Rabu, 14 Maret 2012

Puteri Harum dan Kaisar Jilid 16

BUNGA-BUNGA merah itu besar sekali, disulam dengan benang emas berwarna merah. Keliling bunga itu adalah sulaman daun hijau, yang diselipi dengan permata. Tertuju Cahaja obor, 'hong hwa' itu merupakan tanda bintang dari seorang panglima. Melihat itu, kembali riuh rendah gemuruh sorakan dari orang HONG HWA HWE itu yang lalu samai menyura.
Heranlah, pasukan tentara negeri yang semula berbaris dengan rapi itu, tiba-tiba sebagian besar sama maju kemuka. Sekalipun perwira mereka Coba menCegahnya, tapi sia-sia
saja. Rombongan serdadu itu menghampiri Tan Ken Lok. Dengan merangkap kedua tangan mereka sama membong kokkan tubuh. Itulah Cara penghormatan HONG HWA HWE yang biasa dijalankan.
Tan Ken Lok angkat tangan membalas hormat. Setelah menyalankan penghormatan, rombongan serdadu itu balik kembali dalam barisannya. Menyusul dengan itu, barisan yang dibelakang, ganti tampil kemuka untuk menyalankan penghormatan kepada Tan Keh Lok. Demikian sekelompok demi sekelompok sebagian besar pasukan Ceng yang ditempatkan didaerah HangCiu itu, sama bergantian maju untuk mem beri hormat pada ketua HONG HWA HWE.
Demikianlah pengaruh HONG HWA HWE didaerah Kanglam. Banyak-banyak sekali anggauta tentara Ceng yang masuk menjadi ang gauta HONG HWA HWE Terutama dari suku Han-nya.
Melihat bagaimana hampir lebih dari separoh tentaranya sama, memberi hormat pada Tan Keh Lok, bukan main ter kejutnya Kian Liong. Dia insyap, malam itu kembali gagal untuk menangkap orange HONG HWA HWE Maka jengeknya pada Li Khik Siu dengan suara dingin: “Hm,' anak buahmu betul-betul bagus !”
Sebenarnya Khik Siu sendiri juga terkejut tak terhingga, kini didamprat oleh sang junyungan, tersipu-sipudia loncat turun dari kudanya, terus berlutut dihadapan Kian Liong, dan Cepat-cepat katanya: “Hamba yang rendah pantas menerima hukuman !”
“Suruh mereka mundur saja!” bentak Kian Liong ke mudian.
“Baik, hamba segera perintahkan,” sahut Li Khik Siu dengan ketakutan. Begitu dia keluarkan perintah, maka selaksa serdadu itu sama mundur. Juga Thian Hong ber teriak”, menyuruh anggota-anggotaHONG HWA HWE bubaran. Dengan begitu, ber-bondongdualah ribuan manusia meninggalkan tepi telaga yang kesohor itu.
Berkat asuhan dari ayahandanya, kaisar Yong Ceng, maka Kian Liong telah menjadi seorang kaisar yang pandai dalam ilmu surat dan ilmu silat. Dalam sejarah kerajaan Boan, dia terhitung seorang kaisar yang paling terkenal sendiri.
Sangat tinggi ia menyunyung pada leluhurnya yang telah dapat menaklukkan daerah barat, serta merobohkan kera jaan Beng.
Menurut naluri dari kerajaan Boan apabila apa yang disebut „Pat-Ki-Ping,” tentara dari delapan bendera keluarga pe rang, maka anggauta pemimpin pasukan ini yang terdiri dari para Jin-ong (sanak raja), dan pwe-lek (pangeran), se mua tentu berjuang dengan matiduaan. Tak selangkahpun mereka mau mundur. Karena' mundur berarti, seluruh anak buah dan perlengka.pan pasukan itu akan jatuh pada apa yang disebut „Chit-Ki-Ping” atau tentara tujuh Bendera yang lain. Karena itu, setiap saudara dan keluarga raja tentu rata-rata pandai ilmu perang.
Semasa Kian Liong naik tachta, keadaan dalam negeri aman. Tak ada pemberontakan apa-apa. Maka ketika Kian Liong diundang ntuk minum arak oleh Tan Keh Lok, dia teringat akan kisah kegagahan bagindadua yang lalu ketika dimedan pertempuran dipadang Tiang Pek San dahulu. Masa hanya untuk datang ketelaga saja, dia tak berani. Karena itu di terimalah undangan Ketua HONG HWA HWE itu. Tapi tak di-nyanadua dia telah mengalami beberapa kekalahan. Untung dia seorang raja yang berpengalaman, hingga tak sampai terjadi apa-apa yang tak diinginkan.
“Sampai disini kita berpisah, dan sampai berjumpa pula pada lain waktu,” demikian katanya kemudian sambil angkstt tangannya kearah Tan Keh Lok.
Dengan dilindungi oleh pasukan pengawal dan gi-lim-kun, Kian Liong tinggalkan tempat itu.
Keh Lok tertawa puas. Setelah itu ia ajak sekalian sau daranya kembali kedalam perahunya dan lanyutkan minum dengan gembira.
Orang-orang gagah yang tergabung dalam HONG HWA HWE itu telah dapat mempeCundangi kawanan si-wi, dan dalam babak ter achir, berkat renCana Thian Hong, maka baginda pun urung mengeluarkan perintah untuk menangkap. Malam itu, betul-betul mereka rajakan kegembiraannya dengan minum se-puasduanya.
Meskipun Sim Hi menderita Juka berat, tapi tak sampai teranCam jiwanya. Dia masih berbaring didalam ruang perahu. Tak putus-putusnya dia menggerang, dan kadanga me maki-maki pada Pui Liong Cun.
„Ma-toako,1'' kata Thian Hong kemudian kepada Ma Sian Kun. „Baginda hari ini betul-betul penasaran. Dia tentu takkan sudah sampai disini saja. Harap kau peringatkan pada saudara-saudara kita di HangCiu, supaya lebih waspada. Terutama saudara kita yang tergabung dalam anggauta pasukan negeri. Jangan sampai mereka teraniaya. Apabila mereka kerahkan pasukan besar, sebaiknya kita mundur ketelaga Thay-ouw saja.”
Ma Sian Kun meng-angguk-anggukkan kepala. Setelah minum lagi seCawan, dia lalu ajak puteranya pulang.
Saat itu keadaan Keh Lok sudah delapan bagian mabuk. Ketika dia dongakkan kepalanya, tampak rembulan sudah Condong kebarat. Daundua terate dan puhun liu sama berteba ran jatuh kedalam telaga. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, lalu bertanya pada Thian Hong: „Tanggal berapakah sekarang? Karena sibuk, sampai tanggalpun kulupa.”
„Hari ini tanggal 1tujuh, bukankah kemaren lusa kita meraja kan malam Tiong Chiu?” kata Thian Hong.
Tan Keh Lok termenung sejenak. Habis itu ia berkata pula: „Ciu loenghiong, Totiang, dan saudara-saudara sekalian. Kita sibuk semalam tadi, tapi tidak sampai kehilangan muka. sTentang Bun suko pun telah ada beritanya. Sekarang harap sama beristirahat. Besok aku punya urusan peribadi yang perlu kuselesaikan. Lusa kita mulai turun tangan untuk me nolong Bun suko.”
„Congthocu, perlukah seorang saudara untuk menemani mu?” tanya Thian Hong.
„Tak usahlah, urusan ini kulihat tak berbahaja. Biarkan aku berada disini seorang diri, untuk memikirkan renCana ku itu,” kata Keh Lok.
Setelah menepi, orang-orang itu sama minta diri. Seng Hiap Jun Hwa, Ciang Cin, Cio Su Kin dan lain-lain. sudah setengah mabuk. Disepanyang jalanan HangCiu mereka me-nyanyidua dengan nyaringnya. Giok-ju-ih pun diantar orang pulang.
Habis itu, Tan Keh Lok menuju kesebuah perahu kecil, terus didajungnya pelans. Sampai ditengah telaga, perahu ia
berhentikan dan tibas ia menangis dengan sedih sekali. Kira nya, tanggal 1delapan bulan delapan, adalah hari lahir ibunya. Sepuluh tahun berpisah, waktu pulang ternyata sang ibu sudah me nutup mata. Dia terkenang dan berduka sekali, dan menangis ter-sedus seperti anak kecil. Sebenarnya waktu Thian Hong memberi tahukan tentang tanggal tadi, dia sudah akan menangis, tapi dapat menahannya. Sebagai seorang pemimpin, tak seharusnya ia unyukkan kelemahan begitu.
Tengah ia ter-isakdua itu, tibaa disebelah sana terdengar suara orang ketawa. Dengan terkejut lalu Ken Lok ber paling, dan tampak sebuah perahu menghampiri. Dibawah Cahaja bulan, orang yang berdiri didalam perahu itu menge nakan pakaian kelabu muda.
„Tan kongcu apakah sedang menikmati remlsalan seorang diri?” sapa orang itu segera sesudah dekat.
Jelas bagi Keh Lok bahwa orang itu bukan lain adalah muridnya Liok Hwi Ching, ialah 'pemuda' yang berdiri di belakang Kian Liong tadi. Buru-buru Keh Lok menyeka air mata dan membalas hormat, katanya: „Li-toako? Ada urusan apakah denganku?”
Sekali loncat, Wan Ci sudah berada diperahu Tan Keh Lok. Dia tertawa. „Bukankah kau hendak mengetahui tentang berita, si Kim-tiok-siuCay ?” katanya kemudian.
Tan Keh Lok melengak. Tapi segera menyawab: “Harap Li-toako duduk untuk ber-Cakapdua.”
Wan Ci tertawa dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan ketua. HONG HWA HWE itu.
“Apakah Li-toako berjumpah dengan Ie-hengte, dimana kah dia?” tanya Keh Lok.
„Sudah tentu aku tahu, namun tak mau kuberitahukan padamu,” sahut Wan Ci.
Mendengar jawaban aneh itu, kembali Keh Lok melengak. MaCam omongan seorang anak perempuan Centil saja orang ini. Sampai disitu, teringatlah Keh Lok, akan Carahja 'pemuda' ini tempo hari menyikap pundak Hwe Ceng Tong. Entah bagaimana, tibas timbul semaCam perasaan bsnCinya pada anak muda, ini.
Wan Ci tak hiraukan perubahan muka orang. Dia tetap mainkan tangannya kedalam air, lalu diCipratkan keatas. Ketika mendongak keatas, tampak bagaimana mata ketua HONG HWA HWE itu masih merah tanda habis menangis, heranlah ia. „He, apa kau habis menangis ? Tadi aku mendengar suara tangisan orang, kiranya kaulah,” tanyanya.
Keh Lok menjadi malu, dan melengos.
„Apakah kau terkenang akan Bun suko dan Ie sipsutemu itu? Jangan bersedih, biarlah aku kasih tahu. Mereka ber dua tak apa-apa,” kata Wan Ci seperti niembujuk anak kecil.
Sebenarnya Keh Lok hendak menanya lebih jauh, tapi dirinya dihibur seperti anak kecil itu, dia kurang senang. Pikirnya: „Huh, sekalipun kau tak memberitahu, akupun dapat menCarinya sendiri,”, karena itu, dia diam tak mau menyahut.
“Bagaimana suhuku? Apakah dia juga datang ke HangCiu sini?” tanya Wan Ci pula.
„Apa? Liok-locianpwe tidak bersama kau?” tei'paksa Keh Lok mengajak bicara.
„Betul, sejak malam pertempuran 'dimuara Hoangho itu dia tak kelihatan lagi,” sahut Wan Ci.
„Liok-locianpwe seorang yang luar biasa kepandaiannya tentu tak akan ada apa-apa, kau tak perlu kuatir,” ujar Keh Lok.
„Pengaruh HONG HWA HWE kalian sedemikian besar, kenapakah kau tidak menCarinya?” tanya Wan Ci.
Mendengar ucapan orang yang kurang adat itu, Keh Lok makin mendongkol. Tapi sebagai seorang terpelajar, dia dapat mengendalikan diri, katanya: „Ucapan Li-toako itu benar, besok kukirim orang untuk menyelidiki.”
“Kudengar Ie-suko berkata, ilmu silatmu lihai sekali. Aku tak percaya! Dia berkata lagi, kau pantas menjadi suhuku, huh, apa kau nempil dengan suhuku?” tanya si Centil itu dengan sengit.
Heran Keh Lok dengar perkataan orang yang begitu aneh itu. Dia tersenyum dan menyawab: “Liok locianpwe adalah orang yang sukar diCari bandingannya didunia persilatan. Aku menjadi muridnya saja, belum tentu dia mau mene rima. Dia menerima murid, tentu memilih yang berbakat dan Cerdas.”
„Ai, ai, tak perlu kau pujidua dihadapan orangnya,” kata Wan Ci dengan tertawa. „Tadi aku telah saksikan kau me nimpukan Cawan arak, ternyata lwekang-mu bagus luar biasa. Tetapi sekalipun orangs Hong Hwa Hwe kalian itu begitu menghormat dan tunduk padamu melebihi terhadap kakek-moyang mereka, namun aku justru agak kurang terima.”
„Hm, untuk menundukkan orang toh tidak harus mengan dalkan ilmu silat melulu, hal ini kau tak paham, akupun sungkan menyelaskan padamu,” demikian diam.dua Keh Lok menyengek dalam hati. Tapi bila dilihatnya kelakuan Wan Ci yang ke-kanakduaan serta nakal, tanpa merasa ia men dongkol dan geli juga, maka kemudianpun katanya: “Sudah lah, hari hampir pagi, aku mau menepi saja, nah, sampai ketemu !”
Habis berkata, Keh Lok angkat dajungnya untuk menunggu orang kembali keperahu sendiridua.
Akan tetapi Wan Ci justru menjadi kurang senang. Katanya tiba”: „Huh, meski semua orang lain begitu tunduk padamu, juga tak perlu kau begini Congkak padaku !”
Mendengar oloks ini, seketika Keh Lok naik darah, segera juga pikirnya hendak memberi hajaran setimpal pada orang. Tapi bila ia pikir lagi, dirinya adalah pemimpin dari orangs gagah dan kepala dari ksatrias Hong Hwa Hwe, se jogianya tidak boleh sedikits lantas marah, pula boCah she Li ini usianya lebih muda dari dirinya, kinipun tiada orang ketiga yang menyaksikan, kalau sampai terjadi CeCok, tentu orang akan bilang tua menghina muda, hal ini bila tersiar sesungguhnya kurang berharga.
Karena itulah sedapat mungkin ia menahan rasa gusarnya dan angkat gajuhnya hendak medajung.
Sebaliknya Wan Ci juga seorang anak yang sejak kecil sudah di-sanyungdua dan dimanyakan orang tua, semakin Keh Lok tak menggubris padanya, semakin ia merasa kurang senang, sesaat itu ia masih menyublek dihaluan perahu itu takmau pergi.
Setelah perahu itu Keh Lok dajung sampai di „Sam-tam-in-gwat,” suatu tempat terindah ditelaga Se-ouw itu, tiba-tiba Wan Ci tertawa dingin terus berkata lagi: “Hm, tak perlu kau berlagak, jika kau bjenardua bandel, kenapa seorang diri kau menangis umpetaan disini tadi?”
Tapi masih Keh Lok tak menggubrisnya.
„He, aku berbicara padamu, apakah.kau tidak dengar?” desak Wan Ci.
Alangkah mendongkolnya Keh Lok oleh sikap boCah yang tak kenal adat itu, saking mendongkolnya ia menarik napas sembari melirik orang, pikirnya dalam hati: „Kau boCah ini benardua tidak kenal selatan, gurumu saja harus sungkandua padaku, tapi kau ternyata berani begini kurang ajar.”
Melihat orang masih tak menggubrisnya, masih Wan Ci berkata lagi dengan dingin: “Orang bermaksud baik datang memberitahukan sesuatu kabar padamu, tapi kau justru tak menggubris orang. Hm, tanpa bantuanku, lihat saja kau mampu menolong keluar Bun-suko kalian?”
Alis Keh Lok terkerut mendengar itu. “Ha, hanya sedikit kepandaianmu ini kau mampu berbuat apa?” katanya.
“Eh, kau pandang rendah padaku, ja? Baiklah, mari, biar kita men-jajaldua dulu,” semprot Wan Ci sengit. Dan ketika tangannya diangkat, Cepat-cepat sebilah pedang sudah dilolosnya dari pinggang.
Sebenarnya karena mengingat Liok Hwi Ching, Keh Lok selalu bersikap mengalah. Tapi tatkala orang melolos pedang, iapun tergerak hatinya. Tadi anak itu berdiri dibelakang Kian Liong, begitu rapat hubungannya dengan Ciangkun (Li Khik Siu) tentara HangCiu, apakah tidak mungkin kalau dia itu orang fihak sana? Dan dia sendiri merasa aneh juga, entah karena apa, terhadap orang dia merasa benCi. Kalau melihat wajah yang begitu Cakap, betul-betul dia tak mengerti siapakah dia itu sebetulnya.
“Tadi kau berdiri dibelakang baginda, apa pura-pura menakluk, atau memangnya kau ini hamba kerajaan?” tanyanya segera.
„Salah semua!” sahut Wan Ci dengan singkat.
„Adakah diantara kaki tangan kerajaan itu keluargamu?” tanya Keh Lok pula.
Mendengar ayahnya dikatakan „kaki tangan,” murkalah Wan Ci. Tanpa menyawab dia maju menyabet, seraja memaki: „Mulutmu betul-betul kotor !”
Karena orang berbalik menyerang, Keh Lok mendapat kesan bahwa dia kini berhadapan dengan kakitangan kerajaan. Dia tak mau berlaku sungkans lagi. Maka bentaknya segera: „Baik, biar kuCari suhumu untuk membuat perhi tungan.”
Dengan itu, ia mengelit tusukan orang. Wan Ci keluarkan ilmu pedang “jwan-hun-kiam” yang baru dipelajari dari suhunya. Begitu Lok berbangkit, ia luruskan pedang
kemuka untuk menusuk dadanya. Tapi Keh Lok tetap tenanga saja. Begitu ujung pedang mendekati dada, tiba-tiba dia empos semangat dan menarik dadanya kebelakang sedikit.
Tadi Wan Ci telah kerahkan tenaganya untuk menyerang. Kalau sampai orang dapat menghindarinya dengan Cara itu, insyaplah dia bahwa orang itu sungguh-sungguh lihai. Karena kuatir orang akan balas menyerang, ia enyot kakinya untuk loncat ke sebuah tumpukan batu di “pulau” Sam-tam-in-gwat di tengahs telaga itu. Melihat Caranya orang meloncat keatas batu karang yang sedemikian jauh dan tinggi lagi liCin itu, tahulah Keh Lok bahwa anak itu kepandaiannya juga tak terCelah. Diam-diam ia tak berani memandang rendah.
Sebenarnya ia akan gunakan tangan kosong untuk melajani. Tapi ketika anak itu keluarkan ilmu pedang dari Bu Tong Pai, ia teringat ketika bertempur dengan Thio Ciauw Cong. Kenyataan telah membuktikan, bahwa ilmu pedang Bu. Tong Pai itu tak boleh dibuat permainan. Karenanya, diapun menyamber dahan puhun liu yang menyulur kebawah, untuk dipakai mengajun kesebuah tumpukan batu karang lain. Begitu dia berdiri tegak, tangannya sudah memegang sebatang dahan liu.
Melihat Caranya orang menyawut dahan puhun, terkejut lah Wan Ci. Tapi ia pantang mundur dan masih terus ngotot, untuk menyerang lagi. Ia loncat keatas batu dimana Tan Keh Lok berdiri, sambil menusuk pundaknya.
“Sam-tam-in-gwat” adalah salah satu dari tiga buah “pulau” batu ditengah telaga Se-ouw. “Pulau” itu terapunga diper mukaan air. Pada saat itu, Tan Keh Lok hanya miringkan
tubuhnya sedikit, terus menyodokkan dahan liu itu kepung gung penyerangnya. Luput menusuk, kaki Wan Ci di-enyot kan kelain batu, Dari situ dengan gerak “giok-tay-wi-yao” atau sabuk putih melilit pinggang ia putar pokiamnya untuk menyerang lagi. Dia percaya kali ini, orang tentu akan ter desak dari tempatnya.
Tapi Keh Lok tetap tak mundur. Begitu ujung pedang sinona menyambar, ia loncat tinggis keatas terus poksay (kepala menyungkir) kebawah, jadi dahan liu pun men julur kebawah. Wan Ci Buru-buru menabas, tapi dahan liu itu seCepat-cepat nya bergerak menurut batang pedang, terus me nyabet kemukanya. Sakitnya sampai terasa panas dipipinya, tanpa berajal, nona itu loncat kesebuah batu disebelah kiri.
Siapa tahu berbareng kakinya menginyak kebatu, Tan Keh Lok pun sudah menyusul berdiri tegak dengan gerakan yang rapi sekali. Wan Ci marah betuR Begitu pedang di pindah ketangan kiri, dia Cepat-cepat sudah mengambil serangkum jarum 'hu-yong-Ciam', terus disambitkan beruntun-runtun keatas, tengah dan bawah, dia arah semua.
Karena berdiri diatas sebuah batu, maka Keh Lok tak punya kesempatan untuk berkelit. Maka ia menyulurkan kedua kakinya keluar, sehingga sikapnya seperti orang rebah diatas air, tangannya kiri yang lurus dijulurkan untuk me nempel pada batu. Maka jarum timpukan itu melayang disela tangannya terus jatuh ditelaga. Setelah itu, dengan gunakan khi-kang, dia melambung keatas. Sedikitpun badan nya tak menempel air.
Sampai disini, insyaplah Wan Ci bahwa musuh jauh lebih kuat darinya dan dengan gunakan akal ia berseru: „Ha, sampai disini saja, lain kail kjta bertemu lagi !”
Dengan ucapan itu sinona akan merat.
“Kau telah menyerang tiga kali, karena memandang muka suhumu, aku hanya membalas 1 kali saja, nah terimalah!” bentak Keh Lok tiba-tiba .
Berbareng mengucap, dahan liu digentak kemuka. Karena sudah pernah merasakan tamparan tadi, Wan Ci tak mau menerima kedua kalinya. Pedang lurus dibaCokkan kemuka untuk memotong dahan. Tapi dahan itu bagaikan bermata, pedang tiba, diapun ikut bergerak untuk menCongkel. Suatu tenaga kuat dirasakan Wan Ci merabetot pedangnya. Berbareng itu tangan kiri orang telah menyodok juga kedadanya.
Betapa kaget dan malu Wan Ci tak terkira. Pedang agak dikendorkan, lalu tangannya kiri dipakai untuk menyambut tangan “jail” orang. Dari situ, ia loncat kebatu yang ter letak disebelah kanan.
Karena memikiri menangkis itu, pedangnya telah terCong kel keudara dan pada lain saat sudah berada ditangan lawannya.
„Huh, maCam itukah seorang Chongthocu, masa gunakan jurus yang begitu rendah!” Wan Ci menyemprot.
Tan Keh Lok melengak. „NgaCo, jurus mana yang kau katakan rendah itu?” sahutnya bingung.
Wan Ci terhening malu. Ia pikir lawan tentu tak menge tahui bahwa dirinya itu seorang nona yang menyaru lelaki, jadi jurus tadi tak sengaja untuk melakukan perbuatandua yang kurangajar. Dia jengah sendirinya, terus loncat ke dalam sebuah thing (pagoda kecil) yang berada di 'Sam-tam-in-gwat' itu.
Melihat gerakan orang, tahulah Keh Lok akan maksudnya. Cepat-cepat ia enyot kaki dan tegak berdiri dihadapan sinona. Dengan wajah tenang dia angsurkan pedang yang dirampas nya tadi. Tanpa berkata apa-apa, tangan Wan Ci menyambuti nya untuk dimasukkan kedalam sarung, terus tundukkan ke pala berlalu.
Setelah „bertempur” hampir setengah malam, haripun sudah menyelang terang. Keh Lok simpan sulaman 'hong-hwa' yang didadanya itu, lalu menuju kepintu timur. Pintu kota sudah terbuka. Serdadu yang menyaga pintu menga 4} wasi Tan Keh Lok dengan tajam, tiba-tiba tangannya ditekuk kedada, lalu membongkok memberi hormat. Kiranya dia adalah salah seorang anggauta HONG HWA HWE Keh Lok anggukkan kepala, lantas berjalan keluar.
“Congthocu akan keluar kota, apakah perlu seekor kuda?” tanya penyaga itu tiba-tiba .
„Baikkah”, sahut Keh Lok.
Serdadu itu berlalu, dan sebentar lagi dia kembali dengan seekor kuda. Dibelakangnya mengikut dua orang hamba, juga anggauta HONG HWA HWE Mereka merasa girang dapat mem berikan jasa untuk Congthocunya.
Kira-kira dua jam, Tan Keh Lok sudah sampai dipintu barat kota Hay Ling. Hampir sepuluh tahun, baru kali ini dia pulang kerumahnya. Baginya, segala apa tampak tak berobah. Tem bok kota dimana semasa kecil dia sering bermain-main , masih tetap sama.
Takut orang mengenalnya, dia keprak kudanya untuk me nuju keutara. Sekira 5 li, ia mengasoh dirumah seorang petani. Sehabis makan siang, ia beristirahat. Karena sema lam bergadang, maka tidurnya tampak pulas sekali.
Nyonya rumah melihat tetamunya itu seperti seorang kongcu, dan berbicara dalam lidah daerahnya situ, mela janinya dengan gembira. Malamnya menyembelih ajam untuk dihidangkan. Atas pertanyaan Keh Lok mengenai keadaan didaerah itu, petani itu menerangkan : „Entah karena apa, baginda telah membebaskan pajak penduduk Hay Ling ini selama tiga tahun. Mungkin karena memandang diri Tan koklo”.
Ayah Keh Lok, Tan Siang Kok, sudah meninggal beberapa tahun lamanya. Dia heran, mengapa pihak kerajaan tiba-tiba menghadiahkan kebaikan begitu besar. Habis dahar, dia berikan sepuluh tail perak pada tuan rumah, lalu minta diri.
Lebih dulu dia menuju kepintu selatan. Disitu dia duduk ditepi laut, memandang lautan. Teringat dia semasa kecil nya mamahnya telah mengajaknya kesitu untuk melihat Laut. Lagi-lagi dia mengembeng air mata. Selama sepuluh tahun berada di daerah Hwe, apa yang dilihatnya setiap hari, hanya lah padang pasir. Kini disuguhi pemandangan laut nan biru indah itu, dia merasa nyaman.
Tak lama kemudian, ombak dilautan tampak samardua dengan datangnya petang hari. Dia tambatkan kudanya pada sebatang puhun liu disitu, lalu dengan gunakan ilmu berlari Cepat-cepat , dia menuju kerumahnya yang terletak disebelah timur-laut.
Sampai dirumahnya, ia kesima. Disamping gedungnya yang lama, kini ada pula sebuah gedung baru. Diantara sinar rem bulan, tampaklah loteng gedung itu megah dan indah sekali. Papan yang tergantung dimuka gedung itu bertulisan: „An Lan Wan,” ditulis oleh tangan Kian Liong sendiri.
Keh Lok kembali merasa heran. Dia loncat masuk ke dalam gedungnya yang lama, langsung menuju kekamar mamahnya. Dengan ber-indapdua dia naik keloteng, lalu me longok kedalam. Ternyata kamar itu kosong, hanya perhiasan nya masih tetap terawat seperti dikala mamahnya masih hidup. Perabotannya yang terbuat dari kaju merah, tempat tidur, lemari, masih tetap berada ditempat seperti sepuluh tahun yang lalu. Dimeja ada sebuah lilin menyala.
Tiba-tiba terdengar derap kaki orang mendatangi. Buru-buru Keh Lok bersembunyi kesebuah sudut. Ternyata yang datang itu adalah seorang wanita tua, Tampak perawakan orang, tak tertahan lagi Keh Lok ingin menegurnya. Kiranya wanita itu adalah pelajan tua Swi Ing. Dialah yang mengasuh Tan Keh Lok sampai umur 15 tahun. Salah seorang inang pengasuh nya yang paling dikasihinya.
Swi Ing yang sudah berusia lanyut itu, terus masuk kedalam kamar. Setelah membersihkan semua perabotdua disitu, ia duduk disebuah kursi dan termenungdua. Dari bawah bantal diatas pembaringan itu, diambilnya sebuah kopiah anak kecil. Kopiah itu bersulamkan kembang merah, diatasnya disunting kan sebuah giok warna hijau dikitari oleh 5 biji mutiara. Itulah kopiah Tan Keh Lok dimasa kecil.
Melihat semua hal itu, tak tahan lagi perasaan Keh Lok. Sekali melangkah dia „menyerbu” maju untuk merangkul mak inang pengasuhnya itu.
Swi Ing kaget bukan kepalang, hingga akan berteriak. Tapi Keh Lok keburu mendekap mulutnya, katanya dengan berbisik: „Jangan menyerit, akulah.”
Mengawasl muka anak muda itu, budyang tua itu heran sampai tak dapat berkata apa-apa. Kiranya setelah meninggal kan rumah selama sepuluh tahun itu, wajab, Keh Lok berobah sama sekali. Sedang sibudyang masih tetap sama, sekalipun hanya kelihatan agak tua. Maka yang satu mengenal, yang lain tidak.
“Swi-kho, akulah Sam Koan (nama kecil Keh Lok), apa kau tak mengenalnya?”
Baru saat itu dapat Swi Ing tenangkan hati, katanya : „0, kau......... kau ini Sam Koan. Kau betul......... pulang?”
Keh Lok tersenyum anggukkan kepalanya. Masih saja budyang itu menimang-nimang mengawasi wajah majikan yang diasuhnya itu. Pada lain saat, dia terus merangkulnya dan menangis tersedudua.
„Sudahlah, jangan menangis, supaya orang tak ketahui kedatanganku ini,” kata Keh Lok.
„Tidak apa, mereka semua sama berada digedung baru sana. Disini kosong,” kata sibudyang .
„Gedung baru itu kepunyaan siapa?'' tanya Keh Lok.
„Baru setengah tahun yang lalu didirikannya, entah menelan ongkos berapa puluh laksa tail perak, dan entah apa guna nya,” demikian sahut budyang itu melantur.
Keh Lok tahu bahwa budyang nya itu sudah tua, jadi tak mengerti apa-apa tentang urusan itu. Maka tanyanya pula : „Bagaimana meninggalnya ibu? Dia menderita sakit apa?”
Swi Ing mengambil saputangan untuk mengusap air mata nya, kemudian baru jawabnya: „Entah penyakit apa yang diderita sioCia itu ia berduka, tiga hari beruntun tak mau makan, terus sakit, sepuluh hari kemudian menutup mata. Dikala mau meninggal dia masih teringat padamu, katanya: 'Di manakah Sam Koan-ku? Dia belum pulang? Aku ingin bertemu padanya !' Dua hari ia selalu mengiang begitu, baru kemudian menghembuskan napasnya terachir.”
“Sungguh aku seorang anak yang put-hauw! Ibu mau melihat aku untuk yang penghabisan kali, tapi aku tak datang,” kata Keh Lok dengan ter-isakdua.
Pada umumnya didaerah Kanglam, apabila puteri seorang ternama menikah, tentu ia dibawai beberapa budyang (pela jan). Sekalipun nona itu sudah kawin dan disebut thay-thay (nyonya), namun budyang dua itu masih menyebutnya „sioCia”. Demikianlah, Swi Ing masih membahasakan ibu Keh Lok dengan sebutan „sioCia” (nona).
„Apakah pesan ibu kepadamu?” tanya pula Keh Lok.
„Sehari sebelum menutup mata, nampaknya kesehatan
sioCia sangat baik, seperti orang biasa. Tahu kalau takkan berjumpah padamu, ia menulis sepuCuk surat untukmu”, tutur sibudyang itu.
„Mana surat itu, lekas berikan padaku!” Keh Lok tanya dengan Cepat-cepat .
„Tapi entah apa sebabnya, ia mengelah napas, lalu katanya: 'Ah, lebih baik ia tak mengetahuinya saja'. Lalu menyuruh aku ambil lilin, dan surat itu dibakarnya. Hampir surat itu terbakar habis, sioCiapun kehabisan tenaga, tangannya me lepas, terus menghembuskan napas terachir”.
Tak tahan lagi air mata Keh Lok berCuCuran, lalu tanya nya lagi: “Jadi ibu belum membakarnya habis? Mana sisa surat itu?”
„Kusimpan”, kata budyang itu.
„Berikan padaku!” pinta Keh Lok.
„Karena sioCia tak ingin kau mengetahui, maka baik dibakar saja. Perlu apa kau memintanya itu?” ujar sibudyang .
Wajah Keh Lok mengunyuk kedukaan, ia mengeluh dengan ibanya: „0, entah apa yang akan dikatakan oleh ibu, ah, aku tak beruntung bertemu muka padanya, sedang suratnya yang penghabisan pun aku tak dapat melihatnya”.
Swi Ing merasa kasihan, lalu membuka peti dan mengam bil keluar sebuah kotak kecil. Begitu dibuka, diambilnya sebuah amplop, diberikan pada Tan Keh Lok seraja katanya : „Tak tahu aku apa yang ditulis oleh sioCia, surat ini diama kusimpan, tak pernah kutunyukkan pada orang lain.”
Dengan bergumeteran tangannya Keh Lok menyambuti amplop itu. Ternyata surat didalamnya itu merupakan sjaira yang separoh bagiannya telah terbakar. Sedang sisanya itupun sudah gosong kekuningduaan. Disana sini tampak tetesan lilin. Hurufdua itu terang adalah buah tulisan ibunya, antaranya ter tulis „sebagian hidupnya menderita”, semataa untuk kepen tingan putera”, “keluarga Tan yang terpaksa disuruh meni kah” dan lain-lain. beberapa patah kata yang terputus dari rangkaian nya. Ada lagi beberapa baris kalimat yang tak ada hubu ngannya satu dengan lain, jakni: „nisan Sim-si,” “jalan wanita utama” dan lain-lain.
Keh Lok sungkan mempelajarinya, lalu memasukkansja kedalam saku, dan tanyanya lagi: “Dimanakah kuburan ibu?” “Dibelakang Hay-sin-bio yang baru dibangun.” „Hay-sin-bio (kelenteng malaikat laut) ?” Keh Lok menegas.
“Benar, juga bangunan baru yang 1 selesai tahun ini. Bio itu luas sekali, terletak ditepi laut,” kata sibudyang . „Swi-kho, aku akan kesana,” kata Keh Lok achirnya. Swi Ing sebenarnya masih akan mengajak bicara lagi, tapi Keh Lok sudah loncat' keluar dari jendela.
Perjalanan ketepi laut, ia paling paham. Sekejab saja, sampailah sudah. Benar disitu tampak sebuah bangunan yang menyulang tinggi. Belum pernah dia melihatnya dulu, dia menduga pasti itulah Hay-sin-bio. Terus ia menuju kepintu muka. Tiba-tiba dari arah kanan dan kiri bio itu terdengar derap kaki orang. Sebagai seorang' kangouw, tahulah ia, bahwa itu adalah tindakan kaki dari bangsa Ya-heng-jian (orang kangouw yang keluar diwaktu malam). Cepat-cepat ia sembunyi dibalik sebuah puhun liu.
Betul juga dari kedua samping bio (kelenteng) loncat keluar empat orang. Dimuka pintu bio, mereka saling me negor dengan isjarat tangan. Habis itu mereka menuju lagi kesebelah kanan dan kiri halaman bio itu. Keh Lok merasa heran. Hay Ling adalah sebuah kabupaten kecil ditepi laut. Mengapa dan apa tujuan keempat orang yang lihai itu?
Mau ia menguntit mereka, tapi tiba-tiba terdengar ada tindakan kaki orang lagi. Kembali dari kedua samping bio itu ada empat orang loncat keluar. Ia lihat keempat orang ini bukanlah keempat orang yang duluan. Makin heran Keh Lok dibuatnya ia tunggu setelah empat orang itu sudah meng hilang pula, Cepat-cepat ia enyot tubuh terus melesat keatas tembok untuk menunggu kejadian selanyutnya.
Sesaat kemudian, kembali ada empat orang munCul lagi. Nyata orang-orang yang setiap kalinya dua itu, sedang mengelilingi bio itu untuk melakukan perondaan. Dengan penuh perhatian Keh Lok mengawasi kesemuanya itu. Mereka nyata orang-orang yang tinggi ilmu silatnya, apakah akan ada upaCara dari sesuatu partai yang diselenggarakan dalam bio itu? Atau
mungkin ada kawanan bajak yang akan mengadakan per temuan besar disitu? Tersurung oleh keinginan mengetahui, Keh Lok dengan tak mengeluarkan suara sedikitpun loncat turun, lalu menyelinap masuk kedalam bio dan mengambil tempat persembunyian disitu.
Diruangan sebelah timur kelenteng itu terdapat patung dari Wat Ong, sedang diruangan sebelah barat adalah patung dari malaekat penunggu bio itu. Dia pergi keruang tengah, untuk mengetahui patung siapakah yang dipasang disitu. Setelah mengawasi, maka bukan main kagetnya.
Patung yang wajahnya bersih berseri-seri itu ternyata bukan lain adalah ayahnya sendiri, Tan Siang Kok. Karena kagetnya itu, sampaia Keh Lok mengeluarkan seruan tertahan. Tiba-tiba disaat itu dari arah luar terdengar tindakan kaki orang mendatangi. Dia Buru-buru sembunyikan diri dibelakang lonCeng besar. Empat orang tampak masuk keruangan tengah itu. Mereka berpakaian warna hitam, masinga menghunus sen-jata. Setelah berputar sekali, mereka keluar lagi.
Disebelah kiri adalah sebuah pintu angin terbuka, kesitu Keh Lok menyelinap, terus berjalan dengan ber-indapdua. Disitu terdapat sebuah jalan yang terbuat dari marmer putih. Jalanan itu panyang dan menyurus keluar. Tepat seperti lorong yang terdapat didalam istana. Kuatir kalau kepergok, Keh Lok enyot tubuhnya naik keatap yang me-nutupi sepanyang jalan itu. Sampai diujung jalan batu marmer itu, ternyata tak ada seorangpun jua. Ia lalu loncat turun. Disebelah muka kembali ada sebuah ruangan agung. Didepannya tergantung papan yang tertulis “Thian Houw Kiong.” Pintunya terbuka, dan Keh Lok dengan beranl masuk kesitu. Tapi keadaan disitu ternyata tambah membuat ia ter kejut.
Patung di “Thian Houw Kiong” itu putih berseri bagaikan rembulan. Sepasang matanya yang bening, mirip sekali dengan mamahnya, Ji-si. Setelah mengawasi sekian lama, lalu Keh Lok balik keluar, untuk menCari kuburan sang ibu. Dibelakang „Thian Houw Kiong” itu, dipasangi dengan tendadua dari kain warna kuning yang panyang sekali.
Kembali Keh Lok sembunyikan diri, karena diluar tenda itu, terdapat beberapa orang berpakaian hitam tengah mondar-mandir melakukan patroli. Kesemuanya itu, tetap tak dimengerti olehnya. Karenanya, dia ambil putusan untuk menCari tahu. Dengan ber-indapdua dia mendekati tenda. Menunggu kesempatan kedua penyaga yang tengah meronda kesana, ia terus masuk kedalam tenda itu.
Bermula ia rebahkan diri, untuk mengetahui apakah ada orang yang mengetahui perbuatannya. Kiranya dihalaman dalam tenda itu, kosong. Tanah disitu sangat bersih, sedikit pun tak ada rumputnya. Tenda itu, bersambung satu dengan lain, sehingga merupakan jalanan yang menyurus kebela kang. Pada setiap tenda dipasangi dengan penerangan lilin besar yang terang sekali.
Dengan menCabut pokiam pemberian Hwe Ceng Tong, Keh Lok maju kemuka. Ia pikir harini sekalipun masuk kesarang harimau, dia tak gentar. Sunyi senyap keadaan ketika itu. Hanya kadangdua terdengar letikan lilin yang me netes jatuh. Beberapa tindak pula, tiba-tiba terdengar suara berkresek, Buru-buru dia menyingkir kesamping. Setelah keadaan sepi lagi, kembali ia maju. Diantara Cahaja lilin yang terang itu, tertampaklah dimuka ada dua buah kuburan besar. Dan terlihat ada seorang yang tengah berlutut didepan, kuburandua itu.
Pada bagian depan kuburan itu terdapat batu nisan yang tertuliskan perkataan “Kuburan dari Tan Si Koan, tay-hak-su kerajaan Ceng.” Sedang bongPai pada kuburan disamping nya, bertuliskan “Kuburan dari Ji-hujin, it-bin-hu-jin kerajaan Ceng.”
Keh Lok dapat membaCanya dengan jelas, diam-diam hatinya menCelos. Tanpa mengingat bahaja apa-apa, dia akan maju untuk berlutut kesitu. Tapi tiba-tiba orang yang berlutut itu berbangkit. Keh Lok merandek dan mengawasinya. Tampak orang itu bermenung sejenak, akan kemudian, dengan tiba-tiba berlutut dan member! hormat beberapa kali. Terus orang itu berjongkok ditanah. Dari gerakan bahunya yang tampak mengigil itu, nyatalah dia tengah menangis tersedu-sedu.
Hilang kekuatiran Keh Lok ketika menyaksikan hal itu.
Yang berlutut dihadapan kuburan orang tuanya itu, tentulah masih keluarganya. Mungkin keponakan dari sang ayah, atau lain-lainnya. Melihat kesedihan orang itu, tanpa merasa Tan Keh Lok menghampiri dan menepuk bahunya pelan-pelan : „Silahkan bangun !”
Karena kagetnya, orang itu berbangkit bangun. Tapi dia tetap tak mau berpaling kebelakang, hanya berseru menanya : „Siapa!”
„Aku juga akan menyambangi kuburan ini,” sahut Tan Keh Lok.
Dan tanpa mengurus orang itu lebih jauh, Keh Lok terus berlutut didepan kuburan ayah bundanya dan menangis tersedu-sedan.
„0, ayah, ibu, Sam Koan datang terlambat tak beruntung bertemu,” katanya dengan suara ter-isakdua.
Karena itu, kedengaran orang tadi bersuara kaget, terus mengajunkan langkahnya keluar. Namun sekali enyot kakinya, Keh Lok melompat dua tindak kebelakang, tepat meng liadang dimuka orang itu. Diantara sinar lilin, kedua orang yang saling berhadapan itu seketika melengak terpesona, sampaidua keduanya mundur selangkah. Orang yang berlutut dimuka kuburan ayah bundanya itu ternyata bukan lain adalah yang dipertuan dari kerajaan Ceng pada masa itu, baginda Kian Liong.
„Kau......... tengah malam buta mengapa kemari?” seru Kian Liong kemudian dengan terkejut.
„Hari ini adalah hari lahir ibuku, karena itu aku datang untuk menyambangi kuburannya. Dan kau?” balas Keh Lok.
„Jadi kaulah putera dari Tan Si Koan itu?” Kian Liong berbalik menanya.
„Benar, semua orang dikalangan kangouw mengetahuinya, kukira kaupun sudah mengetahui juga,” sahut Keh Lok.
“Belum,” kata Kian Liong.
Kiranya pada tahundua yang teraehir itu, perhatian Kian Liong ditujukan pada keluarga Tan di Hay Ling daerah Kanglam. Sekalipun diantara menteridua itu mengetahui bahwa daerah itu adalah daerah kekuasaan Hong Hwa Hwe yang dipimpin oleh putera dari Tan Siang Kok almarhum, namun
mereka tak berani memberitahukan kepada baginda. Karena raja itu, wataknya aneh sekali. Rasa murka dan girang, bisa datang mendadak padanya dengan Cepat-cepat . Dengan mengajukan laporan itu, menteri itu kuatir, akan mengundang bahaja baginya sendiri.
Begitulah kekuatiran Keh Lok tadi kini berganti dengan rasa keheranan, pikirnya: „Tak heranlah kiranya kalau se luruh bio dijaga sedemikian kerasnya. Kiranya dialah yang datang kemari. Tapi untuk apakah dia datang pada tengah malam begini, tambahan lagi berlutut dan menangis dimuka kuburan ayah bundaku?” — Hal inilah yang membuat ia tidak habis mengerti. Sedang fihak Kian Liong sendiripun tengah termenung mengawasinya. Achirnya, Kian Liong mengajak nya duduk. Dengan begitu, kedua orang itu, bertemu lagi untuk yang ketiga kalinya. Pertama dirimba Sam-tiok, per kenalan permulaan. Kedua kalinya, ditengah telaga Se-ouw, dimana diam.dua mereka saling menguji kekuatan masings. Tapi kini pertemuan dimuka kuburan Tan Siang Kok kali ini, rasa bermusuhan itu terkikis dan berobah menjadi rasa yang dekat sekali.
Sambil menarik tangan Keh Lok, kemudian berkatalah Kian Liong: „Kau tentunya merasa heran mengapa pada waktu begini, aku berkunyung kemari. Semasa hidupnya, ayahmu itu berjasa besar padaku” sehingga aku dapat naik kesinggasana kerajaan. Budi itu, tak pernah kulupakan. Karenanya, malam ini kuperlukan menyambangi kuburannya.”
Tapi Keh Lok hanya setengah percaya setengah tidak.
“Dan kalau sampai hal ini boCor keluar, tidaklah leluasa. Maukah kau berjanyi takkan memberi tahukan pada orang lain?” tanya Kian Liong pula.
Karena raja itu begitu mengindahkan pada ayah bundanya, sudah tentu Keh Lok tak berkeberatan, katanya : „Ja ngan kuatir. Dihadapan kuburan ayah bundaku ini, kuber sumpah takkan memboCorkan kejadian malam ini pada siapapun juga.”
Seorang kangouw, paling mengutamakan janyi. Hal ini diinsyapi Kian Liong. Apalagi orang sudah bersumpah dimuka kuburan orang tuanya. Dia merarasa puas dan gembira.
Demikianlah kedua orang itu duduk dimuka kuburan dengan tangan bergandengan. Yang satu, adalah yang diper tuan dari negeri Tiongkok pada masa itu. Dan yang seorang, adalah ketua dari sebuah perkumpulan besar dikalangan Kangouw. Entah apa yang dipikirkannya, keduanya saling menyublek untuk sekean saat.
Tiba-tiba samara terdengar suara gemuruh. Telinga Keh Lok yang terlatih tajam itu, mengerti apa adanya itu. Katanya : “Ombak. pasang, baiklah kita menyaksikannya ketepi laut. Sudah sepuluh th. aku tak melihatnya.”
Kian Liong mengiakan, dan dengan masih menggandeng tangan orang, dia berjalan keluar.
Kawanan si-wi yang meronda diluar sama tersipu-sipu menyambut keluarnya Kian Liong. Tapi bagaimana terkejut mereka, ketika dilihatnya baginda tengah berjalan bertun tunan tangan dengan seseorang. Lebihdua pentolandua si-wi seperti Pek Cin, Cu Wan dan lain-lain. mereka sama berCekat dalam hati, setelah mengetahui bahwa penyagaan mereka telah jebol diterobos orang tanpa sepengetahuannya.
PunCak kekagetan mereka terjadi, ketika ternyata orang yang disamping baginda itu, bukan lain ialah ketua dari Hong Hwa Hwe. Sementara itu beberapa si-wi bergegas-gegas membawakan kuda.
„Kau naikilah kudaku ini,” kata Kian Liong pada Keh Lok. Kembali para si-wi itu menyediakan lagi seekor kuda kepada baginda. Demikianlah keduanya menuju kepintu timur. Ketika itu gemuruh ombak makin nyata, menderu-deru tak henti-hentinya.
Sekeluarnya dari pintu timur, suasana penuh dengan gemuruh air pasang, namun dilaut tampaknya tenangdua saja, putih ke-perakduaan ditimpah Cahaja rembulan.
“Mamahku dilahirkan pada hari ini, karenanya beliau di namakan 'Tiao Seng' (air pasang).”
Ketika ucapan itu melunCur dari mulut Tan Keh Lok, tangan Kian Liong yang memimpin anak muda itu terasa bergemetar, pertanda dari luapan sang hati. Memandang kelaut, Kian Liong termenung sejenak. Baru achirnya dia berkata :
„Kau memang berjodoh dengan aku. Besok aku akan kembali ke HangCiu. Tiga hari kemudian baru kembali ke Pakkhia. Sukalah kau ikut padaku ? Sebaiknya, kau selalu mendampingi aku, agar setiap saat dapat kukenang wajah ayahmu.”
Sukar dilukiskan perasaan Tan Keh Lok mendengar kata-kata yang lemah lembut dari seorang raja yang berkuasa seperti itu. Untuk beberapa saat, dia kesima, tak dapat menyawab.
“Kau seorang bun-bu-Coan-Cay (serta dapat: sastera dan silat). Kelak tentu dapat kau gantikan kedudukan ayahmu. Bukankah itu akan jauh lebih berharga daripada kau ber kelana dikangouw?” kata Kian Liong pula.
Dengan ucapan itu, Kian Liong mengisiki, bahwa anak muda itu akan diberinya pangkat tay-hak-su (menteri besar yang berkuasa penuh). Itulah kedudukan yang paling tinggi menurut tingkatan menteri. Kian Liong jakin, anak muda itu tentu akan girang dan menghaturkan terima kasih.
Siapa tahu dugaannya ternyata meleset, Keh Lok telah menyawab: „Begitu besar kebaikanmu itu, entah bagaimana kuharus menghaturkan terima kasih. Tapi kalau aku temaha dengan kesenangan hidup, tak nanti kutinggalkan rumah dan berkelana dikangouw.”
„Itulah yang akan kutanyakan padamu. Kau tak mau menjadi kongcu, sebaliknya berkelana tak keruan dikangouw, adakah hal itu tak membuat malu orang tua?” kata sang kaisar.
„Itulah kebalikannya, karena hal itu justeru atas titah mamahku. Ayah dan kokoku, tidak mengetahuinya, sehingga mereka berjerih-payah untuk menCariku. Sampai sekarang, kokopun masih mengirim orangnya untuk menCari,” sahut Keh Lok.
“Mamahmu yang menyuruh? Anehlah, masa begitu?” Kian Liong menjadi heran.
Keh Lok menunyukkan kepala, agak lama tak menyawab, kemudian katanya: “Itulah rahasia kedukaan dari ibu akupun tak mengerti.”
Sementara itu gemuruh air pasang makin menghebat, sehingga pembicaraan keduanya itu hampir tak kedengaran.
Selarik ombak putih bergulung-gulung mendatangi. Hawa terasa dingin ketika gulungan ombak itu makin mendekat. Gemuruh bagai guntur, makin dekat makin berkumandang jelas lak sana ribuan pasukan kuda menyerbu datang.
Sambil tangan kiri memegangi tangan Keh Lok, tangan' kanan Kian Liong me-ngebutduakan kipasnya. Melihat datang-nya ombak raksasa itu, dia terkejut. Tanpa terasa, tangan-nya kendor, dan kipas itu jatuh kebawah ketitian batu yang menyurus keair laut. Kipas itu adalah kipas persembahan dari Tan Keh Lok tempo hari. Saat itu baginda dan Keh Lok tengah berdiri ditepi laut, yang berada tujuh atau delapan tombak dari atas tempat air laut. Saking kagetnya, Kian Liong berseru tertahan.
Cepat-cepat seperti kilat, Pek Cin menerjun kebawah untuk menyawutnya. Dengan sebelah tangan menekan pada batu di tangkul, tangan yang lain telah berhasil menyawut kipas itu.
Dalam pada itu gelombang ombak raksasa makin mendekat, dan pada lain saat pasti Pek Cin akan ditelan oleh gelombang itu, terpenCet pada tanggulduaan. Kawanan si-wi sudah berteriak kaget. Dengan gunakan ilmu mengentengi tubuh, Pek Cin Cepat-cepat meloncat keatas, tapi ombak ternyata lebih Cepat-cepat lagi.
Keh Lok Cepat-cepat bertindak, ia sebret jubahnya menjadi dua, disambung terus dilunCurkan kebawah. Pek Cin Cepat-cepat memegang tali itu, justeru tepat ombak sudah menganCam ifjjjdua kakinya. Buru-buru Keh Lok menariknya keatas tangguPnya.
Sedari melihat datangnya ombak yang mengganas itu, Kian Liong dan sekalian si-wi sudah menyingkir dari tepi tang gulan itu. Ketika Pek Cin dapat ditarik keatas, ombak pun sudah naik keatas.
Sejak kecil Keh Lok sudah kenyang memain ditepian laut itu, jadi fahamlah dia akan “sifat” ombak itu. Begitu sudah menarik Pek Cin, dia terus loncat kekebelakang beberapa tindak. Sedang begitu sampai keatas tanggulan itu, ombakpun sudah mengejar Pek Cin keatas. Cepat-cepat si-wi itu ajunkan tangan untuk lemparkan kipas itu pada Cu Wan. Setelah itu dia merangkul erat- pada sebuah puhun liu yang tumbuh ditepi.
Sementara itu bagaikan gunung roboh, guiungan ombak itu menutup keatas kepalanya Pek Cin. Kiranya ombak itu, seCepat-cepat pasang, seCepat-cepat itu pula surutnya. Dalam sekejab saja, air laut ditanggulan itu sudah surut kembali. Begitu erat Pek Cin menyikap batang puhun; liu itu, hingga me ninggalkan bekas guratan jari. Baru setelah air surut, dia berani loncat kebelakang.
Melihat dia begitu berani dan setia, Kian Liong merasa gembira. Begitu menyambuti kipas dari Cu Wan, berkatalah ia kepada Pek Cin sambil anggukkan kepalanya: “Kalau nanti pulang, kuhadiahkan kau satu perangkat pakaian lain.”
Dengan pakaian basah kujup, Pek Cin Buru-buru berlutut menghaturkan terima kasih. Kemudian berkata Kian Liong kepada Tan Kehj Lok: “Kata orang kuno 'sepuluh laksa tentara sama dengan deru ombak setengah malam', rupanya hal itu memang terbukti.”
„Pada masa dulu Chi Ong telah menghamburkan tiga 000 anak panah untuk menghajar ombak, tapi ombak tetap mengganas. Nyata pengaruh alam, sukar ditundukkan,” kata ketua HONG HWA HWE itu.
Meng'erti bahwa orang akan mengulangi pembicaraannya ditengah telaga Se-ouw tempo hari, tahulah Kian Liong bahwa anak muda itu tetap tak mau bekerja pada kerajaan. Maka katanya: „Tiap orang punya tujuan sendiridua, akupun tak dapat memaksamu. Hanya ingin kunasehat.i kau sedikit.”
„Silahkan berkata,” sahut Keh Lok.
„Sepak terdyang dari kaum HONG HWA HWE kalian yang nyata menentang undangdua pemerintah, peristiwa yang telah lalu dapatlah kuhapuskan. Tapi untuk selanyutnya, tak dapat kubiarkan hal itu lebih jauh,” demikian Kian Liong.
„Kita bekerja untuk negara dan rakjat, segala sepakter dyang kita, dapat dipertanggung jawabkan,” sahut Keh Lok.
Kian Liong merenung dan berpikir, lalu mengelah napas dan berkata pula: “Sayang , sayang ! 'Mustika yang gemilang jatuh ditempat lumpur'. Dengan memandang semangat per???? kelak HONG HWA HWE tertumpas, aku tetap akan mengampuni jiwamu.”
“Sebagai Umbal balik, andaikata kau jatuh ketangan HONG HWA HWE akupun takkan menCelakai kau,” balas Keh Lok.
Ter-bahakdua Kian Liong dibuatnya, katanya: „Dihadapan raja, kau tetap tak mau kalah suara. Baiklah. Sekali orang gagah mengucap, ibarat larinya kuda. Ayo kita pateri janyi ini dengan berjabatan tangan. Dikemudian hari kita tak boleh saling menCelakai.”
Tiga kali keduanya berjabat dan berguntjangan tangan. Melihat junyungannya begitu mengindahkan pada ketua perkumpulan yang memusuhi negara itu, keheranan para si-wi itu menjadi dua.
Sementara itu ombak sudah kembali tenang. Kian Liong ajak Keh Lok kembali menghampiri ketepi tanggulan. Ketika, para si-wi akan mengikutinya, Kian Liong memberi isjarat melarangnya. Sesudah berpuluh tindak keduanya berjalan disepanyang tepian itu. Kata Kian Liong pula: “Dari wajahmu terlihat selain terkenang akan ayah bunda dan sahabat baik, apakah kau masih ada ganyelan dalam hati mu? Sekalipun kau tak mau menjadi pegawai negeri, tetapi kau boleh majukan saran atau usul padaku.”
Setelah merenung sejenak, berkatalah Keh Lok: „Ingin sekali kuminta bantuanmu akan suatu urusan, tapi kukuatir kau tak dapat meluluskan.”
„Asal ada permintaan, tentu kululuskan!” kata Kian Liong. „Betulkah itu?”
„Raja tak pernah bohong!” sahut Kian Liong pula tegas.
“Terima kasih. Aku hanya minta agar saudara angkat kami Bun Thay Lay dilepaskan,” demikian Keh Lok achirnya.
Kian Liong terbelalak matanya. Sungguh tak diduganya kalau orang akan ajukan permintaan itu. Sesaat dia bersangsi.
„Entah dosa apa Bun Thay Lay itu terhadap pemerintah? Mengapa kau begitu membenCinya, sehingga dia harus di tangkap?” tanya Keh Tok.
„Dia tak bisa dibebaskan. Tapi karena sudah terlanyur aku menyang gupi padamu, tak dapat ku ingkari. Baik, beginilah, dia takkan kubunuh !” sahut Kian Liong.
„Kalau begitu, biarlah kami sendiri yang membebaskannya. Tadi kuajukan permohonan pembebasan, bukan berarti kami tak sanggup melakukannya sendiri. Soalnya, kami akan menghindari pertumpahan darah, kalau dapat. Agar hubu ngan kita jangan terganggu,” demikian Keh Lok.
Dengan mata kepala sendiri kemaren raja Boan itu telah saksikan kepandaian orang-orang HONG HWA HWE Maka tahulah dia, ketua HONG HWA HWE itu tidak ber-main-main . Katanya kemudian: „Kutahu kebijaksanaanmu itu. Empat hari lagi, ku-akan kembali kekota raja. Mungkin sukar bagimu untuk menolongnya. Terus terang kukatakan, orang itu tak ku-idinkan terlepas dari tanganku. Kalau kau berkeras membebaskan, empat hari lagi akan kutitahkan membunuhnya”.
Tapi Keh Lok tak gentar, katanya dengan menyala-nyala : „Kalau suko kami itu kaubunuh, kukuatir kau akan tak enak tidur tak enak makan”.
„Kalau dia tak dibunuh, hatiku juga makin tak tente ram”, jawab Kian Liong dengan tawar.
„Ah, dengan demikian, kemuliaan yang kau ken jam itu, tak melebihi kenikmatan kehidupanku yang bebas lepas bagaikan ajam hutan itu”, ujar Keh Lok.
Kian Liong tak mau urusan Bun Thay Lay disinggung singgung lagi, dia alihkan pembicaraan.
„Berapa usiamui sekarang?” tanyanya lantas.
„Duapuluh lima”, sahut Keh Lok.
„Ah, aku lebih tua dua0 tahun. Jadi kau lahir sewaktu aku dinobatkan. Sewaktu kau dewasa, kini aku sudah setengah umur. Ah, segala kebesaran dan kemuliaan itu, kalau orang sudah sampai ajalnya, pun; akan kembali ke asalnya lagi,” Kian Liong menarik napas dalamdua.
Kembali keduanya ber-jalandua sebentar.
“Kau mempunyai berapa orang isteri?” tanya Kian Liong. Dan tanpa tunggu jawaban dia melolos sebentuk mainan dari batu giok, terus katanya lagi: „Batu permata ini, mus tika yang jarang terdapat didunia. Ambillah untuk isterimu.”
Tapi Keh Lok tak mau menerima. “Aku belum beristeri,” sahutnya.
Kian Liong ter-bahakdua. „Haha, rupanya kau terlalu tinggi permintaan, maka sampai kini belum beristeri. Kau ambillah ini, biar kau peruntukkan tanda-pengikat bagi Calon isteri mu,” demikian katanya.
Dibawah sinar rembulan, batu giok itu ber-kilauduaan Ca hajanya. Ketika menyambutinya, Keh Lok rasakan tangannya menjadi hangat. Kiranya itulah sebuah mustika yang dapat mengeluarkan hawa hangat. Diatas giok itu terukir beberapa baris huruf emas yang berbunyi :
(Page cut)
„Kalau tak kuketahui bagaimana peribadimu, tak berani kuberikan mustika ini, apalagi kuminta kau berikan pada Calon isterimu,” dengan tertawa Kian Liong berkata. Kemudian katanya pula: „Sekalipun 4 baris sajak itu tak begitu bagus, namun maknanya mengandung kebenaran.” „Cinta murni tetap abadi, kekerasan akan menemui ke gagalan” tanpa merasa Tan Keh Lok membaCanya pula dengan berbisik. Dia merenung, dan entah bagaimana pikiran nya jauh melayang dua. Rasa tawar dan sedih menCengkeram sanubari, sehingga kalau tak malu, mau rasanya dia menangis.
„Dasar bersuami isteri itu adalah Cinta menCintai sehidup | semati sampai kakidua dan ninidua. Kekerasan akan membawa keretakan. Rasanya ujar orang kuno itu tepatlah,” kata Kian Liong.
tiga Keh Lok segan mendengarkan, lalu menyimpan giok itu seraja menghaturkan terima kasih dan minta diri. Setelah memberi hormat, dia terus akan berlalu. Kian Liong kelihatan melambaikan tangannya dan berkata: “Baik-baik lah kau men jaga, diri.”
Keh Lok berpaling untuk mengunyuk hormat lagi, lalu pergi.
Tiba-tiba Pek Cin melangkah kehadapannya, katanya: “Tadi kau telah menolong jiwaku, entah bagaimana akan dapat kubalasnya.”
„Pek-locianpwe terlalu merendah diri, kita sekaum persilatan. Kalau ada kesusahan, seharusnya saling tolong, itu sudah jamaknya. Mengapa locianpwe harus mengucapkan begitu,” sahut Keh Lok.
Sekeluarnya dari situ, karena masih ada urusan, Keh Lok kembali. lagi kegedung keluarganya, untuk mendapatkan Swi Ing. Katanya: „Kurasa koko tentu berada di taman 'An Lan Wan' untuk menyambut baginda. Kurasa dia tentu sibuk, baik lain kali kujumpainya. Swi-kho, apa Yang kau inginkan, bilanglah, tentu kukerjakan.”
(Page cut)
„Hal itu rasanya tak mudahlah. Eh, ja, mana si Ceng Hwa dan Uh Si? Kau panggillah mereka kemari,” kata Keh Lok dengan tertawa.
Ceng Hwa dan Uh Si adalah dua orang budyang lain, kawan Keh Lok bermain semasa kecil.
“Uh Si telah meninggal pada tahun yang lalu. Ceng Hwa masih disini. Biar kupanggil dia,” kata Swi Ing.
Belum lama Swi Ing berlalu, Ceng Hwa sudah munCul. Tampak oleh Keh Lok bagaimana kawannya bermain itupun kini sudah menjadi seorang gadis dewasa.
“Sam-koan!” teriak Ceng Hwa dengan berlinangdua air mata.
„Ai, kau sudah begini besar. Bagaimana Uh Si meninggal nya?” tanya Keh Lok.
„Ia bunuh diri terjun kelaut,” kata sibudyang . „Mengapa?” Keh Lok terkejut.
„Jiloya mau mengambilnya jadi gundik, dia tak mau,” jawab Ceng Hwa setelah mengetahui tak ada lain orang lagi. Setelah itu ia menangis: “Urusan kami taCi beradik, tak usahlah membohongi kau. Uh Si sangat akrab dengan Tan Cin Tiong, salah seorang kawan bekerja dirumah sini. Diam-diam mereka menyimpan uang, untuk menebus Uh Si. Se sudah itu, mereka merenCanakan akan kawin. Tetapi ji-ya mengaCau. Pada suatu hari dalam keadaan mabuk, dia paksa Uh Si masuk kamarnya. Keesokan harinya, dengan tersedus Uh Si memberitahukan padaku. Ia malu kepada Cin Tiong.
Kunasehatinya, agar ia tetap sabar menderita. Tapi ternyata diam-diam ia telah bunuh diri kelaut. Dengan menggerunga Cin Tiong membawa tubuhnya pulang. Pada sebuah Ciok-say (singa batu) dimuka rumah majikannya, dia benturkan kepalanya hingga tewas juga.”
Hati Tan Keh Lok seperti diirisdua. Dia geram sekali.
„Tak kunyana koko-ku begitu rendah budinya. Sebenarnya aku hendak menyumpainya, kini tak sudilah aku. Dimana kuburan Uh Si? Kau antarkan aku kesana!” kata Keh Lok.
”Dipintu barat, biar besok kuantar,” kata Ceng Hwa.
“Sekarang sajalah,” desak Keh Lok.
”Pada waktu begini pintu kota masih tertutup, tidak dapat melaluinya?” ujar sibudyang .
Keh Lok tersenyum, tiba-tiba ia ulurkan tangannya memegang pinggang Ceng Hwa, siapa menjadi ke-maluduaan. Tapi pada lain saat, ia rasakan tubuhnya seperti melayang terbang keluar, terus berada diatas atap. Seperti dalam impian rasa nya, sekejab saja, sampailah sudah kepintu barat. Dan sesudah turun ketanah, baru Ceng Tong berani membuka mata.
“Sam Koan, kau belajar ilmu dewa?” kata budyang itu.
”Kau takut tidak tadi?” tanya Keh Lok tertawa.
Ceng Hwa tertawa sembari berjalan kearah kuburan. Teringat akan perhubungan mereka semasa kecil, tak terasa hati Keh Lok merasa sedih sekali. Didepan kuburan Uh Si, tig-a kali dia menyura untuk memberi hormat. Dan ketika itu Ceng Hwa menangis.
”Sam Koan, kalau kau masih dirumah, tentu jiloya takkan berani berbuat begitu,” ratap budyang itu.
Keh Lok hanya termenungdua saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar