Kamis, 22 Maret 2012

Medali Wasiat 11

Jilid 11
Si Kiam memandang sekedjap kepada anak muda itu, lalu serunja: “Siapakah jang berada diluar itu?”
“Hamba Tan Tiong-tji dari Say-wi-tong,” sahut orang itu.
“Atas perintah Pangtju hendaklah Tan-hiangtju tunggu sebentar,” seru Si Kiam pula.
“Baik,” sahut Tan Tiong-tji diluar kamar.
Segera sianak muda mengadjak Si Kiam kekamar dalam, lalu tanjanja dengan suara tertahan: “Sebenarnja aku ini siapa?”
Si Kiam mengerut kening, hatinja mendjadi sedih karena menjangka anak muda itu benar2 tidak ingat apa2 lagi atas dirinja sendiri. Djawabnja kemudian: “Engkau adalah Pangtju dari Tiang-lok-pang, she Tjiok bernama Boh-thian.
“She Tjiok bernama Boh-thian? Tjiok Boh-thian, kiranja aku ini bernama Tjiok Boh-thian, djadi namaku bukan Kau-tjap-tjeng lagi?” demikian sianak muda menggumam sendiri.
Melihat air muka anak muda merasa bingung dan gelisah, segera Si Kiam menghiburnja: “Siauya, kau tidak perlu risau, pelahan2 tentu kau dapat ingat kembali.”
“Tiang-lok-pang itu barang apa? Apa jang dilakukan Pangtjunja?” tanja pula si anak muda alias Tjiok Boh-thian.
Si Kiam menjadi serba sukar untuk menerangkan, sesudah memikir sedjenak, achirnja ia mendjawab: “Tiang-lok-pang mempunjai anggota2 sangat banjak, seperti Pwe-siansing, Bi-hiangtju dan Tan-hiangtju jang menunggu diluar itu. Engkau adalah Pangtju, maka mereka harus tunduk kepada perintahmu.”
“Lantas apa jang harus kubitjarakan dengan mereka?” tanja Tjiok Boh-thian.
“Aku sendiripun tidak tahu apa2,” sahut Si Kiam. “Siauya, djika engkau merasa susah mengambil keputusan, maka segala sesuatu boleh kau tanja kepada Pwe-siansing. Dia adalah Kunsu (penasehat) daripada Pang kita, dia sangat pintar.”
“Tapi sekarang Pwe-siansing tiada disini, apakah kau tahu Tan-hiangtju itu hendak melaporkan apa kepadaku? Djika dia tanja apa2 kepadaku, tentu aku tidak mampu mendjawabnja. Ada lebih baik kau suruh dia pergi sadja.”
“Suruh dia pergi mungkin bukan tjara jang baik,” udjar Si Kiam. “Kau boleh mendengarkan sadja apa jang dia katakan, apa jang dia laporkan, tjukup kau mengangguk sadja.”
“Baiklah, hanja mengangguk sadja tidak sukar,” kata Tjiok Boh-thian dengan girang.
Segera Si Kiam mengantar Tjiok Boh-thian menudju kesebuah ruangan tamu dibagian luar. Maka tertampaklah seorang laki2 tinggi besar lantas berbangkit dari tempat duduknja dan memberi hormat sambil menjapa: “Pangtju baik, terimalah salam hormat hamba Tan Tiong-tji.”
Tjiok Boh-thian membalas hormat dan berkata: “Tan…….Tan-hiangtju djuga baik, akupun memberi salam hormat padamu.”
Air muka Tan Tiong-tji berubah putjat dan tjepat melangkah mundur dua tindak.
Maklum, biasanja Tan Tiong-tji mengetahui sang Pangtju adalah seorang kasar, seorang sombong, kedjam dan suka main perempuan pula. Sebagai seorang bawahan ia memberi salam hormat padanja, siapa duga sang Pangtju djuga balas memberi salam hormat, hal ini menandakan pikiran djahatnja telah timbul dan segera akan membunuhnja. Walaupun takut, tapi dia adalah seorang kesatria jang berkepandaian tinggi, sudah tentu ia tidak mandah dibinasakan tanpa melawan, maka diam2 iapun sudah bersiap siaga, katanja dengan suara berat: “Entah hamba telah melanggar peraturan Pang kita pasal berapa? Djika Pangtju hendak mendjatuhkan hukuman djuga mesti mengadakan sidang terbuka dan mendjatuhkan keputusan didepan orang banjak.”
Dengan sendirinja Tjiok Boh-thian tidak paham apa jang dimaksudkan, katanja dengan heran: “Mendjatuhkan hukuman? Menghukum siapa?”
Tan Tiong-tji tambah penasaran, katanja dengan mendongkol: “Selamanja Tan Tiong-tji djudjur dan setia kepada Tiang-lok-pang dibawah pimpinan Pangtju, selama inipun tiada merasa berbuat salah, mengapa Pangtju ber-ulang2 menjindir?”
Tjiok Boh-thian mendjadi bingung. Tiba2 teringat pesan Si Kiam tadi jang menjuruhnja mengangguk sadja bila ada sesuatu jang tidak paham dan soalnja nanti boleh ditanjakan kepada Pwe Hay-tjiok. Maka ia lantas mengangguk sambil berkata: “Ja, ja, silakan Tan-hiangtju duduk dan djangan sungkan2.”
“Dihadapan Pangtju masakah ada tempat duduk bagi hamba,” sahut Tan Tiong-tji.
“Ja, ja!” kata Tjiok Boh-thian dengan bingung.
Djadi kedua orang hanja berdiri sadja dengan saling pandang, keduanja sama2 tidak membuka suara lagi. Kalau wadjah Tan Tiong-tji agak tjemas2 kuatir dan penuh kewaspadaan, sebaliknja air muka Tjiok Boh-thian mengundjuk rasa bingung, tapi bersenjum simpul ramah.
Menurut peraturan Tiang-lok-pang, dikala bawahan memberi laporan rahasia kepada sang Pangtju, maka orang lain harus menjingkir. Sebab itulah maka sedjak tadi Si Kiam sudah tingal keluar dari ruangan tamu itu. Kalau tidak tentu dia akan dapat memberi sekadar pendjelasan kepada Tan Tiong-tji tentang belum pulihnja kesehatan sang Pangtju dan minta Tan-hiangtju djangan kuatir.
Begitulah sesudah kedua orang itu tertegun sedjenak, tiba2 Tjiok Boh-thian melihat diatas medja ada dua mangkuk teh wangi, segera ia mengambil semangkuk, semangkuk lagi ia sodorkan kepasa Tan Tiong-tji: “Mari minum!”
Karena kuatir didalam teh itu ditaruh ratjun, pula kuatir mendadak diserang Tjiok Boh-thian, maka Tan Tiong-tji tidak berani menerima mangkuk teh itu, sebaliknja malah mundur selangkah. Maka terdengarlah suara “prang” jang njaring mangkuk itu djatuh kelantai dan petjah berantakan.
“Ai, maaf, maaf!” seru Tjiok Boh-thian, segera ia menjodorkan mangkuk jang satu lagi dan berkata: “Silakan minum jang ini sadja.”
Alis mata Tan Tiong-tji mendjengkit, ia pikir toh tidak dapat lolos dari maksud djahat sang Pangtju, seorang laki2 biarpun mati djuga tidak perlu takut. Maka tanpa pikir lagi ia lantas terima mangkuk itu dan sekali tenggak isi mangkuk itu lantas diminum habis. Ia gabrukan mangkuk the itu diatas medja, lalu berkata dengan rasa tjemas: “Sedemikianlah tjara Pangtju memperlakukan bawahanmu jang setia, semoga Tiang-lok-pang bahagia selamanja dan semoga Tjiok-pangtju pandjang umur.”
Sedikit banjak Tjiok Boh-thian dapat menangkap maksud kata2 “semoga Tjiok-pangtju berpandjang umur”, tjuma ia tidak tahu maksud utjapan Tan Tiong-tji itu adalah kebalikannja, maka ia lantas mendjawab: “Ja, semoga Tan-hiangtju djuga pandjang umur.”
Sudah tentu djawaban ini bagi pendengaran Tan Tiong-tji merupakan sindiran pula, ia tertawa dingin berkata didalam hati: “Djiwaku hanja tinggal sekedjap sadja, tapi kau masih mendoakan aku berpandjang umur, sungguh kedji amat kau.”
Namun demikian ia masih penasaran, serunja pula: “Entah dimana letak kesalahanku, makanja aku harus terima gandjaranku seperti sekarang, untuk ini Siok-he (bawahan) tidak ingin banjak omong lagi. Hanja sadja mengenai maksud kedatangan Siokhe ini jalah ingin memberi lapor kepada Pangtju, bahwasanja semalam ada dua wanita telah menjusup kemarkas Say-wi-tong, jang seorang adalah wanita setengah umur, jang satu lagi baru berusia 27-28 tahun. Kedua wanita itu semuanja menggunakan pedang, ilmu silat mereka seperti dari golongan Swat-san-pay. Siokhe bersama para kerabat berusaha menangkap mereka, tapi ilmu pedang kedua wanita itu terlalu lihay, tiga anak murid Siokhe telah mendjadi korban keganasan mereka, tapi wanita jang lebih muda itupun terluka kakinja dan achirnja tertawan. Untuk mana Siokhe sengadja datang kemari untuk minta keputusan Pangtju.”
“O, djadi jang satu tertangkap dan jang lain lolos,” kata Tjiok Boh-thian. “Entah kedua wanita itu mau apa datang kesini? Apakah hendak mentjuri ?”
“Dimarkas Say-wi-tong tiada kehilangan apa2,” sahut Tan Tiong-tji.
“Kedua wanita itu mengapa begitu kedjam, masakah sekaligus membunuh tiga orang,” kata Tjiok Boh-thian sambil mengerut kening. Tiba2 timbul rasa ingin tahunja, segera ia bertanja: “Eh, Tan-hiangtju, tjobalah kau membawa aku pergi melihat wanita itu.”
“Baik,” sahut Tan Tiong-tji dengan hormat.
Sesudah mereka keluar dari ruangan tamu, tiba2 timbul suatu pikiran dalam benak Tan Tiong-tji: “Wanita jang kutawan itu bermuka tjantik, boleh djadi Pangtju akan suka padanja dan dalam girangnja mungkin dia akan memberikan obat penawar padaku.” ~ Tapi lantas terpikir pula: “Tan Tiong-tji, wahai Tan Tiong-tji, Tjiok-pangtju adalah seorang jang kasar, girang dan marah tiada tertentu, rasanja Tiang-lok-pang ini bukanlah tempat bernaung jang baik bagimu. Kalau hari ini djiwamu beruntung dapat selamat, selandjutnja lebih baik kabur sadja sedjauh mungkin dan mengasingkan diri serta djangan berketjimpung pula didunia Kangouw.”
Begitulah Tjiok Boh-thian ikut Tan Tiong-tji menjusuri beberapa ruangan dan melalui dua buah taman, achirnja sampailah didepan sebuah pintu batu jang besar. Tertampak empat pendjaga bersendjata berdiri disitu. Melihat datangnja Tjiok Boh-thian dan Tan Tiong-tji, dengan gugup pendjaga2 itu memberi hormat. Ketika Tan Tiong-tji memberi tanda, segera dua pendjaga diantaranja mendorong daun pintu batu itu. Dibalik pintu batu itu kiranja masih ada sebuah pintu berterali besi jang dikuntji dengan gembok besar. Segera Tiong-tji mengeluarkan kuntji dan dibukanja sendiri.
Sesudah masuk, ternjata disitu adalah sebuah lorong jang pandjang, didalamnja ada api lilin besar. Pada udjung lorong ada empat pendjaga pula dan kembali menghadapi sebuah pintu berterali besi. Sesudah pintu terali dibuka, didalamnja ada sebuah pintu besi jang tebal. Setelah Tan Tiong-tji membuka gembok dan membuka pintu tebal itu, maka tertampaklah sebuah kamar batu kira2 tiga meter persegi. Seorang wanita berbadju putih tampak duduk mungkur. Waktu mendengar suara pintu terbuka, wanita itu lantas menoleh.
Segera Tan Tiong-tji menaruh Tjektay (tatakan lilin) diatas medja disamping pintu, tjahaja lilin dapat menerangi muka siwanita dengan djelas. Mendadak Tjiok Boh-thian berseru kaget: “Ha, bukankah engkau adalah nona Hoa, Hoa Ban-tji dari Swat-san-pay?”
Kiranja apa jang terdjadi di Hau-kam-tjip dulu masih teringat dengan baik olehnja. Walaupun sudah berselang beberapa tahun, namun wadjah Hoa Ban-tji itu tiada banjak berubah, maka begitu lihat Tjiok Boh-thian lantas mengenalnja. Sebaliknja dulu Tjiok Boh-thian adalah seorang pengemis ketjil jang dekil, hari ini pakaian sudah mewah dan berubah dewasa mendjadi seorang pemuda jang gagah dan tampan, dengan sendirinja Hoa Ban-tji tidak mengenalnja lagi.
Maka dengan marah2 Hoa Ban-tji berkata: “Mengapa kau mengenal diriku?”
Diam2 Tan Tiong-tji djuga kagum terhadap ketjerdasan sang Pangtju, hanja sekali lihat sadja lantas dapat mengatakan siapa dan dari mana asal-usul tawanannja itu. Segera ia membentak: “Ini adalah Pangtju kami, tjara bitjaramu harus tahu aturan sedikit!”
Hoa Ban-tji terkedjut. Sama sekali tak tersangka olehnja akan bertemu dengan Tiang-lok-pangtju Tjiok Boh-thian jang terkenal busuk itu. Kabarnja pangtju ini suka merusak kaum wanita, hari ini dirinja berada didalam tjengkeramannja, tentu lebih banjak tjelaka dari selamatnja. Karena itulah ia mendjadi kuatir dan tjepat berpaling kearah dinding agar wadjahnja jang tjantik itu tidak terlihat. Berbareng terdengar suara gemerintjingnja benda logam, kiranja kaki dan tangannja telah diborgol.
Diwaktu mendengarkan ibunja mendongeng, Tjiok Boh-thian pernah diberitahu tengan borgol dan lain2 dan baru hari ini ia melihat dengan mata sendiri bentuk borgol itu. Segera ia tanja Tan Tiong-tji: “Tan-Hiangtju, apa sih dosa nona Hoa ini sehingga kaki dan tangannja perlu diborgol.”
Sebabnja dia tanja adalah karena dia memang tidak paham. Tapi bagi pendengaran Tan Tiong-tji, disangkanja pertanjaan sang Pangtju itu bermaksud kebalikannja. Pikirnja: “Wah, tjelaka, mungkin Pangtju menganggap aku memperlakukan nona Hoa dengan tidak pantas, maka dia telah meratjuni diriku. Sedapat mungkin aku harus berusaha memperbaiki kesalahanku ini.” ~ Maka tjepat ia mendjawab: “Ja, ja, hamba memang salah.” ~ Segera ia mengeluarkan kuntji dan tjepat membuka borgol jang membelenggu kaki dan tangan Hoa Ban-tji itu.
Walaupun Hoa Ban-tji sekarang sudah merdeka, tapi ia mendjadi lebih2 kuatir sehingga gemetar.
Dalam hal ketjerdasan dan kepandaian silat Hoa Ban-tji jang berdjuluk Bwe-hoa-lihiap (pendekar bunga Bwe) itu tidaklah kalah daripada kesatria kaum lelaki. Kalau Tjiok Boh-thian mengantjam akan membunuhnja, betapapun tidak nanti dia menjerah. Tapi sekarang ia mendengar Tjiok Boh-thian malah menjalahkan Tan-hiangtju jang menawannja, terang dibalik utjapannja itu mengandung maksud tertentu atas dirinja, djelasnja dia telah dipenudjui oleh Tjiok Boh-thian. Padahal selama hidup ini dia selalu mendjaga diri dengan baik dan sampai saat ini masih sutji bersih, kalau sampai dinodai oleh Tjiok Boh-thian jang terkenal busuk itu, wah, benar2 bisa tjelaka.
Dalam pada itu Tan Tiong-tji djuga sengadja hendak membikin senang hati sang Pangtju, maka ia telah berkata: “Pangtju, mengapa nona Hoa tidak diadjak bitjara kekamar Pangtju sadja? Disini terlalu gelap dan kotor, bukan suatu tempat jang pantas untuk tetamu.”
“Ja, bagus,” sahut Tjiok Boh-thian dengan girang. “Marilah nona Hoa, disana tersedia sarang burung jang sangat enak, nanti kau boleh tjoba mentjitjipi satu mangkuk.”
“Tidak, tidak mau,” seru Hoa Ban-tji dengan suara gemetar.
“Enak, sungguh sangat enak, boleh kau tjoba dulu nanti”, kata Tjiok Boh-thian pula.
Hoa Ban-tji mendjadi gusar, sahutnja: “Kalau mau bunuh, lekas bunuh, nona adalah murid terhormat dari Swat-san-pay, tidak nanti sudi minta ampun padamu. Kau bangsat ini kalau menaruh maksud djahat padaku, aku lebih suka membunuh diri daripada…………datang kekamarmu.”
“Ai, mengapa kau bilang demikian, se-akan2 aku ini paling suka orang sadja, sungguh aneh, buat apa aku membunuh kau? Djika kau tidak dojan sarang burung ja sudah, ja, mungkin kau lebih suka makan ajam panggang dan bebek tim. Eh, Tan-hiangtju, apakah makanan2 demikian kita ada sedia?”
“Ada, ada, ada!” tjepat Tan Tiong-tji mendjawab. “Apa jang disukai nona Hoa, asal terdapat didunia ini tentu didapur kita djuga sedia.”
“Fui, biarpun mati djuga nona tidak sudi makan barang suguhan kalian jang hanja membikin kotor mulutku sadja,” sahut Ban-tji dengan marah.
“O, apa barangkali nona Hoa lebih suka belandja sendiri kepasar untuk dibawa pulang dan dimasak sendiri? Apakah kau mempunjai uang? Djika tidak punja, tentunja Tan-hiangtju punja, bukan? Harap kau berikan sedikit padanja,” demikian kata Tjiok Boh-thian.
“Ada, ada, segera kusuruh mengambilkan pada kasir!” ~ “Tidak, tidak, biar mati djuga aku tidak sudi!” demikian Tan Tiong-tji dan Hoa Ban-tji bersuara berbareng.
“Ah, mungkin kau sendiri sudah punja uang, Tan-hiangtju bilang kakimu terluka, kami akan minta Pwe-siansing mengobati lukamu, tapi tampaknja kau tidak suka kepada Tiang-lok-pang, maka bolehlah kau pergi mentjari tabib sendiri, kalau lukamu terlalu banjak mengeluarkan darah tentu akan kurang baik.”
Sudah tentu Hoa Ban-tji tidak pertjaja Tjiok Boh-thian mau membebaskan dia, ia menduga dirinja akan dipermainkan seperti kutjing menggoda tikus, maka dengan marah2 ia mendjawab: “Pendek kata aku takkan masuk perangkapmu biarpun kau pakai tipu muslihat apapun djuga.”
Tjiok Boh-thian mendjadi lebih heran, katanja: “Kamar batu ini mirip dengan pendjara, buat apa tinggal disini? Nona Hoa, lebih baik lekas kau keluar dari sini sadja.”
Karena mendengar utjapan itu agak sungguh2, Hoa Ban-tji mendengus dan berkata: “Hm, dimanakah pedangku, mau mengembalikan atau tidak?” ~ Ia pikir kalau sudah pegang sendjata, bila Tjiok Boh-thian akan berbuat tidak senonoh padanja tentu akan dapat membunuh diri biarpun tidak mampu melawannja.
“O, ja, nona Hoa suka pakai sendjata pedang. Tan-hiangtju, sukalah kau mengembalikan pedangnja ?” kata Tjiok Boh-thian.
“Ja, ja, pedangnja tersimpan diluar sana, silakan nona keluar dan segera akan kami kembalikan”, sahut Tan Tiong-tji.
Karena sudah bertekad akan membunuh diri maka Hoa Ban-tji tidak gentar terhadap tipu muslihat pula. Mendadak ia berbangkit terus melangkah keluar. Segera Tjiok Boh-thian dan Tan Tiong-tji mengikutinja dari belakang.
Sesudah tiba ditaman diluar pendjara itu, maka Hoa Ban-tji mendjadi silau oleh tjahaja sang surja. Walaupun demikian semangatnja lantas terbangkit.
Rupanja Tan Tiong-tji ingin mengambil hati sang Pangtju, sebelum disuruh ia sudah mengambilkan pedangnja Hoa Ban-tji dan diserahkan kepada Tjiok Boh-thian. Lalu Tjiok Boh-thian mengembalikan pedan itu kepada Hoa Ban-tji.
Kuatir kalau mendadak dirinja diserang, maka diwaktu menerima kembali pedangnja, tjepat sekali ia menjambar gagang pedang dan siap2 untuk melolosnja dari sarung pedang.
Tan Tiong-tji tahu ilmu pedang murid Swat-san-pay itu sangat hebat, maka berbareng iapun menjambar sebatang golok dari tangan seorang pendjaga dan siap untuk menghadapi Hoa Ban-tji.
Namun Tjiok Boh-thian telah berkata: “Nona Hoa, apakah lukamu tidak mendjadi halangan? Djika tulang kakimu patah, boleh djuga aku menjambungkan untukmu seperti aku menjambung tulang kaki si Kuning dahulu.”
Jang bitjara tidaklah sengadja, tapi jang mendengarkan merasa terhina. Apalagi Hoa Ban-tji masih seorang perawan sutji, ketika melihat sorot mata Tjiok Boh-thian memandang kearah kakinja, seketika mukanja mendjadi merah, damperatnja: “Dasar badjingan, tjara bitjaramu djuga kotor dan rendah.”
“He, apakah salah perkataanku?” seru Tjiok Boh-thian dengan heran. “Apakah boleh kuperiksa lukamu itu?”
Apa jang dikatakannja adalah timbul dari djiwanja jang masih ke-kanak2an dan tiada punja maksud lain, Hoa Ban-tji menganggap Tjiok Boh-thian hendak menggodanja. “Sret, pedang segera dilolosnja sambil membentak: “Manusia she Tjiok, djika kau berani madju setindak lagi segera nona mengadu djiwa dengan kau.”
“Nona Hoa, Pangtju kami sangat gagah dan tampan, djika beliau sudah penudjui kau, ini adalah redjekimu, biarpun kau membawa pedang djuga tiada bedanja bagi pandangan Pangtju kami. Padahal entah betapa banjak nona tjantik didunia ini jang ingin memikat Pangtju kami dan tak terkabul harapan mereka,” demikian kata Tan Tiong-tji.
Dengan muka putjat menahan gusar, tanpa pikir lagi pedang Hoa Ban-tji lantas menusuk kedada Tjiok Boh-thian dalam tipu “Tay-boh-hui-sah” (pasir terbang digurun luas).
Meski Lwekang Tjiok Boh-thian sekarang sudah maha kuat, tapi dalam hal ilmu silat untuk menghadapi musuh selamanja dia belum pernah beladjar. Sekarang dilihatnja pedang Hoa Ban-tji menjambar kepadanja, dalam gugupnja ia mendjadi kelabakan, tapi ia masih sempat membalik tubuh terus melarikan diri.
Untung Lsekangnja sekarang sudah sangat sempurna, walaupun tjara larinja agak ke-tolol2an dan menggelikan, tapi tjepatnja benar2 luar biasa, hanja beberapa langkah sadja dia sudah berlari sedjauh beberapa meter.
Sama sekali Hoa Ban-tji tidak menjangka Tjiok Boh-thian akan melarikan diri, bahkan sedemikian tjepat larinja, betapa aneh dan hebat Ginkangnja itu sungguh belum pernah dilihatnja, seketika Hoa Ban-tji sampai terkesima sendiri dan tak dapat bersuara.
“Wah, nona Hoa, kau djangan main2 dengan sendjatamu,” demikian Tjiok Boh-thian berseru sambil gojang2 kedua tangannja. “Ber-ulang2 kau menuduh aku suka membunuh orang, padahal kau sendirilah jang suka membunuh. Sudahlah, djika kau mau pergi boleh pergi sadja dan kalau ingin tinggal disini djuga boleh, aku tidak mau bitjara lagi dengan kau.”
Rupanja ia menduga Hoa Ban-tji tentu mempunjai alasannja, maka dirinja hendak dibunuh olehnja. Untuk ini ada lebih baik meminta keterangan kepada Si Kiam sadja. Maka sehabis bitjara ia lantas tinggal pergi.
Hoa Ban-tji mendjadi lebih heran, serunja: “Tjiok-pangtju, apakah kau benar2 telah membebaskan diriku? Djangan2 kau menjuruh orang untuk merintangi aku diluar sana.”
“Untuk apa aku merintangi kau? Djangan2 pedangmu akan menusuk aku lagi, wah, kan bisa runjam!” sahut Tjiok Boh-thian.
Betapapun Hoa Ban-tji masih ragu2. Tapi ia pikir daripada tetap tinggal disarang maut itu ada lebih baik tinggal pergi sadja. Maka tanpa bitjara lagi ia lantas putar tubuh dan melangkah pergi.
“Nona Hoa,” tiba2 Tan Tiong-tji berseru dengan tertawa. “Djelek2 Tiang-lok-pang kami djuga tidak kekurangan pendjaga, masakah nona Hoa sedemikian mudahnja pergi-datang sesukanja, memangnja kau anggap orang2 Tiang-lok-pang kami ini adalah sebangsa tukang gegares jang tak berguna?”
“Habis apa jang kau inginkan?” sahut Hoa Ban-tji dengan alis mendjengkit.
“Kukira, haha, adalah lebih baik aku jang mengantar nona Hoa keluar,” udjar Tan Tiong-tji dengan tertawa.
Diam2 Hoa Ban-tji berpikir: “Sekarang aku masih berada disarang mereka, terpaksa aku tunduk kepada keinginannja, kalau aku membangkang tentu akan sukar untuk keluar dari sini. Sekarang biarlah aku telan semua hinaan, kelak aku akan mengadjak para saudara seperguruan untuk mengobrak-abrik tempat ini dan membalas dendam.”
“Djika demikian, silakan antarkan,” katanja kemudian.
“Pangtju, Siokhe hendak mengantar nona Hoa keluar dari sini,” kaa Tiong-tji kepad Tjiok Boh-thian.
“Bagus, bagus!” sahut Boh-thian. Melihat sinar pedang Hoa Ban-tji jang gemilapan itu, dia mendjadi djeri, kalau Tan Tiong-tji bersedia mengantarnja keluar adalah kebetulan baginja. Maka ia lantas kembali ke kamarnja sendiri melalui djalan tadi. Setiap orang jang didjumpainja ditengah djalan selalu menjingkir dan memberi hormat padanja.
Setiba kembali dikamarnja, diatas medja ternjata sudah tersedia matjam2 daharan jang serba enak, segera Si Kiam melajaninja makan. Dengan lahap Tjiok Boh-thian melahap semua masakan2 djang disediakan itu dan ber-ulang2 memudji kelezatannja, sekaligus ia menghabiskan lima mangkuk nasi barulah merasa kenjang.
Selesai makan, baru sadja dia hendak tanja Si Kiam mengenai ditawannja Hoa Ban-tji oleh Tan-hiangtju dan mengapa nona itu hendak membunuhnja, tiba2 pendjaga diluar pintuk memberi lapor bahwa Pwe Hay-tjiok datang.
Boh-thian sangat girang, tjepat ia memapak keluar ruangan tamu. Segera ia berkata kepada Pwe Hay-tjiok: “Pwe-siansing, tadi telah terdjadi sesuatu jang aneh,” ~ Lalu ia mentjeritakan tentang Hoa Ban-tji tadi.
“Pangtju,” kata Pwe Hay-tjiok kemudian dengan sikap prihatin. “Siokhe ingin mohon sesuatu padamu. Jaitu tentang Tan hiangtju dari Say-wi-tong jang selamanja sangat setia dan berdjasa kepada Pang kita, haraplah Pangtju suka mengampuni djiwanja.”
“Mengampuni djiwanja?” Tjiok Boh-thian menegas dengan heran. “Ja, mengapa tidak? Bukankah dia seorang baik. Apakah dia sakit? Djika demikian hendaklah Pwe-siansing suka menolongnja sadja.”
Pwe Hay-tjiok sangat girang, ia memberi hormat dan menghaturkan terima kasih. Biasanja sang Pangtju itu sangat tak berbudi, orang jang dianggapnja bersalah djarang diampuni, tapi hari ini kebiasaan itu telah dilanggar, hal ini menandakan penghargaannja terhadap permohonan dirinja itu. Maka tjepat Pwe Hay-tjiok lantas mengundurkan diri.
Kiranja sesudah Tan Tiong-tji berpisah dengan Hoa Ban-tji, kemudian buru2 ia menemui Pwe Hay-tjiok dan minta bantuannja untuk memohon ampun kepada sang Pangtju dan memberi obat penawar ratjun (padahal sama sekali ia tidak keratjunan). Obat penawar ratjun milik Pwe Hay-tjiok jang bernama “Ban-leng-kay-tok-tan” sangat mudjarab bagi segala matjam ratjun, asal sang Pangtju mengidjinkan, dengan mudah sekali ia dapat menjelamatkan djiwa Tan Tiong-tji. Dan ternjata dengan tjepat sang Pangtju lantas meluluskan permintaannja, sudah tentu girang Pwe Hay-tjiok tak terkatakan, terutama mengingat kekuatan Tiang-lok-pang tidak djadi retak dengan urung perginja Tan Tiong-tji.
Begitulah, sesudah Pwe Hay-tjiok pergi, lalu Tjiok Boh-thian tanja berbagai urusan kepada Si Kiam, maka baru diketahui bahwa tempat markas besar Tiang-lok-pang berada itu adalah kota Yangtjiu. Dia adalah Pangtju dari Tiang-lok-pang jang susunan organisasinja terbagi mendjadi Lwe-sam-tong (tiga seksi dalam) dan Gwa-ngo-tong (lima seksi luar) dengan anggota jang tersebar luas di-mana2.
Djago2 pilihan didalam Tiang-lok-pang teramat banjak, beberapa tahun terachir ini perkembangan organisasi mereka madju dengan pesat, tokoh2 seperti Pwe Hay-tjiok sadja djuga mau masuk mendjadi anggota, maka dapat dibajangkan betapa hebat pengaruh dan kekuatan Tiang-lok-pang. Adapun bagaimana azas perdjuangan Tiang-lok-pang, siapa kawan dan siapa lawannja, hal2 ini Si Kiam tak dapat mentjeritakan, maklum ia hanja seorang pelajan jang masih hidjau.
Dengan sendirinja Tjiok Boh-thian tidak mendapatkan gambaran jang djelas tentang Tiang-lok-pang, apalagi dia sendiri tiada punja pengalaman apa2.
Sesudah merenung sedjenak, kemudian ia berkata: “Entji Si Kiam, tentu kalian telah salah mengenali orang. Djikalau aku tidak berada dalam mimpi, maka teranglah Pangtju kalian adalah seorang lain lagi. Aku adalah pemuda gunung, masakah dianggap Pangtju apa segala.”
“Sekalipun banjak manusia jang mirip didunia ini djuga tiada mungkin semirip ini,” kata Si Kiam dengan tertawa. “Siauya rupanja engkau sedang melatih sematjam ilmu dan mungkin telah mengguntjangkan otakmu sehingga kau melupakan kedjadian jang lalu. Hendaklah kau mengaso sadja, pelahan2 tentu dapat ingat kembali.”
“Tidak, tidak, masih banjak jang aku merasa tidak mengarti dan ingin tanja padamu,” kata Boh-thian. “Entji Si Kiam, sebab apa kau suka mendjadi pelajan?”
“Masakah ada orang sukarela mendjadi pelajan?” sahut Si Kiam dengan hati pedih. “Sedjak ketjil aku sudah jatim piatu, aku telah didjual orang kedalam Tiang-lok-pang sini dan To-tjongkoan (kepala rumah tangga, she To) menugaskan aku melajani kau, terpaksa aku harus melajani kau.”
“Djika demikian, djadi kau tidak suka, kalau begitu bolehlah kau pergi sadja, aku tidak perlu dilajani orang, segala apa aku dapat mengerdjakannja sendiri,” kata Boh-thian.
“Aku hanja sebatangkara, kau suruh aku pergi kemana? Djika To-tjongkoan mengetahui kau takmau dilajani diriku, tentu aku jang disalahkan dan mungkin akan dihadjarnja hingga mati.”
“Aku akan minta dia djangan menghadjar kau,” kata Boh-thian.
Namun Si Kiam tetap menggeleng, katanja: “Kesehatanmu belum pulih, akupun tidak boleh pergi dengan begini sadja. Pula asal kau tidak nakal padaku, sesungguhnja aku suka melajani kau, Siauya.”
“Bilakah aku nakal padamu? Selamanja aku tidak pernah nakal pada orang lain.”
Si Kiam mendongkol dan geli pula, katanja: “Djika demikian, orang tentu akan mengatakan Tjiok-pangtju kita benar-benar telah berubah sekarang mendjadi alim.”
Boh-thian tidak berkata lagi, tapi pikirnja: “Tjiok-pangtju jang sebenarnja itu tentulah seorang manusia djahat, nakal dan suka membunuh orang pula, maka setiap orang takut padanja. Wah, bagaimana baiknja ini? Biarlah besok dibitjarakan sedjelasnja dengan Pwe-siansing sadja, terang mereka telah salah mengenali diriku.”
Begitulah pikirannja timbul-tenggelam tak tertentu, sebenarnja ia merasa senang mendjadi Pangtju jang dihormati orang sebanjak itu, tapi lain saat ia merasa tidaklah pantas memalsukan orang lain, kelak kalau Pangtju tulen itu pulang tentu akan marah, boleh djadi dirinja akan dibunuh dan inilah suatu risiko baginja.
Petangnja sesudah makan malam, kembali ia mengobrol lagi dengan Si Kiam, ia tanja ini dan itu, ia merasa serba menarik dari keterangan2 jang diberikan Si Kiam itu. Sampai djauh malam, Si Kiam kuatir penjakit nakal sang Siauya akan kumat lagi, maka tjepat2 ia mengundurkan diri dan sekalian menutupkan pintu kamar.
Tinggal Tjiok Boh-thian sendirian didalam kamar, dalam isengnja ia lantas duduk bersila diatas randjang dan berlatih menurut petundjuk2 dibadan boneka2 kaju itu.
Dimalam jang sunji senjap itulah tiba2 terdengar suara “tik-tik-tik” tiga kali, suara daun djendela diselentik. Waktu Tjiok Boh-thian membuka mata, tertampaklah daun djendela pelahan2 terpentang, sebuah tangan jang halus tampak sedang meng-gape2 padanja, samar2 kelihatan pula lengan badjunja jang berwarna hidjau pupus.
Hati Tjiok Boh-thian tergerak, teringat olehnja wadjah sianak dara berbadju hidjau muda. Segera ia melompat turun dan membur kedepan djendela, serunja: “Tjitji!”
“Tjis, mengapa memanggil Tjitji sekarang? Lekas keluar sini!” demikian terdengar suara seorang anak dara menjahut dengan suara jang njaring merdu.
Segera Boh-thian melangkah keluar melalui djendela. Tapi tiada seorangpun tertampak olehnja. Tengah heran, mendadak pandangannja mendjadi gelap, sepasang tangan jang halus lemas telah mendekap kedua matanja, berbareng terdengar suara mengikik-tawa dibelakangnja, menjusul lantas terandus bau bunga anggrek jang harum.
Terkedjut dan senang pula hati Tjiok Boh-thian. Ia tahu si-anak dara sedang bergurau dengan dia. Padahal sedjak ketjil ia hidup ditengah gunung jang sepi, kawan satu2nja adalah si Kuning, andjing piaraannja. Sekarang mendadak ada seorang muda jang sebaja dan suka bergurau dengan dia, sudah tentu dia sangat senang.
“Nah, aku akan tangkap kau!” serunja sambil kedua tangannja merangkul kebelakang.
Tapi betapa tjepatnja dia bergerak, tahu2 dia hanja memegang tempat kosong, dengan tjepat sekali sianak dara sudah melompat pergi. Ketika ia menoleh, sekilas tertampak badju hidjau berkelebat di-semak2 pohon bunga sana, tjepat ia memburu madju dansegera menangkapnja, tapi jang terpegang adalah duri2 mawar sehingga dia mendjerit kesakitan.
Sianak dara tampak mengongol dari balik semak2 sana dan berkata pelahan dengan tertawa: “Tolol, djangan bersuara, lekas ikut padaku!”
Ketika melihat anak dara itu berdjalan pergi, segera Boh-thian mengikutinja. Waktu berlari sampai ditepi pagar tembok, baru sadja anak dari itu hendak melompat keatas, mendadak dari tempat gelap telah mengadang keluar dua orang bersendjata sambil membentak: “Djangan bergerak! Siapa kau?”
Pada saat itu pula djuga dengan ter-tawa2 Tjiok Boh-thian djuga sudah ikut tiba.
Rupanja kedua orang itu adalah anggota Tiang-lok-pang jang sedang meronda. Mereka mendjadi mengkeret demi nampak sang Pangtju bersama anak dara itu dalam keadaan tertawa senang, tjepat mereka melangkah mundurdan memberi hormat, kata mereka: “Hamba tidak tahu nona ini adalah teman Pangtju, harap memaafkan.” ~ Menjusul merekapun memberi hormat pada sianak dara sebagai tanda permintaan maaf.
Anak dara itu meleletkan lidah kepada mereka dengan muka djenaka, lalu ia menggape pula kepada Tjiok Boh-thian terus melompat keatas pagar tembok.
Melihat pagar tembok itu tjukup tinggi, Boh-thian merasa tidak sanggup melompat keatas sebagaimana tjara sianak dara itu. Tapi dilihatnja anak dara itu sedang menggape lagi padanja, bahkan kedua peronda tadi djuga sedang memandang padanja, ia pikir tidaklah mungkin menjuruh mereka membawakan tangga baginja, terpaksa ia harus melakukannja sebisa mungkin, segera ia tekuk lutut sedikit terus melontjat keatas. Eh, aneh djuga, entah darimana timbulnja sematjam tenaga pada kakinja, se-konjong2 tubuhnja terus membal keatas, bahkan tanpa hinggap diatas pagar tembok dan sekaligus melintas keluar sana.
Kedua peronda tadi sampai melondjak kaget, mereka lantas berseru memudji: “Gin-kang jang hebat !”
Namun lantas terdengar suara gedebukan diluar pagar tembok sana, suara djatuhnja benda berat. Kiranja Tjiok Boh-thian tidak tahu tjara bagaimana harus tantjapkan kakinja ketanah maka ia telah djatuh terbanting. Kedua peronda hanja saling pandang dengan bingung, sudah tentu mereka tidak tahu apa jang sudah terdjadi. Sungguh tak tersangka oleh mereka bahwa Ginkang sang Pangtju sebagus itu achirnja dapat djatuh terbanting dalam keadaan jang lutju.
Sebaliknja sianak dara jang berdiri diatas pagar tembok dapat melihat dengan djelas, ia terkedjut dan tjepat melompat turun kesana. Ia lihat Tjiok Boh-thian sampai sedjenak belum lagi bangun, segera ia memajangnja dan bertanja: “Engkoh Thian, bagaimana? Agaknja kesehatanmu belum pulih betul2, djanganlah terlalu menggunakan tenaga.
Pantat Tjiok Boh-thian terasa kesakitan karena djatuh terbanting dengan keras, atas bantuan sianak dara achirnja dia dapat berdiri kembali.
“Maukah kita pergi ketempat biasanja sana,” adjak sianak dara. “Apakah kau masih sakit, dapat berdjalan tidak?”
Dasar Tjiok Boh-thian sangatlah bandel, biarpun sakit djuga takkan mengaku sakit, apalagi Lwekangnja sekarang sudah sangat tinggi, rasa sakit terbanting itu hanja sebentar sadja sudah lenjap, segera ia mendjawab: “Aku tidak merasa sakit lagi, marilah kita segera berangkat.”
“Sudah sekian lamanja kita tidak bertemu, kau kangen padaku atau tidak?” tanja sianak dara dengan mendongak, menatap muka Tjiok Boh-thian dan sambil menarik tangan kanannja.
Maka tertampaklah didepan Tjiok Boh-thian sebuah wadjah jang tjantik molek, dibawah pantulan tjahaja rembulan, keuda bidji mata anak dara itu se-akan2 dua titik bintang jang tjemerlang. Dari badan anak dara itupun terendus bau jang harum, mau-tak-mau hati pemuda itu terguntjang. Walaupun dia sama sekali tidak paham soal hubungan antara kaum pria dan wanita, tapi seorang pemuda berusia 20 tahun berada dalam keadaan dan adegan demikian, biarpun lebih tolol lagi djuga akan timbul rasa tjintanja kepada anak dara jang tjantik itu.
Sesudah tertegun sedjenak, lalu ia mendjawab: “Malam itu kau telah datang mendjenguk diriku dan segera kau pergi lagi. Sungguh aku sangat merindukan dikau.”
Sianak dara tertawa genit, katanja pula: ”Kau telah menghilang sekian lamanja, lalu tak sadarkan diri sekian lamanja pula, sungguh aku mendjadi kuatir sekali. Selama beberapa hari ini setiap malam aku pasti datang mendjenguk kau, apakah kau tahu? Kulihat kau sedang asjik berlatih, karena kuatir mengganggu, maka aku tidak memanggil kau.”
“Apa betul? Sungguh aku sama sekali tidak tahu. O, entji jang baik, mengapa kau se………..sedemikian baiknja padaku?” kata Boh-thian dengan girang.
Mendadak air muka sianak dara berubah, ia kipatkan tangan sianak muda dan omelnja: “Kau panggil aku apa? Ja, memang aku sudah………..sudah menduga sebabnja kau menghilang sekian lamanja, tentu……… tentu kau mempunjai teman wanita lagi dilain tempat. Hm, rupanja kau sudah terlalu biasa memanggil ‘entji jang baik’ kepada orang lain, maka sekarang djuga kau panggil aku demikian.”
Baru sadja anak dara itu masih tertawa riang dan menggiurkan, sekarang mendadak lantas berubah marah, keruan Tjiok Boh-thian tidak paham dan bingung, katanja dengan tergagap2: “Aku………..aku………….”
Sianak dara bertambah marah, tiba2 ia djewer telinga kanan Tjiok Boh-thian, katanja dengan gusar: “Selama ini sebenarnja kau telah berkumpul dengan wanita siapa? Bukankah kau memanggilnja sebagai ‘entji jang baik’? Hajo, lekas mengaku, lekas!” ~ Sambil bitjara djewerannja tambah keras dan makin keras.
Keruan Tjiok Boh-thian mendjerit kesakitan, serunja: “He, he! Kenapa kau segalak ini? Aku takmau bermain lagi dengan kau!”
Kembali sianak dara mendjewer lebih keras, katanja: ”Djadi kau hendak meninggalkan aku dan takkan menggubris lagi padaku? Hm, tidak boleh semudah ini. Siapa wanita jang berada bersama kau itu? Hajo, lekas mengaku!”
“Ja, aku memang berada bersama seorang wanita,” achirnja Boh-thian mengaku dengan meringis kesakitan. “Dia……….dia tidur sekamar dengan aku………….”
“Nah, apa kataku?” sela sianak dara dengan gusar. Kontan ia mendjewer terlebih keras sehingga kuping Tjiok Boh-thian sampai berdarah. Lalu teriaknja dengan suara melengking: “Biar sekarang djuga akan kubunuh dia!”
“Eh, eh, djangan! Dia adalah entji Si Kiam, dia telah membuatkan sarang burung dan memasakkan bubur untukku, walaupun bubur itu kedaluan dan hangus, tapi dia sangat baik. Kau………kau tidak boleh membunuhnja.”
Mestinja anak dara itu sudah mentjutjurkan air mata, mendadak ia tertawa kembali. “Fui!” semprotnja sambil mendjewer lagi dengan keras. “Kukira entji jang baik siapa, kiranja adalah budak busuk itu. Ah, kau berdusta, aku tidak pertjaja. Selama beberapa malam ini aku selalu mengawasi kau dari luar djendela, tampaknja kau dan budak busuk itu tjukup prihatin djuga, ja, anggaplah kau masih tahu batas.” ~ Habis berkata kembali ia hendak mendjewer lagi.
Boh-thian terkedjut dan tjepat hendak berusaha menghindar, tapi sekali ini anak dara itu ternjata tidak mendjewer lagi, sebaliknja ia meng-elus2 telinga pemuda itu, tanjanja dengan tertawa: “Apakah sakit?”
“Sudah tentu sakit,” sahut Boh-thian.
“Biar kau tahu rasa, hbais siapa suruh kau berdusta, setjara aneh kau memanggil aku ‘entji jang baik’ apa segala!”
“Menurut ibuku, katanja panggilan ‘Tjitji’ adalah tanda hormat pada orang lain, apa aku salah panggil?”
Sianak dara mempelototinja sekali. “Sedjak kapan kau menghormat padaku? Sudahlah, djika kau merasa penasaran, bolehlah kau balas mendjewer telingaku. Ini!” ~ Berbareng ia terus miringkan muka dan sodorkan telinganja kedepan.
Seketika Boh-thian mengendus bau harum jang teruar dari muka anak dara itu. Tanpa merasa hidungnja meng-endus2 beberapa kali seperti si Kuning piaraannja. Ia pegang2 kuping anak dara itu, lalu katanja: “Tidak, aku takmau mendjewer kau………….O, ja, tjara bagaimana aku mesti memanggil kau?”
“Tjara bagaimana kau panggil aku dahulu? Masakah sampai namaku djuga sudah kau lupakan?” omel sianak dara.
Boh-thian terdiam sedjenak, lalu katanja dengan sungguh2: “Nona, biarlah kukatakan terus terang padamu. Sesungguhnja kau telah salah mengenali aku. Aku bukanlah kau punja ‘engkoh Thian’ apa segala. Aku bukan Tjiok Boh-thian, tapi aku adalah Kau-tjap-tjeng.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar