MENYELANG petang, mereka sudah sampai ke Liu-Cwan-Cu. Lou Ping maunya akan terus, tapi Thian Hong yang ingat akan pesan sang ketua, Buru-buru menCegahnya dengan alasan kudanya akan menjadi kepayahan nanti. Lou Ping menuruti, dan malam itu mereka menginap disebuah hotel. Semalam itu, Lou Ping bergulak-gulik tak bisa tidur, sedang hujan rintikdua membasahi bumi.
Terkenang ia akan peristiwa malam ketiga dari perkawi nannya dengan Bun Thay Lay, dia dititahkan Ie lotangkeh pergi kekota Kahin untuk menolong seorang janda yang hendak diCemarkan oleh seorang tuan tanah. Setelah ber hasil, pada tengah malam itu mereka meneduh diatas paseban Jan Oe Lauw di telaga Lam-ouw, minum arak sambil menik mati turunnya sang hujan. Pada saat itu, sembari memimin tangan isterinya yang baru dikawin itu, Bun Thay Lay me nyanyi dengan gembira. Saatdua itulah yang memenuhi lubuk kenangan sinyonya muda itu. Tiba.” tergerak pikiran Lou Ping.
“Karena sungkan menemani keluarga Ciu anak dan ayah berdua, maka Chit-ko tak mau Cepat-cepat meneruskan perjalanan. Kalau begitu, mengapa aku tak mau berangkat dulu sendiri?” demikian ia membatin.
Keinginan itu menguasai hatinya, terus serentak ia bangun mengemasi senjata dan bekalnya, lalu menuliskan tanda-tanda tulisan diatas meja untuk Thian Hong, menerangkan meng apa ia berangkat lebih dulu, sekalian supaya dimintakan maaf pada Ciu Tiong Ing dan puterinya.
Karena kuatir membangunkan mereka, Lou Ping meng ambil jalan loncat dari jendela, terus melepaskan kudanya, mengenakan baju hujan dan melarikannya dengan pesatnya.
Menyelang fajar, sampailah ia ke Tin-bin dan mengasoh sebentar. Kudanya betul-betul kelihatan lelah sekali, apa boleh buat ia menunggu sampai setengah jam. Setelah kira-kira berlari tiga empat puluh li lagi, tiba-tiba kudanya mendeklok ketanah. Dengan wasdua Lou Ping Buru-buru menarik kendalinya, Syukur kudanya itu tak jatuh, namun sekalipun begitu, ta hulah ia bahwa kudanya itu sudah tak dapat disuruh berlari lagi, atau tentu akan mati kelelahan. Apa boleh buat, ter paksa Lou Ping menyalankan binatang itu dengan pelahandua sekali.
Belum berapa jauh berjalan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kuda yang menghampiri dengan pesatnya. Dan pada lain saat seekor kuda putih menCongklang disisih nya, pesat memberosot kemuka. Karena larinya seCepat-cepat angin, Lou Ping sampai tak dapat mengawasi dengan jelas, orang maCam bagaimanakah sipenunggang itu. Belum habis Lou Ping ter-herandua, kuda putih itu sudah lenyap dari pe mandangan.
Karena kudanya sudah kuat lagi, maka kembali dilarikan nya. Tiba disebuah dusun, dilihatnya pada muka sebuah rumah tertambat seekor kuda yang bulunya putih meletak seperti salju. Ditiup angin silir-'; suri kuda itu membelaia, betuia seekor kuda yang luar biasa bagus dan garangnya. Se-konyonga kuda itu bebenger keras sekali, hingga kudanya Lou Ping sampai berjingkrak mundur. Tak salah lagi, itulah kuda yang lari pesat melaluinya tadi. Disebelahnya tampak seorang lelaki tengah menyikat bulunya.
“Kalau kudapat naiki kuda luar biasa itu, tentu akan dapat kususul suko dengan segera. Kuda sebagus itu, tentu pemi liknya tak mau menyualnya. Sebaiknya kuCemplak saja, tanpa bilangdua. Namun orang yang memiliki seekor kuda seperti itu, tentu mempunyai kepandaian buge yang tinggi.”
Demikian Lou Ping me-nimbanga dalam hatinya. Karena sejak kecil ia ikut ayahnya — Lou Gwan Thong si Golok Sakti — berkelana dikalangan Sungai Telaga, maka segala Caradua untuk nielakukan perampasan, ia sampai faham. Begitu mengambil keputusan, segera ia mengambil sumbu dari dalam tasnya, lalu disulutnya dengan batu api yang dititiknya dengan besi. Habis itu ia keprak sang kuda memburu kearah kuda putih yang di-inCarnya itu.
Begitu hampir dekat, dia sabitkan sebatang hui-to, golok terbang kearah tiang kaju dimana tali les kuda putih itu ditambatkan. Berbareng dengan putusnya tali les itu, kuda Lou Pingpun sudah berada disamping sikuda putih.
Sebat luar biasa, wanita puteri begal tunggal Lou Gwan Thong yang termashur itu, sumpalkan sumbu ketelinga kudanya sendiri, begitu mcnyabet dengan tali les, dia barengi gunakan gerakan “Cian-liong-seng-thian” naga menCelat keatas udara, ia buang tubuhnya keatas pelana sikuda putih. Karena terkejut, kuda putih itu membinal dan bebenger keras sekali. Sekali kaki menyejak, bagaikan anak panah terlepas dari busur, menCongklanglah kuda luar biasa itu dengan pesatnya.
Cara puteri Lou Gwan Thong menCuri kuda itu, luar biasa sebatnya dan gapahnya. Sehingga karena kesima, si pemilik itu hanya terlongong-longong mengawasi saja. Baru setelah tersedar apa yang telah terjadi, dia sibuk tak ke ruan dan Buru-buru mengejarnya. Tapi sungguh sial. Kuda Lou Ping yang ditinggalkan itu tadi, karena telinganya terbakar dengan api sumbudua, segera ber-jingkrakdua tak keruan, me nyepak kesana, menggigit kemari. Sehingga untuk beberapa saat tertahanlah sipemilik kuda putih itu, tak dapat mengejarnya.
Tapi orang itupun lihai juga, sekali enyot dia apung kan tubuhnya melompati kuda binal itu, terus lari mengejar lagi. Meiihat dirinya dikejar, Lou Ping yang sudah lari jauh itu segera tahan kudanya, dirogohnya sebuah uang mas, begitu dilemparkan kearah sipengejar, ia bertereak dengan keras sekali:
“Kita tukar tambah binatang tunggangan. Kudamu lebih bagus, uang mas ini selaku tambahanku!”
Orang itu menyerit dan memaki dengan kalap, terus mengejar sekuat-kuatnya. Lou Ping tertawa geli. Begitu ke dua kakinya menyepit keras-keras, kuda putih itu melesat lagi seperti anak panah. Dan sekali melesat, sudah berpuluh tombak jauhnya. Yang dirasakan Lou Ping, hanyalah angin yang men-deru-deru disamping telinganya, puhundua sebaris demi sebaris lalu disisihnya, dusun dan perkampungan silih ber ganti dijelayahinya. Sekalipun sudah lari beberapa jam, sedikitpun kuda itu tak kelihatan lelah, dan tetap seperti terbang larinya.
Ketika tiba disebuah kota, berhentilah Lou Ping pada sebuah rumah makan. Setelah ditanyakan, barulah diketa huinya bahwa kota itu disebut Sat King, kira-kira sepuluh0 lie jaraknya terpisah dari dusun dimana ia berhasil menCuri kuda itu.
Lou Ping sayang sekali dengan kuda sakti itu. Diberinya sendiri kuda itu makan rumput, sembari mem-belaidua bulu surinya. Tiba-tiba disisih pelana situ tampak sebuah kantong kain. Tadi karena ter-Buru-buru , ia tak dapat mengetahuinya. Ketika diambil, kantong itu ternyata amat berat isinya. Dan setelah dibuka, ternyata berisi sebuah senjata pie-peh besi. Diam-diam Lou Ping terkejut.
„Kiranya kuda itu milik keluarga Han dari kota Lokyang yang bergelar Thiat-pie-peh-Chiu itu. Mungkin akan ada buntutnya dibelakang hari.”
Begitu berkata Lou Ping pada dirinya sendiri. Selain senjata tersebut., terdapat juga dua tiga puluh tail perak dan sepuCuk surat. Sampul surat itu dituliskan beberapa huruf dan berbunyi: „Harap diterima sendiri oleh Han Bun Tiong toaya. — Dari orang she Ong.”
Karena ternyata sampul itu sudah terobek, maka tak kepalang tanggung, Lou Ping lalu mengambil keluar surat didalamnya. Pertama kali melihat nama sipengirim ternyata adalah „Hwi Yang,” agak terkesiaplah Lou Ping. Tapi di lain saat, ia merasa girang, karena tahulah ia sekarang bahwa keluarga pemilik kuda putih itu ternyata punya hubungan dengan Ong Hwi Yang, itu pemilik dari Tin Wan piauwkok, piauwkok yang justeru akan diCarinya itu. Diam-diam ia me nyesal, mengapa mesti memberi pengganti sebiji uang mas pada orang yang menjadi kawan musuhnya itu.
Surat itu berbunyi, minta supaya Han Bun Tiong lekas pulang karena persaudaraan orang she Giam minta bertemu. Agar supaya lekas Bun Tiong dapat tiba kekota raja, maka dia (Ong Hwi Yang) istimewa mengantar seekor kuda sakti. Selain untuk tugas melindungi angkutan barangdua berharga, juga ada urusan dagang yang penting sekali, agar Bun Tiong sendiri yang mengantarnya ke Kanglam. Tentang benar tidaknya Ciao Bun Ki dibinasakan orang-orang Hong Hwa Hwe, baik dipertangguhkan untuk diselidiki lagi lain waktu.”
Demikian maksud surat itu, maka berpikirlah Lou Ping: “Ciao Bun Ki adalah murid dari keluarga Han si Thiat pi-peh dari Lok-yang. Dikalangan kangouw keras tersiar omongan, bahwa dia terbunuh oleh kaum kita. Tapi hal itu tak benar adanya. Dan untuk menghilangkan salah faham, CongthorigCu telah mengutus sip-su-te (I Hi Tong) pergi pada keluarga Han di Lokyang untuk menyelaskannya. Barang penting apakah yang dikawal Tiri Wan piauwkok ke Kanglam itu ? Baiklah” setelah nanti suko bebas akan ku ajaknya untuk membuat perhitungan pada orang-orang piauwkok tersebut. yang telah bantu menangkap suko.”
Girang dengan apa yang diketahuinya waktu itu, Lou Ping bisa makan lebih banyak-banyak. Ketika melanyutkan perjalanan nya lagi, ternyata hujan masih belum reda. Rupanya kuda itu mengerti apa yang dibisikkan oleh Lou Ping tadi. Karena kini dia makin Cepat-cepat larinya serta tak sebinal tadi. Dalam sekejap saja entah sudah berapa banyak-banyaknya penunggang kuda lain dan keretadua yang telah dilampauinya. Sehingga Lou Ping sendiri berbalik merasa kuatir, salahdua bisa kesasar jalan nanti.
Ketika akan ditahannya sang kuda agar agak pelahan sedikit, sekonyong-konyong ada seseorang loncat ketengah jalan untuk menghadang, sembari mengangkat tangannya keatas kepala. Karena kaget, kuda itu sampai berjingkrak mundur. Belum keburu Lou Ping akan menegurnya, orang itu menghampiri seraja memberi hormat, katanya :
„Bun su-naynay, Siaoya berada disini !”
Kiranya penghadang itu ialah Sim Hi, kaCungnya Tan Keh Lok. Dengan girang sekali, Lou Ping Buru-buru loncat dari atas kudanya. Dan Cepat-cepat sekali anak itu menyang gapi les kuda putih tersebut., terus dituntunnya seraja memuji :
“Dimana Bun su-naynay dapat beli kuda yang begini bagus ? Tadi masih jauh kulihat kau mendatangi, tapi sekejap saja sudah sampai disini dan hampir saja ku tak dapat menghadangmu.”
Lou Ping hanya tersenyum saja, sebaliknya menyawab pertanyaan orang, ia malah berbalik bertanya :
„Apa sudah ada berita tentang Bun suya?”
„Siang ngoya dan Siang liokya menerangkan sudah melihat Bun suya. Mereka sama berada didalam,” kata Sim Hi seraja membawa Lou Ping kesebuah kuil rusak yang berada ditepi jalan situ.
Lou Ping tak sabaran lagi. Ia serahkan kudanya pada Sim Hi, dan terus berlari masuk. Tampak diruangan dalam sudah berkumpul Tan Keh Lok, Bu Tim, Thio Pan San, kedua saudara Siang dan beberapa saudara lagi. Waktu melihat Lou Ping, mereka sama berbangkit. Menghadap pada sang ketua, Lou Ping menerangkan bahwa karena tak dapat menahan hatinya maka ia berangkat lebih dulu. Untuk itu, ia minta maaf.
„Karena keliwat memikiri suko, tindakan suso itu dapat dimengerti. Sekalipun begitu, suso tetap bersalah tak menurut perintah pimpinan. Untuk itu, biarlah setelah nanti selesai menolong suko, kita putuskan hukumannya. Ciok sipji-ko, harap kau Catat dulu,” kata Keh Lok.
Lou Ping berkata dalam hatinya, asal suko dapat tertolong, hukuman apa saja yang akan di terimanya, ia rela. Lalu tanyanya pada kedua saudara Siang :
„Ngoko dan liokko, adakah kau melihat suko ? Bagaimana dia?”
„Kemaren di Song King kita berdua telah berhasil menge jar rombongan kuku garuda yang membawa suko. Karena jumlah mereka banyak-banyak, kita kuatir keprak rumput membikin kaget ular, jadi tak turun tangan dulu. Malamnya dari jendela kami dapat melihat suko tidur dengan enaknya. Dia tak melihat kita. Karena penyagaan sangat kerasnya, maka terpaksa kita tak berani berbuat apa-apa,” menerangkan Siang He Ci.
„Kawanan kuku garuda itu bersatu; dengan piauwsu dari Tin Wan piauwkok. Turut penglihatanku, yang bugenya tinggi tidak kurang dari sepuluh orang,” Siang Pek Ci menambahkan keterangan saudaranya.
Setelah kedua saudara Siang atau SeCwan Sianghiap itu habis berkata, tiba-tiba masuklah Ie Hi Tong kedalam ruangan itu, siapa begitu nampak. Lou Ping segera menegor dengan kaget.
„Rombongan orang Wi itu telah berkemah ditepi sungai sebelah depan sana. Para penyaganya bersenjata lengkap Sebaiknya nanti malam saja kita lakukan pengintipan lagi,” kata Tan Keh Lok.
Sekonyong-konyong diluar terdengar gemuruh derap kuda berlari dan berbenger. Ternyata ada sebuah rombongan penunggang kuda lewat disitu.
Tak lama kemudian masuklah Sim Hi memberi lapor : “Barusan saja lewat iringkan kereta besar dibawah pimpinan seorang perwira beserta dua puluhan perajurit.”
Habis melapor, kembali, kaCung itu keluar kelenteng untuk pasang mata pula.
“Dari sini ketimur sedikit sekali penduduknya, tepat sekali untuk pekerjaan kita,” demikian Keh Lok berunding dengan para kawan. “Cuma pasukan tentara ini dan rombongan orang Uigor itu entah orang-orang maCam apa, diwaktu kita turun tangan menolong Suko, boleh jadi mereka akan ikut Campur tangan, inilah perlu kita ber-jagadua sebelum nya.”
Semua orang menyatakan benar atas pendapat pemimpin muda itu. Kata Bu Tim Tojin : “Liok Hwi Ching, Liok-locianpwe selalu bilang adik-gurunya Thio Ciau Cong betapa hebat, betapa lihai, dikalangan kongouw kita juga sudah lama mendengar nama besarnya 'Hwe-jiu-boan-koan,' sekali ini yang menawan Bun-sute juga dia yang memimpin, kesempatan ini bagus sekali, biarlah aku Bu Tim Tojin Cobadua menempurnya.”
“Ja, Totiang punya tujuhdua jurus Tui-hun-toat-beng-kiam' tiada bandingannya dijagat, harini jangan sekalidua lepaskan biangkeladinya si Thio Ciau Cong ini,” kata Keh Lok.
“Meski Liok Hwi Ching, Liok-toako sudah putuskan hu-bungan dengan adik-gurunya itu,” demikian Tio Pan San ikut bicara, “tapi ia orang paling setia dan berbudi, baik nya ia masih belum tiba disini, kalau tidak, dihadapannya terangduaan kita membunuh Sutenya (adik-gurunya), rasanya agak kurang leluasa juga.”
“Kalau begitu, tidakkah lebih baik lekas-lekas kita berangkat, kira-kira besok pagi kita sudah dapat menCapai Suko,” sela Siang He Ci.
“Baiklah,” sahut Keh Lok. “Nah, Goko dan Lakko (kaka kelima dan keenam), silahkan kau menyelaskan bagaimana maCamnya kawanan Cakar-alapdua (maksudnya kaki tangan pemerintah) dan rombongan Piauthaudua itu, agar besok bila kita turun tangan sudah ada renCana yang baik.”
Memangnya kedua saudara Siang itu sudah menguntit kawanan pembesar negeri dan orang-orang Piauhang itu, seluk-beluknya sudah Cukup terang diselidikinya, maka mereka pun menuturkan dengan jelas, bahkan ditambahkannya:
„Kalau malam Suko tidur bersama serumah dengan kawanan Cakar-alapdua itu dan siang harinya duduk didalam kereta besar, kaki dan tangannya diborgol. Kain tirai keretanya ditutup rapatdua hingga orang luar pasti tak tahu didalam ke reta itu berduduk tawanan penting. Diwaktu kereta berjalan selalu ada dua Cakar-alapdua yang mengawal dikanan-kiri de ngan menunggang kuda, penyagaan keras sekali.”
“Dan maCam apakah Thio Ciau Cong itu ?” tanya Bu Tim.
“Ia berusia sepuluh-an, perawakannya tegap dan berjenggot pendekdua,” kata Siang Pek Ci.
„Tapi, Totiang,” sela Siang He Ci tiba-tiba , „harus kita janyi dulu, kami bersaudara bila kepergok dengan 'kuradua' (istilah olokdua orang SuCwan, karena kedua saudara Siang adalah orang daerah itu) itu lantas melabraknya dahulu, jangan kau nanti omeli kami berebutan dengan kau.”
“Haha, rupanya sudah lama tak ketemukan tanding, tangan sudah gatel barangkali ?” sahut Bu Tim tertawa. “Dan kau Samte (adik ketiga), Thay-kek-jiu kepandaian-mu sibudha bertangan seribu ini apakah tidak ingin Cari 'pasaran' juga?”
„Ah, biar si Thio Ciau Cong ini aku serahkan pada kalian saja, tak mau aku merebutnya,” sahut Tio Pan San.
Begitulah jago-jago Hong Hwa Hwe itu berunding dengan gosokdua tangan dan mengepal penuh semangat, setelah mereka isi perut sekedarnya dengan rangsum kering yang ada, segera pula mereka minta Tan Keh Lok memberi perintah.
Memangnya Keh Lok sudah siapkan renCananya, maka berkatalah ia: „Rombongan orang Uigor itu belum pasti ada hubungannya dengan rombongan hamba negeri itu,” maka kita mendahului mereka saja, asal Suko sudah berhasil kita tolong, kitapun tak perlu urus mereka. Maka Ie-Capsite, kaupun tak perlu menyelidiki lagi, kau dan Cio-Capsahko besok melulu bertugas menCegat perwira itu bersama dua0-an perajuritnya itu, asal mereka dirintangi tak dapat mengganggu kita sudah Cukup, jangan banyak-banyak menewaskan d jiwa orang.”
Perintah pertama ini segera diterima baik oleh Cio Su Kin dan Ie Hi Tong.
Lalu Keh Lok melanyutkan: „Dan kau, We-kiuko dan Ciok-Capjiko, kalian berdua segera berangkat mendahului kawanan Cakar-alapdua itu, besok pagidua menyaga dimulut selat bukit sana, biar siapapun yang datang dari arah timur atau barat, semuanya harus ditahan. Yang - paling penting jalah jangan sampai kawanan Cakar-alapdua itu lolos lewat selat, bukit itu.”
Perintah inipun diterima dengan baik oleh We Jun Hwa dan Ciok Siang Ing, segera mereka keluar dan Cemplak kuda terus berangkat menunaikan tugasnya.
„Bu Tim Totiang, Siang-goko dan liokko, kalian bertiga kusua melajani hambadua negeri,” kata pula Keh Lok. „Dan Tio-samko dan Nyo-patko kalian berdua melajani orang-orang Piauhang. Suso dan Sim Hi mengarah kereta yang ditumpangi Suko, aku sendiri berada ditengah melihat gelagat, dimana kurang lancar, segera aku membantu kesana.”
Pembagian tugas itu telah diterima baik oleh semua orang. Tak terduga mendadak terdengar Ciang Cin ber-kaokdua.
„Hai, hai, Congthocu, lalu apa yang kulakukan? Kau telah lupakan diriku!” demikian teriaknya.
„Tidak lupa, tapi justru ada tugas penting perlu minta Sipko yang melakukan, Cuma entah Sipko sanggup memikul resiko tidak?” sahut Keh Lok tersenyum.
„Asal kau perintah saja, masakan aku Ciang Bongkok orang takut mati?” teriak Ciang Cin bersemangat.
„Mana bisa aku bilang kau takut,” sahut Keh Lok, „hanya aku kuatir kau mabuk arak dan umbar napsumu hingga bikin runyum pekerjaan kita.”
„Katakan, lekas katakan, setetes arak saja bila aku me neguknya, biar selanyutnya para saudara memandang hina padaku,” teriak Ciang Cin lagi tak sabar,
„Itulah bagus,” kata Keh Lok. „Sekarang ada tiga tugas yang perlu Sipko memikulnya seorang diri. Pertama, kau tinggal menyaga disini, kalau ada hamba negeri atau pasukan tentara yang menuju ketimur, semuanya harus kau tahan ; kedua, nanti kalau Liok (Hwi Ching) dan Ciu (Tiong Ing) kedua Cianpwe tiba, hendaklah lekas kau minta mereka menyusul membantu menempur musuh ; ketiga, begitu kita sudah dapat menolong Suko, kau dan Suso yang akan mengawalnya kedaerah Hwe ketempat guruku Thian-ti-koay-hiap untuk merawat lukanya, selama masih didaerah Kamsiok kita melindunginya sepenuh tenaga, tapi bila sudah lewat Sing-sing-kiap (nama sebuah selat bukit yang berbahaja), kita beramai lantas putar kembali kemarkas besar didaerah Kanglam, dan kewajiban selanyutnya adalah kau yang harus memikul seluruhnya.”
Begitulah setiap Keh Lok mengucapkan sepatahkata, segera Ciang Cin mengia sekali penuh girang, terus menerus ia menyatakan baik tugasdua itu.
Setelah selesai membagi tugas, segera semua orang keluar kelenteng dan Cemlak keatas kuda sambil memberi tanda perpisahan dengan Ciang Cin.
Ketika semua orang melihat kuda putih Lou Ping yang bagus itu, kesemuanya tiada henti-nya memuji. Karena itu diam-diam Lou Ping berpikir : “Seharusnya kuda ini mesti dihadiahkan pada Congthocu, tapi engkoku itu (maksudnya suaminya, Bun Thay Lay) sudah terlalu banyak-banyak menderita, nanti kalau dia sudah dapat tertolong, kuda ini akan kuberikan padanya saja, biar dia menjadi girang.”
Dalam pada itu Keh Lok telah tanya Ie Hi Tong : “Di-manakah orang-orang Uigor itu berkemah ? Marilah kita memutar pergi melihatnya.”
Segera Hi Tong menunyukkan jalan menuju ketepi sungai, tapi setiba disana, yang tertampak hanya tanah lapang yang sunyi senyap, mana lagi ada perkemahan dan bayangan orang ? Yang ada tinggal kotorandua kuda dan onta yang memenuhi tanah saja.
Hi Tong turun dari. kuda dan memeriksa kering dan ba-sahnya kotorandua binatang itu, lalu katanya: “Mereka berangkat kira-kira sejam yang lalu.”
Semua orang' menjadi heran dan merasa tindak-tanduk orang-orang Uigor itu rada aneh dan penuh rahasia, susah diraba untuk apakah tujuan mereka.
“Marilah kita berangkat !” ajak Keh Lok kemudian.
Maka Cepat-cepat sekali mereka keprak kuda, ditengah malam buta yang sunyi, hanya terdengar suara derapan kuda yang ber-detaka.
Karena kuda putih Lou Ping terlalu Cepat-cepat larinya, maka setiap kali ia harus menunggu kawannya agar tidak ketinggalan jauh. Ketika fajar sudah menyingsing, sampailah mereka ditepi sebuah sungai kecil.
“Para saudara, biarlah binatangdua tunggangan kita minum air dulu untuk memulihkan tenaga, lewat sejam lagi kukira sudah dapat menCapai kereta tawanan Suko,” demikian kata Keh Lok.
Mendengar selekasnya akan bisa bertemu dengan suami nya, seketika darah ditubuh Lou Ping seakan-akan mengalir terlebih santer, jantung memukul keras, wajah bersemu merah.
Waktu Hi Tong melirik orang dan nampak parasnya yang Cemasdua Cantik itu, sung'guh susah dilukiskan perasaan apa yang dirasakannya saat itu, maka per-lahandua ia mendekati Lou Ping dan memanggilnya lirih : “Suso !”
“Ehm ?” sahut Lou Ping.
“Sekalipun jiwaku harus melayang , pasti aku akan mem-bebaskan Suko kepadamu,” kata Hi Tong parau.
Lou Ping tersenyum, lalu dengan menghela napas pelahan ia berkata: „Ja beginilah baru benardua saudaraku yang baik !”
Seketika pilu rasa hati Hi Tong hingga hampirdua saja meneteskan air mata, lekas-lekas ia melengos kearah lain.
„Suso,” kata Keh Lok tiba-tiba , „pinyamkanlah kudamu itu kepada Sim Hi, biar dia menyusul kedepan dahulu untuk menyelidiki jejak Cakar-alapdua dan kemudian balik memberi kabar pada kita.”
Mendengar dapat menunggang kuda putih milik Lou Ping itu, alangkah girangnya Sim Hi, segera ia mendekati. Lou Ping dan menanya: „Ja,. Bun-naynay (nyonya Bun), bolehkah kau?”
„Kajak anak kecil, kenapa tidak boleh?” sahut Lou Ping tertawa.
Mendengar itu, tanpa bertanya lagi segera Sim Hi Cem plak kuda putih itu terus berlari pergi seCepat-cepat terbang.
Setelah menunggu kuda mereka Cukup meminum air, ke-mudian merekapun melanyutkan perjalanan dengan Cepat-cepat . Tak lama, CuaCa sudah terang benderang, dari jauh kelihatan Sim Hi telah kembali dengan kuda putihnya.
„Lekas, kawanan Cakar-alapdua itu tak jauh didepan, marilah lekas mengejarnya!” demikian kaCung itu berteriak-' dari jauh.
Mendengar laporan itu, sungguh girang sekali semua orang, mereka keprak kuda mengudak lagi sepenuh tenaga.
Ketika Sim Hi menukar kembali kuda putih itu kepada Lou Ping, nyonya jelita ini tanya padanya: „Apakah kau telah melihat kereta yang ditumpangi Suya (tuan keempat)?”
„Ja, ja, sudah melihatnya,” sahut Sim Hi sambil mengangguk-angguk. „Ketika aku ingin melihatnya lebih jelas dan Coba mendekati kereta besar itu, tapi orang-orang Piauhang yang mengawal disamping kereta itu dengan bengis lantas angkat golok menganCam sambil menCuCi maki padaku.”
„Biarlah, sebentar pasti mereka akan me-nyembahdua dan menyebut kau tuan muda dan nenek-moyang kecil padamu,” ujar Lou Ping tertawa.
Lalu seCepat-cepat kilat merekapun menguber terlebih Cepat-cepat lagi.
Setelah mengejar 5-enam li pula, lapatdua kelihatan didepan ada sepasukan orang yang makin lama makin dekat, dan achirnya tertampak jelas adalah seregu tentara yang mengawal sebuah kafilah.
„Mengejar lagi enam-tujuh li lantas kawanan Cakar-alapdua dan orang-orang Piauhang itu,” demikian kata Sim Hi pada majikan nya, Tan Keh Lok.
Ketika semua orang keprak kuda melampaui kafilah itu, begitu Keh Lok memberi tanda, segera Cio Su Kin dan Ie Hi Tong berdua memutar kuda mereka terus menghadang ditengah jalan, sedang yang lain-lain meneruskan pengejaran mereka kedepan dengan Cepat-cepat .
Setelah pasukan tentara itu sudah dekat, diatas kudanya Hi Tong lantas memberi hormat, katanya dengan sopan-santun sebagai seorang SiuCay: „Kalian tentunya sudah Capek lelah, pemandangan disini indah permai, marilah kita dudukdua dulu sambil meng-obroldua saja?”
Tapi seorang perajurit tentara Cing yang paling depan lantas membentaknya: „Lekas minggir, kau tahu tidak ini adalah keluarga Li-Ciangkun?”
„O, kiranya keluarga pembesar? Kalau begitu lebihdua harus mengaso dulu,” sahut Hi Tong. „Didepan sana ada dua setan gantung hitam-putih, jangandua nanti malah bikin kaget para nona dan nyonya.”
„NgaCo-belo,” damperat seorang perajurit lain sambil ajun peCutnya terus menyabet. „Kau SiuCay berbau keCut ini jangan main gila disini !”
Namun dengan ketawadua Hi Tong berkelit, lalu katanya pula: „Ah, jangan pukul dulu. Kata pribahasa: Seorang jantan pakai mulut tidak pakai tangan. Tapi kau telah gunakan peCut kuda semaunya, inilah bukan perbuatan seorang jantan !”
Sementara itu perwira yang memimpin kafilah itu ketika melihat didepan ada orang menghadang, Cepat-cepat sekali telah keprak kuda maju membentak.
Tapi dengan tertawa Hi Tong memberi hormat lagi, lalu tanyanya: „Siapakah nama paduka tuan yang mulia, dimana kah kediamannya?”
Nampak keadaan Ie Hi Tong dan Cio Su Kin agak men Curigakan,maka perwira itu menjadi ragudua dan tidak lantas menyawab.
Dalam pada itu Hi Tong telah keluarkan seruling emasnya, katanya pula: „Aku yang rendah sedikit mempelajari seni suara, tapi seringkah gegetun belum ketemukan kawan yang paham kepandaianku, kini melihat paduka tuan lain dari yang lain, maukah silahkan turun kuda dulu buat mendengarkan satu lagu sulingku untuk pelipur lara dalam perja-lanan?”
Kiranya perwira itu adalah Can Tho Lam yang mengawal keluarga Li Khik Siu kedaerah Kanglam itu, Ketika dilihat nya seruling emas orang, sungguh terkejutnya tidak kepalang. Meski ia tidak menyaksikan sendiri waktu Hi Tong bertempur melawan petugas-petugas negeri di Tio-keh-po tempo hari, tapi kemudian iapun mendengar Cerita dari perajuritnya serta pelajan hotel hingga mengetahui „bandit” yang melawan dan bahkan membunuh petugas negeri itu adalah' seorang muda ganteng dan membawa seruling emas. Kini kepergok di tengah jalan, entah apa maksud tujuannya, tapi bila melihat lawan hanya berdua orang saja, dalam hati dengan sendirinya tak begitu gentar.
Karena itu, segera Can Tho Lam membentak: „Kita 'air sungai tak mengairi sumur (maksudnya tiada permusuhan dan sangkutpaut), baiknya ambillah jalan sendiridua dan lekaslah minggir saja !”
„Nanti dulu,” jawab Hi Tong. „Aku ada sepuluh lagu merdu yang sudah lama tak ditiup, harini bisa bertemu orang agung, tanpa merasa menjadi getol, maka terpaksa biar aku pertun jukkan sebisanya. Untuk memberi jalan tidaklah susah, asal sepuluh laguku sudah selesai ditiup, dengan sendirinya aku menghantar selamat jalan paduka tuan.”
Habis berkata, tanpa menunggu jawaban orang, segera Hi Tong angkat serulingnya kebibir terus ditiupnya keras-keras.
Can Tho Lam mengarti urusan harini tak mungkin disele-saikan begitu saja, maka iapun tak sabar, begitu tombak nya diangkat, dengan gerakan „oh-liong-jut-tong”“ atau naga hitam keluar dari liang, mendadak ia menusuk keulu hati Hi Tong.
Ternyata serangan itu sama sekali tak diperduli oleh SiuCay berseruling emas itu, ia masih terus meniup sulingnya se enaknya saja, ia menunggu setelah ujung tombak itu sudah mendekat baru mendadak tangan kirinya menyamber gagang tombak musuh, menyusul seruling emas ditangan kanan menghantam sekeras-kerasnya ketengah gagang tombak hingga seketika senjata itu patah menjadi dua,
Terkejut sekali Can Tho Lam, Cepat-cepat ia tarik kudanya mundur beberapa langkah, lalu dari seorang perajuritnya disambernya sebilah golok untuk kemudian merangsang maju lagi.
Tapi setelah tujuh-delapan jurus, kembali Hi Tong dapatkan ke-sempatan menutuk dilengan kanannya hingga lagi-lagi senjata Can Tho Lam terlepas dari tangan.
“Nah, sepuluh laguku harini sudah pasti kau mendengar nya,” demikian kata Hi Tong sambil tertawa. Lalu seruling diangkatnya dan ditiupnya lagi.
Gugup dan gusar Can Tho Lam dua kali keCundang, ia masih takmau terima, tiba-tiba ia memberi tanda sambil berteriak : “Maju semua, tangkap dulu keparat ini !”
Mendengar perintah atasannya itu, mau-tak-mau para pe-rajurit itu menyerbu maju.
Namun Cio Su Kin sudah siap, sekali ia lompat turun dari kudanya dan menghadang kedepan, ketika gajuh besi nya diajun, dengan gerak tipu “boat-Chau-sun-Coa” atau menyingkap rumput menCari ular, penggajuhnya menyabet pelahan kaki seorang perajurit paling depan, tanpa ampun lagi perajurit itu menyerit dan jatuh terjengkang dia tas sajap penggajuh Cio Su Kin itu. Apabila lain saat Su Kin mendadak ajun senjatanya keatas keras-keras, bagai layang-layangyang putus benangnya perajurit itu tahu-tahu terbang keangkasa, saking takutnya hingga perajurit itu ber-teriakdua minta tolong dan kemudian jatuh kedalam rombongan Kawan-kawan nya.
Waktu Cio Su Kin memburu maju pula, idem dito seperti tadi, seperti sekop saja serdadudua Cing itu satu persatu kena disekop keudara oleh penggajuh besinya.
Karuan saja serdadudua yang berada dibagian belakang sama ketakutan, sekali menyerit, seketika mereka putar tubuh terus angkat langkah seribu alias lari ter-biritdua. Meski Can Tho Lam Coba menCegah kekaCauan itu dengan ajun peCut kudanya menyabet serabutan, namun suasana sudah takbisa dikuasai lagi.
Sedang Cio Su Kin merasa kesenangan akan permainan “sekop” itu. tiba-tiba tirai pintu kereta besar didepannya tersingkap, menyusul sesosok awan merah tahu-tahu menubruk datang, berbareng sebilah pedang mengkilap telah menusuk kedadanya.
Namun Su Kin sempat gunakan gerakan “to-poat-sui-yang” atau membubut pohon Yang roboh, ujung gagang penggajuhnya mendadak dibalik untuk memukul batang pedang orang. Tapi lawannya ternyata juga tidak lemah, belum sampai kebentur, orang itu sudah merubah serangan dan ganti menusuk kaki Su Kin.
Ketika sedikit Su Kin geser kaki dan gajuhnya terus me nyerampang dari samping, karena tahu tenaga Su Kin terlalu besar, orang itu tak berani menangkisnya, hanya melompat pergi beberapa tindak.
Waktu Su Kin menegasi, ternyata orang itu adalah seorang gadis berbaju merah. Dasar Su Kin bertabiat tidak suka banyak-banyak bicara, maka tanpa bersuara kembali ia putar gajuhnya menempur sigadis pula. Tapi setelah saling gebrak beberapa jurus lagi dan melihat ilmu pedang orang sangat bagus, diam-diam Su Kin merasa heran.
Kalau Su Km heran, maka Hi Tong yang menyaksikan di samping juga terkesima. Tatkala itu ia sudah lupa meniup serulingnya lagi melainkan memperhatikan terus ilmu pedang sigadis itu, ternyata gadis itu mainkan pedangnya sedemikian rupa hingga sinar putih gulung-gemulung sambung menyam bung tak pernah putus, segera juga Hi Tong dapat menge nalinya ilmu pedang sigadis ternyata adalah „Ju-hun-kiam-hoat” dari perguruan sendiri.
Melihat pertarungan itu masih terus berlangsung dengan serunya, ilmu pedang sigadis sangat bagus, sebaliknya tenaga Cio Su Kin besar, hingga seketika susah dibedakan mana bakal unggul atau asor. Maka mendadak Hi Tong melompat maju, ketika seruling emasnya ia tangkiskan ke-tengahdua kedua senjata yang sedang bertanding itu, berbareng iapun berseru: „Berhenti !”
Gadis itu dan Cio Su Kin sama-sama mundur selangkah, dalam pada itu setelah menukar lagi senjata tombaknya, Can Tho Lam telah keprak kuda maju lagi hendak membantu sigadis, sedang perajuritdua Cing itu sama berteriakdua dikejauhan memberi semangat pada pemimpinnya. Namun tiba-tiba gadis itu memberi tanda agar Can Tho Lam mundur saja.
„Numpang tanya siapakah nama nona yang mulia? Dan siapakah gurumu?” demikian Hi Tong lantas menanya.
Gadis itu tertawa.
„Kau tanya, tapi aku justru takmau bilang,” sahutnya kemudian. „Sebaliknya aku tahu kau adalah Kim-tiok-siuCay le Hi Tong, Hi artinya ikan, ikannya dari ikan menggeragap ikan diair keruh, dan Tong artinya sama, samanya dari sama-sama sebagai jantan. Kau menduduki kursi ke-14 dalam Hong Hwa Hwe, betul tidak?”
Terkejut sekali Hi Tong dan Su Kin demi mendengar kata-kata orang yang luCudua benar itu hingga seketika mereka saling pandang tak bisa buka suara. Lebihdua Hi Tong tertegun oleh karena kata-kata sigadis tadi ternyata menirukan Caranya mem-perkenalkan diri tempo menempur musuh dihotel itu.
Dilain pihak Can Tho Lam juga tidak habis mengerti ketika menyaksikan gadis itu tiba-tiba berbicara dengan kawanan „bandit” itu dengan senyum-simpul tanpa takut.
Begitulah sedang tiga lakidua dengan heran memandangi seorang gadis yang bermuka berseri-seri, dan seketika bingung entah apa yang harus dibicarakan, tiba-tiba terdengarlah suara derapan kuda yang riuh ramai, perajuritdua Cing itu tertampak sama minggir memberi jalan, lalu enam penunggang kuda telah menyusul datang dari arah belakang dengan Cepat-cepat . Orang yang berada paling depan itu berwajah kurus, rambut penuh beruban, nyata ialah tokoh terkemuka Bu-tong-Pai, Liok Hwi Ching adanya.
Tanpa berjanyi Hi Tong dan sigadis tadi ber-sama-sama telah memapak maju, yang satu terdengar memanggil Hwi Ching dengan 'Susiok' (paman guru), sebaliknya yang lain memanggil 'Suhu' (guru), lalu sama-sama melompat turun dari kuda untuk memberi hormat.
„Wan Ci, kenapa kau berada bersama Ie-suheng dan Cio-toako disini?” tanya Hwi Ching kemudian.
Nyata gadis tadi bukan lain adalah Li Wan Ci, itu murid perempuan Hwi Ching yang nakal dan jail.
“Habis, Ie-suheng memaksa orang harus mendengar tiupan serulingnya, aku tak suka mendengarnya, lalu ia merintangi tak boleh lewat,” demikian sahut sigadis. “Sekarang, Suhu, kau saja yang menimbang siapa yang salah dalam hal ini.”
Tentang Liok Hwi Ching menghajar petugas negeri di hotel tempo hari, Can Tho Lam sudah mengetahuinya juga, kini melihat orang mendadak munCul berombongan, hati perwira itu menjadi kebat-kebit tak tenteram.
Kelima orang yang ikut dibelakang Hwi Ching itu ialah Ciu Tiong Ing, Ciu Ki, Ji Thian Hong, Beng Kian Hiong dan An Kian Kong.
Hari itu ketika diam-diam Lou Ping tinggal pergi tengah malam, besok paginya ketika Ciu Ki sudah bangun, gadis ini menjadi kurang senang. “Hm, kalian orang-orang Hong Hwa Hwe suka pandang rendah orang lain, kenapa kau tidak ikut pergi bersama kau punya Suso (kaka ipar perempuan keempat) saja ?” demikian gadis itu mengomel.
Karena itu Thian Hong memberi penyelasan sebisanya dan meminta maaf kepada ayah dan gadis she Ciu itu.
“Ja, Cinta suami-isteri mereka yang masih muda, sudah tentu ingin sekali bisa lekas-lekas bersua kembali, kalau ia berangkat lebih dulu, itupun sudah jamak saja,” ujar Tiong Ing. Habis ini ia berpaling pada gadisnya dan men Celahnya : “Dan kau perlu apa harus muringdua?”
“Seorang diri Suso telah berangkat, ia sudah saling kenal dengan kawanan Cakar-alapdua, jangandua akan terjadi lagi sesuatu,” kata Thian Hong.
“Ja, tidak salah, maka paling baik kalau kita menyusulnya lekas,” sahut Tiong Ing. “Tan-tangkeh suruh aku memimpin regu ini, apabila terjadi apa-apa atas dirinya (maksudnya Lou Ping), sungguh mukaku ini nanti entah harus ditaruh di mana?”
Maka mereka bertiga segera larikan kuda seCepat-cepat terbang, sore hari itu juga mereka sudah bisa menyusul Liok Hwi Ching. Karena kuatir atas diri Lou Ping, maka berenam mereka menempuh perjalanan seCepat-cepat mungkin tanpa banyak-banyak buang tempo ditengah jalan, sebab itu tak lama rombongan Tan Keh Lok berlalu, segera juga mereka sudah bertemu dengan Ciang Cin yang bertugas menyaga ditempatnya itu, dan ketika mendengar bahwa Bun Thay Lay berada tidak jauh didepan, seCepat-cepat angin segera merekapun menguber terus.
Begitulah, ketika Hi Tong mendengar Wan Ci mengadu biru malah pada Liok Hwi Ching, mau-tak-mau wajahnya menjadi panas rasanya, pikirnya : “Aku merintangi orang mendengar serulingku, itu memang benar, tapi bilakah pernah aku memaksa kau sinona besar ini?”
Dilain pihak ketika Ciu Ki mendengar pengaduan Wan Ci tadi, dengan sengit ia melotot pula kearah Ji Thian Hong, dalam hati iapun berkata : “Hm, memangnya ada berapa orang baik-baik didalam Hong Hwa Hwe kalian?
Kemudian Hwi Ching telah berkata pada Wan Ci: “Urusan didepan nanti sangat berbahaja, baiknya kalian tinggal sementara disini jangan sampai mengagetkan Thay-thay (nyonya besar). Bila urusanku sudah selesai, dengan sendirinya aku akan datang menCari kau.”
Mendengar didepan nanti bakal ada ramaidua, tapi sang Suhu tak perkenankan dia ikut perdi, maka mulut Wan Ci yang mungil menyengkit, tanpa menyawab. Namun Hwi Ching pun tak menghiraukannya, ia ajak semua orang mengudak pula terlebih Cepat-cepat .
Kembali mengenai Keh Lok tadi, ia memimpin rombong annya mengejar terus kedepan, setelah 4 - 5 li lagi, lapatdua kelihatan iringduaan orang didepan terbaris menjadi satu garis lurus sedang menyelayahi gurun Gobi yang luas.
Segera dengan pedang terhunus Bu Tim Tojin mendahului menguber kedepan sambil berteriak : “Ayo, kejar Cepat-cepat !”
Setelah lebih satu li lagi, bangun tubuh orang-orang didepan makin lama makin nyata, tiba-tiba Lou Ping keprak kuda terus menyerobot maju, hanya sekejap saja musuh disusulnya. Dengan golok kembar ditangan, ia bermaksud melampaui musuh dulu untuk kemudian baru putar balik menCegat.
Tak terduga mendadak didepan sana riuh ramai orang ber-teriakdua, beberapa puluh ekor onta dan kuda telah me nerdyang datang dari arah timur kebarat.
Karena tak menduga-duga, lekas-lekas Lou Ping tahan kudanya dengan maksud melihat kawan atau lawan kafilah yang me nerdyang datang ini.
Sementara itu iringduaan petugas negeri itupun sudah berhenti dan ada orang sedang mem-bentakdua menegur. Tapi barisan penerdyang itu makin depat makin Cepat-cepat , senjata gemilapan ditangan penunggangdua kuda itu segera menyerbu kedalam pasukan tentara itu hingga terjadilah pertempuran gaduh.
Lou Ping menjadi heran sekali, ia tidak mengerti dari mana datangnya bala bantuan itu.
Sementara itu Tan Keh Lok dan lain-lain sudah menyusul datang juga, be-ramaidua mereka maju lebih dekat untuk menyaksikan pertempuran sengit itu.
Sekonyong-konyong dari depan sana seorang penunggang kuda mendatangi dengan Cepat-cepat , setelah melingkari medan per-tempuran kedua pihak itu, orang itu terus menuju kearah jago-jago Hong Hwa Hwe ini. Setelah dekat, achirnya semua orang dapat mengenalinya bukan lain ialah Kiu-beng-kim-pa-Cu, We Jun Hwa, simacan tutul bernyawa sembilan itu.
Setelah sampai dihadapan Keh Lok, segera Jun Hwa berseru : “Congthocu, bersama Cap-ji-long aku menyaga dimulut selat bukit sana, tapi telah diterdyang orang-orang Uigor ini, kami berdua tak mampu menahannya, terpaksa aku memburu datang memberi lapor, siapa tahu mereka malah sudah saling gebrak dengan kawanan Cakar-alapdua itu, inilah sungguh aneh sekali!”
“Bu Tim Totiang, Tio-samko dan Siang-si Siang-hiap (kedua pendekar she Siang),” demikian Keh Lok segera mengatur siasat, “kalian berempat lekas menyerbu kesana merampas dahulu kereta tawanan Bun-suko itu, yang lain-lain jangan turun tangan dulu, biar kita lihat gelagat saja.”
Sekali mengia, Bu Tim Tojin berempat terus keprak kuda mengerbu kedepan.
“Kawan dari golongan mana ?” bentak dua opas ketika melihat datangnya empat orang itu.
Namun Tio Pan San menyawabnya segera dengan dua buah pisau seCepat-cepat kilat, yang satu menembusi tenggorokan dan yang lain menancap diperut, kedua opas itu seketika kena dibereskan.
Tio Pan San berjuluk “Jian-pi-ji-lay” atau sibudha bertangan seribu, sebab biasanya mukanya berseri-seri selalu, wajahnya welas-asih dan hatinya lemah, sebaliknya tubuh-nya penuh membawa senjata-nyata rasia seperti piau, anak panah, batu sambitan dan peluru besi dan maCamdua lagi, Cepat-cepat dan jitu sambitannya hingga orang susah mengarti Cara bagaimana sepasang tangannya itu sekaligus bisa menggunakan senjata-nyata rasia yang begitu banyak-banyak.
Setelah empat orang itu menerdyang sampai mendekati kereta besar, dari depan tiba-tiba seorang Uigor yang pakai ubeldua kepala telah menusuk dengan tombaknya. Namun se dikit mengegos, Bu Tim tidak balas menyerang, melainkan terus menerdyang lebih dekat kereta besar sasaran mereka. Ketika seorang Plauwsu angkat goloknya membaCok, sekali Bu Tim menangkis, seCepat-cepat kilat pedangnya terus me motong kebawah hingga empat jari Piauwsu itu tertabas putus, saking sakitnya hingga Piauwsu itu terjungkir jatuh dari kudanya.
Pada saat itu juga Bu Tim mendengar samberan angin dari belakang, ia tahu ada musuh membokong, tanpa berpaling lagi ia ajun pedangnya dari bawah keatas, tahu-tahu pedangnya melalui bawah bahu musuh terus menerabas keluar dari pundak kanan, nyata opas yang membokong itu telah terpapas sebelah lengannya mulai dari bahu sampai dipundak, bahkan sebagian kepalanya pun terkupas, hingga darah munCrat bagai air leding.
Cara Bu Tim menghajar musuh itu disaksikan dengan jelas oleh kedua saudara Siang dan Tio Pan San dari belakang, mereka sama memuji atas ketangkasan imam berlengan satu yang lihai itu.
Begitu juga, ketika orang-orang Piauhang melihat ilmu pedang Bu Tim mengejutkan, belum sampai bergebrak dua kawan dipihaknya sudah melayang jiwanya, keruan nyali mereka peCah hingga be-ramaidua ber-teriakdua : “Angin ken tyang , lari !”
Tiba-tiba seorang Piauwsu yang bertubuh kurus kecil telah membilukkan kereta besar, sekali peCutnya bekerja, kereta keledai telah dilarikan Cepat-cepat.
Tatkala itu kedua pendekar Siang dengan senjata Cakar-terbang mereka sudah saling gebrak melawan tujuh-delapan orng Uigor yang maju merintanginya. Sedang Tio Pan San ketika kereta besar dibilukkan hendak lari, segera bersama Bu Tim Tojin mereka mengudak.
Setelah rada dekat, Pan San mengeluarkan sebutir batu “Hui-hong-Ciok,” batu belalang terbang, Cepat-cepat sekali ia sambitkan kebelakang kepala Piauwsu itu hingga tepat
mengenai sasaran dan darah berCipratan, saking sakitnya orang itu ber-kaokdua, tapi banyak-banyak juga akal liCik Piauwsu itu, tiba-tiba ia keluarkan sebilah hadidua terus ditanCapkan sekuat-kuatnya kepantat keledai, karena kesakitan, karuan binatang itu berlari kesetanan.
Pan San menjadi gusar, ia peCut kudanya lebih ken tyang , mendadak ia enyot tubuh terus menubruk kebebokong kuda tunggang Piauwsu itu, dan baru saja duduk diatas kuda, berbareng tangan kanannya sudah pegang per gelangan tangan Piauwsu itu terus diangkat keatas, la ajundua dulu tubuh orang diudara, lalu dilemparkan sekuatnya ke arah kereta keledai yang masih berlari Cepat-cepat didepan itu.
Dengan tepat Piauwsu itu jatuh diatas kepala keledai penarik kereta itu, begitu jatuh, secara matiduaan ia merangkul kentyang dua kepala binatang itu. Karena kaget, pula matanya tertutup oleh rangkulan si Piauwsu, keledai itu berjingkrakdua dan me-rontadua terus membalik arah malah.
Dengan Cepat-cepat Bu Tim dan Pan San seg'erapun sudah datang hingga keledai itu dapat diberhentikan. Waktu Pan San ulur tangannya menarik punggung Piauwsu itu, dengan keras ia banting orang ketepi jalan.
„Sam-te gunakan orang sebagai senjata, sungguh hebat Caramu ini!” demikian Bu Tim memuji.
Waktu Tio Pan San menarik tirai kereta dan melongak kedalam, namun keadaan dalam kereta ternyata gelap gelita tak terang, hanya lapatdua seperti ada seorang yang merebah didalam dengan tubuh berselimut.
„Su-te (adik keempat), benar kau bukan? Kami telah da tang menolong kau!” segera Pan San berseru.
Tapi orang itu hanya bersuara lemah sekali, habis itu tak kedengaran apa-apa lagi.
„Kau hantar kembali Su-te dulu, biar aku yang menCari Thio Ciau Cong untuk bikin perhitungan,” kata Bu Tim. Habis ini ia keprak kuda menerdyang lagi kemedan pertempuran.
Muladua orang-orang Piauhang melarikan diri kearah timur, tapi ketika melihat Bu Tim menerdyang datang lagi, dengan ber-teriakdua mereka putar haluan kabur kebarat.
Thio Ciau Cong, wahai Thio Ciau Cong! Dimanakah kau keparat ini, kenapa tidak lekas unyuk diri!” segera Bu Tim ber-teriakdua menantang.
Tapi meski diulangi lagi, masih belum ada juga orang menyahut. Maka kembali ia menerdyang kearah gerombolan musuh.
Melihat Bu Tim mengudak datang lagi, para Piauwsu dan hambadua negeri menjadi ketakutan tidak kepalang hingga semangat seakan-akan terbang ke-awangdua, mereka ber-teriakdua terus lari sipat-kuping tunggang-langgang.
Dilain pihak para jago menjadi girang ketika melihat Tio Pan San membawa kembali kereta besar yang mereka arah itu, be-ramaidua mereka memapaknya. Dengan tak sabar Lou Ping telah mendahului kehadapan kereta itu, ia melom-pat turun dari kudanya terus menyingkap tirai kereta.
„Toako!” serunya dengan suara ter-putus-putus.
Tapi ternyata tiada sahutan orang didalam kereta. Kaget luar biasa Lou Ping, tanpa pikir lagi ia menerobos kedalam kereta terus menarik selimut yang menutupi sesosok tubuh orang itu.
Sementara itu para jago Hong Hwa Hwe yang lainpun sudah datang, mereka sama melompat turun dari kuda terus merubung maju hendak melihat keadaan Bun Thay Lay yang mereka rindukan itu.
Disebelah sana kedua pendekar Siang melihat kereta tawanan sudah dapat mereka rampas, tentu saja mereka tak sabar lagi menempur terus orang-orang Uigor yang tak jelas asal-usulnya itu, sekali kedua saudara Siang itu bersuit, Cakar-terbang mereka diajun memaksa orang-orang Ui itu mundur, lalu mereka putarkuda terus kabur pergi.
Orang-orang Uigor itu rupanya melulu bertugas merintangi orang yang bermaksud mendekati saja, maka ketika melihat kedua saudara Siang itu undurkan diri, sama sekali mereka tidak mengejar, melainkan terus ikut menerdyang ketengah medan pertempuran yang masih berlangsung dengan serunya itu.
Tatkala itu Bu Tim Tojin masih menerdyang kesana kemari, seorang kusir kereta yang lambat larikan diri kembali telah kena dibaCoknya hingga terguling. Bu Tim tak berniat membunuhnya, maka ia tarik tali kendali kuda melompati tubuh orang terus ber-teriakdua menantang pula: „Ayo, Hwe-jiu-boan-koan, dimana kau, pengeCut, kenapa tidak lekas keluar !”
Hwe-Chiu poan-koan adalah gelaran Thio Ciauw Cong. Tapi yang munCul bukan dia, melainkan seorang Wi yang tinggi besar, bermuka brewok. „Imam liar darimanakah berani mengaduk disini!” demikian segera orang itu membentak.
Tanpa menyawab, pedang Bu Tim berkelebat menyabet nya. Untung orang Wi itu sebat menangkis. Tapi sebelum dia keburu menarik kembali goloknya, Bu Tim susuli sabetan kearah kanan dan kiri, Cepat-cepat nya bukan terkira. Karena tak sempat menangkis, orang Wi itu jepitkan kaki keperut kuda, sudah itu tubuhnya ia buang kebawah untuk menyusup kebawah perut kuda. Dengan Cara berjum palitan melalui perut tunggangannya itu, barulah dia berhasil lolos dari tabasan Bu Tim. Namun tak urung dia kucurkan keringat dingin, dan dengan andalkan kepandai annya berkuda, orang Wi itu larikan kudanya dengan dia sendiri masih menggelantung dibawah perut si kuda.
„Kau dapat menghindari tiga tabasanku, betul-betul seorang hohan. Akupun tak mau mengambil jiwamu lagi”, kata Bu Tim dengan tertawa. Dan dia kembali menyerbu kearah rombongan lain.
Ketika SeChwan Sianghiap tadi mengantar kereta menuju kesebelah barat, mereka nampak dari arah muka ada kira-kira delapan penunggang kuda menghampiri. Itulah rombongan Ciu Tiong Ing dan Liok Hwi Ching. Tapi belum lagi mereka mendekati kereta besar, Lou Ping telah menyeret keluar orang yang berselimut dalam kereta itu tadi, terus dilemparkan kebawah, lalu terdengar nyonya itu membentak:
„Pan-lui-Chui Bun toaya dimana?”
Dan belum habis kata-kata diuCapkan, nyonya itu sudah ber CuCuran air mata. Ketika orang Hong Hwa Hwe sama memeriksanya, ternyata orang itu adalah seorang lagi-lagi setengah tua yang mukanya kurus. Tangannya kanan dibalut dan digantung pada lehernya.
Lou Ping segera mengenalnya sebagai kepala polisi Pak khia yang terkenal yaitu Go Kok Tong, itu orang yang telah ditabas putus sebelah lengannya oleh Bun Thay Lay sewaktu pertempuran di “Thio-ke-poh dulu itu.
Lou Ping segera mendupaknya, maksudnya akan mena-nyakan keterangan, namun karena terlalu menahan perasaan gusar dan Cemas, ia sampai tak dapat mengucap apa-apa. Sebaliknya begitu menusukkan gaetannya pada paha Go Kok Tong, Wi Jun Hwa segera membentak dengan bengis nya: „Dimana Bun-ya? Kalau kau membisu, akan kutabas kakimu ini!”
„Thio Ciauw Cong, sibangsat itu, sudah membawanya jauh sekali,” jawab kepala polisi itu dengan gemasnya. „Ia suruh aku tinggal dalam kereta ini, kukira kalau dia bermaksud baik suruh aku beristirahat dulu. Tidak tahu nya manusia liCik itu menggunakan tipu 'kim-sian-toat-kak' (tonggeret bertukar kulit). Aku dijadikan korban untuk dia yang akan menerima pahala dikotaraja. Bangsat, Coba lihat saja, dia bisa selamat atau tidak nanti !”
Demikian kepala polisi itu menyumpahi dan memaki kalang kabut.
Pada saat itu, rombongandua Hong Hwa Hwe sudah tiba semua, maka berserulah Tan Keh Lok :
„Tangkap semua kuku garuda dan orang-orang piauwkok, jangan ada satu yang bisa lolos. Mari kita kaCip mereka dari dua jurusan.”
Begitulah Tan Keh Lok dengan Thio Pan San, Siang-si Song-hiap, Nyo Seng Hiap, Wi Jun Hwa, Cio Su Kin dan Sim Hi, menerdyang dari jurusan selatan. Sedang Ciu Tiong Ing bersama Liok Hwi Ching, Ji Thian Hong, Lou Ping, Ie Hi Tong, Ciu Ki, Beng Kian Hiong dan An Kian Kong, menyerbu dari jurusan utara. Bagaikan jepitan besi, rombongan Hong Hwa Hwe itu segera mengepung kawanan kuku garuda, piauwsu dan orang-orang Wi.
Selagi orang-orang Wi itu tengah bertempur seru dengan orang-orang piauwkok, tiba-tiba Thio Pan San beberapa kali mengibas kibaskan kedua tangannya. Seketika itu dua orang kaki tangan pemerintah terjungkal dari kudanya. Kini tahulah orang-orang Wi itu, siapa lawan siapa kawan. Mereka sama ber tereakdua kegirangan. Malah orang Wi brewok yang pernah tempui Bu Tim itu tadi, majukan kudanya untuk mendekati rombongan Hong Hwa Hwe, lalu serunya :
„Entah rombongan enghiong mana yang datang membantu ini. Disini Cayhe (aku yang rendah) menghaturkan maaf dan terima kasih.”
Habis mengucap, dia angkat tinggi goloknya selaku memberi hormat. Tan Keh Lok Buru-buru merangkap tangan untuk balas menghormat, katanya :
„Saudara-saudara, mari kita ber-sama-sama menggempur musuh !” Kini dengan turunnya komando sang pemimpin, majulah orang-orang Hong Hwa Hwe dengan serentak. Karena beberapa kawan yang diandali sudah banyak-banyak yang binasa, maka dengan serta merta orang-orang negeri dan piauwsudua itu sama menyura minta diampuni jiwanya sambil tiada hentinya memanggil: „Yaya, CouwCong” atau kakek moyang .
Demikian riuh rendah mereka meratap membahasakan dengan pelbagai sebutan yang menyunyung sekali.
„Bun naynay,” tiba-tiba Sim Hi berseru girang kepada Lou Ping, „mereka benardua telah memanggil kakek moyang padaku seperti katamu tadi.”
Saat itu hati Lou Ping risah tak keruan, kata-kata si-kaCung itu sedikitpun tak didengarnya.
Di-tengah-tengah suasana yang kaCau itu, sekonyong-konyong Bu Tim lari keluar dari gundukan orang-orang , terus bertereak keras-keras: „Hai, mari kauorang datang kemari. Lihat betapa bagus permainan pedang anak perempuan itu !”
Semua anggauta Hong Hwa Hwe telah sama mengetahui bahwa ilmu pedang toh-beng-kiam-hoat imam itu jarang ada la wannya. Orang-orang dikalangan Rimba persilatan yang dapat menangkis tiga sabetan pedangnya itu, jarang sekali. Kini dia sendiri sampai keluarkan pujian ilmu pedang orang lain, dan terutama adalah seorang gadis.
Mereka kaget dan dengan penuh keheranan sama datang untuk melihatnya. Orang Wi brewok itu mengucap beberapa patah perkataan Wi, maka rombongan orang-orang Wi itu sama menyingkir ketepi, hingga bersama orang-orang Hong Hwa Hwe kini merupakan sebuah lingkaran. „Cbng-thocu, Thio Ciauw Cong tak berada disini. Orang yang memainkan roda ngo-heng-lun itu boleh juga tampak nya,” kata Bu Tim pada Tan Keh Lok.
Ketua Hong Hwa Hwe itu juga datang melihat. Cerita disitu ada seorang nona berbaju kuning tengah bertempur seru de ngan seorang lakidua kate.
„Nona itu bernama Hwe Ceng Tong, murid dari Thian-san Siang Eng,” demikian Hwi Ching mendekati Tan Keh Lok seraja memberi keterangan. „Dan si kate yang memegang ngo-heng-lun itu adalah Giam Se Ciang, salah seorang dari Kwantong Liok Mo.”
Tergerak hati Tan Keh Lok mendengarnya. Thian-san Siang Eng, sepasang burung_ elang dari Thiansan, adalah sepasang suami isteri Tut-Ciu Tan Ceng Tik dan Swat-tiau Kwan Bing Bwe. Mereka adalah angkatan tua dari kalangan persilatan didaerah Hwi. Dengan gurunya, Thian Ti koay-hiap mereka tak berhubungan, sekalipun tidak bermusuhan tapi kedua fihak sedapat mungkin tak mau berjumpa.
Tan Keh Lok dengar bahwa Thian San Pai punya ilmu pedang sam-hunkiam sangat istimewa sekali. Maka kali ini dia perhatikan sekali permainan nona itu. Memang ternyata gerak serangan sinona itu luar biasa serunya, sehingga orang she Giam itu harus melajani matiduaan. Sedang dalam pada itu orang-orang Wi bersorak sorai untuk membantu semangat sinona. Malah ada beberapa orang yang nampak ma ju menghampiri dan siap akan turut bertempur.
„Tahan, aku hendak bicara!” tiba-tiba orang she Giam itu bertereak seraja mundur selangkah.
Rombongan orang Wi makin rapat menghampiri. Dengan menghunus senjata, mereka siap akan menyerbu. Cepat-cepat sekali Giam Se Ciang pindahkan sepasang senjatanya keta ngan kiri, dan tangannya kanan sebat sekali menarik sebuah buntalan dari belakang punggungnya. Dengan mengangkat tinggi-tinggi senjatanya dia bertereak :
„Kalau kaurang memaksa andalkan jumlah besar untuk menindas aku, bungkusan ini akan kurusakkan !”
Mendengar itu terkejutlah orang-orang Wi itu. Serentak mereka mundur beberapa tindak. Rupanya insaf bahwa dirinya susah lolos dalam kepungan orang-orang Wi dan Hong Hwa Hwe yang sedemikian kuatnya, maka Se Ciang hendak Cari akalan. Maka katanya lagi :
„Kauorang berjumlah besar, tentu mudahlah untuk membunuh aku. Tetapi aku, orang she Giam, pun berhati baja. Jangan harap kauorang bisa menCapai maksudmu. KeCua-li kalau mau bertanding satu lawan satu, kalau aku sampai kalah, baru dengan suka rela kuserahkan pauwhok ini. Kalau tidak dengan Cara begitu, aku siap untuk hanCur binasa ber-sama-sama dengan bungkusan ini. Nah, kauorang boleh pikirdua lagi.”
Kiao Li-kui Ciu Ki adalah orang pertama yang merasa panas telinganya, tanpa tunggu lagi, ia loncat kedalam kalangan seraja berseru : „Baiklah, aku yang menantang dulu !”
Habis itu dengan putar goloknya, nona berangasan itu akan maju menyerang, tapi ayahnya Buru-buru menariknya kembali dan katanya: „Disini berkumpul banyak-banyak Cianpwedua yang gagah perkasa, mengapa kau mau perlihatkan ketololanmu ?”
Sementara itu sinona baju kuning melambaikan tangan nya kepada Ciu Ki dan serunya: „Biar aku dulu yang melajani, kalau gagal, barulah CiCi bantu”.
„Jangan kuatir. Kulihat kau ini orang yang baik, tentu aku suka membantumu”, jawab Ciu Ki dengan gagahnya.
“Hm, budak tolol. Ia bugenya lebih tinggi dari kau, apa-apaan kau mau bantu dia”, ayahnya menegur dengan bisik-bisik.
„Apa dia tak mau kubantu?” bantah sinona yang bandel itu.
„Pauwhok yang berada ditangan piauwsu she Giam itu berisi kitab suCi dari orang-orang Wi, maka nona itu tentu akan merebutnya dengan tangannya sendiri”, menerangkan Liok Hwi Ching.
Baru setelah mendengar itu, Ciu Ki mengerti dan mau diam.
„Siapa yang hendak maju dulu. Nah sudah dirunding belum”, kata Giam Se Ciang dengan Congkak.
„Biarlah aku lagi yang melajanimu!” seru Hwe Ceng Tong.
„Kalau kau kalah apa perjanyiannya”!
„Kalah menang, kau harus tinggalkan kitab itu disini. Kalau menang, kau boleh pergi. Tetapi kalau kalah, nah tinggallah saja disini dengan kitab itu!” jawab sigadis.
Dengan ucapan itu, Ceng Tong terus mulai menyerang. Giam Se Ciang mengeluarkan ilmu permainan roda yang disebut ngo-heng pat-kwa, terdiri dari enam4 jurus. Kembali orang disuguhkan pertandingan senjata yang seru dan menarik.
Tan Keh Lok melambaikan tangan memanggil Hi Tong datang, katanya :
„Sipsu-te, kau lekas-lekas berangkat untuk memburu jejak suko. Kita nanti menyusul.”
Hi Tong Buru-buru keluar dari situ untuk naik kudanya. Tapi ketika berpaling dia menampak Lou Ping tengah tundukkan kepala seperti orang ngelamun. Sedianya Hi Tong akan meng hampirinya untuk menghibur, tapi pada lain saat, dia keprak kudanya terus kabur.
Sementara itu dalam pertandingan seru itu betul-betul permainan sam-hun-kiam nona Ceng Tong itu luar biasa sebat-nya. Belum ujung pedang menusuk datang, sudah ditarik dan diganti serang'an lagi. Demikian terjadi pada tiapdua gerak serangannya. Beberapa kali Giam Se Ciang berusaha untuk menyampok pedang sinona, tapi selalu tak berhasil.
Bu Tim, Liok Hwi Ching, Tio Pan San adalah achlidua pedang yang kenamaan. Kini mereka mengawasi seraja tak putus-putusnya memberi komentar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar