Kamis, 15 Maret 2012

Puteri Harum dan kaisar Jilid 22

TAK LAMA kemudian, pemimpin besar gie-lim-kun Hok Gong An dan gubernur Ciatkang sama datang ke situ.

Orang-orang sama berkumpul di tengah ruangan untuk berunding.

Kiranya sambil dengarkan nyanyian Giok-ju-ih tadi, baginda telah menenggak beberapa Cawan arak. Dalam pada itu, agaknya Kian Liong sudah tak sabar lagi. “Apakah loya idinkan aku menamani?” tanya Giok-ju-ih dengan tersenyum manis. Kian Liong mesem dan angguk kepala. Giok-ju-ih mela

jani baginda tukar pakaian, lalu ikut berbaring. Tiba-tiba siCantik berbisik: “Aku akan keluar sebentar, baru nanti temani loya.”

Selama rebah diatas bantal itu, Kian Liong menCium be bauan yang harum wangi. Melayang-layang pikiran raja itu. seperti berada disorga. Tiba dirasakan ranyan bergoyang dan mengira tentulah Giok-ju-ih yang datang, “maka serunya pelan-pelan ; “Kau betul-betul anak nakal, Ayo lekas kesini!”

Kelambu tersingkap dan tersembullah sebuah kepala. Di bawah Cahaja lilin tampak muka orang itu penuh dengan bintikdua, air mukanya keren. Masih Kian Liong kurang per Caja pemandangan sendiri, kucek-kucek matanya beberapa kali. Tapi orang itu sudah lantas tandaskan sebuah badidua kearah tenggorokannya dan bisiknya: “Awas kalau berani menjerit, kutusuk!”

Bujar semangat Kian Liong karena terkejutnya. “Secepat-cepat kilat orang itu menyumpel mulut baginda dengan saputangan, lalu menggulung tubuh baginda dengan selimut, terus dipondongnya keluar.

Kian Liong tak berdaya untuk berteriak atau berontak. Selain rasakan orang membawanya kebawah. Hanya dapat membaui hawa udara sangat lembab. Berselang berapa lama kemudian, beliau rasakan seperti diangkat naik tinggi-tinggi. Baru ia mulai insyap, bahwa orang telah membawanya melalui jalan dibawah tanah, pantas kalau kawanan si-wi itu tak dapat mengetahuinya.

Baru berpikir demikian, terasa tubuh beliau bergoncang , dan roda berputar. Tentu dirinya dibawa dengan kereta, entah kemana. Kegontjangan kereta itu makin terasa, itulah tentu jalanan diluar kota. Setelah berlangsung beberapa lama lagi, kereta itu berhenti. Terasa pula oleh Kian Liong, bahwa orang telah memanggulnya keatas, terus makin me naik keatas, hingga terbit kekuatirannya, apakah sebenarnya tempat yang setinggi itu.

Selagi rasakan terapungs diatas udara itu, tiba-tiba dirinya terasa diletakkan diatas tanah. Tak berani beliau bicara, ia menantikan gelagat dengan tenang. Tapi ternyata tak ada orang yang mengurusnya. Ketika disingkapnya selimut yang menutup kepalanya itu sedikit, ternyata keadaan disitu gelap gulita. Sedang dari kejauhan sana samardua terdengar dam paran ombak. Dan ketika didengari dengan lebih seksama, ternyata ada juga suara pohon Siong ditiup angin dan bunyi lonCeng mengalun. Angin terdengar makin menderu. Kare nanya tempat itu terasa bergoncang , takutlah raja itu. Begitu lepaskan kerudung selimut, beliau terus akan berdiri. Tapi tibas terdengar suara orang berbisik: “Kalau masih sa yang jiwa, harap jangan bergerak.”

AnCaman itu, membuat baginda ketakutan. Setelah lama dalam keadaan begitu, angin kedengaran reda, dan suasana-pun nampak terang. Kini Kian Liong dapatkan dirinya berada disebuah kamar kecil. Dimanakah sekarang baginda berada? Tengah memikir-mikir begitu, tiba-tiba terdengar suara berkerutukan. Setelah didengarkan dengan teliti, ternyata itulah sipenjaga yang sedang makan bakmi. Kalau ditilik dari suaranya, terang ada dua orang. Mereka makan dengan enak, dan makanannya itu menyiarkan bau yang sedap sekali.

Karena semalaman hampir tak tidur, Kian Liong rasakan perutnya lapar. Bau makanan tadi, makin menimbulkan seleranya.

Setelah mereka habis gegares bakmi itu, ada seorang yang mengantarkan semangkok bakmi kepada baginda. Hanya saja mangkok itu diletakkan kira-kira 4 meter jauhnya. Ingin benar Kian Liong dahar makanan itu, tapi karena orang tak mengatakan apas, beliau tak mau menanyakannya.

“Bakmi ini untukmu, jangan kuatir, tak ada raCunnya,” tiba-tiba orang itu berkata.
Girang Kian Liong dibuatnya, dan Buru-buru akan duduk. Tapi tiba-tiba tubuhnya terasa dingin dan Buru-buru sesapkan lagi badan nya kedalam selimut. Kiranya semalam Giok-ju-ih telah membuka semua pakaian raja itu, karenanya mana beliau bisa mengambil bakmi itu?

“He, kenapa kau tak mau, kau kuatir diraCun? Coba lihat kumakannya!” orang itu berkata dengan mendongkol. Sehabis itu, dengan Cepat-cepat semangkok bakmi itu digaresnya habis.

Melihat bagaimana muka orang itu penuh dengan bekas luka-luka yang menakutkan sekali kelihatannya, Kian Liong gentar juga.
“Aku tak berpakaian, harap kau ambilkan seprangkat un-tukku”, katanya kemudian.
Sudah menjadi kebiasaannya sebagai raja, walaupun menggunakan kata-kata “harap” ,tapi nadanya seperti orang memerintah.

“Hm, loCu tak sempat!” Bentak orang itu yang ternyata bukan lain adalah Kui-kian-Hiu, Cap-ji-long' Ciok Siang Ing, itu algojo Hong Hwa Hwe Hampir tak ada seorangpun yang tak takut melihat wajahnya.
Seumur hidup belum pernah Kian Liong mendapat hinaan begitu, seketika itu gusarlah ia. Tapi mengingat bahwa ji wanya berada dalam tangan orang-orang itu, beliau tindas pera saannya. Setelah terhening sejenak, berkatalah beliau : “Apakah kau ini orang Hong Hwa Hwe? Aku minta bertemu dengan pemimpinmu orang she Tan itu.”
“Bun-suko kita telah kau siksa setengah mati. Congthocu sedang panggilkan sinshe, tak punya waktu untuk menemui kau. Kalau keadaan Suko sudah baik, mungkin baru bisa datang”, kata Siang Ing dengan dingin.
Kian Liong mengeluh, Menanti orang sampai sembuh, entah harus menunggu sampai berapa lama. Sementara itu kedengaran yang seorang lagi berkata: “Kalau sampai Suko meninggal, kita mesti minta ganti jiwa!”
Itulah Nyoo Seng Hiap, si Menara Besi. Ucapan itu bukan main-main , tapi dimaksudkan dengan sungguh-sungguh. Baginda terpaksa pura-pura tak mendengarnya.
Begitulah kedua penjaga itu, saling mengeluarkan isi hatinya, memaki bangsa BoanCiu yang telah menyayah tanah bangsa Han. Dan bagaimana para pembesar negari mereka itu sama korup, suka memeras rakyat. Memang sedari kecil, Ciok Siang Ing menderita dibawah tindasan tuan tanah sehingga begitu rupa dia memaki kaum penindas itu, sampai Kian Liong melengak dibuatnya.
Tengah hari, tibalah giliran Beng Kian Hiong dan An Kian Kong yang menjaga disitu. Juga kedua orang itu, sembari makan sembari tak putus-putusnya mengupas keburukandua pembe-sar negeri yang rakus, Cara mereka berlaku se-wenangdua dengan segala macam pekakas siksaannya. Asjik sekali mereka bicarakan itu, dan akhirnya berkatalah Kian Hiong:
“Kelak kalau kita dapat menangkap segala macam pembesar bedodoran itu, kita akan suruh mereka rasakan juga siksaan itu”.
“Ya, pertama kita harus tangkap pemimpin mereka lebih dulu”, Kian Kong menambahkann.
Bagi Kian Liong, sehari itu di rasakan sebagai setahun lamanya. Malamnya, kedua saudara Siang yang ganti menjaga. Kedua orang itu membicarakan soal pergolakan dika-langan Kangouw dan Cara-cara orang kangouw melakukan pembalasan kepada pembesardua negeri. Misalnya, Ong-sayCu dari Hek-bi-kong telah ditangkap oleh pembesar negeri, tapi kemudian setelah lolos lalu lakukan pembalasan pada pem-besar disitu dengan menyiksa hebat. Dan bagaimana si Pek-ma Sun Jit dari Shanse, karena membalaskan sakit hati kakaknya, telah mengubur hidup-hidup seluruh Anggota keluarga musuhnya. Dan lain-lain Cerita yang menyeramkan.
Dengan menahan lapar dan rasa takut, Kian Liong tutupi telinganya agar tidak mendengarnya, namun kata-kata mereka tak urung dapat juga didengarnya. Malam itu, boleh dikata Kian Liong tak dapat tidur nyenyak.
Keesokan harinya, datang giliran Tio Pan San dan Wi Jun Hwa yang menjaga. Kedua orang ini berbeda dengan kawan-kawannya yang dulu, agaknya lebih ramah dan sabar. Lega hati Kian Liong, lalu katanya: “Aku minta ketemu dengan ketuamu orang she Tan, harap beritahukan padanya.”
“Ah, Congthocu sekarang ini belum sempat, tunggu nanti beberapa hari lagi,” jawab Tio Pan San.
Kian Liong mengeluh lagi. Kalau harus menunggu sampai beberapa hari lagi, mana beliau dapat tahan.
“Kalau begitu, tolong ambilkan makanan saja,” katanya.
“Baiklah,” kata Pan San terus memanggil bujang untuk segera siapkan hidangan. Kian Liong girang dan minta su-paya diberi pakaian.
“Bansweya (Sri Baginda) minta pakaian, lekas ambilkan,” kembali Tio Pan San berteriak.
“Kau baik sekali, siapakah namamu? kelak tentu kuberi hadiah,” kata Kian Liong.
Pan San hanya bersenyum saja. Tiba-tiba Kian Liong teringat, serunya lantas: “Ah, ja, kau yang gapah melepas sen jata rahasia itu, bukan?”
Tak lama Kian Hiong datang membawa seprangkat pakaian dan diletakkannya dimeja. Demi melihatnya, Kian Liong bersangsi. Itulah pakaian orang Han dari ahala Beng.
“Maaf, disini hanya ada pakaian begitu, terserah mau dipakai atau tidak?” kata Tio Pan San.
Kian Liong adalah kaisar dinasti Ceng, masa disuruh pakai pakaian orang Han. Tapi jika tak berpakaian, terang beliau tak bisa makan, pada hal sehari dua malam beliau sudah tak dahar. Apa boleh buat, terpaksa dipakainya juga pakaian itu. Sekalipun agak kikuk, tapi kini tubuhnya berasa hangat juga. Kini beliau bangun dan berjalan kian kemari dalam ruangan itu.
Ketika menghampiri kejendela beliau terkejut bukan main. Jauh disebelah bawah sana, tampak sebuah sungai membentang dan disana sini kelihatan beberapa perahu lajar. Pada kedua tepian sungai itu, sawahdua terbentang dengan luasnya. Terang bahwa beliau berada dipunCak sebuah menara yang tinggi. Melihat letak tempatnya itu, teranglah kalau menara itu berada ditepi sungai. Dan menara begitu, tentulah menara Liok-hap-tha yang kesohor di HangCiu itu.
Berselang dua jam kemudian, baru ada orang datang memberitahukan bahwa makanan sudah siap, supaya raja itu turun kebawah. Kian Liong ikut Tio Pan San dan Jun Hwa kebawah, disitu memang sudah disiapkan hidangan. Ternyata beberapa orang Hong Hwa Hwe sudah siap pula. Hanya tinggal tiga buah kursi yang masih kosong. Begitu Kian Liong datang, semua orang sama berbangkit untuk memberi hormat. Melihat perubahan itu, diam-diam Kian Liong girang.
“Congthocu bilang bahwa dia dengan baginda sangat akrab, karenanya dia undang baginda kemari untuk main-main beberapa hari, agar dia dapat kesempatan untuk makin memesrakan perhubungan. Tapi berhubung ada suatu keper luan yang mendadak, dia terpaksa pergi dulu dan suruh kita mewakili untuk menemani baginda. Harap bansweya suka maafkan,” kata Bu Tim.
Kian Liong hanya keluarkan suara hidung, tak tahu apa yang hendak dilakukannya. Begitu Bu Tim mempersilakan, Kian Liong tak mau sungkandua lagi terus duduk dikursi pertama. Diruangan itu tampak beberapa orang, ada yang gagah bagus, ada yang ' jelek menakutkan, kesemuanya itu adalah orang-orang kangouw.
Bu Tim mengangkat pofeji arak dan berkata: “Sekalian saudara-saudara disini adalah bangsa orang kasar, jadi tak dapat melayani baginda baik-baik , harap baginda jangan ambil marah.”
Tapi begitu dia tuangkan kedalam sebuah Cawan, segera mukanya berobah, katanya pada sipelayan: “Baginda hanya minum arak yang nomor satu, mengapa kau hidangkan arak beginian.”
Dan dengan sikap gusar, arak itu digentakkan kemuka sipelayan.
“Yang ada disini hanyalah arak itu, kalau minta arak yang nomor satu harus beli dikota dulu,” kata sipelayan dengan ketakutan.
“Yangan banyak sekali omong, lekas pergi beli. Arak begini, buat kita kaum rendah masih boleh, tapi mana baginda mau meminumnya?”
Thian Hong sambuti poCi dari tangan Bu Tim, lalu di tuangkannya pada Cawan masing-masing saudaranya. Hanya tinggal Cawan Kian Liong saja yang masih tetap kosong. Akan hal itu, Thian Hong menghaturkan maaf kepada baginda.
Tak lama kemudian, pelayan datang dengan membawa 4 talam kuah hangat. Seketika hidung Kian Liong terCium bau sedap dari hidangan udang goreng, tulang belulang babi kuah, ikan dan panggang ajam. Tapi tiba-tiba kembali Bu Tim membentak sipelayan: “Siapa yang masak hidangan ini?” Seorang tukang masak tampil kemuka seraya menyawab: “Hamba.”
“Kau ini macam orang apa. Mengapa tidak suruh tukang masak istana Thio An-koan untuk memasaknya? Masakan orang HangCiu sejelek ini, mana baginda sudi dahar?” teriak Bu Tim.
“Ah, masakan ini lumajan juga, tidak jelek,” Kian Liong menyelak, dan segera dia ulurkan sumpitnya untuk men jemput.
Liok Hwi Hing yang duduk disebelah baginda, juga ulurkan sumpitnya seraya berkata: “Sajur begini tak lajak baginda dahar, jangan-jangan nanti membuat baginda sakit perut.”
Sumpitnya tepat menjepit sumpit baginda, dan dengan sekali gerakan lwekang, sumpit baginda digenCat patah. Perbuatan itu dilakukan olah Hwi Hing dengan gerakan yang pelan dan wajahnya tetap tak berobah, sehingga sekalian orang gagah sama Kagum.
“Sutenya, Thio Ciauw Cong, benar lihai, tapi dalam hal lwekang rasanya tak nempil dengan suhengnya ini. Memang Kim-li-Ciam betul-betul tak bernama kosong,” kata Bu Tim dalam hati.
Sementara itu Kian liong jadi kemekmek maju mundur serba kikuk, hanya selebar wajahnya semerah darah. “Plak” ………. sepasang sumpitnya dibantingnya diatas meja.
Tapi sekalian orang disitu pura-pura tak melihat, mereka enakdua saling menyilangkan sumpit untuk segera memulai makan.
“Lekas panggil Thio An-koan untuk masak daharan bagi baginda, baginda sudah keliwat lapar,” seru Thian Hong pada sikoki.
Sikoki dengan ketakutan segera mundur.
Kian Liong Cukup mengerti, bahwa orang tengah mem permainkannya. Terang kalau beliau lapar, mereka makan sendiri dengan se-enakduanya, dan tak putus-putus memuji kele zatannya. Mendongkal sekali beliau, namun tak mau menge luarkannya. Setelah selesai, kembali ada pelayan yang membawakan teh harum Liong-keng-Ceng.
“Teh ini bagus sekali, rasanya bagindapun boleh meminum nya,” kata Thian Hong.
Tapi ketika Kian Liong meneguk dua Cegukan, rasanya perut makin lapar. Sebaliknya Cio Su Kin yang berada di sebelahnya, tak habis-habis meng-elusdua perutnya yang penuh berisi itu dan berkata: “Aduh, kenyang nya!”
Baginda adalah seorang yang kuat menahan perasaan, sekalipun waktu marah, beliau tetap tak berobah wajahnya.
“Kita akan lekas suruh mereka siapkan hidangan, harap baginda suka tunggu sebentar lagi,” kata Tio Pan San.
Bu Tim juga nampak gusar, karena pelayandua itu berlaku ajal, ia bilang kalau Congthocu keburu datang dan mengetahui baginda belum dahar apa-apa, tentu akan kurang senang. Sedang Thiat-tan Ciu Tiong Ingpun mengomel juga. Namun baginda hanya keluarkan suaranya yang jengkel.
“Oh, sgbaHknya''aku kekenyang sudah!” seru Cio Su Kin tiba-tiba”
“Itulah yang dikatakan orang 'yang kekenyangan tak mengerti akan derita silapar! Rakyat yang menderita kelaparan entah berapa juta banyak sekalinya. Tapi mana orang-orang pemerintah orang mengerti akan keadaan mereka itu. Karena baginda hari ini pernah merasakan sendiri betapa tak enaknya orang yang kelaparan itu, mungkin kelak akan sudi memikirkan nasib rakyat yang lapar itu,” kata Thian Hong.
“Kalau hanya lapar untuk sehari-hari saja masih tak mengapa. Kan banyak sekali orang yang menderita kelaparan sampai ber-bulandua,” demikian Siang He Ci menambahkan.
“Ya, kami sendiri kakak beradik pernah dua bulan hanya makan kulit kayu saja,” Pek Ci turut menimbrung.
Berkata soal perut lapar, memang orang-orang Hong Hwa Hwe itu adalah terdiri dari orang-orang yang sengsara semasa kecilnya. Sudah tentu mereka dengan sengit mengeluarkan isi hatinya. Sana begitu, sini begini, sehingga panas telinga baginda dibuatnya. Tapi karena penuturan mereka itu berdasarkan pengalaman yang sebenarnya, diam-diam bagindapun timbul pikiran, bahwa kalau benar demikian nasibnya kaum melarat itu, memang patut dikasihani.
Tapi karena mereka itu bicara sebebasnya saja, lama-lama baginda tak tahan, lalu tinggalkan tempat itu dan menuju keloteng atas.
“Nanti kalau daharan sudah siap, kita tentu akan mengundang baginda,” kata Thian Hong akhirnya. Tapi baginda pura-pura tak dengar.
Dua jam kemudian, tiba-tiba Kian Liong menCium bau ikan kambing bakar, itulah masakan istimewa dari koki istana si Thio An-koan yang sudah dikenalnya. Sudah tentu baginda heran dibuatnya, masa koki itu benar-benar bisa didatangkan kemari. Tengah beliau menduga-duga itu, tampak Thio An-koan muncul disitu sambil menjura: “Silaukan bansweya dahar.”
“He, bagaimana kau bisa datang kemari?” tanya Kian Liong.
“Kemarin malam ketika hamba habis menonton wayang , begitu keluar pintu terus dipapak orang. Dikatakan bahwa bansweya berada disini dan minta hamba kemari. Sudah tentu hamba senang sekali.”
Kian Liong hanya angguk kepala terjjs berjalan kebawalrN»»-Disitu diatas meja telah dihidangkan macamdua masakan seperti “Ca tahu dari sarang burung dan itik,” “daging kambing,” “bakmi goreng istimewa,” “Kuah sajur ikan ajam” dan “panggang babi.” Kesemuanya itu adalah kegemaran Kian Liong. Selain itu masih ada belasan sajur majur lagi.
Kian Liong girang. Ketika Thio An-koan mengambilkan nasi, tiba-tiba Bu Tim dan Kawan-kawan nya sama datang.
“Silakan baginda dahar,” kata mereka.
“Mungkin kali ini mereka sungguh-sungguh akan minta aku dahar,” pikir Kian Liong.
Beliau lalu angkat sumpitnya untuk menyemput ikan. Tapi tiba-tiba masuklah seorang gadis sekira umur 1delapan tahun dengan menyandung seekor kuCing.
“Ayah, pus ini juga lapar!” kata sigadis pada Ciu Tiong Ing.
KuCing itupun kelihatannya akan meronta dari tangan sigadis. Gadis itu adalah Ciu Ki, agak kendorkan tangannya dan meloncatlah kuCing itu keatas meja, terus tempelkan monCongkan pada dua buah mangkok sajur. Ciu Ki dan orang-orang sama berteriak untuk menggebahnya. Ketika hampir tertangkap, tiba-tiba kuCing itu julurkan kakinya terus meng-geletak diatas meja, sedang dari mulutnya segera muntah kan darah hitam lalu mati.
Seketika itu wajah Kian Liong berobah. Thio An-koan bergemeteran saking takutnya dan Buru-buru jatuhkan diri ber-kui, katanya: “Bansweya mereka telah menaruh raCun jangan didahar!”
Sebaliknya Kian Liong tiba-tiba tertawa gelakdua.
“Kamu sekalian telah berdosa besar, mau Coba meraCuni kaisar. Kalau memang mau bunuh, bunuhlah lekas, jangan pakai raCunduaan!”
Sambil mengucap begitu, baginda lemparkan kursinya terus berbangkit.
“Apakah baginda tak mau dahar hidangan ini?” balas bertanya Bu Tim.
“Bangsat, pengeCut, Coba saja kau mau berbuat apa kepadaku,” menantang Kian Liong. Mengerti akan kejadian sikuCing tadi, beliau insyap bahwa orang telah inginkan ji wanya, karenanya beliau umbar kemarahannya.
Mendadak Bu Tim gebrak meja, lalu berseru keras-keras: “Jiwa seorang lakidua itu bergantung dari nasib. Kalau baginda tak mau, kita nanti yang makan. Ayo, siapa diantara saudara-saudara yang bernyali, ikutlah makan dengan aku!”
Diambilnya sumpit terus dimasukkannya kedalam mangkok yang dimakan oleh kuCing tadi, lalu dimasukkan kedalam mulutnya. Lain-lain saudaranyapun sama mengambil tempat duduk, dan serentak berseru: “Kalau mati biarlah mati, tak perlu kita sibuki.”
Dan pada lain saat, tampak suara keCipan bibir menge nyam hidangan yang lezat itu. Melihat itu, melengaklah Kian Liong. Dalam waktu yang singkat saja, hidangan itu telah disapu bersih oleh orang-orang Hong Hwa Hwe tersebut. Mereka ternyata tak kurang suatu apa, keCuali sama urutdua perutnya karena kekenyahgan.
Kiranya tadi adalah tipu si Thian Hong saja. Lebih dulu kuCing diberinya obat raCun, sedang hidangan itu sebenarnya tak ada apa-apanya. Dengan begitu, lagi-lagi Kian Liong yang sudah siap untuk dahar, kembali digagalkan.
Memang orang-orang Hong Hwa Hwe masih dendam hati pada Kian Liong, karena baginda itu telah menyiksa Bun Thay Lay sedemikian rupa, sehingga sekujur badannya luka parah, Lou Ping juga terluka, Ciu Tiong Ing kehilangan putera, sedangkan Ie Hi Tong jiwanya terancam. Kesemuanya itu, menimbulkan kemarahan mereka.
Sebenarnya kalau menurut kehendak kedua saudara Siang, lebih baik raja itu dihabisi saja jiwanya. Tapi Tan Keh Lok dan Thian Hong dapat menyabarkan mereka. Karena itulah mereka melampiaskan kemangkelan hati dengan “mengoCok” kaisar itu se-puasduanya.
Hal itu dimaksud untuk membalas sakit hati, dan kedua kalinya untuk menyatuhkan keangkuhan kaisar itu.
Kalau Kian Liong sedang menahan lapar sampai dua hari, adalah pada saat itu seluruh pembesar HangCiu sama heboh tak keruan. Sekalipun lenyapnya kaisar itu sedapat mungkin dirahasiakan, tapi tak urung seluruh kota menjadi gempar. Semua tempat diseluruh kota di geledah dengan bengis, ter-utama ditempat pelabuhan, tak seorangpun diperbolehkan keluar.
Dalam dua hari itu, ribuan orang yang diCurigai telah ditangkap, sehingga penyara penuh dengan orang tahanan. Mereka tak tahu sebab apa ditangkap. Pembesar setempat selain memang ketakutan, juga menggunakan kesempatan baik untuk main tangkap orang-orang hartawan, agar mereka mau kasih uang tebusan yang besar.
Hok Gong An, Li Khik Siu, Pek Cin dan lain-lain jago pengawal jadi kalang kabut. Mereka menduga bahwa itu tentu perbuatan orang- Hong Hwa Hwe Mereka segera kirim pasukan untuk menggeledah ketempat anggota-anggotaHong Hwa Hwe tetapi semuanya sudah kabur.
Pada hari ketiga, Hok Gong An kembali bersidang. Apakah lenyapnya baginda itu perlu dilaporkan pada Thay Houw (ibusuri) dikotaraja, agar kalau sampai terjadi haldua yang tak diinginkan, fihak istana sudah dapat segera mengangkat seorang raja baru sebagai gantinya Kian Liong.
Tapi mereka yang hadir tidak menyetujuinya, karena hal itu berarti, keluarga mereka akan mendapat hukuman mati semua. Tengah mereka berunding, tiba-tiba tampak Swi Tay Lim mendatangi dengan wajah puCat. Dia membisiki beberapa patah kata ditelinga Pek Cin, yang segera berobah wajahnya dan serentak berbangkit katanya: “Masa ada kejadian itu?”
Hok Gong An Buru-buru menanyakan apa yang terjadi.
“Enam orang si-wi yang menjaga kamar tidur bansweya telah kedapatan mati terbunuh,” jawab Swi Tay Lim.
“Ha, Ayo kita periksa, tentu ada hubungannya dengan lenyapnya bansweya,” kata Hok Gong An.
Mereka segera menuju kekamar baginda. Tapi begitu Swi Tay Lim membuka pintu, bau busuk lantas menyerang hidung. Diatas lantai kamar itu, disana sini terserak enam majat si-wi. Ada yang matanya melotot keluar, ada yang da danya melesak, keadaannya menyeramkan sekali. Ketika diperiksa Pek Cin, ternyata keenam si-wi itu adalah jago-jago pilihan dari istana. Memang diwaktu bersemajam, selalu ada enam orang si-wi yang menjaga diluar kamar baginda itu. Meskipun baginda lenyap, tapi keenam pengawal itu masih tetap bergiliran menjaga kamar beliau.
“Keenam orang ini berkepandaian tangguh semua, tetapi mengapa mereka dapat dibinasakan orang dengan tanpa mengeluarkan suara apa-apa” tanya Pek Cin.
Pek Cin bungkukkan badan untuk memeriksa lebih lan jut. Ternyata mereka itu dapat hantaman dari tenaga yang dahsyat, tetapi ada juga yang telah dihantam dengan po kiam hingga kepalanya hanCur. Senjata-nyata dari para korban itu ada yang telah dihanCurkan, ada lagi yang masih belum keburu dilolos keluar. Jadi terang kalau sipembunuh itu berlaku sebat sekali, sehingga korbandua itu tak sempat membela diri.
“Kamar ini tak Cukup lebar untuk berkelahi sekian ba nyak orang. Paling banyak sekali sipembunuh itu hanya berjumlah dua atau tiga orang. Sekali bergerak mereka telah dapat membinasakan keenam si-wi itu. Mereka kejam sekali, tapi juga membuktikan bagaimana hebatnya kepandaian mereka itu,” kata Pek Cin.
“Bansweya telah dapat mereka jebak, mengapa mereka mesti membinasakan keenam saudara ini? Menilik gelagat nya, sipembunuh dengan orang yang menyebak bansweya itu tentu bukan segolongan,” kata Li Khik Siu.
“Ya, tetapi mereka tunggal tujuan jalan akan membunuh bansweya. Karena bansweya tak berada disini, maka keenam si-wi itulah yang harus membajar jiwa,” kata Hok Gong An.
“Ji-wi benar. Kalau yang membunuh si-wis ini orang Hong Hwa Hwe maka bansweya tentu jatuh dilain tangan. Tapi kerumah Giok-ji-ih.
Rumah bunga raja itu, sebenarnya dijaga pula oleh tentara, tapi ketika itu, satupun tak nampak penjaganya. Rumah itu tampak sunyidua saja. Dan begitu masuk, kembali tampak majatdua dari dua orang si-wi dan belasan tentara. Kejam nian pembunuh itu, seorangpun tak dibiarkan hidup. Ada yang tenggorokannya putus digigit Anjing. Ditilik dari perawakan dan luka sikorban, Pek Cin menduga keras, bahwa Anjing sipembunuh itu tentu seekor binatang yang besar sekali. Kalau bukan Anjing dari luar perbatasan, tentulah semacam serigala dari daerah barat-daya. Apakah mungkin pembunuh itu berasal dari luar perbatasan atau dari Tiongkok barat-daya? Demikian Pek Cin Coba mengambil kesimpulan.
Keenam Anjing itu setelah berputaran diseluruh ruangan Giok-ju-ih lalu men-Cakardua kelantai. Pek Cin segera me-meriksa lantai itu, tapi tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Namun Anjingdua itu tetap men-Cakardua dan menggonggong dengan tak hentinya.
Pek Cin suruh seorang serdadu Coba menCongkel lantai itu. Dan benar juga, baru saja diCongkel sekali dua, lantai itu terjungkat. Dibawah ternyata ada sebuah papan batu yang besar.
“Congkel lekas!” perintah Pek Cin.
Begitu papan diCongkel, nampak sebuah lobang besar.
Anjingdua itu serentak masuk kedalam. Kini terbukalah mata Pek Cin dan Li Khik Siu, mengapa ribuan tentara yang menjaga rumah itu tak dapat mengetahui lenyapnya baginda. Kiranya baginda telah diCulik melalui jalan dibawah tanah itu. Pek Cin dan Khik Siu langsung pimpin anak buahnya memasuki lobang itu
Kini kita tengok kembali keadaan Kian Liong yang telah dua hari menahan lapar dipagoda Liok Hap Ta itu. Dia rasakan tubuhnya lemas. Pada hari ketiga, betul-betul habislah tenaganya. DiCobanya untuk tidur, tapi tiba-tiba ada seorang ka Cung menghampiri dan berkata: “Bansweya, siaoya mengundang bansweya untuk bicara.”
Karena girangnya, Kian Liong timbul pula semangatnya, dan Cepat-cepat berpakaian. Kacung itu, adalah Sim Hi, yang selain orang Hong Hwa Hwe siapakah yang mempunyai keberanian begini besar? Sebaliknya kalau bansweeya jatuh ditangan orang Hong Hwa Hwe, pembunuh ini tentu orang berkepandaian tinggi sekali”, Pek Cin utarakan pendapatnya.
Ketika angin mendesir, kembali hidung orang-orang disitu sama tertusuk bau yang busuk. Karena tak tahan, Hok Gong An segera keluar.
“Orang kosen didaerah Kang Lam sini, hampir kukenal semua. Tapi kalau menurut Cara sipembunuh itu melakukan pekerjaan, sungguh istimewa sekali. Hm, entah siapakah dia itu!” diam-diam Pek Cin berkata sendiri.
Berhadapan dengan orang-orang Hong Hwa Hwe saja sudah kewalahan, apalagi kini mendapat tambahan seorang musuh baru yang begitu tangguh. Diam^ hati Pek Cin menjadi kunCup.
Dia membungkuk untuk memeriksanya, dan ternyata pada dada sikorban itu terdapat luka-luka “Cakar-Anjing”. Hal itu membuat ia heran, lalu minta pada Li Khik Siu menCari pemburu yang memelihara Anjing.
Orang yang dimaksudkan itu segera dibawa datang, tiga orang pemburu dengan enam ekor Anjingnya. Dalam pada itu Li Khik Siu telah mempersiapkan dua ribu tentara untuk menunggu perintah. Pek Cin suruh Anjingdua itu membaui korbandua tersebut., lalu di suruh melepaskan. Demikianlah dengan dipelopori oleh pemburu beserta Anjingnya, tentara negeri itu menuju ketepi telaga Se-ouw. Disama Anjingdua itu mengaumdua kearah tengahdua telaga.
Mengertilah Pek Cin, bahwa sipembunuh itu datang bersama dengan Anjingnya juga. Setelah membunuh si-wi dan tak dapat menemukan kaisar, pembunuh itu suruh Anjingnya menCari jejak baginda. Setelah membaui sekian lama, Anjing pemburu itu berhasil dapatkan jejak. Dengan ber jalan menyusur tepian telaga, akhirnya pada sebuah tempat yang beCek, diketemukan bekas tapak sipembunuh dan Anjingnya.
Anjing itu diseberangkan dari tempat dimana baginda dibawa naik perahu, sampai ditepi sana, terus berjalan menuju kedalam kota lagi. Karena dikota penuh dengan orang, Anjing itu berjalan agak lambat. Sambil berjalan sambil menCiumkan monCongnya ketanah, akhirnya menuju kerumah Giok-ji-ih.
Rumah bunga raja itu, sebenarnya dijaga pula oleh tentara, tapi ketika itu, satupun tak nampak penjaganya. Rumah itu tampak sunyidua saja. Dan begitu masuk, kembali tampak majatdua dari dua orang si-wi dan belasan tentara. Kejam nian pembunuh itu, seorangpun tak dibiarkan hidup. Ada yang tenggorokannya putus digigit Anjing. Ditilik dari perawakan dan luka sikorban, Pek Cin menduga keras, bahwa Anjing sipembunuh itu tentu seekor binatang yang besar sekali. Kalau bukan Anjing dari luar perbatasan, tentulah semacam serigala dari daerah barat-daya. Apakah mungkin pembunuh itu berasal dari luar perbatasan atau dari Tiongkok barat-daya? Demikian Pek Cin Coba mengambil kesimpulan.
Keenam Anjing itu setelah berputaran diseluruh ruangan Giok-ju-ih lalu men-Cakar» kelantai. Pek Cin segera me-meriksa lantai itu, tapi tak ada tandas yang mencurigakan. Namun Anjingdua itu tetap men-Cakardua dan menggonggong dengan tak hentinya.
Pek Cin suruh seorang serdadu Coba menCongkel lantai itu. Dan benar juga, baru saja diCongkel sekali dua, lantai itu terjungkat. Dibawah ternyata ada sebuah papan batu yang besar.
“Congkel lekas!” perintah Pek Cin.
Begitu papan diCongkel, nampak sebuah lobang besar.
Anjingdua itu serentak masuk kedalam. Kini terbukalah mata Pek Cin dan Li Khik Siu, mengapa ribuan tentara yang menjaga rumah itu tak dapat mengetahui lenyapnya baginda. Kiranya baginda telah diCulik melalui jalan dibawah tanah itu. Pek Cin dan Khik Siu langsung pimpin anak buahnya memasuki lobang itu
Kini kita tengok kembali keadaan Kian Liong yang telah dua hari menahan lapar dipagoda Liok Hap Ta itu. Dia rasakan tubuhnya lemas. Pada hari ketiga, betul» habislah tena ganya. DiCobanya untuk tidur, tapi tiba-tiba ada seorang ka Cung menghampiri dan berkata: “Bansweya, siaoya mengundang bansweya untuk bicara.”
Karena girangnya, Kian Liong timbul pula semangatnya, dan Cepat-cepat berpakaian. Kacung itu, adalah Sim Hi, yang setelah dirawat beberapa hari kini sudah sembuh dari luka-luka-nya. Mendengar baginda dapat ditawan, dia ingin sekali menyaksikan ramaidua. Dia memasak air untuk melayani baginda berkemas diri. Kaisar itu masih tetap mengenakan pakaian orang Han dan mengikuti Sim Hi menuju kebawah.
Diloteng setingkat bagian bawah, Tan Keh Lok sudah siap menyambutnya dengan muka berseri-seri. Begitu baginda datang, dia Cepat-cepat » memberi hormat. Baginda pun membalasnya dan lalu ikut masuk kedalam ruangan. Sementara itu, Sim Hi menghidangkan minuman teh.
“Lekas siapkan hidangan!” kata Keh Lok segera.
Sebuah talam segera dihaturkan oleh Sim Hi. Selain beberapa kuah sajur, juga terdapat udang, sajur daun terate dengan ikan ajam dan lain-lain. yang baunya menusuk hidung. Setelah makan berkatalah Tan Keh Lok : “Karena menengok seorang sahabat yang sakit, maka siaote tak dapat siangdua menyambut saudara, harap maafkan”.
“Ah, tak apalah,” sahut Kian Liong.
“Silakan henghay dahar dulu, nanti siaote ada sedikit pembicaraan kepada hengtay”.
Lapar Kian Liong tak tertahan lagi rasanya. Sebenarnya beliau berbadan sehat. Ketika berumur duabelas tahun beliau ikut kakeknya Kaisar Kong Hi berburu, telah dapat memanah seekor serigala. Sebagai orang yang gemar buge, makannya pun banyak sekali. Dua hari dua malam tak berkenalan dengan nasi, sungguh membuatnya setengah mati.
Begitu Tan Keh Lok mendahului makan dengan menyumpit sesuap sajur, Kian Liong terus dahar dengan lahapnya dan sekejab mata saja habislah hidangan setalam itu.
Pada setiap masakan, Tan Keh Lok selalu menCiCipinya satu dua sumpitan yang terus dimakannya. Ini untuk menghilangkan keCurigaan baginda, siapa kini betul-betul tak sungkandua lagi. Melihat itu, Tari Keh Lok hanya tersenyum saja.
N j aman perasaan kaisar itu, setelah habis berdahar. Beliau segera meneguk Cawan yang terisi teh, harum dari Liong-keng. Dan seketika itu tubuhnya dirasakan segar. Setelah mangkokdua dikemasi, berkata pulalah ketua Hong Hwa Hwe itu me nyuruh Sim Hi sediakan beberapa macam sajur lagi untuk teman minum arak.
Setelah Sim Hi berlalu, Tan Keh Lok dorong pintu muka dan katanya: “Mereka berjaga dibawah, rasanya inilah tempat yang paling sesuai. Tak nanti ada lain orang yang dapat mendengarkan pembicaraan kita.”
Kian Liong kerutkan kening, katanya dengan pelan: “Kau tawan aku disini ini, hendak bermaksud apa?”
Tanpa menyahut apa-apa, Tar» Keh Lok maju dua tindak dan menatap wajah Kian Liong. Kian Liong dapatkan bagaimana sepasang mata orang muda itu ber-kilatdua seperti merasuk kedalam hati. Tak tertahan baginda itu berpaling kesebelah. Hening sejenak, tiba-tiba Tan Keh Lok berkata : “Koko, sampai detik ini apa kau masih belum mengenal aku?”
Lemah lembut nada perkataan itu ketika pemimpin muda itu mengucapkannya. Namun bagi sang baginda, hal itu seolah- bunyi halilintar disiang hari, sehingga tanpa merasa, beliau berjingkrak.
“Apa apa katamu tadi?!” tanyanya gugup.
Wajah Tan Keh Lok unyuk kesungguhan, pelan- diulurkan kedua tangannya untuk menyambut tangan baginda seraya berkata :
“Kita ini kakak beradik, sedarah sedaging. Koko, tak perlu kau kelabui aku, aku telah mengetahui semuanya.”
Sejak orang-orang Hong Hwa Hwe dapat membebaskan Bun Thay Lay, insyaplah Kian Liong bahwa rahasianya tentu bocor. Sekalipun begitu, ketika Tan Keh Lok memanggilnya “koko,” dia masih melengak terkejut. Lemah lunglai sendi tulangnya, dan tanpa terasa beliau jatuhkan diri diatas kursi.
“Kau datang ke Hay Ling, kau anugerahkan gelaran ayah bunda sebagai dewa dan dewi Laut, itulah pertanda kau masih ingat budi mereka. Coba kau berkaCa pada Cermin ini.”
Habis berkata demikian, Tan Keh Lok tarik seutas tali yang bergantungan disebelah meja tulis, maka tersingkaplah lukisan didinding itu. Sebagai gantinya tampak sebuah Cermin besar.
Kian Liong dapatkan dalam pakaian orang Han itu, dirinya sedikitpun tak mirip dengan orang Boan. Sedang ketika mengawasi Tan Keh Lok yang berada disebelahnya itu, kaisar itu mengelah napas dalam-. Habis itu kembali beliau jatuh-kan diri diatas kursi.
“Koko, karena tidak saling mengetahui, kita kakak beradik saling bermusuhan. Kalau tulang saling berhantam dengan dagingnya, ayah-bunda yang sudah beristirahat dialam baka itu tentu takkan tenang hatinya.”
Kian Liong tetap tak dapat mengeluarkan kata-kata. Baru setelah berselang beberapa waktu, kedengaran beliau berkata: “Sebenarnya kubermaksud menempatkan kau dikota raja, tapi kau sendirilah yang menolaknya.”
Tan Keh Lok memandang kearah sungai disebelah sana, tanpa menyahut apas.
“Kalau kau merasa belum punya pengalaman, nanti kusuruh seorang memimpin kau. Mengingat keCerdasanmu, kurasa kau tentu dapat mengatasinya. Kelak akan kuserahi kau jabatan yang makin tinggi,” kata Kian Liong pula. “Ini untuk kepentingan negara. Untuk hubungan kita berdua pun berguna sekali. Mengapa kau tetap menuntut jalan sesat, tidak setia pada negara, tidak berbakti terhadap orang tua!”
Mendengar itu Tan Keh Lok berpaling dengan tibas.
“Koko, tidak ada maksudku untuk menuduh kau put-tiong put-hauw (tidak berbakti). Mengapa kau sebaliknya mengatakan aku begitu?” tanyanya.
“Hm, adalah kewajiban menteri untuk bersetia kepada junyungannya. Yang menentang berarti mendurhaka. Aku adalah seorang junyungan, mengapa kau katakan tidak setia?”
“Terang-terangan kau ini seorang Han, mengapa takluk pada orang asing, adakah itu setia? Semasa ayah-bunda masih hidup, kau sudah tidak merawatnya dengan baik-baik . Malah tiap hari ayah harus menghadap dan berlutut padamu, sedangkan kau anggap sepi saja kesemuanya itu. Adakah ini berbakti?” Tan Keh Lok mulai mengeluarkan kata-kata tajam demi orang mendesaknya.
Butir-butir peluh ber-ketesdua turun dari kepala Kian Liong.
“Aku benar-benar tak mengetahuinya,” katanya dengan separoh berbisik. “Ketika pemimpinmu, mendiang Ie Ban Tong masuk kedalam istana, barulah kuketahui semua itu. Namun aku masih setengah percaya. Hanya saja, menjadi anak orang, lebih baik kalau kita percaya bahwa hal itu mungkiri terjadi. Berbuat kesalahan karena tak tahu, bukan berarti put-hauw. Maka akupun memerlukan berkunjung ke Hay Leng juga.”
Sebenarnya ucapan Kian Liong itu hanya untuk menutupi kesalahannya saja. Waktu itu setelah Ie Ban Tong dan Bun Thay Lay berhasil menyelundup kedalam istana, dia unyuk-kan surat Tan-hujin kepada kaisar itu. Surat ila berisi pengakuan apa yang sebenarnya telah terjadi. Kian Liong sudah delapan bagian mempercayainya. Begitu Ban Tong berlalu, dia segera menanya keterangan pada Liauw-si, mak inangnya. Liauw-si terpaksa menuturkan apa yang diketahuinya :
4tujuh Tahun yang lalu, pada bulan delapan tanggal 1tiga , isteri dari Su-pwelek (pengeran keempat) In Ceng, telah melahirkan seorang puteri. Berbareng dengan itu, menteri besar Tan Se-Koan pun mendapat putera. Su-pwelek, pangeran keempat, adalah putera dari kaisar Kong Hi. Anak kaisar BoanCiu, disebut pwelek. Dia titahkan supaya putera menteri itu dibawa masuk keraton. Dia kepingin melihatnya, katanya.
Terang tadi yang dibawa masuk, adalah putera seorang lakidua. Tapi setelah keluar ternyata baji itu telah bertukar dengan seorang baji perempuan. Tapi Se Koan mengerti bahwa Su-pwe-lek itu telah sengaja menukarkan bajinya, namun dia tak berani berkata apa-apa, dikarenakan pengaruh pwelek itu terlampau besarnya.
Kaisar Kong Hi mempunyai belasan putera, Mereka sama bersaing untuk memperebutkan kedudukan tahta nanti. Kong Hi gemar akan ilmu pengetahuan Barat. Maka ba nyaklah puteraduanya yang se-olahdua berlomba untuk mempelajari ilmu itu. Pwelekdua itu telah mempunyai menteri kesa jangan sendiri. Tak segandua mereka memberi suapan besar pada menteridua itu, agar memujikan dirinya dihadapan sang ayahandanya. Juga, pangerandua itu masing-masing memelihara ja goandua silat untuk melindungi diri.
In Ceng mengetahui bahwa ayahandanya itu masih ragudua menyatuhkan pililian tentang siapa yang bakal menjadi Calon penggantinya kelak. Diapun tahu pula bahwa diantara saudaranya itu, misalnya In Teng, In Ki, In Te dan lain-lain. adalah orang-orang yang kepandaiannya tak disebelah bawahnya. Begitu pula mereka itu mempunyai kekuatan dan pengaruh besar. Didalam memilih Calon mahkota, kaisar harus, menimbang dengan Cermat bukan saja keCakapan dan peribadi pangeran itu, tapi pun anaknya juga, jadi CuCu kaisar itu.
Memilih seorang Calon kaisar, adalah untuk meletakkan dasar yang kokoh dalam menegakkan negara. Tidak; kalah sukarnya seperti orang membangun kerajaan. Kalau pangeran yang telah menjadi kaisar itu wafat, tentulah siCuCu yang menggantikannya. Jadi sekalipun pwelekdua yang sekarang ini Cerdas, tapi kalau puteranya tolol, pilihan tak nanti jatuh pada dirinya. Jadi dapat dimengerti bagaimana ke rasnya para pwelek itu berusaha untuk mendapatkan seorang putera yang Cerdas, sehingga dapat mengambil hati Kong Hi.
In Ceng sebenarnya sudah mempunyai seorang putera lakidua sendiri, tetapi anak itu lemah dan bodoh. Tidak disukai Kong Hi. Dalam satu hal ini, dia menginsyapi kekurang annya. Karenanya, dia sangat berharap untuk mendapat putera lagi. Tapi apa mau, isterinya ternyata melahirkan seorang puteri.
Pangeran Boan itu bertekad keras,, biar bagaimana dia harus bisa menjadi kaisar. Maka ketika didengarnya Tan Se Koan; berputera seorang lakidua, baji itu telah ditukarkannya.
Diantara pwelekdua, In Ceng adalah yang paling banyak sekali tipu muslihat, dan kejam hatinya. Tan Se Koan tak berani berkutik apa-apa. Baji lakidua itu, kemudian menjadi Kian Liong yang sekarang ini. Memang sejak kecil, dia mengunjuk kan keCerdasan dan keberaniannya. Dalam umur enam th. dia sudahi dapat membaCa kitab! “Ay Lian Swat.” Dalam usia sembilan th., terjadilah suatu hal yang sangat kebetulan sekali, sehingga anak itu telah berhasil merebut hati engkongnya, kaisar Kong Hi. Dan peristiwa itu, menjadi dasar utama sehingga In Ceng berhasil diangkat menjadi pengganti kaisar.
Waktu itu Kian Liong masih, bergelar Po Jin Ong. Dia ikut, kaisar Kong Hi berburu ke Je-hol. Anak buah pengawal raja, telah mengejai* seekor beruang besar. Beruang itu terpaksa keluar dari dalam hutan dan menuju kedepan Kong Hi. Sekali lontar tombak berapi, kepala beruang itu telah terpanggang dan roboh ketanah. Ketika kejadian itu berlangsung, justeru Po Jin Ong yang berada disebelah Kong Hi dan menaik seekor kuda kecil, juga kelihatan mengangkat tombaknya kecil, siap untuk melepaskannya. Dihadapan seekor binatang yang begitu besar, anak itu se dikitpun tak merasa gentar. Kong Hi senang melihat sikap CuCunya itu, serunya: “Lontarkan tombakmu itu!”
Kong Hi sayang akan CuCunya itu. Maksudnya menyuruh anak itu melontarkan tombaknya, adalah akan memberikan pahala itu kepadanya. Dihadapan para menteri nanti, dia akan mengatakan bahwa CuCunya itulah yang dapat membinasakan beruang. Dalam usia sembilan th. Po Jin Ong telah dapat menombak mati seekor beruang, itulah suatu hal yang boleh dibuat bangga.
Begitulah Po Jin Ong segera turun dari kudanya dan menghampiri beruang sambil mem-bentaks; “Kubunuh kau, kubunuh kau!”
Tombak tepat' dilancarkan keperut beruang, disambut de-ngan sorak sorai oleh para si-wi. Juga Kong Hi meng uruta jenggotnya sembari bersenyum puas.
Habis menusuk, Po Jin Ong kembali akan naik kudanya. Tapi ternyata beruang itu belum mati, dan begitu berbangkit, terus menubruk kepada Kong Hi. Para si-wi menjadi ter kejut, dan Cepat-cepat s menghujaninya dengan tombak. Seketika itu juga, melayang lah nyawa beruang itu.
Kong Hie-pun bukan kepalang terkejutnya, katanya kepada sekalian si-wi: “Po Jin Ong betuis mempunyai rejeki besar. Kalau tadi sewaktu dia masih berdiri disitu, binatang itu. menerkamnya, pasti dia akan Celaka.”
Sejak itu perhatian Kong Hi ada pada pangeran Cilik itu yang dianggapnya mempunyai rejeki besar, lagi pula pandai dalam ilmu silat dan ilmu surat. Dia telah dapat memenangkan hati Kong Hi.
Kalau kemudian hari In Ceng bisa naik tahta, dalam banyak sekali hal memang mengandalkan atas rejeki dari anak yang dipertukarkan dan dianggap sebagai puteranya sendiri itu.
Semasa Yong Ceng (In Ceng) memerintah, keluarga Tan di Hay Leng itu dianugerahi pangkat dan kemewahan hidup yang luar biasa. Maksud Yong Ceng, pertama untuk membalas budi, kedua kalinya agar rahasia itu jangan dibocor kan oleh keluarga Tan itu.
Pertama kali Kian Liong dibawa kegedung Yong Jin Ong (gelar In Ceng semasa masih menjadi pwelek), terus menangis tak berhentinya serta tak mau minum susu. Karena kewalahan, akhirnya isteri In Ceng minta supaya mak inang anak itu, Liauw-si, dibawa masuk istananya juga. Sejak itu Kian Liong baru mau diam, tidak menangis lagi.
Sungguh tak dinyana, berselang 40 tahun kemudian, Kian Liong telah menanyakan hal itu kepada Liauw-si. Mak inang itu sebenarnya tak mau mengatakannya, tapi karena takut dan menduga bahwa Kian Liong sendiri telah mengetahuinya, iapun terpaksa mengatakan dengan sebenarnya. Liauw-si waktu itu sudah berumur enam0 tahun. Malamnya Kian Liong menyuruh orang untuk menyirat lehernya, agar rahasia itu jangan sampai bocor.
Maka katas yang diuCapkan dihadapan Tan Keh Lok itu, telah mengingatkan dia akan budi kebaikan mak inang itu, yang telah dibalasnya dengan menyirat lehernya itu. Diam-diam hati kaisar itu menyesal.
“Coba kau lihat sendiri, apakah dirimu itu mirip dengan seorang Boan. Masa hal itu masih belum meneguhkan ke percayaanmu,” kata pula Keh Lok.
Kian Liong merenung.
“Kau seorang Han, tanah air bangsa Han telah dirampas oleh orang asing, dan kaulah yang menjadi raja mereka itu. Jadi kau memimpin orang asing untuk menindas bangsamu sendiri. Bukankah hal ini suatu perbuatan 'put-tiong-put-hauw', mengambil jalan yang sesat?” tanya pula Keh Lok.
Kian Liong tak dapat memberi jawaban yang tepat, ia hanya berkata: “Aku sekarang telah jatuh kedalam tangan mu, kalau mau bunuh, bunuhlah. Tak usah banyak sekali bicara lagi.”
“Kita telah membuat janji di Hay Tong, bahwa kita tak boleh saling menCelakai. Sebagai seorang lakidua, aku tak boleh menyalahi janji itu. Apalagi setelah kuketahui bahwa kau adalah kakakku sendiri. Sepuluh tahun lamanya aku tak pernah bertemu dengan darah dagingku. Kalau saat ini aku bisa berjumpa dengan koko, masa bermaksud akan men Celakainya,” kata Keh Lok dengan lemah lembut.
Tan Keh Lok , adalah seorang yang berperasaan halus, penuh emosi. Maka dengan ucapannya itu, diapun menguCur kan air mata.
“Habis kau maukan aku bagaimana? Apa kau paksa aku supaya turun tahta?” tanya Kian Liong kemudian.
Tan Keh Lok memesut air matanya, dan menyahut: “Tidak. Kau tetap menjadi kaisar. Namun bukan kaisar yang put-tiong dan put-hauw, melainkan seorang junyungan bijak sana yang merintis negara baru.”
“Perintis negara baru?”
“Ya, benar, menjadi kaisar dari bangsa Han, bukan kaisar orang Boan!”
Kian Liong berotak Cerdas. Sekali dengar saja, dia sudah Cukup mengerti kemana ucapan pemimpin Hong Hwa Hwe itu.
“Yadi kau mau suruh aku usir orang-orang Boan itu?” tanyanya.
“Benar Kau menjadi kaisar yang mengakui musuh sebagai ayah sendiri, bukankah akan dinista oleh anak CuCu kita. Mengapa kau tak berusaha untuk merobah keadaan itu dan meletakkan dasar baru dari pekerjaan besar ber-abaddua kemudian?”
Kian Liong seorang yang ambitius, temaha jasa. Dengan kata-kata itu, tergeraklah hatinya. Hal itu Tan Keh Lok dapat mengetahuinya dari perubahan air muka kaisar itu. Tahulah dia, bahwa kata-katanya telah “termakan” dihati orang. Maka kesempatan itu tak mau dilewatkan begitu saja, katanya pula :
“Dunia mengetahui bahwa kau menjadi raja ini, karena meneruskan warisan leluhur saja. Jadi tak mengherankan dan menimbulkan kekaguman orang. Coba lihatlah orang itu!”
Kian Liong menghampiri kedekat jendela dan memandang kearah yang ditunyuk Tan Keh Lok. Seorang petani tengah mengerjakan sawahnya. Hal itu membuat baginda heran.
“Kalau dia kebetulan dilahirkan digedung Yong Jin Ong, dan kau dilahirkan dalam keluarga petani itu, maka dialah yang menjadi kaisar sedangkan pada saat ini kau sedang meluku sawah seperti dia,” kata Keh Lok.
Kian Liong selalu mengira dirinya memang mempunyai kelebihan dari kebanyak sekalian orang. Tapi ketika mendengar kata-kata Tan Keh Lok itu, di-pikirs memang beralasan.
“Hidup orang itu tak lamaj Kalau tak dapat mendirikan suatu perbuatan besar, sekejab saja akan menjadi segun dukan tanah yang berumput. Kaisardua jaman yang lalu, seperti Han Ko Cou, Tong Thay Cong, Beng Thay Cou, adalah seorang junyungan yang betul-betul pahlawan dunia. Gengis Khan dari dinasti Goan, Nurhata, pendiri ahala Ceng, juga dapat digolongkan rajadua yang gagah. Tapi kalau baginda Han Si Te dan Beng Cong Ceng itu, adalah rajadua yang hanya menerima warisan saja, jadi tak dapat digolongkan pada rajadua yang gagah,” demikian Keh Lok teruskan uraiannya.

Setiap patah kata-kata itu menusuk hati Kian Liong. Sejak mengetahui dirinya seorang Han, beberapa kali Kian Liong akan keluarkan perintahdua supaya hambadua dan pegawaidua istana semua memakai pakaian Han. Tapi selalu dihalangi oleh menteri besar LanCu. Maka diam-diam Kian Liong berpikir, kalau beliau turutkan kemauan Tan Keh Lok untuk mengenyahkan bangsa Boan dan membangun kembali kerajaan Han, bukankah dia bakal menjadi ThayCou dari kerajaan yang didirikan oleh keluarga Tan? Tidakkah nilainya sama dengan Lauw Pang dan Li Si Bin?

Baru beliau akan menyawabnya, tiba-tiba dari kejauhan ke-dengaran gelombang Anjing menggonggong. Tampak Keh Lok kerutkan alisnya sembari melongok keluar jendela. Kian Liong ikut melongok. Tampak dari kejauhan ada empat ekor Anjing besar tengah berlari-lari menuju kepagoda itu. Dibelakangnya mengikut dua sogok bayangan. Karena gerak an mereka sedemikian pesatnya, maka tak kelihatan wajah nya yang jelas.

Sekejab saja kedua bayangan dan empat ekor Anjing itu sudah dekat, dan segera terdengar suara bentakan orang. Pagoda Liok Hap Ta terdiri dari tiga tingkat. Kian Liong dan Tan Keh Lok ketika itu berada ditingkat duabelas, jadi jauh dari muka tanah. Apa yang terjadi dibawah tak dapat didengarnya.

Begitu datang, orang dan Anjing-anjing itu terus melangkah masuk. Tapi pada lain saat, keempat Anjing itu lari keluar sembari menggerangdua kesakitan. Lari kesana sini, se-olahdua akan menghindari sesuatu.

Beng Kian Hiong tampak lari mengejar dengan peluru nya. Begitu melepas pelordua 'lian-Cu-tan' dan tepat membuat Anjingdua itu mengaum makin hebat. Tengah Tan Keh Lok merasa heran dengan kejadian itu, tiba-tiba ada sesosok tubuh melesat keluar dari tengah pegoda itu. Gerakannya sedemikian pesat, hingga dalam sekejaban mata saja, busur Kian Hiong sudah terampas, dan menyusul, tengkuk Kian Hiong tertampar orang.

Karena tak sempat berkelit Kian Hiong Coba menangkis dengan tangannya. Tetapi orang itu lebih Cepat-cepat . Dia pakai busur tadi untuk menusuk jalan darah Kian Hiong, siapa seketika itu terus roboh.

Tanpa menghiraukannya lagi, orang itu .meneruskan masuk kedalam pagoda.
Dan baru saja orang itu masuk kepintu, dari dalam pagoda itu segera berkelebat sebuah bayangan, terus men Celat keluar dan jatuh ditanah tanpa berkutik lagi.
Tan Keh Lok terkejut sekali, karena sikorban itu adalah An Kian Kong. Dan pada saat itupun terdengar tanda suitan dari Ma Sian Kun dan Ma Tay Thing dari luar pagoda yang memberitahukan ada musuh tangguh telah datang.

Sebaliknya Kian Liong bukan kepalang girangnya. Beliau mengira kalau penolongnya telah datang. Tan Keh Lok me-ngawasi keempat penyuru, tapi oleh karena sepidua saja, tahulah dia bahwa musuh yang datang itu hanya dua orang saja. Sekalipun begitu musuh kali ini sangat lihainya hing ga Ma Sian Kun dan puteranya yang menjaga diluar pagoda itu sampai tak tahu sebelumnya. Ditilik dari gerakan mereka yang sedemikian itu, tentulah salah seorang jago yang ter lihai diantara kawanan si-wi. Dibandingkan dengan Pek Cin, masih lebih tinggi setingkat.

Keempat Anjing mereka itu kembali menyerbu masuk, disambut dengan teriakan memaki dari seorang wanita muda. Kembali Anjingdua itu me-lompatdua hebat. Itulah tentu Ciu Ki dan Sim Hi yang menjaga ditingkat kedua tengah me layani Anjingdua itu.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan seram dan dari jendela tingkat kedua terlempar keluar dua buah senjata, sebatang golok pendek dan sebatang joan-pian. Tan Keh Lok menge nalnya senjata-nyata itu kepunyaan Ciu Ki dan Sim Hi. Hal mana telah membuatnya ia terkejut, dan diam-diam menguatirkan akan keselamatan kedua kawan itu. Karena terang, musuh telah dapat merebut senjatanya.

Melihat perubahan air muka Tan Keh Lok itu, tahulah Kian Liong bahwa fihak ,,penolongnya” telah mendapat kemenangan. Diam-diam beliau merasa girang. Tapi ketika Tan Keh Lok bersenyum, beliau Buru-buru melengos kebawah, ternya ta disana seorang gagah yang bersenjatakan thiat-Ciang (galah besi), telah memutar senjata itu dengan hebat dan berhasil mengusir keluar keempat Anjing besar itu.
Itulah Cio Su Kin, dibelakang siapa pun ikut keluar Ciu Ki dan Sim Hi yang lalu menolong Kian Hiong dan Kian Kong. Empat ekor Anjing itu buas bagai harimau. Salah seekor telah dihantam sampai putus kakinya oleh Su Kin, namun masih tetap merangsang dengan sengitnya. Dikepung oleh empat binatang yang buas itu, Su Kin agak kerepotan juga nampaknya.

Habis membawa masuk Kian Hiong dan Kian Kong, Sim Hi keluar pula. Dia gunakan puluhan biji batu untuk menimpuk dan berhasil membuat Anjingdua itu ber-kuikdua kesakitan. Dan disaat itu, Su Kin hantamkan thiat-Ciangnya. Kini ada seekor yang terlempar keluar.
Ciu Ki pun menyusul keluar. Ia ber-teriakdua untuk membikin kacau binatangdua itu. Dan ternyata berhasil, karena binatangdua itu makin gugup. Melihat gelagatnya, dalam beberapa waktu saja Su Kin pasti dapat menyapu bersih binatangdua itu, andai kata tak terjadi hal yang mendadak datangnya.

Sekonyong-konyong dari tingkat ke enam, ada seorang melongokkan kepalanya keluar jendela sembari bersiul keras sekali. Siulan itu aneh kedengarannya.

Mendengar itu, keempat Anjing itu segera lari berpencaran keempat penyuru. Karena pintar Caranya menCari jalan lolos, Su Kin tak berdaya menge jarnya. Hanya yang putus kakinya tadi seekor, karena lari nya agak lambat Su Kin telah dapat menangkapnya dan diangkatnya tinggi-tinggi. Anjing itu Coba-coba meronta dengan melolong keras-keras, tapi pada lain saat Su Kin melemparkannya jauh-jauh maka siraplah lolongnya.

Ciu Ki dan Sim Hi sudah bersiap pula dengan senjatanya dan menjaga dibawah menara tersebut. Mereka kuatirkan akan adanya serangan musuh lagi. Sedang disebelah atas, Tan Keh Lok yang melihat bahwa musuh memberi tanda siulan dari loteng keenam, diam-diam berpikir dalam hatinya: “Kalau begitu apakah Cap-ji-ko yang menjaga loteng kelima serta Nyo pat-ko yang menjaga loteng keenam tak dapat menahan mereka?”

Memikir sampai disitu, Keh Lok mengeluh. Musuh ternyata keliwat tangguh, apalagi dua orang, maka ketua Hong Hwa Hwe itu segera akan bertindak untuk mengumpulkan empat orang saudaranya dan menjaga diloteng ke sembilan. Belum sampai dia lakukan rehCananya, tiba-tiba dari loteng ke tujuh berkelebat sesosok tubuh yang pendek kecil, tapi gesit gerakannya. Itulah 'Bu Cu-kat' Thian Hong.

Tapi baru saja tubuh Thian Hong keluar jendela, kakinya kiri telah kena disamber oleh seorang dari dalam. Tan Keh Lok kaget bukan kepalang. Cepat-cepat dia siapkan tiga butir biji Catur dan sedianya akan ditimpukkannya. Tapi tiba-tiba Thian Hong berseru dengan keras: “Lihat piauw!”

Dan membarengi itu, tangannya kanan bergerak. Sudah tentu orang itu tarik kepalannya kebawah untuk menhindari. Tapi ternyata itu hanya tipu dari si Bu Cu-kat saja. Karena ternyata dia tak menimpuk apa-apa. Dan membarengi orang menunduk, dia jejakkan kakinya untuk berontak. Begitu terlepas, dia pun sudah berdiri diatas wuwungan dari pagoda.

Tan Keh Lok berada diloteng ke-duabelas, jadi kini dia dapat melihat jelas musuhnya itu yang ternyata berpotongan kate, ya, bahkan lebih pendek dari Thian Hong. Berpakaian serba putih sedang rambutnya sudah ubanan semua. Seorang pe-rempuan tua kiranya!

Benar perempuan itu menggemblok sebatang pokiam di punggungnya, tapi ia menyerang dengan tangan kosong saja. Sekali loncat, ia sudah melesat dan berbareng tangannya kembali menerkam Thian Hong.

Thian Hong sudah tak bersenjata lagi, mungkin sudah kena berampas oleh perempuan tua itu. Tapi tangannya kiri masih memegang sebatang tongkat besi, dengan apa dia palangkan kemuka dada, seraya berseru: “Lihat piauw!”

“Kunyuk, jangan Coba kelabuhi aku lagi!” nenek itu memaki.

Sembari mulut membentak, tangan perempuan tua itu su-dah merangsang untuk merampas tongkat. Tapi ternyata ia salah taksir siasat Bu Cu-kat. Kali ini bukan gertakan kosong. Karena tadi dia sudah dapat mengambil sepotong genteng, maka lalu ditimpukkan keras-keras.

Untuk berkelit terang sudah tak keburu, apaboleh buat tangan perempuan tua itu menangkiskan kemuka. Maka hanCurlah genteng' itu menjadi berkeping-keping. Penjaga dari loteng ke delapan, kedua saudara Siang, mungkin sedang dirabu oleh musuh yang seorang lagi,' makanya tak kelihatan mun Cul untuk membantu. Dalam hal kepandaian silat, Thian Hong terang bukan tandingan siperempuan tua itu, maka dalam beberapa jurus saja, dia sudah keripuhan dan keluarkan keringat dingin. Hanya karena mengandalkan kelin-Cahannya saja, masih dapatlah dia memaksakan tertahan.

Kebetulan pada saat itu, Ciu Ki mendongak keatas. Melihat bagaimana bakal suaminya itu dalam bahaya, ia gugup dan teriaknya: “Ayah, lekas bantui dia!”
Ciu Tiong Ing menjaga diloteng ke sepuluh. Diapun lihat ba-gaimana kedua muridnya tadi, Kian Hiong dan Kian Kong, dirobohkan musuh. Sedang kini Calon mantunya pun berada dalam bahaya, dia segera maju kedepan jendela. Sesuai dengan wataknya yang tak mau main membokong, maka lebih dulu berserulah dia; “Siapa berani mengacau disini?”

Berbareng sepasang 'Thiat-tan susul menyusul ditimpuk kannya kearah nenek itu.
Tapi belum tiba timpukan senjatanya itu, tahu-tahu nenek itu sudah melompat pergi secepat-cepat burung, sekali tangannya menahan emperan, dengan sekali berjumpalitan, orangnya menaik lagi ketingkat keenam.

Tatkala itu terdengarlah suara gemerinCing yang ramai, banyak sekali senjata-nyata rasia sebangsa panah, peluru besi, piau dan lain-lain. jatuh diatas atap tingkat kedelapan. Kiranya dilepaskan oleh Tio Pan San yang menjaga ditingkat kesembilan yang bermaksud membantu Thian Hong.

Dan karena mengenai tempat kosong, kedua Thian-tan yang ditimpukan Ciu Tiong Eng tadi telah patahan kayu emperan menara itu hingga menerbitkan suara peletak dua kali, Cepat-cepat Thian Hong dapat menyemput kembali sebuah Thiat-tan, sebuah lainnya ber-putardua ditalang emperan menara. Tiong Eng melompat turun hendak menyemputnya kembali, tapi belum lagi kakinya menancap tempat yang dituju, sekonyong-konyong ada angin pukulan menyamber kedadanya.

Dalam keadaan terapung, Tiong Eng tak sempat menghindari, ia merasa angin pukulan itu hebat sekali, kalau menangkis sedang tubuhnya terapung, tentu akan kalah kuat dan terdorong jatuh kebawah menara. Dalam keadaan kepepet, lekas-lekas Tiong Eng Cabut goloknya menegak dimuka nya, lalu orangnya bersama senjatanya terus menubruk kedepan dengan tujuan menerima pukulan orang, tapi lawan pasti akan kena goloknya juga, dani keduanya pasti akan sama-sama terluka.

Akan tetapi musuh Cukup liCin, ketika melihat Tiong Eng menubruk maju, sedikit tubuh mengegos, tangan kirinya terus menarik pergelangan tangan Tiortg Eng yang memegang senjata.

Melihat gerak orang yang Cepat-cepat lagi lihai, diam-diam Tiong Eng bersuara heran, pikirnya dengan terkejut: “Siapakah gerangan orang ini?” — Dan bila ia sempat melompat pergi, sementara dilihatnya Siang-si Hengte sudah melompat keluar dan menempur orang itu dengan serunya, Perawakan orang itu ternyata tegap luar biasa, kedua saudara Siang itu sudah tergolong jang kung lenCir, siapa tahu tubuh orang itu masih lebih tinggi daripada mereka, hidung orang itu besar membetet, mukanya merah bagai di wenter, kepalanya gundul kelimis tanpa seujung rambutpun.

Melihat wajah orang yang begitu aneh, sedang ilmu silat nya bagus luar biasa, diam dua Tiong Eng memikir: “Kenapa tokoh semacam ini juga terima menjadi Anjing pesuru kerajaan Boan?”

Kakek gundul itu terus geraki kedua telapak tangannya dengan Cepat-cepat dan lihai, tapi kedua saudara Siang keluarkan ilmu pukulan “Tiat-soa-Cio” mereka melompat kian kemari diatas emper menara itu.

Nampak Siang-si Hengte berdua mengerojok satu musuh belum bisa menang, tapi untuk kalah rasanya juga tidak, Tiong Eng tidak jadi maju membantunya. Tapi bila ia memandang kebawah, seketika ia terperanyat.

Ternyata ditingkat keenam situ sinenek tadi sedang me rangsak Ciu Ki hingga terpaksa gadis ini mundur-mundur terus. Melihat tunangannya tak sanggup melawan, tapi masih me nempur matikan, kedudukannya sangat berbahaya, Cepat-cepat Thian Hong berseru: “Ki-moay, mundur, mundur dulu!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar