Jilid 12
Anak dara itu melengak, ia pegang pundak pemuda itu dan diputarnya ke kanan dan ke kiri, ia mengamat-amati pemuda itu sejenak di bawah cahaya rembulan. Tiba-tiba ia tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Engkoh Thian, sungguh kau pintar berkelakar. Ucapanmu barusan sungguh membuat kaget padamu, kusangka benar-benar telah salah mengenali kau. Hayolah, mari kita berangkat.”
Segera ia tarik tangan Ciok Boh-thian dan mendahului bertindak ke depan.
“Ti ... tidak, aku tidak berkelakar,” seru Ciok Boh-thian dengan gugup. “Kau benar-benar telah salah mengenali diriku. Coba pikir, sedangkan namamu saja aku tidak tahu.”
Mendadak si anak dara menghentikan langkahnya, katanya dengan tertawa genit, “Ya, sudahlah, dasar kepala batu, tidak mau mengalah, biarlah aku tunduk padamu. Nah, dengarkan aku she Ting bersama Tong, biasanya kau suka panggil aku ting-tong, ting-tong, terkadang kau pun panggil aku ting-ting-tong-tong Sekarang sudah jelas, bukan?”
Habis berkata segera ia putar tubuh dan berlari ke depan secepat terbang.
Karena diseret si anak dara, tanpa kuasa Ciok Boh-thian ikut berlari juga, semula ia hampir keserimpet, untung tidak sampai jatuh. Akhirnya ia dapat membuang langkah dan mengikuti lari si anak dara dengan sama cepatnya. Bermula napasnya menjadi tersengal-sengal tapi lama-kelamaan tenaga dalamnya mulai merata, kakinya makin lama makin enteng, sedikit pun tidak terasa payah lagi.
Entah sudah berlari berapa jauhnya, tiba-tiba tertampak pantulan cahaya air mengambang di depan, nyata mereka telah sampai di tepi sebuah sungai. Segera Ting Tong menarik tangan Ciok Boh-thian dan melompat perlahan ke depan, menghinggap di haluan sebuah perahu kecil yang tertambat di tepi sungai.
Karena Ciok Boh-thian belum dapat menggunakan tenaga dalamnya untuk dikerahkan sebagai Ginkang, maka lompatannya ke atas perahu itu seperti orang biasa saja, dengan antap menancapkan kaki di haluan perahu sehingga perahu tertekan dan air muncrat.
“Ai, apakah kau ingin menenggelamkan perahu ini?” jerit Ting Tong dengan tertawa.
Segera ia melepaskan tambatan perahu, ia angkat dengan galah bambu, sekali dorong dengan galahnya, dengan cepat perahu itu lantas meluncur ke tengah sungai.
Boh-thian melihat kedua tepi sungai itu banyak tumbuh pohon Yangliu, dari jauh tertampak beberapa buah rumah penduduk, malam sunyi, bulan terang, sayup-sayup hidungnya mendengus bau harum yang memabukkan, entah bau harum bunga yang tumbuh di tepi sungai atau bau wangi yang timbul dari badan Ting Tong?
Perahu itu meluncur dengan pesat di tengah sungai, sesudah membelok beberapa kali, setiba di bawah sebuah jembatan batu, Ting Tong lantas menambat perahunya di batang pohon Yangliu. Pohon-pohon Yangliu di sekitar jembatan itu tumbuh sangat rindang sehingga jembatan batu yang kecil itu hampir tertutup rapat. Sinar bulan menembus remang-remang melalui celah-celah daun pohon, perahu yang berlabuh itu menjadi mirip bermukim di dalam sebuah rumah alam yang kecil.
“Sungguh baik sekali tempat ini, andai kata siang hari juga orang mungkin tidak menyangka bahwa di sini berlabuh sebuah perahu kecil,” puji Boh-thian.
“Mengapa baru sekarang kau memuji tempat ini?” sahut Ting Tong dengan tertawa.
Segera anak dara itu membuka peti perahu, ia mengeluarkan sehelai tikar dan dibentang di haluan perahu, dikeluarkannya dua pasang sumpit dan mangkuk serta satu poci arak, katanya dengan tertawa, “Silakan duduk dan minum arak.”
Kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa macam makanan pengiring arak seperti kacang goreng, dendeng dan lain-lain.
Ketika anak dara itu baru menuangkan arak, Ciok Boh-thian lantas membau harum arak yang menusuk hidung. Sudah pernah dia mendengar cerita ibunya tentang minum arak, tapi macam apakah “arak” itu selamanya belum pernah dilihat dan dicobanya. Cia Yan-khek juga tidak suka minum arak, sebab itulah ketika tinggal di Mo-thian-kay juga tidak pernah kenal arak.
Sekarang ia melihat secawan arak yang disodorkan Ting Tong itu berwarna merah kekuning-kekuningan, tanpa pikir ia terus menenggaknya hingga habis. Ia merasakan hawa hangat menerjang ke dalam perut, dalam mulut terasa sedikit pedas dan sedikit pahit. Seketika ia mengerut dahi.
Ting Tong tertawa, katanya, “Ini adalah arak ‘Lu-ji-hong’ dari Siauhin simpanan dua puluh tahun, apakah enak rasanya?”
Tapi belum lagi Boh-thian menjawab, tiba-tiba dari atas terdengar suara seorang tua berkata, “Hm, Lu-ji-hong simpanan 20 tahun masakah tidak enak rasanya?”
Tanpa terasa cawan arak yang dipegang Ting Tong jatuh ke papan perahu dan akhirnya menggelinding masuk ke dalam sungai, arak menciprat membasahi pakaiannya. Muka anak dara itu pucat seketika dengan badan gemetar, ia pegang tangan Ciok Boh-thian dan berbisik, “Celaka, itulah suara kakek!”
“Ya, betul memang inilah kakekmu,” kata suara orang tua di atas itu. “Budak setan, kau berkencan dengan kekasih tidaklah menjadi soal, tapi mengapa arak yang kudapatkan dengan susah payah itu juga kau curi untuk disuguhkan kepada kekasihmu?”
“Dia ... dia bukan kekasih, hanya ... hanya kawan biasa saja,” sahut Ting Tong.
“Huh, kawan biasa masakah perlu kau melayaninya sedemikian baik?” semprot si kakek. “Ya, sampai arak kesayangan kakek juga kau berani mencuri? Hayo, maling cilik, lekas-lekas keluar sini, ingin kulihat bagaimana macammu sehingga hati cucu perempuanku sampai tercuri olehmu?”
Waktu Ciok Boh-thian mendongak ke arah datangnya suara, terlihat sepasang kaki menjulai dan bergerak-gerak di atas kepalanya, terang orang tua itu duduk di atas jembatan sambil menjulurkan kedua kakinya ke bawah, kalau kakinya mengulur belasan senti lagi ke bawah tentu akan dapat menginjak di atas kepala Ciok Boh-thian.
Kedua kaki itu memakai kaus kaki katun warna putih, sepatu kain tebal bersulam indah. Baik kaus kaki dan sepatunya tampak sangat rajin dan resik.
Dalam pada itu Ting Tong telah menjawil-jawil Ciok Boh-thian sambil memberi macam-macam tanda, maksudnya agar pemuda itu jangan mengaku siapa sebenarnya dia, lalu nona itu berseru, “Yaya (kakek), kawanku ini bermuka jelek lagi tolol, kalau melihatnya pasti kakek takkan suka padanya. Arakmu yang kucuri ini hanya akan kuminum sendiri, orang macam dia masakah ada harganya untuk disuguhi arak seenak ini? Soalnya cucu merasa kesepian dan sembarangan mencari seorang teman mengobrol seperti dia ini.”
Sudah tentu Ciok Boh-thian sangat mendongkol, masakah dirinya dikatakan jelek dan dianggap tolol serta dikatakan tiada harganya disuguhi arak itu, segera ia mengipratkan tangan Ting Tong sehingga terlepas.
Tapi cepat Ting Tong memegang pula tangan pemuda itu dan menggoyang-goyang tangan serta menjawil-jawil, seperti tanda mesra dan seperti memberi pesan dengan sangat pula agar pemuda itu menurut.
Dengan sendirinya Ciok Boh-thian merasa bingung.
Sementara itu si orang tua yang duduk di atas itu telah berkata pula, “Hayo, kedua setan cilik lekas keluar semua. A Tong, hari ini kakek sudah membunuh beberapa orang?”
“Seperti ... seperti baru membunuh satu orang,” sahut Ting Tong dengan suara terputus-putus.
Diam-diam Ciok Boh-thian merasa heran mengapa ke sana kemari selalu ditemukan orang-orang yang suka membunuh, yang dibicarakan juga selalu soal membunuh.
Dalam pada itu si kakek di atas jembatan itu telah berkata, “Bagus, jadi hari ini aku baru membunuh satu orang, jika demikian masih boleh membunuh dua orang lagi. Membunuh dua orang lagi sebagai pengiring minum arak juga boleh.”
“Membunuh orang sebagai pengirim minum arak, di dunia ini mengapa ada kejadian demikian?” demikian pikir Ciok Boh-thian.
Pada saat lain mendadak terasa tangan yang dipegang Ting Tong tadi telah dilepaskan, berbareng suatu bayangan berkelebat, tahu-tahu di atas perahu mereka sudah bertambah satu orang dan tepat duduk di tengah-tengah antara Ting Tong dan Boh-thian.
Dalam kejutnya cepat Boh-thian menyurut mundur sedikit, waktu ia pandang orang itu, ternyata jenggot dan kumis orang itu sudah memutih perak, wajahnya berseri-seri, itulah seorang kakek yang tampaknya sangat welas asih. Tapi begitu tertatap sinar matanya, tanpa kuasa Ciok Boh-thian bergidik. Kiranya dari sorot mata orang tua itu terpantul sesuatu sifat jahat yang susah dilukiskan sehingga bagi yang melihatnya seketika akan merasa merinding ketakutan.
Kakek itu tampak tertawa dan mengangkat tangannya menepuk satu kali di atas pundak Ciok Boh-thian, katanya, “Anak bagus, mulutmu sungguh sangat beruntung dapat minum arak Lu-ji-hong simpanan 20 tahun milik kakek.”
Meski dia hanya menepuk perlahan saja, tapi tulang pundak Ciok Boh-thian seketika berkeriukan seakan-akan pecah dan rontok semua.
Ting Tong terperanjat dan cepat memegang tangan sang kakek sambil memohon, “Yaya, ja ... janganlah kau melukai dia.”
Tepukan yang perlahan tadi sebenarnya mengandung tenaga dalam yang mahadahsyat, maksud orang tua itu adalah untuk membikin remuk tulang pundak Ciok Boh-thian. Tak terduga ketika telapak tangannya menyentuh bahu pemuda itu, seketika dari bahunya timbul semacam tenaga tolakan yang mahakuat, tenaga dalam yang hebat itu bukan saja telah melindungi tubuh pemuda itu, bahkan tangan si kakek sendiri sampai tergetar membal ke atas.
Syukur kakek itu cepat mengerahkan tenaganya lagi sehingga tangannya tidak sampai terpental ke atas.
Keruan kejut si kakek melebihi Ting Tong, tapi ia lantas tertawa dan berkata pula, “Bagus, bagus! Anak bagus, kau memenuhi syarat untuk minum arakku. Hayo, A Tong, tuangkan lagi beberapa cawan arak, sekarang Yaya yang menjamu dia minum arak dan takkan menyalahkan kau yang mencuri arak ini.”
Ting Tong menjadi girang. Ia kenal watak sang kakek yang angkuh. Jarang ada tokoh-tokoh persilatan yang terpandang olehnya. Sekarang baru bertemu dengan Ciok Boh-thian sudah lantas menjamunya minum arak, sudah tentu anak dara itu merasa girang dan lega. Ia mengira sang kakek juga suka kepada kekasihnya yang gagah dan tampan ini. Sama sekali tak terduga olehnya bahwa Ciok Boh-thian tadi sebenarnya sudah terancam elmaut.
Sebabnya sang kakek berubah sikap adalah karena terkejut atas Lwekang Ciok Boh-thian yang luar biasa itu dan sekali-kali bukan karena pemuda itu “gagah dan tampan”, padahal muka Ciok Boh-thian meski tidak jelek, namun untuk dibilang tampan juga belum sesuai.
Begitulah dengan senang Ting Tong lantas mengeluarkan dua cawan arak lagi dan menuangkan secawan untuk sang kakek, secawan untuk Ciok Boh-thian, ia sendiri pun menuang secawan.
“Bagus, bagus! Jikalau A Tong sudah penujui kau, tentu kau mempunyai asal usul yang tidak sembarangan. Nah, coba katakan, siapa namamu?” demikian si kakek bertanya.
“Aku ... aku bernama ....” sahut Ciok Boh-thian dengan tergagap. Sekarang dia sudah tahu bahwa “Kau-cap-ceng” adalah kata-kata makian yang kotor, sudah tentu tidak boleh diucapkan di depan seorang tua. Tapi selain itu sesungguhnya dia tiada punya nama lain, maka sesudah mengucapkan, “Bernama ... bernama ....” ia tidak sanggup menyambung pula.
Si kakek tampak kurang senang, tegurnya, “Apakah kau tidak berani berkata terus terang kepada kakek?”
“Mengapa tidak berani?” tiba-tiba Boh-thian menjawab dengan tegas. “Hanya saja namaku agak kurang enak didengar. Aku ... bernama Kau-cap-ceng!”
Untuk sejenak si kakek tampak melengak. Tapi mendadak ia bergelak tertawa terpingkal-pingkal, suara tertawanya berkumandangan jauh, jenggotnya yang sudah putih semua itu sampai terguncang-guncang.
“Hah, bagus, bagus, namamu sungguh sangat baik,” kata si kakek sesudah berhenti tertawa. “Kau-cap-ceng!”
“Ya, kakek!” sahut Ciok Boh-thian.
Seketika Ting Tong tersenyum girang. Ia pandang sang kakek dan pandang pula Ciok Boh-thian. Sebabnya dia merasa senang adalah karena Ciok Boh-thian secara spontan memanggil kakek kepada kakeknya, malah waktu dipanggil dengan nama Kau-cap-ceng pemuda itu pun menurut saja.
Nyata ia tidak tahu bahwa sebenarnya Ciok Boh-thian itu memang bersama Kau-cap-ceng, pula pemuda itu tidak tahu tata krama, bagaimana orang memanggil ia pun menirukan saja, si Ting Tong memanggil kakek, maka ia pun menirukan memanggil kakek. Jadi rasa puas Ting Tong dan kakek yaitu sebenarnya “salah wesel” belaka.
“A Tong,” si kakek berkata pula, “apakah nama kakek sudah kau katakan kepada kekasihmu?”
Ting Tong menggeleng dengan sikap malu-malu, jawabnya, “Tidak, belum kukatakan padanya.”
Mendadak si kakek menarik muka, katanya, “Sebenarnya kau suka atau tidak padanya. Jika suka, mengapa asal usul sendiri belum lagi diberitahukan padanya? Jikalau tidak suka mengapa kau berani mencuri arak simpanan kakek untuk disuguhkan kepadanya, bahkan selama beberapa malam berturut-turut kau mencuri arak Hian-peng-pek-hwe-ciu yang merupakan jimat simpanan kakek itu dan dicekokkan kepada bocah ini?” Makin lama makin keras suaranya, sampai akhirnya suaranya berubah menjadi bengis, ketika menyebut nama Hian-peng-pek-hwe-ciu (arak api hijau inti es) bahkan sorot matanya menjadi beringas. Ciok Boh-thian ikut-ikut kebat-kebit hatinya menyaksikan demikian itu.
Namun Ting Tong lantas menjatuhkan dirinya ke pangkuan si kakek sambil memohon, “O, Yaya, ternyata engkau sudah mengetahui semuanya. Harap ampunilah A Tong.”
“Mengampuni A Tong? Hm, enak saja bicara,” jengek si kakek. “Apakah kau tahu bahwa betapa mujarabnya Hian-peng-pek-hwe-ciu itu, sekarang telah kau habiskan, untuk memperolehnya apakah sedemikian mudahnya?”
“Ampun kakek,” pinta Ting Tong. “Soalnya karena A Tong tidak tega menyaksikan dia tersiksa oleh penyakit panas-dingin. Tiba-tiba A tong teringat kepada arak mustajab simpanan kakek itu, maka secara sembrono telah mencurinya untuk diminumkan padanya. Ternyata ada hasilnya sedikit, lalu berturut-turut kuminumkan dia lagi sehingga tanpa terasa habis terminum. Baiklah kakek memberitahukan resep membuat arak itu padaku, betapa pun A Tong pasti akan mengembalikan sebotol kepada kakek.”
Sesudah mendengarkan percakapan kakek dan cucu perempuan itu barulah Ciok Boh-thian paham duduknya perkara.
Kiranya sewaktu dirinya dalam keadaan tak sadar ketika diserang penyakit panas-dingin tempo hari, secara diam-diam Ting Tong telah mencuri dan mencekoki arak “Hian-peng-pek-hwe-ciu yang merupakan milik kesayangan kakeknya. Rupanya kesembuhannya ini sebagian adalah jasa si anak dara itu yang telah menolong jiwanya, sekarang terdengar si kakek sedang marah-marah kepada anak dara itu maka ia lantas menyela, “Kakek, jikalau arak itu telah diminumkan padaku, maka tanggung jawab mengembalikan arak itu harus kupikul. Biarlah aku akan berdaya untuk mengembalikannya padamu. Jika tidak dapat, terpaksa terserah kepada cara bagaimana kau akan ambil tindakan padaku.”
“Bagus, bagus!” seru si kakek dengan tertawa. “Jika demikian, soalnya menjadi agak lain. Eh, A Tong, mengapa kau tidak memberi tahu padanya tentang asal usul dirimu sendiri?”
Ting Tong tampak serbasalah, jawabnya, “Dia ... dia tidak pernah tanya padaku, maka aku pun tidak pernah katakan padanya. Hendaklah kakek jangan sangsi, sama sekali tiada maksud tertentu di dalam hal ini.”
“Tiada maksud tertentu?” si kakek menegas. “Kukira toh tidak demikian halnya. Apa isi hatimu masakah kakek tidak tahu? Tentunya kau sudah benar-benar menyukai dia dengan harapan bocah ini akan mengambil kau sebagai istri, tapi kalau kau katakan nama dan asal usulmu, hm, tentunya bocah ini akan kaget setengah mati. Sebab itulah kau berusaha mengelabui dia sedapat mungkin. Hm, betul tidak dugaanku?”
Uraian si kakek benar-benar tepat mengenai isi Ting Tong. Tapi kalau dia mengaku terus terang tentu sang kakek akan gusar. Sebab ia tahu sang kakek adalah tokoh yang disegani, ditakuti, dihormati, tapi juga dijauhi oleh setiap orang Bu-lim lantaran kejahatannya yang merontokkan nyali siapa saja yang mendengarnya.
Tapi orang tua itu ingin bersikap ramah dan suka padanya, asal orang memperlihatkan tanda takut atau muak padanya, orang itu tentu akan segera dibunuh olehnya.
Begitulah Ting Tong menjadi serbasusah. Kalau berdusta tentu akan makin membikin gusar sang kakek dan membikin urusan menjadi runyam. Tapi kalau mengatakan terus terang nama dan asal usul sang kakek sehingga benar-benar menakutkan kekasihnya, lalu melarikan diri dan tak mau berkumpul lagi dengan dirinya, lantas bagaimana. Ia khawatir dalam gusarnya sang kakek akan membinasakan sang kekasih, tapi ia pun khawatir sang kekasih akan meninggalkannya, jika demikian tentu ia pun tak bisa hidup sendirian lagi.
Akhirnya dengan suara terputus-putus ia berkata, “Kakek aku ... aku ....”
“Hahaha! Kau khawatir kita dipandang rendah oleh orang lain bukan?” demikian si kakek memotong. “Haha, Ting-lothau sudah berumur selanjut ini, ternyata cucu perempuanku sendiri sampai tidak berani menyebut nama kakeknya sendiri, bukan saja tidak merasa bangga atas diri kakeknya, sebaliknya malah merasa malu bagi sang kakek. Haha, sungguh lucu, hahahahaha!”
Ting Tong insaf bahaya sedang mengancam. Ia tahu sang kakek sangat mementingkan arak “Hian-peng-pek-hwe-ciu,” agaknya arak mestika itu menyangkut sesuatu urusan yang menentukan mati atau hidupnya di kemudian hari. Sekarang dirinya telah mencuri arak itu untuk menolong jiwa sang kekasih, tapi selama ini tidak berani menyebut nama kakeknya. Sekarang orang tua itu bergelak tertawa sedemikian rupa, terang rasa murkanya sudah mencapai puncaknya. Mau tak mau Ting Tong harus menempuh segala risiko, dengan menggigit bibir akhirnya ia berkata, “Engkoh Thian, kakekku she Ting.”
“Ya, sudah tentu! Kau she Ting, dengan sendirinya kakekmu juga she Ting,” sela Boh-thian.
“Nama beliau bagian depan Put dan bagian belakang Sam, nama julukannya ialah ... ialah ... Ce-jit-put-ko-sam!” Ting Tong menyambung pula dengan tak lancar. Ia menyangka dengan tersebutnya nama julukan sang kakek itu tentu Ciok Boh-thian akan terperanjat. Sebab itulah dengan hati kebat-kebit ia telah pandang pemuda itu dengan mata tak berkedip.
Tak terduga air muka Ciok Boh-thian tenang-tenang saja, bahkan dengan tersenyum ia menjawab, “O, nama julukan Yaya ternyata sangat enak didengar!”
Hati Ting Tong tergetar keras, sekali ia bergirang. Tapi ia masih khawatir, segera ia menegas lagi, “Mengapa kau bilang sangat enak didengar?”
“Aku pun tidak tahu sebabnya. Aku hanya merasa nama itu enak didengar,” sahut Ciok Boh-thian.
Waktu Ting Tong melirik ke arah sang kakek dilihatnya orang tua itu sedang mengelus jenggot dan tampak sangat senang. Mendadak ia menepuk pula pundak Ciok Boh-thian, tapi sekali ini adalah tepukan biasa tanpa tenaga dalam. Terdengar dia berkata dengan manggut-manggut, “Orang hidup bisa mendapatkan seorang teman sepaham, maka hidup ini tidaklah tersia-sia lagi. Orang lain kalau mendengar nama julukanku, kalau orang itu berjiwa rendah tentu akan segera memuji dan menjilat padaku, bila orang itu bernyali kecil tentu akan ketakutan setengah mati, ada juga beberapa orang gila yang berani mencaci maki padaku. Hanya kau bocah ini sama sekali tidak terpengaruh oleh nama julukanku, bahkan memuji namaku enak didengar. Ehm, bagus, bagus! Untuk sikapmu ini kakek ingin memberi sesuatu hadiah. Hadiah apa ya ... biarlah kupikir sebentar dulu.” Lalu ia duduk berpeluk dengkul, sambil termenung-menung memandangi sang dewi malam yang menghias di tengah cakrawala.
Supaya diketahui bahwa “Ce-jit-put-ko-sam Ting Put-sam adalah seorang gembong, suatu iblis yang memiliki ilmu silat mahatinggi di dunia persilatan, sifatnya aneh dan kejam sedikit-sedikit suka membunuh orang. Kendati peraturan yang dia tetapkan sendiri menyatakan setiap orang yang dibunuhnya takkan melampaui tiga orang, tapi cobalah hitung, kalau satu hari tiga orang, sepuluh hari 30 orang dan 100 hari berarti 300 orang, maka selama berpuluh tahun ini entah sudah berapa ribu orang yang telah menjadi korbannya, celakanya orang-orang yang telah dibunuhnya itu sering kali tidak sempat melihat mukanya dan tahu-tahu sudah dibinasakan olehnya.
Misalnya kedua murid Swat-san-pay, yaitu Sun Ban-lian dan Cu Ban-jing yang diceritakan di depan itu, mereka juga mati konyol tanpa mengetahui siapa pembunuhnya.
Beberapa tahun yang lalu dia masih merahasiakan jejaknya, sehabis membunuh orang juga tidak pernah meninggalkan nama sehingga Bu-lim jarang yang kenal namanya. Tapi paling akhirnya ini mendadak ia sengaja menyiarkan namanya secara luas, cuma saja orang yang pernah melihat mukanya dan dapat tetap hidup jumlahnya adalah sangat sedikit.
Bagi Ciok Boh-thian yang sama sekali tidak tahu seluk-beluk urusan Kangouw, biarpun nama Ting Put-sam itu lebih tersohor lagi juga tiada arti baginya. Tapi dalam pandangan Ting Put-sam sekarang, pemuda yang tidak jeri dan menjilat padanya ini adalah luar biasa, terutama dengan perasaan yang tulus dan jujur pemuda itu telah menyatakan rasa mesranya ketika mendengar nama julukan orang tua itu.
Sebagai seorang tua yang berusia lebih dari 60 tahun, sudah tentu Ting Put-sam sangat kenal watak manusia, setiap sikap manusia yang rendah dan palsu tentu susah mengelabui matanya. Di dunia ini selain cucu perempuan kesayangannya itu boleh dikata tiada orang kedua yang benar suka dan mencintainya, sekarang pemuda itu ternyata juga sedemikian baik padanya sudah tentu hal ini sangat menyenangkan hatinya.
Begitulah, sesudah termenung-menung memandangi rembulan, akhirnya orang tua itu berkata, “Kakek mempunyai tiga macam pusaka. Yang pertama adalah ‘Hiang-peng-pek-hwe-ciu’ yang telah kau minum itu, tapi arak ini hanya sebagai pinjaman saja, kelak kau bayar kembali, maka tak bisa dianggap sebagai pemberian. Pusaka kedua adalah ilmu silat yang dimiliki kakek, kalau kau dapat mempelajarinya tentu akan sangat besar manfaatnya. Tentang pusaka ketiga bukan lain adalah cucu perempuanku si A Tong ini. Di antara dua pusaka ini hanya dapat kuberikan satu saja. Nah Kau-cap-ceng, kau ingin belajar ilmu silat atau ingin mengambil si A Tong saja?”
Seketika Ting Tong dan Ciok Boh-thian melengak oleh karena pertanyaan itu.
Hati Ting Tong berdebar-debar dengan hebatnya. Pikirnya, “Ilmu silat kakek boleh dikata tiada bandingannya di dunia ini, walaupun kepandaian Engkoh Thian juga tidak lemah, tapi kalau dibandingkan kakek sudah tentu bedanya terlalu jauh. Kalau dia dapat mempelajari ilmu silat andalan kakek, selanjutnya namanya tentu akan lebih disegani dan dapat malang melintang di dunia Kangouw. Dia adalah Pangcu dari Tiang-lok-pang, kabarnya Pang mereka sedang menghadapi kesulitan yang sukar diselesaikan, jika bisa mendapatkan ilmu silat kakek tentu akan besar bantuannya bagi kesulitannya itu. Sebagai seorang lelaki, seorang kesatria, tentu lebih mengutamakan ilmu silat daripada soal asmara.”
Ia coba melirik Ciok Boh-thian, dilihatnya pemuda itu merasa bingung, terang sedang serbasulit mengambil keputusan. Diam-diam hati Ting Tong mencelus.
Ia tahu tabiat sang kekasih yang romantis, selama hidup entah sudah berapa banyak wanita yang telah disukainya. Selama setengah tahun terakhir ini walaupun memperlihatkan tanda cinta padanya, tapi dalam hati pemuda itu seorang Ting Tong mungkin hanya seperti awan saja yang sebentar sudah akan buyar tertiup angin. Apalagi kakek mempunyai nama buruk di dunia persilatan, meski nama Ciok Boh-thian dan Tiang-lok-pang mereka juga tidak begitu harum tapi toh tidak sejahat kakek yang telah membunuh orang tak terhitung jumlahnya. Dan kalau dia sudah tahu asal usulku masakah dia sudi mengambil aku sebagai istrinya? Demikianlah pikiran Ting Tong bergolak, air mata pun berlinang-linang.
Dalam pada itu Ting Put-sam sudah lantas mendesak, “Hayo, lekas katakan, lekas! Pendeknya kau jangan coba main gila bahwa sekarang kau ingin belajar ilmu silat lebih dulu kemudian akan dapat memperistrikan A Tong pula, atau sekarang minta A Tong, lalu secara diam-diam ingin belajar ilmu silatku. Biarlah kukatakan padamu, di dunia ini tiada seorang pun yang bisa main gila pada Ting Put-sam. Kau hanya boleh pilih satu di antara dua, kalau tidak jiwamu tentu akan melayang. Nah, lekas katakan, lekas!”
“Yaya, engkau dan Ting-ting Tong-tong telah salah mengenali orang, aku ... aku bukan ....”
“Aku tidak peduli kau ini siapa, apakah kau anak anjing, anak setan atau anak kura-kura, semua aku tak peduli,” demikian Ting Put-sam memotong sebelum Ciok Boh-thian menerangkan lebih lanjut. “Aku pun tidak peduli apakah A Tong suka padamu atau tidak. Yang terang adalah karena Ting Put-sam telah penujui kau, dan sekali Ting Put-sam sudah penujui kau maka kau harus memilih satu di antara dua pusaka yang kusebut tadi.”
Ciok Boh-thian menjadi serbasalah, ia pandang si kakek dan pandang pula si anak dara. Pikirnya, “Ting-ting Tong-tong ini telah salah menganggap diriku sebagai dia punya Engkoh Thian, sedangkan itu Engkoh Thian yang tulen tidak lama lagi tentu akan kembali, bukanlah dalam hal ini aku telah menipu si Ting Tong dan memalsukan Engkoh Thian itu pula? Sebaliknya kalau aku menyatakan tidak mau si Ting Tong dan pilih belajar ilmu silat saja, hal ini tentu akan melukai hati si Ting Tong. Ah, lebih baik tidak mau dua-duanya saja.”
Maka ia lantas menggeleng kepala dan berkata, “Yaya, aku telah minum kau punya Hian-peng-pek-hwe-ciu dan seketika tak dapat kubayar kembali padamu, maka bolehlah dianggap sebagai salah satu pusaka pemberianmu saja.”
“Tidak, tidak boleh jadi,” sahut Ting Put-sam dengan muka masam. “Sudah kukatakan tadi Hian-peng-pek-hwe-ciu itu hanya dipinjamkan saja dan kelak harus kau bayar kembali. Biar kau hendak mengangkangi juga tak bisa. Nah, kau sudah pilih dengan baik belum? Ingin ambil A Tong atau pilih ilmu silat?”
Ciok Boh-thian memandang sekejap ke arah Ting Tong, kebetulan anak dara itu pun sedang melirik padanya. Sinar mata kedua orang terbentur, cepat keduanya melengos lagi.
Wajah Ting Tong tampak pucat, air matanya berlinang-linang, kalau menuruti adatnya, kalau dia tidak lantas menjewer telinga Ciok Boh-thian, tentu akan ditinggal pergi dengan marah-marah. Tapi di hadapan sang kakek sekarang sedikit pun ia tidak berani main garang, sudah tentu perasaannya sangat tertekan.
Sekilas melihat air mata Ting Tong yang berlinang-linang itu, hati Ciok Boh-thian menjadi tidak tega. Segera ia berkata dengan suara halus, “Ting Ting Tong Tong, dengarkanlah keteranganku ini, kau sesungguhnya telah salah mengenal diriku. Jika aku benar-benar adalah kau punya Engkoh Thian masakah aku masih ragu-ragu untuk memilihnya? Sudah tentu aku akan memilih dirimu dan tidak sudi pilih ilmu silat segala.”
Air mata Ting Tong masih bercucuran, namun mulutnya sudah mengulum senyum, katanya, “Kau bukan Engkoh Thian? Habis di dunia ini apakah masih ada Engkoh Thian yang kedua?”
“Ya, boleh jadi mukaku agak mirip dengan Engkoh Thian-mu itu,” ujar Boh-thian.
“Kau masih tidak mengaku?” Ting Tong menegas dengan tertawa. “Baiklah, ingin kutanya padamu sekarang. Pada permulaan tahun ini, waktu kita baru mulai kenal, secara kasar kau telah pegang tanganku, maka kontan aku lantas pukul kau, betul tidak?”
Boh-thian tidak menjawab, tapi dengan ketolol-tololan ia pandang si anak dara dengan melenggong.
Wajah Ting Tong tampak mengunjuk rasa kurang senang lagi, katanya pula, “Apakah kau benar-benar sudah melupakan segala kejadian dahulu setelah menderita sakit payah atau cuma pura-pura saja dan berlagak bodoh?”
Boh-thian garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sahutnya, “Sudah terang kau telah salah mengenali diriku. Dari mana aku tahu apa yang terjadi antara kau dengan Ciok-pangcu itu?”
“Hm, apakah kau kira dapat menyangkal lagi,” kata Ting Tong pula, “Waktu itu kau telah pegang kedua tanganku, aku menjadi kelabakan, lebih-lebih ketika dengan cengar-cengir kau hendak ... hendak mencium aku. Cepat aku melengos dan menggigit sekali di atas pundakmu sehingga darah bercucuran, karena kesakitan barulah kau melepaskan aku. Sekarang boleh coba bu ... buka bajumu, bukankah di atas pundak kirimu masih ada bekas luka gigitan itu? Andaikan aku memang salah mengenali orang, betapa pun bekas luka itu tak dapat kau hapus.”
“Ya, kau tidak pernah menggigit aku, dengan sendirinya di atas pundak tak ada bekas luka itu,” sambil berkata Boh-thian lantas menyingkap bajunya sehingga kelihatan pundaknya, tapi mendadak ia menjerit kaget, “He, sungguh aneh, mana bisa jadi?”
Ternyata dengan terang dan gamblang ketiga orang dapat melihat dengan jelas bahwa di atas pundak pemuda itu benar-benar terdapat bekas luka gigitan. Bekas luka itu sudah menjadi belang yang menonjol dan terang adalah gigitan mulut orang.
“Nah, apa katamu sekarang? Apa kau berani menyangkal lagi?” jengek Ting Put-sam.
“Biarlah kukatakan padamu, orang yang sering naik gunung pada akhirnya tentu ketemu harimau. Kau suka main gila akhirnya tentu kecantol salah satu wanita dan susah melepaskan diri. Dalam hal demikian kakek juga pernah ditipu orang di waktu masih muda. Sudahlah, jadi jelasnya yang kau pilih adalah A Tong, bukan?”
Namun Ciok Boh-thian sedang terheran-heran, ia tidak ingat bilakah pundaknya pernah digigit orang? Kalau melihat bekas luka itu, terang gigitan itu sangat parah, luka sedemikian itu masakah dapat dilupakan? Selama beberapa hari ini dia telah banyak mengalami kejadian-kejadian aneh, untuk semua ini ia dapat memecahkan persoalannya dengan alasan “salah mengenali orang” dan hanya bekas luka gigitan inilah yang benar-benar susah dimengerti.
Melihat pemuda itu termangu-mangu dan tidak menjawab pertanyaannya, air mukanya tampak aneh sekali, diam-diam Ting Put-sam mengira pemuda itu merasa malu dan tidak berani mengaku terus terang isi hatinya. Maka ia lantas berkata dengan tertawa, “Baiklah, A Tong, hayo, dayung perahu dan pulang!”
Ting Tong terkejut dan bergirang pula, serunya, “Yaya, apa engkau maksudkan membawa dia pulang ke rumah kita?”
“Dia adalah cucu menantuku, mengapa tidak membawanya pulang?” sahut Ting Put-sam. “Jangan-jangan sedikit lena nanti dia terus kabur, kan urusan bisa runyam dan ke mana muka Ting Put-sam harus ditaruh?”
Dengan muka berseri-seri Ting Tong pelototi sekali pada Ciok Boh-thian, mendadak mukanya menjadi merah, cepat dia angkat galah dan menolak perahunya ke depan Sesudah menyusuri kolong jembatan, perahu itu lantas meluncur dengan lajunya.
“Ke rumahmu?” demikian mestinya Ciok Boh-thian ingin bertanya. Tapi di dalam benaknya sesungguhnya terlalu banyak tanda tanya, maka ucapan yang hampir dicetuskan itu telah ditelannya kembali.
Di tengah malam yang sunyi perahu itu menyusur sungai di bawah dahan-dahan pohon Yangliu yang lemas gemulai menjulur ke tengah sungai sehingga terkadang mengeluarkan suara gemeresik karena sentuhan badan perahu dengan dahan-dahan itu. Sayup-sayup hidung Boh-thian mengendus bau harum bunga, hampir ia tidak sadar lagi di mana ia berada.
Beberapa kali perahu itu menerobos kolong jembatan, jalanan air itu pun berliku-liku. Agak lama juga akhirnya sampailah mereka di tepi pekarangan rumah yang berundakan batu bertingkat-tingkat dan menurun ke tepi sungai.
Ting Tong menambat perahunya di sebuah cagak kayu, ia tersenyum kepada Ciok Boh-thian dan mendahului melompat ke undak-undakan batu.
“Hari ini kau adalah tamu sanjungan kami, mari, mari!” kata Ting Put-sam dengan tertawa.
Boh-thian tidak tahu cara bagaimana harus menjawab. Dengan linglung ia ikut belakang Ting Tong menyusur sebuah jalan batu yang rata, sesudah menembus sebuah pintu bundar lalu melintasi sebuah taman bunga, kemudian mereka sampai di sebuah gardu pemandangan.
“Silakan duduk, tamu sanjungan!” kata Ting Put-sam dengan tertawa sesudah masuk ke dalam gardu itu.
Boh-thian tidak paham apa maksudnya “tamu sanjungan”, karena disilakan duduk, maka ia pun berduduk. Ting Put-sam sendiri lantas membawa cucu perempuannya meninggalkan taman bunga dan masuk ke rumah di sebelah sana.
Saat itu sang dewi malam sudah mendoyong ke sebelah barat, suasana sunyi senyap, angin meniup silir-silir. Sambil meraba bekas luka di atas pundaknya Ciok Boh-thian merasa serbabingung.
Agak lama kemudian terdengarlah suara orang mendatangi, dua wanita setengah umur muncul di depan gardu itu, mereka memberi hormat dan berkata dengan tersenyum, “Silakan Sin-koa-lang (pengantin baru) berganti pakaian ke ruangan dalam.”
Sudah tentu Ciok Boh-thian tidak paham apa maksud mereka, ia menduga dirinya diundang ke ruangan dalam sana, maka ia lantas ikut kedua wanita itu. Sesudah lewat di sebuah kolam bunga teratai, menyusur pula sebuah serambi panjang, akhirnya ia sampai di sebuah kamar samping. Di dalam kamar sudah tersedia sebuah baskom besar dengan air hangat, di samping tertaruh dua helai handuk.
“Silakan Sin-koa-lang mencuci badan,” demikian kata salah seorang wanita tadi. “Kata Loyacu (tuan besar) waktunya sudah sangat mendesak sehingga tidak sempat menyediakan pakaian baru, terpaksa Sin-koa-lang diminta tetap menggunakan pakaian sendiri yang terpakai sekarang ini.”
Lalu dengan mengikik tawa kedua wanita itu mengundurkan diri sambil menutupkan pintu kamar.
Boh-thian bertambah bingung, pikirnya, “Sudah terang aku bernama Kau-cap-ceng, mengapa sebentar aku dianggap sebagai Ciok-pangcu, sebentar lagi berubah menjadi Engkoh Thian, dan sekarang aku dipanggil sebagai ‘Sin-koa-lang’ apa segala?”
Ia pikir toh sudah datang, tampaknya Ting Put-sam dan Ting Tong juga tiada bermaksud jahat padanya, maka tanpa pikir lagi segera ia mencuci badan dengan air hangat berbau harum yang tersedia itu. Habis mandi, ia merasa semangatnya menjadi segar.
Baru saja ia selesai berpakaian kembali, tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki berseru di luar pintu, “Silakan Sin-koa-lang ke ruangan tengah untuk sembahyang Thian!”
Boh-thian terkejut. Ia paham tentang “sembahyang Thian” berikutnya ia menjadi teringat juga tentang sebutan “Sin-koa-lang” itu. Sewaktu kecil pernah ia mendengar cerita ibunya tentang pengantin lelaki dan pengantin wanita bersembahyang kepada Thian. Maka sesaat itu ia menjadi melengong saja.
Dalam pada itu lelaki di luar tadi sedang bertanya pula, “Apakah Sin-koa-lang sudah selesai berpakaian?”
Terpaksa Boh-thian mengiakan. Lalu masuklah orang itu, tampak bicara lagi lelaki itu lantas menyampirkan sehelai kain merah di atas leher Ciok Boh-thian, sebuah bunga kain sutra merah disematkan pula di dadanya. Lalu katanya, “Kionghi! Kionghi!”
Segera ia gandeng tangan Boh-thian dan diajak keluar.
Dengan rasa bingung Boh-thian tahunya cuma ikut saja. Setibanya di ruangan besar, tertampaklah delapan lilin besar telah dinyalakan terletak di atas sebuah meja besar dengan Toh-wi (tirai meja) merah bersulam indah yang terdapat di tengah-tengah ruangan.
Kelihatan Ting Put-sam berdiri di sisi meja besar itu dengan senyum berseri-seri. Dan begitu Ciok Boh-thian melangkah masuk, serentak tiga orang lelaki di samping ruangan sana lantas membunyikan seruling.
Lelaki yang menggandeng Boh-thian tadi lantas berseru, “Silakan pengantin perempuan keluar!”
Maka terdengarlah suara kerincing-kerincing dan keriang-keriut, dari belakang keluarlah kedua orang wanita pertama tadi dengan memapah seorang gadis berbaju ungu mudah berkerudung kain sutra merah. Dilihat bangun tubuhnya terang itulah si Ting Tong.
Ketiga wanita itu lantas berdiri di sisi kiri Ciok Boh-thian. Sayup-sayup pemuda itu mendengus bau harum yang meresap. Hatinya menjadi bimbang, takut tapi juga girang.
“Menyembah kepada Thian (langit)!” seru pula lelaki tadi selaku protokol.
Segera Boh-thian melihat Ting Tong berlutut ke arah meja dan perlahan-lahan mulai menyembah.
Sudah tentu ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Untunglah si lelaki tadi telah membisikinya, “Lekas berlutut dan menyembah!”
Karena punggungnya didorong perlahan pula dari belakang, terpaksa Boh-thian berlutut dan menyembah beberapa kali secara ngawur. Melihat kelakuannya yang lucu itu, salah seorang wanita pengiring pengantin perempuan itu sampai tertawa geli.
“Menyembah kepada bumi!” si protokol berseru lagi.
Segera Boh-thian dan Ting Tong membalik tubuh dan menyembah ke arah ruangan dalam.
“Menyembah kakek!” seru pula protokol.
Ting Put-sam lantas siap di tengah, lebih dulu Ting Tong menyembah, dengan agak ragu-ragu Boh-thian juga menyembah.
“Suami istri saling menyembah!” teriak si protokol.
Melihat si Ting Tong telah miringkan tubuh dan berlutut ke arahnya, seketika otak Boh-thian berubah terang. Mendadak ia berseru, “He, Ting-ting Tong-tong! He Yaya! Aku sungguh-sungguh bukan Ciok-Pangcu dan bukan kau punya Engkoh Thian apa segala. Kalian telah salah mengenali diriku, kelak ... kelak kalian jangan menyalahkan aku, lho!”
Ting Put-sam terbahak-bahak, katanya, “Anak dungu, dalam keadaan begini masih bicara hal demikian? Tidak, tidak akan menyalahkan kau!”
“He, Ting-ting Tong-tong! Kita harus bicara di muka, lho! Kita sembahyang Thian ini hanya main-main saja atau sungguhan?” seru Ciok Boh-thian pula.
Dari balik kerudung muka Ting Tong menjawab dengan tertawa, “Sudah tentu sungguhan, urusan demikian masakah ... masakah boleh main-main?”
“Tapi ... tapi kau yang salah mengenali orang, aku ... aku tak mau tanggung, lho! Jangan-jangan kelak kau menjadi menyesal dan ... dan akan menjewer kupingku dan menggigit pundakku lagi, ini ... ini tidak boleh, ya?”
Seketika para hadirin tercengang. Ting Tong juga mengikik geli. Sahutnya dengan suara rendah, “Tidak, aku takkan menyesal, asal kau selalu baik padaku, tentu aku takkan ... takkan menjewer kau lagi.”
Sebaliknya Ting Put-sam lantas berseru, “Dijewer bini adalah sesuatu yang lumrah, kenapa mesti digegerkan? Nah, Kau-cap-ceng, sudah sekian lamanya A Tong berlutut padamu mengapa kau tidak lekas membalas hormat?”
“Ya, ya,” cepat Boh-thian menjawab. Dan segera ia pun berlutut dan saling menyembah dengan Ting Tong.
Protokol lantas berteriak lagi, “Upacara selesai, silakan sepasang pengantin baru masuk kamar. Semoga hidup bahagia, panjang umur, keturunan subur!”
Seketika suara seruling berbunyi pula. Lalu sepasang pengantin diiringkan ke dalam kamar baru. Kamar ini jauh lebih kecil daripada kamar Ciok Boh-thian di markas Tiang-lok-pang itu, perabotnya juga sederhana, hanya penerangan lilin lebih semarak, di dalam kamar penuh pajangan-pajangan kain merah dan benda-benda lain yang menambah suasana bahagia.
Sesudah menundukkan Ting Tong dan Ciok Boh-thian di pinggir ranjang, beberapa pengiring pengantin itu menuangkan dua cawan arak dan ditaruh di atas meja, kata mereka bersama, “Kionghi dan selamatlah sepasang pengantin baru, silakan saling tukar minum secawan arak ini!”
Lalu dengan tertawa terkekeh-kekeh mereka mengundurkan diri sambil merapatkan pintu kamar.
Hati Ciok Boh-thian menjadi berdebar-debar. Meskipun ia masih hijau dan sama sekali tidak paham kehidupan manusia umumnya, tapi ia pun insaf bahwa dengan upacara tadi, maka dirinya dan si Ting Tong telah menjadi suami istri. Ia lihat Ting Tong berduduk dengan diam saja di sebelahnya, kepalanya masih berkerudung kain sutra merah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar