Jilid 31
Ciok Jing menjadi girang dan merasa lega karena sang istri telah dapat menjelajahi sumber penyakit anak muda itu.
“Nak, janganlah kau takut,” kata Bin Ju pula dengan lembut, “karena sakit panas itu sehingga kau telah melupakan segala apa di masa lampau, tapi perlahan-lahan daya ingatanmu pasti akan pulih kembali.”
Namun Boh-thian masih bersangsi. “Jadi kau benar-benar adalah ibuku dan... dan Ciok-cengcu adalah ayahku?” tanyanya pula.
“Betul,” sahut Bin Ju dengan tersenyum. “Nak, aku dan ayahmu telah mencari kau ke mana-mana, berkat Tuhan yang maha pengasih, akhirnya kita bertiga telah dapat berkumpul kembali. Eh, mengapa kau tidak... tidak lekas panggil ayah?”
Boh-thian percaya penuh bahwa Bin Ju pasti tidak membohonginya, memangnya ia sendiri pun tidak punya ayah, maka sesudah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia memanggil ayah pada Ciok Jing.
“Dan panggil juga ibu!” sahut Ciok Jing dengan tersenyum.
Disuruh memanggil ibu kepada Bin Ju bagi Ciok Boh-thian menjadi lebih sukar keluar dari mulutnya. Ia masih ingat dengan jelas bahwa wajah ibunya sendiri sama sekali berbeda daripada Bin Ju, ibunya yang menghilang itu rambutnya sudah mulai ubanan, sebaliknya rambut Bin Ju masih hitam mengilap. Tabiat ibunya sangat keras, sedikit-sedikit lantas marah-marah dan memaki, bahkan main pukul segala, sama sekali berbeda daripada sikap Bin Ju yang ramah tamah ini.
Melihat air muka Bin Ju penuh menaruh harapan akan panggilannya, bahkan kelihatan matanya menjadi basah sesudah menunggu sekian lamanya belum lagi dipanggil, Boh-thian menjadi tidak tega, akhirnya ia memanggil dengan suara perlahan, “Ibu!”
Sungguh girang Bin Ju tak terlukiskan, terus saja ia merangkul Boh-thian sambil berseru, “O, anakku yang baik!” berbareng air matanya sudah bercucuran pula.
Ciok Jing pun terharu, pikirnya, “Kalau mengingat sepak terjang anak ini ketika di Leng-siau-sia dan di tengah orang-orang Tiang-lok-pang, dosanya itu biarpun ditebus dengan jiwanya juga belum cukup setimpal, mana dapat dikatakan sebagai ‘anak yang baik’?”
Tapi mengingat anak itu menderita penyakit hilang ingatan, ia merasa tidak enak untuk menegurnya tentang perbuatan-perbuatannya.
Apalagi kalau diingat bahwa kesalahan setiap orang harus diberi kesempatan untuk memperbaikinya, bukan mustahil kelak anak ini akan berubah menjadi baik. Padahal kalau ditinjau lebih mendalam, sejak kecil dia sudah berpisah dengan ayah-ibu, betapa pun dirinya sebagai ayah harus bertanggung jawab karena kurang memberi didikan. Hanya saja perbuatan tidak senonoh bocah inilah yang benar-benar telah membikin busuk nama baik Hian-soh-siang-kiam (sepasang pedang dari Hian-soh-ceng) yang tersohor di Kangouw selama ini.
Begitulah sesaat itu pikiran Ciok Jing menjadi bergolak di samping gembira juga merasa menyesal dan gemas.
Melihat air muka sang suami yang sebentar terang sebentar masam itu, segera Bin Ju dapat meraba apa yang dipikirnya. Khawatir kalau suaminya mulai menanyai dosa Ciok Boh-thian cepat Bin Ju berkata, “Engkoh Jing, Anak Giok, aku sudah sangat lapar, marilah kita lekas mencari makanan.”
Ia lantas bersuit, sejenak kemudian kedua ekor kuda hitam-putih lantas berlari mendatangi dari semak-semak sana. “Nak, kau bersatu kuda tunggangan dengan ibu saja.”
Melihat sang istri sangat gembira, hal ini jarang terjadi selama belasan tahun ini, maka Ciok Jing hanya tersenyum saja dan lantas mencemplak ke atas kuda hitam.
Boh-thian dan Bin Ju bersama menunggang kuda putih terus dilarikan menuju ke jalan besar. Tapi di dalam hati Boh-thian tetap ragu-ragu dan tidak habis mengerti, “Apakah dia benar-benar ibuku? Jika betul ibu yang membesarkan aku sejak kecil itu tentulah bukan ibuku lagi. Sebenarnya yang manakah yang betul adalah ibuku?”
Begitulah tiga orang berdua kuda telah melanjutkan perjalanan. Beberapa li kemudian, tiba-tiba terlihat di tepi jalan ada sebuah kelenteng.
“Marilah kita sembahyang dahulu ke dalam kelenteng,” tiba-tiba Bin Ju mengajak. Lalu ia mendahului melompat turun terus masuk ke dalam kelenteng.
Terpaksa Ciok Jing dan Boh-thian ikut ke dalam kelenteng. Padahal Ciok Jing mengetahui sang istri selamanya jarang bersembahyang. Tapi sekarang dilihatnya Bin Ju sudah berlutut di depan patung ji-lay-hud (Buddha) dan sedang menjura berulang-ulang.
Waktu ia berpaling ke arah Ciok Boh-thian, tiba-tiba timbul rasa terima kasihnya, pikirnya, “Walaupun bocah ini tidak genah kelakuannya, padahal cintaku kepadanya melebihi jiwaku sendiri. Jika ada orang hendak membikin celaka padanya tentu aku akan membelanya sekalipun nyawaku harus melayang. Hari ini kami ayah-ibu dan anak dapat berkumpul kembali, sungguh Tuhan yang maha pengasih benar-benar sangat memberkati kepadaku.”
Karena itu, tanpa merasa ia pun berlutut dan menjura ke hadapan patung Buddha.
Boh-thian hanya berdiri saja di samping, ia dengar Bin Ju memanjatkan doa dengan suara perlahan, “Mohon Buddha memberkati agar penyakit putraku ini lekas sembuh. Dia masih terlalu muda, biarlah segala dosanya ditanggung olehku sebagai ibunya, segala kutuk hukuman ibunya yang akan memikulnya, asalkan putraku selanjutnya dapat membarui hidupnya, bebas dari kesukaran dan bencana, hidup sejahtera dan bahagia.”
Suara Bin Ju itu sebenarnya sangat lirih tapi dengan lwekang Ciok Boh-thian yang tinggi sekarang, dengan sendirinya ia dapat mendengarnya dengan jelas. Seketika darahnya tersirap, perasaannya terguncang, pikirnya, “Jika dia bukan ibu kandungku, masakah dia sedemikian baiknya kepadaku? Selama ini aku ragu-ragu untuk memanggil ibu padanya, aku benar-benar sudah terlalu linglung.”
Saking terharunya mendadak ia terus menubruk maju terus merangkul pundak Bin Ju dari belakang sambil berseru, “Ibu, O, ibu, kau benar-benar adalah ibuku!”
Dari panggilan ibu tadi keluar dari mulutnya dengan sangat dipaksakan adalah sekarang panggilan Boh-thian ini benar-benar timbul dari lubuk hatinya yang tulus. Sudah tentu Bin Ju dapat mendengar dari nada suaranya itu, dengan terharu ia lantas berpaling dan balas memeluk sambil berseru, “O, anakku yang bernasib malang!”
Dasar watak Ciok Boh-thian memang jujur dan berbudi, ia menjadi teringat kembali kepada “ibu” yang pernah selama belasan tahun di atas gunung yang sunyi itu, walaupun dirinya diperlakukan dengan kurang baik, tapi ibu dan anak telah hidup berdampingan sekian lamanya, betapa pun hatinya juga merasa berat. Maka ia telah bertanya pula, “Dan bagaimana dengan ibuku yang dahulu itu? Apakah... apakah dia memang membohongi aku?”
“Bagaimana macamnya ibumu yang dahulu itu? Coba kau terangkan pada ibu,” kata Bin Ju sambil membelai-belai rambut Ciok Boh-thian.
“Dia... dia punya rambut sudah agak putih, jauh lebih pendek daripadamu, dia pun tak bisa ilmu silat, dia sering marah-marah sendiri, terkadang marah-marah padaku dengan mata melotot,” demikian tutur Boh-thian.
“Kau bilang dia adalah ibumu, apakah dia pun panggil anak padamu?” tanya Bin Ju.
“Tidak, dia panggil aku sebagai ‘kau-cap-ceng’!” sahut Boh-thian.
Hati Ciok Jing dan Bin Ju tergerak semua, pikir mereka, “Wanita itu memanggil Anak Giok sebagai kau-cap-ceng (anak anjing campuran), teranglah karena dia terlalu benci kepada kami suami-istri, jangan-jangan... jangan-jangan adalah wanita hina itu?”
Maka cepat Bin Ju tanya pula, “Apakah ibumu itu bermuka bundar telur, kulit badannya sangat putih, kalau tertawa terdapat dekik di atas pipinya?”
“Bukan,” sahut Boh-thian sambil menggeleng. “Ibuku itu berpipi gemuk dan kekuning-kuningan, jarang tertawa, juga tiada dekik di pipi apa segala.”
“O, kiranya bukan dia,” ujar Bin Ju dengan menghela napas. “Nak, ketika di kelenteng kecil malam itu pedang ibu telah melukai kau, bagaimana dengan lukamu itu?”
“Tidak apa-apa, hanya luka ringan saja, beberapa hari lagi tentu akan sembuh,” sahut Boh-thian.
“Dan cara bagaimana kau lolos dari cengkeraman Pek Ban-kiam?” tanya Bin Ju pula. “Anak kita benar-benar hebat, sampai ‘Gi-han-se-pak’ juga tidak mampu menawannya.”
Kata-kata terakhir ini dia tujukan kepada Ciok Jing dengan rasa bangga.
Ciok Jing sendiri memang sangat kagum kepada kepandaian Pek Ban-kiam setelah pertandingan di kelenteng Toapekong tempo hari. Maka ia pun setuju atas ucapan sang istri. Ia hanya menjawab, “Ah, jangan terlalu memuji padanya, nanti terlalu memanjakan dia.”
Tapi Ciok Boh-thian lantas menerangkan, “Bukan aku sendiri yang meloloskan diri, tapi Ting-samyaya dan si Ting-ting Tong-tong yang menyelamatkan aku.”
Ciok Jing dan Bin Ju terperanjat mendengar namanya Ting Put-sam itu, cepat mereka tanya keterangan lebih lanjut.
Karena cerita ini agak panjang, maka Ciok Boh-thian lantas menguraikan dengan jelas tentang cara bagaimana Ting Put-sam dan si Ting Tong telah menolongnya, kemudian Ting Put-sam hendak membunuhnya, tapi Ting Tong telah mengajarkan kim-na-jiu-hoat padanya dan akhirnya dia terlempar ke dalam perahu yang lain.
Bin Ju lantas menanyakan pula kejadian-kejadian sebelumnya, terpaksa Boh-thian menuturkan cara bagaimana ia telah dinikahkan dengan si Ting Tong oleh Ting Put-sam dan cara bagaimana ditawan oleh Pek Ban-kiam di markas besar Tiang-lok-pang. Kemudian ceritanya melompat kejadian berikutnya, di mana dia telah bertemu dengan Su-popo dan A Siu di Sungai Tiangkang serta bertanding melawan Ting Put-si, lalu cara bagaimana Su-popo telah menerimanya sebagai murid pertama Kim-oh-pay ketika mendarat di Ci-yan-to. Sesudah itu dia ditinggal pergi si nenek dan A Siu, lalu menemukan kapal mayat Hui-hi-pang, akhirnya dia ketemu dengan Thio Sam dan Li Si serta mengangkat saudara dengan mereka. Ia menceritakan seluruhnya sehingga sampai di sarang Tiat-cha-hwe dan akhirnya kesasar ke dalam Siang-jing-koan.
Apa yang telah dialaminya di dunia Kangouw itu memangnya sudah membikin bingung padanya, sekarang dia disuruh cerita, sudah tentu terjungkir balik tiada teratur. Namun Ciok Jing dan Bin Ju selalu tanya secara teliti sehingga akhirnya sebagian besar cerita Ciok Boh-thian itu dapatlah dipahami mereka.
Begitulah makin mendengar cerita itu makin terheran-heran Ciok Jing berdua, pikiran mereka pun semakin tertekan. Waktu Ciok Jing menanyakan cara bagaimana Boh-thian bisa masuk ke dalam Tiang-lok-pang, maka anak muda itu lantas menguraikan cara bagaimana dia dibawa Cia Yan-khek ke atas Mo-thian-kay sehingga mendapat ilmu menangkap burung dari jauh, kemudian ia putar kembali ceritanya mengenai dahulu ia pernah terima persen dari Bin Ju di depan warung siopia ketika bertemu dengan Bin Ju di sana.
Sudah tentu Ciok Jing dan Bin Ju sama sekali tidak menduga bahwa si pengemis kecil yang kotor dekil yang pernah dijumpai di Hau-kam-cip dahulu itu ternyata bukan lain adalah putranya sendiri. Bila teringat keadaan si pengemis kecil yang terlunta-lunta dan harus dikasihani itu, kembali Bin Ju merasa pilu hatinya.
Diam-diam Ciok Jing juga membatin, “Kalau dihitung menurut waktu pertemuan di Hau-kam-cip tempo dulu itu, tatkala mana bocah ini toh belum lama melarikan diri dari Leng-siau-sia. Mengapa Kheng Ban-ciong dan kawan-kawannya bisa pangling kepada Anak Giok ini?”
Berpikir demikian, segera Ciok Jing mengamat-amati pula air muka “Ciok Tiong-giok”. Ia merasa muka si pengemis kecil yang sekilas pernah dilihatnya di Hau-kam-cip dahulu itu samar-samar sudah tak teringat olehnya, yang masih jelas adalah pakaiannya yang compang-camping dan mukanya yang kotor saja. Lalu terpikir lagi, “Sejak dia melarikan diri dari Leng-siau-sia, sepanjang jalan ia hidup dari mengemis, sudah tentu mukanya menjadi dekil, bukan mustahil malah dia yang sengaja membikin kotor mukanya supaya tidak mudah dikenali orang sehingga Kheng Ban-ciong dan kawan-kawannya menjadi pangling. Aku pun sudah berpisah sekian tahun lamanya, perubahan anak kecil juga sangat cepat, dengan sendirinya aku lebih-lebih pangling lagi.”
Setelah ragu-ragu sejenak kemudian Ciok Jing coba bertanya, “Waktu di depan warung siopia tempo dulu, apa kau tidak merasa takut ketika melihat Kheng Ban-ciong dan para susiokmu yang lain?”
Sebenarnya Bin Ju tidak suka sang suami menyinggung urusan Swat-san-pay itu, tapi karena sudah diucapkan, untuk mencegahnya juga tidak bisa lagi, ia hanya mengerut alis, ia khawatir sang suami terus mengusut perbuatan-perbuatan putranya yang tidak senonoh.
Tak terduga Ciok Boh-thian telah menjawabnya, “Kheng Ban-ciong? Orang-orang Swat-san-pay itu? Apakah mereka benar-benar adalah susiokku? Tatkala itu aku tidak tahu mereka hendak menangkap aku, dengan sendirinya aku tidak takut kepada mereka.”
“Kau tidak tahu mereka hendak menangkap kau?” Ciok Jing menegas. “Kau... kau benar-benar tidak tahu Kheng Ban-ciong adalah susiokmu?”
“Ya, tidak tahu,” sahut Boh-thian sambil menggeleng.
Melihat wajah sang suami sekilas agak masam, Bin Ju tahu Ciok Jing telah menahan rasa gusarnya sedapat mungkin. Maka cepat ia membuka suara, “Nak, setiap orang tentu pernah berbuat salah, asalkan insaf akan kesalahannya dan berani memperbaikinya rasanya belumlah terlambat. Ayah dan ibu mencintai kau melebihi jiwanya sendiri, maka segala apa tidak perlu kau merahasiakan, katakanlah terus terang segala sebab musababnya kepada ayah-ibumu saja. Sebenarnya bagaimana sikap Hong-suhu terhadap dirimu?”
“Hong-suhu? Hong-suhu yang mana?” Boh-thian menegas dengan bingung. Tiba-tiba teringat olehnya ketika di kelenteng Toapekong tempo hari ayah-ibunya pernah sebut-sebut namanya Hong Ban-li, maka ia lantas menyambung pula, “Apakah kau maksudkan Hong-hwe-sin-liong Hong Ban-li? Aku pernah mendengar kalian menyinggung namanya, tapi aku tidak kenal dia.”
Ciok Jing dan Bin Ju saling pandang sekejap. Segera Ciok Jing tanya pula, “Dan bagaimana dengan Pek-yaya (Kakek Pek)? Tabiat beliau sangat keras bukan?”
“Pek-yaya siapa? Entah, aku tidak pernah melihat dan tidak kenal dia,” sahut Boh-thian sambil geleng kepala.
Menyusul Ciok Jing dan Bin Ju bergilir menanyakan pula suasana dan keadaan Swat-san-pay di Leng-siau-sia, tapi Ciok Boh-thian ternyata tidak mengetahui apa pun.
“Engkoh Jing, penyakitnya ini terang terjadi sejak waktu itu,” kata Bin Ju kepada sang suami.
Ciok Jing mengangguk, tapi diam saja.
Kiranya kedua orang sekarang telah paham duduknya perkara, mereka menarik kesimpulan, “Anak Giok sudah mengalami pukulan batin yang mahahebat sejak dia melarikan diri dari Leng-siau-sia, jika bukan kepalanya terkena benda keras waktu di tempat perguruannya itu, tentu disebabkan saking ketakutannya sehingga pikirannya menjadi linglung dan melupakan segala kejadian di masa lampau. Tentang pengalamannya waktu di Mo-thian-kay dan di Tiang-lok-pang, semuanya itu terjadi sesudah dia menderita sakit hilang ingatan.”
Kemudian Bin Ju berusaha menjajaki lagi kejadian-kejadian di masa kecilnya, tapi bicara ke sana kemari Ciok Boh-thian hanya ingat pernah hidup di atas pegunungan yang sunyi, kerjanya cuma menangkap burung dan memburu ayam hutan, lebih dari itu dia tidak dapat menjelaskan lagi, seakan-akan sejak dia dilahirkan sehingga berumur belasan tahun, masa hidupnya itu hanya kosong belaka tanpa sesuatu peristiwa.
“Anak Giok,” kata Ciok Jing akhirnya, “ada suatu hal penting yang menyangkut mati-hidupmu di masa depan. Tentang ilmu silat Swat-san-pay sebenarnya sampai berapa banyak telah kau pahami?”
Boh-thian tampak termangu-mangu, jawabnya kemudian, “Aku hanya menyaksikan orang-orang Swat-san-pay melatih ilmu pedang di dalam kelenteng tempo hari, diam-diam aku pun mengingatnya sebagian saja. Apakah lantaran ini mereka sangat marah padaku sehingga aku hendak dibunuh oleh mereka? Ayah, itu Pek-suhu bersitegang mengatakan aku adalah murid Swat-san-pay, entah apakah maksudnya? Anehnya mengapa di atas pahaku memang benar terdapat bekas luka tusukan ilmu pedang mereka itu. Ai, sungguh aku pun tidak habis mengerti akan hal ini.”
“Adik Ju, biar kucoba lagi dia punya ilmu pedang,” kata Ciok Jing kepada sang istri. Lalu ia melolos pedangnya dan menyambung pula, “Coba, boleh kau gunakan Swat-san-kiam-hoat yang telah kau pahami itu untuk bergebrak dengan Ayah, sedikit pun kau tidak boleh menyembunyikan kepandaianmu.”
Bin Ju lantas mencabut pedang dan diserahkan kepada Ciok Boh-thian sambil tersenyum, maksudnya mendorong anak muda itu agar melakukan apa yang dikehendaki Ciok Jing.
Ketika Ciok Jing mulai menusuk dengan lambat, segera Ciok Boh-thian mengangkat pedang untuk menangkis, yang dia gunakan adalah jurus “Siok-hong-hut-khi” (Angin Utara Mendadak Meniup), gerakannya lamban, gayanya kaku dan banyak lubang kelemahannya.
Ciok Jing mengerut kening melihat ketololan ilmu pedang anak muda itu, sebelum kedua pedang kebentur, segera ia ganti serangan lagi sambil berkata, “Kau pun boleh balas serang saja!”
“Baik!” sahut Boh-thian. Mendadak pedangnya membacok dari samping, ia gunakan pedang sebagai golok sehingga yang dia mainkan lebih mirip Kim-oh-to-hoat daripada disebut ilmu pedang.
Dengan cepat Ciok Jing mempergencar serangan-serangannya, pikirnya, “Betapa pun licin bocah ini juga jangan harap akan dapat mengelabui diriku dalam hal ilmu silat. Setiap orang yang menghadapi detik menentukan antara mati atau hidup tidaklah mungkin berpura-pura lagi dalam permainan ilmu pedangnya.”
Karena pikiran ini, segera ia mendesak lebih kencang pula, setiap serangannya selalu menuju tempat-tempat berbahaya di tubuh Ciok Boh-thian.
Mau tak mau Boh-thian menjadi kelabakan, dalam gugupnya untuk mempertahankan diri secara otomatis ia lantas memainkan kepandaian ciptaannya sendiri, yaitu ilmu yang mirip ilmu golok dan menyerupai ilmu pedang.
Dalam pada itu serangan-serangan Ciok Jing bertambah gencar. Coba kalau lawannya bukan putranya sendiri, niscaya dengan mudah dia sudah membikin tamat riwayatnya. Pada jurus ke-11 jika mau dada Ciok Boh-thian tentu sudah ditembus oleh pedangnya, ketika jurus ke-23 mestinya buah kepala anak muda itu pun dapat ditebasnya menjadi dua, bahkan setiba jurus ke-28 pertahanan Ciok Boh-thian menjadi terbuka semua, dadanya, perutnya, pundaknya, kakinya, semuanya dengan gampang dapat dijadikan sasaran pedang.
Ciok Jing menoleh sekejap kepada sang istri sambil menggeleng. “Sret”, menyusul pedangnya lantas menusuk ke depan, perut Ciok Boh-thian segera terancam oleh ujung pedang. Keruan Boh-thian kelabakan, ia coba menangkis sebisanya, “trang”, tahu-tahu pedang Ciok Jing tergetar mencelat, berbareng dadanya terasa sesak, kontan ia tersentak mundur beberapa tindak. Di bawah guncangan tenaga dalam Ciok Boh-thian yang mahakuat itu, hampir-hampir saja ia tidak sanggup berdiri tegak lagi.
“He, kenapakah kau, Ayah?” seru Boh-thian kaget, cepat ia membuang pedangnya dan memburu maju hendak memayang Ciok Jing.
Tiba-tiba Ciok Jing merasa pening dan muak, lekas-lekas ia menutup pernapasan dan memberi tanda agar Boh-thian jangan mendekatnya.
Kiranya sekali Ciok Boh-thian sudah bergebrak dengan orang, dengan sendirinya racun yang mengeram di dalam tubuhnya lantas terdesak keluar oleh tenaga dalamnya yang bergolak itu. Syukurlah sebelumnya Ciok Jing sudah mengetahui seluk-beluk kepandaian putranya sehingga tidak sampai roboh keracunan.
Khawatirkan diri sang suami, cepat Bin Ju juga memburu maju untuk memayangnya, ia menoleh dan menegur Boh-thian, “Ayah cuma menjajal kepandaianmu saja, mengapa kau begini sembrono?”
Boh-thian menjadi khawatir, sahutnya cepat, “Ya, aku... aku yang salah, Ayah! Apakah kau terluka?”
Melihat bocah itu menaruh perhatian secara tulus dan sungguh-sungguh kepadanya, diam-diam Ciok Jing sangat girang dan terhibur. Ia tersenyum, sesudah mengatur napasnya, kemudian ia menjawab, “Ah, tidak apa-apa. Adik Ju, jangan kau salahkan Anak Giok. Dia memang benar belum memahami ilmu pedang Swat-san-pay, sebab kalau dia sudah mahir, tentu dapat menyerang dan dapat menarik kembali dengan tepat, dengan sendirinya dia takkan sembrono padaku. Tenaga dalam bocah ini benar-benar sangat hebat, tokoh Bu-lim yang mampu menandingi dia boleh dikata sangat terbatas.”
Bin Ju cukup kenal watak sang suami yang biasanya tidak sembarangan memuji orang persilatan pada umumnya, kalau sekarang dia memuji putra kesayangannya, hal ini menandakan kepandaian Ciok Boh-thian memang benar-benar hebat. Tentu saja Bin Ju ikut bergirang, katanya, “Tapi ilmu silatnya masih terlalu kaku, sebaiknya sang ayah memberi petunjuk-petunjuk seperlunya.”
“Ketika di kelenteng tempo hari bukankah kau sudah pernah mengajarkan dia?” ujar Ciok Jing dengan tertawa. “Tampaknya dalam hal mendidik anak nakal si ayah yang keras harus menyerah kepada sang ibu yang pengasih.”
Bin Ju tersenyum gembira, katanya, “Kalian tentu sudah lapar, marilah kita mencari rumah makan.”
Sesudah mereka sampai di suatu kota kecil dan tangsel perut seperlunya, kemudian mereka keluar kota menuju ke suatu tempat yang sunyi. Di sini Ciok Jing lantas menguraikan letak saripati ilmu pedang yang hebat. Dasarnya Ciok Boh-thian memang tidak bodoh, selama ini dia telah banyak memahami pula berbagai macam ilmu silat, sekarang diberi petunjuk pula oleh tokoh silat terkemuka sebagai Ciok Jing, sudah tentu ia tambah cepat mengerti. Apalagi lwekang Ciok Boh-thian memangnya sudah sangat tinggi dan melebihi jago kelas satu di dunia Kangouw, yang masih kurang baginya hanya dalam hal pengalaman tempur saja.
Begitulah Ciok Jing dan Bin Ju bergilir memberi petunjuk dan saling gebrak dengan Boh-thian, bilamana ada sesuatu kesukaran segera mereka memberi petunjuk di mana perlu, dengan demikian kemajuan Boh-thian terang jauh lebih pesat daripada waktu Bin Ju memberi petunjuk secara diam-diam waktu bertemu di kelenteng Toapekong dahulu.
Karena tenaga dalam Ciok Boh-thian teramat kuat, biarpun dia berlatih terus dari siang sehingga petang tanpa berhenti dan mengaso, namun sedikit pun dia tidak kelihatan lelah, bahkan napasnya tidak sampai terengah-engah. Sebaliknya Ciok Jing dan Bin Ju yang memberi petunjuk secara bergilir malah mandi keringat dan merasa capek.
Secara ringkas saja pelajaran-pelajaran itu telah berlangsung selama beberapa hari, kemajuan Boh-thian sangat pesat, dari ilmu pedang ajaran ayah-ibunya sudah dapat dipahaminya tujuh-delapan bagian.
Hian-soh-kiam-hoat memangnya adalah ilmu pedang yang lihai, ditambah lagi tenaga dalam Ciok Boh-thian yang mahakuat, kelak kalau bertemu lagi dengan Pek Ban-kiam, Ting Put-sam, dan Ting Put-si dan lain-lain, andaikan Boh-thian belum dapat mengalahkan jago-jago tua itu, paling sedikit ia pun sudah mampu mempertahankan diri.
Selama beberapa hari itu, di kala mengaso atau di waktu makam, Ciok Jing dan Bin Ju masih terus berusaha memancing Ciok Boh-thian menceritakan pengalamannya di masa lampau dengan maksud membantunya memulihkan daya ingatannya. Akan tetapi Boh-thian hanya dapat menceritakan dengan jelas tentang kejadian sesudah dia berada di Tiang-lok-pang, sampai kejadian-kejadian kecil ia pun dapat menerangkan, tapi ditanya sewaktu kecilnya, ketika tinggal di Hian-soh-ceng dan belajar silat di Leng-siau-sia, semuanya ini ia hanya melongo saja tak bisa menjawab.
Pada hari itu, sesudah makan siang, mereka bertiga kembali berada di bawah pohon yang biasanya mereka suka duduk-duduk di situ dan mengobrol. Tiba-tiba Bin Ju menjemput setangkai ranting dan menggores-gores di atas tanah, ia menulis empat huruf “Hek-pek-hun-beng” (hitam dan putih harus dibeda-bedakan dengan tegas), lalu katanya, “Anak Giok, apakah kau masih ingat keempat huruf ini?”
Boh-thian menggeleng-geleng kepala, sahutnya, “Tidak, aku tidak bisa membaca.”
Ciok Jing dan Bin Ju terkejut semua. Padahal waktu anak mereka meninggalkan rumah Bin Ju sudah mengajarkan membaca kepadanya, kitab-kitab yang sederhana sebagai “Sam-ji-keng” (kitab aksara tiga), “Tong-si” (sanjak Tong) boleh dikata sudah dapat dihafalkan di luar kepala, mengapa sekarang jawabnya tidak bisa membaca? Apalagi Wi-tek Siansing dari Swat-san-pay terkenal serbapandai, baik ilmu silat maupun ilmu sastra. Anak muridnya juga terkenal sebagai kaum cerdik pandai semua. Waktu Ciok Jing memasrahkan Tiong-giok kepada Hong Ban-li dahulu juga dengan tegas dinyatakan semoga anak itu mendapat didikan ilmu silat maupun ilmu sastra, tatkala itu Hong Ban-li telah berkata dengan tertawa, “Pek-tehu (adik ipar Pek, maksudnya istri Pek Ban-kiam) adalah sastrawan wanita di Leng-siau-sia kita, biarkan dia yang mengajar putramu, tanggung tidak akan mengecewakan harapanmu.”
Tapi kini anak muda itu ternyata mengaku buta huruf.
Tentang empat huruf “Hek-pek-hun-beng” itu adalah tulisan di atas papan yang tergantung di pendopo Hian-soh-ceng mereka, tulisan itu adalah sumbangan seorang tokoh Bu-lim angkatan tua, maknanya cocok dengan sepasang pedang hitam-putih andalan Ciok Jing dan istrinya, tapi juga mengandung pujian kepada mereka suami-istri yang suka membela keadilan dan membantu kaum lemah untuk menumpas kejahatan.
Sebabnya Bin Ju menulis keempat huruf yang dahulu sering dilihat putranya sejak kecil, mungkin dari situ akan dapat mengingatkan dia kepada kejadian-kejadian di masa lampau, siapa duga anak muda itu bahkan menjawab tidak dapat membaca.
Lalu Bin Ju menggores lagi angka “satu” di atas tanah, tanyanya pula dengan tertawa, “Dan huruf ini kau masih ingat tidak?”
“Tidak, huruf apa pun aku tidak tahu, tiada yang pernah mengajarkan padaku,” jawab Boh-thian.
Pedih sekali hati Bin Ju, air matanya lantas berlinang-linang lagi.
“Anak Giok, coba kau mengaso dulu ke sebelah sana,” kata Ciok Jing kepada Boh-thian.
Setelah mengiakan, Boh-thian lantas jinjing pedangnya dan menyingkir ke sana untuk berlatih sendiri.
Kemudian Ciok Jing telah menghibur sang istri, “Adik Ju, penyakit yang diderita Anak Giok tampaknya tidaklah enteng dan tak dapat disembuhkan dalam waktu singkat.”
Sesudah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula, “Seandainya dia memang sudah melupakan segala kejadian yang lalu, hal ini pun bukanlah urusan jelek. Sepak terjang bocah ini di masa lampau terlalu sembrono, walaupun sekarang agak... agak linglung, tapi tingkah lakunya terang jauh lebih baik dan lebih prihatin. Hal ini boleh dikata merupakan suatu kemajuan besar baginya.”
Bin Ju pikir apa yang dikatakan sang suami itu pun ada benarnya, seketika dari sedih berubah menjadi girang. Apa halangannya kalau cuma buta huruf saja, paling-paling diajarkan lagi dari permulaan kan beres?
Tiba-tiba Ciok Jing berkata pula, “Adik Ju, ada suatu hal yang aku tidak habis paham. Penyakit hilang ingatan bocah ini terang sudah terjadi sewaktu dia meninggalkan Leng-siau-sia, kemudian ia menderita sakit panas lagi, hal ini hanya semakin menambah parah penyakitnya itu. Akan tetapi... akan tetapi....”
Mendengar ucapan sang suami itu mengandung sesuatu teka-teki yang mendalam, mau tak mau Bin Ju ikut menjadi tegang, cepat ia tanya, “Akan tetapi apa?”
“Bicara tentang kesusastraan terang Anak Giok buta huruf,” kata Ciok Jing. “Bicara tentang ilmu silatnya juga tidak terlalu mahir, hanya lwekangnya saja yang luar biasa. Bicara soal pengalaman, pengetahuan dan tipu akalnya, semuanya lebih-lebih tiada yang dapat dipilih. Padahal Tiang-lok-pang adalah suatu organisasi besar yang sangat menonjol pada masa akhir-akhir ini, namanya sangat disegani oleh dunia persilatan, mengapa... mengapa....”
“Ya, betul, mengapa mengangkat seorang anak kecil sebagai Tiong-giok untuk menjadi pangcu mereka?” sambung Bin Ju dengan manggut-manggut.
Ciok Jing merenung sejenak, lalu sambungnya pula, “Waktu di Ciciu tempo hari kita pernah mendengar cerita bahwa Ciok Boh-thian, Ciok-pangcu dari Tiang-lok-pang adalah seorang yang suka main perempuan, tingkah lakunya culas dan licik, tapi ilmu silatnya sangat tinggi pula. Sebenarnya tiada seorang pun yang tahu asal-usul Ciok-pangcu itu, belakangan entah mengapa dia telah dapat dikenali oleh murid wanita dari Swat-san-pay yang bernama Hoa Ban-ci, katanya dia adalah murid murtad Swat-san-pay mereka, Ciok Tiong-giok, yang sedang dicari-cari oleh perguruannya. Tapi kalau dilihat sekarang, segala apa tentang tingkah lakunya culas licik dan ilmu silatnya sangat tinggi, ulasan-ulasan itu sesungguhnya tidak tepat digunakan atas diri Tiong-giok.”
Dengan mengerut kening Bin Ju menanggapi, “Ya, dahulu kita pikir usia Anak Giok memang masih muda, tapi otaknya memang tajam, jika ilmu silatnya benar-benar telah maju pesat sehingga dapat menjabat sebagai pangcu apa juga bukan sesuatu yang aneh, sebab itulah kita tatkala itu sedikit pun tidak curiga, kita hanya berunding cara bagaimana menyelamatkan dia dari pencarian Swat-san-pay. Akan tetapi melihat kelakuannya sekarang, kukira... kukira....”
Sampai di sini mendadak ia perkeras suaranya, “Ya, Engkoh Jing, kukira di balik urusan ini tentu adalah suatu muslihat keji. Coba pikir saja, betapa cerdik pandai tokoh ‘Tio-jiu-seng-jun’ Pwe-siansing itu, masakah....” sampai di sini ia menjadi takut sendiri, suaranya menjadi gemetar pula.
Ciok Jing sendiri berjalan mondar-mandir dengan berpangku tangan, mulutnya tiada hentinya menggumam, “Ya, mengangkat dia menjadi pangcu , mengangkat dia menjadi pangcu , apa maksud tujuannya? Apa maksud tujuannya?”
Setelah dipikir berulang-ulang, akhirnya jelaslah duduknya perkara baginya, segala apa yang terjadi sangat cocok dengan persoalannya, cuma saja urusan ini terlalu mengerikan, maka ia tidak berani lantas mengutarakan pendapatnya.
Waktu ia memandang sang istri, sekilas sorot mata Bin Ju juga sedang menatap ke arahnya dengan penuh rasa cemas dan khawatir.
Untuk sejenak suami-istri itu saling pandang, habis itu mendadak mereka berseru berbareng, “Pengganjar dan Penghukum!”
Ucapan ini cukup keras sehingga dapat didengar oleh Ciok Boh-thian, segera anak muda ini mendekati dan bertanya, “Ayah, ibu, sebenarnya macam apakah Pengganjar dan Penghukum itu? Aku pernah mendengar nama itu dari orang-orang Tiat-cha-hwe, imam-imam Siang-jing-koan itu pun pernah menyebut-nyebutnya.”
Ciok Jing tidak menjawab sebaliknya malah bertanya, “Sewaktu kau mengangkat saudara dengan Thio Sam dan Li Si, apakah mereka mengetahui kau adalah Pangcu Tiang-lok-pang?”
“Mereka tidak tanya, aku pun tidak bilang, mungkin mereka tidak tahu,” sahut Boh-thian.
“Bagaimana keadaan mereka ketika kau berlomba minum arak berbisa dengan mereka? Coba kau ceritakan lagi dengan lebih jelas,” tanya Ciok Jing.
“Hah, apakah arak itu berbisa? Mengapa aku tidak keracunan?” sahut Boh-thian dengan heran. Lalu ia pun menuturkan lagi pengalamannya ketika bertemu dengan Thio Sam dan Li Si, di mana mereka telah makan babi panggang dan minum arak sepuas-puasnya.
Ciok Jing mendengarkan dengan diam saja, sesudah Boh-thian menutur, ia merenung sejenak, lalu berkata, “Anak Giok, ada suatu hal harus kukatakan padamu, baiknya saat ini masih dapat dicegah, maka kau pun tidak perlu khawatir.”
Sesudah merandek sebentar, kemudian ia menyambung, “Pada masa 30 tahun yang lalu, banyak sekali di antara gembong-gembong dan tokoh-tokoh Bu-lim dari berbagai golongan dan aliran mendadak telah menerima undangan yang meminta mereka sebelum tanggal 8 bulan 12 supaya datang ke Liong-bok-to (Pulau Kayu Naga) di Laut Selatan untuk makan Lap-pat-cok.”
“Ya, semua orang asalkan mendengar tentang ‘Lap-pat-cok’ lantas sangat ketakutan, entah apa sebabnya?” kata Boh-thian sambil manggut-manggut.
Namun Ciok Jing menyambung terus, “Tokoh-tokoh dari berbagai golongan dan aliran itu semuanya adalah orang-orang yang punya harga diri, ketika mereka menerima medali undangan....”
“Medali undangan? Apakah kedua potong medali tembaga itu?” sela Boh-thian.
“Betul, tak-lain-tak-bukan adalah kedua buah medali tembaga yang pernah kau rebut dari Ciau-hi Supek itu,” sahut Ciok Jing. “Muka medali-medali itu masing-masing terukir wajah orang yang sedang tertawa, ini mempunyai arti ‘pengganjar’, yaitu memberi ganjaran kepada orang yang berbuat bajik, sebaliknya medali yang lain terukir wajah marah yang berarti ‘penghukum’, yaitu pemberi hukuman kepada setiap kejahatan. Pengirim-pengirim medali undangan itu adalah dua orang pemuda gemuk dan kurus.”
“Pemuda?” Boh-thian menegas. Ia sudah menduga pengirim-pengirim medali-medali itu tentulah Thio Sam dan Li Si, tapi demi mendengar pemuda, ia merasa tidak cocok pula dengan mereka.
“Apa yang terjadi itu adalah di waktu lebih 30 tahun yang lalu, dengan sendirinya ketika itu mereka masih muda,” ujar Ciok Jing. “Para pemimpin Bu-lim yang kebagian medali undangan itu dengan sendirinya ragu-ragu, mereka menanyakan siapakah tuan rumah yang mengundang itu, tapi kedua utusan itu menyatakan bahwa sesudah para tamu sampai di tempat tujuan tentu akan tahu sendiri. Gembong-gembong persilatan itu ada yang anggap sepele akan undangan itu dan menerimanya dengan tertawa, ada juga yang marah-marah. Menurut kedua utusan itu, bila penerima undangan itu menepati undangan itu, maka segalanya akan aman tenteram, sebaliknya kalau menolak, maka golongan atau organisasi mereka ini pasti akan tertimpa bencana. Karena itulah para pemimpin persilatan itu saling bertanya-tanya, ‘Hadir atau tidak?’
“Orang pertama yang menerima medali undangan itu adalah Siau-san Totiang, Ciangbunjin Jing-sia-pay di Sucwan Barat. Sambil tertawa ia mengerahkan tenaga dalam sehingga kedua medali tembaga itu kena diremas menjadi dua potong tembaga rongsokan. Dengan memperlihatkan kepandaiannya yang hebat itu Siau-san Totiang mengira kedua pemuda yang takabur itu pasti akan kabur dengan ketakutan. Siapa duga, baru saja medali-medali itu dirusaknya, kontan keempat tangan pemuda-pemuda itu pun sekaligus menghantam dada Siau-san Totiang, tanpa ampun lagi tokoh persilatan di daerah Sucwan itu terbinasa seketika.”
“Ah, sedemikian keji cara mereka itu,” seru Boh-thian.
“Ya, serentak orang-orang Jing-sia-pay juga lantas mengerubut maju,” sambung Ciok Jing. “Tatkala itu ilmu silat kedua pemuda belum mencapai tingkatan setinggi seperti sekarang, segera mereka merampas dua batang pedang, setelah membunuh tiga orang Tojin mereka lantas melarikan diri. Namun demikian, kejadian tentang Jing-sia-pay diubrak-abrik dan Siau-san Totiang dibunuh dua orang pemuda yang tak terkenal dalam waktu singkat saja sudah lantas membikin geger dunia persilatan.
“Dua puluh hari kemudian, Tiau-lopiauthau di Ekciu juga menerima medali undangan tersebut. Waktu itu Tiau-lopiauthau sedang sibuk mengadakan perjamuan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-60. Tamu-tamu yang hadir sangat banyak, tiba-tiba kedua pemuda yang tidak diundang muncul di tengah perjamuan dan mengaturkan medali-medali tembaga mereka. Memangnya sebagian besar para hadirin itu lagi ramai membicarakan peristiwa Jing-sia-pay, sekarang diketahui kedua pemuda itu mengacau pula ke situ, serentak mereka bergerak dan hendak menghajar kedua pemuda itu. Tak terduga dengan gampang saja kedua pemuda itu dapat meloloskan diri dari kepungan orang banyak. Bahkan tiga hari kemudian, keluarga Tiau-lopiauthau sebanyak lebih 30 jiwa pada tengah malam buta semuanya telah tewas. Di atas pintu rumah jelas terpaku dua bentuk medali tembaga muka tertawa dan muka marah itu.”
“Pertama kalinya aku melihat kedua medali tembaga itu adalah di pintu ruangan kapal Hui-hi-pang yang penuh mayat itu,” kata Boh-thian dengan menghela napas. “Tak tersangka bahwa... bahwa kedua medali itu mirip saja dengan kartu undangan yang dikirim oleh Giam-lo-ong (raja akhirat).”
“Setelah kejadian itu tersiar, segera ketua Siau-lim-pay tampil ke muka dan mengundang para pemimpin terkemuka dari dunia persilatan untuk merundingkan cara menghadapi persoalan medali-medali tembaga itu, berbareng penyelidik-penyelidik disebarkan untuk mencari tahu jejak kedua utusan yang mengganas itu,” demikian Ciok Jing melanjutkan ceritanya. “Namun kedua pemuda utusan itu benar-benar sangat licin, sering kali mereka menyamar dan ganti rupa sehingga jejak mereka susah diketemukan. Tapi bilamana orang-orang Bu-lim sudah mulai lengah, tahu-tahu kedua pemuda itu muncul lagi untuk menyampaikan kedua medali panggilan.
“Bukan saja jejak kedua pemuda itu susah diketemukan dan ilmu silatnya tinggi, malahan mereka pandai menggunakan racun pula. Seperti Sian-pun Tianglo dari Siau-lim-pay, Kho-pek Tojin dari Bu-tong-pay, mereka telah tewas semua sesudah menerima medali undangan. Waktu menerima medali-medali itu tiada terjadi apa-apa, tapi lewat sebulan kemudian mendadak mereka kena penyakit keras terus binasa. Menurut perkiraan, tentulah kedua rasul Siang-sian dan Hwat-ok Sucia itu jeri kepada ilmu silat Sian-pun Tianglo dan Kho-pek Totiang yang tinggi, mereka tidak mampu melawannya, maka diam-diam mereka telah menaruh racun jahat di atas medali-medali mereka, sesudah tangan menyentuh racun itu, akhirnya racun akan bekerja dan membunuh sang korban. Anehnya racun itu sama sekali tidak memberi tanda-tanda sebelumnya, tapi sekali sudah kumat, hanya dalam waktu satu jam saja lantas binasa, sungguh lihainya susah dikatakan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar