BUNGA-BUNGA merah itu besar sekali, disulam dengan benang emas
berwarna merah. Keliling bunga itu adalah sulaman daun hijau, yang
diselipi dengan permata. Tertuju Cahaja obor, 'hong hwa' itu merupakan
tanda bintang dari seorang panglima. Melihat itu, kembali riuh rendah
gemuruh sorakan dari orang HONG HWA HWE itu yang lalu samai menyura.
Heranlah, pasukan tentara negeri yang semula berbaris dengan rapi
itu, tiba-tiba sebagian besar sama maju kemuka. Sekalipun perwira
mereka Coba menCegahnya, tapi sia-sia
saja. Rombongan serdadu itu menghampiri Tan Ken Lok. Dengan merangkap
kedua tangan mereka sama membong kokkan tubuh. Itulah Cara penghormatan
HONG HWA HWE yang biasa dijalankan.
Tan Ken Lok angkat tangan membalas hormat. Setelah menyalankan
penghormatan, rombongan serdadu itu balik kembali dalam barisannya.
Menyusul dengan itu, barisan yang dibelakang, ganti tampil kemuka untuk
menyalankan penghormatan kepada Tan Keh Lok. Demikian sekelompok demi
sekelompok sebagian besar pasukan Ceng yang ditempatkan didaerah
HangCiu itu, sama bergantian maju untuk mem beri hormat pada ketua HONG
HWA HWE.
Demikianlah pengaruh HONG HWA HWE didaerah Kanglam. Banyak-banyak
sekali anggauta tentara Ceng yang masuk menjadi ang gauta HONG HWA HWE
Terutama dari suku Han-nya.
Melihat bagaimana hampir lebih dari separoh tentaranya sama, memberi
hormat pada Tan Keh Lok, bukan main ter kejutnya Kian Liong. Dia insyap,
malam itu kembali gagal untuk menangkap orange HONG HWA HWE Maka
jengeknya pada Li Khik Siu dengan suara dingin: “Hm,' anak buahmu
betul-betul bagus !”
Sebenarnya Khik Siu sendiri juga terkejut tak terhingga, kini didamprat
oleh sang junyungan, tersipu-sipudia loncat turun dari kudanya, terus
berlutut dihadapan Kian Liong, dan Cepat-cepat katanya: “Hamba yang
rendah pantas menerima hukuman !”
“Suruh mereka mundur saja!” bentak Kian Liong ke mudian.
“Baik, hamba segera perintahkan,” sahut Li Khik Siu dengan ketakutan.
Begitu dia keluarkan perintah, maka selaksa serdadu itu sama mundur.
Juga Thian Hong ber teriak”, menyuruh anggota-anggotaHONG HWA HWE
bubaran. Dengan begitu, ber-bondongdualah ribuan manusia meninggalkan
tepi telaga yang kesohor itu.
Berkat asuhan dari ayahandanya, kaisar Yong Ceng, maka Kian Liong telah
menjadi seorang kaisar yang pandai dalam ilmu surat dan ilmu silat.
Dalam sejarah kerajaan Boan, dia terhitung seorang kaisar yang paling
terkenal sendiri.
Sangat tinggi ia menyunyung pada leluhurnya yang telah dapat menaklukkan daerah barat, serta merobohkan kera jaan Beng.
Menurut naluri dari kerajaan Boan apabila apa yang disebut
„Pat-Ki-Ping,” tentara dari delapan bendera keluarga pe rang, maka
anggauta pemimpin pasukan ini yang terdiri dari para Jin-ong (sanak
raja), dan pwe-lek (pangeran), se mua tentu berjuang dengan matiduaan.
Tak selangkahpun mereka mau mundur. Karena' mundur berarti, seluruh anak
buah dan perlengka.pan pasukan itu akan jatuh pada apa yang disebut
„Chit-Ki-Ping” atau tentara tujuh Bendera yang lain. Karena itu, setiap
saudara dan keluarga raja tentu rata-rata pandai ilmu perang.
Semasa Kian Liong naik tachta, keadaan dalam negeri aman. Tak ada
pemberontakan apa-apa. Maka ketika Kian Liong diundang ntuk minum arak
oleh Tan Keh Lok, dia teringat akan kisah kegagahan bagindadua yang
lalu ketika dimedan pertempuran dipadang Tiang Pek San dahulu. Masa
hanya untuk datang ketelaga saja, dia tak berani. Karena itu di
terimalah undangan Ketua HONG HWA HWE itu. Tapi tak di-nyanadua dia
telah mengalami beberapa kekalahan. Untung dia seorang raja yang
berpengalaman, hingga tak sampai terjadi apa-apa yang tak diinginkan.
“Sampai disini kita berpisah, dan sampai berjumpa pula pada lain waktu,”
demikian katanya kemudian sambil angkstt tangannya kearah Tan Keh Lok.
Dengan dilindungi oleh pasukan pengawal dan gi-lim-kun, Kian Liong tinggalkan tempat itu.
Keh Lok tertawa puas. Setelah itu ia ajak sekalian sau daranya kembali kedalam perahunya dan lanyutkan minum dengan gembira.
Orang-orang gagah yang tergabung dalam HONG HWA HWE itu telah dapat
mempeCundangi kawanan si-wi, dan dalam babak ter achir, berkat renCana
Thian Hong, maka baginda pun urung mengeluarkan perintah untuk
menangkap. Malam itu, betul-betul mereka rajakan kegembiraannya dengan
minum se-puasduanya.
Meskipun Sim Hi menderita Juka berat, tapi tak sampai teranCam jiwanya.
Dia masih berbaring didalam ruang perahu. Tak putus-putusnya dia
menggerang, dan kadanga me maki-maki pada Pui Liong Cun.
„Ma-toako,1'' kata Thian Hong kemudian kepada Ma Sian Kun. „Baginda hari
ini betul-betul penasaran. Dia tentu takkan sudah sampai disini saja.
Harap kau peringatkan pada saudara-saudara kita di HangCiu, supaya lebih
waspada. Terutama saudara kita yang tergabung dalam anggauta pasukan
negeri. Jangan sampai mereka teraniaya. Apabila mereka kerahkan pasukan
besar, sebaiknya kita mundur ketelaga Thay-ouw saja.”
Ma Sian Kun meng-angguk-anggukkan kepala. Setelah minum lagi seCawan, dia lalu ajak puteranya pulang.
Saat itu keadaan Keh Lok sudah delapan bagian mabuk. Ketika dia
dongakkan kepalanya, tampak rembulan sudah Condong kebarat. Daundua
terate dan puhun liu sama berteba ran jatuh kedalam telaga. Tiba-tiba
dia teringat sesuatu, lalu bertanya pada Thian Hong: „Tanggal berapakah
sekarang? Karena sibuk, sampai tanggalpun kulupa.”
„Hari ini tanggal 1tujuh, bukankah kemaren lusa kita meraja kan malam Tiong Chiu?” kata Thian Hong.
Tan Keh Lok termenung sejenak. Habis itu ia berkata pula: „Ciu
loenghiong, Totiang, dan saudara-saudara sekalian. Kita sibuk semalam
tadi, tapi tidak sampai kehilangan muka. sTentang Bun suko pun telah ada
beritanya. Sekarang harap sama beristirahat. Besok aku punya urusan
peribadi yang perlu kuselesaikan. Lusa kita mulai turun tangan untuk me
nolong Bun suko.”
„Congthocu, perlukah seorang saudara untuk menemani mu?” tanya Thian Hong.
„Tak usahlah, urusan ini kulihat tak berbahaja. Biarkan aku berada
disini seorang diri, untuk memikirkan renCana ku itu,” kata Keh Lok.
Setelah menepi, orang-orang itu sama minta diri. Seng Hiap Jun Hwa,
Ciang Cin, Cio Su Kin dan lain-lain. sudah setengah mabuk. Disepanyang
jalanan HangCiu mereka me-nyanyidua dengan nyaringnya. Giok-ju-ih pun
diantar orang pulang.
Habis itu, Tan Keh Lok menuju kesebuah perahu kecil, terus didajungnya pelans. Sampai ditengah telaga, perahu ia
berhentikan dan tibas ia menangis dengan sedih sekali. Kira nya, tanggal
1delapan bulan delapan, adalah hari lahir ibunya. Sepuluh tahun
berpisah, waktu pulang ternyata sang ibu sudah me nutup mata. Dia
terkenang dan berduka sekali, dan menangis ter-sedus seperti anak kecil.
Sebenarnya waktu Thian Hong memberi tahukan tentang tanggal tadi, dia
sudah akan menangis, tapi dapat menahannya. Sebagai seorang pemimpin,
tak seharusnya ia unyukkan kelemahan begitu.
Tengah ia ter-isakdua itu, tibaa disebelah sana terdengar suara orang
ketawa. Dengan terkejut lalu Ken Lok ber paling, dan tampak sebuah
perahu menghampiri. Dibawah Cahaja bulan, orang yang berdiri didalam
perahu itu menge nakan pakaian kelabu muda.
„Tan kongcu apakah sedang menikmati remlsalan seorang diri?” sapa orang itu segera sesudah dekat.
Jelas bagi Keh Lok bahwa orang itu bukan lain adalah muridnya Liok Hwi
Ching, ialah 'pemuda' yang berdiri di belakang Kian Liong tadi.
Buru-buru Keh Lok menyeka air mata dan membalas hormat, katanya:
„Li-toako? Ada urusan apakah denganku?”
Sekali loncat, Wan Ci sudah berada diperahu Tan Keh Lok. Dia tertawa.
„Bukankah kau hendak mengetahui tentang berita, si Kim-tiok-siuCay ?”
katanya kemudian.
Tan Keh Lok melengak. Tapi segera menyawab: “Harap Li-toako duduk untuk ber-Cakapdua.”
Wan Ci tertawa dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan ketua. HONG HWA HWE itu.
“Apakah Li-toako berjumpah dengan Ie-hengte, dimana kah dia?” tanya Keh Lok.
„Sudah tentu aku tahu, namun tak mau kuberitahukan padamu,” sahut Wan Ci.
Mendengar jawaban aneh itu, kembali Keh Lok melengak. MaCam omongan
seorang anak perempuan Centil saja orang ini. Sampai disitu, teringatlah
Keh Lok, akan Carahja 'pemuda' ini tempo hari menyikap pundak Hwe Ceng
Tong. Entah bagaimana, tibas timbul semaCam perasaan bsnCinya pada anak
muda, ini.
Wan Ci tak hiraukan perubahan muka orang. Dia tetap mainkan tangannya
kedalam air, lalu diCipratkan keatas. Ketika mendongak keatas, tampak
bagaimana mata ketua HONG HWA HWE itu masih merah tanda habis menangis,
heranlah ia. „He, apa kau habis menangis ? Tadi aku mendengar suara
tangisan orang, kiranya kaulah,” tanyanya.
Keh Lok menjadi malu, dan melengos.
„Apakah kau terkenang akan Bun suko dan Ie sipsutemu itu? Jangan
bersedih, biarlah aku kasih tahu. Mereka ber dua tak apa-apa,” kata Wan
Ci seperti niembujuk anak kecil.
Sebenarnya Keh Lok hendak menanya lebih jauh, tapi dirinya dihibur
seperti anak kecil itu, dia kurang senang. Pikirnya: „Huh, sekalipun kau
tak memberitahu, akupun dapat menCarinya sendiri,”, karena itu, dia
diam tak mau menyahut.
“Bagaimana suhuku? Apakah dia juga datang ke HangCiu sini?” tanya Wan Ci pula.
„Apa? Liok-locianpwe tidak bersama kau?” tei'paksa Keh Lok mengajak bicara.
„Betul, sejak malam pertempuran 'dimuara Hoangho itu dia tak kelihatan lagi,” sahut Wan Ci.
„Liok-locianpwe seorang yang luar biasa kepandaiannya tentu tak akan ada apa-apa, kau tak perlu kuatir,” ujar Keh Lok.
„Pengaruh HONG HWA HWE kalian sedemikian besar, kenapakah kau tidak menCarinya?” tanya Wan Ci.
Mendengar ucapan orang yang kurang adat itu, Keh Lok makin mendongkol.
Tapi sebagai seorang terpelajar, dia dapat mengendalikan diri, katanya:
„Ucapan Li-toako itu benar, besok kukirim orang untuk menyelidiki.”
“Kudengar Ie-suko berkata, ilmu silatmu lihai sekali. Aku tak percaya!
Dia berkata lagi, kau pantas menjadi suhuku, huh, apa kau nempil dengan
suhuku?” tanya si Centil itu dengan sengit.
Heran Keh Lok dengar perkataan orang yang begitu aneh itu. Dia
tersenyum dan menyawab: “Liok locianpwe adalah orang yang sukar diCari
bandingannya didunia persilatan. Aku menjadi muridnya saja, belum tentu
dia mau mene rima. Dia menerima murid, tentu memilih yang berbakat dan
Cerdas.”
„Ai, ai, tak perlu kau pujidua dihadapan orangnya,” kata Wan Ci dengan
tertawa. „Tadi aku telah saksikan kau me nimpukan Cawan arak, ternyata
lwekang-mu bagus luar biasa. Tetapi sekalipun orangs Hong Hwa Hwe kalian
itu begitu menghormat dan tunduk padamu melebihi terhadap kakek-moyang
mereka, namun aku justru agak kurang terima.”
„Hm, untuk menundukkan orang toh tidak harus mengan dalkan ilmu silat
melulu, hal ini kau tak paham, akupun sungkan menyelaskan padamu,”
demikian diam.dua Keh Lok menyengek dalam hati. Tapi bila dilihatnya
kelakuan Wan Ci yang ke-kanakduaan serta nakal, tanpa merasa ia men
dongkol dan geli juga, maka kemudianpun katanya: “Sudah lah, hari hampir
pagi, aku mau menepi saja, nah, sampai ketemu !”
Habis berkata, Keh Lok angkat dajungnya untuk menunggu orang kembali keperahu sendiridua.
Akan tetapi Wan Ci justru menjadi kurang senang. Katanya tiba”: „Huh,
meski semua orang lain begitu tunduk padamu, juga tak perlu kau begini
Congkak padaku !”
Mendengar oloks ini, seketika Keh Lok naik darah, segera juga pikirnya
hendak memberi hajaran setimpal pada orang. Tapi bila ia pikir lagi,
dirinya adalah pemimpin dari orangs gagah dan kepala dari ksatrias Hong
Hwa Hwe, se jogianya tidak boleh sedikits lantas marah, pula boCah she
Li ini usianya lebih muda dari dirinya, kinipun tiada orang ketiga yang
menyaksikan, kalau sampai terjadi CeCok, tentu orang akan bilang tua
menghina muda, hal ini bila tersiar sesungguhnya kurang berharga.
Karena itulah sedapat mungkin ia menahan rasa gusarnya dan angkat gajuhnya hendak medajung.
Sebaliknya Wan Ci juga seorang anak yang sejak kecil sudah
di-sanyungdua dan dimanyakan orang tua, semakin Keh Lok tak menggubris
padanya, semakin ia merasa kurang senang, sesaat itu ia masih menyublek
dihaluan perahu itu takmau pergi.
Setelah perahu itu Keh Lok dajung sampai di „Sam-tam-in-gwat,” suatu
tempat terindah ditelaga Se-ouw itu, tiba-tiba Wan Ci tertawa dingin
terus berkata lagi: “Hm, tak perlu kau berlagak, jika kau bjenardua
bandel, kenapa seorang diri kau menangis umpetaan disini tadi?”
Tapi masih Keh Lok tak menggubrisnya.
„He, aku berbicara padamu, apakah.kau tidak dengar?” desak Wan Ci.
Alangkah mendongkolnya Keh Lok oleh sikap boCah yang tak kenal adat
itu, saking mendongkolnya ia menarik napas sembari melirik orang,
pikirnya dalam hati: „Kau boCah ini benardua tidak kenal selatan, gurumu
saja harus sungkandua padaku, tapi kau ternyata berani begini kurang
ajar.”
Melihat orang masih tak menggubrisnya, masih Wan Ci berkata lagi dengan
dingin: “Orang bermaksud baik datang memberitahukan sesuatu kabar
padamu, tapi kau justru tak menggubris orang. Hm, tanpa bantuanku, lihat
saja kau mampu menolong keluar Bun-suko kalian?”
Alis Keh Lok terkerut mendengar itu. “Ha, hanya sedikit kepandaianmu ini kau mampu berbuat apa?” katanya.
“Eh, kau pandang rendah padaku, ja? Baiklah, mari, biar kita
men-jajaldua dulu,” semprot Wan Ci sengit. Dan ketika tangannya
diangkat, Cepat-cepat sebilah pedang sudah dilolosnya dari pinggang.
Sebenarnya karena mengingat Liok Hwi Ching, Keh Lok selalu bersikap
mengalah. Tapi tatkala orang melolos pedang, iapun tergerak hatinya.
Tadi anak itu berdiri dibelakang Kian Liong, begitu rapat hubungannya
dengan Ciangkun (Li Khik Siu) tentara HangCiu, apakah tidak mungkin
kalau dia itu orang fihak sana? Dan dia sendiri merasa aneh juga, entah
karena apa, terhadap orang dia merasa benCi. Kalau melihat wajah yang
begitu Cakap, betul-betul dia tak mengerti siapakah dia itu sebetulnya.
“Tadi kau berdiri dibelakang baginda, apa pura-pura menakluk, atau memangnya kau ini hamba kerajaan?” tanyanya segera.
„Salah semua!” sahut Wan Ci dengan singkat.
„Adakah diantara kaki tangan kerajaan itu keluargamu?” tanya Keh Lok pula.
Mendengar ayahnya dikatakan „kaki tangan,” murkalah Wan Ci. Tanpa
menyawab dia maju menyabet, seraja memaki: „Mulutmu betul-betul kotor !”
Karena orang berbalik menyerang, Keh Lok mendapat kesan bahwa dia kini
berhadapan dengan kakitangan kerajaan. Dia tak mau berlaku sungkans
lagi. Maka bentaknya segera: „Baik, biar kuCari suhumu untuk membuat
perhi tungan.”
Dengan itu, ia mengelit tusukan orang. Wan Ci keluarkan ilmu pedang
“jwan-hun-kiam” yang baru dipelajari dari suhunya. Begitu Lok
berbangkit, ia luruskan pedang
kemuka untuk menusuk dadanya. Tapi Keh Lok tetap tenanga saja. Begitu
ujung pedang mendekati dada, tiba-tiba dia empos semangat dan menarik
dadanya kebelakang sedikit.
Tadi Wan Ci telah kerahkan tenaganya untuk menyerang. Kalau sampai orang
dapat menghindarinya dengan Cara itu, insyaplah dia bahwa orang itu
sungguh-sungguh lihai. Karena kuatir orang akan balas menyerang, ia
enyot kakinya untuk loncat ke sebuah tumpukan batu di “pulau”
Sam-tam-in-gwat di tengahs telaga itu. Melihat Caranya orang meloncat
keatas batu karang yang sedemikian jauh dan tinggi lagi liCin itu,
tahulah Keh Lok bahwa anak itu kepandaiannya juga tak terCelah.
Diam-diam ia tak berani memandang rendah.
Sebenarnya ia akan gunakan tangan kosong untuk melajani. Tapi ketika
anak itu keluarkan ilmu pedang dari Bu Tong Pai, ia teringat ketika
bertempur dengan Thio Ciauw Cong. Kenyataan telah membuktikan, bahwa
ilmu pedang Bu. Tong Pai itu tak boleh dibuat permainan. Karenanya,
diapun menyamber dahan puhun liu yang menyulur kebawah, untuk dipakai
mengajun kesebuah tumpukan batu karang lain. Begitu dia berdiri tegak,
tangannya sudah memegang sebatang dahan liu.
Melihat Caranya orang menyawut dahan puhun, terkejut lah Wan Ci. Tapi ia
pantang mundur dan masih terus ngotot, untuk menyerang lagi. Ia loncat
keatas batu dimana Tan Keh Lok berdiri, sambil menusuk pundaknya.
“Sam-tam-in-gwat” adalah salah satu dari tiga buah “pulau” batu
ditengah telaga Se-ouw. “Pulau” itu terapunga diper mukaan air. Pada
saat itu, Tan Keh Lok hanya miringkan
tubuhnya sedikit, terus menyodokkan dahan liu itu kepung gung
penyerangnya. Luput menusuk, kaki Wan Ci di-enyot kan kelain batu, Dari
situ dengan gerak “giok-tay-wi-yao” atau sabuk putih melilit pinggang ia
putar pokiamnya untuk menyerang lagi. Dia percaya kali ini, orang tentu
akan ter desak dari tempatnya.
Tapi Keh Lok tetap tak mundur. Begitu ujung pedang sinona menyambar, ia
loncat tinggis keatas terus poksay (kepala menyungkir) kebawah, jadi
dahan liu pun men julur kebawah. Wan Ci Buru-buru menabas, tapi dahan
liu itu seCepat-cepat nya bergerak menurut batang pedang, terus me
nyabet kemukanya. Sakitnya sampai terasa panas dipipinya, tanpa berajal,
nona itu loncat kesebuah batu disebelah kiri.
Siapa tahu berbareng kakinya menginyak kebatu, Tan Keh Lok pun sudah
menyusul berdiri tegak dengan gerakan yang rapi sekali. Wan Ci marah
betuR Begitu pedang di pindah ketangan kiri, dia Cepat-cepat sudah
mengambil serangkum jarum 'hu-yong-Ciam', terus disambitkan
beruntun-runtun keatas, tengah dan bawah, dia arah semua.
Karena berdiri diatas sebuah batu, maka Keh Lok tak punya kesempatan
untuk berkelit. Maka ia menyulurkan kedua kakinya keluar, sehingga
sikapnya seperti orang rebah diatas air, tangannya kiri yang lurus
dijulurkan untuk me nempel pada batu. Maka jarum timpukan itu melayang
disela tangannya terus jatuh ditelaga. Setelah itu, dengan gunakan
khi-kang, dia melambung keatas. Sedikitpun badan nya tak menempel air.
Sampai disini, insyaplah Wan Ci bahwa musuh jauh lebih kuat darinya dan
dengan gunakan akal ia berseru: „Ha, sampai disini saja, lain kail kjta
bertemu lagi !”
Dengan ucapan itu sinona akan merat.
“Kau telah menyerang tiga kali, karena memandang muka suhumu, aku hanya
membalas 1 kali saja, nah terimalah!” bentak Keh Lok tiba-tiba .
Berbareng mengucap, dahan liu digentak kemuka. Karena sudah pernah
merasakan tamparan tadi, Wan Ci tak mau menerima kedua kalinya. Pedang
lurus dibaCokkan kemuka untuk memotong dahan. Tapi dahan itu bagaikan
bermata, pedang tiba, diapun ikut bergerak untuk menCongkel. Suatu
tenaga kuat dirasakan Wan Ci merabetot pedangnya. Berbareng itu tangan
kiri orang telah menyodok juga kedadanya.
Betapa kaget dan malu Wan Ci tak terkira. Pedang agak dikendorkan, lalu
tangannya kiri dipakai untuk menyambut tangan “jail” orang. Dari situ,
ia loncat kebatu yang ter letak disebelah kanan.
Karena memikiri menangkis itu, pedangnya telah terCong kel keudara dan pada lain saat sudah berada ditangan lawannya.
„Huh, maCam itukah seorang Chongthocu, masa gunakan jurus yang begitu rendah!” Wan Ci menyemprot.
Tan Keh Lok melengak. „NgaCo, jurus mana yang kau katakan rendah itu?” sahutnya bingung.
Wan Ci terhening malu. Ia pikir lawan tentu tak menge tahui bahwa
dirinya itu seorang nona yang menyaru lelaki, jadi jurus tadi tak
sengaja untuk melakukan perbuatandua yang kurangajar. Dia jengah
sendirinya, terus loncat ke dalam sebuah thing (pagoda kecil) yang
berada di 'Sam-tam-in-gwat' itu.
Melihat gerakan orang, tahulah Keh Lok akan maksudnya. Cepat-cepat ia
enyot kaki dan tegak berdiri dihadapan sinona. Dengan wajah tenang dia
angsurkan pedang yang dirampas nya tadi. Tanpa berkata apa-apa, tangan
Wan Ci menyambuti nya untuk dimasukkan kedalam sarung, terus tundukkan
ke pala berlalu.
Setelah „bertempur” hampir setengah malam, haripun sudah menyelang
terang. Keh Lok simpan sulaman 'hong-hwa' yang didadanya itu, lalu
menuju kepintu timur. Pintu kota sudah terbuka. Serdadu yang menyaga
pintu menga 4} wasi Tan Keh Lok dengan tajam, tiba-tiba tangannya
ditekuk kedada, lalu membongkok memberi hormat. Kiranya dia adalah salah
seorang anggauta HONG HWA HWE Keh Lok anggukkan kepala, lantas berjalan
keluar.
“Congthocu akan keluar kota, apakah perlu seekor kuda?” tanya penyaga itu tiba-tiba .
„Baikkah”, sahut Keh Lok.
Serdadu itu berlalu, dan sebentar lagi dia kembali dengan seekor kuda.
Dibelakangnya mengikut dua orang hamba, juga anggauta HONG HWA HWE
Mereka merasa girang dapat mem berikan jasa untuk Congthocunya.
Kira-kira dua jam, Tan Keh Lok sudah sampai dipintu barat kota Hay Ling.
Hampir sepuluh tahun, baru kali ini dia pulang kerumahnya. Baginya,
segala apa tampak tak berobah. Tem bok kota dimana semasa kecil dia
sering bermain-main , masih tetap sama.
Takut orang mengenalnya, dia keprak kudanya untuk me nuju keutara.
Sekira 5 li, ia mengasoh dirumah seorang petani. Sehabis makan siang, ia
beristirahat. Karena sema lam bergadang, maka tidurnya tampak pulas
sekali.
Nyonya rumah melihat tetamunya itu seperti seorang kongcu, dan berbicara
dalam lidah daerahnya situ, mela janinya dengan gembira. Malamnya
menyembelih ajam untuk dihidangkan. Atas pertanyaan Keh Lok mengenai
keadaan didaerah itu, petani itu menerangkan : „Entah karena apa,
baginda telah membebaskan pajak penduduk Hay Ling ini selama tiga
tahun. Mungkin karena memandang diri Tan koklo”.
Ayah Keh Lok, Tan Siang Kok, sudah meninggal beberapa tahun lamanya. Dia
heran, mengapa pihak kerajaan tiba-tiba menghadiahkan kebaikan begitu
besar. Habis dahar, dia berikan sepuluh tail perak pada tuan rumah, lalu
minta diri.
Lebih dulu dia menuju kepintu selatan. Disitu dia duduk ditepi laut,
memandang lautan. Teringat dia semasa kecil nya mamahnya telah
mengajaknya kesitu untuk melihat Laut. Lagi-lagi dia mengembeng air
mata. Selama sepuluh tahun berada di daerah Hwe, apa yang dilihatnya
setiap hari, hanya lah padang pasir. Kini disuguhi pemandangan laut nan
biru indah itu, dia merasa nyaman.
Tak lama kemudian, ombak dilautan tampak samardua dengan datangnya
petang hari. Dia tambatkan kudanya pada sebatang puhun liu disitu, lalu
dengan gunakan ilmu berlari Cepat-cepat , dia menuju kerumahnya yang
terletak disebelah timur-laut.
Sampai dirumahnya, ia kesima. Disamping gedungnya yang lama, kini ada
pula sebuah gedung baru. Diantara sinar rem bulan, tampaklah loteng
gedung itu megah dan indah sekali. Papan yang tergantung dimuka gedung
itu bertulisan: „An Lan Wan,” ditulis oleh tangan Kian Liong sendiri.
Keh Lok kembali merasa heran. Dia loncat masuk ke dalam gedungnya yang
lama, langsung menuju kekamar mamahnya. Dengan ber-indapdua dia naik
keloteng, lalu me longok kedalam. Ternyata kamar itu kosong, hanya
perhiasan nya masih tetap terawat seperti dikala mamahnya masih hidup.
Perabotannya yang terbuat dari kaju merah, tempat tidur, lemari, masih
tetap berada ditempat seperti sepuluh tahun yang lalu. Dimeja ada
sebuah lilin menyala.
Tiba-tiba terdengar derap kaki orang mendatangi. Buru-buru Keh Lok
bersembunyi kesebuah sudut. Ternyata yang datang itu adalah seorang
wanita tua, Tampak perawakan orang, tak tertahan lagi Keh Lok ingin
menegurnya. Kiranya wanita itu adalah pelajan tua Swi Ing. Dialah yang
mengasuh Tan Keh Lok sampai umur 15 tahun. Salah seorang inang pengasuh
nya yang paling dikasihinya.
Swi Ing yang sudah berusia lanyut itu, terus masuk kedalam kamar.
Setelah membersihkan semua perabotdua disitu, ia duduk disebuah kursi
dan termenungdua. Dari bawah bantal diatas pembaringan itu, diambilnya
sebuah kopiah anak kecil. Kopiah itu bersulamkan kembang merah,
diatasnya disunting kan sebuah giok warna hijau dikitari oleh 5 biji
mutiara. Itulah kopiah Tan Keh Lok dimasa kecil.
Melihat semua hal itu, tak tahan lagi perasaan Keh Lok. Sekali melangkah
dia „menyerbu” maju untuk merangkul mak inang pengasuhnya itu.
Swi Ing kaget bukan kepalang, hingga akan berteriak. Tapi Keh Lok keburu
mendekap mulutnya, katanya dengan berbisik: „Jangan menyerit, akulah.”
Mengawasl muka anak muda itu, budyang tua itu heran sampai tak dapat
berkata apa-apa. Kiranya setelah meninggal kan rumah selama sepuluh
tahun itu, wajab, Keh Lok berobah sama sekali. Sedang sibudyang masih
tetap sama, sekalipun hanya kelihatan agak tua. Maka yang satu
mengenal, yang lain tidak.
“Swi-kho, akulah Sam Koan (nama kecil Keh Lok), apa kau tak mengenalnya?”
Baru saat itu dapat Swi Ing tenangkan hati, katanya : „0, kau......... kau ini Sam Koan. Kau betul......... pulang?”
Keh Lok tersenyum anggukkan kepalanya. Masih saja budyang itu
menimang-nimang mengawasi wajah majikan yang diasuhnya itu. Pada lain
saat, dia terus merangkulnya dan menangis tersedudua.
„Sudahlah, jangan menangis, supaya orang tak ketahui kedatanganku ini,” kata Keh Lok.
„Tidak apa, mereka semua sama berada digedung baru sana. Disini kosong,” kata sibudyang .
„Gedung baru itu kepunyaan siapa?'' tanya Keh Lok.
„Baru setengah tahun yang lalu didirikannya, entah menelan ongkos
berapa puluh laksa tail perak, dan entah apa guna nya,” demikian sahut
budyang itu melantur.
Keh Lok tahu bahwa budyang nya itu sudah tua, jadi tak mengerti apa-apa
tentang urusan itu. Maka tanyanya pula : „Bagaimana meninggalnya ibu?
Dia menderita sakit apa?”
Swi Ing mengambil saputangan untuk mengusap air mata nya, kemudian baru
jawabnya: „Entah penyakit apa yang diderita sioCia itu ia berduka, tiga
hari beruntun tak mau makan, terus sakit, sepuluh hari kemudian
menutup mata. Dikala mau meninggal dia masih teringat padamu, katanya:
'Di manakah Sam Koan-ku? Dia belum pulang? Aku ingin bertemu padanya !'
Dua hari ia selalu mengiang begitu, baru kemudian menghembuskan napasnya
terachir.”
“Sungguh aku seorang anak yang put-hauw! Ibu mau melihat aku untuk yang
penghabisan kali, tapi aku tak datang,” kata Keh Lok dengan
ter-isakdua.
Pada umumnya didaerah Kanglam, apabila puteri seorang ternama menikah,
tentu ia dibawai beberapa budyang (pela jan). Sekalipun nona itu sudah
kawin dan disebut thay-thay (nyonya), namun budyang dua itu masih
menyebutnya „sioCia”. Demikianlah, Swi Ing masih membahasakan ibu Keh
Lok dengan sebutan „sioCia” (nona).
„Apakah pesan ibu kepadamu?” tanya pula Keh Lok.
„Sehari sebelum menutup mata, nampaknya kesehatan
sioCia sangat baik, seperti orang biasa. Tahu kalau takkan berjumpah
padamu, ia menulis sepuCuk surat untukmu”, tutur sibudyang itu.
„Mana surat itu, lekas berikan padaku!” Keh Lok tanya dengan Cepat-cepat .
„Tapi entah apa sebabnya, ia mengelah napas, lalu katanya: 'Ah, lebih
baik ia tak mengetahuinya saja'. Lalu menyuruh aku ambil lilin, dan
surat itu dibakarnya. Hampir surat itu terbakar habis, sioCiapun
kehabisan tenaga, tangannya me lepas, terus menghembuskan napas
terachir”.
Tak tahan lagi air mata Keh Lok berCuCuran, lalu tanya nya lagi: “Jadi ibu belum membakarnya habis? Mana sisa surat itu?”
„Kusimpan”, kata budyang itu.
„Berikan padaku!” pinta Keh Lok.
„Karena sioCia tak ingin kau mengetahui, maka baik dibakar saja. Perlu apa kau memintanya itu?” ujar sibudyang .
Wajah Keh Lok mengunyuk kedukaan, ia mengeluh dengan ibanya: „0, entah
apa yang akan dikatakan oleh ibu, ah, aku tak beruntung bertemu muka
padanya, sedang suratnya yang penghabisan pun aku tak dapat
melihatnya”.
Swi Ing merasa kasihan, lalu membuka peti dan mengam bil keluar sebuah
kotak kecil. Begitu dibuka, diambilnya sebuah amplop, diberikan pada Tan
Keh Lok seraja katanya : „Tak tahu aku apa yang ditulis oleh sioCia,
surat ini diama kusimpan, tak pernah kutunyukkan pada orang lain.”
Dengan bergumeteran tangannya Keh Lok menyambuti amplop itu. Ternyata
surat didalamnya itu merupakan sjaira yang separoh bagiannya telah
terbakar. Sedang sisanya itupun sudah gosong kekuningduaan. Disana sini
tampak tetesan lilin. Hurufdua itu terang adalah buah tulisan ibunya,
antaranya ter tulis „sebagian hidupnya menderita”, semataa untuk kepen
tingan putera”, “keluarga Tan yang terpaksa disuruh meni kah” dan
lain-lain. beberapa patah kata yang terputus dari rangkaian nya. Ada
lagi beberapa baris kalimat yang tak ada hubu ngannya satu dengan lain,
jakni: „nisan Sim-si,” “jalan wanita utama” dan lain-lain.
Keh Lok sungkan mempelajarinya, lalu memasukkansja kedalam saku, dan
tanyanya lagi: “Dimanakah kuburan ibu?” “Dibelakang Hay-sin-bio yang
baru dibangun.” „Hay-sin-bio (kelenteng malaikat laut) ?” Keh Lok
menegas.
“Benar, juga bangunan baru yang 1 selesai tahun ini. Bio itu luas
sekali, terletak ditepi laut,” kata sibudyang . „Swi-kho, aku akan
kesana,” kata Keh Lok achirnya. Swi Ing sebenarnya masih akan mengajak
bicara lagi, tapi Keh Lok sudah loncat' keluar dari jendela.
Perjalanan ketepi laut, ia paling paham. Sekejab saja, sampailah sudah.
Benar disitu tampak sebuah bangunan yang menyulang tinggi. Belum pernah
dia melihatnya dulu, dia menduga pasti itulah Hay-sin-bio. Terus ia
menuju kepintu muka. Tiba-tiba dari arah kanan dan kiri bio itu
terdengar derap kaki orang. Sebagai seorang' kangouw, tahulah ia, bahwa
itu adalah tindakan kaki dari bangsa Ya-heng-jian (orang kangouw yang
keluar diwaktu malam). Cepat-cepat ia sembunyi dibalik sebuah puhun liu.
Betul juga dari kedua samping bio (kelenteng) loncat keluar empat orang.
Dimuka pintu bio, mereka saling me negor dengan isjarat tangan. Habis
itu mereka menuju lagi kesebelah kanan dan kiri halaman bio itu. Keh Lok
merasa heran. Hay Ling adalah sebuah kabupaten kecil ditepi laut.
Mengapa dan apa tujuan keempat orang yang lihai itu?
Mau ia menguntit mereka, tapi tiba-tiba terdengar ada tindakan kaki
orang lagi. Kembali dari kedua samping bio itu ada empat orang loncat
keluar. Ia lihat keempat orang ini bukanlah keempat orang yang duluan.
Makin heran Keh Lok dibuatnya ia tunggu setelah empat orang itu sudah
meng hilang pula, Cepat-cepat ia enyot tubuh terus melesat keatas
tembok untuk menunggu kejadian selanyutnya.
Sesaat kemudian, kembali ada empat orang munCul lagi. Nyata orang-orang
yang setiap kalinya dua itu, sedang mengelilingi bio itu untuk
melakukan perondaan. Dengan penuh perhatian Keh Lok mengawasi kesemuanya
itu. Mereka nyata orang-orang yang tinggi ilmu silatnya, apakah akan
ada upaCara dari sesuatu partai yang diselenggarakan dalam bio itu?
Atau
mungkin ada kawanan bajak yang akan mengadakan per temuan besar disitu?
Tersurung oleh keinginan mengetahui, Keh Lok dengan tak mengeluarkan
suara sedikitpun loncat turun, lalu menyelinap masuk kedalam bio dan
mengambil tempat persembunyian disitu.
Diruangan sebelah timur kelenteng itu terdapat patung dari Wat Ong,
sedang diruangan sebelah barat adalah patung dari malaekat penunggu bio
itu. Dia pergi keruang tengah, untuk mengetahui patung siapakah yang
dipasang disitu. Setelah mengawasi, maka bukan main kagetnya.
Patung yang wajahnya bersih berseri-seri itu ternyata bukan lain adalah
ayahnya sendiri, Tan Siang Kok. Karena kagetnya itu, sampaia Keh Lok
mengeluarkan seruan tertahan. Tiba-tiba disaat itu dari arah luar
terdengar tindakan kaki orang mendatangi. Dia Buru-buru sembunyikan
diri dibelakang lonCeng besar. Empat orang tampak masuk keruangan tengah
itu. Mereka berpakaian warna hitam, masinga menghunus sen-jata. Setelah
berputar sekali, mereka keluar lagi.
Disebelah kiri adalah sebuah pintu angin terbuka, kesitu Keh Lok
menyelinap, terus berjalan dengan ber-indapdua. Disitu terdapat sebuah
jalan yang terbuat dari marmer putih. Jalanan itu panyang dan menyurus
keluar. Tepat seperti lorong yang terdapat didalam istana. Kuatir
kalau kepergok, Keh Lok enyot tubuhnya naik keatap yang me-nutupi
sepanyang jalan itu. Sampai diujung jalan batu marmer itu, ternyata tak
ada seorangpun jua. Ia lalu loncat turun. Disebelah muka kembali ada
sebuah ruangan agung. Didepannya tergantung papan yang tertulis “Thian
Houw Kiong.” Pintunya terbuka, dan Keh Lok dengan beranl masuk kesitu.
Tapi keadaan disitu ternyata tambah membuat ia ter kejut.
Patung di “Thian Houw Kiong” itu putih berseri bagaikan rembulan.
Sepasang matanya yang bening, mirip sekali dengan mamahnya, Ji-si.
Setelah mengawasi sekian lama, lalu Keh Lok balik keluar, untuk menCari
kuburan sang ibu. Dibelakang „Thian Houw Kiong” itu, dipasangi dengan
tendadua dari kain warna kuning yang panyang sekali.
Kembali Keh Lok sembunyikan diri, karena diluar tenda itu, terdapat
beberapa orang berpakaian hitam tengah mondar-mandir melakukan patroli.
Kesemuanya itu, tetap tak dimengerti olehnya. Karenanya, dia ambil
putusan untuk menCari tahu. Dengan ber-indapdua dia mendekati tenda.
Menunggu kesempatan kedua penyaga yang tengah meronda kesana, ia terus
masuk kedalam tenda itu.
Bermula ia rebahkan diri, untuk mengetahui apakah ada orang yang
mengetahui perbuatannya. Kiranya dihalaman dalam tenda itu, kosong.
Tanah disitu sangat bersih, sedikit pun tak ada rumputnya. Tenda itu,
bersambung satu dengan lain, sehingga merupakan jalanan yang menyurus
kebela kang. Pada setiap tenda dipasangi dengan penerangan lilin besar
yang terang sekali.
Dengan menCabut pokiam pemberian Hwe Ceng Tong, Keh Lok maju kemuka. Ia
pikir harini sekalipun masuk kesarang harimau, dia tak gentar. Sunyi
senyap keadaan ketika itu. Hanya kadangdua terdengar letikan lilin yang
me netes jatuh. Beberapa tindak pula, tiba-tiba terdengar suara
berkresek, Buru-buru dia menyingkir kesamping. Setelah keadaan sepi
lagi, kembali ia maju. Diantara Cahaja lilin yang terang itu,
tertampaklah dimuka ada dua buah kuburan besar. Dan terlihat ada seorang
yang tengah berlutut didepan, kuburandua itu.
Pada bagian depan kuburan itu terdapat batu nisan yang tertuliskan
perkataan “Kuburan dari Tan Si Koan, tay-hak-su kerajaan Ceng.” Sedang
bongPai pada kuburan disamping nya, bertuliskan “Kuburan dari Ji-hujin,
it-bin-hu-jin kerajaan Ceng.”
Keh Lok dapat membaCanya dengan jelas, diam-diam hatinya menCelos. Tanpa
mengingat bahaja apa-apa, dia akan maju untuk berlutut kesitu. Tapi
tiba-tiba orang yang berlutut itu berbangkit. Keh Lok merandek dan
mengawasinya. Tampak orang itu bermenung sejenak, akan kemudian, dengan
tiba-tiba berlutut dan member! hormat beberapa kali. Terus orang itu
berjongkok ditanah. Dari gerakan bahunya yang tampak mengigil itu,
nyatalah dia tengah menangis tersedu-sedu.
Hilang kekuatiran Keh Lok ketika menyaksikan hal itu.
Yang berlutut dihadapan kuburan orang tuanya itu, tentulah masih
keluarganya. Mungkin keponakan dari sang ayah, atau lain-lainnya.
Melihat kesedihan orang itu, tanpa merasa Tan Keh Lok menghampiri dan
menepuk bahunya pelan-pelan : „Silahkan bangun !”
Karena kagetnya, orang itu berbangkit bangun. Tapi dia tetap tak mau berpaling kebelakang, hanya berseru menanya : „Siapa!”
„Aku juga akan menyambangi kuburan ini,” sahut Tan Keh Lok.
Dan tanpa mengurus orang itu lebih jauh, Keh Lok terus berlutut didepan kuburan ayah bundanya dan menangis tersedu-sedan.
„0, ayah, ibu, Sam Koan datang terlambat tak beruntung bertemu,” katanya dengan suara ter-isakdua.
Karena itu, kedengaran orang tadi bersuara kaget, terus mengajunkan
langkahnya keluar. Namun sekali enyot kakinya, Keh Lok melompat dua
tindak kebelakang, tepat meng liadang dimuka orang itu. Diantara sinar
lilin, kedua orang yang saling berhadapan itu seketika melengak
terpesona, sampaidua keduanya mundur selangkah. Orang yang berlutut
dimuka kuburan ayah bundanya itu ternyata bukan lain adalah yang
dipertuan dari kerajaan Ceng pada masa itu, baginda Kian Liong.
„Kau......... tengah malam buta mengapa kemari?” seru Kian Liong kemudian dengan terkejut.
„Hari ini adalah hari lahir ibuku, karena itu aku datang untuk menyambangi kuburannya. Dan kau?” balas Keh Lok.
„Jadi kaulah putera dari Tan Si Koan itu?” Kian Liong berbalik menanya.
„Benar, semua orang dikalangan kangouw mengetahuinya, kukira kaupun sudah mengetahui juga,” sahut Keh Lok.
“Belum,” kata Kian Liong.
Kiranya pada tahundua yang teraehir itu, perhatian Kian Liong ditujukan
pada keluarga Tan di Hay Ling daerah Kanglam. Sekalipun diantara
menteridua itu mengetahui bahwa daerah itu adalah daerah kekuasaan Hong
Hwa Hwe yang dipimpin oleh putera dari Tan Siang Kok almarhum, namun
mereka tak berani memberitahukan kepada baginda. Karena raja itu,
wataknya aneh sekali. Rasa murka dan girang, bisa datang mendadak
padanya dengan Cepat-cepat . Dengan mengajukan laporan itu, menteri itu
kuatir, akan mengundang bahaja baginya sendiri.
Begitulah kekuatiran Keh Lok tadi kini berganti dengan rasa keheranan,
pikirnya: „Tak heranlah kiranya kalau se luruh bio dijaga sedemikian
kerasnya. Kiranya dialah yang datang kemari. Tapi untuk apakah dia
datang pada tengah malam begini, tambahan lagi berlutut dan menangis
dimuka kuburan ayah bundaku?” — Hal inilah yang membuat ia tidak habis
mengerti. Sedang fihak Kian Liong sendiripun tengah termenung
mengawasinya. Achirnya, Kian Liong mengajak nya duduk. Dengan begitu,
kedua orang itu, bertemu lagi untuk yang ketiga kalinya. Pertama
dirimba Sam-tiok, per kenalan permulaan. Kedua kalinya, ditengah telaga
Se-ouw, dimana diam.dua mereka saling menguji kekuatan masings. Tapi
kini pertemuan dimuka kuburan Tan Siang Kok kali ini, rasa bermusuhan
itu terkikis dan berobah menjadi rasa yang dekat sekali.
Sambil menarik tangan Keh Lok, kemudian berkatalah Kian Liong: „Kau
tentunya merasa heran mengapa pada waktu begini, aku berkunyung kemari.
Semasa hidupnya, ayahmu itu berjasa besar padaku” sehingga aku dapat
naik kesinggasana kerajaan. Budi itu, tak pernah kulupakan. Karenanya,
malam ini kuperlukan menyambangi kuburannya.”
Tapi Keh Lok hanya setengah percaya setengah tidak.
“Dan kalau sampai hal ini boCor keluar, tidaklah leluasa. Maukah kau
berjanyi takkan memberi tahukan pada orang lain?” tanya Kian Liong pula.
Karena raja itu begitu mengindahkan pada ayah bundanya, sudah tentu Keh
Lok tak berkeberatan, katanya : „Ja ngan kuatir. Dihadapan kuburan ayah
bundaku ini, kuber sumpah takkan memboCorkan kejadian malam ini pada
siapapun juga.”
Seorang kangouw, paling mengutamakan janyi. Hal ini diinsyapi Kian
Liong. Apalagi orang sudah bersumpah dimuka kuburan orang tuanya. Dia
merarasa puas dan gembira.
Demikianlah kedua orang itu duduk dimuka kuburan dengan tangan
bergandengan. Yang satu, adalah yang diper tuan dari negeri Tiongkok
pada masa itu. Dan yang seorang, adalah ketua dari sebuah perkumpulan
besar dikalangan Kangouw. Entah apa yang dipikirkannya, keduanya saling
menyublek untuk sekean saat.
Tiba-tiba samara terdengar suara gemuruh. Telinga Keh Lok yang
terlatih tajam itu, mengerti apa adanya itu. Katanya : “Ombak. pasang,
baiklah kita menyaksikannya ketepi laut. Sudah sepuluh th. aku tak
melihatnya.”
Kian Liong mengiakan, dan dengan masih menggandeng tangan orang, dia berjalan keluar.
Kawanan si-wi yang meronda diluar sama tersipu-sipu menyambut keluarnya
Kian Liong. Tapi bagaimana terkejut mereka, ketika dilihatnya baginda
tengah berjalan bertun tunan tangan dengan seseorang. Lebihdua
pentolandua si-wi seperti Pek Cin, Cu Wan dan lain-lain. mereka sama
berCekat dalam hati, setelah mengetahui bahwa penyagaan mereka telah
jebol diterobos orang tanpa sepengetahuannya.
PunCak kekagetan mereka terjadi, ketika ternyata orang yang disamping
baginda itu, bukan lain ialah ketua dari Hong Hwa Hwe. Sementara itu
beberapa si-wi bergegas-gegas membawakan kuda.
„Kau naikilah kudaku ini,” kata Kian Liong pada Keh Lok. Kembali para
si-wi itu menyediakan lagi seekor kuda kepada baginda. Demikianlah
keduanya menuju kepintu timur. Ketika itu gemuruh ombak makin nyata,
menderu-deru tak henti-hentinya.
Sekeluarnya dari pintu timur, suasana penuh dengan gemuruh air pasang,
namun dilaut tampaknya tenangdua saja, putih ke-perakduaan ditimpah
Cahaja rembulan.
“Mamahku dilahirkan pada hari ini, karenanya beliau di namakan 'Tiao Seng' (air pasang).”
Ketika ucapan itu melunCur dari mulut Tan Keh Lok, tangan Kian Liong
yang memimpin anak muda itu terasa bergemetar, pertanda dari luapan
sang hati. Memandang kelaut, Kian Liong termenung sejenak. Baru achirnya
dia berkata :
„Kau memang berjodoh dengan aku. Besok aku akan kembali ke HangCiu. Tiga
hari kemudian baru kembali ke Pakkhia. Sukalah kau ikut padaku ?
Sebaiknya, kau selalu mendampingi aku, agar setiap saat dapat kukenang
wajah ayahmu.”
Sukar dilukiskan perasaan Tan Keh Lok mendengar kata-kata yang lemah
lembut dari seorang raja yang berkuasa seperti itu. Untuk beberapa
saat, dia kesima, tak dapat menyawab.
“Kau seorang bun-bu-Coan-Cay (serta dapat: sastera dan silat). Kelak
tentu dapat kau gantikan kedudukan ayahmu. Bukankah itu akan jauh lebih
berharga daripada kau ber kelana dikangouw?” kata Kian Liong pula.
Dengan ucapan itu, Kian Liong mengisiki, bahwa anak muda itu akan
diberinya pangkat tay-hak-su (menteri besar yang berkuasa penuh).
Itulah kedudukan yang paling tinggi menurut tingkatan menteri. Kian
Liong jakin, anak muda itu tentu akan girang dan menghaturkan terima
kasih.
Siapa tahu dugaannya ternyata meleset, Keh Lok telah menyawab: „Begitu
besar kebaikanmu itu, entah bagaimana kuharus menghaturkan terima kasih.
Tapi kalau aku temaha dengan kesenangan hidup, tak nanti kutinggalkan
rumah dan berkelana dikangouw.”
„Itulah yang akan kutanyakan padamu. Kau tak mau menjadi kongcu,
sebaliknya berkelana tak keruan dikangouw, adakah hal itu tak membuat
malu orang tua?” kata sang kaisar.
„Itulah kebalikannya, karena hal itu justeru atas titah mamahku. Ayah
dan kokoku, tidak mengetahuinya, sehingga mereka berjerih-payah untuk
menCariku. Sampai sekarang, kokopun masih mengirim orangnya untuk
menCari,” sahut Keh Lok.
“Mamahmu yang menyuruh? Anehlah, masa begitu?” Kian Liong menjadi heran.
Keh Lok menunyukkan kepala, agak lama tak menyawab, kemudian katanya: “Itulah rahasia kedukaan dari ibu akupun tak mengerti.”
Sementara itu gemuruh air pasang makin menghebat, sehingga pembicaraan keduanya itu hampir tak kedengaran.
Selarik ombak putih bergulung-gulung mendatangi. Hawa terasa dingin
ketika gulungan ombak itu makin mendekat. Gemuruh bagai guntur, makin
dekat makin berkumandang jelas lak sana ribuan pasukan kuda menyerbu
datang.
Sambil tangan kiri memegangi tangan Keh Lok, tangan' kanan Kian Liong
me-ngebutduakan kipasnya. Melihat datang-nya ombak raksasa itu, dia
terkejut. Tanpa terasa, tangan-nya kendor, dan kipas itu jatuh kebawah
ketitian batu yang menyurus keair laut. Kipas itu adalah kipas
persembahan dari Tan Keh Lok tempo hari. Saat itu baginda dan Keh Lok
tengah berdiri ditepi laut, yang berada tujuh atau delapan tombak dari
atas tempat air laut. Saking kagetnya, Kian Liong berseru tertahan.
Cepat-cepat seperti kilat, Pek Cin menerjun kebawah untuk menyawutnya.
Dengan sebelah tangan menekan pada batu di tangkul, tangan yang lain
telah berhasil menyawut kipas itu.
Dalam pada itu gelombang ombak raksasa makin mendekat, dan pada lain
saat pasti Pek Cin akan ditelan oleh gelombang itu, terpenCet pada
tanggulduaan. Kawanan si-wi sudah berteriak kaget. Dengan gunakan ilmu
mengentengi tubuh, Pek Cin Cepat-cepat meloncat keatas, tapi ombak
ternyata lebih Cepat-cepat lagi.
Keh Lok Cepat-cepat bertindak, ia sebret jubahnya menjadi dua,
disambung terus dilunCurkan kebawah. Pek Cin Cepat-cepat memegang tali
itu, justeru tepat ombak sudah menganCam ifjjjdua kakinya. Buru-buru
Keh Lok menariknya keatas tangguPnya.
Sedari melihat datangnya ombak yang mengganas itu, Kian Liong dan
sekalian si-wi sudah menyingkir dari tepi tang gulan itu. Ketika Pek Cin
dapat ditarik keatas, ombak pun sudah naik keatas.
Sejak kecil Keh Lok sudah kenyang memain ditepian laut itu, jadi
fahamlah dia akan “sifat” ombak itu. Begitu sudah menarik Pek Cin, dia
terus loncat kekebelakang beberapa tindak. Sedang begitu sampai keatas
tanggulan itu, ombakpun sudah mengejar Pek Cin keatas. Cepat-cepat
si-wi itu ajunkan tangan untuk lemparkan kipas itu pada Cu Wan. Setelah
itu dia merangkul erat- pada sebuah puhun liu yang tumbuh ditepi.
Sementara itu bagaikan gunung roboh, guiungan ombak itu menutup keatas
kepalanya Pek Cin. Kiranya ombak itu, seCepat-cepat pasang,
seCepat-cepat itu pula surutnya. Dalam sekejab saja, air laut
ditanggulan itu sudah surut kembali. Begitu erat Pek Cin menyikap batang
puhun; liu itu, hingga me ninggalkan bekas guratan jari. Baru setelah
air surut, dia berani loncat kebelakang.
Melihat dia begitu berani dan setia, Kian Liong merasa gembira. Begitu
menyambuti kipas dari Cu Wan, berkatalah ia kepada Pek Cin sambil
anggukkan kepalanya: “Kalau nanti pulang, kuhadiahkan kau satu perangkat
pakaian lain.”
Dengan pakaian basah kujup, Pek Cin Buru-buru berlutut menghaturkan
terima kasih. Kemudian berkata Kian Liong kepada Tan Kehj Lok: “Kata
orang kuno 'sepuluh laksa tentara sama dengan deru ombak setengah
malam', rupanya hal itu memang terbukti.”
„Pada masa dulu Chi Ong telah menghamburkan tiga 000 anak panah untuk
menghajar ombak, tapi ombak tetap mengganas. Nyata pengaruh alam, sukar
ditundukkan,” kata ketua HONG HWA HWE itu.
Meng'erti bahwa orang akan mengulangi pembicaraannya ditengah telaga
Se-ouw tempo hari, tahulah Kian Liong bahwa anak muda itu tetap tak mau
bekerja pada kerajaan. Maka katanya: „Tiap orang punya tujuan
sendiridua, akupun tak dapat memaksamu. Hanya ingin kunasehat.i kau
sedikit.”
„Silahkan berkata,” sahut Keh Lok.
„Sepak terdyang dari kaum HONG HWA HWE kalian yang nyata menentang
undangdua pemerintah, peristiwa yang telah lalu dapatlah kuhapuskan.
Tapi untuk selanyutnya, tak dapat kubiarkan hal itu lebih jauh,”
demikian Kian Liong.
„Kita bekerja untuk negara dan rakjat, segala sepakter dyang kita, dapat dipertanggung jawabkan,” sahut Keh Lok.
Kian Liong merenung dan berpikir, lalu mengelah napas dan berkata pula:
“Sayang , sayang ! 'Mustika yang gemilang jatuh ditempat lumpur'.
Dengan memandang semangat per???? kelak HONG HWA HWE tertumpas, aku
tetap akan mengampuni jiwamu.”
“Sebagai Umbal balik, andaikata kau jatuh ketangan HONG HWA HWE akupun takkan menCelakai kau,” balas Keh Lok.
Ter-bahakdua Kian Liong dibuatnya, katanya: „Dihadapan raja, kau tetap
tak mau kalah suara. Baiklah. Sekali orang gagah mengucap, ibarat
larinya kuda. Ayo kita pateri janyi ini dengan berjabatan tangan.
Dikemudian hari kita tak boleh saling menCelakai.”
Tiga kali keduanya berjabat dan berguntjangan tangan. Melihat
junyungannya begitu mengindahkan pada ketua perkumpulan yang memusuhi
negara itu, keheranan para si-wi itu menjadi dua.
Sementara itu ombak sudah kembali tenang. Kian Liong ajak Keh Lok
kembali menghampiri ketepi tanggulan. Ketika, para si-wi akan
mengikutinya, Kian Liong memberi isjarat melarangnya. Sesudah berpuluh
tindak keduanya berjalan disepanyang tepian itu. Kata Kian Liong pula:
“Dari wajahmu terlihat selain terkenang akan ayah bunda dan sahabat
baik, apakah kau masih ada ganyelan dalam hati mu? Sekalipun kau tak mau
menjadi pegawai negeri, tetapi kau boleh majukan saran atau usul
padaku.”
Setelah merenung sejenak, berkatalah Keh Lok: „Ingin sekali kuminta
bantuanmu akan suatu urusan, tapi kukuatir kau tak dapat meluluskan.”
„Asal ada permintaan, tentu kululuskan!” kata Kian Liong. „Betulkah itu?”
„Raja tak pernah bohong!” sahut Kian Liong pula tegas.
“Terima kasih. Aku hanya minta agar saudara angkat kami Bun Thay Lay dilepaskan,” demikian Keh Lok achirnya.
Kian Liong terbelalak matanya. Sungguh tak diduganya kalau orang akan ajukan permintaan itu. Sesaat dia bersangsi.
„Entah dosa apa Bun Thay Lay itu terhadap pemerintah? Mengapa kau begitu
membenCinya, sehingga dia harus di tangkap?” tanya Keh Tok.
„Dia tak bisa dibebaskan. Tapi karena sudah terlanyur aku menyang gupi
padamu, tak dapat ku ingkari. Baik, beginilah, dia takkan kubunuh !”
sahut Kian Liong.
„Kalau begitu, biarlah kami sendiri yang membebaskannya. Tadi kuajukan
permohonan pembebasan, bukan berarti kami tak sanggup melakukannya
sendiri. Soalnya, kami akan menghindari pertumpahan darah, kalau dapat.
Agar hubu ngan kita jangan terganggu,” demikian Keh Lok.
Dengan mata kepala sendiri kemaren raja Boan itu telah saksikan
kepandaian orang-orang HONG HWA HWE Maka tahulah dia, ketua HONG HWA
HWE itu tidak ber-main-main . Katanya kemudian: „Kutahu kebijaksanaanmu
itu. Empat hari lagi, ku-akan kembali kekota raja. Mungkin sukar bagimu
untuk menolongnya. Terus terang kukatakan, orang itu tak ku-idinkan
terlepas dari tanganku. Kalau kau berkeras membebaskan, empat hari lagi
akan kutitahkan membunuhnya”.
Tapi Keh Lok tak gentar, katanya dengan menyala-nyala : „Kalau suko kami
itu kaubunuh, kukuatir kau akan tak enak tidur tak enak makan”.
„Kalau dia tak dibunuh, hatiku juga makin tak tente ram”, jawab Kian Liong dengan tawar.
„Ah, dengan demikian, kemuliaan yang kau ken jam itu, tak melebihi
kenikmatan kehidupanku yang bebas lepas bagaikan ajam hutan itu”, ujar
Keh Lok.
Kian Liong tak mau urusan Bun Thay Lay disinggung singgung lagi, dia alihkan pembicaraan.
„Berapa usiamui sekarang?” tanyanya lantas.
„Duapuluh lima”, sahut Keh Lok.
„Ah, aku lebih tua dua0 tahun. Jadi kau lahir sewaktu aku dinobatkan.
Sewaktu kau dewasa, kini aku sudah setengah umur. Ah, segala kebesaran
dan kemuliaan itu, kalau orang sudah sampai ajalnya, pun; akan kembali
ke asalnya lagi,” Kian Liong menarik napas dalamdua.
Kembali keduanya ber-jalandua sebentar.
“Kau mempunyai berapa orang isteri?” tanya Kian Liong. Dan tanpa tunggu
jawaban dia melolos sebentuk mainan dari batu giok, terus katanya lagi:
„Batu permata ini, mus tika yang jarang terdapat didunia. Ambillah
untuk isterimu.”
Tapi Keh Lok tak mau menerima. “Aku belum beristeri,” sahutnya.
Kian Liong ter-bahakdua. „Haha, rupanya kau terlalu tinggi permintaan,
maka sampai kini belum beristeri. Kau ambillah ini, biar kau peruntukkan
tanda-pengikat bagi Calon isteri mu,” demikian katanya.
Dibawah sinar rembulan, batu giok itu ber-kilauduaan Ca hajanya. Ketika
menyambutinya, Keh Lok rasakan tangannya menjadi hangat. Kiranya itulah
sebuah mustika yang dapat mengeluarkan hawa hangat. Diatas giok itu
terukir beberapa baris huruf emas yang berbunyi :
(Page cut)
„Kalau tak kuketahui bagaimana peribadimu, tak berani kuberikan mustika
ini, apalagi kuminta kau berikan pada Calon isterimu,” dengan tertawa
Kian Liong berkata. Kemudian katanya pula: „Sekalipun 4 baris sajak itu
tak begitu bagus, namun maknanya mengandung kebenaran.” „Cinta murni
tetap abadi, kekerasan akan menemui ke gagalan” tanpa merasa Tan Keh Lok
membaCanya pula dengan berbisik. Dia merenung, dan entah bagaimana
pikiran nya jauh melayang dua. Rasa tawar dan sedih menCengkeram
sanubari, sehingga kalau tak malu, mau rasanya dia menangis.
„Dasar bersuami isteri itu adalah Cinta menCintai sehidup | semati
sampai kakidua dan ninidua. Kekerasan akan membawa keretakan. Rasanya
ujar orang kuno itu tepatlah,” kata Kian Liong.
tiga Keh Lok segan mendengarkan, lalu menyimpan giok itu seraja
menghaturkan terima kasih dan minta diri. Setelah memberi hormat, dia
terus akan berlalu. Kian Liong kelihatan melambaikan tangannya dan
berkata: “Baik-baik lah kau men jaga, diri.”
Keh Lok berpaling untuk mengunyuk hormat lagi, lalu pergi.
Tiba-tiba Pek Cin melangkah kehadapannya, katanya: “Tadi kau telah menolong jiwaku, entah bagaimana akan dapat kubalasnya.”
„Pek-locianpwe terlalu merendah diri, kita sekaum persilatan. Kalau ada
kesusahan, seharusnya saling tolong, itu sudah jamaknya. Mengapa
locianpwe harus mengucapkan begitu,” sahut Keh Lok.
Sekeluarnya dari situ, karena masih ada urusan, Keh Lok kembali. lagi
kegedung keluarganya, untuk mendapatkan Swi Ing. Katanya: „Kurasa koko
tentu berada di taman 'An Lan Wan' untuk menyambut baginda. Kurasa dia
tentu sibuk, baik lain kali kujumpainya. Swi-kho, apa Yang kau
inginkan, bilanglah, tentu kukerjakan.”
(Page cut)
„Hal itu rasanya tak mudahlah. Eh, ja, mana si Ceng Hwa dan Uh Si? Kau panggillah mereka kemari,” kata Keh Lok dengan tertawa.
Ceng Hwa dan Uh Si adalah dua orang budyang lain, kawan Keh Lok bermain semasa kecil.
“Uh Si telah meninggal pada tahun yang lalu. Ceng Hwa masih disini. Biar kupanggil dia,” kata Swi Ing.
Belum lama Swi Ing berlalu, Ceng Hwa sudah munCul. Tampak oleh Keh Lok
bagaimana kawannya bermain itupun kini sudah menjadi seorang gadis
dewasa.
“Sam-koan!” teriak Ceng Hwa dengan berlinangdua air mata.
„Ai, kau sudah begini besar. Bagaimana Uh Si meninggal nya?” tanya Keh Lok.
„Ia bunuh diri terjun kelaut,” kata sibudyang . „Mengapa?” Keh Lok terkejut.
„Jiloya mau mengambilnya jadi gundik, dia tak mau,” jawab Ceng Hwa
setelah mengetahui tak ada lain orang lagi. Setelah itu ia menangis:
“Urusan kami taCi beradik, tak usahlah membohongi kau. Uh Si sangat
akrab dengan Tan Cin Tiong, salah seorang kawan bekerja dirumah sini.
Diam-diam mereka menyimpan uang, untuk menebus Uh Si. Se sudah itu,
mereka merenCanakan akan kawin. Tetapi ji-ya mengaCau. Pada suatu hari
dalam keadaan mabuk, dia paksa Uh Si masuk kamarnya. Keesokan harinya,
dengan tersedus Uh Si memberitahukan padaku. Ia malu kepada Cin Tiong.
Kunasehatinya, agar ia tetap sabar menderita. Tapi ternyata diam-diam ia
telah bunuh diri kelaut. Dengan menggerunga Cin Tiong membawa tubuhnya
pulang. Pada sebuah Ciok-say (singa batu) dimuka rumah majikannya, dia
benturkan kepalanya hingga tewas juga.”
Hati Tan Keh Lok seperti diirisdua. Dia geram sekali.
„Tak kunyana koko-ku begitu rendah budinya. Sebenarnya aku hendak
menyumpainya, kini tak sudilah aku. Dimana kuburan Uh Si? Kau antarkan
aku kesana!” kata Keh Lok.
”Dipintu barat, biar besok kuantar,” kata Ceng Hwa.
“Sekarang sajalah,” desak Keh Lok.
”Pada waktu begini pintu kota masih tertutup, tidak dapat melaluinya?” ujar sibudyang .
Keh Lok tersenyum, tiba-tiba ia ulurkan tangannya memegang pinggang
Ceng Hwa, siapa menjadi ke-maluduaan. Tapi pada lain saat, ia rasakan
tubuhnya seperti melayang terbang keluar, terus berada diatas atap.
Seperti dalam impian rasa nya, sekejab saja, sampailah sudah kepintu
barat. Dan sesudah turun ketanah, baru Ceng Tong berani membuka mata.
“Sam Koan, kau belajar ilmu dewa?” kata budyang itu.
”Kau takut tidak tadi?” tanya Keh Lok tertawa.
Ceng Hwa tertawa sembari berjalan kearah kuburan. Teringat akan
perhubungan mereka semasa kecil, tak terasa hati Keh Lok merasa sedih
sekali. Didepan kuburan Uh Si, tig-a kali dia menyura untuk memberi
hormat. Dan ketika itu Ceng Hwa menangis.
”Sam Koan, kalau kau masih dirumah, tentu jiloya takkan berani berbuat begitu,” ratap budyang itu.
Keh Lok hanya termenungdua saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar