Minggu, 25 Maret 2012

Medali Wasiat 43

Jilid 43

Untuk sejenak Pek Cu-cay termangu-mangu, akhirnya ia berkata, “Ya, sudahlah, habislah segalanya!”

Seketika ia menjadi putus asa, segala bualan tentang “jago nomor satu di dunia ini” barulah diinsafinya terlalu menggelikan orang lain. Segera ia ambil borgol dan membelenggu pula kaki dan tangannya sendiri dan dikunci pula padu pilar. “Cring”, ia banting kunci borgol ke dinding batu sehingga kunci-kunci itu rusak melengkung, maka untuk membuka borgolnya menjadi susah pula.

“He, Yaya, mengapakah kau?” seru A Siu kaget.

Tapi Pek Cu-cay lantas berpaling menghadap tembok, katanya, “Aku... aku Pek Cu-cay sudah terlalu berdosa, biarlah sekarang tirakat di sini untuk menginsafkan diri. Lekas kalian keluar dari sini, sejak kini siapa pun takkan kutemui. Boleh suruh nenekmu pergi ke Pik-lwe-to saja dan selanjutnya jangan pulang ke Leng-siau-sia lagi.”

A Siu dan Boh-thian saling pandang dengan bingung. Selang sejenak barulah A Siu mengomeli Boh-thian, “Semuanya gara-garamu, mengapa kau mentang-mentang mesti mencari menang?”

“Aku... aku toh tidak menyerang sekalipun pada kakekmu?” sahut Boh-thian dengan melengak.

“Apakah dia hanya kakekku saja? Apakah kau merasa terhina jika memanggil ‘kakek’ juga kepada beliau?” semprot A Siu dengan melotot.

“O, ya. Kakek!” cepat Boh-thian memanggil dengan rasa syur.

Tapi Pek Cu-cay telah menggoyang-goyang tangannya dan berseru, “Lekas pergi, lekas pergi! Kau lebih kuat daripadaku, aku adalah cucumu, kaulah kakekku!”

“Wah, kakek telah marah, lekas kita beri tahukan pada nenek!” kata A Siu sambil menjulur lidah.

Segera kedua orang keluar dari penjara itu dan menuju ke ruang pendopo. Kata Boh-thian kepada si nona, “A Siu, setiap orang menyangka aku sebagai pemuda Ciok Tiong-giok itu, sampai-sampai Ciok-cengcu dan Ciok-hujin juga tidak dapat membedakan. Tapi mengapa kau tidak sampai salah mengenal diriku?”

Mendadak air muka A Siu berubah merah, lalu pucat pula dan jalannya menjadi agak sempoyongan. Cepat ia tenangkan diri, kemudian berkata, “Ciok Tiong-giok itu pernah hendak menodai diriku sehingga aku terjun ke jurang untuk membunuh diri. Toako, apakah kau suka membalaskan sakit hatiku dan membunuh dia?”

Boh-thian menjadi ragu-ragu, jawabnya, “Dia adalah putra tunggal kesayangan Ciok-cengcu dan Ciok-hujin, Ciok-cengcu berdua juga sangat baik padaku, sungguh aku... aku tidak boleh membunuh putranya, A Siu.”

Tiba-tiba A Siu menangis terguguk-guguk, katanya, “Untuk pertama kalinya aku memohon padamu dan sudah lantas kau tolak, maka untuk selanjutnya tentu kau pun akan... akan selalu main garang padaku seperti kakek terhadap nenek. Biar... biarlah kuberi tahukan pada nenek dan ibu saja.”

Habis berkata ia terus putar tubuh dan berlari pergi.

“A Siu, A Siu! Dengarkanlah penjelasanku,” seru Boh-thian.

“Jika kau tidak membunuh dia, selamanya aku takkan menggubris kau lagi!” sahut A Siu sambil menutupi mukanya dan terus berlari ke depan, hanya sekejap saja ia sudah sampai di ruang pendopo.

Ketika Boh-thian juga menyusul tiba, tertampaklah di ruangan situ sinar pedang berkilat-kilat, empat orang sedang bertempur dengan sengit. Mereka adalah Pek Ban-kiam, Seng Cu-hak, dan Ce Cu-bian bertiga sedang mengerubut seorang tua berewok dan berjubah hijau.

Melihat orang tua itu, tanpa merasa Boh-thian terus berseru, “He, Paman Cia, baik-baikkah kau? Sudah lama sekali kita tak bertemu!”

Kiranya orang tua itu tak-lain-tak-bukan adalah Mo-thian-kisu Cia Yan-khek.

Dikeroyok tiga tokoh terkemuka Swat-san-pay ternyata Cia Yan-khek masih tetap sangat tangkas, dengan bertangan kosong ia melawan tiga batang pedang sedikit pun tidak kelihatan asor, sebaliknya dia malah di atas angin, lebih banyak menyerang daripada diserang. Ketika tiba-tiba mendengar suara seruan Ciok Boh-thian ia terperanjat, waktu memandang ke arah pemuda itu, tanpa terasa ia berseru, “He, mengapa muncul satu pula?”

Pertandingan tokoh-tokoh terkemuka biasanya tidak boleh lengah sedikit pun. Karena terkejutnya itu, sekaligus pedang-pedang Pek Ban-kiam, Seng Cu-hak, dan Ce Cu-bian lantas menusuk ke perutnya.

Serangan cepat lagi ganas itu tampaknya pasti akan menembus perut Cia Yan-khek, Boh-thian menjadi khawatir. Teriaknya, “Awas!”

Cepat ia melompat maju, sekali jambret ia pegang punggung Pek Ban-kiam dan ditarik ke atas. Menyusul terdengarlah suara “krek-krek” dua kali, dalam keadaan berbahaya Cia Yan-khek telah keluarkan kepandaian andalannya “Pik-ciam-jing-ciang”, tangan kiri mematahkan pedang Ce Cu-bian dan tangan kanan mematahkan pedang Seng Cu-hak. Walaupun demikian tidak urung jubahnya juga sudah tergores robek dua jalur panjang. Bahkan menyusul kedua tangannya terus menyodok pula ke depan, di mana tenaga dalamnya memancar, kontan Seng Cu-hak dan Ce Cu-bian terus mencelat dan menumbuk dinding.

Dalam pada itu terdengar pula suara “plok” satu kali, kiranya Pek Ban-kiam telah putar tubuh dan persen Ciok Boh-thian dengan sekali tamparan.

Cia Yan-khek memandang sekejap pula kepada Ciok Boh-thian, kemudian sorot matanya beralih kepada si pemuda Ciok Tiong-giok yang duduk di pojok sana. Dengan terheran-heran dan bingung ia bertanya, “Mengapa ka... kalian berdua sedemikian miripnya?”

Sementara itu Boh-thian telah melepaskan Ban-kiam, dengan muka berseri-seri ia menjawab, “Paman Cia, apakah kau datang buat menolong aku? Aku baik-baik saja, terima kasih atas maksud baikmu. Eh, Ting-ting Tong-tong dan Ciok-toako, kalian juga datang semua? Ciok-cengcu dan Ciok-hujin, syukurlah kalian tidak tercedera apa-apa. Suhu, Yaya telah memborgol dirinya sendiri pula dan tak mau keluar, katanya kau boleh pergi ke Pik-lwe-to saja.”

Begitulah sekaligus ia telah bicara terhadap Cia Yan-khek, Ting Tong, Ciok Tiong-giok, Ciok Jing suami-istri, dan Su-popo. Dia bicara dengan gembira ria, sebaliknya orang-orang yang mendengar ucapannya itu sama terkejut.

Dahulu waktu di atas Mo-thian-kay, karena ingin mempermainkan Ciok Boh-thian, maka Cia Yan-khek telah mengerahkan tenaga dalamnya dari Pik-ciam-jing-ciang yang dilatihnya itu. Kebetulan pada saat itulah Pwe Hay-ciok muncul bersama jago-jago Tiang-lok-pang, katanya hendak mencari pangcu mereka yang tinggal di atas Mo-thian-kay yaitu Ciok Boh-thian.

Walaupun sekali gebrak saja Cia Yan-khek sudah berhasil membekuk Bi Heng-ya dari Tiang-lok-pang, tapi dikerubut Pwe Hay-ciok dan kawan-kawannya, kebetulan Yan-khek sendiri lagi kehabisan tenaga dalam, ia pikir kalau terus bertahan tentu akan celaka. Daripada dikalahkan ada lebih baik kabur saja sebelum terlambat.

Sebagai pemilik Hian-tiat-leng, medali wasiat yang diperebutkan setiap orang Bu-lim sudah tentu Cia Yan-khek bukanlah tokoh sembarangan. Walaupun dia tidak dikalahkan, tapi ia pun merasa terhina dengan peristiwa itu. Ia pikir sebabnya dirinya sampai kabur adalah lantaran kehabisan tenaga sebelum musuh tiba, jika dalam keadaan normal Pwe Hay-ciok sekali-kali bukanlah tandingannya biarpun ditambah dengan beberapa orang begundalnya.

Segera ia mencari suatu tempat terpencil untuk mengembalikan lwekangnya dan meyakinkan Pik-ciam-jing-ciang sehingga sempurna benar-benar, beberapa bulan kemudian barulah ia mendatangi Tiang-lok-pang di Yangciu untuk menuntut balas. Begitu masuk pintu kontan enam orang hiangcu sudah lantas dibinasakan olehnya. Keruan Tiang-lok-pang menjadi geger.

Tatkala itu Ciok Boh-thian sudah ditipu oleh si Ting Tong untuk menggantikan Ciok Tiong-giok menuju ke Leng-siau-sia dan nona itu diam-diam sedang mencari kesempatan untuk kabur bersama Tiong-giok. Tak tersangka penjagaan Tiang-lok-pang sangat kuat, di mana-mana terdapat pos penjaga, betapa pun mereka hendak melarikan diri selalu kepergok. Tiada jalan lain terpaksa Ciok Tiong-giok juga lantas memalsukan Ciok Boh-thian untuk sementara.

Sebaliknya Pwe Hay-ciok sesudah menyambut kembali Ciok Boh-thian dari Mo-thian-kay, diam-diam ia pun merasa telah mengikat permusuhan dengan seorang tokoh yang kelak tentu akan mendatangkan kesukaran. Kemudian diketahui bahwa Ciok Boh-thian ternyata bukan Ciok Tiong-giok yang dicari mereka itu. Namun jarak waktu datangnya medali undangan dari Liong-bok-to sudah mendesak, terpaksa ia memalsukan tanda-tanda atau ciri-ciri yang berada di badan Ciok Boh-thian sebagai gantinya Ciok Tiong-giok.

Kiranya dahulu setelah Ciok Tiong-giok disanjung-sanjung oleh Pwe Hay-ciok dan lain-lain dan diangkat sebagai pangcu, tapi beberapa hari kemudian pemuda yang bangor itu lantas hendak melarikan diri. Namun ia kena ditangkap kembali oleh Pwe Hay-ciok dan dibelejeti hingga telanjang bulat serta ditahan selama beberapa hari. Lantaran itulah ciri-ciri yang terdapat di badan Ciok Tiong-giok dapat dilihat oleh Pwe Hay-ciok.

Siapa sangka kedua sucia dari Liong-bok-to ternyata lain daripada yang lain, rahasia pemalsuan Pwe Hay-ciok itu dengan mudah telah dibongkar oleh mereka, Ciok Tiong-giok yang asli telah mereka seret keluar. Walaupun kemudian Ciok Boh-thian dengan sukarela mau menjabat pangcu mereka untuk menghadiri pertemuan di Liong-bok-to kelak, tapi Pwe Hay-ciok merasa malu juga, sedapat mungkin ia menjauhi Boh-thian sehingga tentang pertukaran Boh-thian dan Tiong-giok yang mestinya tidak gampang mengelabui matanya sebegitu jauh belum diketahui.

Hari itu Cia Yan-khek telah datang dan sekaligus membinasakan enam orang hiangcu mereka, terpaksa Pwe Hay-ciok tampil ke muka. Tapi ia pun insaf bukan tandingan Cia Yan-khek. Sambil melayani lawan segera ia memberi perintah agar sang pangcu dipanggil supaya lekas keluar.

Sudah tentu Ciok Tiong-giok menjadi ketakutan, dengan macam-macam alasan ia menolak untuk keluar sehingga suruhan Pwe Hay-ciok berturut-turut datang pula dan memenuhi kamar sang pangcu. Karena sudah tak bisa mengelakkan diri pula, terpaksa Tiong-giok ikut keluar ke ruang pendopo dengan tekad bukanlah melawan, tapi akan menyerah dan minta maaf kepada Cia Yan-khek.

Di luar dugaan ketika Cia Yan-khek melihat dia, seketika ia berseru terkejut, “He, Kau-cap-ceng, kiranya kau!”

Dalam pada itu tertampak Pwe Hay-ciok sudah menggeletak di samping dalam keadaan payah, pakaiannya berlumuran darah. Kalau Pwe-tayhu saja kena dirobohkan Cia Yan-khek, apalagi dirinya sendiri, bahkan rahasia pemalsuannya tentu akan terbongkar pula, demikian pikir Tiong-giok. Maka ketika ditegur oleh Cia Yan-khek, terpaksa ia menjawab dengan tergagap-gagap, “Ya, ki... kiranya Cia-siansing.”

Ia tidak tahu bahwa “Kau-cap-ceng” adalah namanya Ciok Boh-thian dan begitu melihat Cia Yan-khek lantas mengira dia sebagai Ciok Boh-thian.

“Hm, bagus, bagus! Ternyata kau ini adalah Pangcu Tiang-lok-pang!” jengek Cia Yan-khek pula.

Tapi demi teringat kejadian-kejadian dahulu, mau tak mau ia menjadi mengkeret.

Seperti diketahui dia telah menerima kembali medali wasiat dari Ciok Boh-thian yang dikenalnya sebagai pengemis cilik bernama Kau-cap-ceng. Dahulu Yan-khek sendiri telah bersumpah siapa-siapa yang menemukan medali wasiatnya boleh mengajukan sesuatu permintaan atau perintah dan tentu akan dilaksanakan olehnya.

Maka sekarang ia menjadi khawatir, “Wah, celaka! Kiranya demikian licinnya Pwe-tayhu ini. Dia mengetahui aku telah menerima kembali Hian-tiat-leng dari Kau-cap-ceng, maka dengan segala usahanya dia sengaja datang ke Mo-thian-kay untuk membawa bocah itu ke sini dan diangkat menjadi pangcu boneka, sudah terang maksud tujuannya adalah supaya aku tunduk kepada perintah pangcu mereka. Wahai Cia Yan-khek, selamanya kau sangat pintar, mengapa hari ini kau masuk perangkap sendiri ke sini. Sejak kini kau tentu akan selalu dijadikan alat oleh mereka dan celakalah kau!”

Begitulah, kalau seseorang sudah terikat kepada sesuatu hal, maka segala apa yang dialaminya tentu selalu dihubung-hubungkan dengan hal itu. Seorang pesakitan yang melarikan diri dari penjara tentu akan selalu menyangka semua opas di dunia ini sedang menguber-ubernya. Seorang penjahat tentu pula akan selalu menganggap setiap orang menaruh curiga padanya. Begitu pula dalam hubungan asmara muda-mudi, setiap gerak-gerik atau tutur kata sang kekasih tentu disangka sebagai ditujukan kepadanya.

Dan demikian pula dengan perasaan Cia Yan-khek sekarang. Semakin dipikir semakin khawatir dia. Ia mengira Pwe Hay-ciok sudah merancangkan sesuatu tipu muslihat untuk menjebaknya. Dengan tak berkedip ia pandang Ciok Tiong-giok untuk menantikan perintah apa yang harus dilakukan olehnya. Ia pikir celakalah jika pemuda itu suruh dia mengutungi kedua tangannya sendiri sehingga cacat untuk selamanya.

Mestinya ia dapat tinggal pergi saja dan untuk seterusnya tak perlu bertemu dengan Kau-cap-ceng, dengan demikian terhindarlah kesukarannya. Tapi dengan demikian di dunia Kangouw tentu akan lenyap pula nama seorang tokoh sebagai dia. Hal ini masih bukan soal, yang penting adalah sumpahnya itu, kalau sampai ketulah atau kualat atas sumpahnya sendiri kan bisa konyol.

Begitulah ia terus pandang Ciok Tiong-giok untuk menantikan perintahnya. Tak tersangka Ciok Tiong-giok juga sangat takut padanya. Jadi kedua orang terus saling pandang sampai sekian lamanya.

Akhirnya Cia Yan-khek membuka suara juga dengan bengis, “Baiklah, memang kau telah mengembalikan Hian-tiat-leng padaku, sekali orang she Cia sudah bicara tentu akan pegang janji, Sekarang silakan omong saja, apa yang kau minta kukerjakan segera akan kulaksanakan. Selamanya orang she Cia sudah malang melintang di Kangouw, biarpun menghadapi urusan sukar setinggi langit juga takkan mengerut kening.”

Mendengar itu, seketika Ciok Tiong-giok tertegun. Tentang sumpah Cia Yan-khek mengenai Hian-tiat-leng yang dia sebarkan pernah juga didengar olehnya. Sebagai pemuda yang cerdik segera ia paham duduknya perkara. Ia duga Cia Yan-khek tentu telah salah sangka dia sebagai Ciok Boh-thian, bahkan tokoh itu minta dia mengemukakan sesuatu soal dan tentu akan dilakukan olehnya biar betapa pun sukarnya soal itu. Keruan Ciok Tiong-giok kegirangan melebihi orang ketomplok rezeki dari langit.

Ia pikir ilmu silat orang ini sangat tinggi, boleh dikata tiada sesuatu yang sukar baginya. Lantas soal apa yang paling tepat agar dapat dilaksanakan olehnya? Maka untuk sejenak Tiong-giok menjadi ragu-ragu dan termenung-menung.

Rupanya Cia Yan-khek dapat melihat rasa kejut dan girang dan takut pula atas diri Ciok Tiong-giok, segera ia berkata, “Orang she Cia sudah pernah mengatakan, siapa saja yang mendapatkan medali wasiatku, tidak nanti aku mengganggu seujung rambutnya. Dan sebab apa kau merasa takut-takut? Kau-cap-ceng, pandai benar lagakmu ya waktu berada di Mo-thian-kay tempo hari. Ilmu ‘Yam-yam-kang’ itu sudah berhasil kau latih belum?”

Ciok Tiong-giok tidak tahu apa itu ilmu Yam-yam-kang yang ditanyakan, maka secara tak acuh ia hanya tersenyum saja. Diam-diam ia pun sudah ambil keputusan, “Bahaya yang sedang kuhadapi adalah dari Swat-san-pay. Sesudah si tolol itu (maksudnya Ciok Boh-thian) itu sampai di Leng-siau-sia tentu rahasia penyamarannya akan terbongkar dan jago-jago Swat-san-pay tentu akan mencari perkara padaku lagi. Sungguh sial, aku belum makan nangkanya sudah kena getahnya. Kalau urusan ini tidak beres-beres tentu hidupku akan selalu tak tenteram. Sekarang ada kesempatan baik, mengapa aku tidak minta dia menyelesaikan persoalan ini. Kalau seorang diri Cia Yan-khek ini mampu mengubrak-abrik Tiang-lok-pang, tentu pula dia sanggup menghancurkan Leng-siau-sia.”

Maka katanya kemudian, “Cia-siansing adalah seorang yang pegang janji, sungguh harus dipuji dan mengagumkan. Tentang urusan yang Cayhe minta dikerjakan Cia-siansing ini mungkin bagi orang lain akan terasa luar biasa dan sukar dilaksanakan, tapi dengan ilmu silat Cia-siansing yang tiada bandingannya di dunia ini rasanya hanya soal sepele saja.”

Mendengar ucapan pemuda itu rasanya bukan meminta dia membikin cacat dirinya sendiri, maka Cia Yan-khek menjadi girang. Segera ia bertanya, “Soal apa yang kau minta kukerjakan?”

“Dengan sembrono Cayhe mohon Cia-siansing suka pergi ke Leng-siau-sia, tumpas dan habiskan segenap anggota Swat-san-pay di sana,” sahut Tiong-giok.

Cia Yan-khek terkesiap. Ia pikir Swat-san-pay adalah suatu aliran besar dunia persilatan yang terkemuka, ketuanya Wi-tek Siansing Pek Cu-cay juga seorang tokoh ternama yang disegani, sekarang orang-orang Swat-san-pay itu disuruh menumpas habis, sudah tentu bukanlah soal mudah.

Tapi dasarnya Cia Yan-khek memang seorang iblis yang membunuh orang seperti membunuh ayam, orang jahat biasanya dibunuh olehnya, orang baik juga tidak kurang yang menjadi korban keganasannya, maka tanpa pikir lagi segera ia mengangguk dan mengiakan. Lalu putar tubuh hendak terus berangkat.

“Eh, nanti dulu, Cia-siansing!” seru Ciok Tiong-giok.

“Ada apa lagi?” tanya Yan-khek sambil berpaling. Menurut dugaannya sebabnya “Kau-cap-ceng” itu minta dia pergi membunuh habis orang-orang Swat-san-pay tentu adalah atas usul Pwe Hay-ciok dan jago-jago Tiang-lok-pang sehingga aku diminta menumpas lawannya itu.

Dalam pada itu terdengar Ciok Tiong-giok telah berkata, “Cia-siansing, aku ingin pergi bersama engkau untuk menyaksikan soal yang akan kau laksanakan itu!”

Kiranya selama dalam pengawasan orang-orang Tiang-lok-pang, diam-diam Ciok Tiong-giok menjadi sedih. Dia telah berunding beberapa kali dengan si Ting Tong, kedua orang sudah ambil keputusan betapa pun takkan berangkat ke Liong-bok-to. Tapi untuk kabur dari markas Tiang-lok-pang yang diawasi secara ketat itu juga tidak gampang, kesempatan melarikan diri hanya ada pada waktu di tengah perjalanan ke Liong-bok-to nanti.

Orang-orang Tiang-lok-pang sendiri walaupun mengadakan pengawasan keras kepada Ciok Tiong-giok, tapi lahirnya mereka sangat menurut dan tunduk kepada segala perintahnya. Malahan keluar-masuk si Ting Tong di markas Tiang-lok-pang itu pun dapat dilakukan dengan bebas tanpa rintangan.

Dasar otak Ciok Tiong-giok memang encer, begitu mendengar Cia Yan-khek sudah mengiakan permintaannya dan akan terus berangkat ke Leng-siau-sia untuk menumpas orang-orang Swat-san-pay, segera Tiong-giok menganggap kesempatan ini dapat pula digunakan untuk kabur dari markas Tiang-lok-pang, sebab itulah ia lantas menyatakan ingin ikut serta berangkat bersama Cia Yan-khek.

Meski dahulu Cia Yan-khek bersumpah cuma akan melakukan suatu permintaan bagi orang yang menemukan medali wasiatnya, tapi permintaan Ciok Tiong-giok akan ikut ke Leng-siau-sia ini ada hubungannya dengan soal yang harus dilakukannya itu, maka terpaksa ia meluluskan permintaan pemuda itu.

Keruan orang-orang Tiang-lok-pang menjadi gelisah, mereka sama memandang Pwe Hay-ciok yang terluka parah itu dan mengharapkan suaranya.

Tapi Ciok Tiong-giok lantas berseru, “Sekali aku sudah berjanji akan menghadiri pertemuan di Liong-bok-to, biarpun apa yang akan terjadi tentu juga akan kutanggung sendiri. Jika tiba waktunya tidak nanti aku membikin kapiran kepada kalian.”

Dalam keadaan terluka parah sama sekali Pwe Hay-ciok tidak menduga bahwa Cia Yan-khek yang sudah menang itu berbalik mau tunduk kepada perintah Ciok Tiong-giok. Ia pikir toh dirinya dalam keadaan payah dan tak mampu merintangi, terpaksa ia pun menurutkan arah angin saja dan berkata dengan lemah, “sel... selamat jalan Pangcu, maafkan Siokhe ti... tidak dapat mengantar lagi!”

Tiong-giok juga tidak banyak bicara, segera ia ikuti Cia Yan-khek keluar dari sarang Tiang-lok-pang itu.

“Hm, Kau-cap-ceng, selama ini pintar benar kau berpura-pura ya?” jengek Cia Yan-khek di tengah jalan. “Mataku benar-benar sudah buta, kukira kau sengaja disuruh Ting Put-si untuk memata-matai diriku, tak terduga kau adalah Pangcu Tiang-lok-pang.”

Karena Ciok Tiong-giok sudah memberi suatu perintah untuk dilakukan Cia Yan-khek sesuai sumpahnya, maka sekarang Yan-khek tidak perlu sungkan-sungkan lagi padanya, kecuali membunuhnya, dalam hal ucapan ia tidak perlu merendah diri lagi kepada pemuda itu.

Tiong-giok juga cukup tahu diri, ia tidak berani banyak bicara, ia hanya mengiakan dengan menyengir saja.

Memangnya si Ting Tong selalu menunggu di sekitar Ciok Tiong-giok, dengan sendirinya ia lantas menggabungkan diri dengan mereka dan ikut ke Leng-siau-sia.

Setiba di tempat tujuan walaupun Tiong-giok mendapat pelindung jago wahid sebagai Cia Yan-khek, tapi betapa pun ia jeri juga terhadap Pek Cu-cay. Maka diam-diam ia lantas mengusulkan kepada Cia Yan-khek agar melakukan penyergapan saja daripada menyerang secara terang-terangan.

Yan-khek merasa cocok atas usul pemuda itu. Maka mereka bertiga lantas menyusup ke Leng-siau-sia secara diam-diam. Memangnya Tiong-giok sangat hafal keadaan setempat, maka dengan mudah saja mereka dapat mencapai tempat yang dicari.

Ketika sampai di ruang tengah mereka lantas mendengar bisak-bisik orang-orang Swat-san-pay tentang percekcokan di dalam Leng-siau-sia sendiri. Didengar pula oleh mereka bahwa Ciok Jing dan istrinya sudah tertawan.

Betapa pun buruk perbuatan Ciok Tiong-giok, kasih sayang ayah dan anak tidaklah sampai lenyap. Maka diam-diam ia pancing Cia Yan-khek menuju ke tempat tahanan, di situ Cia Yan-khek membunuh penjaga-penjaganya, Ciok Jing dan Bin Ju ditolong keluar, lalu sama-sama datang ke ruang pendopo.

Tatkala itu Su-popo. Pek Ban-kiam dan Ciok Boh-thian sedang bicara dengan Pek Cu-cay. Kalau menuruti jalan pikiran Cia Yan-khek, ia lebih suka membunuh siapa saja yang dipergokinya, ketemu satu bunuh satu, melihat dua bunuh sepasang, dengan demikian orang-orang Swat-san-pay akan ditumpas habis olehnya. Namun maksudnya ini dicegah oleh Ciok Jing dan Bin Ju.

Ciok Jing telah berkata padanya, “Kalau memang seorang gagah, seorang kesatria sejati, hendaklah bertanding dahulu dengan ketua mereka, Wi-tek Siansing. Sekarang tokoh utamanya belum lagi muncul, kalau cuma pandai membunuh anak muridnya yang merupakan kaum keroco saja, bila tersiar di dunia Kangouw bukankah orang akan mengatakan Mo-thian-kisu hanya berani kepada kaum kecil dan takut kepada yang keras.”

“Huh, apa yang kutakuti,” jengek Cia Yan-khek, “Baiklah, kubunuh dulu yang tua baru nanti kuhabisi yang kecil.”

Begitulah, maka tidak lama kemudian Su-popo dan Pek Ban-kiam lantas keluar. Karena ucapan Cia Yan-khek yang mentang-mentang itu segera terjadilah pertarungan sengit. Biar ilmu silat Ban-kiam cukup tinggi toh dia bukan tandingan pemilik medali wasiat itu, maka hanya beberapa gebrakan saja ia sudah terdesak dan terancam bahaya.

Karena mendengar Cia Yan-khek sumbar-sumbar akan menumpas habis seluruh orang Swat-san-pay, biarpun sedang cekcok dengan Ban-kiam juga Seng Cu-hak dan Ce Cu-bian serentak lantas menerjang maju untuk mengerubut. Namun dengan tiga lawan satu tetap tak mampu menahan tenaga pukulan “Pik-ciam-jing-ciang” yang dahsyat dari Cia Yan-khek.

Pada waktu Ciok Boh-thian muncul, saat itu Su-popo dan Nio Cu-cin lagi bermaksud ikut mengerubut maju. Tak terduga Cia Yan-khek menjadi kaget ketika melihat Boh-thian sehingga keadaan mengalami perubahan mendadak.

Munculnya Ciok Boh-thian juga sangat mengejutkan Ciok Tiong-giok dan si Ting Tong. Menurut perhitungan mereka semula, asalkan Ciok Boh-thian sampai di Leng-siau-sia, begitu dilihat Pek Cu-cay yang berwatak keras itu tentu Boh-thian akan terus dihantam mampus tanpa diberi kesempatan bicara lagi. Siapa duga sekarang pemuda itu malah tetap segar bugar, keruan mereka sangat kaget. Tapi Tiong-giok rada lega juga ketika diketahui bahwa A Siu ternyata juga berada di situ dalam keadaan baik-baik saja.

Ting Tong sendiri walaupun jatuh hati kepada Ciok Tiong-giok yang pintar gelembuk dan pandai merayu, sebaliknya tidak suka kepada Ciok Boh-thian yang kaku dan tidak romantis. Namun betapa pun juga dia pernah hidup berdampingan sekian lamanya dengan pemuda polos itu. Demi melihat Boh-thian masih tetap sehat walafiat, mau tak mau ia merasa syukur juga.

Dan baru sekarang juga Ciok Jing dan Bin Ju mengetahui bahwa pemuda yang ikut mereka ke Leng-siau-sia ini ternyata bukan putranya sendiri, tapi adalah si pemuda yang bernama Ciok Boh-thian itu. Di samping merasa rikuh mereka merasa geli pula. Kalau pertama kalinya mereka salah mengenali putranya sendiri masih dapat dimengerti, siapa sangka untuk kedua kalinya mereka tetap tak bisa membedakannya.

Dalam pada itu demi mendengar bahwa suaminya tidak mau keluar dari kamar penjara, sebaliknya menyuruh dirinya ke Pik-lwe-san, cepat Su-popo tanya kepada Boh-thian, “Pertandingan kalian itu dimenangkan oleh siapa? Mengapa aku disuruh pergi ke Pik-lwe-san?”

Sedangkan Cia Yan-khek juga lantas tanya, “He, kalian berdua ini mengapa mirip satu sama lain, sesungguhnya yang mana adalah Kau-cap-ceng?”

“Boh-thian, mengapa kau pura-pura sakit gondok dan menggantikan anak Giok sehingga kami tertipu?” demikian Ciok Jing dan Bin Ju juga bertanya.

“Kau tidak menurut pesanku sehingga penyamaranmu telah diketahui bukan?” tanya si Ting Tong.

Begitulah beramai-ramai Boh-thian diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga dia bingung yang mana harus dijawabnya lebih dulu.

Pada saat itu dari ruang belakang tampak muncul pula seorang wanita setengah umur, begitu tiba lantas tanya si A Siu, “Anak Siu, kedua pemuda yang serupa ini yang mana adalah yang baik dan mana yang berhati jahat?”

Kiranya wanita ini adalah istrinya Pek Ban-kiam, yakni ibunya A Siu.

Sejak terjadi Ciok Tiong-giok hendak perkosa A Siu sehingga si nona terjun ke dalam jurang, saking dukanya nyonya Pek Ban-kiam itu sampai menjadi gila, Waktu Liau Cu-le, Seng Cu-hak, dan lain-lain mengadakan pengkhianatan, karena menganggap nyonya Ban-kiam itu sudah gila, maka tidak memerhatikannya. Tapi sesudah A Siu pulang bersama neneknya, orang yang pertama dijenguk adalah ibunya itu. Melihat putri kesayangannya ternyata tidak mati dan sudah pulang dalam keadaan baik-baik, seketika pikiran nyonya Ban-kiam lantas sadar sebagian besar. Maka sekarang ia pun keluar dan ikut-ikut mengajukan pertanyaan.

Namun Su-popo menjadi aseran, segera ia membentak, “Diam, diam semua! Kalau ribut-ribut begini, cara bagaimana orang bisa bicara dengan jelas?”

Terpaksa semua orang terdiam. Hanya Cia Yan-khek saja yang mendengus satu kali, tapi ia pun tidak membuka suara lagi.

“Coba kau jawab dulu pertanyaanku, siapa yang telah menang antara kau dan Yaya?” Su-popo mendesak pula.

Serentak perhatian semua orang Swat-san-pay dicurahkan kepada Ciok Boh-thian dengan rasa khawatir. Maklumlah, meski sangat tidak puas terhadap kesombongan dan keganasan Pek Cu-cay, tapi apa pun juga masih terhitung ciangbunjin mereka, kalau sampai dikalahkan oleh seorang pemuda yang masih pelonco tentu nama baik Swat-san-pay akan runtuh habis-habisan.

Maka terdengar Boh-thian telah menjawab, “Sudah tentu Yaya yang menang, aku mana mampu menandingi beliau? Aku telah dihantam dan ditendang berpuluh-puluh kali, sebaliknya satu kali pun aku tidak mampu memukul beliau.”

Mendengar demikian barulah Pek Ban-kiam dan lain-lain menghela napas lega. Dengan melirik lalu Su-popo bertanya pula, “Dan mengapa sedikit pun kau tidak terluka apa-apa?”

“Ya, mungkin Yaya sengaja mengampuni diriku,” sahut Boh-thian. “Akhirnya dia menjadi lelah dan duduk di atas tanah. Kulihat napasnya agak sesak, segera kubantu beliau menyalurkan napas dan sekarang sudah baik.”

“Hehe, kiranya demikian!” tiba-tiba Cia Yan-khek menjengek.

Su-popo tak menggubrisnya, ia tanya pula, “Lalu apa yang dikatakan Yaya?”

“Beliau mengatakan tentang... tentang dosa apa dan ingin tetap tinggal di... di dalam kamar batu itu, aku dibentak supaya pergi, katanya nenek boleh pergi ke... ke Pik-lwe-to saja dan jangan pulang ke Leng-siau-sia lagi.”

“Tua bangka itu anggap aku ini manusia apa? Mengapa aku mesti pergi ke Pik-lwe-to sana?” teriak Su-popo dengan gusar.

Kiranya Su-popo ini nama kecilnya adalah Siau-jui, di waktu mudanya kecantikannya telah menjatuhkan hati banyak pemuda-pemuda kalangan persilatan, di antaranya Pek Cu-cay dan Ting Put-si adalah tokoh-tokoh angkatan muda yang terkemuka pada zaman itu.

Karena watak Pek Cu-cay memang sombong dan tinggi hati, mestinya Su Siau-jui tidak suka padanya. Tapi ayah-bundanya telah penujui ilmu silat dan nama kebesaran Swat-san-pay, maka pilihan akhirnya jatuh atas diri Pek Cu-cay.

Pada permulaan sesudah mereka menikah Su Siau-jui sering bertengkar mulut dengan sang suami. Kalau bertengkar dia tentu menyesali kedua orang tua yang telat memilihkan suami yang tidak cocok baginya. Coba kalau jadi istri Ting Put-si tentu hidupnya akan bahagia.

Padahal Ting Put-si itu juga sangat aneh wataknya, bahkan lebih buruk daripada Pek Cu-cay, namun pemandangan di seberang sungai memang tampaknya lebih indah daripada pemandangan di depan matanya. Apalagi Su Siau-jui sengaja hendak membikin marah sang suami, ia sengaja menambahi tentang rasa cintanya kepada Ting Put-si, sebenarnya cuma sepuluh persen, tapi sengaja bilang seratus persen.

Sudah tentu Pek Cu-cay berjingkrak-jingkrak murka, tapi juga tak bisa berbuat apa-apa. Baiknya setahun kemudian mereka lantas mendapatkan anak laki-laki yaitu Pek Ban-kiam. Sejak perhatian Su Siau-jui dicurahkan dalam perawatan putranya, selama berpuluh tahun tidak pernah keluar dari Leng-siau-sia dan tak pernah berjumpa pula dengan Ting Put-si.

Siapa duga sesudah sekian lamanya hidup tenteram, akhirnya terjadilah peristiwa Ciok Tiong-giok dan A Siu. Su Siau-jui telah ditampar oleh Pek Cu-cay, dengan marah dan dendam ia terus minggat dari rumah, di bawah jurang yang penuh salju beruntung dapat ditemukan A Siu yang belum lagi tewas. Dengan membawa cucu perempuannya itu Su-popo lantas berkelana ke daerah Tionggoan.

Tapi dasar memang sudah suratan nasib, setiba di Kota Bu-jiang kembali Su-popo bertemu dengan Ting Put-si. Pertemuan ini sudah tentu sangat menggembirakan. Dalam pembicaraan mereka barulah diketahui bahwa Ting Put-si ternyata sangat setia, selama itu ternyata tidak menikah dengan gadis lain. Sebab itulah Ting Put-si dengan sangat minta Su-popo suka ikut padanya ke Pik-lwe-to untuk tinggal beberapa hari di sana.

Usia mereka berdua sudah lebih dari 60 tahun, sudah tentu tiada persoalan hubungan kasih muda-mudi lagi. Sebabnya Ting Put-si berkeras mengundang Su-popo ke tempat tinggalnya adalah karena dia pernah mengeluarkan nazar apabila kaki sang kekasih mau menginjak tanah Pik-lwe-to saja, maka mati pun dia akan merasa puas.

Undangan itu telah ditolak Su-popo dengan tegas. Tapi Ting Put-si masih terus memohon dan mendesak, sampai akhirnya terjadilah uber-uberan. Karena tidak tahan atas desakan dan usikan Ting Put-si itu, Su-popo menjadi marah, dan sekali sudah bertengkar mulut, segera terjadi juga pertarungan. Dalam pertempuran beberapa kali ternyata ilmu silat Su-popo tidak mampu menandingi Ting Put-si, untungnya Put-si tidak bermaksud mencelakainya sehingga pada saat-saat berbahaya selalu memberi kelonggaran.

Su-popo menjadi gelisah dan gemas pula. Ketika di atas perahu di Sungai Tiangkang secara tergesa-gesa ia telah melatih lwekang dengan sistem cepat dengan maksud untuk menandingi Ting Put-si. Tapi saluran tenaga dalamnya telah sesat sehingga lumpuh. Dalam keadaan hampir disusul Ting Put-si itulah secara kebetulan Ciok Boh-thian dilempar ke dalam perahu Su-popo oleh si Ting Tong dan pemuda itu berhasil menyelamatkannya. Kemudian Su-popo lantas kabur pula ketika mengetahui Ting Put-sam dan Ting Put-si juga menyusul ke Ci-yan-to.

Tak tersangka watak Ting Put-si itu memang aneh, sekali sudah melihat Su Siau-jui lagi lantas timbul pula pikirannya akan memaksa bekas kekasih itu ke Pik-lwe-san. Ia insaf bukan tandingan orang-orang Swat-san-pay, maka dengan rendah hati ia rela memohon bantuan kepada kedua saudaranya yang biasanya tidak akur satu sama lain, yaitu Ting Put-ji dan Ting Put-sam, bertiga mereka lantas datang ke Leng-siau-sia dengan tujuan hendak menculik Su-popo ke Pik-lwe-to, asalkan nenek itu sudah menginjak pulau itu, maka puaslah Ting Put-si dan akan membebaskannya pulang ke Leng-siau-sia lagi.

Ketika Ting Put-si dan kedua saudaranya sampai di Leng-siau-sia, waktu itu Su-popo belum lagi pulang. Maka Put-si lantas membohong, katanya Su-popo telah berkunjung ke Pik-lwe-san dan bercengkerama dengan dia. Semula Pek Cu-cay tidak mau percaya, tapi Put-si lantas menguraikan tentang tingkatan ilmu silat Su-popo sekarang, yaitu menurut pengalaman dari pertarungan yang telah terjadi beberapa kali, karena uraiannya cukup tepat, mau tak mau Pek Cu-cay menjadi sangsi. Dari cekcok mulut akhirnya mereka lantas bergebrak. Akhirnya Ting Put-si kena dihantam sekali oleh Pek Cu-cay sehingga terluka dalam, untung kedua saudaranya lantas melindunginya dan meninggalkan Leng-siau-sia.

Tapi dengan peristiwa itu Pek Cu-cay menjadi khawatir dan gusar tak terlampiaskan, akhirnya pikirannya menjadi sinting dan mengganas dengan membunuh secara semena-mena sehingga terjadilah huru-hara di dalam Leng-siau-sia sendiri.

Setiba kembalinya Su-popo menjadi menyesal juga melihat keadaan sang suami itu. Maka setelah mendengar uraian Ciok Boh-thian ia sudah ambil keputusan untuk mendampingi sang suami sampai saat terakhir. Tapi lantas terpikir pula olehnya, “Aku telah minta cucu menantuku menyerahkan kedudukan ciangbun padaku, maksudku ialah untuk mewakilkan dia pergi ke Liong-bok-to agar A Siu tidak sampai menjadi janda muda. Kalau aku jadi mendampingi tua bangka itu, kedua urusan ini dengan sendirinya tak bisa dilaksanakan sekaligus dan harus pilih satu di antara dua. Ai, biarlah, persoalan ini sementara tak perlu dipikirkan, yang penting si tua gila itu harus kujenguk lebih dulu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar