Selasa, 13 Maret 2012

Puteri Harum dan Kaisar Jilid 10

DALAM pada itu karena sudah terlepas tali pengikatnya, semangat Bun Thay Lay menjadi terbangkit, saat itu seorang jago pengawal keraton lagi menubruk kearahnya, sedikit Thay Lay meng'egos, berbareng tangan kirinya membalik menggablok keiga kanan orang, maka terdengarlah suara „kraak,” dua tulang iga orang itu telah patah dihantam.
Melihat betapa lihainya Bun Thay Lay, para jago-jago pengawal yang lain menjadi jeri tak berani maju.
„Suko, lekas kita terdyang keluar!” seru Hi Tong.
„Apakah para saudara sudah datang semua?” tanya Thay Lay.
„Belum, hanya Siaote seorang diri,” sahut Hi Tong.
Thay Lay tak berkata lagi, ia hanya mengangguk. Luka dilengan kanan dari pahanya ternyata masih parah dan gerak-geriknya belum leluasa, terpaksa dengan bersandaran Hi Tong mereka berjalan menuju kepintu ruangan itu. Ketika 4-5 jago pengawal Coba merangsak maju, namun kesemuanya dapat ditahan oleh seruling emas Hi Tong.
Setelah dekat pintu keluar, nmun Ciau Cong sudah memapak maju. “Tinggal saja disini!” bentaknya segera sambil pedangnya terus menusuk keperutnya Bun Thay Lay.
Karena gerak-geriknya masih kaku, Thay Lay tak sempat menghindari, terpaksa iapun membarengi menyerang, dengan kedua jari tangan kiri seCepat-cepat kilat ia tutuk kedua mata musuh dengan tipu „ji-liong-jio-Cu” atau dua naga berebut mestika.
Karena itu, terpaksa Ciau Cong menarik kembali sen jatanya untuk menangkis, dan mau-tak-mau iapun memuji; „Bagus !”
Begitulah, kedua orang itu sama Cepat-cepat dan sama tangkas nya hingga sekejap saja mereka sudah saling gebrak tujuh-delapan jurus. Tapi Bun Thay Lay hanya menggunakan sebelah tangan saja, jakni tangan kiri, gerak-gerik kakinya pun tak bebas, dengan sendirinya achirnya ia menjadi payah, maka setelah beberapa jurus lagi, ia telah kena digeblak sekali pundaknya oleh Thio Ciau Cong hingga tak bisa berdiri tegak lagi, ia jatuh terduduk,
Dilain pihak, sambil menempur musuh Hi Tong sembari memikir juga: „Hidupku seterusnya hanya akan menderita saja, harini biar aku, korbankan jiwaku untuk menolong keluar Suko, dengan meminyam tangan Cakar-alapdua ini untuk menghabiskan sisa hidupku, dengan begitu agar Suso tahu bahwa aku Ie Hi Tong bukanlah manusia yang tak berbudi. Kalau aku korbankan jiwa untuk kebahagiaannya, rasanya matipun tidak Cumadua !”
Nyata karena Cinta sepihak, daripada terus menderita batin, dalam keadaan begini Hi Tong menjadi nekad.
Maka setelah ambil keputusan itu, saat itu dilihatnya Bun Thay Lay jatuh terpukul oleh Ciau Cong, tanpa pikir lagi Hi Tong baliki serulingnya terus menghantam, serangan ini membikin Ciau Cong mau-tak-mau harus menangkisnya.
Dengan begitu keadaan Bun Thay Lay jadi sedikit longgar Hingga ia sempat meronta bangun lagi, mendadak ia baliki tubuh terus menggertak, karena suara geledek itu, para jago pengawal dan opasdua itu menjadi tertegun hingga tanpa merasa mundur beberapa tindak.
„Suko, lekas kau lari!” teriak Hi Tong sambil seruling emasnya berputar kentyang , sama sekali ia tak menangkis atau menghiraukan serangan lawan, tapi selalu ia menginCar dan menyerang tempatdua berbahaja musuh.
Karena kenekadan pemuda ini, seketika Thio Ciau Cong menjadi kewalahan malah hingga terpaksa ia terdesak mundur beberapa tindak.
Melihat ada lowongan, Cepat-cepat sekali Bun Thay Lay me nyelinap keluar ruangan itu meninggalkan para Si-wi yang ber-teriakdua terperanyat karena tawanan penting berhasil lari.
Sementara itu Hi Tong yang bertahan matiduaan diambang pintu, pada tubuhnya ber-ulangdua sudah terkena dua tusukan Ciau Cong, tapi pemuda itu masih tetap tak hiraukan diri sendiri, melainkan masih melontarkan tipudua serangan yang mematikan.
“He, apa kau sudah bosen hidup ? Siapa yang mengajar kan pertempuran Cara begini? bentak Ciau Cong tak sabar.
“Hm, memang aku tak ingin hidup lagi, paling baik kalau kau bisa membunuh aku!” sahut Hi Tong tertawa pedih.
Dan setelah beberapa jurus pula, kembali lengan kanan Hi Tong terluka, namun ia gantikan tangan kiri yang memainkan seruling dan sedengkalpun masih tak mau mundur.
Tatkala itu para Si-wi ber-ramaidua sudah merubung maju juga, tiba-tiba Hi Tong menubruk pada seorang yang berada paling depan, ketika jago pengawal itu memapak dengan sekali baCokan, ternyata Hi Tong sama sekali tak menghiraukan, sebaliknya serulingnya ditutukan keras-keraskedada orang itu, tanpa ampun lagi jago pengawal itu roboh terguling, tapi berbareng itu pundak kiri Hi Tong juga kena dibaCok.
Bagai banteng ketataon dan seluruh tubuh berlepotan darah, Hi Tong terus ajun serulingnya melabrak musuh dengan sengit, dibawah sinar pedang dan bayangan golok yang sam ber-menyamber, kembali terdengar lagi suara seperti periuk peCah, ternyata batok kepala seorang jago pengawal lain telah remuk dihantam serulingnya.
Tapi makin lama lingkaran kepungan para Si-wi itu makin Ciut, dibawah hujan senjata yang gaduh itu, lagi-lagi paha Hi Tong telah kena dihantam toja musuh, karena ini, tak sanggup lagi ia bertahan, ia teruling. Namun begitu, ia tak menjadi gentar, tiba-tiba seruling emasnya dibuangnya sambil tertawa panyang , lalu ia pejamkan mata untuk menantikan ajalnya. Tapi karena berhentinya ini, seketika pula orangnya lantas jatuh pingsan.
Pada saat itulah, mendadak diluar pintu ruangan itu terdengar bentakan orang yang keras : “Tahan !”
Waktu semua orang menoleh, ternyata orang itu adalah Bun Thay Lay yang lagi berjalan masuk kembali pelahandua, sikapnya gagah berwibawa, sinar matanya tajam, tapi tiada seorang lain yang dipandangnya sekejap, melainkan terus mendekati Ie Hi Tong yang menggeletak dilantai dengan berlumuran darah itu.
Apabila diperiksanya luka Hi Tong yang parah, tak tahan lagi jago Hong Hwa Hwe yang perkasa itu menCuCurkan air mata terharu. Ia Coba memeriksa pernapasan Hi Tong yang ternyata masih baik-baik , barulah ia rada lega, ia ulur tangan kirinya untuk membangunkan Hi Tong, tiba-tiba ia berpaling terus membentak pula : “Lekas ambilkan obat luka untuknya ?”
Dibawah pengaruh Bun Thay Lay yang berwibawa, betul juga ada orang yang telah pergi mengambilkan obat luka.
Dengan mata kepada sendiri Thay Lay saksikan mereka membalut luka Hi Tong serta digotong masuk ruangan dalam, kemudian barulah ia mungkur sambil ulurkan kedua tangannya dan berkata : “Nah, sekarang kalian ikatlah !”
Para Si-wi itu masih ragudua, tapi sesudah diberi tanda oleh Thio Ciau Cong, kemudian seorang diantaranya mendekati Bun Thay Lay.
„Takut apa ? Kalau aku maukan jiwamu, sejak tadidua sudah beres, masa perlu aku harus membohongi dulu? seru Bun Thay Lay melihat sikap orang yang sangsidua itu.
Baru setelah melihat tangan Bun Thay Lay betul-betul tak mau bergerak, siwi tersebut. terus memborgolnya dan membawa nya kedalam kamar tutupan lagi.
Malam itu Ciauw Cong keluarkan perintah, bahwa ke jadian tadi tidak boleh diuwarkan ke-manadua. Siapa yang melanggar, akan dihukum berat.
Esok harinya, Ciauw Cong sendiri pergi melihat Ie Hi Tong, ia lihat pemuda itu masih tidur dengan nyenyaknya, sesudah menanya kaCung yang melajani, barulah diketahui obat dari sinshe telah diseduh dan diminumkan Hi Tong.
Sore harinya Hi Tong tampak agar segar, Ciauw Cong lantas tanya padanya: „Gurumu she Liok atau she Ma?”
„Guruku yang berbudi itu ialah 'Cian-li-tok-hing-kiap' she Ma dan bernama Cin,” sahut Hi Tong.
„Betullah kalau begitu, aku adalah susiokmu Thio Ciauw
Cong,” kata Ciauw Cong.
Hi Tong sedikit mengangguk tanda mengarti.
„Apakah kau anggota Hong Hwa Hwe?” tanya Ciauw Cong pula.
Kembali Hi Tong angguk-angguk.
„Ai, seorang baik-baik begini, kenapa bisa tersesat begitu jauh,” ujar Ciauw Cong sambil menghela napas. „Pernah apakah Bun Thay Lay dengan kau? Kenapa kau ingin me nolongnya tanpa pikirkan jiwanya?”
Hi Tong pejamkan mata tak menyawab. Lewat sejenak, barulah ia berkata: „Dan achirnya ia dapat kutolong juga, kini matipun aku rela.”
„Hm,” jengek Ciauw Cong mendadak, „dibawah tanganku kau pikir bisa menolong orang sesukamu?”
Terkejut Hi Tong oleh jawaban itu. „Jadi ia tidak berhasil larikan diri?” ia menegas.
„Ia bisa larikan diri? Ha, jangan kau mimpi!” sahut Ciauw Cong. Lalu ia berusaha menanya terus, tapi Hi Tong telah pejamkan matanya lagi tak menggubrisnya pula, bahkan tidak antara lama pemuda itu terdengar mendengkur.
Ciauw Cong tersenyum kewalahan. „Sungguh satu pemuda yang keras kepala,” katanya. Lalu iapun pergi.”
Setiba dikamar sebelah, Ciauw Cong ajak Swi Tay Lim, Gian Pek Kian, Seng Hing dan beberapa siwi dari Pakkhia a.l. Cu Co Im, sama-sama berunding. Setelah memberi perintah seperlunya, masing-masing disuruh mengasoh.
Sehabis makan malam, kembali mereka pura-pura memeriksa Bun Thay Lay, yang dibawanya kesuatu ruangan. Ruangan itu diterangi dengan lilin-lilin yang besar dan terang Cahajanya. Kemaren malam, sebenarnya Ciauw Cong akan melakukan peperiksaan sungguh-sungguh pada Bun Thay Lay, tapi telah di-adukdua oleh Hi Tong.
Malam ini, dia akan melakukan peperiksaan pura-pura, dan sebelum itu, dia telah siapkan bayhok (barisan pendam) lengkap dengan anak panahnya. Begitu orang-orang Hong Hwa Hwe datang menolong, mereka tentu disambut dengan hangat. Tapi se malamduaan itu, tak ada suatu bayanganpun yang kelihatan datang.
Pada hari kedua pagidua sekali, seorang serdadu melaporkan bahwa Hoangho (Sungai' Kuning) telah banyir. Air meluapdua sampai tinggi. Ciauw Cong segera titahkan anak buahnya supaya lekas berangkat. Bun Thay Lay dan Hi Tong dimasukkan kedalam dua buah kereta besar.
Tapi baru saja rombongan akan berangkat, datanglah Go Kok Tong, Ci Ceng Lun, Han Bun Tiong dan rombongannya. Atas pertanyaan Ciauw Cong, Go Kok Tong dengan geramnya menuturkan apa yang telah dialami dari orang-orang Hong Hwa Hwe
„Giam liokya bugenya lihai, bagaimana bisa terbinasa dalam tangan seorang gadis. Sungguh mengherankan,” kata Ciauw Cong.
Mendapat laporan dari Go Kok Tong bahwa buge dari setiap orang Hong Hwa Hwe itu lihai-lihai, tambahkan pula mendapat bantuan dari rombongan orang Wi, maka ber-pikirdualah Ciauw Cong. Achirnya dia minta bantuan pada Congpeng (pembesar militer) dari KengCiu sebanyak-banyak 400 orang tentara pilihan guna memperkuat pengawalan orang tangkapan yang penting itu. Congpeng Buru-buru siapkan jumlah tersebut. Dia perintahkan hu-Ciang Co Ling dan somCiang Peng Bong Sian untuk memimpin barisan pilihan itu.
Sampai dikota Song-keng, mereka mengasoh. Keesokan harinya setelah meninggalkan kota sekira dua atau tiga puluh li, mereka melihat ada dua orang lelaki yang buka baju sedang duduk mengasoh dibawah pohon. Didekat mereka tertambat pada dahan puhun, ada dua ekor kuda yang bagus. Dua orang serdadu Ceng rupanya menjadi ketarik, maka mereka lantas Caridua perkara dan menghampiri seraja membentak: „He, kudadua ini asal Curian dari mana?”
„Kami adalah rahajat yang taat pada undangdua, mana kami mau menCuri,” jawab salah seorang dari mereka yang bermuka, tampan seraja tertawa.
„Kita sangat Cape, pinyamilah kudamu itu,” kata salah seorang tentara, Ceng tersebut.
„Tentu takkan membikin Celaka kudamu, jangan kuatir,” temannya menambahi.
„Baik, kalau Cong-ya suka menunggangnya, tentu saja boleh,” sahut orang tadi.
Lalu mereka melepaskan tambatan kuda dan berkata pula: „Cong-ya, hati-hatilah, jangan sampai dilempar jatuh !”
„Masa naik kuda saja bisa jatuh, jangan bicara sem barangan,” kata serdadu yang satunya.
Dengan langkah lebar kedua serdadu itu menghampiri untuk pegang tali les. Tapi sekonyongdua pantat salah seorang serdadu itu ditendang orang, sedang muka kawannya pun ditampar orang. Dan pada lain saat kedua serdadu itu dilontarkan kejalanan. Maka gaduhlah kalangan tentara Ceng itu.
Kedua orang aneh itu menCemplak kudanya terus menghampiri kearah kereta besar. Malah salah seorang diantara nya yang bermuka Codet pakai sebelah tangan untuk me nyingkap tenda kereta, terus dipotongnya dengan goloknya sambil berseru: „Apakah Suko ada didalam?”
„Ah, Cap-ji-long !” demikian sahutan dari dalam kereta
„Suko, kami pergi dulu, kau jangan kuatir, Kawan-kawan kita sudah sampai disini,” demikian seru orang itu pula.
Suara sahutan dari dalam kereta itu sudah diputus dengan suara beradunya senjata diluar kereta. Orang yang barusan berkata itu diserang oleh dua musuh yaitu Seng Hing dan Co Leng dan pasukan Ceng pun menyerbu datang. Tapi setelah dapat menangkis mundur, kedua orang itu terus keprak kudanya melarikan diri.
Malam itu rombongan Ciauw Cong bermalam di Kengsui. Keesokan harinya, pagidua sekali tiba-tiba terjadi kegaduhan dalam rombongan tentara itu. Pemimpinnya, Co Ling dan Peng Bong Sian Buru-buru keluar memeriksa. Dan betapakah terkejutnya demi melihat ada sepuluhan lebih serdadu yang berlumuran darah menjadi majat ditempat tidurnya. Entah siapa yang membunuhnya.
Begitulah dengan berlaku hati-hati sekali, mereka meneruskan lagi perjalanannya,, dan malamnya bermalam di HengCiok, sebuah kota besar. Tiga buah hotel disewanya, masih belum Cukup dan meminyam lagi beberapa rumah penduduk. Tengah malam tiba-tiba timbul kebakaran. Ciauw Cong perintahkan semua si-wi supaya tetap menyaga kedua orang tawanannya, jangan sampai tertipu musuh. Api itu makin besar dan tiba-tiba datanglah Co Leng melapor.
„Ada kawanan perampok, anak buah kita sudah bertempur dengan mereka !”
Tapi dengan tenang Ciauwj Cong minta supaya ia (Co Ling) saja yang keluar memimpin perlawanan, karena semua si-wi tetap menyaga orang tawanan. Hanya disuruhnya Swi Tay Lim dan Cu Co Im berdua supaya menyaga diatas rumah itu. Setelah berselang beberapa lama, hiruk pikuk itu, menjadi sirap lagi.
Co Ling melapor bahwa kawanan rampok itu memakai tutup muka. Mereka tidak merampas uang, tapi hanya mau membunuh anak buah saja, dan memang kesudahannya ada enam atau tujuh puluh serdadu luka-luka dan meninggal. Dengan adanya gangguan itu, Ciauw Cong tunda keberang katannya sampai besok.
Dalam penyalanan pada besok paginya, pemandangan alam sepanyang yang dilaluinya, sangat indah. Ternyata jalanan itu berada di-tengah-tengah dua buah bukit dan jalanan dimuka me-lingkardua seperti ular yang panyang .
Tiba-tiba dari atas bukit disebelah muka, kelihatan ada seorang penunggang kuda membalap turun dan ketika hampir dekat dia bertereakdua.
„He dengarlah ! Jangan lanyutkan perjalananmu, disi ni ada siluman jahat. Ayo, balik saja, biar selamat !”
Orang itu berpakaian baju kain kasar, pinggangnya dilihat dengan tali rumput, mukanya kuning, alisnya berdiri. Sungguh wajah yang menyeramkan pandangan mata. Sehabis bertereak begitu, dia turun bukit, terus menyelinap disisih rombongan tentara negeri.
Ketika orang itu sudah pergi, tiba-tiba dibarisan belakang, ada seorang serdadu Ceng yang menyerit dengan keras, roboh ditanah terus mati. Rombongan pasukan itu, terke jut dan sama mengerumuninya, tapi ternyata sikorban tersebut. tak mendapat luka suatu apa. Karuan saja, mereka ketakutan setengah mati.
Setelah berjalan kembali, lagi-lagi sipenunggang kuda tadi munCul, dan bertereak pula dengan keras :
„He, dengarkan Kawan-kawan , kau orang bakal berhadapan dengan siluman jahat, mengapa tak mau kembali saja ? Percayalah nyawamu semua pasti diCabut.”
Seruan ini betul-betul membawa pengaruh. Terutama bagi serdadudua yang sama terkejut, mengapa orang itu kembali munCul dari arah muka, sedang tadi sudah pergi kebela kang. Bukit disitu, tak ada lain jalanannya, tambahan pula mengapa begitu Cepat-cepat dia sudah berada disebelah muka lagi.
Ketika orang itu turun bukit lagi, serdadudua sama me nyingkir jauh-jauh. Tidak demikian dengan Cu Co Im, sang pemimpin. Begitu orang itu berada dekat, dia segera hadangkan goloknya untuk menCegat :
„Sahabat, berhentilah !”
Orang itu seperti tak menghiraukan. Dengan enak saja dia ajunkan tangannya kanan untuk menggaplok pundak Co Im. Cepat-cepat Co Im tangkiskan goloknya, tapi seperti terbentur dengan benda keras, goloknya itu terpental jatuh. Dan orang itu seperti tak terjadi apa-apa, terus larikan kudanya. Ketika orang itu sudah melalui rombongan tentara negeri, maka kembali ada seorang serdadu yang menyerit hebat dan roboh binasa.
Sekarang betul-betul keadaan rombongan serdadu itu menjadi panik. Ciauw Cong perintah sekalian si-wi untuk menyaga kereta tawanan, dan dia sendiri lalu pergi me meriksanya.
„Thio taijin, orang itu manusia atau setan?” tanya Co Im sembari me-mijatdua luka dipundaknya.
Melihat wajah Co Im menjadi puCat, Ciauw Cong lantas menyuruhnya buka baju, ternyata pada pundaknya terdapat luka sebesar telur itik. Ciauw Cong kerutkan ji datnya, diambilnya sebungkus obat lalu disuruhnya minum. Dia perintah seorang serdadu untuk memeriksa tubuh ka wannya yang binasa itu, betul juga pada badannya terdapat luka sebesar telur itik. Nyatalah itu bekas sidik dari kelima jari.
Ciauw Cong suruh mengubur majatdua sikorban itu, tetapi tak seorangpun yang berani. Apa boleh buat dia perintahkan semua pasukan untuk bantu ramaidua menguburnya.
„Thio taijin, manusia itu betul-betul mengherankan. Dia menuju kemuka, tapi begitu Cepat-cepat dia sudah berada dibe lakang lagi” sampaidua Swi Tay Lim utarakan kekuatirannya.
Ciauw Cong juga tak bisa menyawab apa-apa. Setelah berpikir sejenak, barulah dia dapat berkata :
„Sdr. Cu, kedua orang serdadu itu terang terbinasa oleh pukulan 'hek-soa-Ciang' (pukulan pasir hitam). Orang-orang kan-gouw yang achli dalam ilmu pukulan itu, sedikit sekali jum lahnya, masa aku tak kenal?”
„Berbicara tentang 'hek-soa-Ciang' kiranya hanyalah Hui Lo tojin yang paling menyagoi. Tapi dia kini sudah menutup mata. Apakah tadi itu roch tojin tersebut ?” tanya Swi Tay Lim.
„Ah, betullah !” seru Ciauw Cong dengan tepukdua paha-nya. „Dialah murid Hui Lo tojin itu. Orang biasa gelarkan mereka Hek Bu Siang dan Pek Bu Siang. Jadi kedua sau dara kembar itulah yang menyaru sebagai setan pengganggu.”
Semua si-wi yang mendengar disebutnya kedua persaudaraan tersebut., atau yang kita kenal sebagai SeeChwan Sianghiap, menjadi keder hatinya. Tapi untuk jangan mengunyuk kan kelemahan, mereka pura-pura berlaku tenang.
Ketika malam itu mereka bermalam di Hek-siong-poh, Co Ling litahkan supaya diadakan penyagaan ronda yang kuat. Tapi keesokan harinya, para peronda itu, tidak kelihatan munCul. Ketika disuruh periksa, ternyata perondadua itu sudah sama menggeletak tak bernyawa lagi. Pada setiap tubuh si korban, ditempeli selembar uang- kertas sembayangan.
Kini peCahlah semangat pasukan negeri itu Malah ada sepuluh orang lebih serdadu yang diam-diam melarikan diri.
Hari itu rombongan Ciauw Cong sampai kepunCak Oh-kiaonia. Inilah punCak bukit yang kesohor paling berbahaja didaerah Kam Keng. Waktu itu justeru bulan sembilan, maka udarapun mulai turun salju. Ketika melintasi bukit tersebut, terpaksa serdadudua itu harus berjalan dengan saling tarik tangan, karena kuatir tergelinCir jatuh kedalam ju rang yang sangat Curam.
Justeru selagi orang tengah memusatkan perhatiannya untuk berjalan dengan hati-hati, tiba-tiba dari arah muka terdengar suara Cuwat-Cuwit, dan dilain saat lalu berobah menjadi suitan yang nyaring dan panyang , berkumandang jauh di-lembahdua dan bikin bulu roma orang berdiri. Men-dengar itu sekalian serdadu sama merandek.
„Ayo, kemarilah kalau mau bertemu dengan malaekat elmaut. Kalau mau hidup kembalilah!” demikian ber-ulangdua terdengar suara teriakan orang.
Peng Bong Sian segera pimpin beberapa orang, untuk maju menerdyang dengan berjalan kaki. Baru saja mem biluk disebuah tikungan, sebuah anak panah telah menancap didada seorang serdadu, siapa segera menyerit dan terjungkal kedalam jurang. Peng Bong Sian gemas, untuk membikin besar hati anak buahnya, dia maju kedepan. Tapi bukan dia, hanya tiga orang anak buahnya yang kembali „termakan” oleh anak panah.
Ketika pasukan itu merandek, munCullah satu orang dari lamping bukit, dengan suaranya yang menyeramkan orang itu berteriak :
„Yang maju akan bertemu dengan elmaut, yang mundur akan selamat !”
Tidak tunggu lagi, berlarilah sekalian serdadu itu berebut duluan. Peng Bong Sian murka, terus menyabet roboh seorang anak buahnya sendiri. Dengan begitu, suasana dapat diatasi lagi. Tapi yang sudah ketlanyur melarikan diri, kira-kira enam tujuh puluh orang itu, sudah tak nampak bayangantija lagi.
„Kau orang jagalah kereta tawanan itu, biar kutemui kedua persaudaraan Siang itu,” kata Ciauw Cong pada Swi Tay Lim.
„Apakah disitu Siang-si Sianghiap? Disini aku Thio Ciaw Cong memberi hormat,” kata Ciauw Cong setelah maju kemuka.
„Wah, harini rupanya Siang-kui (setan kembar) akan bertemu dengan Poan-koan (gelaran Ciauw Cong)!” sahut orang itu dengan tertawa dingin.
Dan dengan ucapan itu, tangan kanan orang telab me nyambar. Karena keadaan tempat itu sempit sekali, tak ada jalan untuk Ciauw Cong berkelit. Terpaksa dia kerahkan lwekang untuk menyambut dengan tangan kiri. Dan berbareng itu, tangannya kanan menyulur kemuka untuk menampar.
Orang itupun tak tinggal diam, tangannya kiri diulurkan untuk menangkis. Jadi kini dua pasang tangan saling ber bentur. Tapi Ciauw Cong dapat berlaku sebat. Dia robah gerakannya dengan Cepat-cepat untuk menyapu paha kiri lawannya.
Karena tak keburu menghindar, orang itu berlaku nekad. Dia rangkapkan kedua tangannya untuk ditotokkan kedua belah jalan darah „thay-yang-hiat.” Dengan miringkan tubuh Ciauw Cong maju dua tindak. Dan orang itupun juga miringkan tubuhnya maju menyerang. Demikian keduanya saling menerdyang . Malah saking dahsyatnya, begitu kepelan berbentur, keduanya sama terpental beberapa kaki kebela kang. Hanya kini kedudukannya berobah. Ciauw Cong beralih kesebelah timur, sedang orang itu berada disebelah barat.
Selagi begitu, tiba-tiba Peng Bong Sian pentang busurnya ke-arah orang itu. Tapi dia ternyata lihai sekali. Tangan kirinya menangkis serangan Ciauw Cong, tangannya kanan men jumput ujung panah gelap itu. Dan menggunakan kesempatan kosong itu dia Cepat-cepat -' berpaling kebelakang untuk menimpuk kembali panah itu. Peng Bong Sian dapat menghindari dengan tundukkan kepalanya, tapi seorang serdadu dibelakangnya telah menyerit roboh.
„Siang-si Siang-hiap, betul-betul tak bernama kosong,” memu ji Ciauw Cong.
Belum lama ucapan itu dikeluarkan, Ciauw Cong rasakan ada angin menyambar dari arah belakang. Dan ketika dikelit, ternyata munCul pula seorang kurus berparas kuning, yang mirip dengan orang satunya tadi. Serangannya pun tak kalah serunya. Kini Ciauw Cong dikerojok dua, dari muka dan belakang.
Ngeri orang melihat ketiga orang itu bertempur. Karena pada jalanan yang sesempit itu, sekali salah gerakannya, pasti akan terpelanting jatuh kcdalam jurang yang sangat tebing itu. Sekalipun Seng Hing dan Co Im membawa dua ratusan serdadu, tapi mereka tak dapat memberi bantuan apa-apa pada Ciauw Cong. Paling banyak-banyak serdadudua itu hanya dikerahkan untuk ber-sorakdua membantu keangkeran.
Setelah berpuluh jurus liwat, sekonyong-konyong salah seorang lawan miringkan bahunya untuk bentur Ciauw Cong, siapa Cepat-cepat mundur selangkah. Melihat itu orang yang satunya Cepat-cepat menghantamnya. Dan berbareng itu, yang lainnya pun mengirim tendangan. Jadi yang satu mendorong yang lain menendang, maka Ciauw Cong teranCam terpental kedalam jurang.
Untuk menghindari tendangan, Ciauw Cong mundur selangkah, dengan begitu kakinya yang sebelah sudah tak menginyak batu karang lagi dan tergantung diatas jurang. Sekalian serdadu sudah sama menyerit ketakutan.
Dalam pada itu, lawan yang seorang tadi, pukulannya sudah menyamber datang. Bagi Ciauw Cong kini tak ada jalan lolos lagi. Dalam keadaan terdesak, sering orang timbul dayanya. Demikian pula Ciauw Cong. Dengan gunakan „kin-na-hoat,” ilmu menangkap senjata musuh dengan tangan kosong, dia Cepat-cepat menyawut pergelangan tangan mu suhnya, terus diangkatnya.
Orang itu berusaha untuk pegang pergelangan tangan Ciauw Cong, tapi karena tubuhnya mengapung diudara, maka kekuatannya berkurang, dan dapatlah dia dilemparkan oleh Ciauw Cong kedalam jurang. Melihat itu, gemuruhlah sorak sorai sekalian serdadu.
Orang itu, yang ternyata adalah Siang He Ci, tidak menjadi gugup. Ditengah udara dia tendangkan kakinya keatas untuk berjumpalitan. Dan dalam pada itu, dia segera keluarkan alatnya „hui-Cao” dikibaskan keatas. Hui-Cao, atau Cakar terbang, adalah semaCam Cengkeram panyang bertali dan gunanya untuk mengait.
Begitu saudaranya mengeluarkan hui-Cao, Siang Pek Ci-pun segera mengeluarkan juga, lalu dibandringkan kebawah. Dan begitu kedua hui-Cao berkaitan, maka dengan Cepat-cepat Siang Pek Ci menariknya keatas. Dengan demikian tak sampailah Siang He Ci jatuh kedalam jurang yang Curam itu.
,,Hwe-jiu-poan-koan memang benardua lihai, sungguh aku merasa kagumi!” kata Siang Pek Ci seraja merangkap kedua tangannya. memberi hormat. Dan tanpa menunggu penyahutan orang, dia segera mengajak kandanya untuk berlalu.
Semua serdadu sama berisik membicarakan pertempuran yang seru itu. Ada yang memuji kelihaian Ciauw Cong, ada yang menyayang kan mengapa tak lemparkan saja orang sho Siang itu kejurang.
„Buge Thio taijin sungguh hebat sekali,” seru Swi Tay Lim seraja menghampiri. „Apakah taijin tak terluka?”
Ciauw Cong tak menyahut dan Coba mengatur napasnya dulu. Dan baru berselang beberapa saat, dia berkata: „Tidak apa-apa.”
Tapi ketika memeriksa pergelangan tangannya dia menjadi terkejut. Disitu terdapat bekas Cap lima jari yang ke-merahduaan seperti terbakar kelihatannya.
Begitulah setelah melalui pegunungan Oh-kiao-nia, mereka a,kan masuk wilayah Bun-lan. Kuatir dengan rintangandua musuh, Ciauw Cong tak mau ambil jalan besar, tapi berputar melalui jalan kecil. Sebenarnya Co Ling sudah mempunyai renCana bagaimana untuk menghadapi kawanan penggang gunya, tapi karena Ciauw Cong sudah memutuskan renCana begitu, apaboleh buat dia menurut saja.
Ketika mendeka,ti tepi sungai Hong-ho, dari jauh sudah terdengar suara ombak yang gemuruh, setelah agak lama pula, barulah tiba sampai di Angsia, suatu tempat penyebe rangan. Tatkala itu hari sudah petang, hari sudah remang-remang, hanya air sungai yang mengalir santar ketimur itu bergemuruh men-dampardua tepi, air sungai yang butek itu bagai air mendidih yang bergulung-gulung gemulung.
“Malam ini juga kita harus menyeberang, melihat keadaan sungai yang berbahaja, sedikit tertahan mungkin bisa runyam,” demikian kata Thio Ciau Cong pada pengiringnya.
Lalu ia perintahkan perajuritnya pergi menCari kapal tambangan, tapi sudah diCari setengah harian tiada suatu pun yang didapatkan, sementara itu hari sudah gelap.
Selagi Ciau Cong merasa gopoh, tiba-tiba dari hulu sungai sana bagai panah Cepat-cepat nya sedang melunCur datang dua perahu. Tentu saja Ciau Cong- menjadi girang, segera perajurit-'nya ber-teriakdua dan kedua perahu itupun pelahandua mentepi.
“Hai, tukang perahu, lekas kau menyeberangkan kami, nanti dihadiahi banyak-banyakdua,” segera Peng Bong Sian berteriak dulu.
Maka terlihatlah dari bagian belakang salah satu perahu itu berdiri seorang lakidua kekar sambil memberi tanda dengan tangannya.
“Eh, apa kau bisu?” tanya Peng Bong Sian mendongkol.
“Tiunama, mau naik lekas naik, tak mau naik bilang tak naik, peduli apa kau banyak-banyak bicara,” demikian terdengar orang itu menyahut.
Ternyata orang itu telah memaki dengan “Tiunama” dan kata-kata Kongfu lain yang susah dimengarti, agaknya tukang perahu itu adalah orang Kongfu.
Karena itu, Bong Sian tak mengurusnya lagi, ia minta Ciau Cong dan para Si-wi mengiringi dua kereta besar itu naik keatas kapal dulu.
Tapi ketika Ciau Cong mengamat-amati situkang perahu itu, ia lihat kepala orang gundul botak tiada seberapa rambutnya, urat daging lengannya kentyang kuat dengan spir-nya yang menonyol, suatu tanda tenaganya pasti besar luar biasa, malahan penggajuh yang dipegangnya itu tertampak hitam antap seperti bukan terbuat dari kaju. Seketika pikirannya tergerak, ia sendiri tak bisa berenang, hal ini ia harus hati-hati jangan sampai terpedaya.
Sebab itu, maka katanya kemudian pada Bong Sian : “Peng-taijin, silahkan kau saja naik dulu dengan dua0 pe-rajuritmu.”
Bong Sian mengia, terus naik keatas perahu yang sudah menunggu. Begitu pula perahu yang lain juga ditumpangi beberapa puluh perajurit, tukang perahu sebelah sana menutupi separoh wajahnya dengan sebuah Caping, maka tak jelas air mukanya.
Ketika kedua perahu itu sudah bergerak, saking santarnya air sungai, perahudua itu didajung dulu kehulu sungai, setelah belasan tombak baru kemudian ganti haluan ketengah sungai.
Ternyata kedua tukang perahu itu sangat mahir, dengan selamat beberapa puluh perajurit itu sudah mereka seberangkan dan kembali datang buat menyeberangkan yang lain.
Sekali ini adalah gilirannya Cho Ling yang pimpin pera juritnya naik keatas perahu. Tapi baru saja perahudua itu berpisah dari gilidua, tiba-tiba dari belakang sana terdengar suara suitan panyang , lalu sahut-menyahut disana sini.
Lekas-lekas Thio Ciau Cong memerintahkan perajuritnya tersebar dan mengitari kereta besar di-tengah-tengah, busur panah mereka siapkan untuk menyaga segala kemungkinan.
Tatkala itu bulan baru mulai menongol, maka terlihatlah dari arahdua timur, barat dan utara munCul belasan penunggang kuda secara terpenCar.
“Ada apa? segera Ciau Cong kaprak kudanya memapak sambil membentak.
Pendatangdua itu lantas berjajar lurus dan pelahandua mendekat, seorang diantaranya lalu tampil kemuka, pada tangannya tidak terdapat senjata, hanya sebuah kipas lempit putih kelihatan dikibasnya pelahandua. “Apakah yang berhadapan inilah Hwe-Chiu-poan-koan Thio Ciau Cong?” ta nyanya segera.
“Ja, betul Cayhe (aku yang rendah) adanya,” sahut Ciau Cong. “Dan tuan siapa ?”
“Haha, Suko kami berkat penghantaran kalian sampai di sini, kini tak berani bikin sibuk lebih lama lagi, maka se ngaja datang buat menyambutnya,” demikian kata orang itu tanpa menyawab.
“O, kalian adalah orang Hong Hwa Hwe?” tanya Ciau Cong pula.
“Dikalangan kangouw orang bilang ilmu silat Hwe-Chiu-poan-koan tiada taranya, siapa tahu pandai juga menduga sesuatu seperti dewa,” sahut orang itu tertawa. “Ja, memang kami orang Hong Hwa Hwe !”
Habis berkata, tiba-tiba orang itu bersuit panyang dengan keras sekali, karena tak menduga-duga hingga Ciau Cong pun dibikin kaget. Dan karena suitan itu, segera terdengar tukangdua perahu tadipun membalasnya dengan sekali suitan.
Cho Ling yang berduduk didalam perahu itu, ketika melihat ditepi sana kedatangan musuh, memangnya hatinya lagi kebat-kebit tak . tenteram, tiba-tiba didengarnya pula situ kang perahu bersuit panyang , karuan wajahnya semakin puCat bagai majat.
Mendadak tukang perahu itu palangkan penggajuhnya hingga lajunya perahu tertahan, lalu katanya dalam bahasa Kongfu : “Nah, saudara-saudara yang baik, aku kira paling selamat lekasan masuk air saja.”
Sudah tentu Cho Ling tak paham akan bahasa Kwitang orang, hanya matanya terpentang lebardua sambil ter-nganga.
Sementara itu didengarnya pula suara nyanyian nyaring merdu dari situkang perahu yang sana, begini lagunya :
Sejak kecil Thayouw tempat beta dibesarkan, bunuh orang berapa banyak-banyak selamamja tak sungkan; Golok membaCok pembesar korup pasti terbasmi, perahu terguling perajurit Cing masuk sungai!
Mendengar nyanyian itu, karuan hati Cho Ling semakin ketakutan.
Apabila kemudian suara nyanyian itu berhenti, segera terdengar situkang perahu itu berseru : “Capsahte, Ayolah turun tangan !”
Lalu situkang perahu yang ditumpanginya ini memberi sahutan sekali dalam basa Kongfu.
Meski dalam ketakutan, namun Cho Ling masih Coba angkat tombaknya terus menyerang situkang perahu lebih dulu. Namun Cepat-cepat sekali tukang perahu itu sudah melompat kedalam sungai, begitu pula tukang perahu sebelah sa napun melompat kedalam air, hingga karena kehilangan sipengemudi, kedua perahu itu terus ber-putardua ditengah sungai. Karuan Cho Ling dan perajuritdua Cing itu ber-teriakdua ketakutan.
Disebelah sana hambadua negeri yang berada didaratan itu ada yang lagi ber-jagadua atas serbuan musuh, ada pula yang tak tahan menyaksikan suara teriakan didalam perahu yang ter-dampardua ditengah sungai yang keras arusnya itu, kedua perahu itu kelihatan bergontyang beberapa kali lagi, lalu mendadak terbalik, dalam keadaan panik dengan suara je ritan penumpangduanya itu, tiada ampun lagi pembesar dan perajuritdua itu sudah terCemplung semua dan terhanyut arus sungai.
Sebaliknya kedua tukang perahu tadi ternyata sangat mahir berenang, tiada seberapa lama mereka sudah berada ditepi sungai lagi. Tapi karena santarnya arus air, ketika mendarat kedua tukang perahu itu sudah berada dijarak ratusan tombak dibawah hulu sungai sana, segera perajuritdua Cing didaratan itu menghamburkan panah, tapi karena jaraknya sudah jauh, pula dimalam gelap gelita, sasaran tak terang, tentu saja tiada yang kena.
Namun aneh juga, kedua tukang perahu itu bukannya larikan diri, tapi malah memapak menuju kepasukan tentara Cing itu.
Dalam pada itu diam-diam Thio Cian Cong lagi berSyukur, tadi kalau bukan dirinya berlaku waspada, pasti sekarang sudah menjadi setan didalam sungai. Lekas-lekas ia tenangkan diri, lalu dengan suara keras ia membentak orang tadi : “Ha, kalian sepundyang jalan terus membunuh perajuritdua dan pembesar negeri, dosamu itu sekalidua tak bisa diampuni, kini kedatanganmu malah kebetulan. Nah, katakan dulu, siapakah kau dalam Hong Hwa Hwe ?”
“Tak perlu kau tanya padaku,” sahut orang itu tertawa, “bila kau kenal senjataku, dengan sendirinya kau tahu siapa aku.” — Habis berkata, enteng sekali ia telah melompat turun dari kudanya, lalu serunya : “Sim Hi, mana, ambilkan kesini !”
Segera Sim Hi membuka buntalannya dan menyodorkan dua maCam senjata ketangan ketua umum Hong Hwa Hwe, yaitu Tan Keh Lok.
Thio Ciau Cong segerapun melompat turun dari kudanya sambil lolos pedangnya, ia mendekati orang beberapa tindak dan selagi ingin menegasi wajah lawan itu, tiba-tiba dari be-lakangnya menyerobot maju satu orang.
“Thio-taijin, biar aku saja yang membereskan dia,” de mikian kata orang itu.
Ternyata orang itu adalah jago pengawal Cu Co Im. Kebetulan, pikir Ciau Cong, biar orang dipakai perCobaan dulu baru kemudian ia maju sendiri. Maka ia lantas mun dur lagi sambil berkata : “Baiklah, Cuma harus ber-hati-hati.”
Segera pula Cu Co Im itu maju lebih dekat terus membentak : “Hai, kawanan berandal, besar amat nyalimu berani merampas tawann kerajaan, terimalah golokku ini !” — Berbareng itu goloknya lantas membaCok keatas kepala Keh Lok.
Dengan sendirinya Keh Lok angkat senjata ditangan ki-rinya untuk menangkas.
Dibawah sinar bulan, Cu Co Im dapat melihat bentuk senjata yang dipakai lawannya sangat aneh, jakni sebuah tameng, tapi diatas tameng itu tumbuh sembilan buah paku berkait tajam, asal goloknya kebentur tameng itu, pasti akan terkait tak terlepas. Karena itu, ia menjadi kaget, lekas-lekas ia tarik kembali goloknya.
Namun tameng yang digunakan Tan Keh Lok itu dapat digunakan untuk menangkis serta untuk menyerang, ketika orang tarik kembali senjatanya, sekalian ia membarengi menekan kebawah.
Cepat-cepat Cu Co Im ajun goloknya kesamping buat memotong bahu kiri lawan. Namun Keh Lok telah baliki tameng nya lagi buat mengkait terus menyojoh kedepan. Karena itu terpaksa Cu Co Im mundur dua tindak.
Tak terduga, mendadak tangan kanan Keh Lok mengajun, tahu-tahu lima utas tali telah menyamber kedepan, disetiap ujung tali itu terikat sebuah bola baja yang kusus digunakan peranti menutuk tiga enam jalan darah utama ditubuh orang.
Terkejut luar biasa Cu Co Im melihat senjata hebat itu, ia, kenal bahaja apa yang menganCam, lekasan saja ia meloncat pergi, siapa duga ujung tali orang seperti bermata saja, tahu-tahu pungg'ungnya terasa pegal, jalan darah „Ci-tong-hiat” dipunggungnya ternyata sudah kena tertutuk, diam-diam Cu Im mengeluh, namun sudah terlambat, kedua kakinya sudah tergubet oleh tali orang.
Apabila Keh Lok menarik talinya terus diangkat dan dilepaskan pula, maka. tak ampun lagi tubuh Cu Co Im seperti didorong saja terus membentur kesebuah batu Cadas dan tampaknya segera bakal kepala peCah dan otak berantakan.
Melihat gerakan musuh diwaktu melompat turun dari kuda tadi, Thio Ciau Cong sudah tahu sebelumnya bahwa Cu Co Im jauh bukan tandingan lawannya, ia saksikan pertarungan yang hanya makan waktu dua-tiga jurus itu lantas Co Im terlempar akan membentur batu, maka tanpa pikir lagi ia melesat maju terus menghadang didepan batu Cadas itu, sekali ia ulur tangan, Cepat-cepat kunCir Cu Co Im kena ditariknya terus diangkat, lalu ia tepuk „tan-tian-hiat” dadanya buat melepaskan tutukan musuh tadi.
„Saudara Cu, baiknya kau mengaso saja dulu,” demikian kata Ciau Cong kemudian.
Namun saking ketakutan dan sudah peCah nyalinya, maka' Cu Co Im hanya terCengang tak sanggup menyawab.
Sementara itu sambil menghunus pedang pusakanya 'ih pek-kiam' lantas Thio Ciau Cong melompat kehadapan Tan Keh Lok. „Usiamu semudah ini, tapi sudah memiliki kepandaian bagus. Hai, anak muda, siapakah gurumu?” segera ia menegur.
„Huh, mentangdua lebih tua, tanya orang semaunya!” tiba-tiba Sim Hi menyela sebelum Keh Lok menyawab. „Dan kau sendiri, siapa gurumu?”
Tentu saja Ciau Cong menjadi gusar. „Anak benal kurangajar, berani kau ngaCo-belo,” damperatnya kontan.
„Ah, tentunya kau marah karena kau tak kenal senjata KonCu kami bukan?” ejek Sim Hi tiba-tiba . „Baiklah, asal kau menyura tiga kali padaku, segera juga aku beritahu-kan padamu.”
Namun Ciau Cong tak menggubrisnya lagi, sekali pe dangnya bergerak, Cepat-cepat sekali ia menusuk kebahu kanan Tan Keh Lok.
Tetapi tali ditangan kanan Keh Lok tiba-tiba diajun keatas terus melilit dibatang pedang musuh, berbareng tameng ditangan kiri didorong kedepan buat menghantam muka Thio Ciau Cong.
Dan begitulah segera Ciau Cong keluarkan „Ju-hun-kiam-hoat” yang hebat dari penguruannya untuk menempur senjata-nyata aneh Tan Keh Lok dengan sengit.
Sementara itu kedua tukang perahu tadi sudah berlari sampai didepari perajuritdua Cing, segera hambadua negeri itupun menghamburkan anak panah lagi, namun dapat disam pok jatuh oleh kedua orang itu. Kiranya mereka bukan lain jalah 'Tang-thau-gok-hi' Cio Su Kin, sibuaja berkepala tembaga, dan dibelakangnya itu yang telah menCopot Caping serta mantelnya hingga kelihatan pakaian renangnya yang hitam mulus, kedua tangannya mengunus sepasang golok, nyata ialah 'Wan-yang-to' Lou Ping, sigolok kembar
Tatkala itu Cio Su Kin telah putar penggajuh besinya menyerbu kedalam pasukan musuh, dua perajurit paling depan telah kena dikeperuk olehnya hingga batok kepalanya peCah berantakan, karuan yang lain-lain sama ketakutan hingga lari menyingkir.
Dengan Cepat-cepat pula Lou Ping mengikut dibelakang ka wannya terus menerdyang sampai disamping kereta besar.
Seng Hing yang berjaga tidak jauh disitu, dengan senjata tojanya „Ce-bi-kun” segera menghadang maju dan menempur Cio Su Kin. Sebaliknya Lou Ping telah berlari kesebuah kereta besar itu terus menarik tirai penutupnya sambil berteriak menanya : “Toako, apakah kau berada didalam ?”
Tak terduga yang berada didalam kereta itu adalah Ie Hi Tong yang luka parah itu, ketika dalam keadaan sadar-tak-sadar pemuda itu mendengar suaranya Lou Ping, ia me nyang ka dirinya sedang berada dalam mimpi, tapi mengira pula dirinya sudah mati dan berjumpa dengan Lou Ping diacherat, maka dengan girang ia menyawab : “Ah, kau pun sudah datang?”
Sebaliknya dalam keadaan Buru-buru Lou Ping mendengar bukan suara sang suami, meski suara orang itu Cukup dikenalnya, namun tak sempat dipikir pula, Cepat-cepat ia berlari mendekati kereta yang kedua.
Dan selagi ia hendak menyingkap tirai kereta buat meli hatnya, sekonyong-konyong sebuah senjata “Ku-gi-to,” sejenis golok yang bergigi seperti gergaji, telah membabatnya. Namun Lou Ping sempat menangkis dengan golok kanan, berbareng golok ditangan kiri kontan balas menyerang dua kali susul-menyusul kepundak kanan dan paha kiri musuh.
To-hoat atau ilmu golok Lou Ping ini menurut Cerita di turun dari Han Se Tiong, itu panglima terkenal dijamannya Gak Hui diahala Song, diwaktu Han Se Tiong menggempur tentara Kim, ia gunakan senjata golok panyang ditangan kanan yang bernama “Toa-Che” atau sihijau tua, dan golok pendek ditangan kiri yang bernama “Sio-Che” atau sihijau muda, dengan sepasang golok itu entah berapa, ba nyak tentara Kim yang tewas ditangannya.
Dan Lou Ping ternyata kidal, jakni tangan kiri lebih bebas dari tangan kanan, maka ayahnya Sin-to, sigolok sakti, Lou Goan-thong telah tyang kok ilmu golok itu dan diajarkan pada puterinya yang tunggal ini, maka golok ditangan kanan Lou Ping hanya memainkan jurus-jurus ilmu golok yang biasa saja, tapi golok pendek ditangan kiri dapat berubah tiada habis-habisnya hingga merupakan suatu keahlian tersendiri didunia persilatan.
Dalam pada itu dibawah sinar bulan bila Lou Ping mengenali musuhnya itu adalah satu diantara delapan jago pengawal yang pernah mengembut dan menangkap suami nya di LanCiu tempo hari, tak tertahan lagi ia menjadi murka hingga serangan-'nya bertambah gencar.
Kiranya penyerang dengan “Ku-gi-to” itu ialah Swi Tay Lim, ia sudah kenal betapa lihainya 'hui-to' atau pisau terbang sinyonya jelita ini, maka ia putar senjatanya sedemikian Cepat-cepat nya agar Lou Ping tak sempat melepaskan senjata rasianya itu.
Tak lama pula, ada dua jago pengawal lain telah memburu datang membantu, begitu pula pasukan tentara itupun lantas merubung maju hingga Cio Su Kin dan Lou Ping terkepung rapat.
Sekonyongdua terdengar suitan, dan dari arah timur serta utara menyerbulah sekawanan penunggang kuda kearah itu. Yang dimuka sendiri adalah Wi Jun Hwa, lalu dibelakang nya Ciang Bongkok, Nyo Seng Hiap dan Ciu Ki. Dibawah hujan panah dari tentara Ceng, Jun Hwa tampak memutar sepasang siangkao (gaetan) untuk melindungi Kawan-kawan nya. Tapi sebatang anak panah telah menyusup tepat dileher kudanya hingga seketika binatang itu binal dan menendang se orang serdadu. Dengan sebat, Jun Hwa loncat turun terus menerdyang .
„Aduh, aduh “ demikian suara jeritan ber-ulangdua.
Dua orang serdadu menyerit dan roboh. Habis itu, Jun Hwa langsung meny erang Swi Taij Lim, siapa terpaksa tarik serangannya pada Lou Ping dan terus menangkis lawannya yang baru itu. Dalam pada itu si Bongkok, ,Seng Hiap dan Ciu Ki telah amuk habis-habisan rombongan tentara itu hingga lari pontang panting.
Pertempuran dalam gegap gempita itu, tiba-tiba tampak sebuah tongkat 'Ce-bi-kun' melayang ke udara. Itulah senjata nya Seng Hing, salah seorang si-wi yang ditugaskan membantu Ciauw Cong. Karena ingin menyudahi pertempurannya de-ngan si-wi tersebut, Cio Su Kin telah menangkis sekuat-kuatnya, dan kesudahannya senjata pahlawan istana itu terlempar keudara, sedang orangnya pun terus angkat langkah panyang !
Si-wi yang menjadi lawan Lou Ping pun telah mendapat dua luka, darah membasahi seluruh tubuhnya, namun dia tetap berkelahi. Tiba-' dia rasakan ada angin menyambar dari belakang. Ketika dia berputar kebelakang, tahu-tahu sebatang kong-pian sudah meng-anCam mukanya. Buru-buru dia menangkis dengan goloknya, tapi gempuran kong-pian begitu dahsyatnya hingga goloknya terlempar lepas dari tangannya. Dengan sebat, dia lemparkan tubuh untuk bergelundungan ditanah, tapi tak urung punggungnya kena didupak kaki lawannya.
Begitu bebas, Lou Ping kembali menyerbu kearah kereta yang nomor dua, terus disingkap tendanya dan melongok kedalam.
„Siapa?” tanya suara dari dalam kereta itu.
Sungguh suara itu terasa begitu merdu merasuk kedalam kalbu Lou Ping.
Dengan serta merta ia loncat masuk dan mendekap orang didalam itu yang memang nyata adalah Bun Thay Lay. Nyonya muda yang gagah itu, menangis tersedu-sedu karena girang dan terharu. Bun Thay Lay pun terharu kegirangan, hanya karena tangan dan kakinya diborgol dia tak dapat berbuat apa-apa.
Di-tengah-tengah pertempuran berdarah itu, sepasang suami isteri itu tak menghiraukan apa-apa keCuali hanya menumpahkan perasaan masing-masing.
„Suko, kita antar kau pulang!” tiba-tiba berbareng dengan gontyang nya kereta, Ciang Bongkok melompat kedalam dan terus duduk ditempat kusir. Dan kereta segera akan dilarikan kejurusan utara.
Beberapa si-wi dengan nekad Coba akan menyerbunya, tapi dihadang oleh Seng Hiap, Jun Hwa, Su Kin dan, Ciu Ki berempat. Apa boleh buat, kawanan si-wi itu mundur, lalu perintahkan barisan serdadu untuk melepas panah.
Karena malam gelap, sebatang anak panah berhasil me nanCap dipundak Seng Hiap yang segera menyerit kesakitan.
„Pat-ko, kau bagaimana?” tanya Jun Hwa.
Dengan digigit pakai gigi, panah itu telah diCabutnya sendiri. Lalu Su Kin menggerung keras-keras:
„Akan kubasmi kawanan budak itu !”
Tanpa hiraukan lukanya, dia terdyang kawanan serdadu itu. Jun Hwa pun ikutduaan mengamuk, hingga dalam beberapa saat ada tujuh delapna serdadu yang roboh. Lain-lainnya terus melarikan diri, dikejar oleh kedua orang Hong Hwa Hwe tersebut. Sedang dari arah sana, Beng Kian Hiong dan An Kian Kong sudah siap menyambutnya. Sekali lepas pelurunya, Kian Hiong telah berhasil merobohkan beberapa orang, ada yang matanya luka, hidungnya bengkok dan lain-lain. Keadaan makin gaduh tak karuan.
Su Kin dan Ciu Ki melindungi kereta, sedang Ciang Bongkok menghentikan kereta itu pada sebuah tanyakan untuk melihat pertempuran antara ketuanya dengan pemimpin kawanan kuku garuda.
„Bagaimana pertempuran itu?” tanya Thay Lay.
„Congthocu sedang tempur Ciauw Cong,” sahut Lou Ping.
„Apa, Congthocu?” menegasi suaminya.
„Kau tak tahu, bahwa siaothocu sekarang sudah menjadi Congthocu kita,” sahut sang isteri.
„Bagus kalau begitu. Manusia Thio Ciauw Cong itu sangat lihai, jangan sampai Congthocu kena apa-apa dengan dia,” kata pula Thay Lay dengan, kuatir.
Lou Ping melongok keluar dari tenda untuk melihat ja lannya pertempuran.
„Apa thocu sanggup melajaninya?” kembali Bun Thay Lay utarakan kekuatirannya.
„Senjata dari Cong-thocu1 lihai sekali. Tangan kiri memegang tun-Pai (perisai atau tameng), dan yang kanan lima utas tali yang berujung bola baja. Coba dengarlah bagaimana bola itu Menderu-deru suara samberannya.”
„Apa, ujungnya diikat dengan bola baja? Jadi dia bisa pakai tali untuk menotok jala.n darah?” menegasi Bun Thay Lay.
„Ha, Ciauw Cong kini dikepung oleh kelima tali Congthocu!” seru Lou Ping.
„Apakah tenaga thocu Cukup kuat?” tanya suaminya. „Rupanya samberan talinya sudah mulai pelahan.”
Lou Ping tak menyahut, tiba-tiba ia berjingkrak dan berseru keras: „Bagus, pedang Ciauw Cong terkait oleh tun-Pai, bagus, bagus, sabetan tali kali ini tentu berhasil. Aja, Celaka !”
„Bagaimana?” sela Thay Lay.
„Pedang orang itu ternyata sebuah pokiam. Dua buah gaetan dari tun-Pai itu telah terpapas kutung. Ah, Celaka talipun tersabet kutung bagus, hai, serangan itu luput. Celaka, gaetan kembali putus, kini Cong-thocu pakai tangan kosong untuk melajaninya, wah, manusia itu kejam sekali. Bagus, kini Bu Tim totiang maju. Cong-thocu mundur.”
Mendengar itu legahlah hati Bun Thay Lay. Dia tahu bahwa tojin itu ilmu pedangnya lihai sekali. Selama mendengari keterangan jalannya pertempuran itu tadi, Bun Thay Lay sampai mengeluarkan keringat dingin karena menguatirkan keselamatan pemimpinnya.
Pada lain saat terdengarlah suara tereakan yang mengagetkan dari orang banyak-banyak, maka bertanyalah Bun Thay Lay pada isterinya.
„Totiang mengeluarkan ilmu permainannya Tui-hun to-beng-kiam, santernya bukan main, Ciauw Cong selalu main mundur-mundur saja,” kata Lou Ping.
„Coba lihatlah,, apakah kakinya itu masih menginyak pada langkah pat-kwa?”
„Ah, dia melangkah ke kian-wi, kini ke kian-kiong lalu menginyak Cin-wi, benarlah, bagaimana kau bisa menge tahuinya?” tanya Lou Ping dengan heran.
„Manusia itu bugenya tangguh sekali, kujakin dia tentu bukan mundur sewajarnya. Dalam salah satu jurus ilmu pedang kaum Bu Tong Pai ada yang di gunakan untuk melelahkan tenaga musuh dengan main mundur-mundur setelah itu baru balas menyerang. Sekarang dia tentu akan menginyak kelangkah pat-kwa, sayang , sayang !”
„Sayang apa?” tanya sang isteri.
„Sayang aku tak dapat menyaksikan. Orang yang bisa men jalankan ilmu pedang itu, tentu sempurna sekali kepandaian nya. Dmu itu baru dikeluarkan bila betul-betul bertanding dengan musuh yang tangguh. Pertempuran seperti itu, jarang sekali kita bisa menyaksikannya.”
„Totiang kini gunakan ilmu tendangan lian-hoan-bi-jong-thui yang lihai tak tertara, koko!” tiba-tiba Lou Ping berseru.
„Ja, karena dia kekurangan sebelah tangan, maka dia jakinkan kakinya dengan sempurna untuk menutup kekurangan itu. Kuingat, ketika bertempur dengan kaum Ceng Ki Pang, diapun gunakan ilmu tendangan itu untuk menga lahkannya,” kata Bun Thay Lay.
Kiranya semasa mudanya Bu Tim Tojin telah penuh berkeCimpung dalam pertempuran. Banyak-banyaklah sudah dia melakukan gerakan besar. Bugenya lihai, ambeknya tinggi. Kawanan pembesar betul-betul tobat terhadapnya. Tetapi ketika pada suatu hari dia berjumpa dengan seorang gadis dari keluarga seorang pembesar, entah apa sebabnya, dia telah jatuh hati. Gadis itu sebenarnya tak mau membalas Cinta nya, tapi karena mendapat anyuran ayahnya, ia pura-pura mau menerima kunyungan Bu Tim pada suatu malam.
„Kau sebenarnya tak sungguh-sungguh menyintai aku,” demikian gadis itu mainkan aksinya.
DiCengkeram oleh asmara yang ber-kobardua, Bu Tim bersumpah kerak-keruk. Gadis itu tetap tertawa :
„Kaum lelaki itu, memang mudah saja mengucapkan sumpah. Kalau kau betul-betul Cinta padaku, kau kutungilah sebelah tanganmu.”
Tanpa berpikir panyang , pemuda yang dimabuk asmara itu, segera menCabut pedang dan menabas kutung lengan kirinya. Berbareng pada saat itu, keluarlah barisan bayhok kawanan polisi, untuk merejengnya. Karena sakitnya, Boe Tim pingsan tak sadarkan diri, dan dengan mudah dapatlah dia ditawan.' Boe Tim di jatuhi hukuman panggal kepala.
Ketika saudara seperguruannya mengetahui, mereka ber sarekat dengan orang-orang gagah untuk merampok penyara dan menolongnya. Juga sigadis sekeluarga ditawan untuk menunggu putusan Bu Tim. Orang menduga Bu Tim tentu akan bunuh mati mereka atau tetap akan memperisterikan gadis tersebut. Tapi ternyata tidak demikian. Melihat wajah gadis yang diCintainya itu, hati Boe Tim luluh. Disuruhnya melepaskan gadis dan keluarganya semua, dan dia dengan diam-diam pergi dari kota kediamannya itu, ia mengasingkan diri dan tirakat menjadi imam.
Sekalipun sudah menyuCikan diri, namun adatnya masih belum berobah. Karena itu dia diminta menjadi pembantu dari Ie Ban Thing yang waktu itu mulai mendirikan Hong Hwa Hwe
Pada suatu ketika Hong Hwa Hwe telah bentrok dengan Ceng Ki Pang. Dan kedua fihak sama-sama setuju menCari penye lesaian dengan adu silat. Kaum Ceng Ki Pang mengejek Bu Tim hanya bertangan satu. Karena marahnya, Bu Tim sumbar minta dikerojok. Dan benar, malah dengan mengikat tangannya yang tinggal satu itu dengan tali dia gunakan ilmu tendangan 'lian-hoan-bi-jong-tui' yang lihai itu untuk merobohkan beberapa jago fihak musuhnya. Melihat itu fihak Ceng Ki Pang merasa kagum dan menyatakan menggabung dalam Hong Hwa Hwe Thiat-tha Nyoo Seng Hiap sebenarnya dulu adalah orang Ceng Ki Pang. Di Hong Hwa Hwe kini dia menduduki kursi no. delapan.
Baiklah hal itu kita tinggalkan dulu dan menenengok keadaan Lou Ping yang menjadi juru bicara untuk suami nya mengenai jalannya pertempuran itu. Katanya :
„Tindakan kaki Ciauw Cong kini agak kalut melajani tendangan totiang. Sekarang dia sudah menginyak jalan pat-kwa”.
„Bagus, dia belum pernah bertemu dengan tandingannya.
Kali ini tentu Ciauw Cong mengetahui sampai dimana-mana kelihaian orang-orang Hong Hwa Hwe kita.” kata Thay Lay.
Tapi pujian itu telah dijawab dengan tefeakan : „Celaka” dari Lou Ping, sudah tentu Bun Thay Lay kaget dan Buru-buru menanyakannya.
„Totiang telah sibuk berkelit kesana sini, orang itu entah sedang melepas senjata rahasia apa, rupanya sangat kecil sekali!” sahut sang isteri.
Bun Thay Lay pusatkan perhatiannya untuk mendengarkah dan ternyata suara yang bersiutan itu lemah sekali kedengarannya.
„Ah, itulah jarum hu-yong-Ciam dari Bu Tong Pai yang paling lihai !” tiba-tiba serunya.
Dalam pada itu, karena berhenti ditanyakan, maka kereta itu mundur beberapa tombak kebelakang. Kemudian lagi-lagi Lou Ping berkata :
„Totiang telah memutar pedangnya bagaikan kitiran Ce-patnya. Jarumdua itu satupun tak ada yang mengenai. Kini keduanya bertempur lagi, dan kembali totiang menang angin. Tapi Ciauw Cong sangat kuat dalam pemaelaan.”
Bun Thay Lay segera minta isterinya membuka tali ikatan kaki dan tangannya. Karena itu barulah Lou Ping ingat, lekas-lekas ia melakukan apa yang diminta. Tiba-tiba diluar terdengar suara gemerentyang yang keras sekali, maka Buru-buru Lou Ping melongok keluar.
„Wah, Celaka, pedang totiang telah dipatahkan. Orang she Thio itu betul-betul lihai. Eh, koko, aku telah memperoleh seekor kuda bagus untukmu,” dalam suasana yang mendesak itu tiba-tiba ia teringat akan kuda putihnya.
„Ah, salah, mengapa harus ter-Buru-buru . Coba kau lihat lagi totiang”, kata Bun Thay Lay dengan tersenyum.
„Kali ini totiang berhasil menendang paha lawan, dan orang itu mundur beberapa tindak dan kini Tio samko yang melajani”.
„Totiang sekalipun sudah menjadi orang beribadat, tapi adatnya masih suka umbar kemarahan dengan memaki-maki. Kau tuntun aku keluar, kuduga Tio samko tentu akan adu senjata rahasia dengan Ciauw Cong”.
Lou Ping sedianya akan menuntunnya tapi terjata luka dipaha dan lengan suaminya itu begitu hebat, hingga dia sampai menyerit ketika akan berbangkit. Lou Ping minta suaminya supaya mengasoh didalam kereta itu saja, biar ia yang menyampaikan tentang jalannya pertempuran itu.
Bun Thay Lay pernah mejakinkan „am ki thing hong sut”, mendengarkan samberan angin dari senjata rahasia. Maka begitu ada semaCam bunyi menderu lantas dia mengatakan bahwa itulah „siu-Cian” (panah kecil) dan lain saat ia berseru : „Ah, itulah hui-hong-Ciok (batu belalang terbang).”
„Bukan, tadi dia menyambuti semua senjata rahasia yang dilepaskan oleh Tio samko, dan kini dia mengemba likannya. Ah, samko betul-betul mempunyai seribu tangan, bagaimana dalam sekejap saja dia bisa sambitkan sekean banyak-banyak senjata rahasia. Ha, betul-betul seperti hujan, kasihan, lebih baik orang she Thio lari sembunyi saja,” demikian Lou Ping.
Selama memberi komentar itu, Bun Thay Lay menampak bagaimana aju dan menarik wajah isterinya itu, dan tanpa terasa hatinya bergontyang keras. Sampaidua dia terlunCur untuk memanggilnya. Dengan bersenyum manis, Lou Ping berpaling kearah suaminya.
Sedang pada saat itu, Tio Pan San telah mengeluarkan senjata simpanannya, jakni yang satu disebut „hui-liong-pik” dan yang lain „hui-yan-gin.” Dia arah lawannya dengan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Tio Pan San adalah orang UnCiu dari wilayah Ciatkang. Semasa kecilnya dia pernah ikut ayahnya untuk berdagang ke Lam Yang, Didaerah Lam Yang itu dia merasa ketarik dengan semaCam senjata karet dari penduduk peribumi yang kalau dilemparkan bisa kembali sendiri. Pan San adalah murid dari Thay Kek Bun, keistimewaannya terletak dalam soal senjata rahasia.
Kesan dari senjata penduduk Lam Yang itu, telah mendorongnya untuk menCiptakan semaCam senjata yang disebutnya „hui-liong-pik” atau naga melilit. Dan „hui-yan-gin” atau burung walet perak itu, adalah juga dari hasil pejakinannya yang mendalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar