Jumat, 23 Maret 2012

Medali Wasiat 20

Jilid 20

“Hahahaha! Memangnya aku sudah menduga di dunia ini selain si budak cilik A Tong itu tiada anak perempuan yang demikian nakalnya,” kata Ting Put-si dengan tertawa terpingkal-pingkal. “Ehm, bagus! Sebab apakah dia meringkus kau sekencang ini?”

“Kakeknya hendak membunuh aku, katanya ilmu silatku terlalu rendah, aku dikatakan tolol dan sinting,” tutur Boh-thian.

“Hahahaha!” Ting Put-si terpingkal-pingkal pula sampai menungging dan memegangi perutnya yang sakit. “Orang yang hendak dibunuh Losam, sekarang telah kepergok oleh Losi, maka ... hahahaha!”

“Kau juga hendak membunuh aku?” tanya Boh-thian dengan khawatir.

“Pikiran Ting-losi di dunia ini siapakah yang dapat menerka?” ujar Ting Put-si. “Kau mengira aku hendak membunuh, tapi aku justru tidak mau membunuh.”

Habis berkata ia lantas mencengkeram tengkuk Ciok Boh-thian dan ditegakkan. Telapak tangan kanan setajam pisau lantas bekerja berulang-ulang ia memotong tambang layar yang meringkus badan Boh-thian itu sehingga berpuluh-puluh potong tali lantas jatuh semua dalam keadaan terputus-putus.

“Wah, Loyacu, kepandaianmu ini benar-benar sangat lihai. Kepandaian apakah ini namanya?” puji Boh-thian.

Dasar watak Ting Put-si memang suka dipuji dan suka menang, pujian Ciok Boh-thian itu telah membuatnya senang tidak kepalang. Sahutnya, “Kepandaianku ini sudah tentu sangat hebat, di dunia ini mungkin tiada orang kedua lagi yang dapat menandingi kepandaian Ting Put-si ini. Tentang nama kepandaian ini ....”

Mendengar bualan Ting Put-si itu, si nenek yang baru saja siuman kembali segera mengejeknya, “Hm, tikus naik di atas meja, membual dan memuji diri sendiri! Kepandaian Gway-to-cam-loan-moa (pisau cepat memotong tali rami) seperti itu asal orang yang pernah belajar dua-tiga jurus saja tentu akan dapat memainkannya. Kenapa mesti dibuat heran?”

“Fui!” semprot Ting Put-si. “Asal orang yang pernah belajar dua-tiga jurus saja akan dapat memainkan jurus Gway-to-cam-loan-moa ini? Nah, boleh coba kau memainkannya sekarang juga!”

“Kau tahu aku tak bisa bergerak, maka sengaja bicara seenaknya,” sahut si nenek. “He, Lemper raksasa, biarlah kukatakan padamu, jurus ‘Gway-to-cam-loan-moa’ ini di mana-mana dapat kau saksikan, setiap penjual obat di pasar, asal kau memberi dia satu-dua picis dan suruh dia memainkan jurus ini, maka dia tentu akan memainkannya bagimu, tanggung caranya serupa dengan gerakan tua bangka ini tadi. Jurus ini adalah kepandaian yang tak berarti, setiap penipu di dunia ini tentu juga bisa, kenapa mesti dibuat heran?”

Ting Put-si paling benci kalau orang mengolok-olok kepandaiannya, sekarang ucapan si nenek sedemikian menghinanya, keruan ia menjadi murka, kontan tangannya mencengkeram ke pundak si nenek.

“He, jangan main kasar!” seru Boh-thian dan cepat tangannya memotong ke pergelangan tangan Ting Put-si, yang digunakan adalah jurus “Pek-ho-jiu” (cakar bangau putih) dari ke-18 jurus Kim-na-jiu-hoat ajaran si Ting Tong.

Kiranya sudah cukup lama dia punya Hiat-to dicengkeram oleh si Ting Tong, dengan Lwekangnya yang kuat, Hiat-to yang tertutuk itu sudah punah dengan sendirinya, sekarang tali layar yang meringkusnya itu sudah putus semua, darah telah jalan lancar kembali, maka seketika ia dapat bergerak dengan bebas.

Tangkisan Boh-thian itu membuat Ting Put-si bersuara heran. Segera ia memutar tangannya untuk menggaet lengan pemuda itu.

Namun Boh-thian sudah hafal sekali meyakinkan ke-18 jurus Kim-na-jiu-hoat itu, segera ia pun ganti serangan, telapak tangan kiri memukul, jari tangan kanan dipakai mencolok kedua mata lawan.

“Bagus! Ini adalah Kim-na-jiu-hoat ajaran Losam!” bentak Ting Put-si. Berbareng kedua tangannya menolak ke depan untuk menahan kedua tangan pemuda itu.

Tapi mendadak kedua tangan Ciok Boh-thian memutar dari kedua samping untuk menggecek Thay-yang-hiat di kedua pelipis lawan. Namun secepat kilat kedua tangan Ting Put-si menerobos dari bawah ke atas terus menyampuk keluar sehingga kedua lengan Ciok Boh-thian terketuk.

Disangkanya benturan tangan itu pasti akan membuat lengan Ciok Boh-thian patah seketika. Tak terduga begitu keempat lengan beradu, Boh-thian tetap berdiri tegak tanpa bergerak. Sebaliknya Ting Put-si sendiri merasa tubuh bagian atas seakan-akan kaku semua, “krak”, tanpa merasa sebuah papan perahu telah patah kena diinjaknya, badan perahu itu pun terombang-ambing ke kanan dan ke kiri beberapa kali.

Sama sekali Ting Put-si tidak menduga bahwa bocah tolol ini memiliki tenaga dalam sedemikian hebatnya, cepat ia mundur selangkah supaya tidak kejeblos ke dalam lubang papan yang patah itu sambil bersuara heran lagi.

Semula Ting Put-si bersuara heran karena di luar dugaannya Ciok Boh-thian ternyata mahir menggunakan Kim-na-jiu-hoat dari keluarga Ting. Tapi ia bersuara heran pula dengan terkejut karena getaran tenaga dalam pemuda itu telah membuatnya mundur selangkah dan mematahkan papan perahu, ia merasa Lwekang anak muda ini benar-benar luar biasa dan susah di ukur. Sungguh susah dimengerti entah dari manakah mendadak bisa muncul seorang jago muda yang memiliki ilmu silat setinggi ini?

Walaupun benturan tangan tadi Ting Put-si tidak mengeluarkan seluruh tenaganya, tapi pihak lawan seakan-akan tidak merasakan apa-apa, sebaliknya dirinya telah menginjak patah papan perahu, hal ini boleh dikata dirinya sudah kalah satu jurus. Pemuda ini sedemikian lihainya, mengapa kena ditangkap oleh Ting Tong? Bahkan kena ditampar pula? Begitulah seketika Ting Put-si menjadi ragu-ragu dan sangsi.

Di sebelah sana si nenek juga heran dan terkejut. Tapi setiap ada kesempatan untuk mengolok-olok Ting Put-si selalu digunakannya dengan baik, maka ia lantas tertawa. Sesudah terbahak-bahak beberapa kali, maksudnya hendak bicara, tapi seketika napasnya menjadi sesak dan susah mengeluarkan suara, terpaksa ia berkata dengan perlahan-lahan, “Hahaha! Ter ... ha ... dap seorang bocah ... bocah tolol saja tidak ... tidak bisa ....”

Ting Put-si menjadi gusar, teriaknya, “Biarlah aku mewakilkan kau bicara saja. Kau hendak bilang: Terhadap seorang bocah tolol saja tidak bisa menang bukan?”

Nenek itu tersenyum simpul dan manggut-manggut membenarkan.

Tiba-tiba Ting Put-si berpaling kepada Ciok Boh-thian, tanyanya, “Hei, Lemper raksasa, siapakah gurumu?”

Boh-thian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia pikir meski Cia Yan-khek dan si Ting Tong pernah mengajarkan ilmu silat padanya, tapi mereka bukanlah gurunya yang resmi, maka jawabnya, “Aku tidak punya guru.”

“Ngaco-belo, habis kau punya Kim-na-jiu-hoat ini kau mencuri belajar dari mana?” bentak Ting Put-si.

“Aku tidak mencuri belajar, tapi si Ting-ting Tong-tong yang mengajarkan aku selama sepuluh hari,” sahut Boh-thian. “Si Ting Tong bukan guruku, tapi adalah ... adalah ....”

Mestinya ia ingin menerangkan bahwa “dia adalah istriku”, tapi ia merasa tidak enak, maka tidak diucapkannya.

Ting Put-si menjadi gusar, ia memaki, “Keparat, kau bilang Kim-na-jiu-hoat ini si Ting Tong yang mengajarkan kau? Huh, ngaco-belo!”

Dalam pada itu napas si nenek sudah teratur kembar, segera ia menyindir lagi, “Orang Kangouw suka mengatakan bahwa ‘Kedua jago keluarga Ting, yang satu adalah kesatria dan yang lain adalah babi’. Sekarang dengan mataku sendiri aku telah menyaksikannya dan nyata memang tidak salah kabar orang Kangouw itu.”

Ting Put-si berjingkrak marah-marah, teriaknya, “Bilakah orang Kangouw mengatakan demikian? Huh, pasti kau sendiri yang membuat-buatnya. Coba katakan, siapa yang kesatria dan siapa yang babi? Ilmu silatku lebih tinggi daripada Losam, siapa orangnya di dunia persilatan yang tidak tahu hal ini?”

Si nenek tidak berani bicara terlalu buru-buru, maka dengan sekata demi sekata ia menjawab, “Si Ting Tong adalah cucu perempuannya Ting-losam.

“Kepandaian Ting-losam diajarkan kepada putranya, putranya mengajarkan kepada putrinya si Ting Tong itu dan akhirnya si Ting Tong mengajarkan pula kepada bocah dogol ini. Malahan bocah dogol ini cuma belajar sepuluh hari saja sudah mengalahkan Ting Put-si.

“Nah, boleh kau coba minta pertimbangan setiap orang di dunia ini, sia ... siapakah ....” sampai di sini napasnya kembali sesak lagi dan susah meneruskan.

Ting Put-si menjadi tidak sabaran lagi, segera ia menyambung, “Biarlah kuwakilkan bicara, ‘Siapakah sebenarnya yang kesatria dan siapa yang babi? Sudah tentu Ting-losam adalah kesatria dan Ting-losi adalah babi’, bukan?”

“Ya, asal ... asal kau tahu saja,” kata si nenek sambil memanggut dan tersenyum-senyum ejek.

Walaupun suara si nenek sangat lemah tapi bagi pendengaran Ting Put-si terasa sangat menusuk, teriaknya pula, “Siapa bilang si Lemper raksasa ini telah mengalahkan Ting Put-si? Hayo, mari, mari, boleh kita coba-coba lagi! Kalau aku tidak ....”

Mestinya ia hendak mengatakan, “Kalau aku tidak menghantam kau masuk ke dalam sungai di dalam 3 jurus saja, biarlah aku menyembah padamu” dan lain-lain lagi. Tapi sebelum diucapkan ia lantas ingat ilmu silat Ciok Boh-thian yang susah diduga itu, jangan-jangan di dalam tiga jurus tidak dapat merobohkan dia, kan urusan bisa runyam? Kalau menyatakan “di dalam sepuluh jurus”, rasanya juga tidak meyakinkan, sebaliknya kalau bilang “di dalam 50 jurus” rasanya terlalu banyak, masakah dirinya sebagai seorang tokoh ternama harus memerlukan 50 jurus baru dapat mengalahkan murid cucu keponakan perempuan sendiri, lalu apakah dirinya masih dapat disebut sebagai kesatria?

Sedikit Ting Put-si merandek saja, kesempatan itu lantas digunakan si nenek untuk mengejeknya pula, “Boleh kau katakan jika di dalam 200 jurus kau tidak mengalahkan dia, maka kau akan menyembah dan mengangkat dia sebagai ....”

“Mengangkat dia sebagai guru, demikian hendak kau katakan bukan?” teriak Ting Put-si dengan murka. Berbareng ia terus meloncat ke atas, dari udara kedua tangannya lantas menghantam kepala dan pundak Ciok Boh-thian.

Walaupun Boh-thian telah mempelajari ke-18 jurus Kim-na-jiu-hoat, tapi dia hanya dapat mematahkan serangan-serangan si Ting Tong saja, cara belajarnya bukan cara yang hidup, cara menggunakannya juga tidak bisa cara hidup.

Maka ketika melihat kedua tangan Ting Put-si menghantam dari atas, ia menjadi kelabakan, terpaksa ia menjulurkan kedua tangan ke atas untuk melindungi kepalanya sendiri.

Pada saat lain “Tay-cui-hiat” di kuduknya lantas terasa sakit dan ditumbuk oleh suatu tenaga yang kuat, nyata telah kena pukulan lawan.

Tay-cui-hiat itu adalah Hiat-to penghubung antara urat-urat nadi kaki dan tangan, dari situ seketika timbul tenaga reaksi yang mahakuat. Kontan Ting Put-si merasa seluruh badannya tergetar, tubuhnya lantas terpental balik. Waktu dia pandang Ciok Boh-thian, pemuda itu ternyata tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa.

Meski serangan ini tepat mengenai Ciok Boh-thian, namun Ting Put-si sendiri malah terpental mundur, maka tidak dapat dianggap kalah atau menang.

Tapi si nenek sudah lantas menyindir lagi, “Ting-losi, orang sengaja membiarkan seranganmu mengenai dia, tapi kau sendiri malah terpental, sungguh terlalu tidak becus. Teranglah hanya satu jurus saja kau sudah kalah.”

“Mana bisa aku kalah? Ngaco-belo!” sahut Ting Put-si dengan gusar.

“Umpama kau belum kalah, maka boleh coba membiarkan dia menghantam kau punya Tay-cui-hiat, bila kau tidak mampus dan dapat pula membikin dia terpental mundur maka kalian dapat dianggap seri, sama-sama kuat.”

Diam-diam Ting Put-si memikir, dengan tenaga dalam anak muda yang mahakuat ini, bila aku punya Tay-cui-hiat kena dihantam, andaikan tidak binasa juga pasti terluka parah. Maka lantas jawabnya, “Tanpa sebab buat apa aku membiarkan diriku dihantam? Kalau perlu kau punya Tay-cui-hiat boleh coba kuhantam saja.”

“Huh, memangnya aku sudah tahu si ‘Ting babi’ adalah pengecut, hanya mau menang sendiri, kalau disuruh bertanding secara kesatria tentu tidak berani,” jengek si nenek.

Ting Put-si menjadi bungkam karena sindiran si nenek kena betul isi hatinya. Dasar dia memang suka unggul, biarpun kalah bicara juga tidak mau tunduk. Segera ia berkata lagi kepada Boh-thian, “Marilah kita coba-coba lagi!”

“Tidak,” sahut Boh-thian. “Aku hanya belajar sedikit kepandaian kepada Ting-ting Tong-tong, ilmu silat lain aku tak paham sama sekali. Serangan-seranganmu yang ruwet tadi aku tak dapat menangkisnya. Maka, biarlah anggap kau yang menang dan tak perlu bertanding lagi.”

“Anggap kau yang menang”, kata-kata ini sangat menusuk telinga Ting Put-si. Segera ia berseru, “Kalau kalah bilang kalah, kalau menang ya menang, mengapa pakai anggap atau tidak anggap? Sekarang aku akan membiarkan kau menyerang dahulu. Nah, lekas kau mulai!”

“Tidak, aku tidak bisa,” sahut Boh-thian sambil menggeleng.

Ting Put-si menjadi murka, apalagi dari samping si nenek masih terus tertawa mengejeknya, segera ia memaki, “Anak bedebah, kau tidak bisa, biar aku mengajar kau. Nah, lihatlah yang jelas, jika kau memukul padaku cara demikian, aku lantas begini menangkisnya, menyusul aku balas menyerang kau, kau lantas mengegos ke samping dan batas memukul aku dengan kepalan kiri.”

Disuruh belajar memang Ciok Boh-thian sangat cepat memahaminya. Maka ia lantas menurutkan gaya yang diajarkan Ting Put-si, ia menyerang dahulu, lalu Ting Put-si balas menghantam.

Baru saja mereka bergebrak empat jurus, ketika Ting Put-si memukul pula maka Boh-thian tidak tahu cara bagaimana menangkisnya lagi, terpaksa dia terdiri tegak dan berkata, “Bagaimana aku harus terbuat? Aku tidak tahu lagi.”

Ting Put-si merasa geli dan mendongkol pula, katanya, “Kalau semuanya harus aku yang mengajarkan, lalu bertanding apa lagi?”

“Memangnya aku bilang tak perlu bertanding dan anggap saja kau yang menang,” sahut Boh-thian.

“Tidak, tidak bisa,” kata Put-si. “Jika aku tidak menangkan kau dengan sungguh-sungguh, selama hidup ini tentu aku akan ditertawai Siau-jui dan dianggap sebagai babi dan pengecut. Nah, ingatlah yang baik, bila aku sampai memukul begini, maka kau tidak perlu menangkis, tapi menggeser maju terus balas menusuk perutku dengan jarimu. Serangan balasan ini sangat lihai dan terpaksa aku harus menarik kembali pukulanku untuk menghindari seranganmu.”

Begitulah Ting Put-si sambil berkata sambil bergaya memberi contoh, Ciok Boh-thian juga mengingatnya dengan baik. Sesudah paham lalu kedua orang bergebrak lagi dari permulaan jika sudah terpakai habis jurus-jurus ajaran Ting Put-si, lalu Boh-thian berhenti dan terpaksa Put-si mengajarkan lagi, lalu mulai bergebrak dan begitu seterusnya sehingga tanpa merasa lelah berlangsung sampai ratusan jurus, tapi Ting Put-si tetap susah merobohkan Boh-thian, walaupun jurus-jurus yang digunakan anak muda itu adalah ajarannya.

Lama-kelamaan Ting Put-si menjadi gelisah. Apalagi si nenek masih terus mencemoohkan dari samping, sehingga Ting Put-si tidak berani main licik, terpaksa ia mengajarkan jurus-jurus serangannya dengan sungguh-sungguh. Dasar ingatan Boh-thian sangat baik, Lwekangnya sangat kuat pula, terpaksa Ting Put-si harus melayani dengan semangat, pertarungan demikian menjadi tidak kalah hebatnya daripada dahulu tatkala dia bertanding melawan si nenek.

Sesudah beberapa puluh jurus lagi, sementara itu fajar sudah menyingsing. Ting Put-si menjadi tidak sabar lagi, mendadak ilmu pukulannya berganti, ia mengeluarkan jurus “Kat-ma-peng-coan” (kuda haus berlari ke sumber air) yang telah diajarkan permulaan tadi, mendadak ia menubruk maju sambil menghantam.

“He, he! Salah! Urut-urutannya salah!” teriak Boh-thian.

“Peduli urut-urutannya salah apa segala? Asal jurus yang pernah kuajarkan saja tadi kan sudah jadi?” sahut Ting Put-si.

Namun demikian Boh-thian juga belum lupa harus mematahkan serangan Ting Put-si itu dengan jurus “Hun-tiap-pian-hui” (kupu-kupu terbang menari di angkasa) ajaran Ting Put-si tadi, cepat ia melompat ke samping.

Menurut rekaan Ting Put-si, asal pemuda itu didesak mundur sehingga kecemplung ke dalam sungai, maka itu berarti dia sudah menang dan betapa pun Siau-jiu (si nenek) tiada alasan untuk menyindirnya lagi. Maka cepat ia mendesak maju, dengan jurus “Heng-sau-jian-kun” (menyapu seribu prajurit), kedua tangannya berbareng memotong dari samping.

Tapi Boh-thian lantas menggunakan jurus “Ho-hong-se-uh” (angin halus hujan gerimis) untuk menghindarkan serangan lawan yang membadai. Namun terpaksa ia mesti mundur lagi setindak sehingga sebelah kakinya telah menginjak di atas tepi perahu.

Ting Put-si sangat girang. “Turunlah!” bentaknya sambil menyerang dengan gerak tipu “Ciong-koh-ce-bin” (genderang menggema serentak), kedua kepalan sekaligus hendak menghantam kedua pelipis Ciok Boh-thian.

Kalau menurut kepandaian ajaran Ting Put-si tadi, maka Boh-thian terpaksa harus melangkah mundur untuk memberi tangkisan. Akan tetapi sekarang dia tiada jalan mundur lagi, kalau melangkah mundur berarti terjerumus ke dalam sungai. Dalam gugupnya tanpa pikir lagi Boh-thian lantas menggunakan kepandaian yang paling dipahami ajaran si Ting Tong dahulu, segera ia menggeser ke samping sehingga berbalik berada di belakang Ting Put-si, berbareng tangan kanan menggunakan jurus “Hou-jiau-jiu” untuk mencengkeram “Leng-tay-hiat” dan tangan kiri memakai jurus “Giok-li-cui-ci-am” untuk memegang “Koan-ki-hiat” sekali tangannya kena memegang sasarannya, seketika pula tenaga dalamnya yang mahadahsyat juga bekerja.

Tanpa ampun lagi Ting Put-si menjerit sekali, kontan ia roboh terkulai di atas geladak perahu.

Padahal biarpun Lwekang pemuda itu teramat kuat, betapa pun juga susah merobohkan Ting Put-si yang tergolong jago kawakan itu. Soalnya Ting Put-si terlalu memandang enteng kepada Boh-thian, disangkanya pemuda itu pasti akan menggunakan jurus ajarannya untuk menangkis serangannya, untuk mana pemuda itu pasti akan terdesak masuk ke dalam sungai. Tak terduga olehnya bahwa pemuda dogol ini mendadak bisa ganti tipu serangan, bahkan yang digunakan adalah tipu serangan yang telah dipelajarinya dengan masak betul sehingga Ting Put-si sama sekali tiada kesempatan untuk menghindar, malahan tenaga dalam Ciok Boh-thian juga sedemikian lihainya sehingga Ting Put-si tak dapat menahannya.

Kejadian di luar dugaan ini, bukan saja Ting Put-si dan Ciok Boh-thian sendiri terkejut, bahkan si nenek juga melongo kaget. Tapi ia lantas terbahak-bahak beberapa kali, tiba-tiba napasnya sesak, lalu jatuh pingsan lagi dengan mata mendelik.

Keruan Boh-thian terperanjat, cepat ia berseru, “He, Lothaythay, ken ... kenapakah kau?”

Si nona yang tak bisa berkutik dan berada di dalam kolong perahu itu dengan sendirinya tidak dapat mengikuti apa yang terjadi di luar itu, ketika mendengar suara seruan Boh-thian yang gugup itu, segera ia bertanya, “Toako itu, bagaimanakah dengan nenekku?”

“Dia ... dia telah pingsan,” sahut Boh-thian dengan tak lancar. “Sekali ini tampaknya ... tampaknya agak berat, mungkin ... mungkin susah sadar kembali.”

“Ha, kau maksudkan nenek telah ... telah meninggal?” tanya si nona dengan khawatir.

Boh-thian coba memeriksa pernapasan hidung si nenek, lalu menjawab, “Napasnya sih masih bekerja, cuma ... cuma melihat gelagatnya agak ... agak berat.”

“Berat bagaimana?” tanya pula si nona.

“Wajahnya pucat sebagai mayat,” tutur Boh-thian. “Ah, biarlah aku memondong kau keluar untuk melihatnya sendiri.”

Sebenarnya si nona merasa rikuh dipondong pemuda itu, tapi sesungguhnya ia sangat mengkhawatirkan keselamatan neneknya. Sesudah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia berkata, “Baiklah! Tolong engkau suka memayang aku keluar.”

Selama hidup Ciok Boh-thian belum pernah mendengar orang bicara sedemikian halus dan sopan padanya. Keruan ia sangat senang. Biasanya kalau orang-orang Tiang-lok-pang bicara padanya sikapnya sangat hormat dan takut-takut, hanya kata-kata si nona inilah terasa sangat “sreg” dan enak bagi pendengarannya.

Maka perlahan-lahan ia lantas memondong nona itu, ia membungkus tubuhnya dengan sehelai selimut tipis, lalu membawanya ke haluan perahu.

Waktu melihat neneknya dalam keadaan pingsan, si nona telah menjerit khawatir. Serunya, “Toako ini, sukalah engkau tolong menyalurkan sedikit ... sedikit tenaga dalam ke tubuh nenek melalui ‘Leng-tay-hiat’ di punggungnya. Permohonan ini agak melampaui batas, sungguh aku merasa tidak enak.”

Mendengar suara si nona yang lemah lembut dan merdu itu, tanpa terasa Boh-thian menunduk dan mengamati-amati mukanya. Saat itu sang surya baru saja memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang, maka tertampaklah dengan jelas raut muka si nona yang bundar telur, cantik molek, terutama sepasang matanya yang besar juga sedang memandang padanya dengan sorot matanya yang sayu rawan.

Ketika sinar mata kedua orang kebentrok, maka si nona menjadi merah jengah.

Karena tidak dapat berpaling ke arah lain, terpaksa dia pejamkan mata.

Sebaliknya Ciok Boh-thian tanpa merasa telah berkata, “Kiranya kau juga sedemikian cantiknya, nona!”

Muka si nona tambah merah. Karena jarak muka kedua orang terlalu dekat, ia tidak berani membuka suara, sebab khawatir bau mulutnya menyembur ke muka Ciok Boh-thian, maka dia diam saja dengan menutup mulut kencang-kencang.

Sesudah terkesima sejenak, kemudian Boh-thian berkata, “O, maaf!”

Segera ia menaruh tubuh si nona, lalu menggunakan telapak tangannya untuk memegang Leng-tay-hiat di punggung si nenek, sebenarnya ia tidak tahu cara bagaimana harus menyalurkan tenaga dalam sebagaimana diminta oleh si nona, maka dia hanya menggunakan cara mencengkeram Hiat-to itu dengan “Hou-jiau-jiu” ajaran si Ting Tong, segera ia mengerahkan tenaga.

Mendadak si nenek menjerit sekali dan siuman kembali. “Anak dogol, apa yang kau lakukan?” omelnya kepada Boh-thian.

“Nona ini minta aku menyalurkan tenaga kepadamu dan kau ter ... ternyata sudah sadar kembali,” sahut Boh-thian.

“Kau justru telah menutup aku punya Hiat-to di punggung, masakah cara ini kau katakan hendak menyalurkan tenaga padaku?” damprat si nenek.

“O, aku ... aku memang tidak bisa, harap engkau suka mengajarkan padaku,” pinta Boh-thian dengan kemalu-maluan.

Rupanya karena cengkeraman Boh-thian tadi sehingga membikin si nenek tergetar sadar, semula ia sangat marah, tapi ia lantas tahu juga Lwekang anak muda itu ternyata sangat kuat, ia pikir apa barangkali bocah tolol ini telah makan sesuatu buah-buahan atau tumbuhan ajaib sehingga membikin tenaga dalamnya menjadi kuat, tapi dia justru tidak tahu cara menggunakan tenaga dalam itu.

Sekarang aku melatih Lwekang dan tersesat, mungkin berkat tenaga dalamnya yang kuat dapat membantu aku menembuskan urat-urat yang tersumbat di dalam badanku, asal jalan nadi sudah lancar, untuk kesembuhan selanjutnya aku dapat melakukannya sendiri.

Begitulah maka ia lantas berkata, “Baiklah, akan kuajarkan padamu. Hendaklah kau himpun dulu tenagamu ke dalam perut, bila sudah merasakan suatu arus hawa hangat mulai bergolak, maka dapatlah kau salurkan ke mana pun menurut pikiranmu. Nah, untuk pertama kali hendaklah kau menyalurkan hawa hangat itu ke nadi Siau-yang-meh di telapakan tanganmu.”

Segera Boh-thian melakukannya sesuai dengan petunjuk itu, maka dengan mudah saja ia telah dapat menyalurkan tenaga dalamnya ke telapak tangan. Hendaklah maklum bahwa “Lo-han-hok-mo-kang” yang telah diyakinkan sebelumnya itu adalah Lwekang paling tinggi dari Siau-lim-pay yang serbaguna dan dapat dikerahkan menurut keinginannya, soalnya dahulu ia tidak tahu cara bagaimana menggunakan Lwekang itu sehingga mirip seorang hartawan memiliki harta karun segudang penuh, namun tidak menemukan kunci untuk membuka pintu gudang harta karunnya. Tapi sekarang sesudah mendapat petunjuk si nenek dan dilakukannya dengan baik, maka tenaga dalamnya lantas membanjir keluar laksana air bah melanda.

Sedemikian hebat bekerjanya Lwekang Ciok Boh-thian sehingga si nenek merasa kewalahan, ia berseru, “Tahan, tahan dulu, per ... perlahan-lahan saja ....” belum habis ucapannya, mendadak ia muntahkan sekumur darah hitam kental.

Boh-thian terperanjat, serunya cepat, “He, kenapa? Apakah keliru caraku?”

“Toako ini, nenek minta kau lambatkan tenaga yang kau salurkan itu dan jangan terburu-buru,” kata si nona yang menggeletak di samping itu.

“Tolol,” demikian si nenek mengomel, “apakah kau ingin membikin jiwaku melayang? Kau harus menyalurkan tenagamu sedikit demi sedikit, sesudah aku bernapas, lalu kerahkan pula tenagamu.”

“O, ya, ya!” sahut Boh-thian.

Dan baru saja ia hendak lakukan menurut permintaan si nenek, tiba-tiba terlihat Ting Put-si telah melompat bangun sambil berteriak, “Bedebah, keparat! Hayo, kita bertanding lagi, yang tadi tak bisa dihitung!”

“Huh, tua bangka yang tidak tahu malu! Mengapa yang tadi tak bisa dihitung? Sudah terang kau telah kalah, bukan?” demikian si nenek menanggapi. “Coba kalau tadi dia tambahkan sekali hantam lagi atau membacok kepalamu dengan golok, apakah jiwamu masih ada sampai saat ini?”

Ting Put-si merasa di pihak yang salah, maka ia tidak berani bertengkar mulut lagi dengan si nenek. Tanpa bicara ia terus menghantam pula ke arah Ciok Boh-thian sambil membentak, “Jurus ini tadi telah kuajarkan padamu, tentunya kau sudah paham, bukan?”

Lekas-lekas Boh-thian mematahkan serangan Ting Put-si dengan jurus ajaran orang tua itu pula.

Tapi Ting Put-si lantas menyerang pula sambil membentak, “Dan jurus ini pun sudah kuajarkan tadi, tentu kau tak bisa mengatakan aku main licik dan mau menang sendiri.”

Ternyata setiap serangannya memang betul-betul adalah jurus yang dia telah ajarkan kepada Ciok Boh-thian tadi, dengan demikian dia hendak perlihatkan kepada si nenek bahwa dia tetap pegang janji sebagai seorang kesatria. Namun tentang dia kena dicengkeram pemuda itu tadi sehingga jatuh kalah, untuk ini sepatah kata pun dia tidak menyinggung.

Makin lama makin cepat, sesudah belasan jurus mulut Ting Put-si menjadi kewalahan atas kecepatan serangannya sendiri, maka dia hanya membentak-bentak, “Ini sudah kuajarkan, sudah kuajarkan, sudah kuajarkan!”

Karena serangan-serangan kilat itu, biar bagaimana pintarnya Ciok Boh-thian juga tak dapat melayani dengan baik, hanya beberapa jurus saja ia sudah kelabakan dan tampaknya akan segera dirobohkan oleh Ting Put-si.

Untunglah pada saat ia sedang kewalahan, tiba-tiba terdengar si nenek berseru, “Tahan dulu! Aku ingin bicara!”

Ting Put-si lantas menghentikan serangannya dan bertanya, “Siau-jui, apa yang hendak kau katakan?”

Tapi si nenek berpaling kepada Boh-thian dan berkata, “Anak muda, badanku merasa tidak enak, harap kau menyalurkan sedikit tenaga lagi padaku.”

“Ya, boleh juga,” sela Ting Put-si sambil mengangguk. “Urat nadimu memang kacau, napasmu juga sesak. Jika kau tidak mau terima pertolonganku, boleh juga suruh dia membantu kau. Ilmu silat pemuda ini rendah, tapi tenaga dalamnya sangat kuat.”

“Hm,” si nenek mendengus sekali. “Memangnya, ilmu silatnya adalah ajaranmu.”

“Ilmu silatnya mana boleh buat dianggap aku yang mengajarkan dia, padahal aku hanya memberi petunjuk dalam waktu tiada satu jam barusan ini,” sahut Ting Put-si dengan gusar. “Tapi kalau dia mau ikut belajar padaku selama tiga atau lima tahun, hm, aku tanggung kelak tiada seorang kesatria angkatan muda yang dapat menandinginya.”

“Sekalipun berhasil belajar sepandai dirimu juga apa sih gunanya?” jengek si nenek. “Tanpa mempelajari ilmu silatmu dia dapat mengalahkan kau, kalau sudah berhasil mempelajari ilmu silatmu mungkin dia malah akan kau kalahkan. Makin belajar padamu makin dungu dan semakin kalahan. Nah, coba katakan, apa lebih baik belajar ilmu silatmu atau tidak?”

Untuk sejenak Ting Put-si menjadi bungkam, kemudian ia mendebat lagi, “Jurus-jurus Hou-jiau-jiu dan Giok-li-cui-kiam yang dia gunakan tadi bukankah juga kepandaian keluarga Ting kami?”

“Tapi itu adalah ajaran cucu perempuan Ting-losam dan bukan kau yang mengajarkan dia,” sahut si nenek. “Anak muda, marilah ke sini, jangan gubris dia lagi.”

Boh-thian mengiakan dan mendekati si nenek, ia gunakan telapak tangannya untuk menahan di Leng-tay-hiat orang tua itu dan membantunya melancarkan jalan darah urat nadinya.

Si nenek perlahan-lahan mengangkat lengannya ke atas, ia pura-pura menutup mukanya dengan lengan baju, tujuannya agar Ting Put-si tidak melihat dia sedang bicara, lalu dengan suara bisik-bisik ia berkata kepada Boh-thian, “Sebentar bila kau bergebrak lagi dengan dia, telapak tanganmu harus menggunakan tenaga dalam sebagaimana sekarang mengerahkan tenaga ke tanganmu ini. Bila dia memukul kau, maka kau harus menggunakan jurus yang sama untuk memapak tangannya, asal kedua tangan beradu, segera kau kerahkan tenagamu ke badan lawan. Hati-hatilah, tua bangka itu hendak mendesak kau terjerumus ke dalam sungai, kau bisa mati kelelap. Maka ingatlah baik-baik, jurus apa pun yang dia keluarkan kau pun menyambutnya dengan jurus yang sama. Hanya dengan cara demikian barulah dapat mempertahankan jiwa ... jiwa kita bertiga.”

Rupanya sesudah si nenek berkumpul beberapa jam bersama Ciok Boh-thian, diam-diam orang tua itu telah dapat mengetahui pemuda itu berhati baik dan berjiwa luhur. Kalau suruh dia bertanding tanpa alasan melawan Ting Put-si, mungkin setiap saat dia bisa mengalah. Tapi kalau ditekankan bahwa “demi untuk mempertahankan jiwa kita bertiga”, ini berarti termasuk jiwa si nenek dan cucu perempuannya, maka besar kemungkinan Ciok Boh-thian akan membelanya dengan sepenuh tenaga.

Benar juga, segera tertampak Boh-thian manggut-manggut setuju.

Lalu si nenek berkata pula, “Sementara kau tidak perlu menyalurkan tenaga padaku lagi. Sebentar kalau tanganmu saling tahan dengan tangannya, maka tenaga yang kau kerahkan tidak boleh perlahan-lahan, tapi harus cepat dan keras, semakin kuat semakin baik.”

“Dia akan muntah darah atau tidak?” tanya Boh-thian.

“Tidak,” sahut si nenek. “Tadi aku muntah darah karena aku sendiri sangat lemah dan mendadak diterjang oleh membanjirnya tenagamu yang kuat. Tapi Lwekang tua bangka itu sangat hebat, kalau kau tidak mengerahkan tenaga sekuatnya tentu kau sendiri yang akan tergetar dan muntah darah. Dan kalau kau terluka, tentu tiada orang lain lagi yang mampu membela kami nenek dan cucu berdua. Dalam keadaan tak bisa berkutik terpaksa kami mesti pasrah nasib dan membiarkan diri kami dibunuh orang sesukanya.”

Mendengar sampai di sini darah Ciok Boh-thian lantas bergolak, timbul seketika jiwa kesatriaannya. Ia merasa saat ini biarpun mati bagi nenek dan nona itu pun rela. Padahal kedua orang itu siapa, apakah orang baik atau orang jahat, sama sekali dia tidak tahu.

Begitulah perlahan-lahan si nenek lantas menurunkan lengan bajunya yang menutupi mukanya itu, katanya, “Terima kasih, anak muda, kalau tiada bantuan tenagamu mungkin sejak tadi jiwa nenek sudah melayang. Rupanya tua bangka Ting Put-si itu masih ngotot tak mau mengaku kalah padamu, maka bolehlah kau bergebrak lagi padanya. Ai, aku sudah sedemikian tua, sudah banyak juga aku menjumpai kesatria sejati dan pahlawan tulen di dunia ini, tak tersangka pada saat hampir dekat ajalku, di depan mataku sekarang justru terdapat seekor babi tua, sungguh aku sangat penasaran.”

“Kau bilang babi tua, apakah kau maksudkan aku?” tanya Ting Put-si dengan gusar.

“Seorang yang tahu diri masih boleh dikata belumlah terlalu buruk,” ujar si nenek dengan tersenyum. “Nah, Ting Put-si, jika kau ingin membunuh dia kan terlalu gampang? Asal kau gunakan beberapa jurus yang belum pernah kau katakan padanya, tanggung dia tak mampu menangkis dan akan kau binasakan.”

“Memangnya kau sangka aku Ting Put-si adalah pengecut seperti itu?” sahut Ting Put-si dengan gusar. “Boleh kau saksikan dengan baik, justru setiap jurus yang akan kugunakan adalah kepandaian yang telah kukatakan padanya tadi.”

Justru si nenek sengaja memancing ucapan Ting Put-si ini, maka dapatlah ia menghela napas lega dan tidak bersuara pula.

Di sebelah sana Ting Put-si segera membentak, “Nah, Lemper raksasa, segera aku akan menghantam dengan jurus ‘Gik-cui-heng-ciu’ (mendayung perahu melawan arus). Jurus ini sudah kuajarkan padamu tadi, janganlah kau lupa.”

Sambil berkata ia lantas pasang kuda-kuda dengan sedikit berjongkok, mendadak telapak tangan kiri menghantam ke depan dari bawah ke atas.

Ketika mendengar Ting Put-si menyebut jurus “Gik-cui-heng-ciu”, diam-diam Ciok Boh-thian lantas siap siaga, ia pun pasang kuda-kuda dengan sedikit berjongkok, telapak tangan kiri juga memukul ke depan dari bawah ke atas.

“He, salah, bukan begitu caranya menangkis seranganku!” bentak Ting Put-si. Namun pada saat itu juga tampaknya tangan pemuda itu sudah hampir membentur tangannya sendiri, keruan ia terkesiap, ia tahu Lwekang Boh-thian sangat kuat, kalau sampai kedua orang saling mengadu tenaga dalam, untuk memenangkan pemuda itu menjadi susah diramalkan.

Maka cepat Put-si menarik kembali pukulannya itu, segera telapak tangan kanan berganti menyodok ke depan. Jurus ini bernama “Ki-hong-tut-gi” (kejadian aneh mendadak timbul).

Tapi Boh-thian telah ingat betul-betul pesan si nenek, segera ia pun memapak dengan jurus yang sama, bahkan tangannya membawa tenaga dalam yang lebih kuat. Sebelum kedua tangan kebentur, seketika Ting Put-si merasakan angin pukulan lawan telah menyampuk tiba. Ia terperanjat dan cepat ganti serangan lagi ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar