Rabu, 21 Maret 2012

Medali Wasiat 6

Jilid 6

“Ngatjo-belo!” omel Yan-Khek, “Kau tidak boleh memanggil aku sebagi maling tua.” “ Baik, dan kaupun dilarang memanggil aku maling ketjil.” Tidak gusar, sebaliknya Yan-khek tertawa malah. Katanja: Maling ketjil adalah sebutan untuk memaki orang, maling tua juga kata2 makian, maka kau tidak boleh memaki aku.” “Djika begitu, mengapa kau memaki aku?” bantah si djembel. “Baiklah, akupun takkan memaki kau”, sahut Yan-khek dengan tertawa. “Kau sekarang bukan maling ketjil pula. Aku akan panggil kau sebagai anak ketjil dan kau boleh panggil aku sebagai paman tua”.

“Tidak, namaku bukan anak ketjil, tapi aku bernama Kau-tjap-tjeng,” kata si djembel sambil menggeleng. “Nama Kau-tjap-tjeng itu tidak baik, ibumu boleh panggil kau dimikian, tapi orang lain tidak boleh. Ibumu djuga aneh, mengapa memanggil anaknja sendiri sebagai Kau-tjap-tjeng?”

“Kau-tjap-tjeng apakah djelek? Bukankah si Kuning kawanku itupun seekor andjing. Kalau dia mengawani aku, aku lantas senang. Sama seperti kau mengawani aku sekarang. Tjuma si Kuning tidak bisa bitjara, dia hanja pandai menggonggong, sebaliknja kau pandai bitjara”. – Sambil berkata sembari tangannja meng-elus2 punggung Tjia Yan-khek dengan penuh kasih sajang seperti halnja kalau dia meng-elus2 andjing piaraannja.

Keruan Tjia Yan-khek sangat mendongkol, masakah dia disamakan dengan si Kuning. Segera ia mengerahkan tenaga dalamnja kebagian punggung sehingga tangan si djembel tjilik tergetar, se-akan2 tangannja memegang arang jang membara, tjepat ia menarik kembali tangannja dengan kaget. “Huh, biar kau tahu rasa sekarang”, demikian pikir Tjia Yan-khek sambil memandangi botjah itu dengan ter-senjum2.

Di luar dugaan si djembel tjilik malah berkata: “Wah, paman tua, agaknja kau sakit panas, lekas mengaso dulu dibawah pohon sana, biar aku mentjari sedikit air untuk kau minum, badanmu tentu sangat pajah, panasnja bukan main, mungkin sakitmu ini tidaklah ringan”. – Dari nadanja itu tampak sekali rasa perhatiannja jang penuh, segera ia pegang lengan Tjia Yan-khek dan hendak mengadjaknja mengaso kebawah pohon.

Sampai disini, biar betapapun aneh sifatnja Tjia Yan-khek djuga tidak enak menjakiti pula botjah itu dengan tenaga dalamnja. Maka katanja: “Aku sehat walafiat, kau bilang aku sakit apa? Tjoba lihat, bukankah panasnja sudah lenjap?” ~ Sambil berkata ia terus pegang tangan si djembel dan dirabakan ke dahinja sendiri. Ketika merasa dahi Yan-khek itu dingin2 segar sadja, mendadak djembel tjilik itu berseru kuatir: “Wah, tjelaka! Paman tua, kau sudah hampir mati!”

“Ngatjo belo, mengapa aku hampir mati?” bentak Yan-khek dengan gusar. “Ibuku pernah djatuh sakit, seperti kau barusan, sebentar panas dan sebentar dingin, ber-ulang2 ibu berteriak: Matilah aku, matilah aku! Orang jang tak punja liangsim (hati baik), lebih baik aku mati sadja!” ~ Kemudian ibu benar2 hampir mati, sesudah tiduran lebih dua bulan barulah sembuh.”

“Tapi aku takkan mati,” udjar Yan-khek dengan tersenjum. Si djembel tjilik menggeleng pelahan seperti kurang pertjaja. Mereka melandjutkan perdjalanan, tidak seberapa djauh, ketika melihat sinar matahari jang amat terik, tiba2 si djembel tjilik itu mendjemput beberapa helai daun jang djatuh ditepi djalan. Semula Yan-khek menjangka sifat si djembel tjilik itu masih ke-kanak2an dan suka mainan, maka tak digubrisnja. Siapa duga botjah itu telah memilin daun2 itu mendjadi sebuah topi, lalu diberikan kepada Tjia Yan-khek, katanja: “Matahari panas terik, engkau sedang sakit pula, harap pakailah topi ini.”

Yan-khek benar2 serba runjam menghadapi tingkah laku si djembel itu. Tapi ia tidak ingin mengetjewakan maksud baiknja maka topi itu diterimanja djuga dan dipakainya diatas kepala. Karena sinar matahari memang amat terik, dengan memakai topi itu rasanja mendjadi lebih segar. Tidak lama kemudian sampailah mereka di suatu kota ketjil. Tiba2 si djembel berkata: “Engkau tidak punja uang, boleh djadi sakitmu itu adalah lantaran kelaparan. Marilah sekarang kita pergi kerumah makan untuk makan se-kenjang2nja.” ~ Segera ia tarik tangan Tjia Yan-khek dan masuk ke sebuah rumah makan.

Selama hidup pengemis ketjil itu tidak pernah masuk restoran. Karena itulah iapun tidak tahu tjara bagaimana harus pesan makanan. Begitu masuk rumah makan itu segera ia keluarkan semua uang jang dimilikinja dan ditaruh diatas medja, lalu katanja kepada pelajan: “Aku dan paman tua ini ingin makan nasi makan ikan dan daging, sediakanlah selengkapnja dan ambil semua uangku ini.” Sisa uangnja itu sedikitnja ada tiga tahil perak dan lebih dari tjukup untuk membajar makanan semedja penuh. Keruan si pelajan sangat girang, tjepat ia memesan koki agar menjediakan daharan jang enak2, ada ajam panggang, ada Ko-lo-bak, ada bebek tim dan ada Ang-sio-hi, pendek kata serba komplit. Bahkan disertai dua kati arak.

Sesudah daharan itu siap diatas medja. Segera Yan-khek menuangkan arak. Tapi baru sadja si djembel tjilik minum seteguk, kontan ia semburkan kembali, serunja: “Hah, pedas, tidak enak.” ~ Maka jang digasak hanja daharan2 jang enak sadja. Diam2 Yan-khek berpikir: “Meski botjah ini tidak paham apa2, tapi pembawaannja ternjata sangat djujur, tampaknja djuga tidak boleh, kalau dididik dengan baik2 tentu akan mendjadi djago pilihan di dunia persilatan.”

Tapi lantas terpikir pula olehnja: “Ah, di dunia ini banjak sekali manusia2 jang durhaka dan tak berbudi, masakah aku belum tjukup dibikin susah oleh muridku jang tjelaka itu? Kenapa sekarang timbul pula pikiranku untuk mengambil murid baru?” Demi teringat kepada muridnja jang durhaka itu, seketika ia naik darah. Tjepat ia habiskan dua kati arak itu, lalu berkata : “Hajolah, berangkat!”

“Apakah kau sudah baik, paman tua?” tanja si djembel.

“Sudah!” sahut Yan-khek sambil berpikir: “Sekarang uangmu sudah habis, nanti kalau masuk restoran lagi kau tentu akan terpaksa minta tolong padaku.”

Segera mereka meninggalkan kota itu dan melandjutkan perdjalanan ke timur.

“Anak ketjil, siapakah she ibumu, dia pernah katakan padamu tidak?” tanja Yan-khek.

“Ibu ja ibu, apakah ibu djuga ada she segala?” sahut si djembel tjilik.

“Sudah tentu, setiap orang tentu mempunjai she,” kata Yan-khek.

“Djusteru aku tidak tahu, makanja aku tanja she ibumu. Nama Kau-tjap-tjeng itu terlalu djelek, apa kau ingin minta aku mentjarikan suatu nama jang baik bagimu?” demikian tanja Tjia Yan-khek. Ia pikir kalau si djembel mengadjukan permintaan itu, maka terpenuhilah sumpahnja atas medali wasiat dan ia dapat sembarangan memberi suatu nama padanja.

Tak terduga si djembel lantas mendjawab: “Djika kau suka memberikan nama padaku, kukira boleh djuga. Tjuma kuatirnja ibu tidak tahu. Padahal beliau sudah biasa memanggil aku Kau-tjap-tjeng, sekarang aku ganti nama baru, mungkin beliau akan marah. Mengapa kau anggap nama Kau-tjap-tjeng kurang baik ?”

Yan-khek mengerut kening. “Kau-tjap-tjeng” artinya anak turunan andjing, ia mendjadi bingung tjara bagaimana harus menerangkan nama jang kotor dan tak baik itu.

Pada saat itulah tiba2 ditengah hutan disebelah kiri depan sana terdengar ada suara njaring beradunja sendjata. Sebagai seorang tokoh besar dunia persilatan, sekali dengar sadja hati Yan-khek lantas terkesiap. Terang disana ada orang sedang bertempur dan dari suara beradunja sendjata mereka jang sangat tjepat itu pastilah ilmu silat mereka bukan djago silat rendahan.

Segera ia membisiki si djembel tjilik : “Tjoba kita melihatnja ke sana, kau djangan sekali2 bersuara.” ~ Sebelah tangannja lantas menolak dipunggung botjah itu, ia keluarkan Ginkang (ilmu entengkan tubuh atau kepandaian lari) jang tinggi dan berlari kearah suara pertempuran itu. Hanja beberapa kali lompatan sadja sampailah dia dibelakang sebatang pohon besar.

Karena dibawa lari setjepat terbang dan seperti terapung diudara, si djembel tjilik mendjadi senang dan merasa geli, hampir ia tertawa. Tapi lantas teringat oleh pesan Tjia Yan-khek agar dia djangan bersuara, maka tjepat ia menekap mulut sendiri.

Waktu mereka mengintip dari balik pohon, tertampaklah di tengah hutan itu ada empat orang sedang melompat dan menubruk kian kemari, pertarungan sedang berlangsung dengan sengitnja. Kiranja ada tiga orang sedang mengerojok satu orang. Jang dikerojok adalah seorang tua bermuka merah, rambutnja pandjang memutih perak, tangannja sudah tidak bersendjata lagi.

Sedangkan ketiga orang pengerojok itu, jang satu bertubuh tinggi kurus, seorang lagi adalah Todjin bermuka kuning dan jang ketiga mukanja sangat aneh, mukanja disilang oleh dua djalur bekas luka jang pandjang. Sikurus memakai sendjata pedang, sedangkan Todjin itu menggunakan gandin berantai dan simuka djelek bersendjata Kui-thau-to, golok berpunggung tebal jang melukiskan kepala setan.

Yan-khek melihat orang tua jang dikerojok itu sudah terluka tapi kedua telapak tangannja masih terus naik turun dan balas menjerang dengan sangat tangkas. Ia menghindarkan serangan2 lawan dengan mengitari sebatang pohon dan kadang2 diselingi dengan pukulan atau tutukan jang lihay, njata sekali ilmu silatnja sangat hebat.

Hanja mengikuti beberapa djurus sadja Tjia Yan-khek lantas mengenali orang tua itu. Tiba2 timbullah rasa sjukurnja : “Bagus, kukira siapa, tak tahunja adalah Tay-pi Lodjin dari Pek-keng-to. Hari ini kau mirip harimau jang kesasar dan dikerubut kawanan andjing, tampaknja sekali ini kau pasti akan tjelaka.” Tapi ketiga pengerojok itu tak dikenal Tjia Yan-khek. Tampaknja ilmu silat ketiga orang itupun tidak rendah, lebih2 si tinggi kurus, ilmu pedangnja boleh dikata sudah mentjapai kelas tertinggi.

Sedang permainan gandin berantai si Todjin juga sangat aneh, terkadang gandinnja dapat mengitari pohon untuk menghantam bagian samping Tay-pi Lodjin. Adapun silelaki bermuka djelek itu memiliki tenaga jang sangat kuat, goloknja jang tebal itu diputar sedemikian kentjangnja sehingga menerbitkan suara menderu2 jang memekakkan telinga.

Diam2 Yan-khek terkedjut. Pikirnja: “Sudah lama aku tidak mendjeladjahi Kangouw, ternjata didunia persilatan sudah timbul tokoh2 silat sehebat ini. Mengapa satupun aku tidak kenal gaja permainan silat ketiga orang ini? Tjoba kalau lawannja bukan tiga djago pilihan selihay ini tentu Tay-pi Lodjin takkan terdesak seperti ini. Kalau ketiga orang ini mengerojok diriku, rasanja aku sendiripun susah untuk mengalahkan mereka.”

Dalam pada itu terdengar Todjin atau imam itu telah berseru dengan suaranja jang serak: “Pek-keng Totju (penguasa pulau paus putih), selamanja Tiang-lok-pang kami tiada permusuhan apa2 dengan kau. Djika sekarang kau mau mengaku kalah dan bersedia mengadakan perserikatan dengan Pang kami, maka segera kita akan mendjadi sahabat baik dan tidak perlu bertarung mati2an seperti ini jang mungkin akan melajangkan djiwa pertjuma.”

Tapi Tay-pi Lodjin mendjawab dengan gusar: “Seorang laki2 sedjati masakah sudi mendjadi begundal manusia2 tidak punja malu seperti kalian? Tidak, tidak bisa.” ~ Habis berkata tangan kirinja mendadak mentjakar kepundak lelaki bermuka djelek itu.”

“Liong-djiau-djiu (tjengkeraman tjakar naga) jang hebat!” diam2 Yan-khek memudji serangan Tay-pi Lodjin.

Serangan itu tampak lambat, tapi sebenarja sangat tjepat. Meski si lelaki muka djelek sudah mendakkan tubuh untuk menghindar, tapi toh agak terlambat djuga. Pundaknja sudah ditjengkeram oleh djari Tay-pi Lodjin.

Keruan sitinggi kurus terkedjut, tjepat pedangja menusuk muka Tay-pi Lodjin. Dengan serangan selihay ini Tay-pi Lodjin hendak dipaksa menarik kembali tjengkeramannja kepada sang kawan.

Maka terdengarlah suara “bret” sekali, badju bagian pundak silelaki djelek telah tersobek sepotong, bahkan pundaknja lantas berlumuran darah, njata telah dilukai oleh tjakaran Tay-pi Lodjin.

Ketiga orang itu mendjadi gusar, mereka mengerubut dengan lebih gentjar lagi.

Diam2 Yan-khek mendjadi heran: “Matjam perkumpulan apakah Tiang-lok-pang itu? Kalau didalam Pang mereka terdapat tokoh selihay ini, mengapa selama ini aku tidak pernah dengar nama mereka?”

Tertampak pertarungan keempat orang itu makin lama makin sengit. Mendadak silelaki djelek menggereng keras sekali dan goloknya terus membabat. Tapi Tay-pi Lodjin sempat mengegos berbareng ia balas mendjotos kearah si Todjin. “Tjrat”, golok silelaki muka djelek telah menabas dibatang pohon, saking kuatnya tabasan itu sehingga seketika golok susah ditjabut kembali. Kesempatan itu tidak di-sia2kan oleh Tay-pi Lodjin, tjepat sikutnja menjodok kepinggang lelaki muka djelek.

Rupanja Tay-pi Lodjin telah bertahan sekuatnja dari pengerojokan ketiga djago lihay itu, ia insaf susah menjelamatkan diri. Apalagi dalam pertarungan sengit itu, pantjainderanja jang tadjam lapat2 telah melihat dibalik pohon tersembunji dua orang lagi, ia menduga pasti musuh. Padahal untuk melawan tiga orang sadja kewalahan, apalagi musuh mendapat bala bantuan pula?

Karena itulah terpaksa ia mesti mengambil langkah berbahaja. Ia lihat simuka djelek itu adalah paling lemah diantara ketiga pengerojok, maka pada kesempatan jang ada itu segera ia menjikutnja. Maka terdengarlah “bluk” sekali, dengan tepat pinggang simuka djelek tersikut.

Tay-pi Lodjin bergirang karena serangannja tepat kena sasarannja, segera ia memutar pula kebalik pohon. Pada saat itu djuga gandin berantai si Todjin telah menjambar datang dari balik pohon. Tanpa pikir telapak tangan kiri Tay-pi Lodjin memotong keatas rantai gandin musuh. Tapi mendadak sinar pedang berkelebat, tjepat Tay-pi menggeser dan berkelit kekanan.

Tak terduga, karena usianja sudah landjut, setelah bertempur sengit sekian lamanja, tenaganja sudah tidak sekuat seperti waktu mudanja, mestinja geserannja itu dapat mentjapai sedjauh dua meter, tapi sekarang hanja sedjauh satu meter lebih, maka terdengarlah “tjret” jang pelahan, pedang sikurus telah menembus bahu kirinja, tanpa ampun lagi ia terpaku kentjang dibatang pohon.

Karena perubahan jang luar biasa itu, sidjembel tjilik sampai mendjerit kaget. Tadi waktu menjaksikan seorang tua dikerojok tiga orang, memangnja dia sudah merasa tidak adil. Sekarang dilihatnja pula siorang tua sudah dikalahkan, tentu sadja ia lebih2 kuatir dan tambah penasaran.

Sementara itu terdengar sikurus sedang berkata dengan dingin: “Pek-keng Totju, dasar kau, diminta dengan baik2 tidak mau dan maunja dipaksa. Sekarang kau mau menjerah kepada Tiang-lok-pang kami atau tidak?”

“Hm, djika kau kenal aku sebagai Totju dari Pek-keng-to, apakan diantara penghuni Pek-keng-to kami ada pengetjut jang pernah tekuk lutut kepada orang lain?” bentak Tay-pi Lodjin dengan mata melotot. Mendadak ia meronta sekuatnja, njata ia lebih suka mengorbankan sebelah bahunja untuk melepaskan diri.

Namun gandin berantai si Todjin sudah bekerdja djuga, rantai sendjata itu telah melibat beberapa kali sehingga badan Tay-pi Lodjin terikat dibatang pohon, achirnja terdengar suara “bluk” sekali, udjung gandin telah menghantam didada Tay-pi Lodjin. Tanpa ampun lagi darah segar lantas menjembur keluar dari mulut orang tua itu.

Sipengemis tjilik tidak tahan lagi, mendadak ia berlari madju dan ber-teriak2 : “Hai, kalian tiga orang jang djahat mengerojok seorang baik, ini tidak boleh djadi!”

Diam2 Tjia Yan-khek mengerut kening. Pikirnja :”Botjah ini ternjata suka tjari penjakit. Tapi biarkan sadja, ada baiknja djuga membiarkan ketiga orang itu membunuhnja. Andaikan botjah itu nanti minta tolong padaku, diantara ketiga lawan sudah ada satu jang terluka, sisa dua orang itu tentu mudah dilajani.”

Dalam pada itu tertampak sidjembel tjilik itu telah berlari sampai dibawah pohon sana dan mengadang didepan Tay-pi Lodjin sambil berseru: “Kalian tidak boleh membikin susah lagi kepada paman tua ini.”

Sebenarnja sitinggi kurus djuga sudah mengetahui bahwa di balik pohon itu tersembunji orang. Tapi dilihatnja pemuda ini toh tidak mahir ilmu silat, mengapa sedemikian berani merintangi mereka, tentu dibelakangnja ada jang mendjagoi. Maka diam2 ia merantjang: “Biar aku me-nakut2i setan tjilik ini, tentu orang jang mendjagoi itu akan terpaksa muntjul sendiri.”

Segera ia tjabut Kui-thau-to, golok berukiran kepala setan, jaitu milik kawannja jang menantjap dibatang pohon tadi, lalu ia menggertak: “Setan alas, siapakah jang suruh kau mengatjaukan urusan Lotju (bapakmu, kata olok2) ini? Hajo lekas enjah, biar kumampuskan tua bangka itu!”

Habis berkata, ia sengadja mengangkat goloknja dengan lagak hendak membatjok, njata se-akan2 pengemis ketjil jang mengadang didepannja itu djuga akan dibatjoknja sekalian bersama Tay-pi Lodjin.

“Tidak, tidak nanti aku mau pergi,” demikian djawab sidjembel malah tanpa gentar. “Paman tua ini adalah orang baik dan kalian adalah orang djahat. Aku harus membantu orang baik dan tak mau enjah.”

Kiranja dalam hidupnja se-hari2, bila perasaan ibunja kebetulan lagi senang, maka pengemis ketjil itu terkadang djuga didongengi tentang orang djahat dan orang baik segala. Maka dalam hati ketjil botjah itu telah timbul kesan bahwa adalah seharusnja dan maha adil bila membantu orang baik untuk melawan orang djahat.

Maka terdengar sikurus telah membentak dengan gusar: “Apakah kau kenal dia? Darimana kau tahu dia adalah orang baik?”

“Paman tua ini tadi mengatakan Pang apa kalian itu adalah perkumpulan orang djahat dan tidak sudi bergabung dengan kalian, maka sudahlah terang kalian adalah orang djahat,” demikian djawab sidjembel tjilik. Segera ia membalik tubuh dan hendak melepaskan rantai gandin si Todjin.

Tapi si Todjin sudah lantas memberi persen sekali tamparan sehingga mata sidjembel tjilik ber-kunang2 dan pusing tudjuh keliling, pipi kirinja seketika merah bengkak.

Dasar pengemis tjilik itu memang tidak kenal tingginja langit dan tebalnja bumi. Kemarin dia telah menjaksikan Go To-it dikerubut oleh orang2 Kim-to-the, soalnja dia tidak tahu Go To-it itu orang baik atau djahat, pula mereka bertempur diatas rumah dan achirnja Go To-it terdjungkal kebawah dan segera perutnja ditikam oleh kedua kaitan Li Tay-goan, kalau tidak, tentu saat itu djuga dia akan tampil kemuka untuk membelanja tanpa memikirkan mati-hidupnja sendiri.

Begitulah demi melihat sikap sidjembel tjilik jang tak gentar, diam2 sikurus mendjadi sangsi malah, pikirnja: “Matjam apakah tokoh jang mendjagoi kau itu sehingga kau berani main gila dengan para Hiangtju (pemimpin bagian, hulubalang) dari Tiang-liok-pang?”

Ia tjoba melirik kebalik pohon sana, sekilas tertampak olehnja muka Tjia Yan-khek jang aneh itu, seketika ia ingat kepada seorang: “Muka orang ini mirip dengan pemilik medali wasiat Mo-thian-kisu Tjia Yan-khek, djangan2 memang dia inilah?”

Segera ia tjoba menggertak lagi dengan mengatjungkan goloknja sambil membentak: “Aku tidak kenal asal-usulmu dan siapa perguruanmu, pendek kata kau berani mengatjau, segera kubatjok mampus pengemis ketjil matjam kau ini ?” ~ Dan menjusul goloknja terus menjambar keleher sidjembel tjilik.

Tak terduga djembel tjilik itu ternjata sangat bandel, sama sekali ia tidak gentar dan tidak bergerak sedikitpun. Ketika golok sikurus sudah hampir mengenai leher botjah itu barulah mendadak sikurus tahan sendjatanja, pudjinja: “Anak setan, besar djuga njalimu, ja?”

Sebaliknja watak si Todjin sangat berangasan, ia mendjadi aseran melihat kebandelan sidjembel tjilik, “plak”, kembali ia menampar lagi dengan lebih keras.

Betapapun usia pengemis tjilik itu masih sangat muda, karena ber-ulang2 digampar, maka menangislah dia.

“Djika kau tidak ingin dihadjar lagi, lebih baik kau menjingkir sadja!” udjar sikurus.

“Asal kalian pergi dulu dan takkan membikin susah paman tua ini, maka tanpa disuruh djuga aku akan segera pergi”, sahut sidjembel tjilik sambil bersengut.

Sikurus mendjadi tertawa malah. Sebaliknja si Todjin tambah murka, kontan kakinja mendepak sehingga sidjembel tjilik djatuh terguling. Tapi biarpun babak-belur dan didepak terguling, tetap sidjembel pantang mundur, begitu merangkak bangun, kembali dia mengadang didepan Tay-pi Lodjin pula.

Sifat Tay-pi Lodjin itu sebenarnja sangat aneh dan menjendiri, selama hidupnja djarang berkawan. Sekarang dilihatnja anak muda jang selamanja tidak pernah dikenalnja itu telah membela dengan mati2an, mau-tak-mau timbul djuga rasa terima kasihnja. Maka katanja: “Adik tjilik, pertjumalah kau bertengkar dengan mereka, bukan mustahil djiwamu akan melajang pertjuma pula. Dihari tua orang she Thia ternjata dapat mengikat seorang sahabat ketjil sebagai kau, sungguh hidupku ini boleh dikata tidak sia2. Sekarang lekaslah kau pergi sadja.”

Apa jang dikatakan “dihari tua” dan “hidup tidak sia2” segala dengan sendirinja sidjembel tjilik tidak paham sama sekali, ia hanja tahu orang tua itu telah menjuruhnja lekas pergi sadja. Maka ia lantas mendjawab: “Tidak, engkau adalah orang baik, betapapun kau tidak boleh ditjelakai oleh mereka.”

Sikurus adalah seorang tjerdik dan bisa berpikir pandjang. Diam2 ia memikir: “Datangnja botjah ini sangat mendadak dan aneh, orang jang sembunji dibalik pohon itu entah betul Tjia Yan-khek atau bukan, rasanja kita tidak perlu banjak mengikat permusuhan. Namun melulu beberapa patah-kata sibotjah ini dan kami lantas pergi, hal ini bukankah menundjukkan Tiang-lok-pay taku kepada orang lain.”

Tiba2 ia mendapat akal, ia angkat golok Kui-thau-to dan berkata: “Baiklah, anak ketjil, aku ingin mendjadjal kau sekali lagi. Ber-turut2 aku akan membatjok dan menabas 36 kali padamu, djika kau sama sekali tidak bergerak, maka aku akan menjerah padamu. Nah, kau takut tidak ?”

“Ber-ulang2 dibatjok 36 kali, sudah tentu aku takut,” sahut sidjembel.

“Djika takut, nah, lebih baik kau menjingkir pergi sadja,” udjar sikurus.

“Tidak, hanja didalam hati aku takut, tapi aku djusteru tidak mau pergi,” sahut sidjembel tjilik.

Sikurus mengatjungkan djempolnja dan memudji: “Bagus! Anak jang gagah. Nah, awas serangan!” ~ “Sret”, segera goloknja menabas lewat diatas kepala djembel tjilik itu.

Dari balik pohon Tjia Yan-khek dapat melihat dengan djelas bahwa tabasan sikurus itu sangat tjepat dan gesit, tenaga jang digunakan adalah tenaga pergelangan tangan, walaupun tak diketahui apa namanja djurus itu, tapi golok jang antap itu ternjata dapat dimainkan dengan enteng dan tjepat sekali. Tabasan itu menjerempet lewat diatas ubun2 kepala sidjembel sehingga setjomot rambutnja terkupas.

Namun demikian, benar djuga sidjembel tjilik tetap sangat tabah, ia tetap berdiri tegak dan tidak bergerak sedikitpun.

Menjusul sinar golok tampak berkelebat dan menjambar kian kemari diatas kepala sidjembel, rambut bertebaran pula. Setelah 32 kali menabas, mendadak sikurus membentak sekali, golok membatjok dari atas kebawah, “bret”, lengan badju kanan sidjembel telah terkupas sepotong, menjusul lengan badju kiri dikupas pula dengan tjara jang sama, bahkan tjelananja djuga terpotong sebagian dikanan-kirinja. Dengan demikian mendjadi genaplah 36 kali batjokan dan tabasan. Diwaktu menarik kembali goloknja, tahu2 sikurus menggunakan gagang goloknja untuk menjodok di “Tan-tiong-hiat” didada Tay-pi Lodjin, lalu ia tertawa ter-bahak2 dan berkata: “Anak tjilik, sungguh hebat kau, ketabahanmu memang luar biasa!”

Tjia Yan-khek telah mengikuti dengan baik apa jang dilakukan sikurus itu. Ia lihat sikurus telah memainkan goloknja dengan 36 djurus serangan jang susul-menjusul dan ternjata sedikitpun tiada lubang kelemahan, maka diam2 Yan-khek memudji akan kepandaian orang. Waktu dilihatnja pula sikurus menutuk Hiat-to mematikan didada Tay-pi Lodjin pada saat dia menarik kembali goloknja, diam2 iapun menganggap tindakan sikurus itu terlalu kedji.

Dalam pada itu rambut sidjembel tjilik jang tadinja gombjok kusut itu, setelah kena 32 kali tabasan kini telah berubah mendjadi seroang Hwesio ketjil.

Tadi ia ditabas 32 kali dan setiap kali tabasan itu selalu menjerempet diatas kepalanja, hal ini sebagian adalah karena ketekadannja ingin membela Tay-pi Lodjin, tapi sebagian djuga lantaran kesimanja sehingga tidak dapat bergerak. Sesudah sikurus habis menabas, ia tjoba meraba kepalanja sendiri dan terasa masih baik2 tanpa kurang apa2, maka barulah dia menghela napas lega.

Sebaliknja si Todjin dan simuka djelek lantas bersorak memudji: “Bi-hiangtju, ilmu pedang jang hebat !”

“Ha, permainan kasaran sadja!” sahut sikurus dengan tersenjum.

“Mengingat ketabahan sobat ketjil ini, biarlah hari ini kita mengalah sedikit padanja. Sekarang marilah kita pergi sadja saudara2.”

Melihat Tay-pi Lodjin sudah tinggal napas jang terachir sadja karena sodokan gagang golok sikurus tadi, maka si Todjin dan simuka djelek djuga tidak rewel2 lagi, mereka djemput sendjata masing2 lalu melangkah pergi.

Sikurus mendadak menabok sekali diatas batang pohon, tahu2 pedangnja jang menantjap dibatang pohon dengan memantek tubuh Tay-pi Lodjin itu lantas mentjelat keluar dengan membawa darah segar orang tua itu. Segera sikurus sambar sambar pedangnja dan bertindak pergi dengan tertawa, sama sekali ia tidak berpaling lagi ketempat sembunjinja Tjia Yan-khek.

Diam2 Yan-khek membatin: “Kiranja sikurus itu she Bi dan adalah Hiangtju dari tiang-lok-pang. Dia sengadja memperlihatkan dua djurus kepandaiannja padaku, terutama tabokan jang menggetarkan batang pohon untuk mengeluarkan pedang itu betul2 sangat lihay.”

Dalam pada itu sipengemis tjilik sedang berkata kepada Tay-pi Lodjin: “Paman tua, biar kubalut lukamu itu.” ~ Lalu ia ambil sobekan kain badjunja sendiri jang ditabas sikurus tadi dan hendak membalut luka dibahunja Tay-pi Lodjin.

Namun orang tua itu lantas berkata: “Ti…………tidak perlu lagi! Di………….didalam kantongku ada………..ada beberapa boneka ketjil……….ku………..kuberikan semua itu pa………………….padamu………………” ~ belum selesai utjapannja, matanja terpedjam dan kepalanja miring kesamping, tubuhnja jang besar itu perlahan2 merosot kebawah pangkal pohon.

“Paman tua! Paman tua!” seru sidjembel tjilik dan bermaksud memajang orang tua itu. Tapi dilihatnja Tay-pi Lodjin sudah meringkuk ditanah dan tak bisa berkutik lagi.

Segera Tjia Yan-khek mendekatinja dan bertanja: “Apa jang dia katakan sebelum mati?”

“Dia bilang……….dia bilang didalam kantongnja ada beberapa boneka ketjil dan diberikan padaku semua”, sahut sidjembel tjilik.

Tjia Yan-khek kenal Tay-pi Lodjin adalah seorang tokoh besar didunia persilatan, dalam hal ilmu silat sekali2 tidak dibawah dirinja, maka bukan mustahil pada tubuh orang tua itu tentu dapat diketemukan benda2 jang penting. Namun sebagai seorang tokoh pula Tjia Yan-khek djuga bertinggi hati dan sekali2 tidak sudi mentjuri apa2 milik orang mati. Andaikan tahu betul Tay-pi Lodjin membawa benda2 mestika djuga dia tidak mau mengambilnja. Karena itulah ia lantas berkata : “Djika dia telah memberikannja padamu, maka bolehlah kau ambil sadja.”

“Dia sendiri jang memberi, kalau aku mengambilnja terhitung maling ketjil atau bukan ?” tanja sidjembel tjilik.

“Bukan”, sahut Yan-khek dengan tertawa.

Segera sidjembel menggagapi saku badjunja Tay-pi Lodjin dan mengeluarkan isinja, diantaranja terdapat sebuah kotak kaju ketjil, beberapa uang perak dan beberapa buah sendjata rahasia berduri. Selain itu pula beberapa putjuk surat dan seperti ada pula sehelai peta.

Sebenarnja didalam hati Tjia Yan-khek sangat ingin tahu apa jang tertulis didalam surat2 itu dan apa jang terlukis didalam peta. Tapi ia merasa, asal tangannja menjentuh barang2 itu, maka nama baiknja sebagai seorang tokoh pudjaan dunia persilatan tentu akan tertjemar.

Dalam pada itu tertampak sidjembel tjilik sudah membuka kotak ketjil itu, didalam digandjel dengan kapas dan terdapat tiga baris boneka buatan tanah liat. Setiap barisnja ada enam boneka sehingga seluruhnja ada 18 buah. Buatan boneka2 itu sangat indah, semuanja berbentuk laki2 dan telandjang, ditubuh boneka jang berwarna putih itu penuh terlukis garis2 merah.

Sekali pandang sadja Tjia Yan-khek lantas tahu bahwa garis2 merah jang terlukis diatas tubuh boneka2 itu adalah model2 untuk melatih sedjenis Lweekang jang tinggi, besar kemungkinan adalah rahasia inti dari ilmu Lweekang golongan Pek-keng-to. Rupanja Tay-pi Lodjin merasa berterima kasih kepada djiwa kesatria sidjembel tjilik jang telah membelanja mati2an, maka telah menghadiahkan benda2 mestika itu. Tapi lantas terpikir oleh Tjia Yan-khek: “Pertjuma djuga maksud Tay-pi Lodjin itu, andaikan tidak diberikan, toh kalau botjah ini menemukan boneka2 itu didalam kantongmu djuga tentu akan diambilnja untuk barang mainan.”

Padahal dugaan Tjia Yan-khek ini pasti meleset. Pengemis ketjil itu sekarang sudah paham bahwa mengambil barang orang lain setjara diam2 adalah maling ketjil serta orang djahat, maka tidaklah mungkin dia berani menggerajangi milik Tay-pi Lodjin djika orang tua itu tidak memberitahukan tentang barang apa jang berada disakunja itu.

Selamanja djembel tjilik itu hidup diatas gunung jang terpentjil, untuk pertama kalinja sekarang dia melihat boneka2 sebanjak itu, keruan ia sangat senang dan ber-ulang2 menjatakan : “Sungguh menarik sekali. Tapi mengapa tidak pakai badju? Apa tidak dingin.”

Diam2 Tjia Yan-khek membatin: “Meski Tay-pi biasanja tidak tjotjok dengan aku, tapi dia terhitung djuga seorang tokoh terkemuka, betapapun djenazahnja tidak boleh ditelatarkan begini sadja.”

Segera ia berkata kepada sidjembel tjilik jang lagi asjik dan senang memandangi boneka2 ketjil itu: “Kawanmu itu sudah mati, apa kau tidak menanamkan majatnja ?”

“Ja, tapi tjara bagaimana menanamnja ?” sahut sidjembel.

“Kalau kau kuat, boleh kau menggali sebuah liang, kalau tidak kuat, boleh menguruki dia dengan tanah, batu dan daun2 kering.

“Disini djuga tiada tjangkul dan susah untuk menggali liang”, udjar sidjembel. Maka ia lantas mengusung batu dan tanah, dan uruk pula dengan daun2 kering sehingga djenazah Tay-pi Lodjin tertutup rapat.

Karena usianja masih terlalu muda, setelah selesai menguruk djenazah Tay-pi itu ia sendiri sudah mandi keringat dan sangat lelah.

Tjia Yan-khek tetap berdiri menonton sadja disamping dan tidak membantunja. Ia tunggu sidjembel tjilik selesai bekerdja bakti, lalu ia mengadjaknja berangkat.

“Kemana lagi? Aku sudah terlalu lelah dan takkan ikut padamu!” sahut sidjembel.

“Kenapa? Kau tidak ikut pergi padaku?” tanja Yan-khek.

“Tidak, aku akan mentjari ibu dan si Kuning,” kata sidjembel tjilik.

Diam2 Yan-khek mendjadi kuatir: “Botjah ini belum lagi meminta sesuatu padaku, djika dia tidak mau ikut pergi padaku, hal ini mendjadi sulit bagiku. Sedangkan akupun takdapat mengadjak dia setjara paksa. Ah, sumpahku dahulu itu hanja mengatakan tidak boleh main paksa kepada orang jang mengembalikan medali wasiat padaku dan tidak menjatakan tak boleh mendustai dia. Maka sekarang terpaksa aku harus mendustai dia sadja.”

Maka ia lantas berkata: “Kau boleh ikut padaku sadja, nanti aku bantu mentjarikan ibumu dan si Kuning.”

“Baik sekali. Kepandaianmu sangat tinggi, tentu kau akan dapat menemukan ibuku dan si Kuning,” sahut sidjembel dengan girang.

Yan-khek pikir tiada gunanja banjak bitjara dengan botjah itu, untung botjah itu tidak pernah memohon setjara resmi padanja, kalau tidak tentu akan sulit untuk mentjarikan ibunja dan andjing piaraannja itu. Segera ia pegang tangan kanan sidjembel dan berkata: “Marilah kita berdjalan tjepatan sedikit !”

Dan baru sadja sidjembel tjilik mengiakan, tahu2 ia merasa tubuhnja terseret dan se-akan2 terapung dan berlari setjepat terbang. Bukannja takut, sebaliknja ia mendjadi senang, serunja: “Ha, enak sekali, enak sekali!”

Kiranja Tjia Yan-khek telah menggunakan Ginkang jang tinggi dan mengerahkan sedikit tenaga dalam untuk membawanja berlari. Keruan sidjembel tjilik merasa seperti dibawa terbang dan tertawa2 senang sambil memudji kepandaian Tjia Yan-khek.

Sampai hari sudah gelap, entah sudah berapa djauhnja mereka berlari, achirnja mereka sampai di-tengah2 gunung jang sepi. Disitulah Yan-khek berhenti dan melepaskan tangan sidjembel tjilik.

Sesudah berhenti barulah sidjembel tjilik itu merasakan kakinja lemas dan tidak kuat berdiri lagi, seketika ia djatuh terduduk. Hanja sebentar sadja ia berduduk, segera ia merasa kedua telapak kakinja kesakitan, ternjata sudah merah dan bengkak. Ia berteriak kaget: “Ha, paman tua, kakiku bengkak!”

“Djika kau minta aku mengobati kau, tentu segera kakimu takkan bengkak dan sakit”, sahut Tjia Yan-khek.

“Kalau kau mau menjembuhkan aku, dengan sendirinja aku akan berterima kasih padamu”, sahut sidjembel tjilik.

Mau-tak-mau Tjia Yan-khek mengerut kening, katanja pula: “Apa benar2 selamanja kau tidak pernah memohon apa2 kepada orang lain?”

“Djika engkau suka menjembuhkan aku, tentunja tidak perlu aku memohon, sebaliknja kalau engkau memang tidak mau, biarpun aku memohon djuga pertjuma”, udjar sidjembel.

“Kenapa pertjuma ?” Yan-khek menegas.

“Habis, kalau engkau tidak mau menjembuhkan aku, tentunja aku akan sedih, boleh djadi akan menangis. Sebaliknja kalau tidak dapat mengobati aku, tentunja engkau jang akan merasa susah.”

“Hm, hatiku selamanja tidak pernah susah. Nah, kita tidur sadja disini!” djengek Yan-khek.

Agar sesuai dengan kenjataannja karena anak muda itu tidak sudi memohon sesuatu apapun kepada orang lain, dengan sendirinja istilah “sidjembel tjilik” atau “sipengemis tjilik” adalah tidak tepat baginja, maka untuk selandjutnja kita akan menjebutnja sebagai anak muda sadja.

Begitulah anak muda itu telah bersandar pada sebatang pohon, meski kedua kakinja melepuh sakit, tapi saking lelahnja, hanja sebentar sadja ia sudah terpulas, sampai perutnja jang sudah lapar djuga terlupakan.

Tjia Yan-khek sendiri lantas melompat keatas pohon dan tidur disitu. Ia berharap tengah malam nanti akan datang seekor binatang buas dan anak muda itu akan digigit mati dan dimakan sehingga akan mengachiri kesulitan atas diri anak muda itu.

Tak terduga, sepandjang malam itu seekor kelintjipun tidak lalu disitu djangankan lagi seekor binatang buas. Diam2 Yan-khek membatin : “Terpaksa aku mesti membawa pulang dia ke Mo-thian-kay. Kalau nanti dia membuka mulut memohon sesuatu jang mudah dikerdjakan olehku, maka hal itu terhitung dia jang mudjur, kalau tidak, betapapun aku harus berdaja upaja untuk membinasakan dia. Sungguh tjelaka, kalau terhadap seorang botjah tjilik sadja takbisa membereskannja, lalu matjam apakah manusia Mo-thian-kisu jang tersohor ini?”

Esok paginja Tjia Yan-khek menggandeng tangan anak muda itu dan diadjaknja berangkat pula. Tapi baru melangkah beberapa tindak, anak muda itu lantas mendjerit kesakitan karena telapak kakinja serasa ditusuk oleh ber-ratus2 djarum.

“Kenapa?” tanja Yan-khek. Ia menjangka anak muda itu tentu akan mengadjukan permintaan berhenti dahulu atau permintaan lain sebagainja.

Tak terduga anak muda itu hanja mendjawab: “Tidak apa2, kakiku sedikit sakit. Marilah kita djalan terus.”

Karen takbisa meng-apa2kan anak muda itu, lama2 Tjia Yan-khek mendjadi naik darah, segera ia seret anak muda itu dan berlari lebih kentjang lagi.

Mereka berlari terus tanpa berhenti. Bila lalu dikota, seadanja Tjia Yan-khek membeli sedikit penganan, lalau berangkat lagi, sambil lari sambil makan. Kalau dia membagi makanan itu kepada sianak muda barulah anak muda itu memakannja, kalau tak membaginja, anak muda itu djuga tidak minta.

Dengan demikian beberapa hari telah lalu dengan tjepat. Sampai hari keenam, tempat mereka ber-lari2 itu adalah ditengah lereng gunung jang terdjal. Sungguh aneh djuga, meski anak muda itu tidak paham ilmu silat, tapi dengan digandeng oleh Tjia Yan-khek, semakin lama berlari, semakin bersemangat malah. Sampai achirnja bahkan kedua kakinja tidak terasa sakit lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar