Selasa, 13 Maret 2012

Puteri Harum dan Kaisar Jilid 3

“A D U H !” Si wanita menjerit kesakitan ia coba menghadang, tapi luka dipahanya itu memaksa ia untuk duduk kembali dengan rasa sakit yang hebat. Memang hantamana tongkat tadi menyebabkan ia terluka berat.

Ketika Siu-Ho masuk, didapatinya laki-laki berbaring diatas pembaringan. Karena kamar itu tak ada penerangannya, wajah orang itu tak tampak jelas. Hanya kepalanya saja yang tampak dibalut kain putih, begitu pula tangan kanannya dibalut dan diikat pada leher, sedang sebelah kakinyapun dibalut juga. Jadi boleh dibilang orang seperti mayat yang dibungkus kain puti, begitu melihat ada orang masuk dia segera menegur dengan suara lemah.
“Siapa ?”
“Aku orang She Tong-piauwsu dari Tin-wan Piauwkok. Karena kamar semua sudah penuh kumohon kau perbolehkan aku tidur disini, wanita itu siapa, iasteri atau kenalanmu saja ?”

“kau pergi saja, kata orang itu dengan nadahambar. To siu ho mengerti bahwa orang tersebut terluka berat, sedang satunya tadi hanya seorang wanita. Dia tak mau sia-siakan kesempatan itu, lalu cengar-cengir berkata :

“jangan gitu dong, biar kita tidur bertiga. Jangan kuatir, tak nanti menyaplok lukamu !”
Karena murkanya itu sampai gemetar badannya.
“Toako, jangan umbar nafsu, kita tak boleh cari mush baru lagi, seru si wanita dengan lemah kemudian katanya pada Tong siu-ho harap kau lekas keluar !”
“Apa keluar ?” menemani kau kan lebih enak bukan ?” sahut siu-ho dengan lagak tengik
“kau kemarilah,” tiba-tiba laki-laki itu berseru .
“Bagaimna, kau lihat aku ini cakap tidak?” kata siu-ho sambil melangkah maju.
“Kurang jelas, mau lebih dekat lagi!” kata lelaki itu
Dengan tertawa siu-ho maju beberapa tindak lagi, katanya :
“lihat yang terang dong, inilah yang dikatakan si bagus memboyong si cantik.”

Belum selesai ucapannya, tiba-tiba laki-laki itu bangun dari pembaringan dansebat luar biasa tangan kirinya dijulurkan menotok jalan darah, Khi ia hiat.dengan mengungang sisa kekuatannya dalam Iwekang dia hantam pundak si ceriwis itu.

Seperti mega tertiup angin, tubuh siu-ho melayang sisa terlempar keluar mengerusuk jatuh dilantai halaman. Dia menjerit-jerit, tapi tak dapat berkutik, karena ditotok Tiam tadi, tak dapat berkuti, karena ditotok tadi, sun loo-sam dan petugas yang berteriak-teriak di sepanjang jalan buru-buru menghampiri untuk mengangkatnya.

“Tong Toaya, jangan mengganggu mereka.”

Rupanya mereka adalah orang Hong Hwa-Hwee kata Kun Lo sam bisik.

“A…..a ….. kakiku tak bisa bergerak Hong Hwa Wee bagaimana kau tahu ?” seru Tong siu-ho dengan mengucurkan keringat dinhgi.

Kata pemilik hotel, “Ini, tadi empat orang dari kantor Pembesar sini akan mengkap mereka, tapi dapat dipukul mundur, Loo sam memberi keterangan.

Ketika mendengar ribut-ribut itu orang-orang piauwhang semua melihat keluar.
“Ada apa sih!” seru Giam See ciang menghampiri.
“Giam liokko, aku ditikam oleh orang Hong Hwa Bwee, kau tolonglah teriak Siu-ho sambil meringis sakit.”
“Giam See- ciang kerutkan jidatnya. Dia tarik tangan siu-ho terus panggulnya, Lo-tong masuk kemari !”
See ciang akan menjaga nama Tin-wan piauwkok maka ia tak mau orang ketawa ada piauwsu Tin wan piuwkok dihajar orang sampai tak bisa bangun, tapi dia terkejut juga ketika didalam kamar ia lepaskan Siu-ho turun ternyata masih saja ia numprah ditanah.

“Tubuh ku lemas tak bertenaga sun loo sam kurang ajar, kau tak mau gendong aku ? teriak siu-ho pula.

Baru kini Giam see ciang tahu bahwa kawannya itu terkena totokan orang, lalu ditanyainya.

“Kau berkelahi dengan siapa tadi ?”

Dengan mata melotot dan muka kecut, Siu-ho tunjuk kearah kamar wanita tadi, katanya
“Dengan seorang telur busuk disitu !” kawanan Hong Hwa Hwee, belum sempat orang mengurus perbuatannmu membunuh Cio Bun Ki samya kini kau coba main gila dengan Tong Toayamu ini.

Demikian sengaja siu-ho ingkit kematian Cio-bun ki samya dari Kwantong Liok-mo di depan Giam see Ciang agar panas hatinya.

“Tong-toaya, jangan memaki-maki saja. Jangan cari perkara dengan orHong Hwa-Hwee sekali kita kesalahan pada mereka sukar kiranya tugas kita sebagai piuwsu akan dapat aman.

Semula Giam see ciang termakan akan bualan Siau-ho tadi, ia bermaksud akan menjajal orang tersebut. Tapi ketika teringat bahwa musuh pandai menotok, apalagi kini ia seorang diri dan telah ditinggal mati oleh kakaknya Giam See Gui, maka ia tarik mundur niatnya itu.

Ketika itu tampak Chi Ceng lun piauwsu mendatangi, segera dia bertanya pada Sun Loo sam si tukang teriak di jalan itu.
“Apa kau tak salah lihat pada orng Hong Hwa Hwee ?”
Sun Loo Sam mendekati Chi piauwsu, lalu bisiknya :
“Setelah keempat pahlawan kantor pembesar berlalu, maka kasir hotel ini menerangkan bahwa sepasang suami isteri itu adalah pesakitan penting. Untuk mereka berdualah, kerajaan sengaja mengurus beberapa jagoannya menangkapnya kemari. Kasir itu telah dipesan bila sewaktu-waktu kedua orang itu hendak berlalu, supaya lekas-lekas melaporkan kepada pembesar setempat, semuanya itu, telah kudengar tadi.”

Chi Ceng lun berusia lima puluh tahun lebih. Lama dia terjunkan diri dikalangan piuwhang. Meskipun bugeenya tak terlalu tinggi, tapi dia luas sekali pengalamannya, segera ia memberi isyarat mata pada Giam See Ciang, lalu bersama-sama mengangkat Tong Siu Ho.

“Golongan apa sih,” tanya She Giam.
“Orang Hong Hwa Hwee, baik mengalah. Nanti setelah menolong Tong Siu-ho, kita rundingkan lagi.” Balas Chi piauwsu kemudian tanyanya pada sun Loo sam.
“Adakah kau saksikan pertempuran tadi ?”
“Wah, hebat sekali, seorang wanita muda memegang dua batang pedang, sebatang panjang ditangan kiri dan sebatang yang pendek di tangan kanan. Keempat orang laki-laki itu tak dapat mengalahkannya. Sebenarnya mereka berempat menang angin Cuma mereka sengaja memperpanjang pertempuran untuk melelahkan si wanita.” Tutur Loo sam.

“itulah murid dari keluarga Lou, yang digelari Sin To Lou Keh. Ia pandai melepas huito bukan ?”
“Ya, ya, benar, tangannya sakti sekali,” kata Loo sam
“Ah, kiranya Sutangkeh ketua keempat berada disini kata Chi piauwsu pada Giam See ciang. Habis itu mereka tak bicara apa-apa lagi. Bertiga mereka menggotong Tong siu-ho masuk kedalam kamar

Kali ini Hwi Ching menyaksikan semua kejadian. Ketika ketiga piauwsu itu berunding, dia tak dapat mendengar jelas. Tapi dua patah kata dari Chi piauwsu itu dapat didengarnya betul.

Pada saat itu Wan Ci muncul disitu lalu mendekati suhunya seraya katanya :

“Suhu, kapan kau ajarkan ilmu tiam hiat padaku ? coba itupun unjukkan kepandaian begitu”

Hwi Ching tak menggubris, dia hanya berkata seorang diri :”Tentunya anak keturunan dari Sin to lou keh si Golok sakti keluarga Lou. Ah aku tahu tak boleh tinggal diam.
“Siapa Sin To Lou Kee itu ? tanya Wan-ci.
“Sin To Lou Goan Thong adalah sahabat karibku, kabarnya ia sudah meninggal. Wanita yang bertempur itu tadi gunakan jurus-jurus ilmu golok dari Lou Goan hong kalau bukan puterinya tentulah muridnya.”

Dalam pada itu, Ci Ceng Lun dan Tee Ing-Bing berdua piauwsu dengan mengotong Tong Siu-ho tampak menuju kekamar si wanita tadi. Diluar kamar, Sun Loo sam lebih dulu batuk-batuk lalu berseru keras-keras.
“Chi Tee dan Tong bertiga piuwsu dari Tin wan-piauwkok mohon berkunjung pada Su-tong kee dari Hong Hwa Hwee.

Begitu gerendel pintu terbuka, si wanita muda berdiri diambang pintu ia mengawasi keempat tetamunya itu, sun loo-sam buru-buru memberikan tiga buah kartu nama, namun si wanita tersebut tak mau menerimanya, malah terus membalikkan diri masuk kedalam. Rupanya ia berunding dengan suaminya, tak lama kemudian nampaka keluar lagi seraya menyilahkan tetamunya masuk.

Selama di dalam, wanita itu tetap berdiri disamping sang suami. Walaupun keempat tetamunya itu mengerahkan jubah panjang dan tak membekal senjata apa-apa, tapi tuan rumah tetap curiga.

“Saudara kami ini, tadi telah kesalahan pada tuan untuk itu datang menghaturkan maaf, demikian Thi Ceng Lun membuka pembicaraan seraya menjura diikuti pula oleh Tee Ing Bing dan Sun-lo sam.

Namun si lelaki itu tetap berbaring ditempatnya, maka berbisiklah wanita itu padanya.
“Koko, orang-orang Tin-wan piuwkok haturkan maaf padamu. Laki-laki itu tak menyahut apa-apa,.
“Bun Tia-hay-hay, meskipun aku belum pernah bertemu padamu, tapi sudah lama dengar su tang-kah dan namamu yang kesohor. Pemimpin piuwkok kita Win Tin-ho ni ong hui Thing dan ayahmu si to-lou looya, mempunyai hubungan baik, saudara kita yang satu ini memang sembrono sekali ..........

“Ssssst, dia terluka dan baru teridur. Nanti jika sudah bangun akan kusampaikan maksud kunjungan kalian padanya. Harap kau orang jangan anggap kita tak tahu adat, tapi karena ia terluka hebat, sudah hampir dua hari ia tak bisa tidur, sahut si wanita memutuskan omongan orang. Dan wajahnya mengunjuk seperti orang berduka.

Chi ceng lun dapat menerima alasan itu, karena memang dilihatnya seluruh tubuh orang itu dibalut kain, kemudian katanya :

“Bun su tang-keh lukanya bagaimana ?” aku ada membawa obat kiem sana yok untuk segala macam luka, demikian Chi cengn berkata untuk mengambil hati orang.

Si wanita rupanya mengerti maksud orang, lalu berkata

“Terima kasih, kita sudah punya obat. Tuan yang terkena tiam ini, tak terluka berat. Kalau nanti suamiku sudah bangun, akan kusuruh pelayan memanggil tuan.”

Mendengar orang suka menolong, keempat tamu itu lalu undurkan diri.
“Eh, nanti dulu. Mengapa tuan-tuan tahu nama kami, tiba-tiba wanita itu bertanya
“Sepasang Wan-yang-to dan golong terbangmu huito orang kangaouw manakah yan gtak mengetahuinya ? dan lagi, kalau bukan Bun Su-tong kee, siapa lagi yang mempunyai kepandaian Tiam-hiat itu. Serta pula kalian berdua berkumpul menjadi satu, maka tentulah Pan-lui Chiu Bun Lay dan Wan yang to laou Ping adanya, “ sahut Ceng Lun.

Wanita muda tersebut tersenyum simpul. Ia puas mendengar orang junjung dirinya dan suaminya.

Melihat mereka keluar kembali Wan-ci kambuh penyakitnya untuk belajar ilmu Tiamhiat ia mendongkol karena sampai sebegitu jauh suhunya masih belum mengajarnya ilmu tersebut, ia masuk kedalam kamar untuk mencari akal bagaimana caranya agar sang suhu mau menurunkan pelajaran itu.

Habis dahar pagi ia temani ibunya berbincang-bincang sebentar, ibunya memperingatinya agar jangan nanti dijalanan membuat keonaran lagi, dan melarang menyamar sebagaia laki-laki lagi, tapi Wan-ci hanya ganda tertawa saja.

“Ma bukanlah kau sering menggerutu tak punya anak lelaki ? kalau kini aku menjelma menjadi seorang laki-laki mengapa kau tak bergirang ?”

Ibunya kalah separuh, lalu masuk kekamar dan tidur. Ketika wan ci juga akan masuk tidur, tiba-tiba didengarnya di halaman sana seperti ada orang mengetuk jendela dengan perlahan-lahan dan menyusul terdengar seorang sedang bisik-bisk.
“Bocah, keluarlah aku ada yang akan diomongkan denganmu.” Cepat-cepat Wan-ci menyambar pedang, terus loncat kehalaman, dimana sebuah bayangan orang, kedengaran berseru pula.
“Anak setan, kalau kau ada nyali, mari ikut aku.”
Wan-ci adalah ibarat anak kambing yang tak takut harimau tanpa curiga apa-apa, dia loncat keluar tembok buat mengikutinya.

Baru saja kakinya menginjak tanah, sebuah pedang berkelabat menghantamnya. Cepat wan-ci hadangkan pedangnya untuk menangkis dan cepat menanyai : “Siapa kau ?”

“Aku adalah Cui-ih Wi sam Hwee Ceng Tong Eh, sahabat kita orang sebagai air

Sungai tak mengganggu air sumur. Mengapa kau ganggu kami hingga urusan kami yang besar itu terlantar ?”
Kini baru Wan-ci tahu dengan jelas bahwa bayangan yang melintangkan pedang ke tanah itu adalah si nona baju Kuning yang pernah bertempur dia waktu tempo dulu.

Ia tak dapat menjawab teguran si nona itu. Memang ia tak punya alasan, mengapa harus mengacau urusan itu. Namun ia malu untuk mengaku salah, maka dicarinya alasan katanya :

“Urusan dunia adalah urusan manusi semua, memang siaomaymu itu paling suka campur urusan orang lain kau tak terima ? Baiklah aku akan mohon pelajaran pedangmu lagi.

Ucapan itu dibarengi dengan serngan pedang kearah si nona. Dengan murka si nona segera angkat pedangnya untuk menangkis.

Wan-ci sebenarnya tahu bahwa ilmu pedangnya tak nempel dengan sang lawan, tapi ia sudah punya rencana, sembari berkelahi ia terus mundur, sambil melihat letak tempat yang akan dilaluinya. Ia terus mundur, hingga sampai kekamar suhunya. Dan pada saat itu berteriaklah ia dengan kuat-kuat.

“Suhu, Suhu aku akan dibunuh orang.”
“Hem, kedengaran si nona mencemoohkannya.”
“Manusia tak punya guna, mana aku sudi mengotori tanganku untuk membunuh manusia macam kau itu. Aku hanya hendak memberi pelajaran padamu, agar selanjutnya kau jangan usilan dengan urusan orang lain !”

Habis mengucap itu, Ceng Tong segera balikkan diri terus berlalu.

Tetapi wan-ci tak mau melepaskan, ia segera loncat menikam punggung lawannya. Maka Ceng tongpun lantas putar tubuh dan pedangnya untuk bersilat lagi dengan sam hun kiamnya karuan wan-ci kerepotan.

Tiba-tiba ia mendengar tindakan kaki mendatangi dari arah belakang. Ia pastikan bahwa itu tentu suhunya. Liok Hwi Ching, maka membarengi saat Ceng Tong menikamkan pedangnya kearah dadanya. Wan-ci dengan sebat loncat bersembunyi dibelakang suhunya. Melihat adanya bahaya mengancam apa boleh buat Hwi Ching angkat pedangnya buat menangkis.

Ilmu pedang Ceng Tong sangat cepatnya. Tanpa berkata apa-apa, ia kirim sepuluh jurus serangan bertubi-tubi. Selama itu ia heran bahwa sekalipun permainan jago tua itu tak berbeda dengan anak muda atau Wan-ci tadi, namun ia tak dapat berbuat apa-apa. Ia bergerak makin seru lawan makin perlahan. Dan setelah beberapa jurus lagi. Kini ia berbalik dari menerjang menjadi diserang.

Ketika itu wan-ci berada disamping. Dengan seksama ia awasi jalannya pertempuran anatara suhunya dan nona Baju Kuning itu. Dengan begitu tercapailah maksudnya mencuri lagi beberapa kepandaian dari suhunya, apabila suhu itu betul-betul masih menyimpan beberapa macam ilmu. Tapi ia menjadi kecele “Jwan hun kiam sut” yang dimainkan oleh sang suhunya itu dapat bergerak dengan mantap dan mahir sekali. Betul-betul dia dapat menguasai permainannya dengan sempurna sekali.

Pokok tujuan dari “sam-hun-kiam” yakni untuk menghantam kelambatan musuh dengan kecepatan, agar musuh menjadi kalang kabut. Namun Hwi Ching tak mau mengekor gerakan musuh hingga setelah berselang beberapa jurus lagikedudukan mereka menjadi terbalik.

Sampai disini insyaflah Ceng Tong bahwa kini ia menghadapi seorang angakatan tua yang kenamaan, ia harus dapat bertindak sebat. Dengan asap digurun pasir dan meliwis jodoh dipadang pasir ia merangsek hebat untuk menagkis, sebat luar biasa Ceng Tong memutar diri untuk lari.

Namun Jwan hu-kiam sut dari Hwi Ching bagaikan hujan yang tak kenal putus, sekali terlibat, jangan harap dapat terlepas. Apa boleh buat Ceng Tong terpaksa melayani dengan mendelu hati.

Melihat kesempatan bagus itu. Wan ci lalu masukkan pedangnya dan dengan ilmu silat tangan kosong Bu-kekihian-kang-kun, ia terjunkan diri dalam kalangan, sudah barang tentu Ceng Tong makin ripuh dibuatnya.

Wan ci memang nakal, ia tak sungguh-sungguh mengarah serangannya dibagian yang berbahaya dari lawannya, caranya berkelahi pun hanya seperti orang bercanda. Dengan tangan kosong, ia jotos kesana, menpuk kesini. Ia memang hanya mau membalas hinaan ketika bulu suri kudanya dijebol tempo hari itu.

Menurut kaum muslim, pergaulan anatara laki-laki dan perempuan sangat dibatasi. Wanita yang keluar rumah tentunya harus menggunakan kerudung untuk menutupi mukanya. Namun bagaimnapun karena menjalankan tugas penting terpaksa aturan itu dikesampingkan oleh Ceng Tong. Ceng tong adalah seorang gadis yang memegang teguh kesucian, ia gusar sekali melihat kelakuan yang tak senonoh dari wan-ci yang dikiranya seorang pemuda itu.

Karena marahnya kemudian ia lengah. Dan hampir ujung pedang Hwi Ching menyambar kemukanya. Dengan tersipu-sipu nona itu tundukkan kepalanya seraya menangkiskan pedang. Tapi tiba-tiba dari arah belakang, wan-ci berseru keras-keras, liaht pukulan !”

Dengan gerak “Ayam liar menotol beras” Wan-ci menghantam pundak kiri si nona. Dan ketika lawannya berusaha untuk menggunakan tipu “Kim Na-hwat” untuk menyambut tangan Wan-ci yadari belakang ini dengan sabetnya meneruskan jotosannya kearah dadanya, kalau saja pukulan itu mengenai sasarannya, orangnya pasti akan terluka berat.

Walaupun Ceng Tong terkejut, namun ia sudah tak berdaya untuk menarik kedua tangannya yang dipakai untuk menangkis serangan Hwi Ching dan serangan Wan-ci. Namun Ceng Tong tak menjadi gugup dan segera tarik tubuhnya kebelakang, walaupun tak dapat lolos sama sekali dari musuh, tapi sedikitnya dapat mengurangi tenaga hantamannya.

Tapi ternyata wan-ci tak sungguh-sungguh memakai tenaga, begitu tangannya tiba kedada ia terus menjamahnya keras-keras bagian badan tersebut, habis itu dengan tertawa terbahak-bahak ia buru menarik kembali tangannya.

Itulah hinaan besar bagi seorang wanita, apa lagi seorang gadis suci seprti Ceng Tong, seumur hidup belum pernah ia alami peristiwa yang sangat memalukan itu, dengan meluap-luap ia tikam Wan-ci dan ketika anak jahil itu berkelit, ia barengi lagi membacok.

Betul-betul Ceng-tong umbar kemarahannya ia tak pedulikan sama sekali akan seranga Hwi Ching, seluruh perhatiannya dicurahkan untu merangsek Wan ci saja.

Untung Hwi Ching mempunyai pikiran lain, ia mengetahui permainan pedang Ceng-tong tempo hari itu sangat bagus, dia hendak mencobanya saja, ia tak ada niat sama sekali untuk melukai si nona. Melihat orang tak pedulikan serangannya, iapun tak mau merangsek lagi serta terus mearik balik serangannya.

Serangan Ceng Tong yang gencar itu sampai tak memberi kesempatan bagi wan Ci untuk menarik pedangnya, ia terus-menerus mundur, tapi pada saat itu ia masih sempat menggoda.

“Aku telah merabanya, kau mau bunuhpun tak bergunalah !”

Ceng Tong keluarkan ilmu simpanannya yang disebut Onta sakti berkaki ajaib begitu ujung pedang hampir mengenai, secepatnya diganti dengan ilmu pedang istimewa dari Hian san pay, yakni “hay-si sim lou,” Selekas itu juga hanya sinar pedang yang tampak bergulunggulung sehingga mata wan-ci menjadi berkunang-kunang.

Nampak muridnya menghadapi bahaya, Hwi Ching tak berayal lagi terus maju menyambut serangan itu, baru saja wan-ci dapat mengasoh sebentar, ia sudah mulai tertawa dan menggoda lagi.

“Ah, sudahlah jangan marah-marah, kau kawin sama aku, bereslah !”

Sampai disitu tak kuatlah Ceng Tong menahan amarahnya saking gemasnya tak dapat melabrak wan-ci dia menjadi kalap. Ketika Hwi Ching menusuk, ia tak mau menangkis tapi bahkan ajukan badan untuk menubruknya.

Kaget Hwi Ching bua namapak si nona hendak bunuh diri. Cepat-cepat dia tarik balik pedangnya dan mendorong pundak Ceng Tong hingga sampai sempoyongan lima tindak kebelakang, dia loncat memburu seraya berkata :

“Nona jangan kesal hati.”

Karena bingung dan mendongkol Ceng Tong sampai mencucurkan air mata. Dengan tak berkata apa-apa ia terus berlalu.

“Nona jangan buru-buru pergi. Aku ada sedikit omongan seru Hwi Ching seraya memburu pada nona itu?” Perintah Hwi Ching sambil berpaling kearah wan-ci.

Dengan cekikikan, Wan-ci menghampiri tapi ketika dekat, Ceng Tong tiba-tiba mengirimkan tinjunya.
“Aduh, tak kena Wan-ci berkelit dengan tertawa, sembari begitu ia tarik kopiahnya dan menjulurlah rambutnya yang bagus.

“Lihatlah aku ini seorang pria atau wanita ?”

Hampir saja Ceng Tong mati terkejut ketika menyaksikan keadaan si pemuda yang sangat ia benci itu. Ia tak tahu, mengungkapkan perasaannya apah ia girang atau kah harus marah lagi. Yang nyata ia tak dapat mengeluarkan kata-kata lagi.

“Inilah Liteecuku murid perempuan ia memang anak nakal sampai aku sendiripun kewalahan mengurusnya. Urusan tadi sebenarnya akupun tak mengetahuinya, harap kau jangan salah sangka.” Demikian Hwi Ching memperkenalkannya.

Sembari Berkata Itu, Hwi Ching hendak menjura, tapi cepat-cepat Ceng Tong mengoskan muka tak mau menerimanya. Ia tetap tak mau mengucapkan apa-apa, nyata kemarahannya masih belum padam sama sekali.

“Thian San Siang Eng masih apamu ?” tanya Hwi Ching tanpa pedulikan sikap orang kepadanya.

Ceng Tong kerutkan jidatnya, tapi tetap membandel tak mau bicara.

“dengan Thian San Siang Eng ........, Tut ciu tan Ceng Tik dan Swat hu Kwan Bing Bwee aku mempunyai hubungan yang rapat. Kata orang bukan tergolong orang luar.” Menneruskan Hwi Ching.

“Twat Tiau adalah suhuku. Akan kulaporkan pada suhu dan sukong, bahwa kau seorang cianpwe menghina orang muda. Bukan saja menyuruh murid untuk mengganggu aku bahkan kau sendiri turun tangan.” Kata Ceng Tong mengambek.

Sembari mengucapkan begitu, Ceng Tong mengawasi tajam-tajam pada Hwi Ching dan wan-ci, lalu berjalan pergi. Tapi baru saja ia berjalan beberapa tindak, didengarnya Hwi Ching berseru lantang
“Eh, kau melapor suhumu, tapi akan kau katakan bagaimana nanti ? siapakah orangnya yang menghina kau itu?”

Ceng tong seperti diguyur air. Memang ia tak tahu she dan nama orang yang menghina itu. Ia terpaksa hentikan langkahnya, lalu bertanya :
“nah, kalau begitu kau ini siapa?”
Hwi Ching mengurut jenggotnya, setelah itu dia tertawa dan bertanya.
“kamu berdua seperti anak-anak saja, sudahlah, ini muridku, Li Wan Ci dan aku adalah Bian Li ciam Liok .....”

Mendaak Hwi Ching memutuskan omongannya sendiri, ia teringat bahwa selama ini ia menyembunyikan diri dengan cermatnya, sehingga Wan Ci sendiri belum mengetahui she dan namanya yang sebenarnya, tapi segera sambungnya :

“Ah, kau bilang saja Cian Li Ciam dari Bu tong pay menghaturkan selamat pada suhumu, yang telah beruntung mendapatkan murid yang baik sekali.”

“Ah, seorang murid yang baik? Aku telah dipermainkan orang secara begini, bukankah berarti menghilangkan suhu dan sukongku itu, sahut Ceng Tong dengan gemas dan putus asa.

“Nona, jangan kau anggap karena telah terkalahkan dalam tanganku tadi lalu merasa malu. Orang yang dapat melayani aku sampai berpuluh-puluh jurus seperti kau tadi, jarang sekali ada, sekalipun dikalangan kangouw, selama itu aku tahu bahwa Thian San Siang Eng tak mau menerima murid. Tapi permainanmu yang kusaksikan tadi itu, betul-betul warisan atau ajaran dari Siang Eng. Dan hal itu telah kubuktikan ketika kita bertempur tadi, bagaimana dengan sukongmu, apakah dia masih sering minum cuka dari suhumu?

Habis mengucap itu Hwi Ching tertawa tergelak-gelak.

Karena sampaipun urusan pribadi dari suhu dan sukongnya diketahuinya, insyaflah Ceng Tong bahwa jini ia berhadapan dengan seorang cianpwe angkatan tua. Namun ia masih tak mau tunduk katanya :

“kalau betul kau adalah sahabat suhuku mengapa suruh muridmu mengganggu aku. Karena dialah hingga kitab suci itu terlepas lagi. Ku tak percaya kau seorang yang baik.

Terus ia langkahkan kakinya lagi, nyata ia tak mau kalah adu lidah. Dengan cerdiknya ia desak Hwi Ching.

“Adu pedang kalah, bukanlah hal yang memalukan. Tapi kitab suci sampai tak dapat merampasnya kembali, barulah yang dikatakan sebagai hinaan, kalah menang apalah faedahnya untuk seseorang, itulah yang harus kita tempur mati-matian demikian kata Hwi Ching tiba-tiba.

Ceng Tong seperti orang yang disadarkan dari kehilapan. Dengan serta merta ia menuju kehadapan Hwi Ching untk memberi hormat, katanya :
“Siuwtet seorang bodoh, mohon locianpwe suka memberi petunjuk, sebagai jalan untuk merampas kembali kitab suci itu dari genggaman anjing-anjing itu. Untuk budi locianpwe itu, pasti seluruh bangsaku akan berterima kasih tak terhingga.”

Ceng Tong terus jatuhkan diri untuk memberi penghormatan, tapi buru-buru dicegah oleh Hwi Ching.

“karena perbuatanku yang ugal-ugalan itulah sampai membikin kapiran urusanmu. Cici kau jangan kuatir, kubantu padamu untuk mendapatkan kitab suci itu kembali. Mari kita pergi sekarang juga “Wan-ci mendesak.

Hwi Ching menyetujui ajakan muridnya itu, untuk itu terlebih dahulu kita selidiki keberadaannya. Begitulah diputuskan, Hwi Ching berada diluar sementara Ceng Tong dengan wan Ci masuk kedalam hotel. Tadi wan Ci tampak Tong siu Ho masih menggendong bungkusan merah itu dibelakangnya. Dia ajak Ceng tong menuju kamar si ornag seh Tong itu. Pintu kamar itu menyala, maka kedua nona itu lalu lebih dulu sembunyi diri disudut tembok untuk mendengarkan pembicaraan orang dalam kamar itu.

Terdengar jelas bagaimana Tang Siu-ho mengoceh tak karuan dan sesaat kemudian menjadi diam kembali.

“Tio thay jin, “kau sungguh hebat sebentar saja kau telah sembuhkan Tong He- see kita ini, tiba-tiba kedengaran seorang piauwsu berkata.

“Sekalipun mati, tak akan aku mau diobati oleh orang Hong Hwa hwee itu, kedengaran Tong siu-ho membual.

“kalau juh-jauh hari tahu Tio thay-jin kita datang kemari, tak nanti kita sampai merendahkan diri meminta pada dia, Hmmm, sungguh sial, seru Chi piauwsu.

Saat itu terdengar suara gagah dari seorang lantas katanya :
“Coba tunjukkan aku sepasang suami isteri itu. Besok pagi kalau Loo Go sudah datang, kita akan turun tangan, orang-orang itu memang sebangsa kantong nasi saja, masa empat orang mengerubuti seorang perempuan saja tak mampu mengalahkan.”

Saat itu wan ci tak sabar lagi. Ia mencari lobang pada kertas jendela untuk mengintip kedalam. Ternyata di kamart itu terdapat enam orang. Seoraang yang berusia empat puluh tahun lebih, nampaknya sangat keren dan gagah sekali. Mungkin dialah yang dipanggil Tio tayjin itu. Sepasang biji matanya bersinar tajam. Nyata orang itu sangat lihay sekali iwekangnya. Diam-diam Wan-ci heran mengapa orang pemerintahan, terdapat begituan
.
“Loo Tong serahkan pauwhok itu padaku, kawanan orang islam itu tentu tak mau berhenti, mungkin di jalan nanti kita mendapat rintangan.” Kata Giam See Ciang.

Dengan sikap ayal-ayalan Siu-ho melepas pauwhoknya, nyata sekali ia segan untuk meyerahkannya.

“Ayo, kau tak perlu kuatir, aku takkan merebut pahalamu, yang penting biarlah kitab itu dapat tiba di kota raja dengan selamat dan nanti kita enak semua.” Kata See ciang pula.

Mendengar itu Wan ci kaget, sekali piauwhok itu berada ditangan she Giam itu, sukarlah untuk merebutnya karena ia itu ilmunya lihay sekali, cepat ia mengasah otak mencari akal ia berbisik beberapa patah kata di dekat telinga Ceng Tong. Ia sendiri lalu melepas kopiahnya, rambutnya diuraikan kemuka, lalu memakai sapu tangan untuk menutupi separuh mukanya, setelah itu ia menjemput dua lembar genteng terus ditimpukkan kearah jendela.

Genteng itu menyambar padamkan pelita di dalam kamar, dan secepat itu tampak lima ososok tubuh loncat keluar, malah salah seorang yang berada dimuka sendiri kedengaran berseru.

“Siapa yang bernyali besar itu?”

Ceng Tong mengerti maksud kawannya, dengan bersuit keras, ia loncat melewati temok. Mengira itulah sang pengacau, piauwsu-piauwsu itu segera mengejarnya. Setelah piauwsu itu menghilang, Wan ci menerobos masuk kedalam kamar.

Hampir setengah harian Siu-ho menderita ditotok, dan kini baru saja ia sembuh, sudah tentu badanny lemas. Dengan berlalunya kawan-kawannya tadi, tahu-tahu ada seorang sangat aneh rambutnya terurai kemuka, setan bukan orang bukan. Malah makhluk itu berjingkrak-jingkrak dengan mulut berkecat-kecat tk karuan artinya :

Saking takut dan kagetnya, Siu-ho lemah lunglai tulang sendinya. Cepat sekali makhluk itu menyawut pauwhok siu-ho, lalu dengan masih bersuit cuwat-cuwit dia berobot keluar.

Sekarang kita tengok kawanan pauwsu yang tengah mengejar bayangan hitam tadi, di saat lain tiba-tiba Tio tayjin hentikan larinya dan berkata :

“Celaka kita telah terjebak, memancing harimau keluar sarang. Ayo, lekas kembali.!”

Kawan -kawannya pun seperti tersadar. Ketika memburu kedalam kamar, didapatnya Siu-ho dalam keadaan yang lucu. Dia jungkir balik dari atas pembaringan, terlongong-longong seperti patung. Baru setelah dipaksa kawan-kawannya ia dapat menceritan tentang makhluk seperti setan yang mengambil pauwhoknya tadi.

“Ngaco, berpuluh-puluh tahun kuberkelana di kangouw, belum pernah kujumpai seorang setan, bentak Thio taijin dengan gemasnya.

Wan-ci ketika itu sudah lompat tembok, ia bersuit pelan-pelan dan dari tempat kegelapan muncul dua sosok bayangan yang datang menyambutnya. Mereka adalah Hwi Ching dan Ceng Tong.

“Pauwhok telah kurampas kembali, harap jangan disalahkan lagi .......”
Tapi belum habis Wan-ci menyatakan kegirangannya itu, tiba-tiba Hwi- Ching berseru.
“Awas dibelakangmu!”

Baru wan-ci hendak kebelakang pundaknya telah ditepuk orang, cepat ia pakai tangan kirinya untuk menangkap penyerangnya,tapi ia kalah sebat dari orang itu yang lenih dulu telah menarik tangannya. Wan ci terkejut hatinya. Insyaflah ia betapa lihay musuhnya itu sehingga tak merasa dirinya dihunus dari belakang.

Buru-buru ia bernalik diri. Tampak olehnya seorang setengah tua yang tinggi perawakannya tengah berdiri dihadapannya begitu dekatorang itu berdiri dibelakangnya, karena terkejutnya Wanci sampai mundur dua tindak dan berbarengan itu ia lemparkan pauwhok kepada Ceng Tong sambil berseru “Terimalah barangmu, Cici !”

Habis itu ia menatap kepada si orang tadi siap untuk menghadangnya. Tetapi tak disangka, kalau gerakan musuh itu sedemikian sebatnya, pauwhok melayang dia membarengi mengenjot kakinya untuk menyawut. Melihat itu wan-ci menjadi terkejut dan gusar, seketika itu diserangnya orang itu, sedang dilain pihak, Ceng Tong segera menyerangnya dari belakang.

Dengan tangan kiri menggengggam pauwhok orang itu keluarkan ilmu silat “Koo Soe-ping” sebuah ilmu silat cabang Voe Tong pay yang digerakan dengan tenaga yang berisi, sekejap saja Wan ci dan Ceng Tong kena di desak mundur sampai beberapa tindak.

Wan ci segera mengetahui bahwa musuhnya itu adalah orang mengobati Tong Siu-ho, yakni yang disebut Tio Tai-jin, Ko su-pang. Adalah ilmu silat pertama yang dipelajari oleh wan Ci selama ia berguru pada Hwi Ching, selama itu ia tak menyangka, bahwa ilmu silat itu telah begitu mahir dan berbahaya sekali ketika dijalankan oleh orang she Tio tersebut. Menghadapinya, sampai-sampai Wan Ci harus mengerahkan kepandaiannya. Pada suatu kesempatan ia berpaling kearah suhunya, tapi ternyata suhunya itu entah kemana perginya.

Juga Tio tayjin merasa terkejut tampaknya jurus-jurus permainan Wan ci adalah serupa dengannya. Dia nantikan sampai wan Ci memainkan jurus, To Ki-liong ia tak mau berkelit. Begitu miringkan tubuh, ia juga gunakan gerak To ki-liong untuk menyambutnya.

Sama jurusnya, tapi lain sekali kekuatan penggeraknya, kesemutan, sakitnya bukan kepalang. Kakinya sempoyongan untuk mencegah jatuh terpaksa Wan Ci loncat kesamping.

Nampak kawannya menghadapi bahaya, Ceng Tong cepat loncat menghampiri seraya mengulurkan tangan untuk menahan tubuh sang kawan yang hampir saja rubuh itu, sembari berbuat begitu, tangan kanannya mengacungkan pedang kearah musuh. Maksudnya untuk menjaga jika musuh maju menyerang.

“He, bocah katakan .... suhumu orang she Ma atau she Liok!” seru orang itu dengan lantang.
“Biarlah kutipu ia, pikir wan Ci. Maka sahutnya
“Suhuku orang she Ma, bagaimana kau bisa mengetahuinya?”
“Bagus betul perbuatanmu itu, berjumpa dengan susiok tak mau menjalankan peradatan.”.
“Mendengar bahwa orang itu ternyata adalah paman guru Wan Ci, maka hilanglah harapan Ceng Tong untuk dapat merampas kembali kitab suci itu. Sekali kakinya mengenjot, ia loncat setombak jauhnya, terus berlari.

Wan ci terkejut bukan main, terus buru-buru mengejar. Tapi baru ia mengejar beberapa puluh tindak, dilihatnya langit mendung sekali. Kilat pun berkelebat diudara. Ia ngeri sekali, dan tak berani mengejar terus. Tapi ketika kembali ketempatnya tadi, dilihatnya orang she itu sudah tak berada disitu lagi. Iapun cepat-cepat loncat tembok terus masuk, dan baru saja ia melangkah kedalam kamarnya, hujan turun dengan lebatnya.

Hujan ternyata t sampai pagi. Nampak hujan masih turun lebat. Wan ci menuju ke kamar Li Thay-thay dan mengatakan bahwa rombongan mereka terpaksa tak dapat berangkat.

Habis makan pagi, wan Ci menghampiri kamr suhunya dan menuturkan tentang kejadian semalam. Menengar penuturan muridnya, tampak Hwi Ching mengerut dan dahinya seperti berpikir dalam-dalam.
“kau tak bilang kau muridku, itulah baik-baik.” Katanya kemudian.
Melihat wajah gurunya berubah serius wan Ci tak berani menanyakan lebih jauh.

Orang yang disebut Thio –taijin itu, memang sutenya Hwi Ching yang bernama Thio Ciauw Tiong. Orang kangouw menyebutnya “Lebih baik ditusuk tombak tiga kali, asal jangan berjumpa dengan she Thio.”

Loo Ong, dimaksudkan “Wi-tin-ho-ni” Ong Hwi Yang Poan-koan Thio Ciauw Tiong. Kedua orang itu yang seorang menjadi piauwsu dan yang satunya menjadi pembesar negeri adalah orang-orang yang memusuhi orang-orang gagah di kalangan Bu-lim. Mereka sangat sombong, karena andalkan kepandaian yang tinggi.

Hwi Ching mempunyai tiga orang saudara seperguruan, suhunya kelewat sayang pada murid yang bungsu, sehingga Ciauw Tiong ilmunya lebih lihay dari suheng-suhengnya.

Sejak Hwi Ching putus persaudaraan dengn sutenya itu, baru kali ini dia berjumpa. Ketika sutenya bertempur dengan Wan Ci dan Ceng Tong, dia menyingkir ketempat gelap. Dia tak menduga kalau dalam sepuluh tahun ilmu silat Ciauw tiong maju begitu pesat. Diam-diam dia mengakui bukan tandingan sutee itu. Dengan adanya orang selihay itu dalam barisan kuku garuda Pemerintahan Ceng, maka bertambah tangguh keadaan mereka.

Sepanjang pendengaran Wan Vi maka diketahuilah bahwa Ciauw Tiong datang kesitu untuk menangkap pesakitan penting dari Pong Hwa Hwee. Bagaimana nanti mereka dapat lolos dari tangan manusia kejam itu ?

Hawa udara pada permulaan musim Chiu rontok sangatlah panasnya. Dan rupanya hujan terus-menerus tah henti-hentinya sifat kanak-kanak masih belum terlepas dari Wan Ci. Untuk mengeram diri dalam kamar saja sungguh menjemukan. Maka pergilah ia menengok kamar orang Hong Hwa Hwee. Keadan disitu ternyata sepi-sepi saja, karena Tin Wan Piauwkok juga belum juga berangkat. Beberapa orang piawsu tengah duduk bercakap-cakap di ruangan tengah. Hanya orang she Thio yang katanya adalah susioknya itu tak nampak. Tiba-tiba dari luar, terdengar derap kuda mendatangi.

Kuda itu ternyata berhenti dimuka pintu hotel, dan seorang yang dandanannya seperti anak sekolahan, bertindak kedalam. Oleh jongos ia disuruh masuk kedalam.

Perawakan anak sekolahan itu tinggi kurus sepasang matanya bening sekali dinaungi oleh alis yang bagus. Di daerah luar perbatasan jarang terdapat seorang pemuda tampan seperti dia itu. Melamun sampai disitu, merahlah selebar muka Wan Ci, maka buru-buru ia melengoskan kepala.

Dengan tenang dan nikmat pemuda itu duduk menghadapi arak. Ketika itu kembali dari arah luar terdengar derap kuda mendatangi lagi. Melongok dari jendela Wan Ci mengenali keempat orang yang datang itu.

Mereka adalah pengeroyok Hou ping, si wanita gagah pada beberapa hari yang lalu itu lekas Wan ci masuk memberi tahukan suhunya, lalu mereka abersama-sama melihat dari jendela untuk melihat perubahan apa yang akan terjadi.

Dari keempat orang tersebut, yang bersenjatakan pookiam rupanya pemimpinnya, ia panggil pelayan dan menanyakan dengan berbisik, setelah itu lalu meminta arak.
“Bangsat, Hong Hwe itu belum pergi, kita makan dulu nanti baru bekerja!” kata orang yang membawa pookiam itu.

Rupanya kata-kata itu terdengar oleh si pemuda itu, wajahnya kelihatan berubah ia melirik pada keempat orang itu tajam-tajam.

“Harus kita bantu wanita itu tidak guru?” tanya Wan ci tiba-tiba.

“kau jangan sembarangan bergerak, tunggu perintahku dulu,” jawab Hwi Ching sembari memandang si anak sekolahan itu. Pada saat itu, pemuda tadi telah menghabiskan daharannya lalu memindahkan bangkunya keserambi, kemudian mengeluarkan sebatang seruling, terus ditiupnya nyaring-nyaring.

Wan ci kenal seruling itu memainkan lagu “Thian cing-soa” atau sunyi senyap dipadang pasir.

Meniup seruling Wan ci menganggap biasa saja tapi yang membuatnya heran, seruling itu bercahaya keemasan, seperti terbuat daripada emas. Perjalanan di daerah utara sangatlah tak aman, sebatang seruling mas cukup akan menarik perhatian penjahat. Wan ci mengambil keputusan, akam memperingatkannya nanti.

Juga keempat orang itu, merasa heran atas kelakuan si pemuda sekolahan itu. Habis makan tiba-tiba si pembawa pookiam yang ternyata bertubuh kate itu loncat keatas meja lalu berteriak keras-keras.

“Kami adalah hamba negeri yang diutus oleh pemerintah agung untuk menangkap pesakitan penting dari Hong Hwa Hwee, saudara-saudara sekalian harap menyingkir dulu.

Habis berpidato orang tersebut loncat turun lagi, terus akan menuju ke kamar Lou Ping untuk kesitu, terus akan menuju melalui jalan dimana si pemuda sekolahan itu sedang duduk menyuling, dengan acuh tak acuh enak-enakan meniup serulingnya terus.

“He sahabat, jangan menghalangi jalanan” kata si pendek itu, rupanya ia agak sungkan terhadap seorang sekolahan, kalau saja orang biasa tentu sudah dilemparkannya.

Tampa pemuda itu tenang menurunkan serulingnya dan berkata :

“Tuan-tuan mengatakan akan menangkap pesakitan penting, sebenarnya apakah kesalahan mereka itu? Kikira lebih baik dilepaskan saja, dari pada nanti tuan banyak repot.”

“Hayo enyahlah, jangan kau campuri urusan orang!” bentak si pendek dengan marahnya sembari maju selangkah.

Pemuda itu masih tenang-tenang saja, malah dengan ramahnya ia mengajak mereka minum bersama-sama , katanya :
“harap tuan-tuan jangan buru-buru, aku sebagai tuan rumah, mengundang tuan-tuan minum bersama buat mengikat tali apersahabatan, tentunya tuan takkaaana menampik, bukan?”

Orang itu tidak dapat bersabar lagi, dengan mnjulurkan tangan ia dorong pemuda itu sambaiaal aaamembentak : “Bangsat, sungguh menjemukkan!”

Ketika tangan hampir mengenai, tahu-tahu pemuda itu menggeliat tubuh dan berteriak-teriak : “Aduh, jangan turun tangan keras-keras, “ seperti orang sempoyongan kena pukulan, dia gentayangan ngerusuk kemuka dengan serulingnya. Tibatiba serulingnya ditusukan kedada kiri si pendek seketika itu juga si pendek jatuh numprah ke tanah.

“Astaga jangan, jangan lakukan penghormatan begitu, aku tak berani menerimanya!” teriak pemuda sekolah itu dengan lalu mencegah.

Bagi mata seorang ahli, tentu segera mengerti bahwa pemuda itu telah gunakan ilmu menotok untuk mempermainkan orang itu, kalau tadinya Wan ci menaruh kekuatiran, kini berbalik girang bukan main melihat permainan sianak muda itu.

“Susiok, jangan-jangan dia si kepala Hong Hwa Hwee!” bisik yang memgang Jwan-pian, seorang dari empat lelaki tadi, pada kawanny.

Mendengar itu, kedua lawannya itu terkejut sekali, terus mundur beberapa langkah. Pada saat itu, si kepala hamba pergi yang kena tertotok tadi, tak dapat berkutik lagi oleh kawannya yang memegang jwan-pian ia terus tarik kesamping.

“Adakah Tuan ini orang she Tan? Siautocu dari Hong Hwa Hwee itu?” tanya seorang tua yang dipanggil susiok tadi.

“Sungguh telingga kalian itu tajam sekali hingga dapat mengetahui bahwa siautocu Hong Hwa Hwee itu orang she Tan. Memang mata itu ada kalanya lebuh tajam dari pisau. Tapi kali ini betul-betul kuberada, aku inilah orang She Le bernama Hi Tong. Le artinya, aku, Hi ialah ikan didalam empang, sedang huruf Tong, berarti, sama. Aku yang rendah ini hanya salah seorang yang tak berarti dari Hong Hwa Hwee. Kursiku hanya keempat belas dari urutan kedudukannya. Pemuda itu dengan tertawa menerangkan dirinya, setelah itu ia angkat keatas serulingnya dan berkata pula.

“Adakah kalian tak mengenal diriku ini?”
“Oh, kau adalah Sim Liok siu thay, bukan?” kata si hamba serdadu
“Jangan keliwat menjunjung tinggi diriku itu, kepandaianku masih belum berarti apa-apa, jangan kalian salah menganggap aku sebagai sautocu dari Hong Hwa Hwee, salah-salah diriku bisa celaka nanti. Sudara bukankah Kepala Opas Pak Khia Go Kok Tong atau Go jiya yang sangat kesohor itu?”

“Benarlah, karena ternyata orang Hong Hwa Hwee, hayo tempurlah aku!” sahut orang tua tadi.

Seruan Go Kok Tong itu dibarengi dengan melayangnya pedang. Nyata betul bahwa orang she Ho itu bukan kosong namanya. Gerakannya, mengandung tenaga dalam yang hebat sekali.

Go Kok Tong adalah kepala polisi dari Pak Khia. Telah banyak perkara pembunuhan gelap yang dapat dibikin terang, sehingga tidak sedikit penjahat besar yang telah binasa dalam tangannya, karena kuatir pembalasan dari mereka yang telah hutang jiwa itu. Beberapa tahun yang lalu dia sudah undurkan diri.

Tapi ketika sutitnya yang bernama Pang Hi, bersama beberapa siuwi atau pahlawan keraton, mendapat firma untuk menangkap pesakitan penting dari Hong Hwa Hwee, dia tak dapat menolak permintaan supaya membantunya. Orang yang bersenjatakan Jwan-pian itulah si Pang Hwi. Orang yang memegang golok kui-tao-to bernama Ciang Thian siu sedang yang membawa tongkat ialah Han Joeu Lim. Mereka adalah pentolan-pentolan polisi dari Tan Ciu.

Sebenarnya antara polisi Pa khia lam Ciu terdapat suatu persaingan halus, masing-masing berebut pahala. Tapi ternyata hasilnya Ciang Thian siu diam-diam Pang Hwi yang baik itu merasa girang karena saingannya roboh tapi dia kuatir juga akan dihajar musuhnya itu.

Pada saat itu, dengan sebatang suling mas, Le Hi Tong melayani Go Kok Tong, Pang Hwi dan Ciang Thiau-siu. Ada kalanya suling itu digunakan sebagai pian, tapi dilain saat digunakan untuk menotok jalan darah. Malah dilain saat mirip dengan permainan pedang. Ketika pentolan hamba negeri itu, tak dapat berbuat banyak. Malah mereka kelihatan repot sekali menjaga diri.

Baik Hwi Ching maupun Wan-ci, nampaknya girang dengan jalannya pertempuran itu, kata si nona.

“Dia gunakan ilmu pedang Jwan hun-kiam.”
Hwi Ching anggukkan kepalanya dan berpikir Jwan-hun kiam adalah ilmu tunggal dari cabang Boe tong pay. Pasti dia murid dari Toa Suheng Ma Cin.

Memang dugaan Hwi Ching itu tidak salah. Le Hi Tong adalah murid kesayangan dari Ma Cin. Dia anak dari seorang ternama, karena terkena fitnahan orang dan meninggalkan penjara.

Dengan bertekad bulat Hi Tong berguru pada Ma Cin setelah selesai dalam pelajaran ilmu silat dia pulan ke kampungnya dan membunuh tuan tanah yang jahat itu. Dan sejak itu dia berkelana di kangouw sampai akhirnya dia masuk dalam gerakan Hong Hwa Hwee.

Dia otaknya memang cerdas apa saja dapat dipelajarinya dengan cepat. Karena kecerdasannya itu, di Hong Hwa Hwee diserahi tugas penghubung dan pemberi warta. Kali ini sebenarnya dia sedang menjalankan perintah Siaotocu ketua muda, untuk suatu urusan di Lok-yang. Sama sekali dia tak mengetahui bahwa Pan Lui ciu Bun Thay-thay dan Wan yang to Tao Ping telah kepergok musuh dan terluka beristirahat di hotel tersebut. Karena kata-kata keras yang diucapkan Go Kok Tong akan menangkap orang Hong Hwa Hwee, itulah yang mendesak ia untuk turun tangan melindungi kawannya. Ketika mendengar tiupan seruling tadi, tahulah Lao ping bahwa Kim Tiok siucay seruling emas, telah datang.

Le Hi Tong memberi perlawanan seru pada ketiga pengeroyok itu. Orang-orang Piauwkok pun sama akeluar melihat ramai-ranai itu.

“Kalau aku suruh dua orang saja yang melayani sedang yang seorang bisa gunakan senjata rahasia Tong Siu Ho,” si mulut usil itu berkata. Dia lihat pang Hwi mengendong busur maka secara tak langsung ia mengingatkannya karena ia masih dendam dengan orang Hong Hwa Hwee.

Pang Hwi seperti tersadar, loncat keluar kalangan dia enjot kakinya keatas meja sekali menjambret busur melayanglah beberapa biji pelor kearah Le Hi Tong.

Dengan Lincahnya Le Hi Tong berkelit, namun kedudukannya berbahaya karena dia masih menangkis serangan musuh, pedang dari Go Kok Tong dan Golok Ciang Tian siu berbarenan menyambar. Ketika Hi Tong berusaha menangkisnya agaknya terlambat sedikit. Ujung pedang Go Kok Tong menowel krowak jubahnya. Agak kesima Hi Tong dan kelalaian sesat itu saja harus dibayar dengan benjol kening tersambar sebuah pelor.

Kesakitan itu telah mengendorkan gerakannya, justeru sebaliknya kedua lawannya itu makin memperhebat serangannya. Kini Hi Tong hanya kuasa membela diri, tak dapat membalas menyerang. Namun Ia tak sampai gugup, ilmu silatnya cukup lihay, sembari tangan kanan memegang seruling, dua jari tangan kirinya dipakai untuk menotok jalan darah dibawah tetek Go kok tong.

Terkejut juga Go Kok Tong melihat kepandaian yang mengagumkan dari sianak uda itu. Tapi secepat itu pula Hi Tong mengganti totokan menjadi pukulan terus diayunkan kemuka Ciang Thian siu. Malah golok dipakai untuk menangkis pukulan dari Hi Tong, seketika itu juga Hi Tong berlaku lambat untuk menarik tangannya.

Melihat kesempatan yang bagus, dari menangkis Thian siu teruskan goloknya untuk menyerang, tetapi ia baru sadar ternyata musuh hanya melakukan pancingan sehingga ia terlambat, secepat kilat si anak muda itu mengayunkan sulingnya kemuka, maka terjungkallah Thian siu ke tanah.

Sebelum Hi tong menyusul kemplangannya, lantas tercegah oleh datangnya Pedang Co kok tong dan pelor Pang Hwi yang datang menyambar. Pertempuran terus berlangsung dengan serunya, ketika itu Thian Siu sudah bagkit kembali. Selagi Hi Tong mencurahkan perhatian menangkis pedang dan menghindari pelor, ia tumplek seluruh kekuatannya dalam gerakan Tok hiat san, golok dihantamkan ke batok kepala orang, serangan itu hebat sekali, sukar bagi Hi Tong untuk menghindarinya.

Tapi sekonyong-konyong tangan Thian siu terasa sakit sekali. Berbarengan dengan terdengarnya suara mendering, goloknya terpental jatuh ke tanah. Selagi ia masih bengong karena terkejutnya. Tahu-tahu sebatang hui to telah bersarang di dadanya. Tanpa berkaok-kaok lagi, ia roboh binasa seketika.

Ketika berpaling kebelakang, tampak olehnya, Wan yang to Lau ping sudah berdiri disitu dengan menggenggam sebatang Huito. Kini tumbuhlah semangatnya. Kalau ada Lou Ping tentunya sang suami pun berada disekitar situ. Dengan Pat-lui chiu Bun thay-thay disampingnya, mudahlah untuk membereskan kawanan kuku garuda ini. Demikian anggapan Kim Liok siucay Le Hi Tong, sama sekali ia tak mengira kalau Bun Thay-thay dalam keadaan luka berat, tak dapat bergerak apa-apa.

“Su-so, kau bereskan dulu orang yang melepaskan pelor itu seru Hi-Tong.

Ucapan itu dituruti oleh Lau Ping dengan kirimkan sebatang Huito. Dengan tergesa-gesa Pang Hwi pakai busurnya untk menangkis.

“Trang !”
“Busur patah menjadi dua, tapi Huito itu tetap masih ada kekuatannya menyambar lengan Pang Hwi, serasa terbang semangatnya dan berseru keras-keras. Susiok, berhenti, angin keras!”

Itulah sandi pertanda untuk mundur karena setelah itu Pang Hwi brbalik bahkan terus lari Go Kok Tong merangsek hebat dan ketika Hi Tong terpaksa mundur, dia sambar han Jun Lim yang terkapar ditanah, sambil memanggulnya terus dibawa pergi.

Le Hi tong tak mau mengejar, hanya kembali menempelkan sulingnya kemulut lagi untuk ditiupnya. Dalam pandangan wan Ci, siaucay itu aneh sekali. Tapi bukan demikian sebenarnya. Kali ini Hi Tong tak meniup sulingnya dengan cara diaalangkan, tapi pegangnya secara dilurskan kebawah.

Begitu mulut meniup, maka dari lobang sulin itu melesatlah sebatang anak panah kecil lurus menyambar musuh yang tengah lari tunggang langgang itu. Pang Hwi berkelit dengan tundukkan kepalanya kebawah, tapi tidak demikian dengan Han Jun Lim, pantatnya telah tertancap anak panah itu menjeritlah dia dengan kesakitan hebat.

Sehabis itu Hi Tong menanyakan pada Lou Ping dimana suaminya sekarang.
“mari ikut aku, jawab lou Ping. Dengan gunakan palang pintu sebagai tongkat untuk menahan pahanya yang terluka itu, Lou ping membawa Hi Tong ke kamarnya.

Sedang di lain pihak, ketika Go Kok Tong berlari-lari sembari memanggul han Joen Lim yang terluka itu sampai diluar pintu hotel, tiba-tiba dia bertabrakan dengan seseorang. Berpuluh-puluh tahun Co Kok Tong meyakinkan ilmunya, kekuatan kakinya teguh bagaikan besi. Tapi bukan main terkejutnya ketika saling berbenturan dengan orang itu, dia sampai terdorong mundur beberapa tindak. Untuk menyelamatkan diri supaya tidak terjatuh terpaksa ia lemparkan kawan yang dipanggulnya itu.

Celaka bagi Han Joen Lim, karena sudah terluka oleh huito ditambah lagi anak panah yang menancap dipantatnya kini tubuhnya dilemparkan ketanah, karuan panah itu amblas masuk dalam daging hingga ia menjerit-jerit kesakitan.

Ketika Kok-Tong mengawai, ternyata orang itu adalah kepala Gi Lim-kun Thio Ciauw Cong. Dari marah, kini ia berbalik menjadi girang bukan main.

“Astaga, Thio tay-jin. Rombongan kita tak berguna, “ segera ia menyapa.

Adat Ciauw cong sangat tinggi. Dia tak mu menyahu dengan kata-kata, hanya perdengarkan suara Hmmm saja, sekali tangan kirinya kirinya ia sanggapi Han Joen Lim, tangan kanannya segera memijat perutnya, lalu menepuk pahanya. Heran juga, seketika itu Joen Lim rasakan kakinya leluasa bergerak lagi.

“Apakah buronan itu sudah lari? Ciauw Cong bertanya
“Belum, masih disana,” sebut Kok Tong.
“Hm, sungguh besar nyalinya. Membunuh hamba negeri masih begitu berani tinggal di hotel, jengek Ciauw Cong.

Sambil berkata itu, Ciauw Cong berjalan menuju ke ruangan dalam. Dihampirinya Ciang Thian Siu yang sudah tak bernyawa itu. Huito yang menancap didadanya dicabut dan dimasukkan kedalam kantongnya.

“Thio-tayjin tiamcu tinggal di kamar itu.” Demikian Pang Hwi memberi keterangan, sambil menenteng jwan piannya ia belaku sebagai penunjuk jalan.

Ketika rombongan Ciauw cong sudah bersiap akan memasuki kamar Bun Thay-thay, sekonyong-konyong dari sebelah kamar lain loncat keluar seorang pemuda dengan memegang sebuah pauwhok merah, Pauwhok dia lambaikan pada Ciauw Cong, sambil berseru.
“He, sudah kurampas lagi !”

Tanpa melihat sikap orang, pemuda itu terus berjalan keluar, sesaat itu terkejut juga hati Ciauw cong. Dia anggap rombongan piawsu itu hanya seperti kantong nasi saja. Pauwhok yang berisi Al-Qur’an itu dapat dia rampas dan diserahkan kepada mereka, tapi ternyata mereka tak mampu menjaganya. Karena waktu sedang menghadapi urusan penting, dia tak mau kejar si pemuda, terus akan melanjutkan serbuannya tadi.

“Entah pelajaran kucing berkaki tiga darimna yang telah tak malu menyebut diri sebagai susiok itu.” Cis, tak tahu malu tiba-tiba terdengar seseorang berseru keras-keras. Ternyata itulah si pemuda. Kiranya ia berhenti disebelah sana, dan menghina Ciauw Cong.

Nama Ciauw Cong mengetarkan dunia kangaouw. Baik golongan putih maupun golongan hitam, sangat menyegani, selam itu belum pernah ia dihinakan orang. Seketika itu juga, meluaplah darah Ciauw Cong, sekali loncat dia terjang si pemuda itu. Yang ternyata adalah wan Ci, maksud Ciauw cong akan dibekuknya anak itu, untuk diberi hajaran lalu akan diserahkannya pada Tao suhengnta, Ma Cin. Dia menduga anak itu tentu murid Tao-suhengnya.

Bagai diuber setan, larilah Wan-ci sekeras-kerasnya.

“Bocah edan kau mau lari kemana,” seru Ciauw Cong sembari mengejar. Tapi si anak muda itu telah melenyapkan diri, entah kemana. ketika Ciauw Cong berniat hendak menyelesaikan urusannya tadi, dengan mengeluarkan kata-kata ejekan yang memerahkan kuping.

Apa boleh buat, dia mengejar lagi. Dengan demikian semacam permainan kejar-kejaran. Kalau dia berhent juga, dengan tak lupa mengeluarkan kata-kata yang mengejek.
“Akan kubekuk dulu si bangsat itu, baru nanti kukejar urusan itu.” dem
Kian Ciauw Cong berpikir, dan dia segera gunakan ilmunya berlari cepat untuk mengejarnya.

Karena bernafsu betul-betul, maka jarak antara dia dengan wan-ci semakin dekat. Sampai disini wan Ci jadi semakin bingung. Ia lari, lari terus kelereng gunung. Tapi sekali Ciauw Cong enjot kakinya keras-keras dia sudah berada dibelakang wan ci. Punggungnya segera ia jambret.

Saking kagetnya, Wan Ci berontak sekuat-kuatnya. Dan karena itulah, maka telah kerowak sebagaian sebagian, tergenggam dalam tangan Ciauw Cong. Cepat-cepat Wan ci mengambil keputusan. Dilemparkannya pauwhok itu kedalam saluran air dibawah gunung, sambil berseru : “Pergilah ambil sendiri.”

Yakin bahwa pauwhok itu berisi kitab Al-Qur’an, Ciauw Cong sangat kuatair kalau sampai jatuh keair tentu rusak. Tanpa pikir panjang lagi, dia loncat turun dari lamping gunung, untuk mengambilnya. Melihat itu Wan Ci tertawa tergelak-gelak terus kembali pulang.

Ternyata pauwhok itu sudah basah sebagian, maka tersipu-sipulah Ciauw Cong membukanya untuk melihat kitab kena air tersebut. Alangkah terkejutnya ia ketika dilihat isinya, ternyata bukan Al-Qur’an isinya melainkan dua buah buku hotel, yaitu daftar nama-nama tamu dan catatan kas, seketika itu juga ia memaki-maki.

Saking marahnya, rambut Ciauw Cong seperti berdiri. Kebesaran namanya berpuluh-puluh tahun itu, ditumpas dengan olok-olok si anak muda seharai itu saja. Dengan gemas dilemparkannya lagi Pauwhok itu kedalam salauran air. Karena kalau sampai ketahuan orang, tentu hilanglah, mukanya. Dengan menahan kemarahan, ia bergegas kembali, setiba di hotel dilihatnya Pauwhok berisi Qur’an itu masih menggemblok dibelakang punggung Giam See Ciang. Betapa malunya, untung hanya dia sendiri tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

“Adakah pauwhok mu itu pernah diganggu orang?” tanyanya untuk mencari kebenarannya.

“Tidak ada,” jawab See ciang. Walaupun demikian, see ciang mengundang Ciauw Cong kekamar untuk bersama-sama memeriksanya. Karena ia menduga, kalau sampai Tayjin tersebut sampai menanyakan, tentulah ada sebabnya. Tapi teryata kitab itu masih terdapat didalam pauwhok tak kurang suatu pun.

Ciauw Cong memanggil pelayan untuk ditanya keterangan tentang orang-orang Hong Hwa Hwee seperti sudah tak kelihatan disitu juga tak ada pertempuran apa-pa lagi.

“Percuma kerajaan memelihara orang-orang itu. Baru kutinggal sebentar saja, orang-orang itu sudah dapat meloloskan diri, seru Ciauw Cong dengan murkanya. “Giam laote” mari ikut aku dan saksikan aku sendiri yang akan menagkap pesakitan itu.

Ciauw Cong segera menuju ke kamar yang ditempati Bun Thay-thay, sedang Giam See Ciang menjadi serba sulit. Karena terus terang saja dia jerih terhadap anggota Hong Hwa Hwee yang pengaruhnya besar itu. Tapi diapun tak berani menolak ajakan Thio tayjin yang lihay dan berpengaruh itu.

“Penjahat Hong Hwa Hwee, hayo serahkan diri, tiba-tiba Ciauw Cong berseru dimuka pintu kamr prang tangkapan itu.

Sampai beberapa sat lamanya tak ada jawaban apa-apa.

“bangsat pengecut betul kau!” Ciauw Cong mengulangi seruannya sambil ia memaki-maki. Dia ayunkan kakinya, dan terbukalah pintu itu lebar-lebar. Kiranya pintu memang tidak dipalang dari dalam. Didalamnya tak kelihatan seorangpun juga.

“Ha, buronan sudah kabur!” seru Ciauw Cong dengan kaget. Langsung dia menerobos masuk masuk tapi kamar itu kosong melompong. Hanya diatas pembaringan tampak segunduk selimut yang menyerupai orang besarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar