Rabu, 14 Maret 2012

Puteri Harum dan Kaisar Jilid 12

MESKI masih hijau, tapi Ciu Ki insaf juga dalam ke adaan demikian,' Cukup berbahaja, tapi sama sekali ia tak berdaya dan tak tahu apa yang harus dilakukannya, saking gugupnya, entah gusar pada Thian Hong atau marah! pada diri sendiri, tanpa tujuan ia angka.t goloknya mem-baCokdua lantai, sampai achirnya ia mendekap diatas meja dan me nangis tersedu-sedan.
Melihat keadaan itu, sinenek merasa kasihan juga takut-takut, maka tak berani maju menghiburnya.
Setelah menangis sebentar, tiba-tiba Ciu Ki menanya sinenek: „Apakah dikota ada tabib?”
„Ada, ada,” sahut orang tua itu Cepat-cepat , „kepandaian tabib Cho Su Ping paling hebat, Cuma......... Cuma lagaknya sangat besar, selamanya tak sudi diundang kepedusunan seperti ini. Waktu - puteraku sakit, aku bersama menantuku entah menyura berpuluh kali padanya, tapi sedengkal iapun tak mau dating.”
Mendengar itu, tanpa menunggu selesai orang menutur, Cepat-cepat gadis itu usap air matanya terus; berbangkit. „Sekarang juga aku pergi meng'undangnya,” demikian katanya.
„Cuma ko… engkoku itu tinggal disini mohon kau suka menyaganya baik-baik .”
„Jangan kuatir, nona,” sahut sinenek. „Tapi, ai sudah terang tabib itu takkan datang.”
Namun Ciu Ki tak mengurusnya lagi, ia selipkan goloknya disamping pelana terus Cemplak kudanya menuju ke Bun-kong-tin dengan Cepat-cepat .
Tanpa berhenti ia larikan kudanya sampai dikota tuju annya itu, sementara hari sudah gelap. Waktu melalui suatu rumah makan, sajupdua terCiumlah oleh sigadis bau arak yang wangi dan masakan yang lezat, tak tertahan air liur mengalir, memangnya gadis ini tukang minum, karuan pe rutnya semakin berkeronCongan. Tapi lantas pikirnya : “Ah, biarlah aku undang tabib untuk sembuhkan sakithja dulu, soal arak, masa kelak aku tak bisa minum se-puasduanya ?”
Selagi ia Coba menghibur diri sendiri, tiba-tiba dilihatnya dari depan mendatangi seorang anak tanggung, Ciu Ki tanya dimana rumah kediaman tabib Cho Su Ping, habis itu terus ia menuju kearah yang ditunyuk.
Sampai dirumah orang she Cho itu, nyata itu adalah suatu gedung Cukup mentereng, temboknya dikapur putih ber sih, pintunya diCat hitam mengkilat, diatas daun pintu besar itu sepasang gelangan tembaga digosok begitu bersih hingga bersinar.
Setelah Ciu Ki menggemberong pintu hampir setengah harian, barulah ada seorang Centeng keluar membuka pintu, segera pula Centeng itu menegur dengan lagak tuan besar : „He, ada apa, malamdua gedor pintu, apakah rumah mu kematian orang ?”
Alangkah gusarnya Ciu Ki mendengar kata-kata Centeng yang kurang ajar itu, baiknya badis ini untuk sekali ini bisa me nahan diri, ia pikir datangnya untuk meminta pertolongan orang, tidaklah enak untuk umbar amarahnya, maka dengan menahan perasaan ia menyawab: “Aku hendak mengundang tabib Cho untuk melihat orang sakit.”
“Tidak ada dirumah,” sahut Centeng itu ketus, kontan. Habis ini, tanpa banyak-banyak bicara lagi terus balik tubuh hendak menutup pintu kembali.
Tentu saja Ciu Ki menjadi tak sabar, sekali Cekal, se ketika Centeng itu diseretnya keluar. “Keparat, lekas bilang, ia ada dirumah tidak ?” bentaknya segera sambil lolos goloknya.
Karuan Centeng itu ketakutan setengah mati, hampirdua saja semangatnya terbang ke-awangdua, lekas-lekas ia menyawab dengan suara gemetar : “Ia ia… benardua ti….. tiada dirumah.”
“Kemana ia pergi ? Lekas bilang !” sentak sigadis pula.
“Pergi ketempatnya Pek-bi-kui (mawar putih),” sahut Centeng itu.
„Barang maCam apa Pek-bi-kui itu?” bentak Ciu Ki sem bari goloknya di-gosokduakan dimuka orang. “Dan dimana tempatnya ?”
“Pek-bi-kui adalah nama orang,” kata siCenteng.
“Bohong,” sentak lagi sigadis. “Masakan ada orang ber nama Pek-bi-kui ?”
Centeng itu menjadi kelabakan, lekas-lekas ia menerangkan :
“Be……. benar, nona, aku tak membohongi kau, Pek-bi-kui adalah adalah nama orang, ia seorang wanita 'P' !”
“Wanita 'P' adalah orang busuk, kerumahnya untuk apa?” bentak Ciu Ki pula dengan gusar.
Sudah takut, geli juga Centeng itu oleh pertanyaan Ciu Ki itu. Pikirnya, meski wanita ini bengis dan galak, tapi soal insaniah ternyata sedikitpun tak paham. Ia hendak tertawa tapi tak berani, terpaksa tak menyawab.
„Kenapa tak menyawab, kau mau bilang tidak?” bentak Ciu Ki pula meng'anCam.
„Ia adalah 'kawan' baik majikanku,” sahut Centeng itu achirnya.
Barulah sekarang Ciu Ki paham. „Fui,” semprotnya sengit. „Lekas bawa aku kesana, tak perlu banyak-banyak Cerewet !”
Sungguh penasaran Centeng itu oleh damperatan sigadis, pikirnya: „Kapan aku pernah Cerewet, justru kaulah yang terus bertanya.”
Namun begitu, dibawah anCaman senjata mau-tak-mau ia harus menurut, maka katanya kemudian: „Baiklah, biar aku ambil pelita dulu.”
„Pelita apa lagi?” damperat Ciu Ki. „Lekas berangkat, sekarang juga, orang sakit keras, kau tahu tidak?”
Dalam mendongkolnya, diam-diam Centeng itu membatin, se bentar lagi bila sudah ketemu Loya (tuan besar, ma jikan), pasti akan kukisiki jangan mau pergi, sekalipun dipaksa pergi oleh perempuan galak ini, harus juga senga ja diberi obat yang tak bisa sembuh.
Tidak antara lama, sampailah mereka didepan pintu sebuah rumah. „Nah, inilah tempatnya,” kata Centeng itu.
„Lekas ketok pintu, suruh tabib keluar,” perintah Ciu Ki.
Terpaksa Centeng itu menurut. Tak lama kemudian se orang induk semang kelihatan membuka pintu.
„Ada orang mengundang Loya kami untuk melihat orang sakit, aku bilang padanya Lbya tiada senggang, tapi ia tak percaya dan aku dipaksa; kemari,” tutur siCenteng segera.
Induk semang itu melototi Centeng itu dengan sengit, habis ini, tanpa buka suara ia gabruki pintu kembali.
Ciu Ki berdiri dibelakang, waktu ia memburu maju, namun sudah terlambat. Dengan gusar ia gemberong pintu dengan keras-keras, namun sedikitpun tiada suara dibagian dalam.
Saking gusarnya Ciu Ki angkat kakinya mendepak pung gung Centeng itu sambil mendamperat: „Lekas kau enyah, tinggal disini hanya bikin nonamu marah saja !”
Karena depakan itu, si Centeng jatuh menCium tanah, dengan menahan sakit ia merangkak bangun, sambil meng omel habis-habisan terus menggelojor pergi.
Menunggu sesudah orang pergi jauh, sekali enyot tubuh, Ciu Ki melintasi pagar tembok rumah itu, ia lihat jendela sebuah kamar masih ada, Cahaja lampu, pelahandua ia men dekatinya dan mendekam dibawah, ia dengar ada suara dua orang lelaki lagi pasang omong. Iaj basahi kertas jendela dengan air ludah hingga berwujut satu lobang' kecil buat mengintip, ia lihat didalam kamar terang benderang oleh sinar lilin, satu lelaki berbadan kekar kuat dan seorang lakidua kurus dyang kung lagi merebah disuatu, dipan sambil berbi Cara, dan seorang wanita yang bersolek dengan ber-lebihduaan dan tampak genit lagi memijati paha silelaki kurus.
Dan selagi Ciu Ki hendak membentak: „Siapa yang ber nama Cho Su Ping, lekas keluar!” — Tapi belum kata-kata „siapa” diuCapkannya, mendadak dilihatnya silelaki kekar itu mengajun tangannya, ia menjadi tertegun, sedang wanita genit didalam itu mendadak telah berdiri sambil berkata dengan tertawa : “Ha,- tentunya akan berunding lagi dengan kembangan apa untuk menCelakai orang. Buatlah sedekah sedikit guna anakdua CuCu, bisadua nanti lahirkan seorang bo Cah yang tiada lobang. pantat, barulah Celaka !”
“BaCotmu kentut!” bentak lelaki kekar itu setengah. tertawa.
Dengan mesamdua wanita itupun lalu keluar sembari menutup kembali pintu kamar terus pergi keruangan belakang.
Diam-diam Ciu Ki pikir : “Tentu wanita inilah yang dibilang Pek-bi-kui (atau mawar putih) itu. Huh, sungguh hina-dina. Tapi apa yang dikatakannya tadi masih ada benarnya juga, biarlah aku nanti tidak membunuhnya.”
Sementara itu dilihatnya lelaki kekar tadi telah menge luarkan empat bongkotan perak dan diletakkan diatas me ja. “Cho-lauko, inilah dua00 tail perak, kita adalah lengganan lama dan tentunya puja harga lama,” demikian terdengar ia berkata.
“Tong-lakya,” sahut yang kurus itu, “beberapa harini pasukan besar melalui daerah sini dan banyak-banyak minta Catu tentara, hal ini berarti kau Tong-lakya bakal mendapatkan rejeki lagi.”
Gusar dan girang Ciu Ki mendengar kata-kata orang itu. Girangnya karena Tong-lakya yang berjuluk “Tong-li-pi-siang” atau warangan didalam gula, yang hendak diCari nya itu ternyata sekaligus sudah berada disini dan tak perlu banyak-banyak buang tenaga lagi; gusarnya karena pasukan tentara telah bikin ia banyak-banyak menderita, tapi orang ini ternyata justru penundyang pasukan tentara itu sembari mengeduk keuntungan buat diri sendiri.
Sementara itu didengarnya lelaki kekar tadi menyawab : “Ah, mana, merekapun Cukup liCin, apa kau kira dengan sukarela mereka mau setor wajib Catu ? Beberapa harini justru aku sudah mendesak ke-mana^ sungguh bikin orang bisa mati letih.”
“Haha, sekarang dua bungkus obat ini kau bawa pulang lah,” dengan tertawa kata lagi yang kurus, “rupanya kau bakal naik sorga betuia. Bungkusan merah ini minumkan saja perempuan itu, dalam waktu setanakan nasi, pasti ia tak sadarkan diri, tatkala itu, haha, tergantung kau Cara bagaimana menginginkannya, hal ini tak perlu lagi aku me ngajarkan kau bukan ?”
Maka keduanya lantas bergelak ketawa.
Kemudian sikurus berkata lagi: “Dan yang bungkusan hi tam ini minumkan pada lelaki itu, katakan untuk menyem buhkan lukanya, tidak lama masuk perutnya segera lukanya akan berdarah terus mati. Dengan begitu orang lain tentu menyang ka lukanya terlalu parah, siapapun tiada yang Cu riga padarau. Katakanlah, bukankah tindakan saudaramu ini sangat jitu ?”
“Ja, ja, jempol, jempol !” sahut yang kekar tiada hen tinya memuji.
“Tapi, Tong-lakya,” kata si kurus, “kau benardua ketum plek rejeki, dapat orangnya, pula hartanya, dan uang jasa saudaramu ini Cuma dua00 tail perak, bukankah ini agak terlalu sedikit ?”
“Ai,» Cho-lauko ini,” sahut yang kekar, “kita berdua se lamanya bicara blakduaan. Muka betina itu memang benardua Cantik molek, ia mengenakan baju lelaki, tatkala itu saja aku sudah tak tahan, belakangan dapat kuketahui se benarnya ia wanita yang menyaru lelaki, hahaha, daging yang telah dihantarkan sampai diujung mulut masakan tidak diCaplok, bukankah orang nanti akan mengumpat kakek-moyang 1delapan keturunanku tak pernah bersedekah ? Dan me ngenai yang lelaki itu, sesungguhnya tiada 'gemuk' lagi yang terdapat padanya, Cuma mereka datang berdua, kalau yang betina sudah kumaui, sudah tentu yang lelaki itu tak bisa dibiarkannya hidup lagi.”
“Eh, bukankah kau tadi bilang dia ada sebatang seruling dari emas ? Melulu seruling emas ini saja mungkin sudah beberapa kali beratnya ?” ujar yang kiffus.
“Ja, sudahlah, biar aku tambahi kau 50 tail lagi,” kata yang kekar. Habis ini ia keluarkan pula osbongkot perak.
“Dan jika urusan sudah beres, ia adalah gundikmu yang ke-15, bukan ?” demikian yang kurus achirnya, dengan tertawa.
Makin mendengar Ciu Ki semakin gusar, sampai disini ia tak tahan lagi, kontan pintu kamar ia depak dan orangnya terus menyerbu kedalam.
Dalam kagetnya lelaki kekar itu telah berteriak, berba reng itu ia masih berani angkat kaklhja hendak menendang pergelangan tangan Ciu Ki yang membawa senjata. Namun gadis ini mana bisa keCundang, sedikit ia putar ta ngannya, tahu-tahu goloknya malah menyamber dari atas hingga mulai betis, kaki orang itu telah kena ditabasnya, menyusul itu sekali tusuk lagi masuk keulu hati, melayang lah nyawa lelaki kekar itu.
Karuan yang kurus tadi sudah ketakutan hingga hendak berteriakpun tak sanggup lagi.
Ciu Ki Cabut goloknya dari tubuh orang yang sudah menggelongsor itu, ia usapduakan goloknya diatas majat itu untuk bersihkan darahnya, habis itu sekali jambak dada sikurus itu telah ditariknya dan dibentak : “Apa kau inilah Cho Su Ping ?”
Sikurus itu bertambah takut hingga kedua. kakinya serasa lemas, orangnya terus tekuk lutut, dan giginya gemertuk saling beradu. “Am…… ampun nona, ak…… aku tak berani lagi,” demikian mohonnya dengan gemetar.
“Siapa inginkan jiwamu ? Bangun !” bentak Ciu Ki.
Dengan gemetar Cho Su Ping bangkit berdiri, bisadua akan mendoprok lagi saking takutnya.
“Pergi keluar !” bentak lagi sigadis. Dan tak lupa seka lian ia pindahkan kelima bongkotan perak dan dua bungkusan obat diatas meja itu kedalam bajunya.
Cho Su Ping tak tahu maksud tujuan orang menyuruh nya keluar, terpaksa ia keluar dari kamar pelahandua dan membuka pintu luar.
Mendengar suara orang membuka pintu, induk semang nya menanya dari dalam, namim Cho Su Ping tak berani buka suara. Ciu Ki perintahkan orang mengambil kuda tunggangannya sendiri dulu, kemudian merekapun keprak kuda keluar dari kota itu.
Sepanyang jalan Ciu Ki memegangi tali kendali kuda orang sambil menganCam : “Asal kau berteriak sedikit, segera aku penggal kepala anyingmu !”
Karena takut, ber-ulangdua Cho Su Ping minta ampun dan bilang tak berani.
Tiada satu jam, tibalah achirnya mereka sampai dirumah sinenek tua itu.
Sepanyang jalan hati Cho Su Ping terus kebat-kebit saja, ia tidak tahu kemanakah “bandit wanita” ini hendak membawanya.
Dan sesudah masuk kerumah sinenek itu, dengan mem bawa pelita orang tua itu telah memapak keluar. Ia menjadi heran tak terkira bila melihat Ciu Ki kembali dengan membawa Cho Su Ping yang terkenal pelit itu. Tapi bila teringat olehnya tabib she Cho itu pernah menolak untuk menyembuhkan anaknya, seketika juga ia marah dan ber duka, maka terhadap tabib itu ia tak menggubrisnya.
Waktu Ciu Ki mendekati pembaringan Ji Thian Hong, ia lihat pemuda itu masih tak sadarkan diri, dibawah sinar lilin wajahnya tertampak merah membara, tentunya suhu panasnya luar biasa.
Segera juga gadis itu jamberet Cho Su Ping dan diseretnya kedekat pembaringan. „Aku punya ko…. koko ini terluka parah, lekas kau menyembuhkan dia,” katanya segera.
Mendengar orang menCuliknya hanya untuk mengobati orang sakit, barulah separoh rasa takut dan kuatir Cho Su Ping lenyap, ia periksa mukanya Thian Hong yang panas merah itu dan memegang nadi orang, ia buka kain pem balut dan periksa lukanya, ia meng-kerutdua kening, lalu katanya: „Tuan ini sangat kekurangan darah, panasnya membubung.”
„Siapa telaten mendengarkan obrolanmu,” damperat Ciu Ki tak sabar. „Lekasan kau mengobati dia, kalau tak sembuh, kaupun jangan harap bisa pulang.”
„Kalau begitu biarlah aku pergi ambil obat kekota, tanpa obat juga perCuma,” ujar Cho Su Ping.
„Namun, se-bodohduanya Ciu Ki tak nanti ia bisa diakali. „Hm, apa kau anggap aku ini anak kecil umur tiga?” demikian jengeknya lantas. „Kau buka resepnya, dan aku pergi mengambil obatnya.”
Selagi mereka bicara, keadaan Thian Hong sudah agak baikan, diam-diam iapun mendengarkan perCakapan itu.
Sedangkan Cho Su Ping menjadi mati kutu, ia tahu harini benardua ia ketemu batunya, terpaksa, .maka jawabnya: „Jika begitu silahkan nona keluarkan kertas dan pit-nya, biar aku membuka resepnya.”
Namun ditempat pedusunan terpenCil seperti ini, darimana ada pit dan kertas tulis? Karuan seketika Ciu Ki kelabakan tak berdaya. Sebaliknya Cho Su Ping menjadi senang, kata nya: „Penyakit tuan ini takbisa di-tundadua lagi, aku kira baiknya biar aku pulang ambil obat saja.”
„MoayCu (adikku),” mendadak Thian Hong buka suara, „bakarlah sebatang kaju kecil dijadikan arang, lalu tulis diatas kertas merangpun boleh, kalau masih tidak ada, tulis diatas papan juga dapat.”
„Ja, ja, benar, memang akalmu selalu banyak-banyak,” sahut Ciu Ki sangat girang.
Lalu ia menurut membakar sebatang kaju menjadi arang, sinenek itupun pergi menCarikan seCarik kertas merang yang sudah kumal. Dan terpaksalah Cho Su Ping harus membuka resepnya.
Menunggu,' sesudah orang selesai tulis resepnya, Ciu Ki mendapatkan seutas tambang rumput pula terus telikung kedua tangan sinshe itu dan diringkus eratdua, bahkan kedua kakipun diikatnya sekalian dan diletakkan disamping pem-baringan Thian Hong, lalu ia taruk juga golok pemuda itu didekat bantalnya, kemudian barulah ia' pesan pada sinenek itu: „Sekarang juga aku pergi membeli obat kekota, kalau sinshe (tabib) ini men Coba lari, lekasan kau bangunkan engkoku, biar ia membaCoknya mampus saja.”
Setelah memesan seperlunya, lantas Ciu Ki Cemplak kudanya kekota untuk membeli obat. Apabila kemudian ia mendapatkan sebuah rumah obat dan menggedornya minta diberikan obat menurut resep, sementara itu ufuk timur sudah remang-remang, fajar sudah menyingsing. Ia lihat sepanyang jalan banyak-banyak petugas-petugas yang berwira-wiri, agaknya karena soal pembunuhan manusia yang berjuluk ,.warangan didalam gula” itu telah diketahui.
Ciu Ki sembunyi disuatu pojok rumah penduduk, ia tunggu sesudah barisan peronda sudah lewat, barulah ia ke prak kudanya keluar kota. Setibanya dirumah nenek itu, sementara hari sudah terang-benderang, lekas-lekas ia masak obat itu dibantu sinenek, ia wadahi disuatu mangkok kasar dan dibawa kepada Thian Hong, ia bangunkan pemuda itu untuk meminum obat.
Melihat muka sigadis penuh keringat dan kotor oleh ha ngus, diatas rambutnya juga banyak-banyak tangkaidua rumput, seketika Thian Hong menjadi terharu, ia pikir sigadis asal dari keluarga mampu dan selamanya tak pernah turun ke dapur, tapi kini ternyata harus memasak obat dan lain-lain, dalam hati ia menjadi sangat berterima kasih, maka lekas-lekas ia bangun menyang gapi mangkok obat yang disodorkan.
Tapi sebelum ia minum, tiba-tiba pikirannya tergerak, mangkok obat itu ia sodorkan kepada Cho Su Ping dan katanya: “Coba kau minum dua teguk dulu.”
Ketika sinshe itu sedikit ragudua, sementara itu Ciu Ki sudah paham juga maksudnya Thian Hong, maka ber-ulangdua ia bilang : “Ja, benar, harus dia minum dulu, siapa tahu betapa jahatnya orang ini.”
Karena terpaksa, Cho Su Ping mengap menCeguk seba gian obat itu.
“Nah, moayCu, kau mengasolah dulu, sebentar lagi obat ini baru kuminum,” kata Thian Hong kemudian. “Sebab apa ?” tanya Ciu Ki.
“Kita lihat dulu ia (Cho Su Ping) mati tidak,” ujar Thian Hong.
“Benar, benar, jika ia mati, itu tandanya obat ini tak boleh diminum,” kata Ciu Ki tertawa. Habis ini, ia pindah kan pelita kedekat mukanya Cho Su Ping sembari matanya yang bundar besar itu terpentang lebardua untuk mengawasi perubahandua muka sitabib itu.
“Ai, seorang tabib harus punya rasa tanggung jawab, mana bisa menCelakai orang malah ?” kata Cho Su Ping tertawa getir.
„Hm, masih berani kau membaCot ?” sen tak Ciu Ki gusar. “Bukankah kau tadi kasak-kusuk berunding dengan manusia 'warangan didalam gula' itu hendak menCelakai nona orang dan inCar seruling emas orang lagi, kesemua nya itu sudah kudengar sendiri, dan kini masih berani kau bermulut manis ?”
Karena itu, seketika Cho Su Ping tak bisa menyawab. Sebaliknya demi mendengar orang menyebut tentang “seruling emas”, lekas-lekas Thian Hong bertanya duduknya perkara. Maka berCeritalah Ciu Ki apa yang telah didengarnya dirumah “P” itu serta terangkan Caranya membunuh manusia “warangan didalam gula” itu.
Teringat akan itu, lekas-lekas juga ia pergi memberitahukan sinenek bahwa ia sudah membalaskan sakit hati putera dan menantunya. Tentu saja nenek itu sangat berterima kasih, saking terharu sampai ia menangis.
Menunggu sesudah Ciu Ki masuk kembali, lalu Thian Hong menanya Cho Su Ping pula: “Coba terangkan bagaimana orangnya yang membawa seruling emas itu dan si apa pula wanita yang menyaru lelaki itu ?”
“Ja, kalau tidak mengaku terus terang, biar sekali tusuk aku mampuskan kau dulu,” gertak Ciu Ki sembari Cabut goloknya.
Karuan Cho Su Ping ketakutan setengah mati. “Ba…. baik, ak…… aku akan mengaku kem…… kemarin Tong-lakya da…… datang menCari aku, ka………. Katanya rumahnya ke kedatangan dua orang yang me … meminta mondok, yang seorang terluka, bicara saja tak sanggup, dan yang lain adalah seorang pemuda tampan. Se…. sebenarnya ia tak mau terima, tapi ketika melihat pemuda itu Cantik luar biasa, ia lantas terima mereka buat menginap semalam, kemudian dapat dilihatnya suara pemuda itu lemah lembut, gerak-geriknya dan sikapnya juga mirip wanita, pula tak mau bersama suatu kamar dengan lelaki kawannya itu, maka ia jakin pasti orang adalah wanita menyaru lelaki,” demikian tabib itu menyelaskan dengan suara tak lancar.
“Lalu ia datang padamu untuk membeli obat, bukan ?” sambung Ciu Ki.
“Ja, itulah salahku,” sahut Su Ping, nyata ia tak berani pungkir.
“Bagaimanakah maCamnya yang lelaki itu ?” tanya Thian Hong lagi.
“Pernah Tong-lakya undang aku pergi memeriksanya,” kata Su Ping. “Ia berusia kira-kira duatiga atau dua4 tahun, berdandan secara sastrawan, tubuh dan pahanya terdapat tujuh—delapan luka kena senjata tajam.”
“Parahkah lukanya ?” tanya Thian Hong.
“Lukanya memang parah, Cuma luka luar saja, kalau dirawat dengan baik-baik , Cepat-cepat saja akan sembuh kembali,” ujar Su Ping.
Dan karena tiada keterangandua lain yang bisa diperoleh, Thian Hong tidak menanya lebih jauh, ia angkat mangkok obat tadi terus diminumnya.
Sehabis minum obat, Thian Hong tertidur dan keluar ke ringat, petangnya kembali ia minum obat itu lagi semang kok.
Nyata, meski Cho Su Ping itu kelakuannya busuk, tapi ilmu tabibnya ternyata sangat pandai, obatnya ternyata “Ces pleng,” maka lewat satu hari, kesehatan Thian. Hong sudah pulih sebagian besar dan sudah bisa turun pembaringan.
Lewat sehari lagi, Thian Hong menduga dirinya sudah sanggup menaiki kuda untuk menempuh perjalanan, maka katanya pada Ciu Ki : “Orang yang dikatakan membawa seruling emas itu adalah aku punya Ie sipsute, entah me ngapa ia bisa minta mondok kerumah buaja darat itu. Dan sesudah buaja itu dapat kau bunuh, mungkin iapun tiada halangan lagi, Cuma aku tetap belum lega, malam ini juga marilah kita menyelidikinya, bagaimana pendapatmu ?”
“Ia adalah kau punya Sipsute (atau Capsihte) ?” sigadis menegas.
“Ja,* pernah ia datang kerumahmu dahulu, kau sendiripun pernah melihatnya, ialah orang yang per-tamadua disuruh Congthocu kami pergi menCari berita itu,” Thian Hong menyelaskan.
“O, kiranya dia itu,” ujar Ciu Ki. “Aku tak tahu kalau dia memiliki sebatang seruling emas, kalau tahu, tentu aku sudah bojong dia kesini untuk merawat lukanya bersama kau, bukankah hal itu sangat baik.”
Thian Hong tertawa oleh kepolosan sigadis. Selang sejenak barulah ia berkata lagi: “Dan siapa lagi wanita yang menyaru lelaki itu ? Apakah mungkin Suso ?”
Waktu magrib, Ciu Ki mengeluarkan sebongkot perak bolehnya 'mendaulat' dari meja dirumah “P” itu dan dibe rikan pada sinenek, sudah tentu orang tua itu tiada habis-habis-nya mengucapkan terima kasih :
Kemudian gadis itu seret bangun Cho Su Ping, “srettt...” Cepat-cepat sekali ia lolos goloknya dan tak ampun lagi sebelah daun kuping tabib Celaka itu telah berpisah dengan tuannya.
“Kau telah sembuhkan engkoku ini, maka, jiwamu boleh kuampuni, tapi bila kelak diketahui kau berbuat jahat pula, hm, manusia 'warangan didalam gula' itulah Contohmu,” demikian Ciu Ki membentak pula.
“Tidak berani, pasti tidak berani lagi,” sahut Cho Su Ping ber-ulangdua sambil menekap luka daun kupingnya. “Tiga bulan lagi kami masih akan kembali kesini, tatkala
itu pasti kami akan menjadi tetamu-mu lagi, sinshe,” ujar Thian Hong.
Dan kembali Cho Su Ping mengucapkan “tidak berani” ber-ulangdua.
“Kau pakai kudanya, marilah kita berangkat,” kata Ciu Ki kemudian pada Thian Hong.
Habis itu, mereka keprak kuda meninggalkan tabib sial itu terus menuju kekota Bun-kong-tin dengan Cepat-cepat .
Sesudah 4—5 li jauhnya, tiba-tiba Ciu Ki menanya : “Kena pakah tadi kau bilang tiga bulan lagi kita akan datang kesini lagi ?”
“Aku sengaja mendustai sinshe setan itu, agar dia tak berani bikin susah pada sinenek itu,” kata Thian Hong.
Ciu Ki meng-angguk-angguk paham, tapi belum seberapa jauh, kembali ia bertanya pula : “Kenapa kau selalu begitu liCin terhadap orang ? Aku tak suka.”
Seketika Thian Hong tak bisa menyawab, sejenak kemudian barulah ia berkata “Nona tidak tahu bahwa hati manusia kangouw keji dan berbahaja, terhadap kawan kita boleh mengutamakan budi dan bajik, tapi terhadap manusia rendah, bila kau baik hati padanya, maka pastilah kau sendiri yang dirugikan.”
“Tapi ayahku bilang lebih baik merugikan diri sendiri daripada bikin susah orang,” ujar sigadis.
“Ja, itulah kelebihan ayahmu daripada orang lain,” sahut
Thian Hong, “sebab itulah bila orang kangouw menyebut Thiat-tan Ciu Tiong Ing loyaCu, tidak peduli dia dari ka langan pek-to (kalangan orang baik-baik ) atau hek-to (lapisan bawah, orang jahat), baik dia orang pemerintahan maupun lok-lim (golongan bandit), tiada seorangpun yang tidak bi lang ia adalah suatu ksatria sejati yang baik budi, kami semua sangat mengaguminya.”
“Jika begitu, kenapa kau takmau belajar seperti ayahku ?” kata sigadis lagi.
„Ciu-loyaCu memang pembawaannya juCur dan berbudi, orang seperti aku yang banyak-banyak tipu akal aneha mungkin tak sanggup menCapai seperti dia,” sahut Thian Hong.
“Aku justru jemu pada tabiatmu yang suka main tipu akal itu,” kata sigadis dengan sengit. “Kata ayahku, asal kau baika terhadap orang, dengan sendirinya orangpun akan baika kepadamu.”
Mendengar ini, dalam hati Thian Hong sangat terharu.
“Kenapa ? Kau tak suka pada kata-kataku bukan ? Dan sedang memikirkan akal untuk mempermainkan aku lagi bukan ?” tanya Ciu Ki.
“Ah, kau selalu Curiga orang saja,” sahut Thian Hong.
Begitulah sembari berbicara ditengah jalan, mereka menjadi tidak kesepian. Sesudah mengalami peristiwa de-mikian ini, terhadap sigadis itu Thian Hong sudah tentu sangat berterima kasih, sebaliknya Ciu Ki juga kuatir karena dirinya ada budi kepada orang, maka orang sengaja suka mengalah padanya, hal ini bikin dia menjadi hati-hati dan sungkan juga.
“Dahulu aku kira kebusukanmu telah merusak sampai ke-tulangduamu,” demikian kata Ciu Ki. “Siapa tahu ..........”
“Siapa tahu gimana ?” tanya Thian Hong.
“Aku lihat kebusukanmu dulu itu sengaja kau bikindua,” sahut sigadis. “Ja, sebab apakah kau selalu suka membikin susah padaku ? Aku ini hanya bikin marah kau saja bila kau lihat, bukan ?”
„Baik-busuknya seseorang seringkali salah diduga dikala muladua berkenalan, tadinya darimana aku bisa tahu kau si nona ini sebenarnya berhati sanubari begini baik,” sahut Thian Hong.
„Waktu itu kau anggap aku sombong lagi dengki bukan?” ujar Ciu Ki tertawa.
Thian Hong tak menyawabnya, melainkan tersenyum saja.
Setibanya di Bun-kong-tin, mereka tambat kuda ditempat yang sepi, lalu mereka mendapatkan rumah kediaman ma nusia yang disebut „Tong-li-pi-siang” atau warangan didalam gula itu, mereka melompati pagar dan mengintip kedalam.
Dibagian rumah itu Thian Hong dapat menangkap seorang peronda, ia anCam peronda itu agar mengaku dimana ada nya Ie Hi Tong. Saking takutnya, sudah tentu peronda itu tak berani membohong, ia mengaku bahwa sejak hari itu Tong-lakya dibunuh sinshe Cho Su Ping dirumah Pek-bi-kui, lantas se-isi rumah kaCau-balau, maka kedua orang yang mondok itupun lantas pergi tiada orang tahu.
„Mari lekas kita .susul mereka,” ajak Ciu Ki kemudian pada Thian Hong.
Setelah dua-tiga hari lagi, ditengah jalan Thian Hong melihat tanda-tanda rahasia yang ditinggalkan Tan Keh Lok dan diketahui para kawan akan mengumpul dikota Khay-hong, maka lekas-lekas ia Ceritakan itu pada sigadis.
Mendengar semua orang tiada terjadi apa-apa, Ciu Ki menjadi girang, pada suatu rumah minum segera ia beli tiga kati arak dan minum se-puasduanya, besok “paginya ia mendesak Thian Hong agar perCepat-cepat perjalanan mereka.
Sementara itu luka dipundak Thian Hong sudah rapat kembali, kesehatannya pun sudah pulih. Sepanyang jalan mereka mengobrol ketimur dan kebarat, selalu'Thian Hong menCeritakan haldua yang menarik yang terjadi didunia kangouw, iapun menyelaskan dan mengajarkan segala pantangan dan peraturan kalangan kangouw umumnya, karena semuanya itu serba baru baginya, karuan Ciu Ki menjadi sangat ketarik.
„Mestinya sejak duludua kau sudah harus Ceritakan kesemua ini kepadaku, tapi dahulu kau selalu ribut mulut saja dengan aku,” demikian katanya.
Suatu hari, tibalah mereka sampai dikota Tongkwan, mereka menCari hotel dan katanya hotel „Wat Lay” adalah hotel paling bagus dikota itu, maka menujulah mereka kesana, tapi kamar hotel itu ternyata tingg'al sebuah saja, Thian Hong Coba memberikan serenCeng uang peCah sebagai uang sogok pada sipelajan agar ditambahi satu kamar lagi, namun sipelajan menjadi serba susah, ia tetap bilang kamar lain-lain sudah penuh. „Entah sebutan apakah tuan dengan nona ini?” tanya pelajan itu achirnya.
„Ia adalah adikku,” sahut Thian Hong.
„Kalau kaka-beradik, bersama suatu kamar bukartlah tak apa-apa,” ujar pelajan itu.
Ciu Ki menjadi gusar mendengar itu, kontan ia mendamperat: „Perlu apa kau banyak-banyak Cerewet “
Namun Thian Hong mendadak menarik bajunya sebelum ia memaki lebih lanyut, maka terpaksa ia menerima baik meski kurang senang. Cuma selama bikin perjalanan bersama ini, Ciu Ki melihat kelakuan Thian Hong selalu sopan santun padanya, tampaknya memang benardua seorang lakidua sejati, namun bila kini tiba-tiba harus tinggal bersama satu kamar, mau-tak-mau ia merasa kikuk juga, ia malu dan ragudua. Tapi dihadapan sipelajan hotel itu terpaksa ia bung kam saja.
Sesudah berada didalam kamar, segera Thian Hong me malang pintu, pemuda ini memberi tanda agar kawannya jangan berisik. „Tadi kau melihat itu keparat dari Tin Wan piauwkiok tidak?” tanyanya kemudian lirih.
„Apa? Kau maksudkan binatang yang membawa orang menangkap Bun-suya dan mengakibatkan kematian adikku itu?” tanya Ciu Ki terkejut.
„Ja, sekilas tadi aku melihatnya, Cuma kurang jelas entah benar tidak, aku kuatir dilihat mereka, maka lekas-lekas tarik kau masuk sini, biarlah sebentar kita pergi menyelidikinya,” ujar Thian Hong.
Dalam pada itu pelajan datang membawakan teh dan menanya sekalian tetamunya ingin dahar apa, sesudah Thian Hong memesan seperlunya, lalu ia tanya: „Apakah tuandua dari Tin Wan piauwkiok di Pakkhia itupun menginap disini?”
„Ja, benar,” sahut sipelajan. „Mereka selalu menjadi lengganan kami bila lewat di Tongkwan sini.”
Dan sesudah pelajan itu berlalu, kemudian Thian Hong berkata pada Ciu Ki: „Menurut Cerita Suso dan Capsihte, katanya manusia Tong Siu Ho ini adalah biangkeladinya se gala kejahatan yang sudah terjadi, maka malam ini jug biar kita bereskan dia dulu untuk membalaskan sakit hati adikmu dan Bun-suko.”
Apabila ingat atas kematian adiknya yang menyedihkan itu serta terbakarnya Thiat-tan-Chung, sungguh darah Ciu Ki menjadi naik, kalau bukan Thian Hong menahan sebisanya, mungkin sejak tadi gadis itu sudah menerdyang keluar untuk menCari musuh itu.
„Sudahlah, kau mengaso dulu buat kumpulkan semangat, sebenar tengah malam masih belum terlambat kita kerja kan,” demikian kata Thian Hong.
Terpaksa Ciu Ki bersabar sebisanya, tapi belum sampai tengah malam, benar- ia tak tahan pula, ia Cabut goloknya terus mengajak: „Ayolah, kita mulai !”
Segera Thian Hong membuka! jendela dan melompat keluar, menyusul barulah sigadis.
„Hati-hati, jumlah mereka banyak-banyak, mungkin ada jagoan tinggi pula, mari kita menyelidikinya dulu, kita Cari akal untuk memanCing keluar keparat she Tong itu agar lebih mudah turun tangan,” demikian kata Thian Hong.
Ciu Ki mengangguk setuju. Lalu mereka melayang keatas rumah, mereka melihat disuatu kamar sebelah timur sana masih ada sinar pelita, Thian Hong memberi tanda, mereka berdua melompat turun ketanah dan dari dua ju rusan mendekati kamar itu. Ciu Ki mendapatkan suatu lobang kecil dijendela kamar itu terus pasang mata meng intip kedalam.
Selagi Thian Hong dengan senjata terhunus berdiri di belakang sigadis untuk menyaga, tiba-tiba dilihatnya gadis itu menegak kembali, habis itu sebelah kakinya mendadak melayang hendak menendang kearah jendela.
Karuan Thian Hong terkejut, lekas-lekas ia melangkah maju menghadang didepan sigadis. Sementara itu kaki Ciu Ki sudah ditendangkan, tapi baru saja melayang sampai didepan dada sipemuda, tersipu-sipuia tarik kembali kakinya, dan karena gerak kakinya itu terlalu keras hingga tenaganya seketika, susah direm, tak tertahan ia terhuyung-huyung mundur beberapa tindak.
Segera juga Thian Hong sudah melompat kedekat sigadis dan menanya dengan suara tertahan: „Ada apakah?”
„Lekas turun tangan, ibuku kena diringkus mereka di-dalam,” sahut Ciu Ki.
„Ha?” kaget luar biasa Thian Hong oleh keterangan itu.
„Mari lekas kita kembali kamar untuk berunding.” — Habis ini, ia tarik gadis itu kekamar mereka.
Setiba didalam kamar, Ciu Ki sudah tak sabar lagi. ,.Berunding apa lagi kau inginkan? Ibuku telah tertawan keparats itu, mengarti?”
„Sabar dulu, nona, aku tanggung akan menolong ibumu keluar,” kata Thian Hong. „Ada berapa orangkah mereka?”
„Kira-kira enam-tujuh orang,” sahut sigadis.
Thian Hong termenung sejenak, agaknya ragudua.
„Takut apa? Kau tak berani pergi, biar aku pergi sen dirian,” ujar Ciu Ki.
„Bukannya takut,” kata Thian Hong.. „Tapi aku sedang menCari akal, harus menolong ibumu, tapi juga harus membunuh keparat she Tong itu, keduanya harus sekaligus kita lakukan berbareng.”
„Tolong ibu dulu, keparat itu dapat dibunuh tidak itu uru san belakang,” kata. sigadis.
Dan pada saat itu juga, tiba-tiba diluar pintu terdengar suara orang berjalan, lekas-lekas Thian Hong menggoyang i tangan agar sig'adis diam, maka terdengar seorang berjalan lewat didepan kamar sambil mulutnya tiada hentinya mengomel, katanya: „Huh, tengah malam buta, tidak mau sekarat, tapi masih ingin minum apa segala? Bikin orang lain tak enak tidur. Huh, biar budha memberkati kawanan po-pio (juru kawal) di tengah jalan ketemukan begal !”
Mendengar lagu suara orang, tahulah Thian Hong pasti itulah sipelajan yang dibangunkan kawanan piauthau itu agar mengambilkan arak, maka telah mendongkol dan mengomel. panyang -pendek.
Tiba-tiba tergerak pikiran Thian Hong, katanya pada Ciu Ki: „Bukankah dua bungkus obat sitabib she Cho itu masih ada padamu? Sebungkus diantaranya ia bilang bisa bikin orang tak sadarkan diri bila meminumnya, nah, bungkusan itu lekas kau berikan padaku.”
Sigadis tak mengarti apa tujuan orang, tapi bungkusan obat itu dikeluarkannya juga. „Untuk apa?”1 tanyanya.
Namun Thian Hong tak menyawab, hanya tangan orang ia tarik dan diajak melompat keluar kamar lagi.
Setibanya diserambi dapur, pemuda itu membisiki pula: „Mendekam disini, diam-diam, jangan bergerak.”
Ciu Ki menjadi heran, pikirannya penuh tanda tanya, ia tak tahu perbuatan apa lagi yang hendak dilakukan pemuda itu.
Setelah menunggu tak lama dan tak terdengar sesuatu suara, selagi ia hendak menanya, tiba-tiba terlihat sinar pelita ber-kelipdua, pelajan tadi telah munCul lagi sembari membawa sebuah nampan dan tangan lain memegang Cektay (tanCa pan lilin).
Diam-diam Thian Hong siapkan sebutir batu kecil, setelah dekat Cepat-cepat sekali ia menimpuk dan dengan jitu api lilin itu mendadak sirap. Karuan pelajan itu menjadi kaget, namun mulutnya masih mengomel: „Benardua ada setan, baik-baik saja tiada angin sedikitpun, tapi lilin bisa sirap sendirinya!” — Lalu ia taruk nenampan ditanah dan membalik pergi buat menyulut lilin lagi.
Menunggu sesudah orang menghilang, Cepat-cepat Thian Hong melompat keluar, ia lihat diatas nampan itu ada dua poCi arak, lekas-lekas ia bagi bungkusan obat itu menjadi dua dan dituang kedalam poCi arak itu.
„Mari sekarang kita pergi keluar kamar mereka,” ajak nya kemudian pada sigadis.
Dan sebentar saja kembali mereka berdua sudah mende kam pula dibawah jendela kamar para piauwsu itu. Ketika Thian Hong mengintip kedalam, betul juga dilihatnya ada seorang wanita setengah umur dengan kedua tangannya di ikat dibelakang dan berduduk ditanah. Sebaliknya ada beberapa lelaki sedang berduduk didalam kamar itu sambil mengobrol ketimur dan kebarat. Ia kenal seorang diantaranya ialah Tiat-pi-peh Han Bun Tiong yang pernah ditawan Ciang Cin itu dan satu lagi adalah Ci Cing Lun, dan seorang lagi ialah Tong Siu Ho yang pernah dilihatnya di Thiat-tan-Chung dahulu. Sedang tiga orang selebihnya ia tak kenal.
Sementara itu didengarnya Tong Siu Ho itu lagi membual, katanya: „Ha, orang selalu bilang Thiat-tan-Chung begitu kuat laksana tembok besi dan dinding tembaga, siapa tahu Cukup LoCu (sebutan diri sendiri secara Congkak) segebung api saja sudah membikinnya ludes !”
Kata-kata itu dapat didengar Ciu Ki dengan jelas, ternyata orang yang membakar perkampungannya memang benar ada manusia she Tong ini.
Dalam pada itu Han Bun Tiong tertampak bermuka mu ram dan tak bersemangat, ia telah berkata: “Lau Tong, hendaklah jangan kau me-niupdua ngawur, Ciu Tiong Ing itu aku telah bertemu ditengah jalan, kalau kita, sebanyak-banyak ini maju sekaligus belum pasti sanggup melawannya. Kelak apabila sampai ia menCari kepiauwkiok, tentunya baru kau tahu rasa !”
“Haha, kita selalu dibintangi rejeki, lihat saja, justru sekarang isteri orang she Ciu itu telah datang sendiri pada kita, dengan adanya orang jaminan ini, masakan ia berani berbuat apa-apa terhadap kita ?” demikian jawab Tong Siu Ho.
Sampai disini, sipelajan telah masuk membawakan ne nampan tadi yang berisi arak dan daharan. Segera saja para piauwsu itu makan-minum besar, sebaliknya Han Bun Tiong kelihatan muram durja, tiada hentinya Tong Siu Ho membujuknya minum, katanya : “Ah, Han-toako, seorang gagah susah juga melawan orang banyak-banyak, kau terjungkal ditangan mereka, kenapa kau pikirkan terus? Kelak kita pun bisa mengundang kawan yang banyak-banyak untuk mengha dapi Hong Hwa Hwe mereka seorang lawan seorang untuk menentukan unggul dan asor.”
„Kalau orang lain satu lawan satu, tapi kau, Lau Tong, kau melawan siapa ?” tiba-tiba seorang piauwsu diantaranya menyela.
“Tentu saja aku menCari isteri-gadis mereka.”
tapi belum selesai perkataan Tong Siu Ho ini, mendadak ia roboh terguling dipembaringannya.
Karuan semua orang terkejut, lekas-lekas kawannya mende kati hendak membangunkannya, siapa tahu tiba-tiba merekapun merasa tangan lemas dan kaki linu, kesemuanya tak bisa berkutik pula.
Melihat sudah berhasil, Thian Hong menyongkel daun jendela dengan goloknya dan melompat masuk kedalam, Cepat-cepat saja Ciu Ki pun menyusul melompat masuk, segera pula ia berseru : “O, mak !” — Dan hanya kata-kata itu saja yang sanggup diuCapkannya, karena air mata sudah ber CuCuran, lekas-lekas iapun menabas putus tali pengikat ibunya itu.
Ketika mendadak melihat puteri kesajangannya, sesaat Ciu-toanaynay hanya ternganga tak sanggup buka suara, ia sangka dirinya dialam mimpi saja.
Dilain pihak Thian Hong sudah lantas seret bangun Tong Siu Ho, tanpa berkata lagi ia tubleskan goloknya keperut manusia itu dan seketika beres nyawanya. Manusia yang hi dupnya selalu berbuat jahat dan entah sudah berapa banyak-banyak orang yang menjadi korbannya, harini jiwanya melayang ditangannya 'Bu-Cu-kat' Ji Thian Hong, dapatlah hal itu dikata sesuai ganyarannya.
Dalam pada itu Ciu Ki menghunus goloknya hendak membunuh lagi piauwsudua yang lain, namun keburu diCegah Thian Hong, kata pemuda ini : “Dosa mereka masih belum dihukum mati, biarlah ampuni mereka saja .!”
Ciu Ki mengangguk menurut, dan menarik kembali sen jatanya.
Melihat itu, Ciu-toanaynay menjadi heran ; ia Cukup kenal watak puterinya itu, keCuali kata-kata sang ayah yang kadang masih diturutnya, tapi kata-kata orang lain tiada lagi yang bisa menguasainya, apa yang hendak dilakukannya lantas dilakukan. Siapa duga terhadap kata-kata Thian Hong ternyata ia bisa begitu penurut, sungguh hal ini agak luar bi asa.
Kemudian Thian Hong menggeledahi piauwsudua itu dan dapat diketemukannya beberapa puCuk surat, karena tak sempat buat membaCanya, ia lantas masukkan dulu keba junya. “Mari lekas kita kembali kamar buat bebenah terus berangkat,” ajaknya lantas.
Cepat-cepat mereka bertiga melompat keluar kembali kamar sendiri, Thian Hong ringkaskan buntalannya dan tinggalkan serenCeng uang perak sebagai biaja penginapan, lalu ia pergi kebelakang menuntun keluar tiga ekor kuda, segera pula mereka kabur kearah timur.
Melihat puterinya bikin perjalanan bersama Thian Hong, pula tinggal bersama sekamar, rasa Curiga Ciu-toanaynay
Semakin menjadi-jadi, dasar wataknya memang keras, maka kontan saja ia menanya sang puteri: “Dimanakah ayahmu? Siapakah tuan ini ? Kenapa kau taerada bersama dia ? Kau bertengkar lagi dengan ayahmu bukan ?”
“Kau sendirilah yang tinggal pergi karena bertengkar dengan ayah,” sahut Ciu Ki mendadak. “Mak, tentang ini maukah kau bertanya nanti saja ?”
Tapi kedua ibu dan anak ini beradat keras semua, maka bicara punya bicara mereka lantas seperti mau bertengkar. Lekas-lekas Thian Hong datang memisah.
“Hm, semuanya garadua kau, dan kau masih akan bilang apa ?” demikian omel sigadis.
Mendengar itu, aneh, perasaan Thian Hong terasa. nik mat sekali, maka ia tersenyum dan menyingkir lagi, Sedang ibu dan anak itu masih sama-sama bersengut, masing-masing sedang memikirkan airusan sendiri.
Malamnya mereka mondok dirumah seorang petani, ibu dan anak itu tidur bersama, disitulah baru Ciu Ki men Ceritakan pengalamannya, tapi karena tak pandai bicara, sedang sang ibu kesusu ingin tahu segalanya sampai achir, maka sebentar mereka menangis dan lain saat sudah tertawa lagi, yang satu ngambek tak mau bicara, yang lain mengomeli sang puteri tak dengar kata. Begitulah mereka ribut setengah malaman barulah mereka mengetahui seke dar keadaan masing-masing sejak berpisah.
Kiranya Ciu-toanaynay terlalu pedih akan kematian pute ra kecilnya yang tewas dibawah tangan ayah sendiri itu, dalam gusarnya ia telah tinggalkan rumah, muladua ia pergi Ko-lan menumpang pada seorang pamilinya she Kho, tapi justru tuan rumahnya lagi bikin perjalanan jauh, nyonya rumah meski melajaninya dengan segala kehormatan, namun sebab hatinya yang murung itu, sesudah tinggal beberapa hari ia menjadi tak betah, ia tinggalkan sepuCuk surat dan berangkat pergi dengan kudanya.
Hari itu iapun sampai di Tongkwan dan dapat dilihatnya panyi Tin Wan piauwkiok dihotel Wat-lay itu, ia menjadi ingat kata-kata murid suaminya, yaitu Beng Kian Hiong, bahwa biangkeladi yang menyebabkan kematian putera kesajangan nya itu adalah piauthau dari Tin Wan piauwkiok yang bernama Tong Siu Ho. Maka malamdua dengan membawa senjata ia memasuki hotel itu hendak menCari musuh besar itu.
Dan kebetulan sekali dilihatnya Tong Siu Ho berada didalam, tanpa pikir lagi Ciu-toanaynay menerobos masuk hendak membalas dendam, namun jumlah orang piauwkiok sangat banyak-banyak, pula Tiat-pi-peh-jiu Han Bun Tiong terhi tung jagoan tinggi, maka achirnya ia kena tertawan. Ia sudah pikir dalam keadaan sebangkara itu, pasti nasibnya sekali ini tak terluput dari kematian. Siapa duga justru) datang puteri kesajangannya untuk membebaskannya dari mara-bahaja.
Apabila kemudian Ciu Ki menCeritakan Cara menolong sang ibu dan menuntut balas, kesemuanya adalah tipu akal nya Ji Thian Hong, maka Ciu-toanaynay merasa sangat berterima kasih kepada pemuda itu-.
Besok paginya dalam perjalanan Ciu-toanaynay telah menanyai asal-usul Ji Thian Hong dengan teliti.
“Waktu aku berumur duabelas, seluruh keluargaku sudah habis diCelakai pemerintah, hanya aku sendiri yang berhasil lolos,” demikian Thian Hong menutur.
“Kenapa pemerintah menCelakai kau ?” tanya Ciu-toa-naynay.
„Karena putera pembesar itu penujui enCiku dan hendak mengambilnya sebagai gundik,” kata Thian Hong. “Padahal enCiku sejak lama sudah bertunangan, dengan sendlrinya ayahku tak boleh. Karena itu ayahku lantas dipitenah pem-besar itu berkomplotan dengan perampok, lalu ayah, ibu dan kaka lakidua telah dipenyarakan serhua. Kemudian enCiku di beritahu jika suka menurut lamaran sipembesar itu, lantas ayah akan dibebaskan. Cihu (suami enCi) dengan berani menCoba membunuh pembesar itu, tapi malah dipukul mati opasdua, mendengar kabar itu lantas enCiku menCebur ke sungai membunuh diri.”
„Apa kau tak balaskan sakit hati orang tuamu itu?” Ciu Ki menyela dengan marahnya.
„Memang setelah besar dan belajar silat, aku pulang untuk lakukan pembalasan, tapi musuhku sudah naik pang kat dan dipindah kelain tempat. Ber-tahundua kuselidiki dia, tapi,Siapakah kini belum memperoleh hasil apa-apa.”
“Siapakah nama musuhmu itu?” tanya Ciu Ki.
„Yang kuketahui, dia itu orang she Pui. Namanya siapa, sayang aku kurang jelas. Mukanya sebelah kiri terdapat tai lalat. Kalau bertemu dapat kukenalnya,” demikian Thian Hong achirnya.
Maju setindak lagi, Ciu-naynay tanyakan adakah pemuda itu sudah beristeri.
“Bah, ia orangnya terlalu liCin, tentu takkan ada sioCia yang menyukainya,” kata Ciu Ki dengan tertawa. “Seorang sioCia tak pantas omong begitu!” Ciu-naynay mendamprat gadisnya.
„Mak, kau tanya begitu pelit, apa mau menCarikannya jodoh baginya?” sinona malah tetap menggodanya. „Entah sioCia yang mana, eh, mungkin adik dari keluarga Kho itu bukan?”
Malamnya sewaktu dihotel, Ciu-naynay kembali mengata ngatai puterinya.
„Kau seorang gadis berjalan dan tinggal sekamar dengan seorang pemuda, siapa sih yang mau kawin dengan kau,” demikian orang tua itu.
„Dia luka, apa salahnya kutolong! Sekalipun ia orang yang liCin, tapi selama itu ia berlaku aturan padaku,” jawab Ciu Ki maraha.
„Hal itu hanya kau dan dia yang tahu. Aku dan ayahmu dapat mempercayai, tapi apakah orang luar bisa menerima begitu saja? KeCuali seumur hidup kau tak menikah, itu lain perkara. Karena tak ada Calon suami yang mempercayai keteranganmu itu. Memang begitulah susahnya menjadi wanita seperti kita ini,” panyang lebar Ciu-naynay menga tainya dengan pedas.
„Kalau begitu, biarlah aku tak kawin selamanya!” sikepala keras membantahnya.
Kembali ibu dan anak itu bertengkar dengan suara keras.
„Sudahlah jangan ributdua, ia tidur dikamar sebelah, nanti kan malu,” Ciu-naynay Coba meredakan.
“Takut apa, aku toch tidak berbuat haldua yang tidak pantas, biarkan dia dengar!” teriak sigadis malah.
Ketika mereka bangun pada keesokan harinya, pelajan masuk membawa sepuCuk surat, katanya dari tamu orang she Ji yang tidur dikamar sebelah, untuk Ciu-naynay. Ketika Ciu Ki tanya dimana orang itu, pelajan menerangkan bahwa tadi pagia sekali dia sudah berangkat dengan naik kuda.
„Mengapa tak kau bangunkan kami!” bentak Ciu Ki seraja menarik leher baju sipelajan itu.
„Ji-ya itu mengatakan tak perlu, dan surat ini sebagai gantinya,” kata sipelajan.
Ciu Ki lepaskan Cekikannya, terus merebut surat itu untuk dibaCanya. Surat itu ternyata pernyataan terima kasih dari Thian Hong atas pertolongan Ciu Ki. Dan karena sudah dekat dengan kota Khay Hong, maka dia terpaksa akan berjalan dulu. Dan sekali lagi dia takkan melupakan budi kebaikan sinona.
Habis membaCa, Ciu Ki tertegun. Surat dilempar, ia terus masuk kedalam pembaringannya lagi. Ibunya suruh ia makan dan akan diajak berangkat, sinona tetap tak menghiraukan nya.
„Nona besar, kita bukan di Thiat-tan-Chung, mengapa masih bertingkah!” bujuk sang ibu. Ciu Ki tetap membisu.
„Kau salahkan dia yang sudah berangkat tanpa memberi tahukan kita, bukan?” desak sang ibu lagi.
„Dia berbuat begitu untuk kebaikanku, mengapa kuharus menyesalinya,” jawab Ciu Ki dengan aseran.
„Habis mengapa kau mengambek?” tanya ibunya.
„Semalam dia tentu mendengar pembicaraan kita, karena nya untuk menyaga nama baik kita dari Celahan orang, dia telah berangkat dulu. Aku kawin atau tidak, perduli apa dengan orang-orang luar!” teriak Ciu Ki seraja duduk diatas pembaringannya.
Sebenarnya Ciu-naynay memanyakan puterinya itu. Melihat anaknya menguCurkan air mata, kasihan juga ia. Sebagai seorang ibu, tahulah ia perasaan apa yang dikan dung puterinya itu terhadap Thian Hong. Sekalipun mulut tak mengatakan, tapi air matanya Cukup berbicara.
„Kini anakku hanya tinggal kau seorang. Aku tahu pera saanmu. Nanti sampai di Khay Hong, biarlah ayahmu yang memutuskan, tentu diapun tak berkeberatan kau bisa terang kap jodoh dengan Ji-ya itu. Jangan kuatir, serahkan saja pada ibumu ini,” demikian Ciu-naynay membisikinya. „Siapa yang minta dijodohkan dia? Apa yang kukuatir kan? Lain kali biar ada orang kelabakan mati dihadapanku, tak nanti aku sudi menolongnya!” seru Ciu Ki dengan aseran.
Kiranya malam itu dihotel sebenarnya Thian Hong tengah memeriksa suratdua yang diambilnya dari piauwsudua Tin Wan piauwkiok. Kiranya surat itu dari pemimpin Tin Wan piauwkiok, Ong Wi Yang, kepada Han Bun Tiong, dan menyuruh yang tersebut belakangan ini untuk lekas-lekas datang ke Pak khia berhubung akan ditugaskan mengantar barangdua ber harga ke Kanglam. Juga diterangkan, bahwa ada kiriman uang sepuluh laksa tail perak yang disuruh antarkan pada induk tentara pemerintah yang sedang melawat perang keperbata san barat. Barang itupun dipercayakan pada Tin Wan piauwkiok, karenanya piauwkiok harus memperkuat pengawalnya dengan beberapa orang yang berkepandaian tinggi.
Thian Hong menganggap surat itu tak begitu penting. Dan pada saat itulah tiba-tiba ia dengar lagi Ciu Ki ributdua dengan ibunya dan beberapa kali menyebut namanya. Setelah didengarnya jelas, ia merasa tak enak dihati. Karena menolong dirinya, jangandua Ciu Ki akan dibuat buah tutur orang. Maka ia ambil putusan untuk berangkat sendiri lebih dahulu.
Setibanya diperbatasan propinsi Holam, rakjat didaerah sungai Hoangho sama menderita diserang banyir. Diam-diam Thian Hong mengutuk pembesardua negeri yang hanya memen tingkan diri dan mengabaikan usahadua menolong rakjat. Dalam hatinya, ia berjanyi, bilamana gerakkan HONG HWA HWE berhasil memegang tampuk pemerintahan, tentu akan dikerahkannya usaha untuk mengurangi keganasan sungai itu.
Mengikuti tanda-tanda HONG HWA HWE dikota Khay Hong, achirnya Thian Hong berhasil mendapatkan Kawan-kawan seperjoangan ditempat kediaman Bwee Liang Bing, seorang pehdekar dan anggauta HONG HWA HWE Demikianlah malam itu tuan rumah meng adakan pesta, dimana semua (robek)
Wi Jun Hwa dan Sim (robek)
Ciok Siang Ing masih belum (robek)
surat kedaerah Hwe di Sinkiang (robek)
masih menyirepi tempat dimana Bun Tha (robek). Cio Su Kin disuruh Tan Keh Lok untuk meninyau keadaan sungai Hoangho.
Thian Hong tak mau sebutdua perihal Ciu-naynay dan Ciu Ki kepada Ciu Tiong Ing, karena dipikirnya, dalam dua hari lagi mereka sudah akan datang. Tapi ia terangkan tentang dirinya Hi Tong yang menderita luka parah dengan berkawan seorang gadis yang menyaru jadi lakidua. Katanya: „Bermula kukira kalau suso (Lou Ping), tapi ternyata suso berada disini.”
Tapi semua orang pun tak dapat menebak, siapakah nona kawan Hi Tong itu.
Pada hari kedua diwaktu pagi, Ciu Ki tampak datang ke rumah keluarga Bwe itu. Kembali orang-orang HONG HWA HWE merasa girang, terutama Ciu Tiong Ing. Setelah sama mengasoh, Ciu Ki menghampiri Thian Hong dan berkata dengan bisik-bisik: „Kemarilah, aku perlu bicara padamu!”
Thian Hong merasa bahwa nona galak itu tentu akan me maki-makinya karena berani berangkat dulu.
„Biar ia maki apa saja, aku akan tetap tak mau mem bantahnya,” demikian pikirnya.
Dengan ketetapan begitu, ia ikut sang nona menuju kebelakang.
„Ibuku tak mau ikut kemari, kau Carikanlah akal bagaimana!” pinta sigadis tiba-tiba .
Thian Hong lega tak terhingga karena orang ternyata bukan hendak mendamperatnya, maka katanya: „Mintalah supaya ayahmu suka menemuinya.”
„Ibu pun tak mau menyumpainya. Ibu marah besar pada nya,” kata Ciu Ki.
Thian Hong termenung sejenak, lalu serunya girang: „Baiklah; aku ada akal.”
Lalu ia-membisiki beberapa patahkata pada sinona, siapa segera bertanya: „Apa bisa?” (robek)
pergilah kesana dulu,” kata (robek)
pat ibunya, Thian Hong kem (robek)
sekalian saudara angkatnya. Dalam p(robek)
ekati Ciu Tiong Ing dan berkata pelan-pelan :
„Ciu-loyaCu, didekat gereja Thiat Ta Si sini katanya ada sebuah rumah minum yang kesohor dengan araknya. Karena sudah sampai disini, sebaiknya kita Cobadua buktikan.”
„Baik, aku yang menjadi tuan rumah. Ayo, sekalian saudara, kita minum kesana,” seru Tiong Ing dengan gembira.
„Dalam kota ini banyak-banyak sekali orang-orang pemerintah, kalau kita be-ramaidua pergi tentu kurang leluasa. Biarkan Cong-thocu dan aku saja yang menemani, bagaimana?” kata Thian Hong.
Begitulah setelah sama setuju, mereka bertiga menuju ke Thiat Ta Si.
Rumah minum „Siu Tiok Wan” itu ternyata memang baik sekali tempatnya. Perabotnya semua rapi bersih. Thian Hong memilih tempat yang disenanginya. Sambil minum arak dan dahar ikan, mereka asjik berCerita tentang kissah Sin Ling kongcu dijamari Cian-kok yang mengadakan perjamuan untuk melaksanakan gerakan besar.
Tan Keh Lok dengan mengelah napas berkata: „Kegagahan Sin Ling kongcu itu, kini bagaikan arak yang turun kedalam tenggorokan kita. Sekalipun wujudnya tak tampak lagi, tapi masih tetap terasa menggetarkan tubuh kita.
Karena pengaruh arak, Keh Lok tampak bersemangat se kali ketika dia menuturkan semangat Cinta negeri dari sin Ling kongcu tersebut. Setelah mengeringkan lagi beberapa Cawan maka Thian Hong mengangkat Cawannya untuk memberi selamat pada Tiong Ing yang sudah bisa berkumpul lagi dengan puterinya. Tiong Ing hanya menghela napas saja. Kata Thian Hong, “Ciu LojaCu berduka, apakah karena Thiat-tan-Chung telah terbakar musnah bukan?” “harta benda adalah barang sampiran, mengapa Thiat-tan-Chung mesti kudukakan?” sahut siorang tua. “Kalau begitu tentu terkenang akan kongcu yang telah tiada itu?” tanya Thian Hong lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar