Kamis, 15 Maret 2012

Puteri Harum dan Kaisar Jilid 21

MENDENGAR menyambarnya senjata tajam, tanpa berhenti lagi Hwi Hing terus menarik tangan Li Khik Siu dan dibawa lari masuk ketengah lautan api.
Tanpa kuasa tahu-tahu Li Khik Siu tubuhnya terapung diangkat orang, tentu saja semua perajuritnya berteriak kaget, tapi api menjilat dengan hebatnya, mereka tak berani maju menolongnya.

Tatkala itu Nyo Seng Hiap sudah hantam patah tombak Can Tho Lam dan Wi Jun Hwa juga sudah berhasil me rintangi majunya Li Wan Ci.
Melihat Hwi Hing mendadak menyeret Li Khik Siu ke dalam lautan api, segera para jago Hong Hwa Hwe pun mengarti akan maksudnya, maka be-ramaidua merekapun ikut menerjun masuk, sibongkok Ciang Cin yang per-tamadua melompat kedalam' lingkaran api, menyusul Cio Su Kin juga melesat masuk.
“Sudahlah Cukup, jangan masuk lagi,” demikian Keh Lok mencegah kawahduanya yang lain. Terpaksa mereka hanya. menanti saja diluar lingkaran api.
Ketika perajurit Cing nampak panglima mereka teran Cam bahaya, sesaat mereka menjadi lupa bertempur dengan orang-orang HONG HWA HWE, hanya dengan hati kuatir mereka mengawas gerak-gerik lima orang yang terkurung ditengah lingkaran api itu.
Terlihatlah saat itu Ciang Cin dan Cio Su Kin sudah membangunkan Bun Thay Lay yang bersandar diambang pintu, lalu hendak diajak pergi. Li Khik Siu agaknya sudah tertutuk oleh orang aneh berkedok itu, sebab lemas lunglai sedikitpun tak berkutik.
Sementara itu Can Tho Lam sudah mundur kebelakang dan menjaga dipinggir sumbu pasang bersama seorang Congping yang bertugas disitu, waktu melihat tawanan penting itu segera bakal lolos, tapi panglimanya berada didalam lingkaran api, maka tak berani ia menyulut sumbu, dalam hati ia kelabakan sendiri tanpa berdaya.
Pada waktu ia ragudua itulah, mendadak dari samping sese-orang telah mendorongnya, lalu merebut obor dari tangan satu perajurit terus menyulut sumbu peledak itu. Karuan terkejutnya luar biasa, waktu Tho Lam menegasi, nyata orang itu adalah Hoan Tiong Su.
Jago bayang kari ini tempo hari telah kena dihajar mentahdua oleh jago-jago Hong Hwa Hwe ditelaga Se-ouw hingga bikin malu dirinya dihadapan Sri Baginda, dendam itu selama itu selalu diingatnya, apalagi paman gurunya, Pui Liong Cun juga kena dipotong putus urat pundaknya oleh Bu Tim hingga CaCat untuk selamanya. Kini melihat Bun Thay Lay bakal terlolos, ia tak hiraukan lagi mati-hidupnya Li Khik Siu, seketika ia sulut sumbu obat peledak itu.
Sekejap saja semija orang menyaksikan seutas bunga api telah menyalar pergi dengan amat Cepat-cepat nya, asal ular bunga api itu sudah melingkari api, sudahlah pasti terjadi malapetaka hebat, tidak saja Bun Thay Lay, Li Khik Siu. Liok Hwi Hing, Ciang Ciu dan Cio Su Kin bakal hanCur lebur terledak, bahkan akibat dari obat pasang yang tersim-pan begitu banyak sekali didalam gudang pasti akan ikut meledak hingga rumahdua penduduk sekitarnya tentu tersangkut bahaya.
Karena itu, seketika keadaan menjadi kacau-balau, pasukan Cing be-ramaidua pada menyingkir mundur.
Sedang berbahaya, tiba-tiba terlihat sesosok tubuh orang melompat Cepat-cepat kedalam lingkaran api.
Orang itu berbaju biru panjang , mukanya juga ditutup sepotong kain sutera biru, hanya sepasang matanya terbuka, pada tangannya membawa sebatang rujung, larinya Cepat-cepat luar biasa. Dengan rujung itu ia menyabet dan menyapu serabutan pada sumbu obat peledak yang meletikan bunga api itu, namun sumbu itu masih terus membakar kedepan.
Nampak keadaan genting itu, Tan Keh Lok dan Ji Thian Hong tak hiraukan keselamatan sendiri lagi, berturut-turut me rekapun melompat maju berusaha hendak memotong sumbu api itu.
Kesemua itu terjadi dalam sekejap saja. Ketika melihat usaha mereka tak berhasil, tiba-tiba orang berkedok tadi men jatuhkan diri terus berguling-guling keatas sumbu yang mem-bakar itu, seketika itu badannya mengeluarkan bau yang sangit, sedang seluruh pakaiannya pun terbakar. Tapi sumbu itu berhasil dapat dipadamkan.
Dalam pada itu, ternyata Ciang Cin dan Su Kin telah berhasil membawa keluar Bun Thay Lay. Juga mereka bertiga, terbakar tubuhnya. Kedua saudara Siang itu bergegas-gegas menyambutnya, seraya berseru: “Lekas bergulingdua ketanah,” Ciang Cin dan Su Kin segera lepaskan Bun Thay Lay dari dukungan, lalu di-gulingduakan ketanah. Setelah beberapa kali barulah pakaian Bun Thay Lay yang kemakan api itu menjadi padam. Dan tepat pada waktunya, Lou Ping me nyambut dan membawa pergi suaminya itu.
Sementara itu, Ciang Cin dan Su Kin pun bergulingan ditanah, dan pakaian mereka yang terbakar itupun dapat di-padamkan.
Orang yang berkerudung mukanya itu besar sekali jasanya dalam usaha menolong Bun Thay Lay. Disamping berterima kasih yang tak terhingga, orang-orang HONG HWA HWE pun merasa heran siapakah gerangan orang aneh itu. Pada waktu itu, kedua saudara Siang tampak menerjang kedalam lautan api, untuk menyeret keluar orang bertudung itu yang ternyata saat itu sudah pingsan. Ketiga orang sama terbakar pakaiannya. Setelah kebakaran itu dapat dipadamkan, tampaklah bagaimana kaki tangan dan seluruh tubuh orang aneh itu, sama melepuh.
Setelah melihat Bun Thay Lay sudah dapat diselamatkan, Hwi Hing lalu memanggil Li Khik Siu, dan menerjang keluar. Sekalipun memanggul orang, tapi karena menggunakan ilmu mengentengi tubuh, maka jago tua itu tak banyak sekali menderita luka-luka terbakar.
“Kita sudah berhasil, lekas mundur!” seru Keh Lok.
Seruan itu disambut oleh Bu Tim yang segera memutar pedangnya untuk membuka jalan. Kedua saudara Siang memanggul orang aneh itu, Ciang Cin dan Su Kin memang gul Bun Thay Lay sedang Hwi Hing memanggul Li Khik Siu.
Adalah Wan Ci yang menjadi gelisah sekali, ketika nampak ayahnya digondol orang-orang HONG HWA HWE Dengan menghunus pedang ia memburu, tapi dihadang Jun Hwa dengan sepasang 'siang-kao'nya. Dalam beberapa jurus saja, nona itu kena kesrempet siangkao.
“Lekas pulang, memandang muka suhumu, aku tak mau melukai kau!” kata Jun Hwa.
Sementara itu, pasukan Ceng sama riuh gemuruh ber-sorakdua mengejar. Tapi karena pernah merasakan kelihaian orangs HONG HWA HWE mereka tak berani merangsek dekat.
Ada delapan orang jago bayang kari yang diutus oleh baginda untuk membantu Li Khik Siu. Apabila sampai jenderal itu tertawan dan kena apa-apa, mereka tentu menerima hukuman mati. Dengan sepasang 'poan-koan-pit'nya, Hoan Tiong Su mati-matian mengejar.
Orang she Hoan itulah yang tadi menyulut sumbu dinamit, maka tahulah Keh Lok bahwa orang itu sangat kejani sekali. Karenanya dia tak mau mengampuninya. Begitu me nyerahkan ,leng-bik-kiam' kepada Tio Pan San, ketua HONG HWA HWE itu berkata: “Sam-ko, tolong kau pimpin mundur rombongan kita, aku akan membereskan orang itu dulu!”
Dari dadanya, dia mengeluarkan senjata 'Cu-soh' (rantai mutiara). Juga Ma Tay Thing memberikan 'kiam-tun', pedang bertameng.
“Bagus saudara Ma, banyak sekali merepoti kau saja!” kata Keh Lok.
'Cu-soh' dan 'kiam-tun' ketua HONG HWA HWE itu, selamanya adat lah Sim Hi yang membawakan, karena boCah itu sakit, jadi Ma Tay Thing yang mewakilinya.
Ha,bis itu, sekali mengibas, 5 butir mutiara segera menyam bar kemuka Tiong Su. Si-wi ini bersenjatakan poan-koan-pit, jadi diapun seorang ahli menutuk. Sekalipun bagaimana, diapun melengak ketika nampak senjata yang luar biasa dari ketua HONG HWA HWE itu. Pada setiap batang rantai mutiara, ujungnya terdapat sebuah bola baja, yang dapat dipakai untuk menghantam jalan darah.
“Hoan-toako, bandulan boCah itu lihai sekali. Harap kau hati-hati,” seru Cu Co Im.
Mendengar ketuanya di-kata-katai begitu, gusarlah Tay Thing. Dengan sebatang rujung 'sam-Ciat-kun', dia maju mengemplang kepala Co Im, siapa melengkan kepala sembari balas menghantamkan golok. Begitulah segera terjadi pertempuran antara dua partai yang berjalan dengan seru.
Dengan andalkan kegesitannya dan kemahirannya menotok, Tiong Su berkelahi dengan linCahnya. Sekejab saja sudah berpuluh jurus lewat dan selama itu, diam-diam si-wi itu meng eluh dalam hati. Tidak lagi dia dapat wujudkan lamunannys untuk menang, sedang untuk dapat bertahan lagi, dia sudah akan berSyukur sekali. Dan akhirnya, jalan satuduanya ialah menCari kesempatan untuk lolos. Namun dirinya seolahdua dilihat oleh rantai mutiara orang.
Memang Tan Keh Lok tak ingin memperpanjang tempe lebih lama lagi. 'Cu-soh' diputarnya dalam gerak-gerak yang luar biasa hebatnya. Itulah yang disebut ilmu “Cian-thao-ban-jiu' atau seribu kepala selaksa tangan. Bandulan baja bagaikai hujan derasnya, mengarah jalan darah. Sehingga Tiong Su menjadi kebingungan untuk memelihara gerakannya. Saking gugupnya ia menjadi kalap. Dalam suatu kesempatan, dia menerjang maju terus menusukkan 'poan-koan-pit'-nya kedada lawannya.
Adalah peraturan dalam ilmu silat, jalah “satu dim pendek satu dim berbahayanya.” 'Poan-koan-pit' adalah senjata yang pendek. Kelihaiannya jalah untuk mengambil kemenangan dengan jurus-jurus nya yang berbahaya. Pikir Tiong Su, Tan Keh Lok pasti akan mundur atau sekurang-kurangnyanya menyingkir. Dan ketika itu, dapatlah dia lolos.
Poan-koan-pit itu bergerak keatas dan kebawah, mengarah jalan darah “hian-ki” dan “Hit-Cian” pada dada Keh Lok Tapi diluar dugaan, ketua HONG HWA HWE itu menarik turun tangannya kiri dan 'tun-kiam'-nya menabas kebawah. Pada 'tun' atau perisai itu, ditanCapkan sembilan batang pedang terkait yang tajam.
Tiong Su gelagapan, untuk menarik poan-koan-pitnya sudah tak keburu lagi. Maka begitu sepasang pitnya kebentur dengan kiam-tun, Cepat-cepat a dia tarik pulang. Tapi Keh Lok telah mendahuluinya untuk menyabet dengan Cu-soh, sehingga kedua kaki Tiong Su tergubat. Dan sekali dilontar se kuatduanya, tubuh Tiong Su melayang kedalam lautan api.
Ketua HONG HWA HWE itu terlanyur mengumbar kemarahannya Maka menyusul dengan itu, dia balingkan lagi Cu-sohnya menghantam punggung Co Im.
“Aduh “ jerit Co Im kaget dan kesakitan sekali, karenanya gerakannya pun menjadi lambat. Dengan tak sia-siakan kesempatan, Tay Thing menghantamkan 'sam-Ciat-kun'-nya dan tepat mengenai paha lawannya. Tay Thing gemas sekali akan mulut Co Im yang kurangajar tadi, jadi dia gunakan seluruh tenaganya untuk menghantam. Akibat nya, paha si-wi itu hanCur.
Pada saat itu, rombongan HONG HWA HWE sudah dapat keluar dari pagar tembok. Sedang Pan San yang melindungi dibelakang, tampak berhantam dengan tiga orang jago bayang kari.
“Ayo, mundurlah!” seru Keh Lok ketika menghampiri sembari melambaikan tangan.
Sedang dilain pihak, dalam tiga jurus saja, Wan Ci kelihatan tak dapat bertahan dari serangan 'siang-kao' Jun Hwa. Terpaksa ia mundur. Jun Hwa tak mau mendesak, hanya berputar kekanan dan mengajunkan kepalannya pada seorang si-wi sehingga si-wi itu pesok hidungnya. Dan se Cepat-cepat nya, Jun Hwa sudah merampas sebatang obor, terus menyulut sumbu yang dipadamkan oleh siorang bertudung tadi. Gegap gempitalah kegemparan pasukan Ceng, sedang dalam pada itu, rombongan HONG HWA HWE sudah menyingkir semua, Swi Tay Lim, Cu Wan dan lain-lain. si-wi sedianya akan terus mengejar, tapi tibas dilihatnya asap hitam bergulung-gulung keatas dan sekali sinar api yang terang benderang berkilat, maka terdengarlah suara letusan dahsyat memeCah bumi. Seketika CuaCa menjadi gelap dengan gulungan asap, dan pecahan genteng serta batu beterbangan keseluruh penyuru.
Anakdua tangsi sama mengetahui bahwa itulah obat pasang yang meledak, mereka, burus tengkurap ketanah. Obat pasang didalam gedung berloteng itu, ber-petidua banyak sekalinya maka letusan segera terdengar susul menyusul. Sekalipun orang-orang itu berada ditempat yang jauh jaraknya dengan gedung itu, namun mereka tak sekali-kali berani bangun. Walaupun demikian, tak urung ada berpuluh orang yang kepalanya berdarah ketimpah pecahan batu atau genteng. Hoan Tiong Su, itu si-wi yang kejam, karena dilemparkan kedalam api oleh Keh Lok tadi, sianga tubuhnya sudah hanCur ber-keping-keping kena ledakan obat.
Setelah orang- tangsi itu berani berbangkit lagi, rombongan HONG HWA HWE sudah lenyap dari pemandangan. Swi Tay Lim pimpin pasukan berkuda untuk mengejar kearah tenggara (timur selatan), barat daya dan keempat jurusan lain. Yang pimpin pengejaran kesebelah barat, adalah perwira Can Tho Lam.
Belum lama berjalan, mereka berpapasan dengan Wan Ci yang berjalan kembali sambil menuntun ayahnya. Girang sekali Tho Lam, lalu Buru-buru memberikan kudanya.
Kiranya ketika tahu sang ayah ditawan, tanpa hiraukan apa-apa lagi, Wan Ci nekad mengejar. Rombongan HONG HWA HWE menuju kebarat, karena seorang diri, Wan Ci tak berani terlalu mendekati, hanya menguntit dari kejauhan.
Waktu itu hari belum terang tanah, tetapi ketika rombongan itu sampai dipintu barat, tiba-tiba pintu kota itu terbuka, se-olahdua memberi kesempatan orang-orang itu untuk keluar. Wan Ci memutar kelain jurusan, pada sebuah tempat sepi, ia memanyat keatas. Tapi karena itu, ketika diawasinya lagi, rombongan HONG HWA HWE tadi sudah tak nampak. Hanya bintang pagi menCorong dilangit, sedang ajam jago kedengaran berkokok. Karena bingung dan sedih memikirkan nasib ayahnya, nona itu mendekap mukanya dan menangis.
Tengah dia menangis itu, tiba-tiba ada suara lemah lembut menegurnya: “Wan Ci, aku disini.”
Sukar dilukiskan rasa kegirangan sigadis itu ketika dike tahuinya bahwa orang yang berdiri dibelakangnya itu adalah ayahnya sendiri. Ia loncat menubruk dan merangkul sang ayah.
“Ayah, apa kau tidak terluka?” tanyanya segera.
“Tidak,” sahut orang tua itu.
Wan Ci sesepkan kepalanya kedada sang ayah, dan berbisik menanya: “Bagaimana dengan dia?”
Tapi Khik Siu tak menyahut, hanya gelengkan kepala. Tanpa terasa, Wan Ci kucurkan air mata.
Kiranya sewaktu keluar dari pintu kota dan melihat tak ada yang mengejarnya lagi, rombongan HONG HWA HWE lega hatinya. Berjalan tak berapa lama, mereka sampai ditepi sungai. Disitu sudah tersedia belasan perahu model Siauwhin, yaitu yang dienjot pakai kaki. Ma Sian Kun keluar menyambut, dan dengan gembira orang-orang HONG HWA HWE sama naik kedalam perahu. Waktu itulah Hwi Hing berbisik pada Tan Keh Lok: “Li Khik Siu pernah melepas budi padaku. Bun-suko sudah tertolong, baik kita lepaskan Ciangkun itu.”
Tan Keh Lok setuju. Setelah pengikat Khik Siu dikendorkan, dia diletakkan diatas tepi sungai. “Lekas berlajar, kita menuju ke Kahin dulu!” seru Keh Lok.
Setelah berlajar melalui lima teluk, tiba-tiba Tan Keh Lok i* berseru: “Biluk kebarat ke IkCiu, biar Li Khik Siu t jari kita di Kahin!”
Orang-orang sama tertawa ter-bahakdua. Ber-bulandua jerih payah, baru hari itu mereka betuia bebas hatinya. Bun Thay Lay dirawat dengan penuh sayang oleh isterinya. Setelah borgo lannya dipapas dengan 'leng-bik-kiam', maka iapun lalu mengaso.
“Congthocu, orang berkerudung yang menolong Suko itu luka parah sekali. Baik apa tidak kalau kita buka kerudung mukanya itu,” kata Thian Hong.
Memang semua orang pun heran dan ingin mengetahui siapakah gerangan dia itu.
“Dia pakai kerudung muka, tentu maksudnya supaya orang jangan menampak wajahnya. Kurasa lebih baik kita jangan membukanya,” kata Ciu Tiong Ing yang berhati jujur itu. Sim Hi yang sudah banyak sekali sembuhan itu, menggosokkan obat pada luka-luka siorang aneh itu. Karena sekujur badannya sama melepuh terbakar, orang itu tak bisa tidur dan terusduaan mengerang saja. Sim Hi takut, jangan-jangan orang itu mau meninggal. Karena itu, dia Buru-buru melapor.
Keh Lok bersama beberapa kawan menuju kesudut pe-rahu. Mereka melihat bagaimana laku siorang aneh itu, yang ternyata lukanya itu tidak karuan. Mereka pun berkuatir. Orang berkerudung itu masih terus tak sadarkan diri. Dengan kedua belah tangannya, dia garuki mukanya. Rupanya luka pada bagian itulah yang paling hebat rasa gatalnya. Tiba-tiba tangannya kiri menarik kain kerudung mukanya itu dan berserulah orang-orang HONG HWA HWE dengan kaget sekali: “Sipsute!”
Kiranya orang aneh itu ialah si Kim-tiok-siuCay Ie Hi Tong. Hanya saja kini, selebar mukanya sama melepuh mengandung air. Kalau dulunya muka itu sangat Cakapnya, sekarang betul-betul mengenaskan sekali keadaannya.
Orang-orang HONG HWA HWE sama girang dibalik merasa gegetun sekali. Lou Ping menyeka luka-luka dan kotorandua pada muka Hi Tong, lalu dipakaikan obat seperlunya.
Hatinya merasa pilu sekali, ia tahu anak muda itu berkorban karena Cinta padanya. Besar Cinta kasih anak muda itu, sehingga rela dia membuang jiwa untuk menolong Bun Thay Lay supaya orang yang diCintainya itu jangan bersedih. Sekalipun begitu, sukar rasanya Lou Ping untuk membagi Cintanya.
Masih ingat ia akan kegeloan pemuda itu ketika lari dari Thiat-tan-Hung dulu, untuk itu ia masih mendongkol. Tapi ketika melihat pengorbanan pemuda itu menolong suaminya, berobahlah pandangan Lou Ping. Memang Cinta, telah membikin buta anak muda itu. Kalau ditilik dari luka-lukanya, rasanya Hi Tong sukar tertolong jiwanya. Dan kalau sampai terjadi begitu, getaran asmaranya itu akan tetap tak terbalas. Memikir sampai disitu, Lou Ping termenung.
Setelah berlajar beberapa jam lagi, sampailah mereka di Gihong Ma Sian Kun Buru-buru mengundang tabib pandai untuk mengobati Hi Tong dan Bun Thay Lay. Tentang penyakit Bun Thay Lay, berkatalah tabib itu: “Orang ini hanya menderita luka luar, uratduanya kuat sekali, beberapa bulan lagi dia tentu sudah sembuh.”
“Tapi siaoya ini,” kata pula tabib itu menuding kearah Hi Tong. “Lukanya terbakar hebat sekali. Pertama Coba. kuberinya dua thiap obat pemunah raCun kebakar.”
Dari uCapa,n itu dapatlah diketahui, bahwa tabib itu sudah tak berani memastikan sembuh tidaknya Hi Tong, yang sudah tak berdaya lagi. Ketika tabib itu berangkat pulang, tiba-tiba Bun Thay Lay ber-kaokdua keras: “Tempat apa ini? Mengapa orang-orang banyak sekali berada disini?” Nampak suaminya dapat tersedar, Lou Ping menangis kegirangan.
“Toako, kau sudah tertolong bebas!”
Bun Thay Lay bersenyum dan manggutkan kepala kepada sekalian orang, lalu meremkan mata lagi, dia masih keliwat lemah. Sekarang perhatian oranga HONG HWA HWE beralih menguatir kan keselamatan Hi Tong.
“Tapi mengapa Sipsute ini masuk kedalam tangsi Li Khik Siu?” tanya Ciang Cin heran. “Kalau begitu orang yang menunyukkan jalan di bawah tanah itu, tentu dialah. Tapi karena tidak mengetahui, kita malah sudah memukulnya,” kata Siang He Ci.
“Tapi dia menolong Li Khik Siu, entah apa maksudnya?” tanya Siang Pek Ci.
Tak ada jawaban apa-apa, keCuali saling berisik merundingkan. Hanya Thian Hong seorang yang dapat merabah latar belakangnya. Tapi karena kurang jelas dia tak berani mengutarakan.

Hal yang sebenarnya, adalah sebagai berikut: Ketika pertempuran ditepi Hoaggho tempo hari, Wan Ci telah hilang dari rombongan HONG HWA HWE Kebetulan ia melihat sebuah kereta besar, maka Cepat-cepat ia loncat masuk. Ternyata didalamnya ada beberapa perwira Ceng, siapa Coba menghadang Wan-Ci, tapi dapat dipukul mundur oleh nya. Tanpa menghiraukan apa-apa, nona itu menerjang dengan kalang kabut, entah kemana arahnya. Setelah keretanya jauh, baru dia berhentikan kereta itu dan turun.
Ketika menyingkap tenda kereta dan melongok kedalam, ia agak terperanyat. Karena didalam situ terdapat orang yang pernah dua kali bertemu muka dengannya, jakni Kim-tiok-siuCay Ie Hi Tong.
Hanya saja keadaan orang itu, sakit payah. Waktu disingkap selimutnya, ternyata anak muda itu luka parah. Setelah mengaso sebentar, Wan Ci keprak keledainya lagi. dan tiba dikota Bun Kong. Sebagai seorang sioCia dari seorang pembesar tinggi, ia biasa hidup mewah. Begitu masuk kota, ia lalu memilih sebuah hotel yang besar. Justeru hotel itu adalah milik seorang buaja darat yang bergelar “Tong-li-pi-siang” atau warangan didalam gula, nama yang sebenarnya Tong Liok. Tong Liok pura-pura menyambutnya dengan manis, tapi menaruh keCurigaan kepada tetamunya. Betul juga belakangan dia ketahui bahwa Wan Ci itu seorang gadis yang menyaru sebagai lelaki.
Dia berserikat dengan sinshe Ho Su Peng untuk men Celakakannya. Tapi belum sampai terlaksana, buaja itu telah kena dibereskan oleh Siao-Li-Kui Ciu Ki dirumah pelesiran Waktu itu keadaan Hi Tong sudah sedikit sadar. Karena takut dirembet dengan peristiwa buaja itu, dia ajak Wan Ci melarikan diri.
Begitulah setiba dikota Khay Hong, Wan Ci segera menghadap kekantor bupati dan menerangkan dia adalah putera dari Ciangkun Li Khik Siu dari HangCiu, yang dibegal orang ditengah jalan. Pembesar itu memberikan uang dan kereta, dan begitulah kedua anak muda itu dapat sampai di HangCiu dengan tak kurang suatu apa.
Kepada sang ayah, Wan Ci menerangkan bahwa pemuda kawannya itu mendapat luka karena menolongnya dari tangan perampok. Khik Siu berterima kasih dan suruh Hi Tong beristirahat dalam tangsi serta dipanggilkan sinshe untuk mengobatinya.
Kemudian karena melihat orangnya Cakap dan ilmu ke-pandaiannya tinggi, apalagi pernah menolong puterinya. Ciangkun itu ada ingatan akan mengambil mantu pada Hi Tong. Sedikitpun tak diketahuinya bahwa pemuda yang telah di penujuinya itu, adalah salah satu tokoh yang terpenting dari HONG HWA HWE
Beberapa bulan kemudian, hati Wan Ci tampak risau. Tahu ia bahwa anak muda itu sebenarnya adalah pihak lawan dari ayahnya, tapi apa mau dikata, hati sinona telah punya bayangan dari wajah anak muda itu. Malam ia bermimpi ketika Hi Tong berada di hotel dengan senyumnya yang manis sewaktu menghadapi musuh, dan bagaimana merdu rajuan suling dari anak muda itu. Dan bagaimana selama dalam perjalanan itu, ia rawat luka sianak muda dengan penuh kesajangan. Anehnya, entah pengaruh apa yang menyebabkan ia dapat mengatasi diri untuk tidak mengeluarkan perangainya yang anehdua itu. Sekali-kali ia tak suka sianak muda itu menCelah kelakuannya.
Setelah luka Hi Tong mulai sembuh, orang-orang HONG HWA HWE melaku-kan penyerangan ketangsi. Sewaktu Hi Tong buang jiwa untuk menolong ayahnya, Wan Ci girang bukan buatan. Dikiranya anak muda itu sudah berobah pendiriannya dan berdiri dipihak ayahnya. Tapi lamunannya itu segera dibujar kan dengan adanya kenyataan, ketika Hi Tong menolong Bun Thay Lay, kemudian lalu mengikuti pergi dengan rombongan HONG HWA HWE
Begitulah sekujur tubuh Hi Tong melepuh berair. Duduk maupun dibuat tiduran, rasanya sakit. Ada 4 orang thauwbak yang bergiliran mendukungnya selama berlajar dengan perahu itu. Karena hanya bagian tumit kakinya saja yang tak ter luka, maka ia masih bisa berdiri.
“Kurasa pemerintah tentu takkan tinggal diam dengan tindakan kita ini. Sebaiknya kita Cari daya untuk menjaga diri,” Hwi Hing menyatakan pendapatnya.
“Benar, Suso, Ciang-sipko, kamu bawa delapan orang thauwbak untuk mengantar Bun-suko dan Ie-sipsute kegunung Cian-thian bok,” kata Keh Lok.
Lou Ping dan Ciang Cing mengiakan.
“Karena kehilangan pesakitan penting, baginda tentu akan gerakkan pengejaran besaran, kurasa kalau hanya kalian berdua itu masih kuranglah,” Ciu Tiong Ing memberikan pandangannya.
“Ya, Ciu-Locianpwe benar,” jawab Keh Lok. Tapi belum sampai dia menunyuk siapa orangnya, keburu Thian Hong menyelak :
“Mengapa kita tak mau turut akan tipu dari suhu Tio-samko, biarkan pemerintah Ceng mendapat hidung pan jang .”
Tapi Bu Tim gelengkan kepalanya.
“Suhu Tio-samko itu waktu sudah berusia tinggi, dia sudah undurkan diri, jadi tak apalah kalau pura-pura meninggal. Tapi Sute masih muda, darahnya panas, tentu tak tahan menderita hinaan,” demikian katanya.
Kiranya suhu dari Tio Pan San, Ong Liang Ki, adalah ahli Thay Kek Pai yang kenamaan dari kota TTnCiu. Semasa mudanya pernah bermusuhan dengan jagoan besar dari Shansi yang bernama Seng Kiao. Seng Kiao kena dijatuhkan, dan bersumpah nanti sepuluh tahun lagi akan menuntut balas.
Sepuluh tahun lamanya, Seng Kiao menyiksa diri berguru pada Cabang Houw Jiau Kun, ilmu silat Cakar Harimau, dan tepat pada waktunya ia pergi keselatan menCari Liang Ki.
Sebenarnya ketika itu Ong Liang Ki sudah undurkan diri. Dia sudah tawar akan kebanggaan nama yang kosong. Apalagi tenaganya sudah banyak sekali berkurang, sedang lawan kabarnya sudah mendapat kemajuan pesat sekali, jadi mungkin tak dapat menghadapinya. Karenanya dia gunakan tipu pura-pura mati. Diruangan depan diatur meja sembahjangan dan di letakkannya peti mati.
Mengetahui musuh besarnya sudah menutup mata, Seng Kiao menangis didepan peti mati. Dia tangisi jerih payahnya selama sepuluh tahun itu, kini tak berguna sama sekali. Jadi sakit hati itu tak dapat dilampiaskan.
Habis bersembahyang , dia gunakan jari tangan menggaruk peti mati, sehingga kelima jarinya itu meninggalkan bekas dalamdua pada peti itu. Tio Pan San adalah murid nomor dua. Demi dilihatnya, Seng Kiao begitu kejam menghina seorang mati, timbullah kemarahannya. Dari berCekCok lalu menjadi perkelahian. Tapi Pan San bukan tandingannya Dia kena digaruk rambutnya sampai kepalanya botak separoh.
Tio Pan San mendendam sakit hati. Selanjutnya lalu ber sungguhz meyakinkan ilmu silat Thay Kek Kun. Lima tahun kemudian seperti sang suhu, Pan San gunakan gerak tipu “Ya-ma-hun-Cong” atau kuda Uar membagi bulu suri, suatu tipu yang digunakan oleh gurunya dulu, dan berhasil merobohkan Seng Kiao.
Dan sedari itu, Tio Pan San diangkat sebagai Ciang-bun-jin (ahliwaris) dari Cabang Thay Kek Pai. Tio Pan San memperingatkan kepada murida yang belajar didalam perguruan itu, supaya menyauhkan permusuhan dengan orang, karena ilmu itu tidak ada batasnya. Setiap Cabang mempu nyai ahlidua luar biasa sendiridua, jadi tak boleh terlalu membanggakan diri. Peristiwa itu teruwar luas dikalangan kangouw.
Semua orang-orang HONG HWA HWE pun menyetujui pendapat Bu Tim. Meskipun tipu “pura-pura mati” dapat menyiasati pemerintah Ceng, tapi mengunjuk kan kelemahan. Dapat diduga Bun Thay Lay tentu tak menyetujuinya.
“Congthocu, sudahlah jangan hiraukan aku. Lo-thocu tinggalkan pesan mengenai gerakan besar untuk membangun-kan lagi derajat bangsa Han. Congthocu, kau tentu dapat melakukannya. Sekarang baginda sedang berada di HangCiu, mudah menCarinya,” demikian tiba-tiba Bun Thay Lay berseru.
Keh Lok seperti orang tersedar, maka jawabnya: “Ya, biar kumenghadap pada baginda dan mengatakan bahwa rahasianya telah kita ketahui. Dengan begitu dia tentu akan menganggap orangs HONG HWA HWE ini semua adalah duri perintang baginya, dan harus dihukum mati semua. Jadi dengan demikian dia tidak memusatkan kebenciannya pada Bun-suko seorang saja.”
Mendengar pendapat ketua itu, orang-orang sama bertepuk tangan dengan girang.
“Kiu-te, apakah selama beberapa hari ini di HangCiu diadakan persidangan agung?” tanya Keh Lok.
“Tidak ada. Tapi malam ini akan diadakan pemilihan ratu kembang!” jawab Jun Hwa.
“Ratu kembang? apakah itu?”
“Ah, ratu kembang pelacur, tentunya. Nanti malam di telaga See-ouw ramainya bukan buatan,” kata Jun Hwa dengan ketawa.
“Kita panCing baginda supaya datang ketempat pelesiran. Congthocu, kaupun harus keluar supaya menemui baginda,” kata Thian Hong.
Mendengar tempat pelesir dan sebagainya, Cin Ki kerutkan alisnya kurang senang.
“Huh, makin lama kau ini makin tak karuan. Masa Congthocu kau suruh ketempat pelesiran,” demikian omelnya.
“Ah, hanya perlu menemui baginda saja, tak mengapalah,” jawab Thian Hong.
“Tapi kukuatir, dia tak mudah dipanCing,” kata Keh Lok.
Semua orang terdiam, mengasah otak.
“Kita bekerja tak boleh kepalang tanggung, tawan saja raja itu, paksa dia luluskan permintaan kita, atau habisi saja jiwanya, Coba lihat dia bagaimana,” kata Bu Tim.
Kembali orang-orang sama melengak tak ada yang berani buka suara.
“Dia menangkap Bun-suko, kita balas tangkap dia, kan sudah selajaknya,” kata Keh Lok.
Tahu sang ketua menyetujui usulnya, Bu Tim girang, katanya kepada Thian Hong: “Ayo, kita pergi kesarang pelesir, takut atau tidak?” — Lalu ia melirik pada Ciu Ki, dan lanjutkan kata-katanya: “Aku seorang pertapaan, juga akan pergi. Kalau bisa menawan baginda, pastilah hebat.”
Semua orang ketarik dengan kata-kata tojin itu. Untuk menawan Kian Liong, mungkin tak mudah, tapi mereka tampak bersemangat. Semua mata tertuju pada Thian Hong, untuk menunggu buah pikiran si “Khong Beng” ini. Lama juga dia berpikir, baru berkata: “Ada suatu daya, entah dapat disetujui atau tidak?”
Dan segera dibeberkannya rencananya.
“Bagus, bagus! Tak keCewa kau menjadi 'Bu-Cu-kat'. Andainya tak berhasil, kitapun tak rugi,” seru Hwi Hing memuji.
Ciu Ki tersenyum puas, karena orang memuji tunangan nya.
“Ya, begitulah. Sebaiknya kita lekas bekerja. Suso, Sipkp, pergilah kebarat. Tunggulah kita disana. Gagal atau berhasil, kita nanti bertemu lagi disana,” kata Keh Lok kemudian.
Kalau semua saudara-saudaranya sama gembira, adalah Ciang Cin yang mendongkol, karena tidak bisa ikut. Demikianlah rombongan besar HONG HWA HWE lalu menuju ke HangCiu, sedang Lou Ping dan Ciang Cin mengantar Bun Thay Lay dan Hi Tong beristirahat kegunung Cian Thian Bok.
Dilain pihak mendapat laporan dari Cu Wan dan lain-lain si-wi tentang kegagalannya ditangsi Li Khik Siu, baginda Kian Liong terperanyat. Tapi dia orangnya kuat sekali pe rasaannya, marah atau girang tak kentara. PerCuma saja si-widua itu dihukum, karena toh pesakitan sudah terampas musuh. Malah dia menghibur kawanan si-wi itu.
Hal itu diluar dugaan mereka, sehingga mereka tersipu-sipumenghaturkan terima kasih. Pun idem dengan Li Khik Siu yang datang menghadap. Jenderal itu masih tetap dipakai nya, dengan sjarat dia harus mendirikan pahala guna menebus dosanya itu.
“Lakukan sebisanya, babatlah HONG HWA HWE sampai akarduanya, disinilah nanti kutempatkan kau,” kata Kian Liong.
Waktu itu baginda lagi berada dikantor gubernur Ciat-kang. Jadi maksudnya, kelak kalau berjasa Khik Siu akan diangkat menjadi gubernur propinsi Ciatkang. Mendengar itu hati Khik Siu bergoncang keras, dan Buru-buru menghaturkan terima kasih.
Setelah Khik Siu berlalu, maka Kian Liong kembali pikiri tentang peristiwa Bun Thay Lay itu. Apakah orang itu mengetahui tentang rahasia dirinya? Ditilik dari perCaka pannya rupanya orang she Bun itu masih belum tahu. Tapi kalau melihat perubahan mukanya orang itu mengandung banyak sekali rahasia. Bukankah dia pernah mengatakan, bahwa ada dua buah barang bukti yang berada diluaran? Mungkin hal itu benar, tapi barang apakah itu? Kalau dirinya itu seorang Han, itulah benar. Namun kalau sampai hal itu teruwar, bukankah akan hebat akibatnya?
Demikian Kian Liong timbul tenggelam dalam pikirannya, sewaktu dia berada didalam kamarnya. Makin dipikir, makin murkalah. Karena sebagai yang dipertuan, masa tak dapat menandingi sekelompok kecil gerombolan penyahat. Apalagi rahasianya, berada ditangan mereka, tentu mereka akan lakukan pemerasan hebat.
Saking gemasnya, dia banting sebuah vaas giok hijau kelantai, sehingga hanCur ber-keping-keping. Mendengar itu, kawanan si-wi yang menjaga diluar kamar, sama gemetar ketakutan. Sampaipun rasanya bernapas saja tidak berani. Memang jitu bunyinya ucapan “menghamba pada seorang raja, seperti menghamba pada harimau.”
Tengah keadaan hening luar biasa, tiba-tiba dari luar sajupdua terdengar suara musik yang mengalun merdu dari jauh mendekat, setelah melewati kantor pembesar itu lalu men jauh pula. Dan tak lama kemudian, kembali se-iringduaan penabuh musik itu lewat lagi.
Kaisar Kian Liong adalah satu raja periang, terhadap musik biasanya sangat suka, kini mendengar alunan musik yang begitu merdu meraju kalbu itu, tak tertahan hatinya tergerak, segera ia berteriak memanggil orangnya.
Lalu masuklah seorang menteri, ialah Ho Gun, seorang kepercayaan Kian Liong yang paling belakang ini sangat disayang nya, dasar Ho Gun ini pandai mengambil hati jun jungannya, maka berulang kali ia naik pangkat dan dapat hadiah. Kini mendengar teriakan sang kaisar, maka kawan sejawatnya mendorongnya maju.
“Suara tetabuhan diluar itu permainan apakah itu, Coba kau pergi menanya,” demikian perintah Kian Liong.
Segera keluarlah Ho Gun dengan tugas itu. Tak lama kemudian iapun kembali dan melapor: “Hamba sudah keluai menanya jelas, katanya malam ini semua bunga raja terkemuka dikota HangCiu ini akan berkumpul di Se-ouw untuk memilih apa yang disebut 'Hoa-kok-Cong-goan' (Cong-goan gelar ujian sastra terkemuka dijaman feodal. Disini dapat disebut “ratu kembang”), malahan juga ada Pong-gan, Tam-hoa, Toan-loh (semuanya gelar dibawah Cong-goan) .”
“Kurangajar, masakan namadua kebesaran negara dibuat permainan dan disalahgunakan!” omel Kian Liong sambil tertawa.
Melihat wajah sang junyungan bersenyum, Ho Gun menjadi berani, maju setindak lantas ia bisik-: “Konon katanya 'Ci-tong-su-yan' yang terkenal di HangCiu sini juga akan hadir kesana.”
“Apakah 'Ci-tong-su-yan' itu?” tanya Kian Liong.
“Sebenarnya hamba sendiripun tidak tahu,” sahut Ho Gun. “Tadi sesudah menanya penduduk orang sini, barulah diketahui itu adalah nama empat bunga raja yang paling terkenal. Sekarang di-manaa diseluruh kota orang justeru lagi ramai memperbincang kan siapakah diantara mereka yang bakal terpilih menjadi ,ratu kembang'.” “Kalau ujian Cong-goan negeri aku sendirilah yang me nunyuk, lantas pilihan 'ratu kembang' ini siapakah yang me-nentukan? Masa masih ada seorang raja kembang?” ujar Kian Liong tertawa.
“Biasanya pilihan itu ditentukan oleh para orang-orang terkemuka dikota ini,” kata Ho Gun. “Tampaknya tahun ini terlebih ramai lagi, setiap bunga raja terkenal itu menumpangi sebuah perahu kembang, perahu itu dihias segala macam benda mestika yang diterimanya dari tetamu yang pernah kenal padanya. Masih ada lagi barisandua musik, katanya akan melihat perahu kembang siapa yang paling mewah, kemudian baru ditentukan hasil pilihannya. Iringkan musik yang lewat tadi, kesemuanya menuju ke Se-ouw.”
Kian Liong menjadi terpesona oleh Cerita menterinya itu, segera, ia tanya lagi: “Bilakah mereka mulai permainan itu?”
“Sudah hampir, asal hari sudah gelap, segera disemua perahu kembang terang benderang dengan lampu aneka warna, dan mereka yang akan dipilihpun tibalah,” terangkan Ho Gun. “Jika sekiranya Hongsiang ada minat, bagaimana kalau Coba-coba pergi melihat keramaian itu?”
“Ah, takutnya kalau dibuat kritik orang,” ujar Kian Liong tertawa. “Apa lagi bila diketahui Thayhou (ibusuri), tentu aku bakal mendapat Comelan. Haha!”
“Asal Hongsiang menyaru sebagai penduduk biasa, sekedar menonton keramaian itu, rasanya tiada orang luar bisa tahu,” kata Ho Gun pula.
“Baiklah,” kata Kian Liong akhirnya. “Kau suruh semua tutup mulut, diam-diam kita menonton sebentar lantas kembali.”
Segera Ho Gun melayani Kian Liong mengenakan suatu baju panjang dari sutera dan berdandan sebagai seorang saudagar besar. Ia sendiripun menyamar seperti saudagar biasa, sesudah membawa Pek Cin dan beberapa bayang kari lain, lantas pergilah mereka menuju Se-ouw.
Setiba disana, ternyata sudah ada seorang bayang kari me-nyiapkan sebuah perahu pesiar sedang menanti. Tatkala itu diseluruh telaga di-manadua terdengar suara tetabuhan, lampu ber-kelipdua, pemandangan indah luar biasa.
Ditengah telaga sudah ada lebih dua0 perahu kembang yang terhias indah sekali disinari lampudua yang terang.
Ketika Kian Liong suruh perahu didajung mendekatinya, terlihatlah diantara lampudua berselubung sutera itu semuanya ditisik dengan lukisan dari berbagai macam Cerita kuno, terutama mengenai romanse orangs ternama dahulu. Menyak sikan semuanya itu, diam-diam Kian Liong gegetun akan segala keindahan didaerah Kanglam yang ternyata tak bisa dibandingi daerah utara itu.
Ber-iringdua perahudua pesiar dari kaum pelesiran, mondar mandir ditengah telaga itu. Rupanya mereka tengah memberi nilai akan perahudua Calon ratu.
“He, mengapa mereka hanya melihat perahu bukan orang nya. Apakah 'Cong-goan' itu dinilai dari bagusnya perhiasan perahu?” tanya Kian Liong.
“Biar hamba tanyakan mereka”, jawab Ho Gun.
Tapi baru saja menteri itu akan keluar, tiba-tiba terdengar genderang dipukul, dan seketika itu segala bebunyian menjadi sirap. Menyusul dengan itu melayang lah kembang api keatas udara, terang benderang Cahajanya, kemudian jatuh kedalam telaga.
Bermula yang diluncurkan adalah kembang api yang merupakan tulisan “Negara makmur, rakyat sejahtera,” “Dirgahaju Seri Baginda.” Melihat itu, Kian Liong merasa puas. Menyusul lagi “Beribu bunga merebutkan keCantikan,” “Mengaum-aum sang kumbang mengisap bunga” dan lain-lain istilah kaum pelesiran.
Sehabis kembang api, tetabuhan kembali dibunyikan. Setelah irama “Gembiralah sang burung beterbangan” dilagukan habis, mendadak semua perahudua Calon ratu disingkap tenda lajarnya. Pada setiap perahu tampak duduk seorang wanita Cantik, yang disambut dengan sorakan dari segala penyuru.
Beberapa si-wi menghidangkan arak dan sajuran serta menyilahkan baginda untuk menikmati arak dan pemandangan yang mentajubkan itu. Ber-alundua perahu pesiar baginda itu menghilir, lewat disamping perahudua wanita Cantik itu. Makin sang mata memandang, makin sang hati tergetar. Sudah banyak sekali sekali Kian Liong melihat wanitadua Cantik dalam keraton, tapi sekali ini lainlah halnya.
Air telaga yang putih ke-perakduaan ditimpah Cahaja lampu teng, bau harum semerbak dibawa siliran angin, sungguh membuat hati tersengsam me-layang-layangdilain keinderaan.
Tampak pada setiap perahu mereka, ada sebuah meja yang ditutup dengan kain taplak merah. Entah untuk apa itu. Baru setelah Ho Gun tanya pada tukang perahu, dike tahuinya bahwa sebentar lagi orang-orang yang pesiar di telaga itu akan memberi hadiah yang akan ditaruhnya diatas sutera merah itu. Barang siapa yang menerima hadiah paling banyak sekali dan paling berharga, itulah tandanya yang dipilih sebagai Conggoan atau “ratu keCantikan.”
Bagindapun dilapori tentang hal itu. Dan kini mulailah perahudua pesiar itu menghampiri apa yang disebut “Hi-tong-su-yan” atau 4 ratu yang Cantik. Perahu mereka berlainan dengan perahua lain. Yang sebuah, berbentuk seperti bunga teratai, dikelilingi oleh tengdua yang menyerupai bunga terate. Ada yang merah, putih dengan daunduanya yang rimbun. Wanita yang didalam perahu itu bernama Pian Bun Tay.
Perahu yang kedua, diatasnya berbentuk dua gardu mewah dan agung sekali. Diatasnya gardu itu digubat dengan mutiara dan dituliskan huruf “giok-lip-thing-thing” atau dua gardu kumala berdiri berjajardua. Kiranya wanita yang berada didalam situ juga bernama “dua thing,” jalan Li Siang Thing.
Perahu yang ketiga, merupakan “kong han kiong,” istana dingin. Ditepi perahu itu diberi payangan ramadua dan giok-tho (kelinCi giok) dan ditaburi bunga kwi-hwa. Disitu, duduklah Go Jun Kwan yang berpakaian model kuno, memegang kipas, menyaru seperti dewi Siang Go (dewi penunggu rembulan).
Pada setiap kali melihat perahudua itu, Kian Liong tak putus-putusnya memuji. Ketika mendekati perahu yang keempat, ternyata perahu itu dihias dengan pohon dan bunga tulen, merawan hati sekali. Begitu indah payangannya, sehingga merupakan lukisan pemandangan alam dari seorang pelukis yang ternama. SiCantik yang duduk diperahu itu, mengenakan pakaian serba putih. Sajup- tampak seperti bidadari turun dari kahjangan.
Saat itu siCantik sedang duduk mungkur menghadap ke sebelah sana. Begitu ingin sekali Kian Liong memandang wajah sijelita itu, sehingga dia lalu menyanyikan sebuah pantun dari Cerita “See Siang Ki” yang menegurnya: “Ha, mengapa tak mau menghadap kemari?”
Seperti tertarik besi sembrani, wanita Cantik itu berpaling kebelakang, dan aduh, senyumnya telah membetot hati raja itu.
Kiranya siCantik itu bukan lain ialah penyanyi yang pernah bertemu di Se-ouw tempo hari, jakni Giok-ju-ih. Berbareng itu disebelah perahu teratai itu. Pian Bun Tay kedengaran menyanyi. Suaranya jauh berkumandang kemanadua dan seke jab saja turunlah hujan bingkisan keatas mejanya, penuh ber-tumpukdua.
La Siang Ting tak mau ketinggalan. Tangannya yang halus segera bermain diatas snaar pi-peh (semat jam harpa Tiongkok), merdu mei-aju, ia mengantarkan lagu “Malam purnama musim semi ditengah telaga.”
Sedang Go Jun Kwan pun menyusul dengan serulingnya. Lagunya ialah “Tamu agung berkendaraan naga.” Mendengar itu, Kian Liong segera perintahkan Ho Gun untuk mengha-diahkan sepuluh tail emas.
Ketika perahu- pesiar mengerumuni perahu Giok-ju-ih, siCantik itu sedang memerahkan bibirnya. Pada lain saat, diantar oleh tiupan seruling, iapun menyanyi.
Aman damai, kota siburung hong. Beribu pintu dari pohon hijau. Jalandua penuh dengan bungaduaan, menarik hati sang kelana. Siapakah ber-pasangdua burung seriti itu? Terpisah dari suasana musim semi, jen deladua tertutup awan hijau. Langit nan gemilang, bunga melati mengintip sepanjang dinding, melingkar bagaikan jembatan. Dalam kelapangan hati, minum teh diatas perahu. Sana sini orang menyual kembang, ber-bilukdua dimuara, menancapkan sebatang pohon liu.
“Hebat! Alam pemandangan Kanglam, memang seperti dalam nyanyian itu”, puji Kian Liong dengan elahan napas.
Kiranya nyanyian Giok-ju-ih itu adalah sjair gubahan Khong Siang semasa tahun pertengahan dari baginda Kong Hi. Sembari menyanyi, mata siCantik tak henti^nya melirik kepada Kian Liong. Sjair tadi mengisahkan sewaktu Cay-Cu-houw Pui Ih mengunjungi penyanyi yang tersohor Li Hiang Kun.
Baginda tergerak hatinya, tahulah beliau apa maksud siCantik itu. Kian Liong, tergolong raja yang gemar akan kesusasteraan. Dalam kunjungannya kedaerah selatan ba-nyak kali beliau membuat timpalan sjair (twi-lian). Para menteri selalu memuji akan buah tulisan baginda, tapi beliau menyang sikan apakah pujian mereka itu memang sesungguhnya.
Seketika itu beliau titahkan Ho Gun untuk menghadiahkan Giok-ju-ih sebanyak sekali lima puluh tail emas.
HangCiu terkenal sebagai tempat yang permai. Setiap tahun di adakan pemilihan ratu keCantikan semacam itu, tentu penuh dikunjungi orang dari segala tempat. Boleh dikata seluruh penduduk disekeliling daerah Hang-Ciu sama ber-dujundua kesitu. Terutama para kongcu dan kaum pelesiran. Karenanya, perahudua nona Cantik itu sudah penuh dengan barang bingkisan. Tapi yang terbanyak sekali adalah perahu keempat bunga berjiwa tadi.
Menjelang tengah malam, panica mulai memeriksa pera-hu-perahu itu. Para nonadua Cantik itu sama menunggu dengan hati ber-debardua juga para penonton.
Kian Liong membisiki beberapa patah kata pada Ho Gun, siapa lalu naik sebuah perahu pulang kegedung negara. Tak berapa lama dia kembali dengan membawa sebuah bungkusan besar.
Pemeriksaan sudah selesai, perahudua pengunyung sama mengerumuni perahu panica, untuk mendengarkan hasilnya. Maka berserulah panica mengumumkan hasil pemeriksaan annya: “Perahu yang mendapat bingkisan paling banyak sekali sendiri adalah kepunyaan nona Li Siang Ting!”
Gemuruh suara orang bersorakdua. Dibalik yang ber-tepukdua kegirangan, ada juga yang memakinya. Mungkin kurang puas. Dan tiba-tiba ada seorang berteriak keras-keras: “Tunggu! Kuhadiahkan sepuluh0 tail uang mas pada nona Pian Bun Tay!”
Dan seketika itu hadiah itu diterimakannya.
Tapi lantas ada seorang lagi berseru: “Aku menghadiahkan sepasang gelang giok dan sepuluh butir mutiara pada nona Go Jun Kwan!”
Benar juga dibawah sinar lampu, gelang batu giok pan-Carkan Cahaja ke-hijauduaan warnanya. Sedang mutiara itu besar lagi bundar, harganya terang melebihi sepuluh0 tail uang emas tadi. Semua sama terhening, rata-rata menduga bahwa kedudukan “Cong-goan” kali ini tentu jatuh pada nona Go Jun Kwan.
Sampai sekean saat, tak ada lagi lain orang yang lebih unggul. Maka segera akan diumumkan keangkatan nona Go itu menjadi “Conggoan.” Tapi tiba-tiba Ho Gun berseru: “Loya kami ada sebuntal hadiah untuk nona Giok-ju-ih!”
Dan bungkusan tadi terus diterimakannya.
Ternyata bungkusan itu terisi tiga bundel tulisan. Kata orang itu kepada salah seorang yang berada di situ: “Sdr. Ban Sia, tentunya pengasih ini bukan orang sembarangan, entah apa saja yang diberikannya?”
Lalu disuruhnya orang membuka.
Sedang waktu itu, Kian Liong suruh Ho Gun Cari keterangan tentang siapa-apa yang menjadi panica itu. Sebentar pula Ho Gun sudah kembali dan menghaturkan laporan : “Ketua panica itu adalah seorang sasterawan bernama Wan Bwe dari keluarga Wan Cu Cay. Sedang lain-lainnya adalah orangs terkemuka didaerah Kanglam sini.”
“Memang sudah kudengar, Wan Bwe itu gemar akan ramaidua, ja, memang demikianlah dia,” kata Kian Liong dengan tertawa.
Bundelan kesatu telah dibuka, tapi isinya membikin ter kejut panicadua itu. Itulah sjair gubahan Li Gi San. Orang yang di panggil “Ban Sia” oleh ketua panica tadi sebenarnya bernama Li Oh. Dia juga orang HangCiu situ. Dia jempol dalam hal sjair menyair, dan gubahannya pun terkenal sekali, sehingga menjadi salah suatu keharusan yang dibaCa oleh kaum sasterawan jaman itu.
Menampak buah tulisan penyair Li Gi San itu seketika itu juga Li Oh berseru memuji: “Inilah mustika yang tak tertara harganya!”
Salah seorang Anggota panica lagi, Thio Ik Sin, juga seorang penyair, Buru-buru membuka bundelan yang kedua. Ternyata isinya adalah lembaran panjang dari lukisan Ko Ceng pada ahala Song. Diatasnya terdapat Cap baginda Kian Liong. Melihat itu, Wan Bwe bertanya dengan keheranan. “Sdr. Sim, Ciang toako, Coba lihat dibundelan itu terisi apa lagi?”
Yang dipanggil Sdr. Sim tadi sebenarnya bernama Sim Tek Cian, alias Kui Ih, penyair terbesar dijaman itu. Dengan Wan Bwe orang she Sim itu pernah mendapat gelar Cinsu. Waktu itu terjadi pada tahun keempat dari pemerintahan Kian Liong. Hanya yang satu selagi masih muda tapi yang lainnya sudah berusia tua. Karena sewaktu memperoleh gelar Cin-su, Wan Bwe baru berusia dua4 tahun, sedang Sim Tek Cian sudah berusia lebih dari enam0 tahun. Karena usianya itu,
penduduk Kanglam memberi julukan “Kanglam lo-bing-su,” orang tua pandai dari Kanglam.
Orang she Ciang itu bernama Su Cwan, alias Sin Ik. Dengan Wan Bwe dan Thio Ik Sin dia merupakan tiga se rangkai “Kang-Co-sam-tay-ke,” tiga keluarga sasterawan dari Kanglam.
Kedua orang itu tak dapat menyawab suatu apa, maka Sim Tek Cian mengusulkan supaya diadakan pembicaraan yang lebih mendalam. Pada sebelah kanan dari perahu itu, juga ada dua orang sasterawan terkenal yang diundang oleh Wan Bwe. Yang satu bernama Ki Siao Hong dan satunya bernama The Pan Kiao.
“Menurut pendapatku, dua perangkat tulisan dan lukisan ini sudah merupakan benda yang tak ternilai, sudah teranglah juara jatuh pada Giok-ju-ih,” kata Ki Siao Hong tertawa.
“Dan barang apakah gulungan ketiga itu, marilah kita memeriksanya dahulu,” ujar The Pan Kio.
Waktu gulungan kertas ketiga itu dibuka, ternyata isinya adalah tulisan sajak gubahan Auwyang, Siu yang tersohor, sajak itu ditulis secara polosan sajas tanpa tambahan, tiada tanda tangan penulis, tapi gaja tulisahnya sangat indah.
“Gajanya sudah Cukup, tapi tenag'anya kurang,” ujar The Pan Kio.
“Sssst,” tiba-tiba Sim Tek Cian mendesis. “Tahulah kau ini adalah tulisan pribadi Hongsiang sekarang?”
Semua orang menjadi terkejut tak berani banyak sekali omong lagi. Maka Wan Bwe lantas berteriak memberi keputusan : “Menurut pertimbangan panica dengan buktidua kenyataan, Cong-goan jatuh pada Giok-ju-ih, Pong-gan dimiliki Go Jun Kwan dan “
Seketika bergemuruhlah seluruh telaga Se-ouw itu dengan suara sorakan.
Wan Bwe cs. tahu yang menghadiahi tiga gulung lukisan tadi kalau bukan keluarga kerajaan, tentulah pembesar tinggi yang terkemuka, tapi kapal dimana pemberi hadiah itu berada remangs tak jelas dalam kegelapan, pula kuatir kalau tingkah-laku mereka tentang pemilihan, 'ratu kembang' segala ini kelak bakal mendapat Celahan, terpaksa sebelum puas mereka pesiar lantas barua mendarat pulang.
Selagi Kian Liong juga akan pulang, tiba-tiba terdengar Giok-ju-ih telah menyanyi pula diperahunya. Mendengar suara nyanyian yang meraju kalbu itu, tak tertahan sang kaisar menjadi mabuk. “Coba kau panggil anak dara itu,” katanya pada Ho Gun.
Segera Ho Gun menerima tugas itu, tapi sebelum keluar Kian Liong menambahinya: “Tapi jangan kau terangkan siapa aku!”
“Ya, hamba mengarti,” sahut Ho Gun terus menyeberang keperahunya Giok-ju-ih.
Selang tak lama, kembalilah menteri itu membawa seCarik surat dihaturkan kepada Kian Liong dan lapornya: “Ia menulis ini dan minta diserahkan pada baginda.”
Ketika Kian Liong membaCanya, kiranya itu adalah sebuah sjair yang maksudnya menampik halusan dan bilang besok saja bertemu kembali.
Kian Liong tambah tak tahan oleh kelakuan orang, semakin dingin orang yang diingininya, semakin ia mendesak. Kian Liong seorang kaisar yang tidak kurang beratus selir diista nanya, selira itu berharap bisa berkumpul semalam saja dengan sang junyungan tidaklah mudah. Tapi aneh, kini Kian Liong benar-benar ter-giladua. Agaknya inipun sifat manusia, kalau sudah biasa memerintah menurut sukanya, harini mendadak Giok-ju-ih 'jual-mahal' terhadapnya, hal ini dirasa kannya menjadi serba baru.
Maka katanya lantas pada Pek Cin ketika melihat perahu Giok-ju-ih telah didajung pergi: “Lekas suruh tukang perahu menyusulnya!”
Melihat sang junyungan gugup, lekasan saja semua orang ikut mendajung hingga lambat-laun perahu Giok-ju-ih sudah tersusulnya.
Sambil berdiri didepan perahu, Kian Liong melihat lampudua yang tadinya memenuhi telaga itu kini sudah sirap, bunyi tetabuhan juga sudah lenyap, sebaliknya diperahu Giok-ju-ih malah berkumandang suara nyanyia kecil diselingi suara tertawa orang.
Selagi kedua perahu sudah makin dekat, mendadak tenda jendela perahu kembang itu tersingkap, lalu segulung barang ditimpukan kearah Kian Liong. Lekas-lekas Pek Cin melompat maju menyambuti benda itu. Ternyata barangnya lunak empuk dan bukan senjata rasia, lantas ia serahkan pada Kian Liong.
Waktu Kian Liong periksa, ternyata adalah sepotong handuk merah, pada empat ujung handuk itu saling ikat mem-bungkus dua buah jeruk kuning. Handuk itu halus lagi harum, seketika Kian Liong kesemsem tak terkatakan.
Tak lama lagi, perahu kembang itu sudah menepi, dibawah Cahja lampu terlihatlah Giok-ju-ih mendarat dan naik ke atas sebuah kereta kuda kecil yang sudah menunggu disitu. Betapa tidak membikin sang kaisar lebih ter-giladua ketika Giok-ju-ih akan menurunkan tirai kereta itu, lebih dulu ia telah menoleh dan menyampaikan senyuman menggiurkan kearah Kian Liong.
Disamping kereta kuda itu tadinya ada dua orang dengan memegang obor sedang menunggu, kini obor itu telah dibuang dan kereta itupun menghilanglah dikegelapan.
“Hai, hai, tunggu dulu, tunggu!” segera Ho Gun ber-teriakdua.
Tapi kereta itu tidak pernah berhenti, suara derapan kuda ber-detakdua dan lambat-laun sudah menyauh.
“Lekas Cari kereta!” Cepat-cepat Ho Gun memberi perintah.
Tapi jauh malam ditepi telaga itu kemana harus menCari kereta?
Sebagai pemimpin bayang kari Pek Cin membisiki Swi Tay Lim beberapa kata, lalu pergilah Tay Lim dengan ilmu en tengi tubuh hingga tidak lama sudah melampaui kereta kuda Giok-ju-ih terus membentak kusirnya jalan pelahan-lahan.
Dilain pihak Cu Wan tak lama telah dapatkan juga sebuah kereta, mungkin bolehnya merebut secara paksa dengan mengusir penumpangnya.
Setelah Kian Liong naik keatas kereta, Cu Wan sendiri menjadi kusir, dan para pengawal lain mengikuti dari belakang.
Kereta kuda didepan tadi sudah lambat jalannya dan kereta Kian Liong Cepat-cepat menyusulnya. Pek Cin melihat kereta orang lama-lama menuju kedaerah pusat kota yang ramai penduduknya, ia baru lega karena tak perlu kuatir lagi, ia menduga malam ini pasti Hongsiang akan bermalam dirumah bunga raja itu, tapi kemarinnya terlihat wanita itu bergaul dengan orang-orang Hong Hwa Hwe, mungkin ada tipu muslihat nya, hal ini harus ber-jaga- sebelumnya, maka lekas ia perintahkan Swi Tay Lim pergi minta bala bantuan kemari.
Kereta. Giok-ju-ih; itu sesudah melalui beberapa jaian besar, lalu biluk kedalam sebuah gang dan berhenti didepan sebuah rumah'yang pintunya diCat hitam, seorang lelaki telah turun dari kereta dan mengetok pintu. Segera pula Kian Liong ikut turun, dari keretanya.
Ketika pintu dibuka, keluarlah seorang wanita tua me nyingkap tirai, kereta sambil'berkata: “Ah, kiranya SioCia telah pulang, selamat padamu telah terpilih!”
Ketika Giok-ju-ih turun dari kereta dan melihat Kian Liong sudah berdiri disitu, ia maju memberi hormat dan sapanya: “Ai, kiranya Tong-hong loya sudi datang, banyak sekali-kali terima kasih atas hadiahmu tadi. Marilah lekas masuk sekedar minum teh dulu.”
Kian Liong tertawa dan segera ikut masuk. Karena kuatir ada pembunuh, Cepat-cepat sekali Cu Wan sudah mendahului masuk kedalam rumah.
Dalam rumah itu semerbak wangi dengan dua pohon Kui tumbuh dipe'lataran dalam yang bunganya sedang mekar.
Kian Liong ikut Giok-ju-ih masuk kedalam sebuah kamar, disitu terpasang lilin hingga terang benderang, payangan kamar itu Cukuplah indah. Segera saja pelayan menyediakan daharan terdiri dari delapan porsi dengan macamdua masakan yang lain daripada yang lain seperti Kian Liong biasa merasakan didalam keraton.
Tatkala itu Pek Cin cs. sedang meronda diluar rumah, didalam hanya Ho Gun yang melayani, maka Kian Liong memberi tanda agar menteri itu keluar kamar.
Kemudian pelayan menyuguhkan dua Cawan arak, itu adalah “Siau-hin-Ciu” yang sangat terkenal. Giok-ju-ih sendiri minum dulu seCawan, lalu katanya dengan tertawa menggiurkan: “Tong-hong loya, sungguh aku tidak tahu Cara bagaimana harus berterima, kasih padamu?”
“Kau nyanyilah dulu satu'lagu, Cara bagaimana membalas terima kasih, sebentar laki kita rundingkan,” sahut Kian Liong tertawa sambil menlguk araknya.
Tanpa menampik lantas Giok-ju-ih mengambil sebuah pi-peh dan pelahan-lahan dipenClnya, lalu nyanyilah satu lagu romantis yang menCeritakan tentang kaisar Song Hwi Cong main gila dengan Li Su Su yang dibuat bahan sjair oleh penyair Ciu Bi Seng.
Begitu asjik Kian Liong ber-senangdua didalam kamar bersama Giok-ju-ih sambil minum arak dan mendengarkan nyanyian, sebaliknya Pek Cin cs. yang menjaga diluar sedang sibuk luar biasa.
Tatkala itu panglima HangCiu Li Khik Siu yang dimintai bala bantuan sudah datang membawa sepasukan tentaranya dan mengurung rapat-rapat seluruh gang itu. Perwiradua bawahan Li Khik Siu telah menggeledai setiap rumah penduduk di gang itu, hanya tinggal rumah Giok-ju-ih ini saja yang tak digeledah.
Pek Cin dengan sepuluh orang siwi, tak hentiduanya melakukan perondaan diatas atap, sedang barisan pemanah sudah siap menunggu diempat penyuru, Thiat-ka-kun, pasukan baju besi, sudah siap juga. Dengan penjagaan itu, legalah pe-rasaan Pek Cin dan Khik Siu. Sekalipun orang mempunyai kepandaian menembus langit, rasanya sukarlah untuk masuk kesitu.
Setelah sibuk menjaga, se-malamduaan, sampai terang tanah ternyata tak terjadi apa-apa. Setelah Menjelang pagi, diam-diam Ho Gun menghampiri kamar Giok-ju-ih. Dari seladua jendela, Ho Gun melihat dibawah tempat, tidur ada sepa sang sepatu yang dipakai baginda dan sepasang lagi sepatu kecil bersulam. Keadaan dalam kamar itu masih sunyi. Sam bil leletkan lidah, Ho Gun berjalan pergi.
Tapi tunggu punya tunggu, pagi berganti siang, Siang men-jadi sore, ternyata baginda tak kelihatan bangun. Hal itu membuat Ho' Gun heran dan gelisah. Tidak biasa baginda berbuat begitu. Dihampirinya pintu dan katanya dengan bi sikdua: “Loya, apakah ingin bersantap pagi?”
Sampai diulangi beberapa kali, ternyata tak ada jawaban apa» dari dalam kamar itu. Kaget benar Ho Gun dibuatnya. DiCobanya untuk mendorong daun pintu, tapi ternyata di grendel dari dalam. Kini dia mulai berteriak memanggilnya: “Loya!”
Masih kamar itu hening saja, Ho Gun bertambah Cemas. Untuk membuka pintu, masih tak berani dia. Cepat-cepat dia keluar mendapatkan Lie Khik Siu dan Pek Cin.
“Kita suruh induk semangnya yang mengetok pintu dan antarkan hidangan pagi. Bansweya tentu tak marah,” kata Lie Khik Siu.
Pek Cin setuju, lalu mereka menCari si perempuan yang menjadi induk semang. Tapi jangan lagi dia, sedang se orangpun sudah tak ada dalam rumah pelesiran itu. Karena terkejutnya, mereka memberanikan diri untuk mengetok pintu. Tapi meskipun pintu di-ketokdua makin keras, didalam kamar tetap tak ada penyahutan apa-apa.
“Dobrak saja!” seru Khik Siu.
Sekali ulurkan tangan, Pek Cin bikin pintu itu terbuka, besi gerandelannya putus. Masuk lebih dulu kedalam, segera Ho Gun terus menyingkap kelambu. Tapi hanya bantal dan guling yang berserakan diatas pembaringan, sedang baginda dan Giok-ju-ih tak ada lagi. Saking terkejutnya, Ho Gun pingsan seketika.
Pek Cin lekas-lekas panggil siwi untuk menggeledah rumah itu. Peti, lemari dan lain-lain tempat, semua digeledah. Tapi tetap sia-sia. Kawanan si-wi itu kaget dan ketakutan. Terang penjagaan semalam itu sangatlah rapinya. Sampai seekor burung-gereja terbang saja rasanya takkan terhindar dari pengawasan mereka.

Pek Cin sendiri ikut menggeledah seluruh dinding lamar itu untuk menCari tahu kalaudua ada pintu rahasia. Tapi juga tak memberi hasil apa-apa, tak ada tempat yang menimbulkan keCurigaan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar