DEMIKIAN jurus demi jurus. Tan Keh Lot berkelahi dengan ilmu silat Siao Lim Pai yang dimainkannya dengan mahir sekali. Sehingga walaupun namanya bertempur, tapi nyatanya mereka itu seperti orang berlatih karena gerakan masing-masing sama sumbernya.
Lebih sepuluh jurus telah berlangsung, tapi masih belum ada yang terdesak. Ciu Tiong Ing adalah seorang jago Siao Lim Pai yang telah mencapai punCaknya kesempurnaan. Gerak kaki dan tangannya, senantiasa mengeluarkan deru samberan angin. Ke lebihan ilmu silat Siao Lim Pai, adalah dalam hal kesebatan. Demikianlah Tiong Ing makin lama makin gesit.
Pada saat itu dia bersilat dengan gerakan “jong-siao lim” yang terdiri dari tiga tujuh jurus. Baru sampai separoh, Tan Keh Lok segera terdesak. Selagi begitu Tiong Ing berseru keras sembari memutar tubuhnya kekiri, dari situ dengan gerak secepat-cepat bintang jatuh, dia rangsang lawannya. Tan Keh Lok buru- mundur selangkah, namun biar bagaimana, orang-orang Hong Hwa Hwe sama mengeluarkan jeritan tertahan, karena hampirs saja pemimpin muda itu tak dapat loloskati diri.
Kini Tan Keh Lok tidak lagi gunakan Siao Lim Kun, tap”! berganti dengan “ngo-heng-lian-hoan-kun” juga salah suatu ilmu silat yang lihai dari; Siao Lim Pai. Dalam salah satu jurusnya yang dinamakan “oh-liang-jay-kwa” naga hitam menyambar semangka, dia hajar dada orang.
”Bagus!” seru Ciu Tiong Ing sembari masih tetap gunakan jurus ilmu silat Siao Lim Kun untuk memusnahkan serangan.
Setelah lewat beberapa jurus, mendadak Tan Keh Lok ganti menyerang dengan “pat-kwan-yu-sim-Ciang,” menyerang sana-sini sambil ber-putardua. Karena jubahnya berge rombongan, maka diantara sinar lilin, tampaknya seperti sepuluh buah bayangan yang mengitari lawan.
Ciu Tiong Ing Cukup berpengalaman, dengan tenang dia sambut setiap serangan, hingga lawan tak dapat berbuat banyak-banyak. Ketika Ciu Tiong Ing kirim sebuah serangan lagi, Tan Keh Lok gunakan lweekang untuk pegang tangan orang. Gerakan itu adalah dari ilmu silat Thay Kek Kun yang disebut “ji hong si pit”.
Tan Keh Lok bergerak dalam gerakan Thay Kek Kun, de ngan ketenangan melajani kekerasan, dengan kelemahan me nundukkan kekuatan. Dia halau setiap serangan, dia enyahkan setiap tipu gerakan. Pada waktu itulah mata semua orang baru sama terbuka dengan penuh kekaguman. Sejak dulu ilmu silat Thay Kek Pai mempunyai sifata keistimewaan sendiri, dan sedikit saja yang dapat memiliki sempurna. Sekalipun muda usia ketua HONG HWA HWE itu, tetapi ternyata dia mempunyai ilmu gwakang dan lwekang yang sempurna. Suatu hal yang jarang terdapat dikalangan kangouw.
Thiat-tan Ciu Tiong Ing, jago Siao Lim yang kawakan itu, terpaksa harus melajani dengan hati-hati. Memang nampak nya gerakan kedua lawan itu lambat, tapi dimata achli silat, pertempuran itu lebih dahsyat dari semula. Sampai pada jurus kedua, keduanya masih belum mengunyukkan mana yang lemah.
Tiba-tiba Tan Keh Lok berganti Caranya berkelahi. Kini dia gunakan ilmu silat Tiang Kun dari kaum Bu Tong Pai, se bentar pula dengan ilmu silat “toa-lin-na-hwat” yang terdiri dari tiga enam jurus, lalu dengan “hun-Ciat-Cho-kut-Chiu” dan lain saat lagi dengan ilmu silat Gak-ke san-Chiu.
Baik kawan maupun lawan sama terpesona, tak habis-habisnya mengagumi. Bahwasanya pemimpin muda dari HONG HWA HWE itu kaja dengan pelbagai ragam ilmu silat, yang kesemuanya sukar dan jarang dapat dijakinkan. Dan mereka sama me nantikan dengan perhatian, ilmu silat apa lagi yang akan dikeluarkannya.
Ciu Tiong Ing tetap bertekun menggunaklm ilmu silat Siao Lim Kun, dan nampaknya dia tak jsatfhpai keteter. Ber puluh tahun berkelana dikalangan Sungai Telaga, jenis ragam ilmu silat dari Cabang apa saja telah diketahui dan dijumpainya. Sekalipun achli yang mahir dengan berbagai ilmu silat seperti Tan Ken Lok tersebut belum p'ernah di lihatnya, tapi dengan mengandal pada Siao Lim Kun, dia dapat melajaninya dengan tak sampai kewalahan.
Suatu saat, jago Siao Lim Pai itu tiba-tiba melangkah se tindak, sebat luar biasa, dia kirim pukulan kiri kekaki lawan. Dan selagi anak muda itu akan menarik tubuh, tahu-tahu lawan telah gunakan gerakan “li-hi-bak-thing” ikan lehi menggoyang angsan, „
“Rett” tahu-tahu jubah Tan Keh Lok pada bagian dada telah rowak seperti terbeset.
“Maaf!” seru Ciu Tiong Ing.
Muka Tan Keh, Lok merah padam. Cepat-cepat kedua jarinya akan menotok jalan darah “jwan-ma-hiat” dari lawan, namun lawan telah bersiap, maka keduanya terlibat lagi dalam pertempuran yang gigih.
Kembali pada saat itu orang-orang sama ke-heranduaan lagi. Karena mereka tak tahu ilmu silat apa yang digunakan oleh ketua muda itu, ilmu „Toa-kim-na-Chiu” dicampur dengan tiamhiat (totokan). Tangan kiri bergerak dalam “Cat-kun,” tapi tangan kanannya bergerak dalam “Bian-Ciang” pukulan kapas. Gerak serangannya seperti “pat-kwa-Ciang,” tapi gerak penyagaannya seperti Thay Kek Kun. Gerak ragamnya, seperti tak keruan, kaCau balau, sehingga mata orange yang mengikutinya sama berkunang-kunang.
Kiranya ilmu silat itu adalah Ciptaan dari Thian Ti koay-hiap, Wan Su Siao, yang disebut “peh-hoa-jo-kun” ilmu silat ratusan bunga. Thian Ti Koayhiap sejak muda gemar belajar buge. Dia merantau jauh sekali untuk mengunyungi dan berguru pada gurudua yang ternama, sehingga mahirlah dia akan peibagai Cabang ilmu silat. Setelah itu dia menetap didaerah Sinkiang, untuk menyembunyikan diri.
Disitulah dia mulai mejakinkan ilmunya, mengambil kele bihan dari sesuatu Cabang ilmu silat, mehtyang kok sana-sini dan achirnya terCiptalah “peh-hoa-jo-kun”-nya itu. Ilmu silat ini bukan saja sukar diduga” tapi juga mempunyai keistimewaan sendiri, yaitu yang terletak pada gerakan “jo” salah. Benar jurus- gerakannya hampir serupa dengan apa yang terdapat dalam Cabang ilmu silat yang terdapat di kalangan kangouw, tetapi sebenarnya tidak sama. Bermula lawan tentu mengira bahwa serangannya itu adalah tipuan, tetapi dia nanti akan menjadi kaget setelah menangkis dan dapatkan bahwa serangan itu bukan seperti yang diduganya.
Untuk mejakinkan ilmu silat luar biasa ini, orang harus mahir dalam ilmu gwakang dan lwekang, kim-na-kang, tiamhiat dan ilmu mengentengi tubuh. Sejak Thian Ti koay-hiap Ciptakan ilmu tersebut, dia sendiri belum pernah meng gunakannya. Dan murid tunggal satu-nya, ialah Tan Ken Lok ini.
Begitu Tan Keh Lok keluarkan “peh-hoa-jo-kun”-nya, orang- sama menyaksikan perobahan pada jalannya per-tempuran itu. Dengan sepasang tangannya, Ciu Tiong Ing berusaha untuk menangkis dan melindungi mukanya. Dan sembari begitu, dia terus mundur-mundur saja. Dia bingung untuk menduga gerak serangan anak muda itu. Bukan saja gerakannya aneh, pun pukulannya, totokan jarinya, mengandung jurus'dua dari ilmu golok dan pedang. Betul-betul dia gelagapan.
Ketika melihat ayahnya terdesak kalah, Ciu Ki sibuk seka li, lalu berseru keras:
“Ilmu silat apa yang kau keluarkan itu? Sungguh gila! Katanya adu silat, mengapa kau gunakan pukulan yang tak keruan maCamnya itu?”
Baru saja dia berseru begitu, dari luar ruangan masuk lah dua orang sambil bertereak: “Tahan!”
Ternyata mereka, bukan lain adalah Liok Hwi Ching dan Tio Pan. San. Tapi justeru orange Hong Hwa Hwe akan membuka mulut kepada kedua orang ini, tiba-tiba terdengarlah dari arah luar seorang berseru dengan keras sekali:
„Api.. ada api! Lekas padamkan kebakaran!” Dan berbareng dengan tereakan itu, api sudah menyilat masuk ke ruangan itu.
Ketika itu Tiong Ing sedang dirangsek oleh Tan Keh Lok, begitu mendengar tereakan rumah dan seluruh isinya dima kan api, dia terkesiap juga dan untuk sesaat pikirannya bujar memikirkan hal itu. Cukup sesaat saja, sekonyong-konyong paha kirinya terasa kesemutan, dan dia merasa kakinya le mas. Ternyata “hu hi hiat” atau jalan darah dipahanya, telah kena tertotok orang. Ciu Tiong Ing, jago tua yang telah berpuluh tahun malang melintang dikalangan Sungai Telaga dengan belum pernah dijatuhkan orang itu, kini sempojongan akan roboh kebelakang.
“Ayah!” demikian dengan Cepat-cepat Ciu Ki memburu untuk memapahnya, sembari melintangkan goloknya untuk melin dungi sang ayah, bilamana musuh akan menyerangnya lagi.
Tapi sebaliknya Tan Keh Lok tak mau memburu, dia ha nya mundur selangkah, seraja berkata:
“Bagaimana kata Ciu loenghiong sekarang?”
„Baik, aku mengaku kalah. Anakku kuserahkan, mari ikut aku”, balas Tiong Ing dengan murkanya.
Dengan dipapah oleh puterinya, Tiong Ing menuju keluar ruangan.
Tan Keh Lok, Liok Hwi Ching dan sekalian orange HONG HWA HWE sama mengikuti Tiong Ing. Melintasi dua buah ruangan, tampaklah api makin besar. Dalam malam yang gelap gulita, api itu menyulang keydara, merah marong diantara kabut asap yang ber-gumpaldua memenuhi angkasa itu. Beng Kian Hiong, An Kian Kong dan Song San Beng siangdua sudah me ngepalai kawanan Congteng untuk memadamkan api.
„Saudara-saudara, kita bantu memadamkan api dulu!” kedengar an Ji Thian Hong mengajak Kawan-kawan nya.
“Hem, kau yang suruh orang melepas api, sekarang pura-pura mau menjadi orang baik-baik , ja?” Ciu Ki mendamprat.
Tadi iapun mendengar, Thian Honglah biangkeladi yang memerintahkan membakar, mengingat itu, dengan tanpa hiraukan musuh berjumlah besar ia angkat goloknya untuk monyerang orang itu. Thian Hong biirudua menyingkir. Ciu Ki makin kalap, dan terus akan mengubernya. Tapi telah diha dang Tio Pan San yang memberi nasehat untuk berlaku tenang dulu. Sekalipun Ciu Ki ber-jingkrakdua meronta-ronta, tapi dengan hanya menyempitkan tangan pada gigir golok, Pan San telah membuatnya tak berdaya.
Tiong Ing tak hiraukan hal itu dan terus melangkah ke belakang. Orang-orang HONG HWA HWE menjadi terkesiap, ketika menge tahui bahwa ruang itu adalah tempat lingtong (ruangan je nazah). Dua batang lilin putih, menyinarkan Cahajanya yang pudar, hingga keadaan ruangan itu sangat menyeramkan sekali. Begitu Tiong Ing menyingkap kain selubung putih, maka tampaklah sebuah peti mati yang hitam warnanya. Tutup peti itu ternyata masih belum dipaku. Kiranya sete lah puteranya meninggal, karena Ciu Ki masih belum pu lang, maka Tiong Ing belum mau menutup peti itu dulu, agar nanti. Ciu Ki dapat kesempatan untuk melihat adiknya untuk yang penghabisan kali.
“Bahwa anakku telah memboCorkan tempat persembunyian Bunya, itu meniang benar. Dan kini kau orang akan mem bawa anak itu, baiklah, mari ambillah dia!” demikian kata Tiong In°; dengan suara tak lancar.
Nyata jago tua Itu masih terkenang akan putera yang dikasihinya itu. Menampak seorang jenazah anak kecil ter hampar didalam peti mati, orang-orang HONG HWA HWE itu tak habis herannya. Maka berserulah Ciu Ki:
„Adikku adalah seorang anak yang baru berusia sepuluh tahun. Dia sebetulnya belum mengerti apas dan telah menunyuk kan tempat persembunyian orang she Bun itu. Ketika ayah pulang, dia begitu murka dan sampai tegah untuk membu nuh dengan tangannya sendiri. Karena inilah maka sampai ibuku marah dan meninggalkan rumah. Bukankah ini meng girangkan hati kalian? Kalau masih belum puas, Ayo orang HONG HWA HWE, bunuhlah kita, ayah dan anak berdua, Ayo!”
Seketika itu orange HONG HWA HWE sangat menyesal sekali, alas perbuatan mereka terhadap orang tua Ciu Tiong Ing yang ternyata seorang perwira yang menyunyung tinggi rasa ke adilan dan peri kebajikan itu. Rasa sesal, terharu dan menghormat itu, memenuhi dada setiap orang HONG HWA HWE, se hingga ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap.
Si Bongkok Ciang Ciu adalah orang pertama yang meng unyukkan ketulusan hatinya. Melangkah kemuka, dia segera menyura dihadapan Ciu Tiong Ing, seraja berkata:
„L.oya, tadi telah bersalah besar terhadapmu, aku Ciang”
Bongkok, dengan ini meminta maaf se-besarduanya.
Habis berbuat begitu, kembali dia menghadap kearah nona Ciu Ki untuk menyura dan berkata pula:
„Nona, maafkanlah aku. Seterusnya panggillah aku „bong-kok” sekehendak hatimu, tak sekali-kali aku berani marah.”
Mendengar itu, Ciu Kie tertawa urung.
Pada saat itu ber-turutdua Tan Keh Lok, orang yang pernah memaki orang tua itu jakni Lou Ping, Nyo Seng Hiap, Chi Thian Hong dan lain-lain orang HONG HWA HWE, sama datang menyura untuk menghaturkan maaf pada Tiong Ing. Jago tua yang keras hati ini tersipu-sipumembalasnya. Berkata pemimpin HONG HWA HWE:
„Kebajikkan yang Ciu loenghiong tumpahkan pada HONG HWA HWE, akan kita ukir sampai mati. Saudara-saudara sekalian, kita perlu lekas padamkan api, Ayo lekas bertindak!”
Mereka serentak menyingsingkan lengan baju. Tapi ternyata api berkobar dengan hebatnya, sehingga langit seperti dibakar warnanya. Gentengdua berguguran ketanah, belandar dan penglari roboh disana sini, gegap gempita dihimpit dengan tereakan kawanan Conteng yang riuh itu.
Propinsi Anse, terkenal daerah “sarang” angin. Setahun penuh, tak ada seharipun yang tak berangin. Angin bukan sembarang angin, tapi angin besar yang kiiat sekali. Diki pasi oleh sang angin, tambahan lagi air sangat sukarnya, maka api itu rasanya susah untuk dipadamkan. Thiat-tan-Chung yang megah luas itu, sebentar lagi akan menjadi tumpukan puing rata dengan tanah.
Adalah dalam keadaan begitu, Ciu Tiong Ing tetap meme gang peti mati puteranya, sikapnya seperti orang yang tak sadar. Api sudali menyilat masuk kedalam ruangan, sedang Wi Jun Hwa, Ciok Siang Ing, Cio Su Kin dan lain-lain.-nya sama berusaha untuk memadamkannya.
Nampak ayahnya seperti orang yang kehilangan semangat itu, berserulah Ciu Ki:
„Ayah, Ayo kita keluar dari sini!”
Ciu Tiong Ing tak mengacuhkan, dia hanya memandang dengan tak terkesiap pada peti mati puteranya. Tahulah kini orange itu, bahwa ayah yang sengsara itu tak tegah untuk lepaskan peti mati jenazah puteranya itu dimakan api. Tiba-tiba Ciang Bongkok membungkukkan badannya dan berseru pada Seng Hiap:
“Pat-ko, kau letakkan peti keatas punggungku sini!”
Seng Hiap menurut, begitu peti diang-kat terus ditumpang kan keatas punggung si Bongkok siapa terus mendukungnya keluar. Dengan dipapah puterinya, Tiong Ing berjalan keluar diikuti oleh rombongan HONG HWA HWE Mereka beristirahat disebuah lapangan diluar Chung. Tak berselang berapa lama, ter dengarlah suara gemuruh keras dari tiang penglari wuwung an rumah yang jatuh ketanah. Karena tak berdaya untuk memadamkan api, sekalian orang sama berkerumun disebelah Tiong Ing.
„Astaga! kuku garuda itu masih didalam sana!” tiba-tiba Sim Hi bertereak dengan kaget. Dan dia terus loncat akan menolongnya, tapi diCegah oleh orang banyak-banyak.
„Orang yang banyak-banyak dosanya itu, biarkan saja terbakar hangus disitu,” seru Ciok Siang Ing.
„Sayang , orang piauwkok itu diberi kemurahan,” tiba-tiba Lou Ping bertereak.
„Siapa. dianya?” tanya Tan Keh Lok.
Lou Ping Ceritakan halnya Tong Siu Ho, si Cumi-cumi itu. Juga Kian Hiong menuturkan tentang kedatangan orang itu untuk menyelidiki Thiat-tan-Chung.
“Benar, tentu dialah yang melepas api!” kata Thian Hong.
Semua orartg pun menduga, tentu perbuatan orang she Tong itu. Pada suatu kesempatan Thian Hong mengerlingkan matanya kearah Ciu Ki, siapa juga justeru melirik Thian Hong. Maka bertemulah sinar dari ke-empat mata! Buru-buru keduanya membuang muka karena jengah.
„Kita harus tangkap orang itu,” Tan Keh Lok nyatakan pikiran, lalu memerintah:
“Chi jit-ko, Nyo patko, Wi kiuko, Ciang sipko, kauorang berempat leicas peCahkan diri menuju keempat jurusan. Dapat menawan atau tidak, dalam satu jam harap sudah kembali lagi kemari!”
Keempat orang itu bergegas-gegas menyalankan perintah Sedang disebelah sini, tampak Liok Hwi Ching pasang omong dengan Ciu Tiong Ing. Mereka sama mengagumi satu sama lain. Pada saat itu kembali Tan Keh Lok meng haturkan maaf pada Ciu Tiong Ing seraja berkata:
„Karena HONG HWA HWE maka loenghiong sampai mengalami ke adaan begini. Budi loenghiong akan kami balas sekuat usaha kami. Tentu kita Cari Ciu lothaythay supaya dapat kembali pada loenghiong. Thiat-tan-Chung sudah menjadi abu, H.H H. yang akan membangunnya. Kerugian dari sekalian saudaraa Cengteng, HONG HWA HWE yang mengganti. Harap semuanya jangan kuatir.”
Nampak Thiat-tan-Chung menjadi abu, Tiong Ing meng elah napas. Berpuluhdua tahun membangun, habis dalam se malam. Tetapi mendengar ucapan pemimpin HONG HWA HWE itu, Buru-buru dia menyahut.
“Jangan Tan tangkeh mengucap begitu. Harta benda adalah barang titipan. Kalau kau tetap beranggapan begitu, sama saja artinya dengan menghina aku, tidak mau meng anggap aku sebagai sahabat,” demikian katanya.
Ciu Tiong Ing paling gemar bergaul. Dia saksikan bagai mana tadi orang-orang HONG HWA HWE matiduaan berusaha menolong api, dan bagaimana sikap mereka yang begitu mengindahkan padanya, diam-diam hatinya terhibur. Sekalipun Thiat-tan-Chung musna, tapi dia dapatkan pengganti yang berharga: tali per sahabatan dengan begitu banyak-banyak orang gagah.
Setelah diadakan pemeriksaan, selain hanya kira-kira sepululian prang yang luka terbakar, yang mati atau luka berat saja tidak ada. Ketika kemudian Song San Beng sampaikan kata-kata pemimpin HONG HWA HWE itu pada sekalian Cengteng, mereka menjadi terhibur juga.
Selagi orang masih sibuk, datanglah Wi Jun Hwa dan Ciang Bongkok melapor pada Tan Keh Lok bahwa Tong Siu Ho tak dapat diketemukan sekalipun sudah diCari sampai enam atau tujuh li jauhnya, Tidak berapa lama, Thian Hong dan Seng Hiap pun munCul, dengan tangan kosong juga.
“Tidak apa, dia. kan orangnya Tin Wan piauwkok, biarkan dulu besok kita urusi lagi,” habis berkata begitu Tan Keh Lok berpaling kearah Tiong Ing, katanya:
„Ciu locianpwe, untuk sementara ini sekalian Cengteng itu akan disuruh kemana?'''
„Soal ini, besok pagi sesudah keadaan tenang, kita pikir kan lagi,” kata siorang tua.
„Siaotit ada usul, harap ioCianpwe suka pertimbangkan,” tiba-tiba Thian Hong menyelak.
„Jit-ko kita ini terkenal sebagai Bu Cu Kat, dia banyak-banyak sekali akalnya,” kata” Tan Keh Lok setengah bersendagurau.
Melirik pada Thian Hong, nona Ciu Ki perdengarkan suara hidung, lalu berkata pada Kian Hiong:
“Beng toako dengarlah, ada orang yang melebihi hebatnya dari Cu Kat Liang, banyak-banyak akal, pun bisa buge!”
Kian Hiong hanya tersenyum, maka berkatalah Tiong Ing: “Ji-ya, Coba kau bilanglah.”
„Kukira setelah orang she Tong itu melarikan diri dan orang she Ban itu tak kelihatan kembali, kawanan kuku garuda itu pasti akan melapor pada pembesar negeri. Me nurut pendapatku, lebih baik orang-orang Thiat-tan-Chung ini menuju ke barat saja, untuk menantikan suasana kalau sudah agak reda. Kalau kita ketimur menuju kota Ti Kim Wi, rasanya kurang leluasa.”
Tiong Ing setuju, katanya: “Benar, lotit memang tak ke Cewa sebagai Bu Cu Kat. Besok kita berangkat ke Anse. Disana aku punya sahabat yang rasanya takkan keberatan menerima kita untuk beberapa hari saja.”
Mendengar ayahnya malah memuji Thian Hong, Ciu Ki mendelu hatinya. Walaupun sekarang sudah nyata bahwa Thian Hong bukan yang membakar Thiat-tan-Chung, tapi entah bagaimana, ia benCi pada orang itu. Makin melihat, makin muak rasanya.
Setelah mengumpulkan semua Cengteng dan keluarganya yang berjumlah enamdua orang itu, maka Tan Keh Lok menyerah kan sepuCuk surat pada Song San Beng seraja berkata:
„Kali ini saudara-saudara menderita kerugian besar, untuk itu aku merasa menyesal sekali. Untuk menetap di Anse, tentunya saudara-saudara semua memerlukan ongkos, maka dengan ini suka lah kiranya mcnerima sedikit pemberian yang tak bcrarti ini.”
Begitu melihat surat itu, terkejutlah Song San Beng, se hingga untuk sesaat dia tak dapat berkata apa-apa. Kian Hiong mendekatinya, dan tampak olehnya pada surat itu terdapat tulisan yang berbunyi. „Dengan surat ini harap diberikan sepuluh ribu tail perak”. Dibawah tulisan itu, terdapat tanda tangan yang bagus, entah apa bunyinya.
“Tan tangkeh, kebaikanmu itu kita terima dengan senang hati, tapi uang yang begini banyak-banyak, menyesal kami tak dapat menerimanya,” kata Kian Hiong.
„Setiba di Anse harap Song-ya pergi kekuil Giok Hi To Kwan untuk mengambil uang tersebut. Untuk keluarga Beng-ya dan An-ya masing- harap diserahkan seribu tail. Song-ya sendiri harap mengambil 500 tail. Sedang untuk enamdua saudara itu, masing-masing supaya diberi seratus tail. Selebihnya silahkan pakai untuk ongkos jalan,” menerangkan Tan Keh Lok.
Bermula Beng Kian Hiong mau menolak, tapi telah dide sak oleh anak muda pemimpin itu. Kian Hiong memandang kearah suhunya, akan minta pertimbangan. Sifat Ciu Tiong Ing adalah tangan terbuka. Dia paling benCi orang yang main sungkanduaan, maka katanya:
„Karena itu sudah menjadi kehendak Tan tangkeh, kau terima saja dan lekas haturkan terima kasih.”
Apa boleh buat mereka Cepat-cepat haturkan terima kasih. Adanya Tan Keh Lok tak menghaturkan apa-apa pada Ciu Tiong Ing dan puterinya, karena sangat menghargainya. Untuk Itu legahlah hati jago tua itu.
“Tan tangkeh, betul-betul kau mengliargai mukanya seorang tua ini,” kata Tiong Ing seraja menepuk bahu ketua HONG HWA HWE itu.
Tiong Ing titahkan San Beng segera ajak rombongannya berangkat ke Anse untuk meneduh ketempat kediaman Go tay koan-jin dulu. Kelak setelah urusannya selesai, mereka akan dipanggil lagi.
“Ayah, jadi kita tak ikut pergi ke Anse?” tanya sang puteri.
“Mana bisa, Bun suya tertangkap ditempat kita, bukankah kita ikut bertanggung jawab untuk monolongnya?” Mendengar maksud ayahnya akan ikut membebaskan Bun Thay Lay, giranglah hati Ciu Ki, Kian Hiong dan Kian Kong.
“Maksud mulia dari Ciu locianpwe, sangat kita jun jung dengan rasa terima kasih yang se-besarduanya,” demikian Tan Keh Lok Buru-buru menyang gapi. “Tapi menolong Bun suko itu adalah soal pembunuhan dan perlawanan pada kekuasa an pemerintahan. Liatwi sekalian adalah rakjat baik-baik yang hidup dengan tentram, jauh berbeda dengan orang-orang peran taUan kangouw seperti kita orang ini. Bukankah hal itu sangat tak leluasanya?” Kita hanya akan mohon petunyuk dan renCana dari Ciu lo Cianpwe saja. Tentang membasmi kawanan kuku garuda, menolong Bun suko, biarlah kita sendiri saja yang mengerjakannya.”
Thiat-tan Ciu Tiong Ing mengelus mengurut jenggotnya, lalu katanya.
“Tan tangkeh, kau tak perlu kuatir akan merembetdua kita orang. Kalau kau menolak kehendakku yang akan menolong
seorang sahabat itu, artinya kau menganggap sepi padaku!”
“Ciu loenghiong adalah seorang lelaki yang mulia ambe kannya. Semua orang kangouw sama mengetahui dan meng hormatinya,” Liok Hwi Ching ikut menimbrung.” Andai kata dia bukan seorang begitu, aku yang belum mengenalnya tentu tak berani gegabah menyuruh Bun su-ya meneduh ke tempat kediaman beiiau!”
Tan Keh Lok termenung sejenak, lalu katanya:
“Begitu tinggi keluhuran budi Ciu loenghiong, kita seluruh anggauta HONG HWA HWE takkan lupa sampai mati.”
Malah Lou Ping seketika itu maju menghampiri dan ber lutut dihadapan Ciu Tiong Ing, katanya dengan serta merta:
„Loya rela membantu, aku atas nama keluarga Bun dengan ini haturkan beribu terima kasih.”
“Bun naynay, kau legahkan hatimu. Kalau tak dapat me
nolong Bun suya aku bersumpah tak mau jadi orang lagi,” kata Tiong Ing seraja tersipu-sipumengangkat nyonya muda itu bangun. Habis itu dia minta pada Tan Keh Lok supaya lekas mengeiuarkan perintah untuk berangkat.
Dengan ucapan merendah, Tan Keh Lok minta lagi agar Tiong Ing dan Hwi Ching, dua jago tua itu, memberi petunyuk, Sudah barang tentu Hwi Ching menolak dan minta agar ketua itu sendiri yang mengeluarkan perintah sendiri dengan segera.
„ Kalau begitu baiklah”, demikian aehirSnya Tan-Keh Lok berkata.
„Saudara-saudara sekalian, lebih dulu kita bersembahyang pada Hong Hwa loCu kita!” seru Tan Keh Lok pada orang-orang nya.
Dia suruh ambilkan sebuah pakaian baru, untuk ganti pa kaiannya yang telah robek didada itu, setelah itu dia pimpin saudara-saudaranya untuk bersujud menghadap kearah selatan. Mereka memberi hormat (Paikui). sampai tiga kali. Selesai itu, baru pemimpin muda itu memberikan perintahnya. Apr yang membakar Thiat-tan-Chung sudah padam, hanya sana sini terdengar suara kretekan tangkaidua potongan kaju yang masih dimakan lelatu. Dengan chidmat, sekalian orang-orang HONG HWA HWE itu mendengari perintah ketuanya:
Pertama: Sebagai pelopor dimuka, ialah Kim-tiok siuCay, Ie Hi Tong dan SeChwan Siang hiap Siang He Ci dan Siang, Pek Ci sebagai penghubung untuk memberi warta tentang keadaan Bun Thay Lay.
Rombongan kedua terdiri dari: Cian-pek ''Ji-lay Tib Pan San sebagai pemimpin dengan anggautanya: Sipemberani Ciang Cin, Kui-kiam-Chiu Ciok Siang Ing.
Rombongan ketiga, pemimpinnya: Cui-hun-to-bing-kiam Bu Tim tojin dengan anggauta: Thiat-ta Nyo Seng Hiap, Thong thao-ngo-hie Ciang Su Kin.
Rombongan keempat dipimpin sendiri oleh Tan Keh Lok dengan anggauta: Kiu-beng kim-pao-Cu Wi Jun Hwa, clan sikaCung Sim Hi.
Rombongan kelima dipimpin: Bian-li-Ciam Liok Hwie Ching dengan anggauta: Sin-tan-Cu Beng Kian Hiong, Tok-ka-houw An Kian Kong.
Rombongan keenam dipimpin: Thiat-tan Ciu Tiong Ing, dengan anggauta: Kio Li-kui Ciu Ki, Bu-Cu-kat Chi Thian Hong dan Wan-yang-to Lou Ping.
“Ie su-sip-te, harap segera berangkat. Saudara lain-lainnya supaya mengasoh lebih dulu. Besok kita berangkat ke Thio-ke-poh, lalu berpenCaran kita memasuki Kao-ko-kwan untuk mengadakan rapat lagi,” demikian Keh Lok achirnya.
Dan setelah memberi hormat kepada sekalian; saudara, berangkatlah Ie Hi Tong dengan rombongannya. Baru saja kudanya berjalan beberapa langkah, dia berpaling kearah Lou Ping, siapa kelihatan menundukkan kepalanya. Rupanya nyonya muda itu sedang terbenam dalam renungan lain, sedikitpun tak mengacuhkan akan keberangkatan Hi Tong itu. Anak muda itu mengelah napas panyang , terus mengeprak kudanya berlari dengan kentyang .
Masing-masing orang lalu menCari tempat, untuk mengasoh.
„Chi jit-ko, kita telah membuat Ciu loenghiong menjadi berantakan rumah tangganya. Kepergian kita untuk menolong suko kali ini, harap kau taroh perhatian, agar supaya pembesardua negeri jangan sampai mengetahui tentang ikut nya loenghiong itu dalam rombong'an kita ini. Selain itu, suso telah terluka, untuk kepentingan suko, ia tentu akan ber tempur matiduaan nanti. Inipun harap kau berdaya untuk menCegahnya. Sebaiknya rombongan jit-ko ini jangan berjalan dengan Cepat-cepat, kalau bisa supaya jangan sampai ikut bertempur,” kata pula Keh Lok.
Chi Thian Hong menyatakan akan memperhatikart nasehat ketuanya itu.
Baru saja mereka tidur dua jam, hari sudah terang tanah. Cian-pik ji-lay Tio Pan San segera pimpin rombongannya berangkat.
„Sip-ko, jangan kau terbitkan onar dijalan, jangan banyak-banyak minum arak,” Lou Ping memesan Ciang Bongkok.
„Suso, harap jangan kuatir. Sebelum suko tertolong, aku tak mau menenggak setetes arakpun juga,” sahut si Bongkok.
Si Bongkok Ciang Cin itu kiranya seorang setan arak. Begitu masuk, dia sering gegeran dengan orang. Tetapi bila perlu, diapun dapat menCegah minum. Inilah kelebihan dia.
Beberapa waktu kemudian, rombongandua dari Bu Tim tojin, Tan Keh Lok dan Liok Hwi Ching ber-turutdua berangkat. Yang terachir, barulah rombongan Ciu Tiong Ing. Setiba di Thio-ke-po, penduduk disitu sudah mendengar berita kebaka ran di Thiat-tan-Chung, dan ber-dujundualah mereka datang menghibur Ciu Tiong Ing, Sampai ditempat ini Ciu Tiong Jng berpisahan dengan Song San Beng yang disuruhnya me mimpin rombongan Cengteng pergi ke Anse. Sedang jago tua itu terus melanyutkan perjalanannya ke timur.
Disepanyang jalan, Ciu Ki tetap ributs bertentangan dengan Thian Hong saja. Dimata gadis berangasan itu, segala gerak-gerik Thian Hong itu serba salah. Sekalipun ayahnya ber-ulangdua mendampratnya, Lou Ping juga ber-kalidua menasehatnya, malah Thian Hong sendiripun suka mengalah, namun anak itu tetap memusuhinya saja. Lama-lama Thian Hong jengkel juga, pikirnya:
„Hanya karena memandang muka ayahmu, maka aku mau mengalah, masa aku sungguh-sungguh jerih padamu? Di kalangan kangouw,- enghiong mana yang tak mengindahkan aku, Bu Cu Kat ini? Dasar sial, kini aku mesti menelan rongrongan seorang budak semaCam dia!”
Sengaja dia memperlambat kudanya, hingga berada di belakang mereka. Rupanya dia mendongkol, dan tak mau bicara. Kalau menginap dirumah penginapan, sehabis makan dia terus masuk tidur. Tak mau dia pasang omong dengan mereka. Begitulah pada hari yang ketiga, rombongan Ciu Tiong Ing ini sudah melalui kota Ka-ko-kwan.
Nampak puterinya tak mau mendengar kata itu, beberapa kali Tiong Ing telah memberi dampratan. Betul saat itu dihadapan sang ayah, Ciu Ki berjanyi menurut, tapi begitu kelihatan Thian Hong, kumatlah penyakitnya untuk meng ajaknya bersetori pula. Diam-diam Tiong Ing terkenang akan isterinya. Apabila ia itu disini, pasti akan dapat mengajar adat pada puterinya yang bengal itu. Tetapi kini dimanakah sang isteri itu, diapun tak mengetahuinya.
Memikir sampai disini, jago tua itu berduka hatinya. Tambahan pula tampak bagaimana Thian Hong berada di sebelah belakang dengan sikap yang mengunyuk kejeng kelan itu, dia makin tak enak hatinya.
Malam itu sampailah mereka di SouwCiu, lalu menCari rumah penginapan yang terletak didekat pintu kota sebelah timur. Thian Hong kelihatan pergi dan tak lama lagi dia kembali, lalu berkata kepada Ciu Tiong Ing dan Lou Ping:
„Ie sipsu-ko belum dapat menCium jejak Bun suko, juga belum bercljumpa dengan Sejwan Sianghiap.”
„Bagaimana kau bisa tahu? Jangan ngelantur, ja!” Ciu Ki tahu-tahu sudah memutus keterangan orang.
Thian Hong tak mau menyawab, hanya melirik dengan ekor matanya kearah gadis yang dibenCinya.
„Daerah sini terkenal dengan araknya yang kesohor. Ayo, jit-ya pergi dengan aku ke warung arak Heng Hwa Lauw diseberang jalan sana untuk minum,” kata Tiong Ing.
“Baiklah, locianpwe,” sahut Thian Hong.
“Ayah, aku ikut!” seru Ciu Ki tak mau ketinggalan.
Thian Hong ketawa.
“Apa maCam, ketawa! Masa aku tak boleh ikut?” Ciu Ki iototkan matanya.
Thian Hong melengoskan kepalanya, seperti tak dengar apa-apa:
“Ki moaymoy, kita sama- pergi dah! Siapa yang tak mem bolehkan orang perempuan minum ar.ak di Ciulauw?” kata Lou Ping dengan tertawa.
Ciu Tiong Ing ternyata seorang ayah yang berpandangan bebas, dia tak melarang puterinya. Begitulah keempat orang itu terus menuju ke Heng Hwa Lauw dan memesan bebe beberapa hidangan dan arak. Air sumber di Souw-Ciu dengan apa arakdua itu dimasaknya, ternyata sangat jernih sekali. Karena itu, untuk daerah barat utara, arak SouwCiu kesohor lezatnya. Begitu menCiCipi, mereka segera menga kui akan kehebatanya arak disitu. Pelajan kembali menghi dangkan nampan bakpja keluaran SouwCiu yang kenamaan itu. Pia itu empuknya seperti kapas, putih meletak meng giurkan selera. Selama makan pia itu, tak putus-putusnya mulut Ciu Ki me-mujidua kelezatannya. Karena diwarung situ banyak-banyak orang, mereka tak mau menyinggung urusari Bun Thay Lay. Hanya pemandangan alam “sepanyang tempat yang telah dlaluinya itulah yang dijadikan bahan omong-omong mereka. Tiba-tiba Ciu Tiong Ing berkata pada Thian Hong:
“Pemimpin HONG HWA HWE Tan tangkeh itu masih begitu muda usianya, mirip dengan seorang kongcu, tetapi dia paham dengan “ilmu silat berbagai Cabang, sungguh jarang terdapat. Ketika bertanding . dengan aku tempo hari itu, pada saatdua terachir dia gunakan ilmu silat yang luar biasa aneh nya, entah apa itu namanya. Adalah Chi-ya mengetahuinya?”
Sebenarnya Ciu Ki pun sudah lama menyimpan pertanyaan itu, maka dia menaroh perhatian besar untuk jawabannya.
„Sebenarnya akupun baru pertama kali itu berjumpa dengan Tan tangkeh Kecil, mendiang le lotangkeh telah meng antarkannya ke gunung Thian San untuk belajar silat pada Thian Ti koayhiap disana. Ilmu silat itu, kurasa adalah Cip taan dari koayhiap sendiri,” menerangkan Thian Hong.
„Hong Hwa Hwe yang pamornya begitu kesohor didaerah Kang-lam, pemimpinnya seorang kongcu, bermula aku tak percaya. Tapi belakangan setelah mengenalnya baik dalam perCakapan maupun pertempuran, barulah kuketahui bahwa selain bugenya tinggi, juga pengetahuannya luas sekali. Seorang pemimpin yang tepat dan Cakap. Memang orang tak boleh diukur dari usianya.”
Mendengar jago tua itu tak habis-habisnya memuji ketuanya, Thian Hong dan Lou Ping merasa girang. Begitulah mereka #a|fang omong dan minum arak dengan gembira sekali. Hanya Lou Ping begitu terkenang akan nasib suaminya yang belum ada ketentuannya itu, nampaknya selalu berduka saja.
“Dalam beberapa tahun ini, banyak-banyak sekali jago-jago baru yang munCul dikalangan persilatan. Dengan begitu akan tetaplah bersemarak keharuman Sungai Telaga, patah tumbuh hilang berganti. Hilang yang tuadua, yang mudadua tetap tampil meng g'anti. Misalnya seperti kau sendiri, laote, yang paham bun dan bu itu, memang jarang terdapat di kangouw. Maka harap kau jangan sia-siakan bakatmu itu, untuk melakukan suatu pekerjaan besar”, kata Tiong Ing lebih jauh.
Thian Hong tersipu-sipumeng-iakan dan haturkan terima kasih. Sebenarnya jawaban “ja” dari Thian Hong diperun tukkan anyuran Tiong Ing supaya „melakukan pekerjaan besar” itu. Tak tahunya, Ciu Ki telah menduga salah. Dengan perdengarkan suara ejekan dari hidung menggerutu lah si-Centil itu:
„Huh, dipuji orang, masa ja, ja” saja!”
Setelah meminum seCawan lagi, kembali Tiong Ing berkata:
„Konon kudengar mendiang Ie lotangkeh itu adalah seorang achli Siao Lim Pai yang jempolan, dengan begitu sama de ngan kaumku. Scbenarnya telah lama aku berhasrat mengun jungi untuk berkenalan. Namirn karena dia tinggal di Kanglam dan aku berada didaerah barat utara, maka be lumlah dapat kulaksanakan. Dan harapanku itu kini tak mungkin terpenuhkan lagi, setelah beliau meninggal itu. Be berapa kali kuberusaha untuk menyelidiki sumber kaum lotangkeh itu, tapi selalu gagal saja.”
“Semasa hidupnya marhum Ie lotangkeh tak pernah me nyebut asal kaumnya, baru setelah beliau akan menutup mata, menerangkan bahwa dulu dia belajar buge digereja Siao Lim Si di Hokkian,” jawab Thian Hong.
“Akupun seorang murid Siao Lim Si juga,” kata Tiong Ing seraja mengangkat Cawannya. Dia kerutkan jidatnya sejcnak, lalu bertanya lagi:
“Almarhum itu punya Ciridua apa pada mukanya?”
“Sampai pada usia enam0 tahun, marhum masih kelihatan ga gah. Hanya pada ujung keningnya sebelah kanan terdapat sebuah bekas luka besar, hingga alisnya sebelah kanan tidak ada lagi.”
Mendengar penuturan Thian Hong itu, sekonyong-konyong Cawan arak Ciu Tiong Ing terlepas jatuh kelantai, dan jago tua itu kelihatan menguCurkan air mata. Katanya dengan suara sember:
“Oh, suheng, suheng. Memang sudah kuduga tentu kau, tetapi rupanya kau me-nyiaduakan jerih payahku.”
Melihat perobahan dan sikap Tiong Ing yang luar biasa itu, Thian Hong sangat terkejut.
“Laote, Bun naynay, apakah kau orang tahu bahwa Ie lotangkeh-mu itu bukan orang she Ie?” tanya Tiong Ing ke mudian.
“Ja, dia orang she Sim,” sahut Thian Hong. Kembali Tiong Ing keluarkan seruan tertahan, katanya: „Benar, dia memang she Sim. Namanya sebenarnya jalah Sim Ju Ko, dia adalah suhengku. Hubungan kita, suheng dan sute berdua, sangat mesra sekali. Apalagi dikemudian hari karena melanggar peraturan, dia telah diusir oleh suhu. Sejak itu aku tak mendengar lagi tentan'g beritanya. Kese luruh polosok Sungai Telaga kumenCarinya, tapi tetap tak ada orang yang mengetahulnya. Kukira karena putus asa, dia tentu menyembunyikan diri. Tak tahunya kalau dia sudah merobah she dan namanya dan telah mendirikan suatu ge rakan yang begitu mulia tujuannya itu. Dulu pernah kude ngar bahwa ketua dari HONG HWA HWE itu orang dari golongan Siao Lim Pai, untuk membuktikan prasangkaku, maka kutulis sepuCuk surat. padanya. Tapi dengan katas yang sungkan, dia telah membalas suratku itu dengan sikap seperti mem perlakukan seorang yang baru dikenalnya. Karena kukenal sifat suhengku yang jujur dan sayang padaku itu, aegera kupercaya bahwa dengan jawaban itu, teranglah bahwa ketua HONG HWA HWE itu bukan suheng. Dan karenanya, tak kuse lidiki lebih jauh. Oh, suheng, mengapa kau perlakukan sutemu ini begitu dingin?”
Sampai disitu kembali nampak Tiong Iftg berduka, lalu katanya pula:
“Kalau siangdua kuketahui dia, tentu biar bagaimana ku periukan berkunyung ke Kanglam. Kini orangnya sudah me ngasoh kealam baka, dan harapanku untuk menyumpainya takkan terlaksana se-lama-lamanya.”
„Ie lotangkeh berbuat begitu, tentu ada sebabhja. Dia paling gemar bergaul, kalau sampai dia tak mau kenal lo Cianpwe, tentulah bukan sewajarnya,” kata Thian Hong.
“Huh, orange HONG HWA HWE itu, paling suka memandang sebelah mata pada orang, jangan kata dalam hatinya. CiCi Ping, aku tak mengatakan kau lho,” tiba-tiba Ciu Ki menyelak.
Thian Hong tak menghiraukannya.
“Sewaktu meninggal, dia herpesan apa?” tanya Tiong Ing.
„Disini banyak-banyak orang, dan penurunan itu panyang sekali. Baik malam nanti kita lanyutkan perjalanan, dan memilih suatu tempat sepi yang CoCok untuk kita pasang omong lagi. Aku sendiripun mempunyai beberapa soal, karena Ciu locianpwe adalah sute dari Ie lotangkeh tentunya mengeta hui juga riwajat semasa mudanya. Aku akan mohon beberapa pengunyukan dari locianpwe,” kata Thian Hong.
Ciu Tiong Ing setuju, lalu menyuruh pelajan membikin perhitungan.
“Harap tunggu sebentar, aku akan turun kebawah dulu,” kata Thian Hong.
“Laote, akulah yang menjadi tuan rumah, tak usah kau yang bajar,” sera Tiong Ing.
“Baik,” jawab Thian Hong terus turun kebawah loteng.
“Hem, sikunyuk jual lagak!” Ciu Ki tak kuat untuk tak memberi komentar.
“Anak perempuan tak boleh sembarangan bicara!” damprat ayahnya.
“Ki moaymoay,” kata Lou Ping. „Jit-ko kita itu orang yang paling banyak-banyak akal, kau Cari urusan dengan dia, hati-hati lah tentu dia akan membalas kau.”
“Seorang lakidua yang lebih kate dari aku, masa mesti dibuat jerih!” sahut sigadis.
Ciu Tiong Ing akan mendampratnya lagi, tapi segera tak jadi sebab dengan suara tindakan kaki. Itulah Thian Hong yang segera mengajak mereka berangkat lagi. Begitu sete lah mengambil baranga bekalannya, ke-empat orang itu me neruskan perjalanannya lagi. Untung pintu kota masih belum keburu ditutup.
Sekejap saja mereka berempat telah melalui tiga 0 lie, dan Ciu Tiong Ing lalu ajak rombongannya untuk mengasoh dibawah gerombolan puhun yang tumbuh ditepi jalan. Kala itu, keadaan disitu sunyi senyap. Tapi ketika Thian Hong akan membuka mulut, tiba-tiba jauh dari arah sebelah sana, terdengar suara seperti bunyi telapak kuda. Cepat-cepat a dia tem pelkan kupingnya ketanah, lalu katanya:
“Ada tiga ekor kuda, lari menghampiri kemari.”
Atas isjarat Tiong Ing, mereka segera membawa kudanya bersembunyi dibalik batu besar. Tidak berselang berapa lama, betul juga ada tiga ekor penunggang kuda lalu disitu untuk menuju kearah timur. Diantara sinar rembulan, tampak ke tiga penunggang kuda itu memakai ikat kepala putih dan jubah berkembang, dan danannya menyerupai orang Wi. Pada kuda masing-masing terselip golok.
Setelah mereka lenyap dari pemandangan, barulah Tiong Ing mengajak duduk ditempatnya tadi. Bahwa selama mereka meninggalkan Thiat-tan-Chung boleh dikata siang ma lam terus berjalan, hingga tak ada waktu untuk ber-Cakapdua. Maka kesempatan ini digunakan oleh Tiong Ing untuk me nanyakan pada Lou Ping mengapa Bun Thay Lay sampai bisa ditangkap oleh pemerintah Ceng Tiauw. Segera Lou
Ping memberi keterangan sbb.:
“Perkumpulan kita HONG HWA HWE merupakan duri dimata peme rintah Ceng, itulah sudah terang. Tetapi anehnya, kali ini mereka telah mengirimkan banyak-banyak sekali jagoanya yang ber kepandaian tinggi untuk menangkap sampai dapat pada Bun suko. Dan hal itu merupakan lain perkara lagi. Kira-kira pada pertengahan bulan jl., Ie lotangkeh buru~> datang ke Pak khia dengan mengajak kita berdua suami isteri. Sampai di kota raja tersebut., diam-diam lotangkeh suruh kita untuk menyelun dup keistana untuk menemui kaisar Kian Liong. Sudah barang tentu kita terkejut dan menanyakan keperluannya. Namun lotangkeh tak mau menerangkannya. Lalu suko men jelaskan, bahwa hongte itu sangat galak sekali, sebaiknya undang juga Bu Tim totiang, Tio samko, SeChwan Siang-hiap dan lain-lain datang ke Pakkhia untuk ber-sama-sama memasuki ista na. Pula mengundang Chit-ko (Thian Hong) supaya merenCanakan penyerbuan itu.”
Mendengar itu, Ciu Ki melirik pada Thian Hong dan berkata dalam hati:
„Huh, masa orange begitu banyak-banyaknya, sama membutuhkan kepandaian sikate ini?”
“Pendapat suya itu memang tak salah,” demikian Tiong Ing berkata.
“Ja, tapi Ie lotangkeh menerangkan bahwa urusan menemui Kian Liong kali ini sangat penting sekali artinya. Kalau terlalu banyak-banyak yang masuk istana, salaha menerbitkan salah faham hebat. Suko tak berani membantahnya lagi. Begitulah malam itu kita berdua memasuki istana. Suko yang terus menyelinap kedalam dan aku yang menyaga diluar. Saat itu kita sangat gelisah sekali. Kira-kira dua jam kemudian suko munCul kembali, dan kami terus pulang dengan selamat. Ke esokan harinya kami tinggalkan Pakkhia menuju ke Kang lam. Ditengah jalan, diams kutanyakan suko tentang perter muannya dengan baginda Kian Liong. Menurut suko, dia telah berhasil menghadap baginda, tetapi karena soal itu adalah soal yang maha penting yaitu gerakan untuk mero bohkan pe merintah Boan Ceng, maka dia tak mau menerangkan lebih jauh padaku. Hal itu bukan karena ia tak mempercayai diriku, tapi ia kuatir nanti malah membahajakan diriku saja, maka akupun tak mau mendesaknya.”
“Tanggung jawab suheng memang besar sekali,” seru Tiong Ing.
“Setiba di Kanglam, kita lalu berpisahan. Kami kembali ke Thayouw, dan lotangkeh pergi ke HangCiu,” kembali Lou Ping melanyutkan keterangannya.
“Sampai berpuluh tahun, dia tak dapat melupakan ke nangannya,” seru Tiong Ing mengelah napas.
“Kenangan apa sih?” timbrung Ciu Ki.
“Mana kau tahu?” sahut sang ayah.
“Justeru karena itulah aku bertanya,” si Centil menyang gapi.
Tiong Ing tak hiraukan. Melihat itu Thian Hong meri ngis ewah, keruan saja Ciu Ki mendongkol ke-maluduaan.
Sejak dia kembali dari HangCiu, sikapnya berobah sekali. Kelihatannya dia berobah lebih tua sepuluh tahun. Sepanyang hari dia tak mau bicara. Dan lewat beberapa hari kemudian lalu jatuh sakit. Kata suko. karena orang yang diCintai lotangkeh meninggal dunia, maka dia sangat berduka sekali ..............”
Mengucap sampai disini, Lou Ping dan Thian Hong sama menguCurkan air mata, juga Ciu Tiong Ing tampak ber linangdua. Mengulap air matanya, Lou Ping berkata:
“Sebelum menutup mata, lotangkeh telah panggil hiangCu dari Iwe-sam-tong dan gway-sam-tong, dan meninggalkan pesanan supaya Siaothocu (Tan Keh Lok) yang harus menggantikan kedudukannya. Ditandaskannya, bahwa disitu lah letak bangunnya kembali kerajaan Han.”
“Saothocu membahasakan apa dengan kau orang punya lotangkeh itu?” tanya Ciu Tiong Ing.
“Dia adalah anak angkat lotangkeh. Siaothocu adalah pute ra dari Tan Siang Kok di Hayling. Dalam usia 15 tahun, saothocu telah lulus dalam ujian kiatgoan. Tak lama ke mudian, lotiangke membawanya keluar dan mengirimkannya ke Hwe Poh untuk belajar buge pada Thian Ti koayhiap. Urusan ini, boleh dikata semua orang kangouw sama me ngetahuinya. Tentang bagaimana seorang kongcu dari ge dung Caysiang bisa mempunyai ayah angkat seorang bulim, kita sendiri tak mengetahuinya.”
„Mungkin Bun suya mengetahuinya,” kata Tiong Ing. “Rupanya diapun tak tahu,” sahut Lou Ping. „Ketika akan menut.up mata nampak lotangkeh mempunyai suatu rahasia besar dan minta bertemu dengan siaothocu. Tapi karena perjalanan begitu jauh, maka telah tak keburu lagi. Da-lam pesanannya lotangkeh minta supaya ketua dan waktu ketua dari keenam tong (daerah) supaya menyemput saothocu untuk merundingkan gerakan besar. Disamping itu, lotang-keh diam-diam bisiki suko supaya lekas-lekas menemui saothocu sen diri untuk menyampaikan pesan rahasianya. Tapi apa laCur, ditengah perjalanan suko mesti menghadapi benCana begini ” Sampai disini, suara Lou Ping menjadi sember, tapi ia paksakan berkata lagi:
“Kalau sampai suko kena apa-apa pesan lotangkeh tentu takkan ada lain orang yang meneruskannya.”
“CiCi Ping, kau jangan bersedih. Kita tentu dapat me nyelamatkan suya,” seru Ciu Ki menghiburnya.
Lou Ping Buru-buru tarik tangan Ciu Ki, dan paksakan bersenyum dengan saju.
„Bagaimana Bun suya bisa terluka?” tanya Tiong Ing pula „Kita orang ber-gantidua secara bergelombang menuju ke perbatasan sebelah barat utara untuk menyambut saothocu. Kita berdua suami isteri, jatuh pada gelombang yang paling achir. Setiba di SouwCiu, sekonyong-konyong ada delapan orang pahlawan kelas satu (si wi) yang menCari kita dirumah penginapan. Mereka mengatakan membawa titah dari baginda agar kita lekas menghadap ke Pakkhia. Suko menyawab, bahwa nanti setelah menyambut saothocu, barn nanti akan pergi kekota raja. Dengan kata-kata halus, kedelapan siwi itu menasehati agar suko lebih meng'utamakan firman keizer daripada uru san partai. Namun suko tetap membantahnya. Demikianlah karena sama-sama kerasnya, pertempuran tak dapat dihindari lagi.
Kedelapan siwi itu adalah pahlawandua pilihan dari istana. Dengan tertentu, kita makin terdesak. Suko umbar kema rahannya. Dengan bernapsu dia telah dapat merobohkan dua orang siwi. Malah saking gemasnya dia pukul binasa yang tiga orang. Sedang yang dua lainnya telah kena hui to-ku. Karena melihat gelagat tak baik, salah seorang dari mereka segera kaburkan diri. Sekalipun kita berhasil dapat menghalau mereka, tapi suko juga mendapat beberapa luka yang ber bahaja. Karena selama pertempuran itu, dia selalu berada dimukaku, sehingga dengan begitu, sedikitpun aku tak sampai terluka.”
Ciu Ki terlongong-longong mendengari bagaimana Lou Ping menuturkan dengan gaja periuh bersemangat tentang kega gahan suaminya melawan kedelapan siwi itu. Setelah berhenti sejenak, Lou Ping meneruskan penuturannya lagi:
“Karena tak dapat tinggal lama- di SouwCiu, kita terus menuju ke Ka Ko Kwan. Sebenarnya sampai di Thio-ke-po saja suko sudah tak kuat meneruskan perjalanan lagi, dan terpaksa menginap dihotel untuk merawat luka-nya. Apa yang kita harapkan jalah solekasnya saothocu dan rom bongan saudara- kita sudah dapat kembali dan melalui tempat situ. Tapi diluar dugaan, kawanan kuku garuda dari Pakkhia dan LanCiu terus mengejar kami. Dan bagaimana kelanyutannya, kukira kauorang sudah dapat mengetahui sendiri.”
“Kian Liong loji mengapa begitu takut dan benCi suko. Kalau begitu keselamatan suko untuk sementara tentu ter jamin, kuku garuda itu takkan berani mengganggu seorang tawanan yang ' begitu penting sebagai dia,” kata Thian Hong.
“Pikiranmu itu benar, laote,” sahut Tiong Ing.
“Mengapa daripada lekas- pergi ke Thio-ke-po untuk me numpas kawanan kuku garuda dan menolong Bun-ya kauorang malah menuju ke Thiat-tan-Chung untuk mengumbar tangan jahatt” tiba- Ciu Ki menyelak.
Ciu Ki masih ingat peristiwa pambakaran rumahnya, karena garadua HONG HWA HWE itu. Dalam kesempatan itu, dia sem prot Thian Hong, orang yang dulu menyuruh lepaskan api itu.
“Budak perempuan, jangan omong sembarangan!” bentak ayahnya.
Thian Hong tetap tulikan telinga dan lanyutkan penuturannya:
„Karena saothocu main sungkan tak mau terima keang katannya sebagai Congthocu, maka mereka sampai terlam bat beberapa hari belum ada keputusannya. Dan lagi kita tak menyang ka kalau orang berani menepuk lalat dimulut sepasang suami isteri harimau seperti suko dan suso yang lihai bugenya itu.”
„Kau digelari orang sebagai Bu Cu-kat, mengapa tak beCus menduganya?” kembali Ciu Ki menyentil.
Karena sungkan dengan sang ayah, Thian Hong tak dapat melampiaskan kemendongkolannya kepada gadis yang genit itu. Palingdua dia bungkem dengan unyuk muka keCut.
“Kalau jit-ya ini sudah bisa menduganya, kita kan tak bisa berkenalan dengan saudara-saudara dari HONG HWA HWE Terutama dengan seorang bun-bu-Coan-Cay (pandai ilmu surat dan buge) sebagai Tan tangkeh itu,” Buru-buru Tiong Ing menutupi kesungkanan Thian Hong. Berpaling kearah Lou Ping dia bertanya pula:
„Siapakah pasangan Tan tangkeh itu? Puteri atau sioCia keluarga bangsawan atau lihiap dari kalangan persilatan?” “Tan tangkeh belum punya pilihan!” sahut Lou Ping. Ciu Tiong Ing termenung sesaat.
“Ciu locianpwe, kapankah kita minum arak-kebahagiaan dari adik Ki?” tanya Lou Ping dengan tertawa.
Tertawalah Tiong Ing mendengar itu, katanya:
„Budak itu tolol dan lantyang , siapa yang sudi? Kalau dia mendapat pasangan orang tua saja sudah untunglah!”
Maka tertawalah Lou Ping.
“Tunggu saja setelah nanti urusan menolong suko selesai, tentu akan kuajak suko untuk menCarikan pasangan buat adik Ki. Tanggung kauorang tua tentu puas.”
“Kalau kauorang terus omongi diriku, aku akan berjalan dulu sendiri,” anCam Ciu Ki.
Semua yang mendengarnya sama tersenyum. Malah karena tak tertahan, Thian Hong tertawa gelakdua. Sudah barang tentu Ciu Ki menjadi marah.
„Kau tertawai siapa?” bentaknya.
„Aku tertawa pakai mulutku sendiri, ada sangkutan apa denganmu?” balas Thian Hong.
Ciu Ki orangnya paling suka berterus terang, dia tak bisa simpan ganyelan dalam hatinya, lalu sahutnya pula:
„Hm, apa aku tak mengerti ketawamu itu? Kau orang bermaksud jodohkan aku pada Tan Ken Lok. Dia kan kongcu seorang sinsiang, tidak setimpal dapat aku? Kou orang-orang HONG HWA HWE begitu me-nyanyungdua dia seperti anak mas, aku tak ambil pusing. Ketika bertempur dengan ayah, dia pura-pura sungkan, tapi sebenarnya dia jahat sekali. Biar aku tak kawin seumur hidup, daripada dapat suami orang yang banyak-banyak tipu muslihatnya itu!”
Tiong Ing marah disamping merasa geli juga. Dia Coba menCegah, tapi puterinya tak mau hiraukan, dan berham buranlah kata-kata itu dari mulutnya.
“Sudahlah, sudah. Kelak suami adik Ki tentu seorang ho han yang jujur dan pandai bicara, bagaimana, puaskah kau locianpwe,” tanya Lou Ping menggoda Tiong Ing.
“Budak tolol, apa tak malu diketawai Chit-ya? Ha, sudahlah mari kita tidur, besok kita berangkat pagidua,” kata Tiong Ing.
Demikianlah mereka berempat segera mengambil selimut dan tidur dibawah puhun besar situ.
“Ayah, apa kau membekal makanan? Aku lapar sekali,” i.ibadua Ciu Ki berbisik.
“Tidak bawa. Kau lekas tidurlah, besok kita berangkat pagian dan singgah di Song-king,” jawab Tiong Ing.
Tak berapa lama, menggeroslah sudah orang tua itu dengan nyenyaknya. Sebaliknya, karena lapar Ciu Ki masih bergulak-gulik tak dapat tidur. Menoleh pada Lou Ping, pun orang itu sudah pulas. Tiba-tiba dilihatnya Thian Hong bangun, dan diam-diam kelihatan menghampiri ketempat kudanya. Heran Ciu Ki dibuatnya, dan diam-diam dia mengawasi perbuatan si kate;tu.
Karena gelap, tak dapat dilihatnya dengan jelas apa yang dikerjakan Bu Cu-kat, hanya samara seperti dia itu mengambil pauwhok dari atas kudanya. Dan ketika duduk kembali, dia pakai selimut untuk menutupi badan, dengan sedapnya dia berkemak-kemik mengunyah sesuatu.
Meiihat Itu, dengan gemas Ciu Ki balikkan tubuh meng hadap kearah lain. Tak sudi ia melihatnya. Tapi Thian Hong betul-betul menyengkelkan. Tidak saja dia sengaja mengunyah dengan makin kerasnya, tapi juga tak putus-putusnya sang mulut ber-keCapdua memuji kelezatan makanannya itu.
Karena tak tertahan lagi, Ciu Ki Cobadua menCuri lihat makanan apa yang dikunyah sikate itu. Kalau ia tidak ber buat begitu itu sih malah baik. Tapi begitu dia Cobadua meng intainya, maka tak tertahan lagilah air liurnya mengalir. Rasa laparnya makin menagih dengan hebatnya.
Kiranya tangan sikate itu tengah memegang sebuah ben da putihdua dan disampingnya masih ada setumpuk lagi. Tak salah lagi, itulah bakpia dari SouwCiu yang luar biasa lezatnya. Kiranya sewaktu Thian Hong pamitan turun dari loteng Heng Hoa Lauw kemaren itu perlunya akan beli pia itu.
Karena. biasanya selalu mengajak setori saja, maka se kalipun sangat kepingin, tapi Ciu Ki tak berani meminta nya. Paling banyak-banyak ia hanya meng-harapdua supaya Thian Hong itu lekas tidur, baru nanti pianya dapat digasak. Syukur kalau ia sendiri bisa iekasdua tidur. Tapi kejadiannya malah sebaliknya. Tiba-tiba hidungnya tersampok dengan bau arak yang mar biasa harumnya, dan menyusul terdengar berkeru Cukan arak turun ditenggorokan Thian Hong, disela dengan elahan napas kepuasan.
Serasa tak tertahan lagi, maka berserulah Ciu Ki dengan uringduaan: “Setan apa malamdua buta menenggak arak itu? Ayo jangan mabukduaan disini!”
“Boleh, boleh “ sahut Thian Hong sambil meletakkan guCi araknya, terus menggelundung tidur.
Tapi Bu Cu-kiat itu memang tukang mengili hati orang. Sengaja guCi itu tak disumpalnya dan ditarohkan disisih kepalanya. Sudah tentu baunya terbawa angin ke-manadua. Sewaktu diwarung arak Hong Hoa Lauw kemaren, tahulah dia bahwa Ciu Ki seorang nona yang dojan minum, maka sengaja dia mempermainkannya begitu.
Ciu Ki ketika itu betul-betul mati kutunya, matanya merem melek tak bisa tidur. Untuk mendamprat, tak ada alasan nya. Tapi kalau disuruh diam saja, betul-betul tak kuat hatinya. Kembali ia balikkan muka kesebelah sana, mata dan hidungnya ditekap dengan selimut. Tapi dia tak dapat lama-lama berbuat begitu, karena lekas juga ia merasa engap. Maka kembali ia berbalik lagi. Tiba-tiba diantara sinar rembulan dilihatnya sepasang gembolan yang terletak disebelah ayahnya, berkeredepan mengeluarkan Cahaja.
SeCepat-cepat kilat timbullah suatu pikiran dalam hati sinona. Cepat-cepat ia ulurkan tangan menyemput sebuah gembolan, terus ditimpukkan kearah guCi arak Thian Hong. „Prukk... guCi peCah berantakan dan arak menyiram basah selimut Thian Hong.
Namun Thian Hong rupanya sudah tidur pulas, dan tak menghiraukannya. Karena melihat ayahnya masih menggeros dan Lou Ping pun tak ada suaranya, maka Ciu Ki lalu me rangkak untuk mengambil kembali gembolan tadi. Tapi begitu tangannya diulur, tiba-tiba Thian Hong membalikkan badannya, sehingga gembolan itu tertindih dibawahnya, dan berbareng itu dia menggeros keras-keras.
Bukan main terkejutnya Ciu Ki. Cepat-cepat ia tarik tangannya. Bagaimana bebasnya ia bergaul, namun ia tetap seorang sioCia yang tak dapat melepaskan rasa malunya. Untuk merogoh gembolan yang tertindih badan Thian Hong itu, rasanya masih belum sampai hatinya. Namun kalau tak diambil, tentu sikate akan bawa gembolan itu untuk diadu kan pada sang ayah, dari siapa tentu ia akan didamprat. Apaboleh buat dia lebih suka dimaki sang ayah daripada mesti menyentuh badan orang yang dibenCinya itu, maka ia terus balik tidur ketempatnya lagi. Tapi pada saat itu, tiba-tiba didengarnya Lou Ping tertawa. Seketika itu merah padam lah wajah Ciu Ki, sehingga tengkuknya dirasakan panas. Karena ia rasa Lou Ping tentu mengetahui perbuatannya menghampiri tempat Thian Hong tadi. Karena bingung me mikirkan, semalam itu hampir ia tak dapat pulas tidurnya.
Keesokan harinya, pagidua sekali sebenarnya Ciu Ki sudah bangun, tapi dia diam saja membungkus diri dalam selimut. Begitu terang tanah, Ciu Tiong Ing dan Lou Ping bangun, dan sebentar pula Thian Hong-.
Tapi tiba-tiba pemuda itu ber-teriak: “Ai, ai, benda keras apa yang tertindih dibawahku ini?”
Mendengar itu, Buru-buru Ciu Ki sesapkan kepalanya kedalam selimut lagi.
“Ah, Ciu loya, gembolanmu menggelinding kemari! Wah, Celaka! guCi arakku tersampok peCah! Benarlah, tentu sikunyuk kecil diatas gunung karena membau arak lalu tu
run kemari. Dan sewaktu melihat gembolan loya, lalu dibuat main-main . Karena kurang hati-hati, sampai menyatuhi guCi arak. Kunyuk itu betul-betul kurang ajar!” kembali Thian Hong menggerutu seterigah memaki.
„Hahaha, laote memang suka meluCu. Mana di tempat ini ada monyet,” kata Tiong Ing dengan ketawa.
„Kalau bukan kera, tentulah perbuatan bidadari dari kahijangan,” Lou Ping menimbrung.
Keduanya sama-sama tertawa. Mendengar mereka tak sing gungdua peristiwa semalam, legahlah hati Ciu Ki, namun ia benCi pada Thian Hong yang mengatakan ia seekor kunyuk. Ditengah jalan Thian Hong membagikan pianya pada ka wanduanya, tapi Ciu Ki menolak. Setiba dikota Song King, mereka singgah kesebuah rumah makan untuk tangsel perut.
Sekeluarnya dari kota tersebut, Thian Hong dan Lou Ping tiba-tiba menghampiri kaki tembok dari sebuah rumah. Ketika Ciu Ki ikutduaan mengawasinya, ternyata disitu terdapat Co retan hurufdua dan gambar orang-orang an, persis tulisan kanakdua. Selagi Ciu Ki ke-heranduaan, berkatalah Lou Ping:
“SeChwan Sianghiap telah dapat menemukan jejak suko. Ini dia tinggalan tulisannya!”
„Bagaimana kau tahu, apa sih artinya Corat-Coret itu?” tanya Ciu Ki.
„Inilah tanda rahasia dari HONG HWA HWE untuk sesuatu pemberi taan, dan itulah tulisan SeChwan Sianghiap,” kata Lou Ping seraja pakai kakinya untuk menghapus tulisan itu.
Demikianlah dengan semangat ber-nyaladua, keempat orang itu segera meneruskan perjalanannya lagi. Terutama Lou Ping berCahaja wajahnya. Setelah menempuh kira-kira 50 li mereka berhenti untuk mengasohkan kuda, lalu kembali meneruskan lagi. Keesokan harinya dimana jembatan Chit-to-kauw, kembali mereka dapatkan pertandaan dari Ie Hi Tong yang mengatakan sudah dapat menggabung lagi dengan SeChwan Sianghiap.
Setelah dirawat beberapa hari, luka Lou Ping sudah boleh dikata sembuh. Sekalipun masih belum seperti biasa jalan nya, tapi sudah tak memerlukan tongkat lagi. Memikir tak lama lagi akan sudah berjumpa dengan suaminya, rasanya Lou Ping sudah mau meloncat hatinya. Ia larikan kuda untuk menCongklang kemuka lebih dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar