Minggu, 22 April 2012

Duel 10. Sabuk Sutera Yang Ketujuh

Tanggal 15 bulan sembilan, senja hari. Warna-warna sinar matahari terbenam yang spektakuler tampak memenuhi angkasa. Liok Siau-hong terbang keluar dari toko roti itu dan mulai melesat di sepanjang jalan raya yang tampak kemerah-merahan.

Ia harus menemukan satu sabuk sutera sebelum bulan terbit. Ia tidak boleh ketinggalan acara duel malam ini. Sama sekali tidak boleh!

Karena Yap Koh-seng dan Sebun Jui-soat keduanya adalah sahabatnya, karena ia telah menyadari bahwa, di bawah sinar bulan purnama, saat duel mereka berlangsung, sesuatu yang mengguncangkan dunia akan terjadi, sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan daripada duel itu sendiri.

Tentu saja dia tidak bisa meminta kembali sabuk-sabuk sutera yang telah dia berikan pada orang lain. Tetapi sabuk curian tentu berbeda. Kau bukan hanya bisa menuntut kembali apa yang telah dicuri orang darimu, kau pun bisa balas mencurinya, atau bahkan mengambilnya secara paksa. Ia telah memutuskan apa yang harus ia lakukan. Satu-satunya masalah adalah bagaimana cara dia menemukan Sukong Ti-sing?

Orang ini seperti angin, malah mungkin lebih sukar dilacak daripada angin. Orang yang tidak ingin mencari tentu akan sering bertemu dengannya, tapi yang ingin mencarinya tentu tidak akan pernah menemukannya.

Untunglah bagi Liok Siau-hong, dia masih memiliki satu petunjuk. Dia masih ingat nama toko obat dari mana Sukong Ti-sing tampak berjalan keluar tadi.

Sukong Ti-sing jauh lebih sehat daripada sebagian besar orang yang telah menjadi korbannya, tidak mungkin dia mencari semacam obat di toko itu. Maka, jika ia berjalan keluar dari toko obat itu, tentu toko obat itu setidaknya memiliki hubungan dengan dirinya.

Huruf-huruf emas nama toko obat itu tampak berkilauan tertimpa sinar matahari. Di depan pintu ada seorang bocah kecil yang sedang bermain bulu ayam. Saat dia melihat Liok Siau-hong datang mendekat, dia pun segera memasukkan jarinya ke dalam mulut dan bersuit.

Dengan tiba-tiba, dari kedua ujung jalan, kiri dan kanan, selusin atau lebih anak-anak kecil yang tertawa cekikikan tampak berhamburan ke jalan dan berkumpul di depan Liok Siau-hong.

Mereka masih mengenali Liok Siau-hong, dan tentu saja, masih ingat pada lagu pendek yang bisa membunuh orang dengan cara membuatnya meledak karena marah atau sesak nafas karena tertawa itu.

Liok Siau-hong pun tertawa cekikikan, dia yakin anak-anak ini hendak menyanyikan lagu Sukong Ti-sing, si siluman monyet lagi.

Tapi anak-anak itu malah mulai bernyanyi sekuat-kuatnya:

“Siau-hong bukanlah burung, tapi kutu busuk,
Kutu busuk berkepala runcing, suka menggali lubang seharian,
Anjing buang air di lubang itu, maka dia pun makan kotoran,
Setumpuk besar kotoran anjing yang bau, kutu busuk pun bisa terbang di atasnya.”

Baris-baris lagu macam apakah itu? Hampir tidak ada artinya.

Liok Siau-hong tidak bisa memutuskan apakah dia harus tertawa ataukah marah. Sepertinya dia telah lupa kalau baris-baris lagu yang dia berikan tadi pun sama sekali tidak berirama.

Tentu saja dia tahu dari mana asal lagu itu. Sukong Ti-sing tentu telah kembali ke tempat itu.

Setelah bersusah-payah, akhirnya ia berhasil menyuruh anak-anak itu berhenti.

“Apakah laki-laki tua berambut putih itu datang kembali?” Ia segera bertanya, tidak mau mengambil resiko sedikit pun.

Bocah-bocah itu mengangguk.

“Ia mengajari kami lagu itu, ia bilang lagu itu adalah lagu kesukaanmu dan jika kami menyanyikannya dengan baik, kau akan membelikan kami permen!” Mereka semua berteriak.

Liok Siau-hong merasa dirinya hampir tertawa terbahak-bahak lagi, siapa yang mau membelikan orang lain permen setelah dihina habis-habisan?

Bocah-bocah itu mengedip-ngedipkan mata sambil menatapnya dengan penuh harap.

“Bagaimana lagu kami tadi?”

“Bagus, sangat bagus.” Liok Siau-hong mengangguk.

“Kau akan membelikan kami permen?”

Liok Siau-hong menghela nafas dan tertawa pertanda mengaku kalah: “Ya, tentu saja.”

Apa saja yang orang lain tidak mau melakukannya, Liok Siau-hong sering kali melakukannya. Bagaimana mungkin ia mengecewakan hati anak-anak ini? Ia segera pergi dan membelikan permen, permen yang amat banyak. Saat melihat keceriaan bocah-bocah itu, hatinya pun terasa mencair.

Dengan permen di mulut, dua orang bocah lalu menarik-narik bajunya.

“Kakek itu benar, kau adalah orang yang baik, Tuan!” Mereka bersorak.

“Dia benar-benar mengatakan kalau aku orang yang baik?” Liok Siau-hong tampak acuh tak acuh.

“Dia bilang kau ini amat penurut, bahkan sejak kau masih bayi.”

Liok Siau-hong makin tidak percaya: “Bagaimana dia tahu seperti apa diriku saat aku masih bayi?”

“Dia melihatmu tumbuh, dia bahkan sering mencebokimu saat kau buang kotoran, tentu saja dia tahu.”

Liok Siau-hong menggeram tanpa sadar, saat itu tidak ada yang lebih ingin dia lakukan daripada mengikat siluman monyet itu dan memukulinya beberapa kali, mungkin lebih.

“Kakek itu tadi ada di sini, jika kau datang lebih cepat, Tuan, kau tentu akan bertemu dengannya.”

“Ke mana dia pergi?”

“Ia terbang lagi, dan begitu tinggi! Tuan, kau bisa terbang lebih tinggi darinya?”

Liok Siau-hong merapikan leher baju dan lengan bajunya: “Aku tidak begitu yakin, tapi mengapa kalian tidak memperhatikan saja dan melihatnya?”

Karena Sukong Ti-sing tidak berada di sana, tidak ada gunanya baginya untuk tinggal di sini lebih lama lagi.

Tapi bocah-bocah itu segera mencegahnya: “Tunggu sebentar, Tuan, ada satu hal lagi yang hendak kami beritahukan padamu.”

“Apa itu?”

“Kakek itu meninggalkan sebuah bungkusan kecil untukmu. Dia bilang, kami harus memberikannya padamu jika kau membelikan kami permen dan membuangnya ke selokan jika kau tidak membelikan permen.”

Bocah yang larinya paling cepat sudah berlari masuk ke dalam toko obat dan lalu berjalan keluar dengan sebuah bungkusan di tangan. Tak pernah terduga oleh Liok Siau-hong kalau di dalam bungkusan itu terdapat dua helai sabuk sutera.

Di bawah sinar matahari terbenam, sabuk-sabuk itu telah berubah warna menjadi kemerah-merahan. Selain dari sabuk, di dalam bungkusan itu juga terdapat secarik kertas: “Mencuri satu darimu, mengembalikan dua padamu. Aku seorang siluman monyet, kau seekor kutu busuk. Kau ingin memukul pantatku? Aku akan membuatmu makan kotoran.”

Liok Siau-hong tertawa, tertawa dengan keras: “Bajingan kecil itu benar-benar tidak waras, ya kan?”

Mengapa dia mengembalikan dua helai sabuk sutera lagi setelah mencuri satu? Dari mana asal sabuk sutera yang satunya lagi?

Liok Siau-hong tidak mau berlama-lama memikirkan pertanyaan itu. Sekarang kedua sabuk sutera ini telah berada di tangannya tanpa harus bersusah-payah, jelas ia lebih gembira daripada anak-anak itu saat mereka melihat banyaknya permen yang ia belikan untuk mereka: “Perhatikan sekarang, katakan siapa yang terbangnya lebih tinggi ya?”

Masih sambil tertawa, dia pun bersalto tiga kali dan mendarat lagi di atas atap bangunan.

“Kau lebih tinggi! Kau terbang lebih tinggi daripada kakek itu!” Anak-anak itu bersorak.

Dengan mata yang jernih dan kepolosan mereka, mereka tidak akan pernah berdusta. Liok Siau-hong merasa lebih enak, jika itu mungkin. Ia merasa seakan-akan sedang melayang, seakan-akan sepasang sayap baru saja tumbuh di tubuhnya dan dia pun seakan terbang ke bulan. Bulan mungkin belum terbit, tapi matahari terbenam telah menghilang di cakrawala.

Malam pun perlahan-lahan turun. Liok Siau-hong kembali ke Rumah Makan Lezat dan Harum lewat pintu belakang. Melalui jendela, ia bisa melihat kalau lampu telah dinyalakan. Sinar lampu yang lembut itu membuatnya lebih mudah melihat Sun Siu-cing dan Auyang Cing melalui jendela yang terbuka dari semak-semak bunga.

Mereka berdua memang cantik, dan di bawah sinar lampu, mereka bahkan terlihat lebih cantik. Pintu itu tidak tertutup rapat. Liok Siau-hong sama sekali lupa untuk mengetuk karena hatinya terasa berat. Kapan Sebun Jui-soat pergi?

Dia ingin bertanya, tapi tidak jadi. Dia tidak berani, juga tidak bisa menahan fikiran itu. Di atas meja ada tiga buah cangkir kosong dan satu poci arak. Ia menuangkan secangkir untuk dirinya sendiri dan perlahan-lahan meminum isi cangkir itu sebelum menuangkan secangkir lagi dan dengan cepat menghabiskan isinya lagi.

“Dia sudah pergi.” Tiba-tiba terdengar Sun Siu-cing berkata.

“Aku tahu.”

“Dia bilang, dia ingin pergi lebih cepat agar dia bisa meninggalkan kota dan masuk kembali, sehingga orang-orang tidak mengira kalau selama ini dia sebenarnya telah berada di dalam kota!”

“Aku bisa menduganya.”

“Kuharap kau pun pergi ke sana lebih cepat, karena..... karena ia tidak punya sahabat lain.”

Liok Siau-hong tidak bisa berkata apa-apa dan Sun Siu-cing pun tidak berkata apa-apa lagi. Ia berpaling dan menatap kegelapan melalui jendela. Malam pun perlahan-lahan turun, bulan purnama pelan-pelan telah naik ke angkasa. Angin pun terasa semakin dingin.

Setelah beberapa lama, Sun Siu-cing bicara lagi dengan perlahan.

“Malam ini amat indah, jauh lebih indah daripada biasanya. Tetapi segera ia pun hilang.” Ia menutup matanya dan air mata pun mengalir di pipinya. Setelah hening beberapa saat, ia meneruskan: “Mengapa sesuatu yang bagus dan indah selalu begitu cepat menghilang? Mengapa mereka tidak bisa tinggal di dunia ini sedikit lebih lama?”

Apakah ia sedang bertanya pada Tuhan? Atau ia bertanya pada Liok Siau-hong? Liok Siau-hong tak tahu harus menjawab apa. Tidak ada yang tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan ini.

Ia menghabiskan secangkir arak lagi sebelum ia bisa memaksakan sebuah senyuman di wajahnya: “Aku juga pergi. Aku berjanji akan membawanya pulang!”

Ia tidak berani berkata apa-apa lagi, juga tidak berani melirik pada Auyang Cing. Tadinya ia bermaksud hendak memberikan sabuk sutera yang satunya lagi pada gadis itu agar dia pun bisa menyaksikan duel abad ini.

Tapi ia tidak jadi menyebut-nyebut tentang hal itu. Ia tahu Auyang Cing tentu lebih suka tinggal di sini untuk menemani Sun Siu-cing. Ia faham bagaimana perasaan Sun Siu-cing, perasaannya itu bukanlah cemas, takut, berat hati... Kata-kata itu mungkin tidak cukup. Saat ini ia benar-benar berharap agar dapat membawa pulang Sebun Jui-soat.

Tepat saat dia bangkit dan hendak pergi, Auyang Cing tiba-tiba menggenggam tangannya, memaksanya berpaling dan melihat matanya. Air matanya juga tampak menetes. Bahkan orang tolol pun bisa melihat perhatian dan kasih sayangnya. Tentu saja Liok Siau-hong bisa melihatnya juga, walaupun dia hampir tidak bisa percaya. Bagaimana mungkin Auyang Cing yang sedang menatapnya saat ini sama dengan Auyang Cing sebelumnya yang sedingin es?

Mengapa dia tiba-tiba berubah? Liok Siau-hong baru menyadari betapa sedikitnya pengetahuan yang ia miliki tentang wanita.

Untunglah ia cukup faham bahwa seorang wanita tidak akan pernah menatapnya seperti ini jika ia benar-benar membencinya, ia juga tak akan menggenggam tangannya. Tangan Auyang Cing terasa dingin, tapi tangan itu menggenggam tangannya dengan erat. Baru sekarang gadis ini benar-benar faham betapa sakit rasanya bagi seorang wanita jika ia kehilangan laki-laki yang dicintainya.

Mereka berdua saling bertatapan untuk beberapa lama.

“Kau juga akan pulang?” Akhirnya ia bertanya dengan suara hampir berbisik.

“Aku akan pulang!”

“Kau berjanji?”

“Aku berjanji!”

Auyang Cing pelan-pelan berpaling dan dia pun melepaskan tangan Liok Siau-hong dengan perlahan-lahan: “Aku akan menunggumu.”

“Aku akan menunggumu.” Perasaan yang berada di lubuk hati seorang laki-laki saat dia tahu ada seorang wanita yang menunggunya adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh perasaan apa pun.

“Aku akan menunggumu.” Betapa indah, hangat, dan ajaib kalimat itu. Liok Siau-hong seperti mabuk, tapi dia bukan mabuk karena alkohol.


-----------------------


Bulan yang terang terlihat jauh di angkasa, dan Liok Siau-hong sedang menghadapi satu teka-teki lagi. Ada sehelai sabuk sutera lagi yang harus diberikan, tapi pada siapa dia harus memberikannya? Orang-orang yang patut menerima sabuk sutera itu tidak terlihat di mana-mana.

Jalan raya itu terlihat ramai, tetapi lebih ramai lagi di dalam rumah-rumah makan dan warung arak. Segala jenis orang sedang duduk di meja, membicarakan urusan mereka malam itu.

Liok Siau-hong tidak perlu mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena ia tahu bahwa mereka sedang menunggu hasil duel malam ini. Tidak diragukan lagi, banyak di antara mereka yang telah mempertaruhkan uang untuk Sebun Jui-soat ataupun Yap Koh-seng.

Duel ini bukan hanya mengguncangkan dunia persilatan, bahkan telah menembus hingga kedalaman masyarakat kotaraja. Tidak pernah ada duel yang berdampak luas seperti ini sebelumnya.

Liok Siau-hong merasa hal itu amat lucu. Ia yakin, jika Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng tahu tentang ini, mereka pun akan merasa hal ini amat lucu.

Saat itulah ia melihat seorang laki-laki berjalan keluar dari sebuah warung teh di seberang jalan. Orang ini bertubuh amat jangkung dan kurus, berpakaian mewah, gayanya pun amat berbudaya, dan mengenakan sehelai jubah biru yang indah. Di pelipisnya ada beberapa helai rambut perak. Dia tidak lain adalah Majikan Kota Selatan, Toh Tong-han.

Ini mungkin bukan wilayah Li Yan-pak lagi, tapi tetap merupakan wilayah saingan Toh Tong-han. Mengapa ia tiba-tiba muncul di sini? Dan bahkan tanpa membawa satu pun pengawal?

Liok Siau-hong segera memburunya dan menepuk pundaknya.

“Toh-haksu, apa kabar?”

Toh Tong-han benar-benar terperanjat dan ia pun memutar kepalanya dengan segera. Ketika ia menyadari bahwa orang yang menyapanya itu adalah Liok Siau-hong, ia lalu memaksakan sebuah senyuman yang palsu: “Lumayan, terima kasih!”

“Di mana pengawalmu?” Ia bertanya, menyebut laki-laki misterius yang berpakaian hitam itu.

“Ia sudah pergi!”

“Mengapa dia pergi?”

“Kolam yang kecil tidak bisa menghidupi ikan besar, tentu saja dia pergi!”

Liok Siau-hong diam-diam melihat ke sekelilingnya sebelum merendahkan suaranya dengan sengaja: “Jadi kau datang sendirian ke wilayah Li Yan-pak ini?”

Toh Tong-han tersenyum.

“Rasanya ini bukan wilayah Li Yan-pak lagi.” Ia menjawab dengan santai.

“Ia mungkin sudah mati, tapi ia masih memiliki sekelompok anak buah!”

“Setelah seseorang mati, bahkan isterinya pun boleh menikah lagi, apalagi cuma anak buah!”

Liok Siau-hong pun tertawa: “Tampaknya kau bukan hanya tahu kalau Bos Li sudah mati, tapi kau juga tahu bahwa orang-orangnya pun telah ditelan oleh Pek-in-koan!”

Tapi wajah Toh Tong-han tetap tidak memperlihatkan emosi. “Dalam bisnis kami, yang tidak bisa mendapatkan berita dengan cepat tidak akan berumur panjang.” Ia berkata dengan dingin.

“Mungkinkah Koh Jing-hong adalah temanmu?”

“Dia mungkin bukan seorang teman, tapi setidaknya dia juga bukan seorang musuh!”

“Tak heran kau berada di sini sendirian.” Liok Siau-hong tersenyum.

“Jika kau punya waktu, Tuan, kedatanganmu selalu diterima di wilayahku. Dan kau boleh membawa berapa banyak pun orang yang kau inginkan.”

Bola mata Liok Siau-hong pun berputar-putar dan sebuah ide muncul di benaknya: “Karena kau telah memasang taruhan begitu besar untuk Yap Koh-seng, aku berani bertaruh kalau kau sebenarnya ingin sekali menyaksikan langsung duel malam ini!”

Toh Tong-han tidak mengakui, juga tidak menyangkal.

“Aku punya satu sabuk sutera, jika kau tertarik, aku bisa memberinya padamu!”

Toh Tong-han tidak menjawab selama beberapa saat, seakan-akan dia sedang mempertimbangkan tawaran itu.

“Bos Pok Ki pun berada di warung teh tadi.”

“Oh?”

“Mengapa kau tidak memberikan sabuk sutera itu padanya?“

Liok Siau-hong terdiam. Orang lain mencoba segalanya untuk mendapatkan sabuk sutera ini, tapi sekarang saat ia menawarkannya pada Toh Tong-han secara gratis, secara tidak terduga malah ditolak.

Toh Tong-han merangkap tangannya dan memberi hormat sekilas pada Liok Siau-hong.

“Jika tidak ada yang lain, Tuan, aku harus pergi. Selamat tinggal.”

Dan hanya begitu saja, dia pun pergi, bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun tanda-tanda ingin tinggal sebentar.

Dengan bingung Liok Siau-hong berdiri di sana seperti orang tolol selama beberapa saat sebelum tiba-tiba mengangkat kepalanya dan melihat bahwa Pok Ki baru saja berjalan keluar dari warung teh itu. Pok Ki juga melihatnya serta sabuk sutera di pundaknya itu. Tiba-tiba dia tersenyum.

“Kau belum menjual seluruh sabukmu?” Senyuman itu tampak amat ganjil, seperti ada tanda-tanda ejekan di dalamnya.

“Sabuk sutera ini bukan untuk dijual, tapi bisa diberikan pada siapa pun. Jika kau masih menginginkannya, aku akan memberikannya padamu.”

Pok Ki kembali menatapnya, senyumannya bahkan semakin ganjil: “Sayangnya aku tidak suka ber-kowtow!”

“Tak perlu ber-kowtow.”

“Benarkah?”

“Tentu saja.”

“Dan aku pun benar-benar tidak menginginkannya!” Ekspresi wajahnya tiba-tiba tampak tertekuk dan dia mengibaskan lengan bajunya pada Liok Siau-hong dan berjalan pergi, bahkan tidak melirik ke arah Liok Siau-hong lagi.

Kembali Liok Siau-hong terdiam. Ini adalah orang yang sama dengan orang yang tadi siang bersedia menukarkan 3 buah cincin giok yang amat besar dengan sehelai sabuk sutera, tapi sekarang ia bahkan tidak menginginkannya walaupun gratis.

Liok Siau-hong tidak faham apa yang sedang terjadi, tapi ia tidak punya waktu untuk merenungkannya. Bulan purnama telah naik dan ia harus pergi ke Kota Terlarang sesegera mungkin. Ia tidak boleh terlambat.

Thay-ho-tian berada di sebelah dalam Thay-ho-bun. Di luar Thay-ho-bun terdapat Sungai Sabuk Giok Emas yang, di bawah sinar bulan, terlihat seperti sehelai sabuk giok emas.

Liok Siau-hong berjalan melalui Tang-bun, Kong-bun, dan Tiong-bun yang terletak di bawah Menara Pengawas Naga dan Burung Hong sebelum akhirnya tiba di bagian paling terlarang dari Kota Terlarang ini, kota di dalam kota.

Dalam perjalanan ke tempat itu, ada berpeleton-peleton penjaga dan pos penjagaan di setiap beberapa langkah. Amatlah sukar bagi siapa pun untuk tiba di sana tanpa membawa sabuk sutera, dan walaupun mereka bisa sampai di sana, mustahil bagi mereka untuk maju lebih jauh melewati tempat yang seperti medan ranjau ini.

Walaupun tidak terlihat satu pun bayangan manusia pada saat itu, tentu ada seorang jago kungfu dalam kelompok Pengawal Istana itu yang menunggu untuk menjebakmu di setiap sudut yang gelap.

Segala macam naga yang bersembunyi dan harimau mendekam ada di antara Pengawal Istana, beberapa di antaranya merupakan jago-jago kungfu yang mewarisi ilmu pusaka keluarga mereka, ada pula yang merupakan pendekar-pendekar muda yang ambisius dan pemberani, dan ada pula beberapa penjahat yang berusaha sembunyi dari musuh-musuhnya. Ujung-ujungnya, tidak ada orang di dunia ini yang berani memandang rendah kemampuan mereka. Di bawah sinar bulan, terlihat seseorang duduk di jembatan yang menghubungkan kedua tepi parit itu. Kepalanya tampak bersinar-sinar.

“Lau-sit Hwesio.” Liok Siau-hong segera berlari menghampirinya.

“Kau tiba di sini sebelum waktunya.” Ia tersenyum.

Lau-sit Hwesio sedang menggigit sepotong roti hangat waktu dia melihat Liok Siau-hong berlari menghampiri. Dengan tergesa-gesa ia membungkus roti itu dan memasang tampang tak bersalah pada Liok Siau-hong, berharap ia tidak melihat rotinya tadi.

Liok Siau-hong tertawa: “Melihatnya berada di tanganmu, aku tiba-tiba menyadari sesuatu.”

“Apa itu?”

“Aku sadar kalau aku tadi lupa makan malam lagi.”

Lau-sit Hwesio memutar-mutar bola matanya: “Kau hendak mencoba menipu roti ini lagi dariku?”

Liok Siau-hong balas menatapnya: “Kapan aku pernah berdusta padamu? Aku bertukar dua helai sabuk sutera untuk satu roti denganmu. Kau merasa dirampok?”

Lau-sit Hwesio memandang sekelilingnya sebentar sebelum tiba-tiba tersenyum pula: “Aku akan berkata jujur, aku punya tiga potong roti lagi padaku, ditambah setengah potong yang ini. Kau tertarik untuk menukarnya?”

“Ya.”

“Apa yang akan kau gunakan sebagai alat tukarnya?”

“Semua yang kupunyai, aku membawanya. Apa pun yang kau inginkan, aku akan memberikannya padamu!”

Lau-sit Hwesio menimbang-nimbang beberapa kali.

“Sepertinya yang kau punya tidak lebih banyak dariku!” Ia tertawa, menertawakan keadaannya yang sama menyedihkannya dengan Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong pun tertawa.

“Setidaknya aku punya satu kumis lebih banyak darimu, belum lagi beberapa ribu utas rambutku.”

“Aku tidak menginginkan rambut atau kumismu, aku hanya ingin kau berjanji satu hal padaku, maka setengah bagian dari makanan ini akan menjadi milikmu.”

“Apa itu?”

“Bila lain kali kau bertemu denganku, kau pura-pura tidak mengenalku. Dengan begitu, akhirnya aku tentu bisa menghabiskan hari-hariku dalam ketenangan.”

Liok Siau-hong mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak dan menepuk-nepuk pundak Lau-sit Hwesio sambil duduk di sampingnya, dia masih tidak mampu mengendalikan tawanya.

“Jadi bagaimana?”

“Tidak.”

“Kau tidak menginginkan rotiku?”

“Ya.”

“Lalu mengapa tidak?”

“Karena aku sudah punya sepotong roti hangat.”

Lau-sit Hwesio tertegun.

“Dari mana kau mendapatkannya?”

“Dari Sukong Ti-sing!”

"Sukong Ti-sing?" Lau-sit Hwesio semakin bingung.

Liok Siau-hong tersenyum.

“Jika bukan karena sesuatu hal kecil yang kuambil dan kutiru darinya, bagaimana mungkin aku bisa mengambil rotimu? Jadi tentu saja roti ini berasal darinya!”

Lau-sit Hwesio tidak berkata apa-apa lagi, sekarang dia sadar bahwa rotinya telah berkurang satu. Roti itu telah berada di tangan Liok Siau-hong, muncul begitu saja, seperti sulap.

Lau-sit Hwesio menghela nafas.

“Dia tidak mempelajari yang lain, dia malah belajar mencuri.” Ia bergumam.

“Setidaknya pencuri tak pernah kelaparan.” Liok Siau-hong tertawa sambil menyumpalkan setengah bagian roti ke dalam mulutnya. “Apa yang kau tunggu di sini?”

“Menunggu Kaisar pergi tidur.” Lau-sit Hwesio menjawab dengan muka yang kaku.

“Jadi kita belum bisa masuk?”

“Belum.”

“Berapa lama kita harus menunggu?”

“Kita akan tahu bila waktunya telah tiba!”

Liok Siau-hong mundur dan memandang ke sekelilingnya dengan lebih teliti.

“Apakah Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng pun belum tiba?”

“Aku tidak tahu.”

“Bagaimana dengan yang lain?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau melihat orang lain?”

“Aku melihat satu setengah manusia.”

“Satu setengah?”

“Yang satu adalah In Cu, dialah yang menyuruhku untuk menunggu di sini!”

“Siapa yang setengahnya lagi?”

“Kau, paling banyak kau hanya bisa dihitung sebagai setengah manusia.”

Sekali lagi Liok Siau-hong tertawa. Tiba-tiba, dari balik kegelapan, sesosok bayangan muncul. Dia melayang di udara, mempertunjukkan gerakan Pat-poh-kan-sian (Delapan Langkah Mengejar Jangkrik) yang berasal dari aliran lurus. Setelah beberapa kali lompatan, bayangan itu telah berada di hadapan mereka. Mengenakan jubah hijau, rambut perak yang berkibar-kibar, dia tidak lain adalah tetua Bu-tong-pay, Bok-tojin.

“Kau benar-benar jujur.” Liok Siau-hong berkata sambil tersenyum. “Jadi kau tidak menelan sendiri apa yang menjadi hak teman tosumu.”

“Aku hanya tahu cara menelan roti, sayangnya roti itu pun sekarang telah dicuri.”

Bok-tojin melirik Liok Siau-hong dan pura-pura mengerutkan keningnya: “Orang macam apa yang begitu rendahnya hingga mencuri roti seorang hwesio?”

“Bila punya kesempatan, aku pun akan mencuri dari seorang tosu.”

Bok-tojin tersenyum.

“Setidaknya orang ini jujur, ia mengaku tanpa dipaksa.”

Saat dia berkata begitu, sebuah bayangan lain pun muncul.

Liok Siau-hong melirik dan mengerutkan keningnya: “Pada siapa kau berikan sabuk sutera yang lainnya?”

“Giam Jin-eng.”

“Orang ini bukan Giam Jin-eng.” Bok-tojin segera menyimpulkan.

Juga bukan Tong Thian-ciong, apalagi Suma Ci-ih.

Gerakan orang ini amat unik, saat mendekat lengan bajunya tampak berkibar-kibar tertiup angin. Seakan-akan ia melayang bersama angin tanpa perlu mengeluarkan tenaga sedikit pun.

Giam Jin-eng, Tong Thian-ciong, dan Suma Ci-ih tidak akan mampu melakukan gerakan seperti itu. Kenyataannya, termasuk Liok Siau-hong, tidak lebih dari tiga sampai lima orang di dunia persilatan yang mampu melakukan hal tersebut.

“Siapa ini?” Lau-sit Hwesio bertanya-tanya.

Dia bukan manusia, bahkan bukan setengah manusia. Dia adalah siluman monyet.” Liok Siau-hong menjawab.

Sebelum ucapannya selesai, bayangan itu melesat ke arah mereka seperti roket, pakaiannya meraung-raung terhembus angin, seakan-akan dia bermaksud untuk menabrak Liok Siau-hong. Tapi tepat sebelum dia bertubrukan dengan Liok Siau-hong, tiba-tiba dia berjumpalitan ke belakang sebanyak tiga kali di udara dan perlahan-lahan mendarat di atas tanah. Ia adalah seorang laki-laki tua berambut putih, yang terbungkuk-bungkuk karena menahan batuk yang parah.

“Kalian berdua tahu siapa siluman monyet ini?” Liok Siau-hong berkata dengan muka yang kaku.

“Sukong Ti-sing, si siluman monyet. Aku mendengar lagu itu sore ini.” Bok-tojin berkata sambil tersenyum.

“Tampaknya samaranku benar-benar tidak berguna!” Sukong Ti-sing menghela nafas.

“Seharusnya kau tak memperlihatkan ilmu ginkangmu itu. Selain dari Sukong Ti-sing, siapa lagi yang mampu melakukannya?” Bok-tojin berujar.

“Aku.” Liok Siau-hong menukas.

“Setumpuk besar kotoran anjing, bahkan kutu busuk pun bisa terbang di atasnya.” Sukong Ti-sing bernyanyi sambil tersenyum.

Liok Siau-hong pura-pura tidak mendengarnya dan, malah, menatap sabuk sutera yang ada padanya: “Kau mencuri salah satu sabukku, dan memberiku dua.”

“Kau tahu, aku selalu mengingat sahabat. Saat aku tahu kalau kau lupa untuk menyisakan satu sabuk untuk dirimu sendiri, aku pun pergi dan menemukan dua untukmu.”

“Dari mana kau mendapatkannya?”

“Jangan lupa kalau aku adalah si Raja Maling!”

“Apakah kau mencuri miliknya Suma Ci-ih dan Tong Thian-ciong?”

Sukong Ti-sing hanya tertawa dan tiba-tiba menunjuk ke kejauhan: “Mengapa kau tidak melihat siapa yang datang itu?”

Dua sosok bayangan kembali mendekat dari kejauhan. Orang yang di sebelah kiri tampaknya selalu mengangkat bahunya di udara, seakan-akan ia bermaksud untuk melepaskan senjata rahasia, menggunakan ilmu meringankan tubuh milik keluarga Tong. Orang yang di sebelah kanan tampak amat berat dan canggung, seakan-akan dia telah menghabiskan terlalu banyak waktu dalam berlatih tenaga luar. Jika Tong Thian-ciong tidak memperlambat kecepatannya, dia tentu akan tertinggal jauh di belakang.

“Tampaknya kongcu dari keluarga Tong telah berada di sini!” Lau-sit Hwesio berujar.

“Siapa yang satunya lagi?” Bok-tojin bertanya.

“Pok Ki!” Lau-sit Hwesio menjawab. Itu memang Pok Ki. Sekali lagi senyuman mengejek pun muncul di wajahnya saat ia melihat kehadiran Liok Siau-hong, seakan-akan ia berkata: “Kau tidak memberiku sabuk, tapi aku tetap berada di sini.”

Anehnya, ada sehelai sabuk sutera terikat di pinggangnya. Di bawah sinar bulan, warna sabuk itu berubah-ubah dari ungu terang ke perak, tergantung sudutnya. Jelas sabuk itu terbuat dari bahan yang sama dengan sabuk-sabuk sutera lainnya. Sabuk sutera yang diterima Liok Siau-hong berjumlah 6 buah. Tapi, dengan dua helai yang sekarang ada pada Liok Siau-hong, satu pada Lau-sit Hwesio, Bok-tojin, dan Sukong Ti-sing, ditambah dua yang ada pada mereka, semuanya ada 7 helai.

Bagaimana mungkin 6 sabuk bisa menjadi 7? Dari mana asal sabuk yang satunya? Wajah Pok Ki terlihat bangga saat ia melangkah ke atas jembatan itu dengan angkuh, tapi wajah Tong Thian-ciong terlihat kaku saat ia melirik ke arah Liok Siau-hong. Liok Siau-hong tahu bahwa mereka tidak akan bercerita walaupun ia bertanya; di samping itu, ia pun tidak punya waktu lagi untuk bertanya.

Sebuah bayangan tampak melesat keluar dari dalam Gerbang Keselarasan Utama. Sebatang pedang panjang tampak tersandang di punggungnya dan dia mengenakan seragam Pengawal Istana. Seragam itu terlihat agak berantakan, jelas dia baru saja bersenang-senang sedikit. Tapi gerak-geriknya masih tetap tangkas. Ia tak lain daripada salah seorang Komandan Utama Pengawal Istana, In Cu.

Wajahnya juga tampak kaku dan ekspresinya pun muram.

“Aku tahu semua yang ada di sini adalah jago-jago dunia persilatan, tetapi kuharap setiap orang pun sadar tempat macam apa ini. Ini bukanlah warung teh, jika kalian ingin berbincang-bincang, maka kalian telah datang ke tempat yang salah.” Ia bicara seperti seorang atasan pada bawahannya, tetapi semua orang terpaksa harus mendengarkan. In Cu dan kawan-kawannya telah mengambil resiko dan tanggung-jawab yang amat besar dalam hal ini, jadi mereka tentu merasa sedikit tertekan. Di samping itu, di sini memang bukan tempat untuk berbincang-bincang.

Setelah gembar-gembor itu, ekspresi In Cu sedikit melunak saat dia menatap 6 orang yang hadir: “Sekarang semua orang sudah ada di sini, silakan masuk. Setelah melewati altar besar itu, ada sebuah istana yang amat besar. Itulah Thay-ho-tian.”

“Apakah tempat itu juga merupakan tempat singgasana kaisar?”

In Cu mengangguk.

“Bangunan tertinggi di kompleks Kota Terlarang adalah Thay-ho-tian. Jika dua jagoan itu akan berduel di puncak Kota Terlarang, mungkin sebaiknya setiap orang menunggu di sana.” Ia melirik Pok Ki, dan memandang orang tua bungkuk itu, dan meneruskan dengan dingin. “Karena kalian telah bersusah-payah sampai di sini, ilmu ginkang kalian tentu bagus. Tapi aku harus memperingatkan semua orang bahwa ini bukanlah atap bangunan biasa. Cukup sukar untuk naik ke atasnya, tapi genteng atap itu semuanya merupakan genteng kaca yang licin. Jadi setiap orang harus berhati-hati dalam melangkah karena kita semua akan menanggung akibatnya jika salah seorang dari kita terjatuh dari atas atap.”

Ekspresi wajah Pok Ki berubah menjadi muram, senyuman itu tidak terlihat lagi. Bahkan Sukong Ti-sing tampak sedikit menarik nafas dalam-dalam. Hingga saat ini Liok Siau-hong bahkan tidak punya kesempatan untuk bicara.

Ia baru saja hendak bicara saat In Cu memotongnya: “Jangan naik dulu ke atas atap, ada seseorang yang sedang menunggumu.”

“Siapa?”

“Jika kau ingin bertemu dengannya, ikuti aku.”

Sambil mengangkat bahunya sedikit, ia pun melayang pergi, seakan-akan ia ingin menunjukkan sedikit kemampuannya di depan semua orang.

Dia cukup cepat, hanya dengan satu lompatan sederhana, dia telah melesat sejauh 8 m. Liok Siau-hong mengikutinya dalam jarak dekat, tidak ingin terlalu menonjolkan dirinya. Maka In Cu berusaha lebih keras untuk menjauh dan ia pun berjumpalitan dengan menggunakan gerakan Burung Walet Meninggalkan Awan.

Tapi saat ia membuat gerakan ini, seseorang dengan perlahan dan tanpa bersusah-payah melesat melewatinya dengan meninggalkan sedikit suara desiran. Ia tidak lain daripada laki-laki tua yang bungkuk itu.

Saat mereka menerobos Thay-ho-bun, sikap dan tingkah laku Liok Siau-hong pun benar-benar berubah. Dia bukan hanya tidak berani tersenyum-senyum lagi, bahkan nafasnya pun semakin perlahan. Keagungan dan kekuasaan Kaisar tetap merupakan sesuatu yang tidak berani disepelekan oleh orang-orang dunia persilatan.

Bahkan Liok Siau-hong pun tidak berani. Dua baris tangga di depan Aula itu tampak seperti tangga biasa yang terbuat dari beberapa lusin lempengan batu. Tapi bila membayangkan adegan saat Kaisar mengadakan sidang bersama pejabat-pejabat tinggi dan jenderal-jenderal yang berdiri dengan serius di kedua sisi tangga sambil menunggu giliran untuk menjawab setiap isyarat dan perintah Kaisar, suhu tubuh Liok Siau-hong pun naik karena perasaan tegang.

Semua orang jenius, orang luar biasa, enghiong dan pemimpin bersedia memeras otaknya, mengorbankan tubuhnya, dan ada pula yang bahkan bersedia untuk mengorbankan nyawanya agar dapat berdiri di atas tangga ini.

Thay-ho-tian bahkan lebih menakjubkan. Bila kita menengadah, atap yang berkilauan tampak seperti berada di tengah awan. Di samping Thay-ho-tian ada Istana Keselarasan Abadi. Di samping Istana Keselarasan Abadi, tepat di sebelah barat tangga di luar Gerbang Nirwana, menempel ke dinding utara, ada tiga buah bangunan beratap datar. Pintu-pintunya yang bercat hitam tampak tertutup rapat dan melalui jendela, sebuah lampu yang redup berkerlap-kerlip bisa terlihat. Sinarnya yang redup itu menerangi sebuah logam pipih berwarna putih yang tergantung di atas pintu. Di atas logam itu ada tulisan yang menyuruh orang untuk menghentikan langkahnya: “Human mati bagi siapa yang berani masuk ke sini!”

In Cu membawa Liok Siau-hong ke sana dan berhenti tepat di depan pintu itu: “Seseorang sedang menunggumu di dalam, masuklah!”

Liok Siau-hong segera menggelengkan kepalanya.

“Aku masih bisa membaca, tahu.” Ia berkata dengan sebuah senyuman yang agak lemah. “Aku tidak ingin kehilangan kepalaku.”

In Cu pun tersenyum.

“Aku yang menyuruhmu masuk, apa pun yang terjadi, aku akan menanggungnya. Apa lagi yang kau takutkan?”

Liok Siau-hong memandangnya dan memutuskan bahwa dia tidak terlihat seperti orang yang bermaksud untuk mengirimkan dirinya ke dalam perangkap. Tapi di sini, di tempat yang begini penting dan khidmat, bahkan Liok Siau-hong pun tetap harus berhati-hati. Ia lebih suka berdiri di luar saja.

In Cu kembali tersenyum: “Kau bisa menebak siapa yang menunggumu di dalam?”

Liok Siau-hong menggelengkan kepalanya.

“Siapa?”

“Sebun Jui-soat.”

Liok Siau-hong terperanjat sebentar.

“Bagaimana dia bisa masuk?”

In Cu memandang ke sekelilingnya untuk meyakinkan tidak ada orang di sekitar mereka sebelum ia mendekatkan tubuhnya.

“Kami semua bertaruh untuknya.” Ia berbisik. “Maka tentu saja kami akan memperlakukannya dengan baik dan memberinya waktu istirahat agar dia memiliki tenaga untuk menghadapi Thian-gwa-hui-sian itu.”

Liok Siau-hong pun tersenyum.

“Tempat ini mungkin merupakan tempat terlarang, tapi Yang Mulia sudah pergi tidur dan sidang pagi masih lama. Jadi, selain kami Komandan-Komandan Utama, tidak ada orang yang akan datang ke sini!” Masih sambil tersenyum, dia menepuk pundak Liok Siau-hong. “Jadi hilangkan kekhawatiranmu dan masuklah. Jika kau punya beberapa gerakan rahasia untuk menangkal gerakan Yap Koh-seng, berikanlah dia beberapa petunjuk. Kami semua berada di fihaknya!”

Ia mungkin tadi agak menyombongkan pangkatnya, tapi sekarang ia seperti berubah menjadi orang yang benar-benar berbeda. Bahkan senyumannya pun tampak lebih ramah, ia bahkan membukakan pintu itu untuk Liok Siau-hong.

Sambil tersenyum, Liok Siau-hong pun balas menepuk pundaknya.

“Bila kau punya waktu senggang, aku akan mengundangmu minum.”

Ruangan itu tidak besar, juga tidak ada perabotan yang mewah, tapi masih memiliki kesederhanaan yang alami dan menyiratkan perasaan terakhir, semangat dan nasib dari berpuluh-puluh atau beratus ribu nyawa yang nasibnya diputuskan di sini hanya dengan sebuah goresan pena.

Saat seseorang, siapa pun orangnya, memasuki ruangan itu untuk pertama kalinya, tentu dia akan sangat gugup dan tegang. Saat Liok Siau-hong berjalan masuk dengan perlahan, jantungnya pun berdebar lebih cepat dari biasanya.

Sambil menggendong tangan, Sebun Jui-soat berdiri dalam bisu di dekat sebuah jendela kecil, pakaiannya putih seperti salju. Tentu saja dia mendengar seseorang membuka pintu dan masuk, tapi dia tidak berpaling, seakan-akan dia sudah tahu bahwa orang itu tentu Liok Siau-hong. Liok Siau-hong pun tidak bicara.

Pintu telah tertutup dan sinar lampu yang redup tampak berkerlap-kerlip dalam kegelapan dan ruangan yang lembab itu. Tiba-tiba dia menyadari betapa dingin tangan dan kakinya. Dia benar-benar menginginkan secangkir arak. Tentu saja tidak ada arak di ruangan ini, tapi berapa banyak darah, air mata, dan keringat yang telah mengalir di sini?

Liok Siau-hong menghela nafas dalam hati. Akhirnya dia faham bahwa dia bukanlah orang yang paling banyak menghadapi masalah di dunia ini, orang-orang yang datang ke ruangan ini setiap harinya memiliki masalah yang jauh lebih banyak daripada dirinya.

Sebun Jui-soat tetap tidak berpaling, tapi tiba-tiba suaranya terdengar memecahkan kesunyian: “Kau tadi kembali ke rumahku?”

“Aku baru saja dari sana.”

“Kau bertemu dengannya?”

“Mm.”

“Bagaimana keadaannya?”

Liok Siau-hong tersenyum lemah.

“Seharusnya kau yang lebih tahu dariku, dia bukanlah wanita yang semangatnya lemah, Sam-eng-su-siu tidaklah kalah tenar dibandingkan dengan kita.”

Ia mungkin sedang tersenyum di wajahnya, tapi hatinya karam. Di saat yang genting sebelum duel, saat hidup atau mati begitu dekat dengan dirinya, orang ini masih memikirkan isterinya, ia bahkan tidak sedang memegang pedangnya.

Liok Siau-hong merasa hampir tidak percaya kalau ini adalah Sebun Jui-soat yang selama ini dikenalnya. Tapi ia pun merasa agak terhibur karena akhirnya, Sebun Jui-soat telah berubah menjadi manusia yang terdiri dari darah dan daging.

Sekonyong-konyong, Sebun Jui-soat membalikkan badan. “Apakah kita bersahabat?” Ia bertanya, sambil menatap mata Liok Siau-hong.

“Ya.”

“Jika aku mati, maukah kau menjaganya?”

“Tidak.”

Wajah Sebun Jui-soat berubah menjadi pucat pasi. “Kau tak bersedia?“

“Tidak, karena kau tidak bersikap seperti sahabatku lagi. Sahabatku adalah seorang laki-laki sejati dan tidak pernah berharap mati, dia malah selalu berharap untuk hidup.”

“Aku tidak berharap untuk mati.”

“Tetapi satu-satunya hal yang ada di benakmu dan di hatimu adalah kematian.” Liok Siau-hong berkata dengan dingin. “Mengapa kau tidak memikirkan tentang kejayaanmu dulu? Mengapa kau tidak memikirkan cara untuk mengalahkan Yap Koh-seng?”

Sebun Jui-soat menatapnya dengan marah, menatapnya sekian lama sebelum ia menunduk dan menatap pedang yang berada di atas meja. Tiba-tiba ia meraih pedang itu dan menghunusnya.

Gerakan tangannya saat menghunus pedang tadi masih tetap cepat, masih indah, tidak mungkin ada orang di dunia ini yang mampu menandinginya.

Teknik Suma Ci-ih saat menghunus pedangnya mungkin juga amat cepat dan cerdik, tapi dibandingkan dengan Sebun Jui-soat, dia seperti seorang tukang jagal yang menarik goloknya dari seekor bangkai babi.

“Kau sahabatku?” Liok Siau-hong tiba-tiba balas bertanya.

Sebun Jui-soat terdiam sebelum akhirnya mengangguk.

“Kau percaya apa yang kukatakan padamu?”

Kembali Sebun Jui-soat mengangguk.

“Maka akan kukatakan padamu, aku hampir yakin bahwa aku bisa menghadapi serangan dari jago pedang mana pun di dunia ini, kecuali satu orang.” Ia menatap langsung ke mata Sebun Jui-soat, tanpa berkedip sekali pun, dan meneruskan dengan lambat. “Orang itu adalah kau!”

Sebun Jui-soat menunduk dan menatap pedang di tangannya, sebuah warna merah tua yang aneh tiba-tiba muncul di wajahnya yang pucat. Sinar lampu tampak lebih terang, sinar pedang itu pun semakin terang.

Segera Liok Siau-hong merasakan hawa pedang yang mencorong, begitu mencorongnya hawa tersebut sehingga matanya menjadi silau. Dia tahu kepercayaan diri Sebun Jui-soat telah muncul kembali.

Bagi orang yang sedang tidak bersemangat, kata-kata pembangkit semangat dari seorang sahabat mungkin jauh lebih bermanfaat daripada semua obat di dunia ini digabungkan menjadi satu.

Secercah senyuman pun muncul di wajah Liok Siau-hong. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, diam-diam dia berputar dan melangkah keluar dari ruangan itu.

Di luar, bulan bergantung di angkasa seperti cermin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar