Jilid 9
Dalam pada itu, sesudah kedua orang itu pergi barulah sianak muda mengamat-amati keadaan didalam kamar, ia melihat dirinja tertidur diatas sebuah randjang berukuran sangat besar dengan kelambu dan selimut jang indah, didepan tempat tidur itu terdapat sebuah medja tulis bertjat merah, disamping medja itu ada dua buah kursi dengan kasur bersulam. Selain itu banjak pula padjangan2 lain jang serba mewah dengan bau asap jang harum semerbak sehingga membikin orang merasa seperi berada didalam gua dewa.
Sudah tentu sianak muda tidak pernah kenal tempat tidur sebesar dan sebagus itu, apalagi benda2 lain jang menjilaukan mata didalam kamar itu. Pikirnja: “Besar kemungkinan aku berada dalam impian.”
Tapi bila teringat kepada sinona badju hidjau jang tjantik menggiurkan itu, sampai alisnja jang lentik dan bibirnja jang merah tipis sebagai delima merekah, semuanja tiu djuga masih teringat dengan djelas, pula daun djendela jang dibukanja tadi untuk melompat keluar itu sampai sekarang djuga masih setengah terpentang, semuanja ini toh tidak seperti dalam mimpi?
Ia tjoba angkat tangan kanan hendak meraba kepalanja sendiri. Tak tersangka hanja sedikit bergerak sadja, seluruh badannja lantas kesakitan pula sehingga ia mendjerit.
Karena suaranja itu, tiba2 terdengar suara orang menguap kantuk dipodjok kamar sana dan berkata: “Siauya” (tuan muda), engkau sudah mendusin……..” itulah suara seorang wanita, agaknja baru sadja terdjaga bangun dari tidurnja. Tiba2 ia berseru kaget pula: “Ha, eng………..engkau sudah sadar kembali?”
Sianak muda merasa pandangannja mendjadi silau ketika tiba2 seorang anak dara berbadju kuning tahu2 sudah berdiri didepan tempat tidurnja. Semua ia bergirang, disangkanja sinona badju hidjau tadi jang telah datang lagi, tapi sesudah diperhatikan ternjata nona dihadapannja sekarang ini berbadju ringkas warna kuning telur, bergelung tjiodah dibagi dua. Bukan sadja dandanannja lain, bahkan mukanja djuga beda. Muka sinona didepannja sekarang ini agak bundar, matanja besar, dibalik ketjantikannja tampak sangat pintar dan lintjah pula.
“Siauya, engkau sudah sadar kembali?” demikian terdengar sinona bertanja pula dengan rasa girang dan kuatir.
“Ja, aku…….aku sudah sadar. Apakah………..apakah aku bukan didalam mimpi?” sahut sianak muda.
Sinona mengikik tawa. “Ja, mungkin engkau masih didalam mimpi, boleh djadi,” katanja. Habis itu lalu ia bersikap sungguh2 dan bertanja pula: “Siauya, apakah engkau ada perintah sesuatu?”
“Kau panggil aku apa? Siau………….Siauya apakah?” tanja sianak muda dengan heran.
Air muka sinona tampak mengundjuk rasa marah, sahutnja: “Sudah lama kukatakan padamu bahwa kami ini adalah orang2 rendah, kaum hamba belaka, kalau tidak panggil Siauya padamu, habis panggil apa?”
“Aneh,” udjar sianak muda dengan menggumam sendiri. “Jang seorang memanggil aku Pang……Pangtju, sekarang jang satu lagi memanggil aku Siauya. Sebenarnja siapakah aku ini? Dan mengapa bisa berada di sini?”
Sinona tampak bersabar kembali, katanja: “Siauya, kesehatanmu belum lagi pulih, hendaklah kau mengaso sadja. Apakah suka makan sedikit sarang burung?”
“Sarang burung ?” sianak muda menegas. Ia tidak tahu barang apakah “sarang burung” itu. Tapi perutnja memang terasa sangat lapar, tiada djeleknja untuk makan apapun djuga. Maka ia lantas manggut.
Dan sesudah membetulkan badjunja jang agak kusut, lalu anak dari itu menudju kekamar sebelah. Tidak lama kemudian ia datang lagi dengan membawa sebuah nampan dimana tertaruh sebuah mangkuk berwarna indah, dari dalam mangkuk itu terkepul uap jang berbau sedap wangi. Ditengah malam itu entah tjara bagaimana nona itu dapat menjediakan daharan panas dalam waktu sesingkat itu.
Memangnja perut sianak muda sudah lapar, demi mengendus bau harum sedap itu, seketika ia mengiler, perutnja semakin berkerujukan.
Rupanja suara kerujukan perut sianak muda dapat didengar anak dara itu, dengan tersenjum anak dara itu berkata: “Sudah tudjuh delapan hari engkau hanja minum kuah kolesom melulu untuk menguatkan badanmu, tentu sadja kau sangat kelaparan.” ~ berbareng ia lantas menghaturkan nampan jang dibawanja itu.
Sianak muda dapat melihat bahwa isi mangkuk itu adalah sedjenis makanan seperti bubur tapi bukan bubur, diatasnja ditaburi sedikit kelopak bunga mawar jang sudah kering sehingga menjiarkan bau harum. Segera ia tanja: “Makanan baik ini apakah untukku?”
“Sudah tentu, masakah pakai sungkan2 segala?” udjar sianak dara dengan tersenjum.
Tapi sianak muda itu mendjadi ragu2, ia pikir makanan sebaik ini entah berapa harganja, padahal uangnja sudah habis, entah boleh utang atau tidak? Lebih baik bitjara setjara terang2an sebelumnja. Maka ia lantas berkata: “Ta………tapi aku tiada punja uang, apa…………apakah boleh utang ?”
Anak dara itu tampak tertjengang sedjenak, tapi lantas berkata dengan tertawa: “Dasar djahil, sesudah sakit sepajah ini watakmu masih djuga belum berubah. Baru sadja kau dapat bitjara sudah mulai mengotjeh jang tidak2 lagi. Sudahlah, kalau lapar lekas makan sadja.” ~ Sambil bitjara ia menjodorkan nampannja lebih dekat pula.
Sianak muda mendjadi girang. “Habis makan aku tidak perlu bajar?” ia menegas.
Rupanja anak dari itu mendjadi djemu, tiba2 ia menarik muka dan menjahut: “Ja, tidak perlu bajar, kau mau makan atau tidak ?”
“Makan, tentu sadja makan!” seru sianak muda tjepat.
Segera ia hendak memegang sendok jang berada diatas nampan. Tapi baru sadja tangannja bergerak, seketika tubuhnja kesakitan lagi seperti ditusuk djarum, ia merintih tertahan dan sambil meringis ia mengangkat tangannja dengan pelahan, namun toh tetap bergemetar.
“Siauya, kau ini sakit sungguh2 atau pura2 kesakitan?” tanja sianak dara dengan muka masam.
“Sudah tentu sakit sungguh2, mengapa mesti pura2?” sahut sianak muda dengan heran.
“Baik, mengingat deritamu diwaktu sakit keras ini, biarlah untuk sekali lagi aku menjuapi kau,” kata sianak dara. “Tapi awas, Siauya, djika kau main pegang2 dan tjomat-tjomot lagi, tentu aku tidak mau gubris lagi padamu.”
Sianak muda semakin heran. “Apa itu main pegang2 dan main tjomat-tjomot?” tanjanja.
Air muka sianak dara mendjadi merah djengah. Ia pelototi anak muda itu sekedjap sambil mendengus, lalu ia pegang sendok dan menjendok bubur sarang burung untuk menjuapinja.
Seketika sianak muda melenggong, sama sekali tak terpikir olehnja bahwa didunia ini ternjata ada orang sebaik ini. Tanpa pikir ia lantas membuka mulut dan makan bubur sarang burung jang dilolohkan kepadanja itu. Sungguh rasanja sangat manis dan harum, enaknja tak terkatakan.
Anak dara itu hanja diam2 sadja dan terus menjuapi sampai beberapa kali, ia berdiri agak djauh dari tempat tidur sianak muda, hanja tangannja jang didjulurkan untuk menjuap, tampaknja seperti takut2 kalau2 mendadak “diterkam” oleh sianak muda.
Namun sianak muda sendiri sedang menikmati bubur sarang burung itu dengan men-djilat2 bibirnja sambil memudji: “Ehm, sungguh enak sekali. Aku harus berterima kasih padamu.”
“Hm, hendaklah kau djangan pakai akal litjik untuk menipu aku,” dengus sianak dara. “Sarang burung seperti ini entah berapa ribu mangkuk telah kau makan, bilakah kau pernah memudji akan keenakannja?”
Sianak muda mendjadi bingung sebab ia merasa selama hidupnja belum pernah makan sarang burung jang enak itu. Ia tjoba bertanja pula: “Apakah ini jang di……………dinamakan sarang burung ?”
“Huh, kau benar2 pandai berlagak bodoh, Siauya,” djengek sianak dara, berbareng ia melangkah mundur satu tindak se-akan kuatir diperlakukan setjara tidak senonoh oleh sianak muda.
Anak muda itu tjoba mengamat-amati sianak dara, terlihat pakaiannja jang berwarna kuning telur, rambutnja jang agak kusut bergelung tjiodah bagi dua, matanja tampak masih kerijep2 sepat karena baru mendusin, kakinja telandjang dan tidak memakai kaos sehingga kelihatan putih bersih bersandal sulam kembang tjantiknja susah dilukiskan. Tanpa terasa ia lantas memudji: “Kau……….kau sungguh sangat tjantik!”
Muka sianak dara mendjadi merah dan mengundjuk rasa marah, mendadak ia taruh mangkuk diatas medja, lalu menudju kepodjok kamar dan menggulung sebuah tikar dan sehelai selimut, tangan jang lain membawa sebuah bantal, terus berdjalan kepintu kamar.
Dengan gugup sianak muda berseru: “He, hen…..dak kemana kau ? Kau tak gubris lagi padaku ?”
“Kau baru sadja sembuh, sekarang mulutmu sudah mulai mengotjeh tak keruan lagi,” sahut sianak dara. “Kemana aku dapat pergi? Engkau adalah madjikan dan kami adalah kaum hamba jang rendah, masakan dapat dikatakan gubris dan tidak ?” ~ Sambil berkata ia terus melangkah pergi.
Sianak muda mendjadi bingung, ia tidak tahu sebab apakah anak dara itu marah2. Pikirnja: “Seorang nona telah pergi dengan melompat djendela, nona ini pergi pula melalui pintu, apa jang mereka katakan sama sekali aku tak paham. Ai, aku benar2 seorang tolol, segala apa tidak paham.”
Tengah ter-menung2 sendiri, tiba2 terdengar suara tindakan orang jang halus, ternjata anak dara tadi telah masuk kamar lagi, air mukanja tampak masih bersengut, tangannja membawa sebuah baskom.
Sianak muda mendjadi girang. Dilihatnja anak dara itu meletakkan baskom itu diatas medja, lalu dari dalam baskom diangkatnja sepotong handuk jang mengepul panas, sesudah diperas, handuk itu lantas disodorkan kepada sianak muda, katanja dengan nada dingin: “Ini, tjutji muka!”
“Ja, ja,” sahut sianak muda tjepat dan segera hendak mengambil handuk hangat itu. Tapi baru bergerak sedikit sadja sekudjur badannja lantas kesakitan seperti di-tusuk2 djarum. Ia meringis tertahan sambil menerima handuk itu. Ketika hendak dipakai mengusap mukanja, kedua tangan gemetar dengan hebat, betapapun handuk itu susah dilekatkan kepada mukanja.
Anak dara itu tampak ragu2 dan tjuriga, katanja dengan menjindir: “Huh, pintar sekali tjaramu berlagak”. ~ Segera ia ambil kembali handuk itu dan berkata pula: “Ingin aku mengusapkan mukamu djuga tidak sukar. Tjuma sadja engkau tidak boleh main gila dengan tanganmu, asal kau menjentuh seudjung rambutku, untuk selandjutnja aku pasti tidak mau masuk ke kamar ini lagi.”
“Ah, nona djangan mengusapkan mukaku, mana aku berani dilajani olehmu,” udjar sianak muda. “Kain ini sedemikian putih bersih, sedangkan mukaku sangat kotor, tentu kain bersih ini nanti akan ikut mendjadi kotor.”
Mendengar nada anak muda itu agak lebih rendah daripada dahulu, tjaranja bitjara dan lafalnja djuga rada berbeda daripada masa dulu, lebih2 mengenai apa jang dikatakan selalu hal2 jang tak genah, mau tak mau sianak dara semakin tjuriga: “Djangan2 karena sakitnja jang keras ini, maka otaknja telah terganggu. Menurut pembitjaraan Pwe-siansing dan lain2, katanja dia melatih sesuatu ilmu dan telah membakar dirinja sendiri sehingga menderita luka dalam jang berat. Kalau tidak mengapa bitjaranja selalu tak keruan dan tak teratur ?”
Kemudian ia tjoba bertanja: “Siauya, apakah kau masih ingat namaku?”
“Selamanja kau tidak pernah katakan padaku, dari mana aku kenal namamu?” sahut sianak muda. Ia tersenjum, lalu menjambung pula : “Aku sendiri bukan bernama Siauya, tapi namaku adalah Kau-tjap-tjeng, ini adalah nama panggilan ibuku. Paman tua itu mengatakan nama ini tidak baik. Dan siapakah namamu ?”
Kening sianak dara semakin mengerut mengikuti utjapan sianak muda itu, pikirnja: “Melihat tjara bitjaranja ini toh tiada tanda2 sengadja bergurau atau pura2, apakah dia benar2 sudah tidak waras lagi ?” ~ Berpikir demikian ia sendiri mendjadi sedih, katanja: “Siauya, apakah engaku benar2 tidak kenal diriku lagi? Kau sudah lupa kepada Si Kiam ?”
“Oh, apa kau bernama Si Kiam? Baiklah, selandjutnja aku akan panggil kau Si Kiam……..tidak, tapi akan kupanggil entji Si Kiam. Kata ibuku, terhadap wanita jang djauh lebih tua harus memanggilnja bibi, djika usianja sebaja bolehlah memanggilnja entji.”
Tiba2 air mata Si Kiam berlinang2, katanja dengan suara ter-guguk2: “Siauya, apa engkau benar2 sudah lupa padaku dan bukan tjuma pura2 sadja ?”
Sianak muda menggeleng kepala, sahutnja: “Apa jang kau katakan semuanja aku tidak paham, entji Si Kiam, sebab apakah kau menangis, mengapa kau tidak senang ? Apakah aku berbuat salah padamu ? Dikala ibuku merasa tidak senang sering beliau memaki dan memukul aku, sekarang kaupun boleh memaki dan memukul padaku sadja.”
Perasaan Si Kiam semakin pilu, pelahan2 ia menggunakan handuk tadi untuk mengusap muka sianak muda, katanja dengan pelahan: “Aku adalah pelajanmu, mana boleh memaki dan memukul kau? Siauya, semoga Thian memberkahi dirimu supaja penjakitmu lekas sembuh. O, Tuhan, djika ingatanmu benar2 terganggu, lantas bagaimana baiknja ?”
Sedjenak kemudian Si Kiam bertanja pula: “Siauya, kau telah melupakan namaku, apakah urusan2 lain djuga sudah kau lupakan? Misalnja tentang kau adalah Pangtju dari Pang apa?”
Sianak muda menggeleng, sahutnja: “Tidak, aku bukan Pangtju apa2, paman tua telah mengadjarkan aku melatih ilmu, sekonjong2 sebelah badanku sangat panas seperti dipanggang dan sebelah badan jang lain dingin luar biasa. Aku………….aku tidak tahan dan achirnja tidak ingat diri lagi. Entji Si Kiam, mengapa aku bisa berada disini? Apakah kau jang membawa aku kesini ?”
Kembali hati Si Kiam merasa pilu, pikirnja: “Djika demikian, agaknja dia benar2 tidak ingat apa2 lagi.”
Dalam pada itu sianak muda telah berkata pula: “Dimanakah paman tua itu? Dia mengadjarkan aku melatih ilmu menurut garis2 merah jang terlukis diatas boneka2 itu, mengapa badanku bisa mendjadi panas dan dingin, aku ingin minta keterangan padanja.”
Mendengar kata2 “boneka”, Si Kiam mendjadi teringat beberapa hari jang lalu ketika menggantikan pakaian sianak muda, dari kantong badjunja telah djatuh keluar sebuah kota ketjil jang berisi 18 buah boneka ketjil berbentuk lelaki telandjang. Waktu itu muka Si Kiam mendjadi merah, ia tjukup kenal sifat tuan mudanja jang bangor dan suka main gila, boneka2 telandjang itu tentu bukanlah barang mainan jang genah. Maka lantas menutup baik2 kotak boneka itu dan disimpan didalam latji.
Ia pikir kalau boneka2 itu diperlihatkan kepada sianak muda, boleh djadi akan membantu mengingatkan daja pikirannja pada kedjadian jang lalu. Maka ia lantas membuka latji dan mengeluarkan kotak ketjil itu, katanja: “Apakah boneka2 jang didalam kotak ini?”
“Ja, benar, boneka2 ini berada disini, tapi dimanakah paman tua? Kemanakah dia?”
“Paman tua siapa?” tanja Si Kiam.
“Paman tua ja paman tua. Katanja……………………..katanja dia bernama Mo-thian kisu.”
Si Kiam sendiri sangat tjetek pengetahuannja dalam dunia persilatan, maka ia tidak tahu bahwa Mo-thian-kisu Tjia Yan-khek adalah seorang tokoh terkemuka. Katanja kemudian: “Siauya, betapapun engkau sudah sadar kembali, djika kedjadian2 dahulu sudah kau lupakan, biarkan sadja, pelahan2 tentu engkau akan ingat kembali. Sekarang subuh belum tiba, engkau boleh tidur lagi. Ai, sebenarnja………..sebenarnja akan lebih baik djuga djikalau engkau sudah melupakan kedjadian2 dimasa lampau.”
Sambil berkata ia terus menjelimuti sianak muda, lalu membawa nampan dan segera hendak tinggal pergi.
Mendadak sianak muda bertanja: “Entji Si Kiam, mengapa kau anggap ada lebih baik djika aku tidak ingat lagi kepada kedjadian2 dimasa jang lalu?”
“Sebab…….sebab perbuatanmu dimasa jang lampau…………….” baru sekian utjapan Si Kiam, mendadak ia berhenti, lalu menunduk dan bertindak pergi dengan tjepat.
Sianak muda mendjadi bingung. Ia merasa segala apa jang dialaminja sekarang ini sungguh susah untuk dipahami. Ia dengar diluar ada suara kentongan tiga kali, ia tidak tahu bahwa itu adalah tanda waktu jang ditabuh peronda, sebaliknja ia heran mengapa ditengah malam buta masih ada orang memain tetabuhan segala.
Pada saat itulah, se-konjong2 ia merasa “Siang-yang-hiat” di bagian djari telundjuk kanan mendjadi panas, suatu arus hawa panas mendadak mengalir melalui lengan terus kebahu. Diam2 sianak muda mengeluh: “Tjelaka!” ~ Dan pada saat jang sama, “Yong-tjoan-hiat” ditelapak kaki kiri djuga lantas terasa dingin tak terkatakan.
Siksaan panas-dingin demikian itu sudah dirasakannja beberapa kali, ia tahu setiap kali kumat berarti penderitaan hebat baginja. Djika sudah tak tertahankan lagi, achirnja ia mendjadi pingsan. Biasanja kalau penjakitnja kumat selalu dia dalam keadaan tak sadar, tapi sekali ini penjakit itu kumat dikala pikirannja sedang terang, tentu sadja lebih dirasakan dan lebih menguatirkan.
Dalam pada itu hawa panas dan dingin itu pelahan2 mulai menjerang dari kanan kiri dan lambat laun sudah memusat ke bagian djantungnja. “Sekali ini pasti tamatlah riwajatku!” demikian pikir sianak muda.
Berdjangkitnja penjakit panas-dingin itu biasanja ber-pindah2, kalau tidak berpusat kebagian perut, sering bertemu dibagian paha atau bahu, tapi sekali ini hawa panas-dingin itu merangsang kebagian djantung yang merupakan tempat berbahaja, keruan deritanja lebih2 hebat.
Ia tahu gelagat djelek, segara ia meronta bangun sekuatnja untuk duduk, pikirnja ingin duduk bersila, tapi kedua kakinja betapapun susah ditekuk. Dalam keadaan amat tersiksa itu, tiba2 timbul pikirannja: “Apakah dahulu diwaktu sipaman tua sendiri melatih ilmu ini beliau djuga menderita seperti diriku? Sebenarnja permainan menangkap burung dan membuat burung takbisa terbang dari telapak tangan djuga bukan sesuatu permainan jang terlalu menarik, tahu begini akibatnja tentu aku tidak mau melatihnja.”
Pada saat itulah, tiba2 terdengar suara seorang lelaki sedang bertanja dengan suara tertahan diluar djendela: ”Apakah Pangtju belum tidur? Hamba Pah-tjiat-tong Tian Hui ingin melaporkan sesuatu urusan rahasia jang maha penting.”
Dalam keadaan diserang hawa panas dingin didalam badan, sianak muda sedikitpun tidak sanggup bersuara lagi.
Selang sedjenak, pelahan2 daun djendela terbuka, ketika bajangan orang berkelebat, tahu2 seorang laki2 berbadju loreng sudah melompat masuk kamar.
Ketika mendekati tempat tidur dan mendadak melihat sianak muda duduk diatas randjang, orang itu terperandjat. Agaknja hal demikian sama sekali diluar dugaannja, maka tjepat ia menjurut mundur setindak.
Dalam pada itu hawa panas-dingin dibadan sianak muda sedang berketjamuk dengan hebatnja, djantungnja bekerdja dengan sangat lemah se-akan2 setiap saat bisa berhenti dan mati orangnja. Namun demikian pikirannja tetap sangat djernih walaupun sedang menderita siksaan hawa panas-dingin itu. Ia melihat laki2 berbadju loreng itu melompat masuk dan mendengar dia mengaku bernama “Pah-tjiat-tong” Tian Hui, karena tidak tahu apa maksud kedatangan orang, maka anak muda itu hanja memandangnja dengan mata terbelalak lebar.
Sesudah mundur setindak dan melihat anak muda itu tiada bergerak sama sekali, lalu Tian Hui berkata pula dengan suara pelahan: “Pangtju, kabarnja engaku sedang sakit keras, apakah sekarang sudah mendjadi baik?”
Badan sianak muda tampak berkedjang beberapa kali dan takdapat bersuara.
Tiang Hui mendjadi girang, katanja pula: “Pangtju, djadi kesehatanmu belum pulih, sekarang engkau masih belum dapat bergerak?”
Walaupun suara Tian Hui itu sangat pelahan, tapi toh sudah didengar djuga oleh Si Kiam jang berada dikamar sebelah, segera anak dara itu mendatangi dan ketika melihat Tian Hui bersikap beringas dan buas, ia terkedjut dan berseru: “He, untuk apa kau datang kekamar Pangtju ini? Tanpa dipanggil kau berani masuk sendiri, apakah kau tidak takut dihukum mampus?”
Tapi mendadak Tian Hui melompat madju kesisi Si Kiam, kontan sikutnja menjodok kepinggang anak dara itu, berbareng pundaknja ditutuk pula sekali. Walaupun Si Kiam djuga paham sedikit ilmu silat, tapi terlalu djauh kalau dibandingkan Tian Hui jang gesit dan tangkas itu. Seketika Si Kiam tertutuk roboh dan didudukkan diatas kursi. Lalu Tian Hui menjumbat pula mulut anak dara itu dengan sehelai handuk ketjil. Sudah tentu Si Kiam kelabakan dan tahu Tian Hui bermaksud djahat kepada sang Pangtju, tapi apa daja, dia sendiri tak bisa berkutik.
Meski Si Kiam sudah dibekuk, tapi Tian Hui tetap sangat djeri terhadap sang Pangtju, ia pura2 angkat tangannja dengan gaja hendak menghantam sambil berkata: “Dengan pukulan Tiat-sah-tjiang (pukulan tangan besi) ini rasanja tidak susah untuk membinasakan kau sibudak tjilik ini!”
Tak terduga meski tangannja sudah hampir mengenai kepala sasarannja, dilihatnja sang Pangtju masih tetap tidak bergerak. Tian Hui mendjadi girang dan tjepat tahan pukulannja itu. Lalu ia berpaling kepada sianak muda, katanja dengan menjeringai: “Maling tjabul ketjil, selama hidupmu sudah berlumuran dosa, kedjahatanmu sudah kelewat takaran, hari ini kau toh mampus djuga ditangaku.” ~ Ia melangkah lebih dekat, lalu sambungnja pula dengan suara pelahan: “Saat ini kau sama sekali takdapat melawan, djika aku membunuh kau, perbuatan demikian bukan tindakan seorang kesatria sedjati. Akan tetapi dendamku kepadamu lebih daripada lautan dan tidak perlu bitjara tentang peraturan Kangouw segala, djikalau engkau kenal kesopanan orang Kangouw tentu kau takkan menggoda isteriku!”
Walaupun sianak muda dan Si Kiam tidak dapat bergerak, tapi apa jang dikatakan Tian Hui itu dapat didengar mereka dengan djelas. Pikir sianak muda: “Mengapa dia dendam padaku? Apa maksudnja dia mengatakan aku menggoda isterinja?”
Sebaliknja Si Kiam membatin didalam hati: “Selama ini entah sudah betapa banjak Siauya berutang dalam perkara asusila, hari ini achirnja dia mendapatkan gandjarannja. Ai, tampaknja orang ini benar2 hendak membunuh Siauya.”
Karena kuatirnja,sekuat mungkin Si Kiam meronta, namun anggota badan terasa lemas linu, sedikit tjondong badannja, “bruk”, ia djatuh kelantai.
Dalam pada itu terdengar Tian Hui sedang memaki pula: “Hm, kau telah mentjemarkan kehormatan isteriku, kau anggap aku tutup mata dan tidak tahu. Andaikan tahu djuga tidak dapat berbuat apa2 terhadap kau dan terpaksa menahan perasaan seperti sibisu makan empedu, merasa pahit tapi takbisa bitjara. Siapa njana tiba saatnja djuga kau tergenggam didalam tanganku, rupanja kedjahatanmu sudah kelewat takaran dan sudah tiba adjalmu.”
Sambil berkata ia terus pasang kuda2, sekali tenaga dikerahkan, ruas tulang lengan kanannja sampai mengeluarkan suara berkertakan. Segera telapak tangannja menghantam kedepan, ulu hati sianak muda tepat kena digendjot olehnja.
Tian Hui ini adalah Hiangtju dari Pah-tjiat-tong, jaitu satu diantara lima hulubalang bagian luar dari Tiang-lok-pang. Ilmu silat andalannja jalah Tiat-sah-tjiang, ilmu pukulan pasir besi jang maha dahsjat.
Pukulan ini telah digunakan sepenuh tenaganja dan tepat mengenai “Tan-tiong-hiat” di ulu hati sianak muda. Maka terdengarlah suara “krak”, suara patahnja tulang.
Tapi bukan tulang dada sianak muda jang patah, sebaliknja tulang lengan Tian Hui sendiri jang telah patah, bahkan tubuhnja terus terpental keluar djendela dan terbanting diluar kamar, kontan orangnja tak sadarkan diri lagi.
Diluar kamar itu adalah sebuah taman bunga dan selalu ada orang ronda disitu. Malam ini adalah orang2 Pah-tjiat-tong jang berdinas meronda, sebab itulah Tian Hui dapat masuk kekamar tidur sang Pangtju dengan leluasa.
Rupanja suara gedebukan terbantingnja Tian Hui dan suara patahnja dahan2 tanaman jang tertindih oleh tubuhnja itu telah mengagetkan para peronda itu, maka ada dua orang diantaranja lantas mendekatinja. Waktu melihat Tian Hui menggeletak tak berkutik disitu, mereka sangka telah kedatangan musuh tangguh dan sedang menjatroni kamar sang Pangtju, dalam kaget mereka segera mereka membunjikan peluit sebagai tanda ada bahaja, berbareng mereka melolos sendjata dan melongok kedalam kamar sang Pangtju melalui djendela jang sudah terpentang itu. Namun didalam kamar gelap gulita, bahkan tiada sesuatu suara apapun. Tjepat mereka menerangi dengan obor sambil memutar sendjata untuk mendjaga diri.
Dari tjahaja obor jang remang2 dapatlah terlihat sang Pangtju sedang duduk bersila diatas randjang, didepan tempat tidur itu menggeletak seorang wanita seperti pelajan sang Pangtju, selain itu tiada orang ketiga lagi.
Pada saat itulah be-ramai2 orang2 Tiang-lok-pang jang mendengar suara alarm tadi djuga sudah memburu tiba.
Dengan memegang sendjata gada besi, Khu San-hong, itu Hiangtju dari Hou-beng-tong, lantas berseru: “Pangtju, engkau baik2 sadja bukan?” ~ Berbareng itu ia lantas masuk kedalam kamar sang Pangtju.
Mendadak dilihatnja badan sang Pangtju tiada hentinja bergemetar, se-konjong2 mulutnja terpentang dan memuntahkan darah hitam sampai beberapa mangkuk banjaknja.
Tjepat Khu San-hong menjingkir kepinggir sehingga tidak sampai tersembur oleh darah hitam jang berbau amis busuk itu. Tengah terkedjut dan ragu2, tiba2 terlihat sang Pangtju sudah melangkah turun dari tempat tidurnja dan per-tama2 pelajan jang menggeletak dilantai itu lantas dibangunkan, katanja: “Enci Si Kiam, apakah dia telah melukai engkau?” ~ Berbareng ia lantas mengeluarkan handuk jang menjumbat mulut anak dara itu.
Si Kiam menghirup napas segar dalam2, lalu mendjawab: “Siauya, apakah engkau terluka kena hantamannja tadi?”
“Tidak, malahan pukulannja itu membuat aku merasa sangat segar sekali,” sahut sianak muda.
Dalam pada itu diluar kamar terdengar ramai orang2 berdatangan, dengan langkah tjepat Pwe Hay-tjiok dan Bi Heng-ya tampak masuk kedalam kamar, jang berkedudukan rendah hanja menunggu diluar sadja.
Segera Pwe Hay-tjiok mendekati sianak muda dan bertanja: “Pangtju, apakah pembunuh gelap itu telah membikin kaget padamu ?”
“Pembunuh gelap apa? Tidak ada pembunuh,” sahut sianak muda.
Sementara itu Tian Hui sudah diberi pertolongan oleh djago Tiang-lok-pang dan telah sadar kembali serta dibawa masuk kedalam kamar.
Tian Hui tjukup paham tata tertib dalam Pang mereka, terutama hukuman kepada penghianat adalah paling keras, biasanja penghianat itu ditelandjangi pakaiannja, lalu diikat diatas batu “Heng-tay-tjiok” (batu panggung hukuman) diatas gunung dibelakang markas dan dibiarkan digigit semut dan serangga2 lain, diserang oleh elang2 lapar dan binatang buas, sesudah disiksa beberapa hari lamanja, achirnja akan binasa djuga. Sekarang dia sendiri telah berbuat sesuatu jang chianat, pukulannja jang dahsjat tadi tidak berhasil membinasan sang Pangtju, sebaliknja ia sendiri malah terpental oleh tenaga dalam sang Pangtju jang maha kuat, lengah kanan patah dan terluka dalam parah pula, memangnja dia berharap lekas mati sadja, tapi sekarang dia dibawa masuk pula kedalam kamar, diam2 ia sudah mengumpulkan kekuatan, asal sang Pangtju memerintahkan hukuman memantjangkan dia diatas “Heng-tay-tjiok” dan segera dia akan menumbukkan kepalanja kedinding untuk membunuh diri.
“Apakah ada pembunuh gelapmasuk melalui djendela?” tanja Pwe Hay-tjiok pula.
“Aku sendiri tertidur, rasanja toh tiada orang masuk kesini”, sahut sianak muda.
Tian Hui ter-heran2 mendengar keterangan itu: “Apakah tadi dia benar2 dalam keadaan tak sadar dan tidak mengetahui aku jang telah memukul dia? Tapi budak tjilik ini mengetahui aku jang telah melakukan hal itu, tentu dia akan memberi keterangan sebenarnja apa jang terdjadi tadi.”
Benar djuga, segera Pwe Hay-tjiok memidjat dan menutuk pinggang dan pundak Si Kiam untuk membuka Hiat-to jang tertutuk, lalu bertanja kepada anak dara itu: “Siapakah jang menutuk kau punja Hiat-to?”
“Dia !” sahut Si Kiam sambil menuding Tian Hui.
Pwe Hay-tjiok memandang kearah Tian Hui dengan penuh rasa tjuriga.
Sebaliknja Tian Hui hanja mendengus sadja. Segera ia bermaksud mentjatji maki biarpun nanti harus dihukum mati, tapi lantas terdengar sang Pangtju sedang berkata: “Aku…….akulah jang suruh dia berbuat demikian.”
Keruan Si Kiam dan Tian Hui melengak semua, hampir2 mereka tidak pertjaja kepada telinganja sendiri. Dengan tertjengang mereka memandangi sianak muda, mereka tidak paham apa maksud tudjuannja dengan keterangannja itu.
Walaupun anak muda itu sama sekali hidjau dalam segala hal, tapi lapat2 ia dapat merasakan keadaan jang genting. Ia lihat semua orang sangat menghormat padanja, djika diketahui Tian Hui jang telah menotok Hiat-to sipelajan serta memukul pula pada dirinja, djika hal ini diketahui oeh orang2 itu, tentu Tian Hui bisa tjelaka. Karena itulah ia sengadja berdusta untuk mengeloni Tian Hui. Adapun apa sebabnja dia membela Tian Hui, untuk ini ia sendiripun tidak paham sama sekali. Ia hanja merasa sebabnja Tian Hui memukul dirinja adalah lantaran didorong oleh sesuatu rasa dendam jang luar biasa jang mau tak mau harus dilakukan olehnja. Apalagi waktu Tian Hui memukulnja tadi, ia sendiri sedang dirangsang oleh hawa panas-dingin jang sangat menjiksa, pukulan Tian Hui itu tepat mengenai “Tan-tiong-hiat” dibagian ulu hatinja. Tan-tiong-hiat itu merupakan pusat penjaluran tenaga, karena pukulan Tian Hui itu, maka setjara kebetulan telah membaurkan bergeraknja hawa dingin dan panas dari “Han-ih-bian-tjiang” serta “Yam-yam-kang”, hal mana membuat tenaga dalam sianak muda seketika mendjadi bertambah hebat dan lantaran itulah Tian Hui sampai terpental keluar djendela.
Sesudah menerima pukulan Tian Hui itu, sama sekali sianak muda tidak merasa tersiksa lagi oleh membakarnja hawa panas dan membekunja hawa dingin, sebaliknja ia lantas merasa segar dan nikmat sekali, tanpa merasa ia ingin ber-teriak2 untuk melampiaskan rasa enek jang ditahannja sedjak tadi. Ketika Hiangtju dari Hou-beng-tong jaitu Khu San-hong, masuk tadi, tiba2 ia memuntahkan darah mati jang tersekam didalam tubuhnja, habis itu semangatnja lantas segar, bukan sadja tenaga dalamnja bertambah luar biasa, bahkan otaknja djuga tambah tadjam.
Melihat keadaan didalam kamar sang Pangtju itu, Pwe Hay-tjiok mempunjai pendapatnja sendiri. Ia lihat pakaian Si Kiam agak kusut, rambutnja tak teratur, sikapnja takut dan gugup. Maka pahamlah dia akan duduknja perkara. Ia tjukup kenal watak sang Pangtju jang bangor, suka main perempuan. Maka tentulah Si Kiam hendak diperlakukan setjara tidak senonoh walaupun penjakitnja baru sadja sembuh. Tapi perbuatan sang Pangtju itu rupanja telah dipergoki Tian Hui jang sedang meronda disekitar situ, maka Pangtju lantas panggil sekalian hulubalang itu dan suruh dia menutuk Hiat to sipelajan tjantik itu, tjuma entah sebab apakah Tian Hui telah membikin marah pula kepada sang Pangtju sehingga dia dihantam terpental keluar kamar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar