Jilid 40
Saat itu pedang orang she Liau sedang ditangkis pergi oleh pedang jisuhengnya dan sedang saling adu tenaga dalam buat melepaskan lengketan pedang lawan, maka tusukan samsuhengnya itu benar-benar di luar dugaan dan betapa pun susah dielakkan.
Pada saat demikian untunglah sang sute she Nio yang tadi hanya diam-diam saja itu kini mendadak ikut melolos pedang terus menusuk ke punggung orang she Ce sambil berkata, “Ai, dosa, dosa caramu ini!”
Untuk membela diri, terpaksa orang she Ce menarik kembali pedangnya untuk menangkis serangan gosute she Nio itu.
Begitulah anak murid dari cabang dua, tiga, lima dan lain-lain lantas ikut menerjang maju untuk membela gurunya masing-masing. Maka pertempuran menjadi tambah seru....
Ciok Boh-thian sampai bingung menyaksikan pertarungan gaduh itu. Hanya sebentar saja terjadilah banjir darah di ruangan pendopo itu, banyak tangan kutung dan kaki patah tercecer di sana-sini diseling suara jerit ngeri.
“Toako, aku... aku takut!” kata A Siu dengan suara gemetar sambil menggelendot di samping Boh-thian.
“Sebenarnya ada urusan apakah, mengapa mereka saling hantam sendiri?” tanya Boh-thian.
Tatkala itu setiap orang di dalam ruangan itu sedang memikirkan keselamatannya sendiri, maka biarpun Boh-thian bicara lebih keras di luar juga takkan dipedulikan.
Sebaliknya Su-popo lantas menjengek, “Hm, bagus, bagus! Pertarungan yang bagus! Biarkan semuanya mampus barulah puas hatiku!”
Pertempuran sengit beratus-ratus orang tanpa teratur itu agak lucu juga tampaknya, lebih-lebih pakaian mereka adalah seragam putih semua, senjata yang dipakai juga sama, kawan atau lawan menjadi susah membedakan. Semula anak murid cabang utama bertarung melawan cabang ketiga, tapi sesudah anak murid cabang-cabang lain juga ikut masuk medan pertempuran, seketika keadaan menjadi kacau, banyak di antaranya yang memangnya ada permusuhan pribadi lantas dilampiaskan dalam pertempuran gaduh ini.
“Sudahlah, kita jangan lihat lagi, marilah menyingkir saja,” kata A Siu kepada Boh-thian.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara gedubrakan yang gemuruh, daun pintu telah terpentang dan terlepas dari engselnya. Lalu terdengar seorang berseru dengan suara lantang, “Siang-sian dan Hwat-ok Sucia dari Liong-bok-to berkunjung kemari hendak bertemu dengan ketua Swat-san-pay!”
Begitu keras dan nyaring suara seruan itu sehingga suara pertempuran yang riuh ramai tadi tersirap semua.
Mendengar nama Siang-sian dan Hwat-ok Sucia dari Liong-bok-to sudah tiba, semua orang sangat terkejut. Segera sebagian orang berhenti bertempur dan melompat ke pinggir. Berturut-turut yang lain juga berhenti bertempur. Hanya sekejap saja semua orang sudah menyingkir ke samping, perhatian semua orang tertuju ke arah pintu. Di tengah ruangan hanya tertinggal suara rintihan mereka yang terluka, suara lain tiada terdengar lagi. Sejenak kemudian penderita-penderita luka itu pun lupa merintih lagi dan sama memandang ke arah pintu.
Ternyata di ambang pintu secara berjajar telah berdiri dua orang, satu gemuk dan satu kurus, pakaian mereka sangat perlente. Hampir-hampir Ciok Boh-thian berseru menyapa ketika melihat yang datang itu adalah Thio Sam dan Li Si. Tapi lantas teringat dirinya dalam penyamaran sebagai Ciok Tiong-giok dan belum waktunya untuk menonjolkan siapa sebenarnya dia.
Dalam pada itu terlihat Thio Sam mulai berkata dengan tertawa, “Pantas ilmu silat Swat-san-pay termasyhur di seluruh jagat, kiranya di waktu latihan di antara sesama saudara seperguruan digunakan cara menyerang dan membunuh sungguhan. Wah, cara demikian benar-benar hebat. Sungguh mengagumkan.”
Orang she Liau lantas tampil ke muka dan menegur dengan suara bengis, “Apakah kalian ini yang disebut sebagai Siang-sian dan Hwat-ok Sucia dari Liong-bok-to?”
“Benar,” sahut Thio Sam. “Entah siapakah di antara kalian ini adalah Ciangbunjin Swat-san-pay? Atas perintah Liong-bok-to Tocu kami ingin menyampaikan medali undangan agar ciangbunjin kalian kelak berkunjung ke pulau kami untuk sekadar ikut minum semangkuk Lap-pat-cok.”
Sambil bicara ia lantas mengeluarkan dua buah medali tembaga, tiba-tiba ia berpaling kepada Li Si dan berkata, “Eh, kabarnya Ciangbunjin Swat-san-pay adalah Wi-tek Siansing Pek-loyacu, tampaknya orang-orang yang berada di sini kok tidak mirip dia?”
“Ya, aku pun berpikir begitu,” sahut Li Si.
Segera orang she Liau tadi menanggapi, “Orang she Pek itu sudah mati, ciangbunjin yang baru....”
Belum habis ia bicara mendadak Hong Ban-li lantas memotong dengan mendamprat, “Kentut busuk! Wi-tek Siansing masih baik-baik, beliau hanya....”
“Apakah demikian ini caranya kau bicara dengan susiokmu?” si orang she Liau balas mendamprat.
“Orang macam kau ini juga ada harganya untuk dipanggil susiok?” jawab Ban-li.
Nama orang she Liau itu selengkapnya adalah Liau Cu-le, wataknya sangat keras dan berangasan. Karena jawaban Ban-li yang kasar itu, kontan pedangnya lantas menusuk.
Cepat Ban-li menangkis sambil melangkah mundur. Rupanya Liau Cu-le sudah merah matanya, dengan murka ia lantas menerjang maju. Tapi seorang murid cabang utama lantas mengadang maju untuk melabraknya. Menyusul Seng Cu-hak, Ce Cu-bian, Nio Cu-cin, berturut-turut juga menyerbu maju lagi sehingga pertempuran gaduh kembali terjadi.
Hendaklah maklum bahwa geger-geger yang terjadi di dalam Swat-san-pay ini cukup berat persoalannya. Sebab itulah keempat saudara seperguruan she Seng, Ce, Liau, dan Nio itu saling tidak mau mengalah, saling sirik, saling dendam, asal salah seorang di antara mereka binasa keadaan tentu akan berubah, sebab itulah meski kedua rasul pengganjar dan penghukum itu sudah datang toh mereka masih cekcok mengenai urusannya sendiri.
Menyaksikan suasana begitu Thio Sam lantas bergelak tertawa, katanya, “Rupanya kalian tekun benar melatih ilmu silat perguruannya sendiri, tapi temponya kan masih banyak, mengapa mesti buru-buru pada saat ini?”
Habis berkata ia terus melangkah maju dengan perlahan, mendadak kedua tangannya bekerja, ia mencengkeram dan menarik ke sana kemari, maka terdengarlah suara gemerencing yang ramai, tahu-tahu beberapa batang pedang sudah terbuang ke atas lantai. Entah cara bagaimana pedang orang-orang she Seng Ce, Liau, dan Nio beserta pedang Hong Ban-li dan dua orang muridnya tahu-tahu sudah kena dirampas oleh Thio Sam, mereka hanya merasa tangan tergetar kesemutan, lalu pedang sudah terlepas dari cekalan.
Keruan mereka menjadi terperanjat semua, baru sekarang mereka nyaho bahwa ilmu silat kedua tamu itu bukan main lihainya. Dalam kagetnya mereka sampai lupa mengenai percekcokan di antara mereka sendiri itu dan teringat kepada macam-macam cerita tentang korban yang jatuh di mana tempat yang kedatangan Siang-sian dan Hwat-ok Sucia. Sekarang mereka telah menyaksikan dan merasakan sendiri jelas bilamana kedua rasul itu mau mengganas, mungkin susah dilawan sekalipun segenap kekuatan Swat-san-pay dikerahkan seluruhnya. Apalagi di dalam golongan sendiri sedang saling bunuh-membunuh. Begitulah mereka menjadi takut dan ada yang sampai menggigil.
Sementara itu Thio Sam berkata pula dengan tertawa, “Ketekunan kalian meyakinkan ilmu silat sungguh harus dipuji, tapi juga tidak perlu segiat ini dan masih banyak tempo. Kami berdua masih harus menyampaikan medali undangan ke lain tempat dan tiada waktu senggang untuk tinggal di sini. Tentang Wi-tek Siansing apakah dia sudah mati atau masih hidup kami tidak ambil pusing, yang pasti Swat-san-pay toh harus ada seorang ciangbunjin. Yang diundang oleh Liong-bok-to kami adalah ciangbunjin dari Swat-san-pay, maka lekas terangkan yang manakah adalah ciangbunjin kalian?”
Untuk sejenak Seng Cu-hak dan para sutenya hanya saling pandang saja tanpa bisa menjawab. Mereka tahu selama berpuluh tahun ini, setiap ciangbunjin yang menerima undangan dan pergi ke Liong-bok-to selamanya tiada seorang pun yang dapat pulang kembali, maka siapa saja yang menjadi Ciangbunjin Swat-san-pay sekarang akan berarti membunuh diri pula menghadapi utusan-utusan dari Liong-bok-to ini.
Tadinya mereka anggap Leng-siau-sia terletak jauh di wilayah barat dan jarang ada hubungan dengan orang-orang persilatan daerah Tionggoan, medali undangan Liong-bok-to itu rasanya takkan sampai di Leng-siau-sia yang terpencil ini. Pula tentang kepandaian rasul-rasul pengganjar dan penghukum itu hanya beritanya saja yang mereka dengar dan besar kemungkinan, sengaja dibesar-besarkan dan dilebih-lebihkan oleh orang, padahal belum tentu benar sedemikian lihainya. Siapa duga hal-hal yang disangka takkan terjadi itu mendadak lantas muncul di depan mereka sekarang.
Kalau beberapa saat sebelumnya tadi kelima cabang murid Swat-san-pay saling bertengkar dengan harapan cabangnya sendiri yang akan menjagoi dan pemimpinnya sendiri yang keluar sebagai pejabat ciangbunjin, untuk mana mereka tidak segan-segan saling hantam dan saling bunuh. Tapi sekarang setelah keadaan berubah mendadak, mereka menjadi mengkeret dan berharap agar pihak lawan yang menjadi ciangbunjin saja, supaya bisa mewakilkan mereka mengantar nyawa ke Liong-bok-to.
Lantaran itulah, serentak Seng Cu-hak, Ce Cu-bian, Liau Cu-le, Nio Cu-cin, dan Hong Ban-li saling tunjuk dan sama berseru, “Itu dia! Dia adalah ciangbunjinnya!”
Tentang Swat-san-pay dapat diterangkan bahwa sudah cukup lama diketuai oleh Wi-tek Siansing Pek Cu-cay, yaitu ayahnya Pek Ban-kiam. Pek Cu-cay mempunyai empat orang sute, ialah Seng Cu-hak, Ce Cu-bian, Liau Cu-le, dan Nio Cu-cin. Guru mereka sudah lama wafat sehingga kepandaian keempat sute itu sebagian besar adalah ajaran Pek Cu-cay, sebab itulah resminya Pek Cu-cay adalah suheng mereka, tapi sesungguhnya adalah guru dan murid.
Ilmu silat Swat-san-pay terkenal banyak ragam perubahannya, tentang lwekang berbalik tiada sesuatu yang bisa ditonjolkan. Pek Cu-cay sendiri hanya secara kebetulan pada masa mudanya telah makan sejenis buah ajaib sehingga mendadak tenaga dalamnya bertumbuh dengan luar biasa. Karena tenaga dalamnya yang hebat itu ditambah bagusnya ilmu silat, maka selama beberapa puluh tahun ini dia menjagoi daerah Se-ek tanpa tandingan.
Caranya Pek Cu-cay menurunkan kepandaiannya kepada para sute dan anak muridnya tidak pernah menyembunyikan satu-dua jurus yang istimewa, tapi telah mengajar dengan segenap kepandaian yang dia miliki sendiri. Hanya tentang lwekangnya yang diperolehnya secara kebetulan itulah yang susah dipelajari, sebab itu kepandaian para sutenya selalu terbatas dan susah mencapai tingkatan seperti Pek Cu-cay.
Dasar watak Pek Cu-cay adalah suka menang dan tinggi hati, mengenai dia kebetulan makan buah ajaib sehingga lwekangnya tumbuh mendadak, hal ini selalu dirahasiakannya, dengan demikian dia ingin menunjukkan bahwa kepandaiannya itu adalah berkat kecerdasan dan kegiatannya berlatih dan bukan diperoleh secara mujur.
Sebaliknya di dalam hati keempat sutenya itu lantas timbul rasa penasaran dan sirik, mereka anggap sang suheng yang dipesan mendiang gurunya agar memberi bimbingan kepada para sute itu berlaku tamak dan sengaja merahasiakan sebagian ilmu silat perguruan sendiri.
Lebih-lebih ilmu silat Pek Ban-kiam dan Hong Ban-li ternyata sangat tinggi dan hampir-hampir memadai keempat susioknya, hal ini membuat Seng, Ce, Liau, dan Nio menjadi penasaran. Cuma di bawah pengaruh Wi-tek Siansing mereka tidak berani memperlihatkan perasaan kurang puas itu. Dan baru sekarang ketika anak murid Tiang-bun (cabang utama di bawah Pek Cu-cay) banyak yang turun gunung, Pek Cu-cay sendiri kurang waras pula pikirannya, maka para sutenya serentak melakukan pemberontakan.
Namun kepandaian antara mereka berempat boleh dikata sembabat, maka siapa pun tidak mau tunduk kepada yang lain dan sama-sama ingin menjadi ciangbunjin. Tapi untuk bisa mencapai cita-cita itu mereka pun sadar harus berdaya menumpas dahulu ketiga orang sekutunya barulah dapat aman menduduki kursi ciangbunjin. Sama sekali tak terduga bahwa pada saat yang krisis itulah mendadak kedua sucia dari Liong-bok-to muncul di situ.
Begitulah, kalau tadi mereka berebut menjadi ciangbunjin, maka sekarang mereka sama-sama ingin mengelakkan tanggung jawab. Kata Ce Cu-bian, “Usia Samsuheng (Ce Cu-bian) adalah paling tua, menurut aturan dan dengan sendirinya dia yang harus menjabat ketua golongan kita.”
“Hanya usia lebih tua saja apa gunanya?” jawab Ce Cu-bian. “Dalam urusan kita ini kau yang paling banyak mengeluarkan tenaga, jika Liau-sute tidak mau menjadi ciangbunjin siapa lagi yang cocok untuk menjabatnya?”
“Huh, soal Ciangbunjin Swat-san-pay kita sebenarnya adalah biasa dijabat oleh Toasuheng, sekarang Toasuheng sudah exit, dengan sendirinya Jisuko yang harus menggantikannya, kenapa mesti dipersoalkan lagi?” demikian kata Gosute, Nio Cu-cin.
Tapi jisuheng Seng Cu-hak lantas menjawab, “Bicara tentang banyak akal dan kecerdikan di antara kita berempat harus diakui Gosute yang paling pintar. Maka aku setuju bila Gosute yang menjabat ciangbunjin kita. Maklumlah urusan hari ini lebih mengutamakan mengadu kecerdikan daripada mengadu kekuatan.”
Liau Cu-le lantas menyambung pula, “Ciangbunjin kita memangnya dijabat oleh orang dari Tiang-bun, jika Ce-suheng tidak mau menggantikannya, maka boleh silakan Heng-sutit dari Tiang-bun yang menjabatnya. Kukira semua orang pasti tidak mempunyai alasan untuk menolaknya, paling sedikit aku orang she Liau pasti setuju.”
“Tapi tadi ada orang berteriak-teriak, katanya anak murid Tiang-bun harus dibinasakan semua, entah siapakah tadi itu yang melepaskan kentut anjing demikian?” kata Ban-li.
Liau Cu-le menjadi gusar, alisnya sampai menegak. Mestinya ia hendak balas memaki, tapi lantas terpikir sesuatu olehnya, sedapat mungkin ia bersabar dan berkatalah, “Urusan sudah kadung demikian, apakah terhitung seorang kesatria sejati jika mengkeret digaris depan?”
Begitulah kelima orang itu ribut mulut sendiri saling mengajukan orang lain untuk menjadi ciangbunjin.
Sejak tadi Thio Sam hanya mendengarkan saja dengan tersenyum-senyum tanpa membuka suara. Sebaliknya Li Si yang tidak sabar lagi mendengarkan pertengkaran orang-orang Swat-san-pay yang tidak habis-habis itu. Segera ia membentak, “Sebenarnya siapakah di antara kalian ini adalah ciangbunjinnya? Kalian bertengkar terus, kalau sampai makan waktu seminggu atau sebulan, apakah kami juga disuruh menunggu begitu lama?”
“Ya, Seng-suko, hendaklah kau lekas menerima saja,” kata Nio Cu-cin. “Jika ayal lagi jangan-jangan akan timbul malapetaka, maka kaulah yang akan membikin susah orang banyak.”
“Mengapa aku yang akan membikin susah orang banyak?” sahut Seng Cu-hak dengan gusar.
Begitulah kembali kelima orang itu bertengkar pula dengan sengitnya.
Segera Thio Sam berkata pula dengan tertawa, “Aku ada suatu akal. Begini, kalian berlima boleh memutuskan urusan ini dengan mengadu kepandaian masing-masing. Kepandaian siapa yang paling tinggi, dialah yang akan menjadi Ciangbunjin Swat-san-pay.”
Kelima tokoh Swat-san-pay itu tidak berani menjawab. Mereka saling pandang dan menimbang-nimbang dalam hati masing-masing.
Maka Thio Sam menyambung pula, “Tadi waktu kami datang terlihat kalian berlima sedang saling labrak, kukira di samping kalian sedang berlatih untuk mempertinggi ilmu silat perguruan kalian, tentu pula kalian sedang mengukur tenaga untuk menentukan siapa yang lebih unggul dan berhak menjadi ciangbunjin. Rupanya kami terlalu buru-buru masuk ke sini sehingga pertandingan kalian terputus setengah jalan. Maka sekarang kalian boleh meneruskan, tidak sampai satu jam tentu dapat ditentukan pihak yang kalah atau menang. Kalau tidak, menuruti watak saudaraku yang tidak sabaran ini, satu jam kemudian jika urusan masih belum selesai mustahil semua orang Swat-san-pay akan dibunuh habis olehnya sehingga tiada seorang pun di antara kalian yang berhasil menjadi ciangbunjin. Nah, satu, dua, tiga! Lekaslah mulai!”
“Sret”, segera Liau Cu-le mendahului melolos pedang.
Tapi mendadak Thio Sam berseru pula, “Yang mengintip di luar jendela itu tentunya juga orang Swat-san-pay, harap masuk saja sekalian ke sini! Karena ciangbunjin ini akan ditentukan dengan ilmu silat, maka tidak peduli tua atau muda, setiap orang boleh ikut.”
Habis berkata lengan bajunya lantas mengebas ke belakang, “blang”, daun jendela terpentang dan terpental tersampuk oleh angin pukulannya itu.
Karena jejaknya sudah ketahuan, segera Su-popo menarik A Siu dan Ciok Boh-thian masuk ke dalam ruangan.
Melihat mereka bertiga, seketika semua orang yang berada di dalam ruangan menjadi tercengang. Serentak Seng Cu-hak, Ce Cu-bian, Liau Cu-le, dan Nio Cu-cin berempat mengelilingi mereka dengan senjata terhunus. Namun Su-popo hanya tertawa dingin saja tak ambil pusing.
Sebaliknya Hong Ban-li lantas melangkah maju dan memberi hormat sambil menyapa, “Terimalah hormatku, Sunio (ibu guru)!”
Boh-thian terperanjat. Pikirnya, “Aneh, mengapa suhuku adalah dia punya ibu guru?”
Dalam pada itu Su-popo hanya menengadah saja tanpa menggubris hormat Hong Ban-li itu.
Dengan tertawa Thio Sam lantas berkata, “Bagus, bagus! Sobat cilik yang tidak mau mengaku sebagai Pangcu Tiang-lok-pang ternyata sudah kembali ke Swat-san-pay sini! Jite, coba lihat, alangkah miripnya bocah ini dengan samte kita.”
Li Si mengangguk dan menjawab, “Ya, cuma tutur katanya rada-rada tengik dan tingkah lakunya agak bergajul. Di mana ada nona cantik, di situ juga dia lantas hinggap.”
Diam-diam Boh-thian anggap kebetulan malah karena kedua saudara angkat itu telah salah sangka dia sebagai Ciok Tiong-giok.
“Eh, kiranya nenek ini adalah Pek-lohujin, maaf kami berlaku kurang hormat,” demikian Thio Sam membuka suara lagi. “Para sutemu sedang mengincar kedudukan Ciangbun Pek-loyacu, mereka sedang mengukur tenaga dan adu otot untuk merebut jabatan terhormat itu. Nah, baiklah, kalian boleh mulai lagi. Satu-dua-tiga, hayo mulai!”
Namun Su-popo lantas menggandeng tangan A Siu dan Boh-thian, dengan bersitegang leher ia berjalan ke depan. Seng Cu-hak dan lain-lain tidak berani merintanginya dan menyaksikan nenek itu berduduk pada kursi besar yang tengah dengan sikap yang mencemoohkan orang-orang di sekitarnya.
“Hayo, kenapa kalian belum mulai, mau tunggu kapan lagi?” bentak Li Si mendadak.
“Benar!” sahut Seng Cu-hak terus mendahului menusuk Nio Cu-cin dengan pedangnya.
Cepat Cu-cin menangkis sambil melangkah mundur, entah sengaja atau sungguhan, mendadak ia sempoyongan dan berkata, “Wah, ilmu pedang Seng-suko benar-benar luar biasa, aku mengaku bukan tandinganmu!”
Di sebelah sana Liau Cu-le dan Ce Cu-bian berdua juga sudah mulai adu tanding. Tapi keempat orang itu hanya main beberapa jurus saja, diam-diam para penontonnya sudah sama menggeleng kepala. Kiranya setiap jurus serangan mereka semuanya sangat lemah dan kurang jitu, sama sekali tidak memperlihatkan sebagai tokoh kelas satu dari golongan Swat-san-pay.
Nyata sekali bahwa pertempuran mereka sekarang bukan “cari menang” lagi, sebaliknya mereka hanya mencari kalah malah, mereka sudah tidak mau berebut menjadi ketua Swat-san-pay lagi. Hanya karena terpaksa maka mereka bertempur sekadarnya, yang diharapkan bukannya menang melainkan kalah saja. Tapi karena mereka mempunyai pikiran yang sama, maka untuk mencari kalah pun tidak gampang.
Suatu ketika tertampak Nio Cu-cin sengaja menubruk ke ujung pedang Seng Cu-hak, sebaliknya mendadak Cu-hak menjerit, “Aduh!”
Sekonyong-konyong sebelah kakinya kesandung sehingga tusukannya mengarah ke lantai malah.
Menyaksikan pertarungan yang menyebalkan itu, Thio Sam terbahak-bahak, katanya, “Losi, kita berdua sudah menjelajah seluruh jagat ini, tapi pertandingan sebagus ini benar-benar baru pertama kali ini kita lihat. Pantas ilmu silat Swat-san-pay sangat termasyhur, nyatanya memang lain daripada yang lain.”
Rupanya Su-popo merasa sebal juga, dengan suara bengis ia lantas membentak, “Ban-li, di mana kau telah mengurung Ciangbunjin dan anak murid Tiang-bun? Lekas pergi melepaskan mereka!”
“Liau... Liau-susioklah yang mengurung mereka, Tecu sendiri tidak... tidak tahu apa-apa,” sahut Ban-li dengan suara gemetar.
“Kau tahu apa tidak, pendek kata mereka harus lepas dibebaskan atau segera kubinasakan kau saat ini juga!” bentak Su-popo pula.
“Ya, ya, Tecu akan coba mencarinya,” sahut Ban-li sambil putar tubuh hendak bertindak pergi.
“Nanti dulu!” tiba-tiba Thio Sam mencegah. “Saudara juga salah seorang calon pewaris ciangbunjin dari Swat-san-pay, mana boleh kau tinggal pergi begini saja? Hayolah kau, kau, kau... kau!” berulang-ulang ia menuding empat murid Swat-san-pay, lalu melanjutkan, “Kalian berempat yang pergi membebaskan seluruh orang Swat-san-pay yang dikurung di Leng-siau-sia ini dan bawa ke sini semua. Kalau sampai kurang satu orang saja maka kepala kalian akan hancur seperti contoh ini.”
Habis berkata tangan kanannya terus mencakar ke atas tiang kayu di sebelahnya sehingga tiang itu seketika melekuk suatu lubang. Tertampak dari sela-sela jarinya bertebaran bubuk kayu yang halus.
Dalam waktu singkat saja sekaligus dia telah perlihatkan dua macam ilmunya yang sakti, keruan orang-orang Swat-san-pay menjadi jeri dan mengkeret. Empat orang yang ditunjuk tadi sampai gemetar ketakutan. Tanpa disuruh lagi segera mereka mengiakan dan mengundurkan diri untuk melaksanakan perintah itu.
Di sebelah sana Seng Cu-hak berempat masih belum berhenti dari pertarungan mereka yang lucu. Mereka pun sadar tingkah laku mereka itu mungkin susah mengelabui mata Thio Sam dan Li Si, maka sedapat mungkin mereka pura-pura bertanding sungguh-sungguh dan mengadu jiwa walaupun setiap kali selalu mengalah dan memberi kesempatan kepada pihak lawan masing-masing.
Makin melihat makin dongkol Su-popo, segera ia mendamprat, “Huh, permainan setan begini juga dianggap sebagai ilmu silat Swat-san-pay? Hm, kalian benar-benar membikin malu nama Leng-siau-sia yang keramat ini.”
Mendadak ia berpaling kepada Ciok Boh-thian dan berkata, “Muridku, ambil golok ini dan tebaslah sebelah lengan mereka, setiap orang satu.”
Di depan Thio Sam dan Li Si sedapat mungkin Boh-thian tidak berani membuka suara agar tidak dikenali. Terpaksa ia terima golok yang disodorkan padanya, lalu melangkah maju, ia tuding Seng Cu-hak terus membacok.
Mendengar Su-popo memberi perintah agar lengannya yang harus ditebas, keruan Seng Cu-hak tidak berani main-main. Cepat ia angkat pedangnya untuk menangkis. Karena sekarang menyangkut keselamatannya, maka gerakan pedangnya ini sangat kuat dan indah, suatu jurus ilmu pedang Swat-san-pay yang sejati.
“Bagus! Mendingan jurus ini daripada tadi!” senggak Thio Sam.
Tiba-tiba Boh-thian mendapat pikiran, “Kedua Giheng sudah kenal tenaga dalamku yang hebat, jika aku menang dengan menggunakan lwekang, tentu mereka akan lantas mengenali aku sebagai Kau-cap-ceng, padahal aku menyaru sebagai Ciok Tiong-giok, terpaksa aku juga harus menggunakan Swat-san-kiam-hoat saja!”
Segera ia putar goloknya dan menusuk dari samping, yakni merupakan satu jurus ilmu pedang Swat-san-pay yang disebut “Am-hiang-soh-eng” (Harum Kedaluan Hilang Bayangan).
Melihat ilmu pedang Boh-thian hanya sepele saja, Seng Cu-hak tidak jeri pula. Ia putar pedang untuk melindungi tempat-tempat penting di tubuhnya sendiri, sesudah beberapa jurus kemudian, sengaja ia pancing golok Ciok Boh-thian menusuk ke atas kakinya. Ia pura-pura tidak sempat menangkis dan mengelak, sambil menjerit kesakitan ia melompat minggir dengan luka di kakinya itu.
Segera ia membuang pedangnya dan berseru, “Pahlawan selalu timbul dari kalangan muda, tua bangka sudah tak berguna lagi! Aku terima mengaku kalah.”
Melihat ada kesempatan, Nio Cu-cin juga tidak mau ketinggalan, segera ia mendahului ayun pedang dan menebas ke pundak Ciok Boh-thian sambil membentak, “Kau bocah ini benar-benar tidak tahu aturan lagi, sampai-sampai Susiokco (kakek-guru muda) juga kau lukai?”
Ia cukup paham ilmu pedang yang dimainkan Ciok Boh-thian, maka hanya beberapa jurus saja ia sengaja memancing suatu serangan pemuda itu sehingga lengan kirinya terserempet pedang. Segera ia berteriak-teriak, “Wah, luar biasa! Hampir-hampir saja lenganku ini ditebas putus oleh anak ingusan ini.”
Menyusul Ce Cu-bian dan Liau Cu-le juga tidak kalah liciknya, berturut-turut mereka pun mencari suatu kesempatan dan membiarkan ujung golok Ciok Boh-thian melukai sedikit kulit badan mereka, lalu mengaku kalah dan mengundurkan diri.
Maklumlah bahwa Ciok Boh-thian memang tiada maksud menebas kutung lengan mereka sebagai diperintahkan oleh Su-popo tadi, pula ia tidak mengeluarkan kepandaiannya yang sejati, yang digunakan hanya sedikit ilmu pedang Swat-san-pay yang belum masak dilatihnya. Selain itu Seng Cu-hak berempat sebenarnya sangat lihai, hanya lantaran mereka sengaja mengalah, maka tidak sulit bagi mereka untuk memainkan kelicikannya. Coba kalau Ciok Boh-thian juga tidak bermaksud memenangkan mereka, tentu mereka pun tidak gampang pura-pura kalah.
Jadi pertandingan barusan ini lebih mirip dengan permainan anak kecil saja. Keruan Su-popo sangat mendongkol. Tapi ia pun tidak ambil pusing, dengan suara bengis ia lantas membentak, “Jadi kalian sudah dikalahkan oleh bocah ini, kalian sudah rela mengangkat dia sebagai ciangbunjin?”
Diam-diam Seng Cu-hak berempat membatin, “Kalau dia diangkat menjadi ketua, paling-paling kita hanya akan memperalat dia sebagai korban yang mewakilkan Swat-san-pay pergi ke Liong-bok-to, apanya yang membuat kita keberatan?”
Maka serentak mereka menjawab, “Ya, kedua sucia dari Liong-bok-to tadi sudah menetapkan syaratnya, kedudukan ciangbun harus direbut berdasarkan kepandaian masing-masing. Sekarang kami sudah kalah, ya, apa mau dikata lagi?”
“Jadi kalian benar-benar sudah takluk?” Su-popo menegas.
“Ya, takluk lahir batin tanpa syarat,” sahut mereka. Tapi diam-diam mereka berpikir, “Huh, jika kedua jahanam Liong-bok-to ini sudah pergi, bukankah Leng-siau-sia ini akan menjadi dunia kami pula? Hanya seorang nenek loyo dan seorang anak ingusan saja bisa berbuat apa?”
“Jika begitu mengapa kalian tidak lekas menyampaikan sembah bakti kepada Ciangbunjin dan mau tunggu kapan lagi?” ujar Su-popo dengan suara lantang.
Sebelum Seng Cu-hak berempat menjawab atau bertindak, tiba-tiba terdengar teriakan seorang di luar, “Siapa yang berani menduduki jabatan ketua Swat-san-pay?”
Itulah suaranya “Gi-han-se-pak” Pek Ban-kiam. Benar juga segera tertampak tokoh muda Swat-san-pay itu melangkah masuk dengan menyeret rantai borgol, di belakangnya mengikut beberapa puluh orang pula, semuanya juga terbelenggu. Di belakang Pek Ban-kiam kelihatan Kheng Ban-ciong, Kwa Ban-kin, Ong Ban-jim, Houyan Ban-sian, Bun Ban-hu, Ang Ban-ek, Hoa Ban-ci, dan anak murid Tiang-bun yang baru saja pulang dari Tionggoan.
Ketika melihat Su-popo juga berada di situ, segera Ban-kiam menyapa, “Engkau sudah pulang, ibu!”
Nadanya terdengar penuh rasa girang dan di luar dugaan.
Tadi waktu mendengar Hong Ban-li memanggil Su-popo sebagai ibu-guru, lapat-lapat Boh-thian sudah merasa nenek itu tentu adalah istri Pek Cu-cay, sekarang mendengar Pek Ban-kiam memanggilnya sebagai ibu, maka dugaannya itu terang tidak perlu disangsikan lagi. Hanya saja ia masih heran, “Jika suhuku adalah istri ketua Swat-san-pay, mengapa beliau mengaku pula sebagai ketua Kim-oh-pay, bahkan selalu mengatakan bahwa Kim-oh-pay merupakan bintang bencana bagi Swat-san-pay?”
Dalam pada itu dilihatnya si A Siu telah berlari ke depan Pek Ban-kiam dan menyapa, “Ayah!”
Tertampak Ban-kiam sangat girang, sahutnya dengan suara terputus-putus, “A Siu, kau, kau ternyata tidak... tidak mati?”
“Sudah tentu dia tidak mati!” sela Su-popo dengan mendengus. “Memangnya semua orang sedemikian tak becus semacam kau? Huh, hanya kau yang bermuka tebal yang masih berani memanggil ibu padaku! Hm, benar-benar tiada gunanya aku melahirkan anak goblok seperti kau. Orang tua sendiri telah dikurung orang, dirinya sendiri juga berhias besi-besi rombengan demikian, kau merasa senang ya dengan kejadian ini? Dasar telur busuk semua, huh, Swat-san-pay apa segala? Yang tua telur busuk, yang muda juga telur bau, semuanya telur kopyor. Rasanya lebih baik Swat-san-pay berganti nama menjadi Telur-busuk-pay saja.”
Pek Ban-kiam diam saja membiarkan ibunya mencaci maki sepuasnya, kemudian barulah ia berkata, “Bu, tertawannya anak bukanlah karena kepandaianku kalah tinggi daripada mereka, tapi kawanan pengkhianat ini telah menggunakan akal licik, dia... dia telah pura-pura menyaru sebagai ayah dan memasang perangkap di dalam selimut, lantaran itulah maka anak telah terjebak.”
“Dasar telur busuk kecil macam kau ini memang tidak pantas diberi hidup,” damprat Su-popo pula. “Kalau salah mengenali orang luar sih masih dapat dimengerti, masakah ayahnya sendiri juga salah mengenalnya, huh, apakah kau masih dapat dianggap sebagai manusia?”
Rupanya sejak kecil Ban-kiam sudah biasa dimaki dan dihajar sang ibu, maka sekarang ia pun anggap biasa meski dimaki habis-habisan di depan orang banyak. Yang terpikir olehnya hanya keselamatan ayahnya. Maka cepat ia tanya, “Bu, apakah ayah baik-baik saja?”
“Telur busuk tua itu mati atau hidup, sedangkan kau telur busuk kecil ini pun tidak tahu, dari mana lagi aku bisa tahu?” sahut Su-popo dengan gusar. “Daripada hidup membikin malu saja karena kena dikurung oleh sute-sutenya, ada lebih baik dia lekas mampus saja.”
Mendengar ucapan itu baru sekarang Ban-kiam merasa lega, ia tahu sang ayah cuma berada dalam tahanan kawanan pemberontak saja. Katanya segera, “Terima kasih kepada langit dan bumi bahwa ayah ternyata masih selamat.”
“Selamat kentut!” bentak Su-popo dengan gusar. Walaupun begitu katanya, namun dalam hati sesungguhnya ia pun memikirkan keselamatan sang suami. Segera ia berkata kepada Seng Cu-hak dan para sutenya, “Di mana kalian telah mengurung Toasuheng? Mengapa tidak lekas-lekas dikeluarkan?”
Seng Cu-hak menjawab, “Perangai Toasuheng sangat keras, siapa pun tidak berani mendekat padanya, kalau mendekat segera akan dibunuh olehnya.”
Terkilas rasa girang dan lega pada wajah Su-popo. Katanya kemudian, “Bagus, bagus! Dasar telur busuk tua itu selalu anggap ilmu silatnya nomor satu di dunia ini, sombongnya tidak kepalang. Sekarang biarlah dia mengalami sedikit penderitaan supaya tahu rasa.”
Agaknya Li Si menjadi tidak sabar mendengarkan caci maki yang tak habis-habis itu, akhirnya ia menimbrung, “Sesungguhnya yang manakah ketua Telur-busuk-pay itu?”
Sekonyong-konyong Su-popo melangkah maju, ia tuding Li Si dan mendamprat, “Istilah ‘Telur-busuk-pay’ masakah boleh diucapkan oleh telur busuk macam kau? Aku memaki lakiku dan anakku sendiri. Hm, kau ini kutu busuk jenis apa, berani kau ikut-ikut menghina Swat-san-pay kami?”
Semua orang menjadi kebat-kebit melihat Su-popo mendamprat Li Si dengan sikap sedemikian galak. Mereka pikir kalau sampai Li Si menjadi gusar dan menyerang, maka nenek itu pasti akan celaka. Maka dengan cepat Ciok Boh-thian lantas melompat maju dan mengadang di depan Su-popo, asal Li Si menyerang segera akan ditangkisnya.
Pek Ban-kiam sendiri masih terbelenggu, dia hanya mengeluh saja dan tak mampu berbuat apa-apa.
Di luar dugaan Li Si ternyata tidak marah, sebaliknya ia tersenyum dan berkata, “Baiklah, anggaplah aku telah salah omong, harap Pek-hujin memaafkan. Nah, sebenarnya siapakah ketua Swat-san-pay kalian!”
“Pemuda ini sudah mengalahkan para pengkhianat itu, mereka sudah mengangkatnya sebagai ketua Swat-san-pay, siapa lagi yang merasa tidak takluk?” jawab Su-popo sambil menuding Boh-thian.
“Anak tidak mau terima dan ingin bertanding dulu dengan dia!” seru Pek Ban-kiam.
“Bagus!” sahut Su-popo. “Hayo, buka semua belenggu mereka itu!”
Liau Cu-le menjadi ragu-ragu, ia saling pandang dengan Seng Cu-hak dan Nio Cu-cin. Pikir mereka, “Jika anak murid Tiang-bun ini dibebaskan, maka untuk mengatasi mereka tentu tidak gampang lagi. Padahal kita sudah mengadakan pemberontakan, perbuatan durhaka ini betapa pun tak bisa diampuni. Namun dalam keadaan sekarang ini mau tak mau mereka harus dilepaskan juga.”
Tapi sedapat mungkin Liau Cu-le mencari jalan lain, katanya, “Kau adalah jago yang sudah keok di bawah tanganku, sedangkan aku saja sudah takluk, berdasarkan apa kau berani membangkang?”
Ban-kiam menjadi gusar. Dampratnya, “Huh, kau pengkhianat yang durhaka ini, kalau bisa aku ingin mencincang tubuhmu hingga hancur luluh, hm, sebaliknya kau masih berani mengatakan aku adalah jago yang sudah keok di bawah tanganmu? Secara licik kau telah menjebak aku, sekarang tanpa malu-malu kau masih berani bicara?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar