“AYO, silakan Bu kongkong juga menemani minum secawan!”
Mengetahui rahasianya telah bocor, berobahlah wajah kedua thaikam itu. Kembali Keh Lok menuang secawan dan disodorkan kepada Ti Hian: “Harap Ti-kongkong suka menerima pembalasan hormatku!”
Kini tak tahan lagi rupanya Ti Hian, dia tendang Cawan yang diangsurkan itu sambil membentak: “Tangkap mereka semua!” Seketika dari empat penjuru ruangan itu menyerbu keluar ratusan siwi istana dan Anggota gi-lim-kun.
“Jiwi kongkong kiranya tak gemar minum. Itu tak apa, mengapa marah-marah?” tanya Keh Lok dengan tertawa.
“Dengarkan titah raja ini,” Bu Bing Hu berteriak: “HONG HWA HWE berniat memberontak dan mengaCau. Harus segera ditangkap dan dibunuh tanpa diadili lagi.”
Atas isyarat Keh Lok, kedua saudara Siang segera lonCat kebelakang kedua thaikam itu terus membekuk tengkuk lehernya. Kedua thaikam itu Coba melawan, tapi sudah terlambat, karena seluruh tubuh mereka terasa lemas kesemutan.
Keh Lok menuang lagi secawan arak. “Arak kehormatan ditolak, rupanya ingin arak hukuman.”
Segera Lou Ping dan Ciang Cin masing-masing mengambil arak beracun itu, lalu diCekokkan kemulut Ti Hian dan Bu Bing Hu.
Melihat kedua thaikam itu diringkus, rombongan siwi dan gi-lim-kun tadi tak berani mendekati, kuatir kalau kedua thaikam itu dibunuh. Sedang orang-orang HONG HWA HWE itu sudah bersiap dengan senjatanya. Tapi ketika hendak menobros keluar, tiba-tiba dibelakang ruangan besar timbid kebakaran, berbareng terdengar suara obat peledak.
Keh Lok heran dan menduga yangan-yangan ada saudara-saudaranya kaum HONG HWA HWE yang terkepung disana, maka segera dia memerintahkan agar menyerbu saja keruangan belakang.
Karena senjata yang dibekalnya keliwat pendek, Bu Tim tak dapat leluasa bergerak. Segera dia rampas sebilah pedang, dari seorang si-wi. Dalam beberapa kejap saja, dia sudah dapat membunuh tiga orang musuh, terus memepelopori menyerbu kebelakang, diikuti oleh Kawan-kawan nya.
Li Khik Siu tarik tangan puterinya, serunya: “Kau tinggal bersama aku!”
Dia bersama Pek Cin lalu memberi komando, menyuruh anak buah si-wi menghadang.
Melihat itu, Hi Tong mengelah napas, pikirnya: “Dengan ayahnya aku diibaratkan seperti minyak dengan air. Jadi nyata ia bukan jodoku!”
Dengan hati berat, anak muda itu segera memutar kim-tioknya untuk ikut pada rombongannya. Melihat itu, Wan Ci kibaskan tangan ayahnya yang memeganginya, begitu terlepas, ia terus lari menyusul Hi Tong sambil berseru: “Ayah, harap kau menjaga diri baik-baik , puterimu akan pergi!”
Saking kesimanya, Li Khik Siu berdiri seperti patung, kemudian setelah sadar, dia berseru memanggil: “Wan-Ci, Wan-Ci, kembalilah!”
Namun Wan Ci sudah menghilang keluar. Menduga sang bakal isteri telah mengikut ayahnya, bukan main sedihnya Hi Tong. Ketika Wan Ci menyusul datang, dilihatnya anak muda itu tengah bertempur dengan lima-enam si-wi. Keadaannya berbahaya, karena anak muda itu sudah terluka beberapa kali.
“Suko, ikut aku kemari!” teriak sigadis. Mendengar sang kekasih datang, semangat Hi Tong timbul seketika. Dengan hebat, kim-tiok dibabatkan. Sedang Wan Cipun maju membantunya, hingga kawanan si-wi itu mundur. Kemudian dengan bergandengan tangan, kedua pasangan itu maju menyusul Lou Ping.
Pada saat itu, api semakin besar. Suara pekik orang, seperti memeCah telinga. Rombongan Tan Keh Lok sudah sampai diluar paseban Sui Seng Tian. Disitu mereka menjadi kaget tak terkira ketika menampak berpuluh paderi Lama sedang bertempur mati-matian dengan sekawanan serdadu Ceng. Nyata rombongan Lama itu sudah hampir tak dapat bertahan lagi.
Tak terduga-duga, Pek Cin berbalik memimpin anak buahnya membantu rombongan Lama, hingga kawanan serdadu itu kena didesak masuk kembali kedalam ruangan yang tengah dimakan api.
Sudah tentu Keh Lok tak mengetahui akan pertentangan antara Kian Liong dengan thayhouw. Kejadian itu sungguh membuat ia tak habis heran. Namun dia tak mau menyianyiakan kesempatan yang bagus itu, terus ajak Kawan-kawan nya lonCat keluar dari tembok istana.
Pek Cin dan Li Khik Siu sudah mendapat perintah rahasia dari Kian Liong supaya rombongan HONG HWA HWE dan pasukan Ceng yang menjaga paseban Sui Seng Tian itu dimusnahkan dengan api. Tapi ternyata renCana telah berjalan bukan seperti yang diharapkan.
Karena Li Khik Siu, ingat akan keselamatan puterinya. Sedang Pek Cin ingin membalas budi Tan Keh Lok. Maka sengaja mereka memberi kesempatan supaya orang-orang HONG HWA HWE itu bisa melarikan diri. Sedang yang dibasmi, hanyalah pasukan Ceng, anak buah pasukan ki-ping, yang ditugaskan thayhouw untuk menjaga paseban tersebut.
Tak berapa lama kemudian, seluruh anak buah pasukan kiping itu terbakar musna. Sedang paseban itupun roboh. Dengan begitu, surat testamen Yong Ceng yang disimpan dalam paseban itu, turut terbakar musna.
Setiba diluar istana, rombongan HONG HWA HWE itu berbalik menjadi kaget bukan kepalang. Diluar istana itu, be-ratusdua tentara Ceng sudah siap menunggu dengan busur, tombak dan pedang. Ratusan obor menyala dengan terangnya, masih ditambah dengan ratusan teng, sehingga suasana saat itu seolah-olah siang hari.
“Rupanya dia kuatir kita tak sampai mati diraCun dan dibakar, sehingga diadakan persiapan barisan pembunuh itu!” pikir Keh Lok.
Tapi Bu Tim dan Tan Ceng Tik tak mau banyak sekali pikir, terus mau menyerbu. Dari empat penjuru, anak panah segera dilepas bagaikan hujan derasnya.
“Ayo, kita serbu!” teriak Ceng Tong.
Dengan bahu membahu orang-orang HONG HWA HWE itu lantas mengikuti jejak Bu Tim dan Ceng Tik. Tapi kawanan serdadu Ceng itu, tak terhitung jumlahnya. Makin dibasmi makin banyak sekali. Bobol yang selapis, masih ada lain lapisan lagi.
Kali ini kaisar Kian Liong betul-betul mau membasmi musna jago-jago dari HONG HWA HWE Ini untuk menjaga bahaya dikemudian hari. Maka dikerahkannya gi-lim-kun, jago istana pilihan dan bayhok yang kokoh. Bagaimanapun gagahnya jago-jago HONG HWA HWE, namun kewalahan juga mereka menghadapi lapisan tembok manusia yang sedemikian tebalnya itu. Keadaan rombongan HONG HWA HWE betul-betul berbahaya.
Sinar pedang Bu Tim berkelebat pergi datang, dan belasan anak buah gi-lim-kun tersungkur binasa. Dia berhasil menobros keluar, tapi ketika berpaling dan menunggu sampai sekian saat, tak nampak lain-lain kawannya datang. Hal ini membuat ia kuatir. Dia balik menobros lagi. Tampak Ciang Cin tengah dikepung oleh 7 siwi. Ciang Cin mandi darah, dia berkelahi dengan nekad.
“Sipte, yangan takut. Aku datang,” seru Bu Tim terus meneryang.
Tiga orang siwi terpapas tenggorokannya terus roboh. Kawan-kawan nya segera mundur.
“Sipte, kau tak kena apa-apa?” tanya Bu Tim.
Sebagai jawaban, tahu-tahu Ciang Cin menggerung lalu membaCok jikonya itu. Bukan kepalang kagetnya Bu Tim, Cepat ia berkelit seraya berseru berulang-ulang: “Sipte, kau bagaimana, ini adalah aku!”
Tapi Ciang Cin laksana kerbau gila menggerung: “Saudaraku telah kamu aniaya, akupun tak mau hidup sendiri!”
Sepasang kampaknya kembali dibaCokkan pada Bu Tim, siapa terpaksa berkelit lagi dan berseru keras: “Sipte, ini aku, jiko-mu!”
Sepasang mata Ciang Cin tampak melotot mengawasi, tiba-tiba kampaknya dibuang dan menjerit: “Jiko, aku tak kuat lagi!”
Diantara Cahaja lampu dan obor, tampak oleh Bu Tim bagaimana seluruh tubuh Ciang Cin itu mandi darah. Dada, bahu, lengan dan lain-lain bagian tubuhnya terluka. Bu Tim bingung, karena dia hanya berlengan satu, jadi tak dapat akan memondongnya. Namun dengan kertek gigi disuruhnya sang Sipte itu menggamblok dibelakang punggungnya.
“Sipte, kau rangkul leherku, biar aku gendong kau!” serunya.
Bu Tim rasakan ketesan darah Ciang Cin mengalir dibadannya. Dengan gagah, tokoh kedua dari HONG HWA HWE itu membuka jalan darah. Kemana pedangnya menyamber, disitulah kawanan serdadu musuh terpaksa menyingkir memberi jalan. Tiba-tiba disebelah muka dilihatnya ada dua tiga serdadu musuh yang ganti berganti membal keatas, seperti dilontarkan orang.
“Ha, selain Si-te, tak ada orang lain yang mempunyai kekuatan seperti itu. Apakah ada terjadi perubahan dipos penjagaan pintu kota?” pikir Bu Tim.
Dia menyerbu kearah itu dan ternyata betul didapatinya Bun Thay Lay, Lou Ping, Hi Tong dan Wan Ci tengah bertempur hebat dengan kawanan siwi.
“Mana CongthoCu?” seru Bu Tim.
“Entah, mari kita menCarinya!” sahut Hi Tong.
Bu Tim terkesiap. Ciang Cin terluka sedemikian beratnya, yangan-yangan kawannya yang lain-lain sudah sama binasa. Bun Thay Lay membuka jalan darah untuk menghampiri Bu Tim.
“Disana tak terjadi suatu apa. Karena aku kuatir, maka aku menengok kemari!” tutur Thay Lay.
“Bagus!” sahut Bu Tim yang meskipun menggendong Ciang Cin, tapi lak mengurangkan kelihaiannya. Musuh tak berdaya untuk menghadangnya.
“CongthoCu!” pada lain saat Wan Ci berseru keras.
Seorang berpakaian putih, tampak melesat kesana sini diantara lautan api itu. Rupanya dia tengah menCari orang. Sedang dari arah barat, tampak Liok Hwi Ching mengaduk keluar.
“Kembali ketembok istana!” seru Keh Lok.
Berbareng dengan seman itu, agak jauh disebelah sana, diantara lautan api dan manusia, tampak bulu burung hnyau ber-gerak-gerak.
“CongthoCu, pimpinlah semua saudara mundur ketembok istana, biar kujemput nona Hwe itu!” seru Hwi Ching terus menyerang kearah sana.
Begitulah dengan Tan Keh Lok dan Bun Thay Lay yang membuka jalan, rombongan HONG HWA HWE terpaksa kembali lagi keistana, karena mereka merasa tak ungkulan menembus dinding kepungan tentara Ceng yang sebanyak sekali itu.
“Sipte, luruhlah!” kata Bu Tim.
Ciang Cin, si Bongkok itu, tak bergerak. Lou Ping bantu menunyangnya, tapi segera didapatinya tubuh Ciang Cin sudah kaku, sudah tak bernyawa lagi. Lou Ping menjerit dengan ratap tangisnya.
Pada saat itu Bun Thay Lay tengah bertempur dengan kawanan siwi. Dia hendak menyambut Tio Pan San, Siang-si Siang Hiap dkk. Demi didengar tangis sang isteri, tahulah bahwa sang Sipte (adik angkat ke 10) sudah meninggal.
Tanpa terasa beberapa titik air matanya berketesan turun. Seketika meluaplah hawa amarahnya, dia mengamuk hebat. Kembali ada tiga orang siwi yang roboh. Liok Hwi Ching yang menyerbu untuk menolong Ceng Tong, kini sudah dapat menghampirinya. Mereka berusaha untuk membuka jalan menggabungkan diri dengan rombongan Tan Keh Lok.
Setindak demi setindak, tampak Ceng Tong makin mendekati. Tapi sekalipun jarak mereka hanya terpisah berpuluh tindak, namun tampaknya sukar untuk menyingkirkan rintangan manusia yang menghadang itu.
Kedua saudara Siang telah merebut tombak musuh untuk bantu membuka jalan. Wajah Ceng Tong tampak puCat, pakaiannya penuh dengan Cipratan noda darah.
“Ayo kita serbu lagi. Tapi kali ini yangan sampai terpenCar,” seru Keh Lok. Tapi belum seruan ketua HONG HWA HWE reda, dari arah istana turun hujan anak panah. Kiranya setelah Li Khik Siu dan Pek Cin dapat membasmi kawanan anak buah ki-ping yang menjaga paseban Seng- Swi Tian, kini mereka mulai menggempur rombongan HONG HWA HWE Jadi kini rombongan HONG HWA HWE terkepung diantara dua musuh!
Selagi keadaan mereka dalam bahaya, tiba-tiba dari arah pasukan gi-lim-kun yang menghadang disebelah depan, timbul kekaCauan. Mereka sama mundur dengan kalut, Diantara Cahaja api yang marong itu, tampak berpuluh-puluhdua paderi berjubah kuning, menyerbu masuk. Yang berada didepan sendiri, adalah seorang tua berambut putih, bersenjata golok 'kim-pwe-to'. Gagahnya bukan main, seperti gajah yang tak dapat ditahan. Ternyata dia adalah Thiat-tan Ciu Tiong Ing. Melihat itu, orang-' HONG HWA HWE bersorak kegirangan.
“Saudara-', ikutlah' saja”, seru Tiong Ing.
Dengan memanggul mayat Ciang Cin, Bun Thay Lay ikut saudara-saudaranya, menobros keluar. Di antara rombongan Tiong Ing itu, terdapat juga tokohdua gereja Siao Lim Si a.l. Thian Keng Siansu, Tay Tian, Tay Leng, Gwan Thong, Gwan Hui, Gwan Siang dan lain-lain. Merekapun sudah terlibat dalam pertempuran dengan gi-lim-kun.
Tapi kepungan musuh itu luar biasa rapatnya. Mereka seolahdua membayangi kemana rombongan orang gagah itu menujti. Otak Ceng Tong yang tajam itu segera mulai bekerja. Ia mendongak memandang keempat penjuru. Segera tampak olehnya diatas wuwungan sebuah rumah penduduk didekat situ, ada belasan orang. Di antaranya ada 4 orang masing-masing dengan menentang teng merah, berpenCar diempat ujung. Kalau rombongan HONG HWA HWE berusaha meneryang kesebelah barat, maka teng merah yang diujung barat itu segera diangkat tinggi-tinggi. Meneryang ketimur, teng merah disebelah timur diangkat keatas. Nona yang Cerdas itu segera dapat menangkap artinya.
“HanCurkan tengdua merah itu, kita pasti tertolong!” ia menyerukan pada Keh Lok. Mendengar itu, Tio Pan San sudah lantas menyembat busur dan beberapa anak panah. Setelah berturut-turut membidik, keempat teng merah itu padamlah.
Dugaan Ceng Tong itu memang tepat. Tanpa pertandaan tengdua merah, pasukan gi-lim-kun kalut.
“Diantara orang-orang diatas wuwungan itu, tentu ada pemimpinnya. Kalau hendak tangkap penCuri, tangkap benggolannya dahulu!” Ceng Tong memberi saran lagi. Semua orang-orang HONG HWA HWE pernah menyaksikan keCakapan Hwe Ceng Tong sebagai pemimpin tentara Hwe ketika berperang melawan pasukan Ceng dahulu. Maka setiap pendapatnya, selalu diperhatikan dan diindahkan oleh orang-orang HONG HWA HWE
“Si-te, ngo-te, liok-te, mari kita menyerang kesana!” mengajak Bu Tim.
Bun Thay Lay dan kedua saudara Siang terus ikut menyerbu. Kawanan gi-lim-kun tak kuasa menghadangnya. Tan Keh Lok dan rombongan Thian Keng Siansu ikut meneryang. Dan kali ini, rupa-rupanya mereka akan berhasil. Tapi tak disangkadua, terdengar tampik sorak menggelegar. Li Khik Siu dan Pek Cin dengan barisan pengawal serta si-wi datang menyerang, kembali rombongan HONG HWA HWE terkurung rapat. Malah Wan Ci, Lou Ping dan beberapa paderi Siao Lim Si menderita luka-luka.
Setelah berhasil mendekati tembok, Bu Tim berempat lonCat keatas rumah. Begitu kaki mereka menginjak genteng, 7 orang sudah lantas menyerang. Mereka adalah jago-jago istana yang lihai-lihai. Yang tiga mengembut kedua saudara Siang, sedang Bu Tim dan Bun Thay Lay masing-masing mendapat dua lawan. Pertempuran berjalan sangat seru.
“Ha, mengapa disini terdapat begini banyak sekali Cakar alap-alap yang lihai-lihai,” mengeluh Bu Tim.
Selagi berkelahi, Bu Tim melihat diseberang sana, ada serombongan si-wi menjaga seorang pembesar yang memakai topi berjambul merah. Dengan memegang leng-ki (panji-komando), dia tengah memberi perintah.
“Serahkan kawanan Cakar alap-alap ini padaku!” seru Bir Tim.
Berbareng itu, dia kiblatkan ujung pedang-nya menusuk ulu hati seorang lawannya, dan Cepat pula dia beralih membabat kaki lawan satunya. Kedua pengerojoknya itu masing-masing menghindar dengan lonCat mundur. Pada kesempatan itu, Bu Tim Cepat menyerang kedua musuh Bun Thay Lay. Yang satu, dibabat iganya, yang satu dibaCok pinggangnya. Serangandua itu dilakukan luar biasa sebatnya. Terlepas dari serangan musuh, Bun Thay Lay terus meneryang kepada pembesar topi merah tadi. Empat orang pengawalnya, segera menghadang. Pembesar itupun agak terkejut dan menoleh. Ketika melihat wajahnya, Bun Thay Lay terkesiap. Hampir-hampir mulutnya akan berteriak “CongthoCu.”
Memang pembesar itu sangat mirip dengan Tan Keh Lok. Kalau keduanya mengenakan pakaian serupa, tentu orang sukar membedakannya. Betul-betul seperti pinang dibelah dua.
Sekilas teringatlah Bun Thay Lay akan Cerita isterinya tentang peristiwa Thian Hong mengatur siasat merampas vaas giok tempo hari serta peristiwa menangkap Ong Wi Yang. Tan Keh Lok menyaru sebagai seorang pembesar Boan. Semua orang mengiranya sebagai kepala barisan gi-lim-kun merangkap 'kiu-bun-tetok' Hok Gong An. Maka. teranglah kalau pembesar itu tentu Hok Gong An adanya.
Segera dia mengambil putusan: tawan pembesar itu untuk dnyadikan barang jaminan.
Saat itu dia tarik mundur tubuhnya, kemudian sebat luar biasa dia menyelinap diantara golok dari dua orang pengawal terus meneryang pembesar itu.
Memang pemimpin pasukan gi-lim-kun yang ditugaskanmenangkap orang-orang HONG HWA HWE itu, adalah orang kesayangan baginda sendiri, yaitu Hok Gong An. Karena tugas membakar paseban Swi Seng Tian itu sangat terahasia, maka baginda titahkan Hok Gong An sendiri yang melaksanakan. Namun karena baginda amat sayang padanya, dan kuatir kalau sampai kena apa-apa, maka baginda mengutus 1enam orang pengawal istana kelas satu, untuk melindungi orang kesayangannya itu.
Karuan saja pengawaldua istimewa itu menjadi gugup, ketika nampak Bun Thay Lay seperti orang kalap hendak membekuk thongleng (pemimpin) mereka. Dua orang si-wi maju menghadang, sedang Kawan-kawan nya lalu menyingkirkan Hok Gong An kewuwungan lain rumah.
Bu Tim tumplek seluruh kepandaiannya, dan memang gerakan ilmu pedangnya luar biasa Cepatnya. Dalam beberapa d jurus saja, dia berhasil melukai dua orang musuhnya. Setelah itu, dia makin mengamuk. Meneryang kesana, menyerang kemari. Tangan dan kakinya berbareng dikerjakan. Dan betul juga penghadangdua Bun Thay Lay itu menjadi pontang-panting menghindar. Kini kembali Bun Thay Lay agak longgar. Sekali kaki dienjot, dia melayang meneryang Hok Gong An!
Pertempuran diatas wuwungan itu, diketahui juga oleh kawanan gi-lim-kun dan rombongan HONG HWA HWE yang berada disebelah bawah. Belasan Si-wi kelas satu yang melindungi pemimpin gi-lim-kun itu ternyata tak berdaya untuk menghadang rangsakan dua tokoh HONG HWA HWE yang berkelahi laksana harimau lapar itu. 7 atau delapan orang dari barisan siwi lonCat keatas untuk memberi bantuan. Pertempuran seolah-olah berhenti sendiri. Semua mata ditujukan kearah wuwungan! Hok Gong An juga mengerti sedikit ilmu silat. Dia segera menabas dengan goloknya. Berbareng itu dua batang tombak dan dua batang golok dari kawanan pengawalnya, menyerang Bun Thay Lay pula.
“Kalau kali ini gagal membekuknya, tentu bala-bantuan keburu datang,” pikir Bun Thay Lay. Maka ia telah mengambil keputusan untuk mengadu jiwa.
Dia samplok kedua tangannya kearah kedua ujung tombak musuh. Begitu keras samplokan itu, hingga kedua tombak itu terpental keatas. Berbareng itu dia dupak dada seorang penyerangnya, dan tangannya menghantam muka seorang musuhnya yang lain. Sudah menjadi kebiasaan Bun Thay Lay, sewaktu menyerang dia barengi dengan menggerung. Sedemikian dahsyat suara gerungannya itu, sehingga pecahlah nyali musuh dibuatnya.
Itulah maka orang kangouw menjulukinya sebagai “pan-lui-Chiu.” Pukulan dan gerungannya seperti geledek kerasnya!
Dua antara 7 siwi yang baru saja melonCat keatas untuk memberi bantuan tadi, saking kagetnya sudah terpeleset jatuh kebawah lagi. Juga Hok Gong An saking terkejutnya, kaki tangannya menjadi lemas lunglai. Sebelum lain pengawal sempat berbuat apa-apa, tangan Bun Thay Lay sudah dapat menCengkeram dada Hok Gong An, terus diangkat keatas.
Seluruh anak buah pasukan Ceng, gi-lim-kun dan siwi, baik yang berada diatas wuwungan maupun yang disebelah bawah, telah menjadi gempar!
Pada saat itu, kedua saudara Siang sudah berhasil merobohkan ketiga siwi lawannya. Merekapun lonCat kesebelah Bun Thay Lay. Diambilnya senjatanya Cakar terbang yang berkilatdua, terus diputardua merupakan sebuah lingkaran besar. Sudah tentu, tak seorang Anggota pasukan Ceng yang berani mendekati.
Pada lain saat, tampak Hok Gong An mengangkat panji leng ki-nya, seraya berteriak keras-keras: “Berhenti menyerang! Pasukan gi-lim-kun dan semua siwi, baliklah kebarisanmu masing-masing!”
Segenap anak buah gi-lin-kun dan siwi, sama terkesiap kaget. Tiga orang siwi yang husus dititahkan untuk melindungi Hok Gong An, tak hiraukan seruan itu, terus nekad menyerbu.
“Ngo-te, liok-te, simpan senjatamu itu!” seru Bu Tim pada kedua saudara Siang.
Kedua saudara itu menurut, karena mengira Bu Tim akan membereskan ketiga siwi itu. Tapi ternyata Bu Tim bertindak lain. Pedang dia djujukan ketenggorokan orang tawanannya seraya tertawa keras-keras: “Ayo, majulah!”
Ketiga siwi itu merandek, setelah saling memberi isyarat, mereka lonCat menyingkir.
Ketika Bun Thay Lay keraskan tangannya, dan Hok Gong An rasakan lengannya seperti mau putus. Terpaksa dia berkaokdua: “Lekas mundur, dengar apa tidak!”
Pasukan Ceng dan kawanan siwi terpaksa mundur.
“Ayo, kita sama naik keatas!” ajak Keh Lok.
Rombongan HONG HWA HWE menghampiri tembok, kemudian satu persatu lonCat keatas wuwungan. Disitu Tio Pan San menCatat Kawan-kawan nya. Selain Ciang Cin yang tewas, masih ada lagi delapan atau sembilan lainnya yang terluka. Malah ketika itu, tampak Beng Kian Hiong dan Thian Hong yang memanggul Ciu Ki lonCat keatas. Rambut nyonya itu terurai, mukanya seperti kertas.
“Mengapa kau juga kemari? Sungguh kau tak tahu menjaga diri!” memaki Tiong Ing.
“Aku maukan anakku, anakku, kembalikanlah anakku!” teriak Ciu Ki tiba-tiba.
Keh Lok terkesiap mendengar nyonya Thian Hong mengoCeh seperti orang yang tak sadar itu, kemudian dengan gunakan sandi (code) HONG HWA HWE dia mengeluarkan perintah:
“Kita serbu kedalam istana, bunuh raja itu guna membalaskan sakit hati Ciang-sipko!”
Lou Ping menterjemahkan sandi itu kepada Liok Hwi Ching, Thian Keng Siansu, Tbian San Siang Eng, Hwe Ceng Tong dkk. Mereka sama mengaCungkan senjata tanda setuju.
“Siao Lim Si telah dimusnakan olehnya, hari ini aku akan melanggar pantangan membunuh!” seru Thian Keng.
“Susiok, kau sungguh baik, tapi mengapa Siao Lim Si musna?” seru Keh Lok dengan kaget.
“Siao Lim Si sudah rata dengan tanah dibakar mereka. Thian Hong suheng telah gugur,” sahut Thian Keng.
Keh Lok terharu. Kemarahannya makin meluap. Dengan menggusur Hok Gong An, rombongan HONG HWA HWE berjalan diantara barisan golok dan tombak gilim-kun. Karena ingat akan keselamatan pemimpinnya, anak buah gi-lim-kun itu tak berani berbuat apa-apa.
Setelah melalui lapisan yang terakhir dari pasukan Ceng tersebut. orang-orang gagah itu nampak Sim Hi sudah siap menyambut dengan rombongan anggota HONG HWA HWE dan berpuluh-puluhdua ekor kuda. Bergegas-gegas mereka naik kuda, ada yang sendirian, ada yang bonCengan. Kemudian laksana badai menderu, mereka menyerbu kearah istana.
“CongthoCu, jalan mundur apa sudah siap?” tanya Ji Thian Hong seraya mendekatkan kudanya kesamping Keh Lok.
“Kiu-ko dkk sudah menunggu dipintu kota. Mengapa kau baru sekarang tiba?” tanya Keh Lok.
“Garadua Pui Ju Tek sibangsat itu!” sahut Thian Hong menggeram.
“Ada apa dengan dia?” tanya Keh Lok pula.
“Dialah yang bersekongkel dengan Seng Hong dan Swi Tay Lim dengan membawa pasukan, malamdua menyerbu Siao Lim Si. Thian Hong losiansu tetap tak mau keluar, sehingga binasa ikut terbakar.”
“Jadi jahanamdua itu yang melakukannya?” tanya Keh Lok.
“Ya merekapun merampas putraku!” kata Thian Hong.
Mendengar adik angkat itu punya anak lakidua, ingin benar Tan Keh Lok menguCapkan selamat kepada Thian Hong, tapi pada saat seperti itu, tak dapat mulutnya ber-kata-kata.
“Thian Keng supeh telah pimpin semua paderi untuk menCari penghianat itu, sehingga sampai kemari. Kami menuju ke Song Liu Cu (markas HONG HWA HWE di Pakkhia) dan mengetahui kalau kalian berada diistana Yong Ho Kiong sini,” tutur Thian Hong akhirnya.
Kini rombongan HONG HWA HWE itu sudah mendekati Kota Terlarang. Gi-lim-kun dan kawanan si-wi tetap mengikut dari belakang. Walaupun tak berani menyerang, tapi mereka tetap tak mau melepaskan musuhnya.
“Kalau kaisar itu sudah mendapat warta dan keburu bersembunyi, tentang menCarinya didalam istana, kami mohon bantuan kedua loCianpwe,” kata Thian Hong pada Thian-san Siang Eng.
Setempo dipagoda Liok Hap Ta, Thian Hong pernah saksikan kepandaian sepasang suami isteri yang tak pernah memberi ampun pada musuhnya. Apalagi keduanya orang-orang suka menang. Penangkapan Hok Gong An tadi, keduanya belum memperlihatkan jasanya. Maka tepatloh kiranya kalau Thian Hong mengajukan permintaan itu kepada mereka.
“Kita nanti lakukan itu!” sahut Thian San Siang Eng.
Sekalipun pikirannya sedang kalut memikirkan puteranya, namun Thian Hong masih tetap lihai. Dia ambil 4 buah 'Iiu-sing-hwe-bao' (obat pasang yang dapat menyambar merCon sreng), diberikan kepada Ceng Tik.
“Bila Cianpwe dapat menemukan kaisar, kalau bisa bunuh, bunuhlah saja. Tapi kalau menemui kesukaran, harap loCianpwe segera lepas api ini selaku pertandaan,” pesan Thian Hong.
“Baik!” jawab Kwan Bing Bwe.
Kedua suami isteri itu segera lonCat keatas tembok, terus masuk kedalam istana. Gerakan mereka sebat sekali, seakan-akan sepasang garuda. Ketika Hok Gong An berseru memerintahkan pasukannya membuka pintu istana, kedua suami isteri itu sudah tak kelihatan lagi.
Sewaktu berlarian diatas genteng istana, Thian San Siang Eng segera menghadapi kesukaran. Karena ruangan dan pintu dalam istana itu tak terhitung jumlahnya. Sukar rasanya untuk mendapatkan tempat persembunyian raja itu.
“Kita bekuk seorang thaikam!” kata Kwan Bing Bwe.
Ceng Tik setuju. Begitulah keduanya melayang turun dan bersembunyi ditempat gelap. Tak antara lama, didengarnya ada tindakan orang mendatangi. Ketika mereka hendak membekuknya, ternyata ada pula lain tindakan kaki mendatangi, rupanya bergegas-gegas seperti ada urusan penting.
“Kedua orang itu mengerti ilmu silat rasanya,” bisik Ceng Tik.
“Benar, kita kuntit saja,” jawab sang isteri.
Tepat dengan itu, kedua orang itu sudah lewat disitu. Segera Ceng Tik dan sang isteri menguntitnya. Yang dimuka tubuhnya kurus, nampaknya lebih lihai dari kawannya yang berperawakan tegap dan tindakan kakinya lebih berat. Berkalidua si kurus berhenti untuk menunggu, dan setiap kali menyuruh kawannya supaya lekas.
“Lekas, kita harus mendahului, supaya bisa memberi warta kepada baginda,” kata orang itu.
Ceng Tik suami isteri girang, karena tanpa sengaja mendapat penunjuk jalan itu. Diam-diam keduanya berSyukur kepada si tegap yang lambat gerakannya itu.
Setelah beberapa kali membiluk, tibalah mereka dimuka pagoda Po Gwat Lauw.
“Kau tunggu disini,” kata si kurus, lalu masuk.
Thian San Siang Eng mulai bekerja. Mereka memanjat keatas dari samping pagoda. Tanpa mengalami kesukaran apa-apa, kedua suami isteri itu Cepat sudah berada dipunCak pagoda. Dengan gaetan kaki ketiang serambi, mereka menggelantung dengan kepala dibawah.
Didalam terdapat sederek jendela panyang, diluarnya ada sebuah lorong. Tampak sebuah bayangan munCul dibalik kertas penutup jendela. Kwan Bing Bwe ajak sang suami melorot kesana, lalu gunakan ludah untuk bikin lobang pada kertas jendela dan mengintai kedalam. Benar seperti yang diharap, Kian Liong tampak duduk disebuah kursi. Sedang yang berlutut dihadapannya, sikurus tadi, bukan lain adalah Pek Cin, orang yang pernah bertempur dengan Ceng Tik di HangCiu dahulu.
“Paseban Sui Seng Tian sudah terbakar musna. Tiada seorang penjaganya yang bisa lolos,” terdengar Pek Cin melapor.
“Bagus!” seru Kian Liong dengan girang.
“Hamba patut menerima hukuman. Rombongan pemberontak HONG HWA HWE sebaliknya bisa lolos,” Pek Cin berdatang sembah pula.
“Apa?!” teriak Kian Liong.
“Kedua thaikam keperCajaan thayhouw hendak menghaturkan selamat dengan arak beracun. Tapi entah bagaimana, rahasianya ketahuan dan diringkus musuh. Hamba waktu itu tengah berada di Sui Seng Tian, hingga tak mengetahui kalau mereka telah lolos garadua kedua thaikam itu.”
Pek Cin tahu bentrokan antara baginda dengan thayhouw, maka kini dia sengaja timpahkan semua kegagalan diatas bahu kedua orang keperCajaan thayhouw tersebut.
Kian Liong menggerang dan tundukkan kepalanya merenung sejenak.
Ceng Tik tunjukkan jarinya kearah Pek Cin, kemudian menunjuk pula kearah kaisar, lalu memberi tanda rahasia dengan isyarat tangan pada sang isteri, maksudnya: “Aku tempur si Pek Cin dan kau yang membereskan kaisar!”
Kwan Bing Bwe mengangguk. Selagi ia akan menobros jendela, tiba-tiba Pek Cin kedengaran bertepuk tangan dua kali. Ceng Tik Cepat-cepat menarik lengan isterinya, dan mengisyaratkan supaya tunggu dahulu. Benar juga dari balik tempat tidur, lemari, pintu angin, tahu-tahu munCullah selosin si-wi lengkap dengan senjatanya.
“Pengawaldua kaisar itu tentu pahlawandua kelas satu. Meski kita tak nanti tertangkap oleh mereka, tapi andaikata sampai tak dapat membunuh kaisar itu, bukanlah seperti 'keprak rumput membikin kaget sang ular' saja? Atau seperti menyuruhnya bersembunyi lebih* rapat. Ah, lebih baik tunggu sampai rombongan HONG HWA HWE datang,” demikian pikir Thian San Siang Eng.
Sementara itu terlihat Pek Cin membisiki salah seorang si-wi, siapa turun kebawah untuk mengundang orang yang menunggu diluar pagoda tadi.
Orang itu berpakaian jubah warna kuning tua dan tampak menjura dihadapan kaisar. Ketika mendongak, diluar dugaan Thian San Siang Eng, ternyata adalah seorang Lama. “Fuinke, kau sudah bekerja dengan baik. Kau tidak sampai menerbitkan keCurigaan bukan?” tanya baginda,
“Semua telah hamba kerjakan menurut titah baginda. Sui Seng Tian musna sampai habis,” kata paderi itu.
“Bagus, bagus!” kata Kian Liong. “Pek Cin, telah kujanjikan padanya untuk menjadi budha hidup. Nah, kau uruskanlah!”
Pek Cin mengiakan dan Fuinke tampak berseri-seri kegirangan seraya menghaturkan terima kasih kepada baginda. Begitulah Pek Cin lalu membawa Lama itu keluar, diiring oleh dua orang siwi.
Sampai dimuka pagoda, berserulah Pek Cin: “Fuinke, lekas haturkan terima kasih atas budi kaisar!”
Lama itu melengak kaget. Tadi dia sudah menghaturkan terima kasih kepada baginda, mengapa pemimpin siwi itu memerintahkan lagi begitu. Tapi iapun lantas berlutut ke-arah Po Gwat Lauw. Setelah menyembah tiga kali, dia terus akan berbangkit, tapi mendadak batang tengkuknya terasa ditempeli dengan benda dingin. Ternyata golok dari kedua siwi tadi dilekatkan kebatang lehernya.
“Me............ mengapa-apa” tanyanya ter-ibadua.
“Baginda berkenan mengangkat kau menjadi buddha hidup, maka kini aku akan mengirim kau kesjorga untuk menjabat pangkat itu,” menerangkan Pek Cin dengan tertawa.
Hati Fuinke seperti disiram ds. Insyaplah dia kalau baginda hendak membunuhnya supaya rahasianya tak bocor. Pada saat itu tangan Pek Cin mengibas, dan dua golok dari kedua siwi itu segera menabas leher Lama yang malang itu.
Dua orang thaikam munCul membawa permadani untuk menutup mayat sang korban.
Menyaksikan kekejaman kaisar itu, makin berkobarlah kemarahan Thian San Siang Eng. Tengah kedua orang itu termangu, sekonyong-konyong berpuluh-puluhdua orang dengan menenteng teng menyergapnya.
“Ada pemberontak datang mengaCau, silakan baginda beristirahat kedalam istana,” teriak Pek Cin dan buru-buru naik keatas menghadap kaisar.
Setelah peristiwa di HangCiu tempo hari, tahulah Kian Liong bahwa pahlawanduanya itu bukan tandingannya jago-jago dari HONG HWA HWE Maka tanpa banyak sekali tanya lagi, kaisar itu terus tinggalkan tempat itu.
Tan Ceng Cik segera melepas sebuah merCon sreng. Selarik sinar terang menobros diangkasa yang gelap gulita.
“Kami memang sudah menunggu lama, yangan harap kamu bisa lolos!” seru Ceng Tik keras-keras.
Sepasang suami isteri itu tahu kalau rombongan HONG HWA HWE takkan Cepat-cepat tiba, maka perlulah mereka menCegat kaisar itu dulu. Maka dengan sebat, keduanya menobros masuk dari jendela ruang tingkat keempat.
Kawanan siwi itu tak tahu jelas berapa jumlah musuh yang memasuki istana itu. Maka sudah tentu mereka menjadi kaget demi melihat dimulut tangga ruangan itu berdiri tegak seorang tua bermuka merah dan seorang wanita yang sudah beruban rambutnya, dengan menghunus pedang.
Dua orang siwi maju, tapi begitu beradu senjata, segera merasa betapa sebat gerakan musuh. Pek Cin gendong baginda dipunggungnya, dikanan, kiri, muka, belakang dilindungi oleh 4 orang siwi. Dari samping langkah mereka lonCat kebawah, terus turun ketingkat tiga .
Kwan Bing Bwe kibaskan tangannya melepas tiga butir thi-lian-Cu. Begitu musuh menyingkir, ia enjot kakinya keatas langkan diantara ruang keempat dan ketiga. Dan seCepat Itu pula, ia tusukkan ujung pedangnya kearah Kian Liong.
Pek Cin terkesiap dan mundur dua tindak. Berbareng itu, dua orang siwi segera menghadang serangan Kwan Bing Bwe.
Bertarung dengan tiga orang siwi, segera Ceng Tik mengetahui bahwa lawannya itu beratdua. Segera dia keluarkan ilmu simpanannya merangsak kian kemari agar tak sampai terlibat oleh pengerojokan itu.
Pek Cin bersuit, dari empat ujung munCullah 4 orang siwi. Malah ada lagi tiga orang siwi munCul dari belakang. Ke7 orang itu kini mengerubuti Ceng Tik. Betapa lihainya jago tua dari Thian San Itu, namun kewalahan juga menghadapi kerojokan 7 orang jago istana kelas satu.
Kira-kira berlangsung belasan jurus, Ceng Tik menangkis tusukan tombak dari sebelah kiri, Tapi berbareng itu sebuah Cambuk menghantam lengan kanannya.
Bukan kepalang sakit dan marahnya Ceng Tik sesaat itu. Berpuluh tahun ini belum pernah dia rontok bulu romannya apalagi terluka seperti saat itu. Pedang segera dipindahkan ketangan kiri, dengan gerak “angin pujuh menggulung padang pasir,” didesaknya kawanan siwi itu kebelakang. Lalu sebat luar biasa, dia tusuk perut orang yang menCambuknya tadi.
Nampak suaminya terluka, Kwan Bing Bwe merangsek ke muka untuk menggabungkan diri. Kemudian keduanya mundur ketingkat kedua.
Mengetahui rombongan HONG HWA HWE tetap belum munCul, karena kuatir kawanan siwi itu akan melibatnya dalam suatu pertempuran hebat, buru-buru Ceng Tik menobros keluar pagoda untuk melepas api pertanda lagi.
Ketika masuk kedalam lagi, dilihatnya sang isteri tetap menjaga ditangga loteng dengan gigih sekali. Setiap beberapa jurus, ia mundur setingkat. Betul-betul setiap jengkal dipertahankan mati-matian. Untungnya, tangga loteng itu sempit, hingga hanya Cukup untuk berkelahi tiga atau empat orang saja. Sekalipun begitu, Kwan Bing Bwe tampak keripuhan juga.
Tiba-tiba dalam pikiran Ceng Tik terkilas suatu siasat jakni “menyerang untuk bertahan.” Maka seCepat itu pula, dia menyerbu kearah kaisar. Begitu kawanan siwi serentak melindungi baginda, siangdua dia sudah menyingkir lagi untuk menggempur para pengerojok Kwan Bing Bwe. Kalau banyak sekali orang datang memberi bantuan, Ceng Tik serang baginda lagi. Dan kembali kawanan siwi itu mengerumun baginda.
Demikianlah dengan Cara bertempur begitu musuh kaCau dibuatnya.
Selagi musuh kaCau, Ceng Tik dapat melukakan dua orang lagi. Kwan Bing Bwe pun naik pula keatas untuk merangsek.
Melihat gelagat kurang baik, Pek Cin berseru kepada seorang siwi: “Ma-hengte, kau gendong baginda ini!”
Orang she Ma itu ternyata adalah Ma King Hiap, itu siwi yang pernah ditawan HONG HWA HWE ketika pertempuran di Hang-Ciu dahulu, yang kemudian setelah diadakan perundingan perserikatan, dia dilepaskan lagi.
Setelah kaisar didukung Ma King Hiap, Pek Cin bersuit seraya menerkam Ceng Tik. Dia adalah ahli kenamaan dari Cabang Ko Yang Pai. Ilmu eng-jiao-kong (Cakar elang) sangat dimalui dikalangan kangouw. Meski dia setingkat dibawah Ceng Tik, namun dalam berpuluh jurus, masih dapat dia melayani dengan berimbang. Malah diam-diam Ceng Tik mengeluh, karena sukar untuk loloskan diri dari libatan orang she Pek itu. Apa lagi lengannya kanan terluka makin lama makin terasa sakitnya. Dalam keadaan begitu, bertarung dengan Pek Cin seorang saja, dia sudah kepayahan apalagi kini dikerojok empat-lima orang siwi.
Sepasang jari Pek Cin yang bagaikan Cakar besi itu me-layangdua menginCar bagiandua yang berbahaya dari tubuh musuh. Ceng Tik tumplek seluruh perhatiannya untuk melayani Cengkeram maut itu, jadi dia agak lengah akan lain-lain serangan. Maka pada lain saat tahu-tahu punggungnya tertusuk ujung pedang salah seorang si-wi yang menyerang dari belakang.
Tengah si-wi itu. bergirang hati, seCepat kilat Ceng Tik berputar untuk menghantam kepala lawan tersebut dengan sikunya. Begitu sebat dan dahsyat hantaman itu, sehingga si-wi tersebut tak sempat mundur dan seketika itu juga batok kepalanya pecah.
Tapi dalam pada itu, keadaan Ceng Tik makin payah. Tahu dia kalau tusukan pedang tadi telah mengenai bagian yang berbahaya, dan insyap kalau ia tentu binasa ditempat itu. Dia menggerung keras, seperti harimau terluka. Saking kagetnya, Pek Cin mundur setindak, Ceng Tik timpukkan pedangnya kearah baginda.
Melihat pedang melayang datang, hendak Ma King Hiap menghindar, tapi kalah Cepat. Dan karena kuatir baginda terluka, si-wi itu menangkis dengan tangannya. Tapi tim-
pukan Ceng Tik itu, adalah timpukan dari orang yang mendekati ajal, karena marah dan penasaran telah tumplek seluruh sisa tenaganya yang masih ada, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya. Maka sudah tentu tangan kosong Ma King Hiap tak dapat menahannya, 'brekk', tangan King Hiap papas separoh, dan pedang tetap memberosot masuk kedada terus menembus kebelakang, kepunggung...............
Ceng Tik bersorak girang. Puas dia dengan hasil timpukannya itu, ia pikir Ujung pedangnya tentu dapat mengenai tubuh baginda. Selebar jiwanya yang sudah setua itu, ditukar dengan jiwa seorang kaisar, sungguh lebih dari berharga.
Melihat ujung pedang menembus dada Ma King Hiap, Pek Cin dan kawanan si-wi pun terkesiap kaget. Begitu pula Kwan Bing Bwe ketika menampak suaminya terluka. Serentak mereka sama berhenti bertempur dengan sendirinya, masing-masing memburu untuk menolong fihaknya.
Pek Cin membopong baginda dengan hati-hati, seraya bertanya: “Baginda, bagaimana?”
Wajah Kian Liong puCat seperti kertas, namun dia Coba untuk berlaku tenang, katanya dengan tersenyum: “Syukur aku. sudah membuat penjagaan lebih dulu.” Ujung pedang Ceng Tik tadi menembus punggung King Hiap sampai setengah kaki, hingga pakaian kaisar yang ber-lapisdua itu kerowak dibuatnya. Pek Cin berdebardua, namun dia heran juga mengapa baginda tak kena apa-apa, katanya: “Baginda mempunyai rejeki sebesar langit, sungguh mendapat lindungan dari para arwah.”
Kiranya semenjak baginda bermaksud mengingkari janjinya. dengan HONG HWA HWE dia sangat menguatirkan akan pembalasan dari kawanan orang gagah itu. Teringat akan kejadian dua0 tahun yang lalu., dimana almarhum ayahandanya, kaisar Yong Ceng, telah dibunuh seCara mengenaskan oleh pembunuh gelap, hati kaisar itu menjadi kedar dan jeri. Maka sengaja dia pakai baju 'kim-si-joan-kah', baju benang emas yang tahan baCokan senjata tajam. Dan ternyata baju itu telah menolong jiwanya.
Pek Cin menggendong Kian Liong pula. Kini ditangga loteng sudah tak nampak kedua suami isteri penghadang itu. Dia bersuit keras, dan kawanan si-wi segera melindunginya pula, untuk turun kebawah.
Hampir sampai diambang pintu pagoda, tiba-tiba Kian Liong mengeluarkan jeritan tertahan, terus merontadua turun dari gendongan Pek Cin. Ternyata diambang pintu, tegak berdiri Tan Keh Lok, dibelakangnya kelihatan barisan ujung pedang dari kawanan orang gagah yang lain.
Kian Liong terus berputar dan lari balik keatas lagi. Sedang kawanan si-wi pun segera ikut untuk melindunginya. Ada dua orang si-wi yang agak lambat mengangkat kaki, telah diCegat oleh kedua saudara Siangi Beberapa jurus saja, kedua si-wi itu telah dapat dibunuh.
Kiranya setelah nampak pertandaan dari api merCon yang dilepas Ceng Tik, Tan Keh Lok dkk segera menuju ke Po Gwat Lauw. Tapi disepanyang jalan, selalu dirintangi oleh kawanan si-wi. Hal ini telah membuat kedatangannya agak terlambat sedikit.
Setiba di Po Gwat Lauw, mereka dapatkan kaisar sedang dilibat oleh Thian San Siang Eng.
“Jahanam, kau juga disini!” Bun Thay Lay menggerung demi melihat Seng Hong dan Swi Tay Lim juga berada disitu.
Kian Liong sendiripun sedari tadi belum mengetahui akan kedatangan kedua orang itu, maka dia lantas berteriak supaya mereka turut menangkap pada orang-orang HONG HWA HWE itu.
Tan Keh Lok segera pecah rombongannya. Setiap lorong dan undakduaan disuruhnya jaga keras. Bu Tim menjaga tmdakduaan bawah dari loteng ketiga, sedang Siang-si Siang Hiap menjaga diatas, Tio Pan San, Tay Hiong, Tay Tian, menjaga dibawah, tak nanti Kian Liong dapat lolos dari kepungan itu.
Ceng Tong kuCurkan air mata ketika nampak suhunya tengah memeluk pada suaminya. Iapun turut menghampiri. Ceng Tik mengeluarkan darah terus menerus Hwi Ching pun datang dan mengambil obat luka lalu ditempelkannya. Namun kesemuanya itu tak banyak sekali menolong. Ceng Tik tersenyum tawar dan meng-gelengskan kepala kepada Kwan Bing Bwe:
“Maafkan aku............ Berpuluh-puluh tahun kumembuat kau hidup getir, bila nanti kau kembali kedaerah Hwe, dan bersama Wan......... Wan-toako menjadi suami isteri......... aku dialam baka, akan merasa lega. Liok-hengte, tolong kau bantu aku untuk menjadikan soal itu............”
Tapi mendadak alis Kwan Bing Bwe terangkat naik, ia mengelah napas: “Selama beberapa bulan ini, apakah kau masih belum menginsyapi betapa perasaan hatiku kepadamu?”
Ingin Hwi Thjing menasehati wanita itu, supaya mengiakan saja segala kata-kata suaminya yang sudah mendekati ajalnya itu, biar lega. Tapi belum sampai dia membuka mulut, tiba-tiba terdengar Kwan Bing Hwe berteriak: “Kalau sudah begini, tentu puaslah kau!”
Berbareng dengan uCapannya itu, pedang yang dipegang itu ditusukkan ketenggorokannya sendiri. Darah menyembur keluar, dan jago wanita itu roboh binasa seketika. Dengan demikian tamatlah riwajat dari seorang wanita yang selama hidupnya, selalu merasa tak berbahagia.
Saking terkesiapnya, Ceng Tong dan Hwi Ching tak keburu menCegah perbuatan wanita yang keras hati itu. Ceng Tik tertawa puas. Tapi pada lain saat, suara ketawanya itu segera sirap dengan tiba-tiba.
Hwi Ching berjongkok untuk memeriksanya. Ternyata Ceng Tik telah memeluk sang isteri. Diantara kobakan darah, keduanya bersamadua menghembuskan napas.
Ceng Tong mendumprah disamping kedua suhunya, menangis sedu-sedan seperti anak kecil.
Sementara itu Tan Ke Lok sudah sambut khim dari Sim Hi dan mendamprat Kian Liong: “Yangan kata tentang perjanjian persekutuan di Liok Hap Ta, sedang di Hayleng kita pernah kuCurkan darah, bersumpah takkan saling menCelakan. Tapi kenyataan, kau akan meraCuni aku! Apa katamu sekarang?”
Habis berkata, khim dibanting kelantai. Sebuah benda pusaka yang ribuan tahun umurnya, kini menjadi kepingan kayu.
“Kau akui musuh sebagai ayahmu untuk menindas rahajat. Kau merupakan musuh rahajat yang Cinta tanah airnya! Hubungan darah antara kita berdua, mulai saat ini putuslah sudah dan kini juga akan kuminum darahmu untuk menebus hutangmu pada kedua loCianpwe, pada saudara-saudaraku dan pada rahajat sekalian”.
Kata-kata yang diuCapkan Tan Keh Lok dengan keren itu, telah membuat Kian Liong puCat pasi.
“Kita mensuCikan diri digereja Siao Lim Si untuk membebaskan diri dari urusan dunia. Tapi mengapa kau utus pembesar jahat untuk membakar gereja kita? Hari ini biarlah aku akan membuka larangan membunuh”, seru Thian Keng.
Seng Hong rupanya tak tahan. Dia meneryang dengan tojanya. Tapi paderi dari Siao Lim Si itu tetap tenangdua saja. Begitu tongkat lawannya tiba, dia segera menyawut daa menariknya. Seng Hong tak dapat mempertahankan kudaduanya, terus memberosot jatuh. Membarengi itu Thian Keng menghantam dan separoh kepala orang she Seng itu melesak kedalam. Dia mati seketika!
Tatkala tangan kanan Thian Keng mengibas, tongkat Seng Hong itu telah patah menjadi tiga. Menampak kegagahan yang luar biasa dari paderi tersebut., kawanan siwi disitu menjadi pecah nyalinya.
Hanya Pek Cin yang terpaksa memberanikan diri. “Biar kuminta pengajaran dari Losiansu untuk beberapa jurus saja!” tantangnya.
Thian Keng hanya mengeluarkan suara jemu, terus akan melangkah maju.
“Susiok, kau telah turunkan 'Hong-liang-sip-pat-Ciang' padaku, idinkan teCu menCobanya, mana yang salah harapsusiok kasih unjuk!” tiba-tiba Keh Lok berseru.
“Baiklah!” sahut Thian Keng.
“Pek-loCianpwe, silakan!” kata Keh Lok, terus mengirim pukulannya.
Pek Cin tak menghindar, ia menangkis, tapi begitu saling bentrok, dia rasakan separoh tubuhnya kesemutan. Dia sangat terkejut. Belum setengah tahun dia bertempur dengan ketua HONG HWA HWE itu di HangCiu, itu waktu kekuatannya berimbang, Tapi kini, ternyata dia sudah bukan tandingannya lagi.
Tan Keh Lok mengirim serangan lagi, malah dengan dua tangan sekali gus. Yang satu, Pek Cin berkelit dan yang satunya ditangkis. Tapi seCepat itu dia lantas lonCat menyingkir seraya berseru: “Tahan!”
“Dia 'kan penolongmu, mengapa kau layani dia berkelahi!” tiba-tiba Kian Liong menyelatuk.
Kini insyaplah Pek Cin bahwa baginda mencurigainya.
Dia mengambil sebatang golok dari seorang siwi, katanya: “CongthoCu, aku bukan tandinganmu.”
“Aku hargakan kau sebagai seorang hohan. Asal kau tak menjual jiwa untuk kaisar ini, silaukan kau tinggalkan tempat ini!” kata Keh Lok.
Tio Pan San yang menjaga dijendela timur, lantas memberi jalan. Tapi bukannya segera berlalu, Pek Cin kedengaran tertawa hampa: “Terima kasih atas kebaikan kalian. Tapi karena tak dapat melindungi baginda, aku menjadi seorang yang put-tiong (tak sstia). Tak dapat membalas budimu, aku menjadi seorang put-gi (tak bermoral). Put-tiong dan put-gi, adakah kau masih berharga untuk hidup didunia?” Belum lagi semua orang mengerti apa yang dimaukan, sekonyong-konyong Pek Cin menabas batang lehernya sendiri. 'Bluk', buah kepalanya tahu-tahu jatuh dilantai.
Kemudian Keh Lok pimpin Ceng Tong keruangan dalam. Badi-badi mustika diserahkan kepada nona itu, katanya: “Ceng Tong, ayah bundamu, kakak dan adikmu, kedua suhumu serta berpuluh-puluhdua ribu suku bangsamu, semua binasa ditangannya. Mari, kau bunuh dia dengan tanganmu sendiri!”
Segera Ceng Tong maju menghampiri Kian Liong. Swi Tay Lim Coba menghadang, tapi segera disambar dari samping oleh Bun Thay Lay, terus diCengkeram, punggungnya diangkat naik, dihantam berulang-ulang. Ketika dilepaskan, Swi Tay Lim sudah numprah ditanah, seperti segumpal daging. Tulangduanya sudah patahdua semua.
Bun Thay Lay masih ingat akan hinaan dari musuhnya itu, yang pernah memukulinya ketika dia tertangkap. Maka kali ini, dia umbar napsunya untuk melampiaskan sakit hati itu.
Kini tinggal 5 atau enam orang siwi saja yang masih disamping Kian Liong. Maka Bun Thay Lay hanya tertawa dan berdiri disamping untuk mengawasi Ceng Tong menghampiri baginda. Tapi baru saja Ceng Tong berjalan beberapa tindak, tiba-tiba dibawah pagoda terdengar suara hiruk pikuk.
Tio Pan San melongok kejendela dan dapatkan diluar Po •Gwat Lauw ribuan tentara tengah membawa obor. Mereka adalah pasukan gi-lim-kun, siwi, thaikamdua yang pandai ilmu silat, kira-kira sejumlah ribuan. Tiau Hwi, Li Khik Siu dan The jin-ong sibuk memberi perintah.
Bun Thay Lay menghampiri jendela dan berseru dengan lantang: “Kaisar ada disini. Siapa yang berani naik, kaisar ini segera akan kujadikan frikadel lebih dulu!”
Mendengar suara yang menggeledek dari Pan-lui-Chiu itu, suasana berisik itu sirap seketika. Thian Hong beserta Sim Hi segera lemparkan mayat Pek Cin, Swi Tay Lim, Ma King Hiap, Seng Hong dkk.nya kebawah. Melihat, jago-jago yang tangguh itu sudah menjadi mayat, mereka tambahi jeri lagi dan makin Cemas akan keselamatan baginda.
Juga orang-orang gagah HONG HWA HWE itu sama berdiam diri untuk menantikan Ceng Tong, siapa dengan badi-badi yang bergemerlapan tengah maju setindak demi setindak kearah Kian Liong.
Dalam suasana yang menyeramkan itu, tiba-tiba dari balik tempat tidur diruangan situ, sebuah bayangan ber-gerak-gerak terus menghadang dimuka baginda. Ceng Tong merandek untuk mengawasinya. Ternyata dia adalah seorang tua yang berambut putih, tangannya memondong seorang baji. Sambil tertawa dingin, dengan tangan kanan, orang tua itu mengangkat si baji kemuka, sedang tangannya kiri mendekap leher sibaji. Sekali jariduanya itu dikenCangkan, tak ampun lagi baji tentu binasa.
Baji itu putih montok, menyenangkan sekali dan tengah asjik mengisap jarinya.
Mendadak memberosot dari belakang sang ibu dan menjerit keras: “Kembalikan anakku!” Terus saja ia akan. maju merebutnya.
“Majulah, kalau kau ingin menerima mayat baji, mari!” orang tua itu menganCam.
Ciu Ki linglung seperti kehilangan semangat.
Kiranya orang tua itu adalah bekas Sunbu dari wilayah Anhui, Pui Ju Tek. Ketika dia kembali kekampungnya di Hokkian, dia akan mengambil selir, tapi diobrak-abrik oleh orang-orang gagah HONG HWA HWE Berkat siasatnya yang liCin, dia berhasil loloskan diri. Kemudian dia menggabungkan diri dengan Seng Hong dan Swi Tay Lim. Dari kedua orang itu, diketahuinya kalau baginda bermaksud akan menumpas orang-orang H.H.H, Untuk meriCari pahala, Sunbu itu telah mengatur renCana.”
Dengan membawa sejumlah besar pasukan, dia menggerebek gereja Siao Lim Si pada tengah malam. Gereja itu dibakarnya, dimana turut pula binasa pemimpin pertamanya Thian Hong Siansu. Kemudian dirampasnya pula putera Ciu Ki yang masih baji itu. Dia anggap, hal itu sebagai jasa kepada negeri, maka diajaklah Swi Tay Lim dkk. ke Pakkhia untuk menghadap kaisar.
Malam itu juga baginda menitahkan mereka menghadap untuk ditanya lebih jelas apakah gereja Siao Lim Si masih meninggalkan sisa. Begitulah malam itu ketiganya pergi menghadap baginda di Po Gwat Lauw. Tak mereka sangka kalau disitu mereka kesamplokan dengan rombongan Tari Keh Lok yang tengah mengamuk.
Pui Ju Tek buru-buru bersembunyi dibelakang tempat tidur. Tak berani dia nampakkan diri. Tapi ketika diketahuinya suasana sangat gawat, meskipun dia tak bisa silat, tapi dengan tipu dayanya yang liCin, dia munCul menghadangi.
“Ayo, kamu semua keluar dari istana. Nanti kukembalikan baji ini!” kembali situa itu berseru setelah merasa mendapat angin.
“Setan tua, kau tentu akan menipu kami!” bentak Ceng Tong, yang karena kemarahannya, sampai lupa kalau ia memaki dengan bahasa Ui. Sudah tentu semua orang tak mengerti maksudnya.
Sungguh hal yang tak terkirakan sama sekali oleh orang-orang gagah itu. Mereka telah ambil putusan, kaisar tentu takkan lepas dari kebinasaan. Sekalipun pasukan istimewa dikerahkan untuk menolongnya, mereka tetap akan membunuh kaisar itu, sekalipun mereka harus berkorban jiwa. Tapi renCana itu digagalkan serta merta oleh seorang tua yang tak pandai silat, tak membawa senjata apa-apa, keCuali seorang anak baji. Semua orang sama memandang kepada Tan Keh Lok untuk menanti keputusannya.
Ketua HONG HWA HWE itu memandang pada Ceng Tong. Sakit hati yang diderita nona itu melebihi lautan besarnya, tak boleh tidak, harus dibalaskan. Dan ketika ketua itu memandang kearah jenazah Thian San Siang Eng dan Ciang Cin, hatinya seperti disajat sembilu. Namun ketika nampak wajah Cemas dari Thian Hong dan Ciu Ki, hatinya bersangsi.
Dengan sorot mata yang Cemas sayang, sepasang suami isteri itu tak hentinya mengawasi orok yang berada dalam telapak tangan Pui Ju Tok, tangan yang penuh dilingkari dengan otot besardua. Anak yang baru berusia dua bulan nampak tertawadua, memain dengan jari tangan situa. Sedikitpun dia tak mengetahui, bahwa jaridua itu kalau tak kebetulan, hakal merampas jiwanya.
Tan Keh Lok alihkan pandangannya. Dilihatnya sorot mata. Thian Keng yang tadinya penuh dengan hawa pembunuhan, kini berganti dengan sorot yang mengunjuk kewelas-asihan. Liok Hwi Ching kedengaran mengeluarkan elahan napas. Tiong Ing gemetar, jenggotnya yang putih turut bergoyangdua. Sedang Ciu-naynay ternganga mulutnya, seperti orang kena sihir.
“Kepada kaum kita, Ciu-loCianpwe telah bunuh putera keturunannya sendiri. Baji itu adalah untuk menyambung keturunan satuduanya......... tapi kalau dia (kaisar) tak dibunuh sekarang, mungkin tak ada kesempatan yang sebagus ini lagi dan sakit hati kita tentu takkan terbalas selama-lama-nya”, demikian Keh Lok me-nimbangdua dalam pikirannya.
Tengah dia bingung mengambil putusan, terdengar Ciu Ki menjerit seraya akan menyerbu kemuka, tapi diCegah oleh Lou Ping dan Wan Ci hingga ia meronta-ronta seperti orang kalap. Pemandangan itu, telah membuat Bu Tim, Bun Thay Lay kedua saudara Siang, orang-orang yang biasa membunuh orang tanpa terkesip, kini menjadi tak tega hatinya.
Tiba-tiba Ceng Tong balik kembali untuk serahkan badi-badi para TanKeh Lok, bisiknya: “Yang mati tetap mati! Biarlah anak itu dididik, agar kelak dapat membalaskan sakit hati kita!”
Keh Lok mengangguk, lalu dengan suara lantang dia berseru pada Pui Ju Tek: “Baiklah, kami menyerah. Kami tak membunuh kaisar, dan kau serahkan orok itu padaku!”
Untuk membuktikan kata-katanya, badi-badi disarungkan, lalu angsurkan kedua tangannya untuk menyambuti sibaji.
“Hm, siapa sudi memperCajaimu? Nanti kalau kamu sudah keluar dari istana, baru orok ini kuserahkan!” Pui Ju Tek menjawab dengan dingin.
“Kami kaum HONG HWA HWE selalu memegang kata-kata tak pernah ingkar janji. Masa kami akan menipu seorang tua!” Keh Lok sangat gusar.
“Ya, tapi aku tetap tak mau perCaja”. kata situa bangka.
“Sudahlah, mari ikut kami keluar!” ajak Keh Lok.
Pui Ju Tek bersangsi. Tapi Kian Liong yang mengetahui jiwanya tertolong, tak mempedulikan keadaan tua bangka itu lagi, serunya: “Turut saja pada mereka. Jasamu sangat besar, aku tentu takkan melupakan”.
Hati Pui Ju Tek menjadi tawar. Kaisar mau supaya dia berkorban, untuk itu kaisar akan mengganjarnya pangkat besar (seCara posthum).
“Hamba haturkan terima kasih atas budi baginda”, katanya dengan hati yang berat, kemudian berpaling kearah Tan Keh Lok, katanya: “Ya, aku ikut. Akupun sudah tak menyayang selebar jiwa yang sudah bangkotan ini!”
Nyata dia harap Tan Keh Lok suka mengampuninya seorang tua, tapi anak muda itu tak menghiraukan, sahutnya: “Dosamu sudah lebih dari takeran, maka harus lekas-lekas masuk keneraka!”
“Lekas ikut mereka!” bentak Kian Liong yang kuatir kalau memakan tempo kelwat lama, yangan-yangan nanti timbul perubahan buruk lagi.
“Kalau aku ikut keluar, yangan-yangan kau tinggalkan beberapa kawanmu untuk menCelakakan baginda”, Pui Ju Tek tak pedulikan perintah kaisar dan masih mengotot.
“Apa kehendakmu?” sahut Keh Lok gusar karena jengkelnya.
“Kuakan persilakan baginda tinggalkan tempat ini dahulu, setelah itu baru aku ikut padamu”, kata Pui JuTek. “Baik”, sahut Keh Lok.
Tanpa hiraukan etiket kaisar lagi, Kian Liong terus lari kepintu. Ketika lewat disamping Tan Keh Lok, tiba-tiba ketua HONG HWA HWE itu memegangnya. Sebelum orang dapat menduga apa-apa, tangan kiri Keh Lok sudah diayunkan beberapa kali untuk menampar muka Kian Liong, seketika muka kaisar itu benjoldua matang biru.
“Kau ingat apa tidak sumpahmu dulu itu?” Keh Lok mendampratnya.
Kian Liong tak menjawab, Keh Lok dorong tubuh kaisar itu hingga sempoyongan, siapa tanpa hiraukan apa-apa, keCuali keselamatan jiwanya, terus lari tunggang langgang keluar dari pagoda.
“Sekarang serahkan orok itu padaku!” seru Keh Lok.
Pui Ju Tek melihat kesana kemari, hendak dia menCari akal lagi untuk lolos. Sebagai seorang pembesar jahat yang sudah bandotan, segera dia nampak suatu harapan pada diri Tio Pan San, yang dilihat dari wajahnya yang berseri-seri itu, tentu orangnya penuh welas asih.
“Lebih dulu akan kusaksikan sendiri bahwa baginda tak kurang suatu apa, baru kuserahkan baji ini!” katanya seraya melangkah kejendela.
“Kura-kura tua, mati kau sudahlah pasti, yangan banyak sekali tingkah!” memaki Siang Pek Ci. sambil mengikutinya dari belakang-. Begitu baji diserahkan, dia akan turun tangan meremuk bandot tua itu.
Kian Liong ternyata sudah keluar dari Po Gwat Lauw dan disambut oleh para siwi.
“Penghianat busuk!” Tio Pan San memakinya.
Demi melihat barisan siwi berada dibawah pagoda, timbullah pikiran nekad dari Pui Ju Tek. Daripada menunggu kematian diatas pagoda, lebih baik dia terjun kebawah saja. Besar kemungkinannya tentu ada siwi yang berkepandaian tinggi akan menyanggapinya dari bawah. Tapi andaikata sampai tak ada yang menolong, diapun akan mati bersamadua orok itu.
SeCepat dapat pikiran, seCepat itu pula dia terus lonCat dari mulut jendela.
Semua orang sama. menjerit kaget. Siang Pek Ci sebat sekali terus ulurkan hui-Cao (Cakar terbang) untuk menggaet kaki Pui Ju Tek, terus ditariknya. Seorang tua lemah seperti Pui Ju Tek, mana dapat menahan tarikan itu. Seketika tubuhnya kaku, berbareng itu orok terlepas dari genggamannya/ Dua-'nya kini melayang jatuh!
Tanpa pikir lagi Tio Pan San enjot tubuhnya keluar. Dengan kepala menjulai (menjungkel) kebawah, dia ulur sebelah tangannya untuk menjambret kaki si orok, dan berbareng itu tangannya kanan menyambitkan tiga biji piauw beracun kearah batok kepala dan dada Pui Ju Tek.
Semua orang, baik kawan maupun lawan, sama menjerit kaget. Tapi selagi melayang turun itu, Tio Pan San sudah empos semangatnya. Pertama, dia tarik orok itu untuk dikempit, kemudian begitu sang kaki menginjak bumi, dia sudah gerakkan ilmu “hun Chiu” dari Thay-kek-kun, untuk menghalau serangan dari dua orang siwi yang meneryangnya. Sedang lain-lain siwipun segera maju mengepung.
Kedua saudara Siang, Thian Hong, Ciu Tiong Ing dan Bun Thay Lay, serentak lonCat kebawah untuk melindungi Tio Pan San.
Pan San melihati orok itu ternyata masih memain dengan kaki dan tangannya sembari ter-tawadua. Seolah-olah kejadian yang hampir mengambil jiwanya itu, tak dirasakannya.
Segera Keh Lok dorong Hok Gong An kemulut jendela, serunya keras-keras: “Kamu menghendaki keselamatannya apa tidak?”
Saat itu ternyata Kian Liong masih disitu. Hanya kini berada dibawah lindungan barisan siwi yang kokoh, dia tak takut lagi. Demi diketahui Hok Gong An tertawan, berobahlah wajahnya.
“Tahan, tahan!” serunya berulang-ulang.
Pasukan siwi segera mundur, sedang Ciu Tiong Ing dkk. pun tak mengejarnya.
Mengapa kaisar begitu sayang kepada Hok Gong An?
Kiranya permaisuri kaisar itu, adalah adik perempuan dari menteri besar Pok Heng. Pok Heng mempunyai isteri yang luar biasa Cantiknya. Ketika masuk keistana, wanita Cantik itu telah dapat menCuri hati Kian Liong, siapa lalu mengadakan hubungan gelap. Hasil dari perhubungan rahasia itu, ialah lahirnya Hok Gong An itu.
Pok Heng mempunyai 4 orang putera. Tiga dari mereka, diangkat menjadi huma (menantu raja). Kian Liong paling menyayangi Hok Gong An. Karena tak mengetahui latar belakangnya, Pok Heng beberapa kali mohon pada kaisar Kian Liong, supaya berkenan mengambil menantu pada Hok Gong An. Tapi dengan tersenyum, kaisar itu selalu menolak.
Kian Liong mempunyai banyak sekali putera. Tapi anehnya, dia paling sayang kepada Hok Gong An, puteranya yang tak resmi itu. Roman Hok Gong An mirip sekali dengan Tan Keh Lok, ini disebabkan keduanya itu masih ada hubungan darah antara paman dengan keponakan.
Tan Keh Lok tak mengetahui hubungan rahasia itu, tapi demi dilihatnya kaisar menjadi gelisah, dia mendapat akal bagus. Dengan menggusur Hok Gong An, dia ajak semua saudaranya turun kebawah. Demi sudah diluar pagoda, Ciu Ki segera merebut anaknya dari tangan Tio Pan San. Orok itu segera dipondong dan diCiumnya berulang-ulang seperti orang mendapat mustika yang sangat berharga.
Po Gwat Lauw yang biasanya dikitari oleh taman padang pasir yang sunyi senyap, kini merupakan medan perang. Diseberang sini rombongan HONG HWA HWE dan rombongan paderi Siao Lim Si, sedang disana tampak berjajar barisan siwi dan pasukan gi-lim-kun.
Li Khik Siu tahu isi hati kaisar, lalu tampil kemuka, katanya. “Tan-CongthoCu, lepaskan Hbk-thongleng, nanti kamipun lepaskan kalian sampai keluar kota!”
“Apa kata baginda?” tanya Keh Lok.
Muka kaisar yang kena tampar tadi, masih panas sakitnya. Maklum dia seorang kaisar yang seumur hidupnya belum pernah merasakan tamparan, apalagi yang menampar Seorang ahli silat seperti Tan Keh Lok. Namun nampak puteranya teranCam bahaya, ditahannya juga rasa sakit itu, serunya: “Kau boleh pergilah!”
“Baik, kuminta Hok-thongleng yang mengantarkan kami sampai keluar kota!” kata Keh Lok bersenyum.
Dan sebelum pergi, ketua HONG HWA HWE itu berteriak keras-keraskepada kaisar: “Rahajat di seluruh negeri selalu ingin bisa memakan dagingmu dan membeset kulitmu. Kalau kau bisa hidup seratus tahun lagi, seratus tahun itu pula kau bakal hidup dalam keCemasan. Setiap malam setandua akan mengganggu tidurmu!”
Sehabis itu, sembari menggiring Hok Gong An dan mengusung jenazah Thian San Siang Eng serta Ciang Cin, rombongan orang gagah itu segera tinggalkan istana, diiring oleh ribuan pasang mata dari barisan siwi dan gi-lim-kun yang hanya dapat mengawasi, tapi tak berani mengejar.
Tak lama setelah keluar dari istana, dua orang penunggang kuda memburunya. Itulah Li Khik Siu, siapa kedengaran berseru:
“Tan-CongthoCu, Li Khik Siu ingin membiCarakan, sesuatu.”
Ternyata kawannya yang seorang, adalah Can Tho Lam, tangan kanan Ciangkun itu.
Begitu sudah dekat Li Khik Siu berkata pula: “Baginda mengatakan, kalau Hok-thongleng dilepas tak kurang suatu apa, apa permintaanmu, baginda akan mengabulkan.”
“Hm, siapa yang masih dapat memperCajai kata-kata kaisar jahanam itu!” balas Keh Lok dengan tawar.
“Mohon Tan-CongthoCu mengatakan, biar SiaoCiang yang menyampaikan,” Li Khik Siu mengulangi permintaannya.
“Baik!” kata Keh Lok. “Pertama, baginda harus mengeluarkan uang dari kas negara untuk membangun lagi gereja Siao Lim Si. ArCadua Buddha disitu, harus lebih besar dari dahulunya. Pembesardua pemerintah dilarang mengganggu gereja itu se-lama-lamanya.”
“Hal itu dapat ddilaksanakan,” sahut Li Khik Siu.
“Kedua, baginda tak boleh menindas sukudua dari daerah Hwe. Semua tawanan perang, laki atau perempuan, harus segera dilepas!”
“Itupun tak sukar,” jawab Li Khik Siu.
“Ketiga, baginda tak boleh membenci dan menangkapi anggota-anggotaHONG HWA HWE yang tersebar diseluruh negeri.”
Kali ini Li Khik Siu membisu.
“Hm, jadi memang mau menangkapi? Apa dikira kami jeri? Pan-lui-Chiu Bun-suya ini, bukankah pernah mengeram ditempat markas Li-Ciangkun?” jengek Keh Lok.
“Baiklah, aku memberanikan diri untuk menyanggupi permintaan itu,” buru-buru Li Khik Siu menjawab. “Nah, Tahun muka pada hari ini, kalau tiga hal tadi sudah dilaksanakan sungguh-sungguh, Hok-thongleng tentu akan kuantarkan pulang” kata Keh Lok akhirnya.
“Baiklah kalau begitu”, sahut Li Khik Siu, lalu berpaling kearah Hok Gong An: “Hok-thongleng, Tan-CongthoCu adalah seorang yang berbudi tinggi, harap kau yangan kuatir. Bagindapun tentu akan melaksanakan ketiga hal tadi, mungkin juga Tan-CongthoCu akan mengantar kau pulang lebih lekas”.
Hok Gong An diam saja.
Teringat akan peristiwa penyerangan Li Khik Siu dan Pek Cin terhadap penjaga paseban Swi Seng Tian, Tan Keh Lok menduga, tentu disitu terselip rahasia apa-apa. Maka pura-pura ia menggertak: “Katakan kepada baginda, peristiwa di Swi Seng Tian, kami telah mengetahuinya. Kalau dia berani main gila lagi, awasiah!”
Li Khik Siu terkejut, dan terpaksa mengiakan.
“Li-Ciangkun, nah, selamat tinggal! Kalau nanti kau naik pangkat dan menjadi kaja, harap yangan menindas pada rahajat!” akhirnya Tan Keh Lok memberi hormat dan meminta diri.
“Ah, CongthoCu,' SiaoCiang tentu tak berani,” buru-buru Li Khik Siu membalas hormat.
Li Wan Ci dan le Hi Tong berdua turun dari kudanya menghampiri dan berlutut dihadapari Ciangkun itu. Hati Li Khik Siu seperti dibetot, karena tahu dia bahwa kedepannya dia bakal tak bertemu lagi dengan puterinya. Katanya dengan suara sember: “Anak, jagalah diri baik-baik !”
Lalu kudanya diputar, terus kembali kearah istana, tinggalkan Wan Ci numprah tersedu-sedu. Hi Tong pimpin bangun idterinya itu. Sampai dipintu kota, Seng Hiap, Jun Hwa dkk. sudah siap menyambut. Atas perintah Hok Gong An, pintu dibuka. Hampir jam 4 pagi, barulah rombongan orang-orang gagah itu keluar dari kota raja.
Rembulan sisir tampak diantara aliran sebuah sungai. Didekat situ tampak sebuah kuburan, dimana ada beberapa orang tengah menyanyi dan menangis. Mereka menyanyikan lagu berkabung dari suku Ui. Tan Keh Lok dan Ceng Tong buru-buru turun dari kudanya, dan bertanya: “Kamu sedang berkabung untuk siapa?”
Seorang tua Ui dengan berCucuran air mata, menyahut: “Hiang Hiang KiongCu!”
“Hiang Hiang KiongCu dimakamkan disini?” tanya Keh Lok dengan terkejut.
Menunjuk kepada sebuah kuburan baru yang masih belum kering, orang itu menyahut pula: “Ya, itulah!”
“Tak boleh kita biarkan adik dikubur disini!” tiba- Ceng Tong menangis.
“Benar, ia senang akan Telaga Warna didalam perut gunung Sin-nia. Sering ia mengatakan: 'aku akan merasa bahagia kalau dapat berada disini selama-lamanya'. Kita pindahkan jenazahnya kesana saja!” kata Keh Lok.
“Siapa kalian ini?” tanya orang tua Ui tadi.
“Aku adalah Cici dari Hiang Hiang KiongCu!” sahut sigadia.
“Ah, kau tentu Chui-ih-wi-sam, aku dulu menjadi anak buah dari regu kedua pasukan Pek Ki, pernah bertempur dibawah perintahmu,” tiba-tiba seorang Ui lain berseru.
Begitulah orang-orang Ui dan orang-orang gagah HONG HWA HWE dibantu pula oleh paderidua Siao Lim Si mulai menggali. Dalam sekejap saja, terbongkarlah sudah makam itu. Ketika papan batu yang menutup lubang tempat jenazah diangkat, hawa harum menyerbak keras. Tapi untuk kekagetan orang-orang itu, mereka dapatkan lubang itu kosong melompong. Keh Lok menyuluhinya dengan obor, yang tampak hanya segumpal darah ke-biruduaan, disamping situ terletak batu giok pemberiannya kepada Hiang Hiang dulu.
“Jenazah itu ka; li sendiri yang menanamnya disini. Dan sejak itu kami terus menungguinya disini. Mengapa kini jenazah itu hilang?” juga orang-orang Ui itu menyatakan keheranannya.
“Nona itu sedemikian Cantiknya, tentulah titisan dewi. Kini ia tentu sudah kembali ketempat asalnya. Cici Ceng Tong dan CongthoCu harap yangan bersedih,” menghibur Lou Ping.
Keh Lok memungut, mainan giok itu untuk disimpannya. Diapun agak mempercajai keterangan Lou Ping itu. Tiba-tiba angin mengembus, dan bau harum kembali menyampok hidung orang-orang itu. Lewat beberapa saat kemudian, mereka menguruk kuburan itu lagi. Seekor kupudua, entah dari mana datangnya tampak terbang diatas kuburan tersebut. “Akan kutulis beberapa huruf, harap nanti kau suruh “tukang yang pandai mengukirnya diatas batu nisan dan dif pasang dimuka kuburan ini,” kata Keh Lok kepada siorang tua tadi.
Cepat Sun Hi mengambil dua potong emas untuk diserahkan kepada orang1 Ui itu. Lalu diambilnya kertas dan alat tulis. Setelah merenung sejurus, mulailah Keh Lok menulis sebuah sjair:
Penderitaan yang hebat, hati yang berkabut sesal, berakhirlah nyanyian merdu, susutlah sang rembulan. Didalam kota nan indah, terdapat segumpal darah kemilau. Sesaat kilau pudar, sesaat darah lenyap. Namun ban harum semerbak senantiasa! Benarkah gerangan dia? Menjelma seekor kumis.
Setelah mengheningkan Cipta sampai sekian lama, barulah rombongan orang-orang gagah itu berangkat kearah barat.
Matahari bersinar gilang gemilang diufuk timur. Dan sampai disini Cerita ini telah:
TAMAT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar