KETIKA bangun dari tidurnya, ternyata hari sudah malam. Berkata Pan San.
“Tadi congtocu bersama sekalian saudaraa sudah berangkat ke Thio-ke-poh. Karena toako masih tidur, aku disuruh mengawani, besok pagi kita berangkat menyusul.”
Hampir lebih sepuluh tahun saling berpisah, malam itu keduanya bicara dengan uplek sekali menuturkan riwajatnya masing-masing selama itu. Berbicara tentang HONG HWA HWE bertanyalah Hwi Ching:
“Kau orang punya congtocu itu masih begitu muda usianya, tak ubah dengan seorang kongcu, bagaimana semua sama tunduk?”
“Urusan itu agak panjang untuk diceritakan. Toako, kau mengasuh lagi dulu, besok dalam perjalanan akan kuceritakan,” sahut Pan Sin.
Sekarang marl kita tengok keadaan rombongan Thio Ciauw Cong yang dibawa ke Thiat-san-chung oleh Tong Siu Ho, itu piauwsu dari Tin Wan piauwkok. Tiba dimuka chung (desa) itu. Ciauw Cong perintah seorang congteng melapor pada chungcu supaja keluar menyambut utusan pemerintah. Congteng itu tak berani berajal, terus bertindak masuk. Tapi dicegah oleh Ciauw Cong. Rupanya dia insjaf betapa kedudukan tuan rumah itu sebagai pemimpin kaum persilatan daerah barat utara. Karenanya dia tak mau gegabah, katanya pada congteng.
“Sahabat, tahan dulu. Bilanglah pada chungcu bahwa kita datang dari kotaraja, perlu bertemu dengan chungcu (kepala perkampungan) sendiri !”
Mengucap begitu, Ciauw Cong mengerlingkan matanya pada Go Kok Tong, siapa cukup mengerti maksudnya. Dengan membawa membawa beberapa orang polisi dia menuju ke belakang desa itu untuk menyaga apabila Bun Thay Lay sampai lolos.
Mendengar laporan congteng, Kian Hiong segera menge tahui bahwa rombongan kuku garuda itu tentu hendak meng usut tempat persembunyian Bun Thay Lay. Segera dia suruh Song San Beng, sipengurus rumah, untuk menemui dulu, sedang dia sendiri lalu Buru-buru mendapatkan Bun Thay Lay.
“Bun-ya, diluar ada kuku garuda dari golongan liok-san-mui. Apa boleh buat, kuminta samwi lekas-lekas bersembunyi saja,” demikian tuturnya.
Dia lalu memapak Bun Thay Lay menuju ke sebuah thia (paviljon) yang berada di kebun belakang. berdua dengan Ie Hi Tong, Kian Hong menggeser sebuah meja batu yang berada di situ. Segera di bawah situ tampak sebuah papan besi yang diikat dengan rantai. Ketika rantai ditarik, papan besi itu terangkat dan ternyata disitu tampak sebuah gowa dibawah tanah.
Melihat itu Bun Thay Lay marah dan serunya : “Aku Bun Thay -Lay-bukan orang yang takut mati dan temaha hidup. Bersembunyi didalam gowa ini, sekalipun da pat menyelamatkan diri, tapi tentu tak luput akan diterta wakan orang nanti.”
“Mengapa Bun-ya berkata begitu. Taytianghu bisa keras bisa lembek, menurut gelagat. Bun-ya menderita luka parah dan sementara bersembunyi, siapa yang akan menertawakan nya?” ujar Kian Hiong.
“Terima kasih, Beng-heng. Harap saja kau bukakan pintu belakang. Biar kita berlalu dari sini, agar tak merembet-rembet Beng-heng sekalian orang dalam rumah ini,” Bun Thay Lay tetap berkeras.
Pada saat itu, diluar pintu belakang terdengar tereakan orang minta dibukai pintu. Berbareng itu dari depan, ter dengar suara berisik dari rombongan orang yang mengham piri. Ketika mereka akan menobros masuk, San Beng coba akan menghalangi, tapi sia-sia saja. Karena mengindahkan nama dari Ciu Tiong Ing, Ciauw Cong hanya memakai alasan akan melihat-melihat kedalam chung yang dikatakan sangat indah pemandangannya itu.
“Kita hanya ingin menyaksikan sendiri betapa keindahan chung ini yang kesohor bagusnya itu. Harap saudara Song suka mengantai kita,'' kata Ciauw Cong.
Mengetahui bahwa Thiat-tan-chung sudah terkepung rapat, naiklah darah Bun Thay Lay, katanya pada isteri dan saudaranya itu.
“Mari kita bahu membahu menobros keluar!” Lou Ping nyatakan siap, ia terus memegang lengan tangan suaminya yang terluka itu. Kctika itu dengan memegang golok dalam tafigan kiri, Bun Thay Lay siap akan mener yang keluar. Tapi mendadak dia rasakan tubuh isterinya gemetar. Dan ketika dipandangnya, ternyata sepasang mata nya pun berlinang-linang air mata, wayahnya berduka sekali tampaknya. Seketika itu luluhlah hati Bun Thay Lay, dan dengan serentak dia berkata: “Baiklah, kita bersembunyi saja.”
Kian Hiong girang mendengar keputusan yang tiba-tiba itu. Begitu ketiga tamunya itu masuk kedalam gowa, cepat-cepat -cepat-cepat dia tutup papan besi itu dan dengan dua congteng digesernya pula meja batu itu keatas. Ciu Ing Kiat, putera Ciu Tiong Ing yang masih kecil itu, juga turut membantunya.
Setelah tak ada tandas yang mencurigakan, Kian Hiong perintahkan congteng membuka pintu belakang. Tapi ter nyata Go Kok Tong tak mau masuk dan hanya menunggu diluar pintu itu saja. Pada saat itu, rombongan Ciauw Cong pun sudah masuk kesitu.
Melihat Tong Siu Ho juga berada dalam rombongan itu, berkatalah Kian Hiong dengan menyindir :
“Oh, kiranya seorang koan-loya (pembesar negeri), tadi aku sudah berlaku kurang adat.”
“Aku hanyalah seorang piauwtauw dari Tin Wan piauw kok, loheng jangan salah kira,” sahut Siu Ho. Setelah itu dia berpaling pada Ciauw Cong dan berkata :
“Dengan mata kepalaku sendiri, kulihat mereka masuk kesini. Thio taijin, harap perintahkan menggeledah.”
“Kita adalah penduduk baik-baik, Ciu lochungcu adalah seorang tuan tanah yang menuntut penghidupan halal, mana berani menyembunyikan bangsa bersandal. Tong-ya ini sengaja mempitenah saja,” San Bing Buru-buru memberikan bantahan tegas.
Dia tahu bahwa Bun Thay Lay bersembunyi ditempat yang aman, maka sengaja dia keluarkan kata-kata yang menantang itu. Juga bertanyalah Kian Hiong dengan berlagak pilon :
“Hong Hwa Hwe adalah sebuah perkumpulan di Kang Lam, mengapa mereka berada diperbatasan sebelah barat utara ini? Piauwtauw ini berkata dengan seenaknya sendiri saja, masa taijin sekalian mau mempercayainya?”
Thio Ciauw Cong adalah seorang kangouw kawakan. Dia tahu bahwa Bun Thay Lay tentu sembunyi di Thiat-tan-chung. Kalau menggeledah berhasil, masih mendingan, tapi kalau sampai tak dapat menemukannya, apakah Ciu Tiong Ing akan mau sudah? Jago she Ciu itu luas pengaruhnya dikalangan rimba persilatan, dengan demikian, bukankah akan dapat melakukan pembalasan? Memikir sampai disitu, Ciauw Cong menyadi ragu-ragu.
Sebaliknya Siu Ho berpikir, kalau kali ini gagal, tentu dia akan diejek dan di-kata-katai oleh kawan-kawannya. Tiba-tiba dia ter ingat akan Ciu Ing Kiat. Seorang anak kecil tentu tak dapat berbohong. Cepat-cepat dia tarik lengan Ing Kiat. Tapi anak itu, karena mengerti bahwa Siu Ho itu bukan orang baik-baik, dengan getas segera menarik tangannya.
“Kau tarik aku mau apa?” bentak bocah itu.
’Adik cilik, kau bilanglah, dimanakah adanya ketiga te tamu itu, aku nanti beri ini untuk beli permen,” kata Siu Ho sambil merogoh keluar beberapa biji uang perak.
Ing Kiat jebikan bibir, memperlihatkan muka mengejek, katanya.
“Kau angg'ap aku ini siapa? Ayahku adalah Thiat-tan Ciu Tiong Ing! Aku tak sudi terima uang'mu yang berbau itu !” Karena malu, Siu Ho menyadi gusar, lalu berteriak : „Ayo kita geledah saja rumah ini, dan ringkus sekali bocah ini !”
“Kau berani dengan ayahku, Thiat-tan Ciu Tiong Ing?” kata Ing Kiat tak gentar.
Pada saat itu berobahlah air muka Thio Ciauw Cong. Dia duga anak itu pasti mengetahui tempat persembunyian Bun Thay Lay. Dia pikir, hanya dari mulut anak itulah akan bisa didapat keterangan. Tapi meskipun kecil, anak itu sangat berani. Tak jerih digertak, tak mempan dibujuk. Tapi akan coba dibujuknya juga.
“Ketiga tamu itu, bukankah sahabat ayahmu?” Ciauw Cong mulai pasang perangkap.
Tapi Ing Kiat tak kena diakali, sahutnya : “Aku tak tahu apa-apa.”
“Kalau sampai kita dapat menemukan ketiga orang itu, t.idak saja ayahmu, juga kau sendiri dan mamahmu semua akan dihukum mati !”
“Ha!” seru Ing Kiat dengan kerutkan alisnya. „Ayahku adalah Thiat-tan Ciu Tiong Ing, masa dia jerih padamu?”
Ciauw Cong tobat betul-betul. Dia lalu merogoh sakunya, pikirnya akan mengambil uang mas untuk diberikan pada anak itu. Tapi tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah benda bundar. Dengan girang, cepat-cepat -cepat-cepat benda itu dikeluarkannya. Ternyata benda itu ialah sebuah cian-li-king (teropong).
Ketika Ciauw Cong meninggalkan kotaraja untuk me nangkap Bun Thay Lay, Hok Gong An, pemimpin Gi-lim-kun (pengawal istana) menghadap padanya, untuk menyampai kan perintah istimewa dari kaisar, bahwa bagaimana juga pesakitan itu harus dapat ditangkap dan dibawa kekota raja. Untuk itu kaisar istimewa menghadiahkan sebuah teropong padanya.
Saat itu Ciauw Cong memasang teropong dimatanya, untuk melihat sekeliling tempat itu, habis itu dia berkata pada Ing Kiat :
“Kau pasanglah benda kemukamu, dan cobalah lihat ke jurusan sana.”
Kuatir orang akan menipunya, Ing Kiat cepat-cepat -cepat-cepat tarik tangannya. Tapi Ciauw Cong kembali melihatnya sendiri, seraja tak putus-putusnya memuji: “Wah, alangkah indahnya, sungguh bagus sekali !”
Biar bagaimana Ing Kiat tetap seorang anak kecil. Hati nya melonyak-loyak ingin melihatnya juga. Maka begitu Ciauw Cong mengangsurkan teropong itu untuk kedua kalinya, cepat-cepat -cepat-cepat Ing Kiat menyambutnya. Begitu dipasang dimatanya, dia berjingkrakjingkrak kaget. Gunung jauh disebelah muka itu seperti pindah dihadapannya. Pohon-pohon jelas tampaknya.
“Kau naik dimeja situ untuk melihat sana,” kata Ciauw Cong dengan ramahnya.
Ing Kiat loncat keatas meja batu, untuk melihat dengan teropong. Orang yang sedang berjalan dijalanan, tampaknya jelas berada dihadapannya. Sampaipun mulut dan mata mereka kelihatan jelas juga. Ketika teropong itu diambil nya, oranga berjalan itu tampaknya keciis dan samar-samar. Bolak-balik dia awasi benda ajaib itu sampai sekian lama. Habis itu dengan merasa sayang , dia kembalikan lagi pada Ciauw Cong.
“Kau inginkan ini?” tanya Ciauw Cong ketika menyam butinya.
Sambil berpaling kesamping memandangi Kian Hiong dan San Beng, anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ciauw Cong seketika juga mengetahui bahwa pernyataan itu ber lawanan dengan hatinya, karena takut pada kedua orang itu. Maka cepat-cepat ditariknya Ing Kiat kesamping, lalu tanyanya: „Asal kau kasih tahu ketiga orang itu bersembunyi dimana, benda itu akan menyadi kepunyaanmu !”
“Aku tak tahu,” sahut Ing Kiat dengan berbisik.
“Kaubilanglah, aku tak nanti katakan pada lain orang. Ayahmu pun tentu takkan mengetahuinya,” kata Ciauw Cong dengan berbisik juga.
Hati Ing Kiat nampak guncang tapi dia tetap gelengkan kepalanya.
“Siaosute, masuklah kedalam, jangan main-main ditaman ini,” tiba-tiba kedengaran Kian Hiong berseru keras.
“Baiklah,” sahut Ing Kiat, lalu katanya pula pada Ciauw Cong, “Beng suko panggil aku.”
Namun Ciauw Cong masih pegangi tangan Ing Kiat, dan teropong itu disodorkan dihadapannya. Ing Kiat nampak gi rang sekali dan segera bisiknya lagi: „Kalau aku sampai memberitahu, nanti ayah tentu membunuh aku.”
“Kau tak usah menyahut, kalau kuajukan pertanyaan, cukup kau memberi isjarat dengan manggut atau gelengkan kepala saja”, Ciauw Cong makin mendesak. Dan habis berkata itu, dia serahkan teropong pada Ing Kiat.
Mulanya anak itu agak sangsi sesaat, tapi achirnya dite rimanya benda itu.
“Apakah mereka bersembunyi dikamar mamahmu?” Ciauw Cong terus tak mau buang tempo dan mulai ajukan pertanyaan. Ing Kiat gelengskan kepalanya. “Apakah mereka digudang padi?” Kembali anak itu geleng-gelengkan kepala. “Dikebun sini?”
Kini tampak Ing Kiat manggut2kan kepala dengan pelan-pelan .
Karena nampak Ciauw Cong menyeret sutenya kesebelah samping dan terus tak putus-putusnya menanyai, Kian Hiong kuatir jangana anak itu kelepasan omong, karena itu dia menghampirinya.
Melihat bahwa dalam taman itu yang ada hanya gunung-gunungan palsu, empang dan sebuah rumah kecil, Ciauw Cong segera mendesaknya :
“Dibagian mana mereka bersembunyi?”
Ing Kiat tak menyawab, hanya ekor matanya saja terus melirik kearah rumah gardu disebelah itu.
“Di gardu itu?” tanya Ciauw Cong.
Ing Kiat anggukkan kepalanya.
Nampak itu, Ciauw Cong tak mau bertanya lagi, terus menghampiri gardu itu. Setelah diperiksanya, ternyata gardu itu hanya dikelilingi oleh langkan (pagar jeruji) bercat me rah. Mustahil orang bersembunyi disitu. Loncat keatas langkan, Ciauw Cong memandang kepuncak gardu, tapi disitu tak ada apa-apanya. Karenanya, dia terpaksa loncat turun lagi dan untuk sesaat itu dia kelihatan berpikir. Tiba-tiba : ter gerak pikirannya, segera dengan tersenyum dia berkata pada Kian Hiong :
“Beng-ya, aku yang rendah ini meski berkepandaian rendah, tapi aku memiliki sedikit tenaga, harap Beng-ya suka member! petunyuk !”
Mengira karena tak dapat mencari orang lalu marah dan mengajak berkelahi, walaupun fihak musuh jumlahnya banyak, Kian Hiong tak perlihatkan kelemahan, katanya :
“Sungguh aku tak berani menerima kehormatan itu. Silakan loya memberi pengajaran tentang apa saja, tangan kosong maupun berscnyata.”
Mendadak Ciauw Cong tertawa keras, kemudian katanya: “Kita orang adalah sahabat baik. Dengan senyata maupun tangan kosong, bukanlah akan merusak perhubungan. Biar kita pakai cara begini: lebih dulu aku yang mengangkat meja batu itu, baru nanti Bun-ya juga mencobanya. Ka lau aku sampai tak dapat mengangkatnya, harap Bun-ya tidak buat tertawaan.”
Kian Hiong terkejut bukan kepalang. Tapi dia tak berdaya untuk mencegahnya. Bahkan dari rombongan tetamu itu sendiri, yaitu Swi Tay Lim, Seng Hing dan lain-lain. sama merasa heran mengapa Thio taijin itu akan mengadu kekuatan dengan anak muda itu.
Malah pada saat itu, Ciauw Cong sudah menyingkap lengan bajunya terus memegang meja batu yang berkaki bundar itu. Dengan kerahkan tenaganya, sekali angkat, maka meja yang seberat 400 kati itu segera beralih keatas sebelah tangan dari pembesar kuku garuda itu.
”Thio taijin sungguh mempunyai kekuatan yang luar biasa!” demikian pujian berkumandang diantara rombongan kuku garuda.
Belum lagi sorak pujian itu lenyap kumandangnya, mereka segera bertereak kaget. Meja batu terangkat, maka dibawahnya itu kelihatan sebuah papan besi.
Dalam pada itu Bun Thay Lay bertiga yang berada dalam lobang dibawah tanah itu. Bermula didengarnya suara berisik dari sejumlah orang yang mondar mandir diatasnya. Apa yang diucapkan oleh orang itu tak dapat didengar jelas olehnya. Justeru dia gelisah, tiba- terdengar sebuah benda jatuh yang mengeluarkan suara hebat, dan menyusul dengan itu, sinar terang masuk kedalam gowa tersebut. Nyata papan besi penutup lobang guwa itu telah diangkat orang.
Diantara hiruk pikuk suara orang yang menyatakan keka getannya itu, terdengar seorang telah membentak dengan suara berat: “Sahabat baik, keluarlah !”
Ternyata Ciauw Cong tak berani gegabah masuk kedalam lobang. Karena menaati titan kaisarnya untuk menangkap hidup orang buronan itu, sudah barang tentu tak boleh gu nakan senyata rahasia. Dia hanya menyaga dimulut gowa, sembari siapkan senyatanya dan berseru memerintahkau keluar, Saat itu berkatalah Bun Thay Lay pada isterinya :
”Kita telah dijual oleh orang Thiat-tan-Chung. Maukah kau luluskan permintaanku ?”
”Koko, kau katakanlah,” sahut Lou Ping cemas.
“Nanti apa saja yang kuminta, kau lakukanlah,” kata Thay Lay.
Dengan berlinang-linang air mata, Lou Ping memanggut.
”Aku, Pan-lui-chiu Bun Thay Lay berada disini, kau orang ributi apa?” ben tak Thay Lay segera.
Mendengar suara gagah dari orang tangkapannya, itu, kawanan kuku garuda terdiam sejenak.
”Pahaku terluka, Ayo kau beri tali supaja kau dapat tarik aku keluar!” seru Bun Thay Lay pada orang-orang diatas.
Ciauw Cong akan perintahkan Kian Hiong mengambil tambang, tapi ternyata anak muda itu sudah tak tampak disitu. Maka Buru-buru dia suruh cengteng yang mengambilkan nya.
Oleh Seng Hing sebelah ujung tambang itu dilontarkan kedalam guwa, untuk menarik Bun Thay Lay. Tapi begitu Bun Thay Lay kakinya menginyak tanah diluar guwa, dia segera sentak tambang itu sekeras-kerasnya, hingga terlepas dari tangan Seng Hing. Menyusul dengan bentakan menggeledek, tambang itu dikibaskan kedepan.
Aneh, tambang yang lemas itu, seketika berobah kaku, menyului kemuka. Itulah gerak “lepas membalik jubah,” salah suatu gerakan yang lihay dari ilmu jwan pian. Orang nya berputar kekanan, tapi tambang dari arah kiri menyapu kekanan. Menderu-deru angin samberannya, hebatnya bukan main.
Pian atau jwan-pian, adalah senyata yang paling sukar dijakinkan. Untuk belajar ilmu golok hanya diperlukan waktu setahun, tapi untuk ilmu pian orang harus: belajar sampai enam tahun. Tapi ditangan Pan-lui-chiu Bun Thay Lay, tambang itu seakan-akan merupakan pian yang berbahaja, me layang kearah orang banyak.
Karena tak menduga saraa sekali kawanan kuku garuda itu tak keburu menangkis, dan hanya Buru-buru merundukkan kepalanya untuk mengelit samberan tambang itu.
Si cumi-cumi Tong Siu Ho adalah orang yang pernah merasakan tangan Bun Thay Lay. Dia sudah kapok betul-betul. Maka begitu melihat Bun Thay Lay terangkat naik keatas, dia tersipu-sipumenyelinap kebelakang rombongannya, agar jangan terlihat oleh si Tangan Geledek itu. Pikirnya dia tentu akan aman. Tapi ternyata justeru sebaliknya. Makin berada di belakang, makin celaka. Kawan-kawannya yang berada dimuka begitu melihat tambang menyambar, terus menunyukkan kepala untuk menghindari. Sebaliknya, bagi orang she Tong itu, tahu-tahu tambang sudah berada dimukanya. Untuk me nyingkir terang sudah tak keburu, maka karena gugupnya, dia Buru-buru membalikkan badan untuk lari. Namun sudah terlambat. Tambang itu tepat menghantam punggungnya, dan seketika itu juga robohlah dia.
Jago bayang kari Swi Tay Lim dan ketua cabang Can-khe-kun yaitu Gan Pek Kian, yang satu memegang golok dan yang lain menggenggam sepasang gelangan besi, maju menyerbu Bun Thay Lay.
Nampak suasana sudah genting, Ie Hi Tong segera seru kan Lou Ping untuk loncat keatas. Bagaikan seekor meliwis, dia apungkan badannya keatas titian, terus menyerang pada congpeng Seng Hing. Yang belakangan ini gunakan permai nan tongkat dari Siao Lim Pai. Tapi berhadapan dengan kim-tiok (seruling mas) yang lebih pendek, tongkat congpeng itu tak berdaya.
Lou Ping setindak demi setindak, naik titian yang menuju keatas tanah. Tetapi mulut gowa terjaga oleh seorang yang bertubuh tinggi besar, Lou Ping segera lepaskan sebuah huito. Orang itu tampak diam saja. Baru ketika huito ham pir tiba dimukanya, dia ulurkan tiga jari tangannya untuk menyumpit tangkai huito. Tepat sekali sumpitannya itu, karena ujung huito hanya terpisah beberapa dim saja dimuka hidungnya.
Menampak bag-aimana orang menyambuti huitonya, Lou Ping terkesiap. Dengan memutar sepasang goloknya ia meno bros keluar untuk menghampiri suaminya. Tapi siorang tadi, begitu nampak pelepas huito itu ternyata ada seorang wanita yang cantik, dia terus maju menghadangnya. Orang itu bukan lain ialah jago Bu Tong Pai yang kosen jakni, Thio Ciauw Cong.
Ciauw Cong beradat tinggi. Dia tak mau gunakan pedang untuk berkelahi dengan seorang wanita. Ia hanya pakai huito Lou Ping tadi untuk menyerangnya tiga kali berturut-turut.
Benar permainan kaki Lou Ping tidak begitu lincah, tetapi permainan sepasang goloknya adalah warisan dari keluarga nya yang telah dijakinkan dengan sempurna. Dalam jurus kelima, pundak Ciauw Cong kelihatan dijulurkan kemuka untuk menyerang lengan lawannya. Dari situ terus disapukan kekiri untuk menahan sepasang golok Lou Ping, lalu dengan sekuat-kuat didorongnya.
”Dalam kedudukan tubuhnya miring”, apalagi didorong oleh kekuatan yang mana dasyat dari Ciauw Cong, seketika itu terlemparlah Lou Ping, jatuh kembali kedalam gowa.
Dilain fihak, menghadapi kedua lawan yang tangguh itu, luka Bun Thay Lay kambuh lagi. Rasa sakit menyerang dengan hebat, sehingga semangatnya serasa terbang. Bagai banteng ketaton ia menyerang kesana-sini dengan kalapnya.
Sedang Hi Tong dengan permainannya kim-tiok, segera berada diatas angin. Melihat jurus-jurus permainan kim-tiok itu mengandung ilmu pedang jwan-hun-kiam, dan jurus-jurus tutuk annya mirip dengan kaumnya, Ciauw Cong merasa heran. Ketika akan ditanyainya, tiba-tiba dengan gerak “pek-hun-jong-kauw” Hi Tong desak mundur Seng Hing terus loncat ke-dalam gowa.
Kiranya waktu bertempur dengan Seng Hing tadi, Hi Tong tujukan perhatiannya pada Lou Ping. Dia kaget ketika nampak Lou Ping jatuh kembali kegowa, sehingga dia Buru-buru loncat menolongnya. Tapi ternyata Lou Ping sudah tegak berdiri tak kurang suatu apa.
„Bagaimana, apa terluka?” tanya Hi Tong kuatir.
”Tidak apa-apa, kau lekas keluar lagi membantu suko,” sahut Lou Ping.
”Mari kupimpin kau keatas,” kata Hi Tong.
Pada saat itu Seng Hing sudah menyaga di mulut gowa. Dengan membolang balingkan tongkat, dia cegah mereka supaja tak bisa keluar. Melihat isterinya tak bisa keluar, sedang tenaganya. rasanya sudah tak tahan lagi, Bun Thay
Lay buang dirinya kebelakang Seng Hing dan secepat-cepat kilat ia ulurkan jarinya menotok pinggang siwi (pahlawan, istana) tersebut. Begitu tubuh Seng Hing lemas ngusruk, Bun Thay Lay barengi menubruk dan mendekap tubuh itu sambil berseru: “Ayo turunlah !”
Dua-duanya, Bun Thay Lay dan Seng Hing sama-sama jatuh kedalam gowa. Seng Hing ternyata tertutuk jalan darahnya “kian-ceng-hiat,” sehingga numprah seluruh kekuatannya. Kini dia terlempar kedalam gowa, apalagi ditindihi Bun Thay Lay, sudah tentu keduanya tak dapat bangun.
Buru-buru Lou Ping mengangkat suaminya bangun. Wayah Bun Thay Lay pucat seperti tak berdarah, keringat mem basahi seluruh kepalanya. Tapi begitu nampak wayah isteri nya, Bun Thay Lay paksakan untuk bersenyum. Namun berbareng dengan suara batuknya, segumpal darah segar muntah dari mulutnya, tepat menyembur kujup dada baju Lou Ping. Hi Tong mengarti maksud Bun Thay Lay, maka dia berkaok keras-keraskesebelah atas : “Kasih kita jalan keatas !”
Ciauw Cong melihat ilmu silat Hi Tong terang adalah dari kaumnya, sedang dengan mata kepala sendiri dia saksi-kan bagaimana dengan menderita luka berat, Bun Thay Lay masih dapat melajani dua lawan yang tangguh, diam-diam timbul rasa sayangnya.
Sehingga setelah mendorong jatuh Lou Ping, dia tak mau turun tangan lagi. Tapi rasa sayang nya itu dibujarkan dengan rasa kaget yang besar, ketika melihat Seng Hing turut terjerumus kedalam gowa. Ketika dia akan terjun kebawah, tiba-tiba terdengar seruan Hi Tong tadi. Apa boleh buat, dia perintahkan orang-orang nya berhenti, untuk mem beri jalan pada orang-orang tangkapannya.
Pertama-tama yang keluar dari gowa, ialah Seng Hing itu pahlawan istana yang istimewa dikirim untuk menangkap Bun Thay lay. Ujung leher bajunya dicengkeram oleh Lou Pin, dengan sebelah tangannya memegang sebatang golok yang ditujukan pada punggung. Baru kemudian Hi Tong yang memayang Bun Thay Lay.
”Siapa berani bergerak, dia akan menyadi majat!” seru Lou Ping sembari mendorong Seng Hing keluar.
Diantara pagar senyata yang lebat, keempat orang itu berjalan kearah pintu belakang. Melihat ada tiga ekor kuda tertambat pada puhun liu disebelah sana, giranglah hati Lou Ping. Diam-diam ia berSyukur pada langit dan bumi. Memang tiga ekor kuda itu adalah kepunyaan Go Kok Tong tadi.
Melihat buronan penting akan dapat meloloskan diri Ciauw Cong segera ambil putusan. Kematian Seng Hing tak men jadi soal baginya, yang terutama Bun Thay Lay harus dapat ditangkap dan dibafwa ke Pakkhia. Tentu dia mendapat pahala besar.
Diam-diam dia pungut tambang yang dilemparkan ketanah oleh Bun Thay Lay tadi.
Dengan gunakan nuikang, dilontarkan nya gulungan tambang itu kemuka, dan tepat menyirat badan Bun Thay Lay. Sekali sentak, tertariklah Bun Thay Lay terlepas dari tangan Hi Tong.
Mendengar suaminya menggeram, Lou Ping sampai lupa untuk menghabiskan jiwa Seng Hing. Cepat-cepat dia balik untuk menolong Bun Thay Lay. Tapi betisnya tadi mendapat luka yang tak enteng. Baru berjalan dua tindak, robohlah dia.
”Lekas lari, lekas lari!” Bun Thay Lay menereaki isterinya.
”Koko, aku akan mati didampingmu saja!” sahut Lou Ping.
Mendengar isterinya membandel, marahlah Bun Thay Lay.
”Bukanlah tadi kau sudah berjanyi akan menurut perintahku?”
Belum sempat dia mengachiri kata-katanya, Swi Tay Lim dan orang-orang nya sudah maju meringkusnya. Hi Tong cepat-cepat loncat memburu, dia pondong Lou Ping terus menobros keluar pintu. Seorang hamba negeri yang coba menghadangnya, telah ditendang roboh oleh Ie Hi Tong.
Nampak suaminya tertangkap, luluhlah semangat Lou Ping, matanya berkunang-kunang dan seketika tak bisa menguasai diri. Hi Tong cepat-cepat mengangkatnya dibawa lari ke arah puhun Liu. Syukur Lou Ping sudah tersedar, maka begitu dinaikkan keatas pelana seekor kuda. Hi Tong menyuruhnya lepaskan huito.
Gan Pek Kian dan dua orang kepala polisi juga sudah memburu sampai keluar pintu taman, justeru pada saat
Lou Ping melepas tiga batang huito. Sekali terdengar jeritan seram, seorang kepala polisi tadi terjungkal roboh. Untuk sejenak, Gan Pek Kian kesima.
Menggunakan kesempatan ini, Hi Tong dengan sebatnya melolos lis kuda yang diikatkan pada puhun. Setelah dia sen diri sudah naik, lalu ketiga ekor kuda itu dilarikan keluar. Lebih dulu yang seekor dia taruh dimuka pintu taman, dengan kepalanya dihadapkan kearah taman. Sekali dia pukul bebokong kuda itu dengan kim-tioknya, kuda itu membinal lari masuk kedalam lagi. Maka ketika Pek Kian hendak mengejar, dia harus terpaksa menyingkir dulu dari ter jangan kuda itu. Pada lain saat dia sudah dapat memburu keluar, Hi Tong dan Lou Ping sudah lari jauh-jauh.
Setelah kira-kira enam tujuh li dan dibelakang tak ada yang mengejarnya, barulah Hi Tong dan Lou Ping mengendorkan lari kudanya. Kira-kira tiga empat li lagi, tiba-tiba tampak tiga empat penunggang kuda mendatangi dari arah muka. Yang dimuka sendiri adalah seorang tua berjenggot putih, yang bukan lain adalah Thiat-tang Ciu Tiong Ing sendiri. Begitu nampak Hi Tong berdua, Tiong Ing segera berseru : ”Liatwi hohan, harap berhenti dulu, aku sudah mengun dang seorang sinshe.”
Sebagai jawaban, Lou Ping menyabitkan sebatang huito. Sudah barang tentu tak terkira kaget Tiong Ing., Karena tak menyangka, dia sudah tak keburu menangkisnya. Syukur dia masih dapat menengkurupkan badannya keatas pelana, hingga huito itu hanya lewat diatas punggungnya saja.
An Kian Kong, murid kedua Tiong Ing yang berada dibelakang, Buru-buru angkat goloknya untuk menangkis. „Trang”, huito itu melayang kesamping, tepat menancap kesebuah puhun liu.
Baru saja Tiong Ing akan bertanya, tiba-tiba ia telah dida hului Lou Ping lagi dengan dampratannya :
“Kau ini memang penyahat tua yang berhati serigala! Kau telah membikin celaka suamiku, sekarang aku hendak mengadu jiwa denganmu”.
Dengan memaki dan menangis, Lou Ping ajukan kudanya untuk menyerang. Selagi Tiong Ing terlongong-longong tak habis mengerti, adalah muridnya An Kian Kong yang men jadi marah lalu putar goloknya untuk menyambut. Tapi burua dipegang lengannya oleh sang suhu, yang melarangnya tak boleh gegabah dulu.
Juga difihak Sana, Hi Tong mencegah perbuatan Lou Ping itu, katanya :
”Yang perlu ialah mencari jalan untuk menolong suko. Baru setelah itu kita bakar Thiat-tan-chung nanti”.
Rupanya Lou Ping kena diomongi, dan memutar balik ku danya. Sebelum pergi, ia sengaja meludah keras-keras, untuk unyuk kemarahannya.
Selama mengangkat nama dikalangan Sungai Telaga, Tiong Ing selalu mengutamakan budi dan kebajikan. Dia selalu mengalah dan suka bergaul. Maka orang-orang dari golong an hek-to dan pek-to memuji semua pada Tiong Ing. Kini mimpipun tidak, kalau dia sampai dimaki habis-habisan dan di sabit hoeito oleh seorang wanita. Tapi dia dapat berpikir panyang, tentu ada sebab-sebabnya wanita itu sampai berbuat begitu.
Dari congteng yang memanggil sinshe kekota tadi, dia mendapat keterangan bahwa toa-naynay dan Kian Hiong menyambut tetamunya itu dengan baik-baik . Karena tak mendapat jawaban yang memuaskan, Tiong Ing terus keprak kudanya menuju ke Thiat-tan-chung.
Begitu tiba dirumah, seorang conteng cepat-cepat memberi hormat dan menyambut. Nampak sikap dari orang-orang dirumah beda dari biasanya, Tiong Ing segera menduga, tentu dirumah ada terjadi hal2 yang luar biasa.
„Lekas panggll Kian Hiong kemari,” perintah. Tiong Ing pada seorang cengteng.
„Beng-ya sedang melindungi toa-naynay dan siaoya (tuan muda) yang bersembunyi disebuah gunung dibelakang,” ja wab cengteng itu.
Mendengar itu, keheranan Tiong Ing makin merangsang Syukur ada beberapa cengteng yang menuturkan tentang tertangkapnya Bun Thay Lay. Mendengar itu terkejutlah Tiong Ing, tanyanya :
”Siapa yang telah membocorkan tempat persembunyian itu pada orang-orang negeri?”
Centeng-centeng itu terdiam sejenak, tak ada yang berani me nyahut, meluaplah kemarahan Tiong Ing, cambuk diangkat dihajarkan kemuka mereka. Melihat suhunya sedang marah-marah An Kian Kongpun tak berani mencegah. Setelah beberapa cambukan, Tiong Ing lalu jatuhkan diri dikursi. Kedua gembolan thiat-tan, sampai berkerontangan, sedang centeng-centeng itu diam membisu saja.
„Kau orang berada disini perlu apa? Lekas panggil Kian Hiong!” teriak Tiong Ing gusar.
Berbareng ucapan itu, Kian Hiong tampak sudah muncul disitu, dan memberi hormat pada suhunya.
“Siapa yang membocorkan rahasia itu, bilanglah.”
Demikian pertanyaan yang pertama-tama diajukan Tiong Ing dengan penuh kegusaran hingga tak dapat melampiaskan kata-katanya. Menampak itu, Kian Hiong tak berani mengaku terus terang. Setelah berpikir sebentar, berkatalah dia :
”Kawanan kuku garuda itu sendiri yang ' mengetahuinya.”
“Ngaco! Gowa ditanah itu sangat terahasia sekali tem patnya, bagaimana mereka dapat mengetahuinya?
Kian Hiong tak dapat menyawab. Adalah pada saat itu, mendengar suaminya marah-marah, Ciu-naynay dengan memimpin puteranya datang akan menasehatnya. Ketika Tiong Ing melihat puteranya membawa sebuah teropong, timbullah ke curigaannya, terus dipanggilnya anak itu. Dengan takut-takut Ing Kiat menghampiri ayahnya.
“Barang itu kau dapat dari mana?” Ing Kiat tak berani menyahut.
”Ayo, lekas bilang!” seru Tiong Ing seraja mengangkat cambuknya.
Saking takutnya, Ing Kiat mau menangis tapi tak berani. Dia hanya memandang sang ibu, siapa segera maju menghampiri sambil berkata :
”Harap loyacu jangan marah-marah dulu. Puterimu yang mem bikin mendongkol hatimu, mengapa kau hardik anak kecil yang tidak bersalah apa-apa ini?”
Tiong Ing tak ambil mumet kata-kata isterinya itu, dia cam bukkan pecutnya itu keatas, dan berseru keras-keras:
”Kalau kau tak menyahut, tentu kubunuh kau, anak durhaka !”
”Loyacu, kau makin lama makin tak keruan omonganmu. Dia kan anak kandungmu sendiri, mengapa kau maki-maki anak durhaka?” Ciu naynay mulai sengit.
Kian Hiong dan semua orang sama geli mendengarnya, tetapi mereka tak berani tertawa. Tiong Ing mendorong isterinya, disuruh menyingkir, lalu mengulangi pertanyaannya lagi kepada Ing Kiat.
“Anak, kau bilanglah. Kalau kau ambil kepunyaan orang, kembalikanlah, besok kubelikan sendiri,” demikian Ciu nay-nay turut menanyainya.
”Bukan aku mencuri milik orang,” sahut Ing Kiat.
”Jadi diberi orang, ah itu lebih2 tak mengapa. Ayo kau bilang pada ayahmu, siapa yang memberinya?” kata sang ibu.
”Rombongan koanyin (pembesar negeri) tadi yang mem beri,” sahut Ing Kiat dengan suara pelan.
Tiong Ing tahu bahwa teropong adalah benda berharga buatan luar negeri. Kawanan pembesar negeri datang keru mah penduduk, kalau tak merampas binatang ternak atau lain-lain barang, sudah mendingan. Kalau sampai mereka meng hadiahkan benda yang berharga itu, tentu ada maksudnya. Ditilik dari sikap sekalian cengteng dan Kian Hiong tadi, tahulah Tiong Ing sekarang, siapa yang membocorkan ra hasia gowa persembunyian dibawah tanah itu. Seketika kepalanya seperti digujur air dingin, sehingga bulu romanya berdiri. Lalu katanya dengan suara tak lampias :
”Mari kau berikan itu padaku.”
Setelah teropong itu disambutinya, dengan tanpa melihat lagi, Tiong Ing lemparkan teropong itu sekuat-kuatpada tembok, sehingga seketika itu juga, teropong hancur ber keping-keping.
“Mari ikut aku,” katanya sembari menyeret tangan anaknya, terus dibawa ketempat ruangan peranti belajar silat.
Ciu naynay mengikuti dari belakang. Diam-diam ia heran, mengapa kali ini suaminya marah-marah sedemikian besarnya. Setelah terdiam sejurus, bertanyalah Tiong Ing :
”Tetamu kita yang bersembunyi didalam lubang dibawah tanah, bukankah kau yang memberitahukannya ?”
Dihadapan ayahnya, selamanya Ing Kiat tak berani ber bohong. Saat itu diapun menganggukkan kepalanya. Mendengar itu, Tiong Ing berpaling kearah isterinya sambil berkata :
“Kau sulut lilin dimeja tempat arwah leluhur kita dan meja couwsu kita.”
Dengan tak mengerti maksudnya, Ciu naynay mengerja kan perintah suaminya. Ciu Tiong Ing adalah murid Siao Lim Pai, couwsu yang dipujanya ialah Tat Mo couwsu. Didepan meja couwsu, Tiong Ing menyulut hio dan bersem bahyang . Juga puteranya disuruhnya bersembahyang . Dibawah sinar lilin, tampaklah olehnya akan wayah sang putera yang berseri-seri bagaikan rembulan itu, cakap dan menimbul kan rasa kasih. Diam-diam hatinya terasa seperti diiris-iris sembilu.
„Apakah kau masih berhutang uang pada orang, atau meminyam barang orang yang belum kau kembalikan?” tanyanya pada sang putera.
”Tidak.”
“Adakah kau membuat sesuatu janyi pada orang?”
“Aku telah menyanyikan pada adik kecil dari keluarga Beng, untuk memberi telur burung Tadi dibelakang gunung kutelah mendapatkan beberapa biji, masih belum kuberikan padanya.”
Sembari berkata itu, Ing Kiat merogoh keluar sebuah bungkusan diberikan pada ayahnya. Oleh Tiong Ing barang itu diletakkan diatas meja.
”Nanti biarlah aku sendiri yang menyerahkannya, harap kau jangan kuatir.”
Kata-kata Tiong Ing pada, saat itu, sangat lemah lembut. Ma-lah dielus-elusnya kepala puteranya itu dengan penuh kasih sayang, katanya :
”Kau Pai (memberi hormat dengan angkat kedua tangan) pada ibumu, untuk menghaturkan terima kasih bahwa ia telah mengandungmu selama sepuluh bulan dan merawatmu sampai sepuluh tahun.”
Ing Kiat mengerjakan apa yang diperintah ayahnya. Kini Ciu naynay baru insjaf apa yang akan diperbuat oleh suami nya itu. Seketika ia menangis menggerung-gerung. Puteranya segera didekap, biar bagaimana takkan dilepaskannya.
Tiong Ing senderkan diri dikursi. Nampak isterinya me meluk sang putera dengan menangis tersedu-sedu itu, hatinya seperti dibetot. Setelah beberapa waktu, Tiong Ing segera bangkit menghampiri. Melihat itu Ciu naynay makin me meluk kencang-kencang, serunya :
”Kau bunuhlah kita, ibu dan anak berdua saja. Tanpa dia, akupun tak mau hidup lagi.”
Setelah meremkan mata sejenak, berkatalah Tiong Ing dengan suara sember: „Kau lepaskanlah dia.”
Tapi Ciu naynay halangkan badannya kedepan pula.
“Masih sedemikian kecilnya dia sudah temaha keuntungan, lupakan kebajikan. Apakah besok tidak bakal menyadi orang yang melanggar pantangan Tuhan? Anak yang sema cam itu, makin berkurang makin baik bagi kita,” kata Tiong Ing dengan keren.
Sembari. mengucap begitu, dia tarik Ing Kiat, lalu diang katnya naik. Ciu naynay bergulung-gulung terus berkui didepan suaminya, clan meratap :
”Loyacu, kau ampuni dialah. Biarlah dia pergi dari Thiat-tan-chung sini, untuk selama-lamanya.”
Tanpa menyahut apa-apa, Tiong Ing diam-diam kerahkan semangatnya, lalu menamparkan tangannya kearah jalan darah “thian-ling-kay” pada batok kepala puteranya. Berbareng dengan suara “plak,” kedua biji mata anak itu melotot keluar, dan putuslah jiwanya seketika itu.
Melihat putera kandung yang dikasihinya telah meninggal, Ciu naynay bagaikan seekor macan betina yang kehilangan anak, terus menyerang suaminya. Tiong Ing mundur selang kah. Ciu naynay lari ketempat rak senyata, menyembat sebatang golok, lalu dihajarkan kekepala suaminya.
Saat itu hati Tiong Ing penuh dengan rasa sesal dan duka. Dia tak mau berkelit atau menyingkir. Dengan meramkan mata, berserulah ia: “Ya, biarlah. Kita semua mati, ada lebih baik.”
Melihat kelakuan suaminya itu, tangan Ciu naynay ber balik lemas. Golok dilempar, terus lari keluar sambil tekap mukanya.
Sekarang kita tengok keadaan Lou Ping dan Ie Hi Tong yang telah meninggalkan Thiat-tan-chung itu. Karena kuatir kesamplokan dengan kuku garuda, mereka ambil jalan di jalan kecil yang sepi. Kira-kira berjalan sampai sepuluh li, haripun sudah gelap.
Daerah didekat perbatasan situ, memang sunyi senyap. Jangankan rumah penginapan, sedangkan rumah petanipun tak nampak barang sebuah. Syukur keduanya adalah orang-orang kangouw, yang sudah biasa dengan keadaan begitu. Tidak ada rumah, sebuah batu karang yang besarpun, boleh untuk tempat istirahat. Disekitar tempat itu, tumbuh beberapa gundukan rumput. Hi Tong lepaskan kudanya untuk makan rumput, lalu memakai golok Lou Ping untuk memotong beberapa genggam rumput, yang ditumpuknya selaku kasur diatas tanah. Katanya :
”Kini tempat tidur sudah ada, sayang masih kurang ran sumnya, dan tiada air pula. Maka untuk malam ini terpaksa kita harus tidur dengan perut kosong”.
Pikiran dan hati Lou Ping selalu pada suaminya. Sekalipun dihidangkan daharan yang lezat-lezat, juga tak dapat ditelannya. Ia terus menerus menepas air mata. Sedapat mungkin Hi Tong menghiburnya dengan mengatakan, bahwa Liok susiok nya tentu sudah sampai ke Ansee, dan bahw.asanya bala ban tuan Hong Hwa Hwee akan segera tiba untuk merampas kembali Bun Thay Lay.
Lama kelamaan terhibur jugalah hati Lou Ping dan ter tidurlah ia. Malam itu ia bermimpi berjumpa dengan sua minya, yang segera memeluk dan menciumnya dengan kasih mesra. Dengan penuh kegirangan, Lou Ping biarkan suaminya memelukinya dan tanyanya :
“Betapa kuselalu pikirkan dirimu, koko. Bagaimana de ngan lukamu?”
Bun Thay Lay makin memeluknya kencang-kencang dan menciumnya dengan bernapsu. Selagi semangat Lou Ping me layang 2, tiba-tiba ia terkejut dan bangun. Dibawah sinar kelap kelip dari bintang-bintang, yang memeluk badannya ternyata bukan suaminya tetapi Ie Hi Tong.
Bukan main kagetnya Lou Ping, ia meronta se-kuatnya, namun Hi Tong tetap memeluknya kencang-kencang dan katanya :
“0, betapa aku telah merindukan dikau !”
Karena malu dan gusar, Lou Ping segera menamparnya. Seketika itu Hi Tong termangu-mangu. Kembali Lou Ping men jotos dadanya, serta berontak melepaskan diri dari pelukan nya. Dengan gerak „lan-lu-bak-kun” keledai malas mengge lundungkan diri, ia bergelundungan kesamping terus akan melolos sepasang goloknya dari pinggang. Tapi ternyata golok itu telah diambil Hi Tong dan diletakkan disamping.
Kembali ia kaget, dan terus merogoh kantong huitonya, yang untungnya masih ada dua batang. Dengan menggeng gam ujung huito, ia berseru dengan kerennya: „Apakah maksudmu sebenarnya?”
“Suso, kau dengarlah perkataanku,” sahut Hi Tong.
”Siapa yang kau sebut suso itu? Pantangan dalam Hong Hwa Hwe itu bagaimana, coba kau bilang!” bentak Lou Ping.
Hi Tong tundukkan kepala, tak berani menyahut. Lou Ping walaupun biasanya selalu
tertawa riang, namun dia selalu pegang aturan dengan keras. Mana ia mau sudah diperlaku kan begitu macam, maka dengan suara bengis ia mendesak pula: „Locu dari Hong Hwa Hwe orang she apa?”
”Hong Hwa Hwe locu sebenarnya orang she Cu,” sahut Hi Tong.
“Apakah yang dijunyung oleh para saudara-saudara?” tanya pula Lou Ping.
“Pertama, menyunyung azas Tho Wan Kiat Gi (sumpah persaudaraan ditaman) dari Lauw Pi, Kwan Kong dan Thio Hwi. Kedua, memuja pada Ngo-kong-say-siang Ciong-ji-long (sumpah setia kawan). Ketiga, menghormat pada sepuluhdelapan orang gagah dari Liang-san,” sahut Hi Tong.
Kiranya tanya jawab tersebut adalah merupakan anggar2 yang penting dari Hong Hwa Hwe. Setiap ada anggauta baru masuk, mengadakan pengangkatan sumpah atau menyatuh kan hukuman partai, maka datanglah orang pimpinan atas untuk melakukan tanya jawab secara serieus. Orahg-orang sebawahan yang tersangkut, harus menyawabnya.
Dalam HONG HWA HWE Lou Ping menempati kedudukan yang lebih atas dari Hi Tong. Ia bertanya, sekalipun bagaimana rasa hati Hi Tong, tapi dia tak boleh tidak harus memberi ja waban. Kembali Lou Ping bertanya :
”Apakah keempat macam golongan orang yang akan di basmi oleh HONG HWA HWE?”
“Kesatu: kawanan budak pem. Boanciu. Kedua: pembesar rakus pemeras rakjat. Ketiga: segala okpa dan wangwe penindas. Keempat: Orang yang temaha kekajaan dan melu pakan kebajikan.”
Lou Ping kerutkan jidatnya sejenak, lalu serunya kembali :
“Apakah larangan (pantangan) besar dari HONG HWA HWE ?”
“Siapa yang menakluk pada Cengtiau, siapa yang meng hina pada pimpinan atas, siapa yang menghianati kawan, siapa yang kemaruk harta gemar paras cantik
akan. menerima hukuman mati.”
“Kalau kau insjaf, lekas-lekas jalankan „sam-to-liok-tong,” akan kuantarkan kau kepada saothocu. Kalau tidak insjaf, kau melarikan diri saja, agar jangan sampai tertangkap oleh Cap-ji-long Kwi Kian Chiu,” kata Lou Ping kembali.
Menurut peraturan HONG HWA HWE, barang siapa yang berbuat kesalahan besar, dan telah menginsjafinya, dimuka sidang dewan pimpinan boleh menyalankan hukuman: tusuk paha tiga kali. Tusukart itu harus menembus kedaging. Inilah yang dinamakan sam-to-liok-tong, tiga golok enam lubang. Habis itu harus menghaturkan maaf pada tho-cu daerah dan hiang-cu yang menyalankan hukuman itu. Apabila dosanya me mang besar sekali, pun sukar untuk mendapat keampunan.
Kwi Kian Chiu sebenarnya orang she Ciok nama Siang Ing. Dalam HONG HWA HWE dia menduduki tempat ke duabelas. Tugasnya chusus untuk memimpin sidang pemeriksaan hukuman. Hati nya dingin tak kenal kasihan, tangannya kejam. Seorang yang berdosa, takkan lolos dari tangannya, sekalipun dia hendak lari keudiung langit. Karenania berouluh ribu ang gauta HONG HWA HWE (Hong Hwa Hwe) bila mendengar nama Kwi Kian Chiu atau setanpun takut melihatnya, tentu merasa seram.
Boleh dikata anggauta HONG HWA HWE semua adalah orang-orang gagah dari kalangan Sungai Telaga. Kalau mereka tidak mengada
kan aturan-aturan partai yang keras, tentu tak dapat menguasai sekean banyak anggautanya.
Tatkala itu berkatalah Hi Tong dengan serta merta : “Kau bunuh sajalah aku! Aku akan puas mati ditanganmu.”
Mendengar itu, makin meluaplah kemarahan Lou Ping. Ia anggap Hi Tong tetap ngelantur.
”Kau tak meng'etahui bag'aimana dalam lima enam tahun ini, aku selalu menderita karena kau. Pada waktu aku mengangkat sumpah dipeseban Cong-hiang-tong, begitu pertama kali kumelihat kau, hatiku sudah bukan menyadi milikku lagi,” kata Hi Tong, lebih jauh.
”Itu waktu masa kau tak tahu bahwa aku sudah menyadi kepunyaan Bun suko?” tanya Lou Ping.
”Memang benar. Namun aku tak dapat menguasai diriku lagi. Karena itulah maka aku selalu jauhkan diri. Ada apa saja, tentu aku minta cong-tho-cu untuk menyuruh aku saja yang mengerjakan. Lain-lain saudara anggap betuis aku menyual jiwa untuk perkumpulan, karenanya aku mendapat banyak penghargaan. Tapi hal yang sebenarnya, aku hanya berusaha menyauhkan diri darimu. Namun dimana saja kuberada, pikiranku selalu ada padamu.”
Habis berkata itu, Hi Tong menyingkap lengan bajunya yang kiri, sembari maju
selangkah, dia berkata pula :
“Aku benci diriku, mengutuknya pula mengapa hatiku seperti binatang. Pada saat aku marah itu, segera kupaksa badis untuk menusuk lenganku ini. Kau lihatlah.”
Diantara sinar remang-remang dari bintang-bintang, tampak lengan Hi Tong itu penuh dengan bekas luka tusukan. Demi menampak itu, lemaslah hati Lou Ping.
Melihat bagaimana bibir Lou Ping ber-gerak-gerak, seperti sukar untuk mengucap, tahulah Hi Tong bahwa wanita pujaannya itu tergerak hatinya. Dia ulurkan tangan untuk menarik tangan Lou Ping, tapi yang tersebut belakangan ini cepat-cepat mundur selangkah, dan tundukkan kepala tak berkata apa-apa.
„Seringkali aku sesalkan Tuhan, mengapa tak memper temukan kita pada sebelum kau menikah. Dan mengapa kini menitahkan aku bertemu padamu? Baik usia dan rupa, kita berdua sembabat sekali. Kiranya jauh lebih baik kau ikut aku daripada Bun suko,” Hi Tong meraju.
Sebenarnya Lou Ping mengasihani penderitaan anak muda itu, tapi waktu dengar nama suaminya dibawa-bawa, marahlah ia.
”Bun suko? Dalam hal apa kau nempil dengan Bun suko?
Dia adalah seorang hohan yang berambekan tinggi, tidak seperti kau begini “
Lou Ping tak mau lanyutkan kata-kata untuk memaki orang. Dengan perdengarkan suara jemu, dengan berpincangan ia menghampiri kudanya, terus naik keatasnya. Hi Tong Buru-buru menghampiri untuk bantu menaikkannya, tapi dibentak Lou Ping yang menyuruhnya menyingkir.
“Suso, kau hendak kemana ?'“ tanya Hi Tong hampa.
“Tak perlu kau tahu. Suko sudah tertangkap, akupun tak mau hidup lagi kembalikan golokku itu,” kata Lou Ping.
Dengan tundukkan kepala, Hi Tong serahkan golok wan yang-to pada Lou Ping. Melihat sikap Hi Tong yang seperti orang hilang pikiran itu, timbullah rasa kasihan Lou Ping, lalu katanya :
“Asal selanyutnya kau bekerja sungguh-sungguh untuk perkum puian, soal tadi takkan kuceritakan pada siapapun juga. Akupun akan berusaha sekuat-kuat untuk bantu mencarikan seorang nona yang cantik dan kosen untukmu !”
Habis mengucap, dengan perdengarkan ketawanya, Lou Ping terus keprak kudanya. Memang sifat suka ketawa dari Lou Ping sukar dirobah, dan inilah yang membikin celaka Hi Tong. Dia kira, dengan ketawa itu Lou Ping masih memberi kemungkinan harapan. Lama dia awasi bajangan orang yang dipujanya dengan tegak berdiri. Pikirannya me-layang-layangjauh tak keruan.
Setelah berjalan sementara jauhnya, bimbanglah hati Lou Ping. Menuju kebarat untuk menggabungkan diri dengan bala bantuan HONG HWA HWE, atau ketimur untuk menolong suaminya. Dalam keadaan menderita luka, terang ia tak kan dapat menolong suaminya. Tapi kalau ia menuju keba rat, sedang suaminya dibawa makin lama makin jauh kearah timur, hatinya tak tega. Dalam kebimbangannya itu, ia melarikan kudanya tanpa tujuan tertentu. Kira-kira berjalan dapat delapan li jauhnya, karena percaya Hi Tong bakal tak sampai dapat mengganggu, ia lalu cari tempat meneduh dan tidur disitu.
Sejak kecil mengikut ayahnya Lou Gwan Thong, dan setelah menikah turut suaminya Bun Thay Lay, keduanya jago- yang bugenya menggetarkan orang, dan begitu sayang padanya. Karena itu selama di Rimba Persilatan, Lou Ping hanya selalu mengalami pertempuran dan menang, tak per nah ia menderita kekalahan. Kali ini betul-betul ia mengalami kegoncangan hati yang hebat. Suami tertangkap, ia sendiri terluka, tambahan pula dipermainkan Ie Hi Tong. Memikir sampai disitu, ia menangis tersedu-sedu. Sampai sekean lama, barulah ia tertidur. Malam itu badannya panas, dan tak putus-'nya menggigau minta minum.
Keesokan harinya, penyakitnya tambah berat. Ia paksakan diri untuk bangun, tapi rasanya kepala seperti mau pecah, maka terpaksa berbaring lagi. Sampai matahari selam, ia merasa haus dan lapar, namun ia tak kuasa untuk naik keatas kudanya.
Kalau mesti mati disini masih tak mengapa, tapi sungguh kecewa sekali, aku tak dapat berjumpa dengan Bun toako lagi. Demikian ratapnya.
Tiba-tiba matanya terasa berkunang-kunang dan terus jatuh pingsan. Entah sudah berselang berapa lama, ketika tersedar didengarnya orang berkata : “Ah, sudah mendusinlah seka-rang !”
Seorang gadis yang matanya lebar, kehitam-hitaman kulitnya, alisnya tebal dan kira-kira berusia 1delapan tahun nampak girang ketika tahu Lou Ping sudah bangun. Ia suruh seorang buyang nya untuk memberikan bubur pada Lou Ping, siapa pun terus memakannya. Setelah semangatnya sudah banyak segaran, Lou Ping haturkan terima kasih serta menanyakan nama penolongnya.
”Aku she Ciu, kau mengasohlah lagi. nanti kita omong-omong pula,” sahut gadis itu sambil meninggalkan ruangan itu.
Ketika Lou Ping bangun lagi ternyata hari sudah malam. Tiba-tiba didengarnya ada seorang wanita berkata :
“Mereka sangat tak pandang mata pada kita, begitu berani menggeledah Thiat-tan chung, biarlah aku yang memberi hajaran dulu”.
Mendengar itu, terkejutlah Lou Ping. Masa ia berada di Thiat-tan-chung lagi? Saat itu masuklah dua orang, yang ternyata adalah gadis itu dan seorang buyang . Ketika gadis itu menyingkap kelambu, Lou Ping pura-pura meremkan mata. Gadis itu segera menuju ketembok untuk mengambil golok. Lou Ping kaget, tapi segera ia girang setelah mengetahui wan-yang-tonya terletak diatas meja dekat pembaringannya situ. Kalau gadis itu berani menyerang, ia akan dului dengan sebuah tabasan, dan terus akan merat pergi.
”Siocia kau tak boleh meneryang bahaja lagi, loyacu (majikan tua) kini lagi bersusah hati, jangan kau mem buat ia marah”, tiba-tiba buyang itu berkata.
Kini tahulah Lou Ping, bahwa siocia itu adalah puterinya. Ciu Tiong Ing. Memang benar dialah puteri Tiong Ing yang bernama Ciu Ki. Tabiatnya seperti sang ayah, gemar belajar bugee, dan suka memberantas hal2 yang tidak adil. Kalangan bulim (persilatan) daerah barat utara memberinya gelaran sebagai „Kiu Li Kui.” Li Kui adalah salah seorang pahlawan Liangsan yang berangasan adatnya. Hari itu setelah memukul roboh seseorang, ia tak berani pulang. Baru besoknya setelah kemarahan ayahnya sudah reda, pulanglah ia. Ditengah jalan dilihatnya Lou Ping terlantar ditanah, maka terus dibawanya pulang.
Mendengar kata-kata buyang nya itu, Ciu Ki merandek seben tar, tapi ia tak ambil perduli, terus lari keluar, diikuti oleh sang buyang . Lou Ping karena merasa semangatnya sudah pulih kembali, terus bergegas-gegas turun dari pembaringan dan mengenakan pakaian. Lebih dulu ia “gasak” sebiji bahpao yang berada diatas meja, dan dua biji lagi ia masukkan kedalam kantong, lalu menyelinap keluar.
Mengetahui tempat itu berbahaja, Lou Ping mengambil
Thiat-tan-chung sudah akan menghadapi kemusnaan, mengapa masih mau berlagak,” kata Siu Ho dengan tertawa dingin.
Memang sedari Bun Thay Lay tertangkap, hati Beng Kian Hiong selalu kuatirkan Thiat-tan-chung akan terembet. Kini mendengar ucapan Siu Ho itu, dia Buru-buru memberita hukan pada Tiong Ing. Dengan menenteng senyata thiat-tan, keluarlah Tiong Ing dengan gusarnya.
“Siapa yang bilang Thiat-tan-chung akan musna, lohu akan minta pengajaran padanya,” teriak jago tua. itu segera sesudah berhadapan dengan tamunya.
Ban Khing Lan Buru-buru mengeluarkan sehelai surat lalu diletakkan diatas meja, lalu katanya :
“Ciu lounghiong, silahkan baca.”
Sembari berkata itu, orang She Ban tersebut. masih menekan ujung surat itu, seakan-akan dia kuatir Tiong- Ing akan me rampasnya. Begitu melihatnya, ternyata Tiong Ing mengetahui bahwa surat itu adalah surat Liok Hwi Ching kepadanya yang meminta pertolongan supaja sukte. memberi perlindung an pada Bun Thay Lay bertiga. Surat itu didapatinya dari dalam baju Bun Thay Lay, sewaktu dia digeledah.
Swi Tay Lim sebagai orang kangouw kawakan, segera tahu siapa Liok Hwi Ching itu. Dialah” juga seorang pesa kitan negara yang penting. Kini ternyata mempunyai hubung an dengan orang-orang Thiat-tan-chung. Kaki tangan penjajah itu, orang-orang yang termaha uang dan banyak akal, mereka tak mau laporkan pada fihak atasan, tapi akan mendatangi Ciu Tiong Ing untuk memerasnya. Dan uang itu akan dibaginya rata. Mereka jakin tentu Tiong Ing mudah dikeruk uangnya.
Oleh karena Seng Hing, Swi Thay Lim dan lain-lain. adalah orang-orang yang ada nama pada pemerintah, maka mereka segan untuk menonyolkan diri. Dan untuk keperluan itu, disuruhnya Ban Khing Lan dan Tong Siu Ho berdua yang mengerjakan.
Melihat surat itu, agak terkesiap juga Tiong Ing, tanya nya: „Bagaimana maksud kalian ?”
“Kita sangat hargakan akan nama Cioe loenghiong yang harum itu. Apabila surat ini sampai jatuh ketangan fihak atasan, tentunya loenghiong akan maklum sendiri akibatnya.
Kawan-kawan kita berpendapat, akan mengikat tali persahabatan dengan loenghiong. Pertama akan membakar surat ini, ke dua takkan melaporkan pada fihak atasan bahwa loenghiong ternyata bantu melindungi Bun Thay Lay”, Ban Khing Lan mulai mainkan lidahnya.
“Sungguh aku merasa berterima kasih pada saudara-saudara sekalian,” Buru-buru Tiong Ing berkata.
Setelah omong-omong beberapa hal lagi, maka dengan secara tak langsung berkatalah Ban Khing Lan:
„Hanya kali ini kita keluar, telah menggunakan banyak sekali ongkos-ongkos perjalanan sehingga kita tertindih dengan hutang. Kita harap dengan memandang pada sesama golo ngan persilatan, loenghiong suka memberi sedikit bantuan. Untuk itu sungguh kita berSyukur sekali.”
”Hm,” jengek Tiong Ing sembari menangkat alisnya demi mengetahui apa maksud orang.
„ltu tak berjumlah banyak, hanya enam atau tujuh laksa tail perak. Di tempat ini Ciu loenghiong mempunyai sawah dan tanah yang luas sekali. Jumlah yang sedemikian kecil itu, dirasa tentu tak menyadi soal,” demikian Ban Khing Lan menambahi pula.
Mengetahui dirinya akan dipelecet, marahlah Tiong Ing seketika, serunya :
“Jangan lagi memang aku tak punya uang begitu banyak, sekalipun punya juga akan kuperuntukkan mengikat tali persahabatan dengan orang-gagah yang mempunyai ambek perwira.”
Dengan kata-katanya itu, bukau saja menolak, tapi pun ber arti mendamprat orang. Tong Siu Ho hanya tertawa dan katanya :
“Memang kita ini golongan siaojin (kaum rendah) yang tak punya guna. Untuk membangun sebuah daerah semacam
Thiat-tan-chung, terang kita tak mampu. Namun kalau disuruh membumi hanguskan “
Belum habis kata-kata itu diucapkan, seseorang menobros masuk dan membentak nyaring : “Ayolah, nonamu justru ingin melihat cara bagaimana kau hendak menghancurkan Thiat-tan-chung ini.”
Orang ini ternyata adalah Kiao Li-Kui Ciu Ki adanya.. Tiong Ing mengedipkan mata, terus menuju keluar ruangan diikuti oleh puterinya. Dia membisiki beberapa patah kata didekat telinga Ciu Ki :
“Kau bisiki Kian Hiong dan Kian Kong, kedua kuku garuda ini jangan sampai bisa keluar dari Thiat-tan-chung.”
“Bagus, makin mendengarkan pembicaraan mereka, makin menarik,” Ciu Ki tampak gembira karena bakal bisa melabrak orang.
Setelah Tiong Ing kembali kedalam, berkatalah Ban Khing Lan :
“Karena Ciu loenghiong tak menyukai kedatangan kita, maka kitapun akan berlalu.”
Habis berkata begitu, dia segera robek- surat Liok Hwi Ching tadi. Ciu Tiong Ing tertegun dibuatnya, karena tak mengira orang she Ban itu akan berbuat begitu, Malah orang tersebut berkata dengan tenang :
”Ini sebenarnya hanya turunannya saja. Biar kurobek saja, agar jangan dilihat orang. Aselinya berada ditangan Thio taijin.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar