DENGAN menunggang kuda, tampak seorang tua tengah mendatangi sambil
“bernyanti-nyanyi kecil. Dia berusia lebih kurang enam puluh tahun.
Rambutnya dan jengotnya masih kuat dan gagah kelihatannya. Diatas pelana
kuda, dia tampak makin keren.
Cuaca sudah hampir gelap. Pada jalan diluar perbatasan yang di
laluinya itu, selalu iring-iringan kereta dan pengiring-pengiringnya,
hanya rombongan burung gagak yang terbang kesarangnya. Orang-orang
berjalan lainnya sudah tak tampak lagi.
Setelah sesaat mengawasi alam sekelilingnya, orang tua itu terus memecut
kudanya untuk mengejar iring-iringan kereta disebelah depan, siapa
gerang dia itu ?
Untuk mengetahui sedikit riwayatnya, baiklah kita mundur dulu untuk menengok kisah dibawah ini.
Pada musim rontok tahun ke-28 dari kerajaan Ceng (Kian Liong) karena
berjasa mengamankan daerah itu (Inkiang) maka pemerrintah Ceng. Adapun
ciangkun-li khik siu, telah dinaikkan pangkat dan dipindahkan ke
Ciatkang.
Begitu menerima firman, khik siu segera berangkat lebih dulu dengan
barisan pengawalnya ke Ciatkang belakangan barulah keluarganya menyusul.
Di dalam ilmu perang Li Khik-siu sangatlah mahir. Maka tak heran kalau
makin lama kedudukannya menanjak, ibarat musim penghidupan khik siu
adalah sedang berada dalam musim semi yang gilang gemilang.
Tapi manusia tak luput dari kedudukan, orang dalam kedudukan seperti dia
pun masih ada juga hal yang disusahkan, yakni tak dapat keturunan
laki-laki. Dia hanya diberkahi seorang puteri yang kini berusia sembilan
belas tahun. Untuk memperingati tempat kelahirannya, maka puterinya itu
dinamakan Li Wan Ci, ketika anak itu lahir, Khik siu masih menjabat
sebagai Hu-Ciangkun di Siangse.
Walaupun begitu, Khik siu sangat sayang putrinya seperti mustika,
meskipun ayahnya seorang peperangan, tetapi putrinya adalah seorang
gadis yang cantik jelita. Makin remaja, Li-siocia bertambah nyata
keelokannya. Siocia itu wajahnya serupa sang ibu, sedang wtaknya turun
dari ayahnya.
Jika ayahnya sedang berlatih memanah atau menunggang kuda, pasti Wan Ci
selalu ikut. Melihat putrinya gemar ilmu perang, khik-siu mengajarinya
beberapa macam ilmu golok dan tombak. Disamping itu, dia minta pada
perwira-perwira sebawahannya yang pandai untuk memberi pelajaran pada
Wan Ci. Sudah tentu perwira-perwira itu bersungguh-sungguh hati
memberikan kepandaiannya pada putri dari atasannya itu.
Dalam usia tiga belas atau empat belas tahun, kepandaian Wan Ci sudah
boleh juga, sepuluh atau dua puluh orang biasa, tak mudah dapat mendesak
dia. Malah dalam waktu latihan, tak jarang Wan Ci telah dapat menyampok
jatuh senjata dari orang-orang bawahan ayahnya. Dalam keadaan begitu
dengan tertawa Khik siu mendamprat orangnya itu yang dikatakan tak punya
guna. Disamping itu diam-diam dia gembira dalam hati melihat kemajuan
putrinya itu.
Hanya saja kegirangan itu lekas juga diganti dengan elahan nafas, dia
merasa getun, bahwa anak yang pandai dalam bun dan bu itu sayang lah
bukan seorang pria.
Ketika menanjak pada usia empat belas, mendadak sentak Wan Ci, tak mau
datang ke tempat latihan lagi. Sangka khik siu putrinya yang gundah
menginjak dewasa itu mungkin sungkan untuk gelang-gulung dengan lain
kaum. Dala hal itu, diapun tak dapat menjalahkan putrinya.
Tetapi hal yang sebenarnya bukanlah demikian, ternyata Wan Ci dengan
diam-diam telah belajar silat yang lebih tinggi. Hingga dalam lima belas
tahun lamanya, ia telah menjadi seorang ahli iwekang yang lihay,
sungguh bukan lain ialah Liok Hwi Cing, penunggang kuda yang telah
dituturkan diatas itu tadi.
Liok Hwi Cing adalah cianpwe angkatan tua yang termasuk dalam golongan
atas dari cabang Bu tong Pay. Mengapa dia bisa menjadi suhu dari Li Wan
Ci itu adalah karena suatu sebab yang terjadi secara kebetulan saja.
Pada musim panas Kian Liong tahun delapan belas genaplah Wan Ci berusia
empat belas tahun. Ketika ayah nya menjabat dinas di Shangse dia telah
mengundang seorang guru sekolah untuk memberi pelajaran surat pada
putrinya, Liok Hwi Cing, demikian nama guru itu, adalah seorang
terpelajar yang luas pengetahuannaaya. Dia tinggal di tempat kediaman Li
Khik siu, Wan Ci sangat hormat pada gurunya, dan hubungan antara guru
dan murid sangat akrabnya.
Pada suatu hari, hawa terasa panas sekali, sehabis tidur siang. Wan Ci
pergi ke kamar gurunya untuk belajar. Ketika dia melalui gang, ternyata
keadan di sekeliling situ masih tampak sunyi. Waktu sudah menunjukkan
jam tiga lohor seharusnya pelajaran sudah dimulai.
Wan Ci tak mau sembarangan, ia terus masuk kedalam kamarnya sang guru,
ia menduga karena panasnya hawa, mungkin gurunya itu keenakan tidur.
Menghampiri jendela . tetapi begitu ia mengintip kedalam, bukan main
terkejutnya ia itu.
Ternyata gurunya tidak tidur, tetapi sedang duduk bersila diatas kursi.
Tangannya diayunkan pelan-pelan keatas, dan terdengarlah semacam bunyi
tepukan lemah, seperti suatu benda yang terbentur pada tembok.
Wan Ci mengikutkan pandangannya kearah bunyi itu. Ketika diawasi dengan
seksama, ternyata pada tembok dihadapan Liok losunya itu terdapat
puluhan ekor lalat yang tampak menempel tersusun rapi sekali.
Wan Ci merasa heran mengapa lalat itu menempel tak bergerak pada
tembok. Apalagi berjajar dengan rapinya. Teringat ia, bahwa jajaran
barisan lalat itu seperti susunan barisan yang dilihatnya jika ayahnya
sedang melatih orang-orangnya di lapangan.
Kembali ia memandang tajam-tajam dan barulah diketahui bahwa pada badan
setiap lalat ternyata menancap sebatang jarum emas yang halus seperti
rambut. Jarum itu sedemikian lembutnya hingga hampir tak terlihat oleh
Wan Ci dari tempat yang agak jauh itu. Hanya karena dari sebelah jendela
lainnya, sinar matahari menyorot masuk, maka tampak sinar mengilau
dari jarum yang terbuat daripada emas itu.
Sementara itu masih ada beberapa ekor lalat yang beterbangan dalam
kamar. Tapi setiap kali tangan Liok-losu berayun terdengarlah suara
“piok dan kembali pula seekor lalat terpaku pada tembok.
Sifat itu kanak-kanak Wan Ci segera timbul. Ia sangat tertarik dengan
permainan itu, serentak melangkah ke pintu, ia terus menerobos kedalam
sambil berteriak.
“Liok-losu, ajarilah aku permainan itu !”
Ditempat kediaman Lie khik siu, dalam beberapa tahun ini Liok Hwi Ching
telah berhasil menyembunyikan diri, karena gangguan lalat, ketika itu
dia gunakan Hoe yong ciam diam untuk membasminya. Tapi tak dikira kalu
perbuatannya itu telah kena diintip oleh ineecu-nya murid perempuan. Dan
ketahuanlah rahasianya.
“Ho, kalau sudah bangun. Hari ini mari kuceritakan tentang riwayat
dari Sing-ling koen!” demikian Hwi Cing berseru dengan angker. Nyata dia
akan berdaya untuk menutupi rahasianya.
“Liok-losu, kau ajarilah dulu permainan tadi baru nanti mulai pelajaran.”
“permainan apa?” tanya Hwi Cing berlagak pilon.
“Memukul lalat!”
Dengan berkata begitu, ia sudah mengambil kursi, terus loncat keatas
untuk memeriksa dengan tegas lalat yang menempel ditempel ditembok itu.
Jarum itu satu demi satu dicabutnya terus digosok bersih dengan kertas
untuk diberikan kembali pada gurunya seolah-olah ia akan memaksa sang
guru untuk mengajarinya seketika itu juga.
Wan Ci tergolong anak remaja, anak-anak tidak, dewasapun bukan, ia
seorang gadis cantik yang lincah dan cerdas. Ayah bunda serta
orang-orangnya. Ia berkeras minta diajari permainan itu, belum mau sudah
kalau gurunya belum meluluskan.
Liok Hwi-ehiong seorang pandai yang matang dalam pengalaman. Lima
puluh tahun lamanya dia mengarungi samudera hidup yang penuh dengan
gelombang percobaan, kini berhadapan dengan gadis muridnya, yang lincah
dan cerdas itu, dia kewalahan. Hati menolak, tapi mulut berat untuk
mengatakan.
“Baiklah, besok pagi-pagi, kau datang kemari, nanti kuajari, siang
ini kau tak usah belajar, pergilah bermain-mai n. tapi ingat,
sekali-kali jangan kau uarkan tentang permainanku tadi. Kalau sampai
bocor, aku tak mengajarnya!”
Akhirnya Hwi Ching berkata dengan suara tak lempias.
Karena girang, dengan tak mengucap apa-apa Wan Ci berlari keluar.
Liok Hwi Cing adalah seorang Tayhiap dari cabang Bu Tong Pay semasa
mudanya ia berkelana di wilayah Kanglam menjalankan perbuatan mulia
namanya sangat berkumandang dikalangan sungai telaga (jangouw), dulunya
dia adalah orang penting dari Cu Long Pang.
Cu long-pang adalah sebuah persekutuan rahasia yang menentang kerajan
Ceng, dalam pertengahan tahun Yong Ceng, pengaruhnya sangat meluas,
karena baginda Yong Ceng melakukan tindakan tangan besi, maka pada
permulaan pemerintahan baginda Kian Liong, keadan Cu Liong-pang
morat-marit tak karuan. Orang-orang penting banyak dibinasakan, atau
yang sempat lolos terus menyembunyikan diri sedari waktu itu hancurlah
inti kekuatan dari Cu liong-pang itu.
Liok Hwi Ching lolos ketapal batas sebelah barat, ketika itu istana
telah mengirimkan pahlawan-pahlawannya untuk menangkapnya. Tapi berkat
kecermatan dan kepandaian silat yang tinggi, maka ia berhasil dapat
meloloskan diri. Namun Pemerintah Ceng tak pernah berhenti dari usahanya
untuk menangkapnya.
“Tempat persembunyian yang paling aman, pertama jalan lingkungan
istana, kedua berada di kota besar dan ketiga mengumpat di hutan”. Dia
mengambil jalan yang pertama dan dengan berkedok sebagai guru sekolah,
dia umpatkan diri dikediaman Li Khik-su seorang panglima.
Kawanan kuku garuda (kaki tangan) pemerintah sengaja memusatkan
penguberannya kekalangan lioklim (persilatan), gereja-gereja, piauw-hang
(kantor piaowkok) atau tempat-tempat perguruan silat. Mana mereka dapat
mengira, bahwa seorang guru sekolah ditempat perajurit tinggi, adalah
seorang buronan penting yang kepandaiannya tinggi.
Liok Hwi Ching mempunyai tiga orang saudara sepeguruan. Tea Suheng
bernama Ma Cin, Hwi Ching jatuh nomor dua sutenya ialah Thio Ciauw ong
Ma Cia adalah seumpama mega mengambang atau burung Ho hutan, dia senang
berkelana, maka walaupun dia itu adalah Ciang bu-jin ahli waris dari Bu
tong Pay, tapi dia seolaholah tak mau mengurus soal-soal dalam kaumnya.
Sebaiknya, Thio Ciauw Cong adalah seorang pemuda yang bersemangat,
dan gagah berani, karena itulah suhunya sangat menyayanginya. Hampir
seluruh kepandaian dan rahasia ilmu silat cabang Bu Tong Pay telah
diturunkan padanya.
Liok Hwi Ching yang maju dalam ilmu silat maupun ilmu surat. Dengan
kecerdasan otaknya berpuluh-puluh tahun dia pendam dirinya untuk
meyakinkan sungguh-sungguh. Jerih payahnya itu ternyata tak sia-sia. Dia
merupakan seorang ahli iwekang yang jarang ada tandingannya. Dengan
ilmu silatnya “bu kok hian kun” senjata rahasia jarum hu yong cim dan
ilmu pedang cwan bun-kiam, namanya telah menggetarkan kalangan sungai
telaga.
Diantara ketiga saudara seperguruan itu. Mo Cin lan yang paling
kurang sendiri kepandaiannya. Thio Ciauw Cong kemaruk dengan pangkat.
Dia bekerja pada pemerintah Cheng. Berkat kepandaiannya yang tinggi, dia
telah peroleh tanda jasa.
Liok Hwi Ching adalah seorang pecinta negeri. Biar bagaimana dia
tidak mau berhamba pada pemerintah Ceng. Dan karena berlainan pendirian
itulah maka dia telah bentrok dengan sutenya dan sedari saat itu
putuslah tali persaudaraan mereka.
Kembali menceritakan Li Wan Ci, ia betul-betul mentaati pesan suhunya
untuk tidak sebarkan soal permainan yang akan diajarkan padanya itu
keesokan harinya pagi-pagi ia sudah berada dimuka pintu kamar suhunya,
tapi begitu masuk suhunya ternyata tidak ada, yang kelihatan hanya
secarik kertas yang diletakkan diatas meja.
Buru-buru Wan Ci memungut dan membacanya.
“Wan Ci muridku, kau gemar ilmu pedang disamping ilmu surat,
mendengar suara khim kau dapat menyelami setiap getaran talinya, sungguh
aku beruntung mendapatkan murid secerdas kau itu, hanya sayang
kepandaianku terbatas, maka jodoh kitapun habis sampai disini saja,
mudah-mudahan dibelakang hari kita bisa berjumpa lagi, aku percaya masa
depanmu pasti gilang-gemilang, sekian dariku Liok Koo”
Liok Koo adalah nama samaran dari Hwi Ching, Wan Ci masih memegang
surat itu, ia tak dapat berkata suatu apapun. Ketika tiba-tiba daun
pintu terdorong lebar-lebar dan masuklah seorang dengan langkah
sempoyongan.
Betapa kaget Wan Ci ketika didapti bahwa orang itu tak lain adalah
gurunya yang disangka telah mengucapkan selamat berpisah itu, wajah Hwi
Ching pucat lesi seperti tak berdarah separoh tubuhnya penuh berlepotan
tanda darah, dengan paksakan diri dan pada lain saat ia segera buang
dirinya keatas kursi itu.
“Liok losu” seru Wan Ci dengan kaget.
Hwi Ching tampaknya berusaha untuk menguasai diri, katanya :
“Tutup pintu, jangan bersuara!”
Hanya itu saja yang dia ucapkan dan selanjutnya ia membisu lagi.
Wan-ci adalah seorang gadis keturunan panglima perang, ketabhannya
telah banyak diuji dalam permainan pedang dan tombak, betapapun
terkejutnya, ia tetap dapat melakukan perintah gurunya untuk menutup
pintu.
Hwi Ching tampak menghela napas panjang lalu berkata lagi :
“Wan Ci kita telah menjadi murid dan guru selama tiga tahun, selama itu
kita telah mendapat kecocokan. Kukira jodoh kita akan putus sampai
disini saja tak tahunya aku telah terbentur karang, soal ini menyangkut
jiwaku, dapat kah kau berjanji untuk tidak mengatakan pada orang lain?”
Dalam berkata-kata itu tampak mata Hwi Ching bersinar-sinar menatap wajah muridnya.
“losu, aku patuh sahut Wan Ci”
“katakan pada ayahmu aku sakit perlu beristirahat setengah bulan.”
Wan Ci mengiakan, maka sang suhu lalu melanjutkan kata-katanya lagi.
“Bilang juga pada ayahmu bahwa tak usah diundangkan sin she aku sendiri bisa mengobati.”
Sampai disitu kembali Hwi Ching berhenti lagi, setelah berselang beberapa saat tiba-tiba dia berseru :
“sekarang tinggalkan aku sendiri.”
Setelah Wan Ci keluar, Hwi Ching cepat-cepat mengambil obat luka
terus dibeberkan kepundak kirinya, lalu dibalut dengan kain. Tapi
ternyata dia terluka dalamnya, begitu pandangan matanya dirasakan gelap,
mulutnya segera muntahkan darah segar.
Sebagai seorang yang berpengalaman, dia ketahui kecerdasan sang murid
itu suatu tempo akan dapat menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan.
Karena itu dia telah peringatkan pada muridnya supaya dapat berhati-hati
dalam setiap langkahnya.
Hwi Ching tak punya barang apa-apa. Kecuali beberapa potong pakaian
dan sebatang pek liong kiam. Kesemuanya itu dengan mudah dapat dia
rngkas dalam sebuah pauhok. Nanti tengah malam dia akan berangkat.
Selagi dia nantikan sang waktu dengan bersemadhi tiba-tiba tanda
waktu pukul dua kali, itulah waktu yang dianggapnya tepat, maka dia
nyalakan pelita untuk berkemas-kemas, tapi sekonyong-konyong diluar
jendela terdengar ada suara daun rontok dan menyusul dengan itu,
terdengar suara tertawa yang aneh.
Cepat dia tiup padam pelita itu, terus meloloskan Pek-liong kiam dari pinggangnya.
Disaat Itu terdengarlah suara orang berseru keras-keras dari luar jendela.
“Liok Loo haoji oarang tua, makin tua makin tak genah. Kau kira dapat
menghabiskan sisa hidupmu dengan menyaru guru sekolah disini? Anak
manis, hayo kau ikut kita ke kotaraja untuk pangku jabatan yang mulia!”
Hwi Ching seorang jago kenamaan yang banyak pengalaman. Dia tahu
bahwa orang itu bukan lawan yang empuk, dan bahwasanya jumlah mereka
tentu banyak pula. Kalu dia gegabah menerobos keluar, tentu celaka.
Diam-diam dia gunakan bik-houw kang, ilmu cecak merayap di tembok untuk
menuju wuwungan. Dia sawut palang jendela terus ditariknya putus.
Membarengi jatuhnya genteng-genteng kebawah dia lantas loncat keatas
wuwungan.
Tiba-tiba pada sat itu terdengar sebatang anak panh yang disabitkan dengan tangan berkesiuran menyambar, disusul dengan keras.
“Bagus, jangan lari !”
Hwi Ching buang tubuhnya kesamping, seraya dengan pelan-pelan ia menegur, “Sahabat mari ikut aku !”
Dia menggunakan ilmu berjalan cepat lari kearah pinggir kota. Benar juga tiga sosok bayangan telah mengikutinya.
Kira-kira berlarian tujuh li jauhnya tiba-tiba seseorang pengejarnya berseru.
“He, orang tua she Liok, kau kan seorang kangouw kenamaan mengapa
berlaku begitu pengecut. Jangan mimpi dapat melarikan diri kau.
Liok Hwi Ching tak mau menyahut, dia mempunyai rencana sendiri,
mengingat keadaan waktu waktu itu adalah soal mati hidup, sengaja dia
pancing musuh-musuhnya kesebuah bukit karang yang terletak ditepi kota
yang sepi.
Ternyata perhitungan Hwi Ching itu tepat musuh terdiri dari tiga
orang. Hwi Ching sengaja akan bawa mereka ketempat yang sepi. Kedua
kalinya ia akan jajal ilmu menentengi tubuh mereka dan ketika kalinya,
dia akan mengetahui jumlah musuh-musuhnya untuk menjaga kemungkinan
dibokong.
Ketika akan mulai menanjak ketas Hwi Ching tetap kencangkan langkah.
Dan sampai distu dapatlah dia mengetahui sampai dimana kepandaian
musuh-musuhnya itu, ternyata mereka ada yang dapat tetap berlari cepat,
ada yang terbelakang.
Ketika melihat Hwi Ching merendek dan berputar dari ketiganyapun tak
berani mendatangi dekat-dekat. Mereka segera mengatur siasat diri dalam
kedudukan segitiga, yang seorang berada imuka dan kedua kawannya
mengikuti dari belakang.
Dibawah sinar rembulan, Hwi Ching dapat melihat jelas musuh-musuhnya,
yang berada dimuka sendiri adalah seorang tua yang pendek dan kurus.
Dia memegang sepasang badi-badi yang ekor burung seriti yang panjangnya
kurang dari satu jengkal.
Dibelakangnya adalah seorang yang tinggi dan kawannya lagi seorang yang gemuk pada saat itu berkatalah si kurus tadi :
“Liok Loenghiong, sudah lama kita bertemu adakah kau masih ingat kepada pecundangmu Ciao Bun Ki dulu itu ?”
Hwi Ching terkesiap. Dia tak habis mengerti mengapa orang she Ciao itu mencari dia pada waktu begini.
Ciao Bun Ki adalah pemimpin nomor tiga dari kwantong Liok Mo, enam
iblis dari wilayah Kwanteng, sepuluh tahun yang lalu bertengkar mulut,
dia pernah bertempur dengan Liok Hwi Ching masih kenal kasihan dengan
tak mau membunuhnya dan hanya memukulnya saja, dia tak menyangka kalau
orang she Ciao akan menuntut balas padanya.
Sebenarnya Ciao bun ki sedang diutus oleh Ceng untuk menjalankan
suatu tugas ke Thian san. Dengan tak disengaja dia dapat mendengar bahwa
Liok Hw Cing musuhnya itu bersembunyi ditempat kediaman keluarga Li
Khik siu-ciangkun.
Dengan membawa dua jago kosen dari kantor congtok Shan see dan
kamsiok, tanpa memberitahukan pembesar setempat, malam itu ia datangi
tempat Hwa Ching bersembunyi.
Dalam beberapa tahun itu, Bun ki telah berusaha keras untuk
meyakinkan ilmu pukulan “Pi peh Chiu” ia dipecundangi dalam pertempuran
tangan kosong dan kinipun ia akan mencuci hinaan itu dengan tangan
kosong pula.
Maka berkatalah Hwi Ching dengan merangkap kedua tangan selaku menghormat.
“Kiranya Ciao Bun Ki sampai sepuluh tahun tak jumpa, hampir aku tak
dapat mengenalinya. Kedua saudara ini siap ? Dan nasehat apa yang
Ciao-samko hendak berikan padaku?”
“Hmmm” bun Ki perdengarkan suara hidung dan sambil menunjuk seorang
gemuk ia berkata : itulah saudara angkatku Lo sin, yang orang beri
julukan yaitu sebagai Thiat Pi Lo Han orang gagah tangan besi.
Dan menunjuk pada orang yang tinggi, dia berkata : “dan ini adalah Giok
poan-koan Ha jin-liong. Hayo kalian mau lebih dekat kesini!”
Lo sin dan Ho jin liong menghampiri seraya merangkapkan kedua tangan, katanya “maaf, Liok-cianpwe.”
“Sungguh tak mengira kalau ditempat yang begini sepi telah menerima
kedatangan kalian bertiga, entah pengejaran apa yang samwie hendak
berikan kepadaku?”
“Liok-loenghiong” sahut Bun Ki dengan tawar, “lima belas tahun yang
lalu aku telah menerima pelajaran darimu, karena memang kepandaianku
masih cetek, barrangkali karena aku orang yang berkepala keras, maka
dalam beberapa tahun ini aku telah belajar lagi beberapa jurus ilmu
silat, “kucing kaki tiga. Untuk itu aku akan minta petunjuk darimu
termasuk bantuan pribadi. Kedua kalinya, berkat namamu yang tersohor itu
pemerintah telah mengundang kau untuk sesuatu jabatan penting. Untuk
ini lah kita bertiga, sengaja datang buat menyampaiakan sekalian untuk
memberi selamat padamu, dan ini termasuk urusan negara.”
Sampai pada saat itu mengertilah Hwi Ching kedudukan yang ia hadapi.
Kalau hal itu terjadi pada beberapa puluh tahun yang lalu mungkin ia
takkan tahan lagi. Tapi keberangasannya itu telah terbawa pergi dengan
bertambahnyanya sang waktu. Dengan tenag ia kembali merangkapkan kedua
tangannya dan berkata :
“Ciao samya, kau dan akuadalah orang-orang tua yang sudah berumur lima
atau enam puluh tahun kesalahanku tempo dulu itu dengan setuus hati
bersama ini kuhaturkan maaf !”
Demi ucapannya itu Hwi Ching membungkukan badan dihadapan orang she
Ciao itu. Tiba-tiba si tinggi, Ho Jin long perdengarkan suara hidung
lalu memaki dengan kasarnya :
“Cis, tak tau malu!”
Mata Hwi Ching cepat mengalihkan kearah orang she Ho itu, dipandangnya tajam-tajam.
“Aku Liok Hwi Ching, sedikitpun tak ada nama dikalangan kangouw, selama
itu belum pernah kuterima hinaan dari siapapun juga, katanya, dan
kembali menghadap kearah Ciao Bun Ki dia lanjutkan kata-katanya.
“Ciao samya, tadi kau sebutkan kunjunganmu ini untuk urusan pribadi
dan negara. Apa yang terjadi dulu, Cuma menuruti nafsu darah muda saja.
Untuk untuk perbuatanku itu, telah kuhaturkan maaf padamu. Mengenai
urusan negara, aku Liok HwiChing bukanlah tergolong orang yang berkulit
tebal umau menjadi kaki tangan pemerintah Boan. Kalau kau berkenan mau
sekerat tulang tua ini menjadi hamba mereka, hmm…. Silakan mengambilnya.
Ucapan itu membuat ketiga orang itu menengak.
“kalian boleh serentak maju bertiga, atau satu-satu, lanjut Hwi Ching
dengan angker. Kemudian dia melirik pada si tinggi dan berkata pula.
“Kulihat lebih baik Ho Ya in yang maju lebih dulu.”
“Kau terlalu banyak mulut.”
Demikian tiba-tiba si gemuk Lo Sin berseru, terus lompat menonjok muka
Hwi Ching. Hwi Ching tampaknya tenang-tenang saja, tetap tak bergerak.
Ketika kepalan seorang hampir mengenai mukanya sebat luar biasa, tangan
kanannya menghantam lawannya.
Lo sin terkejut sekali atas gerakan orang yang demikian sebatnya itu.
Buru-buru dia mundur tiga tindak. Hi Ching tak mau mengejar, setelah
menangkap semangat, Lo sin gunakan Ngo beng kun untuk kembali menyerang.
Pada saat itu, Cio Bun Ai dan Ho-jin liong sudah menyingkir
kepinggir. Mereka telah mempunyai rencana Ciao Bun ki telah bertekad
untuk membalas sakit hati. Beberapa tahun dia rela belajar mati-matian
dalam ilmu Thiat pi peh tangan besi. Dia pernag dirubuhkan Hwi Ching
dengan Bukek hian kong-kun. Biar bagaimana, sakit hati itu tak pernah
dilupakan.
Dia suruh Lo sin Ho Jin liong tempur Hwi Ching lebih dulu, agar
tenaganya berkurang. Sedang dalam pikiran Ho Jin Liong terbentang jasa
besar yang akan diberikannya oleh cangtok, apabila dia berhasil
menangkap buronan yang penting itu.
Hwi Ching dan Lo sin telah bertempur dengan seru. Ngo heng kun
berdasarkan jurus-jurus menyerang. Serangan pertama dilancarkan, disusul
dengan kedua. Begitu seterusnya serangan susul-menyusul tak
putus-putusnya. Ngo heng kun merupakan ilmu silat gwakang yang paling
lihay!
Dengan ilmu itulah Liok-sin berdaya merangsek lawannya.
Permainan ilmu silat Hwi Ching tenang dan cepat. Dalam sekejap saja,
keduanya telah bertempur puluhan jurus, tiba-tiba Hwi Ching menghilang.
Buru-buru dia berputar kebelakang, karena ternyata Hwi Ching sudah
berada disitu, dalam kegugupannya dia akan sambut lengan Hwi Ching.
Lo sin sangat andalkan tenaganya yang besar, dia tak kuatir
bersampokkan dengan lawan. Namun hanya dengan sekali berkibas tangan
lagi
........ , sedang lengan bahu Hwi Ching pun tidak dapat disentuhnya.
Lo sin mkin bingung. Dia robah permainannya dengan ilmu silat “Lin na
chiu”. Dengan sepasang tangan dia menyerang. Tapi Hwi Ching tetap tak
berganti permainan dan tetap pula dia melesat kesana-kemari.
Beberapa jurus kemudian Lo-sin menganggap mendapat kesempatan. Dia
kirim pukulan tangan untuk itu dia pastikan Hwi Ching akan mengegos
kekiri, maka dia susulkan tangan kiri lawan. Dia untuk kegirangannya
pundak lawan telah kena tercengkeram.
Tapi kesudahannya ternyata lain seperti yang diharapkannya. Kalau dia
tadi luput mencengraman, itu malah baik. Tapi setelah dia mencengram
kena tubuhnya yang gemuk itu lantas seperti “dum” begitulah kedatangan
suara, ketika tubuhnya jatuh ditanah tiga tombak jauhnya.
Seketika itu matanya berkunang-kunang terus duduk numprah ditanah,
seperti tak bertulang ia terlongong-longong terpesona. Hanya mulut saja
yang masih bisa memaki, “setan alas kurang ajar, kau gunakan ilmu iblis
apa ....?”
Ternyata tadi Hwi Ching menggunakan ilmu iwekang yang disebut “cap-i
sip pat-tiap” sentuh pakaian delapan belas kali rubuh. Begitu musuh
menjamah pakaiannya maka akan terlemparlah dia, sebenarnya ilmu itu
hanya berdasarkan pinjam kekuatan lawan saja.
Meski Hwi Ching belum dapat menyakinkan ilmu itu dengan sempurna
sehingga begitu orang menyentuh pakaiannya begitu dia akan rubuh, namun
karena Lo-sin telah gunakan kekuatan besar untuk mencengkeram, maka
dengan mudah Hwi Ching dapat terjungkal dengan telak.
Melihat Lo sin numprah ketanah segera Bun Ki kerutkan alis serunya perlahan-lahan :
“Lo hiante bangunlah lekas-lekas!”
sebaiknyaHo Jin hong tanpa berkata apa-apa terus maju menyerang Hwi
Ching dengan gerakan “Song liong-jiang cu” sepasang naga berebut
mustika.
Kembali Hwi Ching perlihatkan kegesitan dengan menghilang dari
npandangan musuh. Dan berbarengan itu, Ho-jin liong rasakan pundaknya
ditepuk dari belakang dan satu suara berkata, “kau belajar sepuluh tahun
lagi.”
Dengan cepat Jin liong berputar kebelakang tapi ternyata Hwi Ching
tak tertampak disitu. Ketika Jin Liong akan berbalik badan lagi,
tahu-tahu kedua pipinya telah ditampar dari belakang dan satu suara
kembali berkata : “nih rasakan ......bocah kurang ajar, sekali ini
kuajar adat.”
Sebenarnya Ho jin liong lebih diatas dari Lo sin. Tetapi karena dia
tadi telah berlaku kurang ajar, Hwi Ching tak mau kasih hati. Dia
sengaja gunakan permainan istimewa untuk mempermainkan Jin liong.
Melihat Jin liong babak belur mukanya dan disana-sini terlihat
benjot, Ciao Bun Ki melesat maju, belum orangnya datang, angin
pukulannya sudah tiba. Liok Hwi Ching mengetahui sekarang dia berhadapan
dengan orang ketiga dari Kwan-tung liok mo, yang kepandaiannya jauh
beberapa tingkat dari kawn-kawannya tadi. Dia tak berani berlaku ayal
lagi, lalu keluarkan ilmu silat dari cabangnya yakni Bu tek hiat-kong
kun, untuk melayani dengan hati-hati.
Ho jin liong mau membantu Bun Ki tapi karena mereka bertarung dengan
rapatnya terpaksa dia tak mendapat kesempatan untuk menceburkan diri
kedalam pertarungan itu.
Ciao Bun Ki keluarkan ilmu andalannya “Thiat pi peh chiu” pukulan
tangan besi...... dan hebatnya pukulan ini, asal tersentuh maka cacatlah
si korban.
“Thiat pi-peh chiu” dari Ciao Bun Ki adalah warisan dari keluargaBan
di Lok yang, kini dengan jurusnya yang disebut “Chiu hoen ngo hian”
tangan memetik senar kelima dia menyerang Hwi Ching.
Gerak serangan nampaknya lemah gemulai tak bertenaga, tapi kelemahan,
tapi dibalik kelemahan itu terkandung tenaga yang luar biasa kerasnya.
Dan begitu dekat ke badan musuh jari-jarinya itu berubah seperti besi
kerasnya. Memang “Thiat pi peh chiu” ini adalah gabungan antara
“thiat-sat-ciung” pukulan pasir besi dengan “eng jiao kong” cengkeraman
kuku garuda.
“bagus....!” seru Hwi Ching sambil gunakan houw jong-po” gerakan
harimau melangkah untuk mengegos kesamping sambil majukan langkah kesisi
lwan. Disitu segara dia pakai tangan kanannya untuk memukul lengan.
Bun ki buru-buru miringkan tubuh sambil pentang tangannya, itulah
gerakan “pi peh ci bun” pi poh (nari) menutup muka. Tangan kiri
melindungi badan tangan kanan dijulurkan, memakai kedua jari untuk
menotok.
Hwi Ching menurunkan tubuhnya kebawah dalam pada itu dia gunakan pukulan Iwekang, in ciang untuk mebalas.
Hwi Ching akan menempuh jalan kebajikan. Dia tak tega untuk
menghapuskan jerih payah Bun ki puluhan tahun ini dalam mempelajari
ilmunya. Karenanya dia hanya gunakan separoh tenaga untuk memukul.
Maksudnya supaya orang she Ciao itu dapat insyaf, dan sampai disitu akan
mundur sendiri. Tapi justru maksud baik itu, telah berbalik
mencelakakan Hwi Ching sendiri.
Karena tak gunakan sepenuh tenaga, gerakan Hwi Ching menjadi lambat,
Ciao Bun ki mengerti bahwa lawan telah berlaku murah hati, kesempatan
ini takkan dilewatakan begitu saja. Ketika tangan Hwi Ching masih belum
ditarik untuk melindungi bagian dada yang terbuka. Tba-tiba dengan
gerakkan “liucwan-hee-san” air sumber mengalir kebawah gunung, kelima
jari Bun Ki telah menyodok kebawah pulung hati Hwi Ching dengan
sekuat-kuatnya.
Dalam Keadaan tak yang terduga sama sekali, Hwi Ching tak keburu
menghindar. Dia telah terkena tangan jahat dari thiat pi peh yang ganas.
Namun dia adalah jago besar daru bu tong pay. Walaupun menderita
kerugian, tak menjadi gugup. Cepat dia tarik kedua tangannya untuk
menangkis serangan berikutnya dari Bun Ki.
Setelah itu dia mundur tiga langkah. Dengan tak mengucapkan apa-apa,
dia empos semangatnya. Dia tak berani marah, karena tahu bahwa dia luka
dalam parah. Kalau dia terlalu turutkan nafsu tentu binasa!
Mendapat hati, Bun Ki tak mau menyudahi sebelum musuhnya dapat
mengaso untuk memulihkan tenaga, dia terjun lagi dengan “botol perak
pecah” dan “kudabesi kabur” serangan berantai dari jurusjurus thiat
pi-peh chiu yang lihay.
Dalam keadaan memaksa, apa boleh buat lagi. Dengan bersuit keras, Hwi
Ching mencabut pek lieng kiam. Bun Ki cepat-cepat loncat kesamping dan
berseru :
“Pundak rata, majulah ....! si tua akan mengadu jiwa!”
“pundak rata” adalah sebutan yang berarti “kawan” tak perlu diulang lagi
Ho Jin liong dengan sepasang go kao kiam, maju menyerang tenggorokan
Hwi Ching.
Go-kao kiam, walaupun disebut pedang, tapi bentuknya adalah sepasang
gaetan. Hanya pada ujung gaetan itu didampingi sebatang pedang. Maka
dapat digunakan dalam permainan kao dan kiam.
Melihat orang menggunakan sepasang gaetan, tahulah Hwi Cing bahwa
kepandaian lawannya itu tentu tidak lemah, segera diapun gunakan “heng
hwa jun-houw” dan “sam boan-gwat” dua jurus serangan dari ilmu pedang
jwan-hun-kiam.
Pada saat itu, dengan melolos chit ciat konpian, pian baja dari tujuh
ros-rosan. Lo sin turut menyerang. Ternyata dia sungguh-sungguh
bertenaga kuat. Hwi Ching tak berani berbenturan senjata menagkis, dia
hanya menghindar sembari mencari lubang untuk memapas jari seorang she
Lo itu.
“Ah, yah!...” Lo sin perdengarkan seruan kaget, terus loncat menghindar.
Dulu semasa belajar bugee pada keluarga Han di Lok-Yang, ilmu senjata
thiat pi-peh tersebut telah dipelajarinya denga sempurna, pi-peh adalah
semacam alat tetabuhan seperti harpa kedua sisinyatajam. Di waktu
melakukan penyerangan, bisadipergunakan sebagai kampak. Untuk bertahan
diri dapat sebagai perisai. Badan pi peh itu berlubang, disitu terdapat
dua belas biji pi peh ting paku yang ujungnya tajam sekali.
Setelah mendapat pelajaran thiat pi peh dari keluarga Han, Ciao Bun
Ki mendapat beberapa kesukaran. Pi peh itu sebenarnya adalah tetabuhan
yang biasanya dipetik oleh wanita? Di kalangan kangouw, banyak mendapat
cemoohan orang karena senjatanya itu, dia mencari akal untuk mengganti
pi peh itu. Dengan sebuah thiat-pay. Bentuknya meski berlainan dengan
pi-peh, tapi cara memainkannya tak ubah bedanya dengan pi-peh.
Merasa belakang kepalanya ada sambaran angin, Hwi Ching melejit
kesamping. Dan secepatnya dia kirim bacokan. Ketika Bun Ki menggalangkan
thiat-paynya untuk menangkis, pek liong kiam melorot turun terus
menyerang lagi.
Setiap ilmu silat tangan kosong maupun dengan senjata apa saja
apabila akan menyusuli serangan yang kedua, tentu lebih dulu menarik
serangan yang pertama. Tidak demikian dengan ilmu Hwi Ching, disitulah
letaknya kelebihan ilmu pedang Jwan hoen pian dari Hwi Ching.
Bagaimanapun musuh akan menangkisnya serangan kedua tetap akan menyusul
tanpa mesti menarik lebih dulu. Dalam tiga kali susul menyusul itu,
dilancarkan, musuh pasti terkurung dalam sinar pedang yang berkelebat.
Pada saat itu, jangankan dapat membalas, sedang untuk menangkis saja tentu kewalahan.
Melihat Bun Ki kerepotan, Jin liong dan lo sin segera maju menyerang
dari belakang secara berbarengan. Senjata sebatang pay dan sepasang
siangkao maju bersamaan untuk mengurung Hwi Ching.
Setelah sekian lama, dada Hwi Ching terasa muali sakit, insyaf lah
ia, bahwa luka dalamnya mulai menyerang. Wlaupun jwan bun kiamnya sangat
lihay, tetapi dikeroyok oleh tiga orang dia agak repot, juga.
“tak nyana kalau Liok Hwi Ching hari ini akan binasa ditangan kawanan tikus, pikirnya membatin.
Kalau mengingat bagaimana kebaikanny, telah dibalas dengan kebusukan
itu, marahlah di. Dengan mengumpulkan seluruh semangat dia membuka jalan
darah untuk lolos. Kelak apabila lukanya sudah sembuh akan dicarinya
Kwantung Liok mu untuk menuntut balas.
Habis mengambil keputusan dia tak mau bertempur mati-matian, hanya
tenangkan semangatnya. Ketenangan inilah yang menjadi pokok dari ilmu
silat Iwekang. Juga sinar pek-liong kiam mengurung dirinya rapat-rapat,
sehingga musuh tak berani mendekati.
“Ciao samya, kita kepung dia terus, biarkan dia mati kelelahan!” seru Lo sin.
“Benar, sebentar lagi Lo hiatee boleh kutungi kepalanya untuk dipersembahkan pada contok sahut yang diajak bicara.
Pedangnya sih bagus amat, Ciao samnya berikan saja padaku, seru Ho jin liong.
Mereka bertiga salaing “mengipasi hati” Hwi Ching, seakan-akan
menggapnya sebagai seorang mati yang diperebutkan warisannya. Memang
mereka sengaja berkata-kata dengan keras agar Hwi Ching panas hatinya.
Hwi Ching mengirim dua kali serangan kearah Lo sin. Seketika lo sin
mundur, terbukalah sebuah lubang. Dan kesempatan ini digunakan
sebaik-baiknya oleh Hwi Ching dengan gerakan “hujan dicurahkan dari
langit dan melesat keluar kalangan.
“Celaka, si tua akan lari” seru Lo sin dengan kaget.
Hwi Ching terus keluar “pat poh kam sian” ilmu lari cepat sembari
berlompatan, meluncur ke bawah gunung. “Pat poh-kam sian” telah
diyakinkannya selama berpuluh-puluh tahun, maka begitu sang kijang lepas
dari jerat, jangan harap ketiga orang itu dapat memburunya.
Sebat sekali Ciao bun Ki menekan alat diatas thiat-paynya, dan
seketika itu, tiga batang pi poh ting meluncur kearah Hwi Ching. Tapi
dengan cekat Hwi Ching putar pek-liong kiamnya untuk menyampok kedua
batang pi peh-ting yang menjurus kemukanya, menyusul dia enjot sepasang
kakinya loncat keatas, kembali sebatang pi peh ting mengarah kakinya
dapat dihindari.
Sebagai seorang kangouw kawakan, Hwi Ching cukup mengetahui bagaimana
lihaynya paku pi peh ting itu, paku itu ujungnya menurun kebelakang,
begitu menyusup kedaging sukar untuk dicabut. Kalu memaksa akan dicabut
tentu dagingnyapu nikut terbetot keluar. Karena itu pi peh ting tak
boleh ditangkap dengan tangan berbahaya sekali, senjata rahasia macam
begini hanya dipakai oleh kaum persilatan dari golongan hitam saja.
Setelah berhasil mengelit pi peh ting, Hwi Ching berniat hendak
meneruskan larinya. Tapi sekonyong-konyong dia tergelincir terus
sempoyongan, mulutnya terasa hendak muntah, dadanya sakit sekali. Dan
berbarengan itu, dia rasakan matanya berkunang-kunang.
Melihat orang yang jalannya tak teratur, tahulah Ciao Bun Ki bahwa
luka dalam Hwi Ching mulai menyerang. Diam-diam dia menjadi girang,
terus mengeroyoknya lagi. Demikianlah mereka berempat segera bertempur
lagi.
Terasa bagi Hwi Ching bahwa gerakkan tangan kanannya itu tentu
disusul dengan rasa sakit dada kirinya. Untuk itu, buru-buru dia
pindahkan pedangnya ke tangan kiri.
Justru inilah yang membingungkan lawan, permainan pedang dengan
tangan kiri dari Hwi Ching adalah jurus-jurus kebalikan dari permainan
tangan kanan. Karena bingung sat itu Bun Ki mundur beberapa tindak.
Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Hwi Ching, siap lalu dengan
gerak “pek-hong koan jit” bianglala menaungi matahari, dia serang Ho jin
liong.
Nampak serangan yang berbahaya itu Jin-liong menghindar kekanan.
Inilah satu kelesalahan besar bagi orang yang tak mengerti permainan
pedang tangan kiri. Begitu dia loncat kekanan, pek liongkiam sudah
membabatnya, beruntung pada saat berbahaya itu, Jin liong tah kehilangan
akal, cepat dia buang diri ketanah, terus bergulung menyingkir.
Baru saja Hwi Ching akan memburu, dara arah belakang terus ada angin
menyambar, kon pian Lo-sin sudah bergerak “Thay san jik ting” telah
melayang datang.
Hwi Ching dengan tenang, begitu pian hampir tiba dibadanya segera ia
bergerak, sebat luar biasa tangannya diulur untuk menotok jalan darah
“hiat boen hiat” seraya tubuh lawannya terasa lemas tak bertenaga,
tangannya tak kuasa lagi mencekal kon piannya lebih kencang pian
menyerusuk kesamping menghantam batu terus membal balik.
Justru pada saat itu, tiga batang paku “pi peh ting” dari Bun ki
menyambar dari arah belakang, jarak dengan punggung Hwi Ching sudah
demikian dekatnya, bagaimanapun ia akan berkelit kekanan atau kekiri,
sudah tak keburu, sebat luar biasa, ia sembat tubuh Lo sin yang numprah
ditanah, terus diputarnya sebagai perisai (tameng) “Cieet ......” tanpa
ampun lagi tiga batang anak panah pi-peh ting, dua menusuk dada dan
satunya menyusup perut, tanpa berkutik putuslah nyawa Lo-sin.
Melihat senjatanya berbalik mencelakan kawan sendiri, meluaplah
kemarahan Bun Ki, lalu ia memutar thiat pay dan menyerang Hwi Ching
dengan beringas.
Pada sat itu, Ho jin liong sudah bangkit tapi Hwi Ching tak mau
memberi kesempatan padanya. Dia serang lagi dengan pek hong kiamnya,
hingga buru-buru Jin liong mundur setindak.
Dan pada detik itu, thiat pay Bun ki sudah melayang datang. Kalau
memutar tubuh untuk menangkis thiat-pay, tentu Ho Jin liong dapat
kelonggaran bergerak menyerang. Walaupun musuh telah berkurang satu,
tapi belum berarti ancamannya itu sudah terhindar. Karenanya pada lain
saat ujung thiat-pay telah menowel pundak Hwi Ching dengan meninggalkan
lubang luka yang besar.
Tapi selagi Bun ki kegirangan dengan hasil thiat paynya, dan pek
liong kiam telah melayang-layang diudara, langsung menyambar Jin liong.
Dalam kagetnya, Jin liong sepat angkat go-kao kiamnya. Memang benar,
dengan berbuat begitu dia dapat menangkis pek liong kiam, tetapi Hwi
Ching telah melemparkan sedemikian hebatnya, dan tak dapat dicegah lagi
pek liong kiam meluncur dengan pesatnya, bersarung kedalam dada terus
keluar dari punggung dan matilah Jin liong, seolah-olah terpantek pada
tanah.
Demikianlah kalau Liok Hwi Ching, jago tua dari Bu Tong Pay sedang mengumbar nafsu.
Dan secepatnya dia balik memutar diri, Bun ki belum sempat menarik
thiat paynya seketika itu juga orang she Ciao merasakan mukanya
kesakitan hebat, sontak matanyapun menjadi gelap.
Ternyata ketika Hwi Ching berbalik, dia telah sambitkan lima batang
jarum emas hu yong ciam ke muka Bun Ki. Pada jarak yang begitu dekat
dan dengan kecepatan luar biasa, jarum yang sehalus itu tak mungkin
dapat dihindari, seketika itu juga sepasang mata Bun Ki telah menjadi
buta.
Sudah terlanjur dirasuki kebencian membarengi, selagi Bun Ki mendekap
mukanya dengan tangan Hwi ching menghampiri. Sekali kepalan nya
menghantam sepenuh tenaga, tak ampun lagi terpelantinglah tubuh Bun Ki
beberapa tindak terus roboh tak beryawa lagi.
Demikianlah Hwi Cing telah tumplek seluruh kepandaiannya. menotok,
menyambit pedang dan jarum emasnya hu yang ciam. Dalam sekejap waktu
saja, dia sikat ketiga lawannya.
Tapi ketika itu, dia sudah tidak kuat lag, hampir dia kehabisan
tenaga, karena lelah akibat luka dalamnya yang makin menghebat sakitnya.
Angin diatas tegalan gunung itu kini semakin menusuk tulang. Rembulan
perlahan-lahan bersinar remang-remang dilangit disana hanya tampak tiga
mayat menggeletak.
Yang bergelimpangan diantara batu-batu yang berserak-serakan, suara
burung hantu menambah keseraman suasana malam itu, sekalipun Hwi Ching
jago kosen, tak urung dia ngeri juga.
Cepat dia sobek bajunya untuk membalut luka dipundaknya. Dengan
berdiri tegak, ia empos semangatnya. Dia selalu berhati-hati dan cermat
dicabutnya jarum-jarum bu yoang ciam pada muka Bun Ki, lalu disimpannya
baik-baik, setelah itu dia lempar ketiga mayat itu kedalam jurang.
Sat itu Hwi Ching telah kehabisan tenaga, apalagi badannya belumuran
darah. Jika pergi ketempat penginapan tentu menimbulkan kecurigaan
orang. Diputuskan kembali lagi ke gedung Ci Khik-siu, untuk tukar
pakaian dan membersihkan noda-noda darah, setelah itu ia akan berangkat
lagi.
Tak disangkanya sepagi itu, Wan Ci sudah berada di kamar Hwi Ching. Apa
boleh buat, ia pesan buat sang murid untuk jangan menceritakan apa-apa
pada orang lain. Begitu Wan ci sudah berlalu dari kamarnya. Hwi Ching
segera merebahkan dirinya keatas ranjang. Dadanya makin menghebat
sakitnya dan sesaat itu juga dia pingsan tak ingat orang.
Entah sudah beberapa lama, ketika dia akan membuka mata, serasa badannya seperti didorong orang.
“Losu, .... losu ......”
Demikian terdengar suara didekat telinganya, ternyata yang berdiri
dimuka ranjang, adalah Wan Ci, wajahnya sangat cemas. Disamping masih
ada seorang, yang ternyata adalah seorang sin she.
Setelah dirawat dua bulan dan berkat pokok latihan Iwekang yang
sempurna, serta atas desakan Wan Ci pada ayahnya untuk mengundang sinshe
pandai, luka dalam dari Hwi Ching jadi sembuh kembali.
Selama dua bulan itu, boleh dikata sehari penuh Wan Ci berada di
kamar gurunya untuk merawat, orang-orang memuji Wab Cisebagai siocia
yang berbakti pada orang tua dan gurunya. Tapi sebenarnya Wan Ci memang
mengandung maksud lain.
Sedari ia mencuri lihat permaianan jarum hu cong ciam dan keesokan
harinya menyaksikan pemandangan yang aneh itu, tahulah Wan Ci bahwa
gurunya itu tentu bukan guru sekolah sewajarnya. Karena itu dia rawat
sang guru dengan luar biasa capeknya.
Setelah Hwi Ching sembuh, Wan Ci tak mau menyinggung soal permintaannya mengenai ilmu Hu yong ciam, malah ia hanaya bertanya.
“Liok losu, kapan kita mulai pelajaran lagi? .... apakah losu masih menceriata sejarah pula.
“besok pagilah” jawab Hwi Ching setelah termenung sejenak.
Keesokan harinya, Hwi Ching suruh pelayan membelikan suatu barang,
setelah benda itu dibuka.... ini jarum hu yong siam, katanya pada sang
murid.
“Wan Ci, kau betul pandai. Aku ini orang apa, walaupun samar-samar kau
sudah mengetahui, tapi belum semuanya. Kali ini kumendapat halangan. Kau
telah begitu sabar merawat tentu akupun merasa juga, semula aku akan
tinggalkan tempat ini, sekarang aaku berubah pikiran, ilmu permainanku
hu yong ciam itu sekarang akan kuajarkan padamu.”
Seperti dapat lotere, kegirangan Wan ci tak terhingga. Cepat ia
menjongkok ketanah kemudian memberi hormat samapai tiga kali. Hwi Ching
hanya nampak tersenyum. Tiba-tiba dia berkata keren sekali :
“Kutahu kau ini tajam perasannya. Beruntunglah kau dapat kesempatan
untuk mempelajari ilmu dari kaumku ini. Dalam beberapa tahun hatiku pun
maju mundur saja. Bakat yang kau miliki itu sebenarnya jarang sekali
ada, kau telah mengangkatku guru. Apakah kau sanggup mentati
peraturan-peraturan kaumku, apakah kau sanggup melakukannya...?”
“Aku tentu tak berni melanggar titah, suhu” sahut Wan Ci.
“Kalau kelak kau pergunakan kepandaian itu ditempat yang salah tentu akan kuambil jiwamu!”
Kata-kata yang terakhir itu diucapkan Hwi Ching dengan nada yang angker,
hingga Wan Ci bergidik, tak berani berkata sepatah katapun juga.
Begitulah, sejak saat itu Hwi Ching lalu menurunkan ilmu Bu Tong Pay
pada Wan Ci, banyak pelajaran yang diterima Wab Ci. Bagaimana cara
memusatkan tenaga dan pikiran, pokok dasar yang penting dalam latihan,
tiga puluh dua jurus ilmu silat Tong Kun, melatih tenaga, pukulan dan
akhirnya silat Bu tek hian kong kun yang lihay itu. Setelah kesemuanya
sempurna, lalu diberi latihan cara memusatkan pandangan mata,
pendengaran telinga, dan cara melepas berbagai senjata rahasia, seperti
peluru dan panah tangan dan sebagainya.
Dua tahun kemudian, berkat ketekunan dan kecerdasan Wan Ci, iapun
mendapat kemajuan yang sangat pesat sekali. Diam-diam Hwi Ching merasa
girang mendapat murid yang sedemikian cerdasnya, selang dua tahun pula,
dia turunkan ilmu pedang jwan bun kiam dan senjata rahasia jarum huyong
ciam.
Pada akhir tahun kelima, Wan Ci telah dapat mempelajari kesemuanya
itu. Yang kurang padanya, terletak pada kelincahan dan kuranganaya
pengalaman bertanding. Ternyata iapun pegang teguh janjinya. Selama itu
ia tidak pernah memberitahukan kepda orang lain. Setiap hari pada
waktu-waktu tertentu ia pergi ketaman untuk berlatih. Oleh karena
kegemaran belajar silat itu sudah diketahui orang banyak, maka tak ada
orang yang memperdulikannya.
Selama lima tahun itu, bintang Khik-liu tetap cemerlang. Ia terus
dinaikan pangkatnya menjadi ciangkun jenderal. Sebagaimana telah diutara
diatas, karena jasa dalam mengamankan daerah Hi Sinkiang dia dipindah
ke Ciatkang untuk memangku jabatan yang lebih tinggi, begitulah dia
berangkat dulu, baru kemudian keluarganya menyusul.
Wan ci dilahirkan dan dibesarkan di perbatasan barat. Kini ia harus
ikut sang ayah pindah ke Kanglam yang indah pemandangannya, ia merasa
girang sekali dan mohon suhunya supaya suka ikut serta.
Hwi Ching sudah lama tinggalkan daerah pedalaman Tionggoan, dan
memang dia ada keinginan untuk menengok kesana. Dia terima baik ajakan
muridnya itu.
Begitulah dengan rombongan yang terdiri dari sepuluh buah lebih kereta.
Hwi Ching ikut boyong ke Kanglam dengan keluarga LI. Li Thay-thay
ibunyaWan Ci, duduk dalam sebuah tandu?
Wan Ci yang selama menempuh perjalanan jauh itu terus duduk dalam
tandu, lama-lama merasa jemu dan kesal hatinya. Tapi sebagai seorang
puteri seorang panglima, tentulah tak pantas kalau menunggang kuda
sendiri, mondar mandir kian kemari.
Ia terus berhenti, dan memakai pakaian sebagai seorang pria. Sia-sia
ibunya melarang karena wataknya memang keras, apa yang dimaukan tak
dapat dicegah. Berdandan sebagai pria, ternyata ia sangat cakap
tampaknya. Lie than thay hanya dapat menghela nafas dan terpaksa
menurutkan kemauan putrinya.
Li Khik siu telah mengirim kira-kira dua puluh orang pengawal
pribadinya, untuk mengawal keluarganya itu. Pemimpin pengawal itu
bernama Can Tho Lam, kira-kira berusia empat puluh tahun, memelihara
jengot pendek. Tubuhnya tegap dan sikapnya gagah sekali, senjatanya
adalah sebatang tombak hok hap jiang. Pangkatnya itu diperoleh berkat
kegagahannya. Dia orangnya jujur dan cakap bekerja, menjadi orang
kepercayaan dari Li Khik siu.
Sampai pada jalanan dipegunungan, hari hampir gelap. Menurut
keterangan kusir, sepuluh li lagi ada sebuah kota yaitu Song Tat Loh,
sebuah kota diluar perbatasan. Disitulah rombongan keluarga Li akan
bermalam.
Tiba-tiba dari depan, Hwi Ching mendengar bunyi derap kuda, disusul
dengan debu yang mengepul. Dua ekor kuda putih lari menghampiri kearah
itu, malah sesaat itu mereka mencongklang dengan pesatnya. Kedua
penunggangnya telah lewat disisi rombongan keluarga Li, terus membalap
hilang.
Diatas kudanya, Hwi Ching sama-sama melihat keadan kedua orang itu,
yang seorang berperawakan tinggi, sedang kawannya seorang kate pendek.
Orang tinggi itu alisnya panjang, hidungnya mancung. Wajahnya putih
bersih. Sedang yang pendek nampaknya bergegas-gegas sekali, mereka
menunggang kuda dengan gagah.
Hwi Ching keprak kudanya untuk menghampiri Wan Ci, katanya dengan berbisik-bisik.
“Wan Ci, kau melihat orang itu.
“Bagaimana, apakah mereka itu orang-oarang Hoklim shu..?”
Dengan ucapan itu Wan Ci maksudkan bahwa itu tentu bangsa begal, dan ia
ingin benar menjajal ilmu yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun
ini.
“Itu sih pasti, Cuma kalu dilihat kepandaiannya, mereka itu bukan orang-orang Hoklim yang tak berarti,” sebut Hwi Ching.
“Masa, mereka punya kepandaian yang berarti?” menegasi Wan Ci.
“Dilaihat dari caranya naik kuda, mereka bukan orang sembarangan, “ jawab suhunya.
Ketika rombongannya hampir tiba di Song Tat Poh, tiba-tiba terdengar
pula kuda menderap dan ternyata ada lagi dua penunggang kuda lain yang
menghampiri disisi kereta, terus kabur dengan pesatnya.
:Eh, aneh juga” seru Hwi Ching seorang diri.
Ketika itu hari sudah gelap, jalanpun sudah sepi. Disebelah muka tampak
terlihat Song Tat Poh. Dalam keadaan begitu, aneh benar kalau masih ada
orang yang keluar dari kota Song tat Poh tersebut kecuali tidak ada
urusan yang penting yang begitu serius.
Tak berselang berapa lama rerotan rombongan sudah memasuki kota, Cam
Tho Lun si Pemimpin Pengawal, segera mencari rumah penginapan yang
besar, ternyata rumah penginapan bernama “Hotel An Thong.”
Beberapa pelayan menyambut dengan sibuk sekali. Meliahat rombongan
tamunya utu, keluarga pembesar negeri, mereka berebutan mengunjuk
perlakukan yang luar biasa hormatnya.
Hwi Ching mengambil sebuah kamar sendiri, sedang Wan Ci tidur sekamar
dengan Li Thay-thay. Sehabis makan, Hwi Ching lalu mengasoh. Tiba-tiba
diantara kesunyian malam itu, terdengarlah gonggongan kawanan anjing.
Dan sesaat kemudian samar-samar dia mendengarbunyi, derap kaki kuda.
Diam-diam ia berpikir.
“Dalam waktu beni larut malam, mengapa ada orang naik kuda dengan sibuknya. Sebenarnya ada urusan penting apakah mereka itu?”
Saat itu, teringatlah ia akan keempat orang menunggang kuda yang
dijumpainya sore tadi. Kelakuan mereka benar-benar aneh. Memikir sampai
disitu, derap kuda itu makin dekat kedengarannya dan malahj nyata
berhenti dimuka pint hotel itu dan sesaat kemudian pintu terdengar
diketok.
“Tuan tentu lelah, mari silakan masuk. Arak dan makanan sudah
tersedia semua!” demikian kedengaran pelayan berkata setelah membukakan
pintu, “Hayo lekas beri makan kudaku ini, habis makan kita masih akan
melanjutkan perjalanan lagi.” Seru seorang dengan kasar.
Dengan ketakutan si pelayan menyahut berulang-ulang. Segera terdengar
derap tindakan kaki masuk kedalam rumah. Nyata mereka itu terdiri dari
dua orang.
Diam-diam Hwi Ching dapat menaksir bahwa ditinjau dari caranya menaik
kuda, orang-orang itu tentu berkepandaian tinggi. Dia yang selama
beberapa tahun tinggal diluar perbatasan, diam-diam merasa heran juga
dengan adanya perubahan-perubahan dalam daerah Tionggoan.
Secara sembunyi, dia keluar dari kamarnya, melalui ruangan Sam Hap
Wan, ia berputar kearah belakang gedung penginapan tersebut. Benar juga,
disitu ia dengar si orang kasar yang berbicara tadi itu, berkata.
“Thio samko, kau katakan Siao Tocu itu masih muda belia, masa dia dapat mengatasi lain-lain saudara.
Pada saat itu, Hwi Ching telah menyusup kebawah jendela, sebetulnya
ia tak suka mencuri dengar urusan pribadi orang lain. Hanya karena ia
curiga atas sikap orang yang aneh itulah ia terpaksa lakukn hal yang tak
disukainya itu. Tak ada jeleknya kalau ia berlaku hati-hati .
“Kalau terpaksa, tentu dapat mengatasi? Habis kalu memang begitu,
pesan lotenkeh mau tak mau siao tosu harus menjalani. kita harus
melindunginya, demikian terdengar seorang mengutarakan pendapatnya.
Suara orang itu sangat lantang, kata-katanya mantap. Tahulah Hwi
Ching, bahwa orang tersebut mahir Iwekang, mengetahui kedua orang yang
berada dalam kamar itu bukan orang sembaranagan, Hwi Ching tak beranai
membuat lubang pada kertas jendela, cukup mendengar dari luar saja!
Kata si kasar pula! Udah barang tentu, samko. Cuma saja kali ini apakah Siao tocu turun dari gunung?
“kali ini kiongcu pertama dan kedua masing-masing dan Gwan-sam long sama
keluar menyambut tentu Siao tocu terpaksa masti keluar, kta yang
seorang.
Mendengar suara tersebut, hati Hwi Ching bergetar. Rasanya suara itu
sangat dikenalinya, merenung sejenak, segera ia teringat tentu orang itu
Lo Pan San seorang sahabat karibnya dalam perserikatan Cu-liong Pang
dulu.
Orang tersebut lebih muda sepuluh tahun darinya, dia toa tecu murid
kepala ahli waris dari golongan Tay kek bun. Pernah semasa masih sama di
Cu Liong pang dia berlatih dengan orang she Tio itu. Dan keduanya
saling mengagumi kepandaian masing-masing.
Kalau sampai sekarang sudah salaing berpisah belasan tahun, tentunya
orang itu sudah hampir lima puluh tahun umurnya sesudah Cu Liong pang
bubar, entah orang she Tio itu berada dimana. Tak dinyana kalau hari ini
dia dapat menjumpai diluar perbatasan.
Bertemu dengan sahabat karib, Hwi Ching girang tak terkira, tapi pada
sat itu dia hendak menegurnya, tiba-tiba lampu dalam kamar itu
dipadamkan. Dan menyusul, sebatang panah kecil Siu Ci melesat keluar
dari dalam kamar.
Siu Ci terang tak ditujukan pada Hwi Ching dan pada saat itu, tampak
sesosok bayangan berkelebat. Dengan mengulur tangan orang itu, telah
menyanggapi dengan jitu sekali.
Tampak orang tersebut mengulur tubuhnya seraya hendak berteriak, tapi
Hwi Ching telah mendahului bergeser menghampiri, katanya dengan
berbisik-bisik.
“Jangan berisik, ayo ikut aku!”
Ternyata orang itu Wan Ci, Li Wan Ci liteecunya sendiri. Keadaan
dalam kamar sunyi-sunyi saja. Tak ada orang yang mengejarnya. Cepat Hwi
Ching menarik tangan muridnya untuk menyelinap pergi terus menuju ke
kamar yasang murid. Ternyata liteecunya mengenakakan pakaian untuk
berjalan malam dan menyaru sebagai seorang pria.
Melihat itu Hwi Ching agak mendongkol disamping geli juga dengan suara keren,
“Wan Ci, kau tahu orang apakah dalam kamar itu. Kau kira akan gegabah untuk tempur mereka kah ... ?”
Pertanyaan shunya itu, membuat Wan Ci termunung tak dapat menjawab
apa-apa. Masa mereka berani melepas Siu Ci padaku” akhirnya Wan Ci dapat
menyahut setelah termenung beberapa saat.
Memang begitulah perangai seorangnya, taunya hanya kesalahan orang lain,
sedangkan kesalahannya mencuri dengar pembicaraan orang lain itu tak
disinggung-singgung. Padahal kesalahannya sendiri merupakan pantangan
besar di kalangan persilatan.
“kedua orang itu kalu bukan dari golongan holim, tentulah orang-orang
perserikatan salah seorang dari mereka aku mengenalnya. Kepandaiannya
tak dibawahku. Mereka tentu punya urusan penting, maka begitu bergegas
memburu perjalanan siang malam. Siu ciam itu tak sungguh-sungguh akan
mencelakan kau. Hanya untuk memperingati supaya kau jangan usil dengar
urusan orang lain, hayo .... kau lekas tidurlah.
Pada sat Hwi Ching berkata itu terdengar suara pintu terbuka,
menyusul dengan berderapnya kaki kuda, kedua orang aneh itupun sudah
kabur jauh. Karena Wan Ci telah berlaku sembrono, maka Hwi Ching segera
batalkan niatnya menemui sahabat lamanya itu agar tidak menimbulkan
kecurigaan orang.
Keesokan harinya, kembali rombongan keluarga Li meneruskan
perjalanannya. Berselang sejam kemudian, mereka sudah meninggalkan kota
Song Tat Poh itu.
“Losu, didepan kembali ada orang mendatangi, “Tiba-tiba Wan Ci berseru.
Tepat pada saat itu, dua penunggang kuda bulu merah tampak mendatangi
dengan pesatnya. Karena kejadian semalam Wan Ci dan suhunya bersukap
hati-hati.
Kedua ekor kuda itu ternyata bersamaan satu sama lain. Dan yang
mengherankan kedua penunggangnyapun juga serupa benar. Mereka sama-sama
berusia empat puluh tahun, perawakannya tinggi. Kurus, mukanya kuning,
matanya menjolek kedalam! Nyata bahwa keduanya itu adalah sepasang
saudara kembar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar