Jilid 11
Si Kiam memandang sekedjap kepada anak muda itu, lalu serunja: “Siapakah jang berada diluar itu?”
“Hamba Tan Tiong-tji dari Say-wi-tong,” sahut orang itu.
“Atas perintah Pangtju hendaklah Tan-hiangtju tunggu sebentar,” seru Si Kiam pula.
“Baik,” sahut Tan Tiong-tji diluar kamar.
Segera sianak muda mengadjak Si Kiam kekamar dalam, lalu tanjanja dengan suara tertahan: “Sebenarnja aku ini siapa?”
Si Kiam mengerut kening, hatinja mendjadi sedih karena menjangka anak
muda itu benar2 tidak ingat apa2 lagi atas dirinja sendiri. Djawabnja
kemudian: “Engkau adalah Pangtju dari Tiang-lok-pang, she Tjiok bernama
Boh-thian.
“She Tjiok bernama Boh-thian? Tjiok Boh-thian, kiranja aku ini
bernama Tjiok Boh-thian, djadi namaku bukan Kau-tjap-tjeng lagi?”
demikian sianak muda menggumam sendiri.
Melihat air muka anak muda merasa bingung dan gelisah, segera Si Kiam
menghiburnja: “Siauya, kau tidak perlu risau, pelahan2 tentu kau dapat
ingat kembali.”
“Tiang-lok-pang itu barang apa? Apa jang dilakukan Pangtjunja?” tanja pula si anak muda alias Tjiok Boh-thian.
Si Kiam menjadi serba sukar untuk menerangkan, sesudah memikir
sedjenak, achirnja ia mendjawab: “Tiang-lok-pang mempunjai anggota2
sangat banjak, seperti Pwe-siansing, Bi-hiangtju dan Tan-hiangtju jang
menunggu diluar itu. Engkau adalah Pangtju, maka mereka harus tunduk
kepada perintahmu.”
“Lantas apa jang harus kubitjarakan dengan mereka?” tanja Tjiok Boh-thian.
“Aku sendiripun tidak tahu apa2,” sahut Si Kiam. “Siauya, djika
engkau merasa susah mengambil keputusan, maka segala sesuatu boleh kau
tanja kepada Pwe-siansing. Dia adalah Kunsu (penasehat) daripada Pang
kita, dia sangat pintar.”
“Tapi sekarang Pwe-siansing tiada disini, apakah kau tahu
Tan-hiangtju itu hendak melaporkan apa kepadaku? Djika dia tanja apa2
kepadaku, tentu aku tidak mampu mendjawabnja. Ada lebih baik kau suruh
dia pergi sadja.”
“Suruh dia pergi mungkin bukan tjara jang baik,” udjar Si Kiam. “Kau
boleh mendengarkan sadja apa jang dia katakan, apa jang dia laporkan,
tjukup kau mengangguk sadja.”
“Baiklah, hanja mengangguk sadja tidak sukar,” kata Tjiok Boh-thian dengan girang.
Segera Si Kiam mengantar Tjiok Boh-thian menudju kesebuah ruangan
tamu dibagian luar. Maka tertampaklah seorang laki2 tinggi besar lantas
berbangkit dari tempat duduknja dan memberi hormat sambil menjapa:
“Pangtju baik, terimalah salam hormat hamba Tan Tiong-tji.”
Tjiok Boh-thian membalas hormat dan berkata: “Tan…….Tan-hiangtju djuga baik, akupun memberi salam hormat padamu.”
Air muka Tan Tiong-tji berubah putjat dan tjepat melangkah mundur dua tindak.
Maklum, biasanja Tan Tiong-tji mengetahui sang Pangtju adalah seorang
kasar, seorang sombong, kedjam dan suka main perempuan pula. Sebagai
seorang bawahan ia memberi salam hormat padanja, siapa duga sang Pangtju
djuga balas memberi salam hormat, hal ini menandakan pikiran djahatnja
telah timbul dan segera akan membunuhnja. Walaupun takut, tapi dia
adalah seorang kesatria jang berkepandaian tinggi, sudah tentu ia tidak
mandah dibinasakan tanpa melawan, maka diam2 iapun sudah bersiap siaga,
katanja dengan suara berat: “Entah hamba telah melanggar peraturan Pang
kita pasal berapa? Djika Pangtju hendak mendjatuhkan hukuman djuga mesti
mengadakan sidang terbuka dan mendjatuhkan keputusan didepan orang
banjak.”
Dengan sendirinja Tjiok Boh-thian tidak paham apa jang dimaksudkan,
katanja dengan heran: “Mendjatuhkan hukuman? Menghukum siapa?”
Tan Tiong-tji tambah penasaran, katanja dengan mendongkol: “Selamanja
Tan Tiong-tji djudjur dan setia kepada Tiang-lok-pang dibawah pimpinan
Pangtju, selama inipun tiada merasa berbuat salah, mengapa Pangtju
ber-ulang2 menjindir?”
Tjiok Boh-thian mendjadi bingung. Tiba2 teringat pesan Si Kiam tadi
jang menjuruhnja mengangguk sadja bila ada sesuatu jang tidak paham dan
soalnja nanti boleh ditanjakan kepada Pwe Hay-tjiok. Maka ia lantas
mengangguk sambil berkata: “Ja, ja, silakan Tan-hiangtju duduk dan
djangan sungkan2.”
“Dihadapan Pangtju masakah ada tempat duduk bagi hamba,” sahut Tan Tiong-tji.
“Ja, ja!” kata Tjiok Boh-thian dengan bingung.
Djadi kedua orang hanja berdiri sadja dengan saling pandang, keduanja
sama2 tidak membuka suara lagi. Kalau wadjah Tan Tiong-tji agak tjemas2
kuatir dan penuh kewaspadaan, sebaliknja air muka Tjiok Boh-thian
mengundjuk rasa bingung, tapi bersenjum simpul ramah.
Menurut peraturan Tiang-lok-pang, dikala bawahan memberi laporan
rahasia kepada sang Pangtju, maka orang lain harus menjingkir. Sebab
itulah maka sedjak tadi Si Kiam sudah tingal keluar dari ruangan tamu
itu. Kalau tidak tentu dia akan dapat memberi sekadar pendjelasan kepada
Tan Tiong-tji tentang belum pulihnja kesehatan sang Pangtju dan minta
Tan-hiangtju djangan kuatir.
Begitulah sesudah kedua orang itu tertegun sedjenak, tiba2 Tjiok
Boh-thian melihat diatas medja ada dua mangkuk teh wangi, segera ia
mengambil semangkuk, semangkuk lagi ia sodorkan kepasa Tan Tiong-tji:
“Mari minum!”
Karena kuatir didalam teh itu ditaruh ratjun, pula kuatir mendadak
diserang Tjiok Boh-thian, maka Tan Tiong-tji tidak berani menerima
mangkuk teh itu, sebaliknja malah mundur selangkah. Maka terdengarlah
suara “prang” jang njaring mangkuk itu djatuh kelantai dan petjah
berantakan.
“Ai, maaf, maaf!” seru Tjiok Boh-thian, segera ia menjodorkan mangkuk
jang satu lagi dan berkata: “Silakan minum jang ini sadja.”
Alis mata Tan Tiong-tji mendjengkit, ia pikir toh tidak dapat lolos
dari maksud djahat sang Pangtju, seorang laki2 biarpun mati djuga tidak
perlu takut. Maka tanpa pikir lagi ia lantas terima mangkuk itu dan
sekali tenggak isi mangkuk itu lantas diminum habis. Ia gabrukan mangkuk
the itu diatas medja, lalu berkata dengan rasa tjemas: “Sedemikianlah
tjara Pangtju memperlakukan bawahanmu jang setia, semoga Tiang-lok-pang
bahagia selamanja dan semoga Tjiok-pangtju pandjang umur.”
Sedikit banjak Tjiok Boh-thian dapat menangkap maksud kata2 “semoga
Tjiok-pangtju berpandjang umur”, tjuma ia tidak tahu maksud utjapan Tan
Tiong-tji itu adalah kebalikannja, maka ia lantas mendjawab: “Ja, semoga
Tan-hiangtju djuga pandjang umur.”
Sudah tentu djawaban ini bagi pendengaran Tan Tiong-tji merupakan
sindiran pula, ia tertawa dingin berkata didalam hati: “Djiwaku hanja
tinggal sekedjap sadja, tapi kau masih mendoakan aku berpandjang umur,
sungguh kedji amat kau.”
Namun demikian ia masih penasaran, serunja pula: “Entah dimana letak
kesalahanku, makanja aku harus terima gandjaranku seperti sekarang,
untuk ini Siok-he (bawahan) tidak ingin banjak omong lagi. Hanja sadja
mengenai maksud kedatangan Siokhe ini jalah ingin memberi lapor kepada
Pangtju, bahwasanja semalam ada dua wanita telah menjusup kemarkas
Say-wi-tong, jang seorang adalah wanita setengah umur, jang satu lagi
baru berusia 27-28 tahun. Kedua wanita itu semuanja menggunakan pedang,
ilmu silat mereka seperti dari golongan Swat-san-pay. Siokhe bersama
para kerabat berusaha menangkap mereka, tapi ilmu pedang kedua wanita
itu terlalu lihay, tiga anak murid Siokhe telah mendjadi korban
keganasan mereka, tapi wanita jang lebih muda itupun terluka kakinja dan
achirnja tertawan. Untuk mana Siokhe sengadja datang kemari untuk minta
keputusan Pangtju.”
“O, djadi jang satu tertangkap dan jang lain lolos,” kata Tjiok
Boh-thian. “Entah kedua wanita itu mau apa datang kesini? Apakah hendak
mentjuri ?”
“Dimarkas Say-wi-tong tiada kehilangan apa2,” sahut Tan Tiong-tji.
“Kedua wanita itu mengapa begitu kedjam, masakah sekaligus membunuh
tiga orang,” kata Tjiok Boh-thian sambil mengerut kening. Tiba2 timbul
rasa ingin tahunja, segera ia bertanja: “Eh, Tan-hiangtju, tjobalah kau
membawa aku pergi melihat wanita itu.”
“Baik,” sahut Tan Tiong-tji dengan hormat.
Sesudah mereka keluar dari ruangan tamu, tiba2 timbul suatu pikiran
dalam benak Tan Tiong-tji: “Wanita jang kutawan itu bermuka tjantik,
boleh djadi Pangtju akan suka padanja dan dalam girangnja mungkin dia
akan memberikan obat penawar padaku.” ~ Tapi lantas terpikir pula: “Tan
Tiong-tji, wahai Tan Tiong-tji, Tjiok-pangtju adalah seorang jang kasar,
girang dan marah tiada tertentu, rasanja Tiang-lok-pang ini bukanlah
tempat bernaung jang baik bagimu. Kalau hari ini djiwamu beruntung dapat
selamat, selandjutnja lebih baik kabur sadja sedjauh mungkin dan
mengasingkan diri serta djangan berketjimpung pula didunia Kangouw.”
Begitulah Tjiok Boh-thian ikut Tan Tiong-tji menjusuri beberapa
ruangan dan melalui dua buah taman, achirnja sampailah didepan sebuah
pintu batu jang besar. Tertampak empat pendjaga bersendjata berdiri
disitu. Melihat datangnja Tjiok Boh-thian dan Tan Tiong-tji, dengan
gugup pendjaga2 itu memberi hormat. Ketika Tan Tiong-tji memberi tanda,
segera dua pendjaga diantaranja mendorong daun pintu batu itu. Dibalik
pintu batu itu kiranja masih ada sebuah pintu berterali besi jang
dikuntji dengan gembok besar. Segera Tiong-tji mengeluarkan kuntji dan
dibukanja sendiri.
Sesudah masuk, ternjata disitu adalah sebuah lorong jang pandjang,
didalamnja ada api lilin besar. Pada udjung lorong ada empat pendjaga
pula dan kembali menghadapi sebuah pintu berterali besi. Sesudah pintu
terali dibuka, didalamnja ada sebuah pintu besi jang tebal. Setelah Tan
Tiong-tji membuka gembok dan membuka pintu tebal itu, maka tertampaklah
sebuah kamar batu kira2 tiga meter persegi. Seorang wanita berbadju
putih tampak duduk mungkur. Waktu mendengar suara pintu terbuka, wanita
itu lantas menoleh.
Segera Tan Tiong-tji menaruh Tjektay (tatakan lilin) diatas medja
disamping pintu, tjahaja lilin dapat menerangi muka siwanita dengan
djelas. Mendadak Tjiok Boh-thian berseru kaget: “Ha, bukankah engkau
adalah nona Hoa, Hoa Ban-tji dari Swat-san-pay?”
Kiranja apa jang terdjadi di Hau-kam-tjip dulu masih teringat dengan
baik olehnja. Walaupun sudah berselang beberapa tahun, namun wadjah Hoa
Ban-tji itu tiada banjak berubah, maka begitu lihat Tjiok Boh-thian
lantas mengenalnja. Sebaliknja dulu Tjiok Boh-thian adalah seorang
pengemis ketjil jang dekil, hari ini pakaian sudah mewah dan berubah
dewasa mendjadi seorang pemuda jang gagah dan tampan, dengan sendirinja
Hoa Ban-tji tidak mengenalnja lagi.
Maka dengan marah2 Hoa Ban-tji berkata: “Mengapa kau mengenal diriku?”
Diam2 Tan Tiong-tji djuga kagum terhadap ketjerdasan sang Pangtju,
hanja sekali lihat sadja lantas dapat mengatakan siapa dan dari mana
asal-usul tawanannja itu. Segera ia membentak: “Ini adalah Pangtju kami,
tjara bitjaramu harus tahu aturan sedikit!”
Hoa Ban-tji terkedjut. Sama sekali tak tersangka olehnja akan bertemu
dengan Tiang-lok-pangtju Tjiok Boh-thian jang terkenal busuk itu.
Kabarnja pangtju ini suka merusak kaum wanita, hari ini dirinja berada
didalam tjengkeramannja, tentu lebih banjak tjelaka dari selamatnja.
Karena itulah ia mendjadi kuatir dan tjepat berpaling kearah dinding
agar wadjahnja jang tjantik itu tidak terlihat. Berbareng terdengar
suara gemerintjingnja benda logam, kiranja kaki dan tangannja telah
diborgol.
Diwaktu mendengarkan ibunja mendongeng, Tjiok Boh-thian pernah
diberitahu tengan borgol dan lain2 dan baru hari ini ia melihat dengan
mata sendiri bentuk borgol itu. Segera ia tanja Tan Tiong-tji:
“Tan-Hiangtju, apa sih dosa nona Hoa ini sehingga kaki dan tangannja
perlu diborgol.”
Sebabnja dia tanja adalah karena dia memang tidak paham. Tapi bagi
pendengaran Tan Tiong-tji, disangkanja pertanjaan sang Pangtju itu
bermaksud kebalikannja. Pikirnja: “Wah, tjelaka, mungkin Pangtju
menganggap aku memperlakukan nona Hoa dengan tidak pantas, maka dia
telah meratjuni diriku. Sedapat mungkin aku harus berusaha memperbaiki
kesalahanku ini.” ~ Maka tjepat ia mendjawab: “Ja, ja, hamba memang
salah.” ~ Segera ia mengeluarkan kuntji dan tjepat membuka borgol jang
membelenggu kaki dan tangan Hoa Ban-tji itu.
Walaupun Hoa Ban-tji sekarang sudah merdeka, tapi ia mendjadi lebih2 kuatir sehingga gemetar.
Dalam hal ketjerdasan dan kepandaian silat Hoa Ban-tji jang berdjuluk
Bwe-hoa-lihiap (pendekar bunga Bwe) itu tidaklah kalah daripada
kesatria kaum lelaki. Kalau Tjiok Boh-thian mengantjam akan membunuhnja,
betapapun tidak nanti dia menjerah. Tapi sekarang ia mendengar Tjiok
Boh-thian malah menjalahkan Tan-hiangtju jang menawannja, terang dibalik
utjapannja itu mengandung maksud tertentu atas dirinja, djelasnja dia
telah dipenudjui oleh Tjiok Boh-thian. Padahal selama hidup ini dia
selalu mendjaga diri dengan baik dan sampai saat ini masih sutji bersih,
kalau sampai dinodai oleh Tjiok Boh-thian jang terkenal busuk itu, wah,
benar2 bisa tjelaka.
Dalam pada itu Tan Tiong-tji djuga sengadja hendak membikin senang
hati sang Pangtju, maka ia telah berkata: “Pangtju, mengapa nona Hoa
tidak diadjak bitjara kekamar Pangtju sadja? Disini terlalu gelap dan
kotor, bukan suatu tempat jang pantas untuk tetamu.”
“Ja, bagus,” sahut Tjiok Boh-thian dengan girang. “Marilah nona Hoa,
disana tersedia sarang burung jang sangat enak, nanti kau boleh tjoba
mentjitjipi satu mangkuk.”
“Tidak, tidak mau,” seru Hoa Ban-tji dengan suara gemetar.
“Enak, sungguh sangat enak, boleh kau tjoba dulu nanti”, kata Tjiok Boh-thian pula.
Hoa Ban-tji mendjadi gusar, sahutnja: “Kalau mau bunuh, lekas bunuh,
nona adalah murid terhormat dari Swat-san-pay, tidak nanti sudi minta
ampun padamu. Kau bangsat ini kalau menaruh maksud djahat padaku, aku
lebih suka membunuh diri daripada…………datang kekamarmu.”
“Ai, mengapa kau bilang demikian, se-akan2 aku ini paling suka orang
sadja, sungguh aneh, buat apa aku membunuh kau? Djika kau tidak dojan
sarang burung ja sudah, ja, mungkin kau lebih suka makan ajam panggang
dan bebek tim. Eh, Tan-hiangtju, apakah makanan2 demikian kita ada
sedia?”
“Ada, ada, ada!” tjepat Tan Tiong-tji mendjawab. “Apa jang disukai
nona Hoa, asal terdapat didunia ini tentu didapur kita djuga sedia.”
“Fui, biarpun mati djuga nona tidak sudi makan barang suguhan kalian
jang hanja membikin kotor mulutku sadja,” sahut Ban-tji dengan marah.
“O, apa barangkali nona Hoa lebih suka belandja sendiri kepasar untuk
dibawa pulang dan dimasak sendiri? Apakah kau mempunjai uang? Djika
tidak punja, tentunja Tan-hiangtju punja, bukan? Harap kau berikan
sedikit padanja,” demikian kata Tjiok Boh-thian.
“Ada, ada, segera kusuruh mengambilkan pada kasir!” ~ “Tidak, tidak,
biar mati djuga aku tidak sudi!” demikian Tan Tiong-tji dan Hoa Ban-tji
bersuara berbareng.
“Ah, mungkin kau sendiri sudah punja uang, Tan-hiangtju bilang kakimu
terluka, kami akan minta Pwe-siansing mengobati lukamu, tapi tampaknja
kau tidak suka kepada Tiang-lok-pang, maka bolehlah kau pergi mentjari
tabib sendiri, kalau lukamu terlalu banjak mengeluarkan darah tentu akan
kurang baik.”
Sudah tentu Hoa Ban-tji tidak pertjaja Tjiok Boh-thian mau
membebaskan dia, ia menduga dirinja akan dipermainkan seperti kutjing
menggoda tikus, maka dengan marah2 ia mendjawab: “Pendek kata aku takkan
masuk perangkapmu biarpun kau pakai tipu muslihat apapun djuga.”
Tjiok Boh-thian mendjadi lebih heran, katanja: “Kamar batu ini mirip
dengan pendjara, buat apa tinggal disini? Nona Hoa, lebih baik lekas kau
keluar dari sini sadja.”
Karena mendengar utjapan itu agak sungguh2, Hoa Ban-tji mendengus dan
berkata: “Hm, dimanakah pedangku, mau mengembalikan atau tidak?” ~ Ia
pikir kalau sudah pegang sendjata, bila Tjiok Boh-thian akan berbuat
tidak senonoh padanja tentu akan dapat membunuh diri biarpun tidak mampu
melawannja.
“O, ja, nona Hoa suka pakai sendjata pedang. Tan-hiangtju, sukalah kau mengembalikan pedangnja ?” kata Tjiok Boh-thian.
“Ja, ja, pedangnja tersimpan diluar sana, silakan nona keluar dan segera akan kami kembalikan”, sahut Tan Tiong-tji.
Karena sudah bertekad akan membunuh diri maka Hoa Ban-tji tidak
gentar terhadap tipu muslihat pula. Mendadak ia berbangkit terus
melangkah keluar. Segera Tjiok Boh-thian dan Tan Tiong-tji mengikutinja
dari belakang.
Sesudah tiba ditaman diluar pendjara itu, maka Hoa Ban-tji mendjadi
silau oleh tjahaja sang surja. Walaupun demikian semangatnja lantas
terbangkit.
Rupanja Tan Tiong-tji ingin mengambil hati sang Pangtju, sebelum
disuruh ia sudah mengambilkan pedangnja Hoa Ban-tji dan diserahkan
kepada Tjiok Boh-thian. Lalu Tjiok Boh-thian mengembalikan pedan itu
kepada Hoa Ban-tji.
Kuatir kalau mendadak dirinja diserang, maka diwaktu menerima kembali
pedangnja, tjepat sekali ia menjambar gagang pedang dan siap2 untuk
melolosnja dari sarung pedang.
Tan Tiong-tji tahu ilmu pedang murid Swat-san-pay itu sangat hebat,
maka berbareng iapun menjambar sebatang golok dari tangan seorang
pendjaga dan siap untuk menghadapi Hoa Ban-tji.
Namun Tjiok Boh-thian telah berkata: “Nona Hoa, apakah lukamu tidak
mendjadi halangan? Djika tulang kakimu patah, boleh djuga aku
menjambungkan untukmu seperti aku menjambung tulang kaki si Kuning
dahulu.”
Jang bitjara tidaklah sengadja, tapi jang mendengarkan merasa
terhina. Apalagi Hoa Ban-tji masih seorang perawan sutji, ketika melihat
sorot mata Tjiok Boh-thian memandang kearah kakinja, seketika mukanja
mendjadi merah, damperatnja: “Dasar badjingan, tjara bitjaramu djuga
kotor dan rendah.”
“He, apakah salah perkataanku?” seru Tjiok Boh-thian dengan heran. “Apakah boleh kuperiksa lukamu itu?”
Apa jang dikatakannja adalah timbul dari djiwanja jang masih
ke-kanak2an dan tiada punja maksud lain, Hoa Ban-tji menganggap Tjiok
Boh-thian hendak menggodanja. “Sret, pedang segera dilolosnja sambil
membentak: “Manusia she Tjiok, djika kau berani madju setindak lagi
segera nona mengadu djiwa dengan kau.”
“Nona Hoa, Pangtju kami sangat gagah dan tampan, djika beliau sudah
penudjui kau, ini adalah redjekimu, biarpun kau membawa pedang djuga
tiada bedanja bagi pandangan Pangtju kami. Padahal entah betapa banjak
nona tjantik didunia ini jang ingin memikat Pangtju kami dan tak
terkabul harapan mereka,” demikian kata Tan Tiong-tji.
Dengan muka putjat menahan gusar, tanpa pikir lagi pedang Hoa Ban-tji
lantas menusuk kedada Tjiok Boh-thian dalam tipu “Tay-boh-hui-sah”
(pasir terbang digurun luas).
Meski Lwekang Tjiok Boh-thian sekarang sudah maha kuat, tapi dalam
hal ilmu silat untuk menghadapi musuh selamanja dia belum pernah
beladjar. Sekarang dilihatnja pedang Hoa Ban-tji menjambar kepadanja,
dalam gugupnja ia mendjadi kelabakan, tapi ia masih sempat membalik
tubuh terus melarikan diri.
Untung Lsekangnja sekarang sudah sangat sempurna, walaupun tjara
larinja agak ke-tolol2an dan menggelikan, tapi tjepatnja benar2 luar
biasa, hanja beberapa langkah sadja dia sudah berlari sedjauh beberapa
meter.
Sama sekali Hoa Ban-tji tidak menjangka Tjiok Boh-thian akan
melarikan diri, bahkan sedemikian tjepat larinja, betapa aneh dan hebat
Ginkangnja itu sungguh belum pernah dilihatnja, seketika Hoa Ban-tji
sampai terkesima sendiri dan tak dapat bersuara.
“Wah, nona Hoa, kau djangan main2 dengan sendjatamu,” demikian Tjiok
Boh-thian berseru sambil gojang2 kedua tangannja. “Ber-ulang2 kau
menuduh aku suka membunuh orang, padahal kau sendirilah jang suka
membunuh. Sudahlah, djika kau mau pergi boleh pergi sadja dan kalau
ingin tinggal disini djuga boleh, aku tidak mau bitjara lagi dengan
kau.”
Rupanja ia menduga Hoa Ban-tji tentu mempunjai alasannja, maka
dirinja hendak dibunuh olehnja. Untuk ini ada lebih baik meminta
keterangan kepada Si Kiam sadja. Maka sehabis bitjara ia lantas tinggal
pergi.
Hoa Ban-tji mendjadi lebih heran, serunja: “Tjiok-pangtju, apakah kau
benar2 telah membebaskan diriku? Djangan2 kau menjuruh orang untuk
merintangi aku diluar sana.”
“Untuk apa aku merintangi kau? Djangan2 pedangmu akan menusuk aku lagi, wah, kan bisa runjam!” sahut Tjiok Boh-thian.
Betapapun Hoa Ban-tji masih ragu2. Tapi ia pikir daripada tetap
tinggal disarang maut itu ada lebih baik tinggal pergi sadja. Maka tanpa
bitjara lagi ia lantas putar tubuh dan melangkah pergi.
“Nona Hoa,” tiba2 Tan Tiong-tji berseru dengan tertawa. “Djelek2
Tiang-lok-pang kami djuga tidak kekurangan pendjaga, masakah nona Hoa
sedemikian mudahnja pergi-datang sesukanja, memangnja kau anggap orang2
Tiang-lok-pang kami ini adalah sebangsa tukang gegares jang tak
berguna?”
“Habis apa jang kau inginkan?” sahut Hoa Ban-tji dengan alis mendjengkit.
“Kukira, haha, adalah lebih baik aku jang mengantar nona Hoa keluar,” udjar Tan Tiong-tji dengan tertawa.
Diam2 Hoa Ban-tji berpikir: “Sekarang aku masih berada disarang
mereka, terpaksa aku tunduk kepada keinginannja, kalau aku membangkang
tentu akan sukar untuk keluar dari sini. Sekarang biarlah aku telan
semua hinaan, kelak aku akan mengadjak para saudara seperguruan untuk
mengobrak-abrik tempat ini dan membalas dendam.”
“Djika demikian, silakan antarkan,” katanja kemudian.
“Pangtju, Siokhe hendak mengantar nona Hoa keluar dari sini,” kaa Tiong-tji kepad Tjiok Boh-thian.
“Bagus, bagus!” sahut Boh-thian. Melihat sinar pedang Hoa Ban-tji
jang gemilapan itu, dia mendjadi djeri, kalau Tan Tiong-tji bersedia
mengantarnja keluar adalah kebetulan baginja. Maka ia lantas kembali ke
kamarnja sendiri melalui djalan tadi. Setiap orang jang didjumpainja
ditengah djalan selalu menjingkir dan memberi hormat padanja.
Setiba kembali dikamarnja, diatas medja ternjata sudah tersedia
matjam2 daharan jang serba enak, segera Si Kiam melajaninja makan.
Dengan lahap Tjiok Boh-thian melahap semua masakan2 djang disediakan itu
dan ber-ulang2 memudji kelezatannja, sekaligus ia menghabiskan lima
mangkuk nasi barulah merasa kenjang.
Selesai makan, baru sadja dia hendak tanja Si Kiam mengenai
ditawannja Hoa Ban-tji oleh Tan-hiangtju dan mengapa nona itu hendak
membunuhnja, tiba2 pendjaga diluar pintuk memberi lapor bahwa Pwe
Hay-tjiok datang.
Boh-thian sangat girang, tjepat ia memapak keluar ruangan tamu.
Segera ia berkata kepada Pwe Hay-tjiok: “Pwe-siansing, tadi telah
terdjadi sesuatu jang aneh,” ~ Lalu ia mentjeritakan tentang Hoa Ban-tji
tadi.
“Pangtju,” kata Pwe Hay-tjiok kemudian dengan sikap prihatin. “Siokhe
ingin mohon sesuatu padamu. Jaitu tentang Tan hiangtju dari Say-wi-tong
jang selamanja sangat setia dan berdjasa kepada Pang kita, haraplah
Pangtju suka mengampuni djiwanja.”
“Mengampuni djiwanja?” Tjiok Boh-thian menegas dengan heran. “Ja,
mengapa tidak? Bukankah dia seorang baik. Apakah dia sakit? Djika
demikian hendaklah Pwe-siansing suka menolongnja sadja.”
Pwe Hay-tjiok sangat girang, ia memberi hormat dan menghaturkan
terima kasih. Biasanja sang Pangtju itu sangat tak berbudi, orang jang
dianggapnja bersalah djarang diampuni, tapi hari ini kebiasaan itu telah
dilanggar, hal ini menandakan penghargaannja terhadap permohonan
dirinja itu. Maka tjepat Pwe Hay-tjiok lantas mengundurkan diri.
Kiranja sesudah Tan Tiong-tji berpisah dengan Hoa Ban-tji, kemudian
buru2 ia menemui Pwe Hay-tjiok dan minta bantuannja untuk memohon ampun
kepada sang Pangtju dan memberi obat penawar ratjun (padahal sama sekali
ia tidak keratjunan). Obat penawar ratjun milik Pwe Hay-tjiok jang
bernama “Ban-leng-kay-tok-tan” sangat mudjarab bagi segala matjam
ratjun, asal sang Pangtju mengidjinkan, dengan mudah sekali ia dapat
menjelamatkan djiwa Tan Tiong-tji. Dan ternjata dengan tjepat sang
Pangtju lantas meluluskan permintaannja, sudah tentu girang Pwe
Hay-tjiok tak terkatakan, terutama mengingat kekuatan Tiang-lok-pang
tidak djadi retak dengan urung perginja Tan Tiong-tji.
Begitulah, sesudah Pwe Hay-tjiok pergi, lalu Tjiok Boh-thian tanja
berbagai urusan kepada Si Kiam, maka baru diketahui bahwa tempat markas
besar Tiang-lok-pang berada itu adalah kota Yangtjiu. Dia adalah Pangtju
dari Tiang-lok-pang jang susunan organisasinja terbagi mendjadi
Lwe-sam-tong (tiga seksi dalam) dan Gwa-ngo-tong (lima seksi luar)
dengan anggota jang tersebar luas di-mana2.
Djago2 pilihan didalam Tiang-lok-pang teramat banjak, beberapa tahun
terachir ini perkembangan organisasi mereka madju dengan pesat, tokoh2
seperti Pwe Hay-tjiok sadja djuga mau masuk mendjadi anggota, maka dapat
dibajangkan betapa hebat pengaruh dan kekuatan Tiang-lok-pang. Adapun
bagaimana azas perdjuangan Tiang-lok-pang, siapa kawan dan siapa
lawannja, hal2 ini Si Kiam tak dapat mentjeritakan, maklum ia hanja
seorang pelajan jang masih hidjau.
Dengan sendirinja Tjiok Boh-thian tidak mendapatkan gambaran jang
djelas tentang Tiang-lok-pang, apalagi dia sendiri tiada punja
pengalaman apa2.
Sesudah merenung sedjenak, kemudian ia berkata: “Entji Si Kiam, tentu
kalian telah salah mengenali orang. Djikalau aku tidak berada dalam
mimpi, maka teranglah Pangtju kalian adalah seorang lain lagi. Aku
adalah pemuda gunung, masakah dianggap Pangtju apa segala.”
“Sekalipun banjak manusia jang mirip didunia ini djuga tiada mungkin
semirip ini,” kata Si Kiam dengan tertawa. “Siauya rupanja engkau sedang
melatih sematjam ilmu dan mungkin telah mengguntjangkan otakmu sehingga
kau melupakan kedjadian jang lalu. Hendaklah kau mengaso sadja,
pelahan2 tentu dapat ingat kembali.”
“Tidak, tidak, masih banjak jang aku merasa tidak mengarti dan ingin
tanja padamu,” kata Boh-thian. “Entji Si Kiam, sebab apa kau suka
mendjadi pelajan?”
“Masakah ada orang sukarela mendjadi pelajan?” sahut Si Kiam dengan
hati pedih. “Sedjak ketjil aku sudah jatim piatu, aku telah didjual
orang kedalam Tiang-lok-pang sini dan To-tjongkoan (kepala rumah tangga,
she To) menugaskan aku melajani kau, terpaksa aku harus melajani kau.”
“Djika demikian, djadi kau tidak suka, kalau begitu bolehlah kau
pergi sadja, aku tidak perlu dilajani orang, segala apa aku dapat
mengerdjakannja sendiri,” kata Boh-thian.
“Aku hanja sebatangkara, kau suruh aku pergi kemana? Djika
To-tjongkoan mengetahui kau takmau dilajani diriku, tentu aku jang
disalahkan dan mungkin akan dihadjarnja hingga mati.”
“Aku akan minta dia djangan menghadjar kau,” kata Boh-thian.
Namun Si Kiam tetap menggeleng, katanja: “Kesehatanmu belum pulih,
akupun tidak boleh pergi dengan begini sadja. Pula asal kau tidak nakal
padaku, sesungguhnja aku suka melajani kau, Siauya.”
“Bilakah aku nakal padamu? Selamanja aku tidak pernah nakal pada orang lain.”
Si Kiam mendongkol dan geli pula, katanja: “Djika demikian, orang
tentu akan mengatakan Tjiok-pangtju kita benar-benar telah berubah
sekarang mendjadi alim.”
Boh-thian tidak berkata lagi, tapi pikirnja: “Tjiok-pangtju jang
sebenarnja itu tentulah seorang manusia djahat, nakal dan suka membunuh
orang pula, maka setiap orang takut padanja. Wah, bagaimana baiknja ini?
Biarlah besok dibitjarakan sedjelasnja dengan Pwe-siansing sadja,
terang mereka telah salah mengenali diriku.”
Begitulah pikirannja timbul-tenggelam tak tertentu, sebenarnja ia
merasa senang mendjadi Pangtju jang dihormati orang sebanjak itu, tapi
lain saat ia merasa tidaklah pantas memalsukan orang lain, kelak kalau
Pangtju tulen itu pulang tentu akan marah, boleh djadi dirinja akan
dibunuh dan inilah suatu risiko baginja.
Petangnja sesudah makan malam, kembali ia mengobrol lagi dengan Si
Kiam, ia tanja ini dan itu, ia merasa serba menarik dari keterangan2
jang diberikan Si Kiam itu. Sampai djauh malam, Si Kiam kuatir penjakit
nakal sang Siauya akan kumat lagi, maka tjepat2 ia mengundurkan diri dan
sekalian menutupkan pintu kamar.
Tinggal Tjiok Boh-thian sendirian didalam kamar, dalam isengnja ia
lantas duduk bersila diatas randjang dan berlatih menurut petundjuk2
dibadan boneka2 kaju itu.
Dimalam jang sunji senjap itulah tiba2 terdengar suara “tik-tik-tik”
tiga kali, suara daun djendela diselentik. Waktu Tjiok Boh-thian membuka
mata, tertampaklah daun djendela pelahan2 terpentang, sebuah tangan
jang halus tampak sedang meng-gape2 padanja, samar2 kelihatan pula
lengan badjunja jang berwarna hidjau pupus.
Hati Tjiok Boh-thian tergerak, teringat olehnja wadjah sianak dara
berbadju hidjau muda. Segera ia melompat turun dan membur kedepan
djendela, serunja: “Tjitji!”
“Tjis, mengapa memanggil Tjitji sekarang? Lekas keluar sini!”
demikian terdengar suara seorang anak dara menjahut dengan suara jang
njaring merdu.
Segera Boh-thian melangkah keluar melalui djendela. Tapi tiada
seorangpun tertampak olehnja. Tengah heran, mendadak pandangannja
mendjadi gelap, sepasang tangan jang halus lemas telah mendekap kedua
matanja, berbareng terdengar suara mengikik-tawa dibelakangnja, menjusul
lantas terandus bau bunga anggrek jang harum.
Terkedjut dan senang pula hati Tjiok Boh-thian. Ia tahu si-anak dara
sedang bergurau dengan dia. Padahal sedjak ketjil ia hidup ditengah
gunung jang sepi, kawan satu2nja adalah si Kuning, andjing piaraannja.
Sekarang mendadak ada seorang muda jang sebaja dan suka bergurau dengan
dia, sudah tentu dia sangat senang.
“Nah, aku akan tangkap kau!” serunja sambil kedua tangannja merangkul kebelakang.
Tapi betapa tjepatnja dia bergerak, tahu2 dia hanja memegang tempat
kosong, dengan tjepat sekali sianak dara sudah melompat pergi. Ketika ia
menoleh, sekilas tertampak badju hidjau berkelebat di-semak2 pohon
bunga sana, tjepat ia memburu madju dansegera menangkapnja, tapi jang
terpegang adalah duri2 mawar sehingga dia mendjerit kesakitan.
Sianak dara tampak mengongol dari balik semak2 sana dan berkata
pelahan dengan tertawa: “Tolol, djangan bersuara, lekas ikut padaku!”
Ketika melihat anak dara itu berdjalan pergi, segera Boh-thian
mengikutinja. Waktu berlari sampai ditepi pagar tembok, baru sadja anak
dari itu hendak melompat keatas, mendadak dari tempat gelap telah
mengadang keluar dua orang bersendjata sambil membentak: “Djangan
bergerak! Siapa kau?”
Pada saat itu pula djuga dengan ter-tawa2 Tjiok Boh-thian djuga sudah ikut tiba.
Rupanja kedua orang itu adalah anggota Tiang-lok-pang jang sedang
meronda. Mereka mendjadi mengkeret demi nampak sang Pangtju bersama anak
dara itu dalam keadaan tertawa senang, tjepat mereka melangkah
mundurdan memberi hormat, kata mereka: “Hamba tidak tahu nona ini adalah
teman Pangtju, harap memaafkan.” ~ Menjusul merekapun memberi hormat
pada sianak dara sebagai tanda permintaan maaf.
Anak dara itu meleletkan lidah kepada mereka dengan muka djenaka,
lalu ia menggape pula kepada Tjiok Boh-thian terus melompat keatas pagar
tembok.
Melihat pagar tembok itu tjukup tinggi, Boh-thian merasa tidak
sanggup melompat keatas sebagaimana tjara sianak dara itu. Tapi
dilihatnja anak dara itu sedang menggape lagi padanja, bahkan kedua
peronda tadi djuga sedang memandang padanja, ia pikir tidaklah mungkin
menjuruh mereka membawakan tangga baginja, terpaksa ia harus
melakukannja sebisa mungkin, segera ia tekuk lutut sedikit terus
melontjat keatas. Eh, aneh djuga, entah darimana timbulnja sematjam
tenaga pada kakinja, se-konjong2 tubuhnja terus membal keatas, bahkan
tanpa hinggap diatas pagar tembok dan sekaligus melintas keluar sana.
Kedua peronda tadi sampai melondjak kaget, mereka lantas berseru memudji: “Gin-kang jang hebat !”
Namun lantas terdengar suara gedebukan diluar pagar tembok sana,
suara djatuhnja benda berat. Kiranja Tjiok Boh-thian tidak tahu tjara
bagaimana harus tantjapkan kakinja ketanah maka ia telah djatuh
terbanting. Kedua peronda hanja saling pandang dengan bingung, sudah
tentu mereka tidak tahu apa jang sudah terdjadi. Sungguh tak tersangka
oleh mereka bahwa Ginkang sang Pangtju sebagus itu achirnja dapat djatuh
terbanting dalam keadaan jang lutju.
Sebaliknja sianak dara jang berdiri diatas pagar tembok dapat melihat
dengan djelas, ia terkedjut dan tjepat melompat turun kesana. Ia lihat
Tjiok Boh-thian sampai sedjenak belum lagi bangun, segera ia memajangnja
dan bertanja: “Engkoh Thian, bagaimana? Agaknja kesehatanmu belum pulih
betul2, djanganlah terlalu menggunakan tenaga.
Pantat Tjiok Boh-thian terasa kesakitan karena djatuh terbanting
dengan keras, atas bantuan sianak dara achirnja dia dapat berdiri
kembali.
“Maukah kita pergi ketempat biasanja sana,” adjak sianak dara. “Apakah kau masih sakit, dapat berdjalan tidak?”
Dasar Tjiok Boh-thian sangatlah bandel, biarpun sakit djuga takkan
mengaku sakit, apalagi Lwekangnja sekarang sudah sangat tinggi, rasa
sakit terbanting itu hanja sebentar sadja sudah lenjap, segera ia
mendjawab: “Aku tidak merasa sakit lagi, marilah kita segera berangkat.”
“Sudah sekian lamanja kita tidak bertemu, kau kangen padaku atau
tidak?” tanja sianak dara dengan mendongak, menatap muka Tjiok Boh-thian
dan sambil menarik tangan kanannja.
Maka tertampaklah didepan Tjiok Boh-thian sebuah wadjah jang tjantik
molek, dibawah pantulan tjahaja rembulan, keuda bidji mata anak dara itu
se-akan2 dua titik bintang jang tjemerlang. Dari badan anak dara itupun
terendus bau jang harum, mau-tak-mau hati pemuda itu terguntjang.
Walaupun dia sama sekali tidak paham soal hubungan antara kaum pria dan
wanita, tapi seorang pemuda berusia 20 tahun berada dalam keadaan dan
adegan demikian, biarpun lebih tolol lagi djuga akan timbul rasa
tjintanja kepada anak dara jang tjantik itu.
Sesudah tertegun sedjenak, lalu ia mendjawab: “Malam itu kau telah
datang mendjenguk diriku dan segera kau pergi lagi. Sungguh aku sangat
merindukan dikau.”
Sianak dara tertawa genit, katanja pula: ”Kau telah menghilang sekian
lamanja, lalu tak sadarkan diri sekian lamanja pula, sungguh aku
mendjadi kuatir sekali. Selama beberapa hari ini setiap malam aku pasti
datang mendjenguk kau, apakah kau tahu? Kulihat kau sedang asjik
berlatih, karena kuatir mengganggu, maka aku tidak memanggil kau.”
“Apa betul? Sungguh aku sama sekali tidak tahu. O, entji jang baik,
mengapa kau se………..sedemikian baiknja padaku?” kata Boh-thian dengan
girang.
Mendadak air muka sianak dara berubah, ia kipatkan tangan sianak muda
dan omelnja: “Kau panggil aku apa? Ja, memang aku sudah………..sudah
menduga sebabnja kau menghilang sekian lamanja, tentu……… tentu kau
mempunjai teman wanita lagi dilain tempat. Hm, rupanja kau sudah terlalu
biasa memanggil ‘entji jang baik’ kepada orang lain, maka sekarang
djuga kau panggil aku demikian.”
Baru sadja anak dara itu masih tertawa riang dan menggiurkan,
sekarang mendadak lantas berubah marah, keruan Tjiok Boh-thian tidak
paham dan bingung, katanja dengan tergagap2: “Aku………..aku………….”
Sianak dara bertambah marah, tiba2 ia djewer telinga kanan Tjiok
Boh-thian, katanja dengan gusar: “Selama ini sebenarnja kau telah
berkumpul dengan wanita siapa? Bukankah kau memanggilnja sebagai ‘entji
jang baik’? Hajo, lekas mengaku, lekas!” ~ Sambil bitjara djewerannja
tambah keras dan makin keras.
Keruan Tjiok Boh-thian mendjerit kesakitan, serunja: “He, he! Kenapa kau segalak ini? Aku takmau bermain lagi dengan kau!”
Kembali sianak dara mendjewer lebih keras, katanja: ”Djadi kau hendak
meninggalkan aku dan takkan menggubris lagi padaku? Hm, tidak boleh
semudah ini. Siapa wanita jang berada bersama kau itu? Hajo, lekas
mengaku!”
“Ja, aku memang berada bersama seorang wanita,” achirnja Boh-thian
mengaku dengan meringis kesakitan. “Dia……….dia tidur sekamar dengan
aku………….”
“Nah, apa kataku?” sela sianak dara dengan gusar. Kontan ia mendjewer
terlebih keras sehingga kuping Tjiok Boh-thian sampai berdarah. Lalu
teriaknja dengan suara melengking: “Biar sekarang djuga akan kubunuh
dia!”
“Eh, eh, djangan! Dia adalah entji Si Kiam, dia telah membuatkan
sarang burung dan memasakkan bubur untukku, walaupun bubur itu kedaluan
dan hangus, tapi dia sangat baik. Kau………kau tidak boleh membunuhnja.”
Mestinja anak dara itu sudah mentjutjurkan air mata, mendadak ia
tertawa kembali. “Fui!” semprotnja sambil mendjewer lagi dengan keras.
“Kukira entji jang baik siapa, kiranja adalah budak busuk itu. Ah, kau
berdusta, aku tidak pertjaja. Selama beberapa malam ini aku selalu
mengawasi kau dari luar djendela, tampaknja kau dan budak busuk itu
tjukup prihatin djuga, ja, anggaplah kau masih tahu batas.” ~ Habis
berkata kembali ia hendak mendjewer lagi.
Boh-thian terkedjut dan tjepat hendak berusaha menghindar, tapi
sekali ini anak dara itu ternjata tidak mendjewer lagi, sebaliknja ia
meng-elus2 telinga pemuda itu, tanjanja dengan tertawa: “Apakah sakit?”
“Sudah tentu sakit,” sahut Boh-thian.
“Biar kau tahu rasa, hbais siapa suruh kau berdusta, setjara aneh kau memanggil aku ‘entji jang baik’ apa segala!”
“Menurut ibuku, katanja panggilan ‘Tjitji’ adalah tanda hormat pada orang lain, apa aku salah panggil?”
Sianak dara mempelototinja sekali. “Sedjak kapan kau menghormat
padaku? Sudahlah, djika kau merasa penasaran, bolehlah kau balas
mendjewer telingaku. Ini!” ~ Berbareng ia terus miringkan muka dan
sodorkan telinganja kedepan.
Seketika Boh-thian mengendus bau harum jang teruar dari muka anak
dara itu. Tanpa merasa hidungnja meng-endus2 beberapa kali seperti si
Kuning piaraannja. Ia pegang2 kuping anak dara itu, lalu katanja:
“Tidak, aku takmau mendjewer kau………….O, ja, tjara bagaimana aku mesti
memanggil kau?”
“Tjara bagaimana kau panggil aku dahulu? Masakah sampai namaku djuga sudah kau lupakan?” omel sianak dara.
Boh-thian terdiam sedjenak, lalu katanja dengan sungguh2: “Nona,
biarlah kukatakan terus terang padamu. Sesungguhnja kau telah salah
mengenali aku. Aku bukanlah kau punja ‘engkoh Thian’ apa segala. Aku
bukan Tjiok Boh-thian, tapi aku adalah Kau-tjap-tjeng.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar