Rabu, 21 Maret 2012

Medali Wasiat 1

Jilid 1

Kira2 dua belas li ditimur kota Khay-hong, ibukota propinsi Ho-lam terdapat sebuah kota ketjil bernama Hau-kam-tjip, suatu kota ketjil jang ramai dan makmur dalam lalu-lintas perdagangan.

Tatkala itu sudah mendjelang maghrib, para pedagang dan bakul2, tukang sajur, tukang daging dan lain2 sedang sibuk bebenah pikulan dan kerandjang mereka untuk pulang. Pada saat itulah sekonjong2 dari arah tenggara sajup2 terdengar suara derapan kaki kuda jang ramai.

Hau-kam-tjip memang suatu kota jang menempati djalan raja jang penting, kaum pedagang jang berlalu-lalang setiap hari sangat banjak, maka siapapun tiada jang ambil pusing djika ada orang berlalu dengan menunggang kuda.

Tapi dari arah suara derap kaki kuda jang makin mendekat itu dapat terdengar bahwa djumlah penunggang kuda itu ternjata adalah suatu rombongan besar, sedikitnja ada ratusan.

Baru sekarang penduduk Hau-kam-tjip mulai terkedjut dan heran. Dari suara derap kuda jang gemuruh itu njata sekali penunggang2nja sedang membalapkan binatang tunggangan mereka dengan tjepat.

“Besar kemungkinan adalah pasukan tentara pemerintah!” demikian orang ramai mempertjakapkan.

“Ja, lekas kita menjingkir,” ada jang menanggapi. “Mendingan kalau tjuma barang dagangan kita jang keterdjang dan rusak, lebih tjelaka kalau kita jang ter-indjak2 kuda, kan bisa runjam!”

Mendadak diantara suara gemuruh derap kuda itu terseling pula suara2 suitan, bahkan suara2 suitan itu sahut-menjahut dari berbagai djurusan. Ternjata segenap pendjuru Hau-kam-tjip itu sudah terkepung dengan rapat.

Kembali semua orang terperandjat. Bagi orang2 jang berpengalaman lebih luas lantas timbul kesangsian: “Wah, djangan2 adalah kaum bandit?”

Seorang pegawai toko kelontong bermerek “Ho An” ditepi djalan itu telah berkata: “Wah, tjelaka! Mungkin saudara2 tua kita itu jang datang!”

Ong-tjiangkui, si djuragan toko memangnja sedang gemetar ketakutan, sekarang mendengar pegawainja bermulut tjerewet, kontak ia mengangkat sebelah tangannja dengan gaja hendak menabok, sambil membentak: “Kurang adjar! Bitjara sadja tidak tahu aturan. Kalau benar tuan2 besar dari golongan itu jang datang, hm, tentu… tentu kau bisa mampus. Padahal djarang terdengar ada orang melakukan pekerdjaan begitu disiang hari bolong? Wah, ini… ini memang agak aneh….”

Belum selesai utjapannja ia mendjadi melongo dan tidak sanggup meneruskan lagi, sebab saat itu dari djurusan timur ada empat-lima penunggang kuda sedang menerdjang tiba. Penunggang2 kuda itu seluruhnja berbadju hitam mulus, kepala memakai tjaping dan semuanja bersendjata golok mengkilap.

“Wahai, dengarkan segenap penduduk! Hendaklah setiap orang tetap tinggal ditempatnja masing2, kalau berani sembarangan bergerak, djangan menjesalkan sendjata kami jang tak bermata ini!” demikian penunggang2 kuda itu ber-teriak2. Sambil mem-bentak2 terus melarikan kuda mereka kedjurusan barat.

Tapal kuda mereka jang beradu dengan djalan jang berlapiskan balok2 batu menimbulkan suara “ketuprak-ketuprak” telah menggetarkan perasaan setiap orang.

Belum lenjap suara derap kuda2 itu, kembali dari djurusan barat menerdjang datang tudjuh-delapan penunggang kuda jang lain, semuanja djuga berbadju hitam dan memakai tjaping jang setengah menutupi muka mereka sehingga tidak djelas terlihat.

Orang2 inipun mem-bentak2 agar setiap orang tetap tinggal ditempatnja masing2 kalau tidak ingin berkenalan dengan sendjata mereka jang tadjam.

Dasar tjerewet dan usilan, kembali sipegawai toko kelontong tadi mengotjeh, “Ha, entah bagaimana rasanja golok mereka, kan lebih enak makan….”

Belum habis utjapannja, se-konjong2 salah seorang penunggang kuda itu mengajun tjambuknja, “tarrr”, udjung tjambuk menjambar masuk kedalam toko dan dengan tjepat melilit dileher sipegawai, ketika orang itu menarik tjambuknja jang pandjang itu, “bluk”, kontan sipegawai toko kelontong jang sialan itu terbanting ke-tengah2 djalan raja.

Waktu penunggang kuda itu mentjongklangkan kudanja, seketika sipegawai ikut terseret kedepan. Lebih tjelaka lagi dari belakang telah menjusul tiba penunggang2 kuda jang lain. Maka terdengarlah suara djerit ngeri sipegawai toko tadi, seketika melajanglah djiwanja ter-indjak2 oleh kaki kuda.

Melihat betapa djahat dan kedjamnja kawanan berandal itu, tentu sadja penduduk2 jang lain tidak berani berkutik. Jang tadinja bermaksud tjepat2 menutup pintu djuga urung dan serasa terpaku ditempatnja masing2 dengan badan gemetar.

Terpisah kira2 belasan rumah dari toko kelontong bermerek “Ho An” itu adalah sebuah kedai pendjual penganan sebangsa Yutjiakue, untir2, siopia dan lain2. Sebuah wadjan besar dengan minjak jang mendidih mengeluarkan suara gemertjik. Diatas saringan minjak dari ajaman kawat diatas wadjan itu terdapat beberapa londjor Yutjiakue jang masih panas.

Pendjual penganan itu adalah seorang kakek jang bungkuk. Kalau orang lain merasa ber-debar2 dan ketakutan oleh apa jang terdjadi saat itu, adalah sikakek ternjata tidak ambil pusing, dianggapnja seperti tidak melihat sadja.

Sikakek sedang sibuk mengolah barang dagangannja, sedang membuat siopia. Mula2 ia menaruh sedikit radjangan berambang diatas adonan tepungnja, lalu adonan itu dikepalnja dan dipentjet dengan kedua telapak tangan sehingga berbentuk bundar gepeng, kemudian ia mentjomot sedikit widjen dari sebuah mangkuk jang terletak diudjung papan adonam tepung dan ditaburkan diatas kepingan siopia jang belum masak itu. Achirnja ditaruh diatas alat panggang terus dimasukkan kedalam anglo garangan.

Saat itu suara2 suitan tadi sudah mereda, suara derap kuda djuga tak terdengar lagi. Suasana kota Hau-kam-tjip jang berpenduduk hampir ribuan djiwa itu berubah mendjadi sunji senjap laksana kuburan. Ditengah suasana prihatin itu jang masih terdengar hanja suara “prak-prak-prak”, suara derap sepatu kulit jang memukul lantai sedang mendekat dari djurusan barat menjusul sepandjang djalan raja.

Dari suara tindakan itu, agaknja orang itu berdjalan dengan sangat pelahan, suara derap sepatu kulitnja jang berat itu dirasakan se-akan2 menggetarkan perasaan setiap penduduk kota.

Suara langkan orang itu makin lama makin mendekat. Tatkala itu sang surja baru sadja akan terbenam diufuk barat, suatu bajangan orang jang djangkung tampak tersorot ditengah djalan besar dan makin mendekat mengikuti suara tindakan kaki.

Setiap orang didjalanan Hau-kam-tjip itu seolah-olah sudah terkesima ketakutan. Hanja sikakek pendjual penganan tadi masih tetap sibuk membuat siopia.

Anehnja, suara derap sepatu kulit setiba didepan tempat pendjual siopia itu mendadak lantas berhenti. Orang itu mengamat-amati sikakek pendjual siopia dari atas kebawah dan dari udjung kaki sampai keudjung rambut. Habis itu se-konjong2 ia tertawa dingin ter-kekeh2.

Pelahan2 si kakek pendjual siopia mengangkat kepalanja, dilihatnja orang itu berbadan sangat tinggi, usianja antara 45-46 tahun, mukanja buruk, kulit mukanja seperti kulit djeruk jang kasar dan penuh kukul, kedua matanja ketjil, tapi bersinar.

“Apa mau beli siopia, tuan? Satu pitjis satu bidji,” kata si kakek. Lalu ia menggunakan tjapit besi dan mengeluarkan sebuah siopia dari dalam anglo jang masih panas dan ditaruh diatas medja.

Kembali sidjangkung bermuka djelek itu tertawa dingin, tiba2 ia mendjulurkan tangannja dan berseru: “Mana? Berikan!”

Sikakek mengiakan, lalu siopia jang masih panas itu diambilnja dna ditaruh kedalam tangan sidjangkung. “Kurang adjar! Sampai saat ini kau masih tjoba mempermainkan tuan-besarmu!” bentak sidjangkung dengan alis menegak gusar dan mendadak siopia itu terus disambitkan kemuka sikakek.

Dari sambaran angin jang terbawa oleh siopia itu djelas sekali tenaga sambitan sidjangkung ternjata sangat kuat, kalau muka sampai terkena sambaran itu pasti akan terluka parah.

Tapi sikakek dengan sedikit miringkan kepalanja, dengan tepat siopia itu telah menjambar lewat disisi mukanja. Plok, siopia itu djatuh ditepi selokan dipinggir djalan.

Dalam pada itu setelah menjambitkan siopia, menjusul sidjangkung lantas melolos keluar sepasang sendjata Siang-kau (gaetan), udjung sendjata jang melengkung tadjam itu mengeluarkan sinar gemerlapan.

“Dalam keadaan demikian masih tidak kau serahkan, memangnja apa kau kira djiwamu dapat diselamatkan? Orang she Go, sebenarnja kau bisa melihat gelagat atau tidak?” demikian bentak sidjangkung pula.

Tapi dengan setengan memitjingkan matanja, sikakek pendjual siopia mendjawab: “Sudah lama kudengar An-tjetju dari Kim-to-tje suka merampas jang kaja untuk menolong jang miskin, setiap orang Kangouw jang menjebut nama An-tjetju tentu akan mengatjungkan djempol mereka dan berkata: “Ja, seorang begal budiman!” – Tapi entah mengapa hari ini Siauliaulo (anak buah kaum begal, kerotjo) jang dia kirim ke Hau-kam-tjip ini telah sudi mengintjar kepada seorang kakek miskin pendjual siopia?” – Tjara bitjaranja seperti pelahan dan lemah, tapi apa jang dikatakannja itu terdengan tjukup djelas.

Sebaliknja sidjangkung tambah gusar ketika mendengar dirinja dianggap sebagai “kaum kerotjo” sadja. Segera ia membentak pula: “Go To-it, kau tidak perlu berlagak-pilon. Katakanlah terus terang sadja, apa kau benar2 tidak mau menjerahkan?”

Sikakek terkesiap djuga, karena orang dapat mengatakan dengan djitu nama aselinja. Diam2 ia harus mengakui tadjamnja telinga Kim-to-tje. Namun dia masih tetap berlagak seperti tiada terdjadi apa-apa, dengan sikap ke-malas2an ia mendjawab: “Saudara membawa Siang-kau, tentu adalah Tiat-kau-tju Thio… Thio Tay-goan dari Kim-to-tje!”

Padahal sidjangkung bernama Li Tay-goan, orang memberi djulukan “Sin-kau” (Si Kait Sakti) padanja. Tapi sekarang Go To-it, jaitu sikakek pendjual siopia, sengadja mengganti dia punja she, bahkan Si Kait Sakti sengadja disebut sebagai Tiat-kau-tju atau Si Kait Besi jang penuh mengandung maksud edjekan. Keruan ia tidak tahan lagi. Mendadak kaitan kiri bergerak, terus sadja menggantju kepundak Go To-it.

Tjepat Go To-it mengegos kekanan sehingga kaitan Li Tay-goan mengenai tempat kosong. Namun serangan Li Tay-goan itu ternjata masih membawa serangan susulan jang sangat liehay. Ketika kaitan diseret kesamping terus ditarik, kembali punggung Go To-it hendak digait.

Se-konjong2 Go To-it mendakkan tubuh sehingga kaitan itu menjambar lewat diatas kepalanja, menjusul kakinja lantas menendang, tapi bukan Li Tay-goan jang diarah, sebaliknja menendang anglo sehingga bara arang jang masih menjala itu berhamburan ketubuh Li Tay-goan, berbareng sewadjan penuh minjak mendidih jang sedang dibuat menggoreng yutjiakue tadi djuga menjiram keatas kepalanja.

Keruan Li Tay-goan terkedjut, buru2 ia melompat mundur hingga taburan bara arang dapat terhindar, tapi susah menghindarkan muntjratnja minjak mendidih. Ia mengaduh kesakitan karena kedua kakinja telah tersiram minjak mendidih itu.

Kesempatan itu telah digunakan oleh Go To-it untuk melontjat keatas, sebagai burung ia mengapung keatas wuwungan rumah didepan sana dengan tangan tetap memegang djepit besi alat panggang siopia tadi.

Dan baru sadja Go To-it sempat berdiri diatas wuwungan, mendadak sinar tadjam berkilau, kepalanja sudah terantjam oleh batjokan golok. Tjepat Go To-it menangkis dengan djapit besi. “Trang!” lelatu api meletik. Ternjata djepit besi jang hangus tak menarik itu sebenarnja buatan dari badja murni sehingga golok musuh tertangkis kembali.

Pada saat jang hampir sama dari sebelah kiri sebatang tumbak pendek dan dari sisi kanan sepasang golok berbareng djuga menjerang tiba.

“Hm, tidak tahu malu, main kerubut!” djengek Go To-it. Waktu tubuhnja sudah menegak, tahu2 kedua tangannja masing2 sudah memegang sebelah tangkai djapit besi, jang kiri dibuat menangkis tumbak dan jang kanan dipakai menahan sepasang golok musuh. Njata dia telah pisahkan djapit besi itu sehingga sekarang berbentuk sepasang Boan-koan-pit.

Ketiga orang pengerubut itupun berpakaian hitam mulus, mereka mendjadi kaget ketika mendadak melihat tubuh Go To-it menegak, seorang kakek jang bungkuk tahu2 sekarang telah berubah mendjadi seorang jang berperawakan tegap kuat.

Dengan memutar sepasang Boan-koan-pit itu selalu Go To-it mengintjar Hiat-to lawannja, walaupun satu dikerojok tida, tapi ia masih tetap diatas angin.

“Kena!” mendadak Go To-it menggertak. Menjusul terdengar lawannja jang memakai tumbak telah mendjerit, kaki kiri terkena tusukan Boan-koan-pit dan segera terperosot kebawah rumah.

Dalam pada itu diatas wuwungan rumah sebelah sana tampak berdiri seorang tua kurus ketjil, dengan kedua tangan bertolak pinggang, orang tua itu sedang mengawasi pertarungan ketiga orang.

Ditengah berkelebatnja sinar berkilau, “trang!”, sendjata sipemakai golok telah tersampuk djatuh oleh Boan-koan-pit jang dihantamkan Go To-it, menjusul dada orang itupun terdepak sehingga terdjungkal kebawah rumah.

Sekarang lawan Go To-it tertinggal sipemakai sepasang golok sadja jang mendjadi djeri karena kedua kawannja ber-turut2 telah dirobohkan Go To-it. Tapi ia masih tidak mau mengaku kalah dan mengundurkan diri, ia putar kedua batang goloknja sebagai kitiran tjepatnja, ia melindungi tempat2 berbahaja diseluruh badannja, ia hanja mendjaga diri dan tidak menjerang.

Maka sikakek kurus ketjil jang sedjak tadi hanja menonton sadja sekarang lantas mendekati mereka, makin lama makin mendekat. Saat itu sendjata Go To-it dan lawannja sedang diputar se-kentjang2nja, asal salah seorang tersambar sendjata itu tentu akan binasa atau sedikitnja terluka parah. Tapi sikakek kurus ketjil itu djusteru anggap sepi sadja akan hal itu, ia masih terus melangkah kedepan dan makin mendekati kedua orang jang sedang mengadu djiwa itu.

“Awas, Susiok!” teriak si pemakai sepasang golok. Saat itu dia sedang membabat dengan sendjatanja dan karena tidak sempat ditahan lagi, maka goloknja telah menabas kepundak sikakek.

Namun sikakek kurus ketjil sama sekali tidak berkelit, tangan kanannja mendadak terangkat, dengan kedua djari tangan ia tahan keatas batang golok. Begitu kuat daja tekanan itu sehingga orang itu tidak sanggup memegang sendjatanja lagi, tahu2 goloknja terlepas dan terbang ketengah djalan raja dibawah sana.

Tentu sadja orang itu mendjadi gugup karena sebelah goloknja terlepas. Kesempatan itu tidak di-sia2kan oleh Go To-it, sebelah Boan-koan-pitnja kontan mendjudju kedepan untuk menutuk perut lawannja.

Tak disangka sikakek kurus ketjil mendadak mendjulurkan sebelah tangannja lagi keatas pundak sipemakai golok, sekali tarik setjepat kilat orang itu telah ditarik mundur kebelakangnja. Berbareng djari kanannja lantas mentjolek mata kiri Go To-it.

Serangan balasan ini tjepatnja tak terkatakan. Padahal Go To-it djelas melihat perut sipemakai golok tadi pasti akan tertutuk oleh Boan-koan-pitnja. Siapa duga mendadak lawan telah membarengi dengan serangan jang kedji itu, untuk menjelamatkan bidji matanja sendiri terpaksa ia menarik kembali sendjatanja untuk memukul tangan sikakek.

Tapi hanja sedikit serongkan djarinja sikakek sudah mengelakkan hantaman sendjata lawan, malahan djarinja lantas berganti sasaran dan mengarah tenggorokan Go To-it.

Tjepat To-it melompat mundur. Tak terduga sikakek djuga lantas mendesak madju dan kembali djarinja menutuk kembali keperutnja.

Sebagai pemain Boan-koan-pit, dengan sendirinja Go To-it adalah ahli Tiam-hiat, ahli menutuk djalan darah. Ia lihat tjara menutuk lawan itu tidak diarahkan kepada bagian Hiat-to tertentu, tapi asal kena sadja. Walaupun demikian Go To-it djuga tidak berani membiarkan tubuhnja tertutuk. Mendadak Boan-koan-pit sebelah kanan memutar balik terus mengepruk keatas kepala sikakek.

Tak terduga sikakek malah menerdjang madju sehingga hampir2 menubruk kedalam pelukan Go To-it. Dan karena terdjangan itu dengan sendirinja serangan Go To-it itu sudah terhindar, bahkan kedua tangannja mendjulur sekaligus untuk mentjakar dada Go To-it.

Perawakan Go To-it tinggi besar, sebaliknja tinggi sikakek hanja sebatas lehernja. Namun ilmu silat sikakek ternjata sangat ganas, biarpun dengan bertangan kosong ia terus menubruk dan mendesak madju. Ketika mendadak Go To-it merasa musuh sudah berada didepan dadanja, dalam kagetnja tjepat ia melompat mundur, namun tidak urung badjunja sudah tertjakar, “bret!”, badjunja robek sepotong.

Seketika Go To-it merasa perutnja silir2 dingin, dalam seribu gugupnja ia tidak sempat memeriksa apakah tubuhnja sudah terluka atau tidak, tapi segera ia putar balik sepasang Boan-koan-pit terus mengetok ke “Thay-yang-hiat”, jaitu kedua pelipis si kakek.

Sungguh aneh, kembali sikakek tidak berkelit, djuga tidak menangkis, tapi lagi2 orangnja menerdjang kedepan dan dengan telak kedua tangannja menghantam didada Go To-it. Maka terdengarlah suara “krakkk!”, entah berapa ladjur tulang iga telah dipatahkan, kontak Go To-it terguling kebawah rumah.

Dibawah sana masih menggeletak Li Tay-goan jang kedua kakinja melepuh tersiram minjak mendidih tadi, memangnja dia sudah murka, soalnja kedua kakinja terluka parah dan tidak leluasa untuk melompat keatas wuwungan rumah buat melabrak musuh. Pula ia kenal watak Tjiu Bok, jaitu nama sikakek kurus ketjil, jang tinggi hati dan angkuh, sekali dia sudah turun tangan, maka dia tidak suka kalau orang lain ikut membantunja. Sebab itulah Li Tay-goan hanja mendongak keatas untuk mengikuti pertarungan kedua orang.

Waktu Go To-it terdjungkal kebawah, tanpa ajal lagi Li Tay-goan lantas melompat madju, dengan kalap kedua sendjata kaitnja lantas menikam ke perut Go To-it. Saking senangnja karena rasa dongkolnja terlampias, kembali ia mendongak dan tertawa pandjang.

“Djangan dibunuh!” demikian mestinja Tjiu Bok telah mentjegahnja, tapi toh agak terlambat, kedua kaitan besi Li Tay-goan sudah bersarang didalam perut Go To-it dan sudah tentu djiwanja melajang.

Tapi se-konjong2 bajangan orang berkelebat, menjusul terdengar Li Tay-goan mendjerit ngeri, ia ter-hujung2 mundur beberapa tindak, tahu2 bagian kedua tetek didadanja sudah tertantjap sepasang Boan-koan-pit jang menembus sampai punggungnja, darah mengutjur keluar sebagai mata air dari lubang keempat luka itu. Dan sesudah sempojongan beberapa kali, achirnja Li Tay-goan roboh terkulai.

Kiranja Go To-it tidak rela mati konjol begitu sadja, tapi sebelum adjalnja ia masih balas menjerang sekuatnja. Dan karena tidak ter-duga2, tanpa ampun lagi dada Li Tay-goan telah tertusuk tembus oleh sepasang Boan-koan-pit.

Tjiu Bok, sikakek kurus ketjil itu, sama sekali tak ambil pusing akan mati-hidupnja Li Tay-goan. Sebaliknja dengan air muka menghina ia mendekati Go To-it, ia djambret tubuh orang she Go itu, tapi diketahuinja napasnja djuga sudah berhenti.

Dengan mengerut kening Tjiu Bok membanting tubuh Go To-it ketanah sambil membentak: “Tjopot pakaiannja dan geledah!”

Beberapa anak buahnja mengiakan dan segera mulai melepaskan badju Go To-it. Maka tertampaklah dibagian punggung jang tertutup badju itu terdapat sebuah bantalan. Kiranja bungkuk Go To-it itu adalah buatan belaka jang digandjal dengan bantalan itu.

Segera dua lelaki berbadju hitam dengan tjepat membongkar bantalan itu. Ternjata didalam bantalan terdapat bungkusan pula dan tiap2 lapis dibungkus dengan kain minjak. Setiap kali bungkusan itu dilepaskan, setiap kali pula air muka Tjiu Bok bertambah girang, diam2 ia bersorak didalam hati: “Ini dia! Disini! Ini dia!”

Sesudah belasan lapisan kain minjak itu dibuka, bungkusan itu makin lama makin ketjil dan achirnja hanja tinggal satu potong jang tjuma belasan senti persegi.

Tjiu Bok lantas sambar bungkusan ketjil itu dari tangan anak buahnja sam bil berkata: “Sudahlah, hanja tipu belaka, tidak perlu dibuka lagi! Lekas geledah sadja kedalam rumah, periksalah jang teliti!”

Serentak belasan laki2 berbadju hitam mengiakan dan beramai-ramai masuk kedalam rumah.

Kedai siopia itu tidak lebih hanja terdiri dari dua kamar sadja. Sekaligus dimasuki belasan orang, keadaan mendjadi penuh sesak. Maka terdengarlah suara gemerentjang dan gemertak jang ramai, suara terlempar dan diobrak-abriknja mangkok, piring, medja, kursi, dan alat2 perabot lainnja.

Sedang Tjiu Bok masih terus berseru: “Periksalah jang teliti, setiap tempat harus digeledah, djangan sampai terlalui!”

Begitulah sampai lama sekali belasan lelaki itu menggeledah, achirnja haripun sudah gelap, segera mereka menjalakan obor dan masih terus menggeledah, sampai2 dinding kedai siopia itu, bahkan dapurnja djuga dibongkar. “Brang!”, mendadak sebuah gentong terlempar ketengah djalan raja dan petjah berantakan, isinja adalah tepung trigu jang bertebaran memenuhi djalan….

Ditengah tjuatja sendja jang remang2 itulah tiba2 dari podjik djalan sana mendjulur sebuah tangan ketjil dan setjara hati2 siopia jang djatuh ditepi selokan tadi diambilnja, lalu tangan itu pelahan2 ditarik kembali.

Itulah tangan seorang pengemis ketjil berusia antara 12-13 tahun. Sudah seharian dia kelaparan dan tidak memperoleh sedekah apa-apa, dengan badan lemas sedjak tadi dia duduk mendoprok dipodjok rumah sana.

Tadi waktu Li Tay-goan menimpukkan siopia jang diterimanja dari Go To-it sehingga siopia itu djatuh ditepi selokan, sedjak itulah pandangan mata sipengemis ketjil itu tidak pernah meninggalkan sepotong penganan itu. Sudah sedari tadi dia sangat ingin mengambil siopia itu untuk dimakan, tapi dia tidak berani berkutik karena takut kepada kawanan laki2 berbadju hitam jang tampaknja galak dan djahat2 itu. Malahan djenazah sipegawai toko kelontong Ho An jang tjeriwis itu menggeletak dekat dengan siopia jang diintjarnja itu. Bahkan kemudian majat2 Go To-it dan Li Tay-goan djuga terkulai tidak djauh dari tempat siopia itu berada.

Baru kemudian sesudah tjuatja mendjadi gelap dan tjahaja obor tidak mentjapai tepi selokan itu, achirnja sipengemis ketjil berani mengulur tangannja untuk menggerajangi siopia itu.

Saking laparnja, sipengemis ketjil tidak ambil peduli apakah siopia itu kotor atau tidak, dengan segera ia menggeragoti pelahan segigitan dan dikulum didalam mulut, ternjata dia tidak berani mengunjah, kuatir kalau mulutnja mengunjah, tentu akan mengeluarkan suara pelahan, hal ini mungkin akan didengar oleh laki2 berbadju hitam jang galak dan bersendjata itu dan bukan mustahil akan mendatangkan malapetakan baginja.

Dari sebab itu siopia jang telah digigitnja itu tetap dikulum didalam mulut sadja, walaupun tidak sampai ditelan kedalam perut, tapi rasa laparnja se-olah2 sudah agak berkurang.

Dalam pada itu kawanan laki2 berbadju hitam itu sudah sekian lamanja mengobrak-abrik segenap isi kedai siopia tadi, sampai2 ubin kedai itupun tidak ketinggalan didjugil dan diperiksa, tapi hasilnja tetap nihil.

Melihat tiada sesuatu jang dapat diketemukan lagi, achirnja sikakek kurus ketjil telah berseru: “Sudahlah, berhenti sadja, tarik pulang semua!”

Maka terdengar pula suara suitan sahut-menjahut disana-sini disusul dengan derap lari kuda jang riuh ramai, kawanan perusuhitu sudah meninggalkan Hau-kam-tjip. Achirnja beberapa laki2 jang mengerubut Go To-it tadi menaikkan djenazah Li Tay-goan an ditaruh melintang diatas kuda, lalu merekapun menghilang dalam waktu singkat.

Sampai suara derap lari kuda achirnja sudah tak terdengar lagi, kemudian penduduk Hau-kam-tjip baru berani keluar dari tempat sembunji masing2, tapi kuatir kalau2 kawanan bandit itu akan datang kembali, maka tjara bitjara merekapun tidak berani keras2. Tjepat2 tauke toko kelontong dan seorang pegawai jang lain menjeret djenazah kawan mereka kedalam rumah, lalu menutup papan pintu toko untuk selandjutnja tidak berani keluar lagi.

Maka terdengarlah suara gedebrakan disana-sini, suara pintu ditutup tjepat2. Hanja sebentar sadja suasana kembali sunji pula, didjalan kota itu tidak nampak bajangan seorangpun.

Hanja tertinggal sipengemis ketjil tadi masih meringkuk dipodjok rumah sana. Ketika dilihatnja majat Go To-it masih menggeletak disitu dan tiada seorang pun jang mengurusnja, hati sidjembel tjilik itu mendjadi takut. Pelahan2 ia mengunjah beberapa kali siopia jang masih terkulum didalam mulut itu dan tjepat ditelannja. Dan baru sadja dia hendak menggigit sisa siopia jang masih dipegangnja itu, tiba2 dilihatnja majat Go To-it bergerak pelahan.

Keruan kaget sipengemis tjilik itu bukan buatan. Ia tjoba kutjek2 matanja sendiri, ketika ia memandang lagi, ternjata majat itu sudah terduduk.

Sipengemis ketjil mendjadi terkesima saking takutnja. Dia pernah mendengar tjerita tentang majat hidup, maka hatinja mendjadi berguntjang hebat. Tiba2 dilihatnja majat Go To-it itu mulai berbangkit dan achirnja berdiri tegak. Saking tegang dan takutnja gigi sidjembel tjilik sampai mengeluarkan suara berkeretukan.

Rupanja suara kertukan itu dapat didengar majat hidup itu, maka majat itu telah berpaling. Untung sidjembel tjilik meringkuk dibalik podjok rumah sehingga tak terlihat oleh majat hidup.

Saat itu rembulan muda mulai memantjarkan sinarnja jang remang2 sehingga sipengemis ketjil dapat melihat dengan djelas muka majat hidup itu, dari udjung mulutnja tampak mengutjurkan darah, dua batang kaitan masih menantjap didalam perutnja. Dengan se-kuat2nja sipengemis menggigit kentjang2 giginja supaja tidak mengeluarkan suara berkertukan.

Dilihatnja majat hidup itu tiba2 berdjongkok, tangannja me-raba2 diatas tanah, ketika sebuah siopia terpegang, ia penjet2 siopia itu dan dipetjah, tapi lantas dibuangnja, lalu tangannja meng-gagap2 pula, ketika sebuah siopia ditemukan lagi, namun setelah dirobek segera dibuangnja djuga.

Sungguh takut sipengemis tjilik tidak kepalang, hatinja berdebar keras se-akan2 melontjat keluar dari rongga dadanja. Dilihatnja majat hidup itu masih terus me-raba2 diatas tanah, barang2 lain jang terpegang olehnja tidak diperhatikan, hanja kalau siopia segera dipetjah mendjadi dua, lalu dibuang. Sambil me-raba2, lambat-laun majat hidup itu telah mendekati tepi selokan.

Sudah tentu sidjembel tjilik tambah takut. Ada maksudnja hendak melarikan diri, tapi sekudjur badan serasa lemas semua, sepasang kakinja seperti terpaku diatas tanah, sedikitpun tidak sanggup bergerak.

Gerak-gerik majat hidup itu sangat lamban, maka telah makan waktu sekian lamanja setelah belasan buah siopia dirusak olehnja. Dan karena tiada menemukan siopia lain pula diatas tanah, pelahan2 majat hidup itu menoleh seperti hendak mentjari siopia lagi.

Se-konjong2 sipengemis ketjil mendjadi kaget ketika melihat bajangannja sendiri tersorot oleh sinar bulan dan terletak disamping kaki majat hidup itu. Waktu dilihatnja kaki majat hidup kembali bergerak kedepan, entah darimana datangnja tenaga, mendadak ia berteriak keras sekali, lalu melarikan diri.

Mungkin majat hidup itu djuga kaget oleh djerita sipengemis tjilik, ia tertegun sedjenak, tapi segera iapun berseru: “Siopia! Siopia!” – lalu ia menguber kearah sidjembel tjilik.

Saking gugupnja sipengemis keserimpet larinja sehingga djatuh tersungkur. Kesempatan itu segera digunakan majat hidup untuk menangkapnja. Tapi setjepat kilat sipengemis menggelinding kesamping sehingga majat hidup menubruk tempat kosong. Lalu sidjembel berlari lagi lebih tjepat.

Karena gerak-geriknja agak lamban, maka sesudah sekian lamanja barulah majat hidup itu dapat berdiri tegak lagi. Namun dia berkaki pandjang dan berlangkah lebar, biarpun dengan agak sempojongan, hanja belasan tindak sadja kembali ia sudah menjusul sampai dibelakang sidjembel tjilik.

Waktu itu ditepi djalan terdapat sebatang pohon besar. Tiba2 sidjembel tjilik teringat kepada tjerita orang, katanja majat hidup tidak dapat membelok, asal orang jang dikedjar majat hidup berputar disekitar pohon, maka susahlah majat hidup hendak menangkapnja.

Karena pikiran itu segera sidjembel tjilik hendak membelok kebelakgn pohon, namun sudah terlambat sedikit tahu2 tengkuknja teras ditjengkeram orang, lalu tubuhnja terangkat keatas.

“Kau……… kau telah mentjuri aku punja siopia?” tanja majat hidup itu.

Dalam keadaan demikian sudah tentu sidjembel tjilik tak berani menjangkal, terpaksa ia mengangguk.

“Dan sio…….. siopia itu sudah ………. Sudah kau makan?” majat hidup itu bertanja pula dengan suara lemah. Kembali sidjembel tjilik mengangguk.

“Bret!” mendadak majat hidup itu menarik badju sidjembel sehingga robek dan kelihatan perutnja.

Djelek2 badju kapas jang rombeng itu merupakan milik satu2nja sidjembel dan telah dipakai seluruhnja, sekarang ternjata dirobek begitu sadja, keruan ia merasa sangat sajang dan hampir2 sadja ia menangis kalau tidak dalam keadaan ketakutan.

“Akan kubelih perutmu dan mengoreknja keluar!” demikian terdengar majat hidup itu berkata.

Hampir2 sadja sukma sidjembel tjilik meninggalkan raganja saking takutnja. Dengan suara gemetar ia berkata: “Aku………. Aku hanja menggigitnja sedikit.”

Tapi saking takutnja, suaranja hampir2 tak terdengar. Dalam keadaan ketakutan benaknja djuga tidak pernah terkilas pikiran mengapa majat hidup dapat bitjara?

Sudah tentu tak diketahuinja bahwa sesudah dada Go To-it kena hantaman sikakek kurus ketjil sehingga tulang iga patah beberapa buah ditambah lagi perutnja tertusuk oleh sepasang kaitan Li Tay-goan, seketika napasnja berhenti dan roboh tak sadarkan diri. Tapi lambat-laun ia telah siuman kembali.

Walaupun perut merupakan tempat jang mematikan, tapi luka parah itu seketika tidak membuat Go To-it lantas binasa. Bahkan dalam benak Go To-it selalu teringat kepada sesuatu benda, maka begitu dia siuman dan mengetahui orang2 Kim-to-tje sudah pergi semua, dengan mengesampingkan luka didada dan diperutnja jang parah, lebih dulu ia lantas berusaha mentjari benda jang telah disembunjikannja didalam siopia itu.

Kiranja ia menjamar sebagai pendjual siopia dan menetap di Hau-kam-tjip, maksud tudjuannja jalah ingin menjelamatkan benda itu dari pentjarian musuh dan selama tiga tahun dia telah hidup aman tenteram ditempatnja ini. Tiada seorangpun dari penduduk Hau-kam-tjip menaruh perhatian kepada seorang kakek bungkuk pendjual siopia, maka tiada jang tahu bahwa sebenarnja dia tidak bungkuk djuga belum tua, bahkan bukan seorang pendjual siopia.

Ketika terdengar suara suitan jang ramai dan ratusan penunggang kuda telah mengepung rapat Hau-kam-tjip, maka tahulah Go To-it bahwa djedjaknja achirnja telah ketahuan. Dalam keadan ter-buru2 ia tidak sempat mentjari tempat lain jang baik dan terpaksa menjembunjikan benda mestika itu didalam siopia. Waktu Li Tay-goan menjodorkan tangannja ingin minta benda itu padanja, terpaksa Go To-it bersepekulasi dan menaruh siopia itu ditangan Li Tay-goan, dan benar djuga seperti apa jang diduganja, dalam gusarnja Li Tay-goan lantas melemparkan siopia itu.

Sesudah siuman dari lukanja jang parah Go To-it tidak dapat membedakan lagi siopia mana jang terdapat benda mestika itu. Terpaksa ia mentjarinja satu-persatu dan memetjahkan siopia2 itu untuk mentjarinja. Achirnja dilihatnja pula sipengemis itu. Tiba2 terpikir olehnja bukan mustahil siopia bersama benda mestika itu telah ditelan semua kedalam perut sidjembel tjilik jang kelaparan itu, maka tjepat ia menangkapnja dan hendak membelih perutnja untuk mentjari benda mestikanja.

Namun tiada sendjata tadjam jang dapat dipakai membelah perut, tiba2 ia menggertak gigi terus mentjabut sebuah kaitan besi jang menantjap diperutnja sendiri itu, dengan kaitan jang tadjam itu segera hendak dipakainja untuk menjembelih sipengemis tjilik. Tapi begitu kaitan besi itu tertjabut keluar, seketika perutnja terasa kesakitan dan darah menjembur keluar dari lukanja, belum lagi kaitan itu sempat ditusukkan atau tangannja sudah terasa lemas dan pengemis tjilik itu terlepas dari tjekalannja. Sedetik kemudian Go To-it merasa badannja mendjadi lemas, ia djatuh terkapar dan sesudah kedjat2 beberapa kali, achirnja mati sungguh2.

Sipengemis tjilik sesudah terlepas dari tjengkeraman Go To-it, sekuatnja ia merangkak bangun dan segera berlari seperti kesetanan. Akan tetapi ia benar2 terlalu takut, maka tjuma beberapa langkah sadja dia tidak sanggup berlari lagi, kakinja terasa lemas dan achirnja djatuh terguling dan tak ingat diri pula. Namun tangannja masih tetap menggenggam siopia jang tadi baru digeragotnja satu kali itu.

Sinar rembulan jang remang2 itu menerangi djenazah Go To-it dan lambat laun menggeser sampai diatas badan sipengemis tjilik. Dalam pada itu dari arah tenggara sana sajup2 terdengar suara derapan kuda pula.

Datangnja suara derap kuda itu sekali ini sangatlah tjepat, baru sadja terdengar dan tahu2 sudah mendekat.

Memangnja penduduk Hau-kam-tjip sudah ketakutan maka suara derap kuda ini pun membikin gemetar mereka. Hanja sadja jang datang sekali ini tidak lebih dari dua penunggang kuda pula tiada mengeluarkan suara suitan segala.

Bentuk kedua ekor kuda itupun sangat aneh. Jang seekor berwarna hitam mulus, hanja keempat telapak kakinja berbulu putih. Sebaliknja jang seekor berwarna putih mulus dan keempat telapak kakinja berbulu hitam.

Penunggang kuda putih itu adalah seorang wanita berbadju putih pula, kalau ikat pinggangnja tidak berwarna merah tentu orang akan menjangka wanita itu sedang berkabung. Pada ikat pinggangnja jang berwarna merah itu tergantung sebatang pedang.

Sedangkan penunggang kuda hitam adalah seorang laki2 setengah umur berbadju hitam, pinggangnja djuga terikat sebatang pedang. Kedua penunggang kuda itu setjepat terbang datangnja. Ketika tiba2 melihat tiga sosok majat jang menggeletak ditengah djalan dan barang2 dan alat2 perabot berserakan, tanpa merasa kedua orang itu bersuara heran.

Mendadak silelaki badju hitam mengajun tjambuknja sehingga membelit leher majat Go To-it dan terus ditariknja keatas, dibawah tjahaja rembulan dapatlah muka Go To-it terlihat djelas.

“Dia Go To-it, tampaknja Kim-to-tje sudah berhasil,” kata siwanita badju putih.

Ketika silelaki badju hitam ajun tjambuknja pula, ia lemparkan majat Go To-it ketepi selokan. Lalu sahutnja: “Belum lama matinja Go To-it, darah jang mengutjur keluar dari lukanja belum lagi kering, kita masih dapat menjusul mereka!”

Siwanita mengangguk setudju. Segera mereka melarikan kuda hitam-putih itu kearah barat dengan tjepat. Sungguh aneh djuga, suara derapan kedua ekor kuda itu begitu radjin dan tetap sehingga suaranja mirip derap kaki seekor kuda sadja, terang sekali kedua ekor kuda itu sudah terlatih dengan baik.

Makin lari makin tjepat, kedua ekor kuda itu. Sesudah mengitar lewat kota Khoy-hong, djalanan mulai sempit dan tidak tjukup untuk kedua ekor kuda berlari sedjadjar. Siwanita lantas menahan kudanja sedikit dan membiarkan silelaki djalan lebih dahulu. Silelaki tampak tersenjum dan mentjongklangkan kudanja kedepan dengan disusul siwanita dari belakang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar