Jilid 25
Sementara itu angin meniup dengan kencangnya sehingga menimbulkan suara menderu-deru, beberapa layar kapal yang sudah robek pun ikut berkibar-kibar dan menerbitkan suara memberebet yang keras dan menyeramkan.
Walaupun Ciok Boh-thian alias Su Ek-to sudah biasa hidup sendirian dan berhati tabah, tapi di tengah malam gelap, di atas kapal yang penuh mayat belaka, betapa pun ia merasa merinding juga, apalagi kalau terkenang kepada “mayat hidup” yang pernah mengudaknya di Hau-kam-cip dahulu itu.
Saking ngerinya segera Boh-thian bermaksud meninggalkan kapal itu. Tapi baru saja ia naik kembali ke atas geladak kapal, maka mengeluhlah dia. Kiranya kapal itu sudah jauh meninggalkan tepian dan sedang terhanyut oleh arus yang deras. Mula-mula kapal itu terhanyut ke pulau Ci-yan-to, sesudah berputar dan oleng beberapa kali, kemudian terhanyut pula ke hilir.
Semalam suntuk Boh-thian tidak berani tidur di dalam kapal, ia melompat ke atas atap kapal, sambil bersandar pada tiang layar ia menantikan datangnya fajar.
Besok paginya sesudah sang surya muncul dan seluruh jagat raya menjadi terang benderang, barulah rasa seram Boh-thian mulai hilang. Ia coba memeriksa kembali keadaan kapal itu, ia lihat di luar dan dalam kapal itu sedikitnya ada 50-60 mayat yang bergelimpangan dan mengerikan. Anehnya di atas mayat-mayat itu tiada bekas-bekas darah, juga tiada tanda-tanda terluka oleh senjata tajam sehingga tidak diketahui apa yang menyebabkan kematiannya.
Ketika Boh-thian memutar ke haluan kapal, tiba-tiba dilihatnya tepat di atas pintu ruangan kapal terpaku dua buah pening dari tembaga putih sebesar gobang. Sebuah pening melukiskan muka seorang yang sedang tertawa ramah, sebuah lagi melukiskan muka yang bengis dan jahat.
Untuk sejenak Boh-thian memandangi kedua bentuk pening tembaga itu, ia merasa muka yang terlukis di atas pening itu seakan-akan hidup saja, ia tidak berani memandang lebih lama lagi dan cepat-cepat berpaling. Ketika ia memandang pula kepada mayat-mayat yang bergelimpangan itu, ia melihat hampir semuanya membawa senjata, terang korban-korban itu adalah orang-orang persilatan semua.
Waktu diperiksa lebih teliti, terlihatlah pada baju setiap korban itu masing-masing tersulam seekor ikan kecil bersayap dan berwarna putih. Boh-thian tambah heran, ia menduga korban-korban di atas kapal itu tentu adalah orang-orang sekomplotan, cuma tidak diketahui mengapa bisa ketemukan musuh tangguh dan semuanya terbinasa.
Begitulah kapal tanpa juru mudi itu masih terus terhanyut ke hilir. Menjelang tengah hari, sampailah pada suatu pengkolan sungai, tiba-tiba dari depan sedang meluncur tiba dua buah kapal dengan menempuh arus.
Melihat ada kapal yang meluncur dari hulu sungai dalam keadaan oleng, juru mudi kapal dari muara sungai itu menjadi khawatir dan berteriak-teriak, “Hai! Awas! Banting kemudi!”
Akan tetapi kapal tanpa pengemudi itu makin mengoleng, kebetulan di tengah sungai situ ada pusaran air sehingga kapal itu malah menerjang ke depan dengan melintang. Maka terdengarlah suara gemuruh yang keras, tanpa ampun lagi kedua buah kapal dari muara sungai itu telah tertumbuk.
Terdengarlah suara orang yang panik diseling suara caci maki yang kotor. Boh-thian menjadi kaget dan khawatir. Pikirnya, “Wah, kapal mereka telah tertumbuk rusak, tentu mereka akan mencari ke atas kapal ini dan meminta pertanggungjawabanku. Kalau diusut lebih jauh, tentu mereka akan mengira aku yang telah membunuh orang-orang di atas kapal ini. Wah, tentu aku bisa celaka. Lantas apa yang harus kulakukan sekarang?”
Dalam gugupnya tiba-tiba timbul akalnya, cepat ia menyusup ke dalam ruangan kapal, ia membuka papan lubang dan sembunyi ke dalam dek di bagian bawah kapal.
Sementara itu tiga buah kapal sudah oleng bersama dan bergumul menjadi satu. Selang tak lama lantas terdengar ada suara orang melompat ke atas kapal ini, menyusul ramailah suara teriak kaget orang banyak. Ada yang berseru, “He, inilah orang-orang Hui-hi-pang (gerombolan ikan terbang)! Meng... mengapa sudah mati semua!”
Lalu ada yang menanggapi, “Ya, bahkan pangcu... pangcu mereka Seng Tay-yang juga mati di sini!”
Sejenak kemudian mendadak ada orang berteriak di haluan kapal, “He, med... medali pengganjar dan... dan medali penghukum!”
Dari suaranya yang gemetar terang sekali orang ini sangat ketakutan.
Karena teriakan itu, seketika suara ribut-ribut tadi lantas berhenti, keadaan berubah menjadi sunyi senyap.
Walaupun sembunyi di bawah kapal dan tidak dapat melihat air muka orang-orang itu, tapi dapatlah Boh-thian membayangkan betapa kaget dan takutnya mereka.
Sampai agak lama barulah terdengar seorang membuka suara, “Tahun ini memang jatuh tempo keluarnya Siang-sian-leng dan Hwat-ok-leng (Medali Pengganjar dan Medali Penghukum), maka besar kemungkinan kedua rasul pengganjar dan penghukum kembali telah bertugas keluar lagi. Ai, memangnya orang-orang Hui-hi-pang ini di masa lampau sudah terlalu banyak melakukan kejahatan....” sampai di sini ia lantas menghela napas panjang dan tidak meneruskan.
“Oh-toako,” demikian terdengar seorang bertanya, “konon menurut cerita orang, katanya Siang-sian-leng dan Hwat-ok-leng ini adalah tanda panggilan kepada seseorang ke... ke sesuatu tempat, setiba di sana barulah diambil tindakan, jadi hukuman tidak dilakukan di tempat si orang yang dipanggil.”
“Ya, bilamana yang dipanggil itu mau tunduk kepada panggilannya,” sahut orang yang duluan tadi. “Tampaknya Seng Tay-yang dari Hui-hi-pang ini tidak mau menurut perintah dan melakukan perlawanan, maka kedua rasul sakti itu menjadi gusar.”
Sesudah pembicaraan orang itu, lalu semua orang terdiam lagi.
Tiba-tiba Boh-thian sendiri teringat, “Mayat-mayat yang bergelimpangan di kapal ini katanya adalah orang-orang Hui-hi-pang segala dan ada juga seorang pangcu. Wah, celaka, bukan mustahil kedua rasul yang disebut pengganjar dan penghukum itu juga akan mendatangi Tiang-lok-pang kami?”
Berpikir demikian, mau tak mau ia menjadi gelisah, ia merasa perlu lekas pulang ke tempat Tiang-lok-pang untuk memberitahukan kepada kawan-kawannya di sana agar bisa siap siaga sebelumnya. Maklum, walaupun dia keliru disangka sebagai Ciok-pangcu dari Tiang-lok-pang sehingga banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan baginya, bahkan beberapa kali jiwanya terancam bahaya, namun setiap orang di Tiang-lok-pang adalah sedemikian baik dan menghormat padanya, meskipun pernah terjadi seorang Tian Hui yang bermaksud membunuhnya, tapi hal ini pun terjadi karena salah paham, sebab itulah Boh-thian sangat menaruh perhatian terhadap keselamatan orang-orang Tiang-lok-pang. Segera ia pasang telinga dan mendengarkan lebih jauh apa yang dipercakapkan orang-orang di atas kapal itu.
Terdengar seorang di antaranya telah berkata pula, “Oh-toako, menurut pendapatmu, urusan ini akan merembet sampai kepada kita atau tidak? Kedua rasul itu apakah juga akan mendatangi Tiat-cha-hwe (perkumpulan tombak besi) kita?”
Maka orang yang dipanggil sebagai Oh-toako itu telah menjawab, “Jikalau kedua rasul pengganjar dan penghukum sudah muncul lagi, maka setiap organisasi atau perkumpulan di dunia Kangouw tentu susah bebas dari penilikan mereka. Tentang Tiat-cha-hwe kita apakah dapat terhindar dari malapetaka ini kukira semuanya tergantunglah kepada nasib kita.”
Dan sesudah merenung sejenak, lalu ia berkata pula, “Baik begini saja, diam-diam boleh kau perintahkan orang agar segera pulang lapor kepada Congthocu (ketua) kita. Adapun para saudara yang berada di atas kedua kapal kita itu, boleh suruh mereka berkumpul ke atas kapal ini. Semua benda di atas kapal ini janganlah dipegang, kita membawa kapal ini ke kampung nelayan di luar muara Ang-liu-kang sana. Karena kedua rasul pengganjar dan penghukum sudah menumpas habis para tokoh-tokoh Hui-hi-pang, rasanya mereka takkan datang lagi untuk kedua kalinya.”
“Betul, betul, bagus sekali akal ini!” seru orang pertama tadi. “Jika kedua Sucia (rasul) melihat kapal ini pula, tentu mereka akan mengira kapal ini hanya berisi mayat-mayat orang Hui-hi-pang belaka dan tidak mungkin memeriksa ke sini lagi. Biarlah sekarang juga aku akan meneruskan perintahmu.”
Tidak lama kemudian, terdengarlah orang banyak beramai-ramai berkumpul ke atas kapal ini. Di tempat sembunyinya Boh-thian dapat mendengar percakapan ramai yang dilakukan orang-orang itu dengan suara perlahan dan ketakutan seakan-akan sedang menghadapi elmaut.
Terdengar seorang di antaranya berkata, “Tiat-cha-hwe kita toh tiada bersalah kepada mereka, rasanya kedua rasul pengganjar dan penghukum takkan membikin susah kepada kita.”
Lalu seorang kawannya menanggapi, “Memangnya kau kira orang-orang Hui-hi-pang berani menyalahi mereka? Tapi toh tidak terhindar dari malapetaka. Ai, kukira bencana yang selalu terjadi satu kali setiap sepuluh tahun ini mungkin... mungkin kali ini kita... kita juga....”
Tiba-tiba seorang lagi menyela, “Lau Li, apabila Congthocu kita memenuhi panggilan dan pergi ke sana, lalu bagaimana?”
“Lalu bagaimana? Sudah tentu bisa pergi tak bisa pulang!” sahut orang she Li itu dengan mendengus. “Menurut kejadian-kejadian beberapa puluh tahun yang lalu, setiap orang, apakah dia pangcu, congthocu, atau ciangbunjin dari golongan mana, asal sudah pergi memenuhi panggilan itu, belum pernah ada seorang pun yang pulang kembali. Sudahlah, selama ini Congthocu sangat berbudi kepada kita, pendek kata kalau terjadi apa-apa atas diri beliau, masakah kita mesti bersikap pengecut dan membiarkan beliau menghadapi bahaya sendiri?”
“Benar juga. Tapi jalan paling baik adalah menghindari saja,” ujar seorang lagi. “Untung kita dapat mengetahui sebelumnya secara kebetulan, tampaknya Thian memang memberkati agar Tiat-cha-hwe kita terbebas dari bencana ini. Perkampungan nelayan kecil di muara Ang-liu-kang itu sangatlah terpencil dan merupakan suatu tempat sembunyi yang bagus, biarpun kedua Sucia pengganjar dan penghukum serbalihai juga susah untuk menemukan kita.”
“Sudah lama Congthocu mengusahakan perkampungan nelayan ini, tujuannya tiada lain justru akan digunakan seperti sekarang ini,” kata orang yang dipanggil Oh-toako tadi. “Selama delapan tahun nelayan yang berdiam di perkampungan itu boleh dikata tidak pernah keluar dari perkampungan itu, jadi tempat itu memangnya adalah sebuah tempat pengungsian yang baik.”
Kemudian seorang lagi yang bersuara lantang kasar telah berkata, “Tiat-cha-hwe kita selama ini malang melintang di lembah Tiangkang sini, kita tidak takut kepada langit dan tidak gentar pada bumi, bahkan kepada si tua bangka raja juga kita tidak mau tunduk, mengapa sekarang hanya mendengar nama rasul-rasul kentut apa segala lantas ketakutan setengah mati dan lari mencawat ekor terus mengkeret dan sembunyi seperti kura-kura saja. Seumpama kita dapat sembunyi dengan baik, tapi kelak kalau ada orang menanyakan kejadian ini, lalu muka kita harus ditaruh ke mana? Maka ada lebih baik kita melawannya mati-matian, persetan, toh jiwa kita belum pasti akan melayang!”
“Benar juga,” ujar Oh-toako tadi. “Orang yang makan nasi Kangouw sebagai kita ini memangnya tidak perlu pikir tentang jiwa melayang segala, pekerjaan kita senantiasa bergulat dengan elmaut, apa yang mesti kita takuti. Namun menghadapi Siang-sian dan Hwat-ok Sucia kita tidak boleh tidak berpikir dua kali, jangankan kita, sedangkan tokoh-tokoh terkemuka sebagai....”
Sampai di sini, mendadak orang yang bersuara lantang kasar tadi berteriak, “Huh, dasar pengecut, bilakah kau pernah melihat aku Ong-laulak, Si Bulus Berkepala Botak, minta ampun dan takut kepada orang lain? Huh... aduuuh!”
Belum selesai ucapannya, mendadak ia menjerit ngeri. Habis itu keadaan lantas sunyi senyap dan tiada seorang pun yang berani membuka suara lagi.
Sejenak kemudian, tiba-tiba Boh-thian merasa ada air yang menetes di atas tangannya, waktu ia mengendus barang cair itu, terciumlah bau anyirnya darah. Malahan darah itu masih terus menetes dari atas.
Karena tahu orang-orang yang berada di atas geladak kapal itu tepat berada di atas kepalanya, maka Boh-thian tidak berani bergerak sedikit pun agar tidak menjangkitkan sesuatu suara dan terpaksa membiarkan darah menetes terus di atas badannya.
Dalam pada itu terdengar pula si Oh-toako tadi sedang berteriak dengan bengis, “Apa kau menyalahkan aku karena Ong-laulak telah kubunuh?”
“Ah, tidak, tidak!” demikian sahut seorang dengan suara agak gemetar. “Ucapan Ong-laulak tadi memang... memang terlalu kasar sehingga tidaklah heran membikin marah kepada Oh-toako. Cuma... cuma saja Ong-laulak selamanya juga... juga sangat setia dan telah banyak berjasa bagi Tiat-cha-hwe kita.”
“Jadi kau tidak setuju atas tindakanku barusan ini?” tanya si Oh-toako.
“Bu... bukan....” belum sempat orang itu bicara pula, kembali terdengarlah jeritan ngeri, terang ia sudah dibunuh pula oleh orang she Oh itu.
Maka air darah kembali menetes lagi ke bawah melalui celah-celah papan kapal, untung sekali kini air darah itu tidak mengotori badan Ciok Boh-thian, tapi menetes semua di lantai.
Berturut-turut Oh-toako itu telah membunuh dua orang, keruan yang lain-lain tidak berani banyak cincong lagi. Maka Oh-toako itu telah berkata, “Bukanlah aku sengaja berbuat ganas dan kejam dan tidak mengingat hubungan baik sesama saudara, tapi soalnya menyangkut jiwa beribu-ribu anggota kita, bila tempat kita ini sampai diketahui musuh, maka nasib kita pasti akan serupa dengan kawan-kawan dari Hui-hi-pang ini. Ong-laulak menganggap dirinya jagoan dan berteriak-teriak, padahal jiwanya tidaklah menjadi soal, masakah jiwa Congthocu dan kita semua harus ikut melayang bersama dia?”
Terdengar semua orang mengiakan saja dan tidak berani bicara pula.
Maka Oh-toako itu berkata lagi, “Nah, siapa-siapa yang tidak ingin mampus supaya berdiam saja di dalam kapal ini. Siau Song, pergilah kau memegang kemudi, pakailah sepotong kain layar untuk menutupi tubuhmu agar jangan sampai dilihat orang.”
Begitulah Boh-thian yang mendekam di bawah kapal itu lantas mendengar mendeburnya air, kapal itu terasa bergerak. Mungkin orang-orang di atas kapal itu semuanya sedang merenungkan nasibnya sendiri-sendiri, maka tiada seorang pun yang berbicara. Dengan demikian Boh-thian sendiri lebih-lebih tidak berani bergerak dan menerbitkan sesuatu suara. Teringat olehnya tipu-tipu silat yang dimainkannya di tepi pantai kemarin itu, dengan pedang di tangan kiri dan golok di tangan kanan, ditambah lagi jurus-jurus pukulan dan tendangan ajaran Ting Put-si. serta Kim-na-jiu-hoat ajaran si Ting Tong, semua kepandaian itu sejurus demi sejurus terlintas pula dalam ingatannya, sehingga tanpa merasa seluruh tenaga dalam yang terpupuk di dalam tubuhnya, telah dicurahkan semua ke dalam jurus-jurus ilmu silat ciptaannya itu. Terkadang kalau ia merasa salah satu jurus di antaranya masih kurang sempurna, segera ia memikirkannya pula dari semula.
Begitulah ia tenggelam di dalam lamunannya untuk menyelami ilmu silatnya. Semula ia masih sempat mengikuti juga gerak-gerik orang-orang Tiat-cha-hwe yang berada di atas kapal itu, tapi sampai akhirnya, perhatiannya telah tercurah seluruhnya kepada ilmu silat melulu. Sesudah mengalami penyelaman secara mendalam ini, baru sekarang lwekang dan gwakang yang telah dihimpunnya selama bertahun-tahun ini dapatlah dilebur dan dipahami dengan baik. Maka si “Kau-cap-ceng” yang tadinya cuma seorang pemuda gunung yang ketolol-tololan telah tumbuh juga menjadi seorang jago silat kelas wahid hasil ciptaannya sendiri.
Beberapa jam kemudian, teringat pula olehnya pertandingan ilmu pedang antara Ciok Jing suami-istri melawan, Pek Ban-kiam, serta macam-macam ilmu silat ketika terjadi pertarungan antara Ting Put-sam dan Ting Put-si mengeroyok Pek Ban-kiam di Ci-yan-to tempo hari, di mana dahulu ia merasa susah memahami letak kebagusan ilmu-ilmu silat itu. Tapi sekarang sesudah direnung kembali, ia merasa setiap tipu dan setiap jurus yang dimainkan mereka itu toh semuanya jelas dan gamblang baginya.
Selagi Boh-thian termenung-menung, tiba-tiba terdengar suara gemerencingnya rantai, kiranya kapal itu sudah membuang sauh dan telah berlabuh.
Segera terdengar pula si Oh-toako sedang berkata, “Sesudah masuk rumah, semua orang dilarang keluar lagi. Dengan tenang tunggulah kedatangan Congthocu dan terserah kepada perintah beliau nanti.”
Dengan suara perlahan semua orang telah mengiakan, lalu dengan hati-hati mereka mendarat semua. Hanya dalam sekejap saja semua orang sudah meninggalkan kapal itu, keadaan menjadi sunyi kembali.
Sesudah menunggu agak lama, Boh-thian menduga orang-orang itu tentu sudah masuk rumah semua, maka perlahan-lahan barulah ia berani membuka papan lubang dan melongok ke atas. Segera matanya menjadi silau oleh cahaya yang terang benderang. Kiranya waktu itu sudah siang hari.
Melihat sekelilingnya tiada orang lagi barulah Boh-thian menerobos keluar dari bawah dek. Ia lihat di atas geladak kapal masih penuh dengan mayat-mayat kemarin itu. Segera ia menjemput sebatang golok dan diselipkan pada ikat pinggangnya. Ia menggerayangi pula mayat-mayat itu dan menemukan beberapa renceng uang perak guna sangu. Lalu ia menuju ke buritan kapal, dari situ ia melompat ke daratan. Sambil membungkuk ia terus berlari-lari kecil menyusur tepi sungai.
Kira-kira satu li jauhnya barulah ia sampai di suatu jalanan kecil yang menghubungkan tepi sungai itu. Ia pikir saat itu belum terlepas dari daerah berbahaya, rasanya makin jauh meninggalkan tempat itu akan makin baik, maka ia lantas angkat kaki dan berlari-lari secepatnya. Untunglah perkampungan nelayan itu memang sangat sepi dan terpencil, belasan li di sekitar situ ternyata tiada sebuah rumah pun, selama itu tiada seorang pun yang dijumpai.
Ia tidak tahu bahwa di sekitar perkampungan nelayan itu, sebenarnya ada juga beberapa petani, tapi petani-petani itu diam-diam telah binasa diracun orang-orang Tiat-cha-hwe, ada juga penduduk pindahan baru dari lain tempat, tapi tidak lama kemudian meninggalkan tempat itu.
Orang-orang yang berdekatan dengan perkampungan nelayan Ang-liu-kang (muara pohon Liu merah) itu menganggapnya sebagai tempat maut yang selalu berjangkit penyakit menular. Maka selama beberapa tahun ini tiada seorang pun yang berani mendekatinya, dan dengan demikian Ang-liu-kang dapatlah menjadi sarang Tiat-cha-hwe yang sangat baik dan rahasia.
Setelah berlari beberapa li lagi, jarak dengan kampung nelayan itu sudah semakin jauh. Boh-thian benar-benar sudah sangat lapar. Segera ia memasuki hutan yang berada di sebelah jalan dengan tujuan mencari sesuatu makanan. Eh, benar-benar sangat kebetulan, belum jauh ia berjalan, sekonyong-konyong terdengar suara gemeresak, dari tengah-tengah semak-semak telah menerjang keluar seekor babi hutan yang besar, dengan kedua taringnya yang kelihatan putih tajam, binatang itu terus menyeruduk ke arah Ciok Boh-thian.
Tapi dengan sebat sekali Boh-thian dapat mengegos ke samping, berbareng tangan kanan sudah mencabut golok, dengan jurus “Tiang-cia-ciat-ki” (Si Kakek Menebas Tangkai) dari Kim-oh-to-hoat, secepat kilat ia menebas. “Sret”, tanpa ampun lagi buah kepala babi hutan itu sudah terpenggal.
Babi hutan itu ternyata sangat buas dan tangkas, meski kepalanya sudah terpenggal toh tubuhnya masih menerjang ke depan sampai beberapa meter jauhnya, habis itu barulah roboh.
Sungguh girang Boh-thian tak terkatakan. Ini benar-benar pucuk dicinta ulam tiba, memangnya ia sedang kelaparan dan ingin mencari makanan, tahu-tahu babi hutan itu telah mengantarkan nyawa sendiri untuk menjadi babi panggang baginya.
Segera Boh-thian mencari sepotong batu hitam, ia gunakan punggung golok untuk mengetok batu itu sehingga meletikkan lelatu untuk membuat api unggun.
Ia pilih bagian-bagian yang baik dan potong keempat paha babi hutan itu. Ia mencucinya ke tepi sungai kecil yang tiada jauh dari situ. Ketika kembali goloknya yang dia bakar di dalam api unggun itu pun sudah merah, dengan golok panas itulah ia bersihkan bulu-bulu di atas paha babi hutan. Lalu keempat paha itu dia tusuk dengan sebatang kayu dan terus dipanggang.
Tidak lama kemudian, maka teruarlah bau harum sedap yang merangsang selera.
Tengah Boh-thian sibuk memanggang paha babi hutan, tiba-tiba terdengar di tempat sejauh beberapa puluh meter sana ada orang berkata, “Wah, alangkah sedapnya bau ini, benar-benar membangunkan nafsu makan setiap orang!”
“Agaknya di sebelah sana ada orang sedang memanggang daging, marilah kita coba pergi ke sana dan berunding padanya untuk minta bagian sedikit,” demikian seorang lagi menanggapi.
“Ya, benar! Hayo!” sahut orang yang pertama.
Lalu terdengar suara langkah mereka yang menuju ke tempat Ciok Boh-thian.
Maka tertampaklah seorang di antaranya bertubuh tinggi gemuk, bermuka lebar dan bertelinga besar, memakai jubah warna kuning kehijau-hijauan, wajahnya tersenyum simpul dan ramah tamah. Seorang lagi juga bertubuh sangat tinggi, tapi kurus kering, berbaju panjang warna biru langit, berjenggot kecil sebagai buntut tikus, wajahnya kelihatan guram dan bersungut.
Sesudah dekat, segera si gemuk menyapa dengan tertawa, “Haha, Saudara cilik, bolehkah....”
Karena sudah mendengar percakapan mereka tadi, segera Boh-thian menukas, “Ya, di sini masih banyak kelebihan daging panggang, biarpun sepuluh orang juga takkan habis, sebentar boleh silakan kalian ikut pesta saja.”
“Jika demikian, banyaklah terima kasih,” ujar si gemuk.
Kedua orang itu lantas berduduk di samping api unggun. Mereka melihat pakaian Ciok Boh-thian cukup perlente, tapi kotor dan kusut, bahkan penuh bekas darah. Kedua orang itu saling tukar pandang dengan perasaan heran. Tapi mereka lantas memusatkan perhatian mereka kepada paha babi hutan yang sedang dipanggang itu dan tidak ambil pusing lagi kepada keadaan Ciok Boh-thian itu.
Babi hutan itu ternyata cukup gemuk sehingga sesudah terpanggang minyaknya telah menetes ke dalam api unggun dan menimbulkan bau sedap, walaupun belum dimakan, namun sudah merangsang selera.
Keruan si kurus hampir-hampir mengiler. Dari pinggangnya ia menanggalkan sebuah houlo (buli-buli arak terbuat dari sejenis labu) berwarna biru, ia membuka sumbat buli-buli itu terus menenggak seceguk, lalu mulutnya berkecap-kecap sambil memuji, “Ehmmm, arak bagus!”
Si gemuk juga lantas menanggalkan sebuah houlo warna merah, lebih dulu ia mengocaknya berapa kali, lalu membuka sumbat dan menenggaknya juga satu ceguk, kemudian ia pun berkata, “Ehmmm, arak bagus!”
Selama ikut Cia Yan-khek dahulu, sering juga Ciok Boh-thian melihat dan mencicipi arak. Sekarang terendus bau arak, seketika timbul juga keinginannya ikut minum. Cuma ia menjadi ragu-ragu ketika melihat kedua orang itu masing-masing meminum araknya sendiri-sendiri dan tiada maksud mengundangnya ikut minum, maka ia pun merasa tidak pantas untuk memohon kepada mereka.
Selang tak lama, keempat paha babi panggang itu sudah cukup matang, segera Boh-thian berkata, “Sudah matang sekarang, silakan makan!”
Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, segera si gemuk dan si kurus menyerbu babi panggang itu, masing-masing menyambar sepotong paha gemuk besar itu terus akan digerogoti dengan lahapnya kalau Ciok Boh-thian tidak keburu menyetop mereka, “Meski kedua belah paha itu gemuk dan besar, tapi itu adalah paha bagian belakang, rasanya tidak seenak paha bagian depan.”
Apa yang dikatakan Boh-thian itu memang benar. Kalau memilih paha (kaki) babi, maka kaki bagian depan adalah lebih lezat daripada kaki belakang.
Maka si gemuk telah menjawab dengan tertawa, “Hatimu ternyata sangat baik!”
Segera ia menukarkan sebelah kaki depan yang lebih kecil dan lebih lezat rasanya, lalu digerogoti dengan lahapnya.
Si kurus sudah telanjur menggerogoti paha panggang bagian depan itu, ia hanya ragu-ragu sejenak, tapi tidak jadi menukarkannya.
Begitulah sesudah kedua orang itu memakan sebagian paha panggang itu, lalu masing-masing minum seceguk lagi araknya masing-masing sambil memuji, “Ehmmm, arak bagus!”
Kemudian buli-buli arak disumbat kembali dan digantungkan lagi ke pinggang masing-masing.
Diam-diam Boh-thian membatin, “Tampaknya kedua orang ini toh bukan orang miskin, mengapa mereka begini kikir, hanya minum dua ceguk saja lantas tidak berani minum lebih banyak lagi, memangnya apakah arak mereka sedemikian bagus dan mahalnya?”
Sejenak kemudian, dengan memberanikan diri Boh-thian coba memohon kepada si gemuk, “Toaya (tuan), apakah boleh aku minta arakmu barang beberapa cegukan saja?”
Namun si gemuk telah menggoyang kepala dan menjawab, “Tidak, tidak boleh! Ini bukan arak, tidak boleh diminum orang lain. Kami telah makan babi panggangmu, sebentar kami tentu akan memberi balas jasa yang pantas.”
“Hehe, kau berdusta,” ujar Boh-thian dengan tertawa. “Baru saja kau sendiri mengatakan ‘arak bagus’, pula aku pun mencium harumnya arak.”
Lalu ia berpaling kepada si kurus dan memohon, “Biarlah arak kepunyaan Toaya ini saja, bolehkah aku meminumnya beberapa ceguk?”
Namun si kurus telah menjawabnya dengan mata mendelik, “Ini adalah racun, jika kau berani boleh silakan minum.”
Habis berkata ia lantas menanggalkan pula buli-bulinya dan ditaruh di atas tanah.
“Jika racun, mengapa kau sendiri tidak keracunan?” ujar Boh-thian dengan tertawa sambil mengambil buli-buli arak itu, ketika ia membuka sumbatnya, segera terendus bau arak yang menusuk hidung.
Melihat Boh-thian benar-benar akan minum arak kawannya, air muka si gemuk agak berubah, cepat ia berkata, “Memangnya begitu, siapa yang berdusta padamu? Hayo, lekas taruh kembali!”
Berbareng tangannya lantas menjulur dengan maksud merebut kembali houlo yang telah dipegang Boh-thian itu.
Tak terduga, baru saja jarinya menyentuh tangan Ciok Boh-thian, seketika si gemuk merasa tergetar oleh suatu tenaga yang mahakuat sehingga jarinya terpental balik.
Si gemuk bersuara kaget dan berkata, “Eh, beginilah kiranya! Jadi kami sendiri yang salah mata, ya, silakan minum arak itu!”
Tanpa sungkan-sungkan lagi Boh-thian lantas angkat houlo itu dan meneguknya dua kali, ia pikir si kurus sangat kikir dan sayang sekali kepada araknya, maka ia tidak berani minum terlalu banyak, sesudah ia tutup kembali buli-buli itu, lalu mengucapkan terima kasih.
Tiba-tiba ia merasa suatu arus hawa dingin menaik dari perutnya. Hawa dingin itu terus mengalir menaik sehingga dalam sekejap saja sekujur badannya seakan-akan terbeku kaku. Cepat Boh-thian mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan, dengan demikian arus dingin itu lambat laun dapat dipunahkan. Dan sesudah hilang rasa dingin itu, seketika seluruh anggota badannya terasa sangat segar sekali, bukan saja tidak merasa dingin, sebaliknya malah merasa hangat-hangat dan enak sekali.
“Ehmmm, arak bagus!” demikian tanpa terasa Boh-thian juga memuji dan tanpa kuasa ia sambar houlo arak tadi, ia cabut sumpalnya dan kembali meneguk dua kali.
Ketika tenaga dalamnya dapat memunahkan pula hawa dingin yang timbul dari arak itu, maka ia pun mulai merasakan pengaruhnya alkohol itu. Katanya dengan gegetun, “Ah, benar-benar arak bagus yang belum pernah kuminum. Sayang arak ini terlalulah berharga, kalau tidak tentu akan kuhabiskan seluruhnya.”
Air muka si gemuk dan si kurus tampak terheran-heran. Kata si gemuk, “Jika adik cilik benar-benar tahan minum, maka bolehlah silakan minum habis seisi houlo itu.”
“Apa benar? Kukira Toaya ini takkan mengizinkan,” ujar Boh-thian dengan girang.
“Isi houlo merah tuan gemuk ini rasanya terlebih enak lagi, apakah kau mau mencobanya?” tiba-tiba si kurus menanggapi dengan nada dingin.
Boh-thian tidak bersuara lagi, ia hanya pandang si gemuk dengan maksud memohon.
Tiba-tiba si gemuk menghela napas, katanya, “Semuda ini telah memiliki lwekang sedemikian tinggi, tapi jiwa akan melayang secara begini, sungguh sayang!”
Sambil berkata ia terus menanggalkan houlo merah dari pinggangnya dan ditaruh di atas tanah.
Diam-diam Boh-thian berpikir, “Kedua orang ini rupanya suka berkelakar semua. Bilamana arak mereka ini benar-benar beracun, mengapa mereka sendiri telah meminumnya juga?”
Segera ia pun angkat houlo merah itu, ketika sumpalnya dicabut, bau arak lantas menusuk hidung pula. Tanpa pikir lagi ia lantas meneguk dua kali. Sekali ini rasanya tidak dingin seperti arak si kurus, sebaliknya rasanya sangat panas sehingga perut seperti terbakar. Boh-thian sampai menjerit kaget dan meloncat bangun, cepat ia mengerahkan tenaga dalam sehingga rasa panas sebagai api itu dapatlah dipunahkan. Teriaknya, “Wah, lihai benar arak ini!”
Dan aneh juga, begitu rasa panas di dalam perut sudah lenyap, seketika sekujur badannya terasa lebih segar daripada tadi. “Begitu hebat tenaga dalammu, kenapa sih kalau kau habiskan sekalian isi kedua houlo itu?” ujar si gemuk.
“Ah, aku mana berani minum sendirian,” sahut Boh-thian dengan tertawa. “Hari ini kita bertiga dapat berkenalan dan bersahabat, alangkah senangnya jika kita sambil makan daging panggang sambil masing-masing minum seceguk. Nah, silakan dahulu, Toaya.”
Habis berkata ia terus mengangsurkan houlo merah itu kepada si gemuk.
“Haha, jika adik cilik ingin mengukur kekuatan padaku, terpaksa aku mengiringi sebisanya,” sahut si gemuk dengan tertawa. Ia terima houlo merah dan menenggaknya seceguk, lalu diangsurkan kembali kepada Boh-thian sambil berkata, “Silakan minum lagi!”
Tanpa sungkan-sungkan Boh-thian minum seteguk pula, lalu mengangsurkan houlo itu kepada si kurus sambil berkata, “Silakan Toaya ini juga minum!”
Air muka si kurus tampak berubah, katanya, “Aku akan minum kepunyaanku sendiri.”
Segera ia ambil houlo biru dan minum seteguk, kemudian diberikan pula kepada Ciok Boh-thian.
Boh-thian telah merasakan arak di dalam houlo biru itu, ia pikir kalau arak panas dan dingin itu diminum seteguk demi seteguk secara bergiliran, rasa panas-dingin yang bercampur aduk itu tentulah akan sangat enak sekali. Maka tanpa pikir ia lantas terima houlo biru si kurus dan meminumnya seteguk besar.
Ketika dilihatnya si gemuk dan si kurus memandangnya dengan mata melotot, segera Boh-thian paham apa artinya, dengan menyesal ia bilang, “O, maaf, terlalu banyak tegukan barusan ini.”
Tapi si kurus telah berkata dengan nada dingin, “Jika kau ingin gagah-gagahan, makin banyak kau meneguk makin baik.”
“Kalau kehabisan dan kita belum puas, biarlah sebentar kita beli lagi di kota sana, aku membawa uang, boleh kita membeli satu guci besar dan kita dapat minum sepuas-puasnya. Cuma arak sebagus ini mungkin susah didapatkan,” kata Boh-thian dengan tertawa. Lalu ia minum seteguk lagi isi houlo merah, kemudian diangsurkan kembali kepada si gemuk.
Si gemuk tampak duduk bersila dan diam-diam mengerahkan lwekangnya, dengan demikian barulah dia minum seteguk pula. Ia semakin heran dan terperanjat demi menyaksikan Boh-thian minum seteguk demi seteguk tanpa halangan apa-apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar