K E T I K A kain penyumbat ditarik Pek Kian, ternyata kain itu adalah sehelai saputangan berkembang milik wanita.
“Lekas bilang dimana kamar SiuCay yang ditahan siang tadi,” Pek Kian menghardik sipenjaga. “Sedikit saja kau berteriak, tentu kubunuh!”
Penjaga itu gemetar saking takutnya. “Di ......... disana ...... kamar ...... nomor ...... tiga ,” katanya terputus-putus.
Sekali tangan Pek Kian diajun, penjaga yang malang na sibnya itu putuslah jiwanya.
“Cepat-cepat , mungkin kita kedahuluan orang,” seru It Lui.
Setiba dikamar tutupan, benar diugra mereka mendengar gerinCing suara besi beradu. Kim Piauw nyalakan api. Seorang berpakaian hitam kelihatan sedang berjongkok disisi Hi Tong.
“Awas, ada orang kemari!” bisik Hi Tong kepada orang itu.
Siorang berbaju hitam tak mempedulikan. Makin keras dia menempa.
“Siapa itu?” tegur It Lui ber-bisik-bisik.
Sipakaian hitam mendadak loncat balik, sebagai jawab an dia menikam dengan pedangnya. Begitu tangkas gerakan nya, sehingga berbareng dengan sinar berkelebat, tahu-tahu ujung pedang sudah didepan mukanya.
It Lui adalah orang kesatu dari Kwantong Liok Mo. Sekalipun badannya gemuk, gerakannya sangat gesit. Senjata orang-orang an berkaki satu, diajun untuk menangkis. Sesaat itu tergetarlah tangan sipakaian hitam, kesemutan dan sakit rasanya. Mengetahui berhadapan dengan lawan yang besar tenaganya, dia tak berani menyerang. Kini dia membaCok Thian Seng, begitu yang tersebut. belakangan ini menghindar ke samping, orang itu terus menobros keluar.
“Yangan mengejar, ambil dia (Hi Tong) lebih penting,” seru Pek Kian.
Karena berisik, seluruh penjaga rumah penyara sama bangun, ketika diketahui ada orang merampok orang tahanan, mereka menjadi kacau.
It Lui menghadang dipintu, tenangdua dia berseru: “Lekas kerjakan, biar aku yang menahan mereka!”
Cepat-cepat Pek Kian dan Kim Piauw mengeluarkan gergaji. Tak berapa lama borgolan kaki dan tangan Hi Tong terputus. Pek Kian menotok jalan darah Hi Tong, lalu bersama Sam Jun menggotongnya keluar. Kawanan penjaga semua dapat dihajar It Lui dengan senjata orang-orang an itu. Mereka jeri, tak berani menyerang maju, hanya ber-teriakdua saja.
Kim Piauw membuka jalan, Thian Po dan Thian Seng yang mengawal dibelakang. Hi Tong dapat digotong keluar
melalui tembok penyara. Tapi diluar ternyata sudah siap menunggu sebuah pasukan besar dari tentara Ceng. Segera mereka maju mengepung.
Kim Piauw, Pek Kian dan Sam Jun melawan kearah tiga jurusan. Mereka segera dapat merobohkan beberapa orang. Tapi karena ditilik oleh pembesarnya, kawanan serdadu itu tak berani mundur.
Selagi suasana begitu gaduh, tiba-tiba dari arah sudut tembok sana, loncat keluar sebuah bayangan hitam, siapa langsung menghampiri Hi Tong. Thian Seng Coba menghadangnya, tapi sekali tangan orang itu mengibas, dada Thian Seng terasa sakit sekali. Entah terkena benda apa, yang nyata, saking sakitnya, dia tak tahan lalu mendumprah jatuh.
Melihat Sutenya terluka, Thian Po kaget. Belum hilang rasa kagetnya, tahu-tahu orang itu sudah menarik Hi Tong, dibawa pergi.
Pek Kian berlaku ajal. Dua ujung tombak musuh hampir menusuk dadanya. Cepat-cepat dia angkat kong-hwannya untuk menangkis. Begitu tombak terdampar keatas, dia maju merapat, sekali konghwan ditangan satunya disabetkan, pundak penyerangnya itu remuk patah. Darah segar menyembur dari mulutnya. Kawannya ngeri, terus angkat kaki seribu.
Sewaktu Pek Kian berpaling, ternyata orang itu telah le nyap bersama Hi Tong. Namun Hi Tong tak mau bergegasdua lari. Lebih dulu dia menggurat beberapa tulisan di tanah. Pek Kian dapat memburunya. Tapi segera disambut dengan baCokan pedang oleh orang itu. Pek Kian tangkis kan konghwannya, tapi gerakan orang itu luar biasa sebat nya, tahu-tahu sudah ganti gerakan lain. Bertempur dua jurus, Hi Tong berhasil merampas seekor kuda dari seorang serdadu.
Sekali Cemplak, dia berseru keras dan menerjang Pek Kian. Pek Kian Buru-buru menyingkir kepinggir. Hi Tong segera samber tubuh orang yang menolongnya tadi keatas kudania. lalu kaburkan diri kearah barat.
Itu waktu It Lui sudah loncat keluar tembok penyara. Demi dilihatnya Hi Tong lolos, dia maki-maki Pek Kian dan kedua muridnya itu sebagai orang yang tak berguna,
“Lekas kejar!” serunya.
Sam Jun dan Thian Po dengan menunjang Thian Seng, mengikuti arah larinya Hi Tong. Dibelakang, mereka dike jar kawanan polisi. Tapi karena mereka sudah terlatih dalam sekejab saja, hamba negeri itu jauh ketinggalan dibelakang. Pun saking jeri, polisidua itu tak berani mendekati, apalagi setelah ketinggalan jauh, mereka lalu kembali.
Selama melakukan pengejaran itu, dapatlah diketahui kepandaian masing-masing orang. It Lui jauh muka. Kim Piauw terpisah tak berapa jauh. Tapi Pek Kian ketinggalan dibelakang. Lebihdua Sam Jun bertiga, jangan ditanya lagi. Memang tak keCewa It Lui menjadi orang kesatu dari Kwan-tong Liok Mo. Sekalipun dia itu hidup mewah, tapi sehari pun tak pernah melalaikan latihannya. Malah makin hari makin sempurna. Dalam hal keCepat-cepat an jalan, dia menye rupai kuda lari pesatnya.
Karena jalan disepanjang lereng gunung tak leluasa, apalagi membonCengkan orang, maka tak berapa lama, It Lui dapat menyusulnya. Tahu dikejar musuh, Hi Tong memilih jalan yang ber-bilukdua. Namun It Lui selalu dapat menyusulnya. Karena gelap, tiba-tiba kuda Hi Tong terperosok kakinya kedalam sebuah liang. Mendeklok dengan kepalanya tersentak kemuka, hingga seperti melempar penumpangnya kebawah.
Dengan berjumpalitan, Hi Tong dapat tanCap kakinya diatas tanah. Orang tadi Coba tarik les kuda supaya berdiri lagi, tapi binatang itu tetap mendumprah ditanah. Ternyata kakinya telah patah. Cepat-cepat orang tadi loncat turun, lalu ajak Hi Tong menyelinap kedalam semakdua pohon. Tak jauh berjalan, mereka menampak sebuah gua kecil. Kesitulah mereka bersembunyi.
“Li-sumoay, kali ini lagi-lagi kaulah yang menolong aku,” Hi Tong mengelah napas.
Kiranya penolongnya itu ialah Li Wan Ci, orang yang selalu menguntit perjalanan Hi Tong, Sewaktu tak kelihatan Hi Tong berada dalam rombongan Tan Keh Lok, nona yang Cerdas itu, segera tahu bahwa Hi Tong tentu mengambil jalan disungai. Menyusur sepanjang pantai, kebetulan ada rombongan perahu tentara yang angkut rangsum, maka dengan selamat tibalah ia dikota BengCin.
Wan Ci masih menyaru sebagai anak lakidua. Dia mampir kesebuah rumah makan untuk Cari keterangan. Sana sini ramai orang membicarakan peristiwa seorang SiuCay berkelahi dengan Sun-taysanyin. Malamnya berkunjunglah ia kepenyara. Penjaga bui yang diringkus itu, dialah yang me lakukannya.
Dapat menolong Hi Tong, adalah suatu kebahagiaan bagi Wan Ci. Walaupun menghadapi bahaya, ia tak gentar. Di suruhnya Hi Tong beristirahat, ia sendiri yang menjaga di mulut gua. Seruling Hi Tong telah dirampas Kim Piauw. Duduk diatas tanah, dia memandang bayangan Wan Ci. Rasa terima kasih memenuhi rongga dadanya.
Saat itu angin dingin mengembus, tubuh Wan Ci agak menggigil, rupanya tak tahan hawa dingin. Hi Tong lepas jubahnya, lalu dipakaikan ketubuh Wan Ci.
Sejak berkenalan dengan Sukonya itu, barulah pertama kali ini Wan Ci menampak sang Suko mengunjuk kan sedikit perhatian padanya. Tanpa terasa ia berpaling dan un-juk senyumannya. Sesaat itu tubuhnya dirasakan hangat.
Baru saja Wan Ci hendak mengucap sesuatu, tiba-tiba terdengar suara mendesing. Sebatang anak panah melayang datang. Wan Ci terbenam dalam kegirangan, lupa ia bahwa bahaya masih tetap menganCam. Sebat sekali Hi Tong dorong tubuh sinona kesamping, dan dengan sebelah tangan yang lain dia sanggapi anak panah itu.
Karena didorong, Wan Ci jorok kedalam, hampir-hampir ia terbentur karang. Tapi secepat-cepat itu juga tangan Hi Tong telah menariknya kembali. Dalam kegelapan, tubuh Wan Ci telah tertarik nampel kedada sianak muda.
Wan Ci menjerit dengan suara tertahan. Merah selebar mukanya. Ia rasakan tubuhnya menjadi hangat, karena da rahnya tersirap.
“Sumoay, awas senjata gelap!” bisik Hi Tong.
Berbareng itu, kembali ada sebuah hui-hong-Ciok (piauw batu berbentuk belalang) melayang masuk. Wan Ci berkelit sambil menyang gapinya.
“Bangsat, lekas keluar! Jangan sampai tuan besar turun tangan!” kedengaran orang berseru diluar gua.
Saat itu, beberapa bayangan mendekati mulut gua. Hi Tong pungut anak panah tadi, terus disambitkan keluar. Terdengar suara seseorang mengerang kesakitan. Itulah Sam Jun yang menerima bagian. Sekalipun sudah diketahui per sembunyiannya, tapi It Lui cs. tak berani terus mendesak. Musuh berada ditempat gelap, sedang mereka ditempat terang, mudah diCelakai. Jalan satuduanya, mereka menghu-jani mulut gua itu dengan berbagai senjata rahasia.
Hi Tong dan Wan Ci rapatkan diri kesisi dinding gua. Tubuh mereka saling merapat satu sama lain. Tak mau mereka tinggal diam, dipungutinya senjata-nyata rahasia yang dilempar musuhnya itu Apabila mereka berani memasuki mulut goa, pasti akan disambutnya dengan hangat.
Menempel pada tubuh Sukonya, walaupun tengah menghadapi bahaya, tapi Wan Ci rasakan saat-saat itulah yang dirasakan paling bahagia dalam hidupnya. Didalam gua ha wanya lembab lagi kotor. Diluar gua musuh siap menerkam nya. Tapi bagi nona itu, kamar yang menyiarkan bau harum dalam gedung panglima, masih kalah bahagianya dengan ruang sempit gua itu.
Sebaliknya Hi Tong waktu itu tengah berpikir keras untuk Cari jalan lolos, tapi tak berhasil. Tahu dia kalau Sumoay nya itu seorang nona yang Cerdas dan banyak sekali akal, maka katanya: “Ah, bagaimana daya kita untuk lolos?”
“Pe*rlu apa sih mesti Capedua. Mereka kan tak dapat me nyerbu masuk,” Wan Ci tertawa.
“Kalau hari sudah terang tanah bagaimana?” Hi Tong kelihatan kuatir.
Mendengar Sukonya kelihatan gugup, tertawalah sinona.
“Baiklah, kupikirkan suatu daya ......... he, awas senjata rahasia!”
Hi Tong Cepat-cepat mundur tubuhnya. Sebuah 'siao-kong-jah' menaiiCap didekat kakinya. Kim Piauw benci tujuh turunan kepada Hi Tong. Setelah berturut-turut menimpuk dua buah siao-kong-jah: dia putar senjata lak-houw-jah-nia, untuk melindungi mukanya, lalu menyerbu kemulut gua.
Melihat musuh akan mengganas itu, Wan Ci kibaskan tiga batang jarum hu-yong-Ciam. Jarum itu halus sekali, pula ditempat yang gelap. Syukur kepandaian Kim Piauw Cukup tinggi, dan kepandaian menimpuk sinona masih belum sempurna, maka Cepat-cepat orang she Ku itu telusupan kepalanya kebelakang. Dua batang mengenai tempat kosong, tapi yang sebatang menyusup pada rambutnya, sedikit mengenai kulit kepalanya.
Meskipun demikian, Cukup membuat Kim Piauw sakit meringis. Teringat bahwa senjata jarum begituan keba nyakan mengandung raCun, dia ber-debardua. Buru-buru dia me nyingkir, lalu menCabutnya. Karena darah pada jarum itu ternyata tidak berwarna hitam, legalah hatinya, karena terang jarum tak beraCun.
It Lui minta lihat jarum itu. Sekali pandang, dia meng gerangdua seperti kebakaran jenggot.
“Batok kepala dari Lo Sam itu, juga terdapat jarum macam ini. Jadi yang membinasakan dia teranglah bangsat ini juga!” demikian teriaknya murka.
Ketika Ciao Bun Ki binasa oleh jarum dari Hwi Hing, tulang rangkanya baru beberapa tahun kemudian diketemu kan dalam lembah gunung. Pada tulang batok kepalanya terdapat beberapa batang jarum tersebut. Itulah karena, sekalipun jarumdua itu sebagian besar sudah diCabut keluar oleh Hwi Cing, tapi yang menyusup kedalam daging sukar diambil.
Kwantong Liok Mo menganggap sakit hati itu sebagai duri dalam daging. Tapi Celakanya, yang dituduh membunuh adalah Hi Tong, baik pada Bun Ki dulu, maupun Kim Piauw yang dilukainya sekarang.
It Lui dan Kim Piauw mengumbar kemarahannya. Mereka menyerang dengan hebat. Namun karena jeri oleh senjata rahasia orang, tak berani mereka terlalu mendekati mulut gua.
“Mengapa kau hendak menyingkir dari aku? Apakah kau merasa sebal padaku?” demikian didalam gua Wan Ci me nanya Hi Tong dengan tertawa.
“Li-sumoay, mengapa kau mengucap begitu ? Nanti kalau sudah lolos dari bahaya ini, kita perCakapkan pula”, kata Hi Tong.
Wan Ci berdiam untuk sekian saat. “Ya, waktu itu ten tunya kau akan tinggalkan pergi lagi,” katanya kemudian.
Hi Tong pun seorang manusia biasa. Dia tergerak hatinya mendengar begitu mengharukan kata-kata sang Sumoay itu. Tiba-tiba sebuah obor dilontarkan dari luar, Hi Tong kemekmek. TarjBak olehnya bagaimana saju muka sinona yang berlinangdua air mata itu.
“Wah, kita akan mati kesesakan napas,” katanya lalu. Habis mengucap, ia maju menginyak obor. Tapi senjata rahasia musuh lebat bagaikan hujan, terpaksa ia mundur lagi. Tidak salah apa yang diduga oleh Wan Ci itu tadi. Pek Kian San dan Thian Po lemparkan berbondong-bondong beberapa ikat rumput, kearah obor.
Asap bergulung-gulung memenuhi gua. Hi Tiong dan Wan Ci berdua, mulai batukdua terhimpit napasnya, obor padam, asap makin tebal. Dalam keadaan itu, Wan Ci Segera mengambil keputusan.
“Yagalah mulut gua!” katanya seraya serahkan pedangnya kepada Hi Tong. Sedang ia sendiri lalu menyingkir kebelakangnya.
Karena mendengar dibelakang ada suara pakaian dikibarduakan, Hi Tong berpaling.
“He, jangan lihat kemari!” bentak Wan Cie. Hati Hi Tong bergoncang hebat. Diantara kepulan asap, dilihatnya Wan Ci sedang membuka pakaiannya. Tapi tak sempat dia memikirkan, karena matanya tak putus-putusnya diganggu asap, hingga mengeluarkan air mata.
Sesaat kemudian, tampak Wan Ci menghampiri dan meminta kembali pedangnya. “Pakailah ini!” serunya sambil lemparkan pakaian wanita itu, kepada sang suheng.
Ingin Hi Tong menanya, tapi keburu dipegat oleh sinona: “Ayo, lekas pakailah!”
Apa boleh buat, Hi Tong memakainya. Setelah itu, sinona menyerahkan pula pedangnya. Pada saat itu, asap menipis. Tapi tiba-tiba kembali ada sebatang obor dilempar masuk. Malah kali ini, lebih besar, sehingga mengeluarkan Cahaja terang.
“Kita terjang keluar berpencaran, sekali-kali jangan ikuti aku,” Pesan Wan Ci, yang tanpa menunggu jawaban lagi, terus menobros keluar gua.
Hi Tong melengak, namun tak sempat ia mencegahnya......
Begituah hampir setengah harian Tari Keh Lok cs. men-Caridua disekitar gua itu, mereka masih nampak adanya asap yang bergulung-gulung ke udara. Mereka makin gelisah menyingkirkan nasib Hi Tong. Saking gemasnya, Bun Thay Lay me remasdua hanCur panah Pek Kian tadi.
“Sipsute Cukup Cerdas, kalau tidak ungkulan, tentu melarikan diri. Kita minta lagi bantuan Siangkwan-toako supaya mengirim beberapa orangnya lagi menCari kabar”, kata Lou Ping.
Siangkwan Ie San setuju, malah terus ajak pulang sekalian tetamunya itu. Setiba di BengCin, Siangkwan Ie San kerahkan semua orang-orang Liong Bun Pang. Asal ada orang asing, harus segera melapor.
Selama itu, Bun Thay Lay yang paling kuatir sendiri Sam pai jauh malam, dia tak mau makan dan tidak tidur Thian Hong Coba memberi nasehat, tapi sia-sia.
Itu waktu, Siangkwan Ie San masuk dengan meng-gelengdua kan kepalanya: “Tidak ada kabar apa-apa”
“Ah, masa dalam beberapa hari tak ada sesuatu yang men Curigakan?” tanya Thian Hong.
Siangkwan Ie San Coba mengingat sejurus, “Oh, ada seorang saudara kita yang melapor, bahwa digereja Po Siang Si disebelah barat kota, tiap hari ada orang ributdua, mau membakar gereja itu, katanya. Tapi kurasa, hal itu tak ada sangkut pautnya dengan Sipsuya”.
Begitu juga pikiran semua orang. Hweshio dan kawanan pengungsi terbit CekCok, itulah hal yang biasa. Mereka tak dapat memikirkan daya apa-apa, keCuali mengambil putusan besok akan keluar dan menCari secara berpencaranya.
Teringat akan besar pengorbanan Hi Tong kepada dirinya, Bun Thay Lay tak dapat memejamkan mata barang sesaat pun jua. Demi dilihatnya isterinya sudah tidur, dia terus bangun dan menyembat senjata, lalu loncat keluar dari jendela.
“Biar bagaimana akan kuCarinya lebih Cermat baru puas hatiku”, pikirnya. Terus dia loncat keatas wuwungan. Keadaan diseputar itu sunyi senyap. Dengan gunakan ilmu
berjalan Cepat-cepat , sekejap saja sudah dia berputar keempat penyuru dari kota BengCin. Tengah dia- masgul, tiba-tiba dili hatnya sebuah bayangan berkelebat lari kearah barat. Tim bul keCurigaannya, segera ia enjot tubuhnya menguntit.
Dari tak berapa jauh, orang itu menepuk tangan. Dimuka sana jauh sekali, didengarnya balasan tepuk tangan. Bun Thay Lay tahu bahwa fihak sana besar jumlahnya, diam-diam ia menguntit dari sebelah belakang. Sampai diluar kota se belah barat, tanahnya lapang. Kuatir diketahui, Bun Thay Lay tak berani dekatdua.
Kira-kira tujuh atau delapan li lagi, orang itu naik keatas karang dari sebuah bukit. DipunCak bukit itu, dari jauh tampak berdiri sebuah rumah. Tahu, sudah tempat yang pasti ditujunya, Bun 'Thay Lay berhenti dan sembunyi dalam sebuah semakdua. Ke tika ditegasinya, rumah itu ternyata sebuah gereja, dimana tiga huruf “Po Siang Si” tertulis dengan nyata.
Bun Thay Lay mengeluh, karena sampai sekian lama dia buangdua waktu, “ternyata hanya mengikuti kawanan pengungsi dan Hweshio saja. Namun sudah terlanyur, tak apalah untuk melihatdua kesana. Mungkin dapat membantu perCede raan mereka. Dia menghampiri kesamping gereja, dari situ terus loncat masuk, melalui jendela langsung menuju ke ruangan besar. Disitu didapatinya seorang Hweshio tengah berjongkok menghadap kearah patung. Nampaknya sedang menyampaikan doa.
Tapi ketika Hweshio itu per-lahandua bangkit dan serentak berpaling, seketika serasa terbanglah semangat Bun Thay Lay.
Kini balik kita tengok keadaan It Lui cs. yang sedang menunggu hasil pembakarannya pada gua tempat bersembunyi Hi Tong. Ketika mendadak dilihatnya ada seorang berjubah panjang dengan muka dibungkus lari keluar dari dalam gua, Buru-buru It Lui menghadangnya.
“Kim-tiok SinCai ada disini, beranikah kau mengejarku ?” seru orang yang berkedok itu.
Bagi It Lui, Kim Piauw dan Pek Kian, tujuan yang utama jalan hendak menangkap dan merobek-robek dada Hi Tong. Tanpa hiraukan orang satunya yang masih berada dalam gua, mereka segera kejar simuka berkedok itu. Ja kinlah mereka, itulah sianak muda tentunya.
Diantara ketiga orang itu, It Lui yang paling Cepat-cepat ilmu nya berlari. Sekejab saja dia sudah berada dibelakang orang itu. 'Tok-ka-tang-jin' sekali diajunkan kemuka dalam gerak “tok-liong-jut-tong”, naga berbisa keluar gua, dia hantam punggung orang itu.
Orang itu melejit kesamping sembari balas menggerakkan tangannya. It Lui Buru-buru mundur, kuatir orang melepas jarum lagi yang lihai itu.
Orang itu bukan lain ialah Wan Ci adanya. Dengan mengenakan jubah sianak muda, dia menobros keluar untuk memikat perhatian musuhduanya. Dengan begitu, dapatlah Hi Tong kesempatan untuk lari. Sinona membekal tiga batang kim-Ciam. Apabila musuh merangsek dekat, akan dihajar nya., Untuk senjata itu, ia boleh merasa berSyukur. Karena It Lui sekalipun berkepandaian tinggi, tapi ditempat gelap seperti waktu itu, dia jeri juga akan jarum yang halus dan tanpa suara apa-apa itu. Karenanya, dia mengejar agak jauh jaraknya.
Kejar punya kejar, sampailah mereka kekota BengCin. Ketika itu sudah terang tanah, banyak sekali sudah orang-orang yang menuju kekota. Nampak ada sebuah hotel yang sudah buka pintu, Buru-buru Wan Ci nyelonong masuk. Seorang pelayan me nyambut, tapi belum dia keburu bertanya, Wan Ci telah mendahului memberikan sepotong perak, katanya: “Lekas kasih aku sebuah kamar.”
Perak itu ada tiga-empat tail beratnya, maka terkanCing lah mulut sipelayan, lalu menunyukkan Wan Ci sebuah kamar kosong.
“Nanti bila ada orang tagih hutang, bilang saja aku tak ada disini,” Wan Ci memesan. “Aku hanya akan tinggal semalam, uang kelebihannya untukmu.”
“Yangan kuatir, aku tukang gebah penagih hutang,” sahut sipelayan.
Baru saja pelayan itu keluar, It Lui cs menobros masuk.
“SiuCay yang masuk kesini tadi berada dimana, kita perlu ketemu,” tanyanya segera.
“SiuCay siapa?” balas tanya pelayan itu.
“Yang masuk kemari tadi,” menegas Pek Kian.
“Pagi ini belum ada orang masuk kehotel, mungkin kau orang tua, salah lihat,” berkeras sipelayan.
Kim Piauw gusar, lalu akan menggaplok mulut pelayan tersebut., tapi Buru-buru diCegah It Lui dengan membisikinya: “Semalam kita habis merampok penyara, tentunya masih menggoncang kan, jangan timbulkan urusan lagi.”
“Baiklah. Kita akan periksa satu persatu kamar hotel ini, nanti akan kita tunyukkan padamu,” kata Pek Kian dengan mendongkol. '
“Aduh, lagakmu begitu garang, agaknya menyerupai sanak raja saja?” mengejek pelayan itu.
Mendengar ributdua itu, sipemilik hotel pun menghampiri. Tapi Kim Piauw sudah tak kuat menahan sabar lagi. Sekali dorong, dia segera menerjang kesebuah kamar. Disitu dia tendang pintu kamar, hingga terpentang. Seorang gemuk gendut berjingkrak bangun dari tempat tidurnya saking kaget. Nampak bukan orang yang diCari; Kim Piauw ter jang lagi pintu kamar disebelahnya. Masih kedengaran, bagaimana sigemuk itu mengumpat maki habis-habisan.
Tengah ramaidua itu, tiba-tiba dari sebuah kamar diberanda timur, seorang nona yang Cantik, muncul keluar. Pek Kian dan Kawan-kawan nya juga melihat sinona, mereka kagumi ke
Cantikannya, tapi sedikitpun tak ada keCurigaan apa-apa terus melanjutkan penggeledahannya.
Dengan tertawa geli. Wan Ci keluar hotel dalam bentuk aslinya, wanita. Sampai dijalan besar, ada beberapa hamba negeri yang mendatangi. Mereka mendapat pengaduan dari sipemilik hotel, untuk menangkap orang yang membuat rusuhdua itu.
Sementara Hi Tong setelah melihat musuhduanya yang tangguh pergi, terus keluar menyerang Sam Jun dan Thian Po serta Thian Sing. Dengan mengeluarkan ilmunya pedang 'jwan-hun-kiam' dari Bu Tong Pai, dalam tiga empat ju rus saja, dia telah dapat menusuk lengan Thian Sing yang memang sudah terluka itu.
Thian Sing mundur beberapa langkah, lobang itu digunakan Hi Tong untuk menerjang keluar. Sam Jun menyapu dengan 'sam-Ciat-kun'-nya, tapi Hi Tong dapat menghindari nya dengan meloncat keatas. Tiba-tiba dia berteriak keras, men juruk jatuh kemuka.
Saking girangnya, Sam Jun dan Thian Po terus akan menubruknya. Tapi sekonyong-konyong Hi Tong membalik badan lalu menawurkan segenggam pasir. Mulut dan mata Sam Jun serta Thian Po, kena tertutup pasir itu. Sam Jun Cu kup berpengalaman, segera dia menggelundung beberapa tindak jauhnya. Tidak demikian dengan Thian Po. Dia masih menyublek sambil meng-usakdua matanya yang kelilipan dengan kedua tangannya.
Hi Tong baCok kaki kiri Thian Sing, terus memutar tu buhnya dan lari. Kiranya pasir yang dilontarkan itu, adalah sisa pembakaran rumput yang dimasukkan kedalam gua oleh It Lui cs. tadi.
Ketika Sam Jun mengusap bersih matanya, hanya kedua Sutit (keponakan murid) yang kedapatan masih disitu, yang satu mengerang, yang lain mengaduh. Sedang Hi Tong sudah tak tampak bayangannya lagi.
Bukan main mendongkolnya Sam Jun. Tapi dia tak dapat berbuat apa-apa, keCuali membebat luka kedua Sutitnya itu, serta menyuruh mereka mengasoh dulu kedalam gua, sedang ia sendiri lalu mengejamja.
Kira-kira berlari tujuh atau delapan li, bukan Hi Tong yang diketemukan, melainkan It Lui bertiga. Malah kini Haphaptai yang dibencinya itu, ikut serta. Selain itu, masih ada lagi seorang yang belum pernah dikenalnya. Orang itu kira-kira berusia 40-an tahun, dipunggungnya menggemblok sebuah thiat-pi-peh (harpa besi). Tindakannya gesit, pertanda seorang yang tinggi silatnya.
Pek Kian Cepat-cepat menanyakan sang Sute yang tampaknya kebingungan itu. Dengan ke-maluduaan, dia tuturkan kejadian tadi. Syukur It Lui cs. pun tidak mendapat hasil apa-apa, jadi tidak dapat saling menjalankan.
Kiranya orang yang membawa thiat-pi-peh itu, adalah Sute dari Ciao Bun Ki, jakni Han Bun Tiong. Di HangCiu dia telah dipale begitu rupa oleh orang-orang HONG HWA HWE, sampai tak tahu dia harus menangis atau tertawa. Wi-tin-ho-siok Ong Hwi Yang minta dia supaya balik bekerja lagi pada Tin Wan piauw kiok, tapi dia menolaknya. Malah dia anyurkan Hwi Yang supaya lekas-lekas tutup perusahaan piauwkioknya itu untuk mengaso kedesa.
Sejak bertempur dengan Thio Ciauw Cong dibukit Pak-kao-nia, ibarat orang mati kembali hidup lagi. Hwi Yang-pun memikir hendak mengundurkan diri, maka dia terima baik usul. Bun Tiong untuk tutup piauwkioknya dan melewatkan hari tuanya pulang kekampung halamannya.
Sepulangnya ke Lokyang, Bun Tiong berkehendak menutup rumah perguruannya, tak mau Campur urusan di kangouw lagi, seperti yang dinasehatkan oleh Tan Keh Lok. Tapi dalam perjalanan pulang itu, ditengah jalan dia ber jumpa dengan Haphaptai. Tak ada keinginannya untuk bertemu dengan sahabatduanya lama dikalangan persilatan lagi, karenanya, dia tundukkan kepala pura-pura tak melihat. Tapi thiat-pi-pehnya, sudah berbicara sendiri. Cepat-cepat Haphaptai mengenalinya.
Berdua segera menCari sebuah hotel. Disitu Bun Tiong Ceritakan tentang kebinasaan Suhengnya. Baru Haphaptai insja.f. bahwa Kim-tiok SiuCay dan H.H.H, itu bukan musuhnya. Dia mendapat kesan baik terhadap Hi Tong, maka Buru-buru diajaknya Bun Tiong untuk menolong anak muda itu.
Sebenarnya tak hendak Bun Tiong Campur urusan itu lagi, tapi Haphaptai mendesaknya, bahwa kalau bukan dia yang menjelaskan, tentu It Lui dan Kim Piauw tak mau sudah. Dan kalau sampai anak muda itu binasa, tentu orang HONG HWA HWE tak mau terima, akibatnya dia (Bun Tiong) sendiripwn akan terembet juga.
Baru saja keduanya memasuki kota BengCin, sebera me reka tampak It Lui bertiga bsr-gegasdua keluar dari hotel sehabis menghajar hamba polisi. Begitulah kelima orang itu telah menCari Sam Jun.
Kini kita tengok Hi Tong. Walaupun dia sudah terlemas dari bahaya, tapi dia merasa Cemas akan keadaan Wan Ci yang dikejar oleh tiga orang yang lihai itu. Dia Coba men Carinya ke-manadua, tapi tak bersua. Ingin dia masuk kikota, tapi teringat bahwa orang-orang negeri banyak sekali yang mengenalinya jadi terpaksa tunggu sampai malam sudah tiba.
Malamnya dia Cari sebuah hotel. Tapi sepand'ang malam itu, tak dapat dia meramkan matanya. Diam-diam dia menyum pahi dirinya, sebagai orang yang tak kenal budi. Dua kali sudah, nona itu menolong jiwanya, tapi sampai saat itu bukan wajah sinona yang membayang i kalbunyi, melainkan gelak ketawa Lau Ping dengan sujen dipipinya yang manis itu selalu terkenang olehnya. Dari jauh, terdengar kentong an dipalu tiga kali, tanda sudah tengah malam.
Selagi dia akan meramkan mata, tiba-tiba dikamar sebelah ada orang memetik pipeh. Hi Tong seorang penggemar musik, Buru-buru dia duduk mendengari. Pi-peh itu dibunyikan begitu pelan, perdengarkan lagu yang menyajat hati. Lewat beberapa saat, kedengaran seorang wanita menyanyi:
(page cut)
Nyanyian indah dengan suara yang merdu. Hi Tong merasa heran, masa dalam hotel yang terpenCil itu, ada orang yang dapat menyanyi sedemikian indahnya.
Tiba-tiba dari kamar sebelah itu juga, kedengaran seorang lelaki batukdua, lalu berkata dengan suara lemah: “Sudahlah jangan menangis, tertawalah, nyanyilah lagi ......... hanya semalam ini saja, hendak kudengar banyak sekali-kali ......... beberapa lagumu lagi.”
Dengar orang bicara dengan lidah Kanglam, dan suara nya terputus-putus, Hi Tong duga tentu orang itu tengah menderita sakit payah. Siwanita kedengaran menelan ludah, tangannya lalu memetik snaar pi-peh, namun tak menyanyi.
“Setelah kumeninggal, baik kau kembali ke HangCiu lagi ......... mohon sama kiu-ya ......... supaya dia merawatmu,” demikian suara silelaki.
Siwanita tak menyahut. Tiba-tiba malah kedengaran menyanyi. Kali ini suaranya sember, sehingga Hi Tong tak dapat dengar jelas. Hanya sehabis itu, wanita itu ter-isakdua mengibakan hati.
Hi Tong menduga mereka tentulah suami isteri, suaminya tengah terserang penyakit berat sang isteri nyanyi untuk menghiburnya. Dia teringat masih membawa kantong uang. Ketika disuluhi dengan lilin, isinya uang emas semua. Itulah Wan Ci yang memberinya. Hi Tong timbul bermaksud akan menyerahkan beberapa biji uang emas tersebut. untuk menolong mereka.
“Ah, aku dapat menolong orang, tapi siapakah yang dapat menolong diriku?” Hi Tong mengelah napas sambil menuju kekamar sebelah dan mengetuk pintunya.
“Maaf, mengganggu kau orang tua, ja, aku tak nyanyi lagi,” sahut suara didalam.
“Harap bukai pintu, aku ada sedikit omongan,” kata Hi Tong.
(Page cut)
jangan mengembara lagi. Nah, selamat malam,” kata Hi Tong terus akan bertindak keluar.
“Siangkong (tuan muda), harap tunggu,” wanita itu tibas berseru.
Hi Tong hentikan langkahnya.
“Mohon tanya nama siangkong yang mulia.”
“Ah, uang yang tak berarti ini, tak perlu kau berterima kasih. Turut tekukan lidahmu, agaknya orang Kanglam. Mengapa bisa berada di TiongCiu sini?”
Wanita itu berpaling kepada silelaki. Nampak keadaannya makin payah, menangislah ia, katanya: “Sebenarnya aku tak berani mengatakan. Tapi menilik dia tak ada harapan lagi, akupun tak ingin hidup juga. Setelah kututurkan, biarlah orang mengetahui boroknya bangsa pembesar.”
“Yadi kau berdua ini juga menjadi korban pembesar negeri?” tanya Hi Tong.
“Dia orang she Ciao. Kami asal HangCiu, masih pernah saudara misan. Sejak kecil kami sudah ditundangkan Tahun yang lalu. dia ditangkap pembesar, dituduh membangkang dalam wajib dinas militer. Karena miskin, kami tak mampu memberi uang sogok, jadi dia terus ditahannya............”
Menutur sampai disini, wanita itu berCuCuran air mata. Sejurus kemudian, baru ia dapat melanjutkan pula: “Aku lemah tak berdaya, terpaksa menjadi penyanyi. Orang biasa memanggil aku 'Giok-ju-ih'.”
Kiranya wanita ini ialah Giok-ju-ih yang pernah diperalat oleh jago-jago HONG HWA HWE untuk menyebak kaisar Kian Liong itu.
Dahulu sewaktu ia dibawa orang-orang HONG HWA HWE untuk menyanyi dihadapan baginda Kian Liong ditelaga Se-ouw itu, Hi Tong tak ikut disitu. Setelah mendapat luka dia beristirahat ke Thian Bok San. Jadi soal pemilihan ratu keCantikan, siasat menyebak kaisar, sedikitpun dia tak mengetahuinya.
“Belakangan aku bertemu dengan seorang Liok-kongcu, disuruh bantu urusannya. Sebagai upah, dia berikan seribu tail perak padaku,” demikian Giok-jwih menutur pula.
“Betul-betul royal sekali dia”, seru Hi Tong memutus pembi Caraan orang.
“Kubermaksud menghadap Ciangkun dalam tentara Ceng, akan menebusnya. Orang menasehati berbahaya kalau seorang wanita mengadakan perjalanan dengan membawa uang sedemikian banyak sekalinya. Tapi ternyata bukan bangsa begal penjamun yang kujumpahkan, melainkan kawanan hamba negeri. Tidak saja uangku dirampas habis, mereka bahkan akan menyerahkan diriku pada Tihu (residen) untuk di jadikan selir.”
“Bangsat!” Hi Tong gebrak meja saking gusarnya. “Kawanan hamba negeri mana itu? Ayo, lekas bilang!”
“Ah, tak perlu kukatakan. Dimanadua sama saja. Malamnya aku melarikan diri, sehingga jatuh kemari. Kebetulan, dia yang dipaksa diangkut untuk berperang kedaerah Hwe, karena kelaparan, juga melarikan diri. Kita beruntung dapat berkumpul. Tapi, ah, hanya untuk berpisah se-lama-lamanya lagi. Dia terlalu payah keadaanya akibat penyiksaan yang hebat...”
Hi Tong merasa kasihan, lalu bertanya kepada orang lakidua itu apakah kekurangan ransum dari tentara Tiau Hui itu hebat sekali.
Tapi orang itu sudah tak dapat mendengar pertanyaannya hanya menuding kearah Giok-ji-ih, dia berkata tersengal-sengal :
“Aku......... aku akan pergi......... moay......... baikkah kau menjaga diri......... nyanyikanlah sebuah lagu lagi............”.
“Baik, engko,” kata Giok-ji-ih dengan suara sember. Di petiknya senar pipeh, namun tenggorokan rasanya terkan Cing. Tampak kepala orang itu menteklok dan napasnyapun berhenti.
Giok-ju-ih letakkan pipehnya. Kini ia tak menangis lagi. Dari bawah bantal diambilnya sebuah bungkusan, lalu dibe rikannya kepada Hi Tong, katanya: “Benda yang didalam ini, katanya amat berharga sekali, tapi akupun tak mengerti. Siangkong adalah seorang pelajar, harap suka meneri manya”.
Dengan heran Hi Tong menyambutinya. Menyusul Giok-ju-ih segera benturkan kepalanya ke ujung pembaringan. Hi Tong Coba iiieuCeg'alinya, tapi terlambat. Seorang wanita muda yang Cantik, kini pecah sebagai ratna.
Hi Tong buka bungkusan itu, ternyata isinya tiga gulung lukisan. Buru-buru dia tulis sepuCuk surat, tinggalkan dua buah uang emas, suruh sipengurus hotel mengurus majata itu, lalu berlalu dari situ.
Tujuan Hi Tong jalah untuk menCari Wan Ci Masih mendenging berkumandang rasanya kata-kata yang tersimpul dalam nyanyian Giok-ju-ih tadi:
(Page cut)
Teringat dia betapa penyanyi yang Cantik itu, sekejab saja sudah kembali pada asalnya: segumpal tanah kuning. Lou Ping, Wan Ci dan lain-lain. wanita Cantik pun akan mengalami nasib serupa. Kelak mereka pun hanya merupakan kumpulan tengkorak dan tulang belulang. Memikir sampai disini, hati nya menjadi tawar akan kesenangan dunia. Pada sebuah pohon yang rindang daunnya, dia berhenti mengasoh. Karena beberapa hari kurang tidur, maka sekejab saja tertidurlah dia.
Hampir pagi, baru dia tersadar. Kini semangatnya dirasakan pulih kembali. Dengan pelan-pelan dia lanjutkan perjala nannya lagi untuk mendaki ke atas sebuah bukit. Disana dia tiba pada sebuah gereja, jakni Po Siang Si.
Masuk kedalam ruangan besar, diatas situ terdapat sebuah patung Budha dengan tangan terkulai dan kepala memandang kebawah. Seakan-akan merasa kasihan atas penderitaan insani dunia. Pada sekitar dindingnya, tampak lukisan dari sang Buddha sedang menolong burungdua dan mengunjuk kan kasih sayang nya kepada binatangdua. Hati Hi Tong tergerak karenanya, lalu masuk kedalam ruangan belakang.
“Kisu (tuan) datang kemari, hendak mempunyai hajat apa?” tanya seorang Hweshio tua yang muncul menyambutnya.
“Cayhe hanya pesiar saja. Lama sudah keangkeran Po Sat disini, Cayhe ingin kunjungi. Apakah kiranya tak mengganggu?” sahut Hi Tong.
Dengan mengucap beberapa patah kata penerimaan, Hweshio silakan Hi Tong masuk kedalam kamar tamu. Seorang Hweshio lain, segera menyuguhkan teh dan kuwihdua. Saking lelahnya, sehabis dahar, Hi Tong tertidur. Kira-kira dua jam kemudian, dia terbangun. Waktu itu sudah tengah hari. Diruangan tengah kedengaran suara bokhi (alat tok-tok kaum paderi) ditabuh oleh para Hweshio yang tengah liam-keng atau bersembayang dan membaCa kitab. Cepat-cepat dia berbangkit untuk melanjutkan perjalanannya menCari Wan Ci. Lantas dia tertarik dengan bungkusan pemberian (Page cut)
Bungkusan pertama, adalah tulisan dari penyair Auwyang Siu. Bungkusan kedua, dua buah sajak dari Li Gi San. Tapi setelah membuka bungkusan yang ketiga, agak terkejutlah dia. Karena itulah lukisan kertas panjang dari Cerita bergambar delapan orang imam dari kerajaan Song. Diatas ujung kertas, tertera stempel “koleksi barangdua berharga dari Kian Liong.”
Lukisan itu menCeritakan, kisah pengembaraan dari delapan tosu. Salah seorang tosu karena mendengarkan lagu nyanyian disebuah Ciu-lauw, telah mendapat penerangan batin. Ingin Hi Tong mengetahui nyanyian apakah yang membuka hati tosu, lalu dibukanya lembaran yang kedua.
“Karena kau tak ada hati, biarlah kuberhenti.” Demikian lagu itu. Tanpa merasa Hi Tong membaCanya keras-keras. Dia terlongong-longong beberapa saat. Berulang-ulang dia m ngulangi sjair itu. Sampai akhirnya, terbukalah hatinya.
Sehari itu, dia tak mau makan dan minum. Beberapa kali Hweshio menengokinya karena mengiranya ia sakit. Selama berbaring ditempat tidurnya, dia rasakan angin seperti Menderu-deru , pepuhunan bagaikan lautan. Hatinyapun bergontjangan tak tenteram. Sampai jauh malam tak dapat dia tidur.
Apa yang telah dialaminya selama duatiga tahun yang lalu, seperti ter-bayang dua kembali: mendapat gelar SiuCay, membunuh musuh, mengembara dikangouw, dan beberapa kali menempuh bahaya. Dia merasa, selama itu hanya kekeCewaan dan penderitaan saja yang diperolehnya. Ada sekilas kegem biraannya, ketika api asmara berkobar terhadap Lou Ping. Namun karena sang pujaan itu tak mau meladeni, dia tak mau sudah. “Ya, karena kau tak berhati, biarlah kuberhenti,” akhirduanya Hi Tong berkata dalam hatinya.
Masih tak dapat tidur, dia duduk lagi dan nyalakan lilin. Tiba-tiba dia melihat diatas meja terdapat sebuah kitab kuno memuat dua4 Cerita pada jaman Thian Tiok (baheula).
Pada salah sebuah Cerita, Hi Tong membaCa bagaimana Dewa telah menganugerahi seorang bidadari yang Cantik kepada Buddha.
“Sesosok kulit terbungkus tulangdua, untuk apa bagiku?” sabda Buddha.
MembaCa sampai disini, kepala Hi Tong berkunang-kunang tak ingat diri. Sampai lama dia baru tersedar lagi, pikirnya:
“Ah, memang tepat sabda Buddha, wanita Cantik hanyalah rangka tulangdua yang terbungkus kulit. Mengapa hatiku terikat?”
Tanpa berpikir lama-lama, dia segera mendapatkan ketua Hweshio untuk minta digunduli rambutnya. Sang Hweshio minta dia timbang masakdua niatannya itu. Tapi Hi Tong tetap ber keras.
Pada hari kedua, diadakan sidang Hweshio. Dihadapan patung Buddha, Tong diCukur rambutnya dan mengucap janji kesetiaannya. Sejak itu dia mendapat gelar Gong Yan Hweshio. Tiap hari dia rajindua liamkeng (membaCa kitab) dan menghafalkan pelajarandua Buddha.
Pada suatuJ pagi, tengah dia asjik liam-keng, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara orang ber-Cakapdua dalam bahasa kangouw, katanya: “Seluruh kota BengCin sudah kita Cari, tapi tak ada. Heran kemana dia sembunyi?”
Hi Tong terkejut. Suara itu telah dikenalnya.
“Taruh kata harus membongkar BengCin, kita tetap akan menCarinya;” kedengaran lain suara menggeram.
Hi Tong kertek giginya. Tahu dia orang inginkan dirinya. Ternyata orang-orang itu ialah It Lui dan Pek Kian cs. Saat itu mereka berada dibelakang Hi Tong. Hi Tong diam saja.
Kiranya Haphaptai sedang berbantah dengan Kim Piauw. Haphaptai anggap lebih baik berangkat saja kedaerah Hwe untuk lakukan pembalasan pada Hwe Ceng Tong. Tapi Kim Piauw membandel. Biar bagaimana dia akan Cari Hi Tong dulu. Kemudian Pek Kian tanya ketua gereja situ, apakah ada seorang SiuCay bermuka buruk yang datang.
Hweshio yang ditanya melengak. Nampak hal itu, Pek Kian Curiga, terus menobros kedalam untuk menggeledah. Benar juga disebuah kamar, dia ketemukan jubah hitam kepunya an Wan Ci yang dipakai Hi Tong. Pek Kian dengan bengis tanyakan si Hweshio kepala.
“SiuCay itu sudah tak ada lagi. Kalian bakal tak dapat menemukan se-lama-lamanya,” jawab paderi itu.
Dengan mungkur Hi Tong tampak berbangkit. Dengan mengetukdua bok-hi, dia masuk keruangan dalam.
Pek Kian timbul keCurigaannya. Dia memberi isyarat kepada muridnya Thian Po, siapa segera mengikutinya masuk.
“He, hweshio, tunggu! Aku mau bicara,” tegur Thian Po.
Tapi Hi Tong tak menghiraukan, malah perCepat-cepat tindak annya. Thian Po memburu, tangannya kiri akan menyam bret punggung Hi Tong. Terpaksa Hi Tong berkelit, dia gunakan lengan jubahnya untuk menyampok muka penyerang nya. Karena mukanya seperti dikeruduki, Thian Po Cepat-cepat mundur. Namun segera ia rasakan pipinya sakit sekali sampai mendumprah kelantai. Itulah karena dihantam bok-hi oleh Hi Tong.
“O-mi-to-hud! SianCay, SianCay (amin, amin)!” demikian dengan me-mukuldua bok-hi, Hi Tong terus berjalan kebela kang.
Mendengar suara bok-hi makin jauh, sedang Thian Po tak kelihatan muncul, Pek Kian dorong sihweshio tadi ke samping, lalu beramai menobros masuk. Disana didapatinya Thian Po duduk dilantai, sambil meng-usapdua pipinya.
;,Apa-apaan kau duduk saja. Mana Hweshio tadi?” tanya Pek Kian segera.
Thian Po tak dapat bicara. Kepalanya basah dengan keringat. Dia menuding kebelakang: Sam Jun dan Kim Piauw memburu masuk. Tapi disitu, selain hanya ada seorang tukang masak, tak ada lain orang lagi. Pek Kian angkat bangun muridnya dan memeriksa lukanya. Sebuah benyolan biru kehitam-hitaman terdapat dipipinya. Luka itu Cukup berat.
“Hweshio itukah yang melukaimu?” tanya Pek Kian.
Thian Po mengangguk.
“Bagaimana romannya?”
Thian Po membuka muiut, tapi tak dapat mengatakan. Sebabnya, dia memang tak sempat mengawasi wajah sihweshio tadi.
Dilain fihak, It Lui terus menyeret masuk sihweshio kepala. Lihat tangan dan kaki orang menjadi lemas tahulah It Lui hweshio itu tak bisa silat. Bentaknya: “Kemana larinya Hweshio tadi?”
Sihweshio kepala menerangkan, hweshio baru itu dari lain tempat, tak diketahui asal usulnya. Karena berulang-ulang dita nyai tetap tak dapat memberi lain keterangan, It Lui lepaskan dia. Pek Kian anCam mau bakar gereja itu, tapi Hweshio tetap pada keterangannya. It Lui lalu ajak rombongan-nya berlalu.
“Gereja itu agak mencurigakan, nanti malam kita selidiki!” kata It Lui.
Seperginya dari situ, mereka menCari makanan didesa dekat situ. Malamnya mereka datang menyelidiki gereja tersebut., tapi tak mendapat hasil apa-apa. Hari kedua, Haphaptai ulangi pernyataannya supaya lekas pergi kedaerah Hwe saja. Namun Kim Piauw tetap berkeras.
“Kalau malam nanti tetap tak menemukan Hweshio bangsat itu, besok paginya kita berangkat kedaerah Hwe,” katanya.
Begitulah maka ketika malamdua dalam perjalanan mereka kegereja tersebut. Bun Thay Lay menampak beberapa ba jangan hitam, itulah It Lui dan Kawan-kawan nya. Sedang apa yang membuat Bun Thay Lay kaget setengah mati ketika Hweshio itu bangkit dan berpaling, ialah karena muka si Hweshio luar biasa buruknya. Ja; itulah Sipsute Kim-tiok SiuCay Ie Hi Tong yang sedang diCarinya.
Heran Bun Thay Lay dibuatnya. Dia sembunyikan diri di sebuah sudut, untuk nantikan kejadian selanjutnya. Ternyata setelah memberi hormat pada Buddha, Hi Tong menu ju kebelakang arCa terus tak muncul lagi.
Tiba-tiba pada saat itu, terdengar suara gedebukan keras. Pintu ruangan besar didorong orang. Tujuh atau delapan orang menobros masuk.
Hanya satu yang dikenal Bun Thay Lay, jakni Pek Kian. Orang itulah yang menangkapnya di Thiat-tan-Hung dulu. Juga di KengCiu dia telah menghinanya.
“Po Sat maha adil, kini menyuruh dia jatuh ketanganku!” diam-diam Bun Thay Lay menggeram.
Sewaktu masuk tadi, It Lui cs. terang melihat ada ba jangan orang. Tapi kini ternyata hanya lilin-lilin saja yang ber nyala terang, tanpa ada orangnya. It Lui Coba angkat lonCeng gereja yang luar biasa besarnya. Disitu pun takada apa-apanya. Kim Piauw mendongkol dia maki-maki kalang kabut.
Habis memaki, dia hantamkan 'lak-houw-jat'-nya ketubuh patung. “Dung” .........! terdengar suara benturan.
“Dalam patung ini ada sesuatu yang mencurigakan”, seru It Lui sambil loncat menghampiri.
Loncat keatas meja, diapun pakai 'tok-ka-tang-jin'-nya, menghantam pundak kiri patung itu. Tak terkira dahsyatnya hantaman itu, pecah tubuh patung itu. Sekonyongdua sesosok tubuh melesat keluar dari lubang pundak patung itu. Itulah dianya, orang yang diCari.
Tapi begitu kakinya menginyak meja, dia — Hi Tong — lalu loncat kebawah. Kedelapan orang rombongan It Lui, terus bersiap mengepung. Tapi Hi Tong ternyata tidak lari; hanya berlutut dimuka patung tadi. Sedikitpun tak hiraukan musuhduanya. Dengan merangkap kedua tangannya, dia meng uCap doa:
“TeCu (murid) berdosa besar, telah menyebabkan penya-hatdua dari lain golongan masuk kemari dan membikin rusak tubuh Buddha. Harap diberi ampun”.
Heran kedelapan orang itu mendengarnya. Pek Kian tak sabar lagi. Dia jambret lengan kanan Hi Tong, lalu membentak: “Ha, membikin rusak setan apa, lekas jalan!”
Adalah ketika nampak kedatangan rombongan It Lui yang sama membekal senjata itut Hweshiodua dalam gereja itu, sama menyembunyikan diri. Hi Tong mandah saja dan ikut Pek Kian. Thian Seng lari kemuka, membuka pintu ruangan besar.
Ketika pintu terbuka, tahu-tahu ada seorang tegak berdiri disitu. Karena terkejut, orang-orang itu melangkah mundur. Dia si penghadang itu — berpakaian warna kelabu, dengan memakai ikat pinggang. Sepasang matanya bundar besar seperti mata harimau. Sikapnya keren dan gagah.
Paling bergoncang adalah hati Pek Kian. Karena sampai saat itu, dia masih belum tahu kalau Bun Thay Lay sudah dibebaskan.
“Kau ......... Pan-lui .........” Tak dapat dia lampiaskan pertanyaannya, karena tangan Bun Thay Lay sudah menotok pergelangan tangannya, begitu sebat gerakan itu sehingga Pek Kian tak sempat menangkis atau berkelit. Terpaksa dia kendorkan pegangannya. Sebelum dia merasa apa-apa, Hi Tong sudah dijambret oleh Bun Thay Lay. Pek Kian Cepat-cepat loncat kesamping. Baru habis itu, dia rasakan pergelangannya sakit sekali.
It Lui dan lain-lainnya, belum kenai Bun Thay Lay. Tapi demi melihat gerakan yang sedemikian sebatnya, mereka ter Cekat kaget. It Lui anggap se-tidakduanya Pek Kian adalah ahliwaris dari suatu Cabang persilatan. Tak dia sangka, hanya sekali gebrak saja, orang sudah dapat merampas tawanan yang berada dalam tangannya. Karena hal yang tak terduga itu, It Lui tak sempat menolongnya. Tapi diapun terus bertindak Cepat-cepat . Dengan menghunus senjata orang-orang an berkaki satu,” dia menghadang diambang pintu. Perhitung annya, fihaknya berjumlah delapan orang, yang 5 adalah jago-jago Kangouw yang tergolong lihai. Jadi sukarlah rasanya, musuh bisa mengalahkan.
Setelah menarik Hi Tong, Bun Thay Lay melesat keu jung kiri dari ruangan besar itu.
“Apakah kau terluka?” tanyanya kemudian. “Tidak,” sahut Hi Tong.
“Bagus, kita berdua dapat melabrak mereka se-puasduanya!” kata Thay Lay.
Hendak Hi Tong mengatakan sesuatu, tapi Thian Po dan Thian Seng dengan menghunus senjata, sudah menerjang maju. Dari gerakannya, tahulah segera Bun Thay Lay, bahwa kedua penyerangnya ini adalah muriddua Cabang Gian-keh-kun dari TinCiu. Benci kepada sang suhu, Bun Thay Lay tumpahkan kemarahannya pada sang murid. Sekali enjot tubuhnya; dia sudah melesat dibelakang kedua penyerangnya. Kedua orang muda itu Cepat-cepat akan menarik kembali serang annya, tapi tengkuk mereka tahu-tahu sudah disambar tangan musuh.
Sam Jun berada paling dekat. Dengan gerak “naga be raCun keluar dari gua,” dia sabetkan 'sam-Cat-kun'-nya kepunggung Bun Thay Lay. Dengan masih menCengkeram kedua anak muda tadi, sebat sekali Bun Thay Lay berputar kebelakang. Diangkatinya kedua orang muda itu, lalu dibolang-balingkan berputaran. Dia menggerung keras, seperti guntur bergemuruh diudara.
Sam Jun seperti terbang semangatnya. BergemerinCingan 'sam-Ciat-kun'-nya jatuh kelantai. Sekali pula Bun Thay Lay menggerung keras, dengan sekuat-kuatnya dia benturkan kepala kedua anak muda itu satu sama lain. Prukk! Kedua batok kepala muriddua Pek Kian itu hanCur berantakan.
Tak berhenti begitu saja, Bun Thay Lay lalu lemparkan tubuh kedua korbannya itu kearah rombongan musuh. Karuan saja Kim Piauw cs loncat menghindar. Hanya Pek Kian mengingat hubungan guru dan murid menyang gapi tubuh Thian Sing.
Kejadian itu berlangsung secara Cepat-cepat sekali, sehingga Kim Piauw menjadi kemekmek. Dia tak pungut lagi sen jatanya, ataupun berusaha untuk lari. Menyublek seperti patung saja.
Maju selangkah, Bun Thay Lay menggaplokkan sebelah tangannya pula. Sam Jun berusaha menangkis. Krekk......... tulang lengannya patah. Bun Thay Lay menyambret dada Sam Jun. Tapi Sam Jun tidak mandah, dengan ilmu tendangan 'wan-yang-liang-goan-thui' atau ilmu tendangan sepasang kaki secara susul-menyusul, dia tendang dada mu suhnya.
Nyata Sam Jun tak kenal siapa Pan Lui Hiu, si Tangan Bledek itu. Bagaikan kilat Cepat-cepat nya tangan kanan Bun Thay Lay menyawut sebelah kaki Sam Jun terus diangkat keatas, hingga kini kepala Sam Jun terjungkir balik.
Kim Piauw dan Pek Kian Cepat-cepat akan menolongnya. Tapi sekali lagi Bun Thay Lay menggerung, dia sabetkan tubuh Sam Jun pada batu marmer diruangan situ. Sudah tentu hanCur batok kepala Sam Jun.
Gerakan Bun Thay Lay tadi hanya dalam beberapa kejab saja. Karena mestinya tendangan Sam Jun tadi adalah 'lian-goan-thui', menendang berturut-turut dengan sepasang kaki. Tapi siapa tahu. baru sebelah kaki menendang, musuh sudah menyawut dan membantingnya dengan ganas.
Bun Thay Lay umbar kemarahannya, maka dalam sebentar waktu saja dia sudah binasakan tiga orang. Kini dia diserang dari kanan-kiri oleh Kim Piauw dan Pek Kian. Tahu dia, kalau kedua orang ini jauh lebih tangguh dari ketiga korbannya tadi. Mundur kebelakang, dia angkat sebuah hiolouw (tempat dupa) dari marmer terus dilontarkan kepada Kim Piauw.
Hiolouw marmer itu tak kurang dari delapan0 kati beratnya, apalagi dilempar sekuat-kuatnya. Sudah tentu, Kim Piauw tersipudua berkelit kesamping. Celaka adalah It Lui. Dari tadi dia ketutupan tubuh Kim Piauw, jadi tak tahu apa yang melayang . Maka begitu Kim Piau menghindar, tahu-tahu hiolouw sudah didepan mata.
“Lo Toa; awas!” seru Haphaptai.
Karena tak sempat menyingkir, It Lui hantamkan 'tok-kak-tong-jin'-nya. Berbareng dengan suara deburan yang dahsyat, hiolouw itu pecah berantakan.
Saat itu Pek Kian sudah bertempur dengan Bun Thay Lay. Hi Tong tak mau tinggal diam. Dia sembat gada pemukul bedug dan berdiri dibelakang Bun Thay Lay untuk melindunginya. Muka It Lui dan Kim Piauw luka kena pe Cahan hiolouw tadi, karena itu Kim Piauw terus akan menyerang dengan 'lak-houw-jahnya. Tapi gerakan Bun Thay Lay sebat sekali. Menyerang muka Pek Kian, tiba-tiba dia melesat kesamping Haphaptai.
Memang sudah diperhitungkan Bun Thay Lay, masih ada 5 orang musuh yang tangguh. Untuk merebut kemenangan, dia harus merobohkan lagi beberapa musuhnya. Dilihatnya Haphaptai dan Han Bun Tiong berdiri agak jauh. Maka dia melesat kesana dengan tiba-tiba, terus akan menghantam punggung Haphaptai.
Haphaptai mendekkan tubuh, kasih lewat serangan itu. Lalu secepat-cepat kilat, dia ulur tangannya menangkap lengan orang. Melihat gerakan orang Mongol itu gesit sekali, Bun Thay Lay turunkan tangannya tadi kesamping, menyerang leher orang.
Tapi lagi-lagi Haphaptai tundukkan kepalanya, ulur tangannya menangkap lengan penyerangnya. Tahu Bun Thay Lay kalau setiap gerakan musuh itu adalah “kim-na-Hiu,” ilmu menangkap dengan tangan kosong. Tapi anehnya, gerakan itu berbeda dengan jurus-jurus ilmu “eng-jiao-kang,” Cakar garuda.
Memang Haphaptai bermula mendapat pelajaran gumul dari bangsa Mongol. Ilmu itu dia gabung dengan ilmu silat Thong-pi-kun. Dua kali Haphaptai keluarkan ilmunya itu untuk menangkap lengan Bun Thay Lay. Biasanya belum pernah dia gagal. Maka saat itu, karena mengalami kegagalan, dia agak terkejut. Dan ini menyebabkan dia ajal. Tahu-tahu sebuah pukulan musuh menghantam pundaknya.
Juga tak kalah heran adalah Bun Thay Lay. Tangan sakti yang menyebabkan dia memperoleh julukan Pan Lui Hiu — si Tangan Halilintar — itu, ternyata tak dapat merobohkan musuh itu. Kiranya meskipun sudah ber-tahundua Haphaptai mengembara didaerah Liauwtang (Tiongkok timur-laut), Haphaptai tetap tak mau tinggalkan adat orang Mongol. Dia selalu mengenakan baju kaos terbuat dari kulit kerbau.
Tapi Bun Thay Lay mengira kalau Haphaptai mempunyai ilmu istimewa. Tak ia ketahui kalau lawan itu merasa sakit sampai keulu hati. Tiba-tiba orang Mongol itu duduk ditanah, sepasang tangannya menyikap pinggang lawan. Bun Thay Lay tarik tangannya, untuk ditamparkan kekening orang, siapa pun tak mau mandah saja. Sambil egoskan kepala, tangannya menyikap pinggang orang terus diangkat keatas. Itulah salah suatu jurus ilmu bergumul bangsa Mongol yang paling berbahaya.
Ketika Gengis Khan menaklukkan daerah barat sampai ke Eropah, tak pernah dia terkalahkan. Dia taklukkan berpuluh negara besar dan kecil, hanCurkan beratus ribu tentara sekutu dari negaradua di Eropah itu. Begitu patah nyali serdadudua bangsa kulit putih itu, sehingga mereka sudah gemetar kalau mendengar kedatangan tentara Mongol Gengis Khan itu.
Memang kekuatan tentara Raja Diraja dari Mongol itu, terletak pada kesempurnaan organisasi mereka, ilmu memanah dan kepandaian naik kuda. Selain itu, ilmu bergumulnya yang has juga sangat dimalui lawan. Ilmu itu memang merupakan ilmu warisan orang Mongol turun temurun.
Haphaptai telah dapat mewarisi ilmu itu dengan sempurna. Begitu lawan dapat diangkatnya, terus akan dibantingnya ketanah. Tapi sekonyong-konyong tangannya dirasakan kesemutan, begitupun tubuhnya lemas tak bertenaga.
Saat itu, melihat Bun Thay Lay terancam bahaya, Hi Tong terus akan maju menolongnya. Tapi segera ia nampak pemandangan yang aneh. Bun Thay Lay melayang jatuh dengan mengempit Haphaptai, kiranya tadi dia telah totok jalan darah orang Mongol itu, tubuh siapa terus dia kempit.
“Suko, dia seorang sahabat!” Hi Tong berseru dengan Cemas.
Tapi sudah terlanyur. Karena saat itu, Haphaptai sudah dilempar kemuka. Dengan kepala berada disebelah depan, tubuhnya melayang kearah lonCeng besar. It Lui dan Kim Piauw yang berada dimuka pintu, pun sudah merasa tak sempat untuk menolongnya. Mereka hanya mengawasi dengan kesima.
Mendengar teriakan Hi Tong tadi, Bun Thay Lay terkejut. Segera dia enjot tubuh memburu kemuka. Ternyata dia lebih Cepat-cepat dari melayang nya tubuh Haphaptai. Dalam saat-saat yang berbahaya, dia keburu menyambar ujung sepatu Haphaptai, terus ditariknya kebelakang. Tangannya kiri pun di kerjakan untuk menotok jalan darah penyedar dipundak orang, dan serunya: “Ah, kiranya seorang sahabat, maaf !”
Tertolong dari maut, Haphaptai terlongong-longong. Juga It Lui dan Kim Piauw yang sudah akan memburu maju untuk menolong Sutenya itu, batal bergerak. It Lui pimpin Haphaptai kepinggir.
“Awas belakang!” tiba-tiba kedengaran Han Bun Tiong berseru.
Memang Bun Thay Lay rasakan ada angin menyambar dari belakang. Secepat-cepat kilat dia berbalik sembari menyapu dengan kakinya. Pembokongnya, ialah Gian Pek Kian, siapa dengan sepasang 'thiat-hwan' (gelang besi) loncat menghantam bebokong Bun Thay Lay. Tapi karena gerakan lawan demikian sebatnya itu, dia tarik kembali serangannya, akan tetapi thiat-hwan ditangannya kanan sudah terlanyur menyorok kemuka. Sambil menggerung Bun Thay Lay ulurkan tangannya untuk merebut.
Agaknya kedua orang itu merupakan seteru yang saling membenci. Saat itu mereka akan mengadu jiwa betul-betul.
Ruangan yang diterangi dengan Cahaja lilin yang sinarnya samardua, dengan arCa yang telah rompang sebelah lengannya itu, kini menyaksikan pertempuran mati-hidup dari dua musuh kebujutan.
Hi Tong bersandar dipinggir patung. It Lui, Kim Piauw, Haphaptai dan Bun Tiong berdiri dimuka pintu. Didalam ruangan situ terhampar tiga tubuh yang kepalanya pecah. Melihat It Lui dan kedua Sutenya hanya mengawasi dan tak mau membantunya, Pek Kian marah sekali. Dia mainkan senjatanya luar biasa hebatnya.
Pek Kian adalah ahliwaris dari Cabang Gian-keh-kun. Cabang itupun mempunyai ilmu silat istimewa. Terutama dalam permainan 'thiat-hwan' itu, Pek Kian telah meyakin kan berpuluh tahun. Hal mana pun diakui oleh Bun Thay Lay, betapa lihai permainan lawannya itu. Karenanya, dia segera merobah permainan silatnya.
Kini rombongan It Lui itu segera menyaksikan bagaimana pada setiap serangannya, Bun Thay Lay tentu menggerung keras. Suatu waktu menggerung dulu, baru menyerang. Atau menyerang dulu lalu menggerung. Malah ada juga yang menyerang berbareng menggerung. Pokoknya, gerungan itu se-olahdua merupakan pelengkap serangan kepada lawan. Makin seru serangannya, makin dahsyat pula dia menggerung. Pecahlah nyali musuh dibuatnya, siapa makin lama makin terdesak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar