Kamis, 15 Maret 2012

Puteri Harum dan Kaisar Jilid 25

“DIA sudah tidur nyenyak, maka aku jaga diluar,” Cegah Hwi Hing.
“Kalau begitu, Ayo kita Cari kelain tempat lagi,” kata Lou Ping.
“Tidak, lebih baik tengoki Sip-sUte dulu,” Thian Hong ber keras.
Sambil memegang obor, dia dorong daun pintu. Kamar tak ada apa-apa yang mencurigakan keCuali tubuh Hi Tong nampak bergerak diatas pembaringan. Thian Hong Coba sulut lilin dengan obornya, tapi. taj berhasil. Ketika diambilnya dan diperiksa, ternyata sumbu lilin itu sudah terputus rata, se-olahdua dipotong. Jadi terang kalau api lilin tadi tidak ditiup padam, melainkan ditimpuk dengan senjata rahasia. Hati Thian Hong berCekat dan menghampiri kedekat tempat tidur.
“Sipsute, kau toh tidak kenapa-apa?” tanyanya.
Agak ke-malasduaan “kelihatan Hi Tong mengisar tubuhnya, seperti lakunya orang yang gelagapan bangun tidur. Mukanya masih terbalut kain, sahutnya: “Ah, Hit-ko, bukankah malam ini kau menjadi pengantin? Mengapa menengoki Siaote?”
Lega hati Thian Hong, demi Hi Tong tidak kenapa-apa. Dia sulut lilin itu dengan obornya. Ternyata dimana dinding terlekat sebuah anak panah kecil, ujungnya masih terdapat minyak Ulin.
Diketahuinya bahwa panah kecil itu adalah milik Hi Tong, senjata yang sering ditiupkan dengan seruling emasnya. Tak habis dimengerti: mengapa begitu rombongan saudaranya datang, Hi Tong Buru-buru membunuh lilinnya? Apalagi begitu terburu-buru , sampai tidak ditiup tapi memadamkan dengan senjata rasia dengan serulingnya ?
Saat itu Tan Keh Lok es. pun sudah sampai disitu.
“Wah, saudara-saudara semua datang kemari. Aku tak kenapa-apa, terima kasih atas perhatian saudara-saudara,” kata Hi Tong.
Thian Hong akan Cabut paku panah yang menancap di dinding itu, tapi tangannya dijawil Keh Lok, maka tak jadi. Orang-orang sama mengetahui selimut Hi Tong itu agak menonyol. Selain dia, tentu dalamnya ada benda lainnya.
“Kalau begitu, harap Sipsute baik-baik mengasoh,” ujar Keh Lok, seraya mengajak semua orang berlalu. Katanya lalu kepada Hwi Hing: “Kita masih minta bantuan Liok-loCian-pwe untuk menjaga disini lagi. Kita akan menyelidiki keluar”.
Setelah semuanya pergi kembali Hwi Hing duduk diatas titian lagi.
“Undang semua penjaga kemari”, kata Keh Lok ketika sudah kembali dikamar depan.
Tak berapa lama kedua saudara Siang, Ciang Cin, Ciok Siang Iing, Cio Su Kin masak. Sedang Tan Keh Lok duduk diatas pembaringan, semua orang sama mengelilingi. Walau pun merasa heran, namun mereka tak brani bertanya. Hanya Bu Tim yang tak sabar lagi.
“PenCuri itu terang bersembunyi didalam selimut Sipsute Siapakah dia itu sebenarnya? Mengapa Sipsute melindunginya?”
Atas pernyataan Bu Tim itu, semua orang ikut heran. Hi Tong memang pada waktu akhirdua ini bersikap aneh. Dia lama juga menyelundup dalam tangsi Li Khik Siu, dan malah pernah menolong jenderal itu sewaktu terjadi pembakaran tangsi, sewaktu orang-orang HONG HWA HWE merampok penyara membebaskan Bun Thay Lay. Demikian ramaidua orang-orang omong ini-itu tentang diri Hi Tong.
“Lebih baik kita beramai tanya padanya. Kita toh sudah bersumpah sehidup semati, mengapa dia akan mengelabuhi kita?” kata Ciang Cin.
Semua orang menyetujui.
“Mungkin Sipsute ada apa-apa yang berat untuk mengatakan nya. Lebih baik dengan pura-pura mengantar makanan, kita Coba memeriksanya” usul Thian Hong.
Kembali orang-orang sama setuju. Tampak Ciu Tiong Ing akan ber-kata-kata, tapi tidak jadi. Hanya matanya memandang kearah Tan Keh Lok.
“Terang kalau orang itu sembunyi dikamar Sipsute. Kita tak boleh gegabah membikin susah Sipsute. Dia setia sehidup semati dengan kita semua. Misalnya dia rela korban kan jiwa untuk menolong Suko. Tentang jiwa Sipsute kita tak sangsi lagi. Kalau kini dia berbuat begitu, tentulah ada sebabnya. Adanya kuminta Liok-Locianpwe menjaga disitu, agar orang itu jangan sampai menCelakakan Sipsute. Asal Sipsute tidak kenapa-apa, kita tak perlu menCari tahu hal itu lebih lanjut, agar jangan melukai perasaannya”, demikian Keh Lok akhirnya mengutarakan pendapatnya.
Ciu Tiong Ing memuji pikiran ketua HONG HWA HWE itu.
“Kelak kalau dia mau mengatakan, tentu dia bilang sendiri. Tak perlu kita usik. Memang sifat anak muda mudah tersinggung. Mungkin juga urusan peribadi. Asal tak melanggar peraturan partai saja,” kata Keh Lok lebih lanjut.
Kalau semua orang tunduk dengan kebijaksanaan pemimpin itu, adalah Thian Hong sendiri yang merasa jengah. Diam-diam dia mengaku kalah dengan peribadi sang ketua itu.
“Setiap detik dari malam perkawinan adalah berharga sekali, mengapa kalian berdua masih bergadang disini,” Lou Ping menggoda Thian Hong dan' Ciu Ki.
Kembali semua orang tertawa ria.
Kini kita tengok keadaan dikamar Hi Tong. Begitu semua orang sudah berlalu, dia Cepat-cepat turun dari pembaringan, berdiri disamping meja. Ketika tindakan kaki orang-orang sudah lenyap, dia nyalakan lilin seraya berkata dengan bisik-bisik : “Mengapa kau kemari?”
Dari dalam selimut timbul sebuah kepala orang, terus loncat turun duduk ditepi pembaringan. Orang itu kelihatan tundukkan kepala, dadanya ber-ombakdua, air matanya mengalir. Itulah puteri Li Khik Siu, atau murid perempuan dari Liok Hwi Hing, Li Wan Ci adanya. Dia mengenakan pakaian serba hitam sehingga mukanya yang putih itu nampak dengan jelas. Sepasang tangannya diletakkan diatas pangkuan, tetapi tak berkata-kata, hanya air matanya yang ber CuCuran membasahi lengannya.
Hi Tong menghela napas.
“Kesungguhan hatimu terhadap diriku, Cukup kuketahui. Aku bukan kerbau atau kuda yang tak punya perasaan. Hanya saja kau adalah 'Cian-kim-sioCia' (puteri kesajangan) dari seorang Ciangkun, sedang aku seorang kelana dari Dunia Persilatan, masa kuherani merusak hari depanmu?” katanya kemudian.
“Apakah dengan menghilang secara tiba-tiba itu saja kau rasa sudah berakhir?” tanya Wan Ci dengan sesenggukan.
“Kutahu hal itu tidak pantas. Namun aku toh seorang yang bernasib malang. Hatiku sudah beku laksana kayu..... lebih baik kau pulang saja,” ujar Hi Tong.
“Karena menolong sahabat, kau menjadi fihak lawan ayahku. Hal itu tak dapat kupersalahkan, karena kau men junyung keutamaan,” kata Wan Ci. “Orang yang serba guna (bun-bu-Cwan-Cay) seperti dikau ini, mengapa tak mengambil jalan benar, berjoang untuk memperoleh pangkat kedudukan? Mengapa mesti berkelana dikangouw yang tak keruan itu? Asal kau mau merobah, ayah tentu.........”
“Kau puteri seorang pembesar, memang aku tak pantas mendampingimu. Kita kaum HONG HWA HWE menjalankan kebaikan dan keadilan, menolong yang susah. Kita semua adalah orang lelaki yang mempunyai ambekan, tak nanti sudi menjadi hamba pemerintah asing?” Hi Tong marah.
Tahu kalau kelepasan omong, merah selebar muka Wan Ci. Katanya pula: “Setiap orang mempunyai Citadua sendiri. Bukan aku hendak memaksamu. Kalau kau senang dalam hal itu, akupun senang juga. Kuberjanji mendengar kata-kata mu, selanjutnya aku takkan membantu ayah lagi. Kukira Suhuku pun dapat menjelaskan.”
Kata-kata terakhir itu diuCapkan agak keras, agar Hwi Hing yang berada diluar kamar itu dapat mendengarnya. Hi Tong merenung tak menyahut.
“Kau katakan sioCia dari pembesar itu tidak baik, nah, aku tak mau menjadi sioCia lagi. Kau bilang HONG HWA HWE itu baik, akupun juga............ ikut padamu,” kata-kata itu diuCapkan Wan Ci dengan napas yang sesak, dan saking malu serta bingungnya, ia menangis.
“Kalau tiada bantuanmu yang membawa aku kegedungmu dan mengobatinya, rasanya jiwaku pasti tak tertolong lagi. Menurut kepantasan, sekalipun badanku hanCur lebur, masih
belum dapat membalas budimu itu. Tetapi, ah......... sayang .”
“Adakah kau sudah mempunyai tunangan, sehingga kau pandang diriku begini tak berharga?” Wan Ci bangkit menegas.
Memang Hi Tong itu aneh. Dia tak dapat melupakan Lou Ping. Dalam hal paras dan asal usul, Wan Ci tidak dibawah Lou Ping. Tapi entah bagaimana, dia begitu tawar terhadap nona itu. Sejak bertemu Hi Tong dirumah penginapan dulu itu, hati Wan Ci mulai tak tenteram. Ia selalu terkenang akan wajah anak muda dengan seruling emasnya itu.
Ketika kedua kalinya berjumpa dipenyeberangan Hoangho, ia tampak berobah. Juga ayahnya dapat melihat perubahan itu dan penuju juga. Siapa nyana dalam pertempuran, anak muda itu ternyata orang HONG HWA HWE dan ikut kabur.
Wan Ci seperti orang yang kehilangan semangat. Setiap hari ia berkuda keluar kota, tanpa suatu tujuan. Khik Siu tahu perasaan puterinya, maka dibiarkan saja sang gadis berbuat begitu untuk melipur hati.
Hari itu Wan Ci habis pulang pesiar dari kota sebelah barat. Kebetulan berpapasan dengan Lou Ping yang juga mau pulang setelah mencuri vaas giok. Tahu kalau Lou Ping adalah orang penting dari HONG HWA HWE, maka dikuntitnya hingga sampai ke Thian Bok San.
Wan Ci berlaku hati-hati, sedang Lou Ping tengah dimabuk kegirangan, jadi lengah. Sedikitpun ia tak menaruh Curiga kalau dikuntit.
Ketika Wan Ci masuk kedalam rumah, telah dapat diketahui oleh orang-orang HONG HWA HWE, tapi ia beruntung dapat bersem bunyi. Tengah malam, ia bermaksud menCari tempat Hi Tong, untuk tumpahkan isi hatinya. Apa lacur, ia keliru mendatangi kamar pengantin baru. Ia kesomplokan dengan Sim Hi dan Ciang Cin. Dalam perkelahian, pundaknya kiri kena dihantam Siang He Ci. Sakitnya bukan buatan.
Dengan menahan sakit, ia sembunyi. Lebih dulu ia lempar beberapa batu kecil kearah lain untuk membingungkan pe ngejarnya, lalu ia menyelundup keruangan belakang. Disitu ia berpapasan dengan Suhunya, Hwi Hing, siapa segera menyambret lengannya.
“Suhu!” Wan Ci berseru tertahan dengan kaget.
“Mengapa kau kemari?!” bentak Hwi Hing dengan gusar.
“Aku Cari I-suko untuk menyampaikan beberapa perkataan,” sahut sigadis. Hwi Hing menunyuk kesebuah kamar disebelah kanan.
Wan Cie segera mengetok daun pintunya seraya memanggil. Karena suara berisik orang-orang sama menCari penCuri tadi, Hi Tong pun sudah terjaga. Ia siap dengan kim-tiok atau seruling emasnya, sandarkan tubuhnya ditepi pembaringan. Betapa kagetnya, sewaktu kedengaran Wan Ci memanggil. Maka begitu gerendel pintu dibuka, Wan Cipun menobros masuk.
Bingung juga Hi Tong di buatnya. Bahwa seorang pemuda dan seorang pemudi berada dalam sebuah kamar adalah kurang lajak, Cukup diinsyapinya. Baru saja dia sulut lilin untuk menanya, tiba-tiba kedengaran derap kaki orang-orang sama mendatangi. Karena luka-lukanya, dia masih belum leluasa ber gerak, terpaksa dia gunakan panah kecil yang ditiupkan dengan serulingnya untuk memadamkan api.
“Ie-suko, tolonglah aku!” Wan Ci berbisik separoh meratap, demi Thian Hong dan Kawan-kawan nya mengetok pintu.
Karena kehabisan akal, Hi Tong suruh Wan Ci menyusup kedalam selimutnya. Demikianlah kejadian tadi. Syukur atas kebijaksanaan Tan Keh Lok, Wan Ci tidak sampai mendapat malu.
Pada saat Wan Ci mendesak Hi Tong, adalah pemuda itu sudah mempunyai lain nona yang telah dipenujuinya, Hi Tong menjadi serba salah. Hendak mengatakan hal yang sebenarnya, malu. Kalau mau menyawab belum punya, pun salah.
“Begitu mendalam kau Curahkan perasaanmu, tentunya nona itu sepuluh kali lebih hebat dari aku. Maukah kau me ngenalkannya padaku?!' Wan Ci terus mendesak.
Saking tak dapat menCari jawaban, Hi Tong segera menarik kain putih yang membalut mukanya.
“Kini aku telah berubah setan macam begini, lihatlah jelasdua!” serunya kemudian.
Diantara Cahja lilin, muka Hi Tong menakutkan sekali tampaknya. Boleh dikata roman yang dulunya Cakap itu, kini sudah rusak penuh dengan bintikdua merah yang tak keruan macamnya. Saking kagetnya Wan Ci sampai mundur setindak, sambil mengeluarkan jeritan tertahan.
“Aku seorang Celaka, Hatiku buruk, kini rupaku pun jelek ............... nah, kau pulanglah!” kata Hi Tong.
Beberapa detik, Wan Ci kehilangan kesedarannya. Hi Tong tertawa keras-keras.
“Mukaku seburuk iblis ini, tentu kau tak tahan melihat nya. Li-sioCia, kau tentu sesalkan kedatanganmu malam ini, bukan? Ha, ha!”
Tingkah pemuda itu tak wajar, berkata sambil tertawa. Saking takutnya, Wan Ci menjerit terus tutupi mukanya lari keluar. Hi Tong ketawa sampai sekian lama. ketawa yang penuh mengandung arti. Dia kutuk peruntungannya yang Celaka itu. Tengkurepkan kepalanya keatas meja, dia menangis ter-laradua.
Sedari tadi Hwi Hing masih tetap duduk di-undakduaan. Sekalipun tidak mendengar jelas, dapat juga dia menduga. Dia mengerti, kalau saat itu menghibur Hi Tong tentu perCuma saja. Sebaliknya dia mengambil putusan untuk memberitahukan kejadian tadi pada ketua HONG HWA HWE Sekalipun hal itu kurang baik untuk nama murid perempuannya, tapi dia tak boleh membuat orang-orang HONG HWA HWE menyesal.
Ketika Hwi Hing datang, Keh Lok baru saja hendak tidur.
“Congthocu, aku hendak datang menghaturkan maaf padamu!” kata Hwi Hing.
“Apa? Apa yang terjadi dengan Ie-sipsute?” tanya Keh Lok dengan kaget.
“Oh, dia tak kurang suatu apa,” sahut Hwi Hing. “Apa kau tahu siapa yang datang mengaduk malam tadi?”
“Entahlah,” sahut Keh Lok.
“Itu muridku sendiri. Aku seorang yang tak punya guna, hingga tak dapat mengajar murid. Malam ini adalah hari perkawinan Hit-ya, sudah tentu kalian dibikin letih semua. Betul-betul aku bersalah.”
Keh Lok mengerti jelas omongan orang. Dia diam saja.
“Ia sudah pergi, kelak akan kuCarinya, kusuruh minta maaf pada kalian disini semua. Sekarang, biarlah aku yang haturkan maaf dulu.”
Habis berkata, Hwi Hing bangkit lalu menjura. Keh Lok kaget dan Buru-buru loncat bangun membalas hormat.
“Murid Locianpwe itu sudah mewarisi kepandaian loCian pwe. Gerakannya menandakan tidak sembarangan,” kata Keh Lok beberapa saat kemudian.
“Ia anak gelo, suka menempuh bahaya, menyakitkan hati sahabatnya. Setempo aku menyesal telah terima murid sema Cam dia.”
“Leng-tho (muridmu) telah mencapai kesempurnaan dalam ilmu pedang, hanya kurang latihan saja,” Keh Lok me muji.
“Ah, Congthocu terlalu memuji.”
Hwi Hing kira kalau Keh Lok baru kenal muridnya malam itu, belum dia tahu bahwa keduanya pernah bertemu di Se-ouw, malah bertempur juga.
“Apakah leng-tho pernah kedaerah Hwe?” tanya Keh Lok tiba-tiba.
“Memang sejak kecil ia berada di Se-pak (barat laut).”
“Oh, kurasa ia bergaul dengan orang-orang Uigor,” demikian teringat Keh Lok akan ucapan Ceng Tong sewaktu mau berpisah: “Dia orang bagaimana, kau tanyakan Suhunya saja.”
Beberapa kali hendak Keh Lok bertanya pada Hwi Hing, tapi karena kuatir disangka bukandua, terpaksa ditahankan. Kalau malam itu kebetulan Hwi Hing datang sendiri, itulah kesempatan yang bagus. Benar kelihatannya dia bertanya secara sambil lalu saja. Tapi dalam hatinya, kebat kebit, hingga tangannya sampai mengeluarkan keringat.
“Oh, itu karena peristiwa merebut kitab Quran, ia berkenalan dengan orang Ui. Pertama karena salah paham, nona Hwe Ceng Tong telah bertempur dengan muridku itu. Baru setelah kujelaskan perhubunganku dengan Thian San Siang Eng (guru Ceng Tong), keduanya menjadi bersahabat. Keduanya sangat CoCok, seperti orang bersaudara saja,” tutur Hwi Hing.
Hwie Hing tertawa sambil mengurut jenggotnya. Ia menyang ka tentunya Tan Keh Lok sudah tahu kalau Wan Ci itu seorang wanita, jadi selama pembicaraan tadi, dia tak sebutdua tentang penyaruan Wan Ci sebagai seorang pemuda itu.
Entah apa sebabnya, Keh Tok kurang senang. Sekalipun air mukanya tak kentara, tapi dia seperti ogah bicara, bersikap tawar. Hal itu dianggap Hwi Hing bahwa ketua HONG HWA HWE itu masih marah atas perbuatan Wan Ci malam itu. Mungkin ketua itu merasa kehilangan muka, mengapa sekian banyak sekali anggota-anggotaHONG HWA HWE yang gagah, tak mampu menangkap seorang boCah yang tak ternama.
Karena tak tahu kalau Tan Keh Lok sebetulnya berpikir lain, setelah menyatakan maaf lagi, Hwi Hing akan minta diri.
“Siaoya, Ie-sipsuya minta bertemu!” tiba-tiba. Sim Hi berseru dari luar:
Pintu terpentang dan seorang Congteng menuntun Hi Tong masuk. Nampak Hwi Hing berada disitu, Hi Tong terkesiap. Dia ambil tempat duduk disebuah kursi dan suruh Congteng keluar.
“Cong-thocu, tadi ada seorang bersembunyi dalam kamarku. Kau tentu sudah mengetahuinya. Hanya karena tak mau aku sampai kehilangan muka, kau pura-pura tidak tahu. Sebagai saudara, tentunya aku sangat berterima kasih padamu. Maka meskipun kau tak tanya, aku berkewajiban memberitahu kannya,” demikian Hi Tong menutur.
“Kita sudah seperti sedarah-daging, tak usah sungkan apa-apa,” sahut Keh Lok.
“Orang itu datang hanya se-matadua akan berurusan dengan aku, jadi tak ada sangkut-pautnya dengan semua saudara. Tapi kalau dikatakan, hal itu men j angkut nama baik seseorang..............”
“Kalau begitu, tak usah kau katakan. Sudahlah, urusan itu tak perlu ditarik panjang lagi. Kau mengasohlah, Sim Hi, bantulah Sipsuya kembali kekamarnya”, kata Keh Lok.
Hi Tong kira kalau Hwi Hing sudah mengatakan urusan itu pada Tan Keh Lok, maka diapun terus minta diri, begi tupun Hwi Hing.
Keesokan harinya, orang-orang sama memberi selamat pada Ciu Tiong Ing suami isteri, Thian Hong dan Ciu Ki. Setelah sama berkemasdua maka semua orang lalu saling mefiganibil selamat berpisah, masing-masing menuju ketempat yang telah di tunyuk oleh ketuanya.
Sebenarnya Tan Keh Lok darl| Ciu Tiong Ing sama-sama menuju ke daerah barat-laut. Tapi Tiong Ing berpendapat lain. Berpuluh tahun sudah, dia tak pernah berkunjung keselatan. Kini dia sudah lanjut usianya, mungkin tak ada kesempatan lagi. Maka mumpung berada didaerah selatan, dia akan berkunjung kegereja Siao Lim Si di propinsi Hokkian. Akan disambanginya Suheng dan Suteduanya yang masih berada di tempat perguruan itu.
“Siao Lim Si adalah merupakan bintang Cemerlang dunia persilatan. Alangkah baiknya kalau Ciu-Locianpwe dapat mengikat perhubungan dengan mereka. Kelak dalam gerakan kita, kalau fihak Siao Lim Si suka keluar membantu, itulah suatu berkah besar bagi rakyat semua,” kata Keh Lok.
Dengan mengajak isteri, kedua muridnya: Kian Hiong dan Kian Kong, Tiong Ing menuju keselatan. Sebelum berpisah, Ciu-naynay pesan anak perempuannya, supaya merobah tingkah lakunya yang jelek, karena kini sudah menjadi isteri orang.
“Tapi bagaimana kalau dia menghina aku?” tanya Ciu Ki sembari jebikan bibir pada suaminya.
“Kalau kau berlaku baik-baik , masa dia mau menghina padamu,” ujar sang ibu.
Sebenarnya ingin Ciu Ki menanyakan Lou Ping, apakah setelah pakaiannya dipindah dimuka pintu oleh si “peaCuri” kemaren malam itu, hasiat itu' masih berpengaruh atau tidak. Tapi ia sungkan. Maka sewaktu kedua orang tuanya akan pergi, Ciu Ki menepes air mata.
“Adikmu itu adathja aleman, suka sembrono. Kau jangan ladeni. Kalau ia Cari setori, jangan hiraukan, biar besok aku yang mendampratnya,” pesan Tiong Ing kepada menantu nya.
“Ayah, kau eloni dia, ja? Apa mesti aku saja yang salah?” Ciu Kiu tidak puas.
Tiong Ing tak mau ladeni. Begitu naik keatas kuda, dia segera memberi hormat pada Tan Keh Lok dan Bun Thay Lay, terus menuju keselatan.
Rombongan Keh Lok yang terdiri dari Bun Thay Lay, Lou Ping, Ciang Cin, Hi Tong, Thian Hong, Ciu Ki dan Sim Hi menuju keutara. Setelah melalui kotadua Hauw-hong, An-kit, Lok-yang, sampailah mereka ke Kim-leng. Sewaktu menye berang sungai Hoangho, Bun Thay Lay sudah sembuh sama sekali, sedang Hi Tong pun sudah banyak sekali baikan.
Makin keutara, hawanya makin dingin. Pohondua sama laju, menandakan permulaan musim rontok. Hari itu mereka tiba dikota Khay-hong. Disitu mereka membikin kunjungan kepada Pian-liang-tayhiap Bwe Liang Bing, seorang gagah budiman. Setelah bermalam semalam, mereka lanjutkan perjalanan lagi. Bwe Liang Bing memberkahi pakaian kapas yang tebal. Karena sudah sembuh, Hi Tong dapat naik kuda sendiri.
Begitulah kedelapan orang itu keprak kudanya disepan jang luar kota. Kuda putih Bun Thay Lay paling istimewa larinya. Bagaikan angin pesatnya, dia sudah lari mendahului sejarak lima puluh li. Sampai disebuah kota kecil, dia segera masuk kesebuah rumah makan dan pesan disediakan hidangan untuk delapan orang. Sambil mengasoh dia pesut keringat dan debu dimukanya dengan saputangan.
Tiba-tiba disebelah timur rumah makan tampak ada sebuah bayangan orang berkelebat. Lakunya seperti orang mengintai. Begitu melihat Bun Thay Lay, terus menyusup balik. Bun Thay Lay Curiga, tapi dia pura-pura tak mengetahuinya. Malah dia ambil tempat duduk dengan membelakanginya, dan meminum tehnya.
Berselang berapa lama, baru kelihatan rombongan Tan Keh Lok datang. Setelah sama berkumpul, Bun Thay Lay mengi siki Kawan-kawan nya tentang siorang yang mencurigakan tadi. Berpaling kearah kamar sebelah timur, Thian Hong Cepat-cepat mengetahui bahwa kertas jendela sebelah sana itu, tampak basah. Sepasang biji mata jelas mengawasi rombongan Tan Keh Lok itu dengan tajam. Begitu Thian Hong meman dangnya, orang itu Cepat-cepat menarik diri menghilang.
“Itulah seorang sahabat Kangouw yang masih hijau, jadi tak tahu aturan. Biarkan saja, nanti tentu ketahuan juga,” bisik Thian Hong dengan tertawa.
“Orang macam itu, juga ingin masuk kangouw. Tapi agaknya dia sedang meng-amatduai kita,” kata Lou Ping.
“Coba lihat dia, kalau memang bermaksud minta derma, nanti kita bantu dia,” Keh Lok menyuruh.
Sim Hi Cepat-cepat bangun menuju kesebelah ruangan timur.
“Semua air didunia sama sumbernya, bunga merah (hong hwa) dan daun hijau adalah sekeluarga!” Sim Hi berteriak sekeras-kerasnya.
Itulah pertandaan kaum HONG HWA HWE untuk menanyakan kawan. Semua partai dan Cabang persilatan dikangouw, telah mengeluarkan ikrar saling bantu apabila mendapat kesukaran. Sekalipun bukan Anggota HONG HWA HWE, asal mengerti tanda itu, harus menyawab, misalnya, kalau keputusan uang, orang itu bisa menyawab begini: “Siaote adalah dari partai anu, dibawah ketua anu. Akan minta bantuan pada saudara.”
Tapi ternyata dari kamar itu tak ada jawaban apa-apa, hingga Sim Hi perlu mengulangi lagi. Tiba-tiba pintu terdorong terbuka, dan seorang berpakaian hitam muncul. Topinya yang lebar, menutup hampir separoh mukanya.
“Tolong berikan ini pada Sip-suya,” kata orang itu seraya angsurkan sebuah gulungan kertas.
Sim Hi Cepat-cepat berikan kertas itu pada Hi Tong. Ketika dibuka, kertas itu berisi tujuh buah kata: “Tak menghiraukan ribuan li untuk mengikuti tuan.”
Tulisannya rapih dan bagus. Tahulah Hi Tong itu dari Wan Ci. Ternyata nona itu diam-diam mengikuti perjalanannya. Dengan kerutkan jidat, Hi Tong serahkan kertas itu kepada Tan Keh Lok. Keh Lok tak mengetahui maksudnya. Dia nantikan penyelasan sianak muda.
“Orang itu tak jelas maksudnya, tentu ia menunggu di jalan yang akan kita lalui. Lebih baik aku ambil jalan air saja, menghindarinya. Kita nanti berjumpa lagi dikota Tong-kwan,” kata Hi Tong kemudian.
“Dengan kita berkumpul bersama-sama , mengapa kau merasa jeri? Biar dia bagaimana lihainya pun, kita juga akan menempurnya,” Ciang Cin mulai aseran.
“Bukannya takut, tapi aku memang tak ingin jumpakan dia,” sahut Hi Tong.
“Kita beri hajaran saja, supaya dia jangan berani menguntit. Siapa sih orang yang tak tahu selatan itu?” Ciang Cin mendesak.
Hi Tong kewalahan, tak dapat menyawab. Tahulah Tan Keh Lok bahwa Sipsutenya itu mempunyai suatu rahasia yang tak leluasa dikatakan.
“Kalau Sipsute menghendaki naik perahu, baiklah. Tapi harap baik-baik menjaga diri. Ayo, Sim Hi, ikutlah sama Sip-suya!” kata Keh Lok.
Dimulut kacung itu mengiakan, tapi hatinya menggerutu. Naik kuda lebih menggembirakan dari pada menyikap diri dalam perahu. Hi Tong tahu sikap anak itu, dia nyatakan akan pergi sendiri saja, alasannya dia toh sudah sembuh, tak perlu pembantu.
Dengan diantar oleh rombongannya, Hi Tong sewa sebuah perahu, menuju ke Tongkwan. Begitupun Tan Keh Lok cs. melanjutkan perjalanannya lagi dengan kuda. Ciang Cin tak puas dengan sikap Hi Tong tadi, seperti SiuCay mang kak, katanya.
“Karena mukanya rusak, Sipsute senantiasa masgul, jadi adatnya pun aneh. Baik kita jangan. bikin keCewa dia,” kata Lou Ping.
“Tempo dikota Bunkong, kabarnya dia bergaul dengan seorang nona, tapi entah bagaimana dia lalu pergi ke Hang-Ciu dengan tiba-tiba,” Ciu Ki tambahkan.
“Dia sih memang begitu, tentu tersangkut urusan perempuan. Kalau tidak, masa dia mau menyingkir,” kata Ciang Cin pula.
“Sipte!” bentak Bun Thay Lay tiba-tiba kurang senang.
Setelah beberapa hari naik perahu, dan Wan Ci tak kelihatan bayangannya, barulah lega hati Hi Tong. Hari itu hampir mendekati kota BengCin. CuaCa sudah gelap. Karena ombaknya besar, tukang perahu tak berani berlajar. Terpaksa perahu berhenti disebuah tempat yang sunyi.
Malam itu Hi Tong tak dapat tidur nyenyak. Tampak rembulan bersinar bundar, mengirim Cahajanya kepermuka an air. Kesemsam dengan pemandangan alam purnama, Hi
Tong bangun. Disembatnya sang seruling, terus dialunkannya sebuah lagu.
Penderitaan hidupnya selama itu, diCurahkan dalam rajuan seruling. Makin meniup, makin menggelora.
Tepat sedangnya dia tengah dilamun lagu. Curahan kal bunya itu, tiba-tiba ada seorang berseru: “Suling yang merdu!”
Bahna kaget, secepat-cepat itu suling dilepasnya, lalu Hi Tong berpaling kebelakang.
Dibawah Cahaja rembulan, tampak tiga orang mendatangi. Begitu dekat, salah seorang lantas berkata: “Kami kesasar jalan, dalam kebingungan, tergeraklah hati kami mendengar suara merdu dari seruling saudara itu. Harap jangan kuatir.”
Atas kata-kata orang yang beraturan itu Hi Tong burus terbangkit dan menyahut: “Dalam belantara yang sunyi lelap ini, Siaote hiburkan diri meniup seruling. Mungkin tak keruan lagunya.”
Bertiga orang asing itu, ketarik dengan kata-kata Hi Tong yang sopan itu. Mereka terus menghampiri.
“Kalau sekiranya suka, silakan duduk diperahu Siaote ini”, kata Hi Tong.
“Bagus, bagus!” kata orang-orang itu.
Begitu dekat dipantai, ketiga orang itu segera enjot tubuhnya, dan dengan lemah gemulai mereka sudah inyak kan kakinya di atas perahu. Hi Tong terkesiap kaget.
“Terang orang-orang ini pandai silat. Entah siapa mereka itu. Baik kuberlaku hati-hati”, diam-diam Hi Tong berkata dalam hati.
Berlaga seperti tak mengetahui apa-apa, Hi Tong pegang tepi perahu dengan sepasang tangannya, seperti orang yang ketakutan kalaudua jatuh kedalam air. Orang yang pertama, bertubuh tinggi besar, memakai jubah kapas, sikapnya seperti seorang hartawan desa.
Orang yang kedua bermuka brewok, mukanya kehitam-hitaman. Orang yang ketiga, mengenakan pakaian orang Mongol. Separah tubuhnya diselimuti dengan kain bulu kambing. Gerak annya tangkas dan gesit sekalli. Ketiganya sama membawa pauwhok dan senjata.
Kuatir kalau serulingnya menarik perhatian orang, siang Hi Tong sudah menyimpannya. Dia bangunkan tukang perahu, untuk panasi arak dan sediakan makanan. Sebaliknya situkang perahu menjadi murang-muring karena tengah malam masa ada orang mertamu. Tapi karena Hi Tong selama dalam perjalanan itu berlaku royal, apa boleh buat, dia turut saja perintah penyewanya itu.
“Tengah malam kita mengganggu, harap maafkan,” si orang tinggi besar berkata.
“Diempat penyuru, semua orang bersaudara. Mengapa mesti mengucap begitu?” balas Hi Tong.
Tahu kalau Hi Tong suka menyiter pepatahdua kuno, berta nyalah orang itu pula: “Mohon tanya saudara punya nama?”
“Siaote orang she Ie, nama Bing Thong, asal dari Kim-leng. Meskipun bernama “thong” (mengetahui), tapi sebe tulnya bebal, tak punya guna apa-apa. Dalam ujian, telah menemui kegagalan, sungguh Celaka,” sahut Hi Thong.
“Aha, kiranya seorang SiuCay, sungguh kita berlaku kurang hormat,” ujar orang-orang itu.
“Sejak gagal ujian, kemalangan selalu mengejar Siaote. Keluargaku diperas orang, rumah dibakar. Sehingga bukan saja harta benda ludas, sedang wajahkupun turut rusak begini. Karena terpaksa, kuingin pergi ketempat seorang keluarga di Kamsiok. Ah, nasib, nasib,” kata Hi Tong pula.
Kata-kata itu membuat kedua tetamunya itu ter-longgongdua. Orang yang sikapnya seperti hartawan desa itu, agaknya pernah bersekolah. Katanya: “Hal itu tak usah terlalu saudara dukakan.”
“Mohon tanya nama yang mulia dari kalian,” tanya Hi Tong.
“Siaote orang she Thing,” sahut sihartawan tadi. Menun juk kepada sibrewok katanya pula: “Dan ini she Ku.”
“Ini, she Hap, orang Mongol,” katanya pula sembari me nunyuk kearah orang yang . berpakaian seperti orang Mongol tadi.
Kepada mereka bertiga, Hi Tong satu persatu memberi hormat. Siorang she Thing, agak geli melihat lagak-lagu Hi Tong yang dikiranya seorang anak sekolahan yang mabuk peradatan. Sebaliknya mendengar tekukan lidah orang seperti orang dari Liaotang, diam-diam Hi Tong ingin mengetahui
nya kawan atau lawankah mereka itu. Kalau mereka itu golongan orang gagah dari kangouw, dapatlah kiranya di ajak menjadi kawan serekat.
“Tengah malam kalian masih mengadakan perjalanan, bukankah hal itu berbahaya?” Hi Tong Coba panCing keterangan.
“Apa yang kau maksudkan dengan bahaya itu?” tanya siorang she Thing.
“Dijalan banyak sekali gangguan, banyak sekali penjamun, perampok. Sungguh berbahaya,” kata Hi Tong seraya meng-gelengduakan kepalanya.
Kini giliran siorang she Ku dan she Hap, yang tertawa ter-bahakdua. Saat itu, situkang perahu sudah menghidangkan arak dan sajuran. Tanpa sungkandua lagi, ketiga orang itu segera dahar hidangan itu.
“Saudara ahli sekali meniup seruling. Apakah suka memainkan lagi?” tanya siorang she Thing.
Takut kalau serulingnya emas menarik perhatian orang, Hi Tong menolak dengan halus.
“Kalau begitu, biar aku saja yang meniupnya,” kata siorang she Hap.
Habis berkata itu, dia mengambil keluar sebatang tanduk kambing yang tersalut perak. Dengan berdiri, ditiupnya 'seruling' itu. Begitu meraju lagu yang dibawa seruling orang Mongol itu, sehingga menyajat hati Hi Tong. Itulah lagu “padang rumput tertiup angin, muncullah binatang yang kugembalakan.” Diam-diam Hi Tong menCatat lagu itu dalam hatinya.
Habis minum, ketiga orang itu menghaturkan terima kasih dan minta diri.
“Kalau tidak keberatan, silakan bermalam dalam perahu ini. Besok saja kalian teruskan perjalanan lagi,” Hi Tong meminta.
“Terima kasih, baiklah,” sahut siorang she Thing.
Hi Tong tidur dalam ruang perahu. Sementara bertiga orang tanpa membuka pakaian lagi, terus baringkan diri dihaluan perahu. Sesaat kemudian, Hi Tong pura-pura menggeros. Dia Coba akan mencuri dengar pembicaraan orang.
Maka terdengarlah kata siorang she Thing tadi: “SiuCay ini meskipun buruk rupanya, tapi hatinya baik.”
“Anggap saja dia mempunyai peruntungan baik,” kata siorang she Ku.
“Apakah besok kita dapat tiba di Lokyang?” tanya siorang Mongol.
“Setelah melintasi sungai, kita Cari kuda. Mungkin bisa,” jawab yang she Thing.
“Hanya yang kvikuatirkan kalau Han-toako tidak dirumah, kan kita sia-siasaja,” kata si Ku pula.
“Kalau tak dapat menyumpainya, kita pergi ke Thayouw untuk mengobrak-abrik sarangnya Hong Hwa Hwe,” seru siorang Mongol.
“Sssttt, jangan keras-keras?” si Thing mencegahnya.
Bukan main terkejutnya Hi Tong. Kiranya mereka adalah musuh HONG HWA HWE Yang dimaksud dengan Han-toako itu, tentu Han Bun Tiong, itu piauwsu dari Tin Wan piauwkiok. Pura-pura dia teruskan menggeros, sembari pasang telinga lebih tajam.
“HONG HWA HWE mempunyai banyak sekali jago yang lihai. Lotangkeh mereka sudah meninggal, tapi penggantinya, Tongthocunya yang baru, kabarnya lihai sekali. Disini bukan daerah Kwan-tang, Lo Su (keempat), kau jangan bicara sembarangan,” kedengaran lagi si Thing berkata.
“Kita Kwantang Liok Mo (enam iblis dari Kwantang) malang melintang didaerah Kwangwa. Orang kangouw mana yang tidak gentar mendengar nama kita? Tapi sungguh keCewa Lo Sam, Lo Ngo dan Lo Liok telah dibunuh orang secara menggelap. Kalau dendam ini tak terbalas, kita bersumpah tak mau jadi orang lagi,” siorang she Ku berkata dengan murkanya.
“Ah, kiranya Keenam Iblis Kwantang. Sam-mo Ciao Bun Ki telah dibinasakan oleh Liok-supeh. Ngo Mo — iblis kelima —s Giam Se Gui dan Liok Mo — iblis keenam — Giam Se Ciang, mati dibunuh orang Ui. Mengapa mereka hendak membalas pada HONG HWA HWE?” tanya Hi Tong pada dirinya sendiri.
Toa Mo — iblis pertama — dari Kwantang Liok Mo, adalah orang she Thing tersebut. Namanya It Lui. Dia seorang hartawan besar dari Liao-tang. Kekajaannya berlimpahdua, karena dia memiliki kebun kolesom, peternakan dan parit emas.
Iblis nomor dua, adalah seorang pembega! kuda yang kesohor, jakni siorang she Ku, namanya Kim Piauw, Su Mo — iblis nomor empat — ialah siorang Mongol itu sendiri. Hap-haytai. Dia kelahiran Mongolia, mengembara diwilayah Kwantang, juga menjadi pembegal kuda.
Ketika berada di Liaotang, mereka dengar kabar bahwa sewaktu Ciao Bun Ki diutus menCari seorang Kongiju yang diCulik oleh HONG HWA HWE, kena dibunuh orang di Siamsay. Peristiwa itu baru ketahuan setelah berselang beberapa tahun kemudian.
Setelah menerima surat dari Han Bun Tiong, Sute dari Ciao Bun Ki, ketiga orang itu marah besar. Sengaja mereka datang dari Liao-tang untuk menCari balas pada HONG HWA HWE Setiba di Pakkhia, kembali mereka mendapat berita yang makin meledakkan dada mereka bahwa kedua saudara Giam dibunuh orang. Karena itu, bergegas-gegas ketiganya menuju ke Lokyang untuk menCari keterangan pada Han Bun Tiong. Secara kebetulan, mereka berjumpa dengan Hi Tong, yang disangkanya seorang SiuCay lemah itu.
Habis mengobrol, mereka lalu tidur. Sebaliknya Hi Tong tak tenang, hampir fajar baru dia dapat tidur. Tapi baru sejenak dia pulas, tiba-tiba sudah dikejutkan dengan suara hiruk-pikuk orang ber-serudua. Cepat-cepat Hi Tong bangun terus disembatnya kim-tiok, lalu keluar.
Ternyata ada beratus perahu besar ber-dujundua mendatangi. Perahu besar yang berada disebelah muka sendiri, terpan cang sebuah panyi bertuliskan “Ceng-Se-TayCiangkun” itu adalah perahudua ransum untuk TayCiangkun yang memerangi daerah barat.
Dibelakang perahu besar itu, mengikut berpuluh-puluhdua perahu kecil. Berisi barangdua rampasan pembesardua pasukan Ceng disepanjang sungai itu. Melihat gelagat kurang baik, tukang perahu Hi Tong hendak menyingkir. Tapi secepat-cepat itu tiba-tiba ada enam atau tujuh orang serdadu Ceng loncat kedalam perahu kecil itu.
Hi Tong masih dapat mengendalikan diri. Memang bangsa serdadu macam itu tak punya lain guna keCuali menindas rakyat jelata. Tidak demikian dengan Haphaptai, siorang Mongol. Begitu marah dia saat itu, hingga akan melabraknya. Tapi It Lui Buru-buru mencegahnya.
Memeriksa kedalam ruang perahu, kawanan serdadu itu nampak Hi Tong yang dandanannya seperti seorang SiuCay. Agak berobah sikap serdadudua itu. Mereka menanyakan diri ketiga Kwantang Liok Mo itu.
“Kita akan ke Lokyang meninyau famili,” menerangkan It Lui.
“Kamu bertiga duduk diburitan sana, sebelah sini kosongkan saja,” salah seorang serdadu kedengaran memerintah.
Dengan mata melotot Haphaptai maju selangkah, terus akan gerakkan tangannya.
“Lo Su, mau apa kau itu!” Buru-buru It Lui membentak.
Haphaptai tahan kemarahannya. Dia bersama Hi Tong menuju kebagian muka.
“Kawanan serdadu itu menghampiri tepi dek perahu, lalu menyambuti beberapa orang kawannya lagi dari sebuah perahu lain.
“Gian-loya, perahu ini lebih bersih, kau orang tua penuju apa tidak?” kedengaran seorang serdadu berseru.
Yang disebut Gian-loya itu, muncul dari haluan perahu, mengawasi sebentar, lalu berkata: “Ya, inilah !”
Lalu duduklah ia diruangan perahu. Hi Tong melirik pada Gian-loya tersebut. Seketika hatinya memukul keras. Kiranya si Gian-loya itu bukan lain adalah Gian Pek Kian, itu piauwsu yang ikut datang ke Thiat-tan-Hung untuk menangkap Bun Thay Lay dulu. Dia adalah Ciang-bun-jien dari Cabang persilatan keluarga Gian di TienCiu propinsi Ouwlam. Se jak sebelah matanya buta termakan panah seruling Hi Tong tempo hari, baru sekarang sembuh dan muncul lagi. Dia membawa seorang Sute dan dua orang murid. Kini dia Coba bekerja pada jenderal Tiau Hwi untuk mendirikan jasa.
Sesampai di BengCiu, perahudua berhenti. It Lui dan kedua Sutenya terus akan naik kedarat. Tapi dilarang oleh kawanan serdadu itu. Kata mereka, perahudua itu sedang bertugas mengangkut ransum, jadi penumpangdua tak boleh sembarangan naik turun perahu. Karena kalau sampai terjadi apa-apa dengan ransum itu, mereka tentu mendapat hukuman potong kepala.
It Lui berunding dengan kedua sutenya. Mereka bersepakat, nanti sesudah hari gelap, mereka akan melarikan diri dengan diam-diam.
Meskipun mata Gian Pek Kian tinggal satu, tapi luar biasa tajamnya, melihat gerak-gerik Hi Tong, timbullah ke Curigaannya. Makin mendalam keCurigaannya itu, karena nampak muka anak muda itu dibalut dengan kain. Pura-pura dia menghampiri buritan perahu, untuk ber-Cakapdua dengan It Lui. Tiba-tiba tubuhnya miring, seperti terpeleset mau jatuh. Tangannya ber-gerak-gerak keatas dan sekonyong-konyong terus menya wut kain pembalut muka Hi Tong, lalu ditariknya. Juteru pada saat itu, karena mengira orang akan menubruknya, Ku Kiem Piauw ulurkan sebelah tangannya, menepuk pundak she Gian itu. Keruan saja, yang tersebut belakangan itu Cepat-cepat tarik mundur tubuhnya, untuk menghindar. Masing-masing mengetahui, bahwa keduanya mempunyai kepandaian yang tangguh. Mereka (Pek Kian dan Kim Piauw) saling memandang.
Tapi orang she Gian itu tak pedulikan Kim Piauw, secepat-cepat kilat dia memandang kemuka Hi Tong. Dia kaget tak terhingga. Muka yang begitu buruk dan menakutkan itu terang bukan sipemuda yang telah memanah buta matanya.
“Tadi perahunya oleng, aku terhujung. Harap maafkan,” katanya sambil menyerahkan kembali kain pembalut itu kepada sianak muda. Hi Tong menyambutinya tertawa lebar.
“Mukaku begini buruk, tak boleh dipandang orang. Kau tidak takut bukan?” katanya.
Dengar nada ucapannya, kembali hati Pek Kian tergon cang . Namun kalau menilik mukanya, dia tak berCuriga lagi. Berpaling kearah Kim Piauw, berkata dia: “Laohia kiranya seorang sahabat kangouw, silakan masuk.”
It Lui bertiga tak mau main sembunyi lagi, lebih dulu dia tanyakan nama orang. Demi diketahuinya mereka berhadapan dengan Ciang-bun-jin dari Cabang Gian-keh-kun di Tien-Ciu, merekapun lalu menyebutkan namanya sendiri.
Gian Pek Kian membawa seorang Sute, Phang Sam Jun namanya, orang dari Gakyang wilayah Ouwlam. Kelima orang itu bicara dengan uplek sekali. Peristiwa dikalangan persilatan daerah Kwan-gwa, menjadi bahan pembicaraan mereka. Karena asjiknya, Hi Tong se-olahdua dilupakan begitu saja.
Dua fihak yang memusuhi kaumnya saling bertemu, sedang dirinya hanya seorang diri. Hal itu, membuat Hi Tong kuatir. Sebenarnya sejak mukanya menjadi rusak, Hi Tong menjadi seorang yang tak pedulian lagi. Tapi ketika kini berhadapan dengan musuhduanya, timbullah semangatnya lagi. Seorang diri, dia pura-pura hafalkan bahandua ujian SiuCay. La gaknya seperti seorang pelajar yang ke-giladuaan dengan pe lajaranya. Suaranya sengaja dibikin se-lantangduanya. Tapi dalam pada itu, dia sebenarnya sedang pasang telinga, mendengari pembicaraan mereka.
Pek Kian sebal mendengar suara sisiuCay itu, kini keCu rigaannya makin lenyap. Waktu makan malam, Hie Tong mengeluarkan arak untuk menjamu mereka. Pek Kian me nguCap beberapa patah kata terima kasih, dan Hi Tong menyawabnya dengan kata-kata yang halus penuh dengan ulasan, sehingga membuat mereka tak dapat mengerti artinya. Mereka tak mau ambil mumet akan si “siuCay” itu, terus melanjutkan pembicaraannya lagi dengan gembira.
Atas pertanyaan Pek Kian, It Lui menerangkan bahwa kedatangannya ke Lokyang itu adalah untuk mehinyau sahabat. Sewaktu pembicaraan beralih tentang keadaan Ca bang persilatan didaerah selatan, tiba-tiba Haphaptai mengemukakan hal perkumpulan HONG HWA HWE
Demi mendengar itu, wajah Pek Kian berobah. Kemudian ditanyakannya tokoh HONG HWA HWE yang manakah dikenal mereka itu. Dengan tenang, It Lui menyahut tak seorangpun yang dikenalnya. Juga soal pembalasan sakit hati, tidak dise butnya.
Terang kedua fihak, saling Curiga. Takut mereka kalaudua fihak lawan bicaranya itu mempunyai hubungan baik dengan kaum HONG HWA HWE Justeru karena saling berprasangka, maka pembicaraan mereka tak seriang seperti tadi.
Selesai dahar, It Lui bertiga ajak Hi Tong mengasoh di buritan (bagian muka perahu). Selama tidur itu, Hi Tong tak mau lepas pakaiannya. Seruling emasnya, disembunyikan dalam bajunya. Sekira pukul dua malam, tiba-tiba kedengaran Haphaptai berkata: “Toako, Ayo kita pergi!”
“Sssst, baik, jangan berisik, nanti membikin bangun Siu Cay itu,” sahut It Lui bisik-.
Ber-indapdua ketiganya bangkit. Tiba-tiba dihaluan perahu sana terdengar ada orang berjalan, ada pula seorang yang berbangku. Dan pada lain saat, kedengaran air sungai beriak. Kiranya, ada orang tengah membasuh tangannya.
It Lui bertiga rebahkan diri lagi. Berselang beberapa saat, tiba-tiba disebuah perahu didekat situ, terdengar jeritan orang. Dalam suasana malam yang sunyi itu, jeritan itu sangat mengerikan.
“Tolong, tolong!” tiba-tiba kedengaran suara jeritan seorang wanita.
Hi Tong tersirap darahnya. Tahu dia bahwa disebelah sana, kawanan serdadu itu tentu sedang berbuat haldua yang tak senonoh. Mau dia seketika itu menolongnya, tapi ketika teringat bahwa kekuatannya tentara Ceng disitu sangat besar, dan kedua kalinya dia tengah dikelilingi oleh musuhdua yang tangguh, kalau sampai dirinya ketahuan, tentu berarti mengundang' bahaya. Dia Coba berusaha untuk menindas hati nu^aninya. Telinganya ditutupnya rapat-rapat dengan selimut. Namun sesaat itu, kembali wanita diperahu itu kedengaran berseru dengan meratap: “Cong-ya, berbuatlah kebaikan, kasihanilah kami orang!”
Menyusul seorang anak kecil menjerit seraya menangis: “Mamah, mamah!”
Berontaklah hati Hi Tong. Cepat-cepat dia bangun dan mendengarkan dengan jelas. Ternyata lagi-lagi perempuan itu tengah meratap-ratap, sedang seorang serdadu Ceng kedengaran menghardiknya dengan kasar : “Kalau kau tak menurut, anak ini akan ku bunuh dulu!”
Dalam ratap tangis perempuan itu, terdengarlah gelak tertawa dari beberapa serdadu. Mungkin sianak kecil tadi sudah dihabisi nyawanya.
Hi Tong bukan si Kim-tiok-siuCay, kalau dia tinggal diam saja. Tanpa hiraukan keselamatannya lagi, dia segera me
nuju ketepi perahu. Ternyata ketiga Kwantong Liok Mo tadipun mendengar juga kejadian tersebut. Malah Haptaptai segera mengajak Suhengduanya menengok.
“Lo Su, jangan usil. Orang she Gian dan Sutenya itu pandai ilmu menotok. Kalau mereka sekaum dengan orang HONG HWA HWE, kita pasti akan ..................”.
Hi Tong tak mau mendengari habis ucapan mereka itu. Sekali enjot, tubuhnya sudah berada di perahu sebelah sana. Betapa kaget It Lui bertiga, sukar dilukiskan. Dengan memberi isyarat tangan, It Lui ajak kedua saudaranya untuk membuntuti gerak-gerik sisiuCay itu.
Juga Pek Kian dan Sam Jun sudah sedari tadi terbangun. Keduanya pun tak kurang terkejutnya. Dengan me nyembat senjata, mereka naik keatas dek untuk mengawasi.
Tatkala dibagian belakang perahu tak ada orangnya, Hi Tong melongok kebawah dari ruangan perahu yang terletak ditengah itu. Diantara Cahaja lilin yang terang benderang, tujuh “atau delapan orang serdadu Ceng tengah merejeng dua orang wanita.
Yang seorang berjongkok dilantai perahu, meratapdua minta dikasihani. Sedang wanita yang satunya tengah bergemetaran mempeluk seorang anak kecil. Dilantai itu bergelimpangan beberapa orang lelaki yang sudah menjadi majat. Beberapa tas pakaian berserakdua isinya, pakaiandua dan uang perak.
Terang kalau kawanan serdadu itu dengan kedok mengangkut rangsum, ternyata hanya main rampas perahudua orang. Penumpangnya dibunuh, hartanya dirampas. Kejamnya melebihi kawanan bajak.
Kemarahan Hi Tong sudah sampai dipunCaknya. Baru dia hendak loncat turun, tiba-tiba dari belakang Haphaptai kedengaran berkata: “Lotoa, tak dapat aku tinggal diam.”
“Yangan!” bentak It Lui.
Pada saat itu, seorang serdadu berhasil merebut anak kecil dari pelukan perempuan tadi. Dengan buasnya, anak itu dibantingnya kelantai............... pecahlah kepala sianak itu.
Dua orang serdadu tertawa buas.
“Biarlah LoCu HONG HWA HWE diatas menjadi saksi. Hari ini TeCu Ie Hi Tong akan buang jiwa menolong orang. Mohon diberkahi...............”
Demikian mendoa, Hi Tong terus loncat kedalam ruangan perahu tersebut. Kaki menendang, tangan menotok, kedua serdadu itu roboh. Marah sekali Hi Tong saat itu. Dia tak mau memberi ampun lagi. Sedang serdadudua melongongdua kesima sebelah tangan Hi Tong telah dapat memelintir batang leher seorang serdadu lagi. Begitu siserdadu men jerit kesakitan, goloknya sudah dirampas Hi Tong, terus dibabatkan pada paha lain serdadu. Kawan-kawan serdadu itu Coba menyerang, namun Hi Tong sudah terlanyur melampiaskan kemarahannya.
Benar dalam permainan golok, dia kurang paham. Tapi kawanan serdadu yang tak berguna itu mana dapat melawan si Kim-tiok-siuCay. Dalam beberapa gebrak saja, kembali ada dua orang serdadu roboh, dan seorang yang ditendang mati. Masih tinggal dua serdadu yang masih hidup, Cepat-cepat loncat lari keluar. Tapi......... Plung......... plung.........
Dua-duanya disanggapi dengan kaki Haphaptai, keCemplung kedalam sungai. Hi Tong bangunkan kedua wanita tadi.
“Lekas lari kedaratan sana!” katanya.
Tapi saking takutnya, kedua perempuan itu berdiri tegak seperti patung saja. Pada saat itu, dari beberapa perahu terdengar ada orang menanyakan.
Haphaptai masuk kedalam ruang perahu tersebut seraya memuji: “SiuCay lihai, bagus, bagus !”
Dia menuju kehaluan, dengan galah didajungnya perahu itu ketepian. Melihat disekeliling situ penuh dengan perahudua tentara Ceng, tahulah Hi Tong kalau dengan d jalan diair, tentu sukar meloloskan diri. Dia harus bertindak Cepat-cepat . Mengempit salah seorang dari perempuan itu, dia loncat kedarat. Dan tanpa diminta, Haphaptai pun mendukung yang seorang untuk dibawanya kedarat.
Tatkala itu, serdadudua Ceng yang berseru menegur tadi, makin menggencar. Kim Piauw sudah siap dengan 'lak-houw-jah' (semacam senjata garpu untuk berburu harimau). Dia berdiri dipinggiran perahu. Sedang It Lui tampak memegang ujung perahu yang penuh majat serdadu tadi, dengan kedua tangannya. Sekali berseru, perahu bernoda itu, terbalik.
Majatdua dan barangdua dalam perahu itu, berhamburan tenggelam kedalam sungai.
“Orang itu luar biasa tenaganya!” diam-diam Hi Tong menaruh perhatian.
Sedang serdadudua Ceng itu ramaidua memeriksa perahu yang terbalik itu, keempat orang tadi melenyapkan diri dalam kegelapan dengan membawa kedua perempuan yang malang tadi.
Hi Tong lari kedalam sebuah gerombolan pohon yang lebat dan gelap, setelah dilihatnya tak ada tentara Ceng menge jar, barulah dia berhenti untuk menanyai perempuan itu, mengapa sampai jatuh ditangan kawanan serdadu itu.
Semangat perempuan itu belum kembali. Dengan berlutut, ia menganggukkan kepalanya kepada Hi Tong, tanpa berkata apa-apa.
“Sekarang kau sudah lolos dari bahaya. Baik bersembunyi dulu disini. Besok pagi kau boleh berangkat lagi dengan naik perahuku itu,” kata Hi Tong. Kemudian ia berpaling kebe lakang dan berseru kepada It Lui bertiga: “Sam-wi toako, banyak sekali terima kasih atas bantuanmu. Siaote akan minta diri.”
Tanpa menunggu jawaban orang, dia terus membalik badan akan berlalu. Tapi baru saja melangkah tiga tindak, tiba-tiba dari tempat gelap disebelah muka ada orang memben tak dengan, suara dingin: “Ie-sipsuya, jangan ter-gesadua dulu !”
Hi Tong terkesiap mundur selangkah. Sebuah bayangan hitam muncul. Itulah Gian Pek Kian, musuhnya lama. Di-belakangnya mengikut Sutenya, Phang Sam Jun. Orang she Phang ini, kedua tangannya memegang toja 'sam-Ciat-kun'. Dia tegak berdiri mengawasi dengan tajam, menjaga kalaudua Hi Tong melarikan diri.
Saat itu It Lui bertiga dengan perempuan tadipun sudah mendatangi. Melihat Gian Pek Kian berada disitu, dia merasa heran.
“Lain kali saja kita bertemu lagi!” seru Hi Tong seraya rangkapkan kedua tangan memberi hormat. Habis itu dia loncat menyelinap diantara It Lui dan Kim Piauw.
Sekali Sam Jun kibaskan sebelah tangannya, tojanya 'sam-Ciat-kun' menyapu kaki Hi Tong. Dengan gerak “Li-yau-liong-bun” atau ikan lele meloncat kegerbang naga, Hi Tong loncat keatas. Begitu kakinya menginyak tanah lagi, dia enjot tubuhnya melompat pergi beberapa tombak ja-uhnya.
Karena luput mengenai sasarannya, sam-Ciat-kun berbalik menyapu paha Kim Piauw. Buru-buru Sam Jun membuangnya kesamping, terus dijuruskan untuk menotok punggung Hi Tong.
Hi Tong terus maju kemuka untuk menghindar. Dia tetap tak membalas, hanya menCari lobang meloloskan diri. Tiba-tiba ada angin menyamber keras, dan diantara kegelapan ada sinar putih berkelebat. Ternyata dua buah golok mema-paki menabas dari muka. Kiranya itulah kedua murid dari Pek Kian, yaitu Song Thian Po dan Ka Thian Seng.
Diserang dari tiga jurusan, Hi Tong tak berdaya menghindar. Terpaksa dia Cabut kim-tioknya untuk menangkis serangan kedua golok itu.
Sam Jun akan maju menyerang lagi, tapi tiba-tiba Haphap-tai yang sedari tadi mengawasi dipinggir, membentak gusar: “Henam, tiga mengerubuti satu, macam aturan apa itu!”
Sam. Jun melengak. Tapi secepat-cepat kilat, tangan Haphaptai sudah diulur untuk menangkap ujung sam-Ciat-kun, terus ditariknya. Sam Jun Cepat-cepat menahannya, hingga keduanya saling tarikduaan.
Sam Jun maju selangkah. Tangan kiri digeser ketengah batang sam-Ciat-kun. Sedang tangannya kanan dilepaskan, secepat-cepat kilat diputar menghantam pundak kiri lawan. Itulah salah suatu jurus permainan sam-Ciat-kun yang berba-haja, namanya — kim liong Pai thauw — naga mas kibaskan kepala.
Tak sempat menjaga, dalam kegelapan itu Haphaptai rasakan samberan tongkat. Dia Buru-buru menghindar kesamping dan ......... ujung lain dari sam-Ciat-kun tahu-tahu menghantam pundaknya! Panas dan sakitnya bukan buatan.
Haphaptai kertek giginya. Dia desak lawannya. Tiba-tiba ia lepaskan pegangannya seraya mendorongnya. Serta secepat-cepat itu, tangannya memegang pinggang orang.
“Huh!” ia menggeram. Sekali diangkat, tubuh Sam Jun yang gemuk itu terus dibanting sekuat-kuatnya! Itulah salah suatu kepandaian istimewa dari permainan gumul bangsa Mongol. Mata Sam Jun berkunang-kunang, dia pingsan tan sadar lagi.
“Lo Su, jangan undang bahaya, Ayo lekas pergi!” seru It Lui kuatir sang Sute keempat itu mengamuk.
“Bagus, kiranya Kwantong Liok Mo sudah menakluk pada HONG HWA HWE!” teriak Gian Pek Kian.
Ku Kim Piauw marah. “NgaCo, apa katamu?” bentaknya.
“kalau bukan menakluk pada HONG HWA HWE, mengapa kau bantu dia, pentolan dari HONG HWA HWE!” sahut Pek Kian.
“Yadi dia orang HONG HWA HWE ?” menegasi It Lui dengan terkejut.
Tak sempat Pek Kian memberi penyahutan. Tampak kedua muridnya didesak hebat oleh Hi Tong, segera ia Cabut sepasang 'kong-hwan' (gelang baja). Tahu-tahu kong-hwan di tangan kiri, dihantamkan kebebokong Hi Tong. Anak muda ini berputar sambil tusukkan kim-tioknya kearah jalan darah orang dibagian 'ki-bun-hiat'. Demikian keduanya segera terlibat dalam pertempuran yang seru.
It Lui berteriak, suruh keduanya berhenti, tapi mana Pek Kian mau menggubrisnya. Begitu besar sakit hatinya terhadap anak muda yang telah membikin buta sebelah matanya itu. Sepasang 'kong-hwan'
diputarnya begitu seru. Setiap se rangannya selalu menCari jalan darah orang yang berbahaya.
It Lui mendongkol. Cepat-cepat dia Cabut senjatanya dari punggungnya. Senjata itu luar biasa bentuknya, 'tok-ga-tang-jin' namanya. Yaitu orang-orang an tembaga dengan kaki satu. Begitu dia maju kemuka, begitu dia menghantam. Trangng ............
Dua-duanya, 'kong-hwan' dan seruling emas kedua orang yang sedang bertempur itu sama terpental. Hi Tong dan Pek Kian sama rasakan tangannya kesemutan. Diam-diam keduanya kaget Atas kekuatan yang maha dahsyat dari si Iblis pertama itu.
“Yangan bertempur dulu, dengarkan bicaraku!” seru It Lui, lalu ia berpaling kepada Hi Tong: “Apakah kau ini orang H.H.H?”
Hi Tong berpikir, dalam urusan ini, lari adalah yang paling baik. Tanpa menyahut, dia loncat kearah tempat yang gelap terus lari.
Yang paling dekat dengan anak muda itu, adalah Song Thian Po, murid Pek Kian. Dengan menghunus golok, dia mengejar. Hi Tong berpaling sambil meniup serulingnya. Sebatang panah kecil tepat menancap dahi Thian Po, siapa sudah tentu menjerit keras karena sakitnya.
It Lui dan Pek Kian juga turut mengejar. Tapi karena tempatnya gelap, apalagi kuatir kalau orang meniup sen jata rahasia, mereka tak berani dekatdua.
Makin iama makin jauh Hi Tong berlari. Selama itu dia masih dapat mendengar It Lui dan Pek Kian ber-Cakapdua. Pek Kian menerangkan siapa diri Hi Tong itu. Kini keduanya berkeputusan, menCarinya sampai dapat.
Tanpa terasa, Hi Tong lari kearah sungai lagi. Terlintas dalam pikirannya, lebih baik dia menggabung diri dalam rombongan perahu tentara Ceng yang sedang mengantar ransum itu saja. Besok dia Cari akalan lagi untuk lolos.
Tiba-tiba dia dengar suara beberapa serdadu Ceng. Buru-buru dia tengkurep dalam semakdua, merajap pelahan-lahan. Sekonyong-konyong dia mendengar jeritan yang mengibakan dari seorang perempuan, berCampur dengan suara makian dari seorang serdadu Ceng. Kiranya itulah kedua wanita yang telah ditolongnya lari itu, kini dapat ditangkap lagi oleh serdadudua Ceng.
Bagi Hi Tong, keselamatan dirinya adalah yang paling terutama. Dan terpaksa dia tak hiraukan kedua perempuan itu lagi. Dia berdiam diri, tak berani terbitkan suara. Tapi jeritan wanita itu makin lama makin mengerikan. Segetika tergugahlah semangat ksatrianya. Ia tonyolkan kepalanya keatas, ia melihat seorang serdadu Ceng tengah menyeret seorang perempuan ketepi sungai. Kedua perempuan itu tak mau jalan. Siserdadu murka, terus menyeretnya saja.
Hi Tong tak dapat menahan sabarnya lagi. Serulingnya diarahkan kearah belakang kepala siserdadu. Sekali ditiup, sebatang panah menyusup kedalam batok kepala, masuk sampai keotak. Sekali menjerit, serdadu menggeletak tanpa berjiwa lagi.
Sambil menyupit (menulup) tadi, Hi Tong terus berlon Catan ketepi sungai. Tapi lacur, panah yang ditiupkan itu, telah menyingkap jejaknya. Baru saja dia menyelinap beberapa tombak jauhnya, Kim Piauw dapat menghadang dengan serangan 'lak-houw-jak'nya.
Hi Tong keluarkan permainan ilmu pedang 'jwan-hun-kiam'. Maksudnya, selekasnya dia dapat merobohkan lawan terus mau lari. Tapi bertempur beberapa jurus, segera dia dapatkan gerakan lawan sebat dan tangkas sekali. Nyata seorang lawan yang berat.
Malah sembari berkelahi itu, terus menerus Kim Piauw bersiul keras. Dari arah kejauhan, tampak beberapa baja-ngan mendatangi. Tak berani Hi Tong bertempur lama-lama. Dia merangsek, untuk-nantinya mundur. Menerjang kemuka, kedua jari tangannya kiri menotok jalan darah lawan.
Kim Piauw halangkan 'lak-houw-jah' kemuka dadanya. Tanpa menarik kedua jarinya tadi, Hi Tong loncat kebe lakang. Tapi baru saja dia dapat lolos, Phang Sam Jun sudah memapaki dengan sam-Ciat-kunnya. Berbareng itu. It Lui, Pek Kian dengan muridnya, Thian Seng muncul mengepung dari empat jurusan.
“Ayo, lempar rsenjatamu!” seru It Lui.
Sebagai jawaban, Hi Tong makin seru memutar kim-tiok-nya. Dan berselang tak berapa lama, dia dapat menendang roboh Thian Seng, orang yang paling lemah diantara penge-pungduanya itu. It Lui penasaran. Senjatanya “orang-orang an berkaki satu” itu dikemplangkan sekeras-kerasnya kearah kepala Hi Tong.
Tahu bagaimana dahsyat tenaga orang, Hi Tong tak berani menangkis. Dia melejit kearah Sam Jun. Tapi sekalipun senjata It Lui itu berat, tapi gerakannya ternyata linCah sekali. Menghantam luput, Cepat-cepat dia tarik pulang senjatanya. Dengan gerak “menyapu ribuan lasjkar,” dia hantam bagian pinggang sianak muda.
Hi Tong mendek kebawah. Begitu senjata musuh yang berat itu sudah melayang diatas kepalanya, dia merangsek mendekati, lalu tusukkan kim-tioknya pada jalan darah di bagian dada iawannya. °
It Lui Cepat-cepat angkat senjatanya keatas, maksudnya akan mementalkan seruling musuh. Tiba-tiba Hi Tong melambung keatas melalui kepala Thian Po. Melayang turun, dia gunakan lututnya untuk menggasak punggung Thian Po, siapa sudah tentu terbanting kemuka. Dan tepat pada saat itu, senjata orangSnya dari It Lui tadi melayang datang.
Kaget adalah Pek Kian. Cepat-cepat dia jambret lengan mu ridnya (Thian Po), untuk ditarik kesamping sambil membentak: “Kau mau antar jiwa?!”
“Hebat!” seru It Lui memuji ketangkasan Hi Tong.
Sedang begitu, disebelah sana Sam Jun dan Kim Piauw kembali sudah menCegat larinya Hi Tong. Sejak dari .tadi, Haphaptai, siorang Mongol itu, tetap mengawasi dipinggir tak mau turun merigerojok. Diam-diam dia symphati dengan Siu Cay muda itu. Dia insaf begitu banyak sekali senjata orang-orang yang mengerojok itu — termasuk kedua suhengnya — melayang , pasti anak muda itu akan roboh mandi darah. Dia anggap saatnya sudah tiba dimana dia harus memberi pertolongan.
“Lo Toa, Lo Ji, mundurlah!” seru Haphaptai seraya lon Cat kedalam pertempuran.
Atas itu, It Lui dan Kim Piauw loncat keluar dari kalangan. Adalah pada saat itu, Hi Tong sudah hampir kehabisan tenaga. Seluruh tubuhnya bermandikan keringat. Permainan seruling, sudah tak keruan jurusnya lagi.
Baru saja It Lui dan Kim Piauw menyingkir, 'kong-hwan' ditangan kanan Pek Kian melibat ujung kim-tiok Hi Tong, sedang kong-hwan disebelah tangan satunya, dipakai untuk mengemplang batang seruling. “Trang!” Seruling terpental lepas dari pegangan Hi Tong. Menyusul sebuah, kong-hwan menghantam ulu hati Hi Tong.
Haphaptai tarik tubuh Hi Tong kebelakang, berbareng itu dia gunakan Cara bergumul orang Mongol, kakinya kanan menggaet, tangannya kiri membanting pundak orang. Hi Tong tak kuasa menahan keseimbangan tubuhnya, terus ngeluruk roboh, diringkus Haphaptai.
Mendongkol karena pernah terima hajaran, Thian Po dan Thian Seng memburu maju untuk memukul, tapi dibentak Haphaptai: “Tahan!”
Merobek jubah Hi Tong, Haphaptai ikat kedua tangan anak muda itu lalu diangkatnya berdiri dan katanya: “Sobat, kutahu kau ini seorang gagah. Bicaralah dengan terus terang, pasti kita takkan menyusahkan kau!”
Hie Tong hanya mengerang, tak mau menyahut.
“Sobat, apa kau ini orang HONG HWA HWE?” tanya It Lui.
“Aku orang she Ie, nama Hi Tong. Orang-orang kangouw men juluki diriku Kim-tiok SiuCay. Dalam HONG HWA HWE, aku menduduki tempat nomor 14,” sahut Hi Tong tak gentar.
“Hm, benar. Pernah aku dengar namamu itu. Aku akan minta keterangan sedikit padamu,” kata It Lui pula.
“Bukankah kau hendak tanyakan perihal diri Ciao Bun Ki dan kedua saudara Giam itu?” Hi Tong mendahului menyahut. “Kukatakan sejujurnya, bukan kaum kita yang membunuhnya.”
“Sekarang sudah tentu kau tak mengaku!” Gian Pek Kian keluarkan kata-kata menyindir.
Hi Tong murka terus memaki: “Bangsat mata satu, aku tak bicara denganmu. Matamu yang sebelah memang aku yang membikin buta, habis kau mau apa? Kalau aku takut padamu, bukan lakidua namanya!”
Thian Ho kalap, dia membaCok dengan goloknya. Melihat itu sengaja Haphaptai kendorkan kakinya yang dipakai men-jepit paha Hi Tong, sehingga kini kaki Hi Tong bebas bergerak. Kepala dia miringkan kesamping, begitu menghindar baCokan, dia layang kan sebelah kakinya, menjejak Thian Ho. Jejakan itu tepat mengenakan jalan darah “swan-hiat-hiat”. Tak ampun lagi, golok Thian Ho terlepas, dan orangnya ngelumpruk jatuh ditanah.
Thian Seng Buru-buru menyang gapi saudara seperguruannya itu. Melihat Sutitnya (murid keponakan) dibikin malu, Sam Jun terus datangdua mau memukul Hi Tong.
“Kau mau pukul dia, bagaimana kalau kulepaskan dia su-puja dapat kau puas berkelahi satu lawan satu”, berkata Haphaptai.
“Kau lawan aku dulu pun boleh,” Sam Jun menentang, secepat-cepat itu, dia terus kebaskan sam-Ciat-kunnya, tongkat tiga rosduaan, lemas seperti pian tapi keras seperti tongkat.
“Oh, kau ingin dibanting lagi ja?” tanya Haphaptai.
Pek Kiah Cemas kalau kedua orang itu bentrok. Cepat-cepat dia tarik Sutenya kebelakang, kemudian dia menantikan ke putusan It Lui.
“Orang-orang kangouw mengatakan tiga saudara kita itu, kaum HONG HWA HWE yang membunuhnya. Penasaran ada, awalnya, akibat ada musababnya. Asal kau bicara terus terang, siapa yang menjadi biangkeladi, siapa yang membunuhnya, kami akan Cari sendiri untuk membereskan. Tak usah kau kuatir, kami takkan membasmi habis seluruh Anggota HONG HWA HWE!” demikian It Lui.
“Bahwa hari ini kujatuh ketanganmu, adalah sudah nasibku. Kalau mau bunuh, bunuhlah lekas. Tak usah banyak sekali bicara! Kalau kau mengira orang HONG HWA HWE jeri padamu, betul-betul kau sedang mengimpi,” sahut Hi Tong.
“Kau seorang enghiong, akupun merasa kagum. Tapi sukalah kau jawab yang benar, siapakah sebenarnya yang membunuh ketiga saudara kami?” tanya Haphaptai. “Baik, kuhendak bicara sejujurnya. Siapa yang membunuh ketiga orang itu, aku tahu dengan sejelasduanya. Tapi yang pasti saja, bukan kaum HONG HWA HWE,” sahut Hi Tong tegas.
“Nah, bilanglah saja, nanti kau segera kami lepaskan,” Kim Piauw ikut bicara.
“Aku Ie Hi Tong meskipun orang yang tak bernama, namun sekali-kali tak jeri pada segala anCamanmu itu. Siapa pembunuhnya, akan kukatakan, dia pun tak nanti takut padamu. Tapi karena sifat kau ini akan menggunakan anCa man, aku tak mau mengatakan !”
Kim Piauw getarkan 'lak-nouw-jahnya. Gelang besi pada ujung garpu itu bergerinCingan suaranya.
“Kau mau bilang apa tidak? !” anCamnya pula.
“Tidak! Kau mau bunuh, silakan tusukkan senjatamu itu kedadaku. Kaumku dari HONG HWA HWE tentu dapat menuntut balas dengan tepat, bukan seperti macam kau, siapa musuh mu yang sebenarnya pun tidak tahu!” Hi Tong balas membentak dengan angkat kepalanya.
Murka orang she Ku itu. Namun dia hanya dapat meng gabrukduakan senjatanya, sambil mengumpat CaCi. Karena untuk menghajar orang tawanan itu, terang akan diCegah Haphaptai.
“Kalau kau suka anggap aku sebagai sahabat, maka silakan memberitahukan padaku,” akhirduanya Haphaptai berkata,
Tahu Hi Tong, bahwa dari sekian banyak sekali orang, hanya Haphaptailah yang mengunjuk kelakuan bersahabat.
“Mengapa tak kau tanyakan pada Han Bun Tiong? Sayang dia tak berada di Lokyang, karena waktu ini sedang ada di HangCiu bersama Wi-tin-ho-siok Ong Hwi Yang,” kata Hi Tong.
“Benarkah itu?” It Lui menegas. “Kapan aku pernah berbohong !”
Sudah menjadi orang tawanan, sikap anak muda itu sebaliknya dari lunak malah makin keras. Haphaptai makin mengagumi. Dia tarik kedua Suhengnya, It Lui dan Kim Piauw, kesamping untuk dibisiki. “Terus memaksa anak itu perCuma saja. Baik lepaskan saja.”
“Kalau kita lepas, tidakkah orang kangouw nanti menge jek bahwa Kwantong Liok Mo tak berani bertentangan dengan HONG HWA HWE? Turut anggapanku, bereskan saja dia itu!” kata Kim Piauw.
“Bunuh dia, tak mendatangkan manfaat apa-apa. Kita bawa dia bersama-sama menCari Han Bun Tiong ke HangCiu. Dalam perjalanan, kita korek keterangannya lagi sampai jelas. Itu waktu kalau hendak membunuhnya, pun belum terlambat,” usul It Lui.
“Baik, akupun setuju,” kata Kim Piauw.
Setelah mencapai kata sepakat, It Lui menghampiri Hi Tong dan katanya: “Kita akan bawa kau ke HangCiu untuk dipadu dengan Han-toako. Kalau keterangan itu benar, nanti kita lepaskan kau.”
Hi Tong anggukkan kepalanya. Dia percaya, ditengah jalan nanti tentu ada pertolongan dari saudara-saudaranya. Paling tidak, dia tentu bisa Cari kesempatan meloloskan diri. It Lui angkat tangannya memberi hormat pada Gian Pek Kian minta. diri.
“Tunggu!” seru Pek Kian dengan melangkah maju. “Orang itu adalah kita beramai yang membekuknya. Masa begitu saja akan kalian bawa pergi ?
“Maksudmu?!” tanya Haphaptai.
Pek Kian tahu selatan. Meskipun fihaknya berjumlah 4 orang, sedang lawannya berjumlah tiga orang, namun mereka berkepandaian tinggi. Dia masih bisa mengimbangi, tapi bagaimana dengan Sute dan kedua muridnya itu? Maka tak mau dia gunakan kekerasan.
“Dia telah memanah buta sebelah mataku,” katanya memutar. “Pantas kiranya kalau aku minta dibajar dulu dengan sepasang matanya. Setelah itu, terserah kalau kalian akan membawanya pergi.”
It Lui dan Kim Piauw Condong dengan permintaan Pek Kian. Memang anak muda itu, hasil tangkapan mereka bersama. Apalagi orang she Gian itu orang pemerintah, tak usah menambah permusuhan lagi. Biar saja dia menCukil sepasang mata Hi Tong. Malah dengan begitu, lebih mudah dibawa, tak kuatir melarikan diri. Keduanya tak menyahut, tapi juga tak menghalangi.
Segera dua buah jari Pek Kian bergerak dalam tipu “song-liong-jiang-Cu,” sepasang naga berebut mustika, terus dijulurkan menusuk mata Hi Tong.
Hi Tong mundur selangkah untuk menghindar, tapi Kim Piauw dari belakang mendorongnya maju...............
Kini marilah kita tengok perjalanan rombongan Tan Keh Lok yang berkuda menyusur sepanjang tepi sungai. Arahnya kesebelaft barat. Sepanjang tepian itu penuh dengan pasir, bekas dilanda air yang meluap. Diantara endapan pasir Cam pur tanah kuning itu, terdapat beberapa kerat tulangdua manusia berserakan disana sini. Tentunya, itulah tulang belulang dari rakyat yang menjadi korban banyir tahunan. Setiap tahun Hoangho atau sungai Kuning tentu banyir, dan setiap kali itu tentu memakan ribuan jiwa manusia. Itulah keadaan sungai Kuning semasa pemerintah BoanCeng berkuasa.
Sehari itu mereka tiba di kota Tongkwan. Thian Hong dan Ciang Cin berpencaran menCari pertandaan tulisan dari Hi Tong, tapi tak ketemu. Mereka duga, Hi Tong pasti belum datang. Karena tak ingin merepotkan Kawan-kawan , rombongan Tan Keh Lok menginap di sebuah hotel.
Sampai tiga hari mereka menunggTi, tetap Hi Tong tak mun Cul. Kembali Thian Hong dan Ciang Cin menCari keterangan, ketempatdua pemberhentian perahu disepanjang sungai, tapi tetap tak ada orang yang pernah melihat kedatangan seorang SiuCay.
Pada hari keempat, mereka berunding. Masing-masing merasa heran dan kuatir jangan-jangan Hi Tong menemui bahaya dalam perjalanan. Cabang kaum persilatan yang berkedudukan ditempatdua pemberhentian perahu dikota Tong-kwan itu jalah dari perkumpulan “Liong Bun Pang.” Dengan perkumpulan ini, HONG HWA HWE belum pernah berhubungan.
Kuatir Hi Tong bentrok dengan orang-orang Liong Bun Pang, Thian Hong memerlukan datang mengunjungi ketua partai tersebut, jakni Siangkwan Ie San.
Menerima karcis nama dari Thian Hong, segera ketua Liong Bun Pang itu mengetahui bahwa kini dia tengah kedatangan pemimpin nomor tujuh dari HONG HWA HWE, jalah yang dijuluki orang kangouw sebagai Bu Cu Kat. Ter-gopohdua dia keluar menyambut dan menanyakan maksud kedatangan tetamunya itu.
“Lama sudah kita kagumi sepak terjang yang mulia dari perkumpulan saudara. Sayang karena saudara bergerak di daerah Kanglam, jadi selama itu kita tak saling berhubungan. Kalau kami jumpakan Sipsu-tangkeh naik perahu di Hoangho, pasti akan kami sambut dengan hormat. Baiklah, nanti akan segera kukirim orang untuk menanyakannya,” demikian Siangkwan Ie San.
Nyata dia buktikan ucapannya. Dihadapan Thian Hong, dia lalu perintahkan delapan orang untuk menyelidiki kesepanjang tepian Hoangho. Begitu dapat berjumpa dengan Hi Tong, mereka harus segera membawanya ke Tongkwan.
Ketua Liong Bun Pang berlaku lepas tangan, untuk itu Thian Hong haturkan terima kasihnya. Tapi ketika tuan rumah memintanya menginap dirumahnya, terpaksa Thian Hong menolaknya. Sorenya Siangkwan Ie San mengadakan kunjungan balasan. Untuk menghindari perhatian hamba negeri, sengaja Tan Keh Lok tak mau menemuinya. Malam nya, Siangkwan Ie San mengadakan perjamuan besar untuk menjamu Thian Hong. Semua orang kalangan persilatan daerah itu, sama diundang juga.
Ternyata kaum persilatan dikota Tongkwan banyak sekali yang sudah kenal dengan Ciu Tiong Ing. Mengetahui bahwa
Thian Hong adalah anak menantu dari ketua persilatan daerah Se-pak yang kesohor itu, mereka makin menghormat.
Tapi diantara para undangan itu ada juga yang kasak-kusuk, Bu Cu Kat yang namanya begitu kesohor dikangouw itu, kiranya hanya seorang yang pendek kurus lagi lemah nampaknya. Tapi demi memperhatikan sikap dan gerak-gerik Thian Hong yang keren itu, timbullah perindahan mereka.
Keesokan harinya, kembali Siangkwan Ie San datang ke hotel. Dia memberitahu bahwa orang-orang itu tak berhasil ber jumpa dengan Hi Tong. Tetapi memperoleh juga sedikit pengunyukan. Buru-buru Thian Hong meminta keterangan.
“Menurut keterangan saudara-saudara diperairan sungai, karena pemerintah mau mengirim rangsum berjumlah besar pada pasukannya yang ngeluruk perang kedaerah barat, maka di sungai penuh dengan perahudua. Mungkin Ie-sip-suya terhalang perjalanannya.”
Lega hati Thian Hong dibuatnya. Tak lupa ia haturkan terima kasih atas bantuan ketua Liong Bun Pang itu. Ma lamnya, lagi-lagi Siangkwan Ie San datang kehotel dengan membawa keterangandua penting. Menurut laporan beberapa orang Liong Bun Pang, pada sepuluh hari jl. diwarung arak 'Cui Sian Lauw' yang terletak dijalan BengCin, telah terjadi suatu peristiwa. Seorang yang wajahnya seperti SiuCay telah berkelahi dengan orang, sehingga warung arak itu morat-marit keadaannya.
“Ha, itu tentu Sipsute kita. Lalu bagaimana?” tanya Thian Hong dengan kaget.
“Telah kukirim orang untuk Cari keterangan, tapi belum kembali. Jadi belum diketahui jelas,” sahut Siangkwan Ie San.
“Banyak sekali terima kasih atas perhatian saudara Siangkwan itu,” kata Thian Hong. Lalu diperkenalkan kepada Tari Keh Lok, Bun Thay Lay, Lou Ping, Ciang Cin dan Ciu Ki.
Girang sekali sewaktu mengetahui bahwa ketua HONG HWA HWE ada datang juga. Kedua ketua partai persilatan itu saling mengagumi.
“Ie-sipsute orangnya ber-hati-hati. Tentu tidak karena mabuk. Kalau sampai berkelahi tentu karena bertemu dengari musuhnya. Baik kita lekas ke BengCin saja”, kata Keh Lok.
“Ya, malam ini juga kita kesana”, sahut Bun Thay Lay.
“Kalau kalian akan ke Tong-kwan, aku sebagai tuan rumah, seharusnya mengantarkan,” kata Siangkwan Ie San.
Melihat kesungguhan orang, Keh Lok tak menolak. Dengan membawa dua orang pembantu, Siangkwan Ie San berkuda ikut ke BengCin.
Lagi-lagi Bun Thay Lay mendahului rombongannya. Kuda putih tunggangannya itu telah meninggalkan Kawan-kawan nya sejauh ratusan li. Tak lama kemudian dia tampak mendatangi balik.
“Telah kuCari keterangan di 'Cui Sian Lauw', memang benar terjadi hal itu. Lawan Sipsute adalah seorang hartawan, Sun-taysanyin, begitu panggilannya. Dan beberapa opas dari kantor kabupaten,” tutur Thay Lay.
“Aneh Sun-taysanyin sudah berusia enam0 tahun lebih. Orang nya baik, mengapa bisa berkelahi?” ujar Siangkwan Ie San.
“Lalu bagaimana?” tanya Keh Lok.
“Selanjutnya pemilik warung arak itu tak mengetahui jelas,” jawab Bun Thay Lay.
Tan Keh Lok ajak rombongan Cepat-cepat teruskan perja lanannya. Kira-kira dua jam kemudian, sampailah mereka ke BengCin. Siangkwan Ie San langsung menCari pemilik Cui Sian Lauw. Tersipu-sipupemilik warung arak itu menyambutnya, karena mengetahui Siangkwan Ie San adalah ketua Liong Bun Pang. Namun keterangannya, tak ubah seperti yang diberikan pada Bun Thay Lay itu. Hanya dia juga kasih tunyuk bekasdua senjata pada langkan dan tembok, akibat perkelahian itu...............
Kini kita kembali pada Hi Tong. Sewaktu jari Pek Kian akan mengenakan kedua mata Hi Tong, tiba-tiba Haphaptai tarik baju Pek Kian, terus disentakkan kebelakang se kuatduanya, hingga sampai terjuntak mundur beberapa meter. Pek Kian bukan seorang yang lemah. Secepat-cepat kilat dia tebaskah tangannya kebelakang, plak !
Tangan kanan Haphaptai dirasakan sakit sekali, maka pegangannya Buru-buru dilepaskan. Keduanya serentak mengambil sikap untuk bertempur, Sam Junpun segera siap dengan sat-Ciat-kun, dan berdiri disisi Suhengnya.
It Lui kaget. Cepat-cepat dia loncat ketengah, sambil goyang kan senjatanya berseru: “Kita adalah sahabat sendiri, jangan berCidera!”
“Kalau kau mau balas sakit hati, tunggulah sampai urusan kita selesai. Pergilah Cari sendiri, kitapun takkan membantu siapa-apa. Sekarang ini tak boleh kau berbuat sesukanya,” kata Haphaptai pada Pek Kian.
It Lui Cukup kenal watak yang terus terang dari Sutenya itu. Sekali berkata, tak mudah berubah. Meski dia tak setuju sikap Sutenya itu, tak mau dia unyuk dimuka lain orang demi menghindari Cemohan orang, kalaudua dikatakan Kwan-tong Liok Mo itu tidak bersatu. Maka diapun diam saja.
“Baik. Nanti pada suatu hari pasti akan kuperlihatkan sepasang biji matanya padamu!” kata Pek Kian kemudian.
“Nah, itu bagus. Selamat berjumpa lagi,” sahut Haphaptai.
Ketiga orang dari Kwantong Liok Mo itu segera membawa pergi Hi Tong dengan tangan terikat. Pek Kian totok jalan darah penyedar dari muridnya. Dia tak puas dengan kesudahan itu. Diam-diam dia ajak Sute dan kedua muridnya menguntit.
Lohor It Lui cs. sampai di BengCiu. Mereka Cari rumah makan untuk tangsel perut. Rumah makan itu gedungnya besar dan mewah sekali. Empat huruf “Cui Sian Ciu Lauw,” warung arak dewa mabuk, menghias papan yang tergantung didepan. Setelah pesan beberapa daharan, Hi Tong diajaknya makan bersama.
Baru saja menegak beberapa Cawan, tiba-tiba dari titian loteng terdengar derap kaki orang mendatangi. Beberapa hamba polisi, tujuh delapan orang jumlahnya, muncul bersama seorang tua yang berpakaian luar biasa resiknya. Orang tua itu memesan banyak sekali macam hidangan untuk men jamu orang-orang polisi itu. “Sun-loya,” demikian orang-orang polisi itu memanggil siorang tua. Luar biasa mereka menghormat dan merendah. Mungkin orang tua itu adalah hartawan yang kenamaan dari kota itu.
Tak berapa lama, datang lagi 4 orang. Kini wajah Haphaptai berobah. Itulah rombongan Gian Pek Kian berempat. Hi 'Tong pura-pura tak melihat. Dengan tenang dia menikmati araknya.
“Lo Su, maksud kita masuk kedalam perbatasan, adalah untuk menCari balas buat Lo Sam. Tapi mengapa kau melindungi musuh. Kukuatir dialam baka, Lo Sam akan salahkan padamu,” kata It Lui kepada Haphaptai.
“Apanya yang kulindungi musuh. Dia seorang lakidua sejati, aku kagum, serta tak idinkan orang bermain Curang. Kalau nantinya ternyata dia adalah musuh kita yang sebenarnya, akulah yang per-tamadua akan membunuhnya,” Haphaptai memberi kepastian.
“Dari sini ke HangCiu masih jauh sekali, mereka .........,” berkata sampai disini Kim Piauw jebikan bibir kearah rombongan Pek Kian, “seperti Anjing, tetap membuntut saja. Biarkan saja dia menCukil matanya, mengurangi risiko penjagaan kita.”
Namun orang Mongol itu tetap tak setuju. Ketiganya mulai berbantahan. Haphaptai terdesak sendirian, kalah suara. Dia masih sungkan dengan It Lui, sang Toako. Tak mau dia berbantahan lebih lama lagi.
Dia berbangkit dengan muka kemerah-merahan. Tanpa memakan daharannya lagi, dia terus langkahkan kaki dan berlalu. Kim Piauw Buru-buru akan menariknya, tapi sekali tangan Haphaptai mengibas, dia hampir sempoyongan. Itulah kepandaian istimewa Haphaptai dalam ilmu bergumul Cara Mongol. Sejak kecil dia gemar belajar permainan itu. Cukup dengan gerakan tangan se-enaknya, tenaganya luar biasa kuat nya.
“Lo Ji, jangan hiraukan dia. Emangnya dia beradat kerbau. Kau jaga saja orang ini,” seru It Lui.
Kim Piaw keluarkan sebuah badidua, disembunyikan dibalik lengannya. Dia membisiki Hi Tong: “Kalau kau berani lari, akan kuCincang tubuhmu!”
Hi Tong tak ambil pusing. It Lui menghampiri kemeja Pek Kian, dan menegurnya.
Sepeninggal Haphaptai, Hi Tong merasa terancam bahaya. Secepat-cepat kilat terkilas dalam pikirannya suatu akal. Pada saat itu pelayan datang membawa semangkuk besar kuah ikan keluaran sungai Hoangho yang masih panas sekali. Sambil minum seteguk, berkatalah Kim Piauw: “Lo Toa, kuah ini sedap sekali, Ayo kita gasak!”
Hi Tong ulur senduknya, turut menyumput. Tiba-tiba tangannya menyentuh pantat mangkuk, hingga mangkuk itu terbalik, tepat menyiram muka Kim Piauw. Sudah barang tentu, hidung dan mata orang she Ku itu seperti tersiram air mendidih. Sakitnya jangan ditanya. Dia me-ngiangdua kesakitan.
Tanpa tunggu sampai orang sudah baik lagi, Hi Tong balikkan meja. Seluruh masakan dan mangkuk piring, tumpah menimpah tubuh Kim Piauw. Karena matanya masih belum dapat melek, keruan saja Kim Piauw tak dapat menghindar. Seluruh tubuhnya basah kujup disiram kuah panas.
It Lui dan Pek Kian Buru-buru menghampiri untuk memberi pertolongan. Tapi kembali Hi Tong jumpalitkan sebuah meja lagi untuk menghalangi.
Telah diperhitungkan Hi Tong sekalipun dapat lolos, tak nanti bisa lari jauh, tentu tak urung akan tertangkap mereka lagi. Jalan satuduanya, dia harus dapat menCari tempat berlindung, sampai nanti datang pertolongan. Tempat yang paling aman, jakni dalam rumah penyara negeri.
Keadaan rumah makan itu hiruk-pikuk tak keruan. Tetamu yang bernyali kecil, siangdua sudah ter-biritdua panjang kan langkah seribu. Hambadua polisi gunakan rujung besi untuk menghentikan kerusuhan itu.
Sekonyong-konyong Hi Tong melayang kemuka si Sun-loya itu. “Plak”, tangannya menampar mulut si Sun-loya. Hanya ribuan bintang berhamburan yang dilihat oleh Sun-loya, matanya berkunang-kunang, terus numprah jatuh dilantai. Hi Tong jambak jenggot Loya itu, lalu diangkat naik. Bukan main terkejutnya kawanan hamba negeri itu. Tersipu-sipumereka menyerbu untuk menolongnya.
Hi Tong kempit Sun-loya, lalu lambaikan tangan kearah It Lui, serunya: “Lo Toa, Lo Ji, lekas kemari, aku memperoleh hasil. Lekas gebah 'Cakar alap-alap' yang menyebalkan itu!”
Polisi mengerti kini. Kiranya kawanan perusuh itu hendak menCulik Sun-taysanyin.
“Bangsat yang bernyali besar!” Demikian beberapa hamba negeri itu berseru, Cabut senjatanya masing-masing terus maju menyerang It Lui.
It Lui tak pandang sebelah mata pada kawanan polisi itu. Tapi BengCin adalah kota besar. Dalam sekejap saja pasukan pemerintah dapat didatangkan dengan serentak. Hal itu sangatlah berbahaya. It Lui mengupat CaCi Hi Tong dengan siasatnya yang licik itu. Dia Cepat-cepat ajunkan kaki menendang roboh seorang polisi yang akan menyerang dengan goloknya. Dia tarik Kim Piauw terus diajak lari.
“Kita adalah orang pemerintah, akan menangkap penya hat!” seru Pek Kian keras-keras.
Tapi dalam suasana sekacau itu, seruan itu tak kedengaran. Pada lain saat, Sam Jun telah gerakkan sam-Ciat-kun-nya robohkan seorang polisi. Lain-lain hambanegeri itu terus ber-suitdua keras, memanggil bantuan.
Suara genderang dibunyikann dari tempat agak jauh. Barangkali suatu pasukan besar tengah mendatangi.
“Phang-sute, lekas lari!” seru Pek Kian pada Sutenya.
Suhu dan murid berempat, lari turun loteng. Kawanan hamba negeri tak dapat menahannya. Hanya ssorang penga Cau yang dapat dibekuk dan terus dirantainya. Atau lebih tegas memang sengaja menyerahkan diri, karena dia bukan lain jalah Hi Tong.
Diluar kota BengCin, Pek Kian berempat menCari tempat yang sunyi. Panjang lebar Sam Jun memaki. Hi Tong, karena merasa dipedayai mentahdua.
“Kurasa penyara dikota BengCin itu, tak seberapa ko kohnya. Nanti malam kita satroni kesana. Kita Culik bangsat itu, lalu kita siksa dia se-puasduanya”, Pek Kian nyatakan pikirannya.
Sam Jun paling jeri terhadap pembesar negeri. Dengar akan didayak merampok penyara, dia ragu-ragu. Namun akan membantah Suhengnya, diapun sungkan.
Jam tiga malam, dengan memakai kedok muka, mereka me nuju kedalam kota. Selama itu Sam Jun selalu berada dibelakang sendiri. Memang dia sengaja memperlambat ja lannya. Tahu juga Pek Kian kalau Sutenya itu mau karena terpaksa, diapun tak mau terlalu mendesaknya.
Tatkala mendekati penyara, sekonyong-konyong ada sebuah bayangan berkelebat. Ternyata seseorang telah mendahului mereka. Gerakannya gesit sekali.
“Awas, waspadalah!” Pek Kian peringatkan kedua murid nya. Setelah loncat keatas tembok per.jara dan berjalan masuk, tiba-tiba ada suara bisik-bisik dari arah belakang: “Saudara Gian-kah itu?”
Pek Kian putar tubuh secepat-cepat nya. Kiranya itulah It Lui dan Kim Piauw yang mendatangi.
“Kita bersama datang untuk maksud yang sama, itulah bagus,” kembali It Lui berkata.
“Yangan biarkan dia enakdua. Kasih dia tahu rasanya orang disiksa,” ujar Kim Piauw.
Memang pada tempatnya kalau orang she Ku ini begitu penasaran sekali, karena seluruh air niukanya melepuh tersiram kuah panas.
“Kita berdua yang melayani kawanan hamba negeri. Sdr. Gian berempat yang rampas anak keparat itu,” kata It Lui.
Pek Kian mengiakan, dan mereka berenam lalu bertindak masuk.
Balik pada Tan Keh Lok dan Siangkwan Ie San yang menanyakan keterangan pada pemilik rumah makan Cui Sian Ciu Lauw, ternyata orang itu tak dapat memberikan keterangan apa-apa lagi. Dia hanya mengetahui sampai pada waktu Hi Tong diborgol dan dibawa pergi polisi.
Mendengar itu, Keh Lok malah lega. Karena sekalipun mendapat hukuman mati, vonnis dari pemerintah, juga makan waktu yang lama. Dia mengajak Ie San mengun jungi Sun-tay-sanyin.
Sun-taysanyin adalah hartawan yang paling kaja dari BengCiu. Sawah, rumahdua miliknya tak terhitung jumlahnya. Dia kejam sekaker, memeras dan menjadi lintah pengisap darah rakyat. Banyak sekali nian perbuatannya yang tak kenal perikemanusiaan itu. Setelah tua, dia berganti siasat. Dia banyak sekali menghamburkan uang supaya mendapat nama baik. Karena kerojalannya itu, dia digelari orang “Sun tay-sanyin,” Sun-taijin yang murah hati. Tapi didesanya, orang-orang tetap men julukinya sebagai “Sun-pok-bi” atau Sun sipemeras.
Mendapat' kunjungan dari Siangkwan Ie San bersama seorang Kongcu she. Liok (nama samaran Tan Keh Lok), ber-debardua hati Sun-taysanyin itu. Tapi Cepat-cepat dia ambil putusan. Kalau ketua Liong Bun Pang itu butuh uang, dia akan memberinya, untuk menghindari bahaya gangguan. Tapi ternyata. bukan itu yang diminta Ie San. Setelah berCakapdua sebentar, dia tanyakan soal SuCay yang membuat gaduh di Cui Sian Ciu Lauw itu.
Sun “tay-sanyin” makin terkejut. Katanya tersipu-sipu: “Orang yang sudah setua aku ini, sekali-kali tak berani me nyalahi orang. Kalau ada sahabat Kangouw yang membutuhkan apa-apa, tentu dengan sekuat-kuatnya akan kubantu,” ujar hartawan itu.
“SiuCay itu masih terhitung sanak jauh dari Siaote. Entah mengapa bisa berkelahi dengan Sun-loya?” tanya Ie San.
“Benar-benar aku sendiri tidak mengerti. Melihat sikap mereka, rupaduanya aku akan diCuliknya,” kata orang she Sun itu. Lebih jauh dia menambahkan pula: “Meskipun diluaran hengte ini ada sedikit nama, tapi beberapa tahun ini betul-betul payah. Panenan banyak sekali yang gagal, tapi ongkos-ongkos tetap besar. Makan nganggur, tanpa mendapat hasil. Sahabatdua Kangouw mengira kalau aku ada uang, tapi hal yang sebenarnya bukan demikian keadaannya.”
Mendengar orang terusduaan mengeluh soal uang, Tan Keh Lok kuatir orang menduga keliru maksud kedatangannya itu. Tentu dikira akan memeras.
“Ie-sipsute mana bisa berserikat dengan orang akan men Culiknya. Tentu ada sebab lainnya. Dan mengapa polisi BengCiu dapat menangkap Sipsute, apakah disini ada orang nya yang lihai?” diam-diam Tan Keh Lok menduga.
“Minta supaya Sun-loya membawa kita tengok SiuCay itu ke penyara,” katanya kepada Siangkwan Ie San.
“SiuCay itu malamnya telah dirampas orang dari penyara. Apakah ji-wi tidak mendengarnya,” Buru-buru siorang she Sun berkata.
Makin heran Tan Keh Lok. Dia memberi isyarat kepada Siangkwan Ie San untuk pamitan. Diluar tampak banyak sekali kawanan polisi mondar mandir kian kemari. Kesibukan itu menunyukkan bahwa keterangan orang she Sun itu tidak justa.
Siangkwan Ie San ajak tetamunya ketempat salah seorang thauwbak Liong Bun Pang yang tinggal dikota tersebut. Seorang dikirimnya untuk menCari kabar. Benar juga SiuCay perusuh itu malamnya dirampas orang dari penyara. Malah kawanan perampas itu melukai beberapa penjaga penyara.
Keh Lok rundingkan peristiwa aneh itu dengan Thian Hong. Tapi sampai sekian lama, mereka tak dapat menarik kesimpulan. Sehabis makan malam, mereka menuju keru mah penyara. Tiba-tiba Lou Ping berseru girang sembari me nunyuk kearah kaki tembok. Melihat itu semua orang tampak gembira, keCuali Siangkwan Ie San dan Ciu Ki yang tak tahu sebabnya.
“Inilah tanda-tanda yang ditinggalkan Sipsute. Katanya, dia dikejar musuh, dan sekarang lari kearah barat,” menerangkan Thian Hong.
“Musuh? Tentulah pemuda yang menguntitnya itu”, kata Ciang Cin.
“Kepandaian orang itu tak nempil dengan Sipsute, mengapa dia takut? Rasanya ada lain sebab”, jawab Thian Hong.
“Ah, mari kita lekas-lekas susul dia”, seru Bun Thay Lay.
Berjalan sampai dipinggir kota, kembali tanda-tanda itu terdapat pada sebuah pohon. Hanya saja kini tulisannya kacau sekali, terang kalau dalam bahaya. Mereka perCepat-cepat jalan nya. Pada persilangan jalan yang menyurus kesebuah gunung, diketemukan lagi tanda-tanda itu. Terang kalau Hi Tong lari kearah gunung.
Bun Thay Lay dan Ciang Cin terus keprak kudanya kearah gunung. Disepanjang jalan, banyak sekali sekali melihat tanda-tanda yang ditinggalkan Hi Tong. Tapi makin lama makin tak keruan tulisannya! Malah ada yang hanya sebuah guratan saja.
Ciang Cin mengerang, makin Cepat-cepat mencongklang kudanya. Pada sebatang pohon, dia menCabut sebatang anak panah. Pada saat itu, Bun Thay Lay dan Thian Hong pun sudah tiba! Bagi keduanya yang sudah lama berkelana di kangouw, tahulah dengan segera, bahwa panah itu adalah senjata rahasia dari Gian-keh-kun di TinCiu, Ouwlam.
“Oh, jadi yang mengejar Sipsute itu adalah sibangsat Gian Pek Kian”, kata Bun Thay Lay dengan gusarnya.
Sesaat itu kembali Lou Ping dimana semakdua menemukan beberapa batang anak panah. Sedang Ciu Ki tiba-tiba berteriak seraya menunyuk ketanah. Kiranya disitu terdapat CeCeran darah. Menuruti bekas darah tersebut, melintasi semakdua, tibalah mereka kesebuah gua. Gua itu kecil lagi sempit, hanya tiba Cukup unntuk dimasuki satu orang. Dipinggir gua sana-sini bertebaran ber-macamdua senjata rahasia. Anak panah, piauw, hui-Hui dan lain-lain. Suatu pertanda bagaimana hebat Hi Tong dirabu musuhduanya. Semua orang sama menguatirkan nasib anak muda itu.
Thian Hong dan Bun Thay Lay anggap kesemuanya senjata rahasia itu banyak sekali terdapat dikalangan persilatan. Hanya satu yang agak aneh, jakni yang dinamakan “siao-kong-jah” semacam piauw kecil berbentuk seperti garpu. Ahli silat yang menggunakan senjata rahasia itu, jarang ada. Entah siapa orangnya. Menilik macam senjata rahasia yang terdapat disitu, sekurang-kurangnyanya pengerojok Hi Tong itu ada lima orang.

Kembali bercerita tentang Hi Tong, sewaktu It Lui, Kim Piauw dengan rombongan Pek Kian memasuki halaman ruang penyara, mereka akan Cari seorang penjaga untuk ditanya keterangannya. Tiba-tiba kaki Thian Po kesandung sesuatu benda, hampir-hampir dia jatuh. Setelah diperiksanya, ternyata benda itu adalah tubuh seorang penjaga penyara yang dengan tangan dan kaki terikat, tengkurap dilantai. Mulut nya disumbat kain, hingga tak dapat ber-kaokdua keCuali matanya saja yang berjelilatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar