Senin, 12 Maret 2012

Puteri Harum dan Kaisar Jilid 2

KETIKA lewat disisi rerotan kereta kedua orang itu melirik kearah Wan Ci, sebaliknya si nona pun malah berbalik mengawasi dengan mata melotot. Ia menghentikannya kudanya, dana bersikap seolah-olah seperti siap untuk berkelahi.
Tapi kedua orang tersebut tidak memperdulikannya, begitu cambuknya dikeprakkan, kudanya terus kabur kearah barat.
Huh, darimana munculnya sepasang setan kuning itu berseru Wan Ci, sebaliknya tampak terkejut, lalu mengawasi kebokong dari kedua penunggang kuda tersebut. Nyata benar mereka itu tampaknya seperti dua batang bambu yang menancap diatas kuda.
“Ayo kiranya mereka, tiba-tiba Hwi Ching berseru ketika ia teringat akan sesuatu.
“Liok losu, kau kenal mereka, cepat-cepat Wan Ci bertanya.
“Mereka tentulah secihwan song hiap, yang orang kongouw sebut Hek bu siang dan Pek bu-siang, setan gantung hitam dan putih.
“Ha, orangnya aneh gelarnyapun aneh, mengapa tak digelari saja sebagai Bu siang Kun” seru Wan Ci dengan mengolok.
“Anak perempuan tak boleh bicara sembarangan. Walaupun wujudnya aneh tapi kepandaiannya tak boleh dibuat main-main, kata Hwi Ching. Aku belum pernah bertemu muka dengan mereka. Tapi kabarnya mereka adalah sepasang saudara kembar. Mereka tidak pernah berpisah satu sama lainnya. Malah untuk memelihara kerukunannya, keduanya tak mau kawin, mereka berkelana untuk melakukan kebaikan. Orang yang orang yang taroh perindahan memberi gelaran Seechwan siang hiap, sedang yang memberi poyokan menyebutkan Hek bu siang dan Pek bu-siang.
“Kata orang keduanya itu mirip satu sama lain. Namun ada cirinya, yakni yang tua itu tumbuh andeng-andeng diekor matanya. Karenanya ia digelari orang sebagai Hek bu-siang, sedang adiknya tak punya andeng-andeng dan dinamakan Pek bu-siang. Nama mereka sebenarnya adalah siang ho co dan mereka adalah murid-murid dari Hwi lu tojin dari golongan Heng seng pay.
Setelah Hwi Lo tojin meninggal, mungkin di kangouw tak ada orang yang menandingi mereka dalam ilmu Hek sat ciang. Pukulan pasir hitam. Keduanya adalah begal-begaldari seechwan yang sangat terkenal mengambil harta si kaya untuk diberikan pada si miskin. Hanya tangan mereka kelewat kejam sekali, karena mendapat julukan yang tak sedap didengar itu.
“Untuk apakah mereka menuju kperbatasan sini?” tanya Wan Ci.
“Akupun tak mengerti. Memang selamanya mereka tak pernah berkunjung keperbatasan”, demikian Hwi Ching menerangkan.
“Sepasang Bu-siang itu apabila beranai mengganggu aku, biarkan mereka rasakan pek-liong kiam kepunyaan ssuhu itu, kata Wan Ci.
Tadi kedua orang melirik pada Wan Ci, untuk itu ia merasa dongkol, coba tak dicegah suhunya, tentu sudah dimakinya orang itu.
“Kedua saudara itu jika berkelahi selalu bersama, baik hanya melawan seorang musuh atau sepuluh orang. Kata Hwi Ching!. Mungkin tulang tua dari suhumu ini, tak dapat melawan mereka.
Selagi Hwi Ching mengucap begitu, dari arah depan kembali terdengar kaki kuda. Kembali ada lagi dua orang penunggang kuda mendatangi, malah kali ini juga kukway lagi. Yang satu adalah seorang tojin dan kawannya adalah seorang bongkok, tojin itu memanggul sebatang tiang kiam pedang panjang, wajahnya putih pucat seperti orang yang habis sakit, lengan bajunya sebelah kirinya diselipkan kedalam pinggang.
Sedangkan bongkok berpakaian mentereng sekali. Melihat romannya begitu jelek, namun masih berlagak seperti kongcu-koncuan, Wan Ci tak dapat menahan ketawanya, katanya :
“Suhu, lihat si bongkok tua itu”
Untuk mencegah muridnya, Hwi Ching terlambat. Begitu dengar orang mengejeknya, si bongkok segera melototkan matanya. Begitu mengeprak kuda, ia lalu ulurkan tangan untuk menyambar si nona centil itu.
Rupanya sitojin sudah menduga, kalau kawann itu akan marah dan turun tangan, maka cepat sekali ia hadangkan cambuk untuk menahan sang kawan, serunya :
“Ciong sutee, jangan membikin onar.
Kesemuanya itu berlaku dalam sekejap mata saja. Pada lain saat, kuda si tojin dan si bongkok sudah menconglang jauh. Ketika Wan Ci menoleh kebelakang untuk melihatnya, ternyata si bongkok sudah berusaha untuk lepaskan tangannya, dari hadangan si tojin. Dan dengan gerak “To.cai-kim ciong” dia buang diri berjumpalitan kebelakang, teus loncat ke tanah. Hanya tiga kali lncatan, tahu-tahu dia sudah dibelakang Wan Ci.
Wan Ci sudah siap-siap dengan pedangnya untuk memapaki tangan musuh. Tapi ternyata si bongkok itu berlaku aneh. Dan tak langsung menyerang, hanya mengulurkan tangan kirinya untuk menjambret bulu ekor kudanya Wan Ci.
Kuda yang tengah laridengan kerasnya itu, tiba-tiba seperti terpaku tak bisa bergerak lagi. Kuda tersebut mengangkat kakinya keatas, untuk berusaha berusaha menyeret si pengganggu.
Namun ternyata si bongkok itu memilki tenaga sakti. Dia tetap tak bergeming, malah, berbarenga tangan kanannya menebas, ekor kuda dan terpapas kutung seperti di potong pisau. Dan barulah pada saat itu, kuda Wan Ci dapat berlari kemuka lagi.
Kaget si nona taak terkira. Hampir saja ia dilempar jatuh oleh kudanya sendiri. Ketika ia hendak mengirim tebasan pedang kebelakang ternyata jaraknya sudah jauh dengan si bongkok.
“dilain sat, secepat kilat si bongkok lari mengejar kuda tunggangannya yang masih tetap lari sendirian itu, sekali enjot ia sudah berada diatas pelana kudanya, terus lenyap tak berbekas lagi.
Dipermainkan begitu, Wan Ci panas sekali hatinya, saking gusarnya ia sampai menangis sembari mewek-mewek seprti anak kecil ia menyerukan sang suhu.
Semua kejadian itu, ternjadi didepan mata Hwi Ching, sebagai seorang kagouw ulung, ia cukup dapat menimbang. Kesalahan ada dipihak muridnya sendiri, dan untuk itu sebenarnya ia akan memberi teguran pedas. Tapi ketika melihat sang murid mengucurkan air mata, ia dapat berlaku sabar, dan tidak jadi menyemprotnya.
Pada saat itu sekonyong-konyong, dari arah depan terdengar seorang berteriak.
“Aku, Bu Wi Yang, Aku, Bu Wi Yang.
Mendengar suara itu, Wan Ci Heran, lalu bertanya.
“Suhu, apa artinya itu?
“itulah pengawal kantor Piauw-kok yang sedang menjalankan tugasnya, setiap piauw-kok tentu mempunyai pekerjaan yang tuganya untuk meneriakan pemimpin Piauw-koknya. Agar dengan demikian sahabat-sahabt dari persilatan segera mengenalnya, dan tidak mengganggu.
Pekerjaan Piauw-kok untuk mengantar barang, dua apertiaga bagian mengandadalkan hubungan baik dengan kalangan hoklim. Dan selebihnya baru mengandalkan pada kepandaian si piausu. Makin luas pergaulan sipiauwthao makin terjaminlah keselamatan barang-barang bawaannya. Karena kebanyakan, memandand muka sipiauwsu, kaum hoklim tentu segan mengganggu.
Andai kata kau yang menjadi piauwnya tentu banyak orang yang akan mengganggu, dan walaupun kau punya kepandaian sepuluh kali lipat dari sekarang karena sikapmu tadi dan jangan harap kau akan selamat mengantar barang, jelas Hwi Ching.
Demikianlah panjang lebar Hwi Ching memberikan nasehat dan keterangan pada liteecunya, sekalian secara halus ia menjewernya. Wan ci mengerti akan kata-kata suhunya itu, dan pikirnya tak mau kalah !”
“Siapa sih yang sudi menjadi pauwsu dalam hati, namun tak berani mengutarakan untuk membatah suhunya. Malah ia unjuk ketawa seraya berkata :
“Suhu, massfkan aku yang salah, Piauw-kok manakah yang diteriakkan oleh orang itu …?”
“Itu, Tin Wan Pauw kok dari Pekkhia, dia daerah utara dia yang terbesar, cabang-cabangnya berada di kota Hong Thian, Kee Lam, Khayhong dan Thay Gwan. Pemimpin piauwtao Ong Wi yang dari Wi Tin Ho, usianya sudah hampir tujuh puluh tahun. Tin Wan piau-kok sudah berdiri selama empat puluh tahun, tapi dia masih belum mau pensiun menikmati hari tuannya !”
“Suhu kau kenal dengan cong piauw thoanya, iyu ?” tanya Wan Ci.
“Aku pernah bertemu dia. Dengan sebatang golok Pat Kwa too dan ilmu pukulan Pat Kwa-ciang, ketika itu ia menjagoi dikalangan persilatan.”
“kalau begitu harap nanti suhu suka perkenalkan aku dengannya, agar aku dapat berkenalan dengan loo enghiong itu!” seru Wan Ci dengan bersemangat.
“Mana ia mau keluar mengantar. Tolol betul kau ini!”
Merasa dirinya selalu dipersalahkan oleh sang suhu. Wan Ci agak mendongkol, ia mengakui bahwa sangat asing dengan keadaan di kangouw, justeru itulah dia kepingin mengetahuinya.
“”Aku tak mengerti, seharusnya dikasih tahu kenapa masti disemprot?”
Begitulah ia mengerutu didalam hati, cepat ia keprak kudanya, memburu kearah kereta yang ditumpangi ibunya, disitu ia akan menghibur kemendongkolannya, ia menjadi kaget tak terkira, sewaktu-waktu mengetahui separoh bulu ekor kudanya sudah kutung, sekalai menebas dapat mematahkan sebatang tombak tak mengherankan, tapi mengapa bulu ekor kuda yang sedemikian lemasnya itu, dapat dikibas kutung dengan tangan kosong.
Sebenarnya akan ditanyakannya hal ini pasa suhunya, namun ia masih mendongkol, maka segera ia keprak lagi kudanya menghampiri pemimpin pengawal Can Tho Lam, katanya :
“Can Samciang, ekor kudaku entah bagaimana tadi, kutung separoh, sungguh tak sedap dilihat mata.”
Tho Lam mengerti maksud si nona.
“Entah bagaimana, kulakukan ini sangat binal sekali, aku tak dapat mengatasinya, siocia punya kepandaian naik kuda yang bagus sekali, bantulah aku untuk menjinakkan, sukakah socia?” demikian tanyanya pura-pura.
“Dikuatirkan aku pun akan gagal,” kata Wan Ci merendah.
Begitulah keduanya segera saling tukar tunggangan. Ternyata kuda Thio Lam itu demi mendengar perintah, sedikitpun tak berani membantah tidak seperti yang dikatakan Thio Lam tadi.
“Siocia kau sungguh hebat, sedang kuda itu pun menurut padamu.” Kata Thio Lam memuji.
Orang piauw kok yang berteriak-teriak itu makin dekat dan tak lama kemudian ternyata terlihat sebuat rerotan yang terdiri dari lebih dari dua puluh buah. Kuatir kalau ada kenalannya, buru-buru Hwi Ching bersembunyi kebelakang rombongan, ia pakai topi rumput yang lebar untuk menutupi separoh mukanya, dan diam-diam ia pasang mata pada rombongan piaukok itu.
Ketika saling bersimpangan, ternyata dalam rombongan piuwkok itu tak kurang dari tujuh atau delapan orang piuwsu. Kata salah seorang diantaranya :
“Kalau menurut omongan Han Toako, Ciao Bun Ki samko sudah ada beritanya.”
Terkejut sekali Hwi Ching dan cepat-cepat ia pandang lagi piawsu itu dengan tajam, muka orang itu brewok, kulitnya kehitaman, dibelakang pinggannya mengendong sebuah pauwhok merah, serta sepasang senjata yang aneh bentuknya, yaitu disebut Ngo beng Lun semacam roda.
“Apakah mereka itu bukan Kwantong Liok Mo” pikir Hwi Ching
Kwantong Liok Mo atau enam iblis dari Timur tembok besar, yang disebut itu, selain Ciao Bun Ki, dia memang belum pernah berjumpa. Kabarnya yang kelima iblis itu tinggi kepandaiannya, yang kelima yakni bernama Giam See Cui dan yang keenam Giam See Ciang, keduanya bersenjatakan roda Ngo heng lun. Mereka adalah dari golongan Siao Lim pay.
Terasalah pada Hwi Ching, bahwa kali ini dia bakal bersamplokan dengan murid-murid siao lim pay yang lihay. Diam-diam dia gelisah. Kalau saja mereka mengetahui tentang kematian Ciao Bun Ki, tentu sangat berbahaya untuk dirinya. Apalagi kini dia sedang mengantar rombongan keluarga Li dan terutama adalah Wan Ci muridnya yang berwatak keras dan suka membikin keonaran. Itu. Tentu sukar untuk mengelakan pertempuran dengan kawanan iblis kwantong itu.
Kalau dilihat glagatnya, mereka untuk menangkap dirinya. Dianatara rombongan piawsu itu ada Tio Pan-san salah seorang sahabat lamanya. Tentu orang itu takkan tega mencelakan dirinya. Bertujuan apa mereka menuju ke barat, Hwi Ching tak mengerti.
Kalau Hwi Ching sedang memutar otak untuk mencari tahu, sementara Wan Ci ketika itu, sudah bertukar kuda dengan Thio Lam telah merasa geli melihat kuda yang kini dinaiki oleh orang she Can itu, yang separoh ekornya hilang. Ia hentikan kudanya untuk menunggu sang suhu lalu katanya dengan tertawa :
“Suhu mengapa dimuka sudah tak ada orang yang mendatangi lagi. Dari kemarin samapai hari ini, sudah ada lima pasang orang berilmu menuju ke Barat. Aku masih ingin melihat beberapa lagi.
Ucapan itu seperti menyadarkan Hwi Ching dari lamaunan.
“Ah, aku sungguh tolol” seru Hwi Ching sembari menpuk pahanya. “Mengapa aku sampai lupa, beribu li menyambut san kepala naga itu!”
“Apa yang dimaksud dengan beribu li menyambut kepala naga” itu, suhu? Tanya si murid.. ... “Itu, suatu upacara besar-besaran di kalangan kangouw atau dalam suatu perkumpulan. Biasanya terjadi atas diri enam orang pemimpin teratas, satu demi satu mereka keluar untuk menyambut sang pemimpin dalam upacara yang besar dan lengkap. Malah terdiri dari dua belas, sepasang demi sepasang mereka menyambutnya. Tadi sudah keluar lima pasan, nanti tentu masih ada lagi sepasang.
“Mereka itu tergolong dalam perkumpulan apa, shu....?”
“Entahlah, akupun belum mengetahuinya, “ sahut Hwi Ching. “Tapi seechwan song hiap dan bongkok itu orang-orang yang berkepandaian tinggi. Mereka anggota perkumpulan itu. Pengaruhnya tentu besar jangan kau coba mengila dengan mereka, mengerti?”
Mulut mengiyakan, tapi hati Wan Ci tak tunduk. Ia perhatikan betul-betul pasangan yang akan datang nanti. Lewat tengah hari ternyata masih belum tampak orang yang diharapkan itu, Hwi Ching diam-diam merasa aneh juga, karena hal itu sungguh diluar kebiasaan yang pernah diketahui.
Tapi dia tak usah menunggu terlalu lama, segera terdengar juga suara kaki kuda mendatangi. Anehnya mereka itu tidak datang dari arah belakang. Menyusul bunyi kelenengan keledai, debu tampak mengepul keatas dan rombongan besar dari kaum musafir atau pedagang-pedagang di daerah gurun pasir tampak menghampiri.
Setelah dekat, tampak berpuluh-puluh ekor keledai dan kira-kira tiga puluh ekor kuda dari suku bangsa Wi. Rata-rata mereka berhidung tinggi dan matanya cekung kedalam, mukanya brewokan dan kepalanya dibungkus dengan kain putih.
Pedagang-pedagang Wi datang dari daerah Hwee, dimana penduduknya sebagian besar orang-orang muslim. Mereka pergi ke daerah Tianggoan untuk berdagang. Hal ini adalah kejadian yang biasa karenanya tak menarik perhatian Hwi Ching.
Tapi pada saat itu, tiba-tiba dari rombongan tersebut namapak seorang gadis yang berpakaian kuning, menunggang kuda putih. Gadis itu cantik sekali berseri-seri memikat mata.
Ia memakai topi tinggi, diatasnya tersampir sebuah bulu burung. Menambah keanggunan semakin tampak.
Kalau Hwi Ching hanya sepintas saja memandang gadis WI yang cantik itu, Wanci mengawasi dengan teliti penuh pesona. Ia yang dilahirkan di daerah perbatasan itu, belum pernah melihat wanita ayau, apalagi secantik gadis itu.
Usia gadis itu sebaya dengan Wan Ci, kira-kira delapan belas atau sembilan belas tahun. Dibalik pinggangnya terselip badi-badi, sedangkan rambutnya dikuncir dibiarkan menjulur keatas bahunya. Warna pakaian kuning telur tepinya disulam dengan benang emas. Diatas pelana seekor kudaputih, ia mirip dengan lukisan yang indah.
Seorang wanita cantik, tentu menggundang perhatian pria. Tapi dalam pandangan sesama kaum wanita, hanya menimbulkan kekaguman yang tak terhingga. Ketika gadis Wi itu lewat disisinya, Wan Ci segera menguntit dengan mata tak terkesiap.
Si gadis Wi melihat dirinya dikuntit dan diawasi oleh seorang pemuda Han. Wan Ci waktu itu menyamar sebagai laki-laki, sontak mukanya menjadi merah, tiba-tiba berseru, “Ayah.”
Seorang Wi yang bertubuh tinggi dan berewokan, cepat keprak kudanya untuk menghampiri. Begitu dekat ia lalu tepuk pundak Wan Ci, katanya.
“Eh, sobat kecil, mau kemana..sih?”
Wan Ci perdengarkan suara, huh. Ia masih belum sadar kalau dirinya waktu itu berdan dan seperti seorang pemuda. Dalam keadaan begitu, sudah tentu tak pantas kalau seorang gadis diawasi sedemikian itu.
Si gadis mengira Wan Ci adalah seorang pemuda yan tak tahu adat, segera ia pakai cambuk untuk mengaet bulu suri kuda Wan Ci, begitu ia tarik sekeras-kerasnya , seketika kuda itu kesakitan dan berjingkarak-jingkrak hingga Wan Ci hampir jatuh.
Menyusul cambuk ditangan si gadis berkelebat diudara, jebolan bulu suri itu berhamburan kemana-mana. Wan Ci panas hatinya, cepat ia ambil sebatang Piauw, lalu ditimpukan ke punggung si gadis. Namun ia tak sungguh-sungguh hendak melukai si gadis, maka berbareng dengan piauw itu melayang, cepatcepat ia berseru : “He, nona kecil, awas ada piaw!”
Tubuh si gadis kelihatan dimiringkan kekiri, maka lewtlah piauw itu disisi tubuhnya, begitu piauw terpisah satu tombak dimukanya, cambuk si gadis Wi itu kembali disabetkan, dengan secara mengagumkan ujung cambuk itu melilit piauw dan terus ditarik kembali untuk disambut dengan tangan, segera ia pun menjadi gusar, bentaknya :
“He, bocah kurang ajar terimalah piauwmu kembali.
Angin menderu, dan piauw itu lurus menyambar kearah dada Wan Ci. Wan Ci juga tak mau memperlihatkan kelemahan dengan tangan kosong, ia tangkap piauw itu. Kalau rombongan orang Wi bersorak begitu melihat si gadis menangkap piauw dengan cambuknya, sebaliknya wajah si ayah berubah cemas. Dia membisiki beberapa patah kata pada gadisnya, dan gadisnya pun mengangguk mengiayakan beberapa kali.
Dengan demikian, ia tidak memperdulikan Wan Ci Lagi, terus melarikan kudannya kemuka, diikuti oleh rombongan keledai berpuluh-puluh itu. Tak beberapa lama, mereka dapat mendahului rerotan kereta yang membawa keluarga Li Thay-thay itu.
“Sekarang belumkah kau merasa bahwa diluar langit, diatas orang masih ada orang lagi. Gadis tadi umurnya sama denganmu, bukankah kepandaiannya tadi harus kau akui?” demikian Hwi Ching mencemoohkan muridnya.
“Anak Wi itu, siang dan malam berada diatas pelana kuda, sudah barang tentu permainan cambuk sangat bagus, tapi belum tentu kalau ia sungguh-sungguh mempunyai kepandaian bantah Wan Ci.
“Masa tidak?” sahut Hwi Ching dengan mengoda
Menjelang sore, tibalah mereka dikota Poh Liong Kit. Disitu hanya ada sebuah penginap besar, yaitu penginapan “Tong Lat” dimuka pintunya tergantung sebuah papan yang bertuliskan “Lin Wan Piauw kok” nyata bahwa rombongan piawsu itu tadi, menginap di penginapan itu.
Diinapi oleh dua rombongan besar pelayan-pelayannya nampak sibuk sekali, sehabis cuci muka Hwi Ching kelihatan membawa sebuah tempat teh masuk kedalam ruangan. Disitu dilihatnya ada dua buah meja yang sedang dikepung beberapa orang yang tengah makan dan minum, mereka adalah kawanan piuwsu tadi. Malah pauwsu yang mengendong pauw hok merah itu tadi juga nampak duduk disitu.
Hwi Ching berlagak melihat keatas, maka kedengaran salah seorang piawsu itu tertawa dan berkata :
“Giam ngo-ya, kalau kau dapat membawa kitab itu dengan selamat sampai ke kota raja, maka Yaum Ciangkun akan memberikan hadiah beberapa rtus tail kepadamu? Waktu itu harap jangan lupa undang kami buat daharan yang besar!”
Mendengar itu diam-diam Hwi Ching berpikir dalam hatinya.
“Betul dia adalah orang kelima dari Kwan Tong Liok Mo si Giam sengui.
“Hadiah besar hah, siapun tak berani memastikannya, demikian sahut she Giam itu.
Ucapan itu tiba-tiba diputus oleh sebuah suara aneh dari sesorang : “Ya, yang dikuatirkan adalah hadiah itu akan tenggelam pada si penerima terus.”
Hwi Ching melirik pada orang itu. Orang itu mukanya menakutkan, badannya kurus kering, dia juga seorang piauwsu rupanya.
“Hem, jengek she Gui dengan kurang senang.”
“Tong Sii Ho, lidahmu itu betul-betul beracun, kata piauwsu yang pertama-tama bicara tadi.
“Ya, deh, jika tak mau dikatakan tenggelam, nah, biarlah aku bilang ganjalan itu nanti akan berwujud si cantik manis yang sedia dipanggil sahut Tong Siu Ho yang ternyata bermoral rendah.
Mendengar kata-kata orang makin tak sopan Giam Se tak tahan lagi, kontan ia memaki, “Ibumu saja yang kupanggil nanti”
“Baik, dan nanti aku nanti kau sebut ayah anagkat, kata Tong Siu Ho yang bermuka tebal sambil cengar-cengir.
Hwi Ching menjadi sebal mendengar kata-kata orang yang koor-kotor itu. Pikirnya lantas hendak menyingkir, tapi tiba-tiba didengarnya Tong Siu Ho buka suara lagi.
“Giaw Ngo-ya tuan kelima kalau bergurau biarlah kita bergurau, tapi bila sungguh-sungguh tentu juga sungguh-sungguh. Nah, paling penting jagalah baik-baik pauw hok di punggungmu itu saja, jangan terus kau ributi ganjaran. Yang belum kau terima itu kali ini Tin Wanpiau kiok kita benar-benar sedang diuji!”
Mendengar orng menjadikan “Pauwhok” atau buntalan sebagai barang cerita, waktu Hwi Ching menengas nyata pauhok yang dimaksudkan tergemblok di punggung Giam Se-gui terbungkus kain kuning dan tak seberapa besarnya maka dapat ditaksir barang didalamnya tentu kecil-kecil saja.
Sementara itu didengarnya Giam se-Gui itu telah menjawab.
“Tong siaocu, kau jangan ngelantur terus. Kali ini hasil yang diperoleh Giam yaymu yang telah mendapatkan kitab itu, bukankah cukup membikin mereka setengah mati. Aku Giam se-gui, betul-betul memakai modal kepandaian buat mendapatkananya. Tak seperti sebangasa cecurut yang menggamblok orang selain hanya dapat gegares makanan biasanya Cuma berlagak saja!”
“Ya, ya, Kwantong Liok Mo, sih memang terkenal hebat, hanya sayang sedikit sam mo iblis setelah telah dikerjai orang, dengan tanpa diketahui siapakah adanya musuh itu, kata Tong siu-ho pula.
Seketika Giam See-gui menggebrak meja.
“Siapa bialang aku tak tahu! Itu tentu perbuatan orang Hong Hwa Bwee!” teriaknya sengit.
Kembali Hwi Ching merasa heran. Yang membunuh Ciao Bun Ki salah seorang Kwantong Liok Mo, adalah dia. Mengapa mereka timpakan kesalahan pada kaum Hong Hwa Bwee. Apakah perkumpulan Hong Hwa Bwee – bunga merah itu?
Ketika itu Hwi Ching berjalan sampai keruang dalam. Dia pura-pura mengagumi bunga-bunga yang tumbuh tak seberapa jauh jaraknya dengan kawanan piauwsu itu.
Tong sin tak mau kalah mengadu lidah katanya lagi :
“Sayang aku tak bertulang keras bisaku hanya gegares makanan, kalu aku seorang pemberani tentu siang-siang sudah aku bikin perhitungan dengan orang”
Dibikin panas begitu, tubuh Giam see-gui gemetar, hingga tak dapat mengucap sepatah perkataan appun. Melihat itu buru-buru salah seorang piauwsu menyelutuk.
“Cong-tho cu atau ketua umum, Hong Hwa Bwee, Hong Hwa Bwee, si Le Ban Teng bulan yang lalu sudah meninggal dunia di Bu-Sik. Setiap orang Hong Hwa Bwee itu, suatu hal yang tak ada buktinya. Coba siapa yang pernah melihat dengan mata kepala sendiri? Kau cari balas pada orang, tapi orang itu tak merasa melakaukan apa daya kita?”
Dengan sahautan begitu, Tong sin-ho kemekmek, buru-buru ia menerangkan lagi.
“Hong Hwa Bwee sih kita tak berani main gila. Tapi untuk orang-orang Bwee masa kita jerih. Kita sudah dapat merampas kitab yang bagi mereka dianngap melebihi jiwanya itu. Kalau kelak Jauw ciangkun minta tebusan uang atau ternak berapa saja, mereka tentu meluluskan. Giam ngo ya, percaya Jauw ciangkun tentu akan menghadiahi kau seorang gadis Bwee, yang cantik bukan main.
Baru saja orang she Tong yang pandai bicara itu hendak menghabisi ucpannya, sepulung tanah malah melayang tepat masuk kedalam mulutnya, belum sempat ia berteriak kesakitan, dua orang piawsu sudah melesat memburu keluar.
Diam se-gui pun bangkit, seraya meloloskan senjatanya mengikuti keluar. Tapi ternyata mereka hanya hendak menjaga bungkusan pauwhok yang dibungkus dengan kain merah itu saja. Mereka tak mau mengejar kuatir terkena tipu musuh yang disebut, memancing harimau keluar gunung.
“Bajingan!” Bangsat.
Demikian Tong Sin ho memuntahkan pulungan tanah tadi dari mulutnya, seraya tak putus-putusnya memaki-maki.
“Selama ini kukira bangsa anjing saja yang makan kotoran, tapi hari ini betul-betul aku tambah pengalaman bahwa orangpun ternyata makan tanah! Seru Giam See Gui mengejek.
Pada saat itu, kedua piauwsu yang mengejar tadi yakni Tee Ing Hing yang bersenjatakan Hwan pian dan Ci Ceng Lun yang memegang golok, tampak masuk kedalam katanya :
“Bangsat itu lolos entah kemana larinya!”
Semuanya telah dilihat dengan mata kepala Hwi Ching. Bagaimana Teng Siu Ho yang bermulut tipis itu, kini seperti monyet kena terasi. Untuk itu hampir-hampir Hwi Ching tak kuat menahan gelinya. Tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan berkelebat diatas ujung tembok. Ia pura-pura tak melihatnya, dan berlagak orang yang sedang mencari angin diserambi luar.
Ketika itu hari sudah gelap, Hwi Ching sembunyi di pojok tembok sebelah barat dari ruang tamu. Pada saat itu, tampak sebuah bayangan loncat turun dari pojok rumah. Begitu enteng gerakannya, dan begitu menginjak tanah, terus melesat kesebelah timur.
Tadi ketika Tong siu ho rasakan “daharan”istimewa, Hwi Ching sudah menduga bahwa sipelemparnya itu tentu sangat lihay. Kuat dugannya bahwa bayangan itulah orangnya. Untuk mencari tahu, Hwi Ching segera menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menguntitnya.
Dia masih memegang porot tempat teh. Berpuluh-puluh tahun dia yakinkan ilmu meringankan tubuhnya sehingga tak tampak gerakannya berjalan. Maka orang yang diikutinyapun sampai tak merasa.
Dalam sekejap saja, keduanya sudah berlari sampai lima atau enam li. Bayangan itu tubuhnya ramping dan gerakannya gemulai, mirip dengan seorang wanita. Tapi ilmu meringankan tubuhnya tinggi juga.
Melewati sebuah tikungan gunung sampai pada sebuah hutan dan bayangan itu menyusup kedalam. Hwi Ching memburunya terus.
Di hutan itu ternyata penuh dengan daun-daun layu yang sudah rontok ditanah, maka begitu kaki menginjak, tentu timbulkan suara berkeresekan.
Takut kalau bayangan itu sampai mengetahui, Hwi Ching kendorkan langkahnya. Tapi pada lain saat, dia telah kehilangan arah bayangan itu. Ada sebuah larangan untuk kaum kangouw bahwa “bertemu dengan hutan tak boleh memasuki” dan karena hutan itu sangat lebatnya mudah sekali dibokong musuh.
Hwi Ching sangsi pikirnya akan mundur saja. Tapi justeru ketika itu, rembulan muncul dari balik awan, menerangi seluruh hutan itu. Tampak olehnya sesosok bayanagan kuning, sudah melintasi keluar dari hutan sebelah sana.
Dengan tak berayal lagi, Hwi Ching terus mengikuti. Dia bersembunyi dibelakang sebuah pohon besar. Diseberang sana ternyata adalah sebuah lapangan rumput yang luas. Disitu terdapat delapan atau sembilan buah tenda. Dia merasa aneh dan coba untuk maju mengintip.
Tadi sekonyong-konyong tampak dua orang penjaga menghampiri kejurusannya. Cepat-cepat ia menghindar. Dengan gerakan, yan-sam co cun, burung seriti tiga kali menyelundup keair ia loncat bersembunyi dibelakang seekor keledai yang berada diluar tenda. Untunglah penjaga itu tak melihatnya.
Dengan ilmu yang tinggi dan nyali besar, ia menyelonong kebelang kemah terbesar yang berada di tengah-tengah. Disitu ia mendekam. Kedengaran didalam kemah tersebut ada orang tengah bercakap-cakap dengan asyik sekali menggunakan bahasa Wi, yang diucapkan dengan cepat sekali. Wlaupun Hwi Ching bertahun-tahun tinggal diperbatasan tapi ia tak mengerti bahasa itu.
Pelahan-lahan ia singkap kain tenda dibawah kakinya, lalu mengintip kedalam, tampak
Didalamnya dipasangi dua buah pelita yang ditaruh ditengahnya. Orang-orang yang tengah bercakap-cakap didalam itu, ternyata adalah pedagang-pedagang bangsa Wi yang ditemuinya siang tadi.
Yang tengah bicara ketika itu ternyata adalah si nona baju kuning yang bukan lain adalah bayangan yang diburunya tadi. Setelah merendek sebentar, nona itu tampak mengeluarkan sebilah badi-badi dari pinggangnya.
Nona itu pakai badi-badinya untuk menusuk jari telunjuknya. Maka bertetes-tetelah darah kelihatan bercucuran. Perbuatan itu dituruti oleh kawanan orang Wi yang mengores jarinya dengan goloknya masing-masing.
Orang yang dipanggil ayah oleh si nona itu, segera mengangkat cawan araknya, serta dengan suara lantang dia mengucapkan beberapa patah perkataan. Apa yang Hwi Ching dengar hanya dapat menangkap perkataan “Qur’an” dan kampung halamannya.”
Juga nona baju kuning ikut angkat bicara suaranya nyaring dan terang, untuk itu Hwi Ching bisa juga sedikit-sedikit menangkapnya.
“Jika tak dapat merampas balik Kitab Suci “Qur’an” aku bersumpah biar matipun aku tak mau balik ke kampung halaman.”
Sumpah itu diikuti oleh orang-orang Wi dibawah sinar pelita. Hwi Ching menyaksikan bagaimana kesungguhan wajah mereka itu sehabis mengucapkan sumpahnya mereka samamengangkat cawan dan mngeringkannya, mereka lalu berbisik-bisik seolah-olah sedang berunding masalah yang penting.
Sampai disitulah Hwi Ching tak dapat mendengar dengan jelas. Mungkin mereka merunding daya apa untuk dapat merebut kembali kitab suci “Qur’an” itu.
Dugaan Hwi Ching ini ternyata tidak salah. Rombongan orang-orang Wi itu ternyata kaum musafir dari daerah utara gunung Thian san. Kali ini mereka datang dengan jumlah besar-besar kira-kira ada dua ratus ribu orang. Mereka terdiri dari kira-kira dua puluh orang Wi, orang tinggi yang dipanggil ayah oleh si gadis itu. Dia berkepandaian tinggi, adil dan bijaksana. Ditaati dan dijunjung oleh bangsanya.
Nona baju kuning itu, adalah puterinya namanya Hwee Cing Tong. Ia adalah murid kesayangan dari Kwan Bing Bwee, isteri dari Thian san Ki Hiap Tan Ceng Tik. Karenanya ia telah dapat mewarisi ilmu silat yang sejati dari cabang Thian San Pay.
Thian san Ki Hiap Tan Ceng Tik dan isterinya Kwan Bing Bwee, adalah jago-jago Thian san pay sukar dicari tandingannya, suami isteri itu digelari seperti Thian san siang eng, sepasang garuda dari Thian san.
Kedua suami isteri itu aneh sekali. Mereka sudah berusia enam puluh tahun lebih, tapi bila berjumpa, tentu bercidera, sebaliknya kalau saling berpisah, mereka saling merindukan.
Seringkali Hwee Ceng Tong datang sama tengah, tapi ternyata selalu tak digubris. Ia suka dengan pakaian kuning. Kopiahnya selalu ditancapi bulu burung cuhung, karenanya ia mendapat julukan bagus, Cu oh W sam, atau si Bulu hijau berbaju kuning.
Orang-orang Wi itu hidup berkelana, tak punya tempat tinggal tetap. Ketika kekuasaan Pemerintah Ceng meluas sampai kedaerah Wi, mereka dibebani dengan pajak yang memberatkan. Bermula Bok tok loh masih mudah dan membayarnya. Tapi ternyata pembesar-pembesar negeri itu telah menyalahkan gunakan kekuasaannya untuk mengeduk keuntungan, hingga bangsa Wi itu, betul-betul menjadi payah.
Bok Toh Lon bermupakat dengan bangsanya, merasa mereka betul-betul akan rudin. Beberapa kali merek mengirim utusan kepembesar di Le-li guna minta keringanan yang didapat malah pemerintah Ceng menaruh kecurigaan keras.
Jenderal besar Yauw Hwi Ceng mengetahui adanya kitab Quran, yang menjadi pusaka suku bangsa Wi yang beragama islam itu. Menggunakan kesempatan ketika Bok Tok lun sedang bepergian, beberapa pengawal kelas satu telah dikirim untuk merampas kitab suci itu. Dengan kitab itu ditangan pemerintah Ceng tak dikuatirkan akan terjadinya pemberontakan dari suku itu.
Piauwhok yang dibungkus kain merah dibelakang punggung Giam se-gui itu terisi kitab suci tersebut. Rapat besar ditengah gurun yang diadakan Bok toh lun telah ambil keputusan bahwa mereka telah bertekad bulat, untuk merampas kembali kitab pusaka itu.
Mengetahui bahwa gerak-gerik orang Wi itu tak ada sangkaut pautnya dengan dirinya, Hwi Ching segera akan berlalu. Tiba-tiba dilihatnya orang-orang Wi itu bersama-sama melakukan sembayang (sholat). Buru-buru dia bangkit, gerakkannya ini tak luput dari pengawasan mata Hwee Ceng tong yang tajam dan tampak berbisik diteklingga ayahnya: “Ayah, diluar ada orang mengintai”
Omongannya itu diikuti dengan loncatan keluar tenda. Nampak ada sesosok bayangan lari keluar hutan, ia segera ayun tangannya untuk melepas sebuah thi lian cu senjata rahasia berbentuk seperti biji teratai.
Mendengar sambaran angin dari arah belakang, Hwi Ching mengegos tubuhnya kesamping sambil mencekal theekoan, ia ulur ibu jari dan telunjuk untuk buka tutupnya, sesaat kemudian Thi-lian cu itu meluncur masuk kedalam tekoan, tempat the.
Dengan tak menoleh sedikitpun, Hwi Ching percepat larinya untuk kembali ke kamarnya, sampai disana semua orang sudah tidur semua.
“Losianseng sampai begini lama, kemana saja tadi, tanya seorang pelayan.
Hwi Ching hanya menjawab sembarangan saja. Di kamar ia periksa Thi Lian-cu itu, yang terbuat dari baja murni, diatasnya terdapat ukiran bulu burung, piauw itu dimasukkan dalam sakunya.
Keesokan harinya, rombongan piauwsu itu berangkat lebih dulu, si petugas yang berteriak Aku Bu Wi yang, disepanjang jalan, kembali berteriak lagi, dimukanya ada bendera Pat-kwa can Tin-wan paiaw-kok!
Barang-barang yang diantar oleh kantor Piauw hang tersebut ternyata tak seberapa banyak, yang penting piawsu itu dapat melindungi Thiam See Gui. Terang bahwa barang merah itulah satu-satunya barang berharga yang harus di jaga.
Seleng setengah jam kemudian, rombongan Can som ciang yang mengawasi Li thay-thay pun berangkat. Tengah hari tibalah mereka di Oei yan-cu. Dari situ harus melalui jalan diatas gunung yang menanjak dan berkelok-kelok. Mereka rencanakan sore harinya sudah dapat melintasi jalan itu mencari penginapan di desa Sam to-ko yang terletak di kaki gunung sebelah sana.
Jalanan gunung itu sangat sukar dan berbahaya. Wan Ci dan Cian som ciang berada dibelakang di Thay-thay. Mereka kuatir kalau keledai yang menarik kereta nyonya pembesar itu akan terpeleset masuk ke jurang yang dalam.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di mulut lembah Oh Kiem. Disitu kelihatan rombongan Piauwsu Tin Wan Piuw-kok melepaskan lelah. Juga Cam som ciang perintahkan rombongannya untuk beristirahat.
Kedua samping dari selat Oh Kiem adalah gunung-gunung yang tinggi. Jalanan disitu sangat menanjak sekali. Jadi orang harus berhenti diatas bukit. Hwi ching berada disebelah belakang sendiri. Dia selalu membelakangi supaya jangan dilihat oleh kawanan piauwsu iti.
Setelah memasuki mulut lembah tampaklah barisan rombongan piuwhang dan rombongan keluarga Li itu seperti seekor ular panjang, melingkar-lingkar keatas. Orang dan binatang-binatang sama menahan napas untuk mengerahkan tenganya.
Segera mata Hwi Ching yang jeli dapat melihat sebuah bayangan berkelebat diatas puncak gunung seperti lakunya seorang mata-mata yang tengah menginti. Dan tepat pada saat itu terdengar bunyi kelenengan keledai, serombongan orng Wi dengan menunggang kuda, tampak berjalan turun dari arah depan dengan laju.
Orang-orang piuwhang berteriak-teriak, supaya mereka orang Wi mempertahankan kudanya.
“Hai, sobat, mau cari mati, ya ?” seru Tong siu-ho
Sekejap saja orang-orang Wi itu sudah berada didepan, tiba-tiba beberapa dari mereka kedengaran seperti menyanyi dengan keras sekali suaranya jauh berkumandang dilembah, dari kedua samping puncank gunung, kelihatan ada orang yang mendadak berdiri, maka nyanyian itupun berhenti.
Belum habis orang-orang piuwhang itu terkejut, tiba-tiba dari rombongan orang-orang wi itu terdengar suitan, dan dua penunggang kuda segera kaburkan binatangnya kearah Giam See Gui. Terang mereka hendak menyerang pada Giam See-gui dan menyusul empat penunggang keledai dari Wi tampak mengepung Giam See-Gui dari empat jurusan.
Melihat gelagat kurang baik, Kwantong hok-mo hendak meloloskan senjatanya, tapi sekonyong-konyong keempat orang Wi itu mengayunkan senjatanya untuk menyerang Giam See-gui, senjata mereka aialah gembolan besar yang tak kurang dari empat ratus kati beratnya. Nyata bahwa keempat orang Wi sangatlah kuat.
Betapun lihaynya kepandaian Giam see-gui, namun penyerang itu dilakukan dengan cara mendadak, empat buah gembolan menghantam dari empat jurusan, andaikata ia keburu menangkis yang dimuka, yang dibelakang dan kanan kirinya sukar dihindari, maka seketika itu juga hancurlah kepala Giam see-gui.
Dari dalam rombongan orang Wi, melesatlah seorang nona berbaju kuning, sebat luar biasa ia loncat turun dari kudanya terus menyawut puhok dipunggung Giam see gui, tapi ketika ia gunakan pedang untuk memotong tali pauhok itu, sebuah sambaran angin menyerangnya.
Nona itu ternyata Hwee ceng tong, tak mau berpaling untuk menangkis, dengan hanya melejit kesamping ia terus bekerja memotong tali, tapi penyerang itu sangat sebat juga, belum sempat ceng liong mengulurkan tangan untuk menyambar piuwhok, kembali pedang berkelebat menghantam pinggangnya.
Ceng tong tidak berdaya berkelit, terpaksa ia putar pedangnya untuk menangkis segera letikan api muncrat dari dua bilah pedang yang berhantaman itu. Diam-diam gadis Wi itu mengakui lihaynya lawan. Dan dia makin berhati-hati.
Kembali ia ulur tangan kirinya untuk betot pauwhok yng masih dipunggung Giam see-gui yang sudah jadi mayat itu, tapi lagi-lagi pedang pnjang musuh menusuk lengannya cepat sekali. Ceng tong menarik tangan kirinya untuk digerakkan menurut jurus serangan dan pedang ditangan kanan menyusul sodokan.
Ketika ia mendongakkan kepala untuk mengawasi penyerang yang telah tiga kali merintangi itu, ternyata orang itu bukan lain dari anak muda cakap yang berlaku kurang adat kepadanya itu dulu. Marahlah ia, lalu mengirimkan serangan yang bertubi-tubi.
Si penyerang bukan lain ialah Li Wan-ci yang menyamar sebagai lelaki. Melihat rombongan pedagang Wi menyerang rombongan Pauhang ia sebenarnya akan tinggal diam dan saling berkelahi. Tapi tiba-tiba dilihatnya seorang gadis berpakaian kuning, loncat ketengah untuk merampas pauhok Giam See-Gui.
Dia itu yang kemaren menjebol bulu suri kudanya, dan ia pulalah yang dipuji setinggi langit oleh suhunya. Darah remajanya, tak kenal kalah. Wan-ci sungguh penasaran sekali. Ia tak ambil pusing siapa yang benar dan siapa yang salah diantara rombongan yang sedang bertempur itu. Pokoknya ia maukan si gadis Wie itu. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan tubuh ia hampiri si gadis itu untuk diajak berkelahi.
Tiga serangan berantai dari Ceng tong telah dapat dipunahkan oleh Wan Ci. Melihat itu, Ceng Tong heran juga kaum Wie itu mengetahui juga bahwa pauwsu-pauwsu itu lihay-lihay semua. Dengan kekerasan, mungkin gagalah rencannya untuk merampas kitab suci itu. Dipilihnya mulut selat Oh Kimyang sangat berbahaya itu, untuk mengadakan sergapan yang tak terduga begitu berhasil, mereka segera akan kembali ke daerahnya.
Tak dinyana, rencana yang sudah kelihatan berhasil itu dikacau oleh Wan ci. Nampak permainan Wan ci itu lihay. Ceng tong segera ambil keputusan cepat. Ia tak boleh hanyut terlalu dalam pertempuran itu, sekonyong-konyong ia merubah permainan pedangnya. Ia keluarkan ilmu simpanan Pedang Thian san Pay yang disebut Sam hu kiam. Dengan itu ia desak wan-ci hingga beberapa kaki harus mundur.
Ilmu pedang “Sam hu-kiam” adalah ilmu dari kaum Thian san-pay juga boleh dikata tak pernah diturunkan. Dinamakan “Sam hu” tiga bagian ialah gerakan serangan hanya digunakan sepertiga bagian dari sasarannya, setiap kali musuh akan menangkis gerakan pedang tersebut sudah berganti setiap jurus terdiri dari tiga serangan, ruwet dan sukar untuk ditangkis.
Ilmu pedang itu hanya terdiri dari jurus-jurus dan serangan saja.
Ketika lawan gunakan serangan, yaitu jurus salju sungai hendak meleleh, Wan-ci hendak congkelkan ujung pedangnya keatas, pikirannya hendak gunakan “It tiok-liang” sebatang hio untuk menangkis.
Tapi ternyata serangan musuh hanya sepertiga bagian, belum lagi pedang itu sampai kesasarannya Ceng tong sudah merubah gerakannya dengan Cian-li-liok-sat, pasir mengalir beribu li pedang yang mulanya lurus menyerang kini berubah dilintangkan untuk memapas.
Wan-ci gugup buru-buru jungkirkan pedangnya untuk melindungi diri. Tapi kembali ia dibingungkan oleh gerakan serangan pedang lawan. Belum lagi papasannya sampai kembali gadis Wi itu merubah gerakannya dalam “Angin menggulung rumput.” Dari ats pedangnya diturunkan untuk menebas paha Wan-Ci.
Wan-ci kaget, terus mundur selangkah. Tapi pada saat itu dengan gerakan “Angkat obor menyundul langit” ceng tong mengibaskan pedangnya keatas maju menyerang pundak kiri sang lawan.
Ketika Wan-ci bergerak menangkis, lagi-lagi lawan merubah gerakkannya dengan jurus “Swat tiong ki-lian” bunga teratai ditengah-tengah salju, demikian hebat dan luar biasa setiap gerak serangan dari “Sam hu kiam” hingga musuh bingung dibuatnya.
Walaupun kedua nona itu sudah bertempur beberapa jurus, namun senjatanya tak pernah beradu, sepintas mereka memainkan pedang seperti anak-anak sedang bermain. Ceng Tong menyabet dengan cepat tetapi setiap sabetannya itu tak pernah diteruskan sampai kena, namun Wan-ci sangat sibuk dibuatnya. Ia terus-menerus mundur sulit baginya untuk menghadapi. Kalau ia tak menangkis kuatir lawan betul meneruskan serangannya, tapi begitu ia menangkis, lawan batal menyerang dan ganti jurus. Ternyata ia kalah jauh dalam kesebatan dengan lawan.
Wan ci terkejut dan bingung sebenarnya ilmu pedangnya “Jwan-hun kiam” cukup sempurna asal saja ia melawannya dengan hati yang mantap, dan tak akan kalah semudah itu. Tapi karena ia baru saja mempelajarinya, jadi ia belum pengalaman dalam pertempuran tadi.
Melihat gerakan musuh tiga kali lebih sebat dari dirinya, ia goyah hatinya. Karena tak mungkin melawan, ia lantas loncat mundur dan Ceng tong sendiripun tak mau mengejar. Cepat-cepat ia membalikan badan, ternyata dihadapannya ada seorang yang bertubuh kecil kurus.
Orang itu berdiri disamping mayat Giam see-gui sambil mengenggam pauwhok merah berisi kitab suci itu. Tanpa tanya ini itu, Ceng tong mengirimkan serangan pedangnya.
“Aya, Tong-toaya hendak pulang.”
Demikian orang itu berteriak. Dialah si mulut tipis Long siu Ho, ia tak mau melayani dan terus loncat. Namun, ceng tong terus mengejar dan kembali pedangnya diayunkan. Tapi sebilah Ngo-heng lun menyambut pedang Ceng Tong itu dan terus didorongnya, itulah Giam see ciang.
Kiranya Bok Toh Lun mengatur siasatnya dengan cerdik. Dibelakang dan muka ia gunakan onta-onta untuk memisahkan orng-orang Piuwhang, agar mereka tak dapat berandeng berkelahi.
Pemimpin Wi itu sendiri naik kuda dengan memutar golok panjang, ia serang Tee Ing Bing dan Chi Ceng Lun, dua orang piuwsu. Menghadapi dua orang lawan, ia perhebat rengsekannya.
Tapi pada saat itu, Giam See ciang mulai mengamuk, keenam Kwantong Liok-mo itu rata-rata berkepandaian tinggi. Melihat kakaknya dibinasakan orang Wi, ia murka sekali. Dia meluncur dari kudanya, loncat melewati onta. Ia sabetkan Ngo heng lunnya kepada seorang Wi yang memegang gembolan. Begitu gencar hantamannya itu, sehingga seketika itu orang Wi terjungkal dari ontanya.
Seorang wi lain maju menghadang. Menunggu gembolannya melayang datang, Giam see ciang miringkan tubuhnya. Ngo heng lun dipindahkan ketangan kiri, ia ulurkan tangan kanannya untuk menyawut membokong siorang Wi, terus dibetotnya kebawah.
Gembolan itu beratnya hampir seratus kati dan orang Wi itu tenaganya kuat sekali, justeru selagi orang Wi itu mengerahkan seluruh kekuatannya. Giam see-ciang, meminjam kekuatan lawan, terus dibantingnya ke tanah. Gembolan itu tepat jatuh kedada tuannya, dan diiringi jeritan yang keras, terus muntah darah binasa lah saat itu juga.
Dengan mengunakan kecerdikannya Tong-siu-ho memanfaatkan kekacauan itu, dia melihat suatu kesempatan yang baik,. Dengan sebat dia loncat kearah mayat Giam see-gui untugambil Pauwhok yang berharga itu. Ketika Hwee Ceng Tong, memburu Tong siu-ho dengan cepat Giam see ciang menghadangnya.
Di tengah perlawannya dengan Giam see ciang, Ceng Tong selalu waspada kalau-kalau pemuda tampan itu akan datang lagi. Tiba-tiba dari arah celah gunung terdengar bunyi seruling yang keras sekali itu pertanda untuk mundur dari pihak Wi.
Pada suatu kesempatan, Ceng Tong nampak ia melirik kepada Tong siu-ho yang melarikan diri dengan cepatnya kearah puncak gunung, dengan mengeluarkan ilmu pedang “Sam-hu-kiam, ia mendesak Giam see ciang sampai mundur dua tindak, segera nona itu loncat dan terus mengejar Tong siu Ho keatas puncak gunung.
Sementara itu suara seruling terus bergema dengan kerasnya. Dan tiba-tiba terdengar ayahnya, Bok Toh Lun, berseru keras :
“Ceng Tong lekas kemabali !”
Ceng tong berpaling mendegar seruan ayahnya, lantas ia hentikan lagnkahnya, terus terus memerintah kawannya untuk mengotong kawan-kawannya yang telah binasa untuk dinaikan keatas kuda. Sekali lagi bunyi seuling terdengar keras, tiba-tiba rombongan orang wi itu menerob turun.
Namun dibawah sana berpuluh serdadu Ceng sudah siap menghadang ditengah jalan, dan Tho-lam sam ciang larikan kudanya kemuka, dengan laintangkan tombaknya ia membentak.
“Berandal yang bernyali tikus mau bikin huru-hara, ya ?”
Sebagai sahutan, si nona baju kuning menimpukkan dua biji thi-lian-cu untuk mengarah kedua belah tangan penghadangnya itu.
Begitu terdengar suara berdering tombak can tho-lam cu lepas jatuh.
Bok Toh Lun membuka jalan dengan pedangnya yang panjang. Orang-orangnya pun maju menyerang tentara Ceng tersebut. Gelombang serangan orang-orang Wi itu ternyata dapat mematahkan perintangnya. Tentara Ceng terpaksa menyingkir untuk memberi jalan.
Giam see ciang dan Tee ing bing memburu lagi, terus berhantam dengan si nona baju kuning. Pada saat itu sekonyong-konyong dari rombongan orang Wi menerobos keluar seorang penunggang kuda, sambil berseru “
“I-moay, kau mundur dulu !”
Pemuda itu adalah kakak dari Ceng Tong, bernama Hwee A lo. Dengan tombak, dia hadang kedua piauwsu yang akan menyerang adiknya itu. Dengan begitu dapatlah Ceng Tong loncat keatas seekor kuda.
Kedua kakak beradik itu sembari bertempur sambil mundur, tiba-tiba dari dua puncak gunung kedengaran seruling berbunyi lagi.
“Hwee A In dan adiknya putar kudanya kebelakang terus lari Giam see ciang masih terus mengejar.
Karena gemes Ceng Tong sambitkat dua biji Thi-lian-cu kemuka pengejarnya itu, giam see ciangpun memutar ngo heng-lunnya untuk menangkis.
Berbarengan saat itu, dari atas puncak gunung berglindingan batu-batu kebawah beberapa diantaranya tepat mengenai rombongan tentara Ceng, hingga ada beberapa yang mengeluarkan darah. Dalam kekacauan itu rombongan pedagang Wi berhasil meloloskan diri.
Begitu mereka sudah jauh, Giam see ciang segera mendekakap mayat kakaknya itu, ia menangis tersedu-sedu, setelah dibujuk oleh Chi ceng lun dan Tee Ing bing, barulah ia mau berhenti.
Orang-orang piauwhang lalu menaruh mayat-mayat kawannya ke dalam kereta, kalau kawan ada yang bersedih kehilangan saudara, adalah Tong siu ho yang nampak unjuk muka berseri-seri kegirangan.
“Kalau bukan Tong-toaya yang cekatan, dia matipun akan penasaran, “demikian ia membual.”
Ketika kedua rombongan tengah bertempur dengan seru tadi Hwi Ching hanya mengawasi saja dipinggir. Ketika Wan Ci didesak mundur oleh nona bangsa Wi tadi, dan karena turut campurnya anak itu sehingga kitab Qur’an gagal dirampas orang-orang Wi, Hwi-Ching jadi uring-uringan.
Setelah keadaan disitu mulai sepi, dan tak ada seorangpun menghaturkan ucapan terima kasih kepada wan Ci merasa kurang senang, sedang sewaktu Tong siushu nampak dandanan Can Tho Lam seperti seorang bu-koan atau menghampiri untuk memperkenalkan diri. Sedikitpun dia tak ambil perhatian pada Wan-ci. Sudah barang tentu Wan-ci makin mendelu. Ditambah lagi suhunya memberi tegoran pedas.
“Orang-orang Piauwhang itu banyak dari golongan jahat, yang tergolong baik-baik mengapa kau usil membantu mereka !”
Benar-benar Hwi Ching murka, Wanci yang didamprat tak berani angkat kepalanya.
Ketika sampai di puncak, di waktu magrib nanti tentu sudah sampai di Sam To kao, sebuah kota yang sedangsedang saja besarnya kata kusir.
“Hotel terbesar di Sam To kao ialah hotel An Tong.”
Setelah masuk kota, baik rombongan piauwhang maupun rombongan Li Thay-thay, sama-sama menuju hotel tersebut. Tapi begitu sampai dimuka pintu seorang pelayanpun tak ada yang menyambut.
“Apakah semua pelayan-pelayan disini semuanya mampus ?” demikian Tong siu-ho dari rombongan Piauwhang berteriak dengan marah-marah.
Mendengar itu Wan-Ci kerutkan jidatnya, karena selama ini, belum pernah melihat orang yang sedemikian kasarnya.
Rupanya rombongan yang sudah letih dalam perjalanan itu tak sabar lagi. Mereka terus mau memasukinya, tapi tiba-tiba pada saat itu dari arah dalam terdengar suara beradu.
Wan ci adalah yang paling usl dan selalu ingin mengetahui sesuatu lebih dulu, ia terus menerobos masuk. Tapi ternyata ruangan hotel itu tak kelihatan manusia. Baru setelah masuk keruang dalam, dilihatnya wanita muda dengan rambut terurai tengah bertempur dengan empat lelaki. Dengan gelisah wanita itu memainkan golok panjang ditangan kiri dan golok pendek ditangan kanan. Nampaknya ia berkelahi dengan mati-matian.
Jelas bagi Wan ci, bahwa keempat orang lelaki itu berusaha keras memasuki sebuah kamr disitu, sedang wanita itu coba menghalangi dengan nekad. Keempat orang lelaki itu tinggi kepandaiannya, satunya memainkan tongkat, seorang lagi menyoren pedang sedang yang lainnya menggunakan kui thao-to.
Waktu itu Hwi Ching pun sudah menyusul masuk keruangan itu. Pada sat itu, orang yang bersenjatakan sepasang tongkat itu tampak mengangkat senjatanya untuk dihajarkan di kepala si wanita.
Wanita muda tersebut tak mau menyambutinya dan hanya menghindar kekiri, justeru saat itu Jwan pian musuh mengarah pinggangnya, dengan ksebat luar biasa wanita itu memapak dengan golok ditangan kirinya kearah jwan pian, seheingga seketika ituitu juga pian lalu menggulung ke bawah.
Buru-buru wanita itu menarik goloknya. Tapi justru dengan demikian sangat berbahaya, kui thao0to dari salah seorang lawan menebas dan disusul pedang musuh lainnya mengarah kepunggung si wanita.
Wanita itu cepat-cepat menangkis serangan pedang tersebut. Tapi karena menghadapi dua macam serangan, posisinya sangat berbahaya. Benar pedang dapat di tangkis tapi kui thao-to sudah keburu datang. Sukarlah kiranya menghadapi kui thao-to yang menyambar sebelah pundaknya.
Pundak wanita termakan golok kui thao-to, namun ia tetap pentang mundur. Ketika lengannya bergerak-gerak memainkan senjata, darah dilukanya bercucuran membasahi lantai.
“tangkap hidup-hidup! Jangan sampai ia berlaku nekad, teriak orang yang bersenjatakan jwan-pian sambil terus mempergencar serangannya.
Melihat keadan yang pincang itu, Hwi Ching marah, timbulah hati keutamya. Tanpa mengingat tugas berat yang sedang dijalankannya ia kan taan
Urun tangan.
Kini orang yang memegang sepasang tongkat itu, tampak menyabetkan tongkatnya dan dalan gugupnya wanita itu menangkis dengan golok pendek. Dan ketika pedang lawan datang, ia pakai golok yang satunya unt menangkis
K menahan. Tapi ternyata si penyerang yang memakai pedang itu sangat lihay. Apalagi karena pundaknya sudah terluka berkuranglah tenaga si wanita itu.
Begitu pedang dan golong yang saling bentur, tangan si wanita tergetar hebat dan goloknya panjang jatuh. Musuh tak mau sia-siakan. Ketika terbuka, maka pedang terus disarangkan dengan hebat.
Si wanita cepat-cepat berkelit kekanan. Tusukan pedang dapat dihindari, tapi musuh yang bersenjatakan KKUi –thao –to tadi segera melesat maju untuk menerobos masuk kedalam kamar itu. Melihat keadaan yang begitu berbahaya, si wanita menjadi nekad. Dengan tak memperdulikan senjata-senjata yang menyerangnya dari empat jurusan, ia merogoh dadanya dan dengan sebat menawurkan dua batang hui-too kearah punggung seorang musuh yang tengah menerobos masuk ke kamarnya utu. Orang tersebut mengira bahwa wanita itu tentu masih sibuk menghadapi ketika lawannya, mana ia terus maju dengan mantap.
Begitu terasa sambaran angin dibelakangnya, ia coba berkelit, tapi sudah terlambat. Sebatang hui-too masih dapat dia hindari dengan kepalan.. tapi hui-too yang lain tepat menyusup ke punggungnya. Masih untung kekuatan wanita itu banyak berkurang karena luka dipundaknya , tak urung orang itu menjerit hebat, terus melangkah mundur.
Pada saat itu kembali wanita gagah mendapat hantaman tongkat dipahanya, sehingga dia terhuyung-huyung, namun ia tetap nekad untuk menghadang di depan pintu kamarnya.
“Wan-ci, kau lekas bantu dia, kalau kalah aku bantu !” Hwi Ching perintahkan muridnya
Tak usah diulang lagi, wan-ci loncat dengan pedangnya.
“Empat orang laki-laki mengerubuti seorang wanita, sungguh memalukan !” demikian teriaknya segera.
Melihat ada orang datang menyelak, dan berbareng pada saat itu diruangan tampak banyak orang-orang piuwhang dan tentara negeri, keempat orang itu buyar semangatnya, begitu terdengar suitan berbunyi, mereka berempat segera loncat kabur.
Wajah wanita muda itu pucat lesu, dengan menyandar pada pintu ia menggasoh npas. “Wan-ci menghampiri lalu bertanya.
“Ada apakah?”
“Mengapa mereka menghina Nyonya ?”
Tapi belum sempat wanita itu menjawab, Gan Tho Lam telah menghampiri Wan-ci sambil berseru :
“Thay-thay menyuruh siocia datang kesana,” lalu dengan setengah berbisik pemimpin barisan pengawal itu berkata pula. Mendengar siocia kesana.
Nampak Can Tho lam mengenakan pakaian opsir tinggi, wajah wanita itu bertambah pucat, tanpa perdulikan pertanyaan Wan-ci terus masuk kedalam.
Terbentur dengan tembok, lunak wan-ci kurang puas, ia berpaling pada Can tho lam dan katanya :
“baik, aku akan segera datang.
“tapi ia menghampiri suhunya lebih dulu, ia lalu bertanya ?”
“Mengapa merek bertem dengan sengit, suhu ?”
“Biasanya ada dendam, pembalasan sakit hati, karena urusan belum putus, kiranya keempat orang itu tentu akan datang lagi suhut sang guru.
Wan-ci hendak menegasi tetapi tiba-tiba terdengar seseorang datang dengan memaki-maki kasar.
“Keparat, kau kata tak ada kamar. Apa takut aku tak bayar, ya ?!”
Kalau menilik suara ialah Tong siu-ho. Lantas terdengar pula seorang pelayan berkata “
“Long at koanya harap jangan marah dulu.kita mana berani menghina koanya.tapi memang sungguh-sungguh ruangan atas beberapa kamarnya, sudah orang lain.
“Siapa yang berada dikamar atas coba kulihat seru orang itu dengan ketus. Dan sembari berkata dia terus melangkah keruangan dalam. Justru pada saat itu si wanita muncul lagi dari kamarnya dan sedang berkata pada seorang pelayan lain : Toako, tolong, bawakan air panas kemari.
Begitu nampak rangnya, semangat Tong-siu ho seperti terbelot, walaupun wajah sionya muda itu pucat namun tak mengurangkan kecantikannya, tong siu-ho terpesona. Hanya matanya saja yang kedap-kedip.
Si wanita cantik berbicara dalam dialeg utra dengan tekukan orang selatan.
“Selama Ceng toaya lewat di daerah ini berulang-ulang, belum pernah aku menginap di hotel kelas dua. Kalau ruangan atas sudah penuh, biarlah kupakai ruangan ini saja !”
Sambil berkata itu Tong siu-ho menghampiri kearah kamar si wanita. Dan selagi ia menutup pintu Siu-ho menerobos masuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar