Kamis, 22 Maret 2012

Medali Wasiat 8

Jilid 8

Melihat tjara bitjara Pwe Hay-tjiok itu sangat tulus, melihat sikap kesembilan orang itupun tiada bermaksud djahat meski semuanja bersendjata, diam2 Tjia Yan-khek mengetahui telah terdjadi salah paham, maka djawabnja dengan tersenjum: “Diatas Mo-thian-kay ini tiada medja kursi, sehingga telah mentelantarkan tamu2 terhormat, silakan kalian duduk sadja diatas batu. Sebenarnja darimanakah Pwe-tayhu mendengar berita bahwa Tjiok-pangtju kalian selalu berada bersama dengan aku? Padahal tidak sedikit kesatria2 jang terhimpun didalam Pang kalian, dengan sendirinja Tjiok-pangtju kalian adalah seorang tokoh terkemuka, sebaliknja aku hanja seorang gunung miskin jang tiada suka bergaul, mana bisa berkumpul dengan kesatria ternama sebagai Tjiok-pangtju kalian. Hehe, lutju, sungguh lutju.”

Pwe Hay-tjiok mendjadi ragu2. Ia menduga sebabnja Tjia Yan-khek tidak mau mengakui kenal Tjiok-pangtju mereka, tentu didalam hal ini ada apa2 jang tak dapat diterangkan. Maka ia lantas memberi tanda kepada kawan2nja dan berkata: “Saudara2 sekalian, silakan duduk untuk bitjara.”

Njata sekali Pwe Hay-tjiok adalah pemimpin dari kesembilan oran ini. Maka kawan2nja itu lantas mengambil tempat duduk sendiri2. Ada jang duduk diatas batu tjadas, ada jang duduk didahan pohon jang rendah, Pwe Hay-tjiok duduk diatas gundukan tanah.

Kesembilan orang itu telah memasukkan kembali sendjata2 mereka dan berduduk semua, tapi posisi kepungan mereka terhadap Tjia Yan-khek masih tidak berubah. Keruan diam2 Yan-khek mendjadi gusar, pikirnja: “Sikap kalian ini benar2 terlalu kasar padaku. Djangankan aku memang tidak tahu Tjiok-pangtju kalian, andaikan tahu djuga masakah aku dapat dipaksa untuk mengatakan ?”

Segera ia hanja te-senjum2 dingin sadja sambil menengadah, terhadap orang2 disekitarnja ia anggap sepi sadja dan tak menggubris.

Padahal “Tiok-djiu-seng-djun” Pwe Hay-tjiok itu sekalipun tidak lebih tinggi kedudukannja didunia persilatan dibandingkan Tjia Yan-khek, paling tidak djuga setingkat. Sekarang Tjia Yan-khek sengadja bersikap sedemikian angkuhnja, hal ini djuga keterlaluan.

Namun Pwe Hay-tjiok masih mengingat kehormatan Pangtju mereka dan tetap bitjara dengan ramah: “Tjia-siansing, sesungguhnja ini adalah urusan rumah tangga Pang kami, djika engkau sampai terlibat, sungguh kami merasa tidak enak. Maka kami hanja minta Tjia-siansing suka menghadapkan kami kepada Pangtju dan dengan sendirinja kami akan berterima kasih dan nanti akan minta maaf pula padamu.”

Kalau mengingat nama besar dan watak “Tiok-djiu-seng-djun” Pwe Hay-tjiok jang terkenal disegani dan angkuh itu, sekarang dia bitjara sedemikian ramahnja, hal ini boleh dikata djarang terdjadi.

Tapi Yan-khek tetap mendjawab dengan dingin: “Pwe-tayhu, engkau adalah kesatria ternama di Kangouw, setiap utjapan seorang laki2 sedjati harus dapat dipertjaja, bukan ?”

Mendengar pertanjaan Tjia Yan-khek jang bernada gusar itu, diam2 Pwe Hay-tjiok mendjadi was-was, sahutnja: “Ah, Tjia-siansing terlalu sungguh2.”

“Dan kalau utjapan Pwe-tayhu adalah kata2 tulen, apakah utjapanku ini adalah kentut ?” kata Yan-khek pula. “Sedjak tadi aku sudah menjatakan tidak pernah melihat Tjiok-pangtju kalian, tapi kalian tetap tidak pertjaja. Djika demikian, apakah kalian adalah laki2 sedjati dan orang she Tjia ini adalah kaum pembohong ?”

“Ah, utjapan Tjia-siansing terlalu sungguh2, orang2 Tiang-lok-pang kami selamanja djuga sangat mendjundjung tinggi kepada Tjia-siansing,” sahut Pwe Hay-tjiok sambil ter-batuk2. “Djika Tjia-siansing tidak suka menghadapkan kami kepada Pangtju kami, tiada djalan lain terpaksa kami mesti mentjarinja sendiri.”

Air muka Tjia Yan-khek merah padam menahan gusara, katanja: “Djadi bukan sadja Pwe-tayhu tidak pertjaja kepada utjapanku, bahkan hendak bertindak setjara se-wenang2 ditempat tinggalku ini?”

“Ah, tidak, mana kami berani ?” sahut Pwe Hay-tjiok. “Sungguh memalukan kalau dibitjarakan. Tiang-liok-pang telah kehilangan Pangtju dan mesti minta orang menemukan Pangtju mereka, kalau tjerita ini tersiar tentu akan dibuat bahan tertawaan orang Kangouw. Maka kami terpaksa hanja akan mentjari sekadarnja sadja, harap Tjia-siansing djangan salah paham.”

Sungguh dongkol Yan-khek tak terkatakan. Pikirnja: “Diatas Mo-thian-kay ini darimana ada mereka punja Pangtju kentut apa segala? Dasar mereka ini adalah kawanan perusuh, tentang mentjari Pangtju apa djelas hanja sebagai alasan sadja. Kalau sekarang mereka telah mengintjar diriku, biarpun darahku mesti membasahi puntjak gunung ini djuga aku tidak gentar.”

Iapun insaf keadannja sekarang sangat berbahaja. Melulu menghadapi Pwe Hay-tjiok seorang sadja paling banter dirinja tjuma mampu melawannja dengan sama kuat, inipun sudah berkat kemadjuan pesat kekuatan jang dilatihnja selama beberapa tahun paling achir. Sekarang pihak lawan ditambah lagi delapan djago pilihan, maka sangat sulitlah baginja untuk menjelamatkan diri.

Tiba2 ia mendapat akal. Mendadak pandangannja beralih kesebelah kanan, air mukanja mengundjuk rasa terkedjut sambil mengeluarkan suara heran pelahan.

Karena itu sinar mata kesembilan orang itu lantas memandang kearah jang ditudju Tjia Yan-khek itu. Pada saat itulah mendadak Yan-khek bergerak, setjepat kilat ia memutar kesamping sitinggi kurus, jaitu Bi-hiangtju jang sudah dikenalnja itu, segera ia hendak mentjabut pedang jang tergantung dipinggang kawan itu.

Ketika tidak melihat apa2 diarah jang dipandang itu dan segera merasa berkesiurnja angin dan tahu2 musuh sudah berada disampingnja, setjepat kilat Bi-hiangtju djuga lantas bertindak, tangannja bekerdja lebih tjepat daripada tangan Tjia Yan-khek dan mendahului memegang pedang sendiri dan “sret” sendjata itu segera dilolosnja.

Tapi baru sadja sinar pedangnja berkelebat, se-konjong2 bagian iga dan punggungnja terasa kesakitan, Hiat-to bagian iga sudah tertutuk dan punggungnja sudah ditjengkeram oleh Tjia Yan-khek.

Kiranja Tjia Yan-khek insaf bukan tandingan kesembilan orang itu, dia pura2 terkedjut sambil memandang kesebelah kanan hanja sebagai pantjingan sadja, gerakannja hendak merebut pedang itupun pantjingan belaka. Sebab Bi-hiangtju jang tidak mau kehilangan sendjatanja tentu akan mempertahankannja dengan mati2an, sebaliknja bagian iga dan punggung dengan sendirinja terbuka sehingga kena ditawan Tjia Yan-khek. Kalau tidak, biarpun kepandaiannja lebih rendah djuga tidak mungkin ditundukkan hanja dalam satu-dua gebrakan sadja.

Yan-khek sendiri dahulu sudah pernah menjaksikan tjaranja Bi-hiangtju menempur Tay-pi Lodjin dan tjaranja menggunakan Kui-thau-to memapas rambut sianak muda, maka ia tjukup paham djalannja ilmu pedang Bi-hiangtju, dan untung djuga sekali tjoba lantas berhasil.

Maka dengan tersenjum Yan-khek lantas berkata: “Maaf, Bi-hiangtju.”

Sebaliknja Pwe Hay-tjiok lantas tanja dengan bingung, “Tjia-siansing, apa maksudmu ini? Apakah engkau benar2 melarang kami untuk mentjari Pangtju kami?”

“Kalau kalian hendak membunuh orang she Tjia tentunja tidak sukar, hanja sadja mesti diiringi dengan beberapa lembar djiwa pula,” sahut Yan-khek.

“Selamanja kita tiada permusuhan apa2, masakah kami bermaksud djahat kepada Tjia-siansing?” sahut Pwe Hay-tjiok dengan tersenjum getir. “Apalagi dengan ilmu silat Tjia-siansing jang aneh dan banjak perubahannja setjara mendadak, biarpun kami ada maksud djahat djuga tak mampu meng-apa2kan Tjia-siansing. Kita adalah sahabat baik, silakan melepaskan Bi-hiangtju sadja.”

Diam2 iapun kagum melihat Tjia Yan-khek dalam satu gebrakan sadja sudah dapat menawan Bi-hiangtju. Tapi sebagai ahli silat, sebenarnja betapa kemampuan pihak lawan sekali lihat sadja sudah dapat diukurnja. Ia tahu sebabnja Tjia Yan-khek berhasil menawan Bi-hiangtju adalah karena kelitjikannja dengan serangannja setjara mendadak, djadi bukan dengan kepandaian jang sedjati. Sebab itulah dalam utjapannja tadi dia menjatakan ilmu silat Tjia Yan-khek itu aneh dan banjak perubahannja setjara mendadak.

Saat itu Tjia Yan-khek mentjengkeram “Tay-tjui-hiat” dipunggung Bi-hiangtju, asal dia kerahkan tenaga dalamnja, seketika urat nadi djantung Bi-hiangtju itu akan putus dan binasa. Maka ia telah mendjawab: “Asal kalian segera pergi dari Mo-thian-kay ini, sudah tentu aku akan segera melepaskan Bi-hiangtju.”

“Apa susahnja untuk pergi?” kata Pwe Hay-tjiok. “Sekarang pergi, sebentar dapat datang lagi.”

“Pwe-tayhu,” kata Yan-khek dengan menarik muka. “Setjara ngotot kau meretjoki diriku, sebenarnja apa maksud tudjuanmu?”

“Maksud tudjuan apa? O, ja, saudara2ku, apa maksud tudjuan kita ?” demikian Pwe Hay-tjiok sengadja mengulangi pertanjaan Tjia Yan-khek itu.

Sedjak tadi ketudjuh orang kawannja hanja tinggal diam sadja, sekarang mereka mendjawab serentak: “Kita ingin bertemu dengan Pangtju dan menjambut Pangtju pulang Tjongtho (markas besar).”

“Bitjara kesana kesini ternjata kalian tetap menuduh aku telah menjembunjikan Pangtju kalian ?” Yan-khek menegas dengan gusar.

“Tjia-siansing, sesungguhnja didalam urusan ini ada sesuat jang tak dapat kami terangkan dan terpaksa kami harus bertemu dulu dengan Pangtju kami,” sahut Pwe Hay-tjiok. Lalu ia berpaling kepada seorang kawannja jang bertubuh tinggi besar, katanja: “In-hiangtju, silakan kau bersama para saudara tjoba melongok kesekitar sini, bila melihat Pangtju hendaklah segera beritahukan padaku.”

In-hiangtju jang disebut itu bersendjatakan sepasang tombak pendek, ia memanggut dan mengiakan. Lalu serunja: “Marilah kawan2, Pwe-siansing ada perintah agar kita tjoba mentjari Pangtju dulu.”

Keenam orang lain serentak mengiakan. Ketudjuh orang lantas mundur beberapa langkah, mendadak mereka membalik tubuh terus berlari keluar hutan.

Walaupun Tjia Yan-khek sudah menawan seorang lawan, tapi orang2 Tiang-lok-pang ternjata tidak kena digertak dan sama sekali tidak memikirkan mati-hidupnja Bi-hiangtju jang tertawan, mereka tetap mendjalankan tugasnja masing2, hanja tertinggal Pwe Hay-tjiok sendiri masih tetap berada disitu, njata sekali untuk mengawasi dia dan bukan untuk berusaha menolong Bi-hiangtju. Diam2 Yan-khek membatin: “Djika kalian tidak menemukan Pangtju kalian jang memang tiada disini itu, sekembalinja nanti tentu kalian akan meretjoki aku lagi. Sianak muda pernah mengembalikan medali wasiat padaku, hal ini telah menggemparkan dunia Kangouw, maka sebentar lagi pemuda itu tentu akan ditawan oleh mereka dan ini berarti Tiang-lok-pang memiliki suatu sendjata lagi untuk membikin aku tak berdaja. Rasanja sekarang tak berpaedah untuk bertjektjok dengan mereka, paling perlu aku harus berusaha meloloskan diri dahulu.”

Ia lihat ketudjuh orang Tjiang-lok-pang sudah menghilang diluar hutan. Mendadak telapak tangan kiri menolak kepunggung Bi-hiangtju terus didorong sekuatnja. Djurus ini disebut “Bun-tjay-bu-wi” (satu halus dan satu kasar), jaiut dengan kiri menggunakan tenaga Im dan tangan kanan memakai tenaga Yang. Tubuh Bi-hiangtju itu diperalat olehnja sebagai sendjata jang ampuh terus ditolak kearah Pwe Hay-tjiok.

Terpaksa Tjia Yan-khek harus melakukan serangan kilat, sebab ia tjukup tahu Lwekang Pwe Hay-tjiok sangat lihay, hanja sadja diwaktu mudanja Pwe Hay-tjiok pernah terluka dalam dan penjakit itu takbisa disembuhkan seluruhnja, sebab itulah ilmu silatnja telah banjak terpengaruh. Dan karena Pwe Hay-tjiok sendiri menderita sakit dalam sehingga lama2 dia mendjadi pandai ilmu pertabiban, dari situlah dia memperoleh djulukan sebagai Pwe-tayhu, padahal dia bukan seorang tabib sungguh2. Walaupun demikian ilmu silatnja tetap luar biasa lihaynja, hal ini terbukti pada sembilan tahun jang lalu, dalam semalam sadja dia telah membunuh “Ek-tiong-sam-sat” (Tiga malaikat maut Opak) jang masing2 tinggal di tempat2 jang tidak sama dalam djarak 200 li djauhnja. Peristiwa itu telah menggemparkan dunia persilatan pada waktu itu.

Sebab itulah meski Tjia Yan-khek melihat Pwe Hay-tjiok berulang2 ter-batuk2 seperti orang sakit tebese, tapi iapun tidak berani ajal sedikitpun, maka sekali serang lantas menggunakan kekuatan sepenuhnja.

Pwe Hay-tjiok lantas batuk2 lagi ketika mendadak diserang, katanja: “Ai, Tjia-siansing……….huk-huk……..mengapa mesti menggunakan kekerasan ?” ~ Terpaksa iapun memapak dengan kedua telapak tangan untuk menahan dada Bi-hiangtju jang ditolak kearahnja itu, berbareng itu mendadak dengkul kaki kiri terus mendengkul keatas sehingga tepat mengenai perut Bi-hiangtju, kontan tubuh Bi-hiangtju tertolak keatas dan mentjelat kebelakangnja. Dengan demikian kedua telapak tangannja mendjadi se-akan2 menolak kedada Tjia Yan-khek sekarang.

Perubahan djurus ini sungguh terlalu tjepat dan sangat aneh, biarpun Tjia Yan-khek sangat luas pengalamannja djua merasa kaget atas kedjadian itu. Tiada djalan lain ketjuali kedua tangannja digunakan untuk menjambut tolakan Pwe Hay-tjiok itu.

Tapi begitu keempat tangan beradu, Yan-khek merasa udjung djari2 seperti ditusuk oleh be-ribu2 djarum. Tjepat Yan-khek mengerahkan tenaga dalam tapi se-konjong2 terasa “blong”, pusat tenaganja terasa kosong dan susah dikerahkan. Sekilas itu tahulah dia bahwa karena latihannja tadi dia sudah menghabiskan tenaga dalam sendiri sehingga sekarang tidak mungkin mengadu tenaga dalam pula dengan lawan.

Tjepat ia tekan kedua tangan kebawah untuk menghantam perut lawan. Tapi Pwe Hay-tjiok djuga lantas tarik tangan kebawah untuk menahan serangannja.

Se-konjong2 kedua lengan badju Tjia Yan-khek mengebas dengan kuat untuk menjabet muka Pwe Hay-tjiok. Serangan ini sangat lihay tampaknja. Tapi Pwe Hay-tjiok sudah dapat melihat kelemahan musuh, namun demikian dia hanja mengegos untuk menghindar dan tidak balas menjerang.

Kesempatan itu lantas digunakan Tjia Yan-khek untuk menarik kembali lengan badjunja, berbareng tubuhnja terus melajang kebelakang dengan kekuatan angin serangan jang ditarik kembali itu. Ia memberi salam dan berseru: “Maafkan, mohon pamit dulu, sampai berdjumpa pula”. ~ Sambil bitjara iapun terus mundur dengan tjepat, sikapnja tetap keras dan gerakannja sebat, sedikitpun tidak kentara kalau dia sebenarnja hendak melarikan diri.

Be-runtun2 ia telah menjerang tiga kali dan tahu keadaan tidak menguntungkan, maka tjepat ia lantas mengundurkan diri, djadi tidak dapat dianggap kalah. Walaupun dia dipaksa kabur dari Mo-thian-kay, tapi dia dikepung sembilan orang lawan, malahan dia dapat mendjatuhkan Bi-hiangtju dari pihak musuh, hal ini sebaliknja tjukup mematahkan semangat djago2 Tiang-lok-pang tadi. Maka ketika dia melompat turun dari tebing Mo-thian-kay jang tinggi dan tjuram itu, rasa lega dan senangnja ada lebih besar daripada rasa penasaran dan dongkolnja. Tapi baru beberapa li ia berlari, tiba2 ia merasa djari2 tangan agak kesakitan.

Ia tjoba memeriksa djari2 itu, ternjata udjung tiap2 djari itu semuanja merah dan agak bengkak. Diam2 ia terkedjut akan lihaynja tenaga dalam Pwe Hay-tjiok. Maka ia tidak berani berlari tjepat lagi, tapi berdjalan dengan pelahan dan mentjari suatu tempat jang sepi untuk mengatur Lwekang dan mendjalankan darahnja……….

Dilain pihak, demi nampak Tjia Yan-khek kabur meninggalkan Mo-thian-kay, Pwe Hay-tjiok mendjadi ter-heran2: “Dia adalah sahabat karib Tjiok-pangtju, mengapa dia menggunakan serangan seganas ini terhadap Bi-hiangtju? Sungguh tingkah-lakunja benar2 susah untuk dipahami.”

Segera ia membangunkan Bi-hiangtju dan menempelkan kedua telapak tangannja dipunggung sang kawan dan menjalurkan tenaga dalam. Selang sedjenak, pelahan2 Bi-hiangtju dapat membuka matanja dan berkata dengan lemah: “Banjak terima kasih atas pertolongan Pwe-tayhu.”

“Bi-hiante hendaklah rebah dan mengaso sadja, sekali-kali engaku djangan menggunakan tenaga,” udjar Pwe Hay-tjiok.

Kiranja djurus “Bun-tjay-hu-wi” jang dikeluarkan Tjia Yan-khek tadi, tudjuannja bukan sadja untuk membinasakan Bi-hiangtju, bahkan merupakan serangan maut terhadap Pwe Hay-tjiok. Kalau Pwe Hay-tjiok menahan tubuh Bi-hiangtju dengan tenaga dalam, maka digentjet dari muka dan belakang, tentu seketika Bi-hiangtju akan mati. Sebab itulah Pwe Hay-tjiok hanja menahan sedikit dadanja Bi-hiangtju, berbareng dengkul kaki menjontak tubuh Bi-hiangtju hingga mentjelat kebelakang, dengan demikian barulah djiwa Bi-hiangtju dapat diselamatkan.

Walaupun demikian, toh lukanja djuga tidak ringan, andaikan dapat disembuhkan djuga susah pulih kembali seperti semula dalam waktu beberapa tahun.

Pelahan2 Pwe Hay-tjiok menaruh tubuh Bi-hiangtju diatas tanah, lalu menggunakan tenaga dalam untuk mengurut dada dan perutnja.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara orang: “Pangtju berada disini, Pangtju berada disini!”

Girang Pwe Hay-tjiok tak terhingga, katanja kepada Bi-hiangtju: “Bi-hiante, keadaanmu sudah tidak berbahaja lagi, engkau mengaso dulu disini, aku hendak pergi menemui Pangtju dahulu.” ~ Lalu ia berlari kearah datangnja seruan tadi. Diam2 ia merasa bersjukur sang Pangtju telah diketemukan, kalau tidak, bukan mustahil Tiang-lok-pang mereka akan petjah berantakan tak keruan.

Setelah ber-lari2, achirnja ia melihat diatas sepotong batu tjadas berduduk seorang. Dipandang dari samping memang betul adalah sang Pangtju. Pula In-hiangtju dan keenam kawan jang lain tampak berdiri didepan batu dengan sikap sangat menghormat.

Tjepat Pwe Hay-tjiok mendekati mereka. Tatkala itu sang surja sedang memantjarkan sinarnja jang terang sehingga wadjah orang itu dapatlah terlihat dengan djelas, tertampak alisnja jang tebal dan mata besar, raut mukanja londjong, siapa lagi kalau bukan Tjiok-pangtju jang sedang ditjarinja?

“Pangtju, baik2kah engkau ?” seru Pwe Hay-tjiok dengan girang.

Tapi tiba2 dilihatnja air muka sang Pangtju mengundjuk rasa derita sakit jang aneh, muka sebelah kiri tampak bersemu ke-hidjau2an, sebaliknja muka sebelah kanan ke-merah2an seperti orang mabuk arak.

Sebagai seorang tokoh persilatan, pula mahir ilmu pertabiban, segera Pwe Hay-tjiok melihat keadaan sang Pangtju jang luar biasa itu, ia terkedjut: “He, rupanja Pangtju sedang melatih sematjam Lwekang jang sangat hebat. Wah, tjelaka, boleh djadi lantaran kedatangan kami jang sembrono ini, maka telah mengganggu ketenangan latihannja.”

Sesaat itu ia merasa matjam2 tanda tanja jang tersekam di dalam benaknja selama ini mendjadi terdjawab :”Kiranja Pangtju telah memperoleh ‘Bu-kang-pit-kip’ (kitab rahasia ilmu silat) apa2, makanja dia menghilang sampai setengah tahun lamanja dan susah diketemukan. Tentu Tjia-siansing itu mengetahui latihan Pangtju sedang mentjapai detik jang paling gawat dan tidak boleh diganggu oleh siapapun djuga, makanja betapapun dia tidak mau menghadapkan kami kepada Pangtju. Ai, maksud baiknja itu telah disalah terima oleh kami sehingga membikin susah padanja, sungguh tidak pantas. Melihat keadaan Pangtju ini, agaknja hawa panas dan dingin tubuhnja sedang bergolak dan susah dihimpun mendjadi satu, djika terdjadi sesuatu kesalahan, tentu beliau akan tjelaka, sungguh berbahaja sekali.”

Maka tjepat ia memberi tanda agar kawan2nja itu mundur semua sehingga belasan meter djauhnja dari tempat sang Pangtju. Lalu dengan suara pelahan ia mendjelaskan keadaan itu.

Semua orang lantas paham duduknja perkara dan bergirang tertjampur kuatir. Ada jang bertanja apakah sang Pangtju berbahaja? Ada pula jang menjesal tindakan mereka jang semberono sehingga telah mengganggu latihan sang Pangtju.

Pwe Hay-tjiok lantas berkata: “Bi-hiangtju telah dilukai oleh Tjia-siansing itu. Sekarang salah seorang saudara hendaklah pergi mendjaganja. Aku sendiri akan mendjaga disini dan mungkin akan dapat membantu Pangtju bilaman keadaan perlu. Kawan2 jang lain silakan mengawasi sekitar tempat ini dan djangan sekali2 bersuara keras. Kalau ada musuh datang boleh dibereskan setjara diam2 dan djangan sekali2 membikin kaget Pangtju.”

Djago2 Tiang-lok-pang itu mengiakan perintah Pwe Hay-tjiok dan mendjaga disekitar puntjak Mo-thian-kay itu. Pwe Hay-tjiok sendiri lantas mendekati Tjiok-pangtju, ia lihat muka sang Pangtju ber-kerut2, sekudjur badannja berkedjang, mulutnja tampak terpentang ingin berteriak, tapi takdapat mengeluarkan suara sedikitpun. Terang itulah tanda tenaga dalamnja tersesat dan djiwanja terantjam bahaja dalam waktu singkat.

Keruan Pwe Hay-tjiok terkedjut. Ia ingin memberi pertolongan, tapi ia tidak tahu Lwekang apa jang sedang dilatih sang Pangtju. Kalau setjara ngawur ia memberi pertolongan, bukan mustahil akan mempertjepat kematian orang jang ditolong itu malah.

Ia lihat pakaian sang Pangtju jang memangnja tjompang-tjamping itu mendjadi kojak2 dan hantjur karena ditjakar dan dirobek kedua tangan sendiri, bahkan badannja berlumuran darah. Sebaliknja ubun2 kepalanja tampak menguap. Pikirnja: “Ilmu silat Tjiok-pangtju memang sangat aneh dan lihay serangannja, tapi tenaga dalamnja masih tjetek. Namun melihat uap jang mengepul diatas kepalanja sekarang, terang Lwekangnja ini sudah terlatih sampai puntjaknja. Sungguh aneh, mengapa hanja didalam waktu setengah tahun sadja dia memperoleh kemadjuan sedemikian pesatnja ? Hal ini membuktikan bahwa ilmu jang dilatihnja ini benar2 luar biasa.”

Selagi merasa ragu2 dan tak berdaja, se-konjong2 Pwe Hay-tjiok mengendus bau sangit, dilihatnja badju bagian pundak kanan sang Pangtju mengepulkan asap tipis. Itulah benar2 tanda terbakar karena salah melatih dan dalam sekedjap sadja penderita itu dapat binasa seketika.

Karena terkedjut, segera Pwe Hay-tjiok mengulur tangan untuk menahan “Djing-leng-hiat” dilengan kanan sang Pangtju, maksudnja hendak membikin tenang pikiran sipenderita untuk sementara waktu. Tak terduga baru sadja djarinja menempel lengannja, ia merasa seluruh badannja menggigil kedinginan, ia tidak berani mengerahkan tenaga untuk melawan, terpaksa menarik kembali tangannja. Pikirnja dengan heran: “Lwekang aneh apakah ini? Mengapa setengah badannja mengepul panas, sebaliknja separuh badan jang lain sedingin ini?”

Selagi Pwe Hay-tjiok ragu2 tjara bagaimana harus berbuat, tiba2 tertampak tubuh sang Pangtju ber-kerut2 dan achirnja meringkuk dengan tangan memegang kepala sendiri terus terguling djatuh kebawah. Sesudah kedjang beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi.

“Pangtju! Pangtju!” seru Hay-tjiok. Ia tjoba periksa hidungnja, sjukurlah masih dapat bernapas. Hanja sangat lemah, se-akan2 setiap saat bisa berhenti bernapas.

Pwe Hay-tjiok mengerut kening kuatir. Tjepat ia bersuit memanggil kawan2nja, lalu ia membangunkan sang Pangtju dan disandarkan pada batu tjadas besar itu.

Tidak lama kemudian ber-turut2 kawannja sudah berkumpul. Ketika melihat muka sang Pangtju sebentar merah membara dan sebentar lagi putjat se-akan2 kedinginan, badannja juga bergemetar, keruan mereka ikut kaget. Dengan sorot mata penuh tanda tanja mereka pandang Pwe Hay-tjiok.

“Terang Pangtju sedang melatih sematjam Lwekang jang maha hebat, apakah dia telah salat latih, seketika akupun belum tahu dengan pasti,” demikian kata Pwe Hay-tjiok. “Urusan ini memang serba sulit dan menjangkut Pang kita, maka diharap saudara2 ikut memberi saran jang baik.”

Namun tiada seorangpun jang bersuara. Semuanja saling pandang dengan bingung. Kalau Pwe-tayhu sadja tak berdaja apalagi kita orang? Demikian pikir mereka.

Dalam pada itu Bi-hiangtju jang telah dipajang kawan2nja dan ikut berkumpul disitu lantas berkata dengan suara lemah: “Pwe-tayhu, apa jang kau anggap paling baik, maka bolehlah didjalankan, betapapun pikiranmu djauh lebih sempurna daripada kami.”

Pwe Hay-tjiok memandang sekedjap kearah Tjiok-pangtju, lalu berkata: “Keempat golongan paling berpengaruh dari Kwan-tang telah berdjandji akan berkundjung kemarkas besar kita pada Tiong-yang-tje (hari raja tanggal 9 bulan 9) nanti, temponja sekarang sudah sangat mendesak dan tinggal sebulan lagi. Urusan ini menjangkut mati atau hidupnja Pang kita, tentu saudara2 sendiri sudah tahu bahwa keempat golongan besar dari Kwantang itu hanja tampil kemuka sebagai pelopor sadja, tapi sebenarnja masih banjak pihak2 lain jang diam2 ingin…….huk, huk, ingin mendjungkalkan Tiang-liok-pang kita. Dan bila Pang kita sampai dirobohkan oleh Kwantang-si-pay (keempat golongan dari Kwantang) sehingga petjah berantakan, maka djangankan kita hendak berketjimpung pula didunia Kangouw, sekalipun mentjari suatu tempat untuk menjelamatkan diri rasanja djuga………djuga susah.”

“Utjapan Pwe-tayhu memang benar,” udjar In-hiangtju. “Bagaimana Tiang-liok-pang kita dalam pandangan orang2 Kangouw kita tjukup mengetahui. Segala sesuatu kita biasanja suka bertindak dan berbuat setjara tegas dan blak2an, kita tidak suka meniru tjara2 kaum pengetjut, dengan sendirinja kita telah banjak membikin sirik orang2 lain. Dalam urusan2 sekarang ini kalau tiada Pangtju sendiri jang tampil kemuka, mungkin……………….mungkin……..ai………..”

“Ja, sebab itulah kita harus tjepat mengambil keputusan,” sahut Pwe Hay-tjiok. “Menurut pendapatku, kita harus tjepat menjambut Pangtju pulang kemarkas besar. Tapi penjakit jang diderita Pangtju sekarang ini tampaknja tidak ringan, berkat redjeki beliau kalau dalam waktu sepuluh hari atau setengah bulan beliau dapat sembuh kembali, maka inilah jang sangat kita harapkan. Kalau tidak, asalkan Pangtju sendiri sudah berada dimarkas, sekalipun kesehatannja belum pulih, namun beliau sudah tjukup untuk memberi dorongan semangat kepada kita untuk menghalau musuh bersama. Betul tidak saudara?”

“Ja, utjapan Pwe-tayhu memang betul,” sahut semua orang.

“Djika demikian, marilah kita lekas membuat dua usungan untuk membawa pulang Pangtju dan Bi-hiangtju” kata Pwe Hay-tjiok pula.

Be-ramai2 mereka lantas terpentjar untuk melakukan tugas, ada jang menebang dahan pohon, kulit pohon dipuntir mendjadi tambang jang kuat, maka dalam waktu singkat dua buah usungan sudah selesai disiapkan. Mereka mengikat kentjang2 sang Pangtju dan Bi-hiangtju diatas usungan itu agar tidak terdjatuh diwaktu mereka menuruni tebing tjuram itu. Kedelapan orang menggotong usungan2 itu setjara bergiliran dan meninggalkan Mo-thian-kay.

Siapakah Tjiok-pangtju jang dibawa pulang orang2 Tiang-lok-pang itu. Ia tak lain tak bukan adalah sianak muda penemu medali wasiat itu.

Pada hari itu ia sedang melatih Lwekang menurut tjara2 jang diadjarkan Tjia Yan-khek padanja. Sampai lohor, tiba2 ia merasa hawa panas merangsang naik melalui urat nadi, bagian kaki dan tangan sebelah kanan terasa panas sebagai dibakar. Berbareng itu urat nadi kaki dan tangan sebelah kiri terasa kedinginan seperti direndam es. Djadi jang panas keliwat panas dan jang dingin terlalu dingin, keduanja takdapat dibaurkan mendjadi satu.

Kiranja sesudah berlatih dengan giat selama beberapa tahun, maka tenaga dalam anak muda itu sudah tambah hebat dan madju dengan pesat, sampai lohor hari itu “Yam-yam-kang” jang dilatihnja itu sudah djadi.

Menurut perhitungan Tjia Yan-khek, bilamana Yam-yam-kang jang dilatih itu sudah djadi, seketika tenaga Yam-yam-kang jang maha panas itu akan saling terdjang dan saling gontok dengan Lwekang “Han-ih-bian-tjiang” jang maha dingin, akibatnja djiwa anak muda itu tentu akan melajang.

Sekarang anak muda itu ternjata tidak tahan sampai setengah djam dan orangnja lantas tak sadarkan diri, sampai sekian lamanja ia tetap tak sadar, sebentar ia merasa seluruh badannja panas seperti dipanggang, keringat bertjutjuran dan mulut terasa kering, lain saat ia merasa kedinginan seperti tertutup didalam gudang es, sampai darahpun se-akan2 membeku.

Begitulah ia terus tersiksa oleh rasa panas dan dingin setjara bergilir, lapat2 iapun tahu ada orang berada disekitarnja, ada lelaki, ada wanita dan sedang bitjara, tapi sedikitpun ia tidak tahu apa jang sedang dipertjakapkan mereka. Ia sendiri ingin berteriak tapi susah membuka mulut. Ia merasa pandangannja terkadang terang dan terkadang gelap, ia merasa sering kali diberi makan dan minum oleh orang lain, apa jang diminum itu terkadang rasanja sangat pahit, ada kalanja djuga sangat manis, tapi entah apa jang diminum dan dimakannja itu.

Keadaan jang gelap dan membingungkan itu entah sudah berapa lamanja berlangsung, ketika pada suatu hari mendadak ia merasa dahinja mendjadi segar, hidungnja lantas mengendus bau harum. Pelahan2 ia tjoba membuka matanja, jang per-tama2 terlihat ada sebatang lilin dengan apinja jang ter-guntjang2 pelahan. Menjusul lantas terdengar suara orang jang sangat halus dan merdu berkata: “Ah, achirnja kau sadar djuga!”

Anak muda itu berpaling kearah suara itu, ia melihat pembitjara itu adalah seorang anak dar berumur 17-18 tahun, berbadju hidjau pupus, raut mukanja potongan daun sirih, tjantiknja susah dilukiskan. Bidji mata anak dara itu mengerling bening, dengan suara pelahan telah berkata pula: “Bagian manakah jang terang tidak enak?”

Namun anak muda itu masih merasa bingung. Ia ingat ketika itu dirinja sedang berlatih diatas Mo-thian-kay, mendadak sebelah badannja terasa panas dan sebelah badan jang lain terasa dingin, dalam kaget dan bingungnja itu ia lantas djatuh pingsan. Dan mengapa didepannja sekarang muntjul seorang anak dara djelita?

Ia hendak mendjawab, tapi lantas merasa dirinja merebah disebuah randjang jang empuk, bahkan badannja berselimut, segera ia hendak bangun, tapi baru sedikit bergerak, seketika anggota badannja serasa ditjotjok be-ribu2 djarum, sakitnja tidak kepalang, tanpa terasa ia mendjerit.

“Kau baru sadja mendusin, djanganlah bergerak,” demikian anak dara tadi berkata. “Terima kasihlah kepada Thian jang maha murah, achirnja djiwamu ini dapat diselamatkan.”

Habis bitjara, mendadak mukanja jang tjantik itu bersemu merah, dengan ke-malu2an ia lantas berpaling kearah lain.

Djantung sianak muda memukul keras. Ia merasa si nona ini tjantik tak terkirakan dan sangat menggiurkan. Achirnja ia tjoba berkata: “Ber…………….berada dimanakah diriku ini?”

“Ssssst!” mendadak anak dara itu mengatjungkan djarinja kedepan mulut sebagai tanda djangan bersuara. Lalu ia ber-bisik2: “Ada orang datang, aku harus pergi dahulu.” ~ Dan sekali melesat, tjepat sekali ia sudah melompat keluar melalui djendela.

Ketika anak muda itu berkedip, tahu2 sinona sudah menghilang. Hanja terdengar diatas wuwungan rumah ada suara orang berdjalan dengan pelahan, tapi tjepat sekali lantas mendjauh. “Siapakah dia? Apakah dia akan datang mendjenguk diriku pula?” demikian sianak muda berpikir dengan bingung.

Selang sedjenak, tiba2 diluar pintu ada suara tindakan orang, lalu ada orang berbatuk2 beberapa kali, menjusul pintu berkeriut dan didorong terbuka, maka masuklah dua orang. Sianak muda melihat jang datang itu diantaranja ada seorang tua, tampaknja berpenjakitan. Seorang lagi tinggi kurus dan seperti sudah dikenalnja.

Ketika melihat sianak muda itu sudah sadar, siorang tua mendjadi girang, ia lantas mendekati dan berkata: “Pangtju, bagaimana rasanja penjakitmu? Air mukamu hari ini tampak djauh lebih segar.”

“Kau………..kau panggil apa padaku? Ak…………aku berada dimanakah ini?” sahut sianak muda.

Sekilas siorang tua tampa merasa sedih, tapi segera mukanja ber-seri2, djawabnja dengan tertawa: “Pangtju telah djatuh sakit beberapa hari lamanja, sekarang pikiranmu sudah djernih kembali, sungguh harus diberi selamat dan bersjukur. Sekarang silakan Pangtju mengaso dan tidur sadja, besok hamba akan datang mendjenguk Pangtju lagi.”

Lalu ia memegang sebentar nadi tangan sianak muda, katanja kemudian sambil mengangguk: “Denjut nadi Pangtju sudah teratur dan kuat, sedikitpun tiada berbahaja lagi. Pangtju sungguh2 seorang beredjeki besar, segenap anggota Pang kitapun ikut bahagia.”

“Aku…………..aku bernama ‘Kau-tjap-tjeng’ dan bu…………bukan ‘Pangtju’, kata sianak muda itu dengan heran dan bingung.

Siorang tua dan sikurus tampak melengak demi mendengar djawaban itu. Mereka saling pandang sekedjap, lalu berkatadengan suara pelahan: “Harap Pangtju mengaso sadja.” ~ Mereka mundur beberapa langkah, lalu memutar tubuh dan keluar dari kamar itu.

Orang tua itu bukan lain daripada “Tjiok-djiu-seng-djun” Pwe Hay-tjiok adanja. Dan sikurus adalah Bi-hiangtju, nama lengkapnja ialah Bi Heng-ya.

Sementara itu luka Bi Heng-ya sudah mulai sembuh berkat pertolongan Pwe Hay-tjiok. Hanja sadja ia merasa menjesal karena nama baiknja telah tersapu bersih lantaran didjatuhkan Tjia Yan-khek hanja dalam satu djurus sadja.

Tapi Pwe Hay-tjiok telah menghiburnja: “Bi-hiante, kalau dibitjarakan, bahkan aku berharap waktu itu kita bersembilan lebih baik didjatuhkan semua oleh Tjia-siansing, dengan demikian kita tentu tidak sampai membikin kaget Pangtju dan beliau takkan Tjau-hwe-djip-mo dan menderita seperti sekarang. Kalau melihat keadaan Pangtju sekarang, sungguh susah diramalkan apakah beliau akan dapat sembuh atau tidak. Andaikan sembuh, maka Lwekang aneh jang bertenaga panas dingin itu pasti susah dijakinkan pula. Sebaliknja, jika terdjadi apa2 atas diri Pangtju, ai, Bi-hiante, malahan diantara kesembilan orang adalah engkau sendiri jang paling ringan dosanja, sebab meski kau ikut naik ke Mo-thian-kay, tapi ketika menemukan Pangtju engkau sendiri sudah dalam keadaan pajah.”

“Apa bedanja keadaan diriku pada waktu itu?” sahut Bi Heng-ya. “Ja, pendek kata bila terdjadi apa2 atas diri Pangtju, rasanja kita bersembilan susah menebus dosa sebesar itu selain membunuh diri semua.”

Tak tersangka, pada malam hari kedelapan, ketika Pwe Hay-tjiok dan Bi Heng-ya menjambangi sang Pangtju, mereka melihat sang Pangtju sudah sadar kembali dan dapat bitjara. Sudah tentu kedua orang itu sangat lega dan girang. Hanja sadja mereka anggap Tjiok-pangtju baru sadja mengalami derita Tjau-hwe-djip-mo, pikiran dan djiwanja tentu mengalami guntjangan hebat, sebab itulah bitjaranja mendjadi me-lantur2 tak keruan serta tidak kenal pada mereka lagi.

Waktu Pwe Hay-tjiok memeriksa nadi sang Pangtju, ia merasa djalannja nadi sangat kuat dan baik, baru sadja ia merasa senang, tiba2 sang Pangtju telah mengutjapkan kata2 jang membuatnja bingung, katanja dia bukan “Pangtju”, tapi bernama “Kau-tjap-tjeng” apa segala. Keruan mereka mendjadi kaget dan tidak berani banjak bitjara lagi, tjepat2 mereka lantas mengundurkan diri.

Sampai diluar, dengan suara pelahan Bi Heng-ya tanja Pwe-tayhu: “Bagaimana, mengapa bisa demikian?”

Pwe Hay-tjiok berpikir sedjenak, sahutnja kemudian: “Saat ini pikiran Pangtju masih katjau, tapi ada lebih baik daripada tak sadarkan diri sama sekali. Ja, tentu aku akan berusaha sepenuh tenaga dan semoga dalam waktu singkat kesehatan Pangtju sudah dapat dipulihkan kembali.” ~ Sampai disini ia merandek sedetik, lalu menjambung pula: “Tjuma urusan organisasi kita sudah makin mendesak waktunja, entah kapan kesehatan Pangtju dapat disembuhkan seluruhnja ?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar