Jumat, 23 Maret 2012

Medali Wasiat 19

Jilid 19

Sesudah merebah di tempatnya, Boh-thian merasa jantungnya masih berdebar-debar. Selang sejenak, tiba-tiba terdengar si Ting Tong lagi berseru pula, “Ai, Yaya, mengapa aku telah merangkul badanmu? Tadi ... tadi aku mengimpi buruk seakan-akan Engkoh Thian telah kau pukul hingga mati, kumohon engkau suka mengampuni jiwanya dan engkau tidak mau. Tapi syukurlah itu hanya dalam impian saja.”

Boh-thian menjadi agak lega, pikirnya, “Ting-ting Tong-tong sungguh pintar berdusta, rupanya khawatir Yaya mencurigai diriku, maka dia telah mengarang omongan kosong tentang mimpi segala untuk menutupi kejadian tadi.”

Tapi lantas terdengar Ting Put-sam sedang menjawab, “Apakah kau mimpi atau tidak, pendek kata bila hari sudah terang tanah, maka genaplah batas waktu sepuluh hari. Tinggal melihat dia dalam hari terakhir dapat mengalahkan Pek Ban-kiam atau tidak.”

“Ai, kuyakin Engkoh Thian pasti bukan seorang sinting,” kata Ting Tong sambil menghela napas.

“Ya, hati nuraninya sungguh harus dipuji,” sahut Ting Put-sam. “Orang yang berhati nurani baik adalah orang tolol, orang sinting, pantas kalau mampus. Ha, dengan Hou-jiau-jiu memegang Leng-tay-hiat dan dengan Giok-li-cui-ciam mencengkeram Koan-ki-hiat, ai, sungguh akal yang bagus, sungguh tipu yang baik.”

Ucapan Ting Put-sam ini sekaligus membikin kaget baik Ting Tong yang berada di dalam kamar maupun Boh-thian yang berada di buritan. Sungguh susah dipahami dari manakah sang kakek mengetahui rencana mereka itu?

Masih mendingan si Boh-thian yang tidak tahu apa-apa, sebaliknya Ting Tong sampai berkeringat dingin, pikirnya, “Kiranya Yaya sudah mengetahui apa yang akan kulakukan, jika demikian diam-diam tentu beliau sudah berjaga-jaga. Untunglah Engkoh Thian tidak jadi turun tangan. Namun susah dibayangkan juga hukuman apa yang akan dijatuhkan Yaya kepadaku?”

Di sebelah sana Ciok Boh-thian percaya bahwa besok pagi Ting Put-sam benar-benar akan membunuhnya, dengan seenaknya saja ia terpulas lagi dengan nyenyaknya.

Menjelang pagi, sekonyong-konyong terdengar suara orang ribut-ribut di daratan sana. Ada orang sedang berteriak, “Itu dia, di sini orangnya!” lalu ada yang menanggapi, “Ya, betul! Itulah kepalanya.” – “Hayo, tangkap, jangan sampai siluman tua itu meloloskan diri!”

Waktu Boh-thian bangun berduduk, ia lihat di tepi sungai ada puluhan orang dengan penerangan obor sedang berlari-lari ke samping perahu sambil membentak, “Di mana siluman tua itu? Hayo, hendak lari ke mana siluman tua yang membikin celaka manusia itu?”

Rupanya Ting Put-sam juga terjaga bangun oleh suara ribut-ribut itu, segera ia keluar dari kamar perahu dan membentak, “Kurang ajar! Kalian ribut-ribut apa di sini dan mengganggu tidurnya tuan besarmu?”

“Nah, inilah dia! Inilah silumannya! Lekas semprot!” teriak seorang laki-laki.

Segera dari belakang laki-laki itu maju ke depan dua kawannya yang membawa alat semprot yang terbuat dari bumbung bambu, dengan mengincar ke arah Ting Put-sam segera mereka menyemprotkan air darah.

Berbareng itu orang-orang yang berada di tepi sungai sana serentak bersorak, “Nah, kena dia. Darah anjing hitam telah tepat mengenai siluman tua itu, dia tak bisa menghilang lagi!”

Akan tetapi semprotan darah anjing itu mana dapat mengenai tubuh Ting Put-sam? Mendadak orang tua itu meloncat ke atas, pikirnya dengan murka, “Dari manakah datangnya orang-orang gila ini? Masakah aku dianggap siluman dan hendak disemprot dengan darah anjing hitam?”

Biasanya, biarpun orang lain tidak mengganggunya, asal dia merasa gatal tangan, setiap saat dia juga suka membunuh orang, apalagi sekarang, tanpa sebab orang lain berani mengganggunya, keruan Ting Put-sam menjadi tambah murka dan tidak kenal ampun. Begitu tubuhnya menurun kontan kedua lelaki yang membawa alat semprot tadi kena ditendang mencelat menyusul tangannya menghantam pula, tanpa ampun lagi lelaki yang pertama tadi juga terpental dan mati seketika di tepi sungai.

Ketika Ting Put-sam hendak mengumbar angkara murkanya lagi, sekonyong-konyong dari belakang terdengar Ting Tong mendengus padanya, “Yaya, Ce-jit-pu-ko-sam (satu hari tidak lebih tiga)!”

Ting Put-sam tertegun. Saking gusarnya sampai dia hampir-hampir lupa kepada sumpahnya sendiri, yaitu menurut julukannya yang menyatakan satu hari takkan membunuh orang lebih dari tiga. Maka serangannya yang hampir dilontarkan lagi itu lantas dibatalkan.

Orang-orang itu ketakutan setengah mati, serentak mereka berteriak-teriak dan lari sipat kuping. Hanya dalam sekejap saja keadaan menjadi sunyi kembali meninggalkan tiga sosok tubuh yang tak bernyawa, obor pun terlempar di sana-sini tak terurus.

Segera Ting Put-sam berkata kepada si tukang perahu, “Lekas berangkat, kalau kedatangan orang lagi aku bisa kewalahan membunuh mereka!”

Dengan tangan gemetar si tukang perahu lantas mengangkat galah dan menolak perahunya ke tengah sungai, lalu meluncurlah perahu itu ke depan. Darah anjing yang tidak mengenai tubuh Ting Put-sam tadi telah menyemprot ke dalam perahu sehingga menimbulkan bau anyir busuk.

Tiba-tiba Ting Put-sam menegur si Ting Tong, “A Tong, bukankah kau yang main gila dalam peristiwa ini? Sebab apa kau berbuat demikian?”

“Yaya,” sahut Ting Tong dengan tertawa, “kau pegang janji atau tidak terhadap apa yang telah kau ucapkan?”

“Bilakah aku pernah mengingkar janji?” sahut Ting Put-sam.

“Bagus!” kata Ting Tong. “Kau mengatakan bahwa habis sepuluh hari bila Engkoh Thian tidak mengalahkan orang she Pek itu, maka Engkoh Thian segera akan kau bunuh. Sekarang adalah hari kesepuluh, terang dia tak dapat menemukan orang she Pek itu, akan tetapi tadi kau sudah genap membunuh tiga orang.”

Ting Put-sam menjadi melengak, semprotnya kemudian, “Budak setan, kiranya Yaya telah tertipu oleh muslihatmu.”

Ting Tong sangat senang, dengan tersenyum-senyum ia berkata, “Ting-samya kita biasanya paling pegang janji, kau mengatakan akan membunuh Engkoh Thian pada hari terakhir ini, akan tetapi kau sudah membunuh tiga orang, orang keempat ini tentulah tak boleh kau bunuh lagi. Yaya, jikalau kau tidak dapat membunuh dia, untuk seterusnya kau pun tidak boleh membunuh dia lagi. Kulihat cucu menantumu ini toh bukan seorang tolol sungguh-sungguh, nanti kalau kesehatannya sudah pulih kembali, dengan sendirinya ilmu silatnya juga akan maju lebih pesat, pendek kata pasti takkan membikin malu padamu.”

Mendadak Ting Put-sam membanting kakinya sehingga papan geladak perahu itu terinjak satu lubang, lalu teriaknya dengan gusar, “Tidak, tidak bisa! Sekarang juga Ting Put-sam sudah merasa malu karena ditipu oleh seorang budak setan seperti kau.”

“Aku adalah cucu perempuanmu, kita adalah sekeluarga, kenapa bicara tentang membikin malu apa segala? Toh kejadian ini takkan kukatakan kepada orang luar.”

“Tidak bisa. Karena aku ditipu, maka hatiku tetap tidak senang. Apakah kau akan katakan kepada orang luar atau tidak bukanlah soalnya.”

Mendengar percakapan kedua kakek dan cucu itu, baru sekarang Boh-thian tahu duduknya perkara. Kiranya orang-orang yang datang membikin ribut dan menyemprot Ting Put-sam dengan darah anjing hitam itu adalah permainan si Ting Tong yang sengaja didatangkan agar sang kakek membunuh orang, bila sudah terpenuhi sumpah membunuh tiga orang dalam sehari, maka orang tua itu tidak lagi membunuh dia.

Begitulah, maka ketika melihat Ting Tong berjalan ke buritan dengan tersenyum simpul segera Boh-thian berkata, “Ting-ting Tong-tong, untuk menolong jiwaku, sebaliknya kau telah korbankan tiga jiwa yang tidak berdosa, bukankah ini ter ... terlalu kejam?”

Tiba-tiba Ting Tong menarik muka, sahutnya, “Kematian mereka itu adalah gara-garamu, mengapa aku yang disalahkan?”

“Gara-garaku?” Boh-thian mengulangi dengan bingung.

“Mengapa tidak? Bukankah kita sudah merancang dengan baik, tapi sampai detik terakhir kau tidak berani turun tangan. Kalau tidak, tentu kita berdua sudah lolos dengan selamat dan tidak perlu mengorbankan tiga jiwa orang yang tak berdosa itu.”

Boh-thian pikir apa yang dikatakan si Ting Tong juga ada benarnya, seketika ia menjadi tak bisa bicara pula.

“Hahahaha! Dapat sekarang, dapat!” demikian tiba-tiba terdengar Ting Put-sam berseru dengan bergelak tertawa, “Hei, bocah she Ciok, Yaya akan mencukil matamu dan akan memotong kedua tanganmu supaya kau mati tidak dan hidup sempurna juga tidak, tapi akan menjadi seorang cacat. Asal aku tidak mencabut nyawamu, maka aku tak dapat dianggap melanggar sumpahku.”

Boh-thian dan Ting Tong terkejut mendengar ucapan itu. Sebaliknya makin dipikir Ting Put-sam makin senang, berulang-ulang ia berseru, “Ya, akal bagus, akal bagus! Aku takkan membunuh kau, tapi akan membikin dia menjadi manusia bukan manusia dan setan pun bukan setan. Nah, A Tong, cara demikian tentulah boleh bukan?”

Ting Tong menjadi susah mendebatnya, terpaksa ia menjawab, “Hari kesepuluh ini toh belum berakhir, boleh jadi sebentar lagi akan bertemu dengan Pek Ban-kiam dan sekali gebrak nanti mungkin Engkoh Thian dapat mengalahkan dia.”

“Hahaha! Memang betul juga!” seru Ting Put-sam sambil terbahak-bahak. “Urusan kita ini dilakukan dengan adil, maka bolehlah kakek menunggu sampai tengah malam nanti baru turun tangan.”

Ting Tong menjadi serbasusah dan tak dapat menemukan sesuatu akal untuk menyelamatkan Boh-thian dari kesukaran ini. Yang paling lucu adalah justru Boh-thian sendiri tidak sadar kalau dirinya sedang terancam elmaut sebaliknya ia malah tanya kepada Ting Tong, “Eh, Ting-ting Tong-tong, sebab apakah kau sedih, apakah ada kesukaran?”

“Tidakkah kau mendengar Yaya mengatakan akan mencukil matamu dan memotong kedua tanganmu?” omel Ting Tong dengan mendongkol.

“Ah, Yaya hanya bergurau saja untuk menakut-nakuti kau, kenapa kau anggap sungguh-sungguh?” ujar Boh-thian. “Apa sih gunanya dia mencukil mataku dan memotong tanganku?”

Dari dongkol Ting Tong menjadi gemas, pikirnya, “Dasar tolol dan sinting, kalau selama hidup ini aku ikut dia, rasanya juga tidak menyenangkan. Jika Yaya berkeras hendak membunuh dia, maka biarpun dia mampus saja sudah.”

Tapi lantas teringat olehnya bahwa sang kakek sekarang takkan membunuh pemuda itu lagi, sebaliknya akan mencukil mata dan memotong kedua tangannya. Apabila dirinya kelak mendadak berubah pikiran dan terkenang pula kepada kekasih ini, padahal kedua mata dan tangannya tentu tak bisa dipulihkan kembali. Lalu apa gunanya aku bersuamikan seorang yang cacat demikian?

Begitulah Ting Tong termenung-menung memandangi bayangan sendiri yang terapung di permukaan air bersama bayangan Ciok Boh-thian, makin lama makin memanjang mereka, ternyata tanpa terasa hari sudah makin sore, sang surya sudah makin condong ke barat. Dalam kesalnya tiba-tiba terpikir pula oleh Ting Tong, “Daripada suamiku yang baik-baik dibikin cacat oleh Yaya, adalah lebih baik aku sendiri yang mengerjakan dia saja.

Ketika berpaling, dilihatnya duduk Ciok Boh-thian sedang membelakanginya, mendadak ia menjulurkan kedua tangannya terus mencengkeram ke “Leng-tay-hiat” di punggung dan “Ko-an-ki-hiat” di bagian pinggang, jurus-jurus lain yang digunakan adalah Hou-jiau-jiu dan Giok-li-cui-ciam. Memangnya Ciok Boh-thian tidak berjaga-jaga, keruan ia lantas kena dibekuk dengan mudah, seketika ia tak bisa berkutik.

Sebaliknya karena bekerjanya tenaga dalam Ciok Boh-thian, maka Ting Tong juga tergetar dan terhuyung-huyung ke belakang, hampir-hampir saja kecemplung ke dalam sungai. Cepat ia memegangi atap kolong perahu dan memaki, “Yaya segera akan mencukil matamu dan memotong kedua tanganmu, orang cacat demikian kalau hidup di dunia ini andaikan tidak membikin malu kepada Yaya juga aku si Ting-ting Tong-tong yang merasa tiada muka untuk berjumpa dengan orang. Maka tidak perlu Yaya yang turun tangan, biarlah aku sendiri yang mencukil kedua biji matamu.”

Segera ia mengambil seutas tambang layar di buritan, lalu kaki dan tangan Boh-thian diringkusnya dengan kencang, bahkan ia terus membelebat Ciok Boh-thian mulai dari bahu sehingga sampai bagian kaki, ia ikat badan pemuda itu dengan tambang layar itu selingkar demi selingkar sehingga seluruhnya paling sedikit ada 50-60 lingkar, sampai akhirnya badan Ciok Boh-thian mirip sebuah lemper raksasa.

Mestinya orang yang dicengkeram Hiat-to penting seperti Ciok Boh-thian sekarang akan susah membuka suara di dalam waktu satu-dua jam. Tapi dasar tenaga dalam Boh-thian mahakuat, meski kaki dan tangannya tak bisa bergerak, tapi dia masih dapat bicara, maka katanya, “He, Ting-ting Tong-tong, apakah kau bergurau padaku?”

Walaupun demikian dia bertanya, tapi demi tampak sikap si Ting Tong yang galak dan bengis itu, diam-diam ia pun tahu gelagat jelek maka matanya telah memantulkan sinar mata yang mohon dikasihani.pTapi Ting Tong lantas menendang satu kali di pinggang pemuda itu dengan gemas, dampratnya, “Hm, kau sangka aku bergurau padamu? Kematianmu sudah di depan mata, tapi kau masih bermimpi? Huh, orang tolol sebagai kau biarpun dicincang menjadi perkedel juga pantas.”

“Sret”, mendadak ia lolos goloknya, ia gosok-gosok beberapa kali di pipi Ciok Boh-thian seperti orang yang sedang mengasah senjata.

“Ting-ting Tong-tong, untuk selanjutnya aku pasti akan turut kepada segala ucapanmu, hendaklah kau jangan membunuh aku,” demikian Boh-thian memohon.

Tapi Ting Tong menjawab dengan sengit, “Hm, mestinya aku bermaksud menolong jiwamu, tapi kau justru tidak turut kepada pesanku, maka kau sendirilah yang cari mampus dan tak perlu menyalahkan orang lain. Kalau sekarang aku tidak membunuh kau, tentu nanti juga kau akan dibunuh Yaya. Kau adalah suamiku, bila harus dibunuh biarlah aku sendiri saja yang melakukan, kalau orang lain yang membunuh suamiku, hidupku tentu juga akan merana selamanya.”

“Ampunilah diriku, bolehlah aku tidak menjadi suamimu,” mohon Boh-thian.

“Upacara nikah juga sudah berjalan, masakah kau dapat membatalkan menjadi suamiku?” sahut Ting Tong. “Pendek kata, lebih baik kau tutup mulut saja, kalau rewel-rewel lagi segera kupenggal kepala anjingmu ini.”

Boh-thian menjadi ketakutan dan tidak berani bersuara pula.

Maka terdengar Ting Put-sam telah berkata dengan tertawa, “Haha, bagus, bagus! Cara demikianlah baru sesuai sebagai cucu perempuannya Ting-losam. Nah, boleh lekas turun tangan saja, sekali bacok bikin dia menjadi dua potong sudah.”

Si tukang perahu sampai gemetar ketakutan ketika melihat si Ting Tong mengangkat golok hendak membunuh orang, sampai-sampai kemudi yang dipegangnya menjadi menceng, perahunya menjadi oleng.

Kebetulan pada saat itu dari depan sedang meluncur tiba sebuah perahu kecil mengikuti arus sungai, karena olengnya perahu yang ditumpangi Ting Put-sam itu, segera kedua kendaraan air itu akan bertubrukan. Maka terdengar si tukang perahu di atas perahu kecil sana telah berteriak-teriak khawatir, “Hai, belokkan kemudimu! Belokkan!”

Dalam pada itu sang surya sudah hampir menghilang di ufuk barat, cahaya matahari senja menyorot di atas golok yang dipegang si Ting Tong sehingga menimbulkan sinar gemerdep yang menyilaukan matanya Ciok Boh-thian. Mendadak tangan si Ting Tong yang putih halus itu mengayun ke bawah, “plok”, golok nona itu kena membacok di atas geladak perahu yang cuma beberapa senti di sisi kepala Ciok Boh-thian.

Begitu goloknya membacok papan geladak perahu, segera Ting Tong lepas tangan, dengan cepat ia angkat tubuh Ciok Boh-thian terus dilemparkan sekuat-kuatnya menuju ke kolong perahu kecil yang saat itu menyerempet lewat di sebelahnya.

Melihat cucu perempuannya mendadak main gila, dengan gusar Ting Put-sam lantas membentak, “Apa yang kau lakukan!” Cepat Ting Put-sam memburu keluar dan segera hendak menjambret tubuh Ciok Boh-thian.

Namun sudah terlambat. Arus sungai teramat kencang, kedua perahu dalam sekejap saja sudah berpisah belasan meter jauhnya, betapa pun tinggi Ginkangnya Ting Put-sam juga tak dapat melompat ke atas perahu kecil itu.

Dengan gusar ia menampar Ting Tong sekali sambil berteriak kepada si tukang perahu, “Lekas putar kemudi, putar balik ke sana dan kejar, lekas!”

Tapi arus sungai Tiangkang teramat deras, untuk memutar kemudi dalam sekejap itu bukanlah pekerjaan yang mudah.

Apalagi perahu kecil tadi meluncur dengan cepat mengikuti arus, makin lama makin cepat dan makin jauh sehingga susah dikejar lagi.

Ciok Boh-thian yang tubuhnya diringkus kencang-kencang dengan tambang layar, ketika tubuhnya d lemparkan si Ting Tong, ia merasa badannya berputar setengah lingkaran di atas udara, lalu melayang ke depan, waktu turun mukanya menghadap ke bawah, ia merasa di mana badannya jatuh adalah suatu tempat yang empuk dan tidak terasa sakit, hanya saja keadaan di situ gelap gulita, segala apa tidak kelihatan.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan orang yang tertahan, Boh-thian sendiri tidak dapat bergerak, maka ia pun tidak berani membuka suara. Ia diam saja sampai sekian lamanya, perlahan-lahan hidungnya mengendus bau harum, rasanya seperti kembali berada di atas tempat tidur di dalam kamarnya di markas Tiang-lok-pang.

Benar juga, sesudah tenangkan diri, ia lantas merasa dirinya menggeletak di atas kasur, mukanya terbenam di atas bantal, di samping bantal terasa ada kepala seorang lain lagi yang berambut panjang, nyata seorang wanita adanya. Keruan Boh-thian terperanjat dan menjerit.

Sekonyong-konyong Boh-thian merasa belakang lehernya ditempel sesuatu yang dingin dan rada sakit pula, ia tahu ada orang telah memasang senjata tajam di atas lehernya. Menyusul lantas terdengar suara seorang wanita telah berkata, “Siapa kau? Apa kau adalah anak muridnya siluman tua Ting Put-si?”

“Aku ... aku ....” sahut Boh-thian dengan terputus-putus, ia sendiri tidak tahu cara bagaimana harus menjawab.

Wanita itu menjadi gusar, dampratnya pula, “Kau berani menyusup ke dalam perahu kami, tentu kau bukan manusia baik-baik, biarlah nona binasakan kau saja.”

Habis berkata, segera ia tambahkan tenaga tangannya sehingga Boh-thian merasa belakang lehernya kesakitan.

“Ti ... tidak, bukan aku sendiri yang datang ke sini, tapi ... tapi orang yang melemparkan aku kemari,” seru Boh-thian.

“Hayo, lekas ... lekas keluar, mengapa kau menyusup ke dalam ke dalam selimutku ini?” kata wanita itu.

Waktu Boh-thian coba-coba merasakan, benar juga di depan dadanya adalah kasur, di atas punggung ada selimut, mukanya menindih bantal, malahan di dalam kolong selimut terasa masih hangat-hangat.

Kiranya lemparan Ting Tong tadi dengan tepat telah membikin Boh-thian menyusup ke dalam kolong perahu kecil ini terus masuk ke dalam kolong selimut malah, yang paling runyam adalah dari nada ucapan si wanita ini agaknya kolong selimut ini adalah miliknya.

Coba kalau Boh-thian tidak diringkus dan dapat bergerak, tentu sejak tadi dia sudah melompat bangun dan berlari keluar. Celakanya sekarang dia tertutuk Hiat-to yang penting dan tak dapat bergerak sama sekali. Maka terpaksa ia hanya berkata, “Aku tidak dapat bergerak, aku mohon dengan sangat padamu, silakan kau pindahkan aku keluar saja, dorong aku keluar juga boleh, ya, depak aku keluar juga baik.”

Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita lain yang tua berkata di belakang sana, “Ngaco-belo apa keparat itu? Lekas bacok mampus dia saja!”

“Nenek, kalau bunuh dia, tentu di dalam kolong selimutku akan berlumuran darah, lantas ... lantas bagaimana?” demikian sahut wanita yang semula.

“Setan alas dari manakah dia?” kata si wanita tua dengan gusar. “He, keparat kau, lekas kau merangkak keluar!”

“Aku benar-benar tidak dapat bergerak,” sahut Boh-thian. “Coba kalian lihat sendiri, aku telah dicengkeram orang bagian Leng-tay-hiat dan Ko-an-ki-hiat, sekujur badan diikat kencang pula dengan tali, untuk bergerak sedikit saja tidak dapat. Ai, ini nona atau nyonya, silakan lekas bangun saja, kita tidur di dalam satu kolong selimut, rasanya me ... memang kurang pantas.”

“Nyonya apa? Aku masih gadis, tahu!” semprot wanita pertama tadi. “Aku sendiri pun tidak dapat bergerak. Nenek, hendaklah engkau mencarikan suatu akal bagiku saja, orang ini memang benar-benar terikat kencang dengan tali-tali.”

“Ya, Lothaythay (nyonya tua), aku pun mohon padamu, tolonglah kau menyeret aku keluar,” kata Boh-thian. “Ai, aku ... aku telah membikin susah nona ini, sungguh aku merasa ... merasa tidak enak.”

“Setan alas, masih bicara muluk-muluk,” damprat si nenek dengan gusar.

“Nenek, bolehkah kita suruh si tukang perahu menyeretnya keluar saja,” usul si nona.

“Tidak, tidak bisa, kalau tukang perahu itu sampai masuk ke sini, tentu jiwa kita akan melayang,” sahut si nenek.

Diam-diam Boh-thian membatin, “Jangan-jangan Lothaythay dan nona ini pun diringkus orang dan tak bisa berkutik seperti diriku?”

Rupanya nenek itu menjadi gusar dan gelisah, tiada hentinya ia memaki, “Setan alas, keparat, mengapa kau tidak pilih perahu yang lain, tapi justru cari mampus ke sini? Sudahlah, A Siu, bunuh saja dia!”

“He, jangan, jangan! Darahku sangat kotor, tentu akan merusak kolong selimut yang harum ini. Pula ... pula kalau di kolong selimut ini terdapat mayat, tentu tidaklah baik,” demikianlah Boh-thian berseru.

“Uh,” hanya terdengar suara demikian, lalu Boh-thian merasa golok yang mengancam di belakang lehernya telah terangkat pergi. Ia menjadi girang, pikirnya, “Rupanya nyali nona cilik ini sangat kecil, biarlah aku menakut-nakuti dia lagi.”

Maka ia lantas berkata pula, “Sekarang aku tak bisa berkutik, jika kau membunuh aku, tentu aku akan berubah menjadi mayat hidup. Wah, betapa menakutkan bila kau tidur bersama mayat hidup. Sekarang aku tak bisa bergerak, tapi sesudah menjadi mayat hidup tentu bisa bergerak, dengan kedua tanganku yang kaku dan dingin aku akan mencekik lehermu.”

Rupanya nona itu benar-benar ketakutan atas obrolan Boh-thian itu, segera ia berkata, “Tidak, aku takkan membunuh kau! Aku takkan membunuh kau!”

Selang sejenak si nona berkata pula kepada si wanita tua, “Nenek, kita harus mencari suatu akal untuk mengeluarkan dia dari sini.”

“Ya, aku sedang berpikir, kau jangan banyak bersuara,” sahut si nenek.

Dalam pada itu hari sudah malam, di dalam kolong perahu keadaan gelap gulita. Meski Boh-thian berada di dalam selimut bersama si nona, tapi karena waktu dia dilempar masuk kebetulan menceng di samping, maka tidak sampai menyentuh badan nona itu. Dalam kegelapan sekarang dapat didengarnya suara napas si nona yang memburu, nyata nona itu sangat khawatir dan cemas.

Sampai agak lama, si nenek tetap tidak mendapatkan sesuatu akal apa-apa. Pada saat itulah mendadak dari arah sungai sana terdengar suara suitan melengking tajam yang menyeramkan.

Belum lenyap suara suitan itu, terdengarlah suara orang bergelak tertawa panjang, suaranya serak tua. Sambil tertawa orang tua itu pun berseru, “Siau-jui, aku telah tunggu kau sehari semalam, kenapa baru sekarang kau tiba?”

“Wah, celaka, nenek! Siluman tua itu telah memapak datang, lantas bagaimana tindakan kita?” tanya si nona dengan khawatir.

Si nenek mendengus sekali, katanya, “Kau jangan bersuara lagi. Aku sedang mengumpulkan tenaga, asal aku bisa bergerak sedikit saja segera aku akan ... akan terjun ke dalam sungai daripada dihina oleh siluman tua itu.”

“Jangan ... jangan, nenek,” kata si nona dengan cemas.

“Sudah kukatakan jangan bersuara, masih kau mengganggu aku lagi,” semprot si nenek. “Nanti kalau nenek terjun ke dalam sungai, kau akan ikut aku apa tidak?”

Untuk sejenak si nona merasa sangsi, akhirnya ia menjawab, “Aku ... aku akan mati bersama nenek saja.”

“Baik!” kata si nenek. Habis ini ia lantas tidak bicara lagi.

Boh-thian sendiri pernah dua kali merasakan ketika Lwekangnya “tersesat”, pikirnya, “Kiranya Lothaythay dan nona ini juga mengalami nasib seperti diriku, melatih Lwekang dan tersesat sehingga tak bisa bergerak. Celakanya pada saat ini musuhnya telah mengejar tiba, keadaan mereka benar sangat sulit.”

Dalam pada itu suara si orang tua tadi terdengar pula dari hilir sungai sana, “Sekarang boleh kau pilih, mau tanding pedang boleh, mau adu kepalan juga jadi, Ting-losi pasti akan mengiringi, kau, kita boleh bertempur tiga hari tiga malam barulah menyenangkan. Nah, Siau-jui, mengapa kau tidak menjawab?”

Dari suara orang tua itu rasanya jaraknya sekarang sudah semakin mendekat lagi. Selang tak lama, mendadak terdengar suara gemerencing rantai besi, menyusul lantas terdengar suara gedubrak yang keras, suatu benda yang berat telah jatuh di atas perahu si nenek. Kiranya dari kapal yang memapak dari depan itu telah dilemparkan sebuah jangkar berantai. Seketika Boh-thian merasa badannya miring sebelah, rupanya perahunya menjadi doyong karena tertimpa jangkar yang berat itu.

“Hei, hei! Mau apa itu?” demikian si tukang perahu berteriak-teriak kaget.

Karena miringnya perahu, badan Boh-thian lantas menggelinding ke samping, sebaliknya si nona juga lantas menggelinding dan bersandar di badan pemuda itu.

“Wah, ini ... ini ....” demikian Boh-thian ingin minta si nona jangan menempelkan tubuhnya itu, tapi segera teringat nona itu pun serupa dirinya dalam keadaan tak bisa berkutik maka kata-kata yang akan diucapkan itu lantas ditelan kembali.

Dalam pada itu terasa ada orang melompat ke atas perahu mereka, hanya sekejap saja imbangan perahu itu sudah pulih kembali.

“Siau-jui,” terdengar seorang tua tadi berkata di haluan perahu, “sekarang aku sudah datang, apakah kita akan segera bertanding?”

“Eh, jangan kau main begitu, kedua perahu bisa berjungkir semua,” seru si tukang perahu di buritan dengan khawatir.

Si orang tua menjadi gusar, “Keparat, tutup bacotmu!” Segera ia angkat jangkar tadi dan dilemparkan kembali.

Begitu dua perahu terpisah, segera terhanyut ke hilir semua mengikuti arus.

Melihat betapa hebat tenaga orang itu, jangkar besi yang bobotnya beberapa ratus kati dilemparkan kian kemari dengan seenaknya saja, keruan si tukang perahu ternganga kaget dan tak berani bersuara lagi.

“Nah, Siau-jui, aku telah berada di haluan perahumu, lekas keluar,” demikian kata si kakek pula dengan tertawa. “Aku takkan tertipu olehmu, aku tak mau masuk ke kolong perahu yang mungkin telah kau siapkan perangkap.”

Mendengar itu Boh-thian dan kedua wanita berada di dalam kolong perahu itu menjadi lega hatinya. Mereka pikir kalau kakek itu tidak mau masuk ke kolong perahu, itu berarti dapat mengulur tempo lebih lama lagi.

Tapi Boh-thian lantas teringat lagi bila nanti si wanita tua sudah dapat mengumpulkan sedikit tenaga saja tentu akan terjun ke dalam sungai bersama si nona cilik ini. Walaupun Boh-thian belum pernah kenal kedua wanita itu, bahkan si nenek berulang-ulang ingin membunuhnya, namun dasar sifat Boh-thian memang baik, ia tidak tega menyaksikan nenek dan cucu perempuan itu mati secara mengenaskan.

Kebetulan saat itu telinga si nona terletak di sisi mulutnya, segera ia membisikkannya, “Nona, kau harus minta nenekmu jangan terjun ke sungai untuk membunuh diri.”

“Dia ... dia takkan menurut, beliau pasti akan terjun,” sahut si nona dengan perlahan. Saking sedihnya air matanya lantas bercucuran.

Sekali air mata sudah bercucuran, maka susah dihentikan lagi, nona itu lantas menangis tersedu-sedu, air matanya membasahi pula pipi Boh-thian.

“Ma ... maafkan aku, air ... air mataku telah membikin kotor mukamu,” kata si nona dengan suara parau. Nyata nona ini mempunyai perangai yang sangat lemah lembut dan halus budi.

“Ai, nona jangan main sungkan-sungkan, hanya air mata saja tidak apa-apa,” sahut Boh-thian.

“Sesungguhnya aku tidak mau mati,” kata si nona pula dengan perlahan. “Tetapi orang di haluan perahu itu sangat kejam, nenek bilang lebih suka mati juga tidak sudi ditawan olehnya. O, maaf, air mataku ... ah, kenapa kau pun menangis juga?”

“Aku menjadi terharu atas tangisanmu, maka aku pun ikut-ikut menangis,” sahut Boh-thian.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang berbangkit, di pojok kolong perahu ada bayangan seorang telah berduduk.

Semula Ciok Boh-thian mestinya berada dalam keadaan tengkurap, tapi sesudah menggelinding, badannya sekarang menjadi miring. Maka waktu melihat orang itu berduduk, ia menjadi khawatir, dengan suara terputus-putus ia membisiki si nona, “Ne ... nenekmu sudah dapat bergerak dia ... dia telah berduduk.”

Nona itu berseru khawatir, segera ia bermaksud memegangi Boh-thian. Tapi dia sendiri tak bisa berkutik, bahkan satu jari saja tak bisa bergerak, maka hanya hatinya yang gelisah, tapi tak dapat berbuat lain.

Selang sejenak, terdengar Boh-thian membisikinya lagi, “Dia ... dia telah menjulurkan tangannya hendak menjambret kau.”

“Lekas ... lekas kau suruh dia jang ... jangan pegang diriku ... aku takut ....” seru si nona. Tapi pada saat itu juga punggungnya lantas terasa dicengkeram oleh sepasang tangan.

Karena tak bisa bergerak, terpaksa Boh-thian hanya berseru, “Lothaythay, jangan kau mencengkeramnya, dia tak mau mengiringi kau terjun ke dalam sungai. Tolong, tolong!”

Si kakek yang berada di haluan perahu itu menjadi heran ketika mendadak terdengar suara seorang pemuda dari dalam kolong perahu, bentaknya, “Siapa itu yang bergembar-gembor?”

Cepat Boh-thian menjawab, “Lekas kau masuk kemari, lekas tolong orang. Lothaythay tidak dapat menandingi kau, dia hendak terjun ke sungai untuk membunuh diri.”

Rupanya si kakek menjadi terkejut, segera ia menghantam sehingga atap perahu tersingkap separuh, segera tangannya mencengkeram sehingga lengan si nenek kena dipegangnya. Hawa murni si nenek yang sudah terkumpul sedikit itu lantas buyar seketika terus roboh terkulai.

Si kakek menjadi terkejut sesudah memegang nadi si nenek, cepat ia tempelkan tangannya ke punggung si nenek, katanya dengan khawatir, “He, Siau-jui, apakah kau melatih Lwekang dan sesat jalannya? Mengapa tidak kau katakan sejak tadi, tapi sengaja bertahan.”

“Lepaskan diriku, jangan kau pedulikan diriku! Lekas enyah dari sini!” seru si nenek dengan napas terengah-engah.

“Denyut nadimu tak teratur, keadaanmu sangat berbahaya, kalau tidak segera ditolong mungkin ... mungkin bisa cacat untuk selamanya. Biarlah aku membantu kau,” demikian kata si kakek.

Tapi si nenek menjawab dengan gusar, “Tidak, tidak perlu bantuanmu! Jika kau sentuh badanku lagi, biarpun aku tak bisa bergerak, segera juga aku akan menggigit putus lidahku untuk membunuh diri.”

Si kakek kenal watak si nenek yang keras, berani berkata dan berani berbuat. Terpaksa ia membujuknya pula, “Denyut nadimu di bagian tangan semuanya kacau tak keruan, untuk ini ....”

“Kau tak perlu urus,” sahut si nenek. “Kau berkeras ingin menangkan diriku. Sekarang aku melatih Lwekang dan tersesat, bukankah menjadi lebih baik bagimu dan terpenuhi cita-citamu?”

“Kita jangan bicara soal ini,” ujar si kakek. “A Siu, kenapakah kau? Lekas kau menghibur nenekmu. Eh, ken ... kenapa kau tidur di situ bersama seorang lelaki? Apakah dia kekasihmu?”

“Bu ... bukan!” A Siu dan Boh-thian menjawab berbareng. “Kami tak bisa bergerak sama sekali.”

Si kakek merasa heran dan geli pula. Segera ia seret Ciok Boh-thian keluar.

Tak terduga seluruh badan Boh-thian terikat dengan kencang oleh tambang sehingga kaku lempeng, pinggang tak bisa membungkuk, tangan tak bisa melengkung, karena diseret, seketika tubuhnya terangkat menegak ke atas sehingga membuat kaget si kakek. Sesudah jelas duduknya perkara, kakek itu terbahak-bahak geli, katanya, “A Siu, apa kau kelaparan, maka kau menyimpan sebuah lemper raksasa di kolong selimutmu?”

“Bukan,” sahut si A Siu cepat,” dia ... dia melayang masuk sendiri dari luar dan bukan ... bukan aku yang menyimpannya.”

“Kau sendiri juga tidak bisa bergerak, apakah kau pun ingin menjadi lemper raksasa?” kata si kakek.

Mendadak si nenek membentak dengan bengis, “Jangan kau coba menyentuh A Siu atau segera aku mengadu jiwa dengan kau.”

“Baik, aku takkan menyentuh dia,” sahut si kakek. Lalu ia menoleh kepada si tukang perahu dan berkata, “Juru mudi, putar haluan, pasang layar, kalau aku suruh kau berhenti harus segera berhenti!”

Si tukang perahu tidak berani membangkang, terpaksa ia menurut segala perintah itu.

“Apa yang hendak kau lakukan?” seru si nenek dengan gusar.

“Aku akan membawa kau ke Pik-lwe-san untuk merawat kau dengan baik-baik,” sahut si kakek.

“Tidak, mati pun aku takkan ke Pik-lwe-san (gunung keong hijau),” bantah si nenek. “Aku toh tidak kalah padamu, mengapa kau memaksa aku datang ke sarang anjingmu?”

“Bukankah kita sudah berjanji akan bertanding di sungai Tiangkang ini. Kalau aku kalah, aku akan datang ke rumahmu dan menyembah padamu. Sebaliknya kalau kau kalah, kau harus ikut ke rumahku. Sekarang aku tak peduli apakah kau melatih Lwekang dan tersesat atau kau kalah bertempur, pendek kata sekali ini kau harus ikut aku ke Pik-lwe-san.”

“Tidak, aku tidak mau ke sana! Tidak ....” baru sekian si nenek menjerit dengan murka, mendadak napasnya menjadi sesak, orangnya lantas pingsan.

“Hahaha! Mau tidak mau kau harus ikut aku ke sana,” kata si kakek dengan tertawa. “Hari ini sudah terang kau tak berkuasa lagi.”

“Eh, kalau dia tidak mau pergi, mana boleh kau memaksa orang?” demikian Boh-thian telah menimbrung.

Si kakek menjadi gusar, “Siapa suruh kau ikut-ikut kentut?” bentaknya, berbareng ia menampar ke muka Ciok Boh-thian.

Tampaknya pemuda itu pasti akan puyeng tujuh keliling kena tempelengan itu, boleh jadi giginya bisa rontok pula semua. Tapi sekilas tiba-tiba si kakek melihat di pipi Boh-thian terdapat sebuah cap tangan yang hitam gosong, ia menjadi tertegun dan menahan pukulannya. Katanya dengan tertawa, “Aha, lemper raksasa, kukira siapa yang meringkus kau sedemikian rupa, kiranya adalah perbuatan aku punya cucu keponakan perempuan yang nakal itu. Bekas tamparan di mukamu ini bukankah adalah pukulan cucu keponakan perempuan?”

“Cucu keponakan perempuanmu?” Boh-thian menegas dengan bingung.

“O, barangkali kau belum tahu siapa diriku ini? Aku adalah Ting Put-si, cucu keponakan perempuanku ialah ....”

“Ah, benar, Ting-ting Tong-tong adalah cucu keponakan perempuanmu,” demikian sela Boh-thian. “Ya, memang si Ting-ting Tong-tong yang telah menampar pipiku ini. Dia pula yang telah meringkus aku dengan tali tadi.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar