Jilid 17
Tiba-tiba Ban-kiam tercengang kaget lagi. Ternyata di pipi kiri Houyan Ban-sian, Bun Ban-hu dan lain-lain masing-masing terdapat bekas tamparan yang jelas, kelihatan bekas lima jari tangan. Bekas tamparan itu hitam gosong dan melekuk beberapa mili dalamnya.
“Sia siapa ... siapa? Siapakah yang memukul kalian ini? Ka ... kapan terjadinya?” demikian Ban-kiam bertanya dengan suara terputus-putus.
Dilihat dari bekas tamparan yang kecil itu, agaknya adalah tangan kaum wanita. Biasanya Pek Ban-kiam jarang menjelajahi Tionggoan, tapi sering ia mendengar cerita dari ayahnya tentang kejadian-kejadian yang menarik di dunia persilatan, walau pengalamannya sedikit, tapi pengetahuannya cukup luas.
Ia lihat bekas tamparan yang berwarna hitam gosong itu bukan bekas pukulan Hek-sah-ciang atau Thiat-sah-ciang (pukulan pasir hitam dan pasir besi), sebab kalau kedua macam pukulan itu tentu yang terkena sudah binasa sejak tadi, tapi sekarang para Sutenya itu hanya ringan saja lukanya, bahkan terdengar Houyan Ban-sian dapat berteriak-teriak, “Setan alas, aku sama sekali tidak tahu siapakah yang menggampar diriku!”
“Keparat, merunduk orang secara diam-diam, babi ....” demikian Bun Ban-hu juga mencaci maki.
Ternyata tiada seorang pun yang tahu siapa yang telah menyerang mereka secara menggelap itu. Yang jelas ketika Ban-kiam berlari ke luar kelenteng dengan pedang terhunus tadi, mendadak pipi seorang lantas kena ditampar orang, menyusul seorang lagi juga kena digampar, yang dipukul belakangan tidak mendengar suara tamparan yang dipukul lebih dulu, sebaliknya yang terpukul dahulu karena sedang meringis kesakitan sehingga tidak mendengar kawan di sebelahnya juga kena pukulan, kemudian Ban-kiam masuk kembali dan menyalakan lilin barulah mereka mengetahui semua kawannya rata-rata telah diserang orang. Tadinya mereka menyangka dirinya sendiri saja yang mengalami nasib sial.
Ban-kiam termenung-menung tanpa memberi komentar apa-apa, ia menduga orang yang menolong Ciok Boh-thian dan yang menyerang para Sutenya itu tentu terdiri dari satu orang yang sama. Terang sesudah menolong Ciok Boh-thian orang itu masih bersembunyi di dalam kelenteng, ketika dirinya mengejar keluar, lalu, dengan sebebasnya ia menggampar para Sutenya setiap orang satu kali, habis itu barulah Ciok Boh-thian dibawa pergi. Orang itu dapat memukul tanpa mengeluarkan suara, yang digunakan adalah tenaga dalam yang lunak, kepandaiannya dan kecerdikannya terang bukan orang sembarangan, Ban-kiam menjadi ngeri membayangkannya.
Kiranya lukanya tidaklah parah karena dia sendiri yang menumbuk ujung pedangnya Bin Ju, rasanya juga tidak terlalu sakit. Ketika Ciok Jing dan Bin Ju dipaksa pergi, keadaan di dalam kelenteng lantas gelap gulita, tiba-tiba ia merasa mulutnya didekap sebuah tangan, lalu badannya diseret orang dengan perlahan-lahan dan akhirnya sampai di kolong meja sembahyang.
Tidak lama kemudian terasa pula orang itu mengempitnya terus membawanya lari keluar kelenteng, tidak terlalu lama lalu melompat ke atas sebuah perahu, menyusul ada orang menyalakan pelita.
Waktu Boh-thian membuka mata, tertampak orang berada di sampingnya dengan memegang pelita itu tak-lain-tak-bukan adalah si Ting Tong.
“Hai, Ting-ting Tong-tong, kiranya kau yang telah membawa aku ke sini?” seru Boh-thian dengan girang.
Tapi mulut Ting Tong tampak mencibir, omelnya malah, “Babi mampus kau, masakah siapa yang membawa kau ke sini juga tidak tahu. Yaya yang telah menyelamatkan kau, tahu?”
Boh-thian menoleh, dilihatnya Ting Put-sam berada di haluan perahu dengan duduk berpangku dengkul sedang memandang ke udara, sedikit pun tidak menggubris padanya. Maka ia lantas menyapa, “Yaya untuk ... untuk apakah membawa aku ke sini?”
“A Tong,” tiba-tiba Ting Put-sam mendengus tanpa menggubris Boh-thian, “orang ini adalah orang sinting, buat apa kau menjadi istrinya? Toh kau belum tidur bersama dia, sebelum telanjur lebih baik kau bunuh dia saja.”
“Tidak, tidak!” sahut Ting Tong dengan gugup. “Engkoh Thian telah menderita sakit keras sehingga banyak kejadian-kejadian di masa lampau terlupa olehnya. Lambat laun dia tentu akan sehat kembali. Engkoh Thian, coba kuperiksa lukamu.”
Dengan hati-hati Ting Tong lantas membuka baju Ciok Boh-thian, dengan saputangan ia mengusap darah di sekitar luka itu, lalu membubuhkan obat luka, akhirnya ia menyobek ujung baju sendiri untuk membalut luka di dada anak muda itu.
“Terima kasih, Ting-ting Tong-tong!” kata Boh-thian. “Eh, apakah tadi kau dan Yaya sembunyi di kolong meja sana? Haha, sungguh sangat menarik main sembunyi-sembunyian begitu!”
“Jiwamu sendiri hampir amblas masih bilang sangat menarik segala?” semprot Ting-Tong. “Pertarungan sengit antara ayah-ibumu melawan orang she Pek itu sungguh membikin hatiku ikut berdebar-debar.”
“Ayah-ibuku?” Boh-thian menegas dengan heran. “Kau bilang tuan yang berbaju hitam mulus itu adalah ayahku? Tapi wanita cantik itu bukanlah ibuku ... ibuku tidak demikian mukanya, tidak secantik nyonya tadi.”
Ting Tong menghela napas, katanya kemudian, “Engkoh Thian, sakitmu itu benar-benar telah membikin susah padamu, sampai-sampai ayah ibunya sendiri pun sudah terlupa. Kulihat caramu memainkan ke-72 jurus Swat-san-kiam-hoat itu pun sangat kaku dan belum hafal betul, jangan-jangan sampai ilmu silatnya sendiri juga kau lupakan sama sekali? Ai, mana boleh jadi begini.”
Kiranya sudah Ciok Boh-thian ditawan dan dilarikan oleh Pek Ban-kiam, segera Ting Put-sam dan Ting Tong mengejarnya sepanjang jalan. Kejadian-kejadian Pek Ban-kiam memberi petunjuk ilmu pedang kepada para Sutenya dan kedatangan Ciok Jing suami-istri ke dalam kelenteng lalu bertempur, semua itu dapat disaksikan oleh Ting Put-sam dan si Ting Tong.
Waktu Ting Put-sam berhasil menolong Ciok Boh-thian, Ting Tong juga tidak mau tinggal diam, ia mengeluarkan ilmu pukulan keluarga Ting yang ternama dan memberi persen satu kali tamparan pada tiap-tiap murid Swat-san-pay. Terhadap Pek Ban-kiam rupanya si Ting Tong benar-benar jeri, maka sebelum tokoh Swat-san-pay itu masuk kembali ke dalam kelenteng ia sudah lantas kabur lebih dulu menyusul kakeknya.
Begitulah maka Boh-thian telah menjawab dengan heran, “Kau bilang ilmu silat? Ilmu silat apa? Sama sekali aku tidak bisa ilmu silat. Apa yang kalian bicarakan aku pun tidak paham.”
Mendadak Ting Put-sam berdiri, katanya dengan suara bengis, “A Tong, apa barangkali pikiranmu sudah butek atau bebal, makanya menyukai seorang bocah tolol dan sinting seperti dia ini? Biarlah sekali hantam kumampuskan dia saja. Pendek kata kau tidak perlu khawatir, kakek tanggung jawab untuk mencarikan seseorang kesatria muda yang gagah, tampan dan serbapandai untuk menjadi suamimu.”
“Aku .... aku tak mau, aku tidak inginkan kesatria muda lain yang tampan dan pintar apa segala,” jawab Ting Tong dengan terguguk-guguk dan air mata berlinang-linang. “Dia ... dia toh bukan orang sinting, hanya saja karena ... karena dia habis sakit keras, mungkin pikirannya belum jernih kembali.”
“Belum jernih apa?” bentak Ting Put-sam dengan gusar. “Siapa saja yang menyaksikan kelakuannya yang memuakkan di dalam kelenteng itu pasti meledak dadanya saking gusarnya dan gemasnya. Coba bayangkan, caranya bergerak yang ngular-kambang seperti anak kecil yang baru belajar, setiap jurus selalu salah dan kaku, banyak lubang kelemahannya, hehe, sudah terang orang telah menarik kembali pedangnya, tapi anak gebleg ini justru menumbukkan badannya sendiri dan baru puas kalau sudah terluka. Hm, manusia goblok seperti begini ada lebih baik kumampuskan saja daripada kelak dibunuh orang lain. Jangan-jangan akan tersiar di kalangan Kangouw bahwa cucu menantu Ting Put-sam telah dibunuh orang, kan aku yang malu. Maka, ada lebih baik dimampuskan sekarang saja, harus dibunuh.”
Ting Tong hanya menggigit bibir dan terdiam. Ia kenal watak sang kakek, kalau beliau sudah berkata demikian, maka pasti akan dilakukannya demikian pula, percuma saja untuk berdebat atau membantah pendiriannya itu. Sejenak kemudian barulah ia berkata, “Yaya, habis cara bagaimanakah supaya engkau tak jadi membunuhnya?”
“Ha, mengapa aku tidak jadi membunuhnya! Aku harus, ya, harus membunuhnya supaya tidak membikin malu,” kata Ting Put-sam dengan marah-marah. “Bila orang mendengar Ting Put-sam telah membunuh cucu menantunya sendiri, hal ini tidaklah mengherankan, tapi kalau terdengar kabar tentang cucu menantunya Ting Put-sam dibunuh orang, lantas apa tindakanku?
“Apa tindakanmu? Tentunya membalaskan sakit hatinya!” kata Ting Tong.
“Hahahaha! Kau bilang aku akan membalaskan sakit hati seorang goblok sebagai dia? Haha, kau anggap kakekmu ini orang macam apa?
“Habis bagaimana, kan salahnya kakek sendiri?” sahut Ting Tong sambil menangis. “Engkau yang suruh aku menikah dengan dia, secara resmi dia adalah suamiku, kalau engkau membunuhnya, bukankah aku akan menjadi janda?”
Ting Put-sam menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, katanya kemudian, “Tatkala itu aku telah menjajal dia dan merasa Lwekangnya sangat tinggi dan memenuhi syarat untuk menjadi cucu menantuku, siapa tahu dia ternyata seorang sinting. Jika kau berkeras tidak memperbolehkan aku membunuhnya, hal ini boleh juga asal kau memenuhi sesuatu syaratku.”
Ting Tong menjadi girang karena ada harapan menyelamatkan sang suami, segera ia bertanya, “Syarat apa? Lekas katakan, lekas!”
“Sudah kukatakan dia adalah seorang sinting dan harus dibunuh, tapi kau bilang dia tidak sinting dan jangan dibunuh. Untuk ini, baiklah, aku memberi batas waktu 10 hari agar dia pergi mencari dan bertanding dengan Pek Ban-kiam itu, dia harus membunuh atau mengalahkan orang she Pek yang bergelar ‘Gi-han-se-pak’ itu barulah aku dapat mengampuni jiwanya dan mengizinkan dia menjadi suamimu yang sungguh-sungguh.”
Ting Tong menarik napas panjang mendengar syarat sang kakek itu. Ia pikir ilmu pedang orang she Pek itu sedemikian lihainya, hal ini telah disaksikan sendiri oleh mereka kakek dan cucu berdua. Boh-thian sendiri baru saja sembuh dari sakit keras, sekarang terluka pula, di dalam sepuluh hari ini cara bagaimana dia dapat berlatih dan mengalahkan seorang ahli pedang sebagai Pek Ban-kiam?
Dengan cemas kemudian Ting Tong berkata, “Yaya, syaratmu ini sudah terang sukar dilaksanakan.”
“Apakah sukar dilaksanakan atau mudah dilakukan, pendek kata bila dia tidak mampu mengalahkan Pek Ban-kiam, segera sekali hantam kumampuskan dia,” sahut Ting Put-sam dengan tegas.
Ting Tong menjadi sedih, ia coba berpaling kepada Boh-thian, tertampak anak muda itu acuh-tak-acuh saja, seperti apa yang dipercakapkan antara Ting Tong dan kakeknya itu sama sekali tiada sangkut paut dengan kepentingannya.
Dengan gemas Ting Tong coba mengisiki Boh-thian, “Engkoh Thian, Yaya memberi tempo dalam waktu sepuluh hari supaya kau mengalahkan Pek Ban-kiam itu, bagaimana, apakah kau sanggup?”
“Mengalahkan Pek Ban-kiam? Haya, mana bisa, ilmu pedangnya teramat lihai, siapa pun bukan tandingannya, apalagi diriku?” sahut Boh-thian dengan melenggong.
“Ya, tapi kakek bilang bila kau tidak mampu mengalahkan dia, maka kau yang akan dibunuh oleh kakek,” kata Ting Tong.
“He, he, orang tidak apa-apa mengapa hendak dibunuh?” sahut Boh-thian dengan tertawa. “Ah, kakek hanya berkelakar saja dengan kau, masakah kau anggap sungguh-sungguh? Kakek adalah orang baik dan bukan orang jahat, masakah dia akan ... akan membunuh aku?”
Ting Tong menghela napas panjang, pikirnya, “Engkoh Thian benar-benar agak sinting tampaknya, segala apa selalu angin-anginan. Jalan paling baik sekarang ialah menyanggupi dulu syarat kakek tadi, di dalam sepuluh hari semoga dapat diperoleh sesuatu akal dan kesempatan agar Engkoh Thian bisa melarikan diri dengan selamat.”
Karena itu ia lantas berkata pada Ting Put-sam, “Baiklah, kakek, aku terima syaratmu, di dalam sepuluh hari akan kuminta dia pergi mencari dan mengalahkan Pek Ban-kiam.”
“Ya, sekarang kakek sudah merasa lapar, lekas pergi menanak nasi,” sahut Ting Put-sam dengan tertawa dingin. “Biarlah kukatakan padamu, pertama tidak ajar, kedua jangan lari, ketiga tidak ampun. Tidak ajar ialah kakek sekali-kali takkan mengajarkan ilmu silat kepada seorang sinting. Jangan lari ialah supaya kau jangan sekali-kali bermaksud melepaskan dia untuk melarikan diri, asal kakek mengetahui dia bermaksud lari, di dalam waktu singkat tentu aku dapat menemukan dia dan membinasakan dia lebih cepat daripada waktu sepuluh hari. Tentang tidak ampun, sudah cukup jelas, tidak perlu kukatakan lagi.”
“Jika engkau mengatakan dia seorang sinting, maka biarpun engkau mengajarkan ilmu silat padanya juga dia takkan bisa, buat apa mesti menyatakan tidak akan mengajar ilmu silat padanya?” ujar Ting Tong.
“Kau tidak perlu memancing aku,” sahut Ting Put-sam dengan tersenyum. “Padahal, andaikan kakek mau mengajarkan dia, di dalam waktu sepuluh hari juga tidak mungkin dia mampu mengalahkan Pek Ban-kiam? Huh, biarpun 10 tahun mendidik dia juga percuma saja.”
Mendadak pikiran Ting Tong tergerak, katanya, “Baik, kakek tidak mau mengajar dia, biar aku saja yang mengajarnya mengalahkan Pek Ban-kiam? Huh, biarpun sepuluh tahun mendidik dia juga percuma saja.”
Tatkala itu perahu mereka itu sudah di pasang layarnya dan mendapat angin buritan sedang berlayar ke hulu sungai melawan arus. Cuaca sudah mulai terang, fajar telah menyingsing, tapi di permukaan sungai penuh kabut melulu.
“A Tong kau tidak mau masak, apakah kau sengaja membikin kakek mati kelaparan?” kata Ting Put-sam dengan gusar.
“Engkau hendak membunuh suamiku, lebih baik aku membikin kau mati kelaparan dulu,” sahut Ting Tong.
“Budak setan yang kurang ajar! Hayo, lekas menanak nasi,” semprot Ting Put-sam pula. Tapi Ting Tong tidak menggubris sang kakek lagi, ia berkata kepada Ciok Boh-thian, “Engkoh Thian, biarlah aku mengajarkan semacam kepandaian padamu, tanggung di dalam 10 hari saja pasti dapat mengalahkan Pek Ban-kiam itu.”
“Huh ngaco-belo! Sedangkan aku saja tidak mampu mengajarkan dia secepat itu, masakah kau si budak cilik ini mampu?” omel Ting Put-sam. Begitulah kakek dan cucu itu terus bertengkar mulut, padahal di dalam hati si Ting Tong sangat gelisah dan sedih, ia tidak tahu cara bagaimana supaya bisa membujuk sang kakek agar tidak jadi membunuh Ciok Boh-thian. Ia kenal watak kakeknya yang aneh, biar memohon dengan sangat juga tiada gunanya, jalan satu-satunya harus mencari suatu akal yang licin sehingga orang tua itu mau menarik kembali keputusan secara sukarela. Pikir Ting Tong, “Kalau aku tidak memasak baginya, bila sudah lapar terpaksa dia akan menyuruh perahu ini berlabuh dan mendarat untuk membeli makanan, kesempatan itu akan dapat digunakan oleh Engkoh Thian untuk melarikan diri.”
Tak tersangka ketika melihat Ting Put-sam bermuka masam dan menyatakan kelaparan, Ciok Boh-thian yang merasa dirinya juga sudah lapar dengan tiba-tiba ia terus berbangkit dan berkata, “Biarlah aku menanakkan nasi bagimu?”
Dasar anak muda ini memang seorang berhati polos, ternyata sama sekali ia tidak paham maksud tujuannya Ting Tong.
Keruan anak dara itu menjadi gusar, serunya, “Kau baru saja terluka, kalau bekerja sehingga membikin lukamu tambah parah, lantas bagaimana?”
“Obat luka keluarga Ting kita adalah obat mujarab, sekali dibubuhkan lantas sembuh, pula lukanya tidak berat, kenapa mesti khawatir?” demikian kata Ting Put-sam. “Ya, anak baik, lekas pergi menanak nasi untuk kakek.”
“Dia menanak nasi untukmu, lalu kau masih akan membunuhnya atau tidak?” tanya Ting Tong.
“Menanak nasi adalah menanak nasi, membunuh orang tetap membunuh orang, kedua hal yang berlainan mana boleh dicampuradukkan?” sahut Ting Put-sam. Nyata ia tetap bertekad harus membunuh Ciok Boh-thian menurut batas waktu yang telah ditetapkan.
Waktu Boh-thian meraba dadanya sendiri, ternyata tidak terlalu sakit lagi. Segera ia menuju ke buritan perahu untuk mencuci beras dan menanak nasi. Ia melihat seorang tukang perahu tua sedang memegang kemudi dan duduk di buritan, terhadap pembicaraan mereka bertiga tadi seperti tidak ambil pusing sama sekali.
Dalam hal menanak nasi dan memasak daharan enak adalah kepandaian khas Boh-thian, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama ia sudah selesai menanak sebakul nasi yang hangat-hangat, dan sekejap juga sudah selesai menggoreng dua ekor ikan yang berbau sedap.
Sambil makan Ting Put-sam sambil memuji, katanya, “Jika kepandaian ilmu silatmu ada setengahnya kepandaian memasak seperti ini tentulah kakek tidak akan membunuh kau. Tapi sayang, sungguh sayang. Coba kalau tempo hari kau tidak menikah dengan A Tong, tapi hanya menjadi kokiku saja, jangankan membunuh kau, andaikan orang lain yang akan membunuh kau juga kakek akan membela kau malah.”
Dalam pada itu si Ting Tong telah mengisi semangkuk nasi dan mengambil setengah ekor ikan goreng dan dibawa ke buritan untuk si tukang perahu.
Selesai makan, Boh-thian dan Ting Tong bersama-sama mencuci mangkuk dan piring di buritan perahu. Melihat sang kakek duduk di haluan perahu, dengan suara berbisik Ting Tong lantas berkata, “Sebentar aku akan mengajarkan sejurus Kim-na-jiu-hoat (ilmu menangkap dan memegang) padamu, hendaklah kau mempelajarinya dengan baik-baik.”
“Sesudah mempelajarinya apakah akan digunakan untuk bertanding dengan Pek-suhu itu?” tanya Boh-thian.
“Ai, apakah engkau benar-benar-orang sinting? O, Engkoh Thian, dahulu ... dahulu engkau toh tidak seperti ini,” kata Ting Tong.
“Dahulu bagaimana keadaanku?” tanya Boh-thian. Muka Ting Tong menjadi bersemu merah, sahutnya kemudian, “Dahulu bila kau bertemu dengan aku, mulutmu sungguh lebih manis daripada madu, kau banyak bergurau sehingga membikin hatiku alangkah senangnya. Apa yang kau katakan selalu di luar dugaan dan sangat mencocoki seleraku. Tapi sekarang ... sekarang engkau telah berubah.”
“Ya, memangnya aku bukan kau punya Engkoh Thian itu,” sahut Boh-thian dengan menghela napas. “Dia pandai membikin senang hatimu, tapi aku tidak dapat. Maka ada lebih baik kau mencari dia saja.”
“O, Engkoh Thian, apakah kau marah padaku?” tanya si anak dara dengan suara setengah meratap.
“Aku mana bisa marah, aku hanya bicara dengan sesungguhnya padamu, tapi kau selalu tidak mau percaya,” ujar Boh-thian sambil menggeleng.
Sambil memandang air sungai yang membanjir lewat di sisi perahu, Ting Tong menggumam sendiri, “Ai, entah kapan barulah dia akan pulih kembali seperti dahulu kala.”
Ia termenung-menung sejenak sehingga tanpa terasa sebuah mangkuk yang dipegangnya itu kecemplung ke dalam sungai dan hanyut ke dalam arus.
“Ting-ting Tong-tong betapa pun aku tak dapat berubah menjadi kau punya Engkoh Thian itu, apabila aku selamanya sin ... sinting seperti ini, maka selamanya pula kau takkan suka padaku bukan?”
“Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!” jerit Ting Tong dengan suara tertahan, pedih hatinya seperti disayat-sayat. Saking kesalnya tiba-tiba ia pegang sebuah mangkuk dan dilemparkan pula ke dalam sungai, dan begitu pula berturut-turut diulangi sampai dua-tiga kali.
“Apabila mulutku pandai bicara dan dapat mencerocos terus untuk menyenangkan dirimu, maka aku pun suka untuk berbuat demikian bagimu,” kata Boh-thian. “Namun aku be ... benar-benar bukanlah kau punya Engkoh Thian itu, biar bagaimanapun juga aku tidak dapat menirukan dia.”
A Tong coba mengamat-amati pemuda itu, tatkala mana sang surya baru saja muncul di ufuk timur sehingga muka Ciok Boh-thian kelihatan terang kemerah-merahan, kedua matanya bersinar tajam, air mukanya tampak bersikap sangat tulus dan jujur.
Kembali Ting Tong menghela napas, lalu katanya, “Jikalau engkau bukanlah aku punya Engkoh Thian, mengapa di pundakmu terdapat bekas luka gigitanku? Mengapa engkau juga mempunyai sifat bangor yang sama, suka menggoda wanita dan mempermainkan nona Hoa dari Swat-san-pay itu? Bila engkau adalah aku punya Engkoh Thian, mengapa mendadak kau berubah menjadi angin-anginan seperti orang hilang ingatan, sama sekali kau tidak menarik dan romantis lagi seperti dahulu?”
“Aku adalah suamimu, bukankah ada lebih baik aku berlaku jujur dan setia padamu?” ujar Boh-thian dengan tertawa.
“Tidak, aku lebih suka engkau selincah dan senakal dahulu, apakah kau akan menggoda anak perawan orang lain atau akan mencolong istri orang, pendek kata aku tidak suka kau berlaku sekaku demikian,” kata Ting Tong.
“Mencolong istri orang? Ha, mana boleh jadi? Kalau aku mencuri istri orang lain, kan orang akan kehilangan istri?” ujar Boh-thian.
Ting Tong menjadi kurang senang, ia pikir makin diajak bicara makin ruwet, dasar goblok. Saking gemasnya mendadak ia menjewer kuping Ciok Boh-thian terus dipelintir sekuatnya, sampai-sampai pangkal telinga itu berdarah.
Keruan Boh-thian meringis kesakitan dan tanpa pikir menyampuk dengan tangannya.
Seketika Ting Tong merasa lengannya diketuk oleh suatu tenaga yang mahakuat, tanpa kuasa tangannya lantas terlepas, bahkan tubuhnya sampai tersentak ke belakang dan hampir-hampir mematahkan tiang layar yang ditumbuknya. Ia menjerit kaget dan memaki, “Setan, apa kau hendak mengajar istrimu? Kenapa pakai tenaga begitu besar?”
“Ai, maaf, maaf, aku ... aku tidak sengaja,” sahut Boh-thian cepat.
Waktu Ting Tong periksa lengan sendiri, ternyata sudah matang biru di tempat yang tersampuk itu. Tiba-tiba wajahnya yang uring-uringan tadi berubah menjadi girang, ia memegang kedua tangan Ciok Boh-thian dan digoyang-goyangkan, katanya, “Engkoh Thian, kiranya kau memang sengaja pura-pura saja untuk menipu aku.”
“Pura-pura apa?” sahut Boh-thian dengan bingung.
“Ilmu silatmu kan sama sekali tidak berkurang?” Ting Tong menegas.
“Aku ... aku tidak paham ilmu silat apa segala,” sahut Boh-thian.
Ting Tong menjadi marah lagi, omelnya, “Kau sengaja ngaco-belo lagi, lihatlah kalau aku mau gubris padamu.”
Habis berkata, segera ia hendak menampar pipi kiri Boh-thian.
Cepat Boh-thian mengegos dan hendak menangkis. Tapi ilmu pukulan si Ting Tong adalah sedemikian cepatnya, dengan sendirinya tangkisan Boh-thian itu mengenai tempat kosong, tahu-tahu pipinya terasa kesakitan, secara tidak bersuara sudah kena dipukul oleh Ting Tong.
Kembali Ting Tong menjerit kaget, bahkan mengandung rasa khawatir yang melebihi tadi. Kiranya ia menyangka ilmu silat Ciok Boh-thian belum punah dan dengan sendirinya akan dapat menghindarkan tamparannya itu dengan gampang, sebab itulah pukulannya itu telah menggunakan tenaga lunak yang berbisa dingin. Maklum, setiap pukulan kalau tidak membawa tenaga dalam tentu akan kurang cepat dan gesit. Siapa duga cara menangkis Ciok Boh-thian ternyata sedemikian lamban dan bodoh, seakan-akan seorang yang sama sekali tidak paham ilmu silat, keruan tamparannya dengan tepat lantas mengenai pipinya.
Sambil memegangi tangan sendiri yang digunakan menampar itu, Ting Tong melihat di pipi kiri Boh-thian sudah terdapat cap tangan berwarna hitam dan gosong melekuk. Ia menjadi menyesal dan malu pula, ia merangkul pinggang Boh-thian dan menempelkan pipi sendiri ke pipi anak muda itu, katanya sambil menangis, “O, Engkoh Thian, sungguh aku tidak tahu bahwa sebenarnya keadaanmu belum pulih kembali seluruhnya.”
Ada wanita cantik di dalam pelukan, Ciok Boh-thian menjadi lupa kepada pipinya yang sakit, katanya dengan menghela napas, “Ting-ting Tong-tong, sebenarnya apa sebabnya kau sebentar senang dan sebentar marah? Sungguh aku tidak paham.”
“O, bagai ... bagaimana baiknya? Bagaimana baiknya?” kata Ting Tong.
Segera ia melepaskan diri dari pelukan Boh-thian, ia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dan menuang sebutir obat pil serta suruh Boh-thian meminumnya, katanya, “Semoga takkan meninggalkan bekas di atas pipimu itu.”
Begitulah kedua muda-mudi itu duduk saling bersandar di buritan perahu, untuk sesaat keduanya sama-sama diam saja.
Selang agak lama, tiba-tiba Ting Tong membisiki Boh-thian, “Engkoh Thian, sesudah kau menderita sakit keras, rupanya ilmu silatmu telah kau lupakan semua, tapi tenaga dalamnya tidaklah terlupa. Biarlah aku mengajarkan ilmu Kim-na-jiu-hoat itu padamu.”
“Jika kau mau mengajar padaku, tentu aku akan mempelajarinya,” sahut Boh-thian.
Dengan jarinya yang halus lentik perlahan-lahan Ting Tong meraba lekuk cap tangan bekas tamparannya tadi di pipi anak muda itu, sungguh rasa menyesalnya tak terhingga. Mendadak ia mencium sekali pipi Boh-thian di tempat cap tangan itu.
Seketika kedua muda-mudi sama-sama merah jengah. Untuk menutupi perasaan malunya, cepat Ting Tong berdiri, ia membetulkan rambutnya, lalu memainkan ke-18 jurus Kim-na-jiu-hoat dan diikuti oleh Boh-thian dengan cermat. Selesai ia memain, lalu Boh-thian disuruhnya bergebrak dengan dia.
Dasar bakat Boh-thian memang amat tinggi, otaknya juga cerdas, hanya satu kali diberi contoh saja ia sudah ingat dengan baik.
Dengan cepat tiga hari telah lalu, sementara itu ke-18 jurus Kim-na-jiu-hoat itu sudah terlatih sangat hafal oleh Ciok Boh-thian. Meski Kim-na-jiu-hoat itu hanya meliputi 18 jurus saja, tapi tiap-tiap jurus di antaranya membawa perubahan yang tak terbatas, ada yang belasan macam, ada yang membawa berpuluh macam perubahan ikutan, semuanya sangat ruwet dan bagus.
Di dalam tiga hari sementara luka di dada Boh-thian sudah hampir sembuh seluruhnya, maka sepanjang hari dia hanya mencurahkan perhatiannya untuk mempelajari ilmu Kim-na-jiu-hoat menurut ajaran si Ting Tong.
Ting Put-sam hanya menyaksikan kelakuan kedua muda-mudi itu dengan acuh tak acuh, terkadang ia pun suka mengejek dan menyindir.
Perahu mereka yang berlayar ke hulu itu perlahan-lahan telah sampai di tempat yang sunyi dan jauh dari rumah penduduk. Melihat kemajuan Ciok Boh-thian yang sangat pesat itu, diam-diam si Ting Tong sangat senang. Suatu kali waktu mendengar kakeknya mengejek Boh-thian sebagai orang sinting lagi, kontan ia lantas berkata, “Yaya, ke-18 jurus Kim-na-jiu-hoat keluarga Ting kita ini kalau disuruh belajar seorang sinting harus makan waktu berapa lamanya untuk bisa dipahami benar-benar?”
Ting Put-sam menjadi bungkam dan tak bisa menjawab. Ia menyaksikan sendiri Ciok Boh-thian telah dapat mempelajari Kim-na-jiu-hoat itu dengan baik, jika demikian sesungguhnya anak muda ini bukan seorang tolol, apalagi sinting. Tapi mengapa kelakuannya dan kata-katanya seperti orang miring? Apakah dia pura-pura saja, memang benar telah melupakan segala kejadian di masa lampau lantaran sakit keras yang pernah dideritanya?
Dasar watak Ting Put-sam memang kukuh dan tidak mau kalah, terhadap cucu perempuannya itu ia pun tidak mau kalah berdebat, segera ia menjawab secara pokrol bambu, “Ada juga orang sinting yang pintar, ada pula orang sinting yang goblok, orang sinting yang pintar sudah tentu akan cepat dan hanya setengah hari saja sudah paham diberi ajaran sesuatu, kalau orang sinting yang tolol adalah seperti suamimu itu, harus tiga hari baru bisa.”
“Yaya, dahulu waktu engkau mempelajari Kim-na-jiu-hoat keluarga kita ini memerlukan waktu beberapa hari?” tanya Ting Tong sambil tertawa.
“Masakah aku perlu belajar sampai beberapa hari? Dahulu moyangmu hanya mengajarkan satu kali saja padaku, tidak sampai setengah hari juga Yaya lantas paham seluruhnya,” sahut Ting Put-sam.
“Haha, jika demikian, kiranya Yaya adalah seorang sinting yang pintar,” kata Ting Tong dengan tertawa.
Karena terpegang kelemahan ucapannya tadi, dari malu Ting Put-sam menjadi gusar, dengan mendelik ia membentak, “Hus, budak setan, omong tak keruan!”
Pada saat itulah tiba-tiba ada sebuah perahu sedang mengejar tiba dari sungai sana. Perahu itu memasang layar, dikayuh empat orang pula, badan perahu kecil, meluncurnya menjadi enteng dan cepat, maka makin lama makin mendekati perahu yang ditumpangi Ting Put-sam ini.
Di hulu perahu itu tampak berdiri dua orang lelaki, seorang di antaranya sedang berteriak, “Hai, bocah she Ciok itu apakah berada di dalam perahu di depan itu? Lekas berhenti! Lekas berhenti!”
Ting Tong hanya mendengus sekali saja, katanya, “Yaya, rupanya orang Swat-san-pay sedang mencari Engkoh Thian pula.”
“Itulah paling baik,” sahut Ting Put-sam dengan senang. “Biarkan si sinting ini ditangkap mereka untuk dicincang, dengan demikian barulah terkabul cita-cita kakek.”
“Yang akan ditangkap si sinting yang pintar atau si sinting yang tolol?” tanya Ting Tong.
“Sudah tentu si sinting yang tolol yang akan ditangkap, siapa sih yang berani menangkap si sinting yang pintar,” sahut Ting Put-sam.
“Ya, memang ilmu silat si sinting yang pintar ini sedemikian lihainya, siapa yang berani mengganggu seujung rambutnya?” ujar Ting Tong dengan tersenyum.
Ting Put-sam tertegun, segera ia sadar ucapannya yang kasar tadi, bentaknya dengan gusar, “Budak alas, kau berani putar kayun dan memaki kakekmu?”
Tengah bicara, sementara itu perahu kecil tadi sudah makin mendekat. Ting Put-sam dan Ting Tong duduk di dalam hanggar perahu, dengan tenang mereka mengikuti apa yang akan terjadi.
Maka terdengarlah kedua lelaki yang berdiri di haluan perahu sana sedang membentak dengan marah-marah, “Hai, orang itu, tampaknya kau adalah bocah dari she Ciok dari Tiang-lok-pang itu, mengapa kau tidak lekas menghentikan perahumu?”
Boh-thian menjadi gugup, serunya kepada si Ting Tong, “He, Ting-ting Tong-tong, ada orang mengejar tiba, kau bilang apa yang harus kulakukan?”
“Dari mana aku tahu apa yang harus kau lakukan? Kau seorang laki-laki dewasa, masakah sedikit pun tidak dapat mengambil sesuatu keputusan?” sahut Ting Tong.
Pada saat itulah perahu kecil tadi sudah berada kira-kira dua meter jauhnya, sambil menggertak kedua lelaki itu lantas melompat ke buritan perahu yang ditumpangi Ciok Boh-thian, kedua orang sama-sama menghunus pedang.
Boh-thian mengenali kedua orang itu adalah murid-murid Swat-san-pay yang pernah dilihatnya di dalam kelenteng tempo hari itu. Pikirnya, “Entah apa kesalahanku, mengapa orang-orang Swat-san-pay ini selalu mengincar diriku saja, ke mana aku pergi selalu diuber-uber?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar