Rabu, 21 Maret 2012

Medali Wasiat 3

Jilid 3

Seperti diketahui pengemis tjilik itu telah pingsan saking ketakutan karena diuber oleh “majat hidup” Go To-it dan sampai hari sudah terang baru dia siuman. Tapi rasa takutnja itu rupanja terlalu hebat, begitu membuka mata dan melihat djenazah Go To-it jang berlumuran darah itu menggeletak disampingnja, maka kembali ia djatuh kelenger lagi. Agak lama kemudian barulah dia sadar pula.

Waktu Tjiok Djing berdua datang, saat itu sidjembel tjilik itu baru sadar dan mestinja ingin melarikan diri. Tapi dilihatnja Tjiok Djing telah mengangkat dan membalik djenazah jang mengerikan itu, dalam ketakutan dia mendjadi tak berani bergerak. Tak terduga achirnja dia mendapat persen serentjeng uang perak dari wanita tjantik itu jang menjuruhnja membeli siopia.

“Beli siopia? Bukankah aku sudah punya?” demikian pikirnja. Segera ia angkat tangan kanan, benar djuga siopia jang baru digigitnja sekali itu masih tergenggam didalam tangan. Karena rasa takutnja mulai hilang, seketika ia merasakan perutnja kelaparan. Segera ia menggeragot siopia itu dengan lahapnja Tapi baru sekali menggigit, “krek” giginja terasa kesakitan karena menggigit benda sekeras besi. Waktu dia menarik siopia itu, terasa mulutnja sudah tertambah sepotong benda keras, tjepat ia menumpahkan benda itu ditangan kiri, kiranja adalah sepotong besi ketjil jang gepeng tipis dan berwarna hitam.

Ia pandang besi ketjil itu dengan heran, ia tidak mengarti mengapa didalam siopia bisa tertjampur benda demikian. Tapi benda besi itu tidak dibuang olehnja, sesudah memeriksa siopia itu tiada terdapat benda lain lagi, segera ia makan kembali siopia itu.

Hanja dalam sekedjap itu siopia itu sudah dilalap habis. Pandangannja segera beralih kepada belasan buah siopia jang telah petjah dan terserak disekitar majat Go To-it, pikirnja: “Siopia jang telah dirusak setan entah boleh dimakan atau tidak?”

Sedang ragu2, tiba2 terdengar diatas kepalanja ada suara orang berkata: “Kepung sekeliling sini!”

Keruan dia terkedjut: “Mengapa diatas kepalaku ada suara orang?” – Waktu dia mendongak, tertampaklah diatas wuwungan rumah telah berdiri tiga orang laki-laki berdjubah putih. Menjusul dari belakang terdengar pula suara mendesir, ada orang telah melompat tiba.

Waktu pengemis tjilik itu berpaling, terlihat empat orang berdjubah putih dengan pedang terhunus tahu2 sudah mengepung dari kanan-kirinja. Melihat sinar pedang jang gemilapan itu, si pengemis tjilik mendjadi menggigil ketakutan.

Pada saat itulah tiba2 terdengar pula suara derapan kuda, seorang penunggang kuda sedang mendatangi setjepat terbang dan terdengar seruannja: “Apakah kawan2 Swat-san-pay disitu? Maafkan orang she An tidak memberi sambutan atas kundjungan kalian ke Holam sini.” Hanja sekedjap sadja seekor kuda berbulu kuning sudah menerdjang tiba, penunggangnja seorang laki2 pendek gemuk berewok. Sesudah dekat, sama sekali dia tidak menahan kudanja tapi terus melompat turun begitu sadja. Sedangkan kuda kuning itu masih terus berlari kedepan dan berputar satu kali, lalu berhenti dikedjauhan sana. Njata seekor kuda jang sudah terlatih dengan baik.

Berbareng tiga orang berdjubah putih jang berada diatas rumah tadi melajang turun, semuanja siap-siaga memegang gagang pedang mereka. Seorang diantaranja jang kekar dan berusia 40-an tahun segera berkata: “Kiranja An-tjetju dari Kim-to-tje. Selamat bertemu!” – Sambil berkata sembari mengedipi kawan2nja jang berdiri dibelakang An Hong-djit.

Pendatang baru ini memang betul adalah An Hong-djit. Dia telah dikalahkan oleh Tjiok Djing, sudah tentu dia patah semangat. Tapi dia adalah seorang jang berdjiwa besar, kalah atau menang baginja adalah soal lumrah. Tapi lantas terpikir pula olehnja: “Untuk apalagi Tjiok-tjengtju suami-isteri pergi pula ke Hau-kam-tjip? Ah, tentu disebabkan tertipunja Tjiu-site, maka mereka suami-isteri hendak kembali kesana untuk mentjari benda itu. Aku adalah djago jang sudah keok ditangannja, kalau benda itu dapat diketemukan mereka itu, terpaksa aku membiarkannja. Tetapi kalau mereka tidak dapat mentjarinja, kenapa aku tidak mentjarinja pula untuk tjoba2 peruntungan? Benda itu tentu disembunjikan disuatu tempat jang dirahasiakan oleh Go To-it, kalau ditjari dan digeledah sepuluh kali tidak ketemu, kenapa aku tidak boleh mentjarinja untuk kesebelas kalinja?”

Begitulah, sesudah ambil keputusan itu, segera ia mentjemplak kuda dan menjusul ke Hau-kam-tjip. Karena kudanja kalah tjepat daripada kuda2nja Tjiok Djing berdua, pula tidak berani mengintil terlalu dekat, maka sesudah tjukup lama Tjiok Djing memeriksa dan menggeledah djenazah Go To-it serta kedainja, lalu tinggal pergi, kemudian barulah An Hong-djit sampai di kota itu.

Dengan matanja jang tadjam dari djauh An Hong-djit lantas melihat bajangan orang jang muntjul di atas rumah. Dari dandanan dan sendjata jang mereka bawa, Hong-djit menduga pasti anak murid dari Swat-san-pay jang terletak diperbatasan Sutjwan dan Setjong (Tibet).

Sesudah dekat, tertampak pula beberapa orang berdjubah putih itu sedang mentjurahkan perhatiannja seperti sedang menghadapi musuh tangguh. Semula Hong-djit mengira orang-orang itu hendak mengadakan sergapan terhadap Tjiok Djing suami-isteri, karena mengingat kebaikan Tjiok Djing, maka Hong-djit lantas berseru dari djauh dengan maksud menggagalkan sergapan orang2 Swat-san-pay. Tak terduga sampai ditempatnja, bajangan Tjiok Djing berdua tidak kelihatan, sebaliknja jang dikepung oleh tudjuh orang Swat-san-pay itu adalah seorang pengemis ketjil.

Sudah tentu An Hong-djit sangat heran, ia tjoba memperhatikan keadaan pengemis ketjil jang kotor dan kurus itu, tampaknja toh bukan seorang jang mahir ilmu silat. Tapi sekilas terlihat olehnja seorang Swat-san-pay itu sedang mengedipi kawannja, hal ini lantas menimbulkan tjuriga An Hong-djit. Maka kembali ia mengamat-amati keadaan sidjembel tjilik itu.

Sekali pandang seketika hatinja tergetar hebat. Ternjata tangan kiri sipengemis ketjil tertampak memegang sepotong benda ketjil warna hitam, bentuknja mirip benar dengan ‘Hian-tiat-leng’ (medali besi) jang selalu mendjadi bahan bitjara didunia persilatan itu.

Waktu dilihatnja sendjata keempat lelaki djubah putih dibelakangnja bergerak gemerlapan seperti akan mengerubut madju untuk merebut, tanpa pikir lagi An Hong-djit lantas mengeluarkan goloknja dan tubuhnja bergerak tjepat mengitari sipengemis ketjil satu keliling, goloknja membatjok kekanan dan kekiri, kedepan dan kebelakang, hanja dalam sekedjap sadja ia sudah menjerang kedelapan pendjuru dan setiap djurusan tiga kali batjokan, djadi seluruhnja 24 kali batjokan, sinar golok itu hanja belasan senti sadja diluar tempat duduk sipengemis ketjil sehingga djembel tjilik itu se-olah2 terbungkus rapat didalam sinar golok jang berwarna emas itu.

Karena merasa silau dan tersambar oleh angin tadjamnja golok, sipengemis ketjil mendjadi ketakutan dan mendadak menangis.

Hampir pada saat sipengemis ketjil itu mulai menangis, serentak ketudjuh orang berdjubah putih itupun memainkan pedang mereka sehingga berwudjut sebuah djaring2an sinar putih jang mengitari An Hong-djit dan sidjembel tjilik. Namun demikian mereka tidak lantas menjerang.

Pada saat lain tiba2 terdengar suara derapan kuda pula, seekor kuda putih dan seekor kuda hitam tampak mendatangi dengan tjepat. Kiranja adalah Tjiok Djing dan Bin Dju jang telah kembali lagi.

Kiranja tidak djauh sesudah Tjiok Djing berdua berangkat, mereka lantas melihat gerak-gerik anak murid Swat-san-pay jang mentjurigakan. Tiba2 timbul pikiran lain pada benak mereka maka tjepat mereka memutar balik. Dari djauh Tjiok Djing lantas berseru: “Kawan2 Swat-san-pay dan An-tjetju, kita semuanja sahabat, kalau ada urusan apa-apa boleh bitjara setjara baik2 sadja supaja tidak selisih paham.”

Seorang lelaki tinggi besar di pihak Swat-san-pay adalah pemimpinnja, sekali pedangnja menegak, serentak kawan2nja berhenti memainkan sendjata mereka. Tapi mereka masih berdiri disekeliling An Hong-djit.

Mendadak Tjiok Djing dan Bin Dju bersuara heran bersama ketika melihat tangan kiri sipengemis tjilik memegang sepotong pelat besi ketjil, tjuma mereka tidak tahu apakah benda ini adalah benda mestika jang sedang ditjari itu.

Segera Tjiok Djing tanja sidjembel tjilik. “Adik ketjil, benda apakah jang kau pegang itu, maukah perlihatkan padaku?”

Diam2 iapun sudah ambil keputusan bahwasanja An Hong-djit tentu takkan merintangi dia, maka begitu sidjembel tjilik menjodorkan tangannja, seketika ia akan menerobos ketengah kepungan orang2 Swat-san-pay untuk merebut benda itu, ia menaksir anak murid Swat-san-pay itu tidak mampu merintangi dirinja.

Tapi silelaki tegap berdjubah putih tadi sudah membuka suara: “Tjiok-tjengtju, kami inilah jang melihatnja lebih dahulu.”

“Kheng-suheng,” Bin Dju ikut bitjara, “boleh djuga kau tanja adik tjilik itu, serentjeng uang perak disampingnja itu apakah bukan pemberianku?”

Maksud utjapan ini sangat djelas jaitu ingin menundjukkan bahwa sedari tadi dia sudah memberi uang, dengan sendirinja sudah lebih dulu ia melihat pengemis itu.

Lelaki tegap berdjubah putih itu she Keng bernama Ban-tjiong, terhitung tokoh utama dari murid angkatan kedua Swat-san-pay. Maka dia telah mendjawab: “Tjiok-hudjin, boleh djadi suami-istri kalian telah melihat adik tjilik ini lebih dulu namun ‘Hian-tiat-leng’ ini adalah kami jang melihatnja lebih dulu.”

Begitu nama “Hian-tiat-leng” disebut, seketika hati Tjiok Djing, Bin Dju dan Ang Hong-djit terkesiap dan sama memikir: “Kiranja benar Hian-tiat-leng adanja!” – Begitu pula keenam orang Swat-san-pay jang lain djuga mengundjuk rasa agak heran.

Padahal mereka bertudjuh tiada pernah memperhatikan benda besi jang dipegang sipengemis ketjil itu, hanja karena melihat Tjiok Djing suami isteri dan An Hong-djit sedemikian sungguh2 membela sidjembel tjilik itu, maka mereka jakin besi ketjil itu pasti medali wasiat jang sedang ditjari itu.

Sebaliknja Tjiok Djing bertiga djuga mempunjai pikiran serupa: “Kheng Ban-tjiong dari Swat-san-pay ini sangat luas pengetahuannja dan tjerdik pula, kalau dia sampai mengintjar kepada besi ketjil itu, tentu tidak salah lagi benda itu pasti medali wasiat.”

Karena pikiran jang sama itu, tanpa merasa kesepuluh orang itu serentak mendjulurkan tangan kearah sipengemis ketjil dan berkata: “Adik tjilik, berikan padaku sadja benda itu!”

Tapi tiada seorangpun diantara kesepuluh orang itu berani main merebut, sebab mereka tahu sekali mendahului main serobot, tentu jang lain2 akan serentak menjerangnja. Dari itu mereka hanja berharap sipengemis ketjil mau menjerahkan kepada mereka dengan sukarela.

Sudah tentu sidjembel tjilik tidak tahu bahwa jang diminta oleh kesepuluh orang itu adalah besi ketjil jang hampir2 membikin rompang giginja tadi. Sebaliknja ia mendjadi bingung dan takut serta menangis pula.

“Lebih baik berikan padaku sadja!” tiba2 terdengar suara parau seseorang, berbareng sesosok bajangan telah menjusup ketengah kalangan, sekali sambar seketika besi ketjil jang dipegang sipengemis ketjil itu sudah direbut olehnja.

Serentak terdengar pula suara bentakan orang banjak: “Hai, mau apa? – Lepaskan! – Bangsat kurang adjar! – Persetan!” dan sebatang golok emas berbareng lantas menjambar kearah bajangan orang itu.

An Hong-djit berada paling dekat dengan sidjembel tjilik tadi, maka sekali goloknja bergerak, dengan djurus “Pek-hong-koan-djit” (pelangi putih menembus tjahaja matahari), kontan ia membatjok kepala penjerobot itu Sedangkan anak murid Swat-san-pay jang sudah terlatih baik itu, sekaligus tudjuh pedang mereka lantas menusuk tempat2 jang berbahaja dan berlainan ditubuh lawan sehingga lawan susah untuk mengelakkan diri.

Sebaliknja Tjiok Djing dan Bin Dju sekilas itu belum djelas siapakah penjerobot jang sebat itu, maka mereka tidak mau menggunakan tipu serangan kedji, sinar pedang mereka hanja berputar dan mengurung lawan dibawah antjaman sepasang pedang hitam-putih mereka.

Akan tetapi mendadak terdengar suara “trang-tring” jang ber-ulang2, kedua tangan penjerobot itu bergerak naik-turun dengan tjepat, entah dengan tjara apa, hanja dalam sekedjap sadja tahu2 golok emas An Hong-djit dan tudjuh pedang anak murid Swat-san-pay itu sudah terampas semua olehnja.

Tjiok Djing dan Bin Dju djuga lantas merasa lengan mereka linu pegal dan pedang mereka hampir2 terlepas dari tjekalan, untung mereka sempat melompat mundur dengan tjepat. Air muka Tjiok Djing mendjadi putjat, sebaliknja muka Bin Dju merah djengah.

Padahal gabungan pedang hitam-putih Tjiok-tjengtju suami-isteri dari Hian-so-tjeng boleh dikata hampir tiada tandingannja didunia ini, tapi tadi pedang mereka hanja kena selentikan djari orang itu dan hampir2 terlepas dari tjekalan, hal ini benar2 belum pernah terdjadi sedjak mereka mendjagoi dunia persilatan selama hidup ini. Keruan Tjiok Djing dan Bin Dju sangat terkedjut.

Waktu mereka memperhatikan penjerobot itu, tertampaklah golok emas dan tudjuh batang pedang rampasan itu telah menantjap diatas tanah disekeliling orang itu. Orang itu berdjubah hidjau dan berdjenggot pendek, usianja kira2 setengah abad, air mukanja bersemu kehidjau2an dan memperlihatkan perasaan jang tak terkatakan girangnja. Tiba2 Tjiok Djing teringat kepada seorang, tanpa merasa ia bertanja: “Apakah tuan ini adalah pemilik daripada Hian-tiat-leng ini?”

“Hehehe!” orang itu tertawa. “Pedang hitam-putih Hian-so-tjeng sangat tersohor didunia Kang-ouw dan njatanja memang bukan omong-kosong. Lohu (aku jang tua) tadi telah menggunakan satu bagian tenagaku untuk melajani kedelapan sobat ini dan memakai sembilan bagian tenaga untuk menghadapi suami-isteri kalian, tapi toh masih tidak dapat merampas pedang kalian. Ai, kepandaianku ‘Tan-tji-sin-thong’ (ilmu sakti menjelentik dengan djari) ini tampaknja perlu dilatih sepuluh tahun lagi.”

Mendengar itu Tjiok Djing mendjadi lebih jakin lagi dengan siapa dia sedang bitjara. Segera ia memberi hormat dan berkata pula: “Kami suami isteri kebetulan lewat disini dan sebenarnja ingin naik ke Mo-thian-kay (tebing pentjakar langit) untuk menjampaikan salam kepada tuan, syukurlah disini sudah dapat bertemu, maka tidaklah sia2 perdjalanan kami ini. Tentang kepandaian kami jang kasar ini sudah tentu tiada harganja dalam pandangan tuan, harap tidak mendjadi buah tertawaanmu. Adapun hari ini tuan sendiri sudah menarik kembali medali wasiat itu dari peredaran, sungguh harus dibuat girang dan diberi selamat.”

Karena utjapan Tjiok Djing itu, diam2 ketudjuh orang Swat-san-pay membatin: “Apakah mungkin orang berdjubah hijdau ini benar2 adalah pemilik medali wasiat jang bernama Tjia Yan-khek itu? Kalau melihat rupanja toh tiada sesuatu jang luar biasa dan susah untuk dipertjaja bahwa dia adalah tokoh jang namanja membikin rontok njali setiap orang Bu-lim itu. Tapi bila melihat tjaranja sekali gebrak sadja sudah mampu merampas pedang2 kami, mau-tak-mau orang harus mengakui betapa lihaynja dan selain Tjia Yan-khek rasanja tiada tokoh lain lagi.”

Orang itu memang benar adalah Tjia Yan-khek jang bersemajam diatas Mo-thian-kay. Kembali ia bergelak tertawa, katanja kemudian: “Tadi Tjayhe telah berlaku kasar, diharap Tjia-tjianpwee suka memaafkan dan terimalah salamku ini.”

Berkata sampai disini, medali wasiat jang berada ditangan kirinja itu dilemparkannja ditelapak tangannja sendiri, lalu dengan tersenjum ia berkata pula: “Tjuma sadja hari ini hatiku kebetulan sedang senang, maka batjokan ini boleh kutitip dahulu. Dan kau djuga telah menusuk dadaku, kau menusuk pahaku, kau menusuk pinggangku, kau menabas betisku..........” Sembari bitjara, ia sambil menuding2 ketudjuh orang Swat-san-pay itu.

Keruan ketudjuh orang Swat-san-pay itu tambah kaget demi mendengar orang dapat menguraikan dengan djitu tipu serangan dan tempat jang diarah jang dilakukan serentak dalam sekedjap tadi, bahkan siapa menjerang dan tempat jang diarah, semuanja dapat dikatakan dengan djelas, melulu ketadjaman mata dan daja ingatan ini sadja orang lain pasti tidak dapat memadai.

Dalam pada itu terdengar Tjia Yan-khek sedang melandjutkan: “Semua utang kalian ini biarlah sementara ini kutjatat sadja didalam buku, kapan2 kalau aku merasa sebal barulah aku akan mendatangi kalian untuk menagih utang.”

Salah seorang Swat-san-pay jang agak pendek rupanja merasa penasaran, tiba2 ia berteriak: “Kepandaian kami memang lebih rendah, kalau sudah kalah biarlah kalah, kenapa kau mesti mengutjapkan kata2 jang menghina? Kau bilang mentjatat utang apa? Kalau mau boleh lantas balas menusuk aku sadja, siapa jang sudi main utang2an dengan kau?”

Orang ini bernama Ong Ban-djim, wataknja berangasan dan enggan mengalah, biarpun tahu musuh terlalu lihay djuga tidak sudi nama baik Swat-san-pay mereka dihina.

Tak terduga Tjia Yan-khek lantas mengangguk dan berkata: “Baik!” – Mendadak ia tjabut pedang rampasan dari Ong Ban-djim tadi terus menusuk kedepan.

Tjepat Ong Ban-djim melompat mundur kebelakang untuk menghindarkan tusukan itu. Tak tersangka serangan Tjia Yan-khek itu terlalu tjepat datangnja, baru tubuh Ong Ban-djim terapung, tahu2 udjung pedang sudah menjentuh dadanja. Sekali tangan Tjia Yan-khek menjendal, segera ia tarik kembali pedangnja.

Waktu Ong Ban-djim berdiri kembali diatas tanah, mendadak ia merasa dadanja silir2 dingin. Waktu ia menunduk, tanpa merasa ia berseru kaget. Ternjata badju dadanja telah berlubang sebuah lingkaran bundar sebesar tjangkir sehingga kelihatan kulit dagingnja.

Rupanja, tahu2 Tjia Yan-khek sudah mengorek sebuah lingkaran ketjil sehingga tiga lapis badjunja seperti digunting sebuah lubang bundar. Tjoba kalau tusukan itu diteruskan kedepan, tentu ulu hatinja sudah dikorek keluar oleh pedang Tjia Yan-khek tadi. Keruan Ong Ban-djim ternganga dengan muka putjat.

Sebaliknja tidak kepalang kagumnja An Hong-djit, tanpa merasa ia bersorak: “Ilmu pedang bagus!”

Bitjara tentang djurus ilmu pedang jang dimainkan Tjia Yan-khek barusan sebenarnja Tjiok Djing suami-isteri djuga sanggup melakukannja, tjuma dalam hal ketjepatan, bahkan lawan sudah mengetahui tempat jang akan diserang, namun demikian toh tetap takdapat mengelakkan diri, untuk inilah Tjok Djing dan Bin Dju tahu diri mereka tidak mampu menandinginja.

Begitulah maka suami-isteri itu telah saling pandang sekedjap dengan rasa tjemas dan sajang, pikir mereka: “Betapa aneh ilmu silat tokoh ini ternjata memang susah diukur. Dasar nasib kami jang djelek, tjoba kalau Hian-tiat-leng itu dapat direbut oleh kami, tentu sakit hati kami akan terbalas dengan mudah!” Dalam pada itu Tjia Yan-khek hanja mendengus sadja atas sorakan An Hong-djit tadi, lalu ia hendak melangkah pergi.

“Nanti dulu, Tjia-siansing!” tiba2 seorang wanita muda diantara anak murid Swat-san-pay telah berseru.

“Ada apa?” tanja Tjia Yan-khek sambil menoleh.

Wanita muda itu bernama Hoa Ban-tji. Setiap anak murid Swat-san-pay memakai huruf “Ban” dalam nama mereka. Dia lantas berkata: “Barusan Tjia-siansing telah bermurah hati dan tidak melukai Suko kami, sungguh kami merasa berterima kasih. Akan tetapi aku ingin tanya dulu, potongan besi jang kau ambil itu sebenarnja adalah Hian-tiat-leng atau bukan?”

“Kalau betul mau apa, kalau bukan lantas bagaimana?” sahut Yan-khek dengan sikap angkuh.

“Kalau bukan medali besi wasiat, maka kami be-ramai2 akan mentjarinja lagi,” kata Hoa Ban-tji. “Dan kalau benda itu adalah medali wasiat, maka engkaulah jang telah berbuat salah.”

“Djangan banjak bitjara, Hoa-sumoay!” bentak Kheng Ban-tjiong.

Dilain pihak air muka Tjia Yan-khek sekilas telah bersemu hidjau, lalu tenang kembali.

Semua orang mengetahui bahwa sifat Tjia Yan-khek itu sangat kedjam dan suka membunuh, kelakuannja aneh, setempo baik, tapi lain saat sudah djahat pula. Tindak-tanduknja hanja tergantung kepada kesukaannja pada seketika itu sadja, selama ini entah sudah berapa banjak orang2 Kang-ouw jang telah mendjadi korban keganasannja, entah dia dari golongan Hek-to (kalangan pendjahat) atau dari golongan Pek-to (kaum kesatria).

Tapi lantaran ilmu silatnja memang benar2 sangat lihay, djedjaknja djuga tak menentu, meski tidak sedikit musuhnja telah mentjari dia dan ingin menuntut balas, namun selalu mereka diketemukan sudah mati ditengah djalan setjara aneh. Selama tahun2 terachir ini, musuh2nja boleh dikata sudah hampir terbunuh olehnja, sisanja merasa tidak sanggup melawannja dan terpaksa membatalkan maksud mereka untuk menuntut balas.

Hari ini dia telah dikerubut sepuluh orang dan seorangpun ternjata tak diganggu olehnja, hal itu boleh dikata sesuatu jang tak pernah terdjadi sebelumnja. Tak terduga Hoa Ban-tji dari Swat-san-pay itu masih usilan dan berani mengadjukan pertanjaan segala, hal ini bukan sadja membuat kawan2nja merasa kuatir, bahkan Tjiok Djing dan lain2 djuga ikut tjemas.

Tapi Tjia Yan-khek lantas angkat medali besi itu keatas sambil membatja dengan suara lantang: “Hian-tiat-tji-leng, yu-kin-pit-eng (dengan pembuktian medali ini, setiap permintaan tentu terpenuhi)!” – Lalu ia membalik medali itu dan membatja pula huruf disebelahnja: “Tertanda Tjia Yan-khek di Mo-thian-kay.”

Dan sesudah berhenti sedjenak, kemudian katanja pula: “Medali ini adalah buatan dari besi murni jang djarang terdapat didunia ini dan tidak mempan segala matjam sendjata tadjam.” – Segera ia mentjabut sebatang pedang jang menantjap di atas tanah terus membatjok medali besi jang dipegangnja itu. “Tjring”, mendadak pedang patah mendjadi dua, sebaliknja medali itu tidak rusak barang sedikitpun.

Mendadak Tjia Yan-khek menarik muka dan bertanja dengan suara bengis: “Nah, mengapa kau bilang aku berbuat salah?”

Dengan tenang Hoa Ban-tji mendjawab: “Menurut tjerita kawan kalangan Kang-ouw, katanja Tjia-siansing mempunjai tiga bentuk medali wasiat serupa itu dan masing2 telah dihadiahkan kepada tiga orang sahabat jang pernah menolong Tjia-siansing, dengan pesan asal membawa medali itu dan diperlihatkan kepada Tjia-siansing, maka pembawa medali itu boleh meminta kau melakukan suatu urusan, biarpun urusan jang betapa sulitnja pasti djuga akan dilakukan oleh Tjian-siansing. Tentang ini tentunja tidak salah, bukan?”

“Ja, betul,” sahut Tjia Yan-khek. “Hal ini diketahui oleh setiap orang Bu-lim.” – Dari sikapnja terlihat rasa bangganja jang tak terhingga.

Maka Hoa Ban-tji berkata pula: “Konon dua diantara ketiga medali itu sudah diterima kembali oleh Tjia-siansing, dan oleh karena itu didunia persilatan pernah djuga terdjadi peristiwa jang mengguntjangkan. Dan medali sekarang ini apakah benar adalah medali jang terachir itu, bukan?”

Air muka Tjia Yan-khek tampak tenang kembali demi mendengar kata2 tentang “dua peristiwa jang pernah mengguntjangkan dunia persilatan” itu, sahutnja: “Ja, memang betul. Adapun kawanku jang memegang medali ketiga ini sudah lama wafat. Dia sendiri memiliki ilmu silat mahatinggi dan tiada sesuatu urusan jang susah dilakukan olehnja, maka medali ini sesungguhnja tiada gunanja buat dia. Karena dia tidak mempunjai anak, sesudah wafat medali ini lantas djatuh ditangan orang lain. Selama beberapa tahun ini semua orang setjara mati2an telah berusaha mendapatkan medali ini dengan harapan akan dapat memerintahkan aku melakukan sesuatu urusan sulit baginja. Tapi, hehehe, tidak njana hari ini medali ini telah kuterima kembali dengan mudah. Boleh djuga kukatakan padamu bahwa diterimanja kembali medali ini olehku, mungkin djuga hal ini akan mengetjewakan sobat2 kalangan Kang-ouw, tetapi boleh djadi hal ini malah akan banjak mengurangi malapetaka bagi kalian sendiri.”

Berkata sampai disini, tiba2 ia depak majat Go To-it sehingga terpental beberapa meter djauhnja, lalu menjambung pula: “Seperti setan ini, biarpun dia sudah memegang medaliku ini, tapi tidaklah gampang untuk menemui aku. Sebelum dia perlihatkan medali ini kepadaku, ternjata dia sendiri sudah mendjadi sasaran orang banjak sehingga binasa lebih dulu. Memangnja orang Bu-lim mana jang tidak ingin membunuhnja untuk merebut medali ini? Tjoba, sampai2 Tjiok-tjengtju suami-isteri jang tersohor djuga tidak terhindar dari keinginan demikian, apalagi orang lain? Haha, hehe, hehehe!”

Utjapan terachir jang bernada menjindir itu telah membuat Tjiok Djing merah djengah. Dikalangan Bu-lim biasanja dia sangat disegani, walaupun lahirnja dia ramah-tamah, tapi sesungguhnja apa jang dia utjapkan tiada pernah dibantah oleh siapapun. Tak terduga sekarang ia harus menerima olok2 Tjia Yan-khek didepan orang banjak. Sebagai seorang tokoh jang tinggi hati sudah tentu ia merasa malu atas perlakuan demikian. Lebih2 Bin Dju, isterinja itu mendjadi putjat pasi saking gusarnja, ber-ulang2 ia telah melirik sang suami, asal suaminja memberi tanda, serentak mereka akan mengadu djiwa dengan Tjia Yan-khek, walaupun insaf bukan tandingan lawan, tapi mereka tidak sudi menelan mentah2 hinaan itu.

Namun lantas terdengar Tjia Yan-khek telah berkata lagi: “Tjiok-tjengtju suami-isteri adalah pahlawan dan kesatria sedjati, bila medaliku ini didapatkan kalian, paling2 kalian hanja suruh Lohu melakukan sesuatu pekerdjaan sulit dan habis perkara. Tetapi bila medali ini diperoleh kaum kerotjo jang tak bermoral dan Lohu diperintahkan membikin tjatjat badannja sendiri sehingga mati tidak dan hidup djuga kepalang, wah, bukankah bisa berabe? Bahkan akan lebih tjelaka lagi kalau aku diperintahkan membunuh diri, kalau aku belum bosan hidup dan membangkang perintah, bukankah itu berarti aku telah mengingkari sumpah setia ‘permintaan tentu terpenuhi’ jang tertera diatas medali ini? Haha, rupanja peruntunganku masih lumajan djuga, sehingga dengan mudah medali ini dapat kuterima kembali. Haha, hahaha!” Suara tertawanja keras menggetar sukma. Ada beberapa penduduk Hau-kam-tjip jang sedang mengintip sampai mengkeret ketakutan demi mendengar suara tertawa jang menjeramkan itu.

Usia Hoa Ban-tji meski masih muda, tapi agak pemberani, dengan suara lantang ia masih berkata pula: “Tjia-siansing djangan buru2 senang dahulu. Pernah kudengar tjerita bahwa Tjia-siansing sendiri pernah bersumpah barang siapa jang menjerahkan medali itu padamu, maka engkau akan memenuhi sesuatu permintaannja, biarpun orang itu adalah musuh bebujutanmu djuga kau akan menurut dan takkan mentjelakai dia....................”

Berkata sampai disini, sementara itu orang2 jang menonton disekelilingnja telah bertambah pula, mereka adalah Pang Tjin-bu, Pun-khong Todjin, Tjiu Bok dan orang2 Kim-to-tje.

Dalam pada itu Hoa Ban-tjie telah melandjutkan: “Sekarang medali kau terima kembali dari adik tjilik itu, untuk mana kau toh belum tahu persoalan sulit apa jang akan dia minta agar dikerdjakan olehmu.”

“Tjis!” semprot Tjia Yan-khek. “Pengemis tjilik itu barang apa, masakah aku harus menurut perintahnja? Haha, hahaha! Benar2 menggelikan!”

“Nah, dengarlah kawan2 jang hadir disini, kiranja Tjia-siansing menganggap pengemis ketjil itu bukan manusia, maka sumpahnja dahulu takdapat dianggap!” seru Hoa Ban-tji.

Kembali air muka Tjia Yan-khek sekilas bersemu hidjau pula, pikirnja: “Kurang adjar! Perempuan ini sengadja membikin aku mendjadi serba salah sehingga ada kemungkinan orang Kang-ouw akan mengatakan sumpahku sebagai kentut sadja.” – Tapi mendadak tergetar pula batinnja: “Wah, tjelaka! Djangan2 pengemis tjilik adalah sekomplotan dengan mereka jang sengadja dipasang untuk mendjiret diriku, tadi sekaligus aku telah merebut kembali medali wasiat, sekarang tidak dapat dikembalikan lagi padanja.”

Ia lihat, pandangan semua orang terarahkan padanja, segera ia mendengus dan berkata dengan angkuh: “Hm, apakah didunia ini ada sesuatu urusan sulit jang takdapat dikerdjakan oleh orang she Tjia dari Mo-thian-kay? Pengemis tjilik, hajolah kau ikut padaku, ada urusan apa jang kau akan minta kukerdjakan djuga tiada sangkut-pautnja dengan orang luar.” – lalu ia gandeng tangan sidjembel tjilik dan hendak diadjak pergi.

Hendaklah maklum bahwa watak Tjia Yan-khek itu sangat tjerdik dan dapat berpikir djauh. Meski dia tidak pandang sebelah mata kepada djago2 silat jang mengelilinginja itu, tapi ia kuatir dibelakang pengemis ketjil itu ada orang pandai dan sengadja mengemukakan sesuatu persoalan sulit didepan orang banjak dan minta dia lakukan, umpama benar2 minta dia membikin tjatjat anggota badan sendiri dan sebagainja, hal ini tentu akan membuatnja serba susah, sebab itulah tjepat2 ia hendak membawa pergi sidjembel untuk ditanjai lebih djauh ditempat lain jang sepi.

Hoa Ban-tji lantas mendekati sipengemis ketjil, katanja dengan suara halus: “Adik tjilik, sungguh kau ini anak jang baik, Lopepek (paman tua) ini paling suka membunuh orang, maka lekas kau memohon dia selandjutnja djangan membu............” – Baru berkata sampai disini, se-konjong2 serangkum angin kuat menjampuk kemukanja sehingga kata2nja terputus ditengah djalan.

Kiranja Hoa Ban-tji sangat tjerdik, ia tahu apa jang telah dikatakan Tjia Yan-khek tentu akan dilaksanakannja. Tadi dirinja telah menusuk muka orang she Tjia itu dan dia menjatakan utang itu akan ditangguhkan dahulu dan akan ditagih setiap waktu dikemudian hari. Ini berarti pada setiap saat mukanja akan ditusuk pedang oleh Tjia Yan-khek, apalagi diantara para Suhengnja itu, ketjuali Ong Ban-djim jang utangnja telah dibajar kontan tadi, selebihnja masih belum membajar semua, maka utang2 itu kelak pasti akan mengakibatkan pertumpahan darah bila Tjia Yan-khek datang menagih. Sebab itulah sekarang ia sengadja menjerempet bahaja tanpa menghiraukan akan menimbulkan kemurkaan Tjia Yan-khek, ia suruh sipengemis ketjil itu lekas memohon Tjia Yan-khek agar untuk selandjutnja djangan membunuh orang lagi. Asal permintaan demikian itu diadjukan sipengemis ketjil, maka terpaksa Yan-khek harus menurut dan itu berarti djiwanja sendiri dan keselamatan para Suhengnja akan terdjamin.

Tak terduga Tjia Yan-khek sudah mengetahui maksudnja itu dan lantas mengebutkan lengah djubahnja, angin kebutan jang keras itu memaksa Hoa Ban-tji tidak sanggup menghabiskan utjapannja tadi.

Bahkan terdengar Tjia Yan-khek membentak pula: “Perlu apa kau banjak tjerewet?” – Dan kembali serangkum angin kuat menjambar tiba. Hoa Ban-tji tidak sanggup berdiri tegak lagi, kontan ia roboh terdjengkang.

Keruan anak murid Swat-san-pay jang lain mendjerit kaget dan be-ramai2 menubruk madju untuk menolong. Ketika mereka sudah membangunkan Hoa Ban-tji, sementara itu Tjia Yan-khek sudah pergi djauh dengan membawa sipengemis ketjil.

Melihat gembong jang menakutkan itu sudah pergi, untuk mengedjar terang tidak berani. Maka An Hong-djit lantas mentjabut kembali goloknja sendiri jang tertantjap diatas tanah itu, katanja kepada Tjiok Djing suami-isteri dan ketudjuh orang Swat-san-pay: “Maafkan akan keberangkatanku lebih dulu, kalau ada tempo senggang silakan kalian suka mampir ketempat kami. Sampai bertemu pula!” – Lalu iapun tinggal pergi dengan anak buahnja Sekarang hanja tinggal Tjiok Djing suami-isteri dan ketudjuh orang Swat-san-pay sadja jang berada disitu. Tiba2 Ong Ban-djim berseru: “Tjiok-tjengtju, kami djusteru ingin membitjarakan sesuatu dengan Tjiok-tjengtju.”

“Baiklah, ada urusan apakah? Silakan bitjara,” sahut Tjiok Djing dengan ramah.

Kheng Ban-tjiong berusia lebih tua, maka setiap tindak-tanduknja selalu lebih hati2. Ia berkata: “Tempat ini tidak pantas didiami lebih lama, marilah kita mentjari suatu tempat lain jang lebih tenang untuk bitjara.”

Tjiok Djing mengangguk setudju. Segera mereka be-ramai2 menudju kearah barat. Kira2 beberapa li djauhnja, tertampak ditepi djalan tumbuh tiga batang pohon jang rindang.

“Tjiok-tjengtju, apakah baik kalau kita berbitjara dibawah pohon sana?” tanja Kheng Ban-tjiong.

“Baik sekali,” sahut Tjiok Djing.

Segera kesembilan orang menudju kebawah pohon itu dan mengambil tempat duduk sendiri2. Sementara itu Kheng Ban-tjiong sudah memperkenalkan para sutenja dan saling mengutjapkan kata2 pudjian dengan Tjiok Djing suami-isteri.

Diam2 Tjiok Djing sangat gopoh karena tidak tahu apa jang hendak dibitjarakan oleh orang2 Swat-san-pay itu. Tapi ia tidak enak untuk mendesak.

Sedjenak kemudian, barulah Khong Bin-tjiong membuka suara: “Tjiok-tjengtju, kita adalah sahabat lama, kalau ada sesuatu utjapanku nanti agak tidak enak didengar, haraplah engkau suka memaafkan. Menurut pendapatku, ada lebih baik kalau Tjiok-tjengtju menjerahkan puteramu kepada kami sadja. Tjayhe tentu akan berusaha sedapat mungkin untuk memintakan ampun kepada Suhu dan Subo (ibu guru) serta Pek-suheng suami-isteri, dengan demikian djiwa puteramu mungkin akan dapat diselamatkan. Andaikan kepandaiannja djuga dipunahkan djuga lebih baik daripada kedua fihak mendjadi bermusuhan dan menumpahkan darah.”

Tjiok Djing mendjadi heran, sahutnja: “Sedjak Siau-dji (puteraku) berada ditempat kalian, selama tiga tahun belum pernah aku melihatnja. Maka kalau ada terdjadi sesuatu apa, sesungguhnja kami suami-isteri tidak mengetahui. Dari itu diharap Kheng-heng suka memberitahukan setjara terus terang sadja!”

“Apa Tjiok-tjengtju betul2 tidak tahu?” Ban-tjiong menegas.

“Ja, tidak tahu!” sahut Tjiok Djing.

Ban-tjiong tjukup kenal wataknja Tjiok Djing. Dengan nama kebesaran Hian-so-tjeng jang diagungkan didunia Kang-ouw tidaklah mungkin Tjiok Djing sulit berbohong. Kalau dia sudah menjatakan tidak tahu, maka pastilah tidak tahu. Maka Ban-tjiong lantas berkata pula: “Oh, karena Tjiok-tjengtju sama sekali tidak mengetahui....................”

“Djadi Giok-dji (anak Giok) sekarang tidak berada di Leng-siau-sia?” sela Bin Dju jang sangat memperhatikan keselamatan puteranja itu.

Ban-tjiong mengangguk, Sedangkan Ban-djim lantas berkata: “Kalau botjah itu saat ini berada di Leng-siau-sia, biarpun dia punja seratus lembar djiwa djuga sudah amblas semua!”

Diam2 Tjiok Djing mendongkol. Pikirknja: “Sebabnja aku mengirim anak Giok beladjar silat keperguruan kalian adalah lantaran aku menghargai ilmu silat Swat-san-pay kalian. Seumpama karena usianja masih muda dan sifatnja nakal sehingga telah melanggar sesuatu larangan perguruan, untuk mana paling tidak kalian djuga mengingat kehormatan suami-isteri kami dan tidak boleh sembarangan membunuhnja.”

Walaupun demikian pikirnja, tapi lahirnja dia tetap tenang2 sadja. Sahutnja dengan tawar: “Peraturan2 perguruan kalian jang keras itu memang tjukup kuketahui. Djustru kamipun ingin Giok-dji dapat beladjar sedikit peraturan2 jang baik itu, makanja kami kirim anak itu ke Leng-siau-sia kalian.”

Mendadak wadjah Khong Ban-tjiong agak masam dan berkata: “Utjapan Tjiok-tjengtju ini terlalu memudji. Akan tetapi achlak si Tjiok Tiong-giok jang bedjat dan perbuatannja jang durhaka dan djahat itu sekali2 bukanlah adjaran Swat-san-pay!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar