Jilid 28
Dalam pada itu beberapa orang itu sudah berada di depan deretan jendela panjang, sejenak lagi tentu akan memasuki ruang makan.
Pada saat yang sudah sangat mendesak itu, sekilas Boh-thian melihat di atas ruangan itu tergantung melintang sebuah papan pigura besar yang bertuliskan tiga huruf emas. Karena sudah kepepet, tanpa pikir lagi Boh-thian lantas meloncat ke atas belandar, lalu menyusup ke belakang papan pigura itu. Ia setengah merebah dan rasanya cukup baginya untuk sembunyi.
Apa yang terjadi itu hanya berlangsung dalam beberapa detik saja. Di sini Ciok Boh-thian baru saja sembunyi di belakang papan pigura, di sebelah sana orang-orang tadi pun sudah mendorong pintu dan melangkah masuk. Terdengar seorang di antaranya sedang berkata, “Kita adalah saudara seperguruan, mengapa Suko seperti kedatangan tamu agung saja dan mengadakan perjamuan apa segala.”
Boh-thian merasa suara orang itu sudah dikenalnya. Ia coba mengintip ke bawah melalui sela-sela pigura itu, ia lihat ada belasan tojin mengiringi dua orang tamu pria dan wanita. Kiranya kedua orang tamu ini adalah Ciok-cengcu suami-istri, yaitu Ciok Jing dan Bin Ju dari Hian-soh-ceng.
Terhadap Ciok Jing berdua sampai sekarang Ciok Boh-thian masih sangat berterima kasih, lebih-lebih Nyonya Ciok yang dahulu pernah memberi sedekah kepadanya, pula belum lama berselang telah mengajarkan ilmu pedang padanya. Maka setelah bertemu sekarang, seketika timbul perasaan hangat di lubuk hati pemuda itu.
Sementara itu seorang tosu tua yang sudah ubanan terdengar membuka suara, “Sute dan Sumoay datang dari jauh, sungguh suhengmu ini merasa girang tak terhingga, hanya secawan arak bening ini saja masakah dapat dikatakan sebagai perjamuan?”
Tiba-tiba tosu tua itu melihat di atas meja perjamuan penuh tetes air kuah, sebuah pinggan (basi) hanya tinggal sedikit sisa kuah bening, masakan pokok di dalam basi itu entah ayam atau itik, ternyata sudah terbang.
Tosu tua itu mengerut kening, ia pikir bagaimana kerjanya anak-anak ini, masakah makanan yang sudah siap tidak dijaga sehingga kena digondol kucing. Karena berada di depan tamu, ia merasa tidak baik untuk mendamprat anak-muridnya yang lengah itu.
Tatkala itu kembali ada tosu-tosu cilik membawakan masakan lain lagi. Waktu mereka melihat keadaan meja perjamuan yang morat-marit itu, mereka menjadi kikuk dan serbasalah, cepat mereka membersihkan meja dan menyiapkan daharan yang lain lagi.
Dengan hormat tosu tua itu menyilakan Ciok Jing suami-istri duduk di meja utama, ia sendiri mengiringinya bersama tiga orang tojin lain yang setengah umur, sisanya 12 orang tojin lagi terbagi pada dua meja yang lain.
Setelah minum beberapa cawan, kemudian tosu tua itu membuka suara pula dengan terharu, “Selama delapan tahun tidak bertemu, ternyata Sute dan Sumoay tidak kurang sehat dan gagahnya daripada dahulu. Sebaliknya suhengmu ini sekarang sudah tua dan loyo.”
“Rambut Suheng memang telah tambah ubanan, tapi semangatmu toh tetap sangat kuat,” sahut Ciok Jing.
“Tambah ubanan apa? Rambutku ini adalah karena pikiranku yang sedih, hanya dalam semalam saja lantas ubanan,” kata si tosu tua. “Jika Sute dan Sumoay datang kemari pada tiga hari yang lalu, tentu jenggot dan rambutku tidaklah seputih ini, paling-paling cuma setengah putih saja.”
“Yang dipikirkan Suheng apakah urusan tentang kedua sucia (rasul) Siang-sian dan Hwat-ok (pengganjar bajik dan penghukum jahat) itu?” tanya Ciok Jing.
“Ya, kecuali urusan ini, rasanya tiada urusan kedua di dunia ini yang dapat membuat Thian-hi Tojin dari Siang-jing-koan berubah menjadi lebih tua 20 tahun hanya dalam waktu semalam,” sahut si tosu tua alias Thian-hi Tojin.
“Justru Sute dan Sumoaymu ini mendengar tentang berita bahwa kedua rasul itu kembali muncul, dunia persilatan harus menghadapi bencana pula, makanya siang-malam kami memburu kemari untuk berunding dengan Ciangbun-suheng dan para Suheng dan Sute,” tutur Ciok Jing. “Selama sepuluh tahun terakhir ini nama Siang-jing-koan kita cukup menonjol di kalangan bu-lim, pohon besar tentu terancam angin, kukira kedua rasul itu boleh jadi akan berkunjung ke sini. Maka ada maksud Siaute suami-istri untuk tinggal satu-dua bulan di sini. Bilamana mereka benar-benar mencari gara-gara ke sini, walaupun tidak becus, sedikitnya kami suami-istri juga dapat berjuang mati-matian bahu-membahu bersama para Suheng demi perguruan.”
Thian-hi saling pandang sekejap dengan para tosu yang hadir di situ, lalu menghela napas perlahan sambil merogoh keluar dua bentuk medali tembaga. Ia taruh kedua buah medali itu di atas meja.
Dari atas Boh-thian dapat melihat dengan jelas bahwa kedua medali tembaga itu pun terukir muka tertawa dan muka gusar sebagaimana medali-medali yang pernah dilihatnya di atas kapal mayat dan di sarang Tiat-cha-hwe. Diam-diam ia tercengang, “Aneh, mengapa Thian-hi Tojin ini pun mempunyai dua buah medali yang serupa?”
Dalam pada itu terdengar Ciok Jing telah berkata dengan heran, “Eh, kiranya sucia itu sudah berkunjung kemari. Jika demikian kedatangan Siaute suami-istri toh tetap ketinggalan walaupun kami telah memburu kemari siang dan malam. Dan apakah mengenai urusan itu? Lalu cara... cara bagaimana Suheng melayaninya?”
Karena pikiran Thian-hi tidaklah tenteram, seketika ia menjadi susah menjawab. Segera seorang tojin setengah umur yang duduk di sebelahnya mewakilkan menjawab, “Datangnya kedua sucia itu adalah kejadian tiga hari yang lalu. Berkat budi Ciangbun-suheng yang luhur dan rela menanggung segala kemungkinan, maka beliau sudah menyanggupi akan pergi ke sana untuk makan ‘Lap-pat-cok’ (bubur atau jenang tanggal 8 bulan 12 atau penutup tahun).”
Ketika melihat kedua medali tembaga, memangnya Ciok Jing sudah menduga akan hal demikian. Segera ia berbangkit dan memberi hormat kepada Thian-hi, katanya, “Dengan rela Suko telah menanggungnya sendirian untuk menyelamatkan seluruh penghuni Siang-jing-koan ini, sungguh Siaute merasa berterima kasih dan malu pula, di sini terimalah hormat Siaute lebih dulu. Cuma Siaute masih ada suatu permohonan yang kurang pantas, sebelumnya mohon Suko sudi memaafkan.”
Thian-hi tersenyum, sahutnya, “Segala apa di dunia ini sekarang bagiku adalah laksana awan yang terapung di udara itu. Apa yang Sute inginkan tentu akan kupenuhi.”
“Jika demikian, jadi tegasnya Suko sudah menyanggupi?” Ciok Jing menegas.
“Ya, kusanggupi,” sahut Thian-hi. “Entah apakah keinginan Sute itu?”
“Begini, dengan lancang Siaute mohon agar Suko suka menyerahkan tugas ciangbun atas Siang-jing-koan ini kepada kami suami-istri,” tutur Ciok Jing.
Ucapan Ciok Jing ini membuat para tosu yang hadir di situ menjadi melengak semua.
Dan belum lagi Thian-hi menjawab, segera Ciok Jing menyambung pula, “Setelah kami suami-istri memegang jabatan ciangbun ini, maka undangan untuk makan Lap-pat-cok itu biarlah kami yang pergi ke sana mewakilkan Suko.”
Mendadak Thian-hi terbahak-bahak, suara tertawa yang mengandung rasa pahit getir, matanya juga tampak basah berkaca-kaca. Katanya, “Maksud baik Hiante berdua, biarlah suhengmu terima di dalam hati. Sebagai ketua Siang-jing-koan, suhengmu sudah cukup dikenal oleh orang bu-lim selama belasan tahun ini. Sekarang di kala menghadapi bahaya masakah aku malah menghindarkan tanggung jawabku, lalu muka Thian-hi yang tua keriput ini kelak harus ditaruh ke mana?”
Sampai di sini Thian-hi telah pegang tangan kanan Ciok Jing, lalu menyambung pula, “Sute, usia kita selisih terlalu banyak, kau adalah keluarga preman pula, kita jarang berkumpul di masa yang lalu, tapi hubungan kita selamanya sangat baik, apalagi ilmu silatmu dan pribadimu sesungguhnya adalah tokoh utama perguruan kita, selama ini Suheng sangat kagum padamu. Coba kalau bukan lantaran janji Lap-pat-cok ini, tentu Suheng akan menyerahkan jabatan ciangbun ini kepadamu. Namun keadaan hari ini sudah lain, maka permintaanmu tiada mungkin dapat kupenuhi lagi. Hahaha!”
Di tempat sembunyinya Boh-thian dapat mendengar dengan jelas percakapan itu. Ia tidak tahu barang apakah “Lap-pat-cok” yang dibicarakan itu. Ia masih ingat istilah itu pun pernah diucapkan Thio Sam waktu bertemu dengan orang-orang Tiat-cha-hwe, sekarang demi menyebut janji makan “Lap-pat-cok”, Thian-hi Tojin lantas sedih, apa barangkali “Lap-pat-cok” itu adalah sesuatu racun yang lihai?
Dalam pada itu terdengar Thian-hi telah berkata pula, “Sute, bahwasanya rambut Suheng menjadi putih dalam semalam, hal ini sekali-kali bukanlah karena takut mati. Usiaku sekarang sudah 62 tahun, kalau mati tahun ini juga sudah cukup umur. Hanya saja yang selalu kupikirkan adalah cara bagaimana agar kita dapat melenyapkan bencana besar yang setiap sepuluh tahun satu kali tentu menimpa bu-lim ini? Dengan cara bagaimana agar nama dan ilmu silat perguruan kita yang jaya ini dapat dipertahankan? Ya, memang semuanya ini adalah urusan mahasulit. Selama 32 tahun berselang, pihak sana sudah tiga kali mengadakan perjamuan Lap-pat-cok. Setiap tokoh dan setiap jago dari berbagai kalangan dan golongan yang diundang ke sana belum pernah ada seorang pun yang dapat pulang. Sesungguhnya kematian Suheng ini tiada perlu dibuat gegetun, hanya, saja urusan kesudahannyalah yang perlu kita pikirkan.”
Tiba-tiba Ciok Jing juga terbahak, ia angkat cawan arak dan mengeringkan isinya, lalu berkata, “Suko, bahwasanya secara lancang Siaute mohon Suko menyerahkan jabatanmu, hal ini bukanlah Siaute ingin mewakilkan Suko untuk mengantarkan jiwa, tapi bertujuan ingin menyelidiki persoalan ini, ya, boleh jadi Thian memberkahi sehingga Siaute dapat menyelidiki rahasia di dalamnya, walaupun Siaute tak berani menjamin akan mampu menumpas malapetaka yang selalu mengancam bu-lim ini, tapi asal rahasia di balik layar sudah dapat disiarkan, lalu setiap orang persilatan sama berbangkit dan beramai-ramai berjuang, masakah kita benar-benar tak mampu melawan pihak mereka itu?”
Namun Thian-hi telah menggeleng perlahan, katanya, “Bukanlah aku sengaja menilai tinggi pihak orang dan mengartikecilkan Sute, coba lihat, tokoh-tokoh sebagai It-bok Totiang dari Bu-tong-pay, Giok-cin Tojin dari Jing-sia-pay, dan tokoh-tokoh lain yang berkepandaian tinggi toh mereka hanya bisa pergi dan tak bisa kembali. Maka menurut pendapatku, ai, biarpun ilmu silat Sute cukup tinggi, betapa pun... betapa pun juga belum dapat dibandingkan dengan kaum cianpwe (angkatan tua) sebagai It-bok dan Giok-cin Totiang.”
“Untuk ini Siaute juga cukup tahu diri,” ujar Ciok Jing. “Namun berhasil atau tidak dari sesuatu urusan sebagian adalah tergantung pada kepandaian dan sebagian lagi juga tergantung kepada nasib. Andaikan Siaute tidak mampu menumpas bencana ini, tapi berusaha untuk menyelidiki sedikit rahasia yang menyangkut urusan ini rasanya bukanlah tiada harapan sama sekali.”
Namun Thian-hi tetap menggeleng, katanya, “Jabatan Ciangbunjin Siang-jing-koan kita selama ratusan tahun ini selalu dipegang oleh kaum beribadat (tosu). Bila aku mati, maka aku sudah menunjuk Tiong-hi Sute sebagai penggantiku. Untuk selanjutnya asalkan Sute berdua suka membantu sepenuh tenaga agar supaya golongan kita tetap berkembang, maka cukuplah bagiku untuk menyatakan terima kasih yang tak terhingga.”
Begitulah meski Ciok Jing telah berulang kali mendesak, tapi Thian-hi tetap menolak sehingga semua orang sampai berhenti minum dan lupa makan.
Di tempat sembunyinya Boh-thian sendiri sedang asyik menikmati ayam Pek-sak yang dicurinya dari meja perjamuan tadi. Sepotong demi sepotong ia jejalkan daging ayam itu ke dalam mulut, tapi karena khawatir mengeluarkan suara, maka ia tidak berani mengunyah, jadi terus menelannya matang-matang begitu saja. Walaupun demikian ia pun tidak lupa pasang mata mengintip segala kejadian di bawah.
Dilihatnya Nyonya Ciok, yaitu Bin Ju, sejak mula hanya mendengarkan saja pembicaraan sang suami dengan Thian-hi Tojin tanpa menimbrung apa-apa, sebaliknya perlahan-lahan ia mengambil kedua bentuk medali tembaga yang berada di atas meja, ia mengamat-amati medali-medali itu sejenak, lalu seperti sengaja dan seperti tidak sengaja ia hendak memasukkan benda-benda itu ke dalam sakunya.
“Taruh kembali, Sumoay!” mendadak Thian-hi berseru.
“Ah, aku yang menyimpannya bagi Suko toh sama saja,” sahut Bin Ju dengan tersenyum dan tampaknya kedua medali itu segera akan masuk ke dalam bajunya.
Thian-hi menjadi khawatir, mencegahnya dengan ucapan tak dihiraukan, terpaksa ia hendak merebutnya kembali dengan tangan. Tapi kebetulan pada saat itu Ciok Jing sedang menjulurkan sumpitnya hendak mengambil makanan sehingga lengannya tepat merintangi tangan Thian-hi yang terjulur itu.
Segera Tiong-hi yang duduk di sebelahnya Bin Ju ikut bergerak, cepat tangannya menyambar hendak merampas medali-medali itu sambil berkata, “Lebih baik serahkan padaku saja!”
Namun cepat Bin Ju telah mengangkat tangannya ke atas, berbareng tangan yang lain terus mengebas ke bawah.
Terpaksa Tiong-hi menarik kembali tangannya dan balas menutuk pergelangan tangan Nyonya Ciok dan begitulah lantas terjadi serang-menyerang di antara mereka.
Tiong-hi sudah ditetapkan oleh Thian-hi untuk menggantikannya menjabat sebagai ketua Siang-jing-koan, ini berarti Tiong-hi adalah calon pemimpin yang akan datang, ia pun terhitung tokoh yang tertinggi ilmu silatnya di dalam kelenteng itu di samping Thian-hi sendiri.
Sudah tentu Tiong-hi mengetahui apa yang dilakukan Ciok Jing dan istrinya itu timbul dari maksud yang baik. Tapi kedua bentuk medali tembaga itu menyangkut jiwa semua penghuni Siang-jing-koan, Thian-hi sudah menerimanya dari kedua rasul pengganjar dan penghukum, jika sekarang jatuh ke tangan orang lain, hal ini berarti jiwa semua imam di dalam kelenteng itu pun terancam, sebab inilah maka Tiong-hi telah berusaha merebutnya sedapat mungkin.
Begitulah, sambil tetap berduduk Tiong-hi dan Bin Ju telah bergebrak belasan jurus. Kedua orang adalah tunggal guru, yang dimainkan adalah Kim-na-jiu-hoat (ilmu menangkap dan memegang) dari perguruan sendiri, walaupun masing-masing tiada maksud melukai lawannya, tapi terpaksa juga mesti mengeluarkan segenap kepandaian.
Sebagai saudara seperguruan mereka sudah berpisah 20-an tahun, selama itu walaupun pernah bertemu beberapa kali, tapi belum pernah menyaksikan sampai di mana kemajuan ilmu silat masing-masing. Sekarang kedua orang mendadak bergebrak dengan sama kuatnya, mau tak mau dalam hati masing-masing juga memuji akan kemajuan lawannya.
Belasan tojin yang duduk di meja-meja lain sementara itu juga telah mengikuti pertarungan Tiong-hi dan Bin Ju. Tojin-tojin itu adalah jago-jago terkemuka semua, mereka pun tahu selama belasan tahun ini nama Ciok Jing dan Bin Ju sangat menonjol di dunia Kangouw, sekarang menyaksikan Nyonya Ciok itu berebut medali tembaga dengan Tiong-hi secara diam-diam, nyonya itu telah memperlihatkan segenap intisari ilmu silatnya dari perguruan mereka, maka tojin -tojin itu merasa sangat kagum dan gegetun. Ternyata di antara mereka tiada seorang pun yang sadar bahwa di atas kepala mereka masih ada sepasang mata yang lain sedang mengikuti perebutan medali itu.
Pada belasan jurus permulaan kekuatan Bin Ju dan Tiong-hi boleh dikata sembabat. Namun sebelah tangan Nyonya Ciok itu memegang dua buah medali sehingga tangan kanan itu cuma dapat menggunakan kepalan saja dan jarinya tak dapat dimanfaatkan. Lantaran demikian, Kim-na-jiu-hoat yang paling bagus menjadi tak dapat dimainkan dengan sempurna.
Sesudah beberapa jurus pula, dengan lwekang yang kuat tangan kiri Tiong-hi berhasil memaksa lengan kiri Ciok-hujin ke bawah, berbareng tangan kanannya sudah menyambar dan sudah dapat menyentuh medali-medali yang tergenggam di tangan nyonya itu.
Bin Ju insaf sekali ini pasti susah dipertahankan lagi. Jika ia menggenggam terus dan sama-sama mengadu lwekang, pertama kurang pantas dilihat orang banyak, kedua dirinya betapa pun adalah wanita, dalam hal lwekang tentu tidak sekuat Tiong-hi. Segera ia mengendurkan tangannya sehingga kedua bentuk medali dibiarkan jatuh. Dengan jalan demikian ia berharap sang suami yang duduk di sisinya akan dapat menyambar benda-benda itu.
Di luar dugaan, baru saja Ciok Jing hendak menjulurkan tangannya, sekonyong-konyong dua rangkum yang keras telah menyambar ke mukanya. Kiranya Thian-hi yang telah menolaknya dengan kedua tangan. Kedua rangkum angin itu sangat kuat, kalau tidak ditangkis tentu akan terluka parah. Maka terpaksa ia angkat tangan untuk menangkis. Dan karena sedikit ayal itulah, Ciau-hi Tojin yang duduk di sebelah Thian-hi telah dapat menyambar kedua medali tembaga itu.
Begitu medali-medali itu jatuh di tangannya Ciau-hi, serentak Ciok Jing suami-istri, Thian-hi dan Tiong-hi lantas bergelak tertawa dan berhenti bergebrak.
Tiong-hi dan Ciau-hi lantas membungkuk tubuh dan berkata, “Harap Sute dan Sumoay suka memaafkan.”
Cepat Ciok Jing dan Bin Ju membalas hormat, kata Ciok Jing, “Mengapa kedua Suheng berkata demikian, justru Siaute berdua yang telah berlaku kasar. lwekang yang telah dicapai Ciangbun-suheng ternyata sedemikian tingginya dan berpuluh kali lebih kuat daripada Siaute, rasanya perjalanan ini walaupun berbahaya, tapi untuk meloloskan diri saja dengan selamat rasanya juga bukan tiada harapan.”
Kiranya sesudah bergebrak tadi, Ciok Jing telah mengetahui lwekang sang suheng ternyata jauh lebih tinggi daripada dirinya, maka semangatnya yang sok jagoan tadi lantas lenyap sebagian besar.
Dengan tersenyum getir Thian-hi lantas menjawab, “Ya, semoga terkabul menurut doa Sute itu. Terima kasih. Marilah, silakan minum!”
Lalu ia mengangkat cawan dan menenggaknya hingga habis. Meski Siang-jing-koan adalah tempat beribadat, tapi mereka tidak pantang minum arak dan makan barang berjiwa.
Dalam pada itu Ciok Boh-thian yang menyaksikan Bin Ju tak berhasil merebut kedua medali tembaga yang tidak diketahui apa gunanya itu, karena teringat kepada kebaikan Nyonya Ciok dahulu, maka diam-diam ia telah merancang, “Tosu itu telah merebut medali-medali tembaga, sebentar aku akan merebutnya pula untuk dihadiahkan kepada Ciok-hujin.”
Sementara itu sesudah saling mengangkat gelas dan habis minum, lalu Ciok Jing berbangkit dan berkata, “Kuharap perjalanan Suheng nanti takkan mengalami sesuatu halangan sehingga dapat pulang dengan selamat. Siaute sendiri karena urusan seorang anakku kena diculik orang dan sekarang buru-buru ingin pergi menolongnya sehingga tidak sempat bicara lebih lama dengan para Suheng dan Sute, maka sukalah para Suheng memaafkan, sekarang juga kami mohon diri.”
Mendengar itu, para tosu terperanjat. Kata Thian-hi, “Kabarnya putra Sute belajar di tempat Swat-san-pay, dengan nama Sute suami-istri, ditambah pengaruh Swat-san-pay yang besar, masakah ada manusia yang begitu kurang ajar dan berani menculik putramu?”
Ciok Jing menghela napas, sahutnya, “Urusan ini terlalu panjang untuk diceritakan, soalnya juga karena salah Siaute sendiri yang tidak pandai mendidik anak, maka akibat yang ditimbulkan anak yang menyeleweng itu tidaklah dapat menyalahkan orang lain.”
Hendaklah maklum bahwa Ciok Jing adalah seorang yang bijaksana, walaupun Hian-soh-ceng, kediamannya yang megah itu, telah dibakar habis oleh Pek Ban-kiam, tapi ia tahu sebab musababnya adalah kesalahan di pihaknya sendiri, maka dia tidak menaruh dendam kepada Swat-san-pay.
Di antara para tosu itu, Tiong-hi terhitung orang yang paling simpatik, dengan suara lantang ia lantas berseru, “Sute dan Sumoay, jika musuh berani menculik putramu, itu berarti dia pun memandang rendah kepada Siang-jing-koan. Tak peduli tokoh macam apa penculik itu, biarpun suhengmu ini tidak becus juga pasti akan memberi bantuan padamu.”
Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula, “Sedangkan putramu diculik orang, tapi kau toh perlukan datang ke tempat perguruan yang sedang menghadapi kesukaran, hal ini menandakan betapa baik budi Sute berdua. Untuk ini masakah kami tidak mempunyai perasaan dan berpeluk tangan membiarkan Sute mengalami kesukaran sendiri?”
Ia sangka kalau penculik itu sudah tidak gentar kepada Ciok Jing suami-istri dan tidak takut kepada orang-orang Swat-san-pay yang berpengaruh itu, maka penculik itu tentulah seorang tokoh yang sangat lihai. Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa orang yang menangkap putranya Ciok Jing itu justru adalah kaum Swat-san-pay.
Pertama memang Ciok Jing tidak ingin perbuatan sang putra yang merusak nama keluarganya diketahui orang luar, apalagi sekarang Siang-jing-koan sendiri sedang menghadapi kesulitan, tentu saja ia lebih-lebih tidak ingin para suheng itu mengikat permusuhan baru dengan pihak lain lagi. Maka cepat ia menjawab, “Maksud baik para Suheng dan Sute, sungguh kami merasa terima kasih tak terhingga. Cuma persoalan ini sekarang masih harus diselidiki dulu dengan lebih jelas, biarlah kelak bilamana urusan sudah agak jelas, jikalau Siaute berdua merasa kurang kuat, dengan sendirinya kami akan pulang kemari untuk minta bantuan.”
“Baiklah jika demikian halnya,” ujar Tiong-hi. “Tatkala mana Sute juga tidak perlu datang sendiri, asalkan menyampaikan sedikit berita saja tentu seluruh isi Siang-jing-koan akan dikerahkan.”
Ciok Jing dan Bin Ju memberi hormat dengan ucapan terima kasih. Tapi di dalam hati diam-diam merasa berduka, mereka tahu dosa putranya, andaikan anak itu akan dicincang atau digantung oleh Swat-san-pay, mau tak mau mereka hanya bisa menerima nasib saja dan tidak nanti minta pertolongan kepada Siang-jing-koan.
Begitulah Ciok Jing berdua lantas mohon diri, mereka diantar keluar oleh Thian-hi, Tiong-hi dan lain-lain.
Melihat semua orang sudah keluar agak lama, segera Ciok Boh-thian melompat keluar dari tempat sembunyinya, ia melompat ke atas rumah dan melintasi pagar tembok. Pikirnya, “Ciok-cengcu dan Ciok-hujin mengatakan putra mereka telah diculik orang, entah siapakah yang melakukan perbuatan itu? Tentang medali-medali tembaga itu tampaknya hanya benda permainan yang tiada artinya, dapat direbut atau tidak, tidaklah menjadi soal, sebaliknya tentang putranya yang diculik itu aku harus bantu mencarikannya untuk membalas budi kebaikan Ciok-hujin padaku. Ya, bila aku dapat menolong kembali putranya, tentu dia akan sangat gembira. Biarlah aku menyusulnya untuk tanya siapakah nama putranya itu, berapa umurnya dan bagaimana rupanya agar aku dapat mencarinya.”
Ia coba melompat ke atas pohon yang tinggi, ia lihat belasan buah lampu kerudung dalam dua baris sedang bergerak ke sebelah sana, kiranya para tosu sedang mengantar Ciok Jing dan Bin Ju keluar kompleks kelenteng.
Pikir Boh-thian, “Kuda tunggangan Ciok-cengcu berdua sangat cepat larinya, ada lebih baik aku mendahuluinya mencegat mereka di depan sana.”
Sesudah membedakan arah yang akan dituju Ciok Jing suami-istri, segera ia melompat turun dan mendahului berangkat melalui lereng bukit.
Tak terduga, belum lagi beberapa jauh ia meninggalkan kompleks kelenteng itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang, “Siapa itu? Lekas berhenti!”
Bahwasanya dengan lwekang Ciok Boh-thian yang tinggi itu, ia sembunyi di atas papan pigura dengan menahan napas sehingga sama sekali tidak diketahui oleh siapa pun juga. Tapi sekarang begitu dia angkat kaki dan berlari, seketika imam-imam Siang-jing-koan yang bukan kaum keroco itu lantas mengetahui tempat mereka telah kemasukan orang luar. Semula mereka pun masih tinggal diam saja, tapi begitu Ciok Jing dan Bin Ju sudah agak jauh, segera mereka menyusul dan menggerebek Ciok Boh-thian dari berbagai jurusan.
Dalam kegelapan mendadak Ciok Boh-thian merasa hawa pedang yang dingin, tahu-tahu dua orang tojin sudah mengadang di depannya dengan pedang terhunus dan memancarkan sinar yang gemerlapan. Samar-samar ia melihat seorang di antaranya tak-lain-tak-bukan adalah Ciau-hi.
Ia menjadi girang, segera ia bertanya, “Apakah Ciau-hi Tojin di situ?”
Ciau-hi melenggong, ia pikir kiranya orang sudah mengenalnya. Segera ia menjawab, “Ya, betul. Siapakah saudara ini?”
Tanpa banyak cincong lagi Boh-thian lantas berkata sambil mengangsurkan tangan, “Berikan medali-medali tembaga tadi padaku!”
Ciau-hi menjadi gusar. “Terimalah ini!” bentaknya, berbareng pedangnya terus menusuk ke paha Ciok Boh-thian.
Kaum Siang-jing-koan mempunyai peraturan yang keras, yaitu tidak boleh sembarangan membunuh. Sekarang asal-usul pihak lawan belum jelas, walaupun begitu datang Ciok Boh-thian lantas minta medali tembaga apa segala, namun serangan Ciau-hi itu toh tidak diarahkan ke tempat yang berbahaya.
Dengan cepat Boh-thian dapat mengegos, berbareng tangan kanan balas mencengkeram pundak lawan.
Melihat gerak-gerik Boh-thian sangat cekatan, Ciau-hi tidak berani ayal lagi, pedang berputar terus menusuk pula ke bahu kanan lawan.
Lekas-lekas Boh-thian mendakkan tubuh dan menggeser ke samping, berbareng tangan kanan digunakan menyampuk. Di luar dugaan, kontan Ciau-hi lantas mencium serangkum bau amis yang memuakkan, kepalanya menjadi pening, seketika ia roboh terjungkal.
Selagi Boh-thian tercengang atas kejadian itu, tiba-tiba pedang tojin kedua sudah menusuk dari belakang.
Sekarang Boh-thian sudah tahu bahwa telapak tangannya sendiri itu rada-rada ajaib, asal memukul tentu akan membinasakan orang, maka ia tidak berani balas menyerang lagi, lekas-lekas ia melompat ke depan. Namun sudah kasip sedikit, “bret”, bajunya telah terobek satu garis, bahkan kulitnya juga tergores sedikit.
Meski ilmu silat tojin itu lebih rendah daripada Ciau-hi, tapi karena melihat Ciau-hi telah dirobohkan lawan dengan cara yang tak jelas, maka buru-buru ia ingin menolong sang suheng, pedangnya berputar dengan kencang, ia serang Boh-thian dengan gencar.
Karena tak berani balas memukul, terpaksa Boh-thian berusaha menghindar. Pada suatu kesempatan ia dapat menjemput pedang Ciau-hi yang terlempar di atas tanah itu. Ia lihat musuh masih terus menyerang tanpa kenal ampun, segera ia pun memutar pedang itu sebagai gantinya golok, ia mainkan Kim-oh-to-hoat yang lihai itu. “Trang”, sekaligus ia tangkis pergi pedang lawan yang sedang menusuk.
Karena tenaga dalam Ciok Boh-thian yang luar biasa kuatnya itu, tojin itu tidak mampu memegangi pedangnya lagi, senjata itu terlepas dan mencelat dari cekalannya. Tapi ilmu silat kaum Siang-jing-koan tidak melulu dalam hal ilmu pedang saja, Kim-na-jiu-hoat juga merupakan salah satu kepandaian tunggal yang disegani di dunia persilatan.
Maka begitu kehilangan senjata, tojin itu tidak menjadi gentar, sebaliknya ia terus menubruk maju malah, kedua tangannya yang mirip cakar itu terus mencengkeram dada dan perut Ciok Boh-thian. Dengan cara pertarungan dari jarak dekat ini, pihak lawan yang berpedang menjadi sukar untuk menggunakan senjatanya.
“Hei, jangan, jangan!” demikian Boh-thian berteriak-teriak gugup karena musuh menyeruduk dengan nekat. Berbareng tangan kirinya terus menyampuk untuk mendorong pergi tojin itu.
Pada saat dia sudah mengeluarkan tenaga, dengan sendirinya racun jahat yang mengeram di tubuhnya itu juga sudah ikut terkumpul di telapak tangannya. Maka sekali tangannya mendorong, kontan saja tojin itu pun roboh terkulai.
“Ai, ai! Sesungguhnya aku toh tidak ingin membikin celaka kau!” seru Boh-thian sambil banting-banting kakinya sendiri dengan penuh menyesal.
Dalam pada itu terdengar suara suitan yang sahut-menyahut, para tosu sudah makin mendekat. Cepat Boh-thian meraba sakunya Ciau-hi, benar juga kedua medali tembaga dapat diketemukannya. Segera ia masukkan benda-benda itu ke dalam bajunya sendiri, lalu angkat langkah seribu menuju ke jurusan yang ditempuh Ciok Jing dan istrinya.
Sekaligus tanpa berhenti ia terus berlari sampai belasan li jauhnya, tapi sama sekali tak terdengar suara larinya kuda. Pikirnya, “Apa barangkali kuda-kuda tunggangan Ciok-cengcu dan Ciok-hujin itu sedemikian cepatnya sehingga aku tidak dapat mendahului mereka? Atau, jangan-jangan aku telah salah ambil arah, mereka tidak melalui jalan besar ini, tapi mengambil jurusan lain?”
Setelah berlari beberapa li lagi, tiba-tiba terdengar suara kuda meringkik. Cepat Boh-thian memandang ke arah suara kuda itu, dari jauh dapat dilihatnya di bawah sebatang pohon tertambat dua ekor kuda, seekor hitam dan seekor lagi putih. Terang itulah kuda-kuda tunggangan Ciok Jing berdua.
Boh-thian sangat girang, segera ia mengeluarkan kedua medali tembaga dan disiapkan di tangan. Baru saja ia hendak pentang mulut untuk menyapa, sekonyong-konyong terdengar suara Ciok Jing sedang bicara di kejauhan, “Adik Ju, maling kecil itu secara sembunyi-sembunyi telah menguntit kita, tentu dia tidak bermaksud baik, bolehlah kau bereskan dia saja.”
Keruan Boh-thian terperanjat, disangkanya Ciok Jing tidak suka dikintil olehnya. Anehnya suara Ciok Jing terdengar dengan jelas, tapi orangnya tidak kelihatan. Ia menjadi khawatir kalau-kalau Ciok-hujin melabrak dirinya dan terpaksa ia harus balas menyerang, lalu nyonya baik itu juga terpukul mati, kan urusan bisa runyam.
Maka cepat ia menyusup dan sembunyi di tengah alang-alang yang lebat. Ia pikir Bin Ju pasti akan memburu ke situ, jika demikian ia akan melemparkan medali-medali tembaga tadi kepada nyonya itu, lalu ia akan melarikan diri.
Tiba-tiba terdengar suara berkeresek, sesosok bayangan orang telah melompat keluar dari balik pohon di sebelah sana, dengan pedang terhunus orang itu menuding ke tengah semak-semak sambil membentak, “He, anak muda, untuk apa kau menguntit kami? Hayo lekas keluar!”
Itulah suaranya Bin Ju.
Baru saja Boh-thian hendak menjawab, sekonyong-konyong dari tengah semak-semak rumput menyambar keluar tiga titik sinar, ada orang sedang menyerang Bin Ju dengan senjata rahasia. Ketika Bin Ju mengayun pedangnya dan baru saja senjata-senjata rahasia itu disampuk jatuh, cepat dari semak-semak rumput telah melompat keluar seorang laki-laki berbaju hijau, dengan golok laki-laki itu lantas membacok Bin Ju.
Kejadian ini benar-benar di luar dugaan Boh-thian, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa di tengah semak-semak rumput itu tersembunyi orang lain pula.
Dilihatnya gerakan laki-laki itu cukup gesit, golok diputar dengan kencang. Bin Ju hanya menangkis seperlunya saja dan tidak balas menyerang.
Sementara itu Ciok Jing juga sudah muncul dari balik pohon sana, ia hanya menonton saja dengan berpangku tangan. Setelah mengikuti beberapa jurus, tiba-tiba ia menegur, “He, kau, bukankah kau ini muridnya Loh Cap-pek dari Thay-san?”
“Kalau betul mau apa?” bentak orang itu, goloknya sedikit pun tidak kendur.
“Walaupun Loh Cap-pek tiada persahabatan dengan kami, tapi juga tidak bermusuhan,” kata Ciok Jing. “Kau sudah menguntit kami beberapa li jauhnya, apa maksud tujuanmu yang sebenarnya?”
“Aku tidak sempat menjelaskan....” sahut laki-laki itu. Kiranya Bin Ju tampaknya seperti seenaknya saja melayani serangan-serangan lawan, tapi sebenarnya laki-laki itu sudah terdesak sehingga kelabakan.
Maka Ciok Jing berkata pula dengan tertawa, “Ilmu golok Loh Cap-pek jauh lebih tinggi daripada kami, tapi tampaknya kau belum lagi ada tiga bagian mempelajari kepandaian suhumu itu. Nah, lepas senjata dan berdiri saja di situ!”
Mendengar ucapan Ciok Jing ini, kontan pedang Bin Ju juga tepat menusuk pergelangan laki-laki itu. Sedikit berputar ke samping, Bin Ju putar gagang pedangnya untuk mengetok, dengan tepat hiat-to di punggung orang lantas ditutuknya. “Trang”, golok laki-laki itu jatuh ke tanah, sedangkan tubuhnya sudah tak bisa berkutik lagi.
“Kau she apa, sahabat?” tanya Ciok Jing dengan tersenyum.
Namun orang itu sangat kepala batu, biarpun terancam dia tetap tidak gentar. Bahkan dengan galak ia menjawab, “Mau bunuh boleh bunuh, buat apa banyak bicara?”
“Jika sahabat tidak mau bicara juga tidak menjadi soal,” ujar Ciok Jing dengan tertawa. “Kau telah ikut di dalam organisasi mana? Agaknya gurumu tidak mengetahui, bukan?”
Laki-laki itu mengunjuk rasa sangsi dan heran, ia pikir dari manakah orang mengetahui seluk-beluk tentang dirinya?
Maka Ciok Jing menyambung lagi, “Cayhe tiada pernah bermusuhan dengan gurumu, andaikan dia benar-benar mengirim orang untuk menguntit kami, hehe, untuk bicara terus terang, rasanya gurumu masih cukup menghormati kami dan takkan mengutus orang semacam saudara.”
Di balik kata-katanya ini Ciok Jing ingin mengatakan bahwa ilmu silatmu terlalu rendah, tidaklah mungkin gurumu mengirim seorang keroco seperti kau ini.
Keruan muka orang itu menjadi merah jengah, untung dalam keadaan gelap sehingga tidak dilihat orang lain.
Ciok Jing lantas menepuk dua kali di pundak laki-laki itu, katanya, “Kami suami-istri selamanya suka blakblakan dalam segala hal. Jika kau ingin tahu jejak kami, tiada halangannya kami memberitahukan secara terus terang. Kami tadi baru datang dari menyambangi Thian-hi Totiang di Siang-jing-koan. Bolehlah kau pulang dan tanya kepada gurumu, tentu kau akan tahu bahwa di waktu mudanya Ciok Jing dan Bin Ju pernah belajar silat di Siang-jing-koan dan Thian-hi Totiang adalah suheng kami. Sekarang kami hendak berangkat ke Leng-siau-sia di Swat-san untuk menemui Wi-tek Siansing, ciangbunjin dari Swat-san-pay. Nah, jika sahabat tiada sesuatu yang perlu ditanyakan lagi bolehlah silakan pergi saja.”
Sesudah pundaknya ditepuk, segera laki-laki itu merasa badannya bisa bergerak lagi. Di samping malu ia menjadi kagum juga. Ia memberi hormat dan menjawab, “Ciok-cengcu ternyata berbudi luhur dan tidak bernama kosong, maafkan tadi aku telah mengganggu.”
Habis berkata, goloknya yang jatuh tadi pun tidak berani dijemput kembali, segera ia putar tubuh dan melangkah pergi.
Baru beberapa tindak orang itu berjalan, tiba-tiba Ciok Jing berseru pula, “He, sahabat, apakah pangcu kalian sudah diketemukan?”
Orang itu terkejut. “Jadi... jadi kau sudah tahu semua?” sahutnya dengan terputus-putus sambil berpaling.
“Ah, tidak, aku tidak tahu,” kata Ciok Jing sambil menghela napas perlahan. “Jadi belum ada beritanya, ya?
“Ya, belum ada,” sahut laki-laki itu sambil menggeleng.
“Kami suami-istri juga ingin mencari dia,” kata Ciok Jing pula.
Untuk sejenak ketiga orang berdiri terpaku berhadapan, kemudian orang itu membalik tubuh dan melanjutkan perjalanannya.
“Engkoh Jing, apakah dia orang Tiang-lok-pang?” tanya Bin Ju sesudah orang itu pergi agak jauh.
Hati Ciok Boh-thian tergetar demi mendengar “Tiang-lok-pang” disebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar