SETIAP Hiang Hiang menyanyikan satu bait, Keh Lok lalu menterjemahkannya. Memangnya ia seorang sastrawan, karenanya, dapatlah dia memilih kata-kata yang indah. Sehingga nyanyian itu bagus sekali maksudnya.
Tentang arti daripada nyanyian Hiang Hiang itu, ada sebuah Cerita begini:
Dikerajaan Khuyan, raja mempunyai seorang puteri Cantik yang diberi nama Yohana. Puteri ini sejak kecil, sudah mengikat janji dengan Tahir, putera perdana menteri. Belakangan karena perdana menteri itu difitenah, dia Hwa.
UNTUNG kedua orang muda itu sudah berada didekat lubang, karena pada saat itu, tentara Ceng kembali meng hujani panah.
“CongthoCu, sebenarnya hendak kupersalahkan kau, tapi ternyata aku yang salah,” kata Ciu Ki.
“Tidak kunyana enci Ceng Tong sedemikian kejam hatinya, dan tak kuduga pula, adiknya begini mengasihimu! Yangan kata ia seCantik bidadari, sekalipun jelek bagai iblis, kalau hati budinya sedemikian tulusnya, tentu aku Cinta padanya,” ujar Ciu Ki.
Tan Keh Lok tertawa. Ada sahabat, ada kekasih, sekalipun mati, puaslah.
“Oho makanya kau begitu menyintai Chit-ko, kiranya dia itu berhati baiklah!” Lou Ping menggoda.
“Memang. Biarpun rupanya jelek, tapi hati budinya baik,” sahut Ciu Ki.
Dipuji sang isteri dihadapan orang banyak sekali Thian Hong puas hatinya.
Mengetahui keadaan semua orang sudah putus harapan, Hiang Hiang KiongCu menyatakan akan menyanyi untuk menghibur semua orang, Keh Lok segera bilang setuju, maka menyanyilah puteri Ui itu dengan suaranya yang merdu:
“Thiat-hun-kwan ditepi sungai Merak, pohon-pohon Mu pada kedua tepiannya menjulur kepermukaan air. Diatas punCak gunung nan tinggi, terdapat sebuah kuburan, ah, disitulah kuburan Tahir dan Yohana.”
dihukum mati oleh raja. Selanjutnya raja melarang pu terinya menikah dengan Tahir. Maksudnya, akan dinikahkan dengan ksatria hitam, putera dari dorna yang memfitenah ayah Tahir, dan yang kini dijadikan P.M. baru. Untuk men jauhkan hubungan dengan puterinya, Tahir dimasukkan kedalam peti dan dihanyutkan di Khong-jiok-ho atau sungai Merak. Beruntung peti itu dapat ditemu oleh puteri dari raja negeri tetangga yang kebetulan sedang pesiar dengan perahu.
Oleh raja disitu, karena Tahir ternyata seorang pemuda yang gagah dan pintar, ia akan dipungut jadi mantu raja. Selanjutnya akan dinobatkan menjadi raja untuk meng gantikannya. Tapi ternyata Tahir menolak.
“Harta benda, tahta kerajaan ditambah pula dengan puterimu, masih tak nempil dengan ujung jari dari Yohana,” demikian kata Tahir.
Raja menjadi gusar, Tahir dipenjarakan. Tapi untung, dia dapat melarikan diri dan kembali kedalam negeri asalnya. Pada waktu itu, karena sangat merindukan sang kekasih, Yohana jatuh sakit. Ayahnya membuat surat palsu dari Tahir untuk menghiburnya. Dan betul juga, Yohana sembuh. Tapi kembali ayahnya memaksanya untuk menikah dengan Hek Enghiong atau ksatria hitam.
Rakyat ternyata sangat mencintai puteri itu. Mereka mengirim hadiah pemberian selamat, sebuah peti besar. Dengan berlinang-linangair mata Yohana membukanya. Ternyata isinya bukan lain adalah Tahir...............”
Menyanyi sampai bagian ini, Hiang Hiang terpaksa berhenti, karena Lou Ping dan Ciu Ki menyela bertepuk tangan. Kemudian ia melanjutkannya lagi:
“Hek Enghiong menobros masuk. Timbullah pertarungan pedang antara Tahir dengan Hek Enghiong, dengan berakhir yang belakangan menemui ajalnya. Tapi Tahirpun ditangkap oleh raja dan dihukum jiret leher. Puteri Coba mintakan ampun, tapi raja yang sedang gusar itu, segera membunuh puterinya itu. Rakyat berpawai menggotong jenazah kedua pasangan setia itu, dengan me-nyanyidua sepanyang jalan.”
Hiang Hiang menirukan nyanyian penguburan itu dengan nada yang mengharukan sekali. Sekalipun Lou Ping dan Ciu Ki tak tahu maksudnya, namun mereka pun kuCurkan air mata saking terharu.
Suasana hening sesaat. Tiba-tiba Jun Hwa tertawa keras dan berteriak: “Kawan-kawan , lihatlah kemari!”
Ketika sudah diatas, semua orang sama melihat bagaimana enam-tujuh serdadu Ceng ber-kaokdua, tapi tak dapat bergerak. Kiranya kawanan serdadu itu menyelinap hendak membokong. Hal itu diketahui oleh Jun Hwa, namun dibiarkan dulu sampai dekat, baru akan dihajar. Tapi setelah mereka mendengar suara nyanyian Hiang Hiang KiongCu, hati mereka tergonCang tak tenteram. Mereka tengkurep untuk mendengarkannya.
Dalam hujan salju sedemikian itu, sekejap saja, badan mereka, telah terpendam salju. Nyanyian selesai, mereka menCoba untuk bangkit, tapi ternyata sukar. Karena hawa keliwat dingin, tak lama kemudian kawanan serdadu itu, mati kaku terbenam salju.
Juga rombongan orangdua HONG HWA HWE itu hampir tak kuat menahan dingin. Sim Hi mengambil sebongkok anak panah, lalu dibakar untuk pemanas badan. Lou Ping mengawasi Hiang Hiang KiongCu dengan terkesima...............
Kembali pada kejadian sewaktu Ciauw Cong disekap oleh keempat raksasa persaudaran Ho Lun. Andaikata Tiau Hwi tidak keluar, tentu masih belum dilepaskan.
Saking gusarnya, begitu lepas, Ciauw Cong segera menghantam Ji Houw. Hampir siraksasa kedua itu pingsan, karena separoh giginya rompal. Keempat saudara itu marah dan serentak menyerbu maju pula. Tiau Hwi mendamprat nya, baru mereka mundur.
“Tiau-Ciangkun, baginda mengutus aku kemari untuk dua perkara. Pertama untuk membawa gadis itu kekotaraja,” kata Ciauw Cong segera.
“Thio-tayjin belum pernah kemari, mengapa mengenal nya?” sahut Tiau Hwi.
“Orang Ui telah mengirim sepasang vaas giok selaku minta damai. Hok-thongleng perlihatkan benda itu padaku, maka kudapat mengenalnya,” tutur Ciauw Cong.
Tiau Hwi mengelah napas.
“Orang lakidua pengawalnya tadi, bukannya orang Ui. Dialah benggolan dari perkumpulan HONG HWA HWE” kata Ciauw Cong pula.
“Apa? Mengapa dia kemari?” tanya Tiau Hwi kaget.
“Baginda menyuruhnya ambil beberapa barang. Dan aku ditugaskan, begitu dia sudah ditengah perjalanan, supaya membunuhnya. Karena baginda kuatir barang itu betul-betul ada padanya. Kini kedua orang itu sudah lolos, sungguh sayang sekali,” Ciauw Cong tepukdua pahanya dan mengelah napas.
“Ah, Thio-tayjin tak perlu gegetun. Untuk kedua utusan itu, telah kusiapkan jaringan. Akan kujadikan mereka berdua sebagai umpan, untuk menjaring ‘ikan besar’. Kalau baginda menghendaki keduanya, itulah bagus, sekali tepuk dua lalat,” kata Tiau Hwi dengan tertawa.
“He, bilanglah pada Tek-Ciangkun, tak boleh membunuh kedua utusan itu. Dan sekarang ‘thiat-kah-kun’ boleh keluar, sembunyi dikedua samping,” perintah Tiau Hwi pada seorang pengawalnya.
Pengawal itu melakukan dengan segera.
“Karena kedua utusan itu orangdua penting, fihak Ui tentu akan kirim balabantuan. Begitu mereka datang, pasukanku ‘thiat-kah-kun’ akan menjepitnya begini!” kata Tiau Hwi sembari kedua tangannya menCakup ketengah. “Masakan mereka masih bisa bernyawa?” katanya menambahkan dengan tertawa.
“Aha, Ciangkun pandai sekali menggunakan siasat. Maka tak heran kalau baginda menaruh keperCajaan besar pada Ciangkun. Untuk setiap tugas yang penting, tentu Ciangkun yang diserahi,” kata Ciauw Cong.
Tiau Hwi gembira puas. Tertawalah dia dengan ter-kekehdua: “Selama ini, orang Ui memang liCin. Sengaja mereka main ulur waktu. Tapi kali ini, begitu induk kekuatannya hanCur, sisanya mudahlah.”
“Untuk jasa besar itu, kedudukan raja muda, kiranya bukan barang yang mustahil bagi Ciangkun,” Ciauw Cong memuji.
“Tayjin legakan hati saja. Aku tentu tak lupa akan jasa tayjin,” jawab Tiau Hwi.
Kembali Tiau Hwi titahkan orangnya supaya mengatur persiapan yang perlu. Kali ini, dia kerahkan tigapuluh ribu tentara pilihan, sekali gebrak akan menghanCurkan induk pasukan Uigor.
Kini kita tinggalkan kedua pembesar Ceng yang tengah di mabuk hajal kemenangan besar itu, untuk menengok keadaan Tan Keh Lok dan Kawan-kawan nya. Dengan melawan hawa yang menggigit tulang, mereka menjaga semalam suntuk.
Keesokan harinya, hawa kembali hangat, sekalipun salju masih turun.
Kata Thian Hong: “Mari kita naik keatas, mungkin musuh akan menyerang lagi.”
Selain Hiang Hiang, kesembilan orang gagah itu, siap dengan busurnya. Udarapun makin terang. Tapi ternyata pihak Ceng hanya melepas beberapa anak panah, dan tidak melakukan gerakan apa-apa.
Tiba-tiba teringatlah Thian Hong akan sesuatu. Burudua dia tanya Sim Hi: “Apa saja yang ditanyakan nona Ceng Tong padamu?”
“Ia bertanya, berapa jumlah musuh yang mengepung kita. Pula ditanyakan, apakah pasukan thiat-kah-kun musuh keluar tidak?”
“Bagus, kita ketolongan!” tiba-tiba Thian Hong berteriak kegirangan.
Kawan-kawan nya memandangnya dengan heran.
“Ah, aku memang orang bodoh, kenapa menduga jelek pada nona Ceng Tong. Ia ternyata lebih Cerdik dari aku,” kata Thian Hong sendiri.
“Jelaskanlah!” bentak Ciu Ki karena mendongkol.
“Kalau pasukan thiat-kah menyerbu kemari, apakah kita bisa hidup?” tanya Thian Hong.
“Ya, aneh juga, kenapa musuh tidak menyerang?” jawab Ciu Ki.
“Sekalipun tidak usah thiat-kah-kun, kalau sekarang pasukan musuh yang berjumlah ribuan itu menyerbu, apakah kita kesembilan orang ini bisa bertahan?” kembali Thian Hong bertanya.
“Ya, benar. Mereka sengaja belum mau menyerang, agar fihak Ui kirim bantuan. Tapi nona Ceng Tong sudah dapat mencium bau, maka ia tak mau masuk perangkap” sela Keh Lok tiba-tiba.
“Dan kalau tak masuk perangkap, kita kan Celaka?” kata Ciang Cin.
“Tidak!’Ia tentu punya daya lain”, sahut Keh Lok.
“Nah, memangnya aku tak perCaja CiCi Ceng Tong begitu jahat”, Ciu Ki tertawa.
Dengan lega hati, orangdua itu masuk kembali kedalam lubang. Hanya Hi Tong dan Sim Hi yang masih menjaga diatas.
Kini diCeritakan halnya Horta, utusan orang Boan itu, sudah tiba dan menghadap Tiau Hwi. Melawan janjinya pada Ceng Tong, dia tuturkan keadaan tentara Ui semua. Akhirnya, bagaimana dia kalahkan Ceng Tong, pun tak lupa ditonjolkan.
“Bagus, kali ini besar jasamu,” Tiau Hwi memujinya.
Namun Ciauw Cong ternyata berpandangan lain, tiba-tiba ia melangkah maju, terus memegang tangan kanan Horta, katanya: “Selamat, Ho-tayjin!”
Seketika wajah Horta berobah meringis kesakitan. Burudua dia tabaskan tangan kirinya pada tangan Ciauw Cong.
Ciauw Cong Cepat gentak tangan Horta kebelakang, maka terhuyung-huyunglah orang Boan itu sampai delapan tindak jauh nya. Kalau dia terlambat pasang kudadua, tentu ia sudah mencium tanah.
Horta terkejut berbareng gusar. Sekali Cabut, ia siap dengan goloknya. Namun ia tak berani bergerak sembarang an, dan mengawasi isyarat Tiau Hwi. Juga Ciangkun ini tak kurang kagetnya. Sedikitpun dia tak mengerti maksud Ciauw Cong.
Tiba-tiba Ciauw Cong menghampiri Horta dan serunya: “Harap Ho-tayjin yangan marah!”
Kemudian berpaling kearah Siu Hwi, dia menerangkan: “Tiau-Ciangkun, kukuatir laporan Ho-tayjin itu palsu!”
Horta bukan kepalang marahnya, teriaknya keras-keras: “Aku sudah teken mati ikut pada Ciangkun. Kau ini orang ma Cam apa, berani omong tak keruan!”
“Memang aku tak berani menuduh Ho-tayjin melapor palsu. Yang kumaksudkan, orang Ui itu menyelomoti Tayjin dengan keterangan buatan,” kata Ciauw Cong.
“Bagaimana Thio-tayjin mengetahuinya?” tanya Tiau Hwi.
“Tadi Ho-tayjin mengatakan, dia dapat tundukkan Hwe Ceng Tong. Nona itu, benar aku belum pernah berhadapan. Tapi ia adalah murid dari ‘Thian-san Siang Eng’, tentunya lihai. Dari keterangan sahabat kalangan piauwkiok, Giam Se Ciang, itu iblis no. enam dari Kwantong Liok Mo telah binasa ditangannya. Dengan orang she Giam, pernah aku bertemu di Pakkhia. Bukan hendak meremehkan, tapi kepandaian Giam Se Ciang itu ada lebih tinggi dari Ho-tayjin ini!”
“Oh, jadi Tayjin tadi telah menjajalnya!” kata Tiau Hwi.
“Sukalah Ciangkun memaafkan kelanCanganku tadi,” sahut Ciauw Cong.
“Meskipun kepandaianku Cetek, tapi masa tak dapat mengatasi anak perempuan semaCam dia? Taruh kata ia pura-pura kalah, masa aku tidak mengetahuinya,” teriak Horta marah-marah.
Ciauw Cong tak mau meladeni. Tapi diam-diam dia berkata dalam hati: “Memang orang semaCam kau Ini, mungkin kena dikelabuhi”.
“Ia sengaja melepaskannya, apa maksudnya? Ha, tentu supaya aku mengetahui Cara ia mengatur bala bantuan. Hm, ia kirim dua ribu pasukan penolong, dan dua ribu tentara yang menyambutnya”.
Demikian Tiau Hwi berkata seorang diri. Dia berjalan kian kemari, memikirkan jawabannya. Tak lama kemudian, kedengaran dia berkata: “Kalau itu benar suatu siasat, ia tentu tidak hanya kirim dua ribu orang. Ia maukan aku nanti hanya sediakan tiga-empat ribu tentara untuk menyambutnya. Hal yang sebenarnya, ia akan kirim lima-enam ribu tentara, mungkin malah tujuh-delapan ribu, untuk meng hanCurkan pasukanku”.
“Pandangan Tiau-Ciangkun luas sekali. Memangnya tentu begitu”, kata Ciauw Cong.
“Tapi sekalipun mereka datang semua, paling banyak sekali hanya lima atau enambelas ribu orang. Dengan pasukan empatpuluh ribu serdaduku mudahlah kita menCari kemenangan.”
Habis berkata begitu, Tiau Hwi suruh Horta perintahkan agar ‘thiat-kah-kun’, juga dikeluarkan.
“Bahwa untuk merebut kemenangan, adalah sudah pasti. Cuma saja kuharap dalam kekaCauan nanti, yanganlah kedua orang yang dikehendaki baginda itu sampai binasa atau iolos. Baginda tentu akan murka sekali jika itu ter jadi”, ujar Ciauw Cong.
“Lalu bagaimana pendapat Thio-tayjin?” tanya Tiau Hwi.
“Menurut pendapatku, lebih baik sekarang tangkap dulu orangdua itu dan dibawa kemari. Tapi biarlah pasukan tetap pura-pura mengepung, agar orangdua Ui mau datang,” kata Ciauw Cong.
“Baiklah, Tayjin boleh bawa lima puluh0 thiat-kah-kun kesana,” segera Tiau Hwi mengatur.
“Mereka hanya sembilan orang rasanya bawa sepuluh0 orang saja Cukuplah!”
Segera Tiau Hwi keluarkan lengCi, dan berangkatlah Ciauw Cong kesana.
Sampai didekat lubang, belasan anak panah segera me nyambutnya. Tiga serdadu thiat-kah kena terpanah muka nya, terus terjungkal dari kudanya. Ciauw Cong berteriak keras-keraspimpin penyerangan.
“He, thiat-kah-kun datang! Apa aku keliru menduga?” kata Thian Hong.
“Ya, bangsat Ciauw Cong yang memimpinnya!” tiba-tiba Jun Hwa berseru.
Teringat akan kematian ngenas dari Suhunya, mata Hi Tong ber-apidua. Serentak lonCat keatas, dia terus serang Ciauw Cong dengan kim-tioknya.
Bukan main terperanjatnya Ciauw Cong. Sampai sekian saat, dia termangu-mangu mengawasi sipenyerangnya, seorang hweshio bermuka jelek yang bergaja aliran Bu Tong Pai.
Menyusul, Jun Hwa ikut menyerang dengan sepasang siangkaonya. Baru kini Ciauw Cong layani kedua anak muda itu.
Ditilik dari ilmu silat, Ciauw Cong jauh lebih kuat. Namun disebabkan kenekadan kedua lawannya itu, lebihdua Hi Tong yang bertekad bulat akan membalaskan sakit hati su hunya, maka pertempuran menjadi berimbang.
Saat itu, Berpuluh-puluh serdadu thiat-kah, sudah ikut menyerbu. Keh Lok, Bun Thay Lay, Thian Hong, Ciang Cin, Lou Ping dan Sim Hi lonCat keluar menyambutnya.
Sepasang kampak si Bongkok Ciang Cin, meneryang dengan serunya, tapi pakaian baju dari pasukan thiat-kah itu tidak tertembuskan. Malah hampir saja dia sendiri kena tertusuk tombak musuh.
Tidak banyak sekali berbeda, adalah Lou Ping, Sim Hi dan Thian Hong. Betapa hebat mereka mengamuk, tapi seorangpun tak dapat melukai musuhnya.
Juga tabasan dari Bun Thay Lay, terpental balik. Saking gemasnya, dia lempar senjatanya, terus menyerang dengan tangan kosong. Seorang serdadu thiat-kah Coba menusuk dengan tombaknya, tapi kena ditarik oleh Bun Thay Lay, terus dibetotnya. Begitu terampas, dia terus sodokkan ujung gagang tombak kemuka lawan. Hebat! Senjata itu berba lik makan tuan, menyusup masuk kedalam otak.
“Awas, belakang!” tiba-tiba Lou Ping menjerit.
Bun Thay Lay tidak gugup. Memang dia berasa ada sam beran angin dari belakang. SeCepat kilat, tangannya kiri dikaitkan kebelakang, dan tombak dari sipenyerang itu ter-kempit dalam ketiaknya. Sedang sebelah tangannya lagi, menarik tombak yang masuk kedalam muka korbannya tadi, untuk kemudian berputar kebelakang terus melemparkan tombak itu kemuka sipenyerangnya yang baru itu. Kembali sebuah pemandangan yang mengerikan! Ujung tombak, masuk kedalam mulut, keluar dari tengkuk belakang.
Demikianlah kalau Pan-lui-Chui, sedang mengganas. Kini dia gunakan sepasang tombak untuk mengamuk lagi. Dalam sekejab saja, sudah ada sembilan orang serdadu thiat-kah yang termakan mukanya.
Tan Keh Lok tidak membekal senjata, keCuali dua batang Cambuk kuda.
“Sim Hi, Ciang-sipte, ikutlah aku!” teriaknya.
Tapi ajakannya itu, disambut dengan tusukan tombak dari seorang serdadu thiat-kah. Tan Keh Lok egoskan tubuh,
menghindar. Cambuk ditangan kiri disabetkan untuk meng gubat kedua kaki siserdadu. Sekali tarik, terpelantinglah serdadu itu.
“Sim Hi bukalah topinya!” seru Keh Lok.
Topi dan pakaian serdadu itu terbuat daripada besi baja, dan berat sekali. Maka begitu jatuh, sukarlah serdadu itu akan berbangkit. Sim Hi sangat linCah. Sekejab saja dia sudah loloskan topi baja siserdadu. Dan sekali si bongkok mengajun kampaknya, hanCurlah kepalanya.
Demikianlah tiga serangkai itu, berkelahi dengan Caranya yang istimewa. Tan Keh Lok yang mainkan Cambuk menggantol kaki, Sim Hi yang melolos topi dan si Bongkok yang menghabiskan jiwanya. Juga Cara ini sangat berhasil. Delapan atau sembilan serdadu dapat dibinasakan dalam sekejab.
Sisa dari kawanan serdadu thiat-kah itu, Copot nyalinya. Diamuk oleh Bun Thay Lay dan dijirat Tan Keh Lok, mereka berteriak sembari mundur.
Adalah disaat itu Jun Hwa dan Hi Tong sudah kewalahan menghadapi permainan ‘jwan-hun-kiam’ dari Ciauw Cong. Burudua Thian Hong maju membantu. Melihat anak buahnya lari semua Ciauw Cong perhebat desakan. Begitu ketiga lawannya mundur, iapun lalu tinggalkan mereka.
Bun Thay Lay hendak mengejar, tapi disambut dengan hujan panah oleh pasukan Ceng.
“Lekas kemari!” tiba-tiba Lou Ping berteriak dengan kuatir terus lonCat masuk kedalam lubang. Kawan-kawan nyapun segera mengikut.
Ternyata disitu Ciu Ki tengah mengadu jiwa dengan 4 orang serdadu. Nampaknya sangat keripuhan sekali. Ram butnya terurai, mukanya berlepotan darah dan lumpur. Disaat Kawan-kawan nya bertempur dengan serdadu thiat-kah tadi, diam-diam keempat serdadu Ceng itu menyelinap masuk kedalam lubang. Karena sempit, serdadudua tidak dapat menggunakan tombak, dan hanya pakai golok.
Gusarnya orangdua HONG HWA HWE itu tak terkira. Mereka berbareng menyerbu. Lou Ping dapat menikam seorang, Jun Hwa seorang, sedang Bun Thay Lay dapat menerkam dua orang.
Terus dibenturkan kepalanya satu sama lain, hingga peCah.
Thian Hong burudua menolong isterinya. Ternyata Ciu Ki mendapat luka lagi dua kali, ditangan dan pundaknya. Hiang Hiang KiongCu robek pakaiannya buat balut luka itu.
“Tiau Hwi mengurung kita disini, supaya fihak Ui kirim bantuan. Ini tentu garadua Ciauw Cong, maka mereka akan menangkap kita,” kata Thian Hong.
“Tadi dia mundur tentu masih penasaran. Rasanya akan membawa anak buahnya datang lagi,” ujar Keh Lok.
“Mari kita gali lagi lubang perangkap, untuk tangkap bangsat itu,” usul Thian Hong.
Untuk membekuk Ciauw Cong, adalah menjadi idamduaan setiap Anggota HONG HWA HWE Menuruti petunjuk Thian Hong, mereka membuat sebuah lubang disebelah utara. Diatasnya, bertutupkan salju setebal setengah meter, tapi didalamnya merupakan lubang. Sedikitpun tak kelihatan.
“Kalau bangsat itu munCul lagi, CongthoCu harus me mikatnya supaya datang kemari,” pesan, Thian Hong.
Tepat pada waktu itu, Ciauw Cong benar-benar datang dengan sepasukan serdadu thiat-kah-kun lagi. Karena bermula dia sudah omong besar pada Tiau Hwi hanya akan membawa seratus orang, maka apa boleh buat, kini dia hanya, kumpulkan lagi sisa anak buahnya itu, terdiri dari beberapa puluh orang saja. Mereka kini memakai perisai.
Berturut-turut Jun Hwa lepaskan anak panah, semua kena ditahan perisai mereka. Maka dengan tertentu, kini mereka dapat tiba, dimuka lubang.
Tiba-tiba Tan Keh Lok lonCat keluar, serunya pada Ciauw Cong: “Mari kita putuskan, siapa yang kalah dan menang.”
Melihat ketua HONG HWA HWE itu tak membekal senjata, Ciauw Cong lalu lempar senjatanya.
“Baik. Hari ini kita selesaikan benar-benar!” sahutnya.
Demikianlah keduanya segera bertarung dengan tangan kosong. Tan Keh Lok keluarkan ilmu silatnya “peh-hoa-joh-kun.” Sedang Ciauw Cong gunakan ilmu silat tangan kosong dari Bu Tong Pai yang lihai, jakni “bu-kek-hian-kong-kun.”
Bun Thay Lay, Thian Hong, Ciang Cin, Jun Hwa, Hi Tong dan Sim Hi berenam lonCat keluar. Pertempuran segera peCah dengan hebat. Tan Keh Lok terus main mundur-mundur. Pelan tapi tentu, dia mendekati lubang dibawah salju. Dua langkah lagi, Ciauw Cong pasti akan terperosok masuk.
Dalam saat yang genting itu, tiba-tiba ada seorang serdadu thiat-kah menyerbu. Cepat menginjak diatas salju tadi, menjeritlah dia keras-kerasterus terperosok masuk. Hanya je ritan seram yang terdengar. Orangdua menduga, tentulah itu Lou Ping yang tengah menghabiskan jiwa siserdadu. Memang nyonya itulah yang siap menunggu dibawah.
Ciauw Cong terkesiap. Sebaliknya kini Tan Keh Lok berlaku nekad. Dia maju menubruk lawannya, menyikapnya keras-kerasuntuk didorong kedepan. Tapi orang she Thio itu sudah pasang kudadua, kokoh bagaikan terpaku ditanah. Dia gunakan tenaganya berbalik mendorong. Begitulah Dua-duanya, sama berkutetan. Yang satu tak dapat lolos, sedang yang lain tak dapat mendorongnya.
Tiba-tiba ada dua orang serdadu thiat-kah menusukkan tom baknya kepada Tan Keh Lok. Thian Hong terkejut. Cepat dia lonCat maju. Dengan tongkat dia tolak ujung tombak, kemudian dia dorong Keh Lok dan Ciauw Cong yang saling gumul itu kedalam lubang. Ketika kedua serdadu itu tusukkan lagi tombaknya, dia lalu menghindar dengan bergelundungan.
Jatuh kedalam lubang perangkap, kedua orang itu, Keh Lok dan Ciauw Cong, sama terlepas. Lou Ping Cepat menghantam dengan goloknya, tapi dengan lihainya Ciauw Cong dapat merebut senjata itu. Pikirnya, hendak dia hantam nyonya itu, tapi sebuah tendangan yang dilunCurkan dari belakang oleh Tan Keh Lok, membuatnya batal.
Kini dia berbalik menyerang Keh Lok, siapa sembari mengegos kesamping, lalu menotok jalan darah “im-si-hiat” dipaha lawan. Ciauw Cong Cepat tarik kakinya.
“Sret, sret, sret!” Tiga kali beruntun Lou Ping lepaskan hui-to, golok terbang. Karena sempitnya, orang tak dapat bergerak dengan leluasa. Tapi dalam saat-saat berbahayanya itu, Ciauw Cong dengan gapah sekali dapat menghindari ketiga golok terbang itu.
“CongthoCu, sambutilah golok ini!” Lou Ping berseru, sembari lempar golok pada Tan Keh Lok.
Dengan gunakan ilmu golok “kim-kong-hok-houw-to-hwat,” Keh Lok tempur Ciauw Cong yang bersenjatakan golok pendek bolehnya merebut dari Lou Ping tadi.
Memang kepandaian ketua HONG HWA HWE itu, beraneka ragam. Dia dapat gunakan segala maCam senjata. Tidak demikian dengan Ciauw Cong. Dia ini hanya tumpahkan keyakinan nya pada ilmu pedang. Maka dalam hal adu senjata, dia agak kurang leluasa.
Baru belasan jurus, beberapa kali Ciauw Cong hampir kena, andaikata dia tak pakai tangannya kiri untuk membantu dalam ilmu silat tangan kosong.
Sebaliknya, Lou Ping diam-diam menjadi girang. Sepasang golok “Wan-yang-to”-nya itu belum pernah lolos dari tangannya. Kini masing-masing dipakai oleh dua jago. Kalau dulu, ia anggap sepasang goloknya, satu panyang satu pendek, itu samadua lihai kegunaannya, sekarang baru tahulah ia, bahwa yang panyang itu ternyata lebih lihai dari yang pendek.
Ciu Ki siap dengan golok untuk melindungi Hiang Hiang KiongCu, yangan sampai Ciauw Cong nanti main gila.
Mendadak Ciauw Cong lemparkan golok pendek yang dipegangnya itu keatas, lalu serunya: “Mari kulayani kau dengan tangan kosong!” — Habis itu, tangan kanan, tangan kiri, susul menyusul merabu diantara gemerlapnya golok Tan Keh Lok.
“Sambut golok ini!” seru Keh Lok sambil lemparkan kembali golok kepada Lou Ping.
Berbareng itu, tangan kirinya menyerang dan menotok jalan darah “jiok-ti-hiat.” Gerakan dalam lubang sesempit itu, sangat terpanCang. Yangan kata hendak lonCat kian kemari, atau maju mundur. Maka kedua lawan itu, tumpahkan seluruh kepandaiannya. Mereka tak berani berlaku ajal. Justeru itu, dalam beberapa puluh jurus kemudian lantas dapat diketahui yang unggul dan yang kalah.
“Peh-hoa-joh-kun” dari Tan Keh Lok memang hebat. Tapi tak urung masih kalah sempurna keyakinannya dengan
Ciauw Cong, begitu pula kalah tenaga. Dengan berlalunya sang waktu lebih lama, makin tampak dia tak dapat bertahan lebih lama.
Lou Ping Cemas. Hendak ia turun tangan membantu, tapi sukar untuknya melihat kesempatan yang baik, karena asjik dan Cepatnya pertempuran itu. Kini makin nyata. Tan Keh Lok dibawah angin.
Tiba-tiba Ciauw Cong kirim sebuah tendangan. Begitu lawan miring kekiri, dia susuli dengan tonjokan tangan kiri. He batnya tonjokan itu bukan main, hingga menerbitkan sam beran angin keras.
Dalam keadaan yang gawat itu, tiba-tiba disebelah atas ada orang berseru: “Awas thiat-tan!”
Ciauw Cong kaget, ia menarik balik tangannya dan burudua dekap kepalanya. Benar juga, sebuah benda bundar melayang datang. Ciauw Cong pernah rasakan betapa ngerinya thiat-tan itu, dia menjadi berCekat dan diam-diam berpikir: “Mengapa situa itu datang? Dari sebelah atas, tentu hebat sekali timpukannya itu.”
Dia telah ambil putusan, tak mau menyambuti atau menghindar. Sekali enjot, dia melesat tinggi keatas. “Bum”......
demikian suara thiat-tan menghantam lubang. Dan menyusul itu, Thian Hong lonCat kedalam lubang.
Kiranya sejak Ciu Tiong Ing bermenantukan Thian Hong, dia turunkan ilmunya thiat-tan pada sang menantu. Thian Hongpun mejakirikannya dengan sungguh-sungguh. Dan kali inilah untuk pertama kalinya dia menCoba kepandaian itu. Malah disertai meniru bentakan dari mertuanya. Benar timpukannya itu tak berhasil, namun sedikitnya dapat membikin kaget Ciauw Cong.
Ciauw Cong menyusuli lagi dengan sebuah enjotan, terus lonCat keatas. Tapi baru kakinya menginjak tanah, sebuah samberan dan pukulan yang luar biasa dahsyatnya, menyerang. Belum pernah, dia bertemu dengan pukulan sehebat itu. Cepat dia angkat tangan kanan, dan berhasil menangkisnya, tapi dengan berbuat begitu, dia kembali harus lonCat lagi masuk kedalam lubang.
“Siapa dia? Kepandaiannya tidak dibawahku,” pikirnya dengan kerkejut.
Baru kakinya menginjak dibawah, seseorang telah me nyusul dan membentaknya dengan suara menggeledek: “Penghianat busuk, masih kenal aku tidak?”
Seorang yang bertubuh tinggi besar, sikapnya gagah perkasa, berdiri dihadapannya. Itulah Pan-lui-Chiu Bun Thay Lay.
Jun Hwa, Ciang Cin, Hi Tong dan Sim Hi setelah dapat memukul bujar pasukan thiat-kah, lalu ikut melonCat masuk. Kini, Bun Thay Lay berhadapan muka dengan musuhnya besar. Disekelilingnya, adalah Tan Keh Lok dan Kawan-kawan nya.
Teringat akan sakit hatinya di Thiat-tan-Chung, dan pen-deritaannya selama ini, alis Bun Thay Lay terangkat naik, matanya ber-apidua, gerungannya makin dahsyat. Sekali gerak, dia terus gunakan ilmunya istimewa “pi-lik-Ciang” atau pukulan geledek.
Ilmu pukulan itu Menderu-deru bagaikan kilat menyambar. Hawanya sedemikian rupa seramnya. Se-olahdua ditempat sesempit itu, dia akan adu jiwa, mati atau hidup. Pertempuran ini, jauh lebih dahsyat dari Tan Keh Lok tadi. Baik Ciauw Cong, maupun Bun Thay Lay, samadua keluarkan ilmunya yang paling ganas sendiri.
Melihat sikap Bun Thay Lay yang sedemikian seramnya itu, Hiang Hiang menjadi ketakutan. Keh Lok menghampiri dan memegang tangannya, sembari tertawa. Hiang Hiang mengawasi sianak muda, seperti hendak menanyakan apakah Keh Lok berasa Cape. Tapi Keh Lok gelengkan kepalanya. Dengan lengan baju, Hiang Hiang usap peluh dan kotoran dimuka pemuda ini.
Tan Keh Lok siapkan tiga biji Catur. Sewaktu Bun Thay Lay dalam bahaya, segera akan ditolongnya. Menggenggam biji Catur, teringatlah Keh Lok akan permainan yang digemari itu, pikirnya: “Sungguh seperti dalam posisi Catur yang ruwet. Ditengah, Bun-suko bertempur dengan Ciauw Cong. Diluarnya, kita mengepung. Tapi kitapun dikepung oleh pasukan Ceng. Dan diluar kepungan itu, nona Ceng Tong tengah berdaya untuk menobros masuk. Masih diluar lagi, induk pasukan Ceng menyusun kepungannya yang kuat pula. Dalam permainan ini, sekali salah jalan, habislah riwajatnya.”
Orangdua HONG HWA HWE itu Cukup paham, bahwa Bun Thay Lay akan menCari balas. Karenanya mereka tak mau ikut turun tangan, hanya mengawasi dipinggir dan menjaga yangan sampai Ciauw Cong bisa lolos.
Mereka Cukup perCaja akan kelihaian Sukonya itu. Sekalipun tak menang, tapi pasti tak nanti terkalahkan. Demikianlah pertempuran itu berjalan dengan gigih sekali. Laksana gelombang ombak dilaut mendampar batu karang. Betapapun hebat sang ombak mendampar, batu itu tetap tangguh.
Demikian pertempuran itu. Betapa hebat Bun Thay Lay menggempur, Ciauw Cong tetap tak bergeming seperti karang. Entah bagaimana kesudahannya nanti. Dalam pada itu, pasukan Ceng makin mengepung rapat-rapat. Keh Lok mengerti, bahwa lebih dulu bangsat itu harus lekas dibereskan, baru nanti dapat mengalihkan perhatian untuk menahan musuh.
Teringat dia akan sebuah Corak permainan Catur. Dalam keadaan terjepit, harus dapat bertahan dengan gigih sampai nanti bantuan datang. Timbullah pikirannya: “Lain orang membantu, mungkin Suko kurang senang. Tapi kalau Suso yang turun tangan, dia tentu tak marah.”
Cepat dia beri isyarat pada Lou Ping, siapa terus akan melepas huito. Tapi karena rapatnya mereka yang berkelahi itu, ia tak berani menimpuk, kuatir mengenai suaminya sendiri.
“CongthoCu, kau turun tanganlah. Aku tak bisa!” serunya.
Tiga buah biji Catur Keh Lok segera melayang menCari jalan darah. Ciauw Cong keripuhan menghindar. Dan kesempatan ini, digunakan Bun Thay Lay untuk menghantam sang lawan. Pada saat pukulan itu akan mengenai sasaran nya, tiba-tiba disebelah atas terdengar suara sorakan riuh, derap kaki kuda dan gemerinCing pedang beradu.
“Tan-kongCu, Asri, kalian dimana?” sekonyong-konyong seorang lonCat kepinggir lubang sambil berseru.
^,Ayah, ayah, kita berada disini!” teriak Hiang” Hiang.
“Balabantuan datang! Saudara-saudara mari kita naik, dan bunuh dulu bangsat ini,” seru Keh Lok segera. Dan semua orang serentak menyerang Ciauw Cong.
Ciauw Cong tahu, biar bagaimana dia pasti tak dapat menangkis sekian banyak sekali senjata. SeCepat kilat, dia mendapat akal. Dengan kedua tangan, dia hantamkan kearah punggung Hiang Hiang.
Semua orang kaget dan Cemas. Serempak mereka maju menolong. Tapi ternyata serangan Ciauw Cong itu hanya sebuah tipu pukulan yang disebut: “suaranya disebelah timur tapi yang dipukul sebelah barat.” Tiba-tiba dia tarik kembali pukulannya. Tangannya kanan menjumput segenggam pasir terus dilontarkan. Mata sekalian orang menjadi pudar, tahu-tahu Ciauw Cong lonCat keatas.
“Hmm!” tiba-tiba ia menggerung tertahan. Betisnya kena ditimpuk thiat-tan oleh Thian Hong. Tapi dengan kretek gigi, dia berhasil juga untuk lolos.
Rombongan orang HONG HWA HWE lonCat mengudaknya. Disitu Bok To Lun tengah memutar golok menyerang musuh, diikuti oleh anak buahnya. Pihak Ceng pun keprak kudanya menyambutnya. Kesitulah Ciauw Cong menyusup, terus menghilang.
Bun Thay Lay dapat merampas sebatang tombak. LonCat keatas kuda putih, dia maju menyerbu. Tapi Lou. Ping burudua menCegahnya.
Anak tentara Ui terlatih bagus. Sekalipun daya tempur dari pasukan Hek Ki itu agak kurang. Tapi karena mereka yakin, bahwa pertempuran kali ini untuk membela tanah airnya, maka mereka berkelahi dengan semangat me-nyaladua.
Nampak ayahnya datang, muka dan kumis siapa penuh dengan darah, burudua Hiang Hiang lari mendapatkannya terus susupkan kepalanya kedada sang ayah.
“Ayah!” panggil sigadis dengan terharu.
Bok To Lun memeluknya, dan meng-usapdua kepala sang anak.
“Anak, yangan takut. Ayah datang menolongmu!” kata orangtua itu.
Thian Hong berdiri keatas punggung kudanya, ia menengok keadaan diseluruh penjuru. Tampak disebelah timur sana, debu mengepul tinggi ditanah bersalju debu bisa mengepul, suatu tanda disitu tentu bersembunyi pasukan musuh.
“Bok-loenghiong, mari lekas mundur keatas sebuah tanah tinggi disebelah barat,” seru Thian Hong segera.
Tahu Bok To Lun, bahwa Thian Hong itu Cerdas sekali. Dulu merampas Quran, adalah dia yang merenCanakan. Dari itu pemimpin suku Ui itu sangat memperCajainya. Terus dia perintahkan pasukannya menuju kebarat. Tentara Ceng mengejarnya. Tiba-tiba disegelah barat sana, ada lagi sebuah rerotan pasukan berkuda yang datang menyerang, hingga pasukan Bok To Lun terkepung ditengahdua.
Bok To Lun dengan Bun Thay Lay keprak kudanya untuk menobros, tapi terpaksa kembali karena dihujani panah oleh musuh.
“Ah, ternyata Ceng-ji benar. Aku sendiri yang tolol meta nyalahkannya. Kini ia tentu menyesali aku,” pikir Bok To Lun.
Lekas-lekas Thian Hong ajak rombongannya naik keatas bukit pasir, dan mengadakan penjagaan sekuat-kuatnya sampai bala bantuan datang. Rupanya mereka mendapat posisi yang baik sekali. Beberapa kali, musuh dapat dipukul mundur.
Bok To Lun bagiduakan ransum kering pada rombongan tamunya. Tepat pada saat itu, mereka memang sudah kehabisan makanan. Dan sehabis dahar, semangatnya menjadi segar lagi.
Kini balik kita menengok keadaan Ceng Tong yang membawa pasukannya. Kira-kira belasan li dari tempat musuh, ia perintahkan berhenti. Itu waktu tengah hari. Para pemimpin barisan dan kurir berkuda sama memberi laporan.
“Selokandua ditepi tebat berlumpur telah siap digali,” lapor pemimpin Ang Ki atau pasukan bendera merah.
“Semua penduduk kota Yarkand sudah diungsikan. Tempat persembunyian sudah ditutup dengan kayu bakar dan minyak,” lapor pemimpin kompi kesatu dari Pek Ki.
“Dan semua sumurdua didalam kota tersebut, telah dimasuki raCun,” kata pemimpin kompi 1tiga dari pasukan tersebut.
Pemimpin pasukan Kazak dan Mongolpun melapor tentang pekerjaan mereka. Semuanya telah selesai menurut titah Ceng Tong.
“Bagus, saudara-saudara telah Cape semua. Sekarang kita bermarkas disebelah timur dari tebat lumpur itu,” kata Ceng Tong yang terus mengeluarkan lengCi: “Dan kini pemimpin kompi II dari Ang Ki bawalah lima puluh0 orang untuk menjaga tepi selatan dari sungai Hitam. Usahakan yangan sampai tentara musuh dapat menyeberang. Paling sedikit, mereka menyerang dengan sepuluh ribu serdadu. Yangan lawan mati-matian, Cukup kalau dapat mengulur waktu. Kalau sampai ada seorangpun serdadu musuh yang dapat menyeberangi sungai, yangan kau menghadap aku lagi.”
Pemimpin itu segera berlalu.
“Pemimpin kompi I dari Pek Ki, bawalah anak buahmu. Pikatlah supaya musuh mengejarmu kearah barat. Kau harus berpura-pura kalah, lari terus kegurun besar, makin jauh makin bagus,” atur Ceng Tong pula.
Tapi Kipanya pemimpin itu wataknya suka menang, dia tak senang diperintah supaya kalah.
“Kita orang Ui hanya tahu menang. Aku tak biasa ‘kalah’,” serunya.
“Ini perintahku.” Disepanyang jalan, kau lemparkan empat ribu ekor kerbau dan sapi yang kau bawa itu, agar mereka terpikat dan merampasnya,” kata Ceng Tong.
“Mengapa ternak diserahkan musuh? Aku menolak!”
Mulut Ceng Tong dikatupkan kenCangdua, dengan keren ia menegaskan: “Jadi kau membangkang?”
Pemimpin itu kibaskan goloknya, berseru keras: “Perintahmu untuk menangkan peperangan, aku turut. Untuk suruh aku kalah, aku Tegas-tegas menolaknya.”
“Akan kubawa kalian kearah kemenangan. Kau hanya pura-pura kalah dulu, baru nanti berbalik menyerang lagi,” ujar sigadis.
Merah mata pemimpin kompi itu, karena beringas.
“Sedang ayahmu sendiripun tak dapat memperCajai kata-kata-mu, mengapa kau akan Coba menipu aku? Kau kira aku tak tahu isi hatimu?” teriaknya sengit.
“Tangkap dia!” seru Ceng Tong pada pengawal didekatnya,
Empat orang pengawal segera meringkus hulubalang itu, siapa hanya tertawa tawar saja, tak mau melawan.
“Bahwa orang Ceng akan menyerang wilayah kita, harus- (
lah kita bersatu padu dulu, baru dapat menCapai kemenangan. Nah, kau turut perintahku apa tidak?”
“Aku tetap tidak mau. Coba kau akan berbuat apa padaku?”
“Tabas kepalanya!” bentak Ceng Tong tegas.
Tadi hulubalang itu bersikap Congkak, karena mengira Ceng Tong pasti tak berani menghukumnya. Maka demi didengar keputusan itu, mukanya lantas berobah puCat seperti kertas. Pengawal itu Cepatdua lakukan titah Ceng Tong, dan menggelindinglah kepala hulubalang yang membangkang itu. Ceng Tong suruh pertunjukkan kepala itu kepada semua pemimpin barisan. Dan merekapun menjadi patuh karena takut.
Oleh Ceng Tong segera wakil pemimpin kompi kesatu dari pasukan Pek Ki diangkat menjadi penggantinya. Ditugaskan memikat musuh supaya( mengejarnya kearah gurun. Kalau nanti ada pertandaan asap dari sebelah timur, harus lekas kembali dengan ambil jalan memutar. Pemimpin baru itu segera berangkat.
Selesai memberi perintah, seorang diri Ceng Tong kaburkan kudanya keparat. Tiba-tiba dia turun, terus berlutut. Kedua belah pipinya basah dengan air mata. Dengan suara lemah ia bersembahyang: “O, Allah Yang Maha Kuasa, hamba mohon berkah dituntun kearah kemenangan. Ayah, saudara, sampaipun ponggawa perang, tak memperCajai hamba lagi.
Demi memelihara peraturan pasukan, terpaksa hamba membunuh orang. “O, Allah, limpahkanlah berkatMu, agar kami menang, agar ayah dan adik hamba kembali dengan tak kurang suatu apa. Kalau mereka ditakdirkan binasa, mohon hamba saja yang menggantikannya. Tak akan hamba bermohon apa-apa lagi, biarlah Tan-kongCu dan adik hamba saling berbaik. Kau karuniakan mahkota keCantikan pada Asri, tentu ber-lebihduaan pula kasihMu padanya. Kumohon kasihMu itu selalu dilimpahkan padanya”.
Habis mendoa, Ceng Tong lonCat keatas kuda. Memutar kembali kudanya, ia menCabut pedang seraya berteriak: “Kompi kesatu dan kedua dari pasukan Hek Ki, ikutlah aku. Lain-lainnya kembali kepos masing-masing!”
Kita tengok lagi keadaan Bok To Lun dan rombongan Tan Keh Lok. Lewat tengah hari, tiba-tiba di belakang barisan musuh timbul kekaCauan. Sebuah pasukan meneryangnya datang dengan hebat. Dibawah hujan salju, tampak pemim pin pasukan itu, seorang yang berpakaan warga kuning, dengan memutar golok panyang. Sebatang bulu burung yang berwarna hijau kebiruduaan nampak ber-goyangdua terCantum diatas kepalanya. Itulah Chui-ih-wi-sam Hwe Ceng Tong yang gagah perkasa.
“Ayo, kita menyerbu, sdr.dua!” seru Thian Hong. Bagaikan gelombang, pasukan Ui yang dipimpin oleh orangdua gagah HONG HWA HWE menyerbu kebawah dari dua jurusan. Tentara Ceng tak kuasa menahannya. Maka terbukalah jalan dimana keempat pasukan Ui — dua dari Bok To Lun dan dua dari Ceng Tong — dapat bergabung. Hiang Hiang KiongCu ajukan kudanya, kemudian saling berpelukan dengan sang enci.
Ceng Tong menarik tangan adiknya, seraya memberi perintah: “Sdr. pemimpin kompi tiga dari Hek Ki, lekas bawa anak buahmu mundur kebarat, bergabung dengan kompi I dari Pek Ki. Turutlah perintahnya!”
Pemimpin itu Cepat melakukan perintah. Kuda dari anak buah kompi itu semuanya pilihan. Tampak dari jauh sebuah bendera kuning ber-kibardua. Itulah pasukan pilihan Wi Ki atau panji kuning dari tentara Ceng sudah mengejarnya.
“Bagus!” seru Ceng Tong ke girangan. “Sdr. pemimpin kompi I pasukan Hek Ki, mundurlah ke kota Yarkand. Turut perintah kokoku. Kompi II Hek Ki, kau mundur ketepi selatan sungai Hitam. Disana sudah siap menyambut kompi II pasukan Ang Ki kita. Dengarlah perintahnya!”
Kembali kedua pemimpin kompi itu berangkat. Kini tampak pasukan Ceng dari Pek Ki (bendera putih) yang mengejarnya.
“Saudara-saudara, mari kita menyerbu ketimur!” seru Ceng Tong. Tigaratus anak buah tentara Ui, mengawal nona pemimpin mereka, segera membuka jalan. Bok To Lun, Hiang Hiang dan Tan Keh Lok berserta rombongannya bergabung dalam kompi 4 pasukan Hek Ki, terus ikut meneryang kearah timur.
Tiau Hwi Cepat titahkan kedua sayapnya — pasukan thiat-kah — menghadangnya. Yang ini adalah pasukan pilihan dari Lam Ki (pasukan biru) mereka. Pemimpin dan wakilnya sama bersenjatakan tombak berkait.
Pasukan Ui tadi segera tampak terCeCer. Mereka bertempur sembari lari. Sekejab saja, beberapa ratus tentara Ui terkepung, pasukan Thiat-kah itu bersuka ria membasminya. Tiau Hwi girang sekali. Menunjuk pada panji bulan sabit, disebelah Ceng Tong, dia berseru: “Siapa dapat merampas panji bulan sabit itu, mendapat hadiah seribu tail perak!”
Be-rebutduaan anak buah .thiat-kah-kun merangsek maju. Mereka mengejar kearah gurun raja.
Karena anak buah kompi 4 dari pasukan Hek Ki suku Uigor itu berkuda bagusdua, dalam beberapa waktu, thiat-kah-kun tak dapat mengejar. Mereka mengejar sampai tiga-empatpuluh li. Diantara beberapa anak buah kompi 4 Hek Ki itu, ada, yang terCeCer ketinggalan. Mereka memberi perlawanan seru, tapi tak urung dapat dibunuh oleh thiat-kah-kun.
Tapi setiap serdadu Ui yang dibunuh itu, kalau bukan orang tua tentu masih kanak-kanak. Melihat itu, Tiau Hwi menjadi girang.
“Aha, pemimpin mereka itu tidak dikawal oleh barisan istimewa! Ayo, kejar terus!” serunya.
Lewat beberapa li lagi, keadaan pasukan Ui makin kaCau. Yang tamnak, hanya panji bulan sabit ber-kibardua diatas sebuah bukit.
Kuda Tiau Hwi juga seekor kuda pilihan. Dengan memutar golok besar, dia keprak mendahului untuk mengejarnya. Tamoaklah rombongan Ceng Tong itu turun dari atas bukit.
Setiba, dipunCak bukit, Tiau Hwi segera bujar semangat nya, Disitu bukan pasukan panji bulan sabit yang didapati nya, melainkan suatu pasukan yang berbaris rapih dan angker.
Disitu yang berkibar, adalah panji Merah (Ang Ki), “Sungguh Cerdik sekali orang Ui itu. Kiranya mereka sudah sediakan bay-hok disini!” pikir jenderal Ceng itu.
Ketika ia memandang kesebelah utara, tampak sepasukan bendera putih (Pek Ki) tengah mendatangi.
“Lekas mundur, pasukan belakang menjadi pasukan di muka!” seru Tiau Hwi dengan gugup.
Begitu perintah dikeluarkan, pasukan Ceng menjadi kaCau. Kini keadaan berbalik. Tentara Ui bagaikan semut maju mengejar. Benar semula tentara Ceng lebih besar jumlahnya dari pada fihak Ui, tapi oleh karena kini pasukan Tiau Hwi itu terpencil, kurang lebih hanya sepuluh ribu orang, maka mereka tak ungkulan melawan induk pasukan Ui yang berpusat ditempat itu.
Saat itu, kedua pasukan pilihan dari fihak Ui dari sebelah barat sudah mulai meneryang. Jadi kini Tiau Hwi terkepung dari tiga jurusan, barat, selatan dan utara. Hanya disebelah timur yang masih terdapat lubang. Melihat itu Tiau Hwi Cepat perintahkan pasukannya meneryang kearah itu. Dia sendiri pimpin penjagaan dibelakang. Makin ketiga pasukan Ui itu mendekati, makin ributlah pasukan Ceng itu mundur kesebelah timur.
Di-tengah-tengah kepanikan itu, tiba-tiba ada seorang serdadu kuda maju kemuka Tiau Hwi dengan berteriak keras-keras: “Tay-Ciangkun, Celaka, disebelah depan sana adalah lautan pasir dan tebat lumpur!”
Lautan pasir endap dari gurun Mongolia, adalah luas dan hebat. Itu waktu sudah ada seribu serdadu thiat-kah yang tengah berkutetan didalam endapan. Makin lama, mereka makin melesak kedalam.
Lautan pastt endap itu terjadi karena dulu sungai dari daerah padang pasir situ tak dapat mengalir kedalam laut. Air itu merembes masuk dalam pasir, dan jadilah sebuah lautan pasir yang mengendap. Luas ‘gurun lumpur’ itu tak kurang dari sepuluh mil persegi. Dimusim salju, permukaannya tertutup salju, sehingga tak kelihatan. Disinilah Ceng Tong memusatkan bayhok. Sudah tentu bagi seorang jenderal yang temaha kemenangan semaCam Tiau Hwi itu tak dapat mengetahuinya,
Ketika Ceng Tong dan rombongannya mengawasi dari punCak bukit, mereka dapatkan bagaimana serdadudua Ceng yang melesak terbenam dalam pasir endap itu makin banyak sekali jumlahnya. Ada juga tentara Ceng itu Coba menerobos keluar, tapi disekitar tempat itu penuh dipasangi dengan lubangdua perangkap oleh fihak orang Uigor.
Begitulah anak buah thiat-kah-kun itu digenCet dari tiga jurusan. Hasilnya, mereka saling injak diantara kawan sendiri. Dan tanpa menginsafi, mereka banyak sekali yang lari ke jurusan daerah pasir endap. Sekali injak, kakinya melesak sebatas lutut. Makin bergerak, makin melesak kedalam. Pinggang mereka mulai melesak, maka terdengarlah ribuan serdadu Ceng itu ber-teriakdua dengan ngeri. Dan ini justeru memperCepat melesaknya sang tubuh. Tahu-tahu sudah sampai sebatas mulut, dan pada lain saat, berbareng dengan sirapnya teriakan, kepala mereka pun hilang ditelan pasir. Paling belakang, masih kedua belah tangan mereka ber-gerak-gerak, tapi sekejab saja sudah lenyap; sama sekali.
Sepuluh ribu tentara Ui, dengan memegang perisai dan golok, mengawasinya disebelah luar dari lubang perangkap itu. Sedang dua pasukan pilihannya lanjutkan pembasmian nya lagi kepada sisa thiat-kah-kun yang belum keburu mendekati pasir endap. Demikianlah dalam waktu yang tak lama, sepuluh ribu thiat-kah-kun didesak lari dan kelelap dalam lautan pasir endap.
Untunglah Tiau Hwi, itu jenderal besar dari pasukan Ceng, dengan dikawal oleh seratusan pengawalnya, berhasil lolos dari sebuah jalan kecil.
Melihat be-ribudua serdadu dan kuda, mati kelelap dalam lumpur pasir, Hiang Hiang menangis tersedudua. Ia palingkan kepalanya, karena tak tahan melihatnya. Sebaliknya Bok To Lun sangat gembira, katanya pada Ceng Tong: “Ceng-ji, tadi aku telah kesalahan omong, yangan kau taruh dihati. Memang perangaiku berangasan, ayah yang bersalah.”
Ceng Tong menggigit bibir, tak menyahut.
Tiba-tiba Sim Hi merajap datang, katanya dengan serta merta: “Aku sikecil ini memang kurang ajar, sehingga tak mengetahui akan siasat nona yang lihai ini. Mohon nona tidak mendendam dihati.”
Tapi sekali Ceng Tong peCut kudanya, ia tinggalkan kaCung itu yang masih berdiri kesima ditempatnya.
“Sudahlah,” Ciang Cin tertawa. “Tunggu nanti Cong-thoCu mintakan ampun untukmu!” Begitulah si Bongkok menari-nari, dan tertawa lebar, katanya pula: “Sungguh aku tak habis mengerti, mengapa ia tak menggiring seluruh tentara musuh kedalam laut pasir endap itu!”
“Kita sekarang menang jurnlah,” kata Thian Hong, “mudahlah untuk melakukan itu. Tapi kalau belum-belum seluruh pasukan Ceng itu dimasukkan kemari, andai kata mereka nekad meneryang keluar, tentu kita tak dapat menahannya, bukan?”
“Betul. Tadi kita malah menduga jelek pada nona pandai itu,” sahut Ciang Cin.
Saat itu tak terdengar lagi suara apa-apa dari serdadu musuh. Nyata mereka sudah hilang tenggelam semua.
“Semua pasukan menuju kebarat, berkumpul ditepi sebelah selatan Sungai Hitam,” Ceng Tong kembali keluarkan perintah.
Dibawah pemimpin masing-masing, pasukan besar Ui itu mulai bergerak. Selama dalam perjalanan, Bok To Lun dan Tan Keh Lok saling tanyakan keadaan masing-masing. Berat nian hati kepala suku itu memikirkan kedua puterinya. KeDua-duanya, adalah buah kesayangannya. Kini keduanya nampaknya samadua jatuh hati pada pemuda Han itu.
Benar menurut peraturan agama Islam, seorang lakidua boleh beristeri sampai 4 orang wanita. Tapi orang muda itu bukan orang Islam. Entah bagaimana nanti jadinya.
“Biar nanti dipikirkan lagi setelah musuh dapat dikalahkan. Ceng-ji Cerdas tangkas. Asri halus budi pekertinya. Keduanya saling menyayang. Ah, tentu dapat dipeCahkan soal itu.” pikir orang tua itu.
Petang hari, pasukan besar itu tiba ditempat yang ditu junya. Sekonyong-konyong ada seorang serdadu barisan berkuda bergegas-gegas menghadap Ceng Tong.
“Pasukan musuh menyerang kita dengan hebat. Pemimpin kompi dua dari pasukan Ang Ki kita, sudah terbunuh. Pemimpin kompi dua dari pasukan Hek Ki, luka parah, anak buah kedua kompi itu, teranCam kemusnaan,” demikian laporan nya:
“Suruh wakildua pemimpin kedua kompi itu mengambil alih pimpinan. Tidak boleh mundur barang setapakpun juga,” seru Ceng Tong.
Serdadu berkuda itu Cepat berlalu.
“Kita kirim tidak bala bantuan kesana?” tanya Bok To Lun.
“Tidak!” sahut Ceng Tong dengan ringkas. Ia berpaling kesamping, dan memerintahkan pengawalnya: “Suruh semua pasukan kita ini beristirahat. Awas, yangan membuat api unggun. Boleh makan ransum keringnya!”
Pasukan besar yang terdiri dari sepuluh ribu jiwa lebih itu, segera beristirahat. Jauh disana terdengar deru air Sungai Hitam.
Kembali ada seorang pembawa warta, datang bergegasdua: “Wakil pemimpin dari kompi dua pasukan Hek Ki tadi sudah gugur pula. Anak buah kita tak dapat bertahan lagi!”
“Saudara pemimpin kompi tiga dari pasukan Ang Ki, pergilah bantu mereka. Pimpinan seluruh pasukan disana, kaulah yang pegang!” titah Ceng Tong.
Dengan memutar senjatanya, hulubalang yang ditunjuk itu segera berangkat.
“Nona Ceng Tong, bolehkah aku turut menyerbu?” teriak Ciang Cin.
“Tadi kalian keliwat lelah, baik mengaso lagi sebentar.”
Melihat sikap angker dari sinona sebagai komandan pasukan besar itu, Ciang Cin tak berani banyak sekali CingCong lagi.
Belum selang lama kompi tiga pasukan Ang Ki tadi berlalu, segera terdengar teriakan gemuruh. Tentu mereka sudah terlibat dalam pertempuran dengan tentara Ceng.
Setelah semangat seluruh anak buahnya segar kembali, Ceng Tong kembali. peCah barisannya. Semua kompi dari pasukan Ang Ki, harus mempersiapkan bayhok dibelakang bukit sebelah timur. Sedang barisan Pek Ki suku Kazak dan semua pasukan dari Mongolia, harus menyiapkan bayhok disebelah barat.
“Ayo kita maju lagi,” seru Ceng Tong sambil angkat pedangnya.
Makin kemuka, makin kedengaran dengan jelas, jerit teriak serdadudua yang tengah mengadu jiwa itu. Apabila malam sudah tiba, tampak anak buah fihak Ui menjaga dengan mati-matian beberapa buah jembatan kayu dihulu sungai. Tiba-tiba Ceng Tong perintahkan mereka mundur, dan ribuan tentara Ceng menobros melalui jembatan itu.
Setelah separoh lebih serdadu Ceng melalui jembatan, berserulah Ceng Tong keras-keras: “Tarik papan jembatan!.”
Berpuluh ribu tentara Ui itu, sama sembunyi dibawah tapian sungai. Jembatan tadi bermula sudah dikendorkan, dan diikatkan pada ratusan kuda dengan tali besar. Sekali abadua keluar, maka ratusan ekor kuda itu lari kemuka dan terdengarlah bunyi keretekan yang keras. Jembatan putus. Beberapa puluh serdadu thiat-kah yang sedang berada di tengah jembatan itu, sama keCebur dalam sungai semua. Dan nyatalah pasukan Ceng itu terputus dua. Satu ditepi sini sebagaian ditepi sana. Mereka hanya dapat saling pandang, tak dapat saling memberi bantuan apa-apa.
Ceng Tong kibaskan bendera perintahnya, dan keluarlah barisan bayhok meneryangnya. Tapi tentara Ceng ternyata terlatih baik. Sekalipun dalam kekaCauan, masih mereka patuh akan perintah pemimpinnya. Segera mereka berkumpul dalam formasi yang teratur.
Kira-kira masih berapa ratus tindak dari musuh, tiba-tiba tentara Ui berhenti. Sekali lagi Ceng Tong kibaskan benderanya. Dan, ‘bum, bum’, sana sini kedengaran bunyi letusan menggelegar, disusul dengan kepulan asap hitam bergulung-gulung.
Bumi yang dipijak oleh tentara Ceng itu, ternyata di pendami obat pasang. Maka dapat dibayangkan betapa kaget dan hebat keadaan mereka. Potongan kaki dan gumpalan daging berterbangan ke-manadua. Suasana menjadi panik. Berbareng itu, pasukan Ui meng’hujani panah. Karena tak dapat maju, mereka mundur saling injak sendiri, dan keCebur kedalam sungai.
Pakaian thiat-kah mereka, berat sekali. Sekali keCemplung air, terus ambles. Sisanya sudah tak keruan lagi keadaannya, dan dalam sebentar waktu saja dapat dibasmi oleh fihak Ui. Tepi sungai yang bertutupkan salju putih itu, penuh bertebaran majat serdadu. Pasukan Ceng disebelah tepian sana, ketakutan setengah mati. Mereka berbondong-bondong mundur kedalam kota Yarkand.
“Lintasi sungai, kejar terus!” perintah Ceng Tong.
Dengan gunakan perahudua, induk pasukan Ui lakukan pe ngejaran kekota Yarkand.
“Hebat sekali nona Ui itu mengatur tentara. Rasanya aku tak nempil seujung rambutpun dengannya,” kata Thian Hong.
Keh Lok diam-diam pun kagum.
Penduduk kota Yarkand siangdua sudah diperintahkan mengungsi. Yang jaga disitu adalah anak buah Hwe Ah In. Dia pura-pura mengadakan perlawanan. Habis itu, dia lalu mundur. Tak lama, pasukan Ceng dari bendera Kuning yang dikaCip dan dibinasakan hampir separoh oleh tentara Ui tadi, pun tiba dari pengundurannya di Sungai Hitam. Begitu pun kedua pasukan Ceng itu, kini bergabung. Juga jenderal mereka, Tiau Hwi, tak lamapun datang dengan para pengawalnya.
Demi mendengar kekalahan yang* diderita oleh pasukannya di Sungai Hitam tadi, Tiau Hwi marah besar. Justeru pada saat itu, seorang ponggawa datang melapor, bahwa beberapa ratus serdadu Ceng yang minum air sumur, telah sama mati seperti kena raCun.
Tiau Hwi titahkan sekelompok regu mengambil air diluar kota. Habis itu, hendak ia mengaso. Tapi segera dia menjadi kaget, demi nampak langit berwarna kemerahduaan. Seluruh kota kelihatan terang benderang.
Seorang pengawal masuk bergegasdua, mengatakan bahwa empat penjuru kota Yarkand diamuk api.
Kiranya didaerah Hwe, banyak sekali menghasilkan tambang minyak. Dibeberapa tempat, terdapat sumber minyak yang kaja. Dalam perintahnya dulu, Ceng Tong suruh setiap penduduk supaya menyimpan minyak dirumah masing-masing, sebelum mereka mengungsi. Maka dengan gunakan bayhok yang terdiri dari sedikit orang saja, dapatlah Ceng Tong melaksanakan renCananya, membakar tentara Ceng.
Dibawah lindungan pengawalnya, Tiau Hwi menobros. Dalam kekalutan itu, pasukan pengawal peribadi tersebut, membuka jalan darah untuk menyelamatkan sang Ciangkun. Mereka menuju kepintu barat. Sepasukan besar serdadu thiat-kah memapaki, dan melapor bahwa orang Ui telah menutup pintu barat. Sukar menobrosnya.
Tiau Hwi beralih tujuan kearah timur. Api makin hebat. Terbakar api baju thiat-kah itu menjadi panas. Saking tak tahan serdadudua itu buang pakaian thiat-kahnya, untuk lari tunggang langgang.
Anak buah pasukan Ui yang berada dikota itu ber-sorakdua riuh rendah. Dalam kekalutan itu ada sebuah kelompok kecil dari beberapa serdadu Ceng, menghampiri Tiau Hwi.
“Mana TayCiangkun?” teriak mereka.
“Disihi!” sahut pengawal Tiau Hwi.
Seorang segera tampil kemuka dengan tangkasnya. Itulah Horta.
“TayCiangkun, yang berada dipintu timur agak sedikit, kita teryang kesana,” katanya pada Tiau Hwi.
Dalam keadaan sedemikian berbahaya itu, Tiau Hwi masih bisa berlaku tenang. Dengan sisa pasukannya yang luka-luka itu dia menuju kepintu kota sebelah timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar