Jilid 5
“Sret”, seketika Ban-djim melolos pedang dan balas membentak: “Pembesar andjing jang kurang adjar, biar kupotong dulu lidahmu dan urusan belakang!”
“Nanti dulu, Ong-sute,” buru2 Ban-tjiong mentjegahnja. “Masakah kaum pembesar negeri disini mengenal nama dan djulukan Suhu kita? Kukira dibelakangnja tentu ada biang keladinja.”
Habis berkata, segera ia memapak madju, ia memberi salam hormat dan menegur: “Paduka Tuan siapakah jang tiba ini?”
Tapi sebagai djawaban, se-konjong2 dari dalam djoli telah menjambar keluar sebutir Am-gi atau sendjata gelap, dan tepat mengenai “Hok-tho-hiat” dipahanja. Am-gi itu sangat ketjil, tapi daja sambarnja sangat kuat. Kontan kaki Ban-tjiong terasa lemas dan terdjungkal. Namun demikian ia adalah murid terkemuka Swat-san-pay, betapapun tidak boleh terdjadi hanja dalam sedjurus sadja sudah dirobohkan lawan tanpa balas menjerang. Karena itu pedang jang dia pegang itu terus ditimpukkan kearah djoli.
Walaupun orangnja terdjungkal, tapi timpukan pedang dalam djurus “Ho-hui-kiu-thian” atau burung bangau terbang kelangit itupun tjukup djitu dan lihay, pedang itu dengan tepat telah menembus kedalam djoli dan tampaknja dengan telak mengenai orang jang menjambitkan Am-gi tadi.
Sudah tentu Ban-tjiong sangat girang. Tapi dilihatnja keempat tukang panggul masuk terus melarikan djoli itu kedepan, sesudah dekat, se-konjong2 seutas tjambuk pandjang mendjulur keluar dari dalam djoli dan melilit kekaki Ong Ban-djim jang saat itu memegang bak-kiam atau pedang hitam milik Tjiok Djing itu, ketika tjambuk itu ditarik dan diajunkan, kontak tubuh Ban-djim terlempar pergi, tahu2 pedang hitam jang dipegangnja itu sudah terampas oleh tjambuk pandjang.
“Apakah disitu Tjiok-tjengtju?” teriak Hoa Ban-tji terkedjut, berbareng pedang putih jang dibawanja segera dilolos terus menabas ketjambuk pandjang itu.
Tapi mendadak terdengar “tjret” sekali, kembali dari dalam djoli menjambar keluar pula sebutir Am-gi dan tepat menjambit dipergelangan tangan Ban-tji sehingga pedang putih itu terlepas dari tjekalannja.
Tjepat salah seorang Suhengnja melompat madju terus mengindjak pedang putih itu dengan sebelah kakinja agar sendjata itu tidak dirampas oleh tjambuk. Diluar dugaan tiba2 dari dalam djoli lantas menjambar keluar pula sesuatu benda dan tepat menutup diatas kepalanja. Keruan murid Swat-san-pay itu kaget setengah mati karena pandangannja mendjadi gelap gulita, tjepat ia melompat mundur, lalu membuang sekuatnja benda jang mengerudungi kepalanja itu. Waktu dilihat, kiranja adalah sebuah kopiah pembesar jang besar. Dalam pada itu tertampak tjambuk pandjang tadi sudah berhasil melilit pedang putih jang djatuh ketanah itu dan sedang ditarik kedalam djoli.
Sudah tentu orang2 Swat-san-pay tidak rela pedang2 itu direbut, be-ramai2 mereka lantas memburu madju sambil membentak. Tapi dari dalam djoli lantas menghambur keluar matjam2 sendjata gelap, ada jang terkena mukanja, ada jang tersambit pinggangnja, tiada seorang pun murid Swat-san-pay itu terluput dari serangan itu.
Tjuma tempat jang diarah Am-gi itu bukan tempat jang berbahaja hanja sakitnja tidak kepalang. Waktu orang2 Swat-san-pay memeriksa Am-gi jang mengenai itu, seketika mereka tertjengang, kiranja Am-gi itu hanja sebutir kantjing tembaga sadja jang baru ditanggalkan dari badju. Maka insaflah murid2 Swat-san-pay itu bahwa kepandaian orang didalam djoli itu selisih terlalu djauh dengan mereka, kalau mereka mengedjar lagi dan sampai bergebrak, tentu mereka sendiri jang akan tjelaka.
“Orang she Tjiok itu tiada seorang pun jang baik, jang muda durhaka dan bedjat moralnja, jang tua djuga tak bisa dipertjaja, sudah bilang sendjatanja ditinggalkan kepada kita, sekarang direbutnja kembali lagi!” demikian Kwa Ban-kin ber-teriak2.
Begitu pula Ong Ban-djim djuga marah2 dan mentjatji-maki habis2an.
Tapi Ban-tjiong lantas berkata: “Bila kedjadian ini sampai tersiar tentu tidak menguntungkan nama baik golongan kita. Sebaiknja kita tutup mulut sadja dan pulang untuk melaporkan kepada Suhu.”
Dalam pada itu djoli besar tadi bersama rombonganna sudah pergi djauh. Sesudah beberapa li lagi rombongan itu lantas membelok kesuatu djalanan ketjil. Ketika tukang gotong djoli itu sedikit lambat larinja, kontan tjambuk pandjang melajang keluar dari dalam djoli, dan menjabat beberapa kali dipunggung tukang panggul bagian depan itu sehingga babak belur. Terpaksa tukang2 panggul itu berlari lebih tjepat dan terpaksa pula tukang panggul bagian belakang djuga ikut berlari lagi walaupun napas mereka sudah ngos2an senin-kemis. Sesudah beberapa li pula, achirnja terdengar suara orang didalam djoli berkata: “Baiklah, sekarang boleh berhenti!”
Sungguh keempat tukang panggul itu seperti pesakitan jang diberi pengampunan, tjepat mereka berhenti dan meletakkan djoli besar itu diatas tanah, napas mereka tampak megap2.
Waktu tirai djoli tersingkap, keluarlah seorang tua dengan tangan kiri menarik seorang pengemis ketjil. Kiranja orang tua ini adalah Tjia Yan-khek, pemilik medali wasiat. Dia lantas membentak kepada beberapa petugas tadi: “Nah, kalian boleh enjah sekarang! Pulanglah dan laporkan kepada pembesar andjing kalian, katakan bahwa apa jang terdjadi tidak boleh sekali2 disiarkan. Asal aku mendengar sedikit kabar jang kurang menjenangkan, seketika djuga buah kepala kalian akan kupotol semua, begitu tidak terketjuali pembesar andjing kalian itu!”
“Ja, ja, sekali2 kami tak berani usil mulut. Selamat djalan tuanbesar! Selamat djalan tuan muda!” demikian beberapa petugas itu mendjawab dengan memberi hormat.
“Dan apa jang kusuruh kalian katakan kepada pembesar andjing itu, kalian ingat tidak?” tiba2 Tjia Yan-khek berseru pula selagi petugas2 itu hendak melangkah pergi.
“Oh, ja, hamba ingat dengan baik,” sahut seorang petugas. “Hamba akan berkata telah menjaksikan sendiri bahwa si bungkuk pendjual siopia di Hau-kam-tjip itu telah dibunuh oleh seorang tua bangka jang bernama Pek Tju-tjay. Sendjata jang digunakan adalah sebatang golok jang berlumuran darah. Bukti dan saksi sudah njata dan lengkap, betapapun tua bangka pembunuh itu tidak dapat menjangkal.”
Tentang bukti dan saksi itu sengadja ditambahkan oleh petugas itu untuk membikin senang Tjia Yan-khek, sebab tadi dia telah kenjang dihadjar, ia mendjadi ketakutan.
Tapi Tjia Yan-khek lantas berkata: “Tua bangka she Pek itu tidak biasa menggunakan golok, tapi pedang.”
“Oh, ja, hamba keliru, dia menggunakan pedang dan sekali tusuk sibungkuk telah dibunuh olehnja, setiap penduduk Hau-kam-tjip djuga ikut menjaksikan kedjadian itu,” demikian petugas itu menambahkan.
Diam2 Yan-khek merasa geli sendiri. Padahal untuk membunuh Go To-it adalah terlalu mudah bagi Wi-tek Siansing Pek Tju-tjay dan tidak perlu pakai sendjata apa segala. Tapi iapun tidak perduli lagi kepada kawanan petugas itu, segera ia gandeng tangan sidjembel tjilik dan tangan lain membawa pedang hitam-putih milik Tjiok Djing, segera ia tinggal pergi dengan hati senang.
Maklum, sebelumnja dia masih menjangsikan Tjiok Djing suami-isteri sengadja berkomplot dengan orang2 Swat-san-pay untuk mendjebaknja dengan menggunakan sipengemis tjilik itu sebagai umpan. Sebab itulah sesudah beberapa li dia membawa pergi sidjembel itu, lalu ia tusuk botjah itu dan dilemparkan kedalam semak2, kemudian ia merunduk kembali ke Hau-kam-tjip untuk menjelidiki apa jang sudah terdjadi. Karena kepandaiannja memang djauh lebih tinggi daripada Tjiok Djing dan lain-lain, maka kedatangannja kembali itu sama sekali tak konangan oleh siapapun.
Ketika dilihatnja Tjiok Djing menjerahkan sendjata2nja kepada Kheng Ban-tjiong, segera timbul maksud Tjia Yan-khek untuk merebutnja. Kebetulan ditengah djalan ia bertemu dengan bupati jang hendak memeriksa perkara di Hau-kam-tjip itu, segera ia menjergap pembesar itu dan dilempar keluar djoli, lalu menggertak dan memaksa para petugas negara itu agar menggotong dia bersama sipengemis ketjil itu dan memapak kearah orang2 Swat-san-pay untuk merebut kedua pedang pusaka. Karena Kheng Ban-tjiong tidak melihat muka sipelaku didalam djoli itu, dengan sendirinja mereka menjangka keras adalah perbuatan Tjiok Djing suami-isteri.
Begitulah, Tjia Yan-khek meneruskan perdjalanannja dengan membawa sidjembel tjilik itu, jang ditudju selalu adalah tempat jang sepi. Setiba ditepi sebuah sungai ketjil, tampaknja disekitar situ tiada orang lain lagi, lalu ia melepaskan tangan botjah itu, ia lolos pedang putih milik Bin Dju serta mengatjungkan mata pedang ketengkuk sidjembel itu sambil membentak dengan suara bengis: “Sebenarnja kau disuruh oleh siapa? Hajo, lekas mengaku, kalau berani berdusta segera kupenggal kepalamu!”
Habis menggertak, “sret”, pedangnja menjabat kesamping sehingga sebatang pohon ketjil tertabas kutung, batang pohon jang kutung itu djatuh kedalam sungai dan hanjut terbawa oleh arus air.
Keruan pengemis tjilik itu ketakutan, dia mendjawab dengan gelagapan: “Aku........... aku......... tidak.......... tidak suruh................”
Tjia Yan-khek memperlihatkan medali wasiatnja dan membentak pula: “Siapa jang memberikan benda ini padamu?”
“Aku............ aku makan sio........... siopia dan............ dan terdapat barang itu,” sahut sipengemis ketjil dengan gemetar.
Tjia Yan-khek mendjadi gusar karena djawaban jang tidak djelas itu. Telapak tangannja terus menggampar kepipi botjah itu. Tapi sebelum kena sasarannja, mendadak teringat oleh sumpahnja sendiri dahulu bahwa sekali2 dia takkan mengganggu orang jang menjerahkan medali wasiat itu kepadanja. Karena itu tamparannja dihentikan mentah2 sambil membentak lagi: “Ngatjo-belo, peduli siopia apa segala? Aku hanja tanja siapakah jang memberikan barang ini kepadamu?”
“Aku.......... aku menemukan sepotong siopia, lalu aku memakannja. Dan......... dan waktu aku menggigit, ham.......... hampir sadja gigiku rompang.......”
Dasar pikiran Yan-khek memang sangat tadjam, walaupun penuturan pengemis ketjil itu ter-putus2 dan tak djelas, tapi segera terpikir olehnja: “Djangan2 Go To-it itu telah menjembunjikan medali ini didalam siopia?”
Tapi segera ia menjangsikan hal itu. Siapa sadja jang mendapatkan medali ini tentu akan mendjaganja melebihi djiwanja sendiri, maka mungkin benda sepenting ini ditaruh begitu sadja didalam siopia?
Njata ia tidak dapat membajangkan betapa kepepetnja suasana waktu itu. Karena datangnja berandal Kim-to-tje itu terlalu mendadak dan sekaligus sudah mengepung Hau-kam-tjip dengan rapat sehingga sedikitpun Go To-it tidak sempat mentjari suatu tempat penjimpanan jang baik untuk menjembunjikan medali wasiat itu selain dipentjet kedalam siopia jang akan dipanggangnja dan achirnja terbuang ditepi selokan, hal ini sebenarnja djauh lebih selamat daripada disimpannja dimanapun djuga. Sebab itu meski kawanan berandal Kim-to-tje sudah mengobrak-abrik seluruh kedai siopia itu, dengan sendirinja tidak terpikir oleh mereka untuk memeriksa isi siopia jang berserakan diatas tanah itu.
Begitulah dengan sorot mata berkilat, Tjia Yan-khek memandang sipengemis ketjil, lalu bertanja pula: “Siapa namamu?”
“Aku........... aku bernama Kau-tjap-tjeng,” sahut djembel tjilik itu.
“Apa? Kau bernama Kau-tjap-tjeng? Hahahaha! Masakah didunia ini ada orang memakai nama demikian?” demikian Tjia Yan-khek menegas dan ter-bahak2, ia geli setengah mati, masakah ada orang bernama Kau-tjap-tjeng atau anak andjing. Tapi sipengemis ketjil lantas mendjawab: “Ya, betul, ibu memanggil aku Kau-tjap-tjeng.”
Watak Tjia Yan-khek adalah pendiam, tapi kedji dan tjulas. Tertawa baginja boleh dikata adalah sesuatu jang mahal, berapa kali dia tertawa dalam setahun dapatlah dihitung dengan djari. Tapi sekarang dia benar2 geli oleh karena keterangan sipengemis tjilik itu, ia tertawa ter-pingkal2. Pikirnja: “Dikampung memang banjak orang memberi nama ketjil jang aneh2 kepada anak2 mereka dengan maksud agar sianak lekas besar dan selamat, misalnja nama siandjing, sibabi, sikutjing, dan lain sebagainja, tapi tiada orang jang sengadja memanggil anaknja sendiri sebagai ‘anak andjing’, memangnja apa ibunja kawin dengan andjing? Hahahaha!”
Begitulah dia ter-bahak2 geli. Dan karena melihat dia tertawa, sipengemis ketjil mendjadi ikut2 tertawa.
“Dan siapa nama ajahmu?” tanja Yan-khek pula dengan menahan tertawanja.
“Ajah? Aku........ aku tidak punja,” sahut sidjembel sambil menggeleng.
“Habis dirumahmu ada siapa lagi?”
“Aku, ibuku, dan.... dan masih ada si Kuning.”
“Siapa si Kuning itu?”
“Si kuning adalah andjing, seekor andjing,” sidjembel menerangkan, “Karena ibuku hilang, aku lantas mentjarinja, si Kuning selalu mengintil dibelakangku, tapi kemudian dia telah pergi mentjari makan, lalu menghilang djuga. Aku telah mentjarinja kesana kemari dan tidak ketemu.”
“Kiranja botjah ini seorang tolol, tampaknja diketemukannja medali ini hanja setjara kebetulan sadja. Biarlah kusuruh dia memohon sesuatu padaku untuk memenuhi sumpahku dahulu dan habis perkara,” demikian pikir Yan-khek.
Maka ia lantas bertanja: “Tjoba, apa jang ingin kau mohon.........” baru sekian utjapannja, mendadak ia tahan kata2 jang belum tertjetus dari mulutnja itu. Pikirnja: “Kalau anak tolol ini mohon padaku untuk mentjarikan ibunja, bahkan minta aku mentjarikan andjingnja si Kuning itu, lantas kemana aku harus mentjarikan? Ibunja tentu sudah minggat bersama lelaki lain dan si Kuning itu besar kemungkinan sudah disembelih orang, kalau soal2 sulit ini dikemukakannja kepadaku kan bisa berabe? Djika aku diminta membunuh sepuluh atau dua puluh djago silat tentu akan djauh lebih mudah daripada disuruh mentjari dia punja andjing si Kuning itu.”
Begitulah, sesudah merenung sedjenak, achirnja ia sudah mendapat akal, segera katanja pula: “Nah, begini, tjoba dengarkan. Tak peduli siapa jang menjuruh kau membitjarakan sesuatu padaku, maka sekali2 djangan kau katakan, kalau kau tidak berani berkata, seketika djuga kupenggal kepalamu! Nah, tahu tidak?”
Hendaklah maklum bahwa tentang kedjadian Tjia Yan-khek mengambil kembali medali wasiat dari tangan sipengemis tjilik itu, tentu dalam waktu singkat berita itu akan tersiar djuga didunia persilatan. Sebab itulah Tjia Yan-khek kuatir kalau sidjembel tjilik diakali orang serta menjuruhnja mengadjukan sesuatu permohonan pada dirinja, dan karena terikat oleh sumpahnja dahulu terpaksa ia tidak dapat menolak.
Tapi Yan-khek masi belum lega, ia menegas lagi: “Apa kau sudah ingat betul2 pesanku tadi? Apa, tjoba katakan!”
“Kau bilang, tak peduli siapapun jang suruh aku mengatakan apa2 padamu, maka sekali2 aku tak boleh bitjara, bila aku mengatakan, segera kau akan memenggal kepalaku,” ulang sidjembel.
“Ja, betul,” udjar Yan-khek. “Anak tolol ternjata tidak terlalu tolol. Nah, sekarang ikutlah padaku.” Dari tempat jang sepi itu mereka kembali kedjalan raja. Tidak lama kemudian sampailah mereka disebuah kedai penganan ditepi djalan.
Tjia Yan-khek membeli dua buah bakpau dan segera dimakannja sendiri. Ia tjoba melirik sidjembel tjilik itu dengan harapan botjah itu akan bersuara memohon makan padanja.
Untuk meng-iming2, Yan-khek sengadja makan bakpau itu dengan lahap, lidahnja berketjak2 keras dan sambil tiada hentinja memudji akan kelezatan bakpau itu. Sedang bakpau satunja jang masih dipegang disebelah tangan lain sengadja di-iming2 pula didepan hidung sidjembel. Pikirnja: “Pengemis tjilik ini sudah bisa mengemis makan pada orang, mustahil sekarang dia tidak mengiler kepada bakpau jang kumakan ini? Asal dia membuka mulut mengemis padaku dan aku memberikan bakpau ini padanja, maka ini berarti sumpahku atas medali wasiat itu sudah terpenuhi, dan untuk selandjutnja aku akan dapat hidup senang dan bebas tanpa ikatan sesuatu apapun.”
Memangnja perut sipengemis tjilik djuga sudah lapar, sekarng di-iming2 sepotong bakpau jang enak itu, tentu sadja dia mengiler dan ingin memakannja. Tjuma, aneh djuga, biarpun hatinja kepingin setengah mati, bidji lehernja sampai naik-turun dan menelah ludah ber-ulang2, namun sebegitu djauh ia tetap tidak membuka mulut untuk mengemis.
Sampai achirnja Tjia Yan-khek sendiri merasa tidak sabar menunggu, sedangkan bakpau jang dimakannja sudah habis, segera bakpau kedua itu didjedjalkan lagi kedalam mulut dan tangannja lantas mengambil lagi bakpau jang masih hangat2 dinampan sipendjualnja.
“Akupun ingin dua potong bakpau,” tiba2 sipengemis tjilik, berkata kepada pendjual bakpau dan tanpa menunggu djawabah tangannja lantas mentjomot bakpau jang sangat diinginkan itu.
Pemilik kedai itu memandang kepada Tjia Yan-khek, maksudnja ingin tahu apakah Tjia Yan-khek mau mengakui bakpau jang dimakan djembel tjilik itu atau tidak. Yan-khek lantas mengangguk. Diam2 ia bergirang: “Bagus, sebentar bila pendjualnja minta pembajaran padamu, ingin kulihat kau terpaksa akan minta bantuanku atau tidak?”
Tertampak sidjembel telah makan bakpau satu demi satu dengan lahapnja, seluruhnja telah dimakannja empat bidji. Achirnja dia berkata: “Kenjang sudah, tidak makan lagi!”
Tjia Yan-khek sendiri hanja makan dua bidji bakpau dan tidak makan lagi. Katanja kepada sipendjual: “Berapa duitnja?”
“Dua pitjis satu bidji, enam bidji bakpau seluruhnja 12 pitjis,” sahut sipendjual.
“Tidak, masing2 membajar sendiri2. aku makan dua bidji, aku hanja bajar empat pitjis sadja,” kata Yan-khek sembari memasukkan tangan kedalam saku untuk mengambil uang.
Tapi sekali merogoh saku dia lantas melongo. Rupanja dia sendiri “tong-pes” alias kantong kempes karena siangnja dia habis makan-minum dikota Khay-hong dan sangunja sudah terpakai habis. Keruan ia meringis dan serba susah.
Tengah ia merasa bingung, tiba2 sidjembel tjilik mengeluarkan serentjeng uang perak dan diserahkan kepada pendjual bakpau, katanja: “Seluruhnja 12 pitjis, aku jang membajar semua.”
Tjia Yan-khek mendjadi tertjengang. “Apa? Kau mentraktir aku?” tanjanja.
“Ja, kau tidak punja uang dan aku banjak uang, apa halangannja mentraktir kau beberapa bidji bakpau sadja?” sahut sidjembel sambil tertawa.
Sipendjual bakpau djuga ter-heran2, tjepat ia memberikan beberapa potong uang retjeh tembaga sebagai kembalinja. Segera sidjembel tjilik memasukkan uang retjeh itu kedalam saku. Ia pandang Tjia Yan-khek dan menantikan perintahnja.
Mau tak mau, Tjia Yan-khek menjengir. Pikirnja: “Watakku biasanja sangat kukuh, biarpun tjuma makan minum djuga tidak sudi menerima pemberian orang lain. Siapa duga hari ini malah ditraktir makan bakpau oleh djembel tjilik ini.”
Segera ia mengadjaknja berangkat. Sambil berdjalan iapun bertanja: “Darimana kau tahu aku tidak punja uang?”
Sipengemis tjilik mendjawab dengan tertawa: “Di-rumah2 makan aku sering melihat orang merogoh saku hendak mengambil uang, tapi tangan jang sudah masuk didalam kantong itu sampai lama sekali tidak keluar2 lagi, sebaliknja air mukanja berubah sangat aneh, seperti menjengir dan seperti meringis. Djika demikian wadjahnja, maka dapat dipastikan orang itu tentu tidak punja uang. Setiap tukang gegares pertjuma dirumah makan selalu demikian keadaannja.”
Kembali Tjia Yan-khek menjengir ewa. Pikirnja: “Kurang adjar, djadi kaupun anggap aku sebagai tukang gegares jang tidak mau bajar?” – Segera ia bertanja lagi: “Dan darimana kau mentjuri uang sebanjak itu?”
“Kenapa mesti mentjuri?” sahut sidjembel tjilik. “Ini adalah pemberian sinjonja baik hati jang berbadju putih tadi.”
“Sinjonja baik hati berbadju putih?” Yan-khek menegas. Tapi ia lantas paham, tentu Bin Dju jang dimaksudkan.
Tidak terlalu djauh mereka berdjalan, tiba2 Yan-khek mengangkat pedang putih milik Bin Dju itu dan berkata: “Pedang ini sangat tadjam, tadi hanja sekali tabas sadja sebatang pohon telah kutumbangkan. Kau menjukai pedang ini tidak? Kalau kau minta, tentu akan kuberikan padamu.”
Sesungguhnja dia merasa sebal berkumpul terlalu lama dengan pengemis ketjil jang kotor dan bodoh itu, maka diharapnja botjah itu mau mengadjukan sesuatu permohonan padanja dan terpenuhilah sumpahnja dahulu.
Tak terduga sidjembel tjilik itu telah menggeleng kepada dan mendjawab: “Tidak, aku tidak mau. Pedang ini adalah milik njonja berbadju putih jang baik hati itu. Dia adalah orang baik, aku tidak mau mengambil barangnja.”
Yan-khek lantas perlihatkan pedang hitam, ia ajun kesamping sekenanja dan kontan sebatang pohon ditepi djalan lantas tertabas kutung. Lalu katanja: “Apa kau minta pedang hitam ini sadja?”
“Tidak, pedang hitam ini adalah milik tuan berbadju hitam tadi,” kembali sidjembel tjilik menggeleng kepala. “Tuan dan njonja itu adalah serombongan, aku tak boleh mengambil barang mereka.”
“Eh, Kau-tjap-tjeng, kau suka bitjara tentang setia kawan djuga,” djengek Tjia Yan-khek.
“Apa artinja setia kawan?” tanja sidjembel dengan bingung.
Yan-khek hanja mendengus sekali sadja dan tak gubris lagi padanja. Pikirnja: “Djika kau tak paham, tiada gunanja kuterangkan padamu.”
“Oh, barangkali kau tidak suka orang jang setia kawan, dja........... djadi engkau tidak setia kawan.”
Yan-khek mendjadi murka, seketika kepala sipengemis tjilik itu hendak ditaboknja. Tapi demi melihat sikap botjah jang masih ke-kanak2an dan polos itu, tangannja jang sudah terangkat itu lantas ditarik kembali. Pikirnja: “Djika dia memang tidak paham apa artinja setia kawan, maka diapun tidak sengadja hendak mengedjek padaku.” – Lalu iapun mendjawab: “Masakan aku tidak setia kawan? Tentu sadja aku suka setia kawan.”
“Setia kawan itu baik atau tidak?” tanja sipengemis tjilik/
“Baik, sudah tentu baik,” sahut Yan-khek.
“Ah, tahulah aku sekarang. Jang berbuat baik adalah orang baik, jang berbuat djahat adalah orang djahat. Engkau berbuat baik maka engkau adalah seorang jang sangat baik.”
Kalau kata2 ini diutjapkan oleh seorang lain, Tjia Yan-khek akan menganggapnja sebagai suatu sindiran dan tanpa pikir tentu orang itu dibinasakannja. Hendaklah maklum selama hidupnja ini tak pernah seorangpun jang mengatakan dia adalah “orang baik”. Walaupun terkadang iapun berbuat satu-dua kebaikan, tapi itu hanja karena hatinja sedang senang dan melakukannja menurut seleranja pada saat itu, kalau dibandingkan kedjahatannja jang diperbuatnja selama hidup boleh dikata tiada artinja.
Tapi sekarang didengarnja utjapan sipengemis tjilik itu sangat tulus dan sungguh2, mau tak mau ia meringis dan serba runjam. Pikirnja: “Kata2 botjah ini setengah sinting, sebentar bilang aku tidak setia kawan, sekarang aku dianggap orang baik. Kalau kata2 demikian didengar oleh musuhku bukankah akan mendjadi buah tertawaan orang2 Bu-lim? Rasanja aku harus lekas menjelesaikan urusan ini dan tidak perlu omong-kosong lagi dengan dia.”
Karena botjah itu tidak mau pedang2 hitam-putih itu, Yan-khek lantas mengeluarkan sepotong kain hidjau dan membungkusnja, lalu digendongnja dipunggung. Diam2 ia memikir: “Tjara bagaimana aku harus memantjing dia supaja memohon sesuatu padaku?”
Tengah memikir, tiba2 dilihatnja ditepi djalan ada tiga batang pohon kurma dengan buahnja jang merah segar dan besar2. segera ia menundjuk buah kurma itu dan berkata: “Sungguh enak sekali buah kurma itu.”
Menurut rekaannja, karena pohon kurma itu tinggi2 semua, asal sidjembel tjilik itu memohon dia memetikkan buah kurma, maka itu sudah terhitung sumpahnja terpenuhi, jaitu melaksanakan sesuatu permintaan orang jang menjerahkan kembali medali wasiat padanja itu.
Tak terduga sidjembel tjilik malah bertanja padanja: “Eh, orang sangat baik, apakah kau kepingin makan kurma?”
“Orang sangat baik apa?” tanja Yan-khek.
“Karena engkau ada orang baik sekali, maka aku memanggil engkau orang sangat baik.”
“Siapa jang mengatakan aku orang baik?” mendadak Yan-khek menarik muka masam.
“Kalau bukan orang baik tentu adalah orang djahat, djika begitu biarlah kupanggil engkau orang djahat sadja.”
“Akupun bukan orang djahat.”
“Kan aneh? Bukan orang baik, bukan orang djahat pula, lalu orang apa.......? Ah, tahulah aku, kiranja engkau bukan orang!”
“Apa katamu?” bentak Yan-khek dengan gusar.
Sidjembel tjilik mendjulur lidah sekali dan mendadak terus berlari kebawah pohon kurma, tiba2 ia peluk batang pohon itu dan kakinja lantas memantjal, segera ia pandjat keatas pohon.
Njata, meski botjah itu tidak bisa ilmu silat, tapi tjaranja memandjat pohon benar2 sangat tjepat dan segesit kera. Hanja dalam sekedjap sadja djembel tjilik itu sudah memetik kurma merah itu sekantong penuh sehingga badjunja jang rombeng itu hampir2 djebol dibebani kurma sebanjak itu. Lalu ia memberosot turun, dengan kedua tangan ia mentjakup kurma merah jang dipetiknja itu dan diberikan kepada Tjia Yan-khek. Katanja: “Silakan makan kurma! Engkau bukan orang, djuga bukan setan, apa barangkali malaikat dewata? Tapi kulihat djuga bukan!”
Yan-khek tak menggubrisnja. Ia tjoba makan beberapa bidji kurma itu, rasanja manis dan segar, ternjata kurma itu berkwalitas tinggi. Pikirnja: “Buset, bukannja dia minta apa2 padaku, djadinja aku jang minta padanja malah.”
Sedjenak kemudian, ia tjoba memantjing lagi, katanja: “Apakah kau tidak ingin mengetahui aku ini siapa? Asal kau bertanja: ‘Harap engkau suka menerangkan siapakah kau sebenarnja?’ Apakah engkau ini malaikat dewata? – maka aku akan lantas menerangkan padamu.”
“Tidak, aku tidak mau memohon apa2 kepada orang lain,” sahut sidjembel tjilik sambil menggeleng.
Yan-khek terkesiap. “Mengapa tidak mau?” tanjanja tjepat.
“Ibuku sering berkata kepadaku: ‘Wahai, Kau-tjap-tjeng, selama hidupmu ini djanganlah kau meminta apa2 kepada orang lain. Kalau orang mau memberikan padamu, tanpa diminta djuga orang akan memberi. Sebaliknja kalau orang tidak mau memberi, biarpun kau meminta dan memohon dengan sangat djuga pertjuma, bahkan akan membikin djemu orang.’ – Sebab itulah, maka selamanja akupun tidak pernah minta apa2 kepada ibu. Terkadang ibu makan barang2 jang harum dan enak, beliau sengadja meng-iming2 padaku, apabila aku membuka mulut dan minta padanja, bukan aku diberi, sebaliknja aku lantas dihadjarnja hingga babak-belur. Lantaran itulah sekali2 aku tidak mau meminta apa2 kepada orang lain.”
Sungguh heran Yan-khek tidak terkatakan, iapun merasa ketjewa pula. Pikirnja: “Djika botjah ini benar2 tidak mau meminta apa2 padaku, lantas tjara bagaimana aku bisa membajar kaul jang tersirat didalam sumpahku itu? Ibunja mungkin adalah seorang gila, masakah anaknja minta makan padanja malah dipukuli.”
Kemudian ia tanja pula: “Habis, kau adalah seorang pengemis ketjil, apakah kau tidak meminta uang dan mengemis makan kepada orang lain?”
“Tidak, selamanja aku tidak pernah mengemis,” sahut sidjembel tjilik sambil menggeleng. “Kalau orang memberi, tapi kalau dia lengah, segera aku mengambilnja terus mengelujur pergi.”
Yan-khek tertawa. Katanja: “Djika begini kau bukan pengemis ketjil, tapi adalah maling ketjil.”
“Apa artinja maling ketjil?”
“Kau benar2 tidak tahu atau tjuma berlagak bodoh?”
“Sudah tentu karena aku memang tidak tahu, makanja tanja padamu. Dan apakah artinja berlagak bodoh itu?”
Yan-khek tjoba mengamat-amati botjah itu, tertampak mukanja kotor, tapi sepasang matanja hitam bening dan bersinar, sedikit pun tidak ada tanda2 goblok. Maka katanja pula: “Kau toh bukan anak umur tiga, usiamu sudah belasan tahun, mengapa segala apa tidak paham?”
“Ja, karena ibuku tidak suka bitjara dengan aku, beliau menjatakan asal melihat aku lantas djemu, seringkali sepuluh hari atau dua puluh hari aku tidak pernah digubrisnja. Terpaksa aku hanja bitjara dengan si Kuning sadja. Tapi si Kuning hanja bisa mendengarkan dan tak dapat bitjara dengan aku tentang maling ketjil dan berlagak bodoh apa segala.”
Melihat sorot mata botjah itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap nakal dan litjin, diam2 Yan-khek membatin: “Agaknja botjah ini memang tidak pandai pura2” – Maka ia lantas tanja: “Mengapa kau tidak bitjara sadja dengan tetanggamu?”
“Apakah artinja tetangga?”
“Jang tinggal disekitar rumahmu, itulah tetangga namanja,” sahut Yan-khek dengan aseran. Lama2 ia mendjadi djemu djuga.
“Oh, jang tinggal disekitarku? Ja, banjak djuga, dibelakang rumahku ada belasan pohon besar, diatas pohon banjak terdapat badjing, ditengah semak2 banjak pula ajam alas, kelintji liar. Apakah mereka itu jang dinamakan tetangga? Tapi mereka hanja bisa berbunji dan tak bisa bitjara.”
“Apa sampai sekian besarnja kau tidak pernah bitjara dengan orang lain ketjuali ibumu?” tanja Yan-khek dengan mendongkol.
“Selamanja aku tinggal diatas gunung dan tidak pernah turun. Maka selain Ibu, tak pernah ada orang bitjara dengan aku. Beberapa hari jang lalu ibu telah hilang, waktu aku mentjarinja, aku tergelintjir djatuh kebawah gunung. Kemudian si Kuning djuga menghilang. Waktu kutanja orang lain kemanakah perginja ibu dan si Kuning, tapi orang bilang tidak tahu. Apakah itu terhitung berbitjara?”
Diam2 Yan-khek gegetun. Kiranja botjah ini selamanja tinggal diatas gunung dan ibunja djuga tidak suka menggubrisnja, makanja ini tidak paham dan itupun tidak tahu. Maka ia lantas mendjawab: “Ja, itupun dapat dianggap berbitjara. Dan darimana kau tahu bahwa uang dapat dibelikan bakpau?”
“Kemarin aku melihat orang membeli setjara demikian,” sahut sidjembel. “Kau tidak punja uang dan aku masih punja, kau ingin uang ini, bukan? Biarlah kuberikan padamu.” – Lalu ia mengeluarkan uang retjeh kembalian sipendjual bakpau tadi dan disodorkan kepada Tjia Yan-khek. Diam2 iapun membatin: “Biar botjah ini kelihatan ke-tolol2an, tapi ternjata bukan anak jang pelit.”
Begitulah perasaan Tjia Yan-khek mendjadi semakin lega, sekarang ia pertjaja penuh sidjembel tjilik itu bukanlah perangkap jang sengadja dipasang oleh orang lain untuk mendjebaknja.
Yan-khek tersenjum, sahutnja: “Djika kau minta makan, minta uang kepada orang dan orang mau memberikan padamu setjara sukarela, maka kau disebut sebagai pengemis ketjil. Tetapi kalau kau minta2 dan orang lain tidak mau memberi, diam2 kau lantas menjambarnja dan membawa lari, itu namanja maling ketjil.”
Sidjembel tampak merenung sedjenak, lalu berkata pula: “Selamanja aku tidak pernah minta2 kepada orang, tak peduli orang suka memberi atau tidak, aku lantas mengambilnja untuk dimakan. Djika begitu aku adalah maling ketjil.................. Eh, dan kau adalah maling tua.”
Keruan Yan-khek terperandjat. “Apa? Kau menganggap aku ini apa?”
“Bukankah kau memang maling tua?” sahut sidjembel tjilik. “Sudah terang pemilik kedua batang pedang itu tidak memberikannja padamu, tapi kau sengadja merebutnja, kau bukan anak ketjil, dengan sendirinja adalah maling tua.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar