Jilid 41
Kiranya orang yang pura-pura sakit dan menyamar sebagai Pek Cu-cay sehingga tangan Ban-kiam mendadak diborgol itu tak-lain-tak-bukan adalah Liau Cu-le. Di antara anak murid Tiang-bun yang baru pulang dari Tionggoan itu hanya Pek Ban-kiam yang paling lihai, sekali kepalanya sudah tertangkap, seketika juga ekornya tidak dapat berkutik sehingga Kheng Ban-ciong dan lain-lain juga kena diringkus dengan mudah. Sekarang berhadapan dengan orang yang telah menangkapnya dengan cara pengecut itu, keruan Ban-kiam merasa dendam dan geregetan tak terkatakan.
Maka dengan tertawa Liau Cu-le menjawab, “Jika kau tidak keok di bawah tanganku mengapa kedua tanganmu bisa terbelenggu? Aku toh tidak menggunakan senjata rahasia juga tidak memakai obat tidur!”
“Buat apa masih terus bertengkar tak habis-habis?” bentak Li Si mendadak. “Hayo, lekas membuka belenggunya, biarlah mereka berdua bertanding.”
Liau Cu-le masih ragu-ragu, Li Si menjadi tidak sabar, segera ia rampas pedang dari tangan Liau Cu-le, hanya dua kali bergerak saja, tahu-tahu borgol tangan dan kaki Pek Ban-kiam sudah terputus dan jatuh ke atas lantai. Padahal borgol-borgol itu terbuat dari baja, sekalipun pedang Liau Cu-le itu cukup tajam, tapi bukanlah pedang mestika yang dapat memotong besi sebagai potong sayur, namun dengan lwekang yang tinggi Li Si telah menebas borgol-borgol itu dengan mudah sekali, yang hebat adalah tangan dan kaki Pek Ban-kiam sedikit pun tidak ikut terluka. Keruan semua orang sangat kagum dan tanpa merasa sama bersorak memuji.
Biasanya Pek Ban-kiam juga tinggi hati, tapi sekarang mau tak mau ia pun menyatakan kekagumannya. Dalam pada itu seorang murid Tiang-bun cepat-cepat menyampaikan sebatang pedang padanya.
Tapi mendadak Ban-kiam meludahi muka murid Tiang-bun itu, menyusul kakinya lantas mendepak sehingga orang itu terguling. “Huh, pengkhianat!” Ban-kiam memaki.
Maklumlah bahwa anak murid Tiang-bun yang tinggal di Leng-siau-sia ternyata dalam keadaan selamat tanpa diganggu, maka terang adalah kaum pengkhianat yang telah ikut bersekongkol dengan anak murid cabang-cabang yang lain.
“Ini, ayah!” seru A Siu sambil mengangsurkan pedangnya sendiri.
Ban-kiam tersenyum senang, “Ehm, putriku yang baik!” katanya terhibur. Selama ini dia sudah cukup menderita, sekarang diketahui ibu dan putrinya dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, dengan sendirinya ia sangat gembira.
Tapi ketika dia berpaling, wajahnya yang tersenyum simpul itu sekonyong-konyong berubah menjadi bengis dan penuh kebencian, sorot matanya berapi, bentaknya kepada Liau Cu-le, “Kau pengkhianat ini bukan lagi angkatan tua Swat-san-pay, marilah kita coba-coba lebih dulu. Ini, terimalah pedangku!”
“Sret”, kontan ia mendahului menusuk.
Pada saat yang hampir sama tiba-tiba Li Si menegakkan pedang rampasannya tadi sehingga serangan Ban-kiam itu tertangkis. Lalu ia sodorkan gagang pedang ke tangan Liau Cu-le.
Maka mulailah pertarungan sengit, kedua orang sama-sama mengeluarkan segenap kepandaian masing-masing untuk mengadu jiwa, sama sekali berbeda daripada pertandingan antara Seng Cu-hak berempat tadi.
Di antara angkatan tua Swat-san-pay, kecuali Pek Cu-cay, maka kepandaian Liau Cu-le terhitung yang paling tinggi. Ia pikir dirinya tadi sudah mengaku kalah pada Ciok Tiong-giok, asal sekarang dirinya mengalahkan Ban-kiam, maka dengan sendirinya Ciok Tiong-giok akan tetap diangkat sebagai pejabat ketua dan akan mengantarkan nyawa ke Liong-bok-to.
Kepandaian Pek Ban-kiam memangnya tidak di bawah Liau Cu-le, dalam keadaan gawat begini terpaksa Cu-le mengerahkan segenap tenaganya, kalau ayal sedikit saja bukan mustahil dia sendiri yang akan celaka. Ia bertekad harus membinasakan Ban-kiam, dengan demikian barulah dia dapat menjagoi di Leng-siau-sia dan Ciok Tiong-giok hanya akan menjadi ciangbunjin dengan nama kosong saja. Asal Thio Sam dan Li Si sudah pergi, pemuda itu akan segera didesak agar lekas berangkat ke Liong-bok-to yang jauh itu daripada nanti terlambat.
Begitulah diam-diam Liau Cu-le mempunyai perhitungan yang muluk-muluk, semangatnya lantas terbangkit, permainan pedangnya menjadi semakin lincah dan hidup, setiap serangannya bertambah ganas.
Sebaliknya Ban-kiam buru-buru ingin membalas dendam sehingga terlalu nafsu dan sering menyerang secara berbahaya.
Sesudah 30-an jurus, suatu ketika Ban-kiam menusuk ke depan, namun dengan cepat Cu-le sempat berkelit dan segera balas menebas, “bret”, tahu-tahu ujung baju Ban-kiam terpapas sepotong.
A Siu sampai menjerit khawatir. Sebaliknya Su-popo lantas memaki, “Dasar telur busuk kecil, serupa benar dengan bapaknya, anak ajaran telur busuk tua itu memangnya tidak banyak berguna!”
Dalam gugupnya ditambah dicemoohkan pula, keruan permainan pedang Ban-kiam menjadi agak kacau.
Diam-diam Cu-le bergirang, katanya, “Memangnya aku sudah mengatakan kau adalah jago yang sudah keok di tanganku, masakah aku hanya membual saja, buktinya sekarang bagaimana?”
Dengan mengolok-olok begini maksud Cu-le ingin membikin marah lawannya sehingga perhatiannya semakin terpencar. Tak terduga perhitungannya ternyata meleset. Paling akhir ini Ban-kiam telah banyak kecundang di daerah Tionggoan sehingga perangainya telah banyak lebih sabar dan lebih ulet. Ia tidak murka atas olok-olok lawan itu, sebaliknya menjadi lebih prihatin dan menjaga diri dengan rapat. Pada lain kesempatan berulang-ulang ia berbalik balas menyerang tujuh kali. Serangan berantai ini seketika mengubah keadaan menjadi sama kuatnya, bahkan setiap serangan Ban-kiam selalu mengancam tanpa kenal ampun.
Liau Cu-le ganti siasat, ia main putar di sekeliling Ban-kiam sambil mencaci maki. Mendadak sinar pedang berkelebat, Ban-kiam bersuit panjang, “sret-sret-sret”, ia menyerang tiga kali secara berantai, ketika serangan keempat menyambar pula, “cret”, tanpa ampun lagi kaki Liau Cu-le tertebas kutung sebatas dengkul. Ia menjerit ngeri tersungkur bermandikan darah.
Dengan pedangnya yang masih berteteskan air darah Ban-kiam menuding Seng Cu-hak dan membentak, “Sekarang kau! Hayo maju!”
Namun dengan muka pucat Cu-hak diam saja. Selang sejenak barulah menjawab, “Kau ingin menjadi ciangbunjin boleh silakan... silakan menjabatnya, aku... aku tidak perlu berebut dengan kau.”
Segera sinar mata Ban-kiam beralih kepada Ce Cu-bian dan Nio Cu-cin. Tapi kedua orang itu pun menggeleng-geleng tanda menyerah.
“Huh, baru mengalahkan beberapa pengkhianat saja apa sih yang luar biasa?” tiba-tiba Su-popo menjengek. Lalu ia berkata kepada Ciok Boh-thian, “Muridku, coba kau bertanding dengan dia, biarkan orang lain menyaksikan apakah murid si telur busuk tua itu lebih lihai atau murid ajaranku lebih hebat.”
Semua orang menjadi heran mendengar ucapan si nenek. Sudah terang Ciok Tiong-giok adalah muridnya Hong Ban-li, mengapa nenek itu bilang muridnya sendiri?
Sementara itu Su-popo telah membentak Ciok Boh-thian, “Ayo, lekas maju! Gunakan golok dan jangan memakai pedang. Ilmu pedang ajaran telur busuk tua itu hanya permainan anak kecil saja, tapi ilmu golok kita jauh lebih lihai!”
Sesungguhnya Boh-thian tidak ingin bertanding dengan Pek Ban-kiam, apalagi kalau teringat beliau adalah ayahnya A Siu atau bakal mertuanya. Tapi kalau dia membuka suara untuk menolak tentu rahasia penyamarannya akan diketahui Thio Sam dan Li Si. Karena itulah dengan menjinjing golok dia menjadi serbasalah berdiri di samping Su-popo.
Melihat pemuda itu masih diam saja, kembali si nenek membentak, “Apa yang telah kujanjikan tadi apakah kau sudah tidak mau lagi? Tadi aku hilang kau harus membuat suatu jasa besar barulah janjiku itu akan dipenuhi. Dan jasa besar itu sekarang harus kau lakukan, yakni murid telur busuk tua ini harus kau kalahkan. Jika kau kalah, maka kau pun harus lekas enyah dari sini dan jangan bertemu pula dengan aku, lebih-lebih jangan harap bisa bertemu dengan A Siu.”
Baru sekarang Boh-thian mengetahui bahwa jasa besar yang dimaksudkan sang guru kiranya adalah suruh mengalahkan putra kandung si nenek sendiri. Hal ini benar-benar membuatnya terheran-heran.
Sebaliknya orang-orang lain yang hadir di situ berpendapat, “Kiranya Su-popo sengaja hendak menjadikan bocah dungu ini sebagai ketua Swat-san-pay agar dapat dijadikan korban ke Liong-bok-to untuk menggantikan nyawa suami atau putranya.”
Namun Pek Ban-kiam dan A Siu berdua cukup paham apa maksud tujuan Su-popo ini.
Kiranya suami-istri Pek Cu-cay dan Su-popo sama-sama berwatak keras, biasanya si nenek masih suka mengalah sedikit kepada sang suami walaupun dengan menahan rasa mendongkol. Dalam persoalan Ciok Tiong-giok hendak memerkosa A Siu dan gagal itu, bukan saja Pek Cu-cay telah menebas sebelah lengan Hong Ban-li, bahkan suami-istri mereka telah cekcok, dalam marahnya Cu-cay telah menampar Su-popo sekali. Saking jengkelnya Su-popo lantas minggat dari Leng-siau-sia. Walaupun sekarang dia sudah pulang, tapi kejadian ditampar sang suami itu masih terus teringat olehnya, makanya dia terus mencaci maki “telur busuk tua” tidak habis-habisnya.
Watak Pek Cu-cay itu memang sangat sombong, ilmu silatnya memang juga merajai wilayah barat situ sehingga kepandaian sang istri dipandang sebelah mata olehnya. Saking dongkolnya Su-popo bertekad akan mendidik seorang murid yang pandai untuk mengalahkan putranya sendiri, dengan demikian akan berarti mengalahkan muridnya Pek Cu-cay sebagai tanda kemenangannya atas diri sang suami.
Demikianlah apa yang diketahui oleh Pek Ban-kiam atas isi hati ibunya. Cuma dia belum tahu bahwa Ciok Boh-thian memang betul adalah murid ibunya, dalam hal ini adalah A Siu yang lebih jelas duduknya perkara.
Begitulah Ban-kiam lantas melotot kepada Boh-thian dengan sikap yang menghina.
“Bagaimana? Apakah kau memandang enteng padanya?” Su-popo menjengek. “Pemuda ini sudah mengangkat guru padaku dan telah kudidik seperlunya, kepandaiannya sekarang sudah berbeda daripada tadinya. Sekarang kau boleh coba-coba bertanding dengan dia, jika kau yang menang, ya, anggaplah telur busuk tua bangka itu lebih lihai, tapi kalau kau yang kalah, maka jadilah A Siu sebagai istrinya.”
Ban-kiam terkejut. “Wah, ini tidak boleh jadi, ibu! A Siu mana boleh diambil sebagai istri oleh bocah ini?” serunya.
Su-popo terbahak-bahak, katanya, “Jika kau dapat mengalahkan dia, dengan sendirinya A Siu takkan menjadi istrinya. Kalau tidak, cara bagaimana kau bisa merintanginya?”
Diam-diam Ban-kiam mendongkol, “Ibu marah pada ayah, sekarang aku ikut-ikut dimarahi. Jika putramu ini tidak mampu menangkan bocah ini bukankah percuma menjadi manusia di dunia ini?”
Dalam pada itu Su-popo telah membentak pula, “Jika kau merasa penasaran boleh lekas melabraknya. Buat apa hanya melotot belaka?”
Ban-kiam mengiakan. Segera ia berkata kepada Ciok Boh-thian, “Ayolah, kau boleh mulai menyerang!”
Boh-thian memandang sekejap ke arah A Siu, nona itu tampak malu-malu dan menaruh perhatian padanya. Pikirnya, “Suhu mengatakan kalau aku kalah, selanjutnya tak dapat bertemu lagi dengan A Siu. Maka pertandingan ini mau tak mau harus menang.”
Segera ia mengangkat golok dan bergerak. “Sret”, mendadak Ban-kiam lantas menusuk. Cepat Boh-thian menangkis dan balas membacok satu kali.
Di Ci-yan-to dahulu Boh-thian sudah pernah bergebrak dengan Ban-kiam. Tapi waktu itu dia menggunakan Kim-oh-to-hoat murni, ketika Ban-kiam menggunakan jurus yang paling kasar dari ilmu pedang Swat-san-pay, maka Boh-thian berbalik tidak mampu menangkisnya sehingga baju di bagian dadanya tergores dan berlubang. Sejak itulah Boh-thian lantas terbuka otaknya dan memahami soal “perubahan” atau “variasi” dalam ilmu silat yang tinggi, diketahuinya bahwa di kala bertanding silat harus bisa melihat gelagat, berubah dan bertindak menurut keadaan. Kemudian ia mendapat petunjuk-petunjuk pula dari Ciok Jing dan Bin Ju sehingga ilmu silatnya banyak mendapat kemajuan.
Sekarang kembali ia harus bergebrak pula dengan Pek Ban-kiam, ilmu goloknya tidak lagi terbatas atas ajaran Su-popo saja, tapi banyak jurus serangannya sudah lain daripada yang lain dan susah diduga.
Keruan sesudah beberapa jurus saja Ban-kiam lantas terperanjat. Ia tidak mengerti dalam waktu singkat ini dari manakah bocah ini mendapat pelajaran ilmu golok sedemikian lihainya? Teringat olehnya waktu bertanding dengan pemuda yang mengaku pangcu dari Tiang-lok-pang di Ci-yan-to dahulu, pemuda itu juga mengaku sebagai murid pertama dari Kim-oh-pay segala, ilmu golok kedua orang tampaknya rada-rada mirip, cuma dalam hal variasi dan keganasan pemuda Ciok Tiong-giok di hadapannya ini terang jauh lebih lihai.
Wajah kedua pemuda ini sangat mirip, jangan-jangan mereka berasal dari satu guru? Ibuku mengatakan telah memberi bimbingan seperlunya, jangan-jangan dia memang benar-benar adalah murid Ibu? Demikian Ban-kiam menimbang-nimbang sendiri.
Sesudah beberapa jurus pula, ketika Ban-kiam menebas dari samping, cepat Boh-thian menangkis. “Trang”, lelatu api bercipratan, Ban-kiam merasa lengannya tergetar oleh suatu tenaga yang mahakuat, dadanya sampai sakit. Keruan ia tambah kaget, tanpa merasa sampai mundur dua-tiga tindak.
Boh-thian tidak mendesak lebih lanjut, ia berpaling kepada Su-popo. Maksudnya ingin bertanya, “Apakah aku dianggap menang belum?”
Tak terduga Ban-kiam menjadi semakin bersemangat bila mana berhadapan dengan lawan tangguh, apalagi Ciok Tiong-giok hanya kaum keroco saja, kalau sampai kalah bukankah terlalu penasaran? Segera ia membentak, “Lihat pedangku, bocah!”
Menyusul ia lantas menusuk pula.
Waktu Boh-thian hendak menangkis lagi, namun Ban-kiam tidak mau mengadu senjata pula, segera ia ganti siasat, ujung pedang berputar terus menjengkit ke atas untuk menusuk tenggorokan Boh-thian.
Serangan ini sangat cepat lagi jitu dan memperlihatkan ilmu pedang Swat-san-pay yang indah. Thio Sam sampai memuji, “Ilmu pedang yang bagus!”
Akan tetapi Ciok Boh-thian lantas mengayun goloknya untuk menebas lengan lawan, yang dia gunakan adalah Kim-oh-to-hoat, jurus ini tepat merupakan serangan yang antiserangan Ban-kiam itu. Maka Thio Sam kembali berseru memuji, “Ilmu golok yang bagus!”
Begitulah pertarungan kedua orang makin lama makin cepat. Ban-kiam unggul dalam ilmu pedang yang sudah terlatih, sebaliknya Boh-thian menang dalam hal tenaga dalam.
Ketika mencapai 30-an jurus, mendadak Boh-thian membacok ke depan. Dalam keadaan susah menghindar, terpaksa Ban-kiam menangkis dengan pedangnya. Maka terdengarlah suara “trang” yang nyaring, pedang Pek Ban-kiam tergetar patah menjadi dua.
Segera Boh-thian menarik kembali goloknya dan melompat mundur. Sebaliknya muka Ban-kiam merah padam, dari seorang murid Swat-san-pay di sebelahnya segera disambarnya sebatang pedang dan kembali menusuk ke arah Boh-thian lagi.
Setelah mengalami pertarungan seru ini, tenaga dalam yang terhimpun di tubuh Ciok Boh-thian sudah mulai bergerak, maka setiap jurus serangannya sekarang selalu membuat Pek Ban-kiam merasa kewalahan untuk menangkisnya. Lebih-lebih di atas senjatanya seakan-akan membawa kekuatan yang susah dilawan. Maka tidak sampai beberapa jurus pula, “krak”, kembali pedang Ban-kiam tergetar patah. Cepat Ban-kiam berganti senjata, tapi baru dua jurus saja lagi-lagi pedangnya patah.
Sambil memegang pedang patah Ban-kiam berseru, “Tenaga dalammu memang jauh melebihi aku, tapi dalam hal serang-menyerang aku belum lagi kalah!”
Segera ia lemparkan pedang patah, kembali ia sambar sebatang pedang anak muridnya terus menerjang maju dan menusuk pula.
Tapi Boh-thian sempat mengegos. Sekilas dilihatnya sorot mata A Siu menampilkan rasa sedih dan khawatir. Sekonyong-konyong hati Boh-thian tergerak. Teringat olehnya apa yang A Siu pernah pesan padanya di Ci-yan-to dahulu bahwa di kala bertanding dengan orang hendaklah selalu memberi jalan hidup bagi lawannya, kalau bisa mengampuni supaya mengampuni. Seorang tokoh Bu-lim takkan merasa malu bila dilukai olehmu, tapi dia akan lebih suka mati saja jika kau mengalahkan dia.
Ia lihat air muka Ban-kiam sangat prihatin, pikirnya, “Dia adalah tokoh terhormat Swat-san-pay, kalau aku mengalahkan dia di hadapan orang sebanyak ini tentu dia akan malu. Sebaliknya kalau aku kalah tentu aku akan kehilangan A Siu. Wah, lantas bagaimana baiknya? Ya, biarkan aku menggunakan jurus Pang-kau-cik-kik ajaran A Siu tempo hari supaya pertandingan ini berakhir dengan seri saja.”
Berpikir demikian, mendadak dalam benaknya terkilas pula suatu kesimpulan, “Ya, di Ci-yan-to tempo hari aku telah berjanji kepada A Siu bahwa kelak aku akan berbuat menurut pesannya itu. Untuk mana dia saking terima kasihnya sampai menjura padaku. Pemberian hormat itu tentulah karena sudah diduganya akan adanya pertandingan seperti sekarang ini. Coba kalau bukan lantaran ayahnya, buat apa dia mesti menyembah padaku? Tentunya dia sudah tahu bahwa ayahnya takkan mampu melawan ilmu golokku ini, makanya dia memberi pesan demikian padaku.”
Segera ia membacok ke kanan satu kali dan ke kiri satu kali, karena itu dadanya menjadi terbuka, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Pek Ban-kiam, pedangnya lantas menusuk ke depan.
Pada saat itulah cepat Boh-thian mundur tiga tindak, goloknya lantas menebas di depannya sendiri dari atas ke bawah. Waktu itu tusukan pedang Ban-kiam masih berjarak belasan senti dengan dada sasarannya dan segera sudah terasa akan tekanan tenaga dalam Ciok Boh-thian yang dahsyat sedang pedangnya sampai tergetar dan mendenging-denging.
Akan tetapi pada saat yang sama kembali Ciok Boh-thian mundur dua tindak lagi. Pikirnya, “Aku sudah mematahkan tiga batang pedangnya, untuk bisa berakhir dengan seri tentunya dia juga harus mematahkan golokku ini.”
Maka diam-diam ia kerahkan tenaga ke tangan, “krak”, goloknya mendadak juga patah menjadi dua seakan-akan patah tergetar oleh pedang Pek Ban-kiam.
A Siu menghela napas lega setelah menyaksikan kejadian itu. Serunya cepat, “Ayah, Toako, kalian sama kuatnya, siapa pun tidak dikalahkan oleh siapa-siapa!”
Ia berpaling ke arah Boh-thian dan tersenyum simpul padanya, ia merasa syukur bahwa pemuda itu masih ingat kepada pesannya dahulu dan dapat memahami maksud tujuannya.
Sebaliknya air muka Pek Ban-kiam tampak pucat lesi, mendadak ia menancapkan pedangnya ke atas tanah, katanya kepada Ciok Boh-thian, “Kau sengaja mengalah, masakah aku tidak tahu? Kau tidak membikin aku kehilangan muka di depan umum, sungguh aku merasa terima kasih.”
Su-popo sangat senang, katanya, “Anakku, kau pun jangan cemas, ilmu goloknya ini adalah ajaran ibu, lain hari aku pun akan mengajarkan padamu seperti dia. Kau dikalahkan dia kan sama saja seperti ibu yang mengalahkan kau. Masakah kita ibu dan anak masih membeda-bedakan antara kau dan aku?”
Dalam marahnya tadi dia masih mencaci maki “telur busuk tua bangka” dan “telur busuk kecil” segala, tapi sekarang sesudah Ciok Boh-thian mengalahkan putranya itu dengan Kim-oh-to-hoat, hal ini berarti pada akhirnya dirinya lebih unggul daripada sang suami, saking senangnya ia lantas menghibur putranya yang keok itu.
Keruan Ban-kiam merasa serbarunyam, terpaksa menjawab, “Ya, ilmu golok itu memang benar-benar sangat lihai, mungkin anak terlalu bodoh dan tak dapat mempelajarinya.”
Su-popo mendekati Ban-kiam, perlahan-lahan ia meraba dan membelai rambut putranya itu. Katanya dengan penuh kasih sayang seorang ibu, “Kau jauh lebih cerdas daripada bocah dungu ini, apa yang dapat dia pelajari masakah kau tidak dapat? He, anak dungu, kenapa tidak lekas menjura dan minta maaf kepada bapak mertuamu?”
Untuk sejenak Boh-thian melengak. Tapi ia lantas paham juga. Dengan girang dan kejut cepat ia menjura kepada Pek Ban-kiam.
Namun Ban-kiam lantas menyingkir ke samping, katanya dengan suara bengis, “Nanti dulu, urusan ini biarlah dibicarakan nanti saja.”
Lalu katanya kepada Su-popo, “Bu, meski ilmu silat bocah ini cukup tinggi, tapi tingkah lakunya bangor dan kotor, hari depan A Siu hendaklah kita pikirkan baik-baik.”
“Sudahlah! Sudahlah!” demikian mendadak Li Si menyela. “Apakah kau akan mengambil dia sebagai mantu atau tidak, yang terang aku tidak ambil pusing. Kulihat di antara orang-orang Swat-san-pay tiada seorang pun yang dapat menangkan saudara cilik ini, apakah sudah terang dia akan menjadi ciangbunjin kalian? Kalian semua takluk atau tidak?”
Pek Ban-kiam, Seng Cu-hak, dan anak murid Swat-san-pay yang lain tiada seorang pun yang berani membuka suara. Mereka merasa kepandaian memang kalah tinggi, di samping itu mereka pun berharap sesudah Ciok Boh-thian menjadi ciangbunjin akan segera berangkat ke Liong-bok-to untuk mengantarkan nyawa, sebab itulah mereka tidak memberi bantahan apa-apa.
Segera Thio Sam mengeluarkan dua potong medali tembaga, katanya dengan tertawa, “Selamat bahagia, saudara cilik kembali telah menjabat Ciangbunjin Swat-san-pay, maka kedua buah medali ini silakan diterima sekalian.”
Sambil bicara sebelah matanya berkedip-kedip pula beberapa kali.
Boh-thian tercengang melihat permainan mata Thio Sam itu, ia heran apakah sang toako telah mengenali penyamarannya? Padahal sepatah kata pun dia tidak bicara, mengapa rahasianya bisa ketahuan?
Ia tidak tahu bahwa bukan saja ilmu silat Thio Sam dan Li Si memang sangat tinggi, bahkan pengalamannya juga sangat luas, walaupun dia tidak pernah bersuara, tingkah lakunya juga tidak memperlihatkan sesuatu tanda-tanda yang mencurigakan, tapi tadi waktu dia bergebrak dengan Pek Ban-kiam, di mana dia telah mengeluarkan tenaga dalam yang mahakuat, hal inilah yang jarang terdapat di dunia Kangouw, sedangkan Thio Sam dan Li Si sudah cukup mengetahui betapa hebat lwekang Ciok Boh-thian pada waktu mereka berlomba minum arak berbisa dahulu, maka sekali lihat saja mereka lantas mengetahui rahasia penyamaran pemuda itu.
Begitulah ketika melihat Thio Sam menyodorkan medali tembaga kepadanya, Boh-thian menjadi ragu-ragu dan berpikir, “Ya, sudahlah! Toh aku sudah pernah menerima medali undangan ini sebagai Pangcu Tiang-lok-pang, sekali terima akan mati, dua kali terima juga mati, apa sih halangannya kalau sekarang aku menerima pula medalinya?”
Tapi baru saja ia angsurkan tangan hendak menerima pemberian medali-medali itu, mendadak Su-popo membentaknya, “Nanti dulu!”
Terpaksa Boh-thian menarik kembali tangannya dan memandang si nenek dengan bingung. Terdengar nenek itu sedang berkata, “Tentang kedudukan Ciangbunjin Swat-san-pay ini tadi telah ditentukan dengan jelas, yaitu berdasarkan ilmu silat masing-masing dan sekarang memang kau telah keluar sebagai juara. Cuma aku pun merasa muak atas sikap congkak si telur busuk tua bangka yang sok aksi sebagai ciangbunjin dahulu. Sekarang aku kepingin menjadi ciangbunjin juga untuk mencicipi rasanya. Dari itu, muridku yang baik, silakan kau menyerahkan kedudukan ciangbunjin padaku saja.”
“Menye... menyerahkan padamu?” Boh-thian menegas dengan heran.
“Ya, mengapa?” sahut Su-popo dengan marah. “Apakah kau menolak? Jika demikian, hayolah kita boleh coba-coba bertanding berdasarkan ilmu silat masing-masing untuk merebut kedudukan ketua.”
Melihat si nenek marah-marah, Boh-thian menjadi takut. Cepat ia mengiakan, lalu mengundurkan diri.
“Nah, sekarang akulah yang akan menjabat sebagai ciangbunjin, hayo, siapa lagi yang tidak mau takluk?” seru Su-popo dengan tertawa.
Seketika semua orang hanya saling pandang saja, semua merasa perubahan ini terlalu cepat dan aneh, maka tiada seorang pun yang berani membuka suara.
Su-popo lantas tampil ke muka dan menerima kedua buah medali dari tangan Thio Sam, katanya, “Ciangbunjin baru Swat-san-pay orang she Su dari keluarga Pek mengucapkan banyak terima kasih atas undangan kalian, pada waktunya kelak tentu akan hadir.”
Thio Sam dan Li Si saling pandang dengan tertawa, berbareng kedua orang lantas putar tubuh terus melangkah pergi, hanya dalam sekejap saja suara tertawa mereka sudah berada beberapa puluh meter untuk kemudian semakin jauh lagi dan akhirnya menghilang dengan cepat.
Dengan duduk di atas kursi tengah, kemudian Su-popo berkata dengan pada dingin, “Lepaskan semua belenggu orang-orang itu!”
Tapi mendadak Nio Cu-cin menegur, “Berdasarkan apa kau berani berlagak dan memerintah? Kedudukan Ciangbun Swat-san-pay yang mahapenting ini masakan boleh diserahterimakan seperti permainan begini saja?”
Seng Cu-hak dan Ce Cu-bian juga lantas menyokong, “Benar, kau bersenjata golok dan tidak memakai pedang, memangnya bukan kepandaian Swat-san-pay, mana boleh kau menjadi ciangbunjin kita?”
Tadi waktu Thio Sam dan Li Si masih berdiri di situ, yang dipikir semua orang adalah selekasnya kedua pentol pembawa maut itu bisa lekas-lekas pergi dan biar ada satu orang yang menerima undangannya untuk mengantar nyawa ke Liong-bok-to. Tapi begitu kedua pentol maut itu sudah pergi, segera teringat oleh mereka akan dosa pengkhianatan yang telah mereka lakukan, kalau sekarang Su-popo yang menjadi ciangbunjin mustahil dia takkan mengusut kesalahan mereka itu. Karena persoalan yang menyangkut mati hidup mereka ini, maka ramailah seketika dan sama menolak kedudukan Su-popo itu.
“Baiklah, jika kalian tidak bisa menerima aku sebagai ciangbunjin, ya, apa boleh buat,” kata Su-popo sambil memegangi kedua medali tembaga itu dan saling diketok-ketok sehingga mengeluarkan suara “ting-ting”, lalu sambungnya, “Nah siapakah di antara kalian yang ingin menjadi ciangbun dan bersedia hadir ke Liong-bok-to? Hayo, silakan tampil ke depan!”
Perlahan-lahan sorot matanya lantas menggeser dari Seng Cu-hak ke muka Ce Cu-bian dan Nio Cu-cin. Tapi semua orang sama berpaling, tak berani menatap sinar matanya yang tajam.
“Lapor Sunio,” kata Ban-li tiba-tiba, “kami semua telah berbuat durhaka dan mengkhianat Suhu, sungguh dosa kami tak terampunkan. Tapi dalam urusan ini sesungguhnya kami mempunyai alasan yang sangat terpaksa.”
Sambil berkata ia terus berlutut dan berulang-ulang menjura. Lalu menyambung pula, “Sebenarnya Sunio yang menjabat ciangbunjin kita adalah sangat baik sekali, biarpun Sunio akan membunuh Tecu juga Tecu tak berani mengelakkan diri. Cuma Tecu memohon agar Sunio suka mengampuni dosa yang lain-lain untuk menenteramkan perasaan mereka, supaya di dalam Swat-san-pay kita takkan timbul geger-geger dan bencana saling bunuh lagi.”
“Bahwasanya watak suhumu memang kurang baik, hal ini masakah aku tidak tahu?” ujar Su-popo. “Sesungguhnya bagaimana awal mula kejadian ini, coba kau ceritakan yang jelas.”
Ban-li menjura beberapa kali pula, lalu berkata, “Sejak Sunio, Pek-suko, dan para sute turun gunung, setiap hari Suhu selalu marah-marah. Adalah soal kecil jika anak murid cabang utama kita didamprat atau dihajar oleh beliau, kita yang sudah menerima budi kebaikan Suhu mana berani merasa penasaran. Soalnya dimulai pada setengah bulan yang lalu, ketika kita kedatangan tiga orang tamu yang mengaku tiga saudara she Ting. Yang seorang katanya bernama Ting Put-ji, yang kedua Ting Put-sam dan yang lain Ting Put-si....”
“Ting Put-si... Ting Put-si itu mau apa datang ke sini?” Su-popo menegas dengan terkejut.
“Begitu datang ketiga saudara she Ting itu, mereka lantas bicara secara rahasia dengan Suhu di dalam kamar,” tutur Ban-li lebih lanjut. “Apa yang dibicarakan kami tidak tahu, yang terang ketiga tua bangka itu rupanya telah membikin marah kepada Suhu sehingga keempat orang telah bertengkar. Tecu sekalian khawatir kalau Suhu sendirian akan kewalahan dikerubut tiga orang lawan, maka beramai-ramai kami menjaga di luar kamar, asalkan mendengar perintah Suhu serentak kami pun akan menyerbu ke dalam untuk melabrak ketiga tua bangka itu. Terdengar Suhu sangat marah dan mencaci maki dengan Ting Put-si itu, disinggung-singgung juga nama ‘Pek-lwe-san’ dan ‘Ci-yan-to’ apa, terdengar disebut-sebut juga nama seorang wanita, kalau tidak salah seperti ‘Siau-jui’.”
Su-popo mendengus satu kali dengan muka cemberut. Tapi lantas teringat para anak muridnya belum kenal nama kecilnya itu, kalau diterangkan akan menjadi kurang baik malah. Maka ia hanya tanya saja, “Lalu bagaimana?”
“Lalu entah cara bagaimana mulailah bergebrak, yang terdengar hanya suara menderu-deru angin pukulan di dalam kamar Suhu,” demikian tutur Ban-li. “Karena tidak menerima perintah Suhu, Tecu dan kawan-kawan tidak berani sembarangan masuk. Selang tak lama, tertampak dinding kamar itu sepotong demi sepotong tergetar ambrol, dari lubang dinding itulah baru kami dapat melihat jelas Suhu sedang bertanding dengan Ting Put-si. Ting Put-ji dan Ting Put-sam hanya menonton saja di samping. Karena guncangan angin pukulan kedua orang sehingga dinding tembok sama tergetar pecah dan ambrol. Tidak terlalu lama kemudian, tua bangka Ting Put-si itu akhirnya tidak mampu menandingi kesaktian Suhu, ia telah kalah satu jurus dan dadanya kena dihantam oleh Suhu sehingga muntah darah.”
Su-popo sampai bersuara kaget, air mukanya menampilkan rasa khawatir.
Dalam pada itu Ban-li telah melanjutkan, “Rupanya Suhu sangat gusar, pukulan kedua segera dilontarkan pula. Tapi Ting Put-ji itu telah menangkisnya dan berkata, ‘Kalah atau menang sudah jelas, buat apa diteruskan lagi? Toh bukan permusuhan besar apa-apa, masakan perlu mengadu jiwa segala?’ — Lalu Ting Put-si dipayang dan pergilah ketiga orang she Ting itu meninggalkan Leng-siau-sia.”
“Ketiga tua bangka itu tidak pernah datang lagi, tapi sejak itu pikiran Suhu lantas kurang normal, sepanjang hari beliau selalu terbahak-bahak, tertawa dan bicara sendiri, katanya, ‘Bangsat tua Ting Put-si itu memangnya adalah jago yang sudah keok di bawah tanganku, sekali ini dia tentu akan lebih kapok lagi mengakui kekalahannya. Dia... dia mengatakan Siau-jui telah ikut dia ke Pik-lwe-san....’.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar