Sabtu, 24 Maret 2012

Medali Wasiat 36

Jilid 36

Dan sesudah merandek sejenak, kemudian ia sambung pula dengan suara lantang, “Namun demikian, segala sesuatu yang pernah dilakukan olehnya, tak peduli apakah dia masih ingat atau sudah lupa, pendek kata tidak nanti kami mengelakkan tanggung jawab. Sebaliknya jika perbuatan orang lain yang dilakukan dengan memperalat nama putraku, untuk ini kami menyatakan dengan tegas di sini bahwa semuanya tidak ada sangkut pautnya dengan kami.”

Seketika heran dan bingunglah semua orang yang hadir di situ, sungguh tiada seorang pun akan menduga bahwa mendadak bisa terjadi hal-hal yang luar biasa ini.

“Hehe, hehe, mengapa bicara demikian?” jawab Pek Hay-ciok dengan terkekeh kaku. “Ciok-pangcu kami....”

Tiba-tiba Ciok Boh-thian menimbrung, “Ya, Pwe-siansing, apa yang dikatakan ayah memang tidak salah. Aku bukan pangcu kalian, hal ini berulang-ulang sudah kukatakan, tapi kalian tetap tidak percaya.”

“Sebenarnya rahasia apa yang terkandung di dalam urusan ini, sungguh kami ingin ikut mengetahuinya dengan jelas,” demikian Hoan It-hui membuka suara. “Kami hanya kenal Pangcu Tiang-lok-pang adalah Tonghong Heng, Tonghong-toako, mengapa beliau bisa diganti oleh Ciok-inkong?”

Sejak tadi Nyo Kong hanya diam saja, sekarang ia pun ikut bicara sambil mengelus jenggotnya, “Pek-suhu, janganlah engkau keburu nafsu, siapa yang salah dan siapa yang benar di dalam urusan ini tentu dunia persilatan akan memberi pertimbangan yang adil.”

Meski usianya sudah tua, tapi suaranya ternyata keras lantang dan berwibawa. Terdengar ia melanjutkan lagi, “Maka segala persoalan biarlah kita bicara secara tenang saja. Paling betul sekarang belenggu atas diri beberapa saudara itu hendaklah dibuka lebih dulu.”

Melihat Pwe Hay-ciok sudah mengangguk setuju, segera beberapa anggota Tiang-lok-pang tadi melepaskan orang-orang Swat-san-pay yang tertawan itu.

Sesudah mendengar nada Ciok Jing dan Nyo Kong tadi yang lebih condong menegur kepada Pwe Hay-ciok dan tiada tanda bermusuhan dengan dirinya, hal ini membuat Pek Ban-kiam menjadi heran Sebenarnya sikapnya yang keras dan menantang kepada Pwe Hay-ciok tadi hanyalah karena terpaksa mengingat para sutenya sudah tertawan, sekarang dia hanya bersendirian, demi mempertahankan martabat Swat-san-pay terpaksa ia bersuara galak dan siap menghadapi segala risiko. Tapi dengan datangnya Ciok Jing suami-istri dan Nyo Kong secara mendadak, tampaknya situasi menjadi berubah, maka ia pun tidak banyak bicara lagi, hanya tunggu dan lihat dulu apa yang akan diperbuat oleh Pwe Hay-ciok.

Menunggu sesudah anak murid Swat-san-pay telah dibebaskan semua dan telah ambil tempat duduk masing-masing, kemudian Ciok Jing berkata pula, “Pwe-siansing, usia putraku masih demikian muda, pengalamannya terlalu cetek, kalau dia dapat menduduki pemimpin suatu organisasi besar sebagai Tiang-lok-pang kalian, apakah hal ini takkan ditertawai setiap kesatria Kangouw? Hari ini mumpung Nyo-loenghiong, Pek-suheng, dan para saudara-saudara Swat-san-pay yang lain serta Su-tay-mui-pay dari Kwantang juga hadir di sini, maka persoalan ini harus dibikin jelas. Ingin kukatakan bahwa sejak kini putraku, Ciok Tiong-giok ini tiada sesuatu hubungan dan sangkut paut apa-apa lagi dengan Tiang-lok-pang. Tentang perbuatan-perbuatannya selama beberapa tahun ini, apa yang dia lakukan sendiri sudah tentu akan dibereskan, sebaliknya perbuatan yang dilakukan orang lain dengan memperalat namanya, apakah perbuatan itu baik atau jelek, bukanlah menjadi tanggung-jawab anak Giok.”

“Apa yang dibicarakan Ciok-cengcu ini benar-benar membikin orang merasa bingung dan tidak habis mengerti,” demikian Pwe Hay-ciok menjawab dengan tertawa. “Bahwasanya Ciok-pangcu menjabat pangcu kami, hal ini sudah berlangsung selama tiga tahun dan bukan kejadian sehari semalam saja, selama ini kami pun tidak pernah mendengar cerita dari Pangcu bahwa Hian-soh-siang-kiam yang termasyhur di dunia Kangouw ternyata adalah ayah-ibu beliau. Pangcu, mengapa tidak kau katakan sejak dulu? Kalau tidak, jarak Hian-soh-ceng dari ini toh tidak terlalu jauh, pada waktu engkau diangkat menjadi pangcu tentu kita sudah mengundang ayah-bundamu untuk menyaksikan upacara resmi itu.”

“Aku... aku sebenarnya juga tidak tahu,” sahut Boh-thian.

Jawaban Boh-thian ini membuat semua orang melengak. “Mengapa kau sebenarnya juga tidak tahu?” demikian mereka bertanya-tanya di dalam hati.

Maka cepat Ciok Jing menukas, “Ya, sebagaimana telah kukatakan tadi, putraku ini pernah jatuh sakit keras sehingga melupakan segala kejadian di masa lampau, bahkan ayah-ibunya sendiri juga tak teringat lagi. Maka soal ini tak bisa menyalahkan dia.”

Sebenarnya Pwe Hay-ciok serbasusah dan terdesak oleh kata-kata Ciok Jing tadi. Tak mungkin secara terang-terangan ia menceritakan maksud tujuan mereka mengangkat Ciok Boh-thian sebagai pangcu hanya untuk tameng saja dalam menghadapi undangan medali tembaga dari kedua rasul penghukum dan pengganjar, sedangkan soal ini pun tidak pernah diucapkan oleh orang-orang Tiang-lok-pang sendiri, mereka hanya sama-sama tahu di dalam hati saja, masakah di hadapan orang luar boleh diceritakan?

Tapi sekarang demi mendengar Ciok Boh-thian mengaku bahwa sebelumnya dia sendiri pun tidak tahu Ciok Jing dan Bin Ju adalah ayah-ibunya, maka dapatlah dia alasan bantahannya, segera ia berkata, “Ya, belum lama memang Pangcu telah menderita sakit keras, tapi kejadian itu baru dua bulan saja, ketika beliau diangkat menjadi pangcu kesehatannya cukup baik, pikirannya sangat jernih, kalau tidak mana mungkin beliau mampu menandingi dan bahkan mengalahkan Tonghong-pangcu?”

Ciok Jing dan Bin Ju menjadi curiga, mereka merasa belum pernah mendengar kejadian demikian dari sang putra.

“Nak, sebenarnya bagaimana kejadian yang dikatakan itu?” tanya Bin Ju kepada Boh-thian.

“Aku sendiri pun sama sekali tidak ingat lagi,” sahut Boh-thian sambil geleng kepala.

“Kami hanya tahu pangcu she Ciok dan bernama Boh-thian, nama Ciok Tiong-giok hanya baru saja kami mendengarnya dari Pek-suhu dan Ciok-cengcu,” kata Pwe Hay-ciok pula. “Apa tidak mungkin Ciok-cengcu yang telah salah mengenali orang?”

“Putra kandungku sendiri masakah aku bisa salah mengenalnya?” sahut Bin Ju dengan gusar. Biasanya dia sangat ramah tamah, tapi Pwe Hay-ciok mengatakan Ciok Boh-thian bukan putranya, betapa pun ia menjadi geram juga.

Melihat Pwe Hay-ciok tetap ngotot, Ciok Jing pikir tiada jalan lain kecuali mengungkap terus terang saja tipu muslihat mereka. Segera ia berkata, “Pwe-siansing, biarlah kita bicara secara blakblakan. Sebabnya pang kalian sedemikian menghargai putraku yang masih hijau ini kukira sekali-kali bukanlah lantaran dia memiliki kepandaian tinggi dan pengetahuan luas segala, tujuan kalian hanya ingin memperalat dia untuk menghadapi bencana undangan medali tembaga saja, coba katakan betul tidak?”

Karena ucapan Ciok Jing ini secara langsung telah kena isi hati Pwe Hay-ciok, biarpun dia sudah berpengalaman dan licin, tidak urung air mukanya berubah juga. Ia terbatuk-batuk untuk mengulur tempo, dalam benaknya terkilas macam-macam pikiran dengan cepat cara bagaimana harus menjawab tuduhan Ciok Jing itu.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang bergelak tertawa dan berseru, “Kalian sedang menunggu undangan medali tembaga bukan? Bagus, bagus sekali! Ini dia medali yang kalian tunggu sudah datang!”

Dan tahu-tahu di tengah ruangan sudah berdiri dua orang, satu gemuk dan satu kurus, pakaian mereka sangat perlente. Cara bagaimana datangnya mereka itu ternyata tiada seorang pun yang memerhatikan.

Ciok Boh-thian sangat girang demi melihat kedua orang itu, cepat ia menyapa, “He, Toako dan Jiko, sudah lama berpisah, apakah kalian baik-baik saja?”

Ciok Jing dan Bin Ju pernah mendengar cerita putranya itu tentang mengangkat saudara dengan Thio Sam dan Li Si. Maka mereka menjadi terkejut ketika mengetahui yang dimaksudkan Thio Sam dan Li Si itu kiranya adalah kedua pendatang ini. Cepat mereka berkata, “Kedatangan kalian berdua ini sungguh sangat kebetulan, kami sedang susah menentukan tentang kedudukan pangcu dari Tiang-lok-pang, untuk ini harap kalian berdua suka ikut menjadi saksi.”

Sementara itu Boh-thian sudah mendekati Thio Sam dan Li Si untuk memegang tangan mereka dengan mesra sekali.

“He, kiranya Samte adalah Pangcu Tiang-lok-pang, pantas ilmu silatmu sedemikian hebat,” kata Thio Sam dengan berseri-seri.

Diam-diam Bin Ju pikir keselamatan sang putra hanya tergantung dalam waktu singkat ini saja, maka cepat ia menyela, “Pangcu Tiang-lok-pang sebenarnya adalah Tonghong-siansing, mereka telah menipu putraku ini untuk menjadi tameng, maka kedudukan anakku ini tak bisa dianggap sungguh-sungguh.”

Thio Sam memandang sekejap kepada Li Si, tanyanya, “Bagaimana pendapatmu, Losi?”

“Harus mencari orang yang sesungguhnya,” sahut Li Si dengan nada dingin.

“Benar,” seru Thio Sam. “Kita sudah mengangkat saudara dan berjanji akan hidup bahagia bersama, ada kesulitan dipikul bersama. Sekarang Samte kita hendak digunakan sebagai tameng oleh mereka, bukankah ini berarti mencari setori kepada kita berdua?”

Melihat cara munculnya Thio Sam dan Li Si yang mendadak itu, semua orang sudah tahu bahwa ilmu silat kedua orang ini susah diukur. Dari wajah dan tingkah laku mereka jelas kelihatan pula sama dengan kedua rasul penghukum dan pengganjar yang namanya mengguncangkan Bu-lim selama beberapa puluh tahun ini, keruan semua orang terkesiap. Sekalipun Pwe Hay-ciok dan Pek Ban-kiam juga ikut kebat-kebit.

Dalam pada itu terdengar Thio Sam telah berkata pula dengan tertawa-tawa, “Kami mengundang tamu untuk ikut menikmati Lap-pat-cok, maksud kami adalah baik, tapi entah mengapa setiap orang yang kami undang selalu sungkan hadir sehingga sangat mengecewakan kami. Padahal orang yang kami undang semuanya adalah ciangbunjin-ciangbunjin yang terkenal, pangcu-pangcu yang ternama atau kaucu-kaucu dari kalangan terpuji, kalau cuma orang biasa saja tidak nanti dikunjungi oleh medali-medali tembaga kami. Ya, bagus, bagus, bagus!”

Sambil mengucapkan “bagus-bagus” sorot matanya lantas menyapu ke arah Hoan It-hui, Lu Cing-peng, Hong Liang dan Ko Sam-niocu sehingga keempat orang itu merasa mengirik. Ketika paling akhir pandangannya menatap Ko Sam-niocu, untuk sejenak sorot matanya berhenti lebih lama, dengan tertawa ia menambahkan sekali lagi, “Bagus!”

Sebelumnya Hoan It-hui sudah merasa sebagai seorang ciangbunjin tentu tidak luput dari undangan medali tembaga, maka dapat diduga ucapan “bagus” empat kali Thio Sam itu tentu maksudnya mereka berempat ciangbunjin dari Kwantang kebetulan juga di sini, dengan demikian dia tidak perlu susah payah melawat ke daerah Kwantang untuk menyampaikan medalinya.

Sebaliknya Ko Sam-niocu menjadi gusar, segera ia berteriak, “Apa maksudmu dengan ucapan ‘bagus’ sambil memandangi nyonya besarmu ini?”

“Bagus berarti bagus, apa sih maksudnya yang lain? Pendek kata bagus pasti tidak berarti tidak bagus,” sahut Thio Sam sambil tertawa.

“Jika mau bunuh boleh lekas bunuh, tapi jangan harap nyonya besar mau terima medalimu!” bentak Ko Sam-niocu, Berbareng tangan kanan bergerak, kontan dua bilah pisau lantas melayang ke arah Thio Sam.

Semua orang ikut terkejut. Sungguh tidak terduga bahwa sedikit hatinya tidak senang seketika juga dia lantas menyerang, bahkan terhadap kedua rasul pengganjar dan penghukum itu ternyata tidak merasa jeri sedikit pun.

Sesungguhnya walaupun watak Ko Sam-niocu sangat keras, tapi dia bukanlah seorang yang sama sekali tak bisa berpikir. Ia sudah menduga jika kedua rasul itu toh sudah berniat menyampaikan medali tembaga padanya, maka bencana ini betapa pun susah dihindarkan. Sekarang ada sekian jago-jago terkemuka yang berkumpul di markas Tiang-lok-pang, dalam keadaan menghadapi musuh bersama, begitu mulai bergebrak, tentu yang lain-lain takkan berpeluk tangan, mereka tentu berpikir daripada dibunuh oleh kedua rasul itu ada lebih baik sekarang mengerubut maju bersama, dengan tenaga gabungan Su-tay-mui-pay dari Kwantang, ditambah Tiang-lok-pang, Swat-san-pay, Hian-soh-siang-kiam dan lain-lain, boleh jadi kedua musuh itu dapat ditumpas.

Karena itulah Ciok Boh-thian menjadi kaget ketika melihat Ko Sam-niocu mulai menyerang dahulu, cepat ia berseru, “Awas, Toako!”

“Tidak apa-apa, jangan khawatir!” ujar Thio Sam dengan tertawa. Dan begitu lengan bajunya mengebas, dua potong tanda warna kuning lantas menyambar ke depan dan tepat berbenturan dengan kedua pisau terbang Ko Sam-niocu. “Trang-tring”, didahului oleh suara nyaring mendenging, kedua benda kuning itu dari tegak berubah menjadi melintang dan dengan mendorong kedua bilah pisau terus menyambar ke arah Ko Sam-niocu.

Didengar dari suara sambaran angin, nyata kekuatan benturan tadi sangat hebat, kalau Ko Sam-niocu mendak dan mengegos, tentu kawan-kawan yang berdiri di belakangnya yang akan menjadi korban.

Tanpa pikir lagi kedua potong benda kuning itu lantas ditangkapnya. Seketika terasa kedua lengannya tergetar sakit, setengah badannya bagian atas terasa linu kesemutan. Waktu ia periksa benda-benda kuning yang menolak kembali pisaunya itu, kiranya bukan lain dari dua buah medali pengganjar dan penghukum yang ditakuti itu.

Sudah lama juga Ko Sam-niocu mendengar tentang peraturan yang ditentukan oleh kedua rasul pengganjar dan penghukum, siapa saja asal sudah menerima medali tembaga mereka, maka dapatlah dianggap sebagai telah terima baik undangan mereka untuk hadir dalam perjamuan Lap-pat-cok dan tak mungkin menolaknya pula. Seketika pucatlah mukanya, sampai-sampai tubuhnya juga agak gemetar.

Tapi dengan tertawa-tawa Thio Sam terus berkata pula, “Pwe-siansing, kalian telah memasang perangkap untuk menipu Samte kami agar dapat dipalsukan sebagai pangcu kalian. Samte kami adalah seorang yang jujur dan polos, dengan gampang saja dia terjebak. Tapi kami Thio Sam dan Li Si ini bukan manusia jujur. Kedatangan kami adalah untuk mengundang tamu, sudah tentu sebelumnya kami sudah menyelidiki dengan jelas. Kalau kami sampai salah mengundang orang, bukankah akan menjadi buah tertawaan? Ke mana lagi muka Thio Sam dan Li Si ini akan ditaruh? Sebab itulah, eh, saudaraku, tidakkah lebih baik kita persilakan turun saja sasaran utama yang hendak kita undang ini?”

“Benar, seharusnya kita persilakan dia turun,” sahut Li Si.

Habis berkata, sekonyong-konyong ia sambar sebuah bangku bundar terus dilemparkan ke langit-langit rumah. “Blang”, seketika atap rumah tertimpuk menjadi suatu lubang besar, debu pasir bertebaran disertai sepotong benda yang besar. “Bluk”, benda besar itu jatuh terbanting di tengah ruangan.

Tanpa merasa para hadirin mundur beberapa tindak karena jatuhnya benda besar itu. Ketika mereka memerhatikan, kiranya yang jatuh terbanting itu adalah satu manusia. Orang itu tampak meringkuk tak bergerak.

Waktu Li Si menutuk beberapa kali dari jauh dengan jari kiri, seketika hiat-to orang yang tertutuk itu terbuka dan perlahan-lahan dapatlah berbangkit. Sungguh kejut dan kagum tak terkatakan semua orang atas kepandaian tiam-hiat (menutuk jalan darah) Li Si dari jarak jauh itu. Dalam pada itu orang itu telah kucek-kucek matanya, kemudian memandang sekitarnya dengan bingung.

Demi mengenali siapa orang itu, serentak ramainya suara teriakan kaget, “He, dia!” — “Kenapa... kenapa dia?” — “Sungguh aneh!”

Ternyata wajah orang itu mirip benar dengan Ciok Boh-thian, hanya saja pakaiannya lebih perlente, bajunya dari kain sutra, kopiahnya berhiaskan mutiara yang besar.

“Ciok-pangcu, kami datang kemari untuk mengundang kau pergi makan Lap-pat-cok, kau akan hadir atau tidak?” demikian Thio Sam lantas berkata kepada pemuda itu sambil mengeluarkan dua buah medali tembaga.

Agaknya Ciok Boh-thian tidak habis mengerti atas kejadian itu. Ia bertanya, “He, Toako, seb... sebenarnya apa-apaan ini?”

“Samte, coba kau lihat, wajah orang ini mirip kau atau tidak?” sahut Thio Sam dengan tertawa. “Mereka telah menyembunyikan dia, sebaliknya kau ditipu untuk menggantikan dia sebagai pangcu. Akan tetapi, hahaha, toako dan jikomu akhirnya dapat menemukan dia sehingga kau gagal menjadi pangcu mereka, untuk ini kau menyesal kepada kami atau tidak?”

Boh-thian menggeleng-geleng kepala, dengan mata tak berkedip ia pandang orang itu. Selang sejenak barulah berkata, “Ayah, ibu, Ting-ting Tong-tong, Pwe-siansing, sejak mula aku sudah menyatakan kalian telah... telah salah mengenali diriku, sekarang menjadi lebih terang lagi bahwa aku bukan dia, dia... dialah yang tulen!”

Cepat Bin Ju melangkah maju, dengan suara terputus-putus ia bertanya, “Kau... kau adalah anak Giok?”

Orang itu mengangguk, sahutnya, “Ya, ibu, ayah, kalian berada di sini semua?”

Pek Ban-kiam juga mendesak maju dan menegur, “Kau masih kenal padaku tidak?”

Orang itu lantas menunduk, sahutnya, “Pek-susiok dan... dan para Susiok, kalian juga berada di sini semua?!”

“Hahahaha! Ya, memang kami sudah datang semua!” kata Ban-kiam dengan terbahak-bahak.

Sebaliknya dengan mengerut kening Pwe Hay-ciok berkata, “Muka mereka berdua satu-sama-lain sangat mirip, perawakan dan usia mereka juga sama, sebenarnya siapakah di antara kalian adalah pangcu kami, sungguh aku tidak mampu membedakan. Wah, ini benar-benar suatu kejadian aneh. Apakah engkau inilah pangcu kami?”

Orang baru itu tampak mengangguk. Lalu Pwe Hay-ciok bertanya pula, “Habis selama ini sebenarnya Pangcu pergi ke mana?”

“Ai, susah untuk diceritakan, biarlah kita bicarakan nanti saja,” kata orang itu.

Seketika suasana di ruang pendopo itu menjadi sunyi senyap, yang terdengar hanya sedu sedan Bin Ju yang sedang menangis.

“Wajah orang memang banyak yang sama, tapi bekas luka pedang di paha apakah juga bisa sama, kukira di dalam persoalan ini ada sesuatu yang ganjil,” kata Ban-kiam.

“Ya, orang ini adalah palsu,” akhirnya Ting Tong ikut bicara. “Engkoh Thian yang tulen di atas pundak kirinya ada... ada sebuah bekas luka gigitan.”

Ciok Jing menjadi ragu-ragu juga, ia pun mengemukakan alasannya, “Benar, putraku pada waktu kecilnya juga pernah terluka oleh senjata rahasia musuh.”

Lalu ia tuding Ciok Boh-thian dan melanjutkan, “Pada tubuh orang ini justru terdapat bekas luka senjata rahasia itu. Untuk membedakan siapa yang tulen atau palsu, asal keduanya diperiksa tentu segera akan dapat diketahui.”

Semua orang menjadi heran dan bingung juga mengikuti percakapan itu. Mereka sebentar-sebentar pandang Ciok Boh-thian dan lain saat mengamat-amati pula si pemuda berpakaian perlente itu.

Maka terdengarlah Thio Sam bergelak tertawa sambil berkata, “Jika Ciok-pangcu sudah harus dipalsukan, maka setiap ciri-cirinya dengan sendirinya harus dibikin persis pula. Kalau di atas badan yang tulen ada bekas luka, yang palsu dengan sendirinya juga harus ada.”

Habis berkata, “sret”, mendadak ia lolos sebatang pedang yang tergantung di pinggang seorang wakil hiangcu Tiang-lok-pang dan di mana pedangnya menyambar, kontan bahu, paha kiri dan pantat pemuda perlente itu masing-masing tergores suatu lingkaran, ketika dia meniup pula, kontan jatuhlah tiga potong kain kecil bulat sebesar mangkuk. Tiga potong kain bundar itu kemudian bertebaran dan berubah menjadi sembilan potong.

Ternyata hanya sedikit bergerak saja pedangnya telah mengorek satu bundaran pakaian pemuda perlente yang berlapis tiga (baju luar dan dalam) sehingga kelihatan kulit badannya. Maka tertampaklah di ujung bahunya terdapat keriput bekas luka, di paha dan di pantatnya juga ada, semuanya cocok seperti apa yang dikatakan si Ting Tong, Pek Ban-kiam, dan Ciok Jing.

Melihat itu, semua orang sampai menjerit kaget, selain kejut atas kepandaian Thio Sam yang luar bisa itu, mereka pun heran melihat bekas luka di badan pemuda itu ternyata serupa dan persis seperti apa yang terdapat pada Ciok Boh-thian.

Cepat Ting Tong memburu maju, dengan suara gemetar ia tanya, “Apa kau benar-benar Engkoh Thian?”

Pemuda itu tersenyum getir, sahutnya, “Ting-ting Tong-tong, sudah lama kita tak bertemu, sungguh aku sangat kangen padamu, sebaliknya kau ternyata sudah melupakan daku. Biarpun kau tak kenal padaku lagi, tapi aku, biarpun seratus tahun atau seribu tahun juga aku masih tetap kenal kau.”

Mendengar itu, saking girangnya sampai si Ting-tang Ting-tong melelehkan air mata, serunya, “Ya, engkau inilah benar-benar Engkoh Thian-ku. Dia... dia ini hanya penipu yang memuakkan, mana bisa dia mengucapkan kata-kata mesra demikian? Hampir-hampir saja aku tertipu olehnya!”

Sambil berkata ia pun melotot marah kepada Ciok Boh-thian, berbareng ia lantas gandeng tangan pemuda perlente itu dengan mesra.

Ketika pemuda itu menggenggam kencang tangan si nona dan tersenyum padanya, seketika si Ting Tong merasa senang dan bahagia tak terperikan.

“Ting-ting Tong-tong, memangnya sejak mula aku sudah menyatakan aku bukan kau punya Engkoh Thian, apa sekarang kau ma... masih marah padaku?” tanya Boh-thian sambil mendekati anak dara itu.

“Plok”, mendadak ia dipersen sekali tamparan oleh si Ting Tong dengan dampratan, “Kau penipu, aduh....” kiranya dia menampar terlalu keras sehingga tangannya kesakitan tergetar oleh tenaga dalam Ciok Boh-thian yang lihai itu.

“Apakah tanganmu sa... sakit?” tanya Boh-thian.

“Enyah, enyah kau! Aku tidak sudi melihat penipu yang tak kenal malu seperti kau ini!” damprat Ting Tong dengan gusar.

Boh-thian menjadi murung. “Aku... aku tidak sengaja menipu kau,” katanya setengah menggumam sendiri.

“Kau masih menyangkal?” semprot si Ting Tong. “Kau sengaja membuat bekas luka palsu di pundakmu, mengapa tidak kau katakan sejak mula?”

“Aku... aku sendiri pun tidak tahu adanya bekas luka ini,” ujar Boh-thian.

“Penipu! Pendusta! Enyah kau!” bentak Ting Tong dengan muka merah padam.

Air mata berlinang-linang di kelopak mata Ciok Boh-thian dan hampir-hampir menetes, sedapat mungkin ia menahannya sambil menyingkir mundur.

“Pwe-siansing,” segera Ciok Jing berkata kepada Pwe Hay-ciok, “pem... pemuda ini dari mana kalian menemukannya dan putraku ini mengapa bisa dipaksa menjadi pangcu kalian? Mumpung di sini banyak hadir kawan-kawan Bu-lim, urusan ini harus kau jelaskan untuk menghindarkan rasa curiga semua orang?”

“Pemuda ini serupa benar dengan Ciok-pangcu, kalian Hian-soh-siang-kiam sendiri adalah ayah-ibu kandungnya toh juga salah mengenalnya, apalagi orang lain?” jawab Pwe Hay-ciok.

Ciok Jing mengangguk, ia pikir memang beralasan juga ucapan tokoh Tiang-lok-pang itu.

Maka Pwe Hay-ciok berkata pula, “Adapun soal diangkatnya Ciok-pangcu sebagai pimpinan pang kami, untuk ini beliau telah mengalahkan Tonghong-pangcu dahulu dengan kepandaian yang sejati, karena itu maka para saudara kami telah mendukungnya. Coba silakan Ciok-pangcu bicara apa betul atau tidak kejadian ini? Bahwasanya kami ‘memaksa’ beliau, kami sangsi apakah istilah ini cukup tepat?”

“Apa yang dilakukan tempo dulu sebenarnya hanya keputusan untuk sementara saja untuk mencegah kerusuhan yang mungkin timbul di dalam pang kita,” kata si pemuda perlente alias Ciok Tiong-giok itu dengan nada tergagap-gagap. “Pwe-siansing, jabatan pangcu ini kukira... kukira engkau sendiri saja yang menduduki, aku... aku tidak sanggup melakoni lagi.”

Air muka Pwe Hay-ciok tampak guram membesi, katanya, “Apa yang telah Pangcu katakan dahulu itu? Mengapa sekarang kau merasa menyesal dan menghindarkan kewajiban?”

“Ya, sesungguhnya aku tidak sanggup melakukannya lagi,” sahut Tiong-giok. “Segala urusan pang kita pada hakikatnya adalah Pwe-siansing yang mengambil keputusan, aku hanya menjadi pangcu boneka saja, sebab itulah aku bertekad menyingkir pergi untuk memberikan tempatku kepada orang lain yang lebih pandai. Dan karena kepergianku tanpa pamit ini, dengan sendirinya aku bukan pangcu lagi. Bukankah dalam surat yang kutinggalkan padamu itu sudah kukatakan dengan cukup jelas?”

“Surat?” Pwe Hay-ciok menegas dengan heran. “Surat apa? Mengapa aku tidak pernah melihatnya?”

“Kepandaian Pwe-siansing benar-benar luar biasa,” kata Ciok Tiong-giok dengan tertawa. “Ketika aku menghilang, entah dari mana engkau telah menemukan bocah yang mukanya mirip benar dengan aku ini. Jika dia sudah mau memalsukan diriku, maka bolehlah dia lakukan sampai saat terakhir, buat apa tanya padaku lagi? Ayah dan ibu, marilah kita tinggalkan saja tempat yang tak genah ini!”

Nyata mulutnya sangat lincah, kalau dibandingkan Ciok Boh-thian jelas seperti langit dan bumi bedanya.

Dengan bergelak tertawa Thio Sam lantas berkata, “Ciok-pangcu, Pwe-siansing, kalian tentu tahu peraturan Liong-bok-to kami. Jika pangcu kalian sendiri yang menerima medali undangan kami, maka inilah jalan yang terbaik, sebaliknya kalau pangcu tidak mau terima, ini berarti pang kalian memandang rendah kepada Liong-bok-to, dari kawan kita akan berubah menjadi lawan dan terhadap lawan biasanya Liong-bok-to tidak mau sungkan-sungkan lagi.”

Pwe Hay-ciok dan gembong-gembong Tiang-lok-pang yang lain terkesiap. Mereka tahu bilamana tiada orang yang tampil ke muka untuk menerima medali tembaga yang dikatakan, maka si gendut dan si kurus pasti akan mulai mengganas. Dilihat dari kepandaian yang telah diperlihatkan mereka tadi rasanya segenap anggota Tiang-lok-pang tiada seorang pun yang mampu melawannya.

Melihat orang-orang Tiang-lok-pang tertegun, segera Ciok Boh-thian berkata, “Pwe-siansing, apa yang dikatakan Thio-toako itu bukanlah berkelakar, sekali beliau bilang bunuh orang tentu akan segera terjadi pembunuhan. Seperti orang-orang Hui-hi-pang dan Tiat-cha-hwe, seluruh anggota mereka telah dibunuh habis oleh Toako berdua. Maka sebaiknya medali mereka itu diterima saja lebih dahulu, tak peduli siapa yang akan menjadi pangcu nanti, yang terang korban jiwa orang banyak dapatlah dihindarkan. Kedua belah pihak adalah saudara sendiri semua, kalau sampai terjadi perkelahian, sungguh aku tidak tahu harus membantu pihak mana?”

“Itu adalah urusan Pangcu, kami yang menjadi bawahan tidak dapat mengambil keputusan,” ujar Pwe Hay-ciok.

“Ciok-pangcu,” Boh-thian lantas berkata kepada Ciok-Tiong-giok, “harap kau terima medali itu saja. Medali itu kau terima akan mati, tidak terima juga pasti mati. Bedanya jika kau tidak terima, maka segenap anggota yang lain juga akan ikut menjadi korban, untuk ini apakah... apakah kau tega?”

“Hehe, kau bicara seenaknya dan sok budiman bagi orang lain, jika sedemikian luhur budimu, kenapa kau sendiri tidak terima saja kedua medali itu demi keselamatan Tiang-lok-pang? Hehe, sungguh menggelikan!” demikian jawab Tiong-giok.

Boh-thian memandang sekejap kepada Ciok Jing suami-istri dan si Ting Tong sambil menghela napas, katanya, “Pwe-siansing, selama ini kalian sangat baik terhadap diriku, memangnya kalian berharap agar aku dapat melepaskan bencana ini bagi Tiang-lok-pang. Jika sekarang Ciok-pangcu yang tulen tidak mau menerima medali-medali undangan itu, maka biarlah aku yang menerimanya saja.”

Habis berkata ia lantas mendekati Thio Sam dan hendak mengambil medali yang terdapat di tangannya itu.

“Nanti dulu!” cepat Thio Sam menarik tangannya. Lalu katanya kepada Pwe Hay-ciok, “Medali undangan Liong-bok-to ini hanya diserahkan langsung kepada orang yang diundang. Nah, sesungguhnya kalian menganggap siapa yang benar-benar menjadi pangcu kalian?”

Sama sekali Pwe Hay-ciok dan gembong-gembong Tiang-lok-pang itu tidak menduga bahwa Ciok Boh-thian masih mau berkorban bagi pang mereka meski sudah tahu akan tipu muslihat dan intrik mereka. Dalam keadaan demikian, betapa pun keji dan kejamnya mereka, mau tak mau mereka merasa sangat berterima kasih juga kepada Ciok Boh-thian, serentak mereka lantas membungkuk tubuh memberi hormat kepada Boh-thian sambil berseru, “Kami rela mengangkat Ciok-tayhiap sebagai pangcu kita, segala perintah Pangcu akan kami laksanakan dan taati.”

“Ah, mana aku berani!!” sahut Boh-thian sambil balas menghormat. “Aku tidak paham apa-apa, kalau salah omong atau salah berbuat diharap kalian janganlah marah padaku.”

“Hahahahaha!” Thio Sam bergelak tertawa. “Nah, Ciok-pangcu dari Tiang-lok-pang, pada tanggal delapan bulan dua belas tahun ini diharap sudi hadir ke Liong-bok-to kami untuk sekadar menikmati Lap-pat-cok.”

“Baiklah, tentu aku akan hadir sekalian menyambangi Toako dan Jiko,” sahut Boh-thian.

Thio Sam dan Li Si saling pandang sekejap dengan mengerut dahi. Tapi Thio Sam lantas mengayun tangannya, dua potong medali tembaga terus melayang ke arah Ciok Boh-thian dengan perlahan.

Ketika semua orang memusatkan perhatian untuk menyaksikan cara bagaimana Ciok Boh-thian akan menerima medali-medali itu, sekonyong-konyong Bin Ju berteriak, “Jangan terima, nak!”

“Aku sudah menyanggupinya, ibu!” sahut Boh-thian. Ketika kedua tangannya menjulur, dengan gampang saja masing-masing tangannya sudah menangkap sepotong medali tembaga itu. Lalu katanya pula kepada Bin Ju, “Seperti Ciok... Ciok-cengcu, meski sudah tahu ada bahaya toh beliau tetap mau mewakilkan Siang-jing-koan untuk hadir ke Liong-bok-to, sungguh sikapnya itu sangat mengagumkan orang, maka anak juga ingin menirukannya.”

“Bagus, memang kesatria sejati dan pendekar budiman, tidak percumalah kita telah mengangkat saudara,” puji Li Si. “Tapi, Samte, biarlah kita bicara di muka secara terang-terangan, apabila sudah datang di Liong-bok-to nanti, Toako dan Jiko akan memandang kau sebagaimana tamu-tamu yang lain tanpa pandang bulu dan tak dapat memberi sesuatu pelayanan istimewa.”

“Ya, sudah seharusnya demikian,” sahut Boh-thian.

“Dan di sini masih ada beberapa buah medali yang harus diserahkan kepada saudara-saudara Hoan, Hong dan Lu dari Kwantang, silakan nanti juga hadir ke Liong-bok-to untuk menikmati Lap-pat-cok. Apakah kalian mau terima atau tidak?” demikian Li Si berkata pula.

Hoan It-hui memandang sekejap kepada Ko Sam-niocu, pikirnya, “Kau toh sudah menerima medalinya, kita Su-tay-mui-pay dari Kwantang sudah berjanji mati-hidup bersama, tiada jalan lain terpaksa ikut mengantarkan jiwa juga ke Liong-bok-to.”

Maka berkatalah dia, “Ya, jikalau sedemikian Liong-bok-to menghargai kami, masakah kami menolak arak suguhan dan memilih arak hukuman? (maksudnya masakah diundang tidak mau sebaliknya minta dipaksa).”

Lalu ia mendahului melangkah maju untuk menerima medali undangan disusul dengan Hong Liang dan Lu Cing-peng.

“Terima kasih, terima kasih!” sambut Thio Sam dan Li Si. Lalu katanya kepada Ciok Boh-thian, “Samte, kami masih perlu melanjutkan perjalanan jauh, hari ini terpaksa tidak dapat minum sepuas-puasnya dengan kau. Biarlah kami lantas mohon diri saja.”

“Tiada halangannya kalau kita minum tiga mangkuk saja,” seru Boh-thian, “Eh, di manakah buli-buli arak Toako dan Jiko?”

“Sudah kami buang,” sahut Thio Sam. “Arak kami itu tidak dapat dibuat di dalam waktu singkat, apa gunanya selalu membawa buli-buli kosong. Baiklah, mari Jite, kita bertiga habiskan tiga mangkuk arak.”

Segera anggota-anggota Tiang-lok-pang menuangkan arak, Thio Sam, Li Si, dan Ciok Boh-thian masing-masing lantas menghabiskan tiga mangkuk penuh.

Tiba-tiba Ciok Jing melangkah maju sambil berseru, “Cayhe Ciok Jing adanya, biasanya dikenal sebagai cengcu dari Hian-soh-ceng, kami suami-istri ada maksud hendak ikut hadir ke Liong-bok-to untuk minta semangkuk Lap-pat-cok.”

Cepat Thio Sam berpaling. Pikirnya dengan heran, “Selama lebih 30 tahun ini, setiap orang Bu-lim bila mendengar nama Liong-bok-to tentu kebat-kebit dan ketakutan, tapi hari ini ternyata ada orang yang sengaja minta berkunjung ke sana, hal ini benar-benar baru terjadi untuk pertama kalinya.”

Tapi ia pun lantas menjawab, “Ciok-cengcu, maafkan atas permintaanmu ini. Kalian berdua adalah murid Siang-jing-koan dan belum pernah berdiri sendiri secara resmi di dunia persilatan, maka kami tidak dapat mengundang. Begitu pula seperti halnya dengan Nyo-loenghiong dan Pek-tayhiap.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar