Senin, 16 Juli 2012

Pend Riang 6


JARANG SEKALI ADA ORANG YANG bisa menghubungkan itik panggang dengan pe­rempuan, tapi Kwik Tay‑lok dapat.
Setelah arak mengalir masuk ke dalam pe­rutnya, uang sudah masuk ke sakunya, maka dari benda apapun ia bisa menghu­bungkannya dengan perempuan . . . . . .
Kini arak sudah habis diminum, intan per­mata juga sudah dibagi menjadi empat bagian.
Sambil mengerdipkan matanya, tiba‑tiba Kwik Tay‑lok bertanya:
"Apa rencana kalian sekarang?"

Pend Riang 5


BEGITU sepasang kepalannya diayunkan ke muka, bukan cuma si tongkat saja yang kaget paras muka si anjing buldok pun berubah hebat.
Sepasang cakar baja dari si tongkat sudah jelas telah dilatih dengan ilmu Eng‑jiau‑kang atau sebangsanya, sekalipun orang buta juga dapat merasakannya, seseorang yang tidak memiliki tenaga dalam cukup sempu­rna, tak nanti berani menyambut datangnya serangan itu de­ngan keras lawan keras.

Pend Riang 4


TAPI BAGI SEMENTARA ORANG, sehari seakan‑akan setahun, waktu seakan-akan merambat seperti siput, mau dilewatkan pun susahnya bukan kepalang.
Tongkat, bukan suatu benda yang disukai setiap orang.
Tapi tongkat justru besar sekali keguna­annya.
Tongkat lebih menguntungkan daripada pedang, jika sebuah tongkat diayunkan ke ba­wah, kadangkala akan dilihat dulu apa yang dipukul.

Pend Riang 3


Gadis itu telah menerima kembali keran­jangnya, setelah berpaling dan tertawa lagi dengan manis, ia baru melanjutkan lang­kahnya dengan kepala tertunduk.
Kalau dibilang sukma Kwik Tay‑lok ma­sih ada dalam raganya, maka senyuman itu benar‑benar telah membetot selembar jiwa­nya.
Sekalipun orangnya masih terpantek di­tempat, tapi sukmanya seakan‑akan sudah terbawa berikut keranjang itu.

Pend Riang 2

DENGAN SEPASANG BIJI MATANYA yang jelita, gadis itu melirik sekejap ke arah Kwik Tay‑lok, kemudian sambil tertawa genit se­runya: "Waah, mata orang ini tidak jujur!"
"Aaai . . . . aku memang bukan seorang yang jujur" kata Kwik Tay‑lok sambil meng­hela napas, "dari kepala sampai kakiku, tak sebuahpun yang jujur . . . . . "
"Kalau begitu kau adalah seorang setan perempuan?" seru si semut merah sambil ter­tawa cekikikan.
"Meskipun tidak cocok seratus persen, selisih pun tidak terlampau jauh, cuma sayang . . . . . . . . . "
"Sayang kenapa?" tiba‑tiba senyuman di wajah semut merah lenyap seketika.
Sayang orang yang bertubuh semacam aku tak bisa menyusut menjadi kecil, kalau tidak, ingin sekali aku merubah diriku men­jadi semut kuning"

Pend Riang 1

Seperti namanya, Kwik Tay‑lok adalah seorang yang berjalan lebar. Tay‑lok atau jalan lebar ber­arti orangnya supel, berjiwa besar, acuh tak acuh bahkan sedikit rada tolol, apapun persoalan yang sedang diha­dapi, ia tak pernah ambil perduli.
Sebaliknya Ong Tiong (bergerak) justru seorang yang tak suka Tiong (bergerak).
Orang yang berjiwa sosial biasanya mis­kin. Kwik Tay‑lok orangnya miskin, kelewat miskin sampai miskinnya luar biasa.

Jumat, 22 Juni 2012

Dalem Boncél

Di tutugan Gunung Giriawas aya hiji lembur. Lembur leutik sarta nenggang, henteu gegek ngan opat-lima imah. Boh imah boh pakaranganana bararesih sarta raresik. Éta lembur katelahna Kandangwesi. Imah anu sajolan ti jalan, potongan garduh ngupuk, lain panggung maké kolong saperti nu lian. Anu bogana lain pituin urang dinya, tapi nu bubuara enggeus lila.