang msmimpin penyerbuan. Mengetahui kelihaian barisan itu, Cio Su Kin yang telah dititahkan untuk menyaga tepi sungai, Buru-buru lari kebukit.
Tan Keh Lok bertindak tegas. Dia perintahkan untuk me lakukan penyergapan ketepi sungai. Semuanya pun telah siap. Hanya Ciu Tiong Ing kiranya yang masih memikiri puterinya. Namun apaboleh buat, dalam suasana pertempuran semaCam itu, kiranya tak ada waktu luang untuk menCarinya.
Beng Kian Hiong, An Kian Kong, Ciok Siang Ing bergan tian mendorong Wi Jun Hwa keatas kuda. Pada saat orang-orang HONG HWA HWE sudah siap diatas kudanya, pasukan baju baja sudah munCul. Untuk menghindari diri dari barisan itu, Siang-si Siang-hiap dan Kawan-kawan nya| ambil jalan dari sebelah kanan bukit.
„Thiat-ka-kun menggunakan sin-kiong (panah sakti) yang dahsyat sekali tenaganya. Lebih baik kita tobros kawanan tentara Ceng itu,” demikian ajak kedua saudara Siang. Dan mereka berdua segera menjadi pembuka jalan untuk menerdyang .
Kedua saudara Siang itu kini berganti senjata dengan sebatang golok dan yang satunya memakai tombak. Begitulah mereka mulai membuka jalan darah, menuju ketepi sungai.
Melihat orang-orang HONG HWA HWE itu menyelinap kedalam rombongan tentara Ceng, barisan 'thiat-ka-kun' itu tak berani melepas panah, karena kuatir akan melukai kawannya sendiri. Apaboleh buat terpaksa mereka mundur. Dengan begitu kini tepi sungai Hoangho itu, penuh dengan tentara Ceng, barisan 'thiat-ka-kun' dan menyusul orang-orang HONG HWA HWE
Cio Su Kin terus terjun kedalam sungai, untuk men Cari perahu. Sedang Lou Ping Buru-buru menambatkan beberapa buah perahu pada sebuah tempat tambatan. Lebih dulu dia angkut si Bongkok dan yang luka-luka masuk kedalam perahu. „Ayo, kita lekas-lekas naik perahu! Totiang, Tio samko, Ciu-loenghiong, mari kita berempat”, demikian seru nyonya muda itu.
Tapi belum dia sempat menghabisi perintahnya, sebatang sin-kiong (panah kuat) telah menyambar.
„Celaka!” seru Bu Tim ketika tampak 'thiat-ka-kun' itu telah tiba dan menyerang.
Keempat tokoh itu, segera membalik badan untuk tempur barisan istimewa itu. Bu Tim ajunkan pedang mengarah tenggorokan seorang serdadu 'thiat-ka-kun.' Tapi untuk ke kagetannya, pedang Bu Tim itu tak dapat menusuk masuk. Kiranya mata pedang tojin itu sudah agak mandul, apalagi memang baju serdadu itu terbuat dari baja murni. Dan sebagai pembalasan tombakdua dari barisan 'thiat-ka-kun' itu telah melayang bagaikan hujan kerasnya.
Bu Tim lempar pedang dan gunakan tangannya untuk menyampok sebuah tombak, hingga terpental keatas udara. Sedang Ciu Tiong Ing pun memburu untuk menghantam roboh beberapa musuh. Tio Pan San yang masih punya be lasan tang-Chi (uang tembaga) dan thi-lian-Ci, Cepat-cepat me nimpukkan .pada mereka. Namun bagaikan tak kena apa-apa, barisan baju baja itu tetap menyerbu.
Bu Tim yang pada saat itu telah dapat merebut sebatang tombak, terus menusukkannya kearah muka seorang dari mereka, yang seketika itu segera terjungkel. Ternyata hanya bagian badan tentara itu saja yang ditutup dengan basja, sedang mukanya terdapat lubangdua untuk mata dan hidung. Oleh karenanya, Pan San kini mengarahkan senya tanya ke-bagiandua tersebut.
Beberapa orang serdadu thiat-ka-kun sama menyerit dan menutupi mukanya. Mata mereka telah kena tertimpuk buta. Sedang orang-orang HONG HWA HWE, selain Tan Keh Lok berempat, se muanya sudah naik keatas perahu.
Thiat-ka-kun, selain mempunyai perlengkapan yang istimewa, pun telah mendapat gemblengan istimewa. Betapapun ganasnya musuh, namun jago-jago HONG HWA HWE hanya berjumlah se-dikit, maka serdadudua 'thiat-ka-kun' itu tetap maju menyer gap.
Tampak oleh Tan Keh Lok seorang perwira yang tengah memberikan perintah diatas kudanya, dengan gerakan „bu rung walet menyelundup keair” Tan Keh Lok berloncatan menghampiri. Perwira itu, adalah hu-Ciangkun Ong Pun Liang. Begitu melihat ada sinar putih berkelebat datang, daripada membuang tempo untuk mengawasinya, dia lebih suka mengajunkan golok untuk menabasnya. Tapi tabasan nya mengenai tempat kosong, sedang pergelangan tangannya dirasakan sakit sekali. Malah untuk kekagetannya, goloknya telah dirampas dan tahu-tahu dia telah dikaet dan dilemparkan ketepi sungai.
„Tio samko, sambutilah ini!” teriak Keh Lok.
Cepat-cepat juga Tio Pan San menyang gapi tubuh si huCiang kun itu, Bu Tim dan Ciu Tiong Ing tahu akan maksud Keh Lok Cepat-cepat mereka lari ketepi sungai dan segera Pan San lemparkan tubuh tawanan itu kepada Bu Tim dan Bu Tim meneruskan kepada Ciu Tiong Ing. Yang belakangan ini, setelah me-lemparduakan tubuh orang beberapa kali keatas, lalu melemparkan kedalam sungai didekat perahu. Su Kin tertawa gelakdua menyaksikan kesemuanya itu, dia mem bungkuk untuk menyambret rambut Ong Pun Liang lalu diangkatnya naik kedalam perahu.
Di-tengah-tengah gegap gempita tereakan serdadudua Ceng, Tan Keh Lok dan Kawan-kawan nya enyot kakinya melayang kedalam perahu, yang terus dikajuh ketengah oleh Su Kien dan Lou Ping.
Tentara Ceng segera ber-teriakdua terus menghujani panah, tapi dapat dipunahkan oleh orang-orang dalam perahu itu. Dibawa oleh arus sungai Hoangho yang sedang naik airnya itu, sekejap saja dua perahu yang memuat orang-orang HONG HWA HWE itu sudah hampir hilang dari pemandangan. Karena tak berdaya, pasukan Ceng itu terpaksa pulang dengan tangan kosong.
Diantara yang terliika senjata rahasia, ternyata si Bongkok yang paling berat sendiri. Sedang Sim Hi yang terkena jarum, dasar boCah, me-ngiangdua tak berhentinya. Sebagai acini senjata rahasia, Pan San pun achli juga dalam me ngobatinya. Kawan-kawan nya yang terluka itu telah ditolong se periunya. Selama dalam perjalanan “itu, Lou Ping seperti orang kehilangan semangat. Dia pikiri suaminya yang masih diCengkeram dalam kuku garuda, disamping itu Thian Hong, Ciu Ki, Hwi Ching dan muridnya serta Hi Tong, belum di ketahui dimana rimbanya.
Suasana dalam perahu itupun, tampak bermurani sedih. Tan Keh Lok totok jalan darah Ong Pun Liang supaya tersedar, lalu ditanyainya tentang tujuan pasukan 'thiat-ka-kun' itu. Karena masih gelagapan, Pun Liang tak dapat menyawab, hal mana telah menimbulkah kemarahan Seng Hiap yang memberi persen sekali gaplokan.
„Ayo, kau bilang lekas,” bentak sipegoda besi itu.
„Ja, ja, aku bilang ja, bilang apa ?” sahut pembesar sial itu gelagapan.
„Untuk apa pasukanmu berjalan siang dan malam itu ?” bentak Keh Lok.
„Ceng-se tayCiangkun Yauw Hui menerima firman untuk selekasnya menggempur daerah Hwe, karena kuatirkan orang Hwe keburu mengendus berita dan terus mengadakan persiapan, maka kami harus berjalan Cepat-cepat ,” pembesar itu mengaku.
„Rakjat Hwe selama ini patuhdua saja, mengapa akan di serang ?” tanya Keh Lok pula.
„Entahlah, ini aku tak mengetahui,” kata Ong Pun Liang.
Karena itu Keh Lok mengadakan analisa dari jumlah pa-sukan 'thiat-ka-kun,' jalan yang ditempuhnya dan maksud gerakan itu. Dan Ong Pun Liang memberi keterangan dari apa yang diketahuinya.
„ Perahu, menepi !” tiba-tiba Keh Tok berseru keras-keras.
Begitu perahu rapat pada tepi, rombongan orang HONG HWA HWE loncat kedarat. Pada saat itu aruspun makin menghebat. Keh Lok perintah Seng Hiap mengawal Pun Liang, lalu ka tanya kepada Siang-si Siang-hiap :
. „Ngo-ko dan liok-ko, harap kalian kembali kesana lagi. Awasilah keadaan Bun-suko dan Carilah Chit-ko dan Ciu-sioCia serta Liok-locianpwe dan muridnya. Dan kalau sam pai mereka ada yang kena apa-apa, ah, rupanya itupun sudah takdir.”
Kedua persaudaraan Siang itu mengiakan serta berangkat kearah barat.
„Capji-ko, aku akan minta tolong padamu,” kata Keh Lok pada Ciok Siang Ing seraja terus menulis sepuCuk su rat. „Tolong serahkan surat ini kepada Bok To Lun loeng hiong dari suku Wi itu. Sekalipun baru berkenalan, tapi tak boleh kita biarkan mereka teranCam bahaja. — Suso, pinyamilah kudamu itu pada Capji-ko.”
Lou Ping menuju kehaluan perahu untuk menuntun kudanya. Kalau semua orang HONG HWA HWE telah sama meninggal kan kudanya, adalah Lou Ping yang tetap tak mau berpisah dengan kuda yang disayang inya itu. Demikian dalam dua hari saja, sampailah Siang Ing kedaerah Wi. Setelah men dengar kisikan pimpinan HONG HWA HWE itu, Bok To Lun tak berani berlaku ajal dan mempersiapkan penyagaan seperlunya.
Rombongan HONG HWA HWE itu meneruskan pelajarannya lagi hingga dua0 lie jauhnya. Setelah sampai ditepian sana, Keh Lok ajak semua saudara-saudaranya mendarat, tapi lebih dulu di suruhnya Su Kin ikat eratdua huCiangkun Ong Pun Liang di dalam perahu, perahu mana didorongnya supaya berlajar terus ditengah sungai.
Kini kita tengok keadaan Ciu Ki yang telah ketinggalan dari rombongannya itu. Ia tetap bertempur dengan gagah nya, Beberapa serdadu telah dirobohkan. Tapi tentara Ceng itu makin lama makin bertambah jumlahnya. Karena gu gup, nona tersebut. segera keprak kudanya untuk loloskan diri. Tapi baru berselang tak berapa jauh, kembali dia berpa pasan dengan serombongan tentara. Ia tak mau menempur nya, dan memutar balik lagi. Dalam kegelapan malam itu, entah terkena benda apa, tiba- kuda itu tersrimpet jatuh. Sedang nona itu sendiri, karena sudah Cape dan gelisah, tak kuasa untuk menahan diri lagi, terus ngerusuk terlem par kebawah. Kepalanya terbentur tanah keras-kerasdan ping sanlah ia. Syukur karena gelap, serdadudua Ceng tak dapat mengetahuinya.
Entah sudah berselang berapa lama, ketika membuka mata, ia rasakan mukanya sejuk sekali terkena tetesan air yang menurun dari kepalanya. Kiranya malam itu turun hu jan. Dengan serentak dia loncat bangun, tapi seCepat-cepat itu ia melihat ada seorang didekatnya, tanpa pikir golok disam bernya terus hendak ditabaskannya. Tapi serentak, keduanya sama menyerit kaget. Kiranya orang tersebut. bukan lain ialah Bu-Cu-kat Ji Thian Hong.
„Nona Ciu, mengapa kau disini ?” tanya pemuda itu.
Sekalipun biasanya ia sangat membenCi, tapi dalam keadaan seperti waktu itu, girang jugalah Ciu Ki. Sampaidua ia menguCurkan air mata.
„Ayahku dimana ?” tanyanya kemudian.
Tiba-tiba Thian Hong memberi isjarat supaya menelungkup ketanah karena ada musuh mendatangi. Begitulah dengan merajap, kedua orang itu bersembunyi dibalik segundukan tan ah.
Ketika itu sudah hampir fajar, jadi mereka dapat melihat jelas pemandangan disekitar situ. Dilihatnya berpuluhdua serdadu Ceng tengah menggali lobang untuk mengubur Kawan-kawan nya yang telah meninggal itu sambil tak putus-putusnya penyumpahi dan me-maki-maki.
Selesai dengan itu, seorang kepalanya berseru : „Tio Tek Piauw, Ong Seng, Coba kau lihat disekitar sana masih ada majat kawan kita atau tidak ?”
Kedua serdadu itu berdiri diatas tempat yang agak tinggi. Mereka melihat Thian Hong dan Ciu Ki berdua tertelung kup di tanah.
„Masih ada dua lagi disana '.” seru kedua serdadu itu.
Dianggap majat, Ciu Ki marah sekali, terus akan loncat bangun. Tapi Buru-buru Thian Hong menCegah untuk me nunggu sampai mereka menghampiri. Kedua serdadu itu datang dengan membawa sekop. Ciu Ki dan Thian Hong terus pura-pura seperti orang mati. Begitu kedua musuhnya sudah dekat, dengan sebat ditusuknya dengan golok. Tanpa berkaok lagi, putuslah jiwa kedua serdadu yang malang itu.
Karena sudah sekean lama tak kembali, maka pat-Cong (perwira) itu sambil memaki melarikan kudanya menyusul.
„Kau jangan bersuara, akan kurampas kudanya,” bisik Thian Hong.
Ketika melihat kedua serdadunya binasa, terkejutlah pat Cong itu. Dia akan bertereak, tapi Thian Hong sudah me lesat dan menabasnya. Karena tak sempat melolos senjata, pat-Cong itu pakai tali lesnya untuk menangkis. Tapi seperti batang pisang, les dan kepala pat-Cong itu segera meng gelinding ketanah.
Cepat-cepat Thian Hong teraki Ciu Ki untuk loncat keatas pelana kuda, sedang ia sendiri membuntuti dari belakang dengan ber-laris.
Sementara itu, rombongan serdadupun sudah mengetahui dan mengejarnya. Lari belum berapa jauh, pundak Thian Hong yang terkena jarum dari Ciauw Cong itu makin te rasa menghebat sakitnya. Karena tak tertahan, dia jatuh pingsan. Bumdua Ciu Ki menghampiri batik. Dia loncat tu run, lalu diangkatnya tubuh Thian Hong keatas kuda terus dilarikan se-kentyang duanya. Rombongan serdadu Ceng itu ber-tereakdua mengejarnya, tapi sudah ketinggalan jauh.
Setelah jauh, barulah Ciu Ki kendorkan larinya. Dilihatnya muka Thian Hong puCat seperti kertas dan napasnya sangat lemah. Apaboleh buat, ia terpaksa merangkul ping gang orang yang dibenCinya itu supaya jangan jatuh, dan terus melarikan kudanya kesebuah jalanan kecil.
Tiba-tiba didepan membentang sebuah hutan, kesitulah nona itu menyusup. Ia turun sedang Thian Hong ditaruhnya diatas pelana kuda yang dituntunnya pelan-pelan buat menCari kesebuah tempat untuk mengaso.
Ia lihat Thian Hong masih belum sadar, setelah berpikir sejenak, tak dapat lagi ia sungkan tentang prija dan wa nita, terpaksa ia pondong pemuda itu dan diletakkan pada suatu tanah rumput, ia sendiripun berduduk buat mengaso dan membiarkan kudanya makan rumput.
Seorang nona yang berusia belum ada dua0 tahun, tapi kini seorang diri berduduk dirimba sunyi, orang didepannya ini mati atau hidup masih belum bisa diketahui, karena tak berdayanya itu, tanpa tertahan Ciu Ki menjadi berduka terus menangis tersedu-sedu, air matanya setetesdua membasahi mukanya Thian Hong.
Sesudah dibaringkan ditanah sejenak, lambat laun Thian Hong telah siuman, muladua ia menyang ka hari hujan lagi, tapi ketika matanya pelahan dibuka, tiba-tiba dilihatnya sebuah wajah yang manis dengan sepasang mata bendo merah tepat berhadapan dengan dia, air mata orang masih terus menetes kemukanya.
Thian Hong merengek karena pundak kirinya terasa sakit pula, ia menyerit aduh.
Meiihat orang telah mendusin, Ciu Ki menjadi girang, tiba-tiba ia lihat air matanya sendiri berketesan pula dipipi orang, lekas-lekas ia keluarkan saputangan untuk membersih kannya. Tapi baru saja tangannya diulur, mendadak ia ter sadar dan ditarik kembali lagi.
„Kenapa kau jadi merebah didepanku sini, mestinya se dikit kesana,” demikian ia malah salahkan orang.
Thian Hong tak menyawabnya, tapi merengek pula dan meronta hendak bangun.
„Sudahlah, bolehlah kau merebah disini,” kata sigadis pula. “Dan bagaimana kita sekarang ? Kau adalah 'Bu-Cu-kat,' ayah selalu bilang kau banyak-banyak tipu akal, nah, sekarang kau berusahalah !”
„Pundakku lagi sakit tidak kepalang, apapun aku takbisa berpikir lagi. Nona, Cobalah, tolong kau memeriksanya,” kata Thian Hong.
„Aku tak mau,” sigadis. Namun demikian, toh tidak urung ia berjongkok buat memeriksanya, Setelah dilihatnya sejenak, lalu katanya pula: „Ah, baik-baik saja tiada apa-apa, pula tak berdarah.”
Thian Hong bangun berduduk, dengan ujung golok dita ngan kanan ia sobek sebagian kain baju dipundaknya, lalu ia sendiri melirik untuk memeriksanya. „Rupanya disini terkena tiga buah jarum emas hingga sampai meresap ketu langku.”
„Lantas bagaimana baiknya ?” tanya Ciu Ki. „Marilah kita kekota untuk menCari tabib.”
„Jangan,” sahut Thian Hong. „Semalam sudah terjadi ributdua, siapa lagi penduduk kota yang tak tahu, dengan dan danan kita ini, pula menCari tabib buat mengobati luka, apakah ini bukan 'ular menCari gebuk' ? Sebenarnya jarum ini harus dikeluarkan dengan batu penyedot (besi semberani), tapi kemanakah harus menCari benda ini. Sudahlah, silahkan kau pakai golokmu untuk membelih daging pun dakku dan menCabutnya keluar.”
Meski sudah bertempur sengit semalaman dan tidak sedi-kit musuh yang dibunuhnya, tapi kini bila Ciu Ki diharus kan membelih daging dipundaknya Thian Hong, hal ini malah bikin sigadis menjadi ragudua.
„Aku sanggup bertahan, lakukanlah nanti dulu,” kata Thian Hong lalu menyeberet beberapa potong kain bajunya dan diserahkan pada sigadis dan menanya : „Apakah kau membawa geretan?”
Ciu Ki Coba merogoh kantong senjata rasianya, lalu jawabnya: „Ada, buat apakah?”
„Kau kumpulkan sedikit rumput atau daun kering untuk dijadikan abu, sebentar bila jarumnya sudah diCabut, abu itu untuk memoles lukanya, lalu dibalut dengan potongan kain,” kata sipemuda.
Ciu Ki kerjakan apa yang dipinta itu, ia kumpulkan ba nyak rumput dan daun kering hingga menghasilkan setum pukan besar abu.
„Sudah Cukup, abu sebanyak-banyak itu Cukup untuk seratus luka rasanya,” ujar Thian Hong tertawa.
Siapa tahu sigadis mendadak ngambek. „Ja, ja, memangnya aku sibudak tolol, baiknya kau lakukan sendiri saja!” demikian omelnya.
„Ja, sudah, anggaplah aku salah omong, jangan kau marah, nona,” sahut Thian Hong tertawa.
„Hm, kaupun bisa mengaku salah?” jengek sigadis. Ha bis itu, dengan tangan kanan ia angkat goloknya dan tangan kirinya Coba me-rabadua pundak orang untuk menCari dima na tempat jarum itu menancap.
Tapi dasar anak gadis, baru pertama kali inilah tangan bersentuhan dengan tubuh lelaki, maka begitu 'kontak' seketika juga ia tarik kembali lagi, saking malunya hingga seluruh wajahnya merah.
Melihat orang mendadak malua, Thian Hong menjadi heran. „Eh, apa yang kau takuti?” tanyanya.
„Apa yang kutakuti? Kau sendirilah yang takut. Berpa ling kesana, jangan memandang kemari!” sentak gadis itu.
Betul juga Thian Hong berpaling kearah lain. Lalu Ciu Ki penCet keras-kerasdaging pundak orang dimana jarum menancap, ujung goloknya ia tusukkan dan pelahandua diko rek sedikit, segera juga darah segar mengalir.
Dengan kertak gigi Thian Hong bungkam dalam seribu basa untuk menahan sakit, keringat ber-butir-butir bagai kede lai besarnya memenuhi jidatnya.
Setelah Ciu Ki korek sedikit daging pundak, ekor jarum itupun lantas kelihatan, ia Cepit dengan dua jarinya terus dengan Cepat-cepat diCabut keluar sebuah.
Wajah Thian Hong puCat lesi bagai kertas, tapi ia masih Coba berkelakar. Katanya: „Sayang jarum ini tak ber mata dan tak bisa disusupi benang, kalau tidak, ha, kebe tulan dapat dihadiahkan pada nona untuk menyulam.”
„Huh, aku justru tak bisa menyulam,” sahut Ciu Ki. „Tahun lalu mak (ibu) pernah suruh aku belajar, tapi baru sekali-dua tisikan aku sudah patahkan jarum, bahkan su teranya pun tersobek. Mak mengomeli daku, aku bilang : ,Mak, aku tak bisa, ajarkanlah daku'. — Dan tahukan kau apa dia bilang, Coba kau terka?”
„Tentu saja ia bilang : ,Mari sini, aku ajarkan kau',” kata Thian Hong.
„Mana bisa, ia justru bilang: ,Aku tiada tempo'. Bela kangan baru kuketahui bahwa ia sendiri ternyata juga tidak bisa menyulam,” demikian sigadis menerangkan.
Thian Hong ter-bahakdua geli, dan tengah mereka berCa kap, kembali sebuah jarum dapat diCabut lagi.
„Kemudian aku berkeras minta ibu mengajarkan pada ku,” tutur Ciu Ki lebih lanyut, „dan karena sudah kewa lahan, achirnya ibu berkata: 'Awas, jika berani rewel lagi, biar aku bilangkan ayahmu menghajar kau'. Iapun bilang:
'Kau tak bisa menyulan, hm, lihat saja kelak sampai disini tiba-tiba sigadis tak meneruskan lagi.
Kiranya waktu itu ibunya berkata: lihat saja kelak kau tak mendapatkan ibu mertua.” — Tentu saja kata-kata begitu tak enak diketahui Thian Hong, maka mendadak ia tak melanyutkan.
Siapa duga Thian Hong justru masih ingin tahu, maka ia mendesak: „Lalu, ia bilang 'lihat saja kelak' apa lagi?”
„Ah, jangan tanya sudah, aku tak suka banyak-banyak Cerita pula,” sahut sigadis.
Dan sembari berCakap, tanpa berhenti ber-turutdua Ciu Ki sudah menCabut keluar semua ketiga jarum itu, ia poles luka itu dengan abu yang tersedia dan dibalut pula dengan kain.
Apabila dilihatnya pemuda itu meski terluka dan menderita sakit tidak kepalang, tapi masih sanggup berkelakar tanpa merintih sedikitpun, mau-tak-mau diam-diam Ciu Ki pun menga guminya. „Sungguh tidak nyana meski tubuhnya pendek, tapi ternyata seorang ksatria benardua. Coba kalau aku, bila ada orang mengkorek dagingku, mungkin sejak tadidua aku sudah berteriak memanggil ibu!” demikian ia membantin.
Dan bila teringat pada ayah-bundanya, tiba-tiba ia menjadi berduka.
Tatkala itu tangannya berlepotan darah, maka katanya pada Thian Hong: „Kau merebah lagi sementara disini jangan bergerak, biar aku pergl menCari sedikit air minum.”
Setelah dipandangnya keadaan tempat itu, lalu gadis itu berlari keluar rimba, tak jauh dapat diketemukannya sebuah sungai kecil, oleh karena habis hujan lebat, maka air sungai mengalir dengan derasnya.
Ia menCuCi bersih noda darah ditangannya kedalam sungai, ketika ia berjongkok ditepi sungai hingga wajahnya mendadak terCermin didalam air, ia lihat rabutnya serabutan, bajunya basah lagi kumal, mukanya pun penuh darah dan kotor, hakibatnya tak berupa wajah manusia lagi, maka pikirnya: „Celaka, wajah seperti setan ini telah dapat dilihatnya semua.”
Lekas-lekas ia CuCi bersih air mukanya dan menggunakan air sungai sebagai Cermin, jarinya digunakan sebagai sisir dan rambutnya lalu dipintalnya menjadi kunCiran, ia raup air sungai pula untuk diminumnya. Dalam hati ia pikir tentu Thian Hong sangat hausnya, namun tiada alat wadah air, apa daya?
Setelah bingung sejenak, tiba-tiba pikirannya tergerak, ia keluarkan satu bajunya dari buntalannya dan diCuCi bersih, ia rendam baju itu hingga basah benardua, dengan ini ia pikir dibawa kembali untuk diperas airnya buat minum Thian Hong.
Sementara itu, Thian Hong yang ditinggalkan, bila tadi ia masih bisa berkelakar dengan sigadis untuk menahan diri, tapi kini sesudah sendirian, rasa sakit dipundaknya tak tertahan lagi. Bila kemudian Ciu Ki telah kembali, sementara ia sudah kesakitan hampirdua pingsan.
Melihat wajah pemuda itu meski di-bikindua seperti sama sekali tak merasakan apa-apa, tapi dapat Ciu Ki menduga pasti tidak enak sekali, karena itu, rasa kasih sayang seketikapun timbul. Ia suruh Thian Hong mengap, lalu air bajunya yang basah itu diperasnya kedalam mulut orang, habis itu dengan lirih ia menanya: „Apakah sangat sakit?”
Belum pernah Ciu Ki bersuara begitu halus terhadap Thian Hong, karena itu untuk sesaat pemuda itu terkesima.
Sejak berumur duabelas-1tiga tahun, Thian Hong sudah luntang-lantung di kangouw, segala maCam penderitaan, sifat ma nusia yang dingin dan kehidupan manusia yang tak adil telah dirasakan semuanya. Dan karena godokkan pengalamandua itu, dari benCinya kepada semua ketidak-adilan itu, tak terasa ia menjadi umbar diri denyg-an, tindak-tanduknya, yang bebas. Dasar pembawaannya Cerdlk pandai, maka menghadapi segala apa selalu ia mendahului mengatasi orang, apa yang diaturnya boleh dikata selalu jjtu dan perhitungannya selalu tepat, oleh sebab itulah ia mendapatkan julukan „Bu-Cu-kat” atau si Khong Beng. I
Sering sudah dikalangan lkangouw disaksikannya banyak-banyak tokoh- pahlawan banyak-banyak yang l tergoda _oleh paras elok hingga berachir dengan berantakan, Weperti saudara angkatnya yang kedua, yaitu Bu Tim Tojin yang pernah gagal juga dalam perCintaan, kesemuanya itu selalu dibuat Cermin olehnya dan menjadi pantangan pula baginya. Oleh sebab itu, meski usianya sudah dikata mendekati masa „jejaka tua,” namun bila kebentur wanita, selalu ia berusaha menghindarinya se jauh mungkin.
Dalam hal Ciu Ki yang sepanyang jalan senantiasa setori dengan dia seperti anak kecil, ia justru sengaja juga gunakan sedikit akalnya untuk menggodanya dan setiap kali selalu ia diatas angin, tentu saja Ciu Ki digodanya semakin mengkal dan mendongkol. Untuk itu selalu ia pandang Ciu Ki sebagai lawan pengadu keCerdasan saja, dalam hati tak pernah ia pikirkan tentang hubungan lakia dan perempuan: siapa duga karena lukanya, justru „lawan keras” dari ka wannya inilah yang telah menolong dan merawatnya, karena itu, perasaannya benCi dan jemu tadinya itu kini seketika lenyap seluruhnya.
Begitulah, maka demi nampak Thian Hong hanya ter menungs tak menyawab, Ciu Ki sangka orang kembali kurang waras pikiran lagi, maka Cepat-cepat ia menanya pula:
„Kenapa, kenapakah kau?”
„Sudah banyak-banyak baik,” sahut Thian Hong kemudian tertawa sesudah tenangkan diri. „Terima kasih banyak-banyakdua padamu.”
„Hm, aku tak inginkan terima kasihmu,” sahut sigadis tiba-tiba .
Kembali Thian Hong tertegun, tapi segera iapun berkata: „Tempat ini bukanlah semestinya, marilah kita pergi menCari rumah orang untuk membeli sedikit makanan, apakah kau membawa uang?”
„Tidak bawa, uangku berada pada ayah semua,” sahut Ciu Ki. „Dan kau?”
„Buntalanku pun hilang dalam pertempuran,” kata Thian Hong mengkerut kening. „Sudahlah, kita jangan pergi ke kota, tapi menCari rumah penduduk yang sepi dan bilang saja kita berdua adalah kaka beradik”
„Kakai beradik?” Ciu Ki menegas. „Dan aku harus me manggil kau koko (kakak)?”
„Ja, tapi kalau kau merasa usiaku jauh lebih tua, boleh juga kau panggil saja enCek (paman),” ujar Thian Hong.
„Fui, kau sesuai?” semprot sigadis. „Baiklah, biar aku panggil kau koko saja, tapi hanya terbatas dihadapan orang, bila tiada orang aku tak mau panggil.”
„Sudah tentu,” kata Thian Hong. „Dan panggilan apakah padaku bila tiada orang lain?”
Karena pertanyaan itu, Ciu Ki menjadi bingung, ia pikir, selama ini memang ia tak pernah memanggil sesuatu yang benar padanya, bila bertemu saja mereka sudah lan tas bertengkar mulut. Maka jawabnya: „Panggil apa? Hm, aku justru takmau panggil sama sekali.”
„Baik, baik, takmau panggil ja sudah, “ sahut Thian Hong tertawa. Lalu pesannya: „Dan nanti kita harus kata kan pada orang bahwa ditengah jalan kita telah kepergok pasukan tentara dan bekal kita telah dirampas seluruhnya, bahkan kita telah dihajar dan didakwa sebagai penyahat.”
Begitulah, setelah mereka berunding baik, lalu Ciu Ki memayang bangun sipemuda.
„Kau tunggang kuda saja, kakiku tak luka, untuk berjalan tiada halangan,” demikian kata Thian Hong.
„Terus terang saja, tak perlu pura-pura, lekas kau yang me nunggung, kau pandang rendah wanita bukan?” sahut sigadis.
Thian Hong tertawa, tanpa menyawab lagi ia Cemplak keatas kuda, keduanya lantas keluar dari rimba itu dan me nuju kearah timur melalui suatu jalan kecil.
Tanah didaerah barat-laut kebanyak-banyakan adalah hutan alas, tidak seperti daerah selatan yang banyak-banyak terdapat pedesaan, di-manadua terdapat penduduk. Maka sesudah kedua orang berjalan lebih satu jam, sudah lapar lagi lelah, achirnya dengan susah payah barulah melihat mengepulnya asap dari Cerubung suatu rumah penduduk.
Dengan Cepat-cepat mereka menuju kesana, Thian Hong turun dari kudanya untuk mengetok pintu, sejenak kemudian, keluarkan seorang nenekdua tua, ketika melihat dandanan kedua orang yang aneh, wanita tua itu rada heran dan tiada hentinya mengamat-amati.
Segera Thian Hong Ceritakan apa yang sudah dikarang nya tadi, lalu minta sedikit makanan pada nenek itu untuk tangsel perut.
„Ai, memang pasukan tentara negeri bukannya membela rakjat, tapi justru penyakit bagi rakjat,” demikian nenek itu sambil menghela napas. „Tuan tamu she apakah?”
„She Ciu,” sahut Thian Hong.
Ciu Ki melirik pemuda itu sekejap, tapi tak buka suara, ia heran kenapa Thian Hong tidak bilang she Ji.
Nenek itu menyilahkan mereka masuk dan memberikan nya beberapa biji makanan kuwe yang entah apa namanya, meski barang makanan itu hitam lagi kelihatannya kotor, namun sudah terlalu lapar, rasanya mereka seperti sedang makan makanan yang paling lezat.
Nenek itu mengaku she Tong, karena puteranya tak mampu membajar sewa tanah hingga telah dihajar oleh tuan tanah, pulangnya dari sedih ditambah luka pukulan, tidak lama, lantas meninggal. Dan menantu perempuannya yang masih muda karena pendek pikiran, pada malamnya pun menggantung diri menyusul sang suami, tinggal sinenek yang kini hidup sebatangkara.
Begitulah nenek itu sambil menutur sembari menguCur kan air mata.
Karuan Ciu Ki menjadi gusar oleh Cerita itu, segera ia tanya siapa nama tuan tanah itu dan tinggal dimana.
„Keparat itupun she Tong, dihadapannya orang menyebut nya Tong-lakya dan Tong-siuCay, tapi dibelakangnya orang menyebutnya 'Tong-li-pi-siang' (warangan didalam gula), nama sesungguhnya akupun tak tahu,” demikian sinenek menerangkan. „Ia tinggal dikota, gedungnya, adalah yang paling besar dikota itu.”
„Kota apa? Dimana jalannya?” tanya Ciu Ki.
„Kota itu, dari sini kira-kira lima li keutara, sesudah menye berang jalan besar, lalu dua0 li lagi ketimur, dan disitulah rumahnya,' kota itu bernama Bun-kong-tin,” kata sinenek lebih lanyut.
Tanpa pikir lagi segera Ciu Ki berbangkit terus samber goloknya dan berkata pada Thian Hong: „Hai, ko…… koko, aku pergi sebentar, kau mengaso dulu disini.”
Melihat sikap gadis itu,. Thian Hong tahu pasti ia akan pergi membunuh manusia she Tong yang dijuluki „Tong-li-pi-siang” atau warangan didalam gula itu.
Karena itu Cepat-cepat ia menCegah, katanya: „Jangan kesusu, ingin makan guladua, paling enak kalau malam !”
Ciu Ki terCengang mendengar kata-kata tak karuan jen trungannya itu, tapi segera iapun paham maksud orang, maka ia angguk-angguk dan duduk kembali.
„Nenek,” kata Thian Hong kemudian, „aku terluka, jalan tidak leluasa, maka ingin minta mondok semalam ditempat mu sini.”
„Untuk tinggal sin tiada halangan, Cuma tempat pedu sunan tiada makanan enak, itulah tuan tamu jangan menyesal,” sahut nenek itu.
„Ah, kalau nenek mau terima kami, hal itu sudah be-ribudua terima kasih,” kata Thian Hong pula. „Cuma baju adik perempuanku itu basah kujup, kalau nenek ada baju lawas, sudilah memberi pinyam sepasang untuk salinnya.”
„Menentu perempuanku ada tinggalkan pakaian, jika nona tak menCela, boleh diCoba dulu, mungkin masih Co Cok,” kata sinenek.
Lantas pergilah Ciu Ki menukar pakaian. Ketika ia keluar, ia lihat Thian Hong sudah tertidur di-baledua dibekas kamar putera nenek itu.
Sampai hari sudah petang, tiba-tiba Thian Hong mengigau tak karuan, Ciu Ki Coba pegang jidat orang, ternyata panasnya luar biasa, mungkin luka pemuda itu telah menyalar menjadi inpeksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar