Karena sampai sekian lamanya anak dara itu masih tidak bergerak akhirnya Boh-thian bicara mengada-ada, “Eh, Ting-ting Tong-tong, kau memakai kerudung itu, apakah tidak merasa gerah?”
“Sudah tentu gerah sekali, hendaklah kau menyingkapnya saja,” sahut Ting Tong dengan tertawa.
Maka dengan jari Ciok Boh-thian lantas memegang ujung kain kerudung dan perlahan-lahan menyingkapnya.
Di bawah cahaya lilin tertampaklah wajah si Ting Tong yang cantik molek. Girang dan berdebar-debar hati Ciok Boh-thian, dengan mata tak berkedip ia memandangi nona itu, katanya, “Kau ... kau sungguh cantik.”
Ting Tong tersenyum manis, pipi kirinya kelihatan sebuah dekik kecil, perlahan-lahan ia menunduk dengan malu-malu.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara Ting Put-sam di luar kamar, kedengaran sedang berkata di tempat yang agak tinggi, “Malam ini adalah malam pengantin cucu perempuanku entah kawan dari manakah itu yang datang silakan turun kemari sekadar minum secawan.”
Lalu di tempat yang tinggi sebelah sana ada orang menjawab, “Pwe Hay-ciok, pengabdi Tiang-lok-pang, dengan jalan menyampaikan salam hormat kepada Ting-samya, harap maaf atas kelancangan kami membikin ribut ke sini malam-malam begini.”
“O, kiranya Pwe-siansing yang telah datang,” bisik Ciok Boh-thian di dalam kamar.
Alis Ting Tong tampak terkerut, ia mendesis agar pemuda itu jangan bicara.
Maka terdengarlah Ting Put-sam sedang bergelak tertawa, katanya, “Eh, kukira kawan tukang gerayang dari mana, tak tahunya adalah orang dari Tiang-lok-pang. Kalian ingin minum arak pengantin atau tidak? Janganlah bergembar-gembor sehingga mengganggu cucu perempuanku dan menantu cucuku itu.”
Pwe Hay-ciok ternyata sangat sabar menghadapi ucapan yang kasar itu, ia terbatuk beberapa kali, lalu berkata, “Kiranya hari ini adalah hari nikah cucu perempuan Ting-samya, maafkan kedatangan kami yang sembrono ini sehingga tiada membawa kado apa-apa, lain hari tentu kami akan datang pula memberi selamat dan minta minum arak pengantin. Sekarang Pang kami sedang menghadapi sesuatu urusan genting dan harus bertemu sendiri dengan Ciok-pangcu kami, maka mohon Ting-samya sudi pertemukan kami kepada beliau, untuk mana sebelumnya kami mengucapkan terima kasih. Sesungguhnya kalau tiada urusan penting, biarpun nyali kami sebesar langit juga kami tidak berani sembarangan menerobos ke tempat kediaman Ting-samya ini.”
“Pwe-tayhu, kau juga seorang tokoh di dunia Kangouw dan tidak perlu main sungkan-sungkan kepadaku,” sahut Ting Put-sam. “Apa yang kau sebut sebagai Ciok-pangcu adalah cucu menantuku Kau-cap-ceng ini bukan? Tapi dia bilang kalian telah salah mengenali dia, maka tidak ingin bertemu dengan kalian.”
Orang-orang yang datang bersama Pwe Hay-ciok itu seluruhnya adalah delapan jago utama Tiang-lok-pang. Demi mendengar Ting Put-sam memaki Pangcu mereka sebagai “Kau-cap-ceng” atau anak anjing, seketika beberapa orang di antaranya mengeluarkan suara geraman, kalau bisa mereka ingin melabrak orang she Ting itu.
Tapi Pwe Hay-ciok sendiri pernah mendengar Ciok Boh-thian mengaku bernama Kau-cap-ceng, maka ia anggap apa yang diucapkan Ting Put-sam itu tiada bermaksud menghina sang Pangcu. Ia pun kenal tabiat sang pangcu yang bangor, boleh dikata seorang bajul buntung, ke mana pun pergi suka main perempuan, bermalam di tempat “Ca-bo-keng” (rumah perempuan) adalah soal biasa baginya. Tapi sekarang mendengar bahwa sang Pangcu telah diambil sebagai cucu menantu oleh iblis tua Ting Put-sam, mau tak mau hati Pwe Hay-ciok menjadi ragu-ragu dan khawatir. Ia pikir kejadian ini tentu akan membawa akibat buruk di kemudian hari, lebih celaka lagi kalau sampai bermusuhan dengan tokoh-tokoh sebagai Ting Put-sam dan Ting Put-si bersaudara ini.
Maka ia lantas berkata, “Ting-samya, urusan Pang kami ini sesungguhnya sangat genting dan harus segera dimintakan petunjuk Pangcu. Dalam hal Pangcu kami suka bicara main-main atau berkelakar adalah lazim saja.”
Mendengar ucapan Pwe Hay-ciok itu, agaknya sangat khawatir dan gelisah, Ciok Boh-thian menjadi teringat kepada pertolongan dan perhatian tabib itu ketika dirinya dirangsang oleh derita penyakit panas dingin tempo hari, maka ia menjadi tidak tega membiarkan dia gelisah sedemikian rupa, segera ia membuka jendela dan berseru, “Pwe-siansing, aku berada di sini! Apa kalian mencari aku?”
Pwe Hay-ciok sangat girang, cepat jawabnya, “Ya, betul! Siokhe ada urusan penting yang harus segera dilaporkan kepada Pangcu.”
“Aku adalah Kau-cap-ceng dan bukan Pangcu kalian apa segala,” ujar Boh-thian. “Jika kau ingin mencari diriku sih memang sudah ketemu, tapi bila ingin mencari Pangcu, terang kau telah keliru alamat.”
Pwe Hay-ciok menjadi serbasusah, tapi lantas dijawabnya, “Ah, Pangcu suka bergurau lagi. Silakan Pangcu suka keluar sebentar agar kita bisa bicara lebih jelas.”
“Kau minta aku keluar?” Boh-thian menegas.
“Ya, Pangcu,” sahut Pwe Hay-ciok.
Tiba-tiba Ting Tong telah tarik-tarik lengan baju Ciok Boh-thian dan membisikinya, “Engkoh Thian, janganlah keluar!”
“Biar aku bicara sebentar saja dengan dia, segera aku akan kembali,” sahut si pemuda. Lalu ia melompat keluar melalui jendela.
Maka tertampaklah di atas pagar tembok pekarangan sebelah barat berdiri Pwe Hay-ciok, di atas wuwungan di belakangnya terdapat pula beberapa orang lagi. Sebaliknya di atas dahan pohon besar yang berada di sebelah timur pekarangan itu berduduk satu orang, ialah Ting Put-sam.
“Pwe-tayhu, kau ingin bicara dengan cucu menantuku, aku ikut mendengarkan, boleh tidak?” tiba-tiba Ting Put-sam bertanya.
Tentu saja Pwe Hay-ciok susah menjawab. Padahal Ting Put-sam sendiri sebagai seorang angkatan tua harus tahu peraturan Kangouw, urusan penting dan rahasia golongan lain adalah tidak pantas orang lain ikut-ikut mendengarkan, nyata tingkah laku iblis ini memang aneh sebagaimana disohorkan oleh orang Kangouw, demikian pikir Pwe Hay-ciok. Kemudian ia menjawab, “Urusan ini Cayhe tidak berani menjawab, Pangcu sendiri berada di sini, segala apa sudah seharusnya diputuskan oleh beliau.”
“Bagus, bagus! Segala urusan telah kau timpakan kepada cucu menantuku,” kata Ting Put-sam. “Hai, Kau-cap-ceng, Pwe-tayhu ingin bicara dengan kau aku pun ingin ikut mendengarkan.”
“Apa halangannya jika Yaya ingin ikut mendengarkan,” sahut Ciok Boh-thian.
“Hahaha! Bagus, bagus! Anak baik, cucu berbakti!” seru Ting Put-sam dengan tertawa. “Nah Pwe-tayhu, kalau ingin bicara lekaslah mulai. Maklum, waktu sangat berharga, apalagi, di malam pengantin cucu perempuanku ini kau sengaja datang membikin kacau, benar-benar runyam.”
Sama sekali Pwe Hay-ciok tidak menduga Ciok Boh-thian akan mengizinkan permintaan Ting Put-sam tadi, tapi apa daya hanya dalam hati saja ia merasa kurang senang. Lalu ia mulai berkata, “Pangcu, di markas telah mendapat kunjungan tamu dari Swat-san-pay.”
“Swat-san-pay?” Boh-thian manggut-manggut. “Apa barangkali nona Hoa Ban-ci dan kawan-kawannya?”
Banyak sekali golongan dan aliran di dunia persilatan, tapi yang dikenal Ciok Boh-thian hanya Swat-san-pay saja dan di antara orang-orang Swat-san-pay itu hanya dikenalnya Hoa Ban-ci seorang, sebab itulah ia lantas menyebut namanya.
“Nona Hoa juga terdapat di antara tamu-tamu itu,” sahut Pwe Hay-ciok. “Selain itu masih ada pula beberapa orang di bawah pimpinan ‘Gi-han-se-pak’ Pek ....” sampai di sini ia lantas berhenti dan dengan penuh perhatian ia memandang air muka sang Pangcu.
Di bawah cahaya bulan dapat dilihat jelas ketika mendengar sebutan “Gi-han-se-pak”, sama sekali air muka Ciok Boh-thian tiada reaksi apa-apa. Maka lega dan tenteramlah hati Hay-ciok.
Dari sikap sang Pangcu yang tenang-tenang itu, ia yakin sang Pangcu tentu sudah mempunyai kepandaian yang lebih unggul untuk menghadapi orang-orang Swat-san-pay, dan apa yang dituduhkan pihak lawan itu hanya omong kosong belaka.
Maka ia lantas menyambung pula, “Tampaknya orang-orang Swat-san-pay yang datang itu adalah jago-jago pilihan semua.”
“Sekalipun si tua bangka Pek Cu-cay yang datang sendiri juga bisa apa?” tiba-tiba Ting Put-sam menyela. “Pwe-tayhu, kabarnya kau punya ‘Ngo-heng-liok-hap-ciang’ sangat lihai, mengapa kedatangan seorang bocah seperti Pek Ban-kiam saja kau sudah gugup?”
Mendengar orang memuji pukulannya, mau tak mau Pwe Hay-ciok menjadi senang. Dengan tersenyum ia menjawab, “Sedikit kepandaianku ini masakah ada harganya untuk disebut-sebut. Tiang-lok-pang kami meski suatu organisasi kecil juga tidak pernah takut kepada golongan dan aliran mana pun juga di dunia persilatan ini. Soalnya selama ini kami toh tiada percekcokan apa-apa dengan Swat-san-pay, tapi kedatangan Gi-han-se-pak ini tampaknya sangat garang dan ingin segera bertemu dengan Pangcu, kami minta dia suka menunggu sampai besok juga telah ditolak, maka teranglah dalam urusan ini ada sesuatu hal yang agak luar biasa, dan kami perlu minta petunjuk kepada Pangcu.”
“Kemarin nona Hoa itu telah ditawan oleh Tan-hiangcu dan pagi tadi dia telah kita lepaskan,” demikian kata Boh-thian. “Apa barangkali orang-orang Swat-san-pay itu marah-marah karena kejadian ini?”
“Mungkin ada sedikit hubungan dengan kejadian itu,” sahut Pwe Hay-ciok. “Tapi Siokhe sudah minta keterangan kepada Tan-hiangcu, katanya Pangcu bersikap sangat ramah kepada nona Hoa, bahkan seujung rambutnya juga tak disentuh, kesalahannya berani kasak-kusuk ke dalam markas kita juga tak diusut, hal ini boleh dikata telah memberi muka kepada orang-orang Swat-san-pay. Kalau melihat sikap Gi-han-se-pak yang garang itu, agaknya kedatangan mereka adalah untuk urusan lain.”
“Habis apa yang kau kehendaki dariku?” tanya Boh-thian.
“Itulah terserah kepada perintah Pangcu,” sahut Pwe Hay-ciok. “Jika Pangcu ingin cara halus, maka kami akan segera kembali dan memberi sedikit petuah kepada mereka. Sebaliknya kalau Pangcu bilang pakai kekerasan, maka kita lantas hajar mereka hingga kocar-kacir agar mereka kapok dan tidak berani sembarangan main gila dengan Tiang-lok-pang. Atau boleh juga Pangcu sendiri coba melihat-lihat ke sana dan bertindak menurut gelagat, jalan ini pun baik juga.”
Berada sendirian di dalam kamar bersama Ting Tong tadi memangnya Ciok Boh-thian lagi merasa bingung, ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya sesudah masuk di dalam kamar pengantin itu. Ia merasa dirinya bukanlah Ciok-pangcu tulen, tentang pengantinan itu akibatnya kelak tentu akan membikin susah, untung Pwe Hay-ciok sekarang datang, kesempatan ini dapat dibuat alasan untuk meloloskan diri. Maka ia lantas berkata, “Jika demikian, baiklah aku akan pulang untuk melihatnya, mungkin ada salah paham di pihak mereka dan aku akan bicara secara terus terang kepada mereka,” lalu ia berpaling dan berkata pula, “Yaya, Ting-ting Tong-tong! Aku akan pergi dulu, ya!”
Ting Put-sam garuk-garuk kepala, katanya, “Wah, cara, demikian kurang baik. Kalau bocah-bocah kaum Swat-san-pay itu yang datang mengacau, biarlah aku saja yang pergi membereskan mereka. Toh aku memang sudah pernah membunuh dua orang murid mereka dan memang sudah mengikat permusuhan dengan si tua bangka she Pek, bagaimana kalau sekarang harus aku membunuh lagi beberapa orang mereka, maka utang piutang ini akan sama saja cara memperhitungkannya kelak.”
Tentang terbunuhnya Sun Ban-lian dan Cu Ban-jing oleh Ting Put-sam, karena hal ini menyangkut kehormatan Swat-san-pay, maka telah dirahasiakan, kecuali Ciok Jing suami istri yang telah diberi tahu.
Pwe Hay-ciok sendiri merasa tidak enak kalau Ting Put-sam ikut campur dalam urusan ini sehingga akan makin mempertajam pertentangan dengan Swat-san-pay yang luas pengaruhnya di dunia persilatan itu. Maka ia lantas berkata, “Jika Pangcu sendiri ingin pulang untuk menemui orang Swat-san-pay, sudah tentu jalan ini adalah paling baik. Dari itu urusan kecil Pang kami ini tidak perlu sampai membikin urusan ini tentu akan berkunjung lagi kemari.”
Sama sekali Pwe Hay-ciok tidak menyinggung tentang arak pengantin segala, sebab ia berharap sesudah pulang di markas Tiang-lok-pang nanti akan dapat membujuk sang Pangcu agar membatalkan maksudnya berbesanan dengan keluarga Ting itu.
Tak terduga Ting Put sam lantas berkata, “Ngaco-belo, kalau aku sudah mengatakan akan pergi, maka sudah pasti aku akan pergi. Pendek kata urusan Tiang-lok-pang ini, aku Ting-losam sudah pasti akan ikut campur.”
Setelah mengikuti percakapan di luar itu, Ting Tong menduga sebabnya orang-orang Swat-san-pay mendatangi markas Tiang-lok-pang tentu adalah gara-gara perbuatan kekasihnya yang bersifat bajul buntung ini, mungkin karena Hoa Ban-ci dari Swat-san-pay itu bermuka cantik, maka telah diganggunya dan bukan mustahil sudah dipaksa secara kasar. Padahal saat ini adalah malam pengantin baru mereka, tapi Ciok Boh-thian ternyata hendak pulang untuk menemui Hoa Ban-ci tanpa memedulikan dirinya, keruan Ting Tong sangat mendongkol. Maka tanpa pikir lagi segera ia melompat ke luar dan berseru, “Yaya, jikalau Engkoh Thian ada urusan penting dan harus pulang segera, walaupun berat juga terpaksa kita tak dapat merintanginya. Biar begini saja, kita kakek dan cucu berdua juga ikut Engkoh Thian ke sana untuk melihat tokoh-tokoh macam apakah dari Swat-san-pay yang datang itu.”
Meski Ciok Boh-thian ingin menghindari kesukaran di dalam kamar pengantin, tapi sesungguhnya ia pun merasa berat untuk berpisah dengan Ting Tong, kini mendengar nona itu mau ikut pulang padanya, ia menjadi girang dan segera menanggapi, “Bagus, bagus! Ting-ting Tong-tong, marilah kita berangkat. Yaya, marilah engkau pun ikut.”
Sekali sang Pangcu sudah berkata demikian, terpaksa Pwe Hay-ciok tak dapat bicara lain lagi. Beramai-ramai mereka lantas menuju ke tepi sungai dan naik ke atas perahu besar milik orang-orang Tiang-lok-pang dan segera mereka berlayar pulang ke markas.
Diam-diam Pwe Hay-ciok mengisiki Ciok Boh-thian, “Pangcu, hendaklah kau minta kepada Ting-samya agar jangan ikut turun tangan dan membunuh orang Swat-san-pay, tiada gunanya banyak mengikat permusuhan, sedapat mungkin kita harus menyelesaikan setiap persoalan secara damai.”
“Benar, tanpa sebab mana boleh sembarang membunuh orang, kan orang jahat namanya jika suka membunuh orang?” sahut Boh-thian.
Pwe Hay-ciok sampai melongo sendiri mendengar jawaban Ciok Boh-thian itu. Katanya di dalam hati, “Kau sendiri mengapa mendadak bicara seperti seorang mahaalim? Sungguh aneh!”
Setiba di markas Tiang-lok-pang, segera Ting Tong berkata, “Engkoh Thian, biar aku mengganti pakaian kaum lelaki ke kamarmu, lalu ikut bersama kau untuk menemui nona Hoa yang cantik molek itu.”
Sebagai pemuda yang masih hijau, Ciok Boh-thian merasa tertarik akan permainan si Ting Tong itu, jawabnya dengan tertawa, “Untuk apa kau menggunakan pakaian lelaki?”
“Aku tidak ingin diketahui sebagai istrimu agar nanti dapat lebih bebas bicara,” kata Ting Tong tertawa.
“Baiklah, mari kuantar kau ke kamarku,” sahut Boh-thian.
Mendadak Ting Put-sam juga berkata, “Biar aku pun ikut menyamar saja. Pwe-tayhu, apakah boleh aku menyaru sebagai anak buahmu?”
Memangnya Pwe Hay-ciok tidak ingin diketahui oleh orang Swat-san-pay tentang beradanya Ting Put-sam di dalam Tiang-lok-pang, maka kesediaan Ting Put-sam untuk menyamar itu menjadi kebetulan baginya. Segera ia menjawab dengan senang, “Apa yang Ting-samya kehendaki, boleh silakan saja.”
Begitulah Ciok Boh-thian lantas membawa Ting Put-sam dan Ting Tong ke kamarnya. Waktu itu Si Kiam masih mendengkur dengan nyenyaknya. Ketika mendengar suara pintu terbuka, ia lantas terjaga bangun. Ia menjadi terheran-heran ketika melihat Ting Tong dan kakeknya.
Boh-thian merasa susah untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi, hanya dikatakannya, “Enci Si Kiam, mereka ini hendak menyamar, boleh ... boleh kau membantu mereka seperlunya.”
Dan karena khawatir ditanya oleh Si Kiam, maka cepat ia keluar lagi dari kamar dan menunggu di ruangan luar.
Tidak terlalu lama, datanglah Tan Tiong-ci dan memberi lapor, “Pangcu, para saudara sudah siap menantikan kedatangan Pangcu ke ruangan Hou-beng-tong.”
Pada saat itulah tampak Ting Tong juga telah muncul sambil berseru, “Baiklah, kita boleh segera pergi bersama.”
Mendadak Boh-thian melihat di depannya telah bertambah seorang pemuda dengan dandanan yang serbaindah. Ternyata Ting Tong telah memakai baju panjang warna hijau, pakai ikat kepala kaum pelajar, tangannya membawa kipas lempit.
Sebaliknya Ting Put-sam telah mengganti pakaian yang kasar berlengan pendek, mukanya sengaja dipoles hitam, memakai sepatu butut, pundak miring sebelah, jalannya dibikin pincang, kelakuannya sangat lucu.
Hampir-hampir Ciok Boh-thian tidak kenal lagi pada orang tua itu, selang sejenak barulah ia berseru dengan terbahak-bahak, “Yaya, kau sama sekali telah berubah rupa.”
Kemudian Tan Tiong-ci bertanya kepada Boh-thian, “Pangcu, apakah kita perlu membawa senjata?”
“Membawa senjata?” sahut Boh-thian dengan mata terbelalak lebar. “Untuk apa membawa senjata?”
Tiong-ci menyangka arti jawaban Boh-thian itu adalah kebalikannya, maka ia hanya mengiakan saja dan segera mendahului berjalan di depan dan membawa mereka ke ruang Hou-beng-tong (ruang harimau buas).
Di ruangan itu sudah menunggu beberapa puluh orang, ketika melihat kedatangan Ciok Boh-thian, serentak mereka berdiri dan memberi hormat.
Sama sekali Boh-thian tidak menyangka ruangan itu sedemikian besarnya serta sedemikian banyak orang yang berada di situ. Ia terkejut, lebih-lebih ketika orang-orang itu serentak memberi hormat, keruan ia menjadi bingung dan entah cara bagaimana harus bicara. Untuk sekian lamanya ia tertegun di ambang pintu.
Ia lihat meja-meja yang terletak di sekeliling ruangan itu semuanya terdapat lilin besar yang memancarkan cahaya yang terang, beberapa puluh orang lelaki berbaris di kanan-kiri, di tengah-tengah ruangan tersedia sebuah kursi besar berlapis kulit harimau yang loreng. Keangkeran ruangan besar itu seketika membikin pemuda gunung yang masih hijau itu tercengang bingung. Terpaksa ia memandang ke arah Pwe Hay-ciok yang juga terdapat di antara orang-orang yang menantikan kedatangannya itu, ia sangat mengharapkan nasihat Pwe Hay-ciok akan bagaimana harus diperbuatnya.
Syukurlah Pwe Hay-ciok lantas menyambut ke hadapannya dan berbisik padanya, “Pangcu, marilah kita ambil tempat duduk dulu, habis itu barulah sahabat dari Swat-san-pay itu diundang masuk kemari.”
Dalam keadaan demikian sudah tentu Ciok Boh-thian menurutkan saja segala petunjuk Pwe Hay-ciok. Di bawah iringan Pwe-tayhu, segera Boh-thian mendekati kursi besar berlapis kulit harimau itu dengan sangsi.
“Silakan Pangcu duduk saja,” Pwe Hay-ciok membisikinya.
“Aku ... aku duduk di sini?” Boh-thian menegas dengan bingung, sungguh ia merasa takut, tanpa merasa sorot matanya tertuju ke arah Ting Tong, ia berharap paling baik kalau nona itu lantas menyeretnya melarikan diri keluar dari ruangan itu dan kabur sejauh mungkin ke tempat yang sunyi.
Tapi Ting Tong hanya membalas dengan tersenyum saja dengan maksud memberi dorongan padanya.
Melihat sinar mata si nona yang mesra itu Boh-thian merasa nona itu seperti sedang menganjurkannya agar jangan takut dan siap membantunya jika ada kesukaran apa-apa. Sekarang semangat Boh-thian terbangkit, hatinya menjadi tabah, ia merasa terima kasih dan lega. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lantas duduk di atas kursi berkulit harimau itu.
Sesudah Boh-thian berduduk, lalu Ting Put-sam dan Ting Tong berdiri di belakang kursi besar itu. Segera para hadirin juga lantas mengambil tempat duduknya sendiri-sendiri menurut urutan dan kedudukan masing-masing.
Kemudian Pwe Hay-ciok mulai membuka suara, “Saudara-saudara yang terhormat. Selama ini Pangcu telah jatuh sakit parah sekali, untunglah kini kesehatan beliau telah sembuh kembali walaupun semangatnya belum lagi pulih seluruhnya. Seharusnya Pangcu masih perlu istirahat untuk beberapa hari lamanya barulah dapat bekerja seperti biasa. Tak terduga-duga sobat-sobat dari Swat-san-pay bersitegang harus bertemu dengan Pangcu, seakan-akan kalau Pangcu tidak menemui mereka, maka menandakan sakitnya Pangcu sudah tak bisa disembuhkan lagi. Hehe, masakah dengan Lwekang mahatinggi yang dimiliki Pangcu bisa terganggu oleh penyakit yang tiada artinya? Pangcu, apakah sekarang juga kita undang saja sobat-sobat dari Swat-san-pay itu masuk ke sini?”
Boh-thian mendengus sekali, ia tidak tahu apa mesti menyatakan baik atau tidak baik.
Tapi Pwe Hay-ciok lantas memerintahkan orang-orang Tiang-lok-pang mengatur tempat duduk mereka semua berduduk di sebelah timur, sembilan buah kursi di sebelah barat dikosongkan untuk para tamu.
Lalu Pwe Hay-ciok berseru, “Bi-hiangcu, boleh silakan para tamu masuk untuk bertemu dengan Pangcu.”
Bi Heng-ya mengiakan dan segera melangkah keluar. Tidak lama kemudian terdengarlah suara tindakan orang di luar. Pintu ruangan terbuka Bi Heng-ya muncul dan berdiri di sisi pintu dan berseru, “Lapor Pangcu, para sobat dari Swat-san-pay telah tiba!”
“Marilah kita keluar menyambutnya,” Pwe Hay-ciok mengisiki Ciok Boh-thian dan perlahan-lahan menarik lengan bajunya.
“Menyambut?” Boh-thian menegas dengan ragu-ragu, perlahan-lahan ia berbangkit dan ikut Pwe Hay-ciok menuju keluar ruangan.
Tepat pada saat itu juga kesembilan jago Swat-san-pay telah melangkah masuk, mereka semuanya memakai baju panjang warna putih, orang yang berjalan paling depan bertubuh sangat tinggi, berumur antara 42-43 tahun, mukanya kereng, ketika dua-tiga meter berhadapan dengan Ciok Boh-thian mendadak ia berdiri tegak, sorot matanya menatap tajam kepada Boh-thian.
Tapi Boh-thian membalasnya dengan tersenyum ketolol-tololan sebagai tanda sambutan.
Lalu Pwe Hay-ciok berkata, “Pangcu, saudara ini adalah ‘Gi-han-se-pak’ (perbawa menggigilkan seluruh barat laut) Pek Ban-kiam, Pek-toako yang namanya disegani dan ilmu pedangnya tiada bandingannya di Bu-lim.”
Boh-thian hanya manggut-manggut saja dan kembali tersenyum ketolol-tololan. Karena dia hanya kenal Hoa Ban-ci seorang saja yang ikut di belakang Pek Ban-kiam itu, maka ia lantas berkata dengan tertawa, “Nona Hoa, kau telah datang lagi,”
Air muka kesembilan jago Swat-san-pay berubah seketika demi mendengar teguran itu.
Pek Ban-kiam adalah putra sulung Wi-tek Sian-sing Pek Cu-cay, itu Ciangbunjin atau ketua Swat-san-pay. Nama seluruh saudara perguruan mereka memakai huruf “Ban” (laksa) semua, dia bernama “Ban-kiam” (selaksa pedang), maka dapat dibayangkan ilmu pedangnya tentu lain daripada yang lain. Dalam Swat-san-pay nama Pek Ban-kiam sejajar dengan Hong-hwe-sin-liong Hong Ban-li, orang Kangouw menjuluki mereka sebagai “Swat-san-siang-kiat” (dua jago dari Swat-san). Coba kalau bukan Pek Ban-kiam sendiri yang datang, tentu Pwe Hay-ciok tidak perlu malam-malam datang ke rumah Ting Put-sam untuk mencari Ciok Boh-thian. Dan kalau tokoh terkemuka sebagai Pwe Hay-ciok juga sedemikian hormat dan segan padanya, sebaliknya seorang Pangcu yang masih muda belia ternyata acuh tak acuh kepadanya, sudah tentu Pek Ban-kiam sangat mendongkol, apalagi dia sudah menunggu sekian lamanya di ruangan tamu sekarang ternyata disambut secara dingin saja, bahkan datang-datang yang disapa adalah Sumoaynya yang cantik itu, keruan dada Pek Ban-kiam hampir-hampir meledak saking menahan perasaannya.
Syukurlah dia adalah seorang kesatria yang bisa membawa diri dan tidak mau perhatikan perasaannya secara terbuka. Hanya dengan sikap dingin ia melirik Ciok Boh-thian, meski tidak bicara, namun air mukanya sudah kentara sangat menghinakan kelakuan Ciok Boh-thian tadi.
Hoa Ban-ci juga serbasalah atas teguran Boh-thian itu, ia pun tidak menjawab dan hanya mendengus sekali saja.
Sebaliknya Ciok Boh-thian masih terlalu polos dan kekanak-kanakan, ia tidak tahu bahwa orang-orang Swat-san-pay itu sudah marah padanya, ia masih bertanya pula, “Eh, nona Hoa, apa luka di kakimu itu sudah sembuh? Masih sakit atau tidak?”
Pertanyaan ini membuat muka Hoa Ban-ci merah jengah, seketika orang-orang Swat-san-pay yang lain juga lantas memegang gagang pedang dan siap dilolos.
Melihat ketegangan suasana itu, cepat-cepat Pwe Hay-ciok membuka suara, “Silakan duduk, saudara-saudara, silakan! Sebenarnya kesehatan Pangcu kami belum mengizinkan untuk menemui tamu, tapi karena kedatangan saudara-saudara dari tempat jauh, terpaksa beliau menemui kalian. Tadi saudara-saudara telah lama menunggu, haraplah suka dimaafkan.”
Pek Ban-kiam hanya mendengus saja dan segera mengambil tempat duduk pertama di sebelah barat tadi. Kheng Ban-ciong duduk di sisinya, lalu Kwa Ban-king, Ong Ban-jim dan seterusnya, Hoa Ban-ci duduk di tempat yang terakhir.
Diam-diam beberapa orang Tiang-lok-pang merasa senang mendengar ucapan sang Pangcu mengenai luka di kaki Hoa Ban-ci dan membikin orang-orang Swat-san-pay itu gemas setengah mati, tapi toh tidak dapat berbuat apa-apa.
Dalam pada itu Pwe Hay-ciok juga telah mengiringkan Ciok Boh-thian kembali ke tempat duduknya. Para pelayan lantas mengaturkan minuman.
Kemudian Hay-ciok membuka suara lagi, “Tiang-lok-pang kami sudah lama kagum kepada Wi-tek Siansing, Swat-san-siang-kiat dan para jago muda dari Swat-san-pay, cuma sayang tempat kami ini terpencil di daerah Kanglam sehingga susah mengadakan hubungan. Hari ini berkat kunjungan Pek-siheng dan saudara-saudara sekalian, sungguh kami merasa bahagia sekali.”
Pek Ban-kiam membalas hormat sambil berkata, “Pwe-tayhu Tiok-jin-seng-jun, Ngo-heng-liok-hap-ciang juga tiada bandingannya di dunia ini, meski selama ini kita tidak kenal, tapi Cayhe sudah lama mendengar nama kebesaranmu.”
Dia hanya memuji Pwe Hay-ciok saja, tapi tidak sebut-sebut Ciok Boh-thian.
Namun Pwe Hay-ciok pura-pura tidak tahu, sahutnya dengan merendah diri, “Ah, Pek-siheng terlalu memuji. Entah saudara-saudara sudah berapa hari tiba di Yangciu ini? Biarlah lain hari Pangcu akan bertindak selaku tuan rumah dan mengundang saudara-saudara sekalian mengadakan sekadar perjamuan.”
Pek Ban-kiam mulai tidak sabar karena maksud kedatangan mereka tidak ditanyakan, segera ia berseru lantang, “Di kalangan Kangouw orang menyohorkan ilmu silat Ciok-pangcu kalian sangat hebat, cuma tidak diketahui kepandaian Ciok-pangcu itu entah berasal dari golongan atau aliran mana?”
Pertanyaan ini membuat orang-orang Tiang-lok-pang mengerut kening semua. Memang kepandaian Ciok-pangcu mereka terkenal sangat hebat dan aneh, tapi tiada seorang pun yang tahu dari golongan atau aliran mana ilmu silat sang Pangcu itu. Kalau ditanya juga cuma dijawab dengan tersenyum saja. Jadi orang-orang Tiang-lok-pang sendiri sebenarnya juga ingin tahu, maka serentak pandangan semua orang beralih kepada Ciok Boh-thian.
Keruan Boh-thian gelagapan, sahutnya, “Ini ... itu ... kau tanya tentang ilmu silatku? Tapi aku se ... sedikit pun tidak bisa ilmu silat apa-apa.”
Memangnya Pek Ban-kiam sudah sangsi melihat sikap Ciok Boh-thian yang serbasalah itu dan mengatakan tidak bisa ilmu silat, keruan ia tambah curiga. Dengan tertawa menyindir ia berkata pula, “Tiada sedikit tokoh-tokoh dan jago-jago terkemuka di dalam Tiang-lok-pang kalian, kalau Ciok-pangcu tidak bisa ilmu silat, apakah engkau dapat mengepalai para jago-jago sebanyak itu? Hm, ucapanmu itu hanya dapat dipakai menipu anak kecil saja.”
“Kau bilang aku menipu anak kecil?” Boh-tian menegas dengan bingung. “Siapa anak kecil itu? O, apa barangkali kau maksudkan Ting-ting Tong-tong? Tapi dia ... dia bukan anak kecil lagi, aku pun tidak menipu dia, sebelumnya aku pun sudah katakan padanya bahwa aku bukan dia punya Engkoh Thian.”
Rupanya meski dia sedang tanya jawab dengan Pek Ben-kiam, tapi sayup-sayup hidungnya mengendus bau harum yang timbul dari badan si Ting Tong yang berdiri di belakangnya itu sehingga semangatnya sudah melayang kepada diri anak dara itu.
Dengan sendirinya Pek Ban-kiam tidak paham apa yang dikatakan tentang Ting-ting Tong-tong apa segala, disangkanya Ciok Boh-thian sudah merasa bersalah, maka sengaja bicara ke timur dan ke barat untuk mengaburkan pokok pembicaraan mereka. Seketika air muka Ban-kiam berubah masam, dengan suara geram ia berkata pula, “Ciok-pangcu, biarlah kita bicara secara terus terang dan blakblakan saja. Cobalah jawab, ilmu silat yang kau pelajari di Leng-siau-sia itu mungkin belum terlupa seluruhnya, bukan?”
Ucapan Pek Ban-kiam ini benar-benar telah menggemparkan orang Tiang-lok-pang termasuk Pwe Hay-ciok. Mereka tahu Leng-siau-sia (kota langit) adalah tempat kediaman kaum Swat-san-pay yang terletak di pegunungan Swat-san di wilayah barat sana. Jika menurut ucapan Pek Ban-kiam ini, apakah benar sang Pangcu dahulu pernah belajar silat kepada kaum Swat-san-pay? Jadi kedatangan orang-orang ini barangkali ada hubungannya dengan urusan perguruan mereka sendiri?
Namun terdengar Ciok Boh-thian telah menjawab dengan bingung, “Leng-siau-sia? Tempat apakah itu? Selamanya aku tidak pernah belajar ilmu silat apa-apa. Jika pernah belajar tentu takkan melupakannya sama sekali.”
Jawaban ini bukan saja menusuk perasaan orang-orang Swat-san-pay, bahkan Pwe Hay-ciok juga merasa keterlaluan. Masakah nama “Leng-siau-sia” yang tersohor dikenal setiap orang Bu-lim dianggap oleh sang Pangcu sebagai tempat yang tak pernah dikenal, bahkan menyatakan tidak pernah belajar ilmu silat, omong kosong yang tak masuk di akal, betapa pun juga hanya akan menurunkan derajat sang Pangcu sendiri.
Sebaliknya bagi pendengaran orang-orang Swat-san-pay, terutama Pek Ban-kiam, sudah tentu jawaban Ciok Boh-thian tadi merupakan suatu hinaan besar.
Yang pertama-tama tidak tahan ialah Ong Ban-jim, segera ia berteriak, “Ucapan Ciok-pangcu barusan ini benar-benar keterlaluan. Apa barangkali semua orang Swat-san-pay satu peser pun tiada harganya dalam pandangan Ciok-pangcu?”
Melihat orang-orang Swat-san-pay itu marah-marah, Boh-thian menyangka ucapannya tadi tentu salah, maka cepat menjawab, “O, tidak, tidak! Masakah aku berani mengatakan orang-orang Swat-san-pay tidak laku sepeser pun. Seperti ... seperti ....”
Tiba-tiba teringat olehnya dahulu waktu dia ikut Cia Yan-khek berbelanja ke kota, ia tahu barang yang baik berharga lebih mahal, maka ia bermaksud mengucapkan kata-kata yang bisa membikin senang Pek Ban-kiam dan kawan-kawannya, tapi berulang-ulang ia berkata, “seperti ... seperti ....” namun tak bisa memberi contoh yang tepat. Dan karena di antara orang Swat-san pay yang dikenalnya itu hanya Hoa Ban-ci saja seorang, maka dalam keadaan serbasusah ia lantas berkata, “Seperti ... seperti nona Hoa Ban-ci tentulah berharga, ya, tentu sangat berharga ....”
“Sret”, serentak orang-orang Swat-san-pay berbangkit dari tempat duduk mereka dan senjata terlolos dari sarungnya, selain Pek Ban-kiam, delapan orang lainnya semua sudah menghunus pedang dan berdiri mengepung di depan Ciok Boh-thian. Bahkan Ong Ban-jim terus menuding dan mendamprat, “Orang she Ciok, kau sembarangan mengoceh dengan kata-kata rendah, sungguh kau terlalu menghina kami. Walaupun kami sudah berada di sarangmu juga tidak manda diperlakukan secara semena-mena.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar