Minggu, 22 April 2012

Duel 9. Sabuk2 Yang Membawa Masalah

Tanggal 15 bulan sembilan, siang hari. Sinar matahari tampak berkilauan saat menyinari kota itu. Liok Siau-hong berjalan keluar dari Jalan Ikan Mas dan mulai menelusuri jalan raya yang kuno tetapi tetap ramai itu. Walaupun ia tidak tidur malam sebelumnya, ia masih tampak penuh energi dan semangat.

Laki-laki dan perempuan berjalan mondar-mandir di jalanan dan pedagang besar dan kecil di kedua sisi jalan sedang sibuk menawarkan barang dagangannya. Walaupun ia lebih sering terlibat dalam masalah daripada yang bisa ia hitung, hatinya tetap dipenuhi oleh perasaan gembira. Karena ia menyukai manusia.

Ia menyukai wanita, ia menyukai anak-anak, ia suka bersahabat, ia selalu punya hati yang dipenuhi oleh kehangatan untuk semua orang. Orang-orang pun banyak yang menyukai dirinya. Pakaian di badannya mungkin agak kotor, tapi matanya tetap bersinar-sinar, ia tetap berdiri tegak dan bangga seperti sebelumnya. Wanita mana pun, dari usia 14 hingga 40 tahun, sekali melirik dirinya, diam-diam tentu akan meliriknya lagi untuk kedua kalinya.

Ia telah melepaskan sabuk-sabuk yang terlilit di pinggangnya dan meletakkannya di atas pundaknya. Dari 6 sabuk sutera, dia telah memberikan 2, satu pada Lau-sit Hwesio, satu lagi pada Tong Thian-ciong.

Sekarang ia hanya berharap dapat menyingkirkan ke-4 sabuk sisanya sesegera mungkin. Satu-satunya pertanyaan yang menghalang adalah ia tidak tahu kepada siapa ia harus menyerahkan sabuk-sabuk itu. Di depan sana ada sebuah pertunjukan topeng monyet yang baru saja hendak dimulai dan anak-anak segera mengerumuninya.

Seorang laki-laki tua berambut perak, sambil bertopang pada sebatang tongkat, berjalan perlahan-lahan keluar dari sebuah toko obat dan hampir ditabrak jatuh oleh dua orang anak kecil yang sedang berlari-lari ke tempat pertunjukan topeng monyet itu.

Liok Siau-hong segera berlari menghampiri dan memapahnya, mencegahnya jatuh.

“Bagaimana keadaanmu, Tuan?” Ia tersenyum.

Laki-laki tua itu terbungkuk-bungkuk, sambil berusaha mengambil nafas. Tiba-tiba, ia memalingkan kepalanya ke arah Liok Siau-hong, mengedipkan mata, menjulurkan lidahnya, dan membuat muka setan.

Liok Siau-hong terheran-heran. Ia sudah banyak melihat kejadian-kejadian aneh, tapi belum pernah dia bertemu laki-laki tua yang membuat muka setan pada dirinya.

Waktu ia akhirnya memperhatikan mata laki-laki tua itu, ia pun hampir menjerit. Sukong Ti-sing! Ternyata laki-laki tua ini sebenarnya adalah samaran si Raja Pencuri yang tiada tanding dan tiada banding itu.

Walaupun dia berusaha untuk tidak menjerit, dia lalu mengerahkan sedikit tenaga di tangannya dan menjepit lengan atas si raja maling dengan keras.

“Bajingan kecil, kau pun muncul juga?” Ia berkata dengan suara yang rendah.

“Hehe, karena bajingan besar sepertimu telah muncul, mengapa bajingan kecil sepertiku pun tidak boleh berada di sini?”

Liok Siau-hong menambah sedikit tenaga lagi dalam jepitannya: “Kau hendak mencuri salah satu sabuk suteraku?”

Wajah Sukong Ti-sing berkerut-kerut karena kesakitan dan dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan marah.

“Tidak?”

“Tidak, aku benar-benar tidak mengincar sabuk suteramu itu.”

Melihat tampangnya, Liok Siau-hong akhirnya melepaskan jepitannya dan tersenyum.

“Kau sudah berganti profesi?”

“Tidak!” Sukong Ti-sing menjawab, ia menghela nafas dan menggosok-gosok pundaknya itu.

“Jika kau belum berganti profesi, lalu mengapa kau tidak mencuri?”

“Aku sudah punya satu, mengapa aku masih harus mencuri satu lagi?”

“Apa yang sudah kau punyai?”

“Sehelai sabuk sutera.”

Liok Siau-hong terdiam sebentar.

“Kau sudah punya sehelai sabuk sutera?”

“Ya.”

“Dari mana kau mendapatkannya?”

Sukong Ti-sing tersenyum.

“Aku baru saja mengambilnya dari seorang teman.”

“Dan teman itu adalah aku?”

Sukong Ti-sing menghela nafas: “Kau tahu bahwa aku tidak mempunyai teman sebanyak itu.”

Liok Siau-hong tersentak dan mengulurkan tangannya, berusaha mencengkeram tangan Sukong Ti-sing lagi.

Tapi Sukong Ti-sing tidak mau membiarkan dirinya mencengkeram tangannya lagi dan ia segera berlari menjauh.

“Dari empat helai sabuk yang ada padamu, aku hanya mengambil satu, itu berarti aku sudah cukup bermurah hati, apakah kau tidak puas?” ia bertanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Liok Siau-hong menatapnya dengan marah, tapi kemudian tiba-tiba ikut tertawa pula.

“Dulu kukira kau adalah orang yang cerdas, tapi ternyata kau hanya orang tolol!”

Sukong Ti-sing mengedip-ngedipkan matanya, menunggu apa yang hendak dia katakan selanjutnya.

“Apakah kau telah bertanya pada dirimu sendiri mengapa aku seenaknya saja membawa-bawa sabuk sutera ini jika sabuk-sabuk ini adalah sabuk-sabuk sutera yang sesungguhnya?”

“Apakah sabuk sutera ini palsu?” Sukong Ti-sing hampir menjerit.

Liok Siau-hong mengedipkan mata padanya, menjulurkan lidahnya, dan balas membuat muka setan pada dirinya.

Sukong Ti-sing berdiri tertegun di sana selama beberapa saat dan kemudian, seperti main sulap, mengeluarkan sabuk sutera itu dari dalam lengan bajunya.

“Tampaknya sabuk ini benar-benar palsu.” Ia bergumam.

Liok Siau-hong tertawa.

“Aku tahu kau selalu mengatakan tidak pernah mencuri barang palsu, tapi siapa yang menduga kalau hari ini adalah hari di mana kau berhasil diperdayai orang.”

“Tolong jangan ceritakan pada siapa pun tentang hal ini, kau akan menghancurkan reputasiku.”

“Kau mencuri dariku, dan aku tidak boleh bercerita pada orang lain tentang hal itu?” Liok Siau-hong merenung.

“Bagaimana jika aku mengembalikannya?”

“Jika kau mengembalikannya, aku tetap akan bercerita pada orang-orang. Raja Maling telah mencuri barang palsu! Semua pencuri bawahanmu tentu akan tertawa terbahak-bahak hingga gigi mereka copot bila mereka mendengar tentang hal ini!”

“Bagaimana jika aku mengembalikan sabuk sutera ini padamu dan kemudian mengundangmu makan besar?”

Liok Siau-hong bimbang dan pura-pura menimbang-nimbang tawaran itu.

“Ini patut dipertimbangkan, tapi tergantung makanan macam apa yang akan kau suguhkan padaku.”

“Sirip ikan yang dimasak dalam saus kacang, ditambah dengan dua ekor bebek yang gemuk dan besar, bagaimana menurutmu?”

{Catatan: Karena mereka berada di Beijing, dua ekor bebek yang disebut Sukong Ti-sing itu, tentu saja, bebek Peking}

Liok Siau-hong tampaknya tidak begitu yakin, akhirnya, setelah banyak pertimbangan, ia mengangguk juga. Kenyataannya, ia hampir terbahak-bahak di dalam hatinya dan berguling-gulingan di tanah, ia sudah hampir mati ketawa.

-- Akhirnya, ia berhasil memperdayai bajingan kecil ini. Melihat Sukong Ti-sing mengangsurkan sabuk sutera itu padanya dengan demikian hormat dan sopan, ia hampir tak bisa menahan tawanya. Ia bukan saja hampir bergulingan di tanah sambil tertawa terbahak-bahak, ia pun rasanya ingin berjungkir-balik.

Tapi kemudian, secara tak terduga, Sukong Ti-sing tiba-tiba menarik kembali sabuk sutera itu.

“Tidak, tak bisa jadi!” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apanya yang tak bisa jadi?” Liok Siau-hong segera bertanya.

“Bebek-bebek itu terlalu gemuk, dan sirip ikan terlalu berminyak. Jika kau makan terlalu banyak, kau akan sakit perut. Kita kan sahabat lama, aku tidak bisa melakukan itu pada seorang sahabat lama!”

Liok Siau-hong tertegun sekali lagi.

Sukong Ti-sing mengedip-ngedipkan matanya.

“Di samping itu, aku baru saja teringat sesuatu. Mendapatkan sabuk palsu kan masih lebih baik daripada tidak mendapat sabuk sama sekali, bagaimana menurutmu?” Ia tampaknya juga sedang berusaha amat keras untuk menahan ledakan tawanya sebelum akhirnya melepaskannya sambil bersalto tiga kali dan melompat ke atas atap sebuah bangunan. Masih sambil tertawa, ia pun melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan pada Liok Siau-hong dan tiba-tiba menghilang begitu saja.

Perut Liok Siau-hong hampir meledak karena marahnya.

“Aku bersumpah, bajingan kecil itu adalah musuhku. Aku tidak mendapat apa-apa selain nasib buruk setiap kali bertemu dengannya.” Ia bergumam dengan gigi yang dikertakkan.

Ia bahkan belum selesai bicara ketika tiba-tiba ia menyadari bahwa anak-anak kecil yang tadinya menonton pertunjukan topeng monyet itu sekarang sedang mengerumuninya. Setiap pasang mata mereka sedang memandangnya, seakan-akan mereka merasa bahwa dirinya jauh lebih menarik daripada pertunjukan monyet kecil itu.

“Mengapa kalian tidak menonton monyet di sana itu?” Liok Siau-hong hampir tak bisa memasang muka kaku, karena ia menyadari nada ironi dalam ucapannya itu.

Satu orang bocah menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Monyet itu tidak lucu, kau yang lucu.”

Liok Siau-hong tidak tahu apakah dia harus tertawa ataukah marah.

“Apa yang lucu denganku?” Ia terpaksa bertanya.

“Kau bersahabat dengan kakek tadi, kau tentu juga tahu caranya terbang.”

Liok Siau-hong akhirnya faham, bocah-bocah ini berkumpul di sekelilingnya untuk melihatnya terbang.

Anak-anak itu semuanya mulai berseru dan memohon: “Tuan, bisakah kau terbang untuk kami? Tolonglah!”

Liok Siau-hong menghela nafas, tapi tiba-tiba ia kemudian tertawa kecil mengingat kejeniusan dirinya sendiri.

“Aku akan mengajarkan kalian sebuah lagu pendek, dan jika kalian menyanyikannya untukku, aku akan terbang untuk kalian. Bagaimana?”

Semua bocah itu segera bertepuk-tangan dengan senang.

“Ya, kami akan bernyanyi, kami akan menyanyikannya setiap hari mulai sekarang!”

Liok Siau-hong segera duduk untuk mengajari anak-anak itu lagu berikut:

“Sukong Ti-sing, si siluman monyet.
Siluman nakal, juga bajingan yang busuk.
Bajingan yang jahat sekali, patut mendapat pukulan di pantat.”

Bocah-bocah ini adalah pelajar yang baik, mereka segera hafal lagu tersebut dan mulai menyanyikannya sekeras-kerasnya, bernyanyi tiada hentinya.

Semakin lama Liok Siau-hong mendengarkan lagu ini, semakin lucu rasanya. Segera dia terbungkuk-bungkuk sambil tertawa terbahak-bahak. Maka, dia pun lalu bersalto tiga kali, mendarat di atas atap sebuah bangunan, dan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan pada anak-anak itu.

“Jika kalian menyanyikan lagu ini kapan pun kalian bisa, aku akan datang kembali dan terbang untuk kalian kapan pun aku bisa!” Ia berseru di tengah-tengah deraian suara tawanya.

______________________________

Benar saja, satu sabuk telah berkurang dari 4 sabuk yang tadinya berada di atas pundaknya. Bahkan Liok Siau-hong pun terpaksa mengakui bahwa Sukong Ti-sing benar-benar hebat, siluman monyet kecil itu mampu mencuri sesuatu dari Liok Siau-hong tepat di depan hidungnya sendiri.

Semula ia merasa perutnya hampir meledak karena marahnya, lalu hampir meledak karena tawanya, tetapi sekarang ia hanya merasa kekosongan di dalam perutnya. Ia amat kelaparan. Untunglah baginya, saat itu sudah tiba waktunya makan siang. Terdengar dari semua rumah makan, baik besar atau pun kecil, dentingan suara pisau dan peralatan dapur saat mereka mempersiapkan berbagai jenis masakan. Bahkan orang-orang yang tidak lapar pun akan segera lapar saat mendengarnya. Jika ia tidak makan besar sekarang juga, perutnya yang tadi hampir meledak karena marah dan kemudian hampir meledak karena tawa mungkin akan segera mengempis karena kelaparan.

“Bawakan aku sepiring besar Ang-sio-hi-sit, seekor bebek goreng, sekilo biskuit, dan selain itu, berikan aku satu setengah kilo arak Tiok-yap-jing dan 4 jenis masakan lain yang cocok dicicipi bersama arak.”

Ia pergi ke rumah makan terdekat, mengambil meja terdekat, memesan 8 jenis lebih masakan yang teringat di kepalanya, dan menunggu.

Tidak satu pun dari 8 macam masakan itu yang sudah tiba, tapi dari luar sana telah berdatangan beberapa orang. Orang yang di depan mengenakan pakaian sutera terbaik dan bersikap seakan-akan dialah orang yang memiliki tempat itu. Walaupun sudah ada sedikit uban di kepalanya, ia masih berpakaian seperti seorang pemuda. Di sekeliling pinggangnya terlilit sehelai sabuk giok yang bertatahkan kristal-kristal yang amat besar dan bahkan jamrud-jamrud yang lebih besar lagi ukurannya. Sabuk itu saja sudah tak ternilai harganya, tapi pedang yang terikat pada sabuk itu jauh lebih berharga daripada sabuk itu sendiri.

Di belakangnya ada segerombolan pemuda yang tampak angkuh luar biasa, masing-masing berpakaian lebih mentereng daripada yang lain dan mereka semua tampaknya telah memasang matanya tinggi-tinggi di atas kepala. Tapi setiap orang dari mereka bergerak dengan lincah dan gesit yang menunjukkan bahwa mereka semuanya cukup ahli dalam ilmu kungfu.

Orang-orang ini berjalan masuk, melirik sekilas pada Liok Siau-hong, dan duduk bergerombol di meja terbesar. Walaupun mereka tidak memandang orang lain, seakan-akan semua orang tiada harganya untuk dilihat oleh mereka, setidaknya mereka sesekali masih melirik Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong tidak mengalihkan perhatiannya pada mereka, tapi dia masih bisa mengenali pedang yang terikat pada sabuk giok itu.

Sebatang pedang yang bersarungkan kulit ikan hitam dengan mulut terbuat dari emas putih, sebatang pedang yang berbentuk amat aneh dan berukuran luar biasa panjang. Bersama dengan rumbai-rumbainya yang berwarna merah darah, ada dua buah patung ikan yang terbuat dari giok putih murni. Siapa saja yang mengenali pedang ini tentu juga akan mengenali orang yang membawa pedang itu.

Laki-laki setengah umur berpakaian sutera itu, tentu saja, tidak lain daripada majikan Tiang-lok-san-ceng, di Telaga Ikan Kembar, Houciu, di daerah Kanglam, Thian-peng-kiam-khek Suma Ci-ih. Emas Lamkiong, Perak Auyang, Giok Suma. Ungkapan itu khusus ditujukan pada tiga keluarga besar yang kaya-raya di dunia persilatan.

Giok selalu dipandang sebagai permata yang paling berharga di antara ketiganya, maka Tiang-lok-san-ceng, tidak diragukan lagi, merupakan yang terkaya dan termegah di antara ketiganya. Di samping kungfu warisan keluarga yang dia miliki, Suma Ci-ih juga merupakan satu-satunya murid Thi-kiam-siansing yang termasyur puluhan tahun yang lalu. Dulu dia adalah seorang pemuda yang menonjol baik dalam bidang akademis maupun kungfu, ditambah dengan harta warisan keluarganya yang terkenal, dan hasilnya adalah ia telah termasyur ke seluruh dunia sebelum usianya mencapai duapuluh tahun. Walaupun sekarang ia telah memasuki usia setengah baya, ia masih memiliki keangkuhan dan sikap seperti di masa mudanya serta wajah yang tampan.

Bisa melihat seorang laki-laki di masa jayanya adalah sebuah peristiwa yang amat menyenangkan, tapi Liok Siau-hong lebih suka memasang pandangannya pada sepiring Ang-sio-hi-sit.

Sirip ikan itu dimasak dengan baik, dan araknya pun memiliki suhu yang pas. Liok Siau-hong mengambil sumpitnya dan baru saja hendak mulai makan saat ia melihat seorang pemuda berpakaian ungu, dengan sepasang patung ikan yang terbuat dari giok putih menggantung di pedangnya, berjalan ke arahnya.

Liok Siau-hong menghela nafas sendiri. Masalah kembali datang padanya. Maka dia segera, sebelum pemuda itu tiba di dekatnya, menyumpal mulutnya sendiri dengan sirip ikan.

Dengan tangan di pedang, pemuda itu beberapa kali memperhatikan Liok Siau-hong dari atas ke bawah dengan pandangan yang dingin, sebelum akhirnya ia merangkap tangannya sebagai tanda memberi hormat: “Tuan tentu Liok Siau-hong.”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Aku Oh Jing, dari Houciu, Tiang-lok-san-ceng di Telaga Ikan Kembar. Yang duduk di sana itu adalah suhuku. Kufikir Tuan tentu telah tahu.”

Liok Siau-hong mengangguk lagi.

“Tidak bermaksud mengganggu semak belukar, Suhu menyuruhku datang ke sini untuk meminta Tuan meminjamkan sabuk di pundakmu itu dan juga mengundang Tuan untuk minum bersamanya.”

Kali ini Liok Siau-hong tidak mengangguk, ia pun tidak menggelengkan kepalanya, ia malah menunjuk mulutnya sendiri. Ia belum menelan sirip ikan itu, maka tidak mungkin ia bisa bicara.

Oh Jing mengerutkan keningnya. Walaupun kelihatannya dia telah kehilangan kesabarannya, yang bisa dia lakukan hanyalah berdiri di sana dan menunggu Liok Siau-hong selesai mengunyah.

“Tuan bisa memberiku sabuk itu sekarang juga jika Tuan mau. Jika Tuan ingin menyimpan satu untuk Tuan sendiri, itu juga boleh.” Ia mengajukan tawaran saat Liok Siau-hong mengunyah sirip ikan itu. Kelihatannya dia sudah mulai marah.

Ia bersuara seolah-olah ucapannya itu bukan apa-apa, seakan-akan kenyataan bahwa ia telah membuka mulutnya itu telah amat banyak memberi muka pada Liok Siau-hong.

Dengan tenang-tenang saja Liok Siau-hong menelan sirip ikan itu, lalu menghirup araknya sekali sebelum mengeluarkan desahan puas. Lalu dia melemparkan sebuah senyuman pada Oh Jing.

“Aku telah lama mengagumi kemasyuran dan reputasi Suma-loya, dan aku amat berterimakasih atas maksud baik dan keramahan Suma-loya. Sedangkan sabuk itu......”

“Bagaimana dengan sabuk-sabuk itu?”

“Kalian tidak bisa meminjamnya.” Liok Siau-hong menolak tawaran itu dengan santai.

Ekspresi wajah Oh Jing tampak tertekuk dan ia segera mencengkeram pedangnya. Tapi Liok Siau-hong bahkan tidak meliriknya dan dia pun mengambil sebuah sirip ikan lagi dan mulai mengunyahnya dengan hati-hati di dalam mulutnya, sambil menikmati rasanya.

Oh Jing memandangnya dengan marah dan urat-urat darah di punggung tangannya tampak berdenyut-denyut, seakan-akan dia telah bersiap-siap untuk menghunus pedangnya. Tapi Tiba-tiba seseorang terbatuk beberapa kali di belakangnya.

“Seharusnya kau tidak menggunakan kata pinjam itu, tidak ada orang yang mau meminjamkan benda seperti itu.”

Suma Ci-ih pun benar-benar telah merendahkan dirinya untuk datang menghampiri, tapi dia masih berhenti pada posisi yang agak jauh, seakan-akan dia mengharapkan Liok Siau-hong untuk bangkit dan menyambutnya.

Liok Siau-hong tidak perduli. Ia jelas lebih memperhatikan piring berisi sirip ikan yang berada di hadapannya daripada benda atau orang lain.

Maka Suma Ci-ih sendiri yang terpaksa berjalan menghampiri dan, dengan tangannya yang terawat baik, menunjuk meja. Oh Jing segera mengeluarkan sehelai cek dan meletakkannya di atas meja.

Dengan menggunakan tangan yang sama, Suma Ci-ih mengelus-elus jenggotnya yang juga terawat dengan baik: “Cincin giok mungkin indah, tapi kurang berguna bila dibandingkan dengan uang. Pok Ki tidak faham sifat orang, maka tentu saja dia pun terjungkal.”

Berita benar-benar menyebar dengan cepat di kotaraja ini, bahkan seseorang seperti dirinya pun bisa tahu tentang kejadian itu hanya dalam waktu dua jam.

“Saya yakin Tuan merasakan hal yang sama.” Suma Ci-ih mengakhiri ucapannya.

Liok Siau-hong mengangguk tanda setuju.

“Ini adalah sehelai cek bernilai 50 ribu tael yang bisa diuangkan dengan segera. Dengan uang sebanyak itu, orang biasa akan dapat hidup tanpa perasaan cemas untuk seumur hidupnya.”

Liok Siau-hong pun sependapat mengenai hal itu.

“Lima puluh ribu tael perak sudah lebih dari cukup untuk dua helai sabuk sutera, kapan saja waktunya, di mana pun tempatnya.”

Liok Siau-hong pun amat setuju dengan hal itu. Sebuah senyuman pun muncul di wajah Suma Ci-ih dan dia bermaksud hendak pergi, karena kesepakatan telah tercapai.

Tapi tiba-tiba Liok Siau-hong yang bicara.

“Mengapa Tuan tidak membawa cek ini?”

“Membawanya?”

“Ke tukang jahit.”

Suma Ci-ih tidak faham.

“Di luar sana ada beberapa orang tukang jahit. Tuan bisa membuat kesepakatan dengan siapa pun dari mereka, itu jauh lebih sederhana.”

Ekspresi wajah Suma Ci-ih pun jadi tertekuk.

“Aku ingin menukar cek ini dengan sabukmu.”

Liok Siau-hong tertawa.

“Sabuk ini bukan untuk dipertukarkan.”

Wajah Suma Ci-ih yang selalu bersinar-sinar sekarang berubah menjadi kehijau-hijauan.

“Jangan lupa, ini bernilai lima puluh ribu tael perak.” Ia membentak.

Liok Siau-hong menghela nafas.

“Jika Tuan mengijinkanku makan sepiring sirip ikan ini dengan tenang, maka aku akan membayar Tuan lima puluh ribu tael perak!”

Wajah Suma Ci-ih yang hijau membesi tampak berubah menjadi merah padam. Seseorang yang duduk di meja pinggir sana tidak dapat mengendalikan dirinya lagi dan tertawa kecil.

Setelah suara tawa itu terdengar, segera terlihat seberkas sinar pedang yang meluncur ke sana.

“Tring!” Ujung pedang itu telah terjepit oleh sepasang sumpit.

Orang yang tertawa tadi adalah seorang saudagar yang setengah mabuk, pedang itu milik Oh Jing. Hanya dengan sebuah putaran pergelangan tangannya, pedang panjang di pinggangnya telah terbang. Tapi Liok Siau-hong lebih cepat lagi, karena ia secara tiba-tiba, dan dengan santai, mengulurkan sumpitnya dan menjepit ujung pedang itu, seperti seorang pawang ular yang menangkap seekor ular. Wajah Oh Jing pun tampak membeku dan ia tertegun memandang pada Liok Siau-hong.

“Dia sedang mabuk.” Liok Siau-hong berkata.

Oh Jing menggigit bibirnya dan berusaha menarik pedang itu, tapi pedang tersebut seperti telah menyatu dengan sumpit.

“Tidak ada aturan tak boleh tertawa di sini, ini bukan Tiang-lok-san-ceng.” Liok Siau-hong berkata dengan santai.

Keringat pun muncul di kening Oh Jing.

“Trang!” Tiba-tiba terlihat seberkas sinar pedang lagi dan pedang di tangannya telah patah menjadi dua bagian!

Pedang Suma Ci-ih telah meninggalkan sarungnya, tapi sekarang telah kembali ke tempatnya.

“Mundur.” Ia memerintah dengan gusar. “Sejak hari ini, kau dilarang menggunakan pedang.”

Dengan kepala tertunduk malu, Oh Jing menatap pedang patah yang berada di tangannya, lalu mulai mundur dengan perlahan. Setelah 7 atau 8 langkah, air mata tiba-tiba mengucur di wajahnya.

“Sayang, sia-sia belaka!” Liok Siau-hong menghela nafas.

“Sia-sia?”

“Aku mengatakan sayang tentang pedang itu, sayang juga tentang pemuda itu. Tekniknya tidak terlalu jelek, dan pedangnya pun tidak terlalu buruk.”

Ekspresi wajah Suma Ci-ih masih tetap gelap dan ia berkata dengan dingin: “Pedang yang bisa terpotong menjadi dua bagian bukanlah pedang yang bagus!”

“Mungkin satu-satunya sebab mengapa pedangnya terpotong menjadi dua bagian adalah karena seseorang sedang menjepit ujung pedang itu.”

“Jika pedang itu bisa ditangkap, tentu tak ada gunanya menyimpannya lagi.”

Liok Siau-hong meliriknya.

“Jadi pedangmu tak akan pernah tertangkap orang jika kau menyerang dengan pedangmu?”

“Tak pernah.”

Liok Siau-hong tersenyum, tersenyum secara tiba-tiba.

“Sabukku bukan untuk dipinjamkan, dipertukarkan, apalagi dijual!”

“Kau menantangku untuk mengambilnya dengan paksa?” Suma Ci-ih mengejek.

“Atau kita bisa bertaruh saja.”

“Taruhan seperti apa?”

“Taruhan terhadap pedangmu.”

Suma Ci-ih tidak faham.

“Jika benar tidak ada orang yang bisa menangkap pedangmu, maka kau menang. Dan kau bukan hanya bisa pergi dengan membawa sabuk suteraku, kau pun boleh mengambil kepalaku kapan saja kau mau.”

“Aku tidak menginginkan kepalamu.”

“Tapi kau menginginkan sehelai sabuk suteraku.”

Suma Ci-ih menatap dengan gusar. “Selain dari itu, apakah tidak ada cara lain?”

“Tidak ada.”

Suma Ci-ih tidak berkata apa-apa untuk beberapa lama.

“Aku akan mengincar pundak kirimu, bersiaplah.” Tiba-tiba ia berkata.

Sambil tersenyum Liok Siau-hong menepuk pundak kirinya: “Bajuku tidak begitu bersih, aku belum mencucinya selama dua hari ini. Jadi kau mungkin harus menyerang secepat yang kau bisa agar pedangmu tidak menjadi kotor.”

“Asal ada darah yang bisa dipakai untuk mencuci, tidak masalah jika pedangku jadi kotor.” Suma Ci-ih membalas tanpa perasaan humor.

“Aku tak tahu apakah darahku bersih atau tidak.”

“Kau akan segera mengetahuinya.”

Saat kata “nya” terdengar, pedang itu telah terhunus dari sarungnya. Seperti kilat, sinar pedang pun terbang ke arah pundak kiri Liok Siau-hong. Pedang itu jauh lebih panjang daripada pedang biasa, jadi seharusnya lebih sulit untuk dihunus dengan cepat. Tetapi dia menggunakan sebuah teknik khusus untuk menghunus pedangnya, sehingga sekali pedang itu keluar dari sarungnya, senjata itu pun sudah hampir menyentuh pundak Liok Siau-hong.

Tiba-tiba Liok Siau-hong mengulurkan tangannya dan menjepitkan kedua jarinya! Seharusnya gerakannya itu merupakan sebuah gerakan yang amat sederhana, tapi akurasi dan kecepatannya merupakan hal yang tidak bisa dibayangkan oleh siapa pun, apalagi menguraikannya.

Gerakan ini mungkin sederhana, tapi dia telah menempanya melalui ribuan kali percobaan untuk merubahnya menjadi sesuatu yang luar biasa. Suma Ci-ih bisa merasakan hatinya karam, dia juga bisa merasakan darahnya karam. Pedangnya telah tertangkap!

Ia mulai berlatih dengan pedang bambu pada usia empat tahun. Pada umur 7 tahun, ia mulai menggunakan pedang sebenarnya yang ditempa dengan baja murni. Saat ini ia telah mempelajari ilmu pedang selama lebih dari 40 tahun. Bahkan bagaimana cara menghunus pedang pun telah ia pelajari sebanyak lebih dari 130 macam manuver. Saat ini ia mampu, dalam satu gerakan saja, menghunus pedangnya dan menusukkan ujung pedangnya menembus 12 keping uang perunggu yang dijatuhkan secara serempak.

Tapi sekarang, pedangnya telah tertangkap orang. Saat itu ia hampir tidak bisa mempercayai kenyataan ini. Ia menatap tangan Liok Siau-hong, hampir tidak percaya kalau tangan itu benar-benar terdiri dari daging dan darah.

Liok Siau-hong pun sedang menatap tangannya.

“Kau tidak menggunakan kekuatan penuh dalam serangan tadi.” Tiba-tiba dia berkata. “Kelihatannya kau benar-benar tidak memburu kepalaku.”

“Kau......”

Liok Siau-hong memotong ucapannya dengan sebuah senyuman.

“Aku bukan orang yang baik, tapi kau pun bukan orang yang jahat. Karena kau tidak menginginkan kepalaku, aku akan memberimu sehelai sabuk sutera!”

Ia melepaskan satu sabuk dan menggantungnya di ujung pedang Suma Ci-ih sebelum bangkit berdiri dan berjalan keluar tanpa memandang ke belakang lagi. Ia khawatir berubah fikiran kalau ia melakukannya.

Walaupun dia belum merasa kenyang, Liok Siau-hong tetap merasa senang dalam hatinya. Karena ia tahu bahwa saat ini Suma Ci-ih tentu telah memahami 2 hal. Pedang siapa pun bisa tertangkap, dan cara pendekatan yang lembut terhadap orang tertentu akan jauh lebih baik daripada pendekatan yang kasar.

Ia yakin bahwa, setelah mempelajari dua macam hal ini, Suma Ci-ih tentu akan merubah sikapnya yang angkuh dan suka mengancam itu.

Tapi apa gunanya semua itu bagi dirinya? Ia bahkan tidak memikirkan hal itu. Apa pun yang ia lakukan, Liok Siau-hong tidak pernah berfikir untuk dirinya sendiri.

Tetapi perutnya yang keberatan. Ia mungkin sedang tidak memiliki selera yang besar seperti biasa, tapi dua suap sirip ikan tentu tidak cukup memuaskan perutnya. Bagi dirinya, bisa makan kenyang dengan tenang seperti telah berubah menjadi sesuatu yang hampir mustahil.

Selama ia membawa-bawa sabuk sutera itu, tidak perduli ke mana pun ia pergi, masalah tentu akan segera mencarinya.

Bagaimana ia harus menyingkirkan dua helai sabuk sutera terakhir? Kepada siapa ia harus memberikannya? Tadinya ia bermaksud memberikan salah satunya pada Bok-tojin, tapi Bok-tojin tidak kelihatan. Yang seharusnya tidak muncul malah muncul, tapi yang seharusnya muncul malah tidak satu pun yang terlihat.

Karena ada orang yang tidak pernah muncul bila mereka diharapkan muncul dan selalu muncul saat mereka tidak diduga akan muncul. Liok Siau-hong sepertinya selalu bertemu dengan orang-orang semacam ini. Ia menghela nafas. Tiba-tiba, ia melihat Lau-sit Hwesio sedang berjalan dari arah yang berlawanan, sambil menggigit sepotong roti manis yang amat besar di tangannya. Saat dia melihat Liok Siau-hong, dia bereaksi seakan-akan dia baru saja melihat hantu dan segera berusaha untuk kabur.

Tapi Liok Siau-hong telah menghadangnya dan menariknya hingga berhenti.

“Pergi begitu tergesa-gesa? Ke mana kau akan pergi?”

Lau-sit Hwesio memutar-mutar bola matanya dan menjawab: “Aku tidak mengganggumu, aku tidak melanggar hukum, mengapa kau menghadangku?”

Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya, dan kemudian mengembangkan sebuah senyuman.

“Karena aku ingin membuat kesepakatan denganmu.”

“Aku tidak ingin membuat kesepakatan denganmu, aku tidak mau dirampok.”

“Kujamin kau tidak akan dirampok.”

Lau-sit Hwesio memandangnya dan terlihat bimbang.

“Coba kudengar dulu kesepakatan macam apa yang ada di benakmu.”

“Aku akan menukar dua helai sabuk sutera ini dengan roti manis hangat yang ada di tanganmu itu.”

“Tidak bisa.”

“Mengapa tidak?” Liok Siau-hong berteriak.

“Karena aku tahu tidak ada kesepakatan yang begini bagus di dunia ini.” Ia memutar-mutar bola matanya lagi. “Pok Ki berusaha menukar sabuk itu dengan cincin giok, kau menolak. Suma Ci-ih menawarkan lima puluh ribu tael perak, kau pun menolak. Sekarang kau ingin menukarnya dengan rotiku yang hangat, dan kau kan tidak gila.”

“Kau takut kalau aku memasang perangkap untukmu?”

“Aku tidak perduli kau memasang perangkap atau tidak, aku tidak akan terperdaya.”

“Jadi kau sudah tetap pada keputusanmu?”

“Ya.”

“Tidak menyesal?”

“Tidak menyesal.”

“Baik, tidak jadi kalau begitu. Tapi bila aku ingin bicara, kau tidak bisa mencegahku bicara.”

“Bicara tentang apa?” Lau-sit Hwesio terpaksa bertanya.

“Bicara tentang kisah seorang hwesio yang pergi ke rumah bordil untuk bertemu dengan seorang pelacur.”

Lau-sit Hwesio tiba-tiba menyusupkan roti hangat itu ke tangan Liok Siau-hong, meraup sabuk-sabuk sutera itu, dan segera berjalan pergi ke arah yang berlawanan.

“Jangan lupa, salah satu dari sabuk itu adalah untuk Bok-tojin, kau harus menyimpan satu untuknya. Kalau tidak aku akan tetap bicara.” Liok Siau-hong berteriak ke arah sosok tubuhnya yang menjauh itu.

Lau-sit Hwesio bahkan tidak mau berpaling dan ia menghilang lebih cepat daripada seekor kuda jantan yang dicambuk. Liok Siau-hong tertawa. Ia tidak ingat kapan perasaannya pernah seenteng ini, seakan-akan ia tidak pernah sebahagia dan setenang ini dalam hidupnya.

Akhirnya ia berhasil menyingkirkan bara panas itu pada orang lain. Rasanya seolah-olah beban seberat satu ton telah terangkat dari punggungnya.

Roti itu masih belum benar-benar dingin, saat menggigitnya pun ia hampir berani bersumpah bahwa roti ini benar-benar lebih enak daripada sirip ikan tadi.

Tadinya ia mencurigai Lau-sit Hwesio sebagai dalang di balik semua persekongkolan ini, tapi sekarang tampaknya ia telah lupa. Apakah ia bodoh? Atau benar-benar cerdik?

Matahari pelan-pelan bergeser ke barat. Sudah dua jam berlalu sejak Liok Siau-hong menyerahkan sabuk sutera itu pada Lau-sit Hwesio. Tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan selama dua jam itu.

Tampaknya dia hanya berjalan-jalan mengelilingi kota beberapa kali. Walaupun tadi ada beberapa orang yang mengikutinya, sekarang dia telah berhasil melepaskan diri dari kuntitan mereka. Tentu saja ia tidak mau mengambil resiko membawa mereka ke Rumah Makan Lezat dan Harum.

Ia masuk lewat pintu belakang, tidak terdengar satu pun suara di halaman belakang. Udara dipenuhi oleh campuran aroma bunga crysanthemum dan osmanthus. Bahkan ikan-ikan mas kecil di dalam kolam di bawah pohon delima itu tampak terlalu malas untuk bergerak.

Setelah melewati semak-semak crysanthemum, terlihat seseorang yang sedang duduk di dalam pondok kecil itu. Seperti terpesona, orang itu duduk di atas pagar pembatas.

Bunga-bunga crysanthemum itu berwarna kuning, pagar tersebut bercat merah, tapi bajunya berwarna hijau cerah dan ujungnya melambai-lambai di sekitar tubuhnya yang langsing bagaikan pohon liu. Tanda-tanda sakit belum benar-benar hilang dari wajahnya yang pucat, tapi semangat baru bisa terlihat dengan jelas di dalam dirinya. Tampaknya ia hampir tidak kuat untuk menahan lambaian pakaiannya itu.

Warna musim gugur di halaman ini mungkin indah, tapi tidak bisa dibandingkan dengan kecantikannya. Tampaknya baru sekarang Liok Siau-hong menyadari betapa cantiknya Auyang Cing sebenarnya. Apakah itu hanya karena baru sekarang ia tahu bahwa gadis itu diam-diam mencintainya?

Angin meniup semak-semak bunga crysanthemum yang berada di dekat pagar. Beberapa helai daun yang gugur telah jatuh di atas jalan setapak. Diam-diam ia berjalan menghampiri. Tiba-tiba ia melihat mata Auyang Cing yang bersinar-sinar sedang menatap lurus ke arahnya.

Mereka tidak sering bertemu. Kenyataannya mereka belum pernah berbincang-bincang lebih dari 10 kalimat.

Tapi sekarang ada sebuah perasaan yang tak dapat diuraikan dan susah difahami yang menyentak jantung Liok Siau-hong, menyebabkan jantungnya berdebar lebih cepat. Ia seperti benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan.

Apa yang dirasakan gadis itu di dalam hatinya? Setidaknya Liok Siau-hong tidak mampu melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya. Gadis itu memandang padanya dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Apakah ia memang orang yang amat tenang pembawaannya, ataukah ia orang yang amat pandai bersandiwara? Dan berapa banyak wanita di dunia ini yang tidak pintar bersandiwara?

Liok Siau-hong menghela nafas dan berjalan memasuki pondok itu.

“Kau sudah merasa baikan?” Ia bertanya sambil tersenyum canggung.

Auyang Cing mengangguk dan menunjuk kursi batu di hadapannya.

“Duduklah.”

Tadinya Liok Siau-hong hendak duduk di sampingnya, tapi jika gadis itu bersikap begitu dingin, tentu dia pun tidak bisa bersikap terlalu hangat.

-- Mengapa wanita begitu suka bersandiwara?

Apakah itu karena mereka semua tahu bahwa jenis perempuan seperti inilah yang disukai oleh laki-laki? Jika Auyang Cing sejak dulu bersikap ramah dan hangat pada Liok Siau-hong, mungkin sudah sedari dulu ia kabur jauh-jauh.

Maka ia pun duduk dengan patuh di atas kursi batu itu.

“Di mana Sebun Jui-soat?” Ada banyak hal di dalam hatinya yang ingin dia tanyakan, tapi dia tidak sanggup mengatakannya, maka dia sembarangan saja bertanya.

“Ia ada di dalam rumah bersama isterinya, kurasa ada banyak urusan yang hendak mereka bicarakan.”

Liok Siau-hong bangkit, tapi kemudian terduduk lagi. Ia ingin masuk dan berbicara dengan Sebun Jui-soat, tapi ia tidak ingin Auyang Cing menganggap dirinya tidak mengerti keadaan orang. Duel sudah dekat, hasilnya masih diragukan, perpisahan ini sangat bisa jadi merupakan yang terakhir kalinya bagi mereka.

Seharusnya ia membiarkan mereka berdua menghabiskan sore ini bersama-sama dengan tenang, membiarkan mereka membicarakan semua urusan yang seharusnya tidak didengarkan oleh orang lain.

Taman itu seperti menelan mereka, aroma bunga tercium di udara, pemandangan di sekitar mereka terasa seperti mimpi. Bukankah hanya mereka berdua pula yang ada di sana? Bukankah ada banyak hal yang juga hendak mereka bicarakan?

Tapi ia tidak bisa memikirkan apa yang hendak dikatakan! Tampaknya ia seperti telah berubah menjadi anak remaja yang sedang mengalami kencan pertamanya.

“Kau mengenalnya?” Auyang Cing tiba-tiba memecahkan kesunyian.

“Siapa?”

Auyang Cing menunjuk ke sampingnya, barulah Liok Siau-hong melihat patung lilin kecil yang duduk di atas pagar pembatas itu. Itulah patung Ong-congkoan.

Ia tak faham mengapa gadis itu tiba-tiba begitu tertarik pada patung thaykam tersebut: “Kau mengenalnya?”

“Aku pernah melihatnya, dia pernah datang ke tempat kami.”

Yang dimaksud “tempat kami” itu tentu saja rumah pelacuran tempat Auyang Cing bekerja.

Liok Siau-hong semakin bingung.

“Kau tahu kalau orang ini adalah seorang thaykam?” Ia tak tahan untuk tidak bertanya.

“Di tempat kami terdapat segala jenis pelanggan.” Auyang Cing menjawab dengan acuh tak acuh. “Bukan hanya thaykam, hwesio juga ada.”

Tampaknya dia masih ingat apa yang terjadi hari itu, masih ingat bahwa Liok Siau-hong pernah berbuat salah padanya. Tapi Liok Siau-hong tampaknya benar-benar telah melupakan hal itu, ada terlalu banyak pertanyaan yang lebih penting baginya untuk direnungkan.

“Ia bukanlah thaykam pertama yang datang ke tempat kami, dan pada hari itu, ia tidak datang sendirian!” Auyang Cing melanjutkan.

“Siapa lagi yang datang bersamanya?” Liok Siau-hong segera memburu.

“Waktu ia tiba, ia hanya sendirian, tapi setelah itu dua orang jago pedang dari Hay-lam-kiam-pay pun muncul mencarinya, seakan-akan mereka memang telah mengatur sebuah pertemuan sebelumnya.”

“Bagaimana kau tahu kalau mereka berasal dari Hay-lam-kiam-pay?”

“Aku mengenali pedang mereka. Pedang Hay-lam-kiam-pay bukan saja luar biasa panjang dan sempit, tetapi juga memiliki bentuk yang istimewa.”

“Aku juga tahu bahwa orang tua ini adalah seorang thaykam. Tak perduli bagaimana bagusnya dia menyamar, aku selalu bisa tahu.”

“Sun-loya juga berada di sana hari itu?”

“Mm.”

Mata Liok Siau-hong pun bersinar-sinar. Ong-congkoan tentu telah mengatur pertemuan itu dengan dua jago pedang dari Hay-lam-kiam-pay di rumah bordil untuk membicarakan sebuah rencana rahasia.

Sewaktu mereka tahu bahwa Auyang Cing dan Sun-loya telah tiba di kotaraja, mereka takut kalau salah satu dari keduanya akan mengenali mereka, maka mereka pun memburu keduanya untuk dibungkam. Kematian Kongsun-toanio tentu ada hubungannya dengan hal ini. Dua orang jago pedang Hay-lam-kiam-pay itu mungkin sama dengan dua jago pedang yang binasa di krematorium.

Liok Siau-hong menghela nafas dalam-dalam. Akhirnya ia menemukan benang itu. Sekarang yang harus dia lakukan adalah mencari benang yang bisa menghubungkan benang ini dengan benang-benang lain yang telah ia temukan, lalu ia akan berhasil memecahkan kasus ini. Apakah dia bisa menemukan beberapa benang lagi saat ini? Banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu dua jam.

“Jika ada thaykam yang berkunjung ke tempat kami, aku selalu membawanya ke kamarku!” Auyang Cing tiba-tiba berkata.

“Mengapa begitu?”

“Karena mereka bukan laki-laki,” ia menjelaskan dengan dingin. “Semakin tidak berguna seorang laki-laki, semakin dia ingin memperlihatkan kejantanannya. Maka walaupun aku memaksa mereka untuk tidur di lantai, mereka tidak akan berani mengeluh dan mau membayar persenan. Karena mereka amat khawatir kalau orang lain tahu tentang kelemahan mereka.”

“Malam itu, waktu Lau-sit Hwesio bermalam di kamarmu, apakah dia pun tidur di lantai?” Liok Siau-hong bertanya.

Auyang Cing mengangguk.

“Mungkinkah dia juga seorang thaykam?”

“Dia mungkin bukan thaykam, tapi dia pun bukan seorang laki-laki.”

Liok Siau-hong kembali menghela nafas dalam-dalam. Akhirnya dia menemukan sebab mengapa Lau-sit Hwesio berdusta padanya. Impoten adalah sebuah kata yang dipandang laki-laki sebagai aib yang amat memalukan. Itulah sebabnya ada laki-laki yang mau menghabiskan uangnya untuk tidur di lantai kamar seorang perempuan daripada membiarkan orang lain tahu bahwa dia impoten.

Lau-sit Hwesio adalah seorang laki-laki. Bahkan hwesio pun tidak terhindar dari perasaan bangga seperti itu.

Auyang Cing menatap patung kecil itu: “Malam itu, orang tua ini bahkan tidak berani menyentuhku sama sekali karena ia begitu takut kalau aku mengetahui bahwa ia seorang thaykam.” Ia berkata sambil tersenyum mengejek. “Dia tidak pernah curiga bahwa satu-satunya sebab mengapa aku memperbolehkannya tinggal adalah karena aku tahu kalau dia seorang thaykam.”

Sebuah ekspresi aneh pun tiba-tiba muncul di wajahnya.

“Kau tahu mengapa tidak ada laki-laki yang pernah menyentuhku?” Tiba-tiba ia bertanya.

Liok Siau-hong menggelengkan kepalanya.

“Karena aku membenci laki-laki.”

“Kau pun membenciku?” Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak bertanya.

Auyang Cing meliriknya dengan dingin. Walaupun dia tidak menyangkalnya, tapi dia pun tidak mengakui hal itu. Liok Siau-hong mulai tertawa. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu: Auyang Cing tidak mencintainya, bahkan sedikit pun tidak ada fikiran ke arah itu.

Jika bukan Capsha-ih-thay yang berkata begitu padanya, Liok Siau-hong pun tidak akan pernah berfikir demikian. Tapi semua ucapan Capsha-ih-thay itu mungkin memang disengaja, agar dia memakan sepiring keong sawah goreng berlapis mentega itu. Auyang Cing sendiri bukan hanya tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun tentang hal itu, ia bahkan tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda perasaan itu.

Setelah mengetahui hal ini, walaupun ada sedikit rasa masam di hatinya, Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak menghela nafas lagi, seakan-akan dia baru saja terbebas kembali dari sebuah beban. Sikapnya pun tiba-tiba berubah menjadi lebih wajar. Ia tidak pernah percaya adanya cinta pada pandangan pertama.

“Apa yang sedang kau tertawakan?” Auyang Cing tampak heran.

“Aku sedang menertawakan Lau-sit Hwesio. Aku baru saja mengoper dua potong batu bara yang amat panas kepadanya!”

“Batu bara panas?”

“Sabuk sutera.”

“Sabuk sutera apa?” Auyang Cing tidak faham.

Liok Siau-hong segera menerangkan semua yang telah terjadi. Waktu dia bercerita tentang Sukong Ti-sing yang mencuri sehelai sabuk, kemarahannya hampir bangkit lagi. Waktu ia bercerita tentang Lau-sit Hwesio, dia hampir terbungkuk-bungkuk karena tertawa, tingkah-lakunya benar-benar seperti seorang anak kecil.

Auyang Cing menatap wajahnya, sebuah tatapan aneh pun muncul kembali di matanya. Laki-laki ini telah menukar dua helai sabuk sutera yang tak ternilai harganya dengan sepotong roti, dan masih bersikap seolah-olah dialah yang telah merampok Lau-sit Hwesio. Ia benar-benar belum pernah bertemu dengan orang seperti ini.

“Sayangnya kau belum benar-benar pulih, kalau tidak aku tentu akan menyimpan satu sabuk untukmu agar kau bisa melihat pertunjukan itu.”

“Kau tidak memiliki sehelai pun sekarang?”

“Setengah helai pun tidak.”

“Kau akan datang ke lokasi duel itu malam ini?”

“Tentu saja.”

“Di mana sabukmu?”

Liok Siau-hong tertegun. Baru sekarang ia menyadari bahwa ia sama sekali lupa untuk menyimpan sehelai sabuk untuk dirinya sendiri. Mungkinkah itu sebabnya mengapa si Lau-sit Hwesio pergi begitu cepat setelah mendapatkan sabuk itu, ia takut kalau-kalau Liok Siau-hong tiba-tiba teringat?

“Hehehe!” Melihat ekspresi wajahnya, Auyang Cing tak tahan untuk tidak tertawa kecil. “Bertemu dengan orang yang begini bodoh tidaklah sering terjadi.” Liok Siau-hong duduk di situ dengan ekspresi tertegun di wajahnya untuk beberapa lama, tanpa bicara sama sekali. Tiba-tiba dia melompat bangkit dan melesat keluar dari pondok itu.

Secara kebetulan Sebun Jui-soat dan Sun Siu-cing sedang melangkah menelusuri jalan setapak saat mereka berpapasan dengannya. Liok Siau-hong bahkan tidak punya waktu untuk menyapa mereka saat ia terbang melintas di depan mereka, seakan-akan seseorang sedang mengejar-ngejarnya sambil mengacung-acungkan sebatang sapu.

Sun Siu-cing memandang pada Auyang Cing, sambil duduk di atas pagar.

“Apakah kau mengusirnya?” Ia bertanya.

Auyang Cing menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Senyumannya begitu manis, tidak seorang pun akan percaya kalau dia tega mengusir orang lain.

“Jadi kau menakut-nakutinya?”

“Tidak perlu ada orang lain yang menakut-nakutinya, dia sendiri sudah amat pintar menggebah dirinya sendiri.” Auyang Cing menjawab dengan nada main-main.

Sun Siu-cing beberapa kali menatapnya dari atas ke bawah dan tersenyum: “Tampaknya kau cukup cepat mengenali sifatnya.”

“Aku hanya tahu kalau dia adalah seorang badut besar.”

“Tapi dia adalah badut yang paling cerdik.”

“Dia cerdik?”

“Bila menyangkut dirinya sendiri, dia memang seorang badut, karena dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Tapi jika ada orang yang benar-benar menganggapnya hanya sebagai badut dan berusaha memperdayainya, maka orang itu akan bernasib buruk.”

“Tidak perduli apakah dia jenius atau cuma seorang badut, semua itu tidak ada hubungannya denganku.” Auyang Cing berkata.

Sun Siu-cing mengedip-ngedipkan matanya: “Bukankah kau menyukainya?”

“Kau kira semua wanita di dunia ini harus menyukainya atau bagaimana?” Auyang Cing mencemooh.

“Aku bukan membicarakan semua wanita, aku membicarakan dirimu!”

“Mengapa kau tidak bicara tentang urusan lain?”

“Kau sama sekali tidak tertarik padanya?”

“Tidak.”

Sun Siu-cing kembali tersenyum.

“Kau tidak bisa membodohiku, aku bisa melihatnya.” Perlahan-lahan ia meletakkan tangannya di atas perutnya dan sebuah sinar mata yang senang dan bangga pun berkilauan di matanya. “Aku bukan hanya seorang wanita, aku pun akan segera menjadi seorang ibu. Seorang gadis kecil sepertimu tidak akan bisa mengibuliku.”

Auyang Cing tidak menjawab, tapi wajahnya yang pucat telah merah merona.

“Kalian perempuan ini memang aneh.” Sebun Jui-soat tiba-tiba berkata.

“Apanya yang aneh?”

“Semakin kalian menyukai seorang laki-laki di dalam hatimu, semakin kalian bersikap tidak tertarik di luarnya. Aku benar-benar tidak faham mengapa kalian berbuat seperti itu.”

“Menurutmu apa yang harus kami lakukan? Melompat ke pelukan laki-laki saat kami melihat mereka?”

“Setidaknya kalian bisa bersikap lebih ramah dan hangat padanya dan tidak menakut-nakutinya hingga dia pergi.”

“Waktu kita pertama kali bertemu, apakah aku baik padamu?”

“Tidak.”

“Tapi kau tidak ketakutan dan menjauh.”

Sebun Jui-soat menatapnya, kehangatan itu kembali muncul di matanya.

“Seorang laki-laki sepertiku tidak bisa ditakut-takuti oleh apa saja atau siapa saja!”

“Benar,” Sun Siu-cing mengiyakan dengan nada main-main. “Laki-laki seperti dirimu inilah yang disukai perempuan.”

Ia berjalan menghampiri dan menggenggam tangan suaminya.

“Karena wanita kadang-kadang seperti domba, kami perlu diburu.” Ia menjelaskan dengan lembut. “Jika kau tidak memiliki cukup keberanian untuk memburunya dan hanya menontonnya saat mondar-mandir di depan matamu, maka kau tidak akan pernah berhasil memegang tanduknya yang berharga.”

Sebun Jui-soat tersenyum.

“Kau telah memberikan tandukmu padaku?”

Sun Siu-cing menghela nafas dengan lembut: “Aku telah memberimu tandukku, kulit, tulang, segalanya.....”

Sambil berpelukan, mereka berdiri di sana dalam kebisuan di bawah sinar matahari terbenam. Mereka seperti telah lupa kalau orang lain masih ada di sana, seperti telah melupakan seluruh dunia ini. Matahari terbenam mungkin tampak indah, tapi sebentar lagi malam pun tiba. Berapa lama lagi mereka masih bisa saling berpelukan?

Auyang Cing mengawasi mereka dari kejauhan. Walaupun di dalam hatinya ia senang melihat kebahagiaan mereka, ia juga merasa amat khawatir, khawatir atas kebahagiaan mereka.

Karena dia faham orang seperti apa Sebun Jui-soat itu, karena dia memahami pedang Sebun Jui-soat. Pedangnya itu bukanlah pedang manusia.

Orang biasa yang punya perasaan, darah dan daging tidak akan mampu mencapai ilmu pedang tak berperasaan seperti itu. Pedang itu benar-benar telah mencapai tingkatan dewata.

Sebun Jui-soat bukanlah orang biasa yang punya perasaan, daging dan darah. Hidupnya sudah lama dikorbankan untuk pedangnya, pada pedangnya. Seakan-akan dirinya dan pedangnya telah melebur menjadi satu, dan juga telah mencapai tingkatan dewata.

Tapi sekarang dia telah berubah menjadi orang biasa, sekarang dia juga terdiri dari daging dan darah, dia juga punya perasaan. Masih mampukah ia menggunakan pedang tanpa perasaan itu? Mungkinkah ia mampu mengalahkan Yap Koh-seng?

Matahari terbenam mungkin terlihat indah, tapi sebentar lagi akan berlalu dan bulan pun segera akan muncul. Bulan malam ini tampaknya telah ditakdirkan akan berlumuran darah oleh darah seorang laki-laki. Tapi darah siapa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar