Kamis, 19 April 2012

Duel 4. Seseorang Yang Harus Dirawat

Tanggal 14 bulan sembilan, pagi hari. Li Yan-pak keluar dari rumah ke-13 dari 30 buah rumahnya dan mulai berjalan kaki menembus kabut. Walaupun langkah kakinya masih lebar, tapi juga terlihat berat. Walapun ia masih berjalan dengan tegak seperti biasa, matanya menyiratkan keletihan. Ia tidak tidur semalaman.

Dalam 11 tahun terakhir ini, biasanya ada segerombolan orang yang mengikutinya saat berjalan kaki pagi hari di tengah kabut. Tapi hari ini berbeda. Tidak seorang pun berada di sana.

Matahari belum terbit, es menutupi dedaunan dan pohon-pohon. Hari ini bahkan lebih dingin daripada kemarin, tidak lama lagi gumpalan salju tentu akan mulai memenuhi angkasa.

Musim dingin di negara-negara utara akan selalu datang lebih cepat, khususnya bagi Li Yan-pak. Bagi dirinya, musim dingin telah tiba di hatinya.

Di tengah kabut yang tebal, seseorang berjalan menghampirinya di jalan raya. Sebelum Li Yan-pak melihat wajahnya, dia telah melihat sepasang mata yang berkilauan itu.

“Liok Siau-hong?”

“Ini aku.” Liok Siau-hong berhenti di bawah sebatang pohon yang layu, menunggunya. “Jika seseorang bisa berjalan-jalan setiap pagi, ia tentu akan memiliki kesehatan yang baik dan umur yang panjang.”

Ia sedang tersenyum, tapi itu bukanlah senyuman yang riang.

“Sudah berapa lama kau berjalan-jalan di luar sini?” Li Yan-pak bertanya.

“Rasanya sekitar satu jam lebih!”

“Mengapa kau tidak masuk?”

Liok Siau-hong kembali tersenyum, kali ini bahkan lebih dipaksakan lagi.

“Aku takut!”

Li Yan-pak memandangnya dengan heran.

“Kau takut? Kau bisa takut juga?”

“Tentu saja, dan amat sering.”

“Apa yang kau takuti?” Li Yan-pak tidak menunggu jawaban Liok Siau-hong sebelum mengajukan sebuah pertanyaan lain. “Apakah kau takut menemui Auyang?”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Ia masih hidup,” Li Yan-pak menepuk pundaknya. “Tampaknya racun itu tidak begitu mematikan seperti kelihatannya!”

Liok Siau-hong menghela nafas yang panjang dan lega.

“Cuma kau sendiri hari ini?” Tiba-tiba ia bertanya.

Li Yan-pak mengangguk, tiba-tiba ia tampak amat lelah.

“Mereka harus melakukan sesuatu hari ini!”

“Kalau begitu seharusnya kau tidak keluar!”

Li Yan-pak tertawa kecil, tawanya itu pun tidak terlihat riang.

“Sesudah kejadian kemarin, seharusnya kau lebih berhati-hati.”

Li Yan-pak berjalan berdampingan dengan Liok Siau-hong, tanpa mengucapkan apa-apa.

“Dalam 11 tahun terakhir, aku selalu berjalan-jalan di sekitar sini pada pagi hari,” tiba-tiba ia berkata setelah mereka berjalan beberapa lama. “Tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, hujan atau salju, aku tak pernah melewatkannya satu hari pun.”

Daerah ini adalah miliknya. Kapan pun ia berjalan-jalan menelusuri jalanan yang tua tetapi lebar ini, hatinya akan selalu dipenuhi oleh perasaan bangga dan puas, persis seperti seorang jenderal yang sedang memeriksa pasukannya, atau seorang kaisar yang sedang melihat-lihat wilayah kekuasaannya.

“Jika aku adalah kau, aku pun mungkin akan berjalan-jalan seperti ini setiap harinya.” Liok Siau-hong memahami perasaannya.

“Tentu saja kau pun akan melakukannya!”

“Tetapi, aku akan membuat pengecualian hari ini!”

“Tentu saja kau tidak akan melakukannya!”

“Tapi hari ini........”

“Terutama hari ini, kau tidak boleh melewatkannya!”

“Mengapa tidak?”

Li Yan-pak bimbang, sambil mengamati toko-toko tua tetapi bersih di kedua sisi jalan, matanya tampak dipenuhi oleh perasaan sedih dan nostalgia. Setelah hening beberapa lama, akhirnya ia menjawab.

“Karena hari ini mungkin saat terakhir untukku!”

“Saat terakhir?” Liok Siau-hong memandangnya dengan heran. “Mengapa hari ini adalah saat terakhirmu?”

Li Yan-pak tidak menjawab pertanyaan ini, ia malah tetap diam untuk beberapa lama sebelum mengajukan pertanyaannya sendiri: “Kau pernah bertemu dengan anak-anakku?”

Liok Siau-hong menggelengkan kepalanya. Ia belum pernah bertemu, juga tidak faham mengapa Li Yan-pak tiba-tiba mengajukan pertanyaan ini.

“Aku punya 19 orang putera, yang terkecil baru berusia 2 tahun.” Li Yan-pak meneruskan dengan perlahan. “Mereka semua puteraku, darah dagingku sendiri.”

Liok Siau-hong tidak berkata apa-apa dan mendengarkan saja apa yang hendak ia katakan.

“Tahun ini aku berusia 50 tahun. Walaupun aku terlihat masih kuat, kenyataannya aku sudah tua.”

“Kau belum tua,” Liok Siau-hong berusaha tertawa. “Ada orang yang mengatakan bahwa hidup seorang laki-laki dimulai saat mereka berusia 50 tahun!”

“Tapi aku tidak.” Li Yan-pak pun berusaha tertawa, tetapi gagal. “Karena aku tidak ingin melihat anak-anakku menderita.”

“Apakah kau benar-benar telah menjual seluruh tanah ini?” Liok Siau-hong akhirnya memahami apa yang ia maksudkan.

“Aku tidak ingin melakukannya,” Li Yan-pak mengangkat kepalanya dan ia menjawab dengan muram. “Tapi mereka memberiku tawaran yang terlalu bagus untuk dilewatkan begitu saja.”

“Tawaran apa itu?”

“Mereka bukan hanya mau mengambil tanggung-jawab mengenai masalah hutangku, mereka juga menjamin keselamatan seluruh keluargaku untuk pindah ke Selatan!” Akhirnya ia tertawa, tapi tawa itu terlihat menyedihkan. “Aku tahu bahwa wilayah selatan sungai Tiangkang adalah tempat yang indah. Setiap musim semi, burung-burung akan memenuhi angkasa, buah persik pun akan matang untuk dipetik, pohon liu akan bergoyang-goyang. Jika anak-anak tumbuh di sana, mereka tak akan pernah tumbuh menjadi seorang bajingan tua seperti diriku.”

Liok Siau-hong memandangnya.

“Kau benar-benar seorang bajingan tua!” Ia menghela nafas.

“Kau tidak punya anak, maka kau mungkin tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ayah!” Li Yan-pak tersenyum kesal.

“Aku mengerti.”

“Jika kau mengerti, maka seharusnya kau tahu mengapa aku berbuat seperti ini!”

“Aku tahu.”

“Jika Sebun Jui-soat kalah, maka aku tidak bisa pergi ke mana-mana lagi, dan tidak ada yang bisa kuperbuat dalam hal ini.”

Liok Siau-hong juga tahu hal ini. Tak ada orang yang memiliki 19 orang putera bisa berbuat banyak dalam hal ini.

“Setelah melihat Yap Koh-seng kemarin, aku tahu kalau aku tidak punya kesempatan untuk menang.”

“Bukan kau, tapi Sebun Jui-soat!”

“Tapi jika dia kalah, aku kalah jauh lebih banyak darinya!”

“Aku tahu.”

“Maka kau seharusnya tidak menyalahkanku karena berbuat seperti ini.”

“Aku tidak menyalahkanmu,” Liok Siau-hong menjawab. “Aku hanya merasa bahwa hal itu agak memalukan bagimu.”

“Agak memalukan? Apa maksudmu?”

Liok Siau-hong tidak menjawab pertanyaan ini, tapi ia malah balik bertanya: “Pada siapa kau menjual tanahmu?”

“Koh Jing-hong.”

“Siapa Koh Jing-hong itu?”

“Seorang tosu.”

“Tosu?” Liok Siau-hong terkejut mendengar jawaban itu.

“Tosu pun bermacam-macam.”

“Tosu macam apakah dia?”

“Tosu yang kaya dan berkuasa.” Li Yan-pak meneruskan penjelasannya. “Ada dua sekte agama To, pemimpin Sekte Selatan adalah Thio-cinjin dari Liong-hou-san, dan pemimpin Sekte Utara adalah Pek-in-koancu (Ketua Kuil Awan Putih)!”

“Dia adalah Pek-in-koancu?”

Li Yan-pak mengangguk: “Pek-in-koan (Kuil Awan Putih) berada di luar kota. Banyak pejabat yang sering bertamu di kuil itu, bahkan ada pula yang menjadi muridnya!”

“Jadi, walaupun namanya adalah seorang tosu, tapi sesungguhnya dia tak lebih dari tuan tanah yang terkaya dan paling berkuasa di sini.” Liok Siau-hong mengejek.

“Jika dia bukan orang seperti itu, mungkinkah aku menyerahkan tanahku padanya?” Li Yan-pak tersenyum pedih.

“Masih bisakah kau menundanya?”

“Aku telah menerima tawarannya dan telah memberikan semua surat-suratku padanya.”

“Apakah semua anak buahmu sekarang juga telah menjadi anak buahnya?”

“Kendali untuk wilayah ini sebenarnya bukan berada di tanganku, tapi di tangan Komisi.”

“Apakah dia telah menjadi ketua Komisi sekarang?”

“Posisi ketua juga sudah menjadi miliknya sekarang ini,” Li Yan-pak menghela nafas. “Aku telah menyerahkan padanya Liong-ki (Bendera Naga) yang diserahkan padaku oleh ketua terdahulu di hadapan beberapa orang saksi!”

“Siapa yang mencari saksi-saksi itu?”

“Dia, tapi mereka semua adalah jago-jago kungfu dan pejabat yang selalu aku hormati.”

“Siapa saja?”

“Yang satunya adalah Bok-tojin dari Bu-tong-pay, yang lain adalah Ko-siong Kisu dari Wi-san, dan yang terakhir adalah Lau-sit Hwesio!”

Liok Siau-hong terkejut. Begitu terkejutnya sehingga dia pun berhenti berjalan.

“Tak heran kalau aku tidak bisa menemukan mereka!” Wajahnya pun tampak berubah warna. “Aku pergi dan mereka datang!”

“Aku tidak menyebut-nyebut namamu pada mereka!”

“Jika mereka yang menjadi saksinya, maka kau benar-benar tidak bisa membatalkannya lagi!”

“Aku memang tidak ingin membatalkannya, aku telah membuat keputusan yang tetap!” Ia menatap wajah Liok Siau-hong. “Tapi tampaknya kau ingin mengatakan sesuatu.”

Liok Siau-hong terdiam untuk beberapa lama.

“Ada sesuatu yang hendak kuberitahukan padamu!” Akhirnya ia mengangguk dengan begitu perlahan.

“Apa?”

“Daerah Kanglam bukan hanya tempat yang indah, tapi juga penuh dengan wanita cantik. Lebih baik kau jaga sikapmu saat kau tiba di sana.” Ia tertawa. “Hanya ada 30 hari dalam sebulan. Jika kau menikahi 30 orang wanita lagi, kepalamu tentu akan pecah!”

Li Yan-pak juga tertawa, menepuk-nepuk pundak Liok Siau-hong dan tertawa: “Jangan khawatir. Aku akan menyerahkan semua gadis cantik di sana untukmu!”

Liok Siau-hong mendongakkan kepalanya dan tertawa.

“Kalau begitu, sebaiknya aku segera mengunjungimu, jangan-jangan nanti kau berubah fikiran!”

Ia tidak berkata apa-apa tentang Yap Koh-seng. Beberapa kali ia ingin menyebut-nyebut tentang hal itu, tapi akhirnya membatalkannya. Li Yan-pak adalah sahabatnya. Jika seorang sahabat hendak pergi, mengapa tidak mengantarkan kepergiannya dengan senyuman? Jika seorang sahabat bisa tersenyum, maka jangan buat dia menderita atau menyesal. Ini adalah prinsip Liok Siau-hong. Tapi dia tentu harus mengenali dulu siapa sahabat dan siapa musuhnya.

“Kapan kau hendak berangkat?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Mungkin lusa.” Sambil menatap kota yang kuno tetapi indah itu, sorot mata Li Yan-pak tiba-tiba dipenuhi oleh perasaan sedih dan nostalgia. “Walaupun aku sekarang hanya seorang penonton biasa, aku tetap ingin tahu hasil duel ini.”

Liok Siau-hong mengangguk dengan perlahan, dia faham perasaan Li Yan-pak saat ini.

“Bila kau pergi nanti, mungkin aku tidak dapat mengantarkanmu. Tapi jika kau datang lagi, tak perduli betapa derasnya hujan, betapa kuatnya tiupan angin, aku tentu akan berada di sana untuk menyambutmu!” Ia memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. “Aku tidak pernah menyukai perpisahan.”

Perpisahan selalu membuat orang sedih, walaupun ia tidak begitu perduli pada hidup atau mati, ia selalu memandang penting pada perpisahan.

“Aku tahu.” Li Yan-pak juga memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. “Walaupun aku tak pernah kembali jika aku telah pergi, aku akan selalu menyambutmu kapan saja kau datang ke selatan.”

Liok Siau-hong tidak berkata apa-apa lagi dan hanya berjalan beriringan dengannya selama beberapa saat.

“Bok-tojin dan kelompoknya, apakah mereka pergi bersama Koh Jing-hong?”

“Ya.”

“Menurutmu, ke mana mereka pergi?”

“Pek-in-koan. Masakan sayur dan arak mereka amat terkenal di sini.”

-------------


Pek-in-koan seperti benar-benar berada di awan. Atapnya yang keemasan tampak berkilauan diterpa sinar matahari dan kuil itu berdiri tegak dan megah di atas sebuah gunung. Kabut masih belum buyar, maka dari jauh kuil itu terlihat seperti sebuah istana yang mengambang di antara awan. Pintu-pintunya yang hitam besar dengan pengetuk pintu berbentuk seperti kepala binatang dan terbuat dari perunggu telah dibuka, tapi tidak ada orang yang terlihat. Angin pagi sayup-sayup membawa suara dengungan orang yang membaca doa. Para Tosu tentu sedang melakukan sembahyang pagi.

Tapi di aula utama pun tidak ada orang, hanya sejumlah daun yang baru gugur terlihat menari-nari tertiup angin di luar sana.

Liok Siau-hong melangkahkan kakinya ke halaman, melewati aula utama yang dipenuhi oleh asap dupa, dan keluar melalui sebuah pintu kecil di belakang. Di sana ia bertemu dengan seorang Tosu yang mengenakan jubah hijau dan topi kuning dan sedang berdiri di bawah sebatang pohon waru, memandang padanya dengan tatapan sedingin es. Walaupun daun-daun di pohon itu belum berguguran, warna musim gugur di halaman itu tampak lebih kental.

“Apakah Koh Jing-hong, Koh-cinjin, berada di sini?” Liok Siau-hong mencoba bertanya.

Tosu itu tidak menjawab. Matanya yang berkilauan tampak seperti pisau belati yang menembus kabut. Angin berhembus lewat dan rompi kuning di punggung pendeta itu tampak menari-nari. Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari bahwa di punggungnya terdapat sebatang pedang bersarung hitam.

“Apakah totiang sendiri adalah Koh-cinjin itu?”

Masih tidak ada jawaban dari tosu itu, wajahnya pun tetap tanpa emosi.

Liok Siau-hong tertawa canggung untuk mencoba memecahkan ketegangan itu.

“Sepertinya tosu ini tuli, kurasa aku bertanya pada orang yang salah.”

Tapi tosu ini tidak tuli, tiba-tiba ia mendengus dengan dingin: “Kau bukan bertanya pada orang yang salah, tapi kau datang ke tempat yang salah.”

“Bukankah ini Pek-in-koan?”

“Ya.”

“Orang tidak boleh datang ke mari?”

“Orang lain boleh, hanya kau yang tidak!”

“Kau tahu siapa aku?” Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak bertanya.

Tosu itu hanya menyeringai dan tiba-tiba ia bergeser selangkah ke samping. Kulit di sisi pohon itu telah terkelupas dan di situ tertulis 8 patah kata dalam tinta hitam: “Burung Hong Kecil Terbang Melintas, Mati Di Bawah Pohon Ini!”

“Kau memang tahu siapa diriku!” Liok Siau-hong menghela nafas.

“Burung hong mati di bawah pohon, pohon ini akan menjadi nisanmu!”

“Pernahkah kita bertemu sebelumnya?” Liok Siau-hong tiba-tiba bertanya.

“Belum.”

“Apakah ada sengketa masa lalu di antara kita?”

“Tidak.”

“Bagaimana dengan sengketa baru?”

“Juga tidak ada.”

“Karena kita belum pernah bertemu sebelumnya, dan tidak ada sengketa di antara kita, mengapa kau ingin membunuhku?” Sebuah tawa pertanda jengkel pun muncul di wajah Liok Siau-hong.

“Karena kau adalah Liok Siau-hong!”

“Agaknya alasan itu sudah cukup!” Senyuman Liok Siau-hong terlihat semakin menyedihkan.

“Memang!” Dengan sebuah kibasan tangannya, ia telah menghunus pedangnya!

“Pedang yang bagus!” Pedang itu berkilauan seperti banjir bandang di musim gugur. Tosu itu menyentil badan pedang dengan jarinya, terdengar suara denting yang keras. Mendengar suara itu, 6 orang tosu yang berpakaian serupa dengannya tiba-tiba muncul dari empat penjuru. Enam orang, enam pedang, semuanya sama-sama merupakan pedang antik yang amat bagus.

Rumbai-rumbai kuning di ujung pedang terlihat mengepak-ngepak dihembus angin. Tiba-tiba, mereka bertujuh menyerang pada saat yang bersamaan, yang digunakan tidak lain adalah ilmu pusaka Sekte To Utara, Pak-tau-jit-seng-kiam-tin (Formasi Pedang Tujuh Bintang Utara) dari Coan-cin-kau yang terkenal di seluruh dunia. Tosu bermuka kayu tadi jelas merupakan orang yang bertanggung-jawab dalam memimpin formasi itu.

Jurus-jurusnya amat cekatan dan mengalir seperti arus, walaupun ia masih belum sehebat Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng, pedangnya cukup tangkas dan bergerak sekehendak hatinya, membuat dirinya termasuk seorang jago pedang tangguh di dunia persilatan.

Belum lagi formasi Pak-tau-jing-seng-kiam-tin itu, dengan kerja sama tim yang baik, ketujuh pedang itu seperti memiliki kekuatan 70 buah pedang. Bahkan Liok Siau-hong pun merasakan kesukaran untuk balas menyerang. Pedang-pedang itu seperti jala di sekelilingnya. Ia merasa seperti seekor ikan yang terperangkap di dalam jala, melompat naik turun, ke kiri dan ke kanan di dalam jala, tapi ia tetap tidak bisa keluar. Jala itu pelan-pelan mulai merapat.

“Pedangnya bagus, jurus pedangnya pun hebat, tapi sayang orang-orangnya keliru!” Liok Siau-hong tiba-tiba menghela nafas.

Tidak ada yang bertanya: “Keliru di mana?” Bahkan jika ada yang ingin bertanya, ia tidak memiliki kesempatan itu. Dalam sekejap, Liok Siau-hong mulai bergerak. Hanya dengan sebuah liukan tubuhnya yang sederhana, tangannya telah berhasil mencengkeram pergelangan tangan si tosu kepala dan mendorongnya dengan pelan. Yang terjadi selanjutnya adalah rentetan suara dentingan logam saat pedang-pedang itu berbenturan dan bunga api pun beterbangan. Liok Siau-hong, kembali dengan sebuah gerakan sederhana, berhasil lolos dari kepungan jala itu.

Tapi dalam sekejap itu juga, sebuah suara tawa yang dingin terdengar dan selarik sinar datang melesat seperti pelangi. Kekuatan dan kecepatan serangan ini jauh di atas tosu tadi. Liok Siau-hong baru saja lolos dari cengkeraman formasi tadi dan larik sinar itu telah tiba beberapa inci dari tenggorokannya.

Hawa pedang yang dingin membeku telah menyentuh kulitnya. Liok Siau-hong malah tertawa dan ia tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menjepitkan jari-jarinya.

Musuhnya bahkan belum sempat mendengar tawanya saat pedangnya telah terjepit. Tangannya ternyata lebih cepat daripada suara!

Hawa itu menghilang. Dengan dua jari tangan menjepit pedang, Liok Siau-hong tersenyum pada laki-laki di hadapannya seorang laki-laki setengah umur berwajah putih dengan sedikit jenggot dan mengenakan pakaian sutera yang indah. Orang ini balas menatapnya, dengan terperanjat.

Tak ada orang yang bisa percaya bahwa ada orang yang secepat ini di dunia, orang ini tentu saja tidak mempercayainya juga. Ia yakin bahwa ilmu pedangnya setara dengan Yap Koh-seng dan Sebun Jui-soat, percaya bahwa serangan terakhirnya itu tak akan pernah gagal. Baru sekarang ia menyadari bahwa ia keliru.

Saat itulah sebuah suara tawa bisa terdengar dari bangunan di belakang pohon waru itu: “Sudah kubilang kan sebelumnya! Thian-gwa-hui-sian Yap Koh-seng dan gerak jari Leng-si-it-ci Liok Siau-hong adalah ilmu kungfu yang tidak ada tandingannya di dunia ini! Sekarang kau percaya padaku?”

“Kita beruntung melihat pertunjukan ini, aku merasa kagum!” Satu orang lagi terdengar menghela nafas.

Laki-laki setengah umur itu pun tiba-tiba menghela nafas: “Liok Siau-hong benar-benar Liok Siau-hong!”

Suara tawa itu berasal dari Bok-tojin dan Liok Siau-hong menduga bahwa orang yang menghela nafas tadi tak lain adalah Koh Jing-hong. Ada orang yang tampaknya selalu memiliki senyuman di wajahnya dan Koh Jing-hong adalah salah satu di antaranya. Dia memang orang yang bersih dan enak dilihat, bila tersenyum maka dirinya terlihat lebih hangat dan ramah.

Sambil tersenyum, ia mendekat dan menghapus tulisan di pohon itu dengan perlahan: “Liok-tayhiap mungkin sudah tahu bahwa semua ini hanya....”

“Hanya sebuah gurauan.” Liok Siau-hong menyelesaikan ucapannya.

“Kau tahu?” Koh Jing-hong tampak terkejut.

Liok Siau-hong mengangguk.

“Karena sudah banyak orang yang bergurau seperti ini sebelumnya denganku.”

“Ini memang bukan gurauan yang begitu lucu,” tatapan mata tanda penyesalan pun muncul di mata Koh Jing-hong.

“Tidak, tidak begitu lucu, tapi juga tidak jelek!” Liok Siau-hong meyakinkan dirinya. “Setidaknya, setiap kali seseorang bergurau seperti ini padaku, akhirnya aku selalu merasa amat beruntung.”

“Mengapa?”

“Jika aku tidak beruntung, maka gurauan ini tidak menjadi gurauan lagi!” Liok Siau-hong menjawab terus terang dan dia dengan lembut dan perlahan-lahan meletakkan pedang yang berada di antara jari-jari tangannya, seolah-olah dia khawatir kalau pedang itu akan melukai jarinya.

Laki-laki setengah baya berpakaian sutera itu juga tersenyum, itu juga senyuman pertanda meminta maaf: “Awalnya aku tidak ingin terlibat dalam gurauan ini, tapi mereka semua menjamin bahwa tidak ada orang yang bisa menyentuh tenggorokan Liok Siau-hong dengan serangan pedangnya, maka aku.....”

“Maka kau pun menguji ucapan itu?” Liok Siau-hong menyelesaikan ucapannya. Ia tertawa kecil dan meneruskan: “Walaupun aku ingin marah, aku tidak berani marah di hadapan Komandan Utama Istana Kerajaan!”

“Kau tahu siapa aku?” Orang itu tampak terkejut.

Liok Siau-hong tersenyum.

“Selain dari Hu-kiu-sin-kiam In Cu, In-samya, siapa lagi di dunia ini yang mampu melancarkan jurus Giok-li-coan-soh (Gadis Cantik Memintal Benang) tadi?”

Bok-tojin kembali tertawa terbahak-bahak.

“Bukankah sudah kubilang sebelumnya? Bukan hanya tangannya yang luar biasa, matanya pun begitu pula!”

Setiap orang di dunia persilatan tahu bahwa ada empat orang jago kungfu yang bertindak sebagai Komandan Utama di Istana Kerajaan, tapi hanya segelintir orang yang pernah melihat mereka.

“Matamu benar-benar luar biasa!” Sambil tertawa terbahak-bahak, In Cu menepuk pundak Liok Siau-hong. “Belum sampai sepuluh tahun aku memasuki dunia persilatan, tidak kuduga kalau kau pun tahu siapa aku!”

“Hanya ada beberapa orang yang mampu melancarkan jurus Giok-li-coan-soh, tapi yang benar-benar mampu mengeluarkan seluruh kekuatan dan tenaga dari jurus itu hanya ada satu orang di dunia ini!” Liok Siau-hong menambahkan sambil tersenyum, orang ini memberikan kesan yang baik pada dirinya.

Dalam bayangannya, Komandan Istana tentu tipe orang yang selalu melihat ke atas. Tapi orang ini terlihat ramah dan memiliki tawa yang amat murni dan menyenangkan serta membuat orang gembira. Maka Liok Siau-hong pun berharap dapat menghiburnya sedikit.

Mata In Cu segera bersinar-sinar dan dia tiba-tiba mencengkeram tangan Liok Siau-hong.

“Kau mengatakan yang sebenarnya?”

“Aku tidak pernah berdusta.”

“Kalau begitu, tolong katakan padaku, bagaimana jurus Giok-li-coan-soh-ku tadi bila dibandingkan dengan Thian-gwa-hui-sian Yap Koh-seng?”

Liok Siau-hong menghela nafas. Kebenaran tidak selalu ingin didengar orang.

“Kau yakin kalau kau ingin aku mengatakannya padamu?”

“Aku tahu kalau kau juga pernah menghadapi Thian-gwa-hui-sian sebelumnya, maka kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang pantas untuk menilai!”

“Waktu aku menangkap pedangnya, di belakangku ada sebuah dinding,” Liok Siau-hong menjawab sambil berfikir. “Aku tidak perlu mengkhawatirkan bagian belakangku. Saat aku menangkap pedangmu, di belakangku masih ada 7 bilah pedang!”

Sinar di mata In Cu kembali meredup.

“Jadi aku tidak sehebat dia?”

“Sejujurnya, tidak!”

“Setidaknya aku akhirnya bisa menyaksikan engkau beraksi, tapi Thian-gwa-hui-sian.....”

Tawa Koh Jing-hong tiba-tiba menghentikan mereka.

“Kau akan segera menyaksikan Thian-gwa-hui-sian!”

“Benarkah?”

“Tentu saja!”

Mata In Cu kembali bersinar-sinar.

“Karena besok malam adalah malam bulan purnama!”

“Dan puncak Ci-kim-san sekarang menjadi puncak Ci-kim-sia!” Koh Jing-hong tersenyum. “Jadi jika orang lain tidak, kau pasti akan menonton.”

Tinju In Cu mengepal di pedangnya. “Di puncak Kota Terlarang, mereka memilih tempat seperti itu..... Dari mana mereka mendapat keberanian itu!” Ia bergumam.

“Tanpa kungfu yang amat hebat, dari mana lagi bisa mendapatkan keberanian itu?” Koh Jing-hong menjawab.

In Cu terdiam sebentar.

“Seharusnya kau tidak memberitahukan hal ini padaku.” Tiba-tiba ia berujar.

“Mengapa tidak?”

“Jangan lupa bahwa aku adalah seorang Komandan Pengawal Istana, bagaimana mungkin aku bisa membiarkan mereka memasuki istana?”

“Kau bisa membuat pengecualian!”

“Mengapa aku harus membuat pengecualian?”

“Karena aku tahu bahwa kau tentu sangat ingin menyaksikan Thian-gwa-hui-sian yang tiada tandingannya itu!”

In Cu menghela nafas dan sebuah senyuman tanda menyerah lalu muncul di wajahnya.

“Kau tahu masalahmu yang terbesar? Kau tahu terlalu banyak!”

“Benar-benar terlalu banyak!” Liok Siau-hong pun menghela nafas.

“Kurasa kau tidak mengira kalau aku akan tahu tentang hal ini, kan?”

“Ini memang sebuah rahasia!”

“Rahasia,” Koh Jing-hong tersenyum. “Di kotaraja ini, tidak ada yang benar-benar rahasia!”

“Jadi kau pun tahu kalau aku akan datang?”

“Kau adalah sahabat Li Yan-pak. Jika bukan karenamu, dia mungkin sudah mati di tangan Toh Tong-han!”

“Sebenarnya, kami memang sedang mencarimu,” Bok-tojin tiba-tiba memotong. “Tapi akhirnya kami malah menjadi saksi transaksi itu!”

“Bagaimana dengan Lau-sit Hwesio?”

“Aku yang mengajaknya. Aku tahu kalau kau sedang mencari dirinya.”

“Sayangnya kami terlambat tiba di sana,” Koh Jing-hong menambahkan. “Tidak sempat merasakan masakan daging kambing Capsha-ih-thay yang terkenal itu!”

“Seorang tosu pun boleh makan daging kambing?”

Koh Jing-hong tertawa.

“Jika seorang tosu tidak boleh makan daging kambing, mengapa dia mau menghabiskan uang satu juta sembilan ratus lima puluh ribu tael perak untuk membeli sesuatu dari Li Yan-pak?”

“Mungkin karena dia amat yakin kalau dia tidak akan kalah?” Tatapan Liok Siau-hong seperti menembus wajah Koh Jing-hong.

“Jika taruhan itu tidak mungkin bisa kau menangkan, maukah kau membayarnya?” Koh Jing-hong menjawab dengan santai.

“Tidak.”

“Dan jika kau setuju untuk menanggung taruhan itu, bukankah itu berarti bahwa kau setidak-tidaknya cukup punya keyakinan?”

Liok Siau-hong tertawa.

“Tampaknya kau persis seperti aku, tidak tahu bagaimana caranya berdusta!”

“Bagaimana seorang tosu bisa berdusta?”

“Tapi sayangnya, sepertinya juga sukar bagiku untuk memintamu mengatakan yang sebenarnya!”

“Seorang pendeta harus menguasai seni menghindar,” Koh Jing-hong bergurau. “Orang harus dapat berdiri di antara garis kejujuran dan dusta. Tidak jujur, juga tidak berdusta!”

In Cu tiba-tiba menepuk pundak Liok Siau-hong lagi.

“Sebenarnya kau telah mempelajari sesuatu yang kecil darinya,” dia bergurau. “Sekali-sekali, katakan separuh bagian dari suatu kebenaran, dan berdustalah sekali atau dua kali.”

“Sayangnya, setiap kali berdusta kakiku terasa kejang dan aku jadi bicara tak keruan.” Liok Siau-hong menghela nafas.

In Cu menatapnya tidak percaya.

“Benarkah?”

“Tidak!”

______________________________

Ruang meditasi itu penuh dengan orang. Setiap orang duduk dengan rapi, tenang, dan khusyuk dalam barisannya, seperti sebuah ruangan berisi murid-murid yang baik dan penurut yang sedang menunggu lonceng sekolah. Tentu saja, mereka bukan anak-anak, mereka juga tidak terlalu baik.

Liok Siau-hong pernah melihat mereka sebelumnya, semuanya. Orang-orang ini telah mengikuti Li Yan-pak berjalan pagi setiap harinya sejak hari saat Kim-to Pang Hun dilemparkan ke sungai es, tak seorang pun berani ketinggalan acara jalan pagi itu. Tapi mulai hari ini, tidak seorang pun dari mereka akan mengikuti acara itu lagi.

-- “Cuma kau sendiri hari ini?”

-- “Mereka semua ada urusan hari ini!”

Ternyata urusan inilah yang sedang mereka lakukan.

“Duduk di sini memang jauh lebih nyaman daripada berjalan kaki,” Liok Siau-hong tertawa kecil dan berujar. “Tapi hati-hati, duduk terlalu banyak akan menyebabkan dirimu sakit perut, dan itu bukanlah pertanda nasib baik.”

Mereka semua menundukkan kepala dengan malu, satu di antaranya menundukkan kepalanya lebih rendah daripada yang lain.

Tio si Pemegang Pentung. Melihat dirinya, Liok Siau-hong segera teringat pada kuda putih, mayat di atas kuda, dan Giam Jin-eng muda yang angkuh itu.

Bagaimana dia bisa mati? Dari mana kuda itu berasal? Liok Siau-hong ingin bertanya, tapi tidak bisa. Ini bukan saat yang tepat, bukan tempat yang tepat.

Jika itu orang lain, yang sebaiknya dia lakukan adalah benar-benar mengacuhkannya dan pura-pura tidak ada yang terjadi. Tapi Liok Siau-hong bukan orang lain.

Koh Jing-hong sedang mencicipi araknya saat Liok Siau-hong tiba-tiba menyerang dan mencengkeram leher baju Tio si Pentung.

“Kudapat kau! Akhirnya aku menemukanmu!” Ia berseru. “Ayo kita lihat bagaimana kau bisa kabur sekarang!”

Semua orang terkejut, tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi. Orang yang paling terperanjat tentu saja Tio si Pentung. Ia tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi.

Koh Jing-hong ingin menengahi, Bok-tojin hendak bicara untuk menenangkan semua orang. Tapi Liok Siau-hong menghentikan semua usaha mereka sambil berkata dengan wajah yang kaku: “Aku ada urusan dengan orang ini, urusan yang harus kuselesaikan. Setelah beres, aku akan kembali untuk mencicipi arak bersama semua orang. Jika ada yang berusaha menghentikanku.......”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, juga tidak perlu menyelesaikannya. Tidak ada orang yang ingin berhadapan dengan Liok Siau-hong hanya demi seseorang seperti Tio si Pentung. Di depan semua orang, Liok Siau-hong bisa menyeret Tio si Pentung ke luar pintu, keluar dari kuil, dan masuk ke sebuah hutan yang letaknya tidak jauh dari kuil.

Matahari telah naik, naik tinggi di angkasa, hari ini adalah hari yang cerah. Tapi di dalam hutan tetaplah gelap. Sinar matahari mengintip melalui dedaunan dan jatuh menerpa wajah Tio si Pentung.

Wajah Tio si Pentung sudah pucat karena ketakutan.

“Apa apa salahku pada Liok-tayhiap?” Ia tergagap.

“Tidak ada,” Liok Siau-hong tiba-tiba melepaskannya dan tersenyum. “Dan juga tidak ada urusan lama, sama sekali tidak ada.”

Tio si Pentung terkejut untuk kedua kalinya. Tapi setidaknya wajahnya mulai berwarna kembali.

“Jadi semua ini cuma lelucon?”

“Rasanya ini memang bukan lelucon yang bagus, mungkin lebih buruk daripada lelucon yang mereka lakukan padaku.”

“Bukan, bukan lelucon yang bagus,” Tio si Pentung menghela nafas dengan lega dan tertawa. “Tapi setidaknya masih lebih baik daripada bukan lelucon!”

Sikap Liok Siau-hong tiba-tiba berubah kembali.

“Tapi kadang-kadang lelucon bisa berubah menjadi sesuatu yang amat serius!” Ia berkata dengan dingin.

Tio si Pentung menghapus keringat dingin dari keningnya.

“Jika aku menemukan informasi yang ingin dicari Liok-tayhiap, apakah lelucon ini akan tetap berubah?”

“Tidak,” Liok Siau-hong tertawa. “Tidak mungkin!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar