Larut malam. Cahaya di aula tampak redup, membuat aula itu tampak lebih mirip kuburan. Udara malam di bulan sembilan seharusnya dingin dan menyegarkan, tapi di dalam sini, seperti membawa bau busuk yang luar biasa.
Bau busuk di markas para thaykam dulu sudah cukup untuk membuat orang muntah, tapi bau busuk di sini berbeda. Bau ini aneh dan menakutkan. Karena ini adalah bau daging yang membusuk. Di beberapa buah peti terlihat bercak darah, darah yang merah gelap perlahan-lahan terlihat mengalir keluar dari sela-sela potongan kayu.
“Brak!” Tiba-tiba sepotong kayu tampak terpental dan sebuah retakan pun muncul di atas peti itu. Seakan-akan ada seorang manusia hidup di dalam peti itu yang sedang berusaha untuk keluar. Mungkinkah orang mati bisa hidup kembali? Bahkan Sebun Jui-soat pun merasakan punggungnya menjadi dingin.
“Jangan khawatir,” Liok Siau-hong menepuk pundaknya dan memaksakan sebuah senyuman berani di wajahnya. “Orang mati tidak bisa hidup kembali.”
Sebun Jui-soat tertawa mendengar ucapan itu.
“Tapi orang mati akan membusuk, dan tubuh mereka akan membengkak, membengkak sedemikian rupa hingga bisa menghancurkan peti.”
“Tidak ada yang meminta penjelasan darimu.” Sebun Jui-soat berkata dengan dingin.
“Aku khawatir kalau kau ketakutan.”
“Aku hanya takut pada satu macam manusia!”
“Manusia macam apa?”
“Yang tidak mau tutup mulut.”
Liok Siau-hong tertawa, walaupun itu bukan tawa yang teramat riang. Tidak ada orang yang bisa merasa gembira di tempat seperti ini.
“Aneh, tidak seorang pun dari mereka yang berada di sini.” Liok Siau-hong bergumam sambil berjalan mondar-mandir di antara peti-peti itu.
Ia lebih suka dimaki orang karena tidak menutup mulutnya daripada benar-benar menutup mulut. Di tempat seperti ini, sebentar saja orang akan menjadi gila jika tidak bicara. Bicara bukan hanya membantunya untuk merasa tenang, hal itu juga akan membuatnya bisa melupakan bau yang menakutkan ini untuk sementara waktu.
“Mungkin mereka sedang mengkremasi mayat Thio Eng-hong di belakang, satu-satunya tungku pembakaran di tempat ini berada di belakang gedung.”
“Satu-satunya tungku pembakaran?”
“Di sini hanya ada satu tungku, dan tungku itu mengeluarkan asap.”
“Kau tahu banyak.”
“Ada satu hal yang tidak dia ketahui.” Terdengar seseorang mengejek dari belakang gedung sana. “Tungku itu bisa mengkremasi 4 orang sekaligus. Kalian berempat akan terbakar menjadi abu.”
Pendeta lhama tidak semuanya ganjil dan aneh, tapi kedua lhama ini bukan hanya ganjil, tapi juga aneh. Tidak ada orang yang bisa menguraikan bagaimana wajah mereka, karena wajah mereka terlihat seperti dua topeng setan yang terbuat dari tembaga bercat hijau.
Mereka mengenakan jubah kuning, tapi jubah itu hanya menutupi setengah bagian atas tubuh dan pundak kiri mereka dibiarkan terbuka. Di tangan kiri mereka ada 9 buah cincin tembaga hijau yang sepadan dengan anting yang tergantung di telinga mereka. Senjata di tangan mereka pun berupa gelang tembaga berwarna hijau. Selain tempat genggaman mereka di gelang itu, badan gelang itu tampak tajam dan runcing. Siapa pun, bila melihat dua orang seperti ini di sebuah tempat seperti ini, tentu akan mengucurkan keringat dingin karena ketakutan. Tapi Liok Siau-hong malah tertawa.
“Ternyata pendeta lhama tidak bisa menghitung,” ia bergurau. “Di sini kami hanya berdua, bukan berempat.”
“Dua di depan, ditambah dua di belakang.” Salah satu lhama itu tiba-tiba tersenyum menyeramkan, memperlihatkan gigi-giginya yang menakutkan. Tapi wajah lhama yang satunya lagi tampak membeku seperti muka mayat.
“Siapa dua orang lagi yang ada di belakang?” Liok Siau-hong tidak memahami ucapannya.
“Dua orang yang akan menemani kalian berdua ke Tanah Barat.”
Liok Siau-hong kembali tertawa.
“Aku tidak ingin pergi ke sana, aku tidak punya teman di sana.”
“Bunuh!” Lhama yang tidak tersenyum tadi tiba-tiba memberi perintah. Gelang tembaga itu bergetar ketika kedua lhama tersebut bersiap-siap untuk menyerang.
“Mereka berdua adalah pendeta lhama.” Sebun Jui-soat berkata dengan dingin.
“Mereka hanya berdua.”
“Lhama-lhama itu bagianmu.”
“Jadi apa yang akan kau lakukan?”
Sebun Jui-soat tertawa. Tiba-tiba ia menghunus pedangnya. Dengan sebuah sinar kilat, pedang itu terbang ke arah sebuah peti kayu di pinggir. Tidak ada orang yang bisa membayangkan kecepatan dia menghunus pedangnya dan menyerang, juga tidak ada yang bisa menduga kalau dia akan menyerang peti itu, pedangnya tidak pernah membunuh orang yang sudah mati.
“Brak!” Tepat saat itu, sebuah peti lain tiba-tiba hancur berantakan dan sebatang pedang berbentuk seperti ular pun melayang keluar, langsung menuju selangkangan Liok Siau-hong. Serangan ini benar-benar amat cepat dan mendadak, juga amat tidak terduga.
Orang mati masih bisa membunuh? Jika Liok Siau-hong bukan Liok Siau-hong, dia tentu telah terbunuh oleh pedang itu! Tapi Liok Siau-hong adalah Liok Siau-hong. Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya dan, dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, menangkap pedang itu!
Tidak perduli apakah serangan itu berasal dari manusia atau hantu, asalkan ia mau, ia akan selalu berhasil menangkap pedang itu, baik itu pedang manusia atau pedang setan.
Ini benar-benar sebuah ilmu tunggal di dunia ini dan tidak pernah gagal.
“Ssttt!” Dan tepat saat itu pula pedang Sebun Jui-soat menembus peti tadi. Tiba-tiba sebuah raungan yang menggetarkan sukma terdengar dari dalam peti saat potongan-potongan kayu beterbangan dan seseorang melompat keluar.
Seorang laki-laki bertubuh gelap dan kurus dengan pedang berwarna hitam di tangannya. Wajahnya penuh dengan darah, darah yang merah.
“Ternyata mereka ada empat orang!” Liok Siau-hong menghela nafas.
“Empat orang, tujuh mata.” Sebun Jui-soat memberi komentar dengan dingin.
Mata kiri laki-laki berbaju hitam yang melompat keluar dari dalam peti itu telah, ajaib sekali, terkorek keluar oleh ujung pedang tadi. Seperti orang gila, dia mengayun-ayunkan pedang hitamnya yang berbentuk ular dan dia, dengan kecepatan seperti kilat, melakukan sembilan kali serangan. Tekniknya ganjil tapi efektif, aneh tapi keji. Sayangnya dia menggunakan pedang. Sayangnya dia bertemu dengan Sebun Jui-soat!
“Aku tidak bermaksud untuk membunuh.” Sebun Jui-soat berkata dengan dingin.
Pedangnya melesat sekali lagi, dan sekali lagi! Raungan orang berbaju hitam itu tiba-tiba berhenti dan tubuhnya tiba-tiba membeku dan dia berdiri di sana seperti patung. Darah masih menyembur, tapi ia telah roboh seperti balon yang ditusuk.
Dengan pedang terjepit di antara jari-jarinya, Liok Siau-hong pun memandang peti di hadapannya. Ajaib, tak ada sedikit pun gerakan atau suara dari dalam peti itu.
“Tentu bukan seorang lhama yang berada di dalam peti ini.” Tiba-tiba ia menarik kesimpulan.
“Mm.”
“Aku menangkap sebatang pedang untukmu, bagaimana kalau kau menangkap seorang lhama untukku dan kita pun boleh menganggapnya impas?”
“Setuju.” Sebun Jui-soat tiba-tiba melayang dan kilauan pedangnya lalu menghujani lhama yang tersenyum tadi seperti badai petir. Dia tidak menyukai tampang lhama itu bila sedang tersenyum.
Gelang lhama itu mulai berputar-putar dan mengelilingi dirinya. Gerakannya juga ganjil tapi efektif, aneh tapi keji. Gelang kembar itu merupakan sepasang senjata yang aneh, jika sebatang pedang atau golok tersangkut dalam lingkarannya, tentu pedang atau golok itu setidaknya akan terampas, kalau tidak tentu akan patah.
Kilauan pedang tampak berkerlap-kerlip saat memasuki lingkaran gelang kembar itu seperti seekor kupu-kupu yang melemparkan dirinya sendiri ke dalam nyala api. Senyum menyeramkan pun muncul kembali di wajah lhama itu saat dia tiba-tiba memutar gelang kembar itu dan berusaha mematahkan pedang Sebun Jui-soat menjadi dua potong!
“Patah!” Kata itu belum sempat keluar dari tenggorokannya, karena saat ia hendak membuka mulutnya dan bicara, tiba-tiba ia menyadari bahwa pedang itu telah tiba di depan tenggorokannya. Pedang yang begitu dingin seperti es! Ia hampir bisa merasakan dinginnya pedang saat perlahan-lahan memasuki darahnya. Lalu ia tidak merasakan apa-apa lagi, ia pun tidak tersenyum lagi. Sebun Jui-soat tidak menyukai tampangnya waktu dia tersenyum.
Walaupun wajah lhama yang tidak tersenyum tadi telah pucat pasi, ia masih mengkertakkan giginya dan hendak menyerang.
Tapi Sebun Jui-soat malah hanya menunjuk pada Liok Siau-hong.
“Kau adalah bagiannya.” Perlahan-lahan ia mengangkat tangannya dan meniup dengan lembut setetes darah di ujung pedangnya dan tidak memandang lhama itu lagi. Lhama tersebut mundur selangkah dengan heran dan melihat tetesan darah itu jatuh ke atas tanah. Akhirnya, dia menghentakkan kakinya ke tanah dan menyerbu Liok Siau-hong.
Liok Siau-hong masih menjepit pedang yang berasal dari peti tadi di antara jari-jarinya. Sebuah senyuman ironis pun muncul di wajahnya.
“Orang ini benar-benar tidak mau rugi untuk apa saja.”
“Cring!” Bunyi itu memotong ucapannya. Sembilan cincin di tangan kiri lhama itu tiba-tiba semuanya datang berputar-putar ke arahnya dengan kecepatan yang tinggi. Lhama itu sendiri juga melesat pergi dengan kecepatan tinggi.
Setelah cincin tembaga itu lepas dari tangannya, ia melesat ke sebuah jendela dan kabur. Sebun Jui-soat telah memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya dan berdiri di sana, menonton dengan santai, sambil menggendong tangan di balik punggung, seolah-olah semua itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
“Cring! Cring! Cring!” Serentetan bunyi dering, seperti bunyi mutiara yang bergulir di atas sebuah piring giok, kembali terdengar, dengan beberapa kali sentilan jarinya, Liok Siau-hong telah mementalkan semua cincin tembaga itu ke udara.
Cincin seperti ini sebenarnya merupakan senjata yang amat berbahaya dan sukar diatasi, tapi bagi dirinya, senjata itu seperti mainan anak-anak.
“Pernah terfikir untuk menjual jari-jarimu itu?” Sebun Jui-soat tiba-tiba bertanya.
“Itu tergantung dengan apa kau hendak membelinya.”
“Kadang-kadang aku ingin menukar salah satu jariku dengan itu.”
Liok Siau-hong tertawa.
“Aku tahu ilmu pedangmu lumayan dan cukup cepat saat menyerang. Tapi satu buah jari tanganmu paling-paling hanya sama nilainya dengan satu buah jari kakiku.” Ia bergurau.
Peti itu masih tetap sunyi-sepi. Pedang tadi tidak mungkin bisa menusuk sendiri. Di manakah orangnya?
Liok Siau-hong mengetuk peti tersebut.
“Kau hendak bersembunyi di sana sampai mati?”
Tidak ada jawaban.
“Jika kau tidak keluar, kami terpaksa akan menghancurkan rumahmu.”
Masih tidak ada jawaban.
“Orang ini mungkin tidak tahu bahwa apa yang aku katakan, akan selalu kulakukan.” Liok Siau-hong menghela nafas.
Ia mengangkat tangannya dan menampar. Peti itu pun terbelah hancur. Orangnya masih ada di dalam peti, berjongkok di dalam peti, tidak bergerak sedikit pun. Air mata, air liur, dan ingus dari hidungnya telah keluar semuanya, dari tubuhnya juga tercium bau busuk. Ternyata dia sudah mati ketakutan.
Hal ini mengejutkan Liok Siau-hong. Seng-bo-hong, sekte pedang yang misterius, semua nama ini terdengar amat menakutkan, tapi siapa yang menyangka kalau orangnya bisa mati ketakutan?
“Orang ini bukan berasal dari Seng-bo-hong.” Sebun Jui-soat tiba-tiba berkata.
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku mengenal ilmu pedang mereka.”
“Seperti apa ilmu pedang mereka itu?”
“Jurus tadi adalah Liong-kui-hong (Pusaran Angin Naga) dari Hay-lam-kiam-pay.”
“Mereka adalah murid-murid Hay-lam-kiam-pay?”
“Pasti.”
“Mengapa mereka menyamar sebagai jago-jago pedang dari Seng-bo-hong?”
“Pertanyaan itu seharusnya kau ajukan padanya.”
“Sayangnya dia agaknya tidak mampu bicara lagi.”
“Jangan lupa kalau di belakang sana masih ada dua orang lagi.”
Siapakah dua orang yang berada di belakang? Satu orang mati dan satu orang hidup!
Tentu saja orang yang mati tidak bisa bergerak, tapi orang yang hidup pun ternyata tidak bisa bergerak juga. Orang yang mati adalah Thio Eng-hong, yang hidup adalah Giam Jin-eng. Pemuda yang angkuh itu sekarang sedang tergeletak di atas tanah seperti orang mati, seolah-olah mereka berdua sedang berada dalam antrian untuk dikremasi.
Liok Siau-hong tahu bahwa ia hanya tertotok urat nadinya dan ia pun membantu pemuda itu duduk. Dengan sebuah sentilan tangan yang cepat, Sebun Jui-soat telah membuka totokan itu dan menatap pemuda itu dengan tatapan sedingin es.
Pemuda itu juga melihat wajah Sebun Jui-soat yang pucat dan beku seperti es saat dia berusaha untuk berdiri.
“Siapa kau?”
“Sebun Jui-soat.”
Wajah Giam Jin-eng menjadi pucat pasi dan ia pun terjatuh lagi.
“Bunuhlah aku!” Ia menghela nafas.
Sebun Jui-soat tertawa dengan dingin.
“Mengapa kau tidak membunuhku?” Giam Jin-eng berkata sambil mengkertakkan giginya. “Mengapa kalian malah menolongku?”
“Karena dia tidak pernah bermaksud membunuhmu.” Liok Siau-hong pun menghela nafas. “Kaulah yang ingin membunuhnya.”
Giam Jin-eng menundukkan kepalanya, sepertinya dia lebih suka mati daripada merasakan apa yang dia rasakan sekarang.
“Cara mereka menotok urat nadinya juga berasal dari Hay-lam-kiam-pay.” Sebun Jui-soat tiba-tiba berkata.
“Mereka adalah bala bantuan yang diundang olehnya, mengapa mereka malah menyakitinya?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.
“Pertanyaan itu seharusnya kau ajukan sendiri padanya!” Sebun Jui-soat menjawab dengan dingin.
“Mereka tidak diundang.” Belum lagi Liok Siau-hong sempat bertanya, Giam Jin-eng telah menjawab. Sambil mengkertakkan giginya, ia pun menerangkan. “Mereka sendiri yang datang mencariku.”
“Mereka sukarela membantumu untuk balas dendam?”
Giam Jin-eng mengangguk.
“Mereka bilang, mereka adalah sahabat guruku.”
“Dan kau percaya?”
Sekali lagi kepala Giam Jin-eng ditundukkan dengan malu. Ia memang masih terlalu muda, masih mudah terpengaruh oleh semua dusta dan jebakan yang ditawarkan oleh dunia persilatan.
Liok Siau-hong hanya bisa tersenyum simpatik.
“Kau tahu mengapa mereka ingin menyingkirkanmu?”
Giam Jin-eng terdiam.
“Mereka menyerangku setelah kami tiba di sini. Tapi rasanya aku mendengar mereka mengatakan suatu hal.”
“Apa itu?”
“Bukan kami yang membunuhmu, tiga patung lilin itulah yang membunuhmu.” Itulah yang mereka katakan sebelum Giam Jin-eng tadi roboh.
“Patung apa?”
“Patung yang dibuat oleh suhengku.”
“Di antara kami bertujuh, dia selalu menjadi yang paling cerdas, dan dia pun memiliki sepasang tangan yang cekatan.” Ia meneruskan penjelasannya. “Sekali saja dia melihat wajahmu, dengan cepat dia bisa membuat gambarmu di lengan bajunya yang tampak amat mirip denganmu.”
“Apakah dia sanak saudara Ni-jin-thio (Thio si Boneka) di kotaraja?”
“Kotaraja adalah kampung halamannya. Ia amat mengenal orang-orang di sana.”
-- Hal itu pun menjelaskan kenapa dia mengenal Moa-lakko.
“Waktu kami berpisah, ia tidak membawa patung apa pun. Tapi waktu aku sedang memeriksa mayatnya, 3 buah patung pun terjatuh dari balik bajunya.”
“Di mana patung-patung itu sekarang?” Liok Siau-hong segera bertanya.
“Di sini bersamaku. Tapi aku tidak mengenal 3 orang ini.”
Tapi Liok Siau-hong mengenalnya; setidaknya dia mengenal dua orang di antaranya. Ia langsung mengenalinya saat ia melihat patung-patung itu.
“Ini adalah Ong-congkoan dan Moa-lakko.”
Kecekatan tangan Thio Eng-hong benar-benar mengagumkan, tapi sayangnya patung yang ketiga telah rusak.
“Dia tentu membuat 3 buah patung ini sebelum dia mati, karena dia tahu bahwa 3 orang ini hendak membunuhnya.”
“Menurutmu, 3 orang ini adalah pembunuh yang sebenarnya?” Sebun Jui-soat bertanya.
“Tak perlu diragukan lagi.”
“Jadi sebelum dia mati, dia masih sempat memikirkan cara untuk meminta saudara-saudara seperguruannya membalaskan dendamnya dan membuat patung wajah para pembunuh yang sebenarnya?”
“Benar.”
“Tapi di saat genting antara hidup dan mati seperti itu, di mana ia bisa menemukan lilin?”
“Dia tidak perlu mencarinya,” Giam Jin-eng yang menjawab pertanyaan ini. “Dia selalu membawa sepotong lilin bersamanya. Kapan saja dia punya waktu luang, dia tentu akan bermain-main dengan lilin itu.”
“Agaknya tangannya yang cekatan itu bukan hanya bakat alami, tapi karena latihan juga.” Liok Siau-hong menghela nafas.
Kenyataannya, untuk mendapatkan keahlian seperti itu bukan hanya diperlukan latihan yang keras, tetapi juga harus dibarengi dengan semangat yang berapi-api dan tak mudah padam yang mungkin tidak bisa difahami oleh orang lain. Hal ini sama seperti keahlian mana pun. Jika tujuanmu adalah kesempurnaan, maka kau harus memiliki semangat yang menyala-nyala. Semangat seperti itu pula yang dimiliki Sebun Jui-soat terhadap ilmu pedang.
Sebuah perasaan tersentuh pun muncul di wajah Sebun Jui-soat, karena ia juga memahami semangat ini. Tidak ada orang yang tahu dan memahami semangat ini sejelas dirinya. Pada masa mudanya, tidak perduli ke mana pun ia pergi, ia pun selalu membawa-bawa pedangnya, bahkan waktu ia sedang mandi atau pun tidur lelap.
“Thio Eng-hong dibawa oleh Moa-lakko ke sarang thaykam itu untuk mencarimu!” Liok Siau-hong berkata.
“Tapi ia malah menemukan rahasia Ong-congkoan dan Moa-lakko!” Sebun Jui-soat menduga-duga.
“Maka mereka pun membunuhnya.”
“Ong-congkoan dan Moa-lakko mungkin sama sekali tidak berguna, tapi orang ketiga itulah majikan mereka.”
“Dia tahu sebelumnya bahwa dia bukanlah tandingan orang ini dan dia pasti mati. Maka diam-diam dia membuat patung-patung ini agar orang lain tahu siapa pembunuhnya!”
“Karena dia telah menduga bahwa orang lain tidak akan pernah mencurigai orang ketiga ini sebagai pembunuh yang sebenarnya. Jika begitu, hal ini berarti rahasia yang sedang dibicarakan 3 orang itu tentulah sebuah rahasia yang bisa mengguncangkan dunia.”
“Bangunan-bangunan di sana semuanya kecil dan sempit, dan selalu penuh sesak.” Liok Siau-hong meneruskan. “Mereka tidak berhasil menemukan tempat untuk menyembunyikan mayat ini, mereka pun tidak bisa menemukan cara untuk menghancurkan mayat ini.”
“Maka mereka melemparkan mayat ini ke atas punggung seekor kuda dan mengusir kuda itu keluar.” Sebun Jui-soat menarik kesimpulan.
“Mereka bermaksud melemparkan kesalahan ini padamu, agar kau berhadapan dengan Go-bi-pay. Menimpuk dua ekor burung dengan sebutir batu.”
Walaupun kebenaran telah tersingkap, mereka tetap tidak tahu bagian terpenting dari informasi ini: patung ketiga telah rusak.
Sebun Jui-soat mengamati patung yang rusak itu dengan teliti.
“Orang ini pasti bukan Lau-sit Hwesio!”
“Orang ini mempunyai rambut.” Thio Eng-hong bukan hanya bisa membuat tiruan yang mirip, ia pun bisa menjiplak rambut orangnya.
“Tampaknya ia sangat gemuk.”
“Bukan, wajahnya telah rata, itulah sebabnya ia terlihat begitu gemuk.”
“Ia punya jenggot, tapi tidak terlalu panjang.”
“Jadi ia tidak begitu tua.”
“Wajahnya tampak hijau.”
“Itu warna lilinnya, bukan wajahnya.”
“Jadi sekarang kita tahu bahwa dia berjenggot, tidak begitu gemuk, juga tidak begitu kurus.” Liok Siau-hong menghela nafas dan sebuah senyuman letih pun muncul di wajahnya.
Ada puluhan ribu orang yang sesuai dengan deskripsi itu di kota sana, di mana mereka akan mencarinya?
Api di dalam tungku telah menyala. Lhama-lhama itu sepertinya sudah lama berencana untuk mengkremasi Giam Jin-eng dan Thio Eng-hong.
“Mereka mungkin berada di bawah komando Ong-congkoan dan datang ke sini untuk membunuh Giam Jin-eng dan membungkamnya. Jadi mereka mungkin tidak mengira kalau kita akan tiba di sini!”
“Atau mungkin mereka bukan diperintah ke sini oleh Ong-congkoan, mungkin orang ketiga itulah dalang sebenarnya di balik semua ini.”
“Apa pun juga, lhama-lhama itu juga pendeta, mereka juga memakai kaus kaki putih.”
“Ada beberapa orang tosu di dalam Hay-lam-kiam-pay.”
Api tampak berkerlap-kerlip dan menyinari wajah Thio Eng-hong, juga menyinari luka mematikan di lehernya.
“Tahukah kau siapa yang membuat luka itu?”
“Tidak. Tapi ada beberapa orang selain diriku yang mampu membuat luka seperti itu!”
“Selain darimu, ada berapa banyak?”
“Tidak banyak, tidak lebih dari 5 orang yang masih hidup.”
“Siapa saja 5 orang itu?”
“Yap Koh-seng, Bok-tojin, dan 2 atau 3 orang jago pedang lainnya yang tidak akan kau kenali walaupun kusebutkan namanya. Salah seorang dari mereka adalah seorang pertapa yang tinggal di Seng-bo-hong.”
“Kau mengenalnya?”
“Walaupun aku tidak mengenalnya,” Sebun Jui-soat menyeringai, “Aku tahu ilmu pedangnya.”
“Bagaimana dengan Siau-siang-kiam-khek Gui Cu-hun?”
“Tekniknya tidak mantap, juga tidak cukup cepat,” Sebun Jui-soat menggelengkan kepalanya, “apalagi In Cu.”
Liok Siau-hong merenung sebentar.
“Mungkin ada beberapa orang yang ilmu pedangnya tinggi, tapi amat jarang terlihat menggunakan pedang.”
“Sepertinya tidak mungkin, tapi tetap tidak mustahil.”
“Jika Lau-sit Hwesio menggunakan pedang, aku yakin ilmu pedangnya pasti mengagumkan. Aku selalu merasa bahwa tingkat pemahamannya terhadap ilmu kungfu sebenarnya amat mendalam dan luas.”
“Lau-sit Hwesio tidak punya rambut, atau jenggot.”
Liok Siau-hong tertawa.
“Kalau ada manusia yang palsu, apalagi cuma jenggot palsu.” Agaknya ia tetap curiga pada Lau-sit Hwesio.
Giam Jin-eng selama itu selalu berdiri di pinggir; mendadak ia berjalan mendekat dan bersoja pada Sebun Jui-soat.
“Tidak perlu berterimakasih padaku, yang menolongmu bukan aku, tapi Liok Siau-hong.” Sebun Jui-soat buru-buru berkata.
“Aku bukan berterimakasih padamu, hutang budiku pada kalian karena telah menyelamatkan nyawaku tidak mungkin dibalas dengan sekedar ucapan terimakasih.” Sebuah raut muka yang aneh pun muncul di wajahnya, dalam kerlipan cahaya api, sukar untuk memastikan apakah ia ingin tertawa atau menangis.
“Aku ingin memohon agar kau membawa permintaan maafku kepada sumoayku.”
“Kenapa begitu?”
“Karena aku telah salah faham terhadap dirinya selama ini. Aku memandang rendah dirinya. Aku berfikir bahwa ia seharusnya tidak pergi bersama musuh partai kami.” Giam Jin-eng bimbang sebelum akhirnya mengumpulkan cukup keberanian untuk meneruskan. “Tapi sekarang aku akhirnya faham, balas dendam tidaklah sepenting yang kufikir sebelumnya.”
-- Balas dendam bukanlah sesuatu yang harus dilakukan. Ada jauh lebih banyak emosi dan perasaan yang lebih agung dan mulia daripada kebencian. Ia tidak mengucapkan kata-kata ini, karena ia tak sanggup untuk mengatakannya. Tapi akhirnya dia faham di dalam hatinya. Karena saat ini kebencian di hatinya tidak mungkin bisa dibandingkan dengan pekatnya perasaan terima kasih. Tiba-tiba ia membungkuk, mengangkat mayat suhengnya, dan mulai melangkah pergi dengan kepala yang tegak. Jalan yang akan ditempuh masih tertutup oleh kegelapan, tapi terangnya cahaya sudah datang mendekat.
Liok Siau-hong memperhatikan kepergiannya sebelum akhirnya menghela nafas: “Ia masih muda, setiap kali aku melihat seorang pemuda seperti dia, aku selalu merasa bahwa dunia ini tidak terlalu buruk. Tidak ada buruknya bila kita tetap hidup.”
Berapa harga kehidupan? Kehidupan akan selalu terisi oleh harapan. Mata Sebun Jui-soat kembali terlihat berkerlap-kerlip dengan kehangatan. Ini bukanlah pantulan nyala api di matanya, tapi pantulan es yang mencair di hatinya.
Liok Siau-hong memandangnya dan tiba-tiba menepuk pundaknya.
“Kau akhirnya menyelamatkan sebuah nyawa hari ini, bagaimana rasanya?”
“Lebih baik daripada mencabut nyawa!”
______________________________
Di bawah nyala api yang berkerlap-kerlip, wajah orang ketiga tampak menyeringai dan aneh. Tidak seorang pun yang terlihat menyenangkan bila wajahnya rata.
“Sekarang Moa-lakko telah mati, hanya tinggal satu orang yang tahu identitasnya!”
“Ong-congkoan?”
“Mm.”
“Kau ingin mencarinya?”
“Tidak.” Liok Siau-hong menghela nafas. “Ia mungkin berada jauh di dalam Kota Terlarang sekarang, aku tak akan bisa menemukannya walaupun aku berusaha.”
“Dan walaupun kau menemukannya, ia tidak akan pernah menyingkap rahasia itu.”
Liok Siau-hong memandang patung di tangannya dengan seksama, matanya kembali terlihat bersinar-sinar.
“Masih ada satu cara lagi bagiku untuk mengetahui siapa dirinya.”
“Cara apa?”
“Aku bisa pergi mencari Thio si Boneka, aku yakin dia tahu cara untuk mengembalikan patung ini kembali ke keadaannya semula.”
Sebun Jui-soat menatap matanya dengan secercah senyuman.
“Kau benar-benar cerdas.”
“Aku memang tidak bodoh.” Liok Siau-hong tertawa.
“Kau akan pergi sekarang juga?”
Liok Siau-hong menggelengkan kepalanya, sebuah kehangatan yang lembut dan halus pun muncul di matanya.
“Sekarang aku hanya ingin menemui seseorang.”
Ia tidak menyebutkan nama orang itu, tapi Sebun Jui-soat telah tahu siapa orang tersebut.
Bintang perlahan-lahan menghilang, langit yang tiada batas dan berangin akhirnya lenyap. Sinar yang terang pun mulai muncul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar