“SIAUTE membelinya dari toko buku bekas dengan harga sepuluh tail emas,” jawab Keh Lok.
“Sekalipun ribuan tailpun masih murah. Ini tentu benda mustika dari warisan keluarga bangsawan, maka heranlah kalau hengtay telah dapat membelinya ditoko buku,” kata Tang-hong Ni seraja tertawa lebardua.
Sekalipun merasa orang tak mempercayainya, tapi Keh Lok hanya bersenyum saja dan tak mau menghiraukan.
Melihat sikap, orang yang agung dan bebas ini Tang-hong Ni menjadi rnatkin ketarik, ia ingin menguji sampai di mana peribudi ariak muda itu. Dibalikkannya kipas itu, dan ketika ternyata disebaliknya tak terdapat tulisan apa-apa, ber katalah dia: „Siaote suka deng-an kipas ini, sekiranya,hengtay tak keberatan, siaote memberanikan diri untuk memintanya.”
”Jika memang hengtay menyukainya, ambillah,” jawab Keh Lok dengan tegas tanpa ragudua!.
Menunyuk kebalik kipas yang masih kosong itu, kembali Tang-hong Ni berkata: „Sekali lagi siaote akan minta suka lah kiranya hengtay menuliskan apaa sedikit dibagian ini, untuk kenangan dikemudian hari. Dimanakah tempat ke diaman hengtay, agar lain hari dapat siaote suruh orang mengambilnya.”
„Kalau hengtay tak menertawakan, baiklah siaote tuliskan sekarang juga,” kata Keh Lok.
Segera ia minta Sim Hi ambilkan alatdua tulis didalam tasnya, dan tanpa ragua lagi jariduanya menuliskan sebuah sajak yang berbunyi sebagai berikut :
Dengan pedang dan kitab naik kereta, Menuju kebarat ribuan li diujnng langit, Gunung bersalju, laut lebar mengalami semua, Achirnya kembali Kanglam menikmati kwi-hoa.
Orang tua kurus achli 'eng-jiao-kang' tadi, sewaktu me lihat bagaimana dengan Cepat-cepat dan gapah anak muda itu menyelesaikan sajaknya, begitu pula ke-manadua membawa alat tulis, segera hilanglah persangkaannya bahwa anak muda itu mengerti silat.
Sehabis mengucap terima kasih dan menyambuti kipas itu, berkatalah pula Tang-hong Ni: „Dan Siaote juga akan menghaturkan sesuatu pada hengtay.” Sembari mengucap begitu, dia angsurkan alat khim itu kepada sianak muda seraja katanya: „Untuk pahlawan adalah pokiam, tapi untuk hengtay seharusnya khim inilah persembahannya.”
Bahwa khim itu bukan sembarang khim, tahulah Tan Keh Lok. Tapi kalau baru saja kenal, orang itu begitu baik untuk menyerahkannya, itulah yang tak dimengerti oleh Tan Keh Lok. Tapi sebagai seorang yang hatinya terbuka, sekalipun agak Curiga, tapi diterimanya juga pemberian itu. Dia haturkan terima kasih dan suruh Sim Hi menyimpannya.
„Hengtay dari daerah Hwe bergegas kembali ke Kanglam, apakah hanya karena akan menikmati musim bunga kwihoa saja?” kata Tang-hong Ni.
„Ada seorang sahabat yang meminta kedatangan siaote untuk membantu suatu urusan,” sahut Keh Lok.
„Dari wajah hengtay mengunyukkan hengtay masih gelisah, adakah urusan sahabat hengtay masih belum se lesai?” tanya orang she Tang-hong itu.
„Ja,” sahut Keh Lok.
„Entah kesulitan apa yang terselip dalam urusan sahabat hengtay itu? Siaote punya banyak-banyak kenalan, mungkin dapat membantu.”
„Terima kasih atas budi hengtay itu. Tapi dalam beberapa hari lagi, urusan itu akan sudah selesai.”
Begitulah keduanya melanyutkan perCakapannya dengan asjik sekali. Tapi hampir setengah hari mereka duduk meng obrol itu, tetap masinga belum mengetahui siapakah kawan nya ber-Cakapdua itu.
„Lain hari kalau hengtay membutuhkan apa-apa pada siaote, harap membawa khim itu menCari siaote ke Pakkhia. Nah, bagaimana kalau kita bersama-sama turun kebawah?” kata Tang-hong Ni.
„Baiklah,” sahut Keh Lok.
Dan dengan bergandengan tangan keduanya turun dari gunung itu. Tiba pada suatu tempat, tiba-tiba dari arah muka tampak beberapa orang menghampiri. Yang dimuka seorang berwajah putih, mengenakan jubah tersulam benang mas dan wajahnya mirip dengan Tan Keh Lok, begitu pula dalam usianya. Sikapnya yang agung, mengunyukkan bahwa dia bukan orang sembarangan. Begitu saling memandang, keduanya sama terkesiap. |
„Liok-heng, bukankah dia feerupa dengan kau? Dia adalah keponakanku. Gong-ji, kau;, beri .hormat pada Liok-sepeh ini,” kata Tang-hong Ni pada orang tersebut, siapa Buru-buru menyura.
Keh Lok ter-sipu- membalas hormat. Selagi toegitu, tiba-tiba terdengar suara ketawa tertahan dari seorang wanita. Ketika ketua HONG HWA HWE berpaling, ternyata yang tampak disana jakni Ciu Ki dengan ayah-bundanya, serta Thian Hong. Yang ber suara tadi, pasti Ciu Ki karena menampak pemandangan yang ganyil itu, jalah adanya dua Tan Keh Lok kembar.
Lekas-lekas Keh Lok pura-pura tak melihat, terus melengos kearah sana. Ciu Ki dan kedua orang tuanya terkejut tapi tidaklah dengan Thian Hong yang Cepat-cepat dapat mengetahui maksud Congthocunya itu, maka dengan berbisik dia larang Calon isterinya itu memandang kearah ketuanya.
„Liok-heng, baru kita sating berkenalan, rasanya seperti sahabat lama. Mudahduaan kita dapat berjumpa lagi kelak, dan sampai disini biarlah kita berpisahan,” kembali Tang-hong Ni berkata.
Begitulah setelah sama-sama memberi hormat, keduanya saling berpisah. Tampak berpuluh Conghan baju biru itu meng awal Tang-hong Ni dari jauh. Pada saat itulah Keh Lok memberi isjarat dengan matanya kearah Thian Hong.
“Gihu, Congthocu memberi tugas padaku, harap gihu me ngawani adik Ki dan giboh (ibu angkat) dulu,” kata Thian Hong pada Tiong Ing.
Ciu Ki merasa kurang puas, tapi tak berani mengutara kan. Ternyata Thian Hong lantas mengikuti dari jauh rom bongan Conghan baju biru masuk kedalam kota.
Petang harinya, ketika pulang kerumah Ma Sian Kun, segera Thian Hong memberi laporan pada Tan Keh Lok bahwa orang she Tang-hong itu masuk kedalam gedung pembesar daerah. Lalu Keh Lok menCeritakan ten tang per temuannya dengan orang itu, dan menurut dugaan, orang she Tang-hong itu tentulah seorang pembesar yang berpang kat tinggi. Kalau bukan golongan menteri, tentu golongan pwelek (pengeran). Kalau menilik sikapnya, kebanyak-banyakan seorang menteri berkuasa tinggi, karena pengawalnya, terutama orang tua kurus itu, begitu lihai kepandaiannya.
“Apakah kedatangannya itu tak ada hubungannya dengan urusan sliko? Malam ini kubermaksud untuk menyelidiki sendiri,” kata Keh Lok kemudian.
„Baik, tapi sebaiknya ada lain saudara lagi yang mengawani thocu,” jawab Thian Hong.
“Tio-samko sajalah, karena dia orang Ciatkang, jadi faham keadaan kota ini,” kata Keh Lok.
Begitulah pada malam itu sekira jam dua, dengan berpa kaian ringkas, Tan Keh Lok dan Tio Pan San gunakan ilmu nya berjalan Cepat-cepat untuk menuju kegedung gebenuran.
Dengan tak mengeluarkan suara sedikitpun juga, kedua nya sudah berada diatas genteng.
„Sudah lama kudengar ilmu silat Thay Kek Pai itu lihai sekali dalam soal lwekang. Benar juga, ilmu mengentengi tubuh dari Tio-samko tadi memang sempurna sekali. Kelak kalau ada kesempatan, ingin aku meminta pengajaran darinya,” demikian diam-diam Keh Lok berpikir sendiri. ' Dibalik itu, diam-diam Tio Pan San pun taruh kekaguman pada ketuanya yang masih muda itu, pikirnya: “Ilmu silat dari Congthocu ternyata lihai sebagaimana dulu telah diunyuk kan ketika bertempur dengan Ciu-loenghiong di Thiat-tan-Chung. Kini ternyata ilmunya mengentengi tubuh pun luar biasa. Entah bagaimana selama ini Caranya Thian-ti-koay-hiap Wan Su Siau memberi pelajaran padanya.”
Dan dalam sekejab saja, keduanya sudah tiba dibagian atas ruangan besar gedung pembesar itu.
„Awas, disebelah muka ada orang!” tiba-tiba Keh Lok berbisik pada kawannya.
Cepat-cepat sekali Tio Pan San ikuti gerakan ketuanya untuk menelungkup kebawah. Benar juga ketika itu ada dua sosok bayangan berkelebat. Rupanya mereka itu sedang meronda. Begitu mereka sudah lewat. Tio Pan San timpukkan sebatang thi-lian-Ci kearah sebuah puhun besar. Mendengar diatas puhun itu ada sviara berkresekan, kedua peronda itu segera memburu untuk memeriksanya. Melihat kesempatan itu, Keh Lok berdua segera melunCur turun kebawah.
Sampai sekean saat, mereka sembunyikan diri disudut gedung. Setelah ternyata tak ada bahaja apa-apa, barulah keduanya berani menyenguk kedalam. Tapi apa yang disaksikannya, telah membuat kedua pemimpin HONG HWA HWE itu terkejut.
Kiranya rentetan obor yang terang benderang laksana siang hari itu, adalah barisan penyaga yang terdiri dari ratusan serdadu yang sama siap dengan busur, golok dan tombaknya, Rupanya penyagaan itu diatur kuat sekali. Beberapa buCiang (perwira) tampak mondar-mandir mengelilingi gedung itu. Tapi anehnya, sekean banyak-banyak tentara itu, satupun tak ada yang berani keluarkan suara. Sampai diwaktu berjalan saja, kaki mereka sama diinyakkan pelahan- sehingga hampir tak mengeluarkan suara. Karenanya, suasana disitupun ke dengarannya sunyidua saja. Hanya ada kalanya terdengar letikan buluh obor yang terbakar peCah.
Karena tak berdaya untuk menyelinap masuk, Tan Keh Lok memberi isjarat samko-nya untuk keluar dari situ untuk berunding ditempat yang sepi.
„Kita jangan 'keprak rumput membikin kaget sang ular', lebih baik pulang dulu untuk berunding,” kata Keh Lok.
Tapi baru saja keduanya akan loncat keatas rumah, tiba-tiba pintu gedung pembesar itu terbuka. Seorang bukoan (perwira) dengan diikuti oleh 4 orang serdadu tampak berjalan keluar. Mereka berjalan disepanyang jalan, dan kira-kira beberapa puluh tombak jauhnya, mereka tampak mendatangi kembali. Kiranya mereka itu tengah melakukan perondaan.
Melihat penyagaan yang begitu kuat, terkejut hati Tio Pan San. Pada lain saat, ketika kelima tentara itu ber jalan keluar, Keh Lok memberi isjarat dengan gerakan tangan. Pan San mengerti artinya, terus meloncat kemuka dan melepaskan tiga buah Chi-piauw (piauw dari mata uang). Segera ada tiga orang serdadu itu yang roboh. Keh Lokpun me nimpukkan dua buah biji Caturnya dan tepat mengenai jalan darah perwira tadi dan seorang serdadu yang lainnya. Tertim puk jalan darahnya, mereka tak dapat berteriak, tak dapat berkutik. Hanya mata mereka yang masih dapat menyaksikan bahwa ada dua bayangan loncat keatas tembok terus meng hilang masuk kedalam. Dan sebelum itu tak lupa Tan Keh Lok dan Tio Pan San menyeret kelima serdadu itu ketempat yang gelap, lalu mengambil pakaian dari dua orang serdadu dan terus dipakainya. Menanti setelah peronda diatas rumah itu lewat, barulah. keduanya loncat masuk kehalaman gedung dan terus masuk kedalam ruangan dalam. Disitu banyak-banyaklah serdadudua dan perwiraduanya yang berjalan pergi-datang, sudah tentu mereka tak dapat mengenali kedua serdadu tetiron itu.
Ternyata para pengawal yang menyaga diruangan dalam situ adalah perwiradua berpangkat tinggi, kalau bukan Cong-peng tentu hu-Ciang. Hanya saja jumlah mereka tak se banyak-banyak pengawal diluar ruangan. Begitu ada kesempatan, Tan Keh Lok dan Tio Pan San menyelinap kebalik tiang disudut ruangan, terus menggelandot keatas tiang penglari. Setelah menunggu lagi untuk beberapa saat, dengan menggaetkan sepasang kakinya pada tiang penglari, Tan Keh Lok ajunkan badannya kebawah, lalu membasahi kertas jendela dengan ludahnya dan mengintip kedalam. Tio Pan San tetap men jagai, apabila ada kemungkinan dipergoki.
Disebelah. dalam situ, ternyata adalah sebuah paseban besar, diatas paseban itu berdiri 5 atau enam orang yang menge nakan pakaian menteri kerajaan. Ditengahdua situ ada seorang yang duduk. Sayang karena duduknya membelakangi, jadi Keh Lok tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Hanya yang nyata, beberapa menteri itu bersikap menghormat sekali, mereka tak berani memandang kearah orang yang duduk itu. Pada saat itu kembali ada seorang pembesar datang menghadap terus berlutut menyalankan peradatan pada orang yang duduk itu.
Tan Keh Lok terkesiap, karena terang itulah. Cara penghormatan yang hanya dilakukan kepada hongte (kaisar).
Apakah kaisar benardua sudah datang ke HangCiu sini ? Tengah ia mendugadua, kedengaranlah pembesar itu berkata: “Hamba yang rendah An-jat-su Ciatkang, In Ciang Hay
datang menghadap bansweya (yang mulia).” „Ah, kiranya benardua adalah hongte, makanya penyagaan
begini kuatnya”, pikir Keh Lok. Orang yang duduk itu perdengarkan suara hidung, lalu
katanya pelan-pelan : “Hm, sungguh besar sekali nyalimu !” In Ciang Hay tersipu-sipumembuka topi kebesarannya, lalu menyuaradua ber-ulangdua dengan tak berani mengeluarkan ucapan apa-apa.
„Kukirim pasukan untuk menindas kekaCauan didaerah Hwe, kabarnya kau sangat menentang”, kata orang yang duduk itu beberapa saat kemudian.
„Ha, mengapa nada suara baginda itu seperti pernah ku dengar”, kembali Keh Lok merasa heran.
Sembari berlutut, sementara In Ciang Hay telah men jawab : „Hamba pantas menerima hukuman, hamba tak berani berbuat demikian”.
„Kuminta daerah Ciatkang sini mengirimkan sepuluh laksa gantang beras untuk ransum tentara itu, mengapa tak kau indahkan?” tanya orang itu pula.
„Hamba tak berani melanggar firman bansweeya itu. Hanya saja karena panen tahun ini kurang hasilnya, rakjat banyak-banyak yang menderita, jadi dalam waktu. sesingkat itu hamba belum dapat melaksanakan titah bansweeya itu”, sahut In Ciang Hay.
“Rakjat menderita ? Hm, kiranya kau ini seorang pembesar negeri yang menCintai rakjat,” jengek orang itu.
Kembali In Ciang Hay menyura beberapa kali. „Mohon bansweeya sudi memberi ampun,” demikian katanya ber-ulang-ulang.
„Kalau menurut pendapatmu bagaimana baiknya, ransum tidak Cukup, pada hal mereka sangat memerlukan sekali.
Apakah maksudmu biarkan saja tentaradua itu mati kelapar an didaerah Hwe sana?” tanya orang itu.
„Hamba tak berani mengatakan”, kata Ciang Hay dengan menyura pula.
“Mengapa tak berani? Ayo, kau bilanglah!”
„Bansweya adalah seorang junyungan yang sangat di patuhi rakjat, sedang daerah Hwe adalah daerah yang kecil lagi miskin. Kiranya tak perlu bansweya mengirim pasukan untuk menindasnya, Cukup dengan seorang menteri yang bijaksana tentu akan dapat mengarah hati mereka,” ujar pembesar itu.
Orang yang duduk itu kembali perdengarkan suara dari hidung, tanpa menyahut apa-apa.
“Ujar orang kuno: 'Tentara adalah alat yang bengis, orang bijaksana baru mau menggunakannya apabila betul-betul sudah terpaksa'. Apabila bansweya berkenan untuk menarik kembali pasukan itu, pasti rakjat akan merasa berbahagia,” kembali pembesar she In itu berdatang sembah.
“Jadi kalau aku tetap akan mengirim pasukan, rakjat tentu akan mendendam,” kata orang itu seraja tertawa dingin.
In Ciang Hay kembali menyura kelantai. Malah kali ini lebih keras dia tatapkan kepalanya kelantai, sehingga ke ningnya berdarah. Dengan tertawa bergelak sekali orang itu turun dari tempat duduknya dan menghampirinya. Katanya dengan tertawa: “Kiranya kau mempunyai batok kepala yang keras, sehingga berani membantah dihadapanku !”
Habis berkata begitu orang tersebut berbalik badan.
Kalau ada petir menyambar disiang hari, mungkin masih belum melebihi kekagetan Tan Keh Lok ketika itu. Baginda itu ternyata bukan lain ialah orang yang duduk ber-Cakapdua dengan dia dihutan Samtiok pagi tadi, si Tang-hong Ni atau kaisar Kian Liong yang sesungguhnya. Sekalipun Tan Keh Lok seorang yang tenang dart tabah, tak urung dia kucur kan keringat dingin juga.
„Sudahlah, kau pulanglah beristirahat dengan tenang!” tiba-tiba Kian Liong berseru.
Setelah menyura lagi beberapa kali, In Ciang Hay undur kan diri. Setelah itu tampak Kian Liong memberi isjarat dengan mata pada siorang tua (pengawalnya sewaktu di hutan Sam-tiok tadi pagi).
Siorang tua segera mengikuti dibelakang In Ciang Hay. Begitu berada diluar paseban, ditepuknya pundak siorang she In dan berkata padanya: “Baginda mengaruniai kau kematian, lekas berlutut menghaturkan terima kasih!”
Orang itu terkesiap sejenak, tapi pada lain saat ia tertawa seraja berkata: „Haha, nasehat yang berharga dianggap menusuk telinga, rakjat banyak-banyak dibiarkan menderita. Aku In Ciang Hay tidak merasa keCewa telah menunaikan kewa jiban, mengapa mesti jerikan kematian?”
Dengan tenang lalu ia berlutut menghadap kearah paseban besar, dan ketika siorang tua itu menghantamkan kepelan nya, tulangdua dipunggung pembesar yang berani itu segera patah dan seketika putuslah jiwanya. Siorang tua segera titahkan kawanan serdadu untuk mengangkut majat itu keluar.
Diatas wuwungan, Tan Keh Lok berdua dapat menyaksikan kejadian itu dengan jelas. Diam-diam timbul pikiran mereka, bahwa sedemikian itulah kejamnya kekuasaan seorang kaisar. Seorang menteri yang berani memberi nasehat tak menyetujui tindakannya lantas dihukum mati.
Siorang tua kembali masuk menghadap pada baginda seraja menghaturkan laporan: „In taijin tiba-tiba saja dise rang angin jahat, karena tak keburu diberi pertolongan, beliau keburu meninggal.”
Kian Liong meng-angguk-anggukkan kepalanya. „Mengapa begitu segar bugar nampaknya dapat meninggal dengan tiba-tiba . Sa yang ,” ujarnya.
Beberapa menteri yang hadir disitu sama ketakutan.
„Kalian boleh pulang semua, sepuluh laksa gantang beras harus selekasnya dikumpulkan dan dikirim,” kata Kian Liong.
Beberapa menteri itu tampak menyura beberapa kali, terus mengundurkan diri.
“Suruh Gong-ji kemari,” seru Kian Liong kemudian.
Seorang 'abdi-dalem' Cepat-cepat menuju keluar, dan tak beberapa lama kembali masuk dengan seorang pemuda. Tan Keh Lok segera mengenali bahwa anak muda itulah yang wajahnya mirip dengan dirinya.
Anak muda itu berdiri disamping Kian Liong, sikapnya biasa saja, tak seperti kawanan menteri yang begitu kaku karena ber-lebih-an hormatnya.
„Titahkan Li Khik Siu kemari,” kata Kian Liong pula.
Kembali hamba tadi keluar dengan membawa titah baginda. Habis itu seorang bu-Ciang (jenderal) kelihatan datang menghadap.
„Hamba yang rendah, Li Khik Siu, panglima HangCiu, mohon menghadap bansweya,” demikian pembesar itu.
“Kepala berandal Hong Hwa Hwe orang she Bun itu bagaimana?” tanya Kian Liong tiba-tiba .
Mendengar Kian Liong membicarakan soal Bun Thay Lay, segera Keh Lok mendengarkan dengan penuh perhatian.
„Dia menderita lukas parah, hamba sedang panggil sinshe untuk mengobatinya. Tunggu kalau dia sudah baik, .baru dapat' diperiksa,” sahut Li Khik Siu sementara itu.
„Harus hati-hati menyaganya,” pesan Kian Liong.
„Titah bansweya tentu hamba junyung,” jawab Khik Siu.
“Baik, kau pergilah,” kata Kian Liong achirnya.
Li Khik Siu lebih dulu menyura baru berjalan keluar.
„Samko, kita kuntit dia,” bisik Keh Lok pada Tio Pan San.
Dengan hati-hati keduanya melunCur turun, tapi baru saja kaki mereka menginyak lantai, tiba^ dari arah paseban terdengar seorang berteriak: „Ada penyahat !”
Tan Keh Lok dan Tio Pan San Cepat-cepat loncat keluar rua ngan dan menyusup kedalam rombongan serdadu penyaga. Tapi saat itu terdengar kentongan dipukul keras-kerasdan sua sana menjadi genting. Siorang tua kurus itu dengan diiringi tujuh atau delapan Conghan baju biru bersenjata lengkap, tampak melakukan peperiksaan dengan bengis.
Sepasang mata siorang tua itu ber-apidua berjilatan ke manadua. Sementara itu Keh Lok sudah mungkur dan dengan ber-indapdua menghampiri pintu.
„Kau siapa!” bentak siorang tua sembari ulurkan tangan untuk memegang pundak Pan San ketika sudah dekat. Tapi sekali bergerak Pan San kibaskan tangan orang terus menobros kearah pintu. Siorang tua memburu dan menghantam punggung Pan San. Ketika itu Tio Pan San sudah berada diambang pintu, dengar ada samberan angin, dia mendekkan badan. Dalam pada itu, ia sudah akan balas me nyerang. Tapi Keh Lok ketika itu sudah melepas baju sera gamnya, Cepat-cepat s merangkupkannya kekepala siorang tua.
Siorang tua Cepat-cepat ulurkan tangan menyawutnya. Begitulah ketika saling tarik terjadi, baju seragam itu kerowak menjadi dua. Sebat sekali Keh Lok timpukkan kerowakan baju di tangannya kearah orang. Selagi timpukan itu di sertai dengan tenaga khikang, kakinya terus melangkah keluar pintu.
Lihai adalah siorang tua, sembari menyawut timpukan orang, iapun sudah maju memburu. Tapi baru kakinya melangkah diambang pintu, sebuah tubuh orang melayang kedadanya. Kiranya itulah tubuh seorang serdadu yang telah kena dibekuk dan terus dilemparkan oleh Tio Pan San.
Lengan kiri orang itu Cukup sekali saja dikibaskan ke muka, tubuh serdadu itu terlempar kesamping, dan iapun tetap memburunya lagi. Begitulah dengan datangnya perintangdua itu, tahus mereka sudah keluar dari pintu gedung. Tampak pada saat itu dua tiga puluh si-wi (pengawal istanal ber-bondongdua memburu keluar. Maka berteriaklah siorang tua: „Yang penting, kalian harus lindungi baginda. Cukup 5 orang saja yang turut padaku !”
Habis menunyuk pada 5 orang si-wi, siorang tua gunakan ilmu berlari Cepat-cepat untuk lanyutkan pengejarannya. Sampai diluar jalan, tampak kedua orang buruannya itu lari diatas sepanyang atap rumah. Siorang tua juga enyot kakinya untuk loncat keatap genteng. Dalam sekejap saja, ber puluh rumah telah dilalui. Jaraknya makin dekat. Ketika siorang tua akan menegurnya, tiba-tiba dibawah sebuah rumah yang berada disebelah muka, terdengar bunyi suitan, seperti ada bantuan datang.
Siorang tua bernyali besar, dia tetap memburu maju. Kedua orang buronan itu tibas loncat turun dan merandek ditengah jalanan. Menyusul turun, tangan siorang tua men julur kearah Tan Keh Lok Tapi anak muda itu tak mau mundur atau menghindar, hanya tertawa keras-kerasseraja ber kata: „Aku adalah sahabat junyunganmu, kau orang tua ini mengapa berani berlaku kurang adat?”
Ketika diantara Cahaja rembulan dilihat wajah Tan Keh Lok, kagetlah siorang tua, terus menarik pulang tangannya.
„Kau ternyata bukan manusia baik, ikutlah aku menghadap baginda!” katanya kemudian.
„Tapi apakah kau berani mengikuti aku,” kata Keh Lok dengan masih tertawa.
Siorang tua merenung sejenak. Tiba-tiba Sim Hi munCul dari samping, terus menuding siorang tua dan mendampratnya: “Kau situa bangka yang masih temaha hidup ini, kali ini kau kira akan dapat me nangkap aku? Kongcuku karena memandang muka tuanmu, maka tak mau ladeni kau. Dan aku, juga karena memandang muka kongcu, pun terpaksa mengalah padamu. Mengapa kau begitu tak tahu diri berani mengejar kemari?”
Kemarahan siorang tua itu diunyuk dengan mulutnya yang menggerung dan tangannya yang seCepat-cepat kilat menya wut lengan Sim Hi yang kanan itu. Sehingga pada saat itu Sim Hi rasakan lengannya serasa dijepit dengan jepitan besi, sakit dan panas bukan buatan, sehingga dia tak dapat berkutik.
Melihat itu Keh Lok dan Pan San berbareng menyerang.
Cepat-cepat siorang tua lemparkan sikaCung untuk menyambut serangan kedua orang itu. Diatas udara. Sim Hi berjum palitan dan inyakkan kakinya ketanah dengan pelahans. Tak berani dia umbar suara lagi, habis bersuit, terus berlalu.
Pada saat itu kelima si-wi tadipun sudah datang pula. Tan Keh Lok dan Tio Pan San mundur kearah barat. Diarah muka sana terus menerus terdengar suara suitan.
„Buru terus!” demikian siorang tua keluarkan perintah dengan garang.
Jadi kini yang diburu ialah Tan Keh Lok bertiga dengan Tio Pan San dan Sim Hi sedang yang memburu siorang tua dengan kelima si-wi, Mereka berlarian menuju kearah telaga
Se-ouw. Tepi telaga itu adalah tempat perkemahan tentara yang mengawal Kian Liong. Jadi kalau Tan Keh Lok ber tiga lari kearah sana itulah bagus, seperti ikan masuk ke jaring, demeikian pikir siorang tua.
Tapi begitu sampai ketepl telaga, Keh Lok bertiga segera loncat kesebuah perahu kecil, perahu mana terus bertolak. Melihat ada sebuah perahu lain ditepi itu, Cepat-cepat siorang tua dan kelima si-wi itu loncat keatasnya. Tampak pada buritan perahu ada seorang wanita, yang memakai kerudung kepala warna hijau. Pakaiannya yang sederhana itu tambah menambah keelokan tubuhnya.
„Lekas mendajung, kejarlah perahu dimuka itu, nanti diberi persen besar”, kata siorang tua.
„Sungguh ? Masa tengah malam buta begini, mau pesiar ketelaga ? Majikan kita sedang mendarat, maukah tuandua menunggunya sebentar ?” kata perempuan itu dengan tertawa.
Salah seorang si-wi menjadi tak sabaran. Sekali babat, putuslah tali penambat perahu itu. Sedang seorang kawan nya, gunakan tombak untuk mendajungkannya. Perahu itu segera mula; melunCur ketengah.
„Ai, selama ini belum pernah ada pelanCong yang se wenanga tak tahu aturan seperti ini”, kata siperempuan tertawa.
Siorang tua tak mau menghiraukannya, terus perintahkan mendajung dengan Cepat-cepat . Siwanita terpaksa bantu mendajung. Tampak perahu yang diburu itu melunCur kebawah terowongan jembatan Su-thi-kio. Salah seorang si-wi ambil sebilah papan untuk bantu mendajung.
Ketika kedua perahu itu hampir merapat, tiba-tiba dari rum pun bungadua terate yang dinaungi oleh bayangan puhundua itu, munCullah 5 buah perahu. Yang ditengahdua merupakan perahu besar, lajarnya dari kain hijau, merupakan perahu pesiar ja,ng mewah buatannya. Begitu terdengar suitan, Tan Keh Lok sudah ajun tubuhnya keatas perahu pesiar itu. Sim Hi pun mengikuti dan mengambil sebuah pakaian jubah warna putih, lalu diberikan pada tuannya.
Kini tampak ketua dari H.H.H, itu berdiri diatas haluan, tangannya memegang sebuah kipas. Bajunya bergontaian dimain embusan angin, dan dengan dongakkan kepala me mandang rembulan, tampak dia betul-betul mirip dengan seorang pertapa sakti.
Tak lama pula, perahu siorang tua pun tiba, setelah suruh memberhentikan mendajung, maka berserulah ia dengan lantangnya: „Hai, sahabat, siapakah sebenarnya kau ini, harap memberitahukan.”
Dari tengahdua badan kapal Sim Hi keluar, serunya: “Kong Cuku telah memberitahukan namanya pada tuanmu! Aku ini adalah kaCungnya, tak ber-she tak bernama. Kongcu biasa menyebut 'Sim Hi' padaku. Dan siapa pula namamu, Coba sebutkanlah. Kongcuku adalah sahabat dari tuanmu. Kita yang menjadi orang sebawahannya ini, baik juga sekiranya untuk berkenalan.”
Kecil usianya, tapi kaCung itu pandai mengili hati orang. Saking marahnya, sepasang alis siorang tua itu terangkat naik, lalu mendamprat: “Setan Cilik, jangan ngaCo giladuaan!”
Adalah Tio Pan San yang berdiri dilain perahu segera berseru: “Aku yang rendah ini, adalah Tio Pan San dari Un-Ciu. Adakah saudara ini dari golongan Ko Yang Pai?”
„Ah, kiranya sahabat ini adalah yang dijuluki orang kangouw sebagai Cian-pi-ji-lay Tio-tangkeh itu?” kata siorang tua.
„Ah, sebenarnya itu hanyalah gelaran kosong dari sahabatdua kangouw yang suka bersendau gurau. Sebenarnya aku merasa malu pada diri sendiri. Dan mohon tanya, siapakah nama saudara yang mulia?” kata Pan San.
„Aku yang rendah orang she Pek nama Cin...............”
Mendengar kata-kata itu, Tan Keh Lok dan Tio Pan San sama terkesiap. Pek Cin yang berjuluk „Kim-jiau-thi-kau” atau Cakar emas dan kaitan besi, adalah tokoh terkemuka dari Cabang Ko Yang Pai. Kira-kira tiga 0 tahun yang lalu, ilmunya “eng-jiao-kang” telah menggetarkan dunia persilatan. Sudah lama benar dia menghilang, kini tahu-tahu dia menjadi peng awal peribadi dari baginda Kian Liong.
Buru-buru Tio Pan San rangkapkan kedua tangannya memberi hormat, katanya ;
„Oh, kiranya 'Kim-jiau-thi-kau' Pek-locianpwe, maka tak heranlah kalau bugenya begitu lihai. Pek locianpwe begitu memerlukan sekali untuk mengunyungi kami, entah akan memberi pengajaran apa?” tanya Tio Pan San dengan me rangkap kedua tangannya.
„Kudengar saudara Tio adalah sam-tangkeh dari HONG HWA HWE, dan siapa saudara yang satunya itu?” tanya Pek Cin. Setelah merenung sejenak, tiba-tiba dia berkata pula: „Aha, apakah bukan siaothocu Tan kongcu?”
Tio Pan San menyawab pertanyaan itu dengan bertanya: “Apakah yang locianpwe inginkan?”......
Tan Keh Lok mengebut kipasnya, kemudian ia ikut berkata dengan lantang: “Rembulan terang, angin tenang. Malam yang sedemikian indahnya, maukah Pek-locianpwe ber-sama-sama menikmati arak?”
„Kau tengah malam ! telah menyelundup kegedung pem besar, sehingga membikin gaduh. Sebaiknya kau suka turut aku menghadap pada junyunganku, agar tak menyusahkan diriku. Junyunganku inemperlakukan kau dengan baik, dirasa tentu takkan meiCusahkan dirimu,” “sahut Pek Cin.
Tertawa Tan Keh Lok. “Junyunganmu itu bukan orang sembarangan. Kau sampaikanlah padanya, bahwa bunga kwi-hoa tengah menyebarkan baunya yang harum ditelaga, sedang rembulan pun tengah bersemarak dengan gilangnya. Apabila ada kegembiraan, sukalah berkunyung kemari untuk mengobrol dan menikmati arak. Aku menantikannya disini,” sahutnya kemudian.
Hati Pek Cin menjadi serba susah. Dia menyaksikan sendiri bagaimana raja telah memperlakukan orang itu begitu manisnya, apabila sampai berbuat kesalahan padanya, ada. kemungkinan raja akan menyesalinya. Tapi karena orang itu berani menyelundup ketempat persidangan baginda, maka bagaimana akibatnya kalau tak ditangkap? Beberapa saat ia me-nimangdua itu, tiba-tiba ia mendapat pikiran : bahwa karena yang menyelundup itu dua orang, maka kalau seki ranya tak leluasa menangkap yang seorang, yang lainnya (Tio Pan San) akan bisa ditangkap tentunya.
SeCepat-cepat memikir, seCepat-cepat itu pula dia enyot tubuhnya loncat keatas perahu Tio Pan San. Belum orangnya datang, Cengkeraman tangannya sudah menyulur. Sepuluh jarinya bagaikan besi kerasnya, berbareng merangkum muka dan dada Tio Pan San.
Melihat itu, Cepat-cepat Pan San empos semangatnya dan tetap tenang saja. Begitu Cengkeraman orang hampir tiba, dengan tangan kanan „im Ciang” dan tangan kiri „yang Ciang,” dalam gerakan „hun Chiu,” dia kibaskan kedua Cengkeraman besi itu dengan tipu “ji-liong-jut-hai” atau dua naga keluar dari lautan.
Berpuluh tahun Tio Pan San telah mejakinkan ilmu si lat Thay Kek Kun. Dia adalah achli lwekang Thay Kek Pai dari golongan selatan. Gerakannya telah menCapai kesem purnaan pada tingkat yang tiada taranya.
Ketika Cengkeramannya tak menemui sasaran, Pek Cin rasakan lengannya terdorong oleh kekuatan yang maha kuat, Cepat-cepat a dia kerahkan khl-kang untuk bertahan.
Berbicara tentang ilmu Iwe-kang, sebenarnya kedua orang itu sama-sama telah menCapai kesempurnaan. Hanya saja posisi mereka yang berlainan. Pek Cin turun melayang dari atas, jadi tak punya landasan untuk Cari kekuatan. Tio Pan San menginyak diburitan perahu. Sambil mendo rong, kakinya tetap berpijak kuatdua.
Tiba-tiba Pek Cin merobah gerakannya dengan Cepat-cepat . Sebe lum lawan kumpulkan seluruh tenaganya, tangannya kiri di kibaskan keatas, sedang tangannya kanan kembali membe rosot untuk menCengkeram dada lawan. Kalau berhasil, dada musuh. pasti akan robek dibuatnya.
Pan Sanpun dengan sebatnya melindungi dadanya dengan kedua tangannya. Habis itu, seCepat-cepat kilat tangannya kanan ditebaskan kebawah sedang tangannya kiri diangkat memo tong keatas. Jadi kanan kiri tubuh Pek Cin seperti dika Cip. Itulah yang disebut gerakan “ya-ma-hun-Cong” atau kuda liar mengibar suri. Sambil menolak serangan, terus balas menyerang.
Adalah maksud dari serangan Pek Cin tadi, supaya musuh mundur setindak, agar dia dapat menginyak lantai perahu. Tapi ternyata Pan San dari mundur sebaliknya tetap berdiri
ditempatnya. Sehingga kini Pek Cin teranCam bahaja keCebur disungai. Dia menjadi nekad, terus menyambar maju.
Tapi Pan San tetap membandel, malah dengan gerakan “maju memindah palang,” dia maju menghantam. Pek Cin egoskan kepala, sembari menyawut lengan orang. Melihat itu, Pan San susuli dengan sebuah hantaman kemuka lawan, tapi lawanpun juga bertindak sama. Jadi dua buah tinyu saling berhantam. “Brakk!” Akibatnya, kedua orang itu » sama-sama terpental kebelakang sampai beberapa tindak.
Tio Pan San terpental jatuh tepat diatas buritan. Cio Su Kin yang menjadi juru dajung dihaluan perahu, Buru-buru menghampiri untuk menolong. Tapi ternyata Pan San sudah Cepat-cepat berdiri pula.
Sebaliknya, bagi Pek Cin karena dibelakangnya adalah telaga tentulah ia akan keCebur masuk air, diam-diam ia sudah mengeluh, Syukurlah baginya dengan Cepat-cepat seorang si-wi melempar sebilah papan kemuka air dan dengan papan itulah Pek Cin dapat enyot tubuhnya loncat masuk kembali ke dalam perahunya.
Dalam dua tiga gebrak, nyatalah kekuatan kedua jago itu berimbang. Bagi Pek Cin, dia gagal untuk menginyak kan kakinya kelantai buritan. Sekalipun dia dapat membuat lawan terhujungdua, tapi ia juga hampir keCebur ditelaga. Jadi boleh dikata seri alias sama kuat.
„Bagus, bugemu Cukup lihai. Sekarang pulanglah berita hukan pada tuanmu, bahwa kutunggu dia disini untuk meng gadangi dewi malam,” seru Tan Keh Lok dengan suara lantang.
Pek Cin malu terCampur marah. Tapi karena kelima perahu itu penuh dengan orang-orang yang lihai, sedang fihaknya hanya 5 orang, maka ia dapat melihat gelagat. Lebih baik mundur teratur untuk menyusun kekuatan. Lalu diperintah kannya siperempuan tukang perahu mendajung pulang.
“Rembulan sedang gemilang, mengapa tuandua kesusu pulang? Mengapa tak mau ber-main-main dulu?” tertawa si f perempuan tukang perahu.
“Ceriwis! Kau tak tahu kita sedang melakukan tugas negara!” bentak Pek Cin,
„Aha, masa menyalankan tugas negara pergi ketelaga, penghuni telaga tentu geli dibuatnya,” demikian sahut pe rempuan itu pula. „Baiklah, ongkos persewaannya satu tail perak. Bajar dahulu, baru kubawa kau pulang!”
Karena menguber orang, sudah tentu kelima orang itu tak membawa uang, hingga mereka terkesiap sejenak.
„Masa tuan besarnya naik perahu saja diharuskan mem beri uang? Kita tak minta uangmu saja, itu kau sudah harus berSyukur. Ayo, lekas dajung,” hardik seorang si-wi dengan marahnya.
Namun wanita tukang perahu itu malah lepaskan dajung-nya, dengan berdiri bertolak pinggang, dia tertawa dan menyawab: „Ha, sekalipun kau ini kaisar sendiri juga harus membajar !”
Melihat sikap luar biasa dari perempuan itu, Pek Cin Curiga dan akan menegurnya. Tapi salah seorang si-wi telah mendahului ulurkan tangannya untuk menyeret kaki siperem puan, seraja tertawa.
Cepat-cepat perempuan itu mundur selangkah. Tapi si-wi itu terus menyulurkan tangannya lebih panyang .
„Lo Hoan, awas!” tiba-tiba Pek Cin berseru.
Belum habis peringatan itu diuCapkan, badan perahu menjadi miring, dan si-wi itu terhujungs separoh tubuhnya meng gelandot kesamping perahu, karena itu, Cukup sekali kaki kiri perempuan itu didupakkan pelan-pelan keatas punggungnya, maka menyeritlah si-wi itu disusul dengan suara keCem plungnya sang tubuh kedalam air.
Sebat kepalan Pek Cin melayang kemuka siperempuan, namun tukang perahu perempuan itu Cepat-cepat pula mengangkat gajuhnya. Brekk..................
Untuk kekagetan situkang perahu, dajungnya telah patah. SeCepat-cepat kilat ia buang dirinya kebelakang terjun kedalam telaga. Tapi pada lain saat, perahu ber-goyang dua dan berputar dengan keras sekali, se-olah.dua akan terbalik. Tentu itulah perbuatan perempuan tukang perahu tadi.
Pek Cin dan Kawan-kawan nya si-wi adalah orang utara, mereka tak mengerti ilmu berenang. Sudah tentu mereka kaget bukan kepalang.
„Orang-orang itu adalah orang-orang sebawahan dari sahabatku, biarkan mereka pulang!” tibas Keh Lok berseru nyaring.
Cio Su Kin loncat kedalam air. Bagaikan ikan dujung, dia melunCur kearah si-wi yang keCebur tadi. Dijambaknya rambut orang, setelah dilemparkan keatas satu kali, barulah si-wi itu dilontarkan kedalam perahu. Pek Cin tersipu-sipumenyang gapinya, tapi tak urung iapun turut basah kujup. Dalam pada itu, ia diam-diam terkejut menampak kekuatan luar biasa yang diunyukkan Cio Su Kin tadi.
Pada saat itu, perahu itu tampak tenang kembali. Sedang siperempuan tadipun tampak munCul keatas sambil tertawadua bertepuk tangan. Habis itu dia berenang bersama Cio Su Kin kearah lima buah perahul tadi. Kiranya perempuan tukang perahu itu, bukan lain ialah Lou Ping adanya.
Apa boleh buat, Pek Cin dan kelima si-wi itu mendajung nya sendiri. Tanpa ajal lagi, mereka laporkan kejadian itu pada junyungannya. Tapi soal mereka di “lelapkan” dalam air oleh Lou Ping itu tak dilaporkan.
„Kalau memang dia bersungguh hati mengundang, tak apalah, kau kasih tahu padanya sebentar aku akan kesana,” kata Kian Liong.
“Mereka adalah kawanan 'batu', sedang baginda adalah seumpama emas, hamba kira tak usahlah baginda hiraukan mereka,” kata Pek Cin.
“Lekas jalankan perintah!” seru Kian Liong tegas.
Pek Cin tak berani banyak-banyak omong lagi,. terus Cemplak kudanya ketelaga Se-ouw. Disana Cio Su Kin tengah ber peluk lutut, seperti sedang menanti beritanya.
“Bilanglah pada siauthocumu, junyungan kami terima undangannya!” seru Pek Cin.
Dalam perjalanan pulang, Pek Cin telah berpapasan dengan pasukan gi-lim-kun (pasukan pengawal raja) dan pasukan pemanah tengah berjalan menuju ketelaga. Me nyusul tampaklah pasukan tentara di HangCiu, dan Cui-su (pasukan air, angkatan laut jaman itu).
„Entah bagaimana pandangan baginda terhadap anak muda itu. Hanya karena hendak menemani minum arak, baginda telah bawa pasukannya lengkapdua” pikir Pek Cin heran.
Cepat-cepat dia pulang lalu atur rombongan si-wi yang bertugas melindungi kaisar. Nampaknya Kian Liong bersikap gembira sekali.
„Apa sudah siap semua,” tanya Kian Liong kepada Li Khik Siu yang sementara itu mendampingi juga.
Kian Liong ganti berpakaian seperti rakjat biasa, begitu pula pasukan 'gi-lim-kun' disuruhnya ganti pakaian. Dia Campurkan diri pada rombongan si-wi. Dengan berkuda mereka berangkat ketepi telaga.
Tapi. belum jauh mereka berangkat, tiba-tiba seorang perwira datang melapor kepada Li Khik Siu: “Perahu pesiar ditelaga Se-ouw tiada satupun dapat disewa, semua alat pengang kutan air itu berlabuh di-tengah-tengah telaga, sudah kita perintah kan mereka menepi, tapi mereka anggap sepi saja.”
„Goblok,” damperat Li Khik Siu gusar, “kenapa suatu perahu saja tak dapat disewa, masakan mereka berani memberontak ? “
Perwira itu tak berani membantah melainkan mengia saja. Tak lama kemudian, rombongan merekapun tiba ditepi telaga.
“Mungkin mereka sudah tahu siapa aku, namun kita tetan. puras berlaku seperti rakjat biasa saja,” demikian pesan Kian Liong.
Sementara itu disekitar telaga itu sudah penuh tersem bunyi pasukandua Gi-lim-kun, batalion pemanah serta pasukan kepercayaan Li Khik Siu sendiri, mereka mengurung rapatdua seluruh Se-ouw itu ber-lapisdua, hanya saja ditepi telaga tetap tiada sebuah kapalpun.
Dan selagi Li Khik Siu merasa gopoh, tiba-tiba terdengar gemeriCiknya suara air, didahului ber-kelipduanya sinar pelita, dari depan sana terlihat didajung datang lima buah perahu pesiar. Perahu yang paling tengah berdiri seorang tinggi kekar, lagaknya gagah dengan berbaju panyang dari sutera.
Ketika perahu itu sudah dekat menepi, orang itu telah berteriak: „Aku diperintah oleh Liok-kongcu untuk men jemput dengan hormat kedatangan Tang-hong siansing untuk menikmati keindahan rembulan di tengah telaga!”
Habis berkata segera orangnya melompat ke-gilidua terus mem beri hormat pada Kian Liong.
Karena itu Kian Liong pun membalas hormat orang, katanya: „Terima kasih, dan siapakah she saudara?”
„Aku yang rendah she Wi,” sahut orang itu. Nyata ialah Kiu-beng-kim-pa-Cu Wi Jun Hwa, simaCam belang ber nyawa sembilan.
Segera Kian Liong melangkah keatas perahu itu diikuti oleh Li Khik Siu, Pek Cin serta tiga 0-40 pengawal lain yang terbagi naik diatas beberapa perahu itu. Diantara pengawaldua itu ada belasan orang yang mahir berenang, maka Pek Cin menyuruh mereka harus berlaku waspada untuk melindungi keselatan Sri Baginda.
Begitulah kelima perahu itu lantas didajung ketengah telaga, tiba-tiba ditengahdua telaga itu tertampak sinar pelita terang benderang, seluruh perahu yang berkumpul ditengah telaga itu telah menyalakan lampu semua hingga seketika keadaan yang tadinya gelap suram itu seketika menjadi penuh sinar pelita yang ber-kelipdua bagai bintang-bintang memenuhi langit.
Apabila lebih dekat lagi perahu mereka, sajupdua terdengar pula suara suling disertai alat tetabuhan lain yang meraju merdu merasuk sukma.
Pada saat itu, tiba-tiba suatu perahu lain bagai terbang melunCur datang, didepan perahu itu seorang telah berteriak: “Apakah Tang-hong siansing sudah datang? Liok-kongcu sudah lama menunggu !”
“Sudah, sudah datang!” sahut Wi Jun Hwa keras-keras.
Segera pula perahu itu memutar sebagai penunyuk jalan, sementara itu kapaldua lain yang tadinya berhimpun di-tengah-tengah sana pelahandua pun sudah merapat kemari.
Melihat begitu hebat lagak pihak lawan, Pek Cin dan pengawaldua lain mau-tak-mau rada terkejut juga, diam-diam mereka meraba senjata yang mereka sembunyikan didalam baju.
Sementara itu terdengarlah suara Tan Keh Lok telah ber seru diujung kapal yang ditumpanginya itu, katanya: “Wah, Tang-hong siansing benardua sangat periang, marilah lekas kemari !”
Dan begitu kedua kapal sudah merapat, segera Kian Liong, Li Khik Siu, Pek Cin dan beberapa jago pengawal pilihan lantas menyeberang kekapal Tan Keh Lok yang lebih besar itu. Ketika melihat didalam kapal itu hanya terdapat Keh Lok sendiri bersama kaCungnya, Sim Hi, barulah hati Pek Cin dan Kawan-kawan nya rada lega.
Kapal yang ditumpangi Keh Lok itu ternyata terpadyang sangat indah, pada dindingduanya banyak-banyak tergantung piguradua lukisan, ditengah kapal sudah siap sedia daharan komplit dengan arak yang baunya sudah teruar semerbak.
„Betapa beruntung rasanya saudara telah sudi menerima undanganku ini,” demikian lantas Keh Lok buka suara.
„Saudara mengundang, mana berani aku tidak datang,” sahut Kian Liong.
Habis itu keduanya saling menyabat tangan dan tertawa gembira, lalu mereka ambil tempat duduk yang berhadapan. Sedang Li Khik Siu dan Pek Cin cs. berdiri dibelakang Kian Liong.
Melihat Pek Cin, Keh Lok tersenyum tanpa bicara, saat lain, sekilas dapat dilihatnya pula dibelakang Kian Liong berdiri seorang pemuda tampan, ia menjadi terkejut, bu kankah dia ini muridnya Liok Hwi Ching? Kenapa kini berada bersama diantara pembesardua pemerintah, inilah sangat aneh !
Oleh karena heran, tanpa merasa Keh Lok lebih banyak-banyak memandang sekejap pada orang, namun Li Wan Ci telah bersenyum sembari kedipi matanya dengan maksud agar jangan menyapanya.
Kemudian Sim Hi telah maju menuang arak. Kuatir kalau Kian Liong Curiga, Keh Lok mengeringkan dulu isi Cawan sendiri dan menyumpit pula daharan yang sudah tersedia itu. Karena itu, Kian Liong hanya memilih makanan yang telah diiCipi Keh Lok saja dan menyumpitnya beberapa kali, lalu iapun berhenti tidak makan lebih banyak-banyak.
Tatkala itu terdengarlah diperahu sebelah suara seruling berbunyi pula, lagu yang dibawakan itu ternyata adalah lagu “khing-ka-pin” atau menyambut tamu agung.
„Saudara sungguh seorang hebat, dalam tempo sesingkat ini ternyata bisa mengatur sedemikian lengkapnya,” ujar Kian Liong tertawa.
„Ja, ada arak harus pula ada nyanyian, karena mendengar suara Giok-ju-ih ada suara emas ditempat ini, maka senga ja diundangnya untuk menemani peminuman arak ini,” sahut Keh Lok.
Dalam gembiranya Kian Liong menepuk tangan memuji, habis itu ia berpaling menanya Li Khik Siu: “MaCam apakah orangnya Giok-ju-ih itu?”
“Itulah nama bunga raja ternama dikota HangCiu ini,” kata Khik Siu. „Kabarnya wataknya sombong dan suka ber-lagak, kalau ia tidak suka, sekalipun disediakan beribu tail emas jangan harap bisa melihat wajahnya sekejappun, jangan lagi bilang suruh dia menyanyi dan menemani minum.
(page cut)
Sedang berbicara, sementara itu Wi Jun Hwa sudah mendampingi Giok-ju-ih datang dari perahu disebelah itu.
Kian Liong melihat bunga raja yang tersohor itu berwa jah putih berminyak, bangun tubuhnya kecil mungil, rupa nya ternyata tidak begitu Cantik.
Sementara Giok-ju-ih telah maju memberi hormat dulu pada Tan Keh Lok sembari berkata dengan suaranya yang merdu : „Sungguh riang sekali Kongcu harini tampaknya!”
„Inilah Tang-hong loya,” segera Keh Lok memperkenakan sambil menunyuk Kian Liong.
Karena itu Giok-ju-ih berpaling memberi hormat pada kaisar itu, lalu menggelendot berduduk disamping Keh Lok.
„Menurut kata Wi-koko, katanya nyanyianmu sangat merdu, dapatkah kau memuaskan pendengaran kami?” kata Keh Lok pula.
„Tentu saja, jika Liok-kongcu ingin mendengar, sekali pun aku menyanyi tiga-hari-tiga-malam juga bersedia, hanya kuatir kalau kau yang bosen saja,” sahut Giok-ju-ih tertawa.
Sementara itu ada pelajan telah membawakan 'pi-peh', dengan pelahan senar tetabuhan itu dipentil, lalu menyanyi lah Giok-ju-ih membawakan suatu lagu popiler tentang “pura-pura tidak mau, belum dipanggil sudah mau” dan lain-lain segala.
Mendengar suara orang memang nyaring m«rdu meraju kalbu, segera Keh Lok menepuk tangan bersorak bagus, begitu pula Kian Liong tanpa merasa terkesima juga.
Habis satu lagu, Giok-ju-ih tertawa manis dengan dua dekiknya dipipi, ia berpaling memandangi Tan Keh Lok, lalu menyanyi pula :
(page cut)
“Mau pukul boleh pukullah!” mendadak Kian Liong ber teriak tak tahan, rupanya ia menjadi lupa daratan.
Karena itu, Keh Lok ketawa ter-bahakdua. Begitu pula Li Wan Ci menjadi geli sambil tekap mulutnya, hanya Li Khik ¦ Siu dan Pek Cin cs. yang terus tarik muka tak berani meng unyuk tertawa sedikitpun.
Sebenarnya Giok-ju-ih tidak tertawa, tapi bila menampak wajah beberapa pengawal yang serba salah itu, tak tertahan ia tertawa geli juga.
Kian Liong yang selamanya hidup didalam istana terpenCil, meski didalam istana tidak sedikit selir dan penyanyidua, tapi kesemuanya serasa kaku lugu, tiada aksi, tak pandai memi kat, mana bisa dibandingkan Giok-ju-ih, seorang bunga raja tersohor didaerah Kanglam ini, karuan seketika Kian Liong terpesona oleh lirikan mata yang menggiurkan dan suara nyanyian merdu yang meng-alundua, ditambah wangi bunga
yang sajupdua semerbak ditengah telaga itu, kaisar yang ber tachta itu lambat laun lupa daratan, tak teringat lagi olehnya bahwa ia lagi bertemu dengan seorang tokoh besar dari kalangan kangouw.
Kemudian Giok-ju-ih yang menuangkan arak lagi untuk Kian Liong dan Tan Keh Lok yang masing-masing kembali menge ringkan tiga Cawan pula, Giok-ju-ih sendiripun mengiringi seCawan.
Tiba-tiba Kian Liong menanggalkan sebuah mainannya yang terbuat dari batu giok dan dihadiahkan pada seniman itu dan katanya: “Coba menyanyilah suatu lagu lagi.”
Giok-ju-ih menghaturkan terima kasih dan menurut, se belum angkat suara ia telah panyang sekejap kearah Wi Jun Hwa, habis itu barulah ia membawakan pula suatu lagu yang ternyata berlainan daripada lagua yang duluan, lagu ini bersajakkan rindu kekasih yang telah ditinggal pergi, suaranya begitu ulem dan begitu memilukan, sampai achirnya. Giok-ju-ih benardua menCuCurkan air mata.
„Kemanakah kekasihmu itu telah pergi?” tanya Kian Liong kemudian sambil tertawa kelakar.
Siapa duga Giok-ju-ih benardua menyawab: „Ia telah di paksa pergi perang dengan rakjat Hwe oleh Hongte (kaisar).”
„Lakidua sejati memangnya harus mendirikan pahala untuk negara barulah bisa beruntung untuk hari depan, hal itu harus dibuat girang, kenapa malah dibuat berduka,” kata Kian Liong pula tertawa tawar.
“Ai, ai, kalau mereka bangsanya panglima atau jenderal, makin perang makin naik pangkat dan kaja mendadak, tapi rakjat jelata yang dipaksa pergi perang itu kalau bisa se lamat pulang kerumah sudah harus berterima kasih pada Tuhan Allah, mana berani bilang mendirikan pahala segala, tuan ini benardua pandai berkelakar,” demikian sahut Giok-ju-ih.
Karena debatan itu, seketika Kian Liong menjadi bung kam malah.
Segera juga Li Khik Siu telah membentak: “Jangan.kau tak kenal gelagat berahi ngaCo-belo !”
„Baiklah, hamba yang ngaCo-belo, harap tuan jangan
gusar,” kata Giok-ju-ih sambil berbangkit dan memberi hormat.
„Siapakah namanya kekasihmu itu? Kenapa bisa dipaksa berperang kedaerah Hwe?” tanya Keh Lok tiba-tiba .
„Sebenarnya ia termasuk juga kaka-misanku,” sahut Giok-ju-ih, „ia bernama Jiau Siu, sejak kecil kami ber dua selamanya memain bersama, belakangan ayah menyo dohkan dia padaku dengan harapan kelak ia bisa hidup aman dan tenteram, siapa tahu mendadak Hongte mau serang daerah Hwe dan secara paksa ia telah diangkut pergi. Di tempat sejauh beribu li yang penuh es dan salju itu, selama hidup ini teranglah dia takkan bisa pulang lagi.”
Mendengar Cerita yang Cukup memilukan itu, Keh Lok terharu juga, ia berpaling dan berkata pada Kian Liong: „Ja, bangsa Hwe tinggal ditempat sejauh itu, pula tiada salah apa-apa, kenapa pemerintah telah kerahkan tentara meng gempurnya tanpa menghiraukan kesengsaraan rakjat, se sungguhnya ini tidak menguntungkan rakjat umumnya.”
Kian Liong menyengek sekali dan tanpa menyawabnya.
Kemudian mereka berdua saling mengeringkan lagi beberapa Cawan, harum bunga ditengah telaga itu semakin se merbak mewangi.
„Aku ada seorang saudara angkat, ia bisa meniup suling dengan sangat bagus, sayang kini tiada disini, sungguh aku menjadi sangat merindukan dia,” kata Keh Lok tiba-tiba .
Mendengar itu, bibir Wan Ci tiba-tiba bergerak seperti hendak buka suara, Cuma dapat ditahannya lagi.
„Saudara jauh-jauh datang ke Kanglam sini dari daerah Hwe katanya untuk keperluan kawan, apakah soalnya justru karena saudara angkat itu?” tanya Kian Liong.
„Bukan, tapi saudara tukang suling ini justru datang bersama aku hendak menolong seorang kawan yang lain, Cuma sayang tidak berhasil,” sahut Keh Lok.
„Entah kawanmu itu berdosa apakah?” tanya Kian Liong pula.
„Ja, kawanku itu entah berdosa apakah hingga ditawan oleh pemerintah, hal ini sungguh bikin orang tak mengarti,” kata Keh Lok.
„Siapakah nama kawanmu itu?” tanya Kian Liong.
„Ia she Bun bernama Thay Lay, orang kangouw menyu lukinya Pan-lui-jiu,” sahut Keh Lok.
Begitu mendengar kata-kata ini, seketika Kian Liong dan Li Khik Siu berobah wajahnya. Mereka sudah tahu juga bahwa Keh Lok adalah pemimpin Hong Hwa Hwe, tapi sekalidua tak mereka duga orang berani terangduaan mengungkat soal Bun Thay Lay.
Saat itu juga Pek Cin mengedipi Kawan-kawan pengawalnya agar siap sedia, tampaknya pertarungan sengit tak dapat diCegah lagi, maka para Si-wi atau jago pengawal itu telah memegangi senjata masing-masing yang disembunyikan didalam baju.
Namun kesemuanya itu dapat dilihat oleh Tan Keh Lok, dengan tersenyum ia tanya Kian Liong: „Beberapa pengiring saudara ini tentunya mahir ilmu silat semua, entah darimana kah saudara memperolehnya?”
Namun Kian Liong tidak menyawab, hanya dengan tersenyum ia tunyuk Pek Cin dan berkata: “Menurut Ceritanya tadi, katanya saudara sendiri berkepandaian tinggi, nyata siang tadi siaote telah salah mata, dikira seorang pelajar yang lemah, siapa tahu adalah seorang pendekar besar dari kalangan kangouw, entah dapatkah saudara mempertunyu kan sedikit, agar siaote bisa menambah pengalaman.”
“Kepandaian siaote yang Cetek mana ada harganya untuk dibicarakan,” sahut Keh Lok. „Tampaknya saudara ini mem bawa 'boan-koan-pit' (potlot baja), tentulah seorang ahli menutuk, baiknya silahkan tampil kemuka buat belajar beberapa jurus saja?” — Sembari berkata ia tunyuk salah seorang jago pengawal yang berdiri dibelakang Kian Liong itu.
Si-wi itu she Hoan, bernama Tiong Su, ia mampu meng gunakan senjata Boan-koan-pit, dengan sendirinya ilmu silatnya bukan kaum lemah. Tadi waktu mengejar Tan Keh Lok dan diatas perahu menCoba menggoda Lou Ping dengan memegang kakinya, ia sangka orang hanya seorang wanita tukang perahu biasa, siapa tahu ia sendiri yang kena didepak kedalam air hingga basah kujup seperti ajam keCemplung kali.
Kini mendengar Keh Lok menunyukan dalam bajunya membawa Boan-koan-pit, tentu saja ia terkejut, pikirnya : „Aneh, darimana ia bisa tahu?”
Kiranya senjatanya meski ditutupi baju, namun tidak urung kelihatan menonyol juga, pula Keh Lok sudah me latih segala maCam senjata, dengan sendirinya segera ia tahu senjata apa yang menonyol didalam baju orang itu.
Hoan Tiong Su sendiri memangnya lagi belum terlampias mendongkolnya karena keCundang tadi, dengan kepandaian nya yang sangat ia agulkan, kini ia justru ingin pamerkan dihadapan Sri Baginda, maka Cepat-cepat ia telah menyawab : “Baiklah, bila Kongcu sudah menunyuk padaku, marilah silahkan memberi petunyuk.” — Habis berkata, segera senjatanya ia lolos, dengan enteng ia melompat keujung kapal.
Melihat lagak orang yang sombong, sesaat itu Keli Lok malah tak mau menggubrisnya lagi, sebaliknya ia tunyuk Giok-ju-ih dan berkata lagi pada Kian Liong: “Nasib nona ini sesungguhnya harus dikasihani, sudilah kiranya jinheng (saudara) memberi pertolongan, biar mereka dua-sejoli bisa hidup beruntung?”
Kian Liong melirik kearah Giok-ju-ih, ia lihat wajah orang yang halus menggiurkan tapi harus dikasihani itu, diama ia menjadi suka, ia pikir sebentar Cara bagaimana menyuruh Li Khik Siu menghantarnya kepadanya dan Cara bagaimana merahasiakan hal ini agar tidak menodai nama baiknya yang tentu akan menimbulkan Celahan umum. Maka ketika ditanya Keh Lok, seketika ia tak bisa menyawab, setelah sejenak barulah ia berkata: “0, tapi kaka-misannya mengabdi untuk kerajaan, berjuang untuk negara, bukan kah hal itu sangat baik?”
Sementara itu Hoan Tiong Su masih menanti diujung kapal dengan sepasang Boan-koan-pit siap ditangan, ia menjadi serba salah, maju tak bisa, mundur tak mungkin.
“Lau Hoan, kembalilah,” bentak Pek Cin tertahan, demi melihat keadaan sang kawan yang runyam itu.
Terpaksa Hoan Tiong Su menyimpan kembali senjata dan kembali berdiri kebelakang Kian Liong lagi, dengan gemas ia melototi Keh Lok sejenak, Cuma dimulut tak berani ia mengomel.
„Betapa besar dan kepandaian Tong Thay Cong, tentunya jinheng sangat mengaguminya bukan?” tiba-tiba Keh Lok menanya Kian Liong.
Memangnya selama hidup Kian Liong paling menyunyung tinggi pada kaisardua Han Bu Te dan Tong Thay Cong, ia merasa kedua maharaja yang membuka jalan dan meluas kan wilayah hingga namanya terkenal dinegeri lain, maka sejak naik tachta, dalam hati ia pingin sekali mentaulad kaisar* yang terdahulu itu. Sebabnya ia mengirim tentara jauh-jauh menggempur daerah Hwe itu, meski tujuannya karena menginCar kekajaan daerah itu, namun disamping itu sebenarnya ia justru hendak melanyutkan tindakan-akan kedua kaisar dari ahaladua yang lebih dulu itu. Kini mendengar per tanyaan Keh Lok, tentu saja hal itu CoCok dengan “selera” nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar