Jilid 39
Seketika Boh-thian menjadi bingung juga. Sambil membetot sekuatnya tangan orang itu Boh-thian mengulurkan sebelah kakinya ke belakang untuk meraih kunci borgol itu. Namun meski lengan orang itu sudah terbetot sampai-sampai hampir copot dari ruasnya toh masih belum bisa mencapai kunci itu. Sebaliknya orang itu menjerit-jerit kesakitan pula seperti babi, “Aduh, aduuuh! Jangan tarik lagi, kalau tarik lagi tanganku tentu putus!”
Melihat kaki sendiri tidak bisa mencapai tempat kunci, tiba-tiba Boh-thian mendapat akal pula, cepat ia menanggalkan sebelah sepatunya sendiri, ia incar dinding sebelah sana, lalu sepatu itu ditimpukkan sekuatnya. Ketika sepatu itu membentur dinding dan terpental balik, dengan tepat kunci yang terletak di tanah itu juga tersampuk dan terbawa ke sebelah sini.
Boh-thian sampai bersorak saking senangnya karena akalnya mencapai hasil yang diharapkan. Segera ia jemput kunci itu dan memakai kembali sepatunya. Secara bergantian ia membuka kedua belah borgol tangannya. Habis itu mendadak “krek”, ia gunakan borgol itu untuk membelenggu tangan orang itu.
Keruan orang itu terkejut. “He, ap... apa yang kau lakukan?” serunya takut.
“Sekarang bolehlah kau membukakan pintu kamar tahanan ini,” kata Boh-thian dengan tertawa sambil mengeluarkan rantai borgol.
Tapi orang itu masih ragu-ragu, Boh-thian menjadi tidak sabar, ia tarik rantai borgol sehingga lengan orang itu terseret ke dalam lubang lagi. Rupanya agak keras juga tenaga yang digunakan Ciok Boh-thian sehingga muka orang itu tertumbuk dinding, kontan batok kepalanya benjut dan hidung keluar kecapnya.
Orang itu sadar tidak dapat membangkang lagi, terpaksa sambil menyeret rantai borgol ia membukakan pintu kamar batu itu. Akan tetapi ujung rantai yang lain masih terikat pada borgol kaki Ciok Boh-thian, meski pintu sudah terbuka, namun kedua ujung rantai besi itu menembus lubang dinding batu dan terikat pada tangan dan kaki dua orang, jadi Ciok Boh-thian tetap tidak dapat keluar.
“Coba serahkan kunci borgol kakiku ini,” kata Boh-thian sambil menarik rantai borgol tangan orang itu.
“Aku benar-benar tidak memegang kuncinya,” sahut orang itu dengan wajah sedih. “Hamba benar-benar cuma seorang pengantar makanan saja dan tidak berkuasa memegang kunci.”
“Baiklah, jika begitu tunggulah sesudah aku keluar dahulu,” kata Boh-thian. Segera ia tarik pula lengan orang itu ke dalam lubang dan membukakan borgolnya.
Begitu tangannya terlepas dari borgol, dengan cepat orang itu lantas berlari ke sana dan bermaksud menutup kembali pintunya. Akan tetapi semuanya ini sudah dalam perhitungan Ciok Boh-thian, secepat kilat ia sudah melompat ke sana dan menyelinap keluar pintu. Sekali cengkeram segera ia bekuk kuduk orang itu dan diangkat ke atas.
Ia lihat orang itu berjubah putih, badannya kekar, mukanya cerdas, terang adalah anak murid Swat-san-pay dan bukan pengantar nasi saja seperti pengakuannya tadi. Segera ia membentaknya, “Kau mau buka borgol kakiku atau tidak? Atau kau minta kutumbukkan kepalamu di atas dinding batu ini?”
Sebenarnya ilmu silat orang itu juga tidak lemah, tapi kebentur di tangan Ciok Boh-thian orang itu menjadi seperti anak ayam dicengkeram oleh elang, sedikit pun tidak dapat berkutik. Tiada jalan lain terpaksa ia mengeluarkan kunci dan membuka borgol kaki pemuda itu.
“Di mana kalian telah mengurung Ciok-cengcu dan Ciok-hujin, lekas membawa aku ke sana,” bentak Boh-thian.
“Sebenarnya Swat-san-pay tiada permusuhan apa-apa dengan Hian-soh-ceng, maka Ciok-cengcu suami-istri sudah pergi tanpa cedera sesuatu apa pun,” sahut orang itu.
Boh-thian merasa sangsi, sekilas dilihatnya orang itu melirik ke arah pintu yang terletak di ujung lorong sebelah sana, ia pikir orang ini tentu berdusta, boleh jadi Ciok-cengcu berdua terkurung di kamar sana.
Segera ia menyeret orang itu ke depan pintu batu itu, lalu bentaknya, “Lekas membuka pintu ini.”
Air muka orang itu tampak berubah pucat, katanya, “Aku... aku tidak punya kuncinya! Yang terkurung di dalam ini bukan... bukan manusia, tapi adalah... adalah seekor singa dan dua ekor macan, jika dibuka tentu bisa celaka.”
Boh-thian merasa heran bahwa yang terkurung di dalam situ adalah singa dan harimau, ia coba menempelkan telinganya ke pintu dan mendengarkan dengan cermat, tapi tak terdengar sesuatu suara binatang-binatang buas itu.
“Engkau toh sudah terlepas, silakan lekas melarikan diri saja, jika tinggal lebih lama di sini, jangan-jangan akan dipergoki orang dan mungkin engkau akan tertangkap pula,” demikian kata orang itu setengah menakut-nakuti.
Boh-thian pikir kau toh bukan kawanku, mengapa sedemikian baik hatimu memikirkan keselamatanku? Padahal tadi aku minta dibukakan borgol saja kau tidak mau, sekarang malah suruh aku lekas melarikan diri. Jangan-jangan Ciok-cengcu berdua memang benar-benar dikurung di dalam kamar ini.
Segera ia angkat tubuh orang itu, ia benturkan kepalanya dengan perlahan di dinding batu, lalu bertanya, “Kau mau buka pintu tidak? Atau minta kepalamu pecah? Hm, aku justru ingin tahu macam apa singa dan harimau yang kau katakan itu.”
“Ai, binatang-binatang itu sangat buas, sudah beberapa hari tidak diberi makan, bila melihat manusia nanti pasti akan terus menerkam....”
Karena buru-buru ingin menolong Ciok Jing dan istrinya, Boh-thian merasa sebal akan ocehan orang, tanpa menunggu selesai uraiannya segera ia jungkirkan tubuh orang itu dan dikocok-kocok untuk memaksanya menurut. Di luar dugaan lantas terdengar suara gemerencing nyaring, dari baju orang itu telah terjatuh dua buah kunci.
Boh-thian sangat girang, segera ia lemparkan orang itu ke tanah dan cepat menjemput kunci-kunci itu untuk membuka pintu batu. Benar juga, hanya sekali putar saja segera kunci pintu itu terbuka.
Dalam pada itu orang tadi telah menjerit kesakitan, cepat ia merangkak bangun dan segera putar tubuh hendak angkat langkah seribu.
Namun Boh-thian tidak memberi kesempatan padanya. Ia pikir kalau orang ini sampai lari keluar dan memanggil kawan, tentu akan banyak menimbulkan kesukaran lagi. Secepat terbang Boh-thian lantas memburu maju, sekali jambret segera orang itu diseretnya terus dijebloskan ke dalam kamar tahanannya sendiri tadi, sekalian ia lemparkan borgol kaki dan tangan beserta rantainya ke dalam dan menutup pintunya, bahkan dikunci pula dari luar. Habis itu barulah ia kembali ke kamar batu di ujung lorong sana.
“Ciok-cengcu! Ciok-hujin! Apakah kalian berada di sini?” seru Boh-thian sambil melongok ke dalam kamar.
Tapi tak terdengar suara jawaban apa-apa. Ia coba pentang pintu lebih lebar, ternyata di dalam tiada terdapat seorang pun. Sebaliknya kira-kira dua-tiga meter di sebelah sana terdapat sebuah pintu pula. Pikirnya, “Ya, pantas ada dua buah kunci.”
Segera ia menggunakan kunci yang lain untuk membuka pintu kedua, baru saja pintu itu terbuka sedikit dan belum lagi ia bersuara, tiba-tiba terdengarlah ada orang sedang mencaci maki di dalam situ, “Jahanam keparat, haram jadah! Akan kusembelih dan potong-potong kalian agar kalian sekarat setengah mampus....” dan di samping itu terdengar pula suara gemerencingnya rantai besi.
Suara caci maki orang itu kedengaran sangat berat, rupanya tenggorokannya serak, sama sekali bukan logat orang Kanglam sebagaimana suaranya Ciok Jing. Maka percayalah Boh-thian bahwa Ciok Jing dan istrinya memang tidak dipenjarakan di situ. Tapi lantas terpikir olehnya mengapa tidak membebaskan sekalian orang yang ditawan Swat-san-pay ini. Karena itu ia lantas berseru, “He, kau tidak perlu memaki lagi, biar kutolong kau keluar dari sini!”
Namun orang itu masih terus memaki, “Huh, kau kutu macam apa? Berani mengaco-belo dan menipu Locu? Apa kau minta kupuntir putus lehermu....”
Boh-thian merasa geli dan anggap perangai orang benar sangat kasar. Tapi ia pun maklum, siapa pun kalau dikurung di tempat demikian tentu akan merasa sebal dan tertekan pantas kalau orang ini pun marah-marah.
Ia lantas melangkah ke dalam kamar dan berkata, “Apakah engkau juga diborgol dan dirantai oleh mereka?”
Tapi baru sekian ia berkata, dalam kegelapan sekonyong-konyong sesuatu benda yang berat terasa mengepruk dari atas. Cepat Boh-thian berkelit ke samping, namun belum lagi dia berdiri kuat, tahu-tahu hiat-to penting di bagian punggung sudah kena dicengkeram orang, menyusul lehernya lantas dicekik oleh sebuah lengan yang besar dan kuat, makin lama makin kencang sehingga napasnya sesak seketika, telinganya sampai mendenging-denging dan mata mulai berkunang-kunang, sebaliknya terdengar pula suara caci maki orang itu.
Sama sekali Boh-thian tidak menduga bahwa di dalam kamar tahanan situ akan terdapat jago selihai itu. Sekali kena didahului orang, seketika ia pun tak berdaya, diam-diam ia hanya mengeluh dan sedapat mungkin mengerahkan tenaga ke bagian lehernya untuk melawan cekikan lengan orang itu.
Meski daging bagian tenggorokan cukup lemas dan tidak sekuat lengan, tapi lwekang Ciok Boh-thian teramat hebat, semakin bertempur semakin kuat, di mana tenaganya sampai, tangan orang itu ternyata dapat ditolak agak kendur. Cepat Boh-thian mengambil napas, ketika lengan orang itu hendak mengait kembali dengan lebih kencang, tanpa ayal lagi tangan kanan Ciok Boh-thian lantas digunakan untuk menarik, berbareng kepalanya lantas memberosot ke bawah sambil melompat mundur.
“Hai, dengan maksud baik aku hendak menolong kau keluar, mengapa tanpa bertanya engkau menyerang aku malah?” seru Boh-thian dengan mendongkol.
“Eh, sia... siapa kau? Boleh juga ya kepandaianmu?” demikian orang itu sangat terkejut sambil memandang Boh-thian dengan mata terbelalak lebar. Selang sejenak, kembali ia bersuara heran, lalu membentak, “Anak busuk, siapa kau?”
“Aku... aku....” seketika Ciok Boh-thian menjadi bingung untuk menjawab apa mesti mengaku bernama Kau-cap-ceng atau tetap memalsukan nama Ciok Tiong-giok?
“Ya, kau dengan sendirinya adalah kau, masakah tidak punya nama?” semprot orang itu.
“Loyacu, biar kutolong kau keluar dahulu, segala urusan boleh kita bicarakan nanti,” ujar Boh-thian.
“Apa? Kau hendak menolong aku? Hahaaah! Apakah gigi orang seluruh dunia ini takkan copot semua menertawakan kau? Hahaha, siapakah aku ini? Dan macam apakah kau itu? Huh, hanya sedikit kepandaianmu yang mirip cakar ayam saja mampu menolong aku?”
Dari dekat sekarang Boh-thian dapat melihat orang itu sudah tua, jenggotnya sudah putih, tubuhnya tinggi besar tapi agak bungkuk seakan-akan kamar batu yang kecil ini kurang tinggi bagi tubuhnya yang tegap itu, kedua matanya lekuk ke dalam, tapi sorot matanya tajam berwibawa.
Boh-thian sampai mengirik ketika sinar mata orang itu menyapu kian-kemari di atas mukanya. Pikirnya, “Orang Swat-san-pay tadi bilang di kamar ini terkurung singa dan harimau, melihat macamnya orang ini ternyata benar-benar mirip seekor binatang buas.”
Ia tidak berani banyak bicara lagi padanya, segera katanya, “Loyacu, biar kupergi mencari kunci untuk membuka borgolmu.”
Orang tua itu menjadi gusar, dampratnya, “Aku tidak perlu, aku sendiri suka tinggal tirakat di sini, kalau tidak, di dunia ini siapa yang mampu mengurung aku? Huh, kau bocah ini barangkali tidak punya mata, masakah anggap aku dikurung orang di sini? Hehe, untung saat ini Yaya lagi sabar, kalau tidak tentu badanmu sudah kurobek-robek.”
Ketika kedua tangannya digoyang-goyangkan, terdengarlah suara gemerencing rantai borgolnya. Lalu ditambahkannya, “Ini, sekali Yaya sudah murka, apa artinya rantai-rantai seperti ini, apa gunanya borgol-borgol ini, hm, dalam pandanganku tidak lebih seperti tahu yang empuk.”
Sudah tentu Boh-thian tidak mau percaya, ia pikir tutur kata orang ini kok mirip orang gila, tapi kepandaiannya sangat tinggi pula, akan kutolong berbalik aku hendak dipentung. Lebih baik kutinggal pergi untuk mencari Ciok-cengcu saja. Maka katanya kemudian, “Baiklah, jika begitu biar aku pergi saja dari sini!”
“Pergi ya pergi, lekas enyah kau! Selamanya Yaya malang melintang di dunia ini tanpa ketemu tandingan masakah mengharapkan pertolongan bocah ingusan macam kau? Hahaha, benar-benar lucu, sungguh menggelikan....”
“Ya, sudah, maaf, maaf!” kata Boh-thian sambil mengundurkan diri dan perlahan-lahan merapatkan kembali daun pintu.
Jalan lorong itu cukup panjang, Boh-thian menyusur ke sana dan membelok satu kali, sesudah belasan meter lagi barulah sampai di ujung. Tertampak di kanan-kiri masing-masing terdapat sebuah pintu. Ia coba mendorong pintu sebelah kiri, tapi tertutup kencang, waktu mendorong pintu yang lain dengan mudah saja pintu itu lantas terpentang. Kiranya di situ adalah sebuah ruangan. Tidak seberapa jauh memasuki ruangan itu lantas terdengar dari arah kiri sana ada suara beradunya senjata, agaknya pertempuran cukup sengit.
“Kiranya Ciok-cengcu sedang bertempur dengan orang di sini,” demikian pikir Boh-thian. Segera menuju ke arah datangnya suara. Akan tetapi ia tidak menemukan pintu yang menuju ke tempat suara pertempuran itu. Karena khawatirkan keselamatan Ciok Jing dan Bin Ju, ketika dilihatnya dinding papan di sebelah sana tidak terlalu tebal, segera ia menumbuknya dengan bahunya dan kontan dinding papan itu jebol.
Seketika suara nyaring beradunya senjata tambah keras dan ramai. Kiranya di situ juga sebuah ruangan, empat laki-laki berjubah putih dan berpedang sedang mengerubut dua orang wanita.
Sesudah mengenali kedua orang wanita itu, tanpa merasa Boh-thian terus berteriak, “He, Suhu, A Siu! Kalian berada di sini?!”
Kiranya kedua wanita itu tak-lain-tak-bukan adalah Su-popo dan cucu perempuannya, si A Siu.
Su-popo memakai golok dan A Siu memutar sebatang pedang, dengan rambut kusut kedua orang sedang melawan kerubutan empat murid Swat-san-pay. Baju nenek dan cucu itu tampak berlepotan darah, agaknya sudah terluka, keadaannya cukup mengkhawatirkan. Mereka mendengar juga seruan Ciok Boh-thian, tapi serangan-serangan keempat lawannya terlalu gencar sehingga tidak sempat menoleh. Bahkan lantas terdengar jeritan kaget A Siu, pundaknya tertusuk musuh pula.
Walaupun tidak bersenjata, tanpa pikir Ciok Boh-thian lantas menerjang maju, kontan punggung orang yang sedang mencecar A Siu itu hendak dicengkeramnya. Cepat orang itu berkelit dan balas menebas dengan pedangnya.
Mendadak tangan kanan Ciok Boh-thian menyampuk pula sehingga pedang orang itu terguncang ke samping, menyusul tangan kiri Ciok Boh-thian lantas menggaplok ke arah seorang tua yang lain. Namun orang tua itu ternyata tidak kalah cepatnya tahu-tahu pedangnya sudah mendahului menusuk perut Boh-thian.
Serangan itu benar-benar sangat lihai dan cepat, untung Boh-thian tempo hari sudah mendapat didikan Su-popo, terhadap intisari ilmu pedang Swat-san-pay sudah dipahami dengan baik, diketahui bahwa serangan si orang tua adalah jurus yang bernama “Leng-sing-song-bwe” (Sepasang Pohon Bwe di Atas Bukit), mestinya cuma satu jurus, tapi mempunyai dua gerakan, tusukan pertama segera disusul dengan tusukan kedua. Maka cepat Boh-thian mengerutkan perutnya ke belakang untuk menghindar, menyusul tangan kiri lantas mengebut ke bawah, jarinya segera menyelentik.
Benar juga, saat itu tusukan kedua si orang tua sedang dilancarkan sehingga pedangnya seakan-akan sengaja disodorkan untuk diselentik Ciok Boh-thian. Maka terdengarlah suara “tring” sekali, kontan pedang itu patah menjadi dua.
Separuh tubuh si orang tua sampai kesemutan karena getaran tenaga selentikan itu, tanpa kuasa lagi setengah potong pedang juga terlepas dari cekalan, cepat ia melompat mundur dengan muka pucat.
Boh-thian tidak mendesak lebih jauh, orang yang sedang menyerang A Siu lantas kena dicengkeram terus diangkat dan dijujukan ke arah pedang kawannya yang datang hendak menolong.
Keruan orang itu terkejut dan cepat menarik kembali senjatanya. Kesempatan itu tidak disia-siakan Boh-thian, kontan ia menghantam dan tepat mengenai dadanya, orang itu terhuyung-huyung mundur dan akhirnya jatuh terduduk.
Menyusul Boh-thian lantas melemparkan tawanannya ke arah orang keempat. Orang itu sedang melabrak Su-popo dengan mati-matian, ia menjadi kaget dan tidak sempat menghindar lagi, ia kena ditumbuk dengan keras oleh tubuh kawannya sendiri, kedua orang sama-sama muntah darah dan menggeletak tak sadarkan diri.
Hanya dalam sekejap saja keempat orang itu telah dirobohkan semua oleh Ciok Boh-thian, hanya si orang tua saja yang belum terluka. Namun nyalinya menjadi pecah juga demi menyaksikan ketangkasan Boh-thian yang lihai itu. “Kau... kau....” demikian entah apa yang hendak dikatakannya, mendadak ia putar tubuh terus hendak lari.
“Jangan membiarkan dia lari!” seru Su-popo.
Cepat Boh-thian melompat maju, sekali kakinya menyapu, kontan orang tua itu terjungkal, kedua lutut kakinya keseleo semua dan tak bisa bangun.
“Bagus, muridku yang bagus! Murid pertama dari Kim-oh-pay kita memang benar-benar hebat!” seru Su-popo dengan tertawa.
Wajah A Siu tampak putih pucat, sepasang matanya memandang Boh-thian dengan sayu merawan, nyata sekali hatinya sangat girang.
“Suhu, A Siu, sungguh tidak nyana dapat berjumpa dengan kalian di sini,” kata Boh-thian.
Buru-buru Su-popo membalut luka si A Siu, menyusul nona itu pun merobek ujung bajunya sendiri untuk membalut luka sang nenek. Syukurlah luka kedua orang tidak parah sehingga tidak menjadi halangan.
“Tempo hari waktu aku kehilangan kalian di Ci-yan-to, sungguh aku merasa sangat kesepian, sekarang kita telah berjumpa pula, paling baik paling baik untuk selanjutnya kita jangan berpisah lagi,” demikian kata Boh-thian.
Muka A Siu yang pucat itu seketika bersemu merah dan menunduk malu. Ia tahu sifat Ciok Boh-thian yang tulus jujur dan tidak pandai bicara. Apa yang diucapkan itu jelas timbul dari lubuk hatinya yang murni, walaupun dirasakan malu juga karena pemuda itu terang-terangan menyatakan isi hatinya di depan sang nenek, tapi tidak urung hati A Siu merasa sangat senang.
Su-popo tertawa mengekek, katanya, “Jika kau sudah berjasa besar, hal ini bukan mustahil akan terlaksana dan boleh anggap nenek sendiri yang telah meluluskan permintaanmu.”
Kepala A Siu makin menunduk, mukanya tambah merah lantaran malu.
Sebaliknya Ciok Boh-thian masih belum tahu bahwa ucapan Su-popo itu berarti telah menerima lamarannya. Dengan bingung ia malah tanya, “Suhu meluluskan permintaanku soal apa?”
“Aku mengizinkan cucu perempuanku ini menjadi istrimu, kau mau tidak? Kau ingin tidak? Kau suka tidak?” kata Su-popo dengan tertawa.
Boh-thian terkejut campur girang. “Aku... aku sudah tentu suka....” sahutnya dengan tergagap-gagap.
“Tapi kau harus berjuang dan berjasa dahulu,” kata Su-popo. “Sekarang Swat-san-pay sedang terjadi huru-hara, kita harus pergi menolong satu orang dahulu.”
“Ya, memangnya aku hendak menolong Ciok-cengcu dan Ciok-hujin, marilah kita lekas pergi mencarinya,” sahut Boh-thian. Teringat keadaan Ciok Jing suami-istri dalam keadaan bahaya, seketika hatinya menjadi gelisah sehingga urusan A Siu tak terpikir lagi.
“Apakah Ciok Jing dan istrinya juga sudah datang di sini?” tanya Su-popo. “Kita harus mengamankan pemberontakan dahulu, soal Ciok Jing berdua adalah urusan biasa saja. A Siu, binasakan saja keempat orang ini!”
Segera A Siu menghunus pedang dan melangkah maju. Tiba-tiba dilihatnya si orang tua yang kedua kakinya keseleo tadi sedang duduk bersandarkan dinding, sorot matanya penuh mengunjuk rasa minta diampuni. Maka A Siu menjadi tidak sampai hati untuk membunuhnya. Katanya, “Nenek, beberapa orang ini bukanlah biang keladinya, mereka hanya ikut-ikutan saja, sementara ini biarlah diampuni dahulu, nanti sesudah diperiksa dan jika memang bersalah barulah dibunuh.”
“Ya, sudah! Hayo lekas, jangan sampai bikin runyam urusan, lekas berangkat!” sahut Su-popo. Segera ia mendahului melangkah pergi dan disusul oleh Boh-thian dan A Siu.
Cepat sekali Su-popo menyusur serambi dan melintasi ruangan-ruangan, setiap kali ada orang datang dari depan mereka lantas sembunyi di pojok atau di belakang pintu untuk menghindar, tampaknya nenek itu hafal sekali terhadap setiap kamar dan ruangan di situ.
Boh-thian jalan berjajar dengan A Siu dari belakang, dengan suara tertahan ia tanya si nona, “Suhu suruh aku berjuang dan berjasa apa? Siapakah yang akan ditolong?”
Baru saja A Siu akan menjawab, tiba-tiba terdengar suara tindakan yang ramai, dari depan telah mendatangi lima atau enam orang.
Lekas Su-popo sembunyi di balik sebuah tiang yang besar. Segera A Siu juga menarik Boh-thian untuk sembunyi di belakang pintu.
Beberapa orang itu sambil berjalan sembari mengobrol. Kata seorang di antaranya, “Sesudah bergotong royong bersama-sama dan dapat mengurung si tua gila itu barulah kita merasa lega. Selama beberapa hari ini hidup kita benar-benar sangat tertekan dan terancam.”
“Ya, selama Si Gila itu belum binasa, selalu pula kita belum bebas dari ancaman,” kata seorang lagi. “Ce-supek masih ragu-ragu saja, bukan mustahil bisa membikin urusan menjadi runyam malah.”
Segera seorang dengan suara kasar menanggapi, “Memangnya, daripada kerja kepalang tanggung, mestinya kita bereskan Ce-supek sekalian!
“Hus,” bentak seorang kawannya dengan suara tertahan. “Kata-kata demikian masakah boleh kau ucapkan dengan keras? Jika didengar oleh anak muridnya Ce-supek, sebelum kita menumpas mereka boleh jadi buah kepalamu sudah berpisah dengan kau.”
Orang yang bersuara kasar itu rupanya menjadi penasaran, sahutnya, “Kalau perlu biar kita coba-coba dengan mereka, masakah kita pasti kalah?”
Begitulah orang-orang itu makin menjauh. Ciok Boh-thian yang berjubelan sembunyi di belakang pintu bersama A Siu dapat merasakan badan anak dara itu rada gemetar. Dengan berbisik-bisik ia tanya, “Apakah kau takut, A Siu?”
“Ya, aku agak takut,” sahut si nona. “Jumlah mereka sangat banyak mungkin kita tak dapat melawan mereka.”
Dalam pada itu Su-popo telah keluar dari tempat sembunyinya dan berseru tertahan kepada mereka, “Ayo, lekas!”
Segera ia mendahului menyusur ke depan dengan cepat.
Sesudah melalui sebuah pelataran luas dan menembus sebuah serambi yang panjang, akhirnya mereka sampai di suatu taman bunga yang luas. Taman itu penuh salju, hanya kelihatan sebuah jalanan kecil dari batu-batu kecil menembus ke suatu ruangan tertutup.
Su-popo mendekam di balik sebatang pohon, ia comot segumpal salju, sesudah dikepal segera disambitkan keluar ruangan tertutup tadi, “plok” batu salju itu jatuh di tanah dan mengejutkan dua orang penjaga yang berdiri di samping ruangan itu. Cepat mereka berlari datang untuk memeriksa dengan pedang terhunus.
Menunggu kedua orang itu sudah dekat, sekonyong-konyong Su-popo melompat keluar, goloknya menebas dua kali dengan cepat luar biasa. Kontan leher kedua orang itu tertebas, tanpa bersuara sedikit pun kedua orang itu terjungkal binasa.
Untuk pertama kalinya Ciok Boh-thian menyaksikan Su-popo membunuh orang secara ganas, tanpa merasa bulu romanya sama berdiri. Selang sejenak baru teringat olehnya bahwa jurus serangan Su-popo tadi pernah juga diajarkan padanya di Ci-yan-to tempo hari, jurus itu bernama “Cay-au-to” (Golok Menebas Tenggorokan) dan dirinya sudah mahir menggunakannya, cuma selama ini belum pernah terpikir olehnya bahwa jurus serangan itu ternyata sedemikian bagus dan cepat untuk membunuh orang.
Ketika dia tenang kembali, sementara itu Su-popo sudah menyeret kedua mayat ke belakang gunung-gunungan, lalu dengan enteng sekali ia mendekati jendela ruangan tertutup itu untuk mendengarkan.
Telinga Ciok Boh-thian amat tajam, belum dekat dengan jendela itu sudah didengarnya di dalam ruangan itu ada suara dua orang sedang bertengkar. Meski suara mereka tidak terlalu keras, tapi terang keduanya sama-sama marah dan tidak mau mengalah.
Terdengar seorang di antaranya berkata, “Menangkap harimau adalah gampang dan celakalah kalau melepaskannya. Peribahasa ini tentu kau sudah paham. Urusan ini sudah telanjur kita kerjakan, sekarang kau menjadi takut malah. Jikalau si tua gila itu sampai lolos keluar, tentu kita akan mati semua tanpa ampun.”
Diam-diam Boh-thian berpikir, “Jangan-jangan ‘si tua gila’ yang mereka maksudkan adalah orang tua aneh di dalam kamar tahanan itu? Tingkah laku orang tua itu memang aneh, aku mau menolong dia keluar, tapi dia justru tidak mau. Mungkin dia memang benar-benar orang gila. Ilmu silat orang tua itu memang sangat lihai, pantas kalau semua orang ini sedemikian takut kepadanya.”
Maka terdengar seorang lain telah menjawab, “Si Gila itu sudah terkurung di penjara binatang, sekalipun dia memiliki kepandaian setinggi langit juga tak mampu lolos keluar. Kalau saat ini kita mau membunuh dia adalah teramat mudah, cuma kita harus menjaga nama baik kita. Perbuatan durhaka terhadap orang tua demikian mungkin Liau-sute sendiri tidak ambil pusing, tapi aku tidak berani memikul tanggung jawabnya. Kelak kalau kita ditanyai kawan-kawan dunia persilatan, lantas cara bagaimana kita akan menjawab dan ke mana muka kita harus ditaruh?”
“Huh, jika kau takut bertanggung jawab atas perbuatan durhaka, seharusnya sejak mula kau jangan menjadi biang keladi urusan ini,” jengek orang pertama yang disebut she Liau itu. “Sekarang urusan sudah dilaksanakan, kau menjadi menyesal dan ingin mengelakkan tanggung jawab. Hm, masakan di dunia ini ada soal seenak ini? Pendek kata, Ce-suko, apa yang kau pikirkan sudah kuketahui, lebih baik kita bicara blakblakan saja dan tidak perlu pura-pura.”
“Aku mempunyai pikiran apa? Ha, ucapan Liau-sute benar-benar berduri dan penuh tulang,” sahut orang she Ce.
“Apa maksudnya ucapan berduri?” kata si orang she Liau. “Sesungguhnya Ce-suko cuma pura-pura baik hati dan ingin menimpakan perbuatan durhaka ini kepadaku saja. Tujuanmu ialah satu kali tembak dapat dua burung, supaya kau sendiri bisa enak-enak dan tenang-tenang naik di atas singgasana.”
“Haha, aneh benar tuduhan Liau-sute ini!” jawab orang she Ce. “Berdasarkan apa aku ada hak naik ke atas singgasana? Kalau mesti menurutkan urut-urutan, di atas kita masih ada Seng-suko dan tidak mungkin jatuh kepada bagianku.”
Mendadak suara seorang yang lebih tua dan serak menyela, “Kalian bertengkar urusan kalian sendiri dan tidak perlu menyangkutpautkan diriku.”
“Seng-suko, engkau adalah orang jujur, kau tidak lebih hanya akan digunakan sebagai tameng oleh Ce-suko, maka segala sesuatu hendaklah kau pikirkan yang jelas, janganlah dijadikan boneka sedangkan engkau sendiri masih belum sadar,” demikian kata orang she Liau.
Boh-thian coba membasahi kertas perapat jendela dengan air ludahnya, perlahan-lahan ia mengorek sebuah lubang kecil, lalu mengintip ke dalam ruangan. Ia menjadi terkejut ketika diketahui bahwa di dalam situ tidak cuma tiga orang yang bicara saja, tapi masih ada dua-tiga ratus orang lainnya, ada yang berdiri dan ada yang berduduk, laki-laki dan wanita, ada yang tua dan ada yang masih muda, semuanya berjubah putih seragam murid Swat-san-pay.
Di tengah ruangan tertampak ada lima buah kursi besar, kursi yang tengah kosong, keempat kursi di kedua sampingnya berduduk empat orang. Terdengar ketiga orang tadi masih berdebat tak henti-hentinya. Dari suara mereka dapat dikenali bahwa yang duduk di sebelah kiri adalah orang-orang she Seng dan Liau, seorang yang duduk di sebelah kanan terang she Ce, seorang lagi berwajah putih kurus dan muram durja seakan-akan baru kematian istri.
Saat itu terdengar orang she Ce telah menegurnya, “Nio-sute, sejak tadi kau diam saja, sesungguhnya bagaimana pendapatmu?”
Orang she Nio yang berwajah muram itu menghela napas, lalu geleng-geleng kepala, kemudian menghela napas pula dan tetap tidak membuka suara.
“Nio-sute tidak berbicara, dengan sendirinya ia menyetujui urusan ini,” kata si orang she Ce.
“Kau toh bukan cacing pita di dalam perut Nio-sute, dari mana kau mengetahui pikirannya?” debat orang she Liau dengan gusar. “Kita berempat yang telah melakukan urusan ini, seorang laki-laki sejati, sekali sudah berbuat harus berani bertanggung jawab. Kalau berani di muka dan takut belakangan, huh, terhitung orang gagah macam apa ini?”
Tapi si orang she menjawab dengan dingin, “Justru karena kita semua ini takut mati, makanya telah melakukan kejadian ini, masakah kita dapat disebut sebagai kesatria atau orang gagah? Lebih tepat kalau dikatakan bahwa kita sudah kepepet sehingga terpaksa menyerempet bahaya.”
“Ban-li,” sekonyong-konyong si orang she Liau berseru. “Coba katakan, bagaimana menurut pendapatmu?”
Maka majulah seorang ke depan, yakni Hong-hwe-sin-liong Hong Ban-li yang buntung sebelah tangannya. Ia memberi hormat, lalu menjawab, “Tecu tidak mampu menyelesaikan urusan ini sehingga menimbulkan malapetaka, dosa ini saja sudah diganjar dengan kematian, masakah sekarang Tecu berani mempunyai pikiran durhaka lagi? Maka Tecu setuju dengan usul Ce-susiok, jangan sekali-kali turun tangan keji kepada beliau.”
“Aku pernah menyelamatkan jiwamu, apakah kau sudah lupa?” bentak si orang she Liau dengan gusar.
“Mana mungkin Tecu melupakan budi kebaikan Susiok,” sahut Ban-li. “Tapi kalau Susiok menyuruh Tecu membunuh beliau, betapa pun Tecu tidak bisa menurut.”
“Lalu cara bagaimana kau akan menyelesaikan anak murid Tiang-bun (cabang utama) yang baru pulang itu?” tanya orang she Liau dengan suara bengis.
“Jika Susiok mengizinkan Tecu ikut bicara, maka menurut pendapatku sementara ini mereka dapat ditahan dulu untuk kemudian dicarikan jalan penyelesaiannya,” ujar Ban-li.
“Cari penyelesaian apa? Hehe, keputusanmu sudah lama disiapkan, masakah aku tidak tahu?” jengek orang she Liau.
“Apa maksud ucapan Susiok ini?” tanya Ban-li.
Si orang she Liau menjawab, “Anak murid Tiang-bun kalian berjumlah banyak, tinggi pula kepandaiannya, sudah tentu kedudukan ciangbun (ketua) tidak rela diserahkan kepada anak murid dari cabang lain. Lebih dulu kau ingin menimpakan dosa pendurhakaan atas diriku, kemudian anak murid cabang empat kami akan kalian bunuh habis, dengan demikian kalian tentu akan menjagoi dengan aman sentosa.”
Sampai di sini mendadak ia keraskan suaranya, “Maka dari itu, setiap murid Tiang-bun semuanya merupakan bibit bencana, hari ini kita harus babat rumput sampai akar-akarnya. Kita harus turun tangan bersama, setiap murid Tiang-bun harus dibinasakan seluruhnya.”
Habis berkata, “sret”, segera pedangnya dilolosnya.
Serentak dari sekitar ruangan melompat maju dua-tiga puluh orang dengan pedang terhunus dan siap siaga di seputar Hong Ban-li, tapi di samping itu ada pula beberapa puluh orang dengan pegang pedang juga telah mengepung.
Diam-diam Boh-thian menjadi khawatir dan berpikir, “Tampaknya Hong-suhu susah melawan orang banyak, entah aku harus membantunya atau tidak?”
Dalam pada itu terdengar Hong Ban-li telah berseru, “Seng-susiok, Ce-susiok, dan Nio-susiok, apakah kalian membiarkan Liau-susiok malang melintang di sini? Jika cabang empat mereka sudah membunuh habis anak murid Tiang-bun, maka cabang-cabang dua, tiga dan lima kalian tentu akan menjadi giliran dibasmi pula oleh mereka.”
“Bergerak!” bentak orang she Liau memberi komando kepada anak buahnya, berbareng ia terus menubruk maju, kontan dada Hong Ban-li lantas ditusuknya.
Cepat Ban-li melolos pedang dengan tangan kiri untuk menangkis serangan itu. Terdengar suara “trang”, menyusul lantas “bret” pula. Walaupun pedang lawan tertangkis, tapi tidak urung lengan baju kanan Hong Ban-li terkupas sepotong.
Hendaklah maklum bahwa Hong Ban-li terkenal lihai seperti halnya Pek Ban-kiam, kedua orang merupakan jago-jago utama Swat-san-pay dari angkatan kedua, ilmu pedangnya sesungguhnya tidak kalah daripada paman-paman gurunya she Seng, Ce, Liau, dan Nio itu. Cuma sayang sebelah lengannya sudah buntung, permainan pedang dengan tangan kiri dengan sendirinya kurang leluasa. Ia telah dapat menangkis tusukan orang she Liau itu, tapi paman guru itu mendadak mengganti gerakan pedangnya dari menusuk menjadi menebas. Walaupun Ban-li sudah menduga akan jurus serangan itu, tapi pedang di tangan kiri agak canggung digunakan, untung lengan kanan sudah buntung sehingga yang tertebas hanya lengan bajunya, kalau tidak tentu lengannya akan menjadi korban pula.
Paman gurunya itu benar-benar kejam, sekali berhasil serangannya, menyusul serangan kedua lantas dilancarkan pula. Namun dari samping Ban-li lantas menyambar maju dua batang pedang saling beradu sehingga serangan orang she Liau kembali gagal.
“Kenapa tidak lekas maju!” bentak orang she Liau kepada anak buahnya. Sambil berteriak-teriak serentak beberapa puluh orang dari anak murid cabang empat lantas mengerubut maju. Seketika terdengarlah suara riuh ramai, pertarungan sengit lantas terjadi, anak murid cabang utama kebanyakan harus satu-lawan-dua atau tiga. Ruangan itu seketika berubah menjadi medan pertempuran.
Orang she Liau lantas melompat ke pinggir untuk menyaksikan pertempuran. Dilihatnya anak murid dari cabang dua, tiga dan lima tidak bergerak, semuanya menonton di samping. Tergerak hatinya dan tahulah dia apa sebabnya. Segera ia berseru, “Loji, Losam, Longo, keji amat kalian, sengaja kalian membiarkan cabang empat kami bertarung mati-matian dengan cabang utama dan nanti kalian yang akan mengambil keuntungannya. Hehe, jangan kalian mimpi!”
Karena pikiran demikian, ia menjadi murka, kedua matanya menjadi merah, kontan ia terus menyerang orang she Ce. Maka kedua orang lantas saling gebrak dengan sengit.
Nyata ilmu pedang orang she Liau lebih bagus daripada orang she Ce. Sesudah belasan jurus si orang she Ce lantas mulai terdesak mundur.
Cepat orang she Seng, yaitu suheng kedua, melompat maju dengan pedang terhunus, serunya, “Losi, segala urusan hendaklah dirundingkan dengan baik-baik. Sesama saudara seperguruan mengapa mesti menggunakan kekerasan seperti ini?” berbareng pedangnya lantas menyambar maju sehingga tusukan orang she Liau kena ditangkis.
Melihat jisuheng sudah ikut maju, kesempatan itu tidak diabaikan orang she Ce, cepat ia melangkah maju dan balas menusuk perut orang she Liau. Serangan samsuheng she Ce ini pun tidak kurang kejinya, tujuannya hendak membinasakan lawannya tanpa kenal ampun sedikit pun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar