Jilid 45
Sesudah Boh-thian melompat ke daratan, laki-laki itu menambat perahunya pada sebuah batu karang. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kulit keong, “Tut, tut, tuuuut!” ia meniup kulit keong itu beberapa kali. Tidak lama terlihatlah dari balik bukit sana berlari mendatangi empat orang laki-laki berseragam kuning. Sesudah berhadapan dengan Boh-thian mereka lantas memberi hormat dan menyapa, “Tocu sedang menantikan kedatangan para tamu agung, silakan Ciok-pangcu ikut kepada hamba!”
Mestinya Boh-thian ingin mencari tahu keadaan Pek Cu-cay, tapi orang-orang itu ternyata tidak dapat memberi keterangan apa-apa. Terpaksa Boh-thian mengikuti seorang laki-laki baju kuning itu ke depan, laki-laki yang lain lantas mengiringi dari belakang.
Setelah mendaki bukit, ternyata kedua samping adalah hutan belukar, hanya sebuah jalanan yang menyusur rimba menembus ke sebelah sana. Diam-diam Boh-thian memerhatikan keadaan sekitarnya agar bila perlu melarikan diri tidak sampai tersesat jalan.
Beberapa li kemudian, akhirnya mereka membelok ke suatu jalan pegunungan yang penuh batu-batu karang, di sebelah lain adalah sebuah kali kecil dengan arus air yang keras. Dengan menyusur tepi sungai kecil yang semakin menanjak ke atas, akhirnya tertampaklah sebuah air terjun yang berpuluh meter tingginya, air mencurah dari atas bagai dituang. Rupanya air terjun inilah mata air daripada sungai kecil itu.
Laki-laki penunjuk jalan itu tiba-tiba mengambilkan sebuah jas hujan yang tergantung di atas pohon di tepi jalan situ, ia berikan jas hujan itu kepada Boh-thian dan berkata, “Gedung tamu agung yang merupakan tempat yang paling nyaman di pulau kami ini dibangun di dalam gua sini, silakan Ciok-pangcu memakai jas hujan ini supaya tidak terciprat air.”
Boh-thian juga tidak menolak, ia pakai jas hujan itu. Ia lihat laki-laki itu mendekati air terjun, sekali lompat terus menembus ke balik tirai air itu. Segera Boh-thian ikut melompat ke sebelah sana.
Ternyata di balik tirai air terjun itu adalah sebuah gua, di dalamnya merupakan sebuah jalan lorong yang amat panjang, kedua tepi jalan terpasang pelita-pelita minyak, walaupun cahaya pelita agak guram, tapi cukup menerangi jalanan.
Jalanan lorong itu adalah perubahan dari gua alam yang terdapat di perut gunung itu, tempat-tempat yang dibuat oleh manusia itu agak sempit, tapi terkadang sangat lebar. Makin lama jalanan itu makin menurun dan terdengar pula suara gemerciknya air sehingga menimbulkan suara nyaring merdu di dalam gua. Jalan-jalan cabang di dalam gua juga sangat banyak, tapi diam-diam Boh-thian telah mengingatnya dengan baik.
Kira-kira lebih dari satu li jalan lorong di dalam gua itu, akhirnya pandangan Boh-thian terbeliak, di depannya terdapat sebuah pintu terbuat dari batu pualam. Di atas pintu terukir tiga huruf besar. Ia lantas tanya, “Apakah di sini inilah gedung tamu agung yang kalian maksudkan?”
Laki-laki baju kuning itu mengiakan. Diam-diam ia pun heran, bukankah huruf-huruf di atas pintu itu sudah cukup menerangkan, mengapa masih tanya, apakah kau buta huruf?
Ia tidak tahu bahwa Ciok Boh-thian justru memang buta huruf.
Setelah memasuki pintu batu pualam itu, lantai jalan di dalam situ ternyata juga terbuat dari papan batu yang sangat rajin. Laki-laki itu membawa Boh-thian ke dalam sebuah kamar di sebelah kiri, katanya, “Silakan Ciok-pangcu mengaso dulu di sini, sebentar lagi barulah Tocu akan menemui engkau dalam perjamuan nanti.”
Di dalam gua itu ternyata dilengkapi dengan meja kursi, tiga batang lilin besar cukup menerangi seluruh ruangan. Seorang kacung lantas mengaturkan teh dan empat macam penganan.
Melihat makanan dan minuman itu, tiba-tiba Boh-thian teringat kepada cerita Ciok Jing tempo hari. Menurut pengiraan Ciok Jing, berbagai tokoh persilatan yang telah diundang ke Liong-bok-to dan tak pernah kembali itu rasanya tidak mudah dijaring sekaligus begitu saja, besar kemungkinan orang-orang Liong-bok-to telah menggunakan akal-akal licik misalnya memakai perangkap atau menaruh racun di dalam makanan. Secara terang-terangan pihak Liong-bok-to mengundang tamunya menghadiri perjamuan Lap-pat-cok, maka bubur atau jenang yang dimaksudkan ini boleh jadi malah tidak ada sesuatu yang luar biasa, sebaliknya makanan atau minuman biasa yang tampaknya sepele justru jangan sembarangan dimakan. Namun demikian tokoh-tokoh Bu-lim yang menghilang di Liong-bok-to itu toh bukan orang bodoh semua, masakan mereka kalah cerdik daripada kita, maka sesungguhnya masih merupakan suatu teka-teki besar keadaan di Liong-bok-to. Sebagai pemuda yang jujur dan polos mungkin akan mendapat berkah dan takkan mengalami cedera apa-apa, yang penting segala apa hendaklah waspada dan hati-hati.
Begitulah dalam benak Boh-thian teringat kepada pesan Ciok Jing, tapi hidungnya tetap mengendus bau sedap penganan-penganan yang disuguhkan itu. Pikirnya, “Perutku sudah sangat lapar, masakah aku datang ke sini hanya untuk menderita lapar? Jika mereka ingin meracun diriku, di mana-mana juga mereka dapat melakukannya. Padahal kedua kakak angkat, Thio Sam dan Li Si, sudah pernah bersumpah setia dengan aku kalau ada rezeki dirasakan bersama, ada kesukaran di tanggung bersama. Bila mereka membikin celaka diriku bukankah berarti mencelakai mereka sendiri pula?”
Karena pikiran demikian, ia tidak ambil pusing lagi, memangnya perutnya juga sudah keroncongan, segera ia comot lumpia, siobe, kue bolu, dan siopia yang disuguhkan itu. Dalam sekejap saja empat macam penganan itu sudah disapu bersih ke dalam perutnya. Bahkan satu kan air teh juga dihabiskan setengah.
Kira-kira lebih satu jam ia menunggu di dalam gua itu. Tiba-tiba terdengar suara petasan mercon yang riuh ramai, si penunjuk jalan itu telah datang dan memberi tahu, “Tocu menyilakan Ciok-pangcu hadir ke dalam perjamuan.”
Boh-thian lantas berbangkit dan mengikutnya keluar. Terdengarlah bunyi petasan semakin ramai diseling dengan suara genderang dan genta. Setelah menembus beberapa tempat gua lagi, mendadak keadaan terang benderang. Tertampaklah sebuah gua besar penuh nyala lilin-lilin raksasa, di dalam gua sudah terpasang ratusan buah meja.
Gua itu sangat luas, walaupun sudah dipasang ratusan buah meja toh masih ada tempat luang, Beberapa ratus orang laki-laki berseragam kuning kian-kemari mengantar tamu ke tempat duduk yang telah disediakan.
Setiap tamu masing-masing menduduki sebuah meja, juga tidak diiringi orang dari pihak tuan rumah.
Waktu Boh-thian memandang sekitarnya, sekali pandang saja lantas terlihat Pek Cu-cay berduduk dengan gagah dan kereng di sebelah sana. Karena badan Cu-cay memang tinggi besar, maka tampaknya menjadi mencolok sekali.
Ketika berada di penjara Leng-siau-sia tempo hari, karena keadaan suram, maka Boh-thian belum jelas mengenali maka Pak Cu-cay, sekarang di bawah cahaya lilin yang terang dapat dilihatnya Wi-tek Siansing itu benar-benar angker seperti Toapekong yang dipuja di dalam kelenteng.
Segera Boh-thian mendekati orang tua itu dan menyapa, “Yaya, aku sudah datang!”
Suasana di dalam ruangan itu mestinya sunyi senyap sebab semua orang sedang merenungkan nasib masing-masing. Maka demi mendengar suara Ciok Boh-thian itu, tanpa merasa semua orang sama memandang ke arahnya.
Terdengar Pek Cu-cay telah mendengus, “Hm, setan cilik yang tidak becus, kau telah membikin celaka padaku, sampai-sampai buyut luar juga hilang harapan sama sekali bagiku.”
Boh-thian melengak karena tidak paham apa maksud dampratan kakek itu. Selang sejenak baru dia mengerti. Rupanya Pek Cu-cay mengatakan dia juga mengantarkan nyawa ke Liong-bok-to, ini berarti tak jadi kawin dengan A Siu dan tentu takkan melahirkan keturunan.
Maka Boh-thian berkata pula, “Yaya, nenek sedang menunggu kau di kampung nelayan di pantai laut sana, kata beliau, jika sebulan kemudian, yakni sampai tanggal 8 bulan satu, bila engkau masih belum kembali, maka nenek akan... akan terjun ke laut untuk bunuh diri.”
“Hah! Dia tidak pergi ke Pik-lwe-to?” seru Pek Cu-cay dengan alis menegak.
“Nenek sangat gusar bila mendengar ucapanmu ini,” sahut Boh-thian. “Beliau memaki engkau sebagai... sebagai....”
“Sebagai apa?” Pek Cu-cay menegas.
“Beliau memaki engkau sebagai si tua gila,” sahut Boh-thian. “Bila bertemu dengan Ting Put-si yang bermulut usil dan bergajul itu, tentu beliau akan mengorek-ngorek badannya dengan belati sehingga berlubang-lubang.”
“Haha, betul, betul, tepat itu! Hahaha!” seru Cu-cay sambil bergelak tertawa.
Pada saat itulah sekonyong-konyong di pojok ruangan sana ada seorang telah berkata sambil menangis terguguk-guguk, “O, mengapa dia memaki aku secara demikian? Bilakah aku pernah berbuat bergajul? Selama ini aku selalu setia padanya, tidak menikah sampai hari tua, tapi dia... dia sedemikian tega, sampai satu kali saja dia tidak mau menginjak Pik-lwe-to.”
Waktu Boh-thian memandang ke arah suara itu, terlihatlah Ting Put-si duduk di sebelah sana, kedua tangannya berpegangan meja, badannya rada gemetar dan air mata bercucuran.
“Eh, kiranya dia juga datang. Sudah tua masih juga menangis di depan umum, masakah tidak malu?” demikian pikir Boh-thian.
Ia tidak tahu bahwa sifat Ting Put-si itu memang aneh, kelakuannya angin-anginan, apa pun dapat dilakukannya tanpa rasa sirik atau malu. Apalagi kedatangannya ke Liong-bok-to ini baginya berarti akan tamatlah segala angan-angannya. Sekarang mendengar pula uraian Ciok Boh-thian tentang apa yang diucapkan Su-popo atas dirinya, keruan ia lantas menangis putus asa.
Jika dalam keadaan biasa tentu para kesatria akan menertawakan kelakuan Ting Put-si itu. Tapi sekarang setiap orang sama-sama menghadapi petaka, bahkan kalau bisa mereka pun ingin menangis. Sebab itulah tiada seorang pun yang sempat menertawai Ting Put-si.
Sekonyong-konyong, di pojok ruangan sebelah lain suara seorang wanita yang agak serak telah mengejek, “Hm, hm! Selalu setia, tidak menikah sampai tua! Huh, Ting Put-si, sungguh kau tidak tahu malu! Jika betul kau setia kepada Su Siau-jui, mengapa kau main cinta pula dengan Taciku sehingga melahirkan seorang anak perempuan?”
Seketika air muka Ting Put-si merah jengah, sikapnya menjadi serbarunyam, malu tercampur heran. Ia berbangkit dan bertanya, “Da... dari mana kau mengetahui?”
“Aku adalah adiknya, sudah tentu aku tahu!” sahut wanita itu. “Di manakah anak perempuan itu? Sudah mati atau masih hidup?”
Seketika Ting Put-si lemas terduduk pula di atas kursinya, “prak”, keempat kaki kursinya sampai tertindih patah semua.
“Di mana anak perempuan itu? Sudah mati atau masih hidup? Lekas katakan!” desak pula wanita itu dengan suara bengis.
“Da... dari mana aku bisa tahu?” sahut Ting Put-si setengah menggumam.
“Sebelum mengembuskan napasnya yang penghabisan, Cici telah pesan padaku agar mencari kau untuk menanyakan di mana beradanya anak perempuan itu, aku diminta merawat anaknya,” kata wanita itu. “Dasar kau ini memang... memang bangsat keparat, kau telah membikin kapiran Ciciku, sekarang kau masih merecoki bini orang lain.”
Kedua kaki Ting Put-si tambah lemas, kursi yang dia duduki mestinya sudah patah kakinya, hanya tergantung pada kakinya saja yang menyangga, kini kursi itu lantas saja roboh ke bawah. Syukurlah kepandaian Ting Put-si cukup hebat, sedikit kakinya memancal sudah berdiri tegak lagi. Kalau orang lain bukan mustahil sudah jatuh terjengkang.
“Sebenarnya anak perempuan itu masih hidup atau sudah mati?” kembali si wanita tadi bertanya dengan suara bengis.
“Dua puluh tahun yang lalu dia masih... masih hidup, kemudian aku tidak tahu lagi,” sahut Put-si.
“Mengapa kau tidak mencarinya?” desak si wanita.
“Ini... ini memang su... sukar untuk mencarinya,” sahut Ting Put-si dengan gelagapan.
Boh-thian melihat perawakan wanita yang bicara itu pendek dan kecil, berbaju sutra ungu tua, mukanya tertutup oleh sehelai sutra hitam tipis, di bawah cahaya lilin wajahnya kelihatannya tiada sesuatu yang luar biasa. Tapi Ting Put-si ternyata sangat jeri padanya.
Pada saat itulah mendadak suara tambur dan genta bergemuruh lagi, seorang laki-laki baju kuning telah berseru, “Liong-tocu dan Bok-tocu, kedua pemilik Liong-bok-to akan menjumpai para tamu agung!”
Seketika tergetar hati semua orang. Baru sekarang mereka mengetahui bahwa Liong-bok-to ternyata ada dua orang penguasa she Liong dan she Bok. Jadi nama pulau itu adalah diambil dari she kedua penguasanya.
Ketika pintu tengah terbuka, maka keluarlah dua baris pria dan wanita, yang sebelah kiri berseragam hijau, sedangkan sebelah kanan berseragam kuning. Pembawa acara tadi lantas berseru pula, “Para anak murid Liong-tocu dan Bok-tocu menyampaikan salam hormat kepada para tamu agung!”
Kedua baris anak murid Liong-bok-to itu lantas berdiri di kanan-kiri, lalu bersama-sama memberi hormat kepada para hadirin.
Tertampak Thio Sam dan Li Si, kedua Sucia pengganjar dan penghukum itu juga berada di antara kedua baris itu, Thio Sam memakai seragam kuning dan menduduki tempat ke-11 di sebelah kanan menurut urut-urutan dari depan. Li Si memakai seragam hijau dan berbaris nomor 13 di sebelah kiri. Di belakang mereka itu masih terdapat belasan orang lagi.
Padahal ilmu silat Thio Sam dan Li Si itu telah diketahui sangat lihai, siapa duga mereka masih mempunyai saudara seperguruan sebanyak itu dan tentu tidak rendah pula ilmu silatnya, paling tidak juga sembabat dengan kedua Sucia itu. Pantas selama ini setiap tokoh Bu-lim yang datang ke Liong-bok-to sini tiada satu pun yang mampu pulang dengan selamat, sebab di pulau ini ternyata ada sebanyak ini orang-orang pandai, belum lagi kedua tocu mereka yang pasti jauh lebih lihai pula daripada anak buahnya, demikian pikir semua orang dengan kebat-kebit.
Jika di waktu mengantar medali undangan ke Tionggoan itu Thio Sam dan Li Si bersikap sangat angkuh dan keras, sedikit tidak cocok lantas membunuh orang. Tapi sekarang sesudah di kandang sendiri, sikapnya ternyata sangat prihatin, pandangannya lurus, melirik sedikit saja tidak berani. Maka di tengah suara alunan musik yang perlahan muncullah dua orang tua yang berbaju kuning dan hijau.
“Kedua Tocu kami mengucapkan selamat datang kepada para tamu agung!” seru pula si pembawa acara. Serentak semua orang dan kedua tocu itu saling memberi hormat.
Maka Liong-tocu yang berjubah kuning itu lantas tertawa, katanya, “Cayhe dan Bok-hiante sudah lama hidup terasing di pulau sunyi ini, hari ini dapat berjumpa dengan saudara-saudara, sungguh kami merasa sangat bahagia. Cuma saja di pulau terpencil ini tentu akan kurang sempurna dalam hal pelayanan, untuk ini diharap kalian suka memaafkan.”
“Silakan duduk, saudara-saudara?” Segera Bok-tocu menyambung.
Dari logat mereka, agaknya kedua tocu ini pun berasal dari daratan Tionggoan, kalau bukan Hokkian, tentunya orang Kwitang.
Sesudah para tamu berduduk kembali, kedua tocu itu lantas menempati meja-kursi yang telah disediakan sebagai tuan rumah. Sedangkan anak muridnya tetap berdiri semua.
Melihat sikap tuan rumah yang cukup ramah itu, diam-diam para kesatria berpikir, “Cara Liong-bok-to mengundang tamu sangatlah kasar, jika yang diundang tidak mau, tentu orangnya, bahkan segenap keluarganya akan dibunuh habis. Tapi sesudah berada di pulau mereka ternyata disambut dengan segala kehormatan, sedikit pun tidak tampak kekurangan adat. Entah apa langkah selanjutnya yang akan mereka ambil?”
Waktu mereka memerhatikan kedua tocu itu, tertampak jenggot alis Liong-tocu itu sudah putih semua, tapi mukanya merah licin laksana anak kecil. Sebaliknya Bok-tocu itu berjenggot jarang-jarang, baru sedikit yang ubanan, tapi mukanya malah penuh keriput. Sebenarnya berapa usia kedua kakek itu menjadi sukar ditaksir. Cuma dapat diduga antara 60-90 tahun, tapi bukan mustahil juga sudah lebih dari 100 tahun.
Setelah masing-masing mengambil tempat duduk kembali, segera petugas-petugas mendekati setiap orang untuk menuangkan arak, menyusul lantas disuguhkan masakan-masakan enak, setiap meja delapan macam, ada ayam, itik, ikan dan udang, semuanya menguarkan bau sedap dan tiada sesuatu yang mencurigakan.
Di antara hadirin itu Boh-thian melihat pula keempat tokoh dari Kwantang, yaitu Hoan It-hui dan kawan-kawannya, ketua Siang-jing-koan dan lain-lain juga datang. Bila mereka bertemu pandang, maka hanya saling mengangguk saja. Rupanya perasaan mereka rada tegang.
“Silakan minum!” segera Liong dan Bok-tocu mengangkat gelas, kedua orang lantas mendahului minum habis arak mereka.
Melihat warna arak yang disuguhkan itu putih kehijau-hijauan, banyak di antara hadirin itu tidak berani minum, mereka hanya menempelkan cawan arak ke bibir saja dan tidak menghirup isinya. Sebaliknya ada sebagian hadirin yang merasa nasib mereka sudah berada di genggaman orang, biarpun mati juga harus bersikap kesatria, maka tanpa ragu-ragu mereka lantas ikut menenggak arak masing-masing. Segera pelayan menuangkan lagi cawan mereka.
Setelah tiga kali mengangkat gelas, kemudian Liong-tocu mengangkat tangannya memberi tanda, segera serombongan pelayan keluar dari ruangan belakang, masing-masing membawa sebuah nampan dengan semangkuk besar bubur atau jenang dan diletakkan di depan setiap tamu.
“Inilah tentunya Lap-pat-cok yang ditakuti orang Kangouw itu,” demikian pikir semua orang.
Bubur atau jenang itu berwarna hijau gelap, masih panas mengepul. Anehnya jenang ini bukan dibuat dari campuran angco (kurma merah), lianci (biji teratai), lengkeng, dan bahan-bahan lain, sebaliknya entah dicampur dengan pepesan apa, seperti sayur dan seperti rumput, mirip pula potongan akar-akaran, menusuk hidung pula bau obat-obatan.
Pada umumnya kalau barang berbisa kebanyakan bersemu hijau, sekarang warna jenang ini sedemikian aneh, keruan semua orang menjadi jeri. Apalagi Ko Sam-niocu, mengirik demi mengendus bau obat-obatan itu. Ia pikir di dalam jenang itu entah dicampur betapa banyak ular, kelabang, kalajengking dan makhluk-makhluk berbisa lain, sungguh ia merasa muak dan ingin muntah-muntah. Cepat ia mendorong jenang itu ke tepi meja sambil menutupi hidungnya.
Maka terdengar Liong-tocu berkata pula, “Sebagai penghormatan kepada para hadirin yang datang dari tempat jauh, maka sengaja kami suguhkan semangkuk Lap-pat-cok yang sukar dicari di luaran ini. Yang paling utama adalah sejenis bahan jenang ini, yaitu ‘Toan-jong-sit-kut-hu-sim-khau’ (rumput perantas usus, pelapuk tulang dan pembusuk hati), rumput ini setiap delapan tahun baru berbunga satu kali, terkadang harus sebelas tahun baru berbunga satu kali. Biasanya sesudah rumput ini berbunga barulah kami mengundang para kawan Kangouw untuk datang ke sini bersama-sama menikmati ramuan obat mukjizat ini. Kalau dihitung, pertemuan kali ini adalah pertemuan yang keempat. Nah, silakan mulai! Silakan, jangan sungkan-sungkan!”
Habis berkata segera ia mendahului memegang sumpit, tangannya mengacung sekeliling sebagai tanda menyilakan para tamunya, lalu kedua tocu itu mendahului makan jenang yang tersedia bagi mereka itu.
Demi mendengar nama rumput yang menyeramkan itu, seketika hati semua orang memukul keras. Sebenarnya mereka pun sudah insaf takkan bisa pulang dengan hidup, tapi secara blakblakan Liong-tocu itu memberitahukan racun apa yang tercampur di dalam jenang itu, hal ini benar-benar di luar dugaan dan membuat mereka melenggong seketika. Ketika melihat kedua tocu itu sudah mulai menikmati jenang sendiri dengan enaknya, diam-diam para kesatria membatin, “Di dalam jenang kalian itu sudah tentu tidak dicampuri racun, sebaliknya pasti ditaruh obat-obat kuat sebangsa sarang burung, jinsom dan lain-lain.”
Selagi semua orang ragu-ragu apa mesti makan jenang yang disuguhkan itu atau tidak, sekonyong-konyong di sebelah kanan sana seorang laki-laki tegap telah berbangkit, sambil menuding kedua tocu, orang itu membentak, “Dengarkanlah orang she Liong dan she Bok, aku Kay Thian-pa dari Kwansay adalah seorang laki-laki tak takut mati, sebelum berangkat memangnya aku sudah mengatur pesan terakhir di rumah, sekarang jika mau bunuh boleh lekas silakan, tidak nanti orang she Kay mundur setapak pun. Tapi kalau aku disuruh makan barang kotor semacam ini, hm, tidak mau!”
Liong-tocu tampak melengak sejenak, segera ia menjawab dengan tertawa, “O, jika Kay-enghiong tidak sudi makan jenang kami, masakah kami berani memaksa? Buat apa mesti marah lagi? Silakan duduk, silakan duduk!”
Namun Kay Thian-pa itu masih marah-marah dan membentak pula, “Orang she Kay sudah tidak pikirkan jiwanya lagi, apakah akan mati sekarang atau mati nanti juga sama saja, tapi aku justru ingin mencari perkara kepada kalian kawanan anjing yang zalim dan membikin celaka manusia ini!”
Sembari berkata, segera semangkuk jenang di depannya itu terus dilemparkan ke arah Liong-tocu.
“Jangan kurang ajar, Kay-hiante!” cepat seorang tua di meja sebelahnya berbangkit dan membentak padanya sambil mengebaskan lengan bajunya, serangkum angin lantas menyambar ke depan sehingga mangkuk jenang itu tertahan di udara.
Karena tidak dapat melayang ke depan, dengan sendirinya mangkuk itu lantas anjlok ke bawah. Tampaknya mangkuk besar berkembang warna-warni itu segera akan jatuh dan pecah berantakan, tiba-tiba seorang pelayan yang sedang menuangkan arak di meja sebelah lantas melompat maju, sekali sambar, dengan tepat mangkuk itu kena diraih oleh tangannya. Saat itu mangkuk itu tinggal beberapa senti saja di atas permukaan tanah, kalau telat sedetik saja tentu sudah hancur.
Tanpa merasa para hadirin bersorak memuji kepandaian pelayan itu. Tapi segera mereka tambah sedih. Pikir mereka, “Seorang pelayan saja berkepandaian setinggi ini, terang kami tiada harapan buat pulang dengan hidup lagi.”
Dalam pada itu tertampak seorang Susing (terpelajar) setengah umur dan bertubuh kurus telah berdiri dan berseru dengan suara lantang, “Hanya para pesuruh Liong-bok-to saja sudah cukup menjagoi dunia persilatan Tionggoan, apalagi kalau kedua Tocu sendiri ingin diagungkan di dunia persilatan, tentu semudah membalikkan telapak tangan sendiri dan buat apa mesti membuang pikiran dan tenaga untuk mengundang kami ke pulau sini? Kematian Cayhe sih tidak perlu disayangkan, yang membikin penasaran adalah suatu pertanyaan besar di dalam hati kami yang masih belum terjawab, untuk mana sangat diharapkan kedua Tocu suka memberi penjelasan, habis itu Cayhe rela menerima kematian tanpa penasaran sedikit pun.”
Apa yang ditanyakan Susing setengah umur ini memang juga menjadi pertanyaan yang terkandung di dalam hati para hadirin, maka seketika perhatian lantas terpusat kepada Liong dan Bok-tocu untuk mengetahui bagaimana jawabnya.
Maka Liong-tocu telah tertawa, jawabnya, “Ah, Sebun-siansing terlalu merendah hati, silakan duduk dulu! Dahulu Sebun-siansing terkenal seorang diri merobohkan Siampak-khit-pa (tujuh benggolan daerah utara Siamsay) dan menghancurkan Hopak-pek-ceh (delapan sarang bandit di Hopak), sudah selama 30 tahun ini Cayhe dan Bok-hiante sangat mengagumi nama Sebun-siansing, hari ini dapat berkenalan, masakah kami berani main kasar kepada Sebun-siansing?”
Mendengar disebutnya nama keluarga Susing setengah umur itu, seketika pandangan para hadirin beralih kepadanya. Sungguh tak terduga oleh mereka bahwa Sebun Put-kun, itu pelajar yang namanya mengguncangkan Kangouw pada masa 30 tahun yang lalu karena seorang diri telah merobohkan Siampak-khit-pa dan menghancurkan Hopak-pek-ceh ternyata masih berusia begini muda, tampaknya baru 40-an tahun saja. Padahal waktu namanya tersohor kabarnya usianya sudah lebih 30 tahun, sejak itu orangnya lantas menghilang. Kalau dihitung usianya sekarang tentu juga sudah 60-an tahun, siapa nyana orangnya ternyata awet muda.
Dalam pada itu terdengar Sebun Put-kun telah menjawab, “Ah, Liong-tocu terlalu memuji. Sedikit kepandaianku ini hanya boleh dibuat main gertak di daerah Tionggoan, tapi dalam pandangan kedua Tocu adalah mirip permainan anak kecil yang menertawakan saja.”
“Ah, Sebun-siansing terlalu rendah hati,” ujar Liong-tocu. “Tentang pertanyaan Sebun-siansing tadi, memangnya kami berdua juga akan memberi penjelasan kepada para hadirin. Cuma saja Lap-pat-cok ini harus dimakan selagi hangat-hangat supaya khasiatnya bisa bekerja dengan baik, sesudah para hadirin makan jenang ini barulah Cayhe memberi penjelasan.”
Karena kurang berpengalaman, maka Ciok Boh-thian boleh dikata setengah paham setengah tidak atas pembicaraan orang-orang itu. Sebaliknya perutnya sejak tadi sudah kelaparan. Maka demi mendengar ucapan Liong-tocu itu, terus saja ia angkat mangkuk terus diseruput hingga setengah mangkuk jenang itu masuk ke dalam perutnya. Terasa bau obat sangat menusuk hidung, tapi rasanya manis-manis asin, toh cukup enak. Maka sekaligus ia terus bikin bersih isi mangkuk itu.
Melihat Ciok Boh-thian menghabiskan jenang itu dengan lahapnya, para hadirin sama membatin, “Bocah ini benar-benar tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, andaikan ingin lekas mampus juga tidak perlu berlomba duluan!”
Tapi ada juga yang berpikir, “Ya, akhirnya toh mesti mati, cara pemuda ini memang lebih tegas dan lebih terhormat.”
Sedangkan Pek Cu-cay lantas menanggapi, “Bagus! Memang cucu menantu Swat-san-pay kami adalah lain daripada yang lain!”
Nyata, dalam keadaan demikian dia masih anggap Swat-san-pay tetap lebih unggul setingkat daripada golongan dan aliran lain, Ciok Boh-thian dianggapnya telah menaikkan derajatnya.
Sejak pertandingan di Leng-siau-sia tempo hari, sifat sombong Pek Cu-cay sudah banyak berkurang. Ia tidak berani berlagak lagi sebagai jago nomor satu, kesatria nomor wahid apa segala. Sekarang dilihatnya pula betapa tangkasnya kaum hamba Liong-bok-to seperti si pelayan menyambar mangkuk jenang tadi, mau tak mau ia harus mengakui dunia ini masih sangat luas, orang pandai benar-benar sukar dihitung betapa banyaknya.
Ketika dilihatnya pula Ciok Boh-thian telah menyeruput jenang beracun secara tak ambil pusing apakah akan mati keracunan atau tidak, segera ia merasa bangga atas diri pemuda itu sebagai cucu menantu ketua Swat-san-pay. Tanpa pikir ia pun lantas mengangkat mangkuk dan menyeruput jenangnya sambil mengerling hina kepada para hadirin, pikirnya, “Lihatlah ini, hanya aku dan cucu menantuku saja yang berani makan jenang ini, orang lain adakah sedemikian gagah berani?”
Tapi lantas terpikir pula olehnya, “Namun aku adalah orang kedua yang makan jenang ini, andaikan dianggap gagah berani dan kesatria sejati toh juga sudah nomor dua. Tahu begini, toh akhirnya mesti mati, mengapa tadi aku tidak minum jenang ini sebagai orang pertama? Sekarang aku hanya dapat dianggap ‘nomor dua’ saja, sungguh sangat mengecewakan.”
Begitulah selagi dia merenung dan menyesalkan diri sendiri, dengan sendirinya ucapan Liong-tocu selanjutnya tidak diperhatikan olehnya.
Liong-tocu itu telah berkata, “Empat puluh tahun yang lalu aku telah bersaudara dengan Bok-hiante, kami sangat cocok satu dan lain, baik ilmu silat maupun cita-cita boleh dikata sepaham. Mestinya kami hendak mengembara bersama di dunia Kangouw untuk melakukan segala sesuatu yang bermanfaat bagi sesamanya, tak terduga baru saja kami mulai berkelana lantas menemukan sebuah peta pusaka, setelah mempelajari catatan-catatan yang terdapat di pinggir peta itu kami mengetahui peta itu melukiskan sebuah pulau karang yang tak bernama, di pulau itu tersimpan semacam bu-kang-pit-koat (rumus rahasia ilmu silat) yang mahahebat....”
“Sudah terang pulau itu adalah Liong-bok-to, mengapa bilang pulau karang tak bernama?” sela Kay Thian-pa.
“Jangan memotong cerita Liong-tocu, Kay-hiante!” bentak si kakek yang mengebas mangkuk jenang tadi.
“Hm, biarpun kau berusaha mengambil hatinya juga belum tentu jiwamu akan diampuni,” sahut Kay Thian-pa dengan kurang puas.
Si kakek menjadi gusar, kontan ia angkat mangkuk di depannya dan sekaligus menghirup habis jenang bagiannya itu, lalu katanya, “Kita sudah mengangkat saudara sekian lamanya, memangnya kau anggap aku The Kong-ci ini manusia apa?”
Tiba-tiba Thian-pa merasa sangat menyesal, sahutnya, “Ya, Toako, akulah yang salah, biarlah Siaute minta maaf padamu!”
Segera ia pun berlutut dan menjura tiga kali. Sekalian ia lantas angkat mangkuk jenang sendiri terus dihirup habis juga.
Cepat The Kong-ci mendekati Kay Thian-pa, katanya, “O, saudaraku, dahulu waktu kita mengangkat saudara kita telah bersumpah setia akan mati-hidup bersama, hari ini cita-cita kita itu benar-benar terkabul, tidak percumalah persaudaraan kita itu.”
Begitulah kedua orang lantas saling rangkul dengan rasa girang dan pedih pula sehingga mencucurkan air mata.
Mendengar kedua orang itu bicara tentang sumpah setia mengangkat saudara, tentang sehidup dan semati, tanpa merasa Ciok Boh-thian lantas memandang ke arah Thio Sam dan Li Si.
Thio Sam dan Li Si tampak saling pandang dengan tersenyum, pandangan mereka tiba-tiba dialihkan kepada Liong dan Bok-tocu. Ketika Bok-tocu mengangguk perlahan, segera Thio Sam dan Li Si meninggalkan barisannya, masing-masing membawa semangkuk Lap-pat-cok dan mendekati Boh-thian, kata mereka, “Makanlah, Samte!”
“Tidak, tidak, jangan!” cepat Boh-thian mencegah. “Kalian jangan menemani kematianku. Aku hanya memohon sukalah kalian kelak menjaga A Siu....”
“Samte,” kata Thio Sam dengan tertawa, “pada waktu kiat-pay (angkat saudara) dahulu kita telah bersumpah baik ada rezeki maupun ada bencana akan kita rasakan bersama. Sekarang kau sudah minum semangkuk Lap-pat-cok, masakah kami boleh ketinggalan?”
Habis berkata, bersama Li Si segera mereka menyeruput habis Lap-pat-cok yang mereka bawa tadi. Lalu berpaling dan memberi hormat kepada Liong dan Bok-tocu, “Terima kasih atas hadiah jenang Suhu!”
Lalu kedua orang kembali ke tempatnya masing-masing.
Sungguh kagum semua orang tak terkatakan melihat keluhuran budi Thio Sam dan Li Si yang rela mengiringi kematian Ciok Boh-thian untuk memenuhi janji setia sebagai saudara angkat. Cara mereka ini jauh lebih gemilang dan lebih kesatria kalau dibandingkan The Kong-ci dan Kay Thian-pa tadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar