Jumat, 23 Maret 2012

Medali Wasiat 24

Jilid 24

Put-sam dan Put-si saling pandang dengan bergelak tertawa, kata Put-si, “Losam, entah dari mana bocah ini dapat belajar beberapa kalimat ocehan penjual obat, lalu sekarang menirukannya untuk memberi nasihat kepada kita, sungguh lucu, hahaha!”

Boh-thian tidak menanggapi lagi, tiba-tiba ia gunakan goloknya untuk mencukil sebatang pedang yang terletak di atas tanah sehingga pedang itu terlempar ke arah Pek Ban-kiam, berbareng ia berseru, “Pek-suhu, Swat-san-pay kalian biasanya harus menggunakan pedang!”

Sungguh sekali-kali tak tersangka oleh Pek Ban-kiam bahwa di saat dirinya terancam bahaya dan tampaknya dalam sekejap lagi tentu akan binasa di bawah tangan kedua saudara Ting, siapa duga mendadak telah muncul seorang penolong yang bukan lain adalah Ciok Tiong-giok, bocah yang selama ini sedang dicari dan hendak dibunuhnya, sudah tentu tidak keruan perasaannya pada saat demikian.

Pedang yang dilemparkan ke arahnya itu adalah tinggalan seorang sutenya yang dibinasakan Ting Put-sam tadi, asal dirinya sudah bersenjata pula, seketika semangatnya akan bertambah berlipat ganda. Maka tanpa bicara lagi segera ia sambar pedang yang melayang ke arahnya itu.

Sebaliknya Ting-Put-sam menjadi murka melihat Boh-thian merintangi tujuannya, bahkan hendak membantu pihak lawan, segera ia mendamprat, “Anak jadah! Bukankah orang she Pek itu hendak menangkap dan membunuh kau? Jika tempo hari aku tidak menolong kau, apakah kau masih dapat hidup sampai sekarang?”

“Ya, betul juga,” sahut Boh-thian sambit memanggut. “Makanya aku pun hendak menasihatkan Pek-suhu ini agar di mana dapat mengampuni orang hendaklah suka mengampuni.”

Dalam pada itu diam-diam Ting Put-si merasa khawatir kalau-kalau Boh-thian membicarakan kejadian di atas perahu, di mana ia telah dikalahkan oleh pemuda itu, hal ini tentu akan sangat menghilangkan pamornya, maka ia pikir bocah ini harus dibinasakan lebih dulu, dengan demikian rahasianya tidak akan terbongkar.

Maka ia lantas membentak, “Kau mengoceh apa di sini? Ini, rasakan!” Kontan ia terus menghantam ke arah Ciok Boh-thian.

Sekali ini Su-popo tiada terdapat di situ, maka Ting Put-si tidak perlu rikuh-rikuh lagi, jurus serangan “Hek-in-boan-thian” (Awan Mendung Memenuhi Langit) yang digunakan ini adalah tipu serangan yang belum pernah diajarkan kepada Boh-thian.

Namun Pek Ban-kiam tidak dapat tinggal diam dan membiarkan Ciok Tiong-giok dihantam mati secara begitu keji, sekali pedangnya bergerak, dengan jurus “Lo-su-hong-sia” (Pohon Tua Mendoyong Miring) segera ia menusuk dari samping.

Di lain pihak ternyata Ciok Boh-thian juga tidak manda diserang, mendadak goloknya membacok dengan jurus “Tiang-cia-ciat-ki (Orang Tua Memotong Ranting), dengan cepat ia menebas tangan Ting Put-si.

Sungguh aneh juga jurus serangan antara golok dan pedang itu mestinya saling berlawanan, yaitu seperti diketahui ilmu golok yang dimainkan Ciok Boh-thian itu adalah ciptaan Su-popo yang bertujuan mengalahkan Swat-san-kiam-hoat.

Tapi sekarang sesudah bergabung dan dimainkan bersama, ternyata telah menimbulkan daya tekanan yang mahadahsyat, hanya sekejap saja Ting Put-si sudah terkurung di bawah ancaman pedang dan golok itu.

“Awas, Losi!” seru Put-sam dengan khawatir. Maksudnya hendak membantu, akan tetapi serangan-serangan gabungan golok dan pedang itu terlalu lihai, apalagi dia sendiri bertangan kosong, biar bagaimanapun juga susah menembus jaringan sinar pedang dan golok.

Sudah tentu yang lebih-lebih kaget adalah Ting Put-si, untung pada saat berbahaya itu ia sempat menjatuhkan tubuh ke samping, lalu bergelindingan lolos keluar kalangan. Waktu ia melompat bangun pula, tertampaklah di antara pedang dan golok lawan sana masih bertebaran sutra-sutra putih panjang. Ketika ia meraba janggutnya sendiri, ternyata jenggotnya yang putih panjang itu sudah terkupas sebagian.

Dengan sendirinya Ting Put-si terkejut dan gusar pula, Ting Put-sam juga melongo kaget, Pek Ban-kiam pun tidak menduga, hanya Ciok Boh-thian saja masih tidak sadar bahwa serangannya tadi sesungguhnya sangat lihai dengan tenaga dalam yang dahsyat sehingga telah mengguncangkan perasaan tiga jago terkemuka dunia persilatan di depannya itu.

“Baik, kita pun memakai senjata,” akhirnya Ting Put-sam berseru. Segera ia jemput dua batang pedang yang berserakan di atas tanah, ia berikan sebatang kepada Put-si, lalu berseru pula, “Hayolah, Losi, pikir apa lagi? Majulah bersama!”

Dan sekali pedangnya bergerak, segera ia mendahului menusuk Ciok Boh-thian.

Memang Ciok Boh-thian masih hijau dan tiada berpengalaman, maka ia menjadi kelabakan ketika diserang, ia bingung cara bagaimana harus menangkisnya. Syukurlah Pek Ban-kiam lantas membantunya dengan jurus serangan “Siang-tho-se-lay”, serangan ini seketika menyadarkan Ciok Boh-thian, segera ia mengeluarkan jurus “Jian-kin-ap-tho” ajaran Su-popo, dengan punggung golok ia mengetok ke bawah, begitu hebat daya tekanannya sehingga Ting Put-sam hampir-hampir tidak kuat menahan pedangnya. Untung Ting Put-si cepat menolongnya.

Waktu Pek Ban-kiam menyerang pula dengan jurus “Hong-sah-hong-bong”, segera Boh-thian mengikuti dengan jurus “Tay-hay-tim-sah”, kerja sama antara golok dan pedang itu sedemikian rapat sehingga Ting Put-sam dan Ting Put-si semakin terdesak, sampai-sampai mereka berkaok-kaok kelabakan.

Tenaga dalam Ciok Boh-thian memangnya sangat kuat, ilmu silat yang dipelajarinya juga sangat bagus, hanya saja kurang latihan dan belum ada pengalaman dalam medan pertempuran, sebab itulah terkadang ia menjadi bingung menghadapi serangan lawan dan tidak tahu harus menangkis dengan jurus serangan apa.

Kim-oh-to-hoat yang dipelajari Boh-thian itu, kecuali jurus ke-73, jurus-jurus yang lain adalah khusus ditujukan untuk menghadapi Swat-san-kiam-hoat. Sewaktu Su-popo mengajarnya juga selalu memberi petunjuk cara mengatasi serangan Swat-san-kiam-hoat sejurus demi sejurus. Tapi sekarang dalam keadaan bingung ia menjadi tidak ingat lagi kepada ajaran Su-popo, bila musuh menyerang, tanpa pikir lagi ia hanya menirukan Pek Ban-kiam saja, jurus serangan apa yang dimainkan Pek Ban-kiam, segera ia juga keluarkan jurus serangan lawannya menurut petunjuk Su-popo. Jadi kalau Pek Ban-kiam memainkan jurus “Lau-ki-heng-sia”, maka ia lantas mengeluarkan jurus “Tiang-cia-ciat-ki”, bila Pek Ban-kiam gunakan “Siang-tho-se-lay”, segera ia pakai jurus “Jian-kin-ap-tho”.

Walaupun Kim-oh-to-hoat itu diciptakan Su-popo sebagai tumbal penangkal Swat-san-kiam-hoat, justru karena tumbal itulah maka bila keduanya digunakan secara bersama-sama maka setiap lubang kelemahan dari masing-masing to-hoat dan kiam-hoat itu menjadi tertutup rapat dan jadilah semacam ilmu silat yang mahadahsyat dan tiada taranya.

Semula Pek Ban-kiam merasa ragu-ragu dan tidak habis mengerti akan kelakuan Ciok Boh-thian itu. Tapi sebagai seorang tokoh silat terkemuka, sesudah berlangsung beberapa jurus ia mengetahui ilmu golok yang dimainkan Ciok Boh-thian itu hakikatnya merupakan jodoh dari ilmu pedangnya sendiri, bilamana kedua senjata sudah dimainkan bersama, maka luar biasa daya tekanannya kepada pihak musuh.

Yang lebih hebat lagi adalah tenaga dalam bocah she Ciok itu seakan-akan membawa semacam kekuatan yang kelihatan, yang makin lama makin luas daya tahannya.

Dalam hal ilmu silat maupun pengetahuan sudah tentu Ting Put-sam dan Ting Put-si lebih atas daripada Pek Ban-kiam, maka dengan sendirinya mereka pun sudah mengetahui keadaan yang luar biasa pada diri Ciok Boh-thian itu. Cuma saja watak kedua saudara she Ting itu memang bengis dan galak, betapa pun mereka tidak mau mengaku kalah, bahkan mereka berharap ilmu golok aneh yang dimainkan Ciok Boh-thian itu terbatas jurus serangannya, maka mereka masih terus bertahan dengan mati-matian untuk mencari kesempatan.

Pek Ban-kiam juga khawatir kalau-kalau Ciok Boh-thian cuma “macan kertas” saja, jangan-jangan hanya beberapa jurus serangan permulaan saja yang lihai, habis itu tak berguna lagi dan berbalik akan dikalahkan oleh kedua saudara Ting. Melihat gelagatnya adalah lebih menguntungkan kalau melancarkan serangan kilat dulu.

Karena pikiran demikian, segera ia melancarkan serangan dengan jurus “Am-hiang-soh-eng” (Harum Kurang, Bayangan Jarang), batang pedangnya gemetar, sinar pedangnya gemilapan, itulah sejurus Swat-san-kiam-hoat yang paling hebat dan dapat melukai lawan di luar sadar orang.

Untuk mengikuti jurus Swat-san-kiam-hoat itu, segera Ciok Boh-thian juga mengayun goloknya menebas dari samping dengan jurus “Beng-goat-ciau-su” (Rembulan Terang Menyorot Pohon), goloknya juga tampak gemetar dan menyambar cepat dengan membawa tekanan tenaga dalam yang dahsyat.

Maka terdengarlah dua kali suara jeritan, pundak Ting Put-si terkena golok, lengan Ting Put-sam juga tertusuk pedang. Kedua orang secepat kilat lantas melompat keluar kalangan.

Ting Put-sam masih sempat jambret si Ting Tong dan dengan cepat sekali lantas menghilang di balik hutan di sebelah timur sana. Sebaliknya Ting Put-si terus melarikan diri ke balik bukit sebelah barat.

Hanya sekejap saja keadaan menjadi sunyi kembali, darah berceceran di atas tanah dengan lima sosok mayat yang sudah tak bernyawa. Para murid Swat-san-pay saling pandang-memandang dengan rasa curiga.

Pek Ban-kiam melirik ke arah Ciok Boh-thian dengan rasa benci, malu dan heran pula, tapi juga tidak kurang rasa terima kasihnya. Coba kalau bocah ini tidak membantunya, tentu saat ini jiwa belasan orang Swat-san-pay sudah melayang di pulau terpencil ini. Sungguh ia masih merasa ngeri bila teringat betapa ganas dan keji serangan-serangan kedua saudara Ting yang tidak kenal ampun tadi.

Sesudah menghela napas lega, kemudian Ban-kiam bertanya, “Ilmu golokmu barusan ini adalah ajaran siapa?”

“Ajaran Su-popo,” jawab Boh-thian. “Seluruhnya ada 73 jurus, lebih banyak satu jurus daripada Swat-san-kiam-hoat kalian dan tiap-tiap jurusnya adalah penangkal daripada Swat-san-kiam-hoat.”

“Hm, tiap-tiap jurus adalah penangkal Swat-san-kiam-hoat? Ha, apakah tidak terlalu besar mulutnya?” jengek Pek Ban-kiam. “Siapakah Su-popo itu?”

“Su-popo adalah cikal bakal Kim-oh-pay kami, beliau adalah guruku, aku adalah murid pertama angkatan kedua Kim-oh-pay,” sahut Boh-thian.

Pek Ban-kiam menjadi gusar mendengar jawaban itu, jengeknya pula, “Hm, kau boleh tak mengakui perguruan asalmu, mengapa kau masuk lagi ke dalam perguruan Kim-oh-pay apa segala? Hm, Kim-oh-pay, nama ini belum pernah kudengar, di dunia persilatan juga tiada pernah terdaftar nama ini.”

Boh-thian masih tidak tahu kalau Pek Ban-kiam sudah gusar, ia menjelaskan pula, “Menurut berita suhuku, katanya Kim-oh berarti sang surya, bila matahari terbit, maka mencairlah salju di atas gunung, sebab itu bila anak murid Swat-san-pay kebentur dengan Kim-oh-pay kami, maka tiada jalan lain bagi kalian kecuali ... kecuali ....”

Mestinya ia hendak berkata sebagaimana pernah diucapkan oleh Su-popo, yaitu “kecuali berlutut dan menyembah minta ampun”. Tapi betapa pun Boh-thian bukanlah pemuda tolol, sebelum kata-kata itu diucapkan, mendadak ia ingat bahwa kata-kata itu tidaklah pantas didengar oleh murid-murid Swat-san-pay, maka mendadak ia berhenti dan tidak melanjutkan kata-katanya.

Sudah tentu Pek Ban-kiam kurang senang, dengan muka masam ia mendesak dengan suara bengis, “Bila anak murid Swat-san-pay kami ketemukan orang Kim-oh-pay kalian lantas bagaimana? Kecuali apa, lekas katakan!”

Boh-thian menggeleng, sahutnya, “Bila kuterangkan, tentu kau akan marah, aku pun mengira ucapan Suhu ini agak tidak tepat.”

“Kecuali mengaku kalah dan lari terbirit-birit, demikian hendak kau katakan, bukan?” desak Ban-kiam pula.

“Ya, kukira tiada berbeda jauhnya maksud ucapan suhuku itu dengan kata-katamu ini,” sahut Boh-thian. “Tapi hendaklah Pek-suhu jangan gusar, mungkin suhuku hanya bergurau saja dan janganlah dianggap sungguh-sungguh.”

Sebenarnya Pek Ban-kiam masih kesakitan karena kakinya dan pundaknya kena pukulan Ting Put-si tadi, tapi demi mendengar uraian Ciok Boh-thian yang menghina nama baik perguruannya, sudah tentu ia tidak tahan lagi, segera ia angkat pedangnya dan berseru, “Baik, sekarang juga aku ingin belajar kenal dengan ilmu silat Kim-oh-pay kalian, aku ingin tahu cara bagaimana kau akan menundukkan Swat-san-kiam-hoat kami.”

Tapi begitu pedangnya terangkat, seketika ia merasa lengannya sakit tidak kepalang dan pedang hampir-hampir terlepas dari cekalannya.

Pada saat itulah seorang murid Sat-san-pay bernama Pau Ban-yap telah tampil ke muka dan berseru, “Bocah she Ciok, tentu kau tidak kenal lagi kepada susiokmu ini, biarlah aku saja yang belajar kenal dengan kepandaianmu!”

“Pau-sute, kau mundur saja, biar aku yang melayani dia,” seru Ban-kiam. Segera ia pindahkan pedang ke tangan kiri lalu berkata pula, “Nah, bocah she Ciok, mulailah!”

“Sudahlah, kakimu dan pundakmu sudah terluka, kita tak perlu bertanding lagi, apalagi aku pun pasti bukan tandinganmu,” demikian sahut Boh-thian.

“Kau berani menghina Swat-san-pay, mengapa tidak berani bertanding?” bentak Ban-kiam dan kontan pedangnya mendahului menyerang dengan jurus “Bwe-swat-ceng-jun” walaupun ia menyerang dengan tangan kiri sehingga tidak segesit tangan kanan, namun serangannya itu tetap tidak kurang lihainya.

Cepat Boh-thian angkat golok karatnya dan balas dengan jurus “Bwe-swat-hong-he” ajaran Su-popo. Ternyata jurus serangan ini sangat bagus dan merupakan penangkal bagi jurus “Bwe-swat-ceng-jun” yang dilontarkan Pek Ban-kiam itu.

Keruan Ban-kiam terperanjat, cepat ia ganti serangan dan dengan jurus “Bang-gwat-cau-tit” (Meniup Seruling di Malam Terang Bulan). Tapi Boh-thian lantas keluarkan jurus “Jik-jit-kim-koh” (Genderang Berbunyi di Siang Bolong).

Kembali Ban-kiam terkejut, tampaknya golok lawan sudah menyambar tiba dan cepat menuju ke titik kelemahan jurus serangannya sendiri itu, tanpa pikir lagi segera ia ganti serangan lagi. Untunglah Boh-thian tidak paham di mana letak kebagusan serangannya sendiri dari tidak mendesak lebih jauh, sebaliknya ia pun segera ganti jurus serangan begitu melihat Ban-kiam ganti serangan.

Padahal dengan jurus “Jik-jit-kim-koh” itu Boh-thian sudah berada di pihak penyerang, tak peduli apakah Ban-kiam ganti jurus serangan atau tidak, asalkan Boh-thian mendesak maju, tentu Ban-kiam akan dipaksa melangkah mundur beberapa tindak. Dalam keadaan kakinya tidak leluasa bergerak, mau tak mau Ban-kiam pasti akan menghadapi bahaya atau terpaksa ia harus menyerah kalah. Tapi karena Boh-thian tidak paham letak kebagusan serangannya itu telah terbuang dengan percuma.

Diam-diam Ban-kiam bersyukur atas dirinya sendiri. Malahan sebagian murid Swat-san-pay yang menyaksikan di samping itu pun dapat melihat keadaan demikian tadi dan diam-diam mereka pun merasa bersyukur bagi sang suheng.

Akan tetapi beberapa jurus kemudian, kembali Pek Ban-kiam menghadapi bahaya lagi.

Kim-oh-to-hoat itu benar-benar sangat aneh, tiap-tiap jurusnya ternyata benar-benar merupakan penangkal bagi Swat-san-kiam-hoat. Tak peduli betapa pun hebat serangan Pek Ban-kiam selalu dapat dipatahkan oleh Ciok Boh-thian, hanya dengan golok karatan saja Boh-thian tetap di pihak yang lebih unggul.

Kira-kira sudah lebih tiga puluh jurus, ketika Ciok Boh-thian sedang membacok dengan goloknya ke pundak kiri Pek Ban-kiam, mestinya Ban-kiam dapat mengayun kakinya untuk menendang pergelangan tangan Boh-thian yang memegang senjata itu. Akan tetapi baru saja kakinya terangkat sedikit, seketika bagian yang bekas kena pukulan Ting Put-si itu terasa kesakitan luar biasa, saking tak tahan sampai Ban-kiam merasa lemas dan tekuk lutut, lekas-lekas ia menyangga dengan tangan kanan di atas tanah.

Dalam keadaan demikian terang dia tak dapat menghindarkan bacokan Ciok Boh-thian tadi. Di luar dugaan bacokan Ciok Boh-thian itu ternyata tidak diteruskan, bahkan ia berkata, “Biarlah sekali ini tak dianggap saja.”

Kesempatan itu segera digunakan Pek Ban-kiam untuk melompat bangun.

Sekilas itu timbul macam-macam pikiran di dalam benaknya, “Bocah ini sedari tadi sudah dapat mengalahkan aku, mengapa setiap jurus serangannya selalu tak diteruskan? Tampaknya dia seperti tidak pernah belajar Swat-san-kiam-hoat. Barusan sudah terang dia tadi menundukkan aku, mengapa dia sengaja mengalah padaku? Padahal bocah she Ciok ini biasanya sangat licik dan kejam, bila aku sudah dibunuh olehnya, terang para Sute tiada satu pun yang mampu menandingi, dia tidak tega membunuh, apakah sebabnya? Jangan-jangan, ya, jangan-jangan dia benar-benar bukanlah Ciok Tiong-giok?”

Berpikir sampai di sini, tanpa pikir pedang yang dipegang tangan kiri itu lantas menusuk ke depan dengan jurus “Tiau-thian-sik (gaya pembukaan). Seketika terdengar suara heran para murid Swat-san-pay. Kiranya “Tiau-thian-sik” itu tidak termasuk di dalam ke-72 jurus Swat-san-kiam-hoat, tapi adalah salah satu kepandaian dasar bagi setiap murid Swat-san-pay yang mulai belajar, maka tiada dapat digunakan untuk menandingi musuh. Sebab itulah maka para murid Swat-san-pay yang lain bersuara heran, mereka menyangka sang Suheng terluka parah dan tidak sanggup memainkan pedangnya lagi.

Tak tersangka Ciok Boh-thian juga terkesima atas serangan Pek Ban-kiam itu.

Maklum ia tidak pernah melihat jurus “Tiau-thian-sik” ini, Su-popo juga tidak pernah mengajarkan padanya, maka ia menjadi bingung cara bagaimana harus menangkisnya.

Akan tetapi di hadapan jago sebagai “Gi-han-se-pak” Pek Ban-kiam mana boleh lawannya main ayal-ayalan. Hanya sedikit tertegun saja secepat kilat pedang Ban-kiam sudah menyambar tiba dan tepat menjuju di depan ulu hati Ciok Boh-thian. “Bagaimana sekarang?” bentaknya.

“Aneh, ilmu pedang apakah seranganmu ini? Mengapa aku tidak pernah tahu?” sahut Boh-thian.

Mau tak mau Ban-kiam merasa kagum juga atas ketabahan Boh-thian, walaupun jiwanya terancam, tapi toh masih sempat bertanya tentang ilmu pedang apa segala. Segera ia berkata, “Apa benar kau tidak pernah mempelajarinya?”

Boh-thian menjawab dengan menggeleng kepala.

“Saat ini bila aku hendak mencabut nyawamu adalah terlalu mudah bagiku,” ujar Ban-kiam, “Akan tetapi seorang laki-laki harus dapat membedakan antara dendam dan budi secara tegas. Tadi kau telah menolong aku di kala aku dikerubut kedua saudara she Ting. Sekarang aku hanya kembalikan budimu itu, kita satu jiwa bertukar satu jiwa, jadi masing-masing tiada punya utang apa-apa. Sejak kini kau dilarang mengatakan lagi bahwa Kim-oh-to-hoat adalah penangkal Swat-san-kiam-hoat.”

“Ya, memangnya tadi aku pun sudah bilang tak sanggup melawan kau,” sahut Boh-thian sambil memanggut. Tapi mendadak ia berkata pula, “Eh, Pek-suhu, sekarang aku sudah paham. Seranganmu ini agaknya toh tidak susah untuk ditangkis.”

Habis berkata sekonyong-konyong dadanya melekuk sehingga terlepas dari ancaman ujung pedang, berbareng goloknya lantas menyampuk dari samping. “Plok”, golok dan pedang kebentur, karena tenaga dalam Boh-thian memang sangat dahsyat, kontan pedang Pek Ban-kiam terlepas dan patah menjadi dua.

Air muka Ban-kiam berubah merah padam, cepat ujung kaki mencukit, sebatang pedang yang terletak di tanah lantas mencelat dan dapat dipegangnya pula. Menyusul “sret-sret-sret” tiga kali, ia menyerang dengan cepat, semuanya adalah jurus serangan yang paling umum dan mesti dipelajari setiap murid Swat-san-pay yang mulai belajar. Tapi bagi Ciok Boh-thian serangan-serangan yang mudah itu malah membingungkannya, ia menjadi kelabakan dan tak dapat menangkis lagi, tahu-tahu pergelangan tangan sudah terkena pedang dan goloknya terlepas dari cekalan.

Pada saat lain ujung pedang lawan sudah menjuju di depan ulu hatinya pula.

Waktu Ban-kiam menyendal pedangnya, seketika baju di bagian dada Boh-thian itu tergores sebuah lingkaran kecil. Ketika pedangnya ditarik kembali, tiga cuil kain bundar kecil lantas jatuh bertebaran.

Maka tertampaklah baju di dada Ciok Boh-thian telah berlubang sebesar mangkuk, baju luar, baju tengah dan baju dalam telah tembus kena digores sebuah lubang bundar sehingga kelihatan kulit dadanya.

Ketika pedang Ban-kiam bergerak pula, mendadak Boh-thian berteriak mengaduh, ternyata dadanya sendiri sudah tertusuk enam titik secara berjajar dalam bentuk enam sayap. Darah pun merembes keluar dari luka-luka itu. Untung tusukan pedang itu tidak dalam sehingga tidak terlalu sakit.

“Jurus ‘Swat-hoa-liok-cut’ yang bagus!” sorak para murid Swat-san-pay.

Pek Ban-kiam juga lantas berkata, “Nah, sekarang silakan pulang dan beri tahukan kepada gurumu bahwa Swat-san-pay yang telah mencederai kau ini.”

Rupanya Ban-kiam melihat Boh-thian memang benar-benar tidak paham beberapa jurus kepandaian dasar Swat-san-pay tadi, pula sikapnya dan gerak-geriknya, perangainya dan tutur katanya juga sama sekali berbeda daripada Ciok Tiong-giok, maka ia pikir, “Dia telah menyelamatkan jiwaku tadi, tak peduli dia Ciok Tiong-giok atau bukan, yang pasti hari ini tak dapat aku membunuh dia. Jurus ‘Swat-hoa-liok-cut’ ini hanya sekadar sebagai peringatan bagi Kim-oh-pay mereka agar jangan lagi bermulut besar.”

Habis itu, bersama para sutenya segera mereka mengangkat jenazah-jenazah kelima sutenya yang terbunuh tadi. Karena berduka atas kematian para sutenya, pula malu atas dirinya sendiri yang tak dapat membela sute-sute itu, tanpa merasa Ban-kiam mencucurkan air mata. Katanya dengan dendam, “Kedua bangsat tua Put-sam dan Put-si, sakit hati Swat-san-pay ini pasti akan menuntut balas, diharap saja kalian jangan mati terlalu cepat.”

Lalu ia memberi tanda berangkat, beramai-ramai mereka lantas bertindak keluar hutan sana, tiada seorang pun yang menoleh lagi kepada Ciok Boh-thian.

Melihat darah berceceran di atas tanah, beberapa batang pedang patah berserakan di sana sini, keadaan sunyi senyap, hanya suara beberapa ekor burung gaok terdengar terbang melayang di atas pohon sana, mau tak mau Boh-thian merasa seram juga.

Segera ia jemput kembali goloknya, lalu berseru, “A Siu! A Siu!”

Ia coba mencarinya di balik pohon besar tempat mereka tadi, tapi A Siu tidak diketemukan. Ia pikir mungkin si nona sudah pulang lebih dulu. Segera ia pun kembali ke gua dengan langkah cepat sambil berseru, “A Siu! A Siu!”

Keruan Boh-thian menjadi gugup, ia lihat di atas tanah di dalam gua itu ada huruf-huruf yang ditulis dengan arang, tapi dia adalah pemuda buta huruf, sudah tentu tidak paham apa arti tulisan itu. Ia menduga Su-popo dan A Siu tentu sudah pergi semua meninggalkan dia.

Semula Boh-thian merasa sangat kesepian, Tapi sejak kecil ia sudah biasa hidup seorang diri, rasa sepi itu tidak lama kemudian pun tak dirasakannya lagi. Sekarang luka di dadanya sudah tidak berdarah lagi. Ia robek sepotong kain dari ujung baju luar untuk menutupi lubang bundar di bagian dada itu. Katanya di dalam hati, “Semuanya sudah pergi, biarlah aku pun pergi saja dari sini, aku akan mencari ibu dan Si Kuning.”

Sekarang dia sudah terhindar dari macam-macam persoalan orang lain yang membingungkan, ia merasa lega dan gembira. Segera ia selipkan golok karatan diikat pinggangnya, lalu menuju ke tepi sungai.

Sampai di tepi sungai, tertampak ombak mendebur-debur, di tepi sungai tiada sebuah kapal apa pun. Boh-thian terus mencari dengan menyusur pantai. Ci-yan-to itu adalah sebuah pulau karang yang tidak luas, maka tiada satu jam lamanya Boh-thian sudah mengelilingi pulau kecil itu dan tetap tiada tampak bayangan sebuah kapal pun. Sepanjang mata memandang juga tiada kelihatan bayangan layar sesuatu perahu yang berlayar di sepanjang sungai.

Kiranya Ci-yan-to terletak di suatu muara Sungai Tiangkang yang bercabang, arus di situ sangat keras, permukaan sungai juga sempit, maka jarang sekali ada kapal atau perahu yang mendekati pulau kecil itu.

Sambil berdiri di tepi sungai, diam-diam Boh-thian memikir, “Terpaksa aku harus tinggal lagi beberapa hari di sini, akan kutunggu kalau-kalau ada kapal atau perahu yang lalu di sini. Kalau tidak, boleh juga aku akan belajar berenang agar lain kali bila aku didorong orang dan kecemplung lagi ke dalam sungai, tentu aku takkan khawatir dan takkan minum air lagi.”

Kemudian terpikir pula, “Ya, buat apa aku mesti buru-buru pergi dari sini? Orang-orang itu seperti Ting-samyaya, Ting-siyaya, si Ting-ting Tong-tong, Pek-suhu, dan lain-lain lagi, semuanya ingin membinasakan diriku. Untuk berkelahi aku tak dapat melawan mereka, kalau sembunyi di sini kan lebih selamat.”

Tengah termenung-menung, mendadak terdengar suara keresek, dari semak-semak di samping kakinya tiba-tiba melompat keluar seekor kelinci liar. Memangnya Boh-thian sedang kelaparan karena setengah harian belum makan apa-apa, selama beberapa hari terakhir ini pun tidak berani menyalakan api untuk memasak, yang dimakan melulu kesemak belaka. Sekarang melihat seekor kelinci gemuk, tentu saja ia sangat girang, segera ia cabut goloknya dan memburu terus menusuk.

Namun kelinci itu teramat gesit, sedikit meloncat ke samping, seketika tusukan Boh-thian itu mengenai tempat kosong. Tapi cepat Boh-thian memutar kembali goloknya terus menebas, kontan kelinci itu tertebas menjadi dua potong.

Selagi Boh-thian hendak mengambil kelinci yang sudah mati itu, tiba-tiba terkilas sesuatu di dalam benaknya, “Tebasanku barusan ini bukankah adalah jurus ‘Ting-cia-cit-ki’ ajaran Su-popo? Ya, memang betul adalah jurus serangan itu. Jika demikian, jadi jurus ini tidak melulu untuk mengatasi ‘Lau-ki-hong-sia’ dari Swat-san-kiam-hoat, tetapi masih dapat digunakan pula pada lain tempat.”

Lalu terpikir lagi olehnya, “Tadi waktu aku menusuk kelinci ini dengan golok, caraku adalah sama dengan jurus ilmu pedang yang dimainkan Pek-suhu untuk mengalahkan aku itu. Padahal kelinci ini toh tidak pernah belajar ilmu golok atau ilmu pedang segala, tapi sedikit berkelit saja dia sudah menghindarkan tusukanku. Ah, tahulah, bila aku diserang orang aku boleh menangkis atau berkelit dan tidak pasti harus menggunakan jurus atau cara-cara tertentu untuk menangkisnya.”

Maklumlah, selama hidup Ciok Boh-thian belum pernah mendapat pelajaran ilmu silat secara teratur, Cia Yan-khek dan Ting Put-si telah mengajarkan ilmu silat padanya, tapi mereka itu tiada punya maksud tujuan baik. Ting Tong dan Su-popo telah mengajarkan Kim-na-jiu-hoat dan Kim-oh-to-hoat padanya, walaupun mereka tiada bermaksud jelek, tapi juga mempunyai tujuan tertentu, yaitu seorang berharap dia dapat menyelamatkan diri, sedangkan seorang lagi ingin Boh-thian menggunakan Kim-oh-to-hoat untuk menangkan Swat-san-kiam-hoat, adapun mengenai bagaimana cara menghadapi musuh, cara bagaimana menyerang dan menghindari serangan serta kepandaian-kepandaian dasar ilmu silat pada umumnya sama sekali tak pernah diajarkan kepadanya. Sebab itulah maka Boh-thian dapat melayani Swat-san-kiam-hoat yang dimainkan Pek Ban-kiam secara lihai itu, sebaliknya malah kelabakan dan tak bisa menangkis jurus “Tiau-thian-sik” yang sepele.

Sekarang secara kebetulan golok Ciok Boh-thian telah menebas kelinci sehingga berhasil menyelami jalan ilmu silat yang sebenarnya, bahwasanya ilmu silat itu adalah hidup dan tidak mati dalam setiap gerak atau jurus tertentu, tapi boleh berubah dan bergerak menurut keadaan.

Teori demikian sebenarnya sangatlah dangkal, sebabnya Ciok Boh-thian tidak paham adalah bukan lantaran dia bodoh, soalnya sejak mula dia sudah disesatkan oleh macam-macam ajaran yang diberikan si Ting Tong, Ting Put-si dan Su-popo secara kaku dan mati.

Malam itu waktu di kelenteng Toapekong meski Bin Ju juga pernah bergebrak dan seakan-akan sengaja mengajar kepada Ciok Boh-thian, tapi tatkala mana kedua orang tiada bicara barang sepatah kata pun, Bin Ju hanya membantunya memahami cara menggunakan jurus serangan Swat-san-kiam-hoat, dengan sendirinya di mana letak “hidupnya” ilmu silat itu tidak sampai diajarkan padanya.

Sekarang hal ini mendadak disadari sendiri olehnya, keruan ia sangat girang. Pikirnya pula, “Tempo hari waktu berada di atas perahu Suhu telah memberikan petunjuk padaku agar menirukan setiap jurus yang dimainkan Ting-siyaya, tipu serangan apa yang dilontarkan beliau, segera aku pun menirukan dengan tipu serangan yang sama. Cara demikian terang seperti orang bermain-main saja. Coba bilamana Ting-samyaya juga berada di situ, lalu beliau mendadak menyerang padaku, kan bisa celaka kalau aku tetap melayani Ting-siyaya dengan tipu serangan yang sama-sama. Maka terpaksa aku harus ganti tipu serangan yang lain untuk menyambut pukulan Ting-siyaya dan sekaligus balas menyerang Ting-samyaya.”

Begitulah, sekali otaknya menjadi encer, segera segala ilmu silat yang pernah dipelajarinya lantas diingatkannya kembali sejurus demi sejurus, saking asyiknya, tanpa merasa kaki dan tangannya lantas bergerak-gerak sendiri seperti sedang menari-nari. Ia tidak pikirkan lagi itu jurus apa dan cara bagaimana harus menggunakannya, tapi apa yang dia ingat lantas dimainkannya menurut pikirannya, apa tangannya yang terangkat atau kakinya yang bergerak, makin lama makin bersemangat, sampai akhirnya debu pasir dan daun kering ikut bertebaran terbawa oleh angin yang ditimbulkan oleh tenaga-tenaga dalamnya yang dikeluarkan itu. Bahkan berpotong-potong batu sebesar kepalan juga mencelat ke udara tercukit oleh kakinya, pepohonan juga terguncang.

Waktu batu-batu itu jatuh kembali ke atas kepalanya, apakah Ciok Boh-thian menolaknya ke samping dengan tenaga pukulannya ke atas atau melompat untuk berkelit, keadaan demikian menjadi mirip tengah bertempur saja.

Makin lama makin bersemangat dan batu yang tercukit oleh kakinya juga tambah banyak. Sampai akhirnya, tak peduli batu-batu menghambur dari arah mana tentu dapat ditolaknya terpental atau dihindarkannya dengan sangat mudah.

Sekonyong-konyong terdengar suara “krak”, sebatang ranting kayu yang juga mencelat ke udara telah patah terbentur batu, lalu jatuh ke bawah berbareng dengan batu itu. Secepat kilat tangan kiri Boh-thian menyambar tangkai kayu itu, menyusul terus menyabet ke samping sehingga tepat batu itu kena disampuk dan mencelat jauh-jauh.

Untuk sejenak Boh-thian melengak sendiri, katanya di dalam hati, “Bukankah gerakan ini adalah jurus serangan yang dimainkan dengan tangan kiri oleh Pek-suhu tadi?”

Segera ia pegang lagi goloknya, dengan tangan kiri tetap memegang tangkai kayu. Ia mainkan jurus “Tiang-cia-ciat-ki” dari Kim-oh-to-hoat.

Jurus-jurus serangan golok dan pedang itu mestinya saling bertentangan, tapi sekaligus dimainkan bersama ternyata menimbulkan daya serangan yang mahadahsyat. “Cret”, sebatang pohon siong sebesar lengan telah terkutung oleh goloknya, sebaliknya tangkai kayu di tangan kiri juga kena sabet di batang pohon sehingga kulitnya pohon itu terbeset sebagian.

Saking asyiknya Ciok Boh-thian memainkan sebatang golok karatan dan sebatang ranting kayu, makin lama makin cepat, ia tidak ambil pusing apakah permainannya yang aneh itu tepat atau tidak, yang terang di atas pulau situ toh tiada manusia lain lagi, maka ia tidak perlu khawatir ditertawai orang.

Begitulah, secara tidak sengaja Ciok Boh-thian alias Su Ek-to telah meyakinkan lwekang yang paling tinggi, kemudian digembleng oleh beberapa tokoh terkemuka, sekali otaknya menjadi encer, tiba-tiba dia dapat menciptakan sejenis ilmu silat gabungan pedang dan golok.

Ilmu silatnya ini mencakup Swat-san-kiam-hoat dan Kim-oh-to-hoat, pula meliputi ilmu silat ajaran Cia Yan-khek, Ting Put-si, si Ting Tong, dan Bin Ju. Hanya saja jurus serangannya tiada tertentu, walaupun mempunyai daya tekanan yang dahsyat, tapi lubang kelemahannya juga tidak sedikit.

Boh-thian sendiri tiada bermaksud menciptakan ilmu silat, sudah tentu tak pernah terpikir olehnya untuk memberi nama jurus-jurus ilmu silatnya itu.

Apalagi dia buta huruf, disuruh membeli nama juga dia tidak mampu.

Begitulah makin latih makin tambah lwekangnya sehingga sedikit pun tidak merasa lelah sampai akhirnya perutnya berkeruyukan saking laparnya barulah ia berhenti. Waktu ia cari kelinci tadi ternyata sudah hancur terinjak-injak olehnya sendiri, terpaksa ia mencari ke semak pula untuk menangsel perut.

Ia coba kembali ke gua itu dengan harapan Su-popo dan A Siu sudah pulang, tapi keadaan di situ ternyata sunyi senyap. Dalam pada itu malam pun sudah tiba, terpaksa Boh-thian tidur di dalam gua.

Sampai tengah malam, mendadak terdengar suara menderak yang keras dari arah pantai. Karena lwekangnya sekarang sudah sangat tinggi, dengan sendirinya indra pendengarannya juga sangat tajam. Segera ia melompat bangun dan berlari ke tepi sungai. Di bawah sinar bintang yang remang-remang tertampak sebuah kapal berlabuh di sana dan tiada hentinya bergoyang-goyang.

Boh-thian terkejut dan bergirang, ia khawatir kalau-kalau kapal itu adalah milik Ting Put-sam atau Ting Put-si, maka ia tidak berani mendekatinya. Ia coba sembunyi di belakang pohon untuk mengintai.

Tiba-tiba terdengar suara menderak yang keras pula, sekali ini dapat dilihatnya dengan jelas, yaitu layar yang terlepas di tiang kapal itu tadinya berlipatan menjadi satu, ketika tertiup angin kencang, layar itu lantas terpentang dan mengeluarkan suara kebasan keras.

Kapal itu tergoyang-goyang dan tampaknya hendak terhanyut pula meninggalkan pulau, cepat Boh-thian berlari mendekati sambil berteriak, “Adakah orang yang berada di atas kapal?”

Tapi ia tidak mendapat jawaban orang. Sekali lompat segera ia melayang ke atas kapal. Ia coba melongok ke dalam ruangan kapal, keadaan di dalam gelap gulita dan tiada kelihatan apa-apa.

Dalam pada itu kapal itu mulai terombang-ambing, nyata telah meluncur perlahan ke tengah terbawa oleh arus. “Apakah ... apakah Ting-samyaya yang berada di dalam?” Boh-thian berteriak pula. Namun tetap tiada jawaban seorang pun.

Tanpa pikir ia berjalan ke dalam ruangan, mendadak kakinya kesandung badan orang merebah melintang di lantai kapal. Cepat Boh-thian berkata, “Maaf!” Segera ia bermaksud membangunkan orang itu. Tak terduga di mana tangannya menyentuh kiranya adalah serangka mayat yang sudah kaku dan dingin.

Keruan Boh-thian menjerit kaget. Waktu tangan kirinya meraba ke belakang, kembali tersentuh lengan seorang, keadaannya juga sudah kaku dingin, terang sudah mati sekian lamanya.

Dengan menggagap-gagap ia terus menyusur ke belakang kapal, ternyata di mana-mana hanya mayat belaka, kakinya menginjak mayat, di mana tangannya menjulur juga selalu menyentuh mayat. Di ruangan belakang juga penuh dengan mayat, banyak yang bergelimpangan di lantai, ada pula yang duduk di atas kursi.

“Adakah orang di sini?” kembali Boh-thian berteriak khawatir. Saking ngerinya sampai ia merasa suaranya sendiri pun sudah berubah.

Setiba di buritan kapal, di bawah sinar bintang yang remang-remang kelihatan pula di atas geladak situ pun bergelimpangan belasan orang. Semuanya sudah kaku, terang juga mayat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar