Jumat, 16 Maret 2012

Puteri Harum dan Kaisar Jilid 36b


Bun Thay Lay masuk kembali kedalam rumah makan. Nyata dia belum terima, dan kembali menCarinya keseluruh rumah itu, tapi tak ketemu. Ia lonCat keatas sebuah rumah yang punCaknya paling tinggi. Disitu dia memandang keseluruh penjuru. Betul juga, sajupdua kelihatan ada dua benda hitam bergerak pesat kesebelah utara. Bukan main girangnya Bun Thay Lay, buru-buru dia lonCat turun, menyembat golok terus lari mengejar.
Mengejar beberapa li, tibalah ia pada sebuah ladang luas yang ditanami puhun rami yang sudah tumbuh tinggi. Kedua orang buruan itu tiba-tiba menyelinap masuk kedalam kebun rami yang lebat itu, terus tak ada jejaknya lagi. Bun Thay Lay tidak saja silatnya tinggi, pun nyalinya besar. Tanpa banyak sekali pikir, dia meneryang masuk, sembari mem-bentakdua. Keluar dari ujung kebon sana, ternyata adalah sebuah hutan lebat.
“Sudah sampai disini, masa kulepas mereka lari?” pikirnya, lalu berteriak keras-keras: “Kamu lari keujung langit, aku akan tanya keterangan pada Giok-Hong-tay-te. Kau lari kedalam neraka aku akan menCarimu kedalam istana Giam Lo Ong!”
Tapi yang diCari tetap tak ada. Tiba-tiba dia mendapat pikiran, dia enjot tubuhnya berlonCatan naik kepunCak sebuah puhun yang tinggi. Jauh disebelah sana seperti ada sebuah desa, tapi anehnya rumahduanya tinggi-tinggi sekali. Ternyata kedua bayangan hitam tadi lari kesitu, ini takkan terlihat pada malam segelap itu, andai kata tubuh mereka tidak bergoyangdua karena sedang lari.
Bun Thay Lay sesali dirinya yang telah berlaku bodoh karena hampir membiarkan mereka lolos. Sebab sekali dia lonCat turun dan memburu kesana. Dengan kelinCahannya ilmu mengentengi tubuh, sebentar saja sudah dapat dia menyusui, tepat pada saat kedua buronannya itu sudah masuk kedalam tembok rumah.
“Hai, mau lari kemana!” serunya terus memburunya.
Dibawah Cahaja bintang malam yang samardua itu, rumah itu atapnya berwarna hnyau dan temboknya kuning. Kiranya adalah sebuah gereja raksasa. Ia terkejut, ia memutar kedepan rumah berhala itu, papan dimuka gereja itu tertulis dengan empat huruf emas “Siao Lim Ko Sat” atau gereja kuno Siao Lim.
Teringat Bun Thay Lay ketika di BengCin dalam gereja Po Siang Si dia bertempur dengan Gian Pek Kian. Apakah kali ini hal itu akan terulang lagi? Sembari berpikir ia lihat pintu gereja ternyata tertutup rapat. Apa boleh buat, terpaksa dia lonCat melalui tembok.
Sebelah dalam dari tembok itu, ternyata adalah sebuah halaman yang luas. Namun tak nampak bayangan Seng Hong dan Swi Tay Lim berada disitu. Heran ia. Sepanyang pengetahuannya, Siao Lim Si adalah pusat dunia persilatan, masa bersengkongkol dengan pembesar Ceng sehingga mau menyembunyikan kedua orang buronannya itu?
Tengah dia berpikirdua, tiba-tiba pintu besar ruangan besar kedengaran berkretekan terbuka, dan berdirilah disitu seorang hweshio gemuk, tangannya memegang sebatang senjata Hong-pian-jan, semacam senjata kaum padri yang berbentuk sorok, panyangnya tak kurang dari enam kaki.
“Bangsa tikus mana yang begitu bernyali besar datang membuat gaduh disini?” serunya.
“TeCu mengejar dua orang Cakar alap-alap hingga tak sengaja masuk kemari, harap Toasuhu maafkan,” sahut Bun Thay Lay dengan merangkap kedua tangannya.
“Kau mengerti silat, tentunya kau sudah mengetahui tempat apakah Siao Lim Si ini. Mengapa kau begitu tak tahu aturan, masuk membawa senjata?”
Seketika meluaplah hati Bun Thay Lay, tapi segera dia insyap akan kesalahannya- tadi, maka buru-buru dia rangkapkan tangan dan berkata: “TeCu minta maaf.”
Berbareng dengan uCapan itu, dia berputar, terus enjot tubuhnya keatas tembok, lalu lonCat keluar, ia duduk menanti dibawah sebuah pohon.
“Kedua bangsat itu pasti akan keluar juga akhirnya. Akan kutunggu mereka disini,” pikirnya.
Belum berapa lama dia duduk disitu, sihweshio gemuk tadi lonCat keatas tembok dan berseru: “Ha, mengapa kau masih belum pergi, apakah punya maksud menCuri kemari?”
Bun Thay Lay gusar sekali. “Aku duduk sendiri disini, apa sang'kutannya dengan kau?!” sahutnya segera.
“Ha, mungkin kau makan hati-maCan dan empedu maCan tutul, maka kau berani membuat gaduh digereja Siao Lim Si ini. Baik kau lekas-lekas pergi.”
Adat Bun Thay Lay memang kasar dan berangasan. Pada saat itu tak dapat terkendalikan lagi kemarahannya.
“Aku. justru takmau pergi, kau mau apa?” sahutnya.
Tanpa berkata lagi, hweshio gemuk itu memutar senjatanya seraya melayang turun. Gelang baja yang dipasang diujung senjatanya yang berbentuk bulan sabit dan tajam itu, berkerontangan suaranya. Orangnya berdiri diatas bumi, senjatanya terus menyorok kedada musuh.
Terkilas dalam pikiran Bun Thay Lay, bahwa dari tempat beribu li jauhnya CongthoCu Tan Keh Lok datang kesitu, karena sematadua hendak mengunjungi gereja yang tersohor itu. Kalau dengan turuti panasnya hati dia sungguh-sungguh melayani. serangan hweshio tersebut, pasti akan merusak usaha CongthoCu yang dilakukan dengan jerih payan itu. Dengan pertimbangan itu, dia gerakkan tubuhnya kesamping untuk berkelit, terus lonCat kebelakang dan lari.
Tapi disana, pada jarak beberapa tindak, seorang hweshio dengan sepasang golok ditangan, berputardua menyerangnya. Tetap Bun Thay Lay tak meladeni, ia lonCat kesamping akan lolos.
“Buang senjatamu dan menjura enam kali pada Hud-ya, baru jiwamu diampuni,” kedua Hweshio galak itu serentak berseru.
Bun Thay Lay tak ambil pusing, tetap akan lari menuju kedalam hutan. Sekonyong-konyong diatas kepalanya terasa ada samberan angin yang dahsyat. Cepat-cepat dia berkelit kesamping, 'buk'............! Sebatang tongkat menanCap kedalam tanah dengan telaknya, deburan tanah munCrat ke-manadua, seram sekali. Dihadapan sana tampak menghadang seorang hweshio yang bertubuh pendek kurus.

“Kedatangan TeCu kemari bukan dengan maksud jahat, harap biarkan TeCu pergi, besok aku berkunjung kemari untuk meminta maaf,” kembali Bun Thay Lay merangkap kedua belah tangannya.
“Waktu tengah malam berani menobros masuk kemari, tentunya kau punya kepandaian. Tunjukkan barang sejurus, baru nanti boleh berlalu,” sahut sihweshio pendek, siapa tanpa tunggu jawaban, terus menyapu dengan tongkatnya.
Bun Thay Lay pernah menyaksikan permainan thiat-Ciang (kayuh besi) dari Sipsamte Cio Su Kin. Maka tahulah dia, hweshio pendek itu sedang menggunakan gerak “hang-mo-Ciang,” permainan tongkat penakluk iblis. Meski perawakan pendek, hweshio itu bertenaga besar, sehingga serangan itu berbunyi menderu-deru .
Bun Thay Lay tetap tak mau bertempur. Dengan kepala menunduk, dia memberosot kebawah tongkat.
“Bagus!” hweshio yang bersenjata sepasang golok tadi berseru seraya membarengi menyerang.
Hweshio yang pegang 'jan' tadi pun tak mau ketinggalan ikut menghantam.
Tiga jurus sudah Bun Thay Lay mengalah dengan Cara berkelit. Selama itu tahulah dia bahwa kini tengah berhadapan dengan tiga orang jago lihai dari gereja Siao Lim Si. Kalau terus bersikap mengalah, dikuatirkan sekali kurang hati-hati, dalam malam yang gelap itu ia. akan menemui bahaya.
Kini ia mulai balas menyerang. Tiga kali ia kirim serangan dengan santernya diantara empat buah senjata musuh. “Omitohud!” tiba-tiba ketiga hweshio itu berseru, terus lonCat kesamping. Berkata si hweshio yang bersenjata tongkat: “Kami adalah hweshio pemimpin dari Tan Mo Wan gereja Siao Lim Si. Dia — menunjuk kepada hweshio yang bersenjata golok — bergelar Gwan Hui. Dan dia — menunjuk si hweshio yang bersenjata 'jan' — Gwan Thong. Sedang aku adalah Gwan Siang. Siapakah nama tuan yang mulia?”
“Aku yang rendah orang she Bun nama Thay Lay.”
“Ah, kiranya Pan-lui-Chiu Bun-suya, pantas begitu lihai. Malamdua Bun-suya berkunjung kemari, apakah melakukan pesanan dari Ie Ban Thing lotangkeh?” tanya Gwan Siang.
“Bukan, hanya karena tengah mengejar musuh, Cayhe (aku yang rendah) telah kesalahan masuk kemari, mohon Toasu sudi memberi maaf.”
Ketiga hweshio itu saling berunding bisik-bisik.
“Nama harum dari Bun-suya tersiar keseluruh ujung benua. SiaoCeng punya rejeki besar bisa jumpa, maka kini hendak mohon perigajaran,” kata Gwan Thong kemudian.
“Siao Lim Si adalah tempat suCi dari ilmu silat, Cayhe mana berani berlaku kurang ajar, biarlah Cayhe minta diri saja.”
Penolakan karena sungkan itu. sudah diartikan lain oleh ketiga hweshio tersebut. Dikiranya karena pura-pura takut itu, Bun Thay Lay pasti ada “udang dibalik batu.” Seperti diketahui, pemimpin HONG HWA HWE Ie Ban Thing adalah murid Siao Lim Si yang diusir karena bersalah, bukan mustahil kalau kedatangan Bun Thay Lay kali ini. akan menuntut balas guna pemimpinnya itu.
Ketiga hweshio itu bersamaan pendapat, setelah saling memberi isyarat dengan mata. Gwan Thong kibaskan senjata 'jan', berbareng bunyi gelangan baja yang berkerontangan, dia maju menghantam Bun Thay Lay.
Bun Thay Lay memang berdarah jago berkelahi. Dia pantang mundur dan terpaksa menangkis dengan goloknya. j Paseban Tat Mo Wan adalah memang tempat latihan silat dari gereja Siao Lim Si. Gwan Thong adalah salah seorang dari tiga Berangkai padri agung ruangan itu, sudah tentu ilmunya tinggi. Senjata 'jan' itu dalam tangannya segera berobah menjadi sebuah lingkaran sinar yang hawanya saja sudah membikin kunCup nyali orang.
Pengaruh, arak sudah lenyap, kini tenaga Bun Thay Lay makin segar, golok dimainkan dengan seru sekali. Melihat Gwan Thong kewalahan, Gwan Siang maju membantu. Beberapa lama kemudian, Gwan Hui pun Ceburkan diri. Kini Bun Thay Lay bertempur dengan tiga hweshio Siao Lim Si yang lihai.
Selagi asjik berkelahi, mata Bun Thay Lay tertumbuk pada bayangandua yang terbaring diatas tanah. Diam-diam hatinya berCekat, karena bayangan yang berjumlah puluhan itu, adalah bayangan dari rombongan hweshio dari gereja itu yang sudah sama keluar mengelilingi tempat tersebut.
Karena berajal memikirkan hal tersebut, Gwan Siang dapat menghantam gigir golok Bun Thay Lay. Saking kerasnya hantaman Gwan Siang, golok Bun Thay Lay berdering memunCratkan letikan api, dan terpental jatuh kearah hutan disebelah sana.
Tapi Bun Thay Lay bukan si Pan-lui-Chui (tangan geledek) kalau dia sudah terpeCundang dengan itu. SeCepat kilat tangannya kanan menyawut senjata 'jan' yang tengah dilanCarkan oleh Gwan Thong serta terus ditariknya, selgga terlepas jatuh. Untuk yangan sampai Gwan Thong sempat lonCat mundur, Bun Thay Lay membarengi mendupak lututnya.
Namun pada saat itu, tongkat Gwan Siang dan golok Gwan Hui berbareng datang. Bun Thay Lay kiblatkan 'jan' itu menghantam serangan tongkat. Benturan kedua senjata yang terbuat dari baja murni itu, mengeluarkan bunyi yang dahsyat. Gwan Siang rasakan tangannya panas kesakitan dan mengeluarkan darah. Tanpa terasa tongkatnya jatuh ketanah.
Kini Bun Thay Lay beralih menghantam Gwan Hui, siapa karena kesima sampai lupa untuk menjaga diri. Dalam saat-saat yang tegang dimana ujung 'jan' sudah melayang dekat kemuka Gwan Hui, mendadak Bun Thay Lay rasakan diatas kepalanya ada senjata rahasia menyamber.
Hendak dia menyingkir tapi sudah terlambat, 'tringng'........... tangannya tergetar, entah benda apa, 'jan' bergetar keras dan tangan dirasakan kesemutan. Berbareng itu, dua sosok manusia terjungkal jatuh dari atas sebuah puhun.
Buru-buru Bun Thay Lay simpan senjatanya dan lonCat menyingkir. Waktu ia berpaling kebelakang, ia menampak Tan Keh Lok, Liok Hwi Ching dan lain-lainnya sudah berada disitu. Bun Thay Lay girang sekali, karena ia kini tak usah kuatir lagi menghadapi rombongan hweshio Siao Lim Si yang besar jumlahnya itu.
Pada lain saat dari rombongan hweshio tampillah seorang tua yang sudah putih yanggutnya, seraya tertawa: “Bun-suya, bagus, kalian semua sudah datang.”
Dengan berseru Ciu Ki menyusup maju dan benar seperti yang diduganya, orang tua itu adalah ayahnya, Thiat-tan Ciu Tiong Ing.
“Syukur tadi dia lontarkan thiat-tannya kearah senjataku Kalau tidak demikian, aku pasti membuat onar besar disini,” diam-diam Thay Lay berpikir.
Ketika memeriksa lagi senjata 'jan' itu, baru ketahuan ujung senjata yang terbuat dari baja itu sudah rompal separoh. Diam-diam Bun, Thay Lay kagum pada Ciu Tiong Ing yang nyata tak bernama kosong. Dan untuk kekagetannya, dekat situ, menggeletak Seng Hong dan Swi Tay Lim.
Kiranya kedua kaki tangan pemerintah Ceng itu lari bersembunyi kedalam gereja Siao Lim Si itu, tapi diusir. Terpaksa inereka bersembunyi diatas puhun. Disitu Swi Tay Lim sudah akan menyiapkan beberapa senjata rahasia. Tapi perbuatan itu, kena digagalkan oleh Kian Hiong yang telah berhasil pakai pelor membidik jatuh mereka.
Ciu Tiong Ing perkenalkan rombongan HONG HWA HWE dengan hweshiodua dari gereja tersebut. Kiranya setelah berpisah dengan rombongan HONG HWA HWE, Ciu Tiong Ing ajak isteri dan kedua mtiridnya, Kian Hong dan Kian Kong menuju ke Hokkian untuk berkunjung kegereja Siao Lim Si. Ternyata Suhunya sudah wafat. Urusan gereja dipegang oleh Toasu-hengnya, Thian Hong Siansu.
Pertemuan antara kedua suheng dan sute yang sudah berpisah berpuluh tahun itu, sungguh membuat mereka terharu girang. Begitulah karena masih kangen, Tiong Ing tinggal digereja, itu sampai beberapa bulan.
Malam itu dari hweshio penjaga didengarnya, ada seorang lihai masuk kegereja dan tengah bertempur dengan ketua dari Tat Mo Wan. Buru-buru Tiong Ing ikut keluar dan dapatkan Bun Thay Lay yang membuat gaduh itu.
Setelah kesalahan paham itu dapat didamaikan, Bun Thay Lay segera minta maaf pada kam-si (hweshio pengurus gereja), Tay Hiong Taysu, dan mohon akan membawa pergi Seng Hong dan Swi Tay Lim.
“Kedua orang ini menCari perlindungan digereja ini. Gereja adalah tempat meneduh bagi yang sengsara, menyebar kebaikan diantara sesama manusia. Dengan memandang muka siaoCeng, harap Bun-siCu suka lepaskan mereka,” kata Tay Hiong.
Terpaksa Bun Thay Lay menurut.
Setelah kedua orang itu pergi, Tay Hiong undang Tan Keh Lok dan rombongannya masuk kedalam. Diruangan dalam, Thian Hong Taysu, Ketua Siao Lim Si, sudah menyiapkan 1000 orang hweshio lebih untuk menyambutnya. Setelah saling memperkenalkan diri, berkatalah Thian Hong kepada Liok Hwi Ching:
“Lama sudah kami mendengar nama besar dari Bian-li-Ciam Liok-suhu, maka sungguh beruntung sekali hari ini dapat berjumpa muka.”
Hwi Ching menguCapkan beberapa kata-kata merendah. Thian Hong ajak rombongan tetamunya keruangan dalam untuk minum teh dan menanyakan maksud kedatangannya.
Tan Keh Lok memandang kearah Ciu Tiong Ing, siapa kelihatan mengurut jenggotnya dan tertawa, katanya: “Thian Hong suheng memang paling peramah. Tan-tangkeh ada keperluan apa saja, kita pasti akan mengusahakan se-dapatduanya.”
Tiba-tiba hati Tan Keh Lok menjadi tawar dan tiba-tiba dia berkui dihadapan Thian Hong, air matanya berCucuran.

Thian Hong terkejut, buru-buru mengangkatnya bangun dan bertanya: “Silakan Tan-CongthoCu mengatakan, tak usah pakai banyak sekali peradatan.”
“Cayhe ada suatu permohonan yang lanCang. Turut aturan Bu-lim, biar bagaimana juga tentu tak dikabulkan. Hanya mengingat penderitaan ratusan juta rakyat, terpaksa Cayhe memberanikan diri untuk memohon,” kata Keh Lok.
“Silakan mengatakannya,” sahut Thian Hong Siansu.
“Ie Ban Thing loyaCu adalah gihu-ku..................”
Mendengar dibawanya nama Ie Ban Thing, wajah Thian Hong berobah, alisnya yang putih berjingkat, kepalanya seakan-' mengeluarkan hawa panas. Tan Keh Lok, Liok Hwi Ching, Bun Thay Lay dan lain-lain. yang berkepandaian tinggi, sama berCekat. Heran mereka nampak hweshio yang sudah berusia delapan puluhan tahun itu, sedemikian hebat ilmu lwekangnya.
“Jadi kedatangan Tan-tangkeh dari ribuan li jauhnya itu, untuk kepentingan suhengku yang sengsara nasibnya itu?” Ciu Tiong Ing menyela.
Tan Keh Lok lalu tuturkan hubungannya dengan Kian Liong' dengan jelas, kemudian memaparkan tentang renCananya besar untuk mengusir bangsa Boan dan membangunkan kerajaan Han. Salah satu sjarat dari terlaksananya hal itu, ialah agar Thian Hong suka membeberkan sejujurnya tentang hubungan dirinya dengan Ie Ban Thing.
Lalu Keh Lok berkata dengan suara sember: “Cayhe tak ketahui asal usul Cayhe yang sebenarnya, hal itu tak mengapa, yang Cayhe mohonkan adalah supaya Losiansu sudi mengingat nasib rakyat jelata............”
Thian Hong kemekmek, alisnya menjulur turun, sepasang matanya dipejamkan, merenung jauh. Nampak hal itu, semua orang tak berani mengganggu. Lewat beberapa lama kemudian, sepasang mata hweshio itu berkiCup sedikit. Dua larik sinar tajam, menyorot keluar. Tangannya mengambil sebuah martil kecil, lalu dipukulkan pelan-pelan keatas sebuah papan. Seorang hweshio muda masuk dengan laku yang hormat.
“Bunyikan lonCeng, panggil berkumpul mereka!” kata Thian Hong Siansu.
Hweshio muda itu undurkan diri, dan tak lama kemudian terdengarlah bunyi lonCeng dipukul ber-taludua. Thian Hong Siansu dengan isyarat tangan, minta diri masuk kedalam.
“Ayah, apakah artinya berbuat begitu?” tanya Thian Hong pada sang mertua.
“Dia akan adakan sidang semua warga hweshio” sahut Ciu Tiong Ing.
“Untuk urusan Gihu CongthoCu, mengapa mereka begitu ber-sungguh-sungguh,” Ciu Ki menyela.
Melihat anak perempuannya sedang mengandung, senanglah hati Tiong Ing. Maka dia ganda tersenyum saja mendengar kelakuan Ciu Ki janng masih ke-kanak-kanakan itu.
Lewat beberapa lama kemudian, sidang hweshio sudah mengambil Keputusan. Ti-gek-Ceng (hweshio tukang sambut tetamu) silakan rombongan HONG HWA HWE itu masuk kedalam ruangan suCi didalam. Seribu lebih hweshio dengan pakaian upaCara, tegak berbaris dikanan kiri, Diatas pedupaan di ruangan suCi itu, asap hio wangi ber-kepuldua memenuhi ruangan.
Duduk di-tengah-tengah adalah Thian Hong Siansu, disebelah kirinya adalah ketua dari Tat Mo Wan, Thian Keng Siansu. Ciang-keng-kwat (ketua bagian penyimpan kitab-kitab) Tay Leng Taysu. Sementara disebelah kanan, adalah hweshio pemimpin bagian tata tertib, Tay Tian Taysu, Kamsi (bagian pengawas gereja) Tay Hiong Taysu.
Tay Hiong yang mengundang masuk rombongan HONG HWA HWE tadi, dengan membongkokkan badan berkata: “Menurut aturan gereja Siao Lim Si yang telah ditetapkan be-ratusdua tahun lamanya, murid yang telah diusir karena melanggar peraturan, dilarang menguwarkan pada orang luar. Kini gereja ini telah mendapat kunjungan CongtoCu HONG HWA HWE
Tan Keh Lok siCu, yang bermaksud hendak minta keterangan tentang peristiwa murid Siao Lim Si yang diusir itu, Sim Ju Kok. Hal ini menurut peraturan gereja, sebenarnya tak dapat dilaksanakan ..............................”
Mendengar sampai disini, rombongan HONG HWA HWE menjadi girang. Kedengaran Tay Hiong melanjutkan kata-katanya pula:
“Tapi oleh karena kali ini menyangkut urusan besar, gereja kami terpaksa satu kali ini membuat pengeCualian. Silakan Tan CongthoCu menunjuk utusan untuk mengambil barkas (suratdua) yang tersimpan dalam bagian tata tertib.”
Tan Keh Lok menghaturkan terima kasih dengan membongkok, kemudian ajak rombongan keluar. Ti-khek-Ceng mempersilakan mereka mengaso di ruang tetamu.
Tan Keh Lok berSyukur dalam hati, dikiranya hal itu tadi mudah dikerjakan, tapi tiba-tiba munCullah Ciu Tiong Ing ke ruangan itu dengan wajah yang menunjukkan duka dan Cemas. Semua orang kaget, karena menduga pasti ada apa yang kurang baik.
“Ayah, apakah di ruangan sana terdapat alatdua rahasia,” tanya Thian Hong.
“Thian Hong suheng mempersilakan Tan-CongthoCu menunjuk orang untuk mengambil barkas itu diruang Hukuman pelanggaran tata tertib tadi, itu berarti harus melalui 5 buah ruangan. Setiap ruangan dnyaga oleh seorang Taijsu yang berilmu tinggi. Untuk bisa melalui kelima ruangan itu, seperti menembus langit sukarnya!”
Mendengar itu, tahulah mereka apa yang tengah dihadapinya. Suatu pertempuran yang maha dahsyat dan berbahaya.
“Ciu-loyaCu boleh tak usah membantu siapa-apa, biarlah kami yang menCobanya!” kata Bun Thay Lay yang sudah salah memberi tafsiran.
Ciu Tiong Ing meng-gelengduakan kepala dan berkata: “Sebab dari kesukaran yang saja katakan itu, karena harus satu orang yang masuk kedalam, sedang Taysu penjaga kelima ruangan itu, makin dalam makin tinggi kepandaiannya. Taruh kata berhasil melewati empat buah, orang tentu sudah keliwat kepayahan, sedang ruangan yang terakhir itu justru yang paling sukar dikalahkan.”
Tan Keh Lok merenung sejenak, lalu berkata: “Urusan ini menyangkut diriku peribadi, mungkin buddha menaruh kasihan padaku, tentu bisa berhasil juga.”
Habis berkata, segera ditanggalkan jubah luarnya. Bijidua Catur dimasukkan kedalam saku, po kiam diselipkan di punggung, lalu ia minta Ciu Tiong Ing mengantarkan ke ruangan Biauw Hoat Tian, jakni ruang yang menuju ketempat ruang Tata Tertib (arsip) tadi.
“Tan-tangkeh, kalau dirasa “tak ungkulan, sekali-kali yangan Coba memaksa diri, agar yangan mendapat haldua yang tak diinginkan,” bisik Tiong Ing sewaktu sudah sampai dimulut pintu.
Keh Lok anggukkan kepala mengiakan.
“Mudahduaan tak ada suatu halangan apa-apa!” seru Tiong Ing ketika Keh Lok sudah mendorong pintu dan melangkah masuk.
Didalam ruangan, Cahaja lilin terang benderang. Seorang hweshio yang mengenakan jubah warna kuning duduk bersila diatas sebuah tikar. Dia bukan lain adalah Tay Hiong Taysu, siapa buru-buru bangkit dan berkata dengan tertawa: “Ah, kiranya Tan-CongthoCu sendiri yang akan memberi pelajaran, itulah bagus sekali, akan kumohon beberapa jurus pelajaran ilmu silat dengan tangan kosong.”
“Silakan,” jawab Keh Lok seraya merangkap kedua tangannya.
Tangan kiri Tay Hiong Taysu tiba-tiba dibalikkan merupakan sebuah kepalan besar, tangan kanan disanggakan keatas, terus mulai bergerak menyerang.
Keh Lok kenal gerakan itu sebagai “siang-Chiu-keng-thian,” sepasang tangan menyanggah langit. Tahulah dia, kalau orang tengah bersilat dalam ilmu silat Cui Kun, silat orang mabuk. Pernah juga dia pelajari ilmu silat itu, tapi dia kuatir akan terulang lagi kejadian ketika dia bertempur dengan Ciu Tiong Ing di Thiat-tan-Chung dahulu. Untuk melayani jago tua dari Siao: Lim Pai itu, diai sudah Coba gunakan gerakan ilmu silat Siao Lim Si. Dan ini, hampir-hampir dia terpeCundang.
Mengingat hal itu, tak berani dia berlaku ajal lagi. Sekali kedua tangan ditepukkan, terus dipentangnya, sehingga sikapnya itu merupakan gerakan yang aneh, mirip orang membela diri, juga mirip orang menyerang. Memang, sekali gebrak dia telah keluarkan sebuah gerakan istimewa dari “peh-hoa-jo-kun.”
Karena tak menduga, hampir-hampir Tay Hiong taysu kena ..termakan.” Buru-buru dia gunakan gerakan “burung aneh menobros awan.” Dia jatuhkan diri ditanah, tangan dan kaki bergerak berbareng. Aneh adalah gerakan kakinya, menendang kesana menyepak kemari, tangannyapun menghantam kemuka memukul kebelakang, tubuhnya terhuyung-huyung seperti orang mabuk.
Untunglah Keh Lok mengenal ilmu silat itu, jika tidak, pasti dia siangdua sudah kena. Demikianlah keduanya sama mengeluarkan ilmu silat yang aneh, yang jarang dikenal.
Meskipun Cui Kun itu hanya terdiri dari 1enam jurus, tapi setiap gerakannya sukar diduga. Meskipun gerakannya tak teratur seperti orang mabuk, namun sebenarnya mengandung jurus-jurus serangan yang berbahaya, apalagi disertai dengan tenaga yang dahsyat.
Selagi pertempuran menCapai babak yang seru, tiba-tiba Tay Hiong lonCat keudara. Sewaktu melayang kebawah kakinya bekerja, dengan gerak “kerbau besi meluku sawah” tangannya kanan menghantam kaki lawan.
Keh Lok tarik mundur badannya. Tahu dia, karena selangannya tak berhasil, lawan pasti akan lonCat lagi keatas dalam gerakan “burung dara berputar diri,” hal ini dia telah membuat sebuah siasat. Begitu kaki kiri Tay Hiong tiba ditanah, Keh Lok membarengi maju menggaet kaki, dan tangannya mendorong. Sudah barang tentu, karena tak menduga, Tay Hiong tak keburu lonCat balik. Dia terhampar jatuh kebelakang!
Keh Lok buru-buru lonCat kesamping dan menanti. Tay Hiong berjumpalitan, baru setelah dapat duduk, mukanya tampak kemerah-merahan.
“Silakan masuk!” serunya sembari menunjuk kesebelah dalam.
“Maaf!” Keh Lok merangkap tangan memberi hormat.
Disebelah dalam, ternyata ada sebuah ruangan besar. Yang menjaga disitu, adalah kepala bagian Tata Tertib dan Hukuman, Tay Tian Taysu. Melihat kedatangan Tan Keh Lok, Tay Tian segera memberi isyarat tangan, atas itu dua orang hweshio muda datang membawakan sebuah tongkat besar. Begitu menyambuti, Tay Tian terus menghantam kelantai. Begitu dahsyat hantaman itu, sehingga tembok
(missing page)
itu kelihatan dengan jelas. Ini mudah dihantam lagi.
“Seharusnya begitu, mengapa aku tolol?” pikir Keh Lok dengan kesima.
Dan justru begitu, Tay Leng kembali dapat menyambit padam 4 batang dupa. Dan untuk kedua kalinya, hweshio itu menyusuli pula menyambit. Tapi kali ini, Tan Keh Lok sudah tersedar serta Cepat-cepat menawurkan biji Caturnya untuk memapaki senjata rahasia lawan. Tapi karena kesembilan lilin ditempatnya tadi sudah sama padam, dia kurang dapat melihat jelas melayangnya kelima bijidua liam-Cu si hweshio itu. Dua biji liam-Cu dapat dipukul jatuh dengan biji Catur, namun yang tiga, dapat lolos. Kembali ada tiga batang dupa yang dnyaganya menjadi padam lagi.
Menurut perbandingan, kini Tay Leng sudah menang sembilan lilin dan dua dupa. Keadaan Tan Keh Lok menguatirkan, karena Tay Leng kini waspada sekali untuk menjaga kesembilan lilin bijidua liam-Cu-nya. Kalau ada luang, iapun mengirim serangan. Begitulah pada beberapa saat kemudian, Tay Leng kembali menambah kemenangannya, dengan 14 buah dupa.
Keh Lok kerahkan seluruh kepandaiannya, namun hasilnya hanya dapat menimpuk padadua batang lilin lawan. Tay Leng balas menimpuk dan berhasil pula menimpuk 1sembilan dupa.
Pada saat itu, dupa Keh Lok masih ketinggalan lebih kurang dua0 batang, sedang fihak lawan lilin dan dupa masih memanCar dengan terangnya. Dia gugup, pikimja: “Apakah aku harus menelan kegagalan?”
Sekilas terlintaslah ingatannya kepada Cara Tio Pan San memainkan “hui-jan-gin-soh,” piauw yang berbentuk seperti burung seriti yang dapat membal pada sasarannya. Kini dia memperoleh akal, segera tiga buah biji Catur ditimpukkart ketembok dekat tempat Tay Leng.
Melihat itu, diam-diam Tay Leng menertawakan lawannya, anak muda yang tetap menuruti hawa panas, karena kalah lalu melampiaskan kemarahannya menimpuk seCara membabi buta. Tak dia kira kalau begitu bijidua Catur itu mengenai tembok, lalu membal jatuh menimpuk padam dua batang lilin. Bukan kepalang takjubnya Tay Leng, tanpa merasa dia memuji.
Berhasil dengan Cara itu, Tan Keh Lok susuli lagi beruntundua. Tay Leng betul-betul tak berdaya menjaga lilinnya. Beruntung dia tadi sudah menang beberapa puluh dupa. Kini tak mau dia bersikap menjaga, Dua-dua tangannya dia gunakan untuk menimpuk dupa lawannya.
Sekonyongdua penerangan situ padam, karena kesembilan lilin dari Tay Leng sudah ditimpuk padam. Sekalipun begitu, dupa Tan Keh Lok hanya ketinggalan 7 batang, sedang kepunyaan Tay Leng masih tigapuluhan batang lebih. Biar bagaimana, Keh Lok merasa pasti tak dapat menyusul kekalahannya. Sedang dia masgul, tiba-tiba kedengaran Tay Leng berseru: “Tan-tangkeh, am-gi kepunyaanku sudah habis. Kita berhenti dulu sebentar, untuk mengambil lagi dimeja sembahyangan!”
Merabah kantongnya, Tan Keh Lok dapatkan biji Caturnya hanya ketinggalan enam butir.
“Kau ambillah dulu,” kembali Tay Leng mempersilakannya.
Ketika Tan Keh Lok dapat merabah meja, tiba-tiba dia mendapat pikiran: “Kali ini menyangkut urusan besar, terpaksa aku berlaku Curang.”
Begitu tangan merabah, bijidua senjata rahasia diatas meja itu semuanya dirangkum dan dimasukkan kedalani kantongnya.
“Satu, dua, tiga! Akan kumulai melepas senjata rahasia'“ serunya dengan tertawa.
Buru-buru Tay Leng menghampiri meja, untuk yangan sampai kalah waktu, tapi untuk kekagetannya, tak sebutir am-gi yang ketinggalan diatas meja. Sedang dia keheran-heranan, Tan Keh Lok sudah be-runtundua melepas thi-lian-Cu, po-ti-Cu dan lain-lain., sehingga dalam sekejap saja dupadua difihak Tay Leng padam semua, satupun tak ada yang hidup.
Karena tak memperoleh am-gi, Tay Leng hanya dapat mengawasi dengan terlongong-longong. Setelah semua dupanya tertimpuk padam, dia tertawa keras-keras: “Tan-tangkeh, kau sungguh liCin. Ini namanya adu keCerdikan bukan adu ilmu, sudahlah, kau menang, silakan masuk!”
“Menyesal, Thayhe sebenarnya kalah dengan Taysu. Untuk kepentingan usaha besar, terpaksa aku lakukan perbuatan yang busuk ini. Harap Taysu maafkan,” kata Keh Lok dengan serta mesra.
Tay Leng itu perangainya baik, dia tak menaruh ganjelan apa-apa terhadap perbuatan orang muda itu. Katanya sambil tertawa: “Dua ruangan dibelakang, dnyaga oleh kedua Su-siok-ku (paman guru). Kepandaian mereka jauh lebih tinggi dari aku. Harap kau berlaku hati-hati.”
Keh Lok haturkan terima kasih, lalu masuk kedalam.
Ruangan keempat juga terang benderang. Tapi ruangan itu lebih sempit dari ketiga ruangan yang terdahulu. Di tengahnya, terdapat dua buah kasuran bundar. Duduk dikasur yang sebelah kiri, adalah kepala Tat Mo Wan, Thian Keng Siansu.
“Silaukan duduk!” demikian Thian Keng menyambut kedatangan Keh Lok.
Dengan penuh pertanyaan dalam hati, Keh Lok mengambil tempat duduk dikasuran kanan, ia pikir Thian Keng adalah Susioknya Tay Leng, pula adalah kepala dari Tat Mo Wan, sudah pasti betapa kelihaiannya. Diam-diam anak muda itu mengeluh dalam hati, yangan-yangan dia bukan tandingannya. Namun tetap dia mau menCobanya, melihat perkembangan keadaan nanti.
Thian Keng itu seorang yang bertubuh tinggi. Sekalipun duduk, tingginya hampir menyamai dengan orang yang berdiri. Kedua pipinya Cekung, tubuhnya kurus seperti tak berdaging. Sikapnya membuat orang jeri.
“Kau telah dapat melewati tiga ruangan, ini Cukup membuktikan kau mempunyai ilmu yang tinggi. Meski Gihu-mu bukan termasuk murid sini lagi, tapi kaupun masih terhitung wan-pwe (golongan yang terbelakang) dari kaum kita. Karenanya tak dapat aku mengajakmu bertanding seCara samadua. Beginilah, kalau kau bisa melayani aku sampai 10 jurus tak kalah, akan kulepaskan kau.”
Tan Keh Lok bangkit memberi hormat, seraya berkata: ..Mohon Losiansu sudi memberi kemurahan.”
“Hm, tergantung bagaimana peruntunganmu. Duduk dan sambutlah!”
Baru Keh Lok duduk, atau dia segera rasakan samberan angin, menekan dadanya. Buru-buru Keh Lok gerakkan kedua tangannya untuk menangkis. Ketika beradu dengan tangan Thian Keng, dia dapatkan tenaga Iwekang Hwesio tua ini tak terkatakan dahsyatnya. Kalau dilawan dengan kekerasan, tak dapat tidak tentu akan terjungkel roboh.
Sebat sekali dia akan gunakan “hun-Chiu,” untuk memindah tekanan lawan kesamping. Tapi untuk kekagetannya, tenaga serangan Thian Keng itu tetap lurus menganCam. “Hun-Ciu” tak berdaya menolaknya. Karena itu, terpaksa dia kerahkan seluruh Iwekangnya untuk menahan.
Sekalipun serangan itu dapat ditahan, tapi tak urung tulang iga (lempeng) kirinya terasa sakit sekali.
“Baik. Kini terimalah serangan yang kedua!” seru Thian Keng.
Sekali ini tak berani Keh Lok mengadu kekerasan. Begitu serangan datang, tubuhnya diegoskan, lalu berbalik menghantam siku^lengan lawannya. Inilah salah sebuah jurus “peh-hoa-jo-kun” yang istimewa. Musuh pasti akan menarik serangannya.
Tapi diluar dugaan, tangan kanan Thian Keng bergerak dalam “menyapu ribuan laskar,” sikunya dihantamkan menyambut serangkan lawan dan didorongnya. Gerakan ini luar biasa sebatnya, belum kepelan Tan Keh Lok dijulurkan, tahu-tahu sudah diserang siku. Buru-buru dia lonCat menghindar, lalu jatuh duduk kembali diatas kasurannya.
Melihat anak muda itu dapat bergerak deng'an linCah dan tangkas, Thian Keng angguk kepalanya, kemudian menarik tangannya, dia beralih menerkam.
Nampak lawan makin berbahaya serangannya, diam-diam Keh Lok mengeluh yangan-yangan tak dapat melayani 10 jurus serangan orang. Tepat pada saat itu, kedengaran lonCeng gereja bertaludua. Kiranya hari sudah terang tanah.
Mendengar bunyi lonCeng itu, pikiran Keh Lok tiba-tiba tergerak. Menuruti irama lonCeng itu, tangannya ber-gerak-gerak mengerang. Thian Keng bersuara heran terus menangkis.
Kiranya gerakan yang digunakan oleh ketua HONG HWA HWE itu adalah ilmu silat yang dipelajarinya diperut gunung Giok-nia tempo hari. Begitu aneh, namun sangat leluasa dia bergerak-gerak menurut irama lonCeng.
Thian Keng tumplek seluruh perhatian, ia keluarkan ilmu silat Siao Lim Si yang paling boleh dibuat andalan, jakni “Hang-liong-Cap-pwe-Ciang” atau 1delapan jurus ilmu pukulan penakluk naga.
Ketika lonCeng berhenti berbunyi, tiba-tiba Keh Lok menarik serangannya dan berseru: “Kita telah ber-main-main lebih dari dua0 jurus.”
“Bagus, bagus. Pukulanmu sungguh luar biasa. Silakan masuk,” kata Thian Keng.
Keh Lok berbangkit, tapi ketika hendak berjalan, dia terhujungdua. Syukur dia dapat berpegang pada tembok. Saat itu, matanya dirasakan berkunangdua.
Thian Keng menunyangnya agar duduk lagi, katanya:
“Pertama kau menyambuti serangan kesatu, hawa-dalam tertahan. Kau beristirahat sebentar untuk mengatur napas, tentu akan baik lagi.”
Keh Lok meramkan mata duduk bersemedhi untuk memperbaiki jalannya napas. Tak berapa lama, dadanya terasa lapang dan semangatnya pulih kembali. Tapi didapatinya, kedua kepelan dan kedua lengannya sama melepuh, sakitnya tak terkata. Diam-diam ia kagum atas kelihaian paderi dari Siao Lim Si itu.
“Dari mana kau pelajari ilmu silatmu tadi?” tanya Thian Keng.
Dengan terus terang Keh Lok Ceritakan pengalamannya di gunung Giok-nia itu.
“Kalau kau masuk kedalam, gunakanlah ilmumu tadi. lengan tanganmu tentu tak sampai terluka. Baikkah menjaga diri,” kata Thian Keng.
“TeCu telah terluka, ruangan yang terakhir pasti tak dapat TeCu masuki. Mohon Losiansu sudi memberi petunjuk.” kata Keh Lok.
“Kalau tidak bisa, baliklah,” sahut Thian Keng.
“Mereka selalu menasehati suruh balik. Tapi kaum ksatria sekali maju berpantang mundur. Biar matipun rela,” pikir Keh Lok.
Begitulah setelah memberi hormat, dia lalu masuk kedalam. Tapi baru saja ia melangkah beberapa tindak, kedengaran Thian Keng berseru: “Tunggu, jawablah pertanyaanku ini.” Tan Keh Lok merandek.
“Tadi kau telah melayani aku sampai dua0 jurus, apakah jurus yang kugunakan tadi kau masih ingat semua?” “TeeCu ingat”, sahut Keh Lok.
“Kau pelajarilah sendiri itu semua, yangan kau ajarkan pada lain orang. Itu adalah pusaka berharga dari Siau Lim Si”.
Keh Lok terkesiap, dia dapat menginsyapi. Kiranya tadi Thian Keng telah mengajarinya sejurus ilmu pukulan yang jarang terdapat. Buru-buru dia berjongkok ditanah dan menghaturkan terima kasih.
“Kau tahu apa tidak, mengapa aku menurunkan ilmu tadi padamu?” ianya sipaderi pula.
“TeCu tak tahu.”
“Tadi aku telah mendapat banyak sekali pengertian dari ilmu silatmu yang luar biasa itu. Untuk itu aku telah membalas ilmu pukulanku tadi. Selain dari itu, aku pun menunaikan tljanjiku pada dua0 tahun berselang”.
Keh Lok memandang paderi itu dengan pandangan yang heran.
“Diantara pergaulan Suheng dan Sute semua aku paling akrab sendiri dengan Gihumu. Aku pernah menjanjikan akan mengajarnya ilmu 'Hang-liong-Cap-pwe-Ciang' itu padanya.”
Keh Lok diam saja mendengarkan Cerita itu.
“Ketika itu kepandaian Gihu-mu masih belum sempurna, tapi dia sudah berniat turun gunung. Mendiang suhu menasehatinya supaya ditangguhkan sampai tiga tahun, lagi nanti sesudah dapat mempelajari ilmu 'Hang-liong-Cap-pwe-Ciang' itu. Tapi rupanya gihu-mu tak dapat bersabar. Dengan mengelah napas terpaksa suhu mengijinkan. Kuhantar dia sampai dipintu gereja, disitu kuberi janjiku, apabila aku sudah dapat mempelajari ilmu itu, kelak kalau kita berjumpa, akan kuajarkan padanya. Siapa nyana, karena gihu-mu menyalahi perataran gereja, kita tak dapat berjumpa lagi. Kini aku telah menurunkannya padamu, harap kau mempelajarinya baik-baik .
Keh Lok menjura pula, lalu bertindak keluar. Ia rasakan tubuhnya lelah sekali. Lebih dulu ia sandarkan diri pada tembok untuk mengembalikan scmangatnya. Setelah itu, ia melangkah masuk kedalam ruangan belakang.
Memasuki pintunya, ia terkejut bukan kepalang. Karena disitu merupakan sebuah ruangan bersemedhi yang sempit sekali. Ketua gereja Siao Liem Si, Thian Hong Siansu tengah duduk diatas pembaringan sedang bersemedhi. Belum-belum Keh Lok sudah tawar hatinya. Thian Keng begitu lihai, dan Thian Hong ini adalah ketua gereja atau orang pertama dari Siao Lim Si mana dia dapat menandinginya?
Ruangan semedhi sedemikian sempitnya. Pertandingan yang dilakukan disitu pasti bukan adu silat atau adu senjata rahasia. Kebanyak sekalian tentu adu lwekang. Dalam hal itu, dia pasti kalah. Tengah dia bersangsi, tampak Thian Hong mengibaskan hudtim (kebut hweshio) seraya menyuruhnya duduk
Keh Lok tak berani sembarangan, dengan laku yang hormat sekali dia mengambil tempat duduk disebelah ketua gereja itu. Di-tengah-tengah kedua orang itu ada sebuah meja kecil, diatasnya terdapat sebuah hio-louw yang ber-kepuldua asapnya. Pada dinding disebelah muka, terdapat sebuah lukisan alam gunung Han-san, yang terdiri dari beberapa Coretan oaja.
Setelah berdiam sejenak, berkatalah Thian Hong: “Dahulu ada seseorang pandai sekali mengembala kambing, hingga menjadi kaja. Tapi orang itu kikir tabiatnya, tak mau menggunakan hartanya ........................”
Mendengar paderi besar itu berCerita, bukan main herannya Keh Lok. Dia mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Ada lagi seorang lain,” Thian Hong melanjutkan, “dia itu seorang liCin. Tahu kalau orang kaja tadi bodoh dan justeru hendak menCari isteri, maka orang buruk tadi menipunya, begini dia berkata: 'Aku tahu seorang gadis yang Cantik sekali, biar kuusahakan supaya dia menjadi isterimu'. — Gembala kaja tadi girang sekali, lalu memberinya sejumlah besar uang. Berselang setahun kemudian, kembali orang liCin itu munCul, katanya: “Isterimu sudah melahirkan seorang putra untukmu!' — Gembala kaja itu sekalipun belum pernah melihat wajah isterinya. Namun mendengar 'isterinya' sudah melahirkan anak, dia makin senang dan memberi uang lagi pada si liCin itu. Berselang lama, si liCin datang lagi dan berkata: 'Aku membawa kabar buruk, puteramu meninggal!'. — Gembala itu bukan main sedihnya, dia menangis menggerung-gerung.”
Tan Keh Lok dilahirkan dan diasuh dalam kalangan sastra, dia banyak sekali “makan” bukudua pelajaran. Mendengar Cerita itu, segera diketahuinya bahwa paderi besar itu sedang memberi uraian tentang kitab “peh-ji-keng,” kitab pelajaran Buddha. Rupanya Thian Hong hendak mempengaruhi pikiran sianak muda dengan sari pelajaran Buddha.
“Sebenarnya memang begitulah urusan, tak lebih tak kurang hanya seperti isteri dan putera si gembala itu. Semua hanya hajal, semuadua fana adanya. Nah, mengapa kau bersusah payah begitu rupa untuk mengejar keinginanmu, yang kalau berhasil hanya merasa gembira, sedang kalau gagal lalu merasa berduka?” tanya Thian Hong akhirnya.
“Dahulu juga ada sepasang suami isteri, punya tiga biji kue. Setelah masing-masing makan sebuah, untuk sisanya yang sebuah, keduanya berjanji, siapa yang mengajak biCara dulu, dia kalah dan tak boleh makan sisa kue itu,” Keh Lok menimpali berCerita.
Cerita Tan Keh Lok itupun diambil dari kitab 'peh-ji-keng', mendengar itu, Thian Hong mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Demikianlah kedua suami isteri itu tak saling biCara,” meneruskan Keh Lok. “Tak lama kemudian, datanglah seorang penCuri. Semua harta benda dalam rumah itu diangkuti. Karena sudah terikat janji tak mengajak biCara, kedua suami isteri itu hanya mengawasi saja tanpa biCara. Melihat itu, sipenCuri makin berani. Dihadapan sang suami, dia Coba akan mengganggu si-isteri. Namun sisuami itu tetap tinggal diam tak ambil peduli. Saking tak tahan, menjeritlah isteri itu dengan gusarnya. PenCuri itu buru-buru lari! Sembari lari penCuri itu membawa barang Curiannya. Si suami bertepuk tangan sambil tertawa: 'Ha, kau kalah, kue itu menjadi bagianku!”
Walaupun Thian Hong sudah tahu akan Cerita itu, namun tak urung dia tersenyum mendengarnya.
“Karena urusan kecil, soal menikmati kesenangan, ia lupakan hinaan besar. Karena soal Citarasa perut, ia membiarkan penCuri mengangkut hartanya dan menghina sang isteri. Hud-keh (kaum Buddhist) ingin menyelamatkan umat, mengapa bisa berlaku begitu tegah dan bersikap mementingkan diri sendiri?” Keh Lok memberikan kesimpulan yang tajam.
Thian Hong mengolah napas.
“Semua perjalanan hidup tiada yang langgeng, semua ajaran agama tiada ke-aku-annya. Mengapa semuaduanya tak lanCar, itulah karena belum sadar. Kalau menuruti kehampaan hati, semuaanya kosong,” ujarnya.
Tapi Keh Lok tak mau mundur, katanya: “Rakyat sedang mengalami penderitaan. Sang Buddha pernah bersabda,: 'Berbuat kekerasan (menindas) itu termasuk kedosaan, mengapa tak menjauhkan diri dari sifatdua itu'?”
Tahu Thian Hong bahwa anak muda itu tak kena diCegah niatnya akan menghilangkan beban penderitaan rahajat. Untuk itu, dia menaruh hormat. Katanya: “Ambekan keras dari Tan-tangkeh itu, patut dipuji. Akan kutanyakan sebuah hal lagi, setelah itu terserah.”
“Silakan Losiansu memberi petunjuk,” sahut Keh Lok.
“Dahulu ada seorang nenekdua, mengaso dibawah pohon. Sekonyongdua munCullah seekor beruang hendak memakannya. Si nenek lari mengitari pohon, beruang ulurkan Cakar kebalik pohon hendak menerkam, Mtlihat itu, si nenek Cepat-cepat menekan Cakar beruang pada batang pohon. Dan tak dapat berkutiklah beruang itu. Namun sinenekpun tak berani melepas tangannya.. Kemudian ada seorang lain lewat disitu, sinenek minta pertolongannya untuk membunuh binatang itu. Orang itu menurut, tapi begitu dia tempelkan tangannya keCakar beruang, sinenek Cepat-cepat menarik tangannya terus lari. Jadi kini, orang itu terpantek tak dapat melepaskan tekanannya, atau dia nanti pasti akan dimakan beruang.”
Keh Lok dapat menangkap maksud kiasan Thian Hong itu, katanya: “Menolong orang yang mendapat kesusahan, tak boleh menghiraukan apa-apa. Sekalipun dirinya berbalik mendapat Celaka, tak boleh menyesal.”
Thian Hong kibaskan kebut pertapaannya (hud-tim), serunya: “Silakan masuk!”
Cepat Keh Lok turun dari tempat persemedhian, lalu memberi hormat.
“TeCu berlaku kurang sopan, harap Losiansu memaafkan,” katanya.
Thian Hong hanya memanggut. Segera Keh Lok masuk kedalam, masih didengarnya elahan napas dari Thian Hong Siansu.
Membiluk pada sebuah lorong panyang, aehirnya dia sampai ke sebuah ruangan besar. Disitu terdapat dua buah lilin besar yang menyala. Disekeliling ruangan penuh, dengan lemari kitab. Setiap lemari ditempel kertas kuning bertulisan. Dia mengambil sebuah Ciktay (tempat lilin) untuk menyuluhi. Ketika bertemu dengan lemari yang bertuliskan huruf “Thian”, dia membuka pintunya. Didalam lemari itu, terdapat tiga bungkusan warna kuning. Salah sebuah disebelah kiri, tertulis dengan tiga huruf merah “Sim Ju Kok”.
Melihat itu, tangan Keh Lok gemetar, beberapa ketes lilin menetes diatas pauwhok itu. Setelah menenangkan hatinya, diambilnya pauwhok itu lalu dibukanya. Didalamnya terdapat sebuah kaos kutang orang lelaki yang disulami bunga, dan sepotong kain dari pakaian orang perempuan yang terdapat titikdua seperti noda darah. Karena saking keliwat lama, warnanya berobah hitam. Selain itu masih ada sebuah kipas dari kertas kuning. Ketika kipas itu dikembangkan, tanpa merasa air mata Keh Lok berCucuran. Kiranya diatas kipas itu terdapat tulisan tangan gihunya. Dengan seksama dibacanya tulisandua itu:
“Murid Siao Lim Si dari angkatan ke-tiga 1 Sim Ju Kok; menghaturkan kesalahannya. TeeCu berasal dari keluarga tani, sejak kecil sangat melarat dan berkenalan dengan gadis kecil dari sebelah tetangga keluarga Chi. Bersama meningkatnya umur, kami berdua saling mencinta.....................»
Membaca sampai disini, hati Keh Lok memukul keras, pikirnya: “Apakah kesalahan Gihu itu ada hubungannya dengan ibuku?”
Dia lanjutkan lagi membaca:
“Diam-diam kami berdua mengikat janji: TeCu selain gadis Chi takkan, menikah, gadis Chi selain dengan teCu takkan kawin. Setelah ayahku meninggal, timbullah paCeklik sampai beberapa tahun. Panenan gagal semua. TeCu terpaksa mengembara Cari makan.
Berkat pertolongan Insu (guru berbudi), TeCu diterima menjadi murid. Kaos kutang sulaman ini, adalah pemberian dari gadis Cxx itu.”
Keh Lok makin heran dan ketarik, ia meneruskan lagi:
“Belum TeCu menyelesaikan pelajaran dibawah asuhan mendiang Suhu, TeCu sudah buru-buru turun gunung, se-matadua karena selalu terkenang pada gadis itu, dan akan melangsungkan perjodohan. Sepulangnya dikampung, ternyata gadis itu telah dipaksa ayahnya dikawinkan dengan keluarga Tan, Menuruti hawa panas dan masgul, malam itu TeCu memasuki rumah keluarga Tan. Menggunakan ilmu kepandaian dan menuruti napsu menyatroni rumah penduduk, ini termasuk larangan kaum kita.
Sejak itu, gadis Chi ikut suaminya pindah kegedung Tetok. Namun TeCu tetap terkenang padanya. Tiga tahun kemudian, TeCu kembali menengokinya. Malam itu kebetulan gadis Chi sedang melahirkan putera, ramainya bukan kepalang. Waktu itu TeCu Jia-nya melihat dari luar jendela.
Empat hari kemudian, TeCu datang lagi. Wajah gadis Chi nampak gugup dan menCeritakan bahwa puteranya yang baru dilahirkan itu telah ditukar dengan seorang baji perempuan oleh SuhongCu (pangeran nomor 4) In T jeng. Belum habis pertemuan itu, diluar loteng munCullah lf orang pengikut Jong Ti. Mereka adalah jago-jago lihai semua yang diutus oleh In Ceng untuk memperingatkan pada keluarga Tan, kalau urusan itu sampai teruwar, seluruh keluarganya akan dihukum mati.
Karena kuatir kesamplokan, TeCu melarikan diri, tapi mereka mengejarnya. Dalam pertempuran itu, jidat TeCu terluka, tapi dapat mengalahkan mereka. Kembali kedalam loteng, TeCu pingsan. Gadis Chi merobek kain bernoda darah untuk membalut luka TeCu.
TeCu menCuri dengar rahasia kerajaan, mengunjukkan ilmu silat Siao Lim Si, hingga membahayakan kedudukan kaum kita, ini merupakan kesalahan yang kedua.”
Sampai disini, Tan Keh Lok mengambil pakaian ibunyi, air matanya seperti membanjir. Selang tak berapa lama, dia membaca lagi:
“Sejak itu dalam 10 tahun, meskipun berada dikota Pakkhia, TeCu tetap ber-sungguh-sungguh meyakinkan ilmu silat. Tak berani lagi menjumpai gadis Chi. Setelah kaisar Yong Ceng mati dibunuh dan Kian Liong menggantikannya, TeCu meng-hitungdua umur, tahulah kalau Kian Liong itu adalah puleni, kandung gadis Chi. Kuatir kalau Yong Ceng yangan-yangan sudah tinggalkan pesan supaya kirim pembunuh untuk membasmi bahaya dari mulut gadis Chi, maka malam itu TeCu kembali datang kerumah keluarga Tan, dan sembunyi dikamar gadis Chi.
Malam itu, benar-benar datang dua orang pembunuh, tapi dapat TeCu, basmi dan TeCu berhasil menemukan surat perintah tinggalan Yong Ceng. Dengan ini, TeCu lampirkan.”
Keh Lok membalik lembar yang paling belakang, dan betul juga disitu terdapat sebuah sampul yang tertutup, diatasnya tertulis:
“Kalau aku mangkat, Tan Su Kwan dan isterinya masih hidup, lekaslah dibunuh.”
Itulah tulisan tangan kaisar Yong Ceng, dibelakangnya terdapat sebuah Cap kecil berbunyi “bu-wi.” Teringat oleh Keh Lok akan penuturan menyang Gihunya, bahwa kaisar Yong Ceng memelihara serombongan pembunuh yang disebut “hiat-ti-Cu” atau pengsuCur darah. Mereka istimewa disuruh melakukan pembunuhan gelap. Setiap perintah bunuh dari Yong Ceng, tentu diberi tanda Cap “bu-wi.”
“Pada masa itu kepandaian Gihu tentu sudah tinggi. Dua orang hiat-ti-Cu ternyata bukan tandingannya. Karena menolong' ibu, ayahpun turut tertolong. Mungkin Yong Ceng sudah memperhitungkan, selama dia masih hidup ayah dan ibuku tentu terpaksa tutup mulut. Maka dia pertangguhkan perintah bunuh itu sampai dia sudah meninggal,” pikir Keh Lok. Lalu mulailah dia melanjutkan membaca:
“Bupanya Kian Liong tak mengetahui urusan itu, maka dia tak mengirim pembunuh lagi. Tapi TeCu tetap berkuatir, dan tinggal dikamar gadis Chi itu, sampai setengah bulan. Selama itu kebetulan suaminya sibuk mengurus pekerjaan berhubung penobatan raja baru (Kian Liong), jadi dia jarang- pulang. TeCu memang harus menerima hukuman, karena agak lama bergaul dengan gadis Chi, dendam asmara mulai timbul pula, sehingga lupa akan larangan. Hasil dari hubungan itu, ialah puteranya yang nomor tiga. Ini adalah kesalahan TeCu yang ketiga.” Membaca sampai disini, mata Tan Keh Lok serasa berkunangdua. Putera yang ketiga itu, siapa lagi kalau bukan dirinya? Ah, kiranya Gihu-nya itu, sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri. Dengan begini, kesemua haldua yang terjadi diwaktu lampau, misalnya: mengapa ibunya menyuruhnya ikut pada gihu, mengapa surat tinggalan dari ibunya itu terbakar, mengapa tak lama setelah ibunya menutup mata Gihunya pun sangat mereras dan segera menyusul mati, mengapa surat tinggalan ibunya itu memuat kata-kata “dipaksa menikah dengan keluarga Tan,” “hidup direnung kedukaan” dan sebagainya.
Kesemuanya itu kini menjadi jelas baginya. Timbul serentak sesuatu perasaan dalam hati nuraninya, tak tahu dia mengatakan, berdukakah atau kasihankah? Menyesal atau mengutuk?
Sejenak dia termenung, lalu menyeka air matanya dan meneruskan baca:
“Melanggar tiga pantangan itu, TeCu merasa tak tenteram, dan membawakan hal ihwal kesemuanya itu s kehadapan Insu, untuk memohon pengampunan.” Demikianlah tulisan Sim Ju Kok. Sedang dua baris tulisan dibawahnya terang adalah sang Suhu yang memberikan keputusannya. Bunyinya jalah:
“Sim Ju Kok telah melanggar tiga macam pantangan, kalau dia sudah dapat menginsyapi dan kembali kejalan terang, sedangkan Buddha masih dapat mengampuni 10 macam kesalahan, masakah aku tidak? Tapi kalau masih membiarkan diri terlihat dalam urusan perCintaan yang terlarang dan tak dapat memutuskan perhubungan itu, segera akan dikeluarkan dari Cabang kita. Kuharap dia dapat melaksanakan baik-baik , sianCay, sianCay!”
Demikian tulisan yang singkat itu.
“Jadi gihu............... ah, ayahku selalu masih terkenang akan itu, sehingga tak dapat menCuCikan diri menjadi “hweshio dan akhirnya keluar dari Siao Lim Pai. Karena merasa bersalah, maka ketika Suhu (Thian-ti-koayhiap) akan mengundang sahabat sahabatdua kangouw untuk meminta penjelasan kegereja Siao Lim, dia menolaknya”, pikir Keh Lok.
Baginya, kini telah jelas semua. Surat itu dibungkusnya pula, lalu ia berjalan keluar. Waktu itu sudah terang tanah. Pada pintu keluar dari ruangan itu, tampak sebuah patung Bi Lek Hud bersenyum simpul. Diam-diam pikiran Keh Lok melayang bagaimanakah perasaan ayahnya (Sim Ju Kok) ketika diusir keluar dari ruangan itu?
Pada lima ruangan yang dimasukinya tadi, kini tak tampak seorangpun jua. Sekeluarnya dari ruang yang penghabisan tampaklah disana sudah, siap menyambut Ciu Tiong Ing, Liok Hwi Ching dan semua orang gagah dari HONG HWA HWE mereka sama girang nampak Keh Lok tak kurang suatu apa dan membawa sebuah bungkusan. Tapi untuk keheranan mereka, kini sikap Keh Lok1 sangat lesu, sepasang matanya benjul.
Lalu Keh Lok menuturkan semua yang telah dialaminya.
“Urusan disini sudah beres, baik kita Cari kedua jahanam itu, untuk membalaskan sakit hati Chit-ko,” Bun Thay Lay menyatakan pikirannya.
Semua orang setuju. Ciu Tiong Ing lalu antar Keh Lok masuk untuk berpamitan pada Thian Hong dan Thian Keng. Habis itu mereka siap berangkat. Tapi sekeluarnya dari gereja itu, tiba-tiba wajah Ciu Ki tampak puCat, malah terhuyung-huyung mau jatuh. Ayahnya buru-buru menyambuti dan menuntun kedalam.
Ternyata hal itu disebabkan karena kandungan Ciu Ki yang sudah menempuh perjalanan yang sedemikian jauh, apalagi ia main mabukduaan dirumah keluarga Pui. Untungnya beberapa hweshio digereja tersebut mengerti akan obatduaan. Setelah diberinya obat, dinasehati supaya tinggal saja digereja itu sampai nanti sudah melahirkan.
Biasanya Ciu Ki itu adatnya bandel, tapi dalam keadaan begitu, terpaksa ia menurut. Menurut permufakatan semua orang, Ciu Tiong Ing dengan isteri, bersama kedua muridnya dan Thian Hong supaya tinggal mengawani Ciu Ki. Setelah melahirkan, boleh lantas menyusul kekota raja.
Karena gereja itu tempat suCi, Ciu Tiong Ing menyewa sebuah rumah yang tak jauh dari situ. Sementara Liok Hwi Ching dan rombongan HONG HWA HWE pun segera berangkat.
Karena dulu menerbitkan onar, kini tak beranilah mereka masuk kedalam kota Tek Hoa. Malamnya, Bun Thay Lay, Jun Hwa, Hi Tong dan Sim Hi dengan menyaru memasuki kota. Ternyata bukan saja Swi Tay Lim dan Seng Hong tak ketahuan rimbanya, pun keluarga Pui juga sudah pindah dari kota tersebut.
Untuk melampiaskan kemendongkolannya, Sim Hi akan lepas api membakar gedung keluarga Pui, tapi diCegah oleh Hi Tong, karena hal itu membahayakan Thian Hong cs. yang tinggal tak jauh dari situ.
Begitulah rombongan meneruskan perjalanannya keutara. Tiba diwilayah Shoatang, musim semi tengah menabur alam dengan warna warni bungaduaan.
Begitulah hari itu mereka sampai dikota Thay An. Thauw-bak HONG HWA HWE daerah situ, memberi keterangan bahwa, pemimpin HONG HWA HWE bagian Hukuman, Ciok Siang Ing, telah datang dari Pakkhia. Semua orang buru-buru menyambutnya dengan girang.
“Capji-ya, penghianat busuk itu sudah mampus?” seru Sim Hi berlarian menyambut.
Ciok Siang Ing terkesiap.
“Thio Ciauw Conglah!” Sim Hi menjelaskan. “Oh, dia?”
“.Ia, digerag'oti habis oleh kawanan serigala,” kata Sim Hi.
Ciok Siang Ing tak keburu menanya lebih jauh, karena dia harus memberi hormat pada CongthoCu dan saudara-saudaranya serta terus diajak masuk. Setelah saling menanyakan keadaan masing-masing, Keh Lok bertanya tentang keadaan dikota raja.
“Dikota raja tak terjadi apa-apa. Kedatanganku kemari hanya perlu memberitahukan bahwa pasukan Bok To Lun lo-enghiong telah musna seluruhnya,” sahut Siang Ing.
Dengan wajah puCat, berbangkitlah Tan Keh Lok seketika.
“Apa?!” tanyanya dengan agak gemetar.
Semua orang pun terkejut sekali oleh kabar itu.
“Ketika kita tinggalkan daerah Hwe, sisa pasukan Tiau Hwi hanya tinggal tunggu kemusnaannya saja. Mereka tak berdaya, dalam kepungan di Sungai-Hitam. Mengapa kini mereka berbalik menang?” tanya Lou Ping.
Ciok Siang Ing menelan ludah, jawabnya: “Tak disangka mereka mendapat bala bantuan dari induk pasukan didaerah Lam Kiang. Tiau Hwi yang mengetahui hal itu dari seorang matadua Hwe yang tertawan, segera membarengi meneryang keluar. Nona Hwe Ceng Tong sedang dalam sakit, tak dapat memberi pimpinan. Bok-loenghiong dan puteranya telah gugur. Nona Hwe Ceng Tong tak karuan rimbanya.”
Keh Lok jatuhkan diri disebuah kursi. Wajahnya yang putih seperti kertas itu, membuat semua orang Cemas.
“Nona Ceng Tong mempunyai ilmu silat yang tinggi, serdadudua Ceng pasti tak mampu menCelakakannya,” menghibur Hwi Ching.
Tahu Keh Lok dan sekalian orang, bahwa LoCianpwe itu tengah menghibur saja. Karena dalam keadaan pasukan yang sudah kaCau, sukarlah orang menjaga diri, terlebihdua seorang gadis yang sedang menderita sakit.
“Nona itu punya seorang adik perempuan, yang orang-orang Hwe menyebutnya Hiang Hiang KiongCu, apakah Capji-ko mendengar beritanya?” tanya Lou Ping sembari memberi isyarat mata pada Siong Ing, siapa pun mengerti makstidnya. Namun susah rasanya akan berbohong.
“Entah, tak kudengar apa-apa. Tapi orang terkenal semacam nona itu, kalau sampai terjadi apa-apa pasti penduduk kota raja sama mendengarnya. Tak ada berita mengenai itu, jadi tentunya ia tak apa-apa.”
Tan Keh Lok bukan tiada tahu bahwa saudara-saudaranya tengah berusaha meredakan keCemasannya. Namun dia bersikap tenang saja, lalu mengajak beristirahat. Sekalian orang mempersilakan dia beristirahat dulu, karena mereka masih mau berCakapdua. Sim Hi disuruh mengawani Siaoya-nya.
Semuanya sama berduka disamping menaruh hormat atas keperwiraan Bok To Lun yang gugur mempertahankan haknya itu. Keadaan menjadi hening sejenak. Tak beberapa lama, tiba-tiba Keh Lok keluar lagi.
“Saudara-saudara, mari kita dahar supaya bisa Cepat-cepat berangkat ke Pakkhia!” serunya.
Orang-orang sama heran melihat perubahan sikap Keh Lok yang kini sudah seperti biasa lagi.
“Pertama bertemu dengan CongthoCumu, bermula kuanggap dia bersifat seperti orang perempuan, kurang gagah. Tapi ternyata kebesaran jiwanya menghadapi kejadian yang seberat itu, sungguh lajak menjadi pemimpin. Kini aku menaruh perindahan padanya,” bisik Lou Ping kedekat suaminya.

Bun Thay Lay hanya aCungkan ibu jarinya, sembari terus makan hidangannya.
Demikian akhirnya rombongan HONG HWA HWE itu sudah tiba di Pakkhia, Ciok Siang Ing telah membeli sebuah gedung. Disitu telah menunggu kedua saudara Siang, Tio Pan San dan Nyo Seng Hiap. Pertemuan kali ini, sungguh menggembirakan sekali.
“Tio-samko, nanti tolong kau bawa Sim Hi menemui Kim-ko-thiat-jiao Pek Cin,” kata Keh Lok pada Tio Pan San.
“Baik. Dan apa yang harus kukatakan padanya,” tanya Pan San.
“Tolong kau berikan padanya khim yang bertatahkan huruf 'Lay Hong' ini padanya. Baginda tentu mengetahuinya.”
Tio Pan San dan Sim Hi segera berlalu. Lewat setengah harian, keduanya sudah datang kembali.
“Aku bersama Tio-samya ..................”
“Hai, apa-apaan masih menyebut 'ya' saja?” menyela Pan San sambil ketawa.
“Ya, aku bersama Tio-samko mendapatkan Pek Cin dirumahnya. Kebetulan dia dirumah” demikian tutur Sim Hi. “Begitu melihat karCis nama Samko, dia Cepat keluar dan mengundang kami duduk minum arak. Setelah itu, baru melepas kami pulang”.
Tan Keh Lok tahu kalau Pek Cin merasa berterima kasih padanya maka sikapnya begitu manis.
Keesokan harinya, Pek Cin datang berkunjung.
“Baginda undang Tan-kongCu keistana”, katanya dengan hormat.
“Baiklah, harap LoCianpwe duduk sebentar”, kata Keh Lok terus masuk kedalam untuk berunding dengan Liok Hwi Ching dan lain-lain.
Semua orang akan berlaku hati-hati. Justeru pada saat itu, Ciok Siang Ing masuk sambil menggandeng Bu Tim, hal mana tambah membuat mereka girang.
“Silakan Totiang mengaso dulu, nanti akan kuajak masuk ke istana,” kata Keh Lok.
Bu Tim girang mendapat tugas penting itu. Malah Wan Ci terus serahkan lengbik-kiam, pedang kepunyaan Ciauw Cong, supaya dipakai Totiang itu.
Menyambuti pedang itu, Bu Tim mengelah napas. “Sayang, dia tidak mati ditanganku,” katanya gegetun.
Begitulah diputuskan, Liok Hwi Ching, Bu Tim, Tio Pan San, kedua saudara Siang dan Jun Hwa akan mengantar Tan Keh Lok keistana. Sedang Bun Thay Lay memimpin saudara-saudaranya untuk melakukan penjagaan diluar istana.
Suasana dalam istana Boan itu, megah dan agung. Temboknya kokoh sekali. Penjagaan yang rapat, dilakukan oleh para si-wi.
Dua orang thaikam (orang kebiri) datang menyambut Pek Cin: “Pek tayjin, baginda berada dipagoda Pao Gwat Lauw, harap kau antar Tan-kongCu kesana.”
Pek Cin mengiakan dan katanya kepada Tan Keh Lok: “Kita sudah memasuki batas istana dalam, harap KongCu titahkan sekalian taruhkan senjatanya disini.”
Sekalipun kelima pengikut itu merasa betapa berbahaya urusan itu, namun dalam keadaan begitu, terpaksa mereka mengindahkan perintah.
Pagoda Pao Gwat Lauw terdiri dari 5 tingkat. Ukirandua dan Cat yang menghiasnya gilang gemilang berwarna keemasan. Indahnya bukan kepalang. Tapi satu hal yang mengherankan ialah, dimuka pagoda itu terdapat banyak sekali tenda orang Hwe. Hal itu mengejutkan Tan Keh Lok yang segera teringat akan nasib dari Hwe Ceng Tong kakak beradik.
Tengah Keh Lok dilamun keheranan itu, tiba-tiba munCullah dua orang thaikam seraya berseru: “Tan Keh Lok dipersilakan menghadap baginda.”
Keh Lok memperbaiki pakaiannya, lalu mengikut masuk. Tapi Bu Tim cs diperintahkan tinggal diluar. Naik loteng keiima, tiba-tiba hidung Keh Lok terCium bebauan yang semerbak sekali wanginya. Melangkah masuk, didapatinya baginda Kian Liong tengah duduk disebuah kursi. Mukanya mengunjuk senyuman.
Buru-buru Keh Lok berlutut menjalankan peradatan dengan hidmatnya.
“Ai, kau sudah datang, bagus, bagus. Duduklah disini,” seru Kian Liong sambil tertawa, seraya memberi isyarat supaya thaikamdua yang berada disitu sama keluar.
Keh Lok melangkah maju, tapi tak berani duduk.
“Duduklah, supaya enak biCara,” kata Kian Liong.
Keh Lok haturkan terima kasih dan duduk.
“Bagaimana pandanganmu, pagoda ini indah apa tidak?” tanya Kian Liong.
“Kalau bukan pagoda dalam istana, masa lain tempat terdapat pagoda yang seindah begini,” sahut Keh Lok.
“Ini saja kusuruh mereka lekas-lekas menyelesaikan, andaikata tak buru-buru, tentu akan lebih bagus lagi. Tapi inipun Cukuplah.”
Timbul dalam pikiran Keh Lok, untuk mendirikan pagoda yang semewah itu, berapakah sudah darah dan keringat rakyat yang diperas. Dan untuk menyelesaikan dalam waktu yang se-singkatduanya, entah sudah mengorbankan berapa jiwa pekerjanya.
Tiba-tiba Kian Liong berbangkit, katanya: “Kau baru kembali dari daerah Hwe, Coba kau lihatdua, apakah keadaan itu tidak mirip dengan pemandangan dipadang sahara!”
Tan Keh Lok mengiringkan baginda kejendela. Ketika memandang keluar, dia tersentak kaget.
Itulah benar-benar suatu pemandangan yang mentakjubkan. Sebuah taman yang ditumbuhi dengan warna warni bunga dan jalanandua yang ber-likudua. Tadi ketika dia masuk dari sebelah timur, yang dilihatnya hanya suatu pemandangan yang indah dan permai. Tapi kini setelah berada di loteng yang teratas dan memandang kesebelah barat, pemandangannya berbeda sama sekali. Kira-kira disekitar daerah satu li, tampak bumi yang ditutupi pasir. Disana sini tampak pagoda kecil, empangdua dan pohon-pohon bunga. Kesemuanya itu mengunjukkan baru saja selesai dikerjakan.
Memang hal itu tak sesuai dengan keadaan padang pasir yang luas bebas, namun pada keseluruhannya, dapatlah dikatakan sudah mendekati.
“Baginda senang akan pemandangan padang pasir?” tanya Keh Lok.
Kian Liong ganda tertawa tak menyahut, tanyanya: “Bagaimana!”
“Banyak sekali sekali menggunakan pekerja,” sahut Keh Lok. Memandang lagi kemuka, dilihatnya beberapa ratus pekerja tengah membongkar rumahdua. Rupanya baginda masih merasa taman itu kurang luas dan minta dilebarkan lagi.
“Apa perlunya taman pasir yang menjemukan mata itu? Sungguh pikirannya itu, sukar diduga,” pikir Keh Lok.
Kembali kedalam ruangan, Kian Liong menunjuk pada khim: “Ambillah lagi khim ini, tapi sebelumnya kau mainkanlah sebuah lagu untukku.”
Karena baginda tak menyinggung urusan yang dikehendaki, Keh Lokpun tak enak menanyakan, ia mulai menyentil snar khim. Kemudian mengalunlah sebuah lagu berjudul “Menghadap baginda.”
Senang rupanya Kian Liong mendengar itu, lalu pelan-pelan menghampiri kedekatnya. Selesai dengan lagunya, buru-buru Keh Lok berdiri. Dilihatnya tangan kiri kaisar itu dibalut dengan kain putih, agaknya terluka.
Melihat orang mengawasi tangannya, muka Kian Liong merah, lalu buru-buru menarik tangannya. Katanya: “Apakah sudah kau bawakan barang yang kukehendaki itu?”
“Sudah, sahabatku yang membawanya. Dia berada dibawah,” jawab Keh Lok.
Kian Liong memungut sebuah martil kecil dipukulkan pelan-pelan kepapan. Seorang thaikam kecil segera datang.
“Suruh pengikut Tan-kongCu kemari,” kata Kian Liong.
Sudah lama Liok Hwi Ching menantikan dibawah dengan gelisah. Ketika diatas loteng terdengar tetabuhan khim, legalah mereka. Begitulah mereka segera mengikut thaikam kecil tadi naik keatas.
Masuk keloteng tingkat dua, sekonyong-konyong didengarnya tindakan kaki orang yang bergegas-gegas dari belakang. Rupanya mereka Cepat-cepat akan naik lebih dulu. Bu Tim dan Jun Hwa yang berada paling belakang, segera menyingkir kesamping. Kedua orang tadi terus berjalan melalui tengahdua, karena kedua saudara Siang tak keburu menyingkir, kedua orang tadi terus mengulurkan tangannya masing-masing untuk memegang pinggang kedua saudara Siang.
“Minggirlah!” bentak mereka.
Berbareng itu, kedua saudara Siang didorong kepinggir. Kedua saudara Siang itu masing-masing membawa sebuah 'giok-bin' (vaas giok). Lorong ruangan itu sempit sekali, tak Cukup untuk 4 orang berjalan berendeng. Karena kuatir vaas tersebut akan kebentur rusak, buru-buru kedua saudara itu mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan jorokan orang.
Karena seperti mendorong batu yang tak bergerak, malah mempunyai tenaga membal, kedua orang tadi terkejut sekali. Sesaat itu kedua saudara Siang lalu menyingkir kesamping untuk memberi jalan.
Ketika hendak melewati, kedua orang tadi mengawasi persaudaran Siang dengan seksama. Wajah kedua saudara itu seperti kertas putih, alisnya menjulur ke bawah, tubuh-nya kurus tinggi, sikapnya menakutkan telah membuat kedua orang tadi terkesiap kaget.
Juga kedua saudara Siang itupun memandang kepada orang-orang yang mendorongnya tadi. Ternyata mereka dandanannya seperti thaikam. Yang satu bertangan kosong, sedang satunya lagi membawa sebuah kotak. Perbuatannya tadi, mengunjukkan mereka mempunyai ilmu silat yang tinggi. Bahwa dalam istana ternyata ada orang-orang yang sedemikian lihai, sungguh diluar dugaan.
Saat itu, kedua thaikam tersebut. sudah tiba dibelakang Liok Hwi Ching dan Tio Pan San, Setelah saling memberi isyarat, kedua thaikam itu mengulurkan sebelah tangannya untuk menepuk pundak kedua jago tua itu: “Minggirlah!”
Liok Hwi Ching adalah jago kenamaan dari Cabang Bu Tong Pai, sedang Tio Pan San adalah Ciang-bun-jin (ahliwaris) dari Thay Kek Lam Pai (Thay Kek Pai sekte selatan). Keduanya adalah jago-jago yang sukar ada tandingannya didunia persilatan.
Serasa ada orang menyerang, Hwi Ching gunakan gerak “Cian-ih-sip-pat-tiat”, sedang Tio Pan San gunakan bagian jurus “tam-Ciang”. Terkaman kedua thaikam itu menemui tempat kosong, malah thaikam yang menerkam Hwi Ching itu, terbentur dengan tenaga balasan dari Hwi Ching hingga hampir terhuyung-huyung.
Ketika akan melanjutkan naik, kedua thaikam itu memandang pada Liok dan Tio berdua dengan sorot mata gusar. Salah seorang telah bertanya kepada Pek Cin: “Pek-loji, apakah baginda memakai siwi baru?”
“Beberapa kawan ini, adalah jagoan dari kalangan bulim. Masakah mereka mau bekerja seperti kita orang”, sahut Pek Cin.
Kedua thaikam itu mengeluarkan suara hidung, terus melangkah naik. Liok Hwi Ching cs tak mengetahui, orang macam apakah kedua .thaikam itu. Keduanya berkepandaian tinggi, tapi kelakuannya terhadap Pek Cin tak sungkandua. Begitulah rombongan orang gagah itu kini sudah sampai ditingkat kelima. “Keenam pengiring Tan-kong-Cu sudah menunggu disini”, lebih dahulu Pek Cin berseru ketika masih diluar ruangan.
Thaikam kecil tadi menyingkap kerai, lalu mempersilakan mereka tunggu dahulu. Tak berapa lama, kedua thaikam tadi munCul. Mereka memandang dengan tajam kepada keenam orang itu, terus turun kebawah.
“Silakan masuk”, kata sithaikam kecil.
Pek Cin memimpin masuk. Tampak Kian Liong sedang duduk dan Tan Keh Lok berada disebelahnya. Atas isyarat Tan Keh Lok, terpaksa Hwi Ching dkk.nya berlutut memberi hormat pada kaisar. Diam-diam Bu Tim memaki-maki.
Keh Lok menyambuti sebuah peti kecil yang dibawah Pan San dan diletakkan diatas meja, katanya: “Inilah barang itu”.
“Kau, kau tinggalkan ruangan ini dulu! Sehabis kuperiksa, nanti akan kupanggil kau lagi”, perintah Kian Liong.
Keh Lok memberi hormat akan berlalu. Tapi Kian Liong kembali suruh dia membawa kembali khim tadi. Keh Lok memanggut, dan Jun Hwa yang disuruh membawakan khim itu.
Tiba-tiba Keh Lok menyambuti kotak berisi vaas giok dari kedua saudara Siang, juga ditaruhkan dimeja dan katanya. “Inilah sepasang vas1 giok itu, kini kami kembalikan”.
Kian Liong membukanya. Giok yang gilang gemilang itu, membuatnya gembira dan berulang-ulang memuji kebagusannya.
“Baginda telah dapat menundukkan daerah Hwe, hamba mohon sudi berlaku murah, mengeluarkan firman melarang membunuh rakyat yang tak berdosa”, kata Keh Lok.
Kian Liong tetap mengawasi vaas itu, tangannya memberi isyarat supaya semua orang berlalu. Apa boleh buat, terpaksa Keh Lok ajak rombongannya mengikut Pek Cin keluar.
Sampai diloteng bawah, kedua thaikam yang pandai silat tadi memapaki, serunya: “Pek-laoji, sahabat dari manakah, harap kau perkenalkan pada kami berdua.”
Pek Cin agaknya jeri terhadap kedua thaikam itu, katanya kepada Tan Keh Lok: “Marilah, kuperkenalkan pada kedua jagoan dari istana ini. Ini, adalah Ti Hian, Ti kong kong, dan ini, Bu Bing Hu, Bu kongkong.” (Kongkong adalah panggilan menghormat pada kaum thaikam).
Karena sedang melaksanakan usaha besar, Keh Lok tak mau bentrok dengan setiap penghuni istana. Sekalipun hatinya memandang rendah manusia-siamacam itu, namun diluar, terpaksa dia berlaku hormat.
“Sudah lama kami mendengar nama yang kesohor dari kedua kongkong,” katanya.
Lalu Pek Cin pun perkenalkan Tan Keh Lok pada kedua thaikam itu:
“Inilah Tan-kongCu, yang baginda jumpai ketika beliau meninjau daerah selatan. Rupanya baginda sangat sayang, dan mengundangnya kemari. Tak lama mungkin akan diberi jabatan.”
Tertawalah Ti Hian thaikam, katanya: “Engkoh yang begitu Cakap, mungkin masih terlalu muda untuk dnyadikan Tayhaksu.”
Mendengar thaikam itu agak tidak memandang mata padanya, Keh Lok tetap bersikap sabar. Tidak demikian halnya dengan kedua saudara Siang, yang dengan mata melotot terus akan bertindak.
Cepat Pek Cin menyelak dan perkenalkan juga Liok Hwi Ching, Bu Tim dan lain-lainnya.
Ti dan Bu kedua thaikam itu, adalah anakduanya hiat-thi-Cu yang dipelihara Yong Ceng almarhum. Kiranya Yong Ceng adalah seorang kaisar yang penuh dengan siasat jahat. Setelah kedua hiat-thi-Cu (pembunuh gelap) disuruhnya membunuh keluarga menteri besar Ong Kong, karena kuatir rahasianya bocor, kedua hiat-ti-Cu itupun diraCunnya. Lalu puteradua mereka dipelihara dan dnyadikan thaikam.
Sejak kecil Ti Hian dan Bu Bing Hu, mendapat latihan silat dari beberapa sahabat mendiang ayahnya. Keduanya menjadi lihai, hanya sayang, mereka sama sekali tak kenal akan jago-jago kenamaan dikalangan kangouw. Maka sekalipun nama Liok Hwi Ching dan Bu Tim yang begitu kesohor, dianggapnya sepi saja.
“Mari berjabatan tangan,” seru kedua thaikam itu seraya mengulurkan tangan.
Tadi sewaktu naik loteng, karena luput menerkam pundak Liok dan Tio berdua, rupanya kedua thaikam itu penasaran sekali. Sekarang benar-benar akan menjajalnya.
Ti Hian meyakinkan ilmu silat “pat-kwa-Ciang,” seCabang dengan Wi-tin-ho-siok Ong Hwi Yang, itu pemimpin Tin Wan piauwkiok. Bu Bing Hu sebaliknya mempelajari ilmu silat “thong-pi-kun.”
Begitu berjabatan, kedua thaikam itu terus akan memnyatnya keras-keras. Maksudnya supaya Liok dan Tio berdua berteriak kesakitan. Tapi tak disangkanya, kalau tangan Tio Pan San luar biasa liCinnya, bagaikan diminyak. Begitu Ti Hian memnyat, tangan Pan San seolah-olah seperti ikan yang melejit keluar.
Nama julukan Hwi Ching adalah “bian-li-Ciam”, jarum yang berada didalam kapas. Diluar, gerakannya tampak lemah, tapi didalamnya mengandung tenaga yang maha dahsyat. Ketika Ti Hian memnyat, segera ia rasakan seperti memnyat segumpal kapas. Dia kaget bukan kepalang, dan buru-buru menarik tangannya. Terlambat sedikit saja pasti tangannya akan terkena tenaga membalik dari Hwi Ching.
“Liok-loji sungguh hebat lwekangnya,” kata Ti Hian dengan meringis. Lalu berpaling kepada kedua saudara Siang, dia berkata: “Jiwi ini luar biasa sikapnya, tentu ilmu silatnya pun luar biasa. Mari kita berjabatan.”
Kedua saudara Siang saling kedipi mata, kemudian menjabat tangan kedua thaikam itu. Kedua saudara Siang itu ternyata sepikiran: “Kura-kura yang tak berbenih ini, sombong amat, biar dikasih sedikit rasa.”
Keistimewaan dari kedua saudara Siang itu ialah ilmu “hek-soa-Ciang,” tangan pasir hitam. Mungkin dalam dunia kangouw, hanya ada kedua saudara itu yang mahir dalam ilmu tersebut. Begitu berjabat, wajah kedua thaikam itu segera berobah. Butir-butir keringat sebesar kedele, ber-ketesdua turun dari dahinya.
Tahu Pek Cin bahwa kedua thaikam itu sedang menderita, tapi dia pura-pura tak tahu. Kiranya kedua thaikam itu adalah pengawal peribadi dari Hongthayhouw (ibusuri, janda kaisar Yong Ceng). Dengan andalkan pengaruh Thayhouw, keduanya tak menggubris pada baginda Kian Liong. Yangan dikata lagi terhadap kawanan siwi raja itu. Maka kawanan siwi sama benci kedua thaikam itu, hanya diluarnya, mereka tak berani dan terpaksa berlaku hormat. Kini mengetahui keduanya mengalami kesakitan, diam-diam Pek Cin malah bergirang.
Tahulah kedua saudara Siang itu, bahwa kalau terus dilanjutkan, kedua thaikam itu tentu tak kuat menahan. Maka dengan tersenyum, tangannya segera dibuka.
Rasa sakit yang diderita kedua thaikam itu sampai menembus keulu hati. Ketika diperiksanya, ternyata telapak tangan mereka seperti diCap dengan jari tangan, bekasnya sangat dalam dan kehitam-hitaman. Dengan menggigit bibir, mereka memandang kedua saudara Siang itu dengan penuh kebencian, kemudian berlalu.
Almarhum Thio Ciauw Cong yang begitu hebat kepandai-annya, ketika kesamplokan dengan kedua saudara Siang di bukit Oh-siauw-nia tempo hari juga kena diterkam oleh Siang Pek Ci. Betul Ciauw Cong dapat merontadua lepas, tapi tak urung dia terluka. Ini Ciauw Cong, yangan kata kedua thaikam tersebut.
“Hek-soa-Ciang dari Siang-hiap, sungguh hebat. Kedua thaikam itu sangat jumawa, biar mereka tahu rasa”, kata Pek Cin dengan girang.
Sampai diluar istana, Bun Thay Lay cs menyambutnya. Pek Cin minta diperkenalkan pada Bun Tay Lay. Lihat Thay Lay yang bertubuh tinggi besar sikapnya gagah, diam-diam Pek Cin mengaguminya.
Kini diCeritakan sewaktu Tan Keh Lok cs sudah berlalu. Kian Liong lalu membuka peti kecil itu. Nampak suratdua yang ditulis oleh kaisar Yong Ceng dan ibu kandungnya (Tan hoejin), kaisar itu terkenang akan budi keCintaan ayah bundanya. Tanpa terasa, dia menguCurkan air mata.
Setelah termenung beberapa saat, Kian Liong suruh thaikam kecil ambilkan api, suratdua dalam peti kecil itu lalu dibakarnya. Serasa hati kaisar itu lega dan gembira. Peti kecilpun turut dibakarnya. Kemudian ia memandang pada vaas giok dan segera memerintah pada thaikam kecil:
“Suruh dia naik”.
Setelah berselang lama, thaikam kecil itu datang kembali, lalu berlutut dan lapor: “Hamba mohon ampun, Nio-nio (Nyonya) tak mau datang”.
Kian Liong tertawa, kemudian mengelah napas. Dia berbangkit, memberi isyarat kepada kedua thaikam kecil supaya membawa kedua vaas giok itu, dan mengiringkannya turun.
Sampai diloteng sebelah bawah, para kiongli (dayang) yang menjaga segera menyingkap kere dan masuklah Kian Liong kedalam. Ruangan itu penuh ditaburi bungaduaan, baunya menusuk hidung. Dua orang kiongli segera menyambuti sepasang vaas giok tadi, lalu diletakkan hati-hati diatas meja.
Didalam ruangan itu terdapat seorang gadis berpakaian putih, yang tengah memandang kesebelah sini. Demi didengar derap kaki orang, dia lalu berbalik menghadap ketembok. Atas isyarat Kian Liong, para kiongli itu berlalu. Tapi ketika Kian Liong hendak membuka mulut, tiba-tiba pintu kerai tersingkap dan masuklah Ti Hian dan Bu Bing Hu thaikam, lalu tegak berdiri disamping dengan tangan di rangkapkan kebawah.
“Mengapa kalian kemari, Ayo, enyahlah!” hardik Kian Liong dengan murkanya.
“Hamba dititahkan Thayhouw untuk menjaga paduka,” sahut Ti Hian.
“Mengapa aku harus dnyaga?”
“Hong-thayhouw tahu bahwa ia............ Nio-nio berwatak keras, dikuatirkan akan melukai tubuh emas paduka,” kembali Ti Hian menjawab.
“Siapa yang mengadu pada Hongthayhouw?”
Ti dan Bu kedua thaikam serentak berlutut dan menyahut: “Hamba sungguh tak berani.”
Kian Liong perdengarkan suara hidung yang menjemukan: “Kalau bukan kalian berdua, siapa lagi? Ayo, lekas enyahlah!”
Kedua thaikam itu kembali memanggutkan kepala, tapi tak mau pergi dari situ. Tahu Kian Liong bahwa dengan titah Thayhouw itu, biar bagaimana kedua thaikam itu pasti tak mau enyah. Apalagi mengingat hal itu untuk kebaikannya. Kian Liong tak mempedulikan kedua orang kebiri itu lagi.
Kemudian ia berpaling kearah sigadis berpakaian putih, berkatalah kaisar itu: “Coba kau berpaling, aku hendak berkata padamu.”
Anehnya, kaisar itu menggunakan bahasa daerah Hwe, Namun gadis itu tetap tak bergerak, tangannya kanan memegang keras-keraspada sebuah pedang pendek.
“Lihatlah sejenak benda apa yang diatas meja itu,” kembali Kian Liong membujuknya.
Bermula gadis itu tak menghiraukan. Tapi karena sudah watak seorang dara, rasa kepingin tahu tetap menyelubungi pikirannya. Lewat beberapa jurus, ia miringkan kepalanya untuk melirik kearah meja. Demi tampak diatas situ terdapat sepasang vaas giok putih yang kemilau, mendadak gadis itu berbalik badan untuk memandang lebih seksama.
Berbareng dengan g'erakan tubuhnya itu, bau harum menyampok hidung Kian Liong dan kedua thaikam tadi. Parasnya yang gilang gemilang dan matanya yang bersorot bening, sangat mempesonakan. Kiranya gadis ini bukan lain adalah Hiang Hiang KiongCu atau Asri alias Puteri Harum.
Sejak Bok To Lun gugur, Hiang Hiang menjadi tawanan panglima Tiau Hwi, siapa karena ingat akan kata-kata Ciauw Cong bahwa. baginda menghendaki nona Ui tersebut, maka diangkutnya kekotaraja memakai kereta yang mewah dan penuh kebesaran.
Tatkala dahulu melihat lukisan nona Cantik pada vaas giok, Kian Liong sudah jatuh rindu. Maka ketika vaas giok diCuri Lou Ping, saking gusarnya Kian Liong titahkan bunuh kedua si-wi penjaga vaas tersebut. Karena dorongan dendam asmara yang tak tertahan, raja Boan itu terus mengutus Ciauw Cong kedaerah Hwe. Biar bagaimana, gadis jelita itu harus dapat dibawa kehadapannya.
Baginda ternyata sudah begitu ter-giladua. Siang malam beliau selalu terkenang. Agar bisa sambung biCara, beliau sengaja panggil seorang guru bahasa Uigor untuk mengajarnya. Dan karena beliau memang berotak terang, tak berapa lama bahasa suku tersebut pun dapat dikuasainya.
Tapi sedikitpun beliau tak menyangkanya, bahwa hati Hiang Hiang sudah terCuri oleh Tan Keh Lok. Tambahan pula nona Ui itu sudah punya rasa benci pada raja Boan itu, sebagai pembunuh ayahnya. Beberapa kali karena akan dipaksa, Hiang Hiang sudah akan, membunuh diri. Tapi setiap kali tak jadi karena terkenang akan Tan Keh Lok yang pernah menjanjikan hendak membawanya pesiar melihatdua Tiang Shia (Tembok Panyang). Sudah menjadi keyakinan” yang terpanCang dalam hati Hiang Hiang, anak muda itu pasti akan datang menolong. Dengan keyakinan itulah Hiang Hiang kuatkan hatinya untuk menolak segala bujuk paksaan baginda.
Sebaliknya dari gusar, Kian Liong' malah merasa Cemas balaudua nona Ui itu akan mereras. Dipanggilnya seluruh tukangdua pandai dikota raja, ditugaskan membuat sebuah pagoda Po Gwat Lauw untuk tempat tinggal Hiang Hiang.
Demikian Kian Liong menyanjung Hiang Hiang, sehingga diumpamakan puteri Ui itu laksana dewi yang bersemajam dirembulan, atau sama dengan bidadari.
Namun Hiang Hiang tak menghiraukan. Semua perabot dan perhiasan mewahdua dalam pagoda itu, yangan kata disentuh akan dipakainya, sedang dilihatnya saja pun enggan. Haridua ia selalu termenung memandang kelangit. Pikirannya me-layangdua akan penghidupannya yang tenang gembira di padang pasir.
Beberapa kali baginda diam-diam mengawasinya. Sewaktu nampak bagaimana Hiang Hiang memandang kelangit, mullutnya menyungging senyuman, baginda tak dapat menahan rindu asmaranya. SeCepat kilat beliau maju memeluk. Tapi berbareng itu, sebuah benda berkilau menyambar mengarah dadanya. Itulah badi-badi yang dipakai Hiang Hiang untuk menikam.
Beruntung raja itu gerakannya linCah, sedang Hiang Hiang tak mengerti ilmu silat, sehingga beliau dapat menghindari sebat sekali. Namun tak urung, tangan kirinya kena tertusuk, hingga darah menguCur deras.
Saking kagetnya, baginda mengeluarkan keringat dingin. Dan sejak itu, tak berani beliau berlaku gagahduaan mendekat lagi.
Peristiwa itu didengar oleh Thayhouw, siapa segera titahkan dayang dan thaikam untuk merampas senjata nona Ui tersebut. Tapi Hiang Hiang menganCam, barang siapa berani mendekatinya, ia akan bunuh diri. Kian Liong terpaksa mengalah dan suruh thaikam berlalu serta selanjutnya tak berani melakukan paksaan lagi.
Sekalipun begitu, Hiang Hiang masih selalu berkuatir, yangan-yangan hidangan dan minuman untuknya diCampuri obat bius, maka selain buah semangka, ia tak mau memakan semua hidangan itu.
Baginda sengaja titahkan membuat sebuah kolam mandi <lisebelah paseban Bu Ing Tian, tapi sebaliknya Hiang Hiang malah menjahiti rapat-rapat pakaian yang dikenakan. Puteri Ui itu mempunyai suatu Ciri yang istimewa: makin lama ia tak mandi, keringat tubuhnya makin berbau harum.
Ketika ia berpaling untuk mengawasi kedua buah vaas giok itu, tangannya tak lupa untuk memegang ujung badi-badi-nya. Karena dikuatirkan Kian Liong akan menjalankan tipu muslihat padanya.
“Dulu sewaktu kulihat gambarmu divaas itu, aku tak perCaja kalau didunia ini terdapat seorang mahluk yang seCantik itu. Tapi ternyata setelah kini aku berhadapan dengan orangnya sendiri, malahan kuanggap gambar itu masih jauh lebih kalah dengan orangnya,” Kian Liong mengelah napas.
Hiang Hiang membisu.
“Se-hariduaan kau berduka saja, apakah kau terkenang akan rumahmu? Coba kau lihat kejendela sini!” Kian Liong berkata lagi.
Hiang Hiang dapatkan Kian Liong bersama dengan dua erang thaikam berada dipinggir jendela. Ia segera keluarkan suara jengekan dan jebikan bibir. Melihat itu Kian Liong tersedar dan lalu menyingkir keujung sana sembari memerintahkan kedua thaikam berlalu.
Setelah mereka menyingkir, baru Hiang Hiang pelan-pelan mendekati jendela dan meninjau keluar. Ia lihat sebuah padang pasir, disana sini tampak beberapa perkemahan orang Ui dan pada tempat yang jauh terdapat sebuah mesjid. Hati Hiang Hiang seperti dibetot, dua butir air mata menetes turun. Teringat ia akan ayah dan orang-orang tua bangsanya yang telah menjadi korban pasukan Ceng. Seketika timbullah kemarahannya. SeCepat kilat ia berpaling, tangannya menyambar sebuah vaas giok terus ditimpukkan kearah kepala baginda.
Bu Bing Hu thaikam Cepat melesat kemuka baginda untuk menyanggapi. Tapi vaas itu sangatlah liCinnya, sehingga melejit lepas dari tangannya, jatuh hanCur ketanah. Menyusul dengan itu, Hiang Hiang timpukkan lagi vaas yang kedua. Ti Hian thaikam kini yang menyambutinya dengan sepasang tangan. Tapi tetap vaas itu merosot dari tangannya dan jatuh berantakan. Demikianlah, sepasang benda yang jarang terdapat didunia, musna ber-keping-keping.
Takut kalau sinona akan menyusuli dengan lain-lain benda yang membahayakan baginda, Bu-thaikam lonCat menangkap tangan Hiang Hiang. Tapi nona itu kelihatan gerakkan pedangnya kearah lehernya sendiri.
“Tahan!” seru baginda dengan gugup.
Bu-thaikam tarik tangannya, sedang Hiang Hiang pun Cepat mundur. Tiba-tiba “brakk,” sebuah benda lolos jatuh dari tubuh sinona. Takut kalau itu adalah senjata rahasia, Bu-thaikam Cepat-cepat memungut. Tetapi itu hanya sebuah mainan giok permata. Benda itu diserahkan kepada baginda.
Nampak benda itu, wajah baginda berobah puCat. Itulah batu mustika yang dahulu di Hayleng, diberikannya kepada Tan Keh Lok dengan pesanan supaya diberikan pada orang yang dipenujuinya. Apakah kedua orang itu sudah berkenalan? Demikian pikirnya.
“Kau kenal padanya?” buru-buru Kian Liong bertanya. “Dari mana kau peroleh batu mustika ini '?”
“Mana, kasih kembali padaku,” sahut Hiang Hiang sambil ulurkan tangannya.
Makin bertambahlah Cemburuan baginda.
“Jawablah, siapa yang memberikannya padamu, nanti kukembalikan!”
“Suamiku!” sahut Hiang Hiang Cepat.
Bukan kepalang kaget baginda, diulanginya bertanya: “Jadi kau sudah kawin?”
“Sekalipun tubuhku belum menjadi miliknya, tapi hatiku sudah kuserahkan padanya. Dia adalah seorang yang paling gagah berani didunia. Lihat saja, dia pasti akan dapat membebaskan diriku dari sini. Biar kau seorang raja, dia tak nanti jeri padamu, begitu pula aku.”
Hati Kian Liong makin mendidih, katanya: “Kutahu siapa yang kau maksudkan itu. Dia adalah ketua dari HONG HWA HWE, Tan Keh Lok namanya. Dia hanya seorang kepala gerombolan dikangouw, apanya yang mesti dikagumi?”
Mendengar jawaban baginda itu, diluar dugaan, Hiang Hiang malah kelihatan girang. Katanya: “Apa? Kaupun kenal padanya. Nah, sebaiknya kau lekas bebaskan diriku,” katanya.
Kian Liong mendongak kemuka. Tiba-tiba tertumbuklah pandangannya pada sebuah kaCa. Disitu tampak duplikat dirinya dengan jelas. Dia insyap, bahwa dirinya kalah tampan dan kalah muda dengan Tan Keh Lok. Seketika rasa Cemburu dan dengki menCengkeram batinnya. Mainan giok itu segera ditimpukkan kepada kaCa hingga kaCa itu hanCur berantakan.
Hiang Hiang Cepat memungut mainan itu, dan diulapnya dengan penuh rasa sayang. Nampak itu makin men-jadidua-nya kemarahan baginda. Dengan membanting kaki, beliau berlalu dari situ.
Hampir setengah harian baginda duduk termenung menyekap diri dalam kamar tulisnya.
“Aku seorang yang dipertuan diseluruh negeri. Tapi ternyata seorang gadis dari lain suku telah berani menolak getas kehendakku, disebabkan Tan Keh Lok menyelak ditengahdua. Dia menganjurkan aku mengusir orang Boan dan membangunkan pula kerajaan Han. Memangnya suatu Citadua yang indah. Tapi apakah hal itu tidak akan 'gagal menggambar harimau, berbalik menjadi gambar anjing'. Usaha besar gagal, berbalik mengantar jiwa dengan sia-sia. Ber-bulandua sudah kupertimbangkan soal itu, namun belum dapat kuambil putusan. Ah, bagaimana baiknya?” demikian Kian Liong me-nimbangdua dalam pikirannya. Tapi pada lain saat dia berpikir lagi: “Ah, kesemuanya itu tergantung padaku sendiri, tak perlu kubimbang. Andaikata kusetuju melaksanakan usaha itu, dan berhasil, tidakkah berarti aku akan selalu dibawah tekanan Tan Keh Lok? Jadi aku tak lebih hanya merupakan raja boneka saja! Dan mengapa kuharus membuang kemegahan didepan mata untuk mengejar kemuliaan yang belum tentu dapat kunikmati? Hati gadis Ui itu sudah terpikat olehnya, baik, sekali tepuk akan kutangkap dua ekor lalat.”
Setelah mengambil ketetapan, dipanggilnya Pek Cin.
“Pada setiap ruangan tingkat Po Gwat Dauw, taruhlah 4 orang si-wi (jago pengawal) kelas satu. Diluar pagoda, siapkan lagi dua0 orang Si-wi. Yangan sekali-kali hal ini sampai bocor,” perintah sang junjungan.
Pek Cin menjura selaku tanda menerima titah.
“Panggil Keh Lok ke Po Gwat Lauw. Katakan aku hendak membiCarakan urusan penting, yangan dia membawa pengikut!”
Lebih dahulu Pek Cin mengatur penjagaan, baru mengundang Tan Keh Lok. Diam-diam dia kuatir akan keselamatan ketua HONG HWA HWE Itu, pikirnya:
“Kalau dia datang seorang diri, biar kepandaiannya menyundul langitpun, tak nanti dia sanggup melawan 40 orang si-wi. Dia telah melepas budi padaku, mengapa aku takkan membalasnya? Tapi titah baginda itu tak boleh dibocorkan padanya. Biar kulihat perkembangannya nanti.”
Mendengar perintah kaisar, Tan Keh Lok segera berganti pakaian. Liok Hwi Ching dkk. sama mengutarakan kekuatirannya. Tapi ketua HONG HWA HWE telah mengambil putusan, apapun yang akan terjadi, dia tetap akan menghadap kaisar.
“Totiang, kalau aku sampai tak kembali, pimpinan HONG HWA HWE harap Totiang pegang untuk menCari balas,” kata Keh Lok pada Bu Tim.
“Harap CongthoCu tak usah kuatir,” sahut Bu Tim.
“Saudara-saudara, tak perlu menyambut diluar istana. Kalau dia hendak menCelakakan diriku, saudarapun pasti terlambat akan menolongku. Bahkan nanti saudara-saudara akan terlibat bahaya sendiri,” kata Keh Lok pula.
Semua orang HONG HWA HWE dapat dibikin mengerti.
Sampai Keh Lok kedalam Kota Terlarang (komplek istana) haripun sudah gelap. Dua orang thaikam dengan membawa teng, menjadi penunjuk jalan. Naik sampai ketingkat 4 dari Po Gwat Lauw, thaikam melaporkan kedatangannya. Keh Lok dititah masuk kesebuah ruang kecil disamping loteng, disitu tampak baginda Kian Liong tengah duduk termenung. Keh Lok buru-buru berlutut memberi hormat. Kian Liong mengisyaratkannya duduk.
Tampak pada dinding dimuka Keh Lok, sebuah lukisan koleksi istana Han yang sangat “hidup” sekali. Disebelahnya, terdapat sepasang lian buah tulisan baginda Kian Liong sendiri, berbunyi sbb.:
Meskipun ambekan baginda Seng Siao Ong besar” tapi akhirnya hanya kemasgulan yang diperolehnya.
Nyata tulisan Kian Liong itu ditujukan untuk dirinya sendiri, diibaratkan seperti raja Han tersebut.
“Bagaimana?” tanya baginda melihat Keh Lok membaca lian itu.
“Baginda berambekan tinggi, serupa dengan baginda Sin Bu, kalau dapat menyelesaikan usaha besar itu nama baginda turun temurun akan dimuliakan, jauh lebih berjasa dari sejarah Han mengusir Cin, kerajaan Beng meruntuhkan Gwan Tiauw.”
Mendengar pujian itu, hati Kian Liong membubung tinggi. Sambil mengurut jenggot, beliau terhening sejenak, kemudian ketawa. Katanya: “Kita berdua meskipun kedudukannya antara raja dengan menteri, tapi hubungan kita adalah hubungan saudara. Kelak kau harus sungguh-sungguh membantu aku.”
Hati Keh Lok tergetar. Di kiranya setelah melihat buktidua dan suratdua itu, kini Kian Liong mau mengakui saudara padanya. Dan uCapan tadi, mengunjuk kalau beliau setuju untuk melaksanakan gerakan besar itu.
Saking girangnya, Keh Lok berlutut dan menjura: “Baginda seorang junjungan yang agung perwira, itu merupakan berkah besar pada seluruh rakyat.”
Tapi sebaliknya girang, baginda mengelah napas. “Sekalipun aku seorang kaisar, namun kalah berbahagia dengan kau,” katanya.
Keh Lok melengak.
“Pada bulan delapan di Hayleng kuhadiahkan padamu sebuah batu ikat pinggang giok. Apa barang itu kini kau bawa?”
“Baginda titahkan hamba kasihkan pada orang pilihanku, kini telah hamba berikan.”
“Kau berpemandangan luas, yang kau penujui, tentu seorang wanita yang terCantik didunia.”
“Sayang ia tak ketahuan rimbanya, entah hidup atau mati,” mata Tan Keh Lok mulai merambang merah. “Kalau gerakan baginda itu sudah selesai, hamba akan menCarinya sampai ketemu.”
“Tentunya kau sangat mencintainya bukan?”
“Ya,” sahut Keh Lok tak lampias.
“Honghouw (permaisuri) seorang Boan, kau sudah mengetahui bukan?” “Ya.”
“Honghouw sayang sekali padaku. Beliau sangat pandai dan berpengaruh. Kalau aku bersekongkel denganmu, beliau pasti akan merintangi mati-matian. Coba, kau pikir bagaimana baiknya?”
Pertanyaan itu sukar untuk Keh Lok menjawabnya. “Baginda lebih tahu, hamba tak dapat memberi pertimbangan.”
“Antara rumah tangga dan negara, harus dipisahkan. Pada akhirdua ini, aku tenggelam dalam kebingungan. Dan lagi aku masih mempunyai satu soal besar, sayang tiada orang yang dapat kubagikan derita bathinku itu,” kata baginda.
“Apa yang baginda titahkan, hamba tentu tak akan menolak.”
“Ah, sebenarnya seorang lakidua sejati tidak nanti merampas kesayangan orang lain,” Kian Liong mengelah napas. “Tapi bagaimana akan menghindarinya, ah, Cinta punya bisa. Bagaimana kuharus berbuat? Coba tengoklah kesana!”
Kian Liong menunjuk kesebuah ruangan disebelah barat, kemudian beliau berbangkit terus naik keloteng atas, meninggalkan Keh Lok seorang diri tanpa mengerti apa yang dimaksud dengan uCapan baginda itu.
Setelah menenangkan diri, anak muda itu lalu menyingkap sekosel pintu untuk masuk kedalam. Sebuah kamar tidur yang luar biasa mewahnya dengan diterangi oleh lilin. Seorang gadis duduk termenung disitu. Tan Keh Lok seperti terpaku. Mulutnya bungkam dalam seribu bahasa. Hiang Hiang bermula enggan menengok kebelakang. Tangannya eratdua memegang batang pedang, siap menghadapi. Tapi ketika dilihatnya orang yang siang malam dirindui berdiri dibelakangnya, ia menjerit kegirangan terus lari menubruk kedalam rangkulan sianak muda.
“Kutahu kau pasti akan datang menolongku, karenanya kutetap bersabar menunggumu”.
“Asri, apakah kita ini sedang bermimpi?” tanya Keh Lok sambil memeluknya.
Hiang Hiang menggelengkan kepala, air matanya berketes turun.
Bukan main rasa Syukur Tan Keh Lok atas budi kebaikan baginda, yang telah begitu baik untuk mengambil nona yang dikasihinya itu dari tempat yang begitu jauh. Luapan hati yang mencinta, telah mendorong Keh Lok untuk memberi Ciuman pada nona itu. Begitulah kedua orang muda itu, seketika tenggelam dalam alam ke bahagiaan.
Lewat beberapa saat kemudian, Hiang Hiang menunjuk pada kaCa Cermin yang pecah seraya mengeluarkan batu mustikanya: “Dia rampas mainanku ini untuk menghantam kaCa itu hingga pecah.”
“Siapa?” tanya Keh Lok terkejut.
“Raja busuk itu”.
Keheranan Keh Lok makin menjadi, tanyanya: “Mengapa?”
“Kukatakan padanya, kutetap tak jeri menghadapi paksaannya, karena kau pasti datang menolong. Dia marah-marah dan Coba menarikku, tapi kumembawa pedang ini”.
Kepala Keh Lok seakan-akan pecah seperti disambar petir, katanya tanpa sadar: “Pedang?”
“Hm, ketika ayah menutup mata, akulah yang mendampingi. Ayah memberiku pedang ini dengan memesan lebih baik kubunuh diri daripada diCemarkan musuh. Bunuh diri karena membela kesuCian wanita Islam, Allah takkan mengutuknya.”
Tampak pula oleh Keh Lok bagaimana pakaian Hiang Hiang itu dnyahit rapat-rapat. Diam-diam dia memuji akan kekerasan hati dara yang bertubuh lemah itu. Teringat juga dia entah beberapa kali sudah dia bersama nona itu menghadapi bahaya. Seketika hatinya penuh dengan bermacam perasaan. Tanpa merasa dipeluknya gadis itu kembali.
“Kiranya baginda mengambil Asri kemari itu, untuk kepentingannya sendiri. Beliau membangun taman bergurun, mendirikan kemahdua dan mesjid itu, untuk mengambil hatinya. Tapi Asri tak mau. Mungkiri sudah beberapa kali baginda hendak melakukan paksaan, tapi senantiasa gagal. Ah, mengapa tadi baginda mengatakan kalau ia kalah beruntung dengan aku itu, kiranya soal inilah yang dimaksudkan”, pikir Keh Lok.
Didalam pelukan sianak muda, Hiang Hiang merasa aman sekali. Dan karena sudah ber-haridua ia tak dapat tidur pulas, tanpa merasa kini ia tertidur.
“Beliau mengidinkan kubertemu dengan Asri, apakah maksudnya? Beliau mengemukakan hubungannya dengan Honghouw. Untuk melaksanakan gerakan besar itu, hubungan tersebut. harus dikesampingkan. Antara rumah tangga dan negara, salah satu harus dikorbankan. Ja, apakah maksudnya.........”
Berpikir sampai disini, Keh Lok menguCurkan keringat dingin, tubuhnya gemetar. Tapi Hiang Hiang tetap pulas dengan bibir menyungging senyuman.
“Berdampingan dengan Asri dan bentrok dengan baginda, atau, menasehati Asri supaya menurut pada baginda demi untuk kepentingan gerakan mulia itu?” demikian akhirnya Keh Lok mendapat kesimpulan. Berat nian rasanya untuk menjatuhkan pilihan diantara kedua soal itu, Pikirnya pula: “Begitu besar Cinta Asri padaku. Ia mati-matian mempertahankan kesuCiannya, karena ia menaruh keyakinan penuh bahwa aku pasti dapat menolongnya. Apakah aku tak punya perasaan, tega untuk membelakanginya? Namun kalau kupilih Asri, tentu akan bentrok dengan baginda. Dan kesempatan untuk membebaskan penderitaan rakyat pasti hilang. Bukankah berarti kami berdua menghianati saudara-saudara diseluruh tanah air?”
Selagi Keh Lok tak berdaya mengambil putusan. Tiba-tiba Hiang Hiang membuka mata, katanya: “Mari kita tinggalkan tempat ini. Kusebal menemui raja busuk itu.”
“Baik, kita pergi,” kata Keh Lok. Disambutinya pedang Asri, lalu mengretek gigi, pikirnya: “Persetan, menjadi penghianat bangsa, biarlah. Kalau kami gagal menobros keluar, kami akan mati bersama ditempat ini. Kalau berhasil, akan kuajak ia, hidup mengasingkan diri digunung. Ini jauh lebih baik dari pada membiarkan dirinya diCemarkan orang.”
Dia menghampiri jendela dan melongok keluar. Tak seorang Si-wipun kelihatan. Suasana didekat situ sunyidua saja. Sedang dikejauhan hanya kelihatan sinar lampu. Ketika diawasi, ternyata lampu-' itu, memang dipasang oleh tukangdua yang tengah menyelesaikan taman bergurun itu. Mungkin karena takut mendapat hukuman, maka ratusan tukangdua itu harus bekerja siang dan malam untuk mengejar waktu.
Seketika panaslah hati Tan Keh Lok.
“Hm, kalau begitu, entah sudah berapa banyak sekali rahajat yang kehilangan rumahnya! Baginda itu seorang raja yang mengutamakan kesenangannya sendiri, tak menghiraukan penderitaan rahajat. Dibawah pemerintahannya, Kawan-kawan kita seluruh tanah air mengalami penderitaan. Kalau mungkin, biarlah kesengsaraan bangsa kita ditimpahkan padaku dan Asri saja.”
SeCepat kilat, terjadilah perubahan besar dalam bathin Tan Keh Lok.
“Kau tunggu disini, biar kupergi sebentar”, katanya.
Hiang Hiang memanggut dan menerima pula pedangnya tadi.
Keh Lok menuju ketingkat 5, dimana baginda sedang duduk bermuram durja,
“Kepentingan negara diatas kepentingan peribadi. Biar kunasehatinya supaya menurut kehendakmu”, kata Keh Lok segera.
Kian Liong ionCat kegirangan, serunya: “Benar?” “Hm, tapi kuminta janjimu” kata Keh Lok seraya menatap wajah baginda dengan tajam. “Janji bagaimana?”
“Kalau tidak bersungguh hati untuk mengusir bangsa Boan apa katamu?”
Kian Liong merenung sejenak. “Kalau sampai aku ingkar, walaupun semasa hidup kumenikmati kesenangan yang tiada Laranya, nanti kalau sudah meninggal, biar kuburanku dibongkar orang, agar matipun aku tak dapat tenang, turun temurun diperhina orang”, ia bersumpah.
Makam rajadua itu dipandang keramat dan suCi. Kalau sampai dibongkar, terang suatu uCapan sumpah yang berat.
“Baik, segera kunasehatinya. Tapi kuminta agar diperkenankan untuk keluar bersamanya dari istana ini”.
“Keluar dari sini?” menegas Kian Liong dengan kaget.
“Ya, kini ia masih sangat membenci kau. Disini ia tak nanti mau dengar nasehatku. Akan kubawanya pesiar melihat Tembok Panyang untuk menCari kesempatan memberi nasehat”.
“Mengapa harus pergi ketempat yang begitu jauh?”
“Aku pernah menjanjikan untuk mengajaknya kesana. Setelah itu, aku berjanji takkan menemuinya lagi untuk se-lama-lamanya”.
“Kau pasti membawanya kembali?” tanya Kian Liong sangsi.
“Kita orang kangouw, lebih menghargai janji daripada d jiwa sendiri.”
“Dia menaruh kepentingan usahanya itu diatas segala, tak nanti karena seorang wanita, dia akan menipu aku,” pikir Kian Liong. “Baik, kamu boleh pergi!” serunya sebaja menepuk meja.
Setelah Keh Lok berlalu, Kian Liong segera titahkan 40 orang Si-wi untuk mengikuti kedua orang itu dengan diam-diam.
Demikianlah setelah kembali, Keh Lok segera ajak Hiang Hiang berlalu. Karena sudah menerima firman, tak ada seorang si-wi dalam istana itu yang menghalangi perjalanan kedua orang tersebut. Selama itu tak sedikitpun Hiang Hiang menaruh keCurigaan apa-apa. Apa yang terjadi itu, ia perCaja, berkat kelihaiaan kekasihnya.
Setibanya diluar istana, hari sudah terang tanah. Menampak sang KongCu keluar, Sim Hi yang sudah sedari tadi menunggu dengan kuda putihnya, segera menghampiri. Demi nampak Hiang Hiang ikut serta, dia menjadi heran.
“Aku akan keluar kota, mungkin malam nanti baru balik. Sampaikan pada sekalian saudara-saudara, tak usah kuatir,” kata Keh Lok sambil menyambuti kuda putih.
Sim Hi melihat sang KongCu (lengan puteri Ui itu naik kuda menuju keutara. Ketika dia hendak pulang, tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kuda mematangi. Berpuluh Si-wi dengan berpakaian warna kuning sama naik kuda memburu kearah KongCunya. Yang dimuka sendiri, bertubuh kurus kering, dikenalnya sebagai Kim-kao-thiat-jiao Pek Cin yang pernah dijumpainya di HangCiu tempo hari. Sim Hi kuatir bukan kepalang, Cepat ia pulang melapor.
Dengan sandarkan kepalanya didada orang yang dikasihi, serasa hilanglah segala kesedihan Hiang Hiang selama itu. Dalam beberapa waktu saja, kuda putih itu sudah melintasi sungai Ching-ho Sat-ho, kota Ching Ping dan Lam Go.
Begitulah akhirnya mereka sampai dikota Ki Yong Kwan. Disitulah Tembok Besar tampak me-lingkardua dengan megahnya, bagaikan seekor ular raksasa.
“Untuk apa mendirikan bang'unan raksasa ini?” tanya Hiang Hiang.
“Itu waktu untuk menjaga serbuan musuh dari daerah utara. Untuk membangun tembok ini, entah sudah berapa banyak sekali jiwa dan darah rakyat yang berkorban.”
“Huh, kaum lelaki itu memang aneh. Mengapa mereka tak suka hidup rukun dengan menari dan menyanyi? Mereka senantiasa berperang, sehingga ribuan jiwa melayang.”
“Benar, maka andaikata baginda nanti mendengar perintahmu, Cegahlah dia supaya yangan memerangi rahajat diperbatasan yang kasihan nasibnya itu.”
“Huh, siapa sudi bertemu muka dengan raja busuk itu lagi,” Hiang Hiang tertawa.
“Kalau kau dapat mempengaruhinya, tentu kau dapat menCegah perbuatannya yang buruk itu, agar dapat meringankan penderitaan rakyat. Sudikah kau meluluskan permintaanku ini?”
“Aneh, kapan aku tak menurut kata-katamu?” balas bertanya Hiang Hiang.
Keh Lok menyatakan terima kasihnya, kemudian dengan bergandengan tangan keduanya ber-jalandua diluar Tembok Besar.
“Toako, aku teringat, sesuatu,” tiba-tiba Hiang Hiang berkata. “Apakah itu?”
“Hari ini aku merasa bergembira sekali bukan karena keindahan pemandangan tempat ini, tapi karena kau berada didampingku.”
Mendengar uCapan itu, hati Keh Lok makin tak tega mengutarakan maksudnya.
“Kau punya permintaan apa padaku?” katanya kemudian.
“Toako, kau sangat baik kepadaku. Segala apa, tanpa kuminta, kau tentu mengerjakan permintaanku,” kata Hiang Hiang seraya mengeluarkan bunga swat-tiong-lian (terata salju) dahulu itu. Walaupun sudah laju, bunga itu masih putih meletak dan harum baunya. “Hanya suatu hal yang kau tak mau melakukan, kuminta kau menyanyi, tapi kau menolak.”
“Ha, sungguh mati, aku selamanya tak pernah menyanyi,” Keh Lok terta,wa geli.
“Sudahlah, akupun tak sudi menyanyi untukmu lagi,” Hiang Hiang pura-pura meng'ambek.
Mengingat hanya sehari itu mereka dapat berkumpul, terpaksa Keh Lok mengalah, katanya: “Ya, baiklah, kuingat sewaktu masih kecil ibu sering menyanyikan beberapa lagu untukku. Biar kunyanyikan, tapi awas, yangan kau menertawakan ja?!”
“Bagus, bagus, Ayo mulailah!” seru Hiang Hiang bertepuk tangan.
Setelah mengingat sebentar, mulailah Tan Keh Lok menyanyi:
“Hujan rintik'~ ditiup angin sepoidua. Dibawah loteng terdengar bisik orang me-rajudua. Kukira dia kekasihku. Tanpa terasa, mulutku samar» mengoCeh. Tapi ketika kuperhatikan, ternyata bukan si dia. Bukan main terkejutku, sehingga jantungku berdebar keras saking takut.”
Tan Keh Lok menjelaskan nyanyian itu dalam basa Ui, Hiang Hiang tertawa dan berkata: “Oh, kiranya nona itu matanya kurang awas.”
Tanpa terasa, sepasang mata Keh Lok mengembeng air mata. Hiang Hiang terkejut.
“He, mengapa? Kau tentu terkenang pada ibumu. Sudahlah, baik kau berhenti menyanyi.”
Keduanya bermain-main pula diluar dan didalam tembok. Bangunan tembok raksasa itu memang luar biasa kokohnya. Ditengahnya terdapat lorong. Setiap jarak tiga puluhan tumbak terdapat sebuah menara. Menara itu untuk melepas api pertandaan. Tan Keh Lok teringat bagaimana didaerah Hwe dahulu, Hwe Ceng Tong membuat asap long-yan dan memukul pecah pasukan Ceng. Terkenang akan nasib yang belum ketahuan dari nona itu, hati Tan Keh Lok menjadi tawar. Sekalipun hendak ditutupnya, tak urung wajahnya nampak tanda-tanda kemasgulan itu.
“Kutahu apa yang kaupikirkan saat ini,” kata Hiang Hiang.
“Apa?”
“Ketika kita bertiga terkurung di Kota Sesat, meski dalam bahaya, tapi kau tetap bergembira. Ah, yangan kuatirlah!”
“Asri, apa maksudmu?” tanya Tan Keh Lok seraya memegang tangan sinona.
Hiang Hiang mengelah napas, sahutnya: “Dulu aku masih seorang anak, apapun tak mengerti. Tapi setelah agak lama tinggal diistana raja, kini baru aku jelas kesemuanya itu. Cici-ku suka padamu, dan kaupun membalas suka padanya, bukan?”
“Benar, sebenarnya tak harus aku mengelabui kau,” sahut Keh Lok.
“Tapi akupun tahu, kau juga suka padaku. Tanpa kau,
aku segan hidup. Mari kita Cari Cici, sampai dapat. Kita bertiga hidup dengan bahagia se-lama-lamanya.”
Sewaktu menguCap kata-kata itu, mata Hiang Hiang yang bening itu memanCarkan Cahaja gilang gemilang, pertanda luapan hatinya yang bahagia.
Keh Lok kepal tangan Hiang Hiang eratdua, bisiknya: “Asri, hatimu murni sekali. Kau dan Cicimu adalah insan yang terbaik didunia.”
Hiang Hiang tak menyahut, hanya memandang jauh kemuka. Tiba-tiba diantara sorot matahari itu seperti mengandung Cahaja air. Ia memasang telinga betul-betul dan sajupdua terdengar suara khim berbunyi.
“Dengarlah, betapa merdu nyanyian itu.”
“Itu selat Than-Khim-kiap (selat menabuh harpa)!” kata Keh Lok.
Hiang Hiang minta dibawa kesana. Melalui beberapa semak pegunungan itu, mereka tiba disebuah umbul (air sumber) yang memanCur dari seladua batu gunung. Karena tinggi rendahnya air yang jatuh, maka timbullah semacam bunyi yang seolah-olah merupakan bunyi khim.

Air sumber itu jernih dan sejuk sekali. Hiang Hiang membasuh kakinya. Keduanya duduk ditepi aliran. Keh Lok mengeluarkan ransum kering. Begitulah Hiang Hiang senderkan kepalanya dipunggung kekasihnya, sembari memakan, ia mengulapdua kakinya dengan saputangan.
“Asri, hendak kubiCarakan suatu hal padamu,” kata Keh Lok kuatkan hatinya.
Hiang Hiang balikkan tubuhnya, terus memeluk dan sesapkan kepalanya kedada sianak muda.
“Kutahu kau Cinta padaku. Kau tak menyatakan, akupun sudah mengerti. Sudahlah, tak usah kau mengatakannya.”
Hati Keh Lok terCekat. Kata-kata yang sudah siap diujung lidah, ditelannya kembali. Beberapa saat kemudian, dia berkata pula: “Asri, kau tentu masih ingat akan riwajat puteri Mamir digunung
Giok-nia itu?”
“Ya, kini ia bersama Ali-nya berada disorga”.
“Apakah kamu umat Islam perCaja bahwa setelah meninggal, arwah kita akan berada ditaman Gembira Loka yang abadi?”
“Sudah tentu,” sahut sigadis tanpa ragu-ragu.
“Nanti sekembalinya ke Pak-khia akan kudapatkan Haji dari bangsamu. Akan kuminta dia mengajar supaya aku menjadi seorang penganut Islam yang saleh”.
Hiang Hiang girang sekali mendengarnya, serunya: “Toako, apakah kau ber-sungguh-sungguh?”
“Tentu!”
“Karena mencintai aku, kau sampai berlaku begitu. Benar-benar tak kusangka”.
“Ya, sebab dalam penghidupan didunia fana ini kita tak dapat bersama, biarlah nanti dialam baka kuselalu berdampingan dengan dikau.”
Mendengar itu, tergetarlah tubuh Hiang Hiang hingga beberapa saat ia termangu-mangu. “Apa katamu? Dalam penghidupan sekarang kita tak dapat berkumpul bersama?” katanya.
“Ya, selewatnya hari ini, kita bakal berpisah se-lama-lamanya”.
“Kenapa?!” menegas Hiang Hiang dengan berdebar. Air matanya berCucuran menetes kepakaian Keh Lok.
“Asri, kalau dapat kumendampingimu, sekalipun tak makan, berpakaian Compang Camping, dihina orang, relalah aku. Tapi ingatlah kau akan sejarah Mamir? Ja, Mamir yang bnyaksana itu? Demi kepentingan rakyatnya, ia rela berpisah dengan Ali yang diCintainya itu, rela mengorbankan diri pada raja lalim itu...............”
Hiang Hiang menelungkup dikaki Keh Lok, katanya dengan lemah: “Jadi kau maukan aku menyerahkan diri pada raja busuk itu? Supaya aku dapat kesempatan untuk membunuhnya?”
“Bukan, dia adalah kakakku sendiri,” lalu panyang lebar Tan Keh Lok tuturkan riwajat hubungannya darah dengan kaisar Kian Liong.
Selesai mendengar, pingsanlah Hiang Hiang. Kebahagiaan yang selama itu diCitaduakan, baru saja dikiranya terlaksana, ternyata dibanting hanCur lagi. Ja, siapakah orangnya yang kuat menghadapi derita yang sedemikian beratnya itu?
Ketika, sadar, didapatnya Tan Keh Lok masih memeluk dirinya. Tapi sementara itu, ia rasakan badannya basah semua. Itu tentulah air mata Tan Keh Lok yang membanjirimja.
“Tunggulah sebentar disini,” kata Hiang Hiang seraya berbangkit. Ia menuju kesebuah batu besar disebelah sana, lalu berlutut menghadap kebarat. Kiranya ia sedang bersembahyang meminta kekuatan pada Allah.
Selang tak berapa lama kemudian, kelihatan ia berbangkit. “Kau menghendaki bagaimana, biar aku menurut, saja,” katanya.
Keh Lok memburu untuk memeluknya dengan perasaan hanCur.
“Kalau kuketahui akan terjadi peristiwa sekarang ini, aku tak mau pesiar kemari. Akan kuminta agar kau sehari penuh memeluk aku saja,” kata Hiang Hiang.
Keh Lok kembali menciumnya.
“Nanti kalau aku berada diistana, aku tak mau mandi. Sekarang aku akan mandi untuk yang penghabisan kali,” kata Hiang Hiang pula.
“Baiklah, biar kutunggu disebelah sana.”
“Tidak, kau harus berada disini. Pertama kali kau berjumpa dengan aku, sewaktu aku sedang mandi. Maka untuk penghabisan kali, akupun minta kau menunggui aku mandi. Untuk kenangduaan agar selamanya kau tak melupakan diriku.”
“Asri, apakah kau kira aku dapat melupakan kau?”
“Ya, aku kesalahan omong, yangan marah, Toako, kau tunggui disini.”
Keh Lok terpaksa duduk kembali menyaksikan puteri harum itu menanggal pakaian dan mandi dengan riangnya......
Sehabis mandi, kembali Hiang Hiang dekapkan tubuhnya kepada «ianak muda.
“Asri, sekalipun kita bakal berpisah, namun hati kita tetap bersatu. Dipadang pasir, disini, sekalipun kebahagiaan itu hanya singkat sekali, namun melebihi kebahagiaan suami isteri yang berkumpul beberapa puluh tahun.”
“Toako, Toako, matahari sudah mulai silam!” tiba-tiba Hiang Hiang menjerit dengan ratap tangisnya sambil memandang kearah barat.
Hati Keh Lok seperti diremas. “Asri, maafkanlah, kait sampai menderita begini!” katanya. “Betapa baiknya bila matahari bisa terbit lagi, sekalipun hanya untuk sebentar
“Demi untuk kepentingan bangsaku, sudah selajaknya kumenderita,” kata Keh Lok. “Tapi kau belum pernah melihat mereka, belum pernah mengenalnya............”
“KuCinta padamu, seharusnya pun terhadap bangsamu. Bukankah kau d juga menyayang saudara-saudara bangsa Ui kami?”'
Tapi ternyata matahari terus tenggelam, hal ini membuat hati Hiang Hiang makin menCelus, katanya: “Mari pulang, aku merasa berbahagia sekali!”
Begitulah dengari hati yang kosong, keduanya naik kuda kembali. Sepanyang jalan, mulut mereka serasa terkanCing-. Tak berapa lama kemudian, beberapa ..puluh Si-wi dibawah pimpinan Pek Cin datang menyambutnya. Ternyata kawanan Si-wi ,yang menerima titah baginda untuk membuntuti kedua anak muda itu, jauh. ketinggalan dibelakang. Beberapa kali mereka mesti tukar kuda baru, sampai beristirahat makanpun mereka tak berani, supaya yangan sampai ketinggalan. Tapi ternyata tetap kehilangan jejak kedua anak muda. itu. Maka ketika berpapasan dengan dua orang muda itu, girang mereka tak terkatakan lagi.
Tan Keh Lok tak menghiraukan kawanan Siwi itu dan terus menCongklangkan kudanya. Tiba-tiba dari arah depan tampak serombongan penunggang kuda. Pek Cin Cepat-cepat memberi perintah agar Kawan-kawan nya mempersiapkan senjatanya masing-.
“CongthoCu, kita sekalian sama datang,” seru seorang' yang ternyata adalah Jun Hwa. Dibelakangnya tampak Liok Hwi Ching, Bu Tim, Tio Pan San, Bun Thay Lay, kedua saudara Siang dan lain-lain pemimpin HONG HWA HWE
Melihat itu, terkejutlah Pek Cin............................
Kini kita tengok akan keadaan baginda Kian Liong. Sepeninggal Tan Keh Lok membawa Hiang Hiang, hati kaisar itu gelisah sekali. Hidangan yang bagaimana lezatpun, sedikit tak dnyamahnya. Hari itu dia tak adakan sidang menteri. Seharian dia tidur-bangun tak keruan. Beberapa rombongan Siwi dititahkan untuk menCari kabar. Tapi sampai petang hari, belum seorang siwipun yang pulang melapor.
Demikianlah baginda berada dipagoda Po Gwat Lauw, duduk salah berdiri pun salah. Ketika mengawasi lukisan ko-leksinya dari ahala Han, tiba-tiba terbitlah suatu pikiran:
“Anak perempuan itu sayang pada Keh Lok, tentunya iapun menyukai akan pakaian orang Han. Kalau nanti keduanya sudah balik, tentulah Keh Lok sudah dapat menundukkan hatinya. Kalau kumengenakan pakaian orang Han, tentunya ia akan menyukainya.”
Thaikam diperintahkan untuk menyediakan seprangkat pakaian orang Han. Tapi ternyata hal itu tak terdapat didalam istana. Seorang thaikam kecil mendapat akal, dia menCarinya ketempat sandiwara wayang. Baginda girang sekali dan berkenan terus memakainya. BerkaCa diCermin, beliau dapatkan dirinya lebih tampan.
Tiba-tiba terdengar derap kaki orang mendatangi dengan pelan-pelan .
“Hongthayhouw (ibusuri) berkunjung kemari!” bisik sithaikam kecil.
Kian Liong melengak, ketika mengawasi kearah Cermin. Benar, disitu tampak thayhouw berdiri dengan wajah bengis, mengunjuk kemarahan. Buru-buru Kian Liong membalik diri untuk menyambutnya: “Apakah thayhouw belum beristirahat?”
Thayhouw mengisyaratkan supaya sekalian thaikam meninggalkan tempat itu. Beberapa saat kemudian, kedengaran Thayhouw berkata dengan suara parau: “Hamba istana sama melapor hari ini bahwa kau tak enak badan, tidak mengadakan rapat dan persidangan, tak suka dahar. Karena itu, kudatang menjengukmu!”
“Anakda kini sudah enakan. Hanya sedikit tak bernapsu makan, tapi tak apa-apa, jadi tak berani membikin kaget thayhouw.”
Thayhouw tak menyahut untuk beberapa saat. Lalu katanya: “Apakah karena terlalu kenyang makan hidangan Hwe atau hidangan Han?”
Kian Liong terkesiap, sahutnya: “Kemaren mendapat hidangan sate kambing.”
“Itu kan masakan orang Boan-Ciu, hm, rupanya kau sudah bosan menjadi orang Boan”.

Alas uCapan thayhouw yang sekeras baja itu, Kian Liong tak berani segera menyahut.
“Budak perempuan Hwe itu sekarang kemana?” tanya thayhouw pula.
“Ia kurang baik perangainya, anakda titahkan orang membawanya keluar supaya diajar adat”.
“Ia selalu membawa pedang, berkeras tak mau menuruti kau, apa gunanya kau suruh orang menundukkan hatinya? Dan siapa yang kau suruh ittu?”
Didesak begitu, terpaksa Kian Liong menjawab: “Seorang kepala Siwi yang sudah tua, orang, she Pek”.
Thayhouw memandang kemuka, katanya dengan mendalam: “Kini kau sudah berusia 40 th. lebih, tentu tak perlu akan ibu lagi?”
Kian Liong terkejut bukan main, buru-buru menyanggapinya: “Mengapa thayhouw menguCap begitu, kalau anakda tidak berbakti, mohon thayhouw memberi hukuman”.
“Kau adalah kaisar, orang yang dipertuan diseluruh negeri, mau berbuat apa tentu bisa, mau membohong pun lebih dari bisa.”
Tahu Kian Liong' bahwa thayhouw mempunyai banyak sekali kaki-tangan, jadi tak dapatlah dia untuk mengelabuinya. Maka katanya dengan pelan: “Yang- mengajar perempuan itu, ada lagi yang anakda titahkan, yaitu seorang terpelajar yang anakda jumpakan di Kangiam. Dia berpengetahuan luas...........................”
“Bukankah orang she Tan dari Hayleng?” tanya thayhouw dengan keren.
Kini Kian Liong tak berani berkutik lagi.
“Ah, makanya kau kini mengenakan pakaian orang Han!' Mengapa kau tak bunuh aku sekali?” desak thayhouw.
Kian Liong mengelah napas, terus mendumprah dan berlutut, katanya: “Kalau anakda mempunyai hati yang tak berbakti, biarlah langit dan bumi menumpasnya!”
Thayhouw kibaskan lengan bayunya, lalu turun keloteng bawah. Kian Liong serta merta mengikutinya. Meskipun ibu suri itu sudah berusia lanjut, tapi gerakannya masih gesit. Ia menuju ke paseban Bu Ing Tian.
Selagi Kian Liong mengikuti, dilihatnya ditepi lorong itu berdiri dua orang Siwi yang diutusnya untuk menCari kabar perihal Hiang Hiang. Mereka akan melapor. Betapa inginnya Kian Liong untuk mendengar laporannya, tapi dalam keadaan seperti waktu itu, dia tak berani dan terus mengikuti thayhouw.
“Harap thayhouw yangan marah, bilamana anakda bersalah mohon diberi pengampunan,” kata Kian Liong.
Thayhouw duduk disebelah kursi. Setelah napasnya kembali tenang, berkatalah beliau: “Untuk apa kau undang orang she Tan itu kemari? Dan kau berbuat apa saja di Hayleng?”
Kian Liong tundukkan kepala tak menyaut.
“Kau memperingati jasa menteri besar dari marhum ayahandamu, aku tak menjalankan,” kata thayhouw. Tiba-tiba suaranya berobah keren ber-sungguh-sungguh, lalu berseru: “Apakah betul-betul kau bermaksud membangun kerajaan Han lagi?” Kau akan membasmi kita bangsa Boan bukan?”
“Harap thayhouw yangan memperCajai kabardua yang tidakdua. Sekali-kali anakda tak ada hati demikian.”
“Orang she Tan itu dari gereja Siao Lim Si di Hokkian, membawa apa saja untukmu?”
Kembali Kian Liong melengak. Diam-diam dia heran, mengapa thayhouw yang hanya dikelilingi oleh para kiong-li (dayang istana), bisa mendapat laporan yang sedemikian Cepatnya.
“Orang she Tan itu hendak menghaturkan renCana berontak, anakda telah memusnakan kesemua renCana itu,” Kian Liong terpaksa menerangkan.
“Kalau begitu, hukuman apa yang hendak kau berikan padanya?”
“Dia mempunyai komplotan yang Anggotaduanya terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi yang berani mati. Mengapa anakda masih belum bertindak, itulah karena akan menunggu kesempatan baik akan membasmi mereka semua, untuk menjaga yangan sampai ada yang lolos hingga menimbulkan bahaya dikemudian hari.”
Mendengar itu wajah thayhouw agak berobah tenang. “Apakah uCapanmu itu dapat diperCaja?” desaknya pula.
Bermula sejak pertemuannya dengan Tan Keh Lok dipagoda Liok Hap Ta, hati Kian Liong memang agak terpengaruh. Tapi ketika kini diketahuinya rahasia renCana itu sudah terbongkar', dia anggap hal itu besar sekali resikonya. Yangan-yangan “bermaksud menggambar harimau, tapi berbalik merupakan gambar anjing” atau karena mendongak keatas hendak menCapai rembulan, tak tahu kaki terperosok kedalam lubang.
SeCepat itu tergoreslah suatu keputusan dalam hati Kian Liong: HONG HWA HWE harus dibasmi!
“Dalam tiga hari, anakda pasti akan titahkan tabas kepala orang she Tan itu!” katanya kemudian.
Roman yang bengis dari thayhouw, segera mengunjuk kegembiraan, serunya: “Bagus, itu baru dinamakan berbakti pada leluhur!”
Memang Thayhouw itu sangat prihatin bahwa baginda bukan anak' kandungnya sendiri. Asal rahasia itu bocor, kerajaan tentu gonCang. Syukurlah, berpuluh tahun, hal itu tetap tersimpan rapat-rapat. Kematian yang mendadak dari mak inang Liauw-si yang memberi air susu pada baginda, menimbulkan keCurigaan thayhouw. Ia Coba menyelidiki, namun tak mendapat keterangan apa-apa. Dipanggilnya rombongan hiat-thi-Cu, untuk melakukan penyelidikan kerumah keluarg Tan di Hayleng.
Soal lenyapnya baginda di HangCiu (ditawan dipagoda Liok Hap Ta), pertemuan dengan Tan Keh Lok, kunjungan kemakam keluarga Tan, kesemuanya dilaporkan kepada thayhouw oleh kawanan hiat-thi-Cu itu. Thayhouw menjadi gelisah, karena dianggapnya baginda kini sudah mengetahui asal usul dirinya. Jalan satuduanya, ialah mengadakan pen-jagaan seCara diam-diam. Pikirnya: “Dia bersembahyang kemakam orang tuanya, pun hanya suatu kebaktian, asal dia tak berbuat apa-apa, akupun takkan mau bertindak.”
Maka pada hari itu sewaktu baginda menerima kunjungan Tan Keh Lok, dan kemudian menitahkannya membawa gadis Ui itu keluar istana, tahulah Thayhouw bahwa baginda tentu akan membuat renCana gelap. Begitulah malam itu lebih dulu ia mengatur penjagaan kuat, baru mengunjunginya sendiri. Ketika didapati baginda tengah mengenakan pakaian orang Han, bukan main gusarnya Thayhouw. Ia telah mengambil keputusan penting yang “drastis” dan maha dahsyat: turun tangan lebih dulu untuk melenyapkan baginda!
“Dari beberapa tempat anakda telah mendapat banyak sekali orang berilmu, kiranya Cukup kuatlah untuk menghadapi kawanan pemberontak itu. Juga anakda bermaksud untuk pinjam beberapa tenaga Si-wi dari Thayhouw,” demikian kata Kian Liong lebih lanjut.
“Hm, terhadap orang-orangku, biasanya kau tak menyukai. Kini hendak kau adu dengan orang-orang HONG HWA HWE supaya Dua-duanya musna. Siasat 'pinjam pisau membunuh orang' itu, masa aku tidak tahu?” pikir Thayhouw. Lalu jawabnya: “Baik, nanti kalau sudah sampai saatnya, kau boleh menggunakannya.”
Oleh karena baginda kepingin mendengar laporan tentang keadaan Hiang Hiang, beliau lalu menyilahkan agar Thayhouw beristirahat.
“Hm, baik, kau ikutlah kemari,” sahut Thayhouw, lalu menuju keruangan tengah dari paseban Bu Ing Tian.
Thayhouw lantas mengetok pintunya dua kali. Pintu pa-;ban itu segera terbuka. Kian Liong terkejut demi nampak didalam ruangan itu terang benderang dengan penerangan lilin. Para thaikam berjajardua dalam dua barisan, sedang delapan orang menteri-besar tengah berlutut menyambutnya. Thayhouw dan Kian Liong segera mengambil tempat duduk pada kursi ditengahdua ruangan.
Demi mengawasi keadaan disitu, hati Kian Liong berCekat. Ke-delapan menteri-besar itu, kesemuanya adalah pangerandua keluarga kerajaan. Yang berada dimuka sendiri adalah saudara baginda, pangeran Hong Ciu, putera kelima dari Yong Ceng. Kemudian The-jinong, Kiong-jinong, Lu-jinong, Ju-jinong, serta Pak Ung pweklek dan Tiau Hwi Tay-Ciangkun.
Kian Liong gelisah, hatinya menebakdua apakah gerangan maksud Thayhouw itu.
Thayhouw berdehem satu kali, lalu berkata: “Sewaktu Sian-te (kaisar almarhum) mangkat, beliau pesan agar pasukan Pat-ki-ping dipecah jadi delapan dan dipimpin oleh kedelapan puteranya. Tapi karena beberapa tahun ini tentara itu diperlukan untuk mengamankan daerah perbatasan, maka pesan Sian-te tersebut belum terlaksana. Kini berkat rejeki dari para leluhur dan berkat kebnyaksanaan dari baginda yang sekarang, daerah perbatasan (Hwe) sudah dapat diamankan. Maka mulai saat ini, Pat-ki-ping tersebut kuserahkan padamu berdelapan. Harap kalian pergunakan sebagaimana mestinya untuk membalas budi baginda.”
“Hm, kiranya ia masih tak memperCajaiku, kekuasaanku atas ketentaraan di-pecahdua,” pikir Kian Liong.
“Nah, kini silakan baginda yang membagikannya,” seru Thayhouw.
“Ah, kini aku betul-betul kalah angin. Tapi karena akupun sudah tak berniat untuk melaksanakan gerakan itu, kiranya pemeCahan kekuasaan militer inipun tak menjadi soal,” kembali Kian Liong menimbangdua.
Maka segera induk pasukan Pat-ki-ping dipecah dan ditimbang terimakan kepada kedelapan saudaranya itu.
Thayhouw minta supaya penyerahan itu diberikutkan juga dengan surat penyerahan yang resmi. Atas isyaratnya, Ti Hian thaikam lalu maju berlutut dengan membawa sebuah nenampan emas. Diatasi nenampan itu terdapat sebuah kotak besi. Thayhouw membuka kotak tersebut, mengambil segulung kertas yang diberikan kepada baginda. Tampak oleh baginda pada bagian luar dari gulungan kertas itu terdapat dua huruf Boan dan dua huruf Han yang berbunyi “testamen.”
Disebelah huruf-huruf itu, terdapat pula selarik tulisan berbunyi: “Bila negara ada perubahan besar, kedelapan pangeran Pat-ki-jin-ong supaya bersama-sama membukanya.” Tanpa terasa tangan Kian Liong gemetar. Insyaplah beliau, bahwa mendiang baginda Yong Ceng jauh-jauh hari telah membuat persiapan rapi: Apabila rahasianya (Kian Liong) sampai bocor dan baginda itu sampai memberontak, menurut testamen, kedelapan pangeran itu harus melenyapkan baginda dan mengangkat kaisar baru.
Tapi baginda Kian Liong ternyata seorang yang bisa Cepat menyesuaikan diri dengan keadaan, sembari angsurkan testamen itu kepada thayhouw, beliau bersehjum, katanya: “Ayah baginda berpemandangan jauh, dapat mengetahui hal yang bakal terjadi ratusan tahun kemudian”.
“Taruhkan testamen Sian-te ini dipaseban Sui Seng Tian diistana Yong Ho Kiong. Suruh 100 pengawal Istimewa untuk menjaganya. Sekalipun baginda yang memerintahkan, tak boleh mereka tinnggalkan tempat itu!” seru thayhouw kepeda Ho-jin-ong, siapa segera melakukan perintah itu.
Istana Yong Ho Kiong terletak didalam pintu An-ting-mui disebeiah utara barat kota Pak-khia. Dahulu menjadi tempat kediaman Yong Ceng sewaktu belum menjadi Hongte dan masih menjadi Su-pwelek. Untuk mengenangkan marhum ayahandanya itu, Kian Liong menitahkan membangun sebuah kuil Lama disitu.
Maksud thayhouw mengunjukkan testamen itu kepada Kian Liong jalah agar Kian Liong mau perhatikan bahwa kalau dia berani berbuat sesuatu yang membahayakan kedudukan pemerintah Boan, thayhouw itu sudah mempunyai renCana tetap untuk membasminya. Lain dari itu, dengan ditaruhnya testamen tersebut. digedung lama kediaman Yong Tiong dahulu, alasannya adalah yangan sampai melupakan pada mendiang kaisar itu. Tapi hal yang sebenarnya, thayhouw menaruh kekuatiran kalaudua Kian Liong nanti diam? mengambil dan memusnakannya.
Kini legalah hati thayhouw. Kedengaran ia menguap dan mengelah napas: “Usaha yang beribu tahun dasarnya itu, harap kau menjaganya dengan baik-baik .”
Sehabis meninggalkan pesan itu, ia segera berbangkit dan terus masuk kedalam istana Cinkiong. Setelah mengantar thayhouw, buru-buru Kian Liong mendapatkan Pek Cin untuk meminta keterangan.
“Tan-kongCu sudah membawa nio-nio balik keistana. Kini nio-nio berada di Po Gwat Lauw,” kata Pek Cin.
Bergegas-gegas Kian Liong meninggalkan paseban itu. Sampai dimuka pintu, baginda bertanya pula: “Ditengah jalan kau mengalami kejadian apa?”
“Hamba berjumpa dengan rombongan orang HONG HWA HWE Syukur Tan-kongCu menCegahnya hingga tak sampai kejadian apa-apa.”
Kian Liong mengangguk dan suruh Pek Cin mengikutnya. Sampai di Po Gwat Lauw, benar juga Hiang Hiang KiongCu sudah berada disitu.
“Bagaimana, bagus apa tidak Tembok Panyang itu?” tegurnya dengan girang.
Hiang Hiang tak mau menyahut.
“Sebentar setelah kusiapkan urusandua penting, nanti akan kutanyai kau lagi,” seru baginda seraya ajak Pek Cin kelahi ruangan. Disitu beliau titahkan Pek Cin siapkan barisan Siwi yang paling boleh diperCaja, untuk menjaga diluar pagoda dan dipunCaknya. Tak seorang thaikam yang diperbolehkan masuk keluar. Setelah itu, baginda panggil pemimpin barisan Gi-lim-kun, Hok Gong An.
Kesemuanya itu telah dikerjakan Pek Cin dengan Cepat. Hok Gong An bergegas-gegas menghadap. Baginda titahkan dia membawa anak buahnya untuk mempersiapkan bayhok diluar dan didalam istana Yong Ho Kiong. Kemudian titahkan Pek Cin persiapkan bayhok pada setiap ruangan dari istana Yong Ho Kiong tersebut.
“Besok akan kuadakan perjamuan diistana itu. Undanglah Tan-kongCu dan semua pentolan HONG HWA HWE kesana,” kata Kian Liong.
Kini tahulah Pek Cin apa maksud baginda itu. Ini berarti suatu pembunuhan besarduaan. Diapun menurut saja dan segera akan berlalu. Tapi tiba-tiba baginda menCegahnya, dan menitah: “Undang kemari Lama Besar Fuinke dari Yong Ho Kiong!”
Tak berapa lama Lama Besar itu menghadap. “Sudah berapa tahun kau berada di Pakkhia sini?” tanya baginda.
“Hamba mengabdi baginda sudah duatiga tahun,” jawab paderi itu.
“Ha, kau ada ingatan balik ke Tibet apa tidak?”
Lama Besar itu hanya menjura tanpa menyahut.
“Di Se-Ciong (Tibet) kini ada Dalai Lama dan Panhen Lama yang dianggap rahajatnya sebagai penjelmaan Buddha. Tapi mengapa tiada Buddha hidup yang ketiga?”
“Itu peraturan yang berlangsung dari dahulu, sejak......”
“Kalau kuangkat kau menjadi Buddha hidup ketiga, mempunyai daerah kekuasaan sendiri, apa kau suka mentaatinya?” sela Kian Liong mendadak.
Mendapat kebahagiaan yang tak pernah diimpikan itu, Fuinke girang setengah mati, berulang-ulang dia menjura, serunya: “Budi yang baginda limpahkan itu, sampai mati hamba takkan lupakan.”
“Sekarang akan kuminta kau mengerjakan suatu hal. Sepulangnya dari sini, kumpulkan semua Lama yang boleh diperCaja. Siapkan belirang, minyak dan kayu bakar. Begitu kau terima berita dari dia,” kata Kian Liong sambil menunjuk Pek Cin, “kau harus lekas be-ramaidua melepas api dari paseban besar Yong Ho Kiong hingga sampai paseban Sui Seng Tian.”
Kini Fuinke berbalik kaget tak terkira. Buru-buru dia menjura: “Itu adalah bekas kediaman baginda Yong Ceng almarhum. Disitu terdapat banyak sekali barang-barang peninggalan yang berharga. Hamba tak berani ..............................”
“Kau berani membangkang titah raja?!” seru Kian Liong dengan bengis.
Semangat Fuinke serasa terbang, peluh dingin membasahi tubuhnya. Katanya: “Hamba akan melakukan titah baginda.”
“Kalau perkara ini sedikit saja sampai bocor, delapan00 Lama dari istana Yong Ho Kiong akan kubasmi habis,” anCana baginda. Tapi lewat beberapa jurus kemudian, katanya pula dengan ramahnya: “Dipaseban Sui Seng Tian dnyaga oleh anak buah Ki-ping, ber-hati-hatilah hendaknya. Yangan hiraukan mereka, biar merekapun turut terbakar sekali. Kalau pekerjaan itu sudah selesai, kaulah yang jadi Buddha hidup ketiga! Nah, kau boleh pulang.”
Kaget terCampur girang Fuinke, lalu mohon diri.
Dengan renCananya yang hebat itu, lapanglah dada baginda. Sekali tepuk dua ekor lalat. Orang-orang HONG HWA HWE dan pengawaldua thayhouw sekali gebrak, samadua musna. Dan barulah beliau dapat, ber-senangdua sepuasnya menikmati kekaisarannya.
Saking girangnya dia segera menyembat sebuah khim. Lagu yang dimainkan itu berirama lagu peperangan, penuh hawa pembunuhan. Baru beroleh separoh, putuslah snaar yang ke7. Kian Liong kaget, tapi dilain saat dia tertawa keras dan masuk kedalam ruangan Hiang Hiang.
“Tan-kongCu ajak pesiar kau ke Tembok Panyang, bukanlah diam-diam memberi bisikan padamu supaya bunuh aku?” tanya Kian Liong seraya duduk berjauhan dari nona itu.
“Dia anjurkan aku supaya menurut padamu.” “Dan kau turut anjurannya, bukan?” “Aku mendengar setiap katanya.”
Kian Liong girang berCampur dengki. “Habis mengapa kau masih membekal pedang? Mari berikan benda itu padaku!” katanya lagi.
“Tidak, nanti setelah kau benar-benar menjadi kaisar yang baik.”
“Ha, kiranya mereka pakai siasat begitu untuk menekan aku,” pikir Kian Liong. Seketika pikirannya penuh sesak dengan kemarahan, kedengkian, gemas dan bernapsu. Katanya kemudian: “Bukankah aku sekarang ini seorang raja yang baik?”
“Hm, dari suara khim tadi, kutahu ada pembunuhan besaran. Tak seharusnya kau menambah kejahatanmu,” sahut Hiang Hiang.
Kian Liong amat terkejut. Tanpa disadari, tadi beliau tumpahkan isi hatinya dalam irama khim. Seketika terkilaslah sesuatu dalam pikirannya, katanya: “Benar, aku akan membunuh orang. Tan-kongCu itu tadi telah kusuruh tangkap. Kalau kau menurut aku, nanti kulepaskan dia. Tapi kalau kau tetap membangkang, hm, kaupun sudah tahu bahwa kuhendak lakukan pembunuhan besarduaan.”
“Jadi kau mau bunuh adikmu sendiri?” tanya Hiang Hiang dengan terkejut.
“Ha, jadi dia telah tuturkan segala apa padamu?” balas bertanya Kian Liong dengan roman bengis.
“Aku tak perCaja kau mampu menangkap dia. Dia jauh lebih pandai dari kau,” seru Hiang Hiang.
“Pandai? Hm, taruh kata tidak hari ini, besok pagi tentu dapat, lihat saja,” kata Kian Liong.
Hiang Hiang tak menyahut.
“Sebaiknya kau kikis saja pikiranmu itu. Aku seorang kaisar baik atau busuk, kau tetap takkan berjumpa lagi dengan dia untuk se-lama-lamanya,” kata Kian Liong lagi.
“Kau kan sudah berjanji padanya akan menjadi seorang kaisar yang budiman, mengapa kini berbalik pikiran?” tanya Hiang Hiang.
“Aku akan berbuat bagaimana, itulah menurut sesuka hatiku. Siapa berani melarang?”
Tadi kaisar itu mengalami tekanan jiwa yang hebat dari thayhouw. Untuk menumpahkan kemengkalan hatinya, kini dia tumpahkan pada sinona. Dan memang akibatnya, Hiang Hiang rasakan dadanya seperti dihantam martil.
“Oh, kiranya raja ini hanya menipu saja. Kalau siangdua tahu begitu, perlu apa aku kembali kemari,” pikir Hiang Hiang. Saking tak kuasa menahan marahnya hampir-hampir ia pingsan.
“Kau menurutlah saja padaku. Tak nanti kumenyusahkan dia. Malah akan kuberinya kedudukan tinggi, agar dia menikmati kesenangan hidup,” bujuk Kian Long pula.
Seumur hidup belum pernah Hang Hiang ditipu orang. Pada perasaannya, raja itu hanya seorang yang jahat karena bertabiat kejam. Tapi kini ia tahu pula, raja kejam itu ternyata juga liCik.
“Begitu jahatlah raja ini, tentu diapun dapat berusaha untuk menganiayanya. Meskipun dia jauh lebih lihai dari raja ini, namun dia tentu tak sedikitpun Curiga kalau tega menganiayanya. Aku harus berusaha supaya dia tak terjebak dalam perangkap raja. Tapi bagaimana bisa kukatakan padanya?” pikir Hiang Hiang.
Dalam sikapnya sedang masjgul itu, Hiang Hiang tampak lebih aju, sehingga baginda untuk beberapa saat berdiri terlongong-longong mengawasinya.
“Seluruh istana ini semua adalah kaki-tangan baginda. Siapa dapat kusuruh menyampaikan surat padanya? Dalam keadaan mendesak seperti ini, aku harus bertindak tegas”, pikir Hiang Hiang, siapa lalu berkata: “Maukah kau berjanji takkan menganiayanya?”
“Ya, aku takkan menCelakakannya,” seru baginda dengan girang.
Melihat Caranya menyanggupi itu hanya seCara serampang-an saja, tahulah Hiang Hiang, bahwa baginda takkan sungguh-sungguh menetapi janjinya itu. Kebenciannya makin mendalam. Kini ia mendapat suatu ketetapan, katanya: “Besok pagidua aku hendak berkunjung kemesjid. Disana dengan semua kaumku, aku akan bersembahyang dan setelah itu baru aku akan menurut padamu”.
“Bagus, setelah besok pagi, yangan kau ingkar lagi!” seru Kian Liong dengan girang, lalu turun kebawah.
Hiang Hiang segera menulis sepucuk surat, maksudnya untuk memperingatkan Tan Keh Lok, bahwa kaisar itu akan menganiayanya, bahwa renCananya untuk membangun kerajaan Han itu hanya suatu impian kosong saja, maka dia minta agar anak muda itu lekas Cari daya untuk menolongnya keluar dari istana neraka itu.
Surat itu dibungkusnya dengan seCarik kertas dan ditulisi dengan huruf Uigor, maksudnya surat itu dialamatkan pada ketua HONG HWA HWE Tan Keh Lok.
Pikir Hiang Hiang, semua orang Ui bangsanya itu sangat mengindahkan sekali pada ayah, Cici dan dirinya. Begitu ada kesempatan, surat itu akan diberikan pada salah seorang Ui dan ia perCaja tentu orang itu pasti suka mengerjakannya. Setelah itu, ia merasa, bahwa batu yang mendidih dihatinya selama ini seperti terangkat, dan dengan hati lega pulaslah ia.
Ketika ia membuka mata, ternyata hari sudah hampir terang tanah. Buru-buru ia bangun dan berhias. Semua dayang yang melihat perubahan sikap dari puteri Ui itu, sama bergirang. Setelah surat itu disembunyikan dalam lengan bayunya, Hiang Hiang lalu berjalan keluar. Diluar pagoda, sebuah tandu dengan empat orang thaikam sudah siap untuk membawanya ke mesjid.
Memandang kepunCak menara mesjid itu, hati Hiang Hiang agak terhibur. Didalam mesjid, tampak dua baris pengawal berdiri di kanan-kiri.
Bermula ia girang demi dilihatnya diantara pengawal itu terdapat dua orang Ui. Buru-buru hendak diangsurkannya surat itu kepada orang tersebut. Tapi demi matanya terbentrok dengan sinar mata orang itu, Hiang Hiang bersangsi dan batal menyerahkan surat itu.
Kiranya walaupun orang mengenakan pakaian orang Ui, tapi wajah, dan sorot matanya tak mirip dengan suku Ui. Kembali Hiang Hiang memandang kesebelah kiri pada seorang Ui lainnya. Orang itu mirip sekali dengan orang Ui, tapi sikapnyapun agak aneh.
“Apakah kamu disuruh kaisar untuk menjaga aku?” tanya Hiang Hiang sengaja dilam bahasa Ui.
Benar juga, kedua orang Ui itu tak menaati, hanya angguk kepala saja. Kini putuslah sudah harapan Hiang Hiang. Ketika dia melangkah kedalam, ada delapan orang Ui yang mengikutinya. Orang-orang Ui itu sebenarnya adalah Si-wi istana yang berpakaian seperti orang Uigor. Karena orang Ui yang sesungguhnya, tak boleh dekatdua dengan puteri Ui tersebut.
Kini imam mulai memimpin upaCara sembahyangan. Dengan berlutut, air mata Hiang Hiang membanjir turun, hatinya remuk rendam. Dalam hatinya, hanya sebuah tekad: “bagaimana mendapat jalan untuk memberitahukan kepadanya? Sekalipun aku harus binasa, aku harus dapat menyampaikan berita ini padanya!”
“Ya, sekalipun aku harus binasa,” pikiran itu tiba-tiba terkilas dalam hatinya. Dan seCepat itu pula ia telah mengambil keputusan yang bulat: “Kalau aku binasa disini, berita itu tentu akan dapat diterimanya. Ja, hanya itulah satuduanya jalan!”
Tapi tiba-tiba ia teringat akan ajat keempat dari kitab Quran: “Kamu yangan bunuh diri. Allah tetap akan melindungimu. Barang siapa yang melanggar pantangan ini, akan kulempar kedalam api.
Demikian sabda Nabi Mohammad itu terus berkumandang ditelinganya: “Barang siapa membunuh diri, se-lama-lamanya akan dijebloskan dalam api neraka!”
Bukannya ia takut mati, karena ia perCaja bila nanti meninggal, tentu akan naik kesorga, kelak akan dapat berkumpul dengan kekasihnya. Kata ajat Quran: “Mereka akan mendapat pasangannya disorga dan berkumpul se-lama-lamanya.”
Tapi tidakkah ia akan menyalahi ajaran itu, apabila ia sampai bunuh diri?
Teringat hal itu, hatinya kunCup. Berbareng pada saat itu terdengar suara orang banyak sekali tengah menyanyikan lagu puji kebahagiaan ditaman sorga. Bagi seorang ummat yang patuh akan agamanya, tiada hal yang lebih menakutkan dari hukumandua yang mengerikan dineraka. Namun keCuali dengan cljalan nekad itu, rasanya ia sudah tak mempunyai lain daya lagi. Begitulah setelah terjadi pertentangan dalam batinnya yang hebat, akhirnya Cintalah yang menang.
“Allah yang Maha SuCi, bukan hamba tak perCaja akan keadilanMu. Tapi selain mengorbankan jiwa ragaku, aku tak dapat menCari daya lain untuk memberitahukan padanya.”
Sehabis berdoa begitu, badi-badi diCabutnya keluar, lalu menggurat batu merah, dari lantai disitu dengan kata-kata: “Yangan perCaja raja itu.”-Habis itu, ia berteriak pelan-pelan : “O, Toako!”
Kemudian ujung badi-badi yang tajam itu, ditusukkan kedadanya, dada yang paling suCi dan Cantik dikolong langit.
Rombongan orang-orang Ui tengah bersembahyang, sedang beberapa Siwi pengangkut tandu itupun ikut serta berlutut. Tiba-tiba Siwi yang berada disebelah kanan Hiang Hiang tadi, melihat ada darah segar mengalir dilantai. Dengan terkejut diawasinya arah alir darah itu yang ternyata berasal dari bawah tubuh Hiang Hiang. Pakaiaan sinona yang serba putih itu sudah berlumuran warna merah. Saking kagetnya, Siwi itu berteriak, lalu lompat untuk menarik lengan Hiang Hiang, yang ternyata kepalanya sudah terkulai dan matanya tertutup. Sedang didadanya tertanCap sebuah badi-badi.
Kini kita tengok keadaan rombongan HONG HWA HWE yang tengah berunding diruangan tengah. Mereka tengah mendengarkan laporan dari Cio Su Kin yang baru kembali dari Kwitang dan menCeritakan tentang keadaan orang-orang gagah didaerah itu. Tiba-tiba orang melapor bahwa Pek Cin minta bertemu. Buru-buru Tan Keh Lok menyambutnya sendiri.
Pek Cin segera menyampaikan firman baginda yang maksudnya mengundang semua pemimpin HONG HWA HWE untuk hadir dalam pesta di Yong Ho Kiong. Pesta itu sengaja diadakan oleh baginda diistana tersebut., karena baginda kuatir nanti thay-houw dan bangsawandua Boan menaruh keCurigaan.
Mendengar itu hati Keh Lok tak keruan rasanya. Girang karena Hiang Hiang berhasil mempengaruhi baginda. Tapi hatinya mendelu dan terharu mengingat gadis yang dikasihinya itu telah mengorbankan diri menurut kehendak baginda.
Setelah Pek Cin pergi, orang-orang HONG HWA HWE berapat. Semua orang sama bergirang mendengar baginda betul-betul mau melaksanakan gerakan besar itu. Sampaipun Bu Tim, Liok Hwi Ching, Tio Pan San dan Bun Thay Lay, orang-orang yang pernah mengalami kekejaman pemerintah Ceng dan paling tidak perCaja pada kaisar Boan itu, kini mau-tak-mau turut bergembira juga. Mereka anggap, kesemua itu dapat berjalan lanCar disebabkan baginda itu telah menginsyapi asal usul dirinya dan kedua kalinya, adalah kakak kandung dari CongthoCu mereka.
Karena kuatir tak dapat mengatasi perasaannya kalau berada seorang diri, maka Tan Keh Lok ajak semua saudaranya untuk pasang omong dengan bebas dan biCara tentang ilmu silat, berkatalah Bu Tim:
“Kali ini didaerah Hwe dan gereja Siao Lim Si, CongthoCu telah dapat mempelajari beberapa macam ilmu silat yang lihai, maukah CongthoCu mempertunjukkannya barang beberapa jurus?”
“Baiklah” sahut Keh Lok. “Memang sedianya kuhendak minta Liok-loCianpwe dan sekalian saudara mengujinya, karena kukuatir ada beberapa bagian yang masih belum dapat kupahami.”
Oleh karena ilmu silat “Hang-liong-Cap-pwe-Ciang” adalah ilmu pusaka Cabang Siao Lim yang menurut pesanan Thian Keng Siansu tak boleh diturunkan pada lain orang, maka Tan Keh Lok bermaksud hendak menunjukkan ilmu silat dari tengkorak digunung Sin-nia itu saja.
“Sipsute, tolong kau tiup serulingmu,” pinta Keh Lok.
Hi Tong mengiakan. Wan Ci buru-buru lari kedalam kamarnya untuk mengambilkan benda itu.
“Bagus, kini kepunyaan lain orang pun mau menyimpannya.” Lou Ping menggoda.
Selebar muka Wan Ci berobah merah.
Kiranya waktu lengan Wan Ci dipatahkan Ciauw Cong itu, sepanyang perjalanan Hi Tong merawatnya dengan telaten sekali. Karena kasihan, timbullah rasa sayang. Dan rasa sayang itu, betul-betul merupakan benih Cinta yang setulusnya. Hi Tong adalah seorang pemuda yang jujur. Setelah rasa Cinta itu sungguh-sungguh keluar dari hatinya, diapun tak maludua lagi untuk mengutarakannya.
Bagi Wan Ci, itu merupakan obat mujarab pelipur lara. Karena kini Cintanya itu telah terbalas. Begitulah apabila mereka berduaan, tentu lantas kesak-kusuk menumpahkan rasa hati masing-masing. Ada kalanya mereka terkenang akan pertemuan mereka pertama kali dihotel, dimana Hi Tong dengan gunakan serulingnya telah dapat menotok tubuh kawanan Siwi.
“Koko, mengapa suhu tak mau mengajarkan ilmu tiam-hiat padaku?” demikian pernah Wan Ci bertanya.
“Ha, meski Liok-susiok sudah berusia tua, tapi ia tentu merasa segan untuk menutuk badanmu, dan sebaliknya pun sungkan kalau kau menjamah tubuhnya. Padahal tiam-hiat harus betul-betul dikenakan pada bagian tubuh. Tak apalah, kelak kalau kita sudah menjadi suami isteri, nanti kuajarkan padamu.”
“Ah, tadi aku menduga salah pada Suhu,” ujar sigadis.
“Ya, tapi kalau kuajarkan ilmu itu padamu, kau harus berlutut menjalankan penghormatan mengangkat Suhu padaku”, Hi Tong menggoda.
“Fui, Hiapa sudi?!” omel Wan Ci.
Begitulah sejak itu, Hi Tong mulai mengajarkan dasar ilmu tiam hiat pada Calon isterinya. Karena pelajaran itu memakai seruling, maka seruling Hi Tong dipinjam oleh Wan Ci.
Sementara itu, Tan Keh Lok sudah lantas bersilat menurut irama aeruling.
“CongthoCu, dengan ilmu silat itu kau berhasil merobohkan Ciauw Cong. Bagaimana kalau sekarang kutemani kau ber-main-main dengan pedang?” kata Bu Tim lalu melolos pedang dan lonCat ketengah.
“Baiklah, Totiang!” ujar Keh Lok seraya menyerang bahu imam itu.
Bu Tim membabat turun mengarah pinggang lawannya, namun Keh Lok miringkan tubuh menghindar sembari memutar kebelakang dan menyerang punggung orang. Tanpa berpaling, Bu Tim sabetkan pedangnya kebelakang. Walaupun demikian, sabetan itu tepat kenanya. Itulah gerak “memandang gunung mengenang yang lalu,” salah suatu jurus yang luar biasa dari ilmu pedang “tui-hun-toh-bing,” Ciptaan imam itu sendiri.
Gerakan Bi Tim itu mendapat sorok pujian dari orang-orang yang menonton. Meskipun pertandingan itu hanya bersifat “Cobadua,” tapi tak urung berjalan dengan seru dan tegang.
Selagi pertandingan berjalan seru, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara nyanyian sedih. Bermula orang-orang HONG HWA HWE itu sama tak menghiraukan, namun nyanyian itu makin lama makin dekat kedengaran, hingga merawan hati orang.
Karena agak lama berdiam didaerah Hwe, tahulah Sim Hi bahwa nyanyian itu adalah lagu berkabung yang biasa diujanjikan oleh rombongan orang Ui yang tengah mengantar jenazah. Karena ingin tahu, larilah anak itu keluar.
Tak antara beberapa lama, dia kembali masuk dengan wajah puCat pasi, tubuhnya agak sempoyongan, ia mendekati Tan Keh Lok dan berseru dengan suara sember: “CongthoCu!”
Bu Tim buru-buru tarik pulang pedangnya, sedang Keh Lok pun segera bertanya ada apa pada Sim Hi.
“Hiang ............... Hiang KiongCu meninggal!” tutur Sim Hi tak lanCar.
Seketika semua orang sama melengak kaget. Keh Lok rasakan matanya berkunang-kunang, Bu Tim Cepat buang pedangnya untuk memegang bahu ketua HONG HWA HWE itu.
“Bagaimana ia meninggal?” tanya Lou Ping Cepat.
“Menurut keterangan salah seorang saudara Ui, katanya puteri itu meninggal dimesjid. Ia bunuh diri dengan badi-badi,” sahut Sim Hi.
“Mengapa orang-orang Ui sama menyanyi?” tanya pula Lou Ping.
“Kaisar telah menyerahkan jenazah KiongCu pada orang Ui. Sepulangnya dari pemakaman, hati mereka sama berduka dan menyanyikan lagu itu.”
Semua orang sama me-maki-maki kaisar, karena sudah begitu kejam hingga seorang gadis yang tak berdosa apa-apa sampai mengambil keputusan yang begitu nekad. Teringat akan hubungannya, Lou Ping menangis sesenggukan. Sebaliknya Tan Keh Lok nampak membisu saja. Semua orang sama berkuatir dan Coba menghiburnya.
Tapi sekonyong-konyong ketua HONG HWA HWE itu berkata: “Totiang, ilmu silat yang kupertunjukkan tadi belum selesai, mari kita lanjutkan pula.”
Semua orang sama heran, melihat sikapnya yang aCuh tak aCuh itu.
“Dia sedang berduka, baiklah kumengalah sedikit,” pikir Bu Tim.
Begitulah keduanya mulai bertanding lagi. Nyata-nyata gerakan Tan Keh Lok tetap linCah dan berbahaya, seolah-olah tak terpengaruh akan kejadian tadi.
“Huh, kebanyak sekalian orang lakidua itu tak berperasaan. Hanya karena urusan negara, sedikitpun dia tak menaruh kasihan atas kematian kekasihnya,” demikian Wan Ci menumpahkan kemendongkolannya kepada Hi Tong.
Sembari terus meniup serulingnya, diam-diam Hi Tong berpikir: “CongthoCu sungguh berhati baja. Kalau aku, tentu sudah menjadi sinting.”
Kuatir CongthoCu itu sampai kena apa-apa, Bu Tim tak mau gunakan jurus-jurus yang berbahaya. Sebenarnya pertandingan berjalan dengan berimbang, tapi sengaja Bu Tim berlaku ajal dan mundur. Dan karena lambat menarik pedangnya, lengan Bu Tim telah kena tertusuk tiga jari tangan Keh Lok. Begitu terjadi benturan itu, keduanya sama lonCat menyingkir.
“Bagus, CongthoCu!” seru Bu Tim.
“Ah, totiang sengaja mengalah”, kata Keh Tok dengan tertawa. Tapi belum saja suara ketawanya itu habis, tiba-tiba dia menguak dan muntah darah.
Semua orang terkejut bukan main serta buru-buru memegangnya.
“Ah, tak apalah!” Keh Lok tertawa, lalu dengan menggelandot pada Sim Hi terus masuk kedalam kamar.
Melihat kejadian itu, Wan Ci sesalkan diri karena tadi teiah menduga keliru pada ketua itu.
“Karena menahan perasaan duka, dia sampai tumpah darah. Tapi kalau sudah beristirahat, tentu baiklah”, kata Hwi Cing.
Mendengar keterangan jago tua yang sudah kenyang pengalaman itu, barulah semua orang lega hatinya.
Setelah tidur kira-kira sejam lebih, Keh Lok terbangun. Teringat akan urusan penting pada pertemuan nanti malam, dia sesalkan diri mengapa begitu tak dapat menjaga diri. Namun kalau teringat akan kebinasaan nona yang dikasihinya itu, hatinya tak terkatakan sedihnya.
“Asri telah berjanji padaku akan menurut baginda, mengapa mendadak bisa terjadi begitu? Ia tahu bahwa pengorbanannya itu demi untuk kepentingan negara, kalau tak terjadi perubahan penting, tak nanti ia sampai berlaku begitu nekad. Ah, disitu tentu terselip apa-apa”, demikian pikir Keh Lok.
Sampai lama dia merenung, namun tetap tak mengerti. Kemudian dia mendapat akal, ia menyaru sebagai orang Ui mukanya dipupuri dengan arang. Lalu katanya kepada Sim Hi: “Aku akan keluar sebentar.”
Sim Hi tak berani menCegah, tapi diapun kuatir, maka dikuntitnya dengan diam-diam. Keh Lok tahu, namun dibiarkan saja, karena menganggap anak itu mengandung maksud baik.
Dnyalan hiruk pikuk, dengan orang dan kendaraan. Namun kesemuanya itu dianggap sepi saja oleh Keh Lok.
Begitulah setelah sampai dimesjid, dia terus langsung memasukinya dan berlutut mendoa: “Asri, kau tentu menunggu aku dialam baka. Aku telah berjanji padamu untuk menjadi umat Islam, supaya kau tidak menunggu dengan sia-sia.”
Ketika mendongak, tiba-tiba dilihatnya dilantai terdapat beberapa tulisan yang sudah tak jelas kelihatannya. Nyata tulisan itu digurat dengan pisau dan berbunyi: “Yangan perCaja pada raja.”
Guratan tulisan itu berwarna merah darah. Malahan pada beberapa bagian dari lantai itu terdapat warna merah yang agak tua.
“Masakah itu ketesan darah Asri?” pikirnya, ia Coba menunduk untuk membaunya. Ternyata bekas itu berbau darah. Tanpa terasa, air matanya membanjir turun.
Setelah puas menangis, tiba-tiba pundaknya terasa ditepuk pelan-pelan oleh orang. Bagi seorang yang mengerti silat, sedikit saja tubuhnya disentuh orang, tentu reakslnya Cepat sekali. Demikian dengan Tan Keh Lok yang segera lonCat bangun sembari gerakkan tangan kirinya untuk menangkis.
Tapi ketika diawasinya, bukan main heran dan girangnya. Orang itu mengenakan pakaian seorang lelaki suku Ui, tapi sepasang alisnya yang bagus menawungi sepasang biji mata yang bersorot bening. Dia bukan lain adalah Chui-ih-wi-sam Hwe Ceng Tong.
Hari itu sigadis sebetulnya ikut sang suhu Thian-san Siang Eng kekota Pakkhia untuk menolong adiknya. Tapi, mungkin geledek ditengah hari masih kalah dibanding ketika dari seorang Ui ia mendapat warta tentang meninggalnya sang adik. Maka bergegas-gegaslah ia pergi kemesjid dan disitu dilihatnya seorang lelaki Ui tengah berlutut menangis sambil menyebutdua nama Asri. Sedikitpun ia tak menyangka, kalau orang itu ternyata Tan Keh Lok adanya.
Baru saja keduanya mulai menuturkan pengalamannya, tiba-tiba dua orang si-wi tampak masuk. Buru-buru Keh Lok menarik lengan Ceng Tong diajak berlutut bersembahyang.
“Bangun!” seru salah seorang si-wi ketika lewat didekat Keh Lok.
Terpaksa Keh Lok bangun. Tiba-tiba kedua si-wi itu memakai linggis untuk menCongkel lantaidua yang tergurat tulisan berdarah tadi, terus dibawanya pergi.
“Apakah itu?” tanya Ceng Tong.
“Disini banyak sekali telinga, lebih baik kita tengkurep sembahyang lagi, nanti kukasih tahu.”
Dengan bisik-bisik, Keh Lok lalu menCeritakan apa yang dilihatnya tadi.
Dengan sedih dan marah berkatalah Ceng Tong: “Ya, mengapa kau begitu sembarangan perCaja pada omongan raja itu?”
“Kuanggap dia itu seorang Han, pula kakandaku sendiri,” sahut Keh Lok dengan menyesal.
“Huh, orang Han! Apakah orang Han tak ada yang busuk? Kalau sudah enak-' menjadi kaisar, masakah ingat sanak famili lagi!.”
“Ya, aku berdosa kepada Asri,” kata Keh Lok berlinangdua air mata.
Merasa tadi kata-katanya terlalu tajam, sedangkan orang menyesal dan berduka, buru-buru Ceng Tong menghiburnya: “Ah, sudahlah, kau memang tak bersalah. Karena kau berjoang untuk nasib rakyatmu. Lalu pesta diistana Yong Ho Kiong nanti malam, kau pergi atau tidak?”
“Tentu! Akan kubunuh raja itu untuk membalaskan sakit hati Asri,” seru Keh Lok dengan menggretek lagi.
“Benar, juga untuk membalaskan sakit hati ayah dan saudara-saudara bangsaku!” Ceng Tong pun geram sekali.
“Tapi kau belum menCeritakan bagaimana kau lolos dari serangan pasukan Ceng waktu itu?”
“Itu waktu aku tengah menderita sakit dan musuh menyergap dengan tiba-tiba. Syukur dengan gagah berani saudara HuVun berempat menolong aku dan dibawa ketempat suhuku.”
“Asri. mengatakan padaku, biarpun keujung langit kita tetap akan menCarimu,” kata Keh Lok kemudian.
Mata Ceng Tong tampak merambang merah, katanya: “Mari pulang untuk berunding dengan Sekalian saudara.”
Nampak nona itu, bukan kepalang girangnya Hi Tong. “Nona Hwe, aku senantiasa memikirkan dirimu,” sapanya.
Setelah ayah-bunda dan kedua saudaranya meninggal, Ceng Tong merasa sebatangkara. Ia tak menaruh ganjelan apa-apa lagi terhadap kekurangajaran Sim Hi tempo hari.
“Kau kini sudah tambah besar ja?” sahutnya kemudian.
Tahu nona itu tak membencinya lagi, Sim Hi girang sekali.
Setibanya dirumah, Thian-san Siang Eng tengah pasang omong dengan orang-orang. Segera Keh Lok tuturkan pengalamannya dimesjid tadi, Tan Ceng Tik yang aseran sudah lantas menggebrak meja.
“Nah, apa kataku dulu? Kaisar tentu akan menCelakakan kita. Anak itu (Hiang Hiang) tentunya sudah mengetahui tipu kejinya, maka ia korbankan diri untuk memberi peringatan padamu,” teriak jago tua itu.
“Kami sepasang suami isteri tak beruntung akan keturunan. Sebenarnya kami bermaksud untuk mengambil Cici-beradik itu sebagai anak, siapa nyana.........,” demikian kata Kwan Bing Bwe yang tak dapat langsung karena sesenggukan.
“Nanti kepesta di Yong Ho Kiong, kita harus membekal senjata. Karena senjata panyang tak diperbolehkan dibawa masuk, kita bawa saja senjata yang pendek dan senjata rahasia,” kata Keh Lok kemudian.
Usul Keh Lok itu disetujui semua orang.
“Nasi dan sajur dalam hidangannya nanti, kebanyak sekalian tentu diCampur obat bius. Sebaiknya yangan kita makan,” kata ketua HONG HWA HWE itu pula.
Kembali semua orang mengiakan.
“Bahwa kita bunuh kaisar itu malam nanti, itulah sudah pasti. Tapi perlu kiranya kita mengatur renCana untuk lolos,” kata Keh Lok lagi.
“Kita tentu tak dapat tinggal di Tiong-goan lagi, sebaiknya kita menyingkir kedaerah Hwe saja,” usul Ceng Tek.
Sebenarnya rombongan HONG HWA HWE tidak lama berada didaerah Kanglam. Dalam hati, tiada seorangpun yang tak merindukan kampung halaman masing-masing. Namun tak ada lain pilihan lagi bagi mereka: membunuh atau dibunuh kaisar. Begitulah setelah berunding, renCana segera ditetapkan.
Bun Thay Lay pimpin Seng Hiap, Jun Hwa, Siang Ing dan Su Kin untuk mempersiapkan bayhok dipintu kota sebelah barat. Begitu saatnya tiba, mereka harus membasmi tentara penjaga pintu dan menyambut rombongan Tan Keh Lok untuk terus lolos kearah barat.
Sim Hi disuruh mengepalai rombongan thauwbak, siapkan kuda dan anak panah, menyambut diluar istana Jong Ho Kiong. Dan Hi Tong ditugaskan untuk memberi tahu pada semua thauwbak HONG HWA HWE dikota Pakkhia supaya menyampaikan berita pada seluruh Anggota HONG HWA HWE diberbagai wilayah, bahwa pucuk pimpinan pindah kedaerah Hwe. Dan bahwasanya Cabangdua HONG HWA HWE supaya membubarkan diri dan bekerja dibawah tanah saja untuk menghindari penangkapan dari perintah Ceng.
Setelah selesai membagidua tugas, Tan Keh Lok minta pertimbangan pada Thian-san Siang Eng dan Lok Hwi Ching bagaimana renCana pembunuhan terhadap kaisar itu nanti. “Gampang, nanti kupuntir batang lehernya raja itu, Coba dia masih bisa menjadi raja apa tidak” kata Ceng Tik.
“Kalau bisa begitu, itulah bagus!” Hwi Ching tertawa. “Tapi karena dia sudah siap merenCanakan membunuh kita, tentu akan membawa sejumlah besar si-wi, jadi penjagaannya tentu luar biasa rapatnya!”
“Kurasa lebih baik Tio-sam-te gunakan senjata rahasia untuk menghabisi dia”, kata Bu Tim.
Ketika dipagoda Liok Hap To dahulu, Ceng Tik pernah saksikan kelihaian Tio Pan San dalam ilmu senjata rahasia. Maka seketika itu juga dia menunyang usul itu.
Pan San mengeluarkan tiga biji 'tok-Cit-le' yang beracun, katanya dengan tertawa: “Satu saja yang kena, sudah Cukup untuk mengantar jiwa kaisar itu kelain dunia.”
“Kukuatir orang she Pui itu masih didalam istana, tentu dapat mengobatinya,” kata Keh Lok.
Yang dimaksud oleh Keh Lok itu, jalah Pui Liong Cun, pemilik senjata rasia yang hebat itu.
“Biar, telah kurendam piauw itu dalam raCun lain. Mungkin orang she Pui itu bisa mengobati yang satu macam raCun, tapi tidak yang lainnya,” kata Pan San.
“Sebaiknya hui-to kepunyaanmu dan jarum hu-yong-Ciam punyaku direndam raCun juga.” kata Hwi Ching pada Lou Ping-. Demikian semua orang sama sibuk menCelup senjatanya dengan raCun. Mengingat baginda itu adalah kakandanya sendiri dari lain ayah. hati Keh Lok agak tak tega. Tapi kalau ingat perbuatannya yang kejam itu, dia marah dan ikut masukkan badi-badinya kedayam raCun.
Kira-kira jam 5 sore, semua orang gagah itu sudah berkemasdua. Setelah dahar, mereka menunggu. Tak berapa lama, munCullah Pek Cin dengan anak buahnya, empat orang siwi. Begitulah mereka berangkat keistana Yong Ho Kiong. Ketika dipagoda Liok Hap Ta dahulu, Pek Cin pernah tempur Ceng Tik. Demi nampak jago Thian-san itu juga ikut, keduanya saling berpandangan.
Setiba diistana, Pek Cin meneliti rombongan HONG HWA HWE sama tak membawa senjata. Melihat itu, dia mengelah napas dan memimpin mereka masuk. Diruangan besar, sudah disiapkan tiga meja perjamuan. Pek Cin silakan mereka duduk.
Meja tengah, tempat duduk utama, diduduki Tan Keh Lok. Meja disebelah kiri, Tan Ceng Tik dan meja sebelah kanan Liok Hwi Ching. Dibawah patung HudCouw, ada pula sebuah meja. Kursinya ditutup dengan sutera benang kuning emas. Disitulah tempat duduk baginda.
Diam-diam Hwi Ching, Pan San dkk. sama memperhitungkan Cara bagaimana nanti, apabila saatnya sudah tiba melepas senjata rahasia kearah tempat duduk kaisar itu.
Hidangan mulai dikeluarkan, rombongan HONG HWA HWE menanti kehadiran baginda.
Beberapa saat kemudian, kedengaran tindakan kaki orang, yang ternyata adalah dua orang thaikam, Ti Hian dan Bu Bing Hu. Dibelakangnya mengikut seorang menteri besar yang mengenakan topi merah. Itulah Li Khik Siu, ayah Wan Ci. Hampir-hampir nona itu berseru memanggilnya, Coba tak keburu Ti Hian lantas berleriak “Titah raja!”
Pek Cin dan kawanan siwi segera berlutut. Sedang Keh Lok dkk. terpaksa ikut berlutut juga. Pada lain saat, terdengarlah Ti Hian membaca titah raja tersebut.: “Tan Keh Lok dkk setia pada negara, aku girang mengetahuinya. Kini kuangkat Tan Keh Lok menjadi 'Cinsu', lain-lainnya pun akan diberi pangkat. Pesta untuk menghormat pengangkatan itu diadakan di Yong Ho Kiang sini dan Li Khik Siu Ciangkun dititahkan menemaninya. Sekian.”
Mendengar itu, tawarlah hati Keh Lok. Kiranya kaisar itu sungguh liCik, karena tak mau hadir sendiri.
“Selamat, Tan-heng menerima anugerah baginda itu, sungguh beruntung sekali,” Li Khik Siu menghampiri Tan Keh Lok sambil menjura.
Keh Lok menjawab merendah, Sedang Wan Ci dan Hi Tong menghampiri sang ayah dan menyapa.
Khik Siu terkejut dan berpaling mengawasi. Betapa girangnya ketika didapatinya sang puteri tunggal tampak berada disitu dengan tak kurang suatu apa. Buru-buru ditariknya tangan Wan Ci, dan air matanya ber-linangdua. Karena sejak berpisah, siang malam selalu memikiri sang anak itu.
“Wan Ci, bagaimana keadaanmu?” tanya Khik Siu.
“Ayah............” Ingin Wan Ci menuturkan halnya, namun sang mulut berat mengatakan.
“Mari, kau duduk dengan aku semeja!” kata Khik Siu terus menarik lengan puterinya.
Wan Ci dan Hi Tong tahu kalau hal itu disebabkan rasa sayang seorang ayah, maka setelah saling memberi isyarat mata, keduanya berpisah duduknya.
Lalu Ti Hian dan Bu Bing Hu menghampiri ketengah perjamuan dan berkata pada Tan Keh Lok: “Saudara, kelak sesudah jadi menteri, yangan lupa pada kami berdua.”
“Sudah tentu tak kulupakan kongkong,” sahut Keh Lok.
Ti Hian lambaikan tangan dan dua orang thaikam kecil menghampiri dengan membawa sebuah nenampan berisi dua poCi arak dan beberapa Cawan. Ti Hian mengangkat poCi itu terus dituang kedalam dua buah Cawan. Dia sendiri segera ambil yang secawan, katanya: “Kuhaturkan selamat pada saudara dengan secawan arak ini!”
Arak segera diminumnya, lalu mengambil Cawan berisi arak. yang satunya, diberikan pada Keh Lok.
Melihat itu semua mata orang-orang HONG HWA HWE ditujukan kearah ketuanya. Tahu mereka kalau keburu napsu mungkin menggagalkan renCananya. Dan itu perCuma saja karena, toh orang yang dinantinya (kaisar) tak ada disitu.
Sejak datang keperjamuan itu, Keh Lok sudah penuh berlaku waspada. Dia sudah insyap bahwa perjamuan itu tentu tidak sewajarnya. Segala sesuatu ditelitinya dengan seksama. Benar1 juga ia mengetahui bahwa pada kedua samping dari poCi arak masing-masing terdapat sebuah lobang kecil. Ketika pertama kali menuang arak tadi, Ti Hian telah gunakan ibu jarinya untuk menutup lubang yang disamping kiri. Dan arak dalam Cawan itu diperuntukkan pada Tan Keh Lok. Sedang ketika menuang yang kedua kalinya, ibu jarinya dijentikkan untuk menutup lobang sebelah kanan.
Kini tahulah Keh Lok bahwa poCi arak itu terisi dua macam arak. Kalau lobang kiri ditutup, maka lobang kanan memanCur arak. Begitu pula sebaliknya. Jadi nyata, kalau lobang sebelah kanan itu terisi arak raCun.
“Oh, kanda, kau begitu kejam, rela menganiaya aku dengan siasat memberi pangkat, supaya aku memperCajaimu. Kalau tidak Asri mengorbankan jiwanya, tentu arak beracun ini terminum olehku,” mengeluh Keh Lok seorang diri.
Dia angkat kedua tangannya untuk menghaturkan terima kasih lalu mengambil Cawan seperti hendak diminumnya. Melihat itu Ti Hian dan Bu Bing Hu bersorak dalam hati. Tapi pada lain saat, sekonyong-konyong Keh Lok letakkan Cawannya, kemudian menyembat poCi dan dituangkan kedalam Cawan kosong. Sewaktu menuang, jempolnya ditutupkan kelobang sebelah kanan. Setelah itu, isi Cawan terus ditenggaknya. Cawan pertama yang tak jadi diminumnya tadi diberikan kepada Bu Bing Hu:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar