Senin, 16 Juli 2012

Pend Riang 1

Seperti namanya, Kwik Tay‑lok adalah seorang yang berjalan lebar. Tay‑lok atau jalan lebar ber­arti orangnya supel, berjiwa besar, acuh tak acuh bahkan sedikit rada tolol, apapun persoalan yang sedang diha­dapi, ia tak pernah ambil perduli.
Sebaliknya Ong Tiong (bergerak) justru seorang yang tak suka Tiong (bergerak).
Orang yang berjiwa sosial biasanya mis­kin. Kwik Tay‑lok orangnya miskin, kelewat miskin sampai miskinnya luar biasa.

Sesungguhnya tak seharusnya ia begitu miskin. Sebenarnya ia boleh dibilang se­orang yang kaya raya. Seorang yang kaya raya bila tiba‑tiba menjadi miskin, maka hanya ada dua alasan, per­tama karena dia bodoh, kedua karena dia malas.
Kwik Tay‑lok tidak bodoh, pekerjaan yang bisa dilakukan olehnya jauh lebih banyak daripada o­rang lain, lagi pula jauh lebih baik dari kebanyakan orang. Misalnya......
Menunggang kuda, ia bisa menunggang kuda yang tercepat, dapat pula menung­gang kuda yang terbinal.
Bermain pedang, dengan sebuah tusukan ia bisa menembusi baju perang dari besi yang dike­nakan seorang panglima perang, dapat pula me­nembusi daun liu yang sedang melambai terhem­bus angin.
Bila kau sahabatnya dan kebetulan ia se­dang gembira, mungkin dengan tangan te­lanjang ia akan mencebur ke sungai untuk menangkap dua ekor ikan leihi, lalu dari air melompat ke udara un­tuk menangkap dua ekor belibis guna membuat­kan sebuah hi­dangan ang‑sio‑hi dan itik panggang bagimu.
Bila kau mencicipi masakannya, tanggung selama hidup tak akan kau lupakan.
Kepandaiannya memasak tidak kalah dari ke­pandaian koki yang paling tersohor pun di ibu kota.
Iapun bisa memetik harpa sambil mem­bawa­kan lagu Tay‑kang‑tang‑kin, diapun bisa bermain Yang‑kim sambil membawakan lagu ''Ditepi Yang­liu, di tengah malam yang sepi', membuat kau beranggapan bahwa sepanjang hidupnya ia bekerja sebagai penjual suara.
Bahkan ada orang beranggapan, kecuali tak bisa melahirkan anak, pekerjaan apapun bisa ia lakukan.
Diapun tidak malas. Bukan tidak malas, bah­kan setiap saat selalu berharap bisa melakukan pe­kerjaan apapun, pekerjaan yang pernah dikerjakan tak sedikit jumlah­nya.
Lalu, kenapa manusia semacam ini bisa miskin?
Ketika bekerja untuk pertama kalinya, ia men­jadi seorang piausu.
Waktu itu dia baru terjun ke dunia persi­latan, baru selesai menjalankan masa ber­kabung karena kematian orang tuanya, rumah dan sawahnya ada yang dijual ada pula yang diberikan kepada orang lain, ia ingin mengandalkan kepandaian sendiri un­tuk berkelana dalam dunia persilatan.
Tentu saja ia bukan seorang pedagang yang ulung, dia sama sekali tak berharap bisa menjadi seorang pedagang ulung, maka sawah se hektar yang seharusnya laku dijual tiga ratus tahil, hanya di­jual seharga seratus tujuh tahil, ditambah pula uang yang di­bagi‑bagikan kepada sanak keluarganya yang miskin, sisa yang ada dalam sakunya tinggal tak seberapa.
Tapi itu masih cukup untuk membeli se­ekor kuda jempolan, sebilah pedang mes­tika, membuat beberapa stel baju yang in­dah, tinggal di losmen kelas satu dan makan di rumah makan nomor wahid.
Waktu itu musim semi telah tiba. Orang bi­lang musim semi musim yang terindah, saat itu merupakan saat yang paling baik buat perusahaan ekspedisi untuk mengeruk untung.
Saat perusahaan ekspedisi paling baik, berarti saat panen pula bagi para pembegal dan perampok.
Congpiautau dari perusahaan Tiong­goan‑piau­kiok, Lo Ceng‑gi meski belum tua umurnya, pe­ngalamannya cukup matang, diapun tahu akan teori tersebut.
Maka sepanjang jalan ia selalu ber­hati‑hati, apalagi barang kawalannya kali ini tak sedikit jumlahnya.
Untuk mengawal barang belum cukup hanya berhati‑hati saja, orang harus berilmu tinggi dan bernasib mujur.
Ilmu silat Lo Ceng‑gi tidak jelek, sayang na­sibnya kurang mujur, apa mau dikata ia telah berjumpa dengan Ouyang heng‑te, seorang manusia golongan hitam dari dua tepi sungai besar yang paling memusingkan kepala.
Ouyang hengte atau Ouyang bersaudara bukan terdiri dari dua orang, bukan pula tiga atau em­pat orang ......
Ouyang hengte cuma seorang diri.
Orang ini memang bernama Ouyang Hengte!
Meski cuma seorang, tapi justru lebih sulit dilayani daripada melayani empat puluh orang. Tangan kirinya memainkan golok pendek, tangan kanannya memainkan golok panjang, selain itu pada saat yang ber­samaan dapat pula melancarkan tu­juh‑delapan macam senjata rahasia, jarang ada orang yang bisa melihat darimana sen­jata rahasia itu dilepaskan.
Lo Ceng‑gi juga tidak mampu. Baru saja ia menghindari tiga batang anak panah se­tabung ja­rum lembut, tahu‑tahu Ouyang Hengte sudah me­mutar goloknya sambil melepaskan sepasang jarum Cu‑bu‑ban‑ciam.
Jarum yang mematikan, muncul dari tem­pat yang sama sekali tak terduga oleh sia­papun.
Bahu kanan Lo Ceng‑gi termakan dan batang jarum itu, betul tak sampai memati­kan, namun dia hanya bisa menunggu Ouyang hengte datang untuk merenggut ji­wanya.
Sekalipun Ouyang hengte tidak menghen­daki nyawanya, bila barang kawalan itu sampai hilang, terpaksa dia harus mence­burkan diri ke sungai atau menggantung diri untuk menghabisi nyawa sendiri.
Untunglah pada waktu itu muncul seekor kuda yang meluncur datang dengan cepat, belum lagi kudanya sampai ditempat tujuan, penunggangnya sudah sampai lebih duluan.
Ouyang hengte hanya sempat melihat se­se­orang terbang di udara, belum lagi ke tujuh‑dela­pan macam senjata rahasianya terlepas dari tangan, urat nadi pada perge­langan tangan kanan kirinya masing‑masing sudah tertusuk telak.
Tentu saja sang bintang penolong yang datang dari tengah udara itu adalah Kwik Tay‑lok.
Lo Ceng‑gi bukan cuma berterima kasih kepa­da penolongnya itu, diapun merasa kagum, bukan cuma kagum biasa malah kagumnya lahir batin. Setelah menghantar barang kawalannya sampan di tempat tu­juan, bagaimanapun ia memaksanya un­tuk ikut pulang ke perusahaannya.
Kwik Tay‑lok pun pergi, sebab bagai­manapun ia memang tak ada urusan lain.
Sekalipun ada urusan penting yang lain dia pergi juga.
Inilah perdana dari pengalamannya, turun ta­ngan untuk pertama kalinya, tiba‑tiba ia merasa bukan cuma kepandaiannya hebat, ternyata ke­beruntungannya lumayan juga.
Dengan rasa heran Lo Ceng‑gi pun ber­tanya kepadanya:
“Seorang jago lihay seperti Kwik‑heng, me­ngapa tidak menjadi seorang piautau?"
Kwik Tay‑lok tidak menjawab, diapun ti­dak balik bertanya:
“Kenapa seorang yang berilmu tinggi musti mengawal barang orang?"
Ia hanya merasa menjadi seorang piautau cu­kup keren, cukup menarik hati.
Maka diapun men jadi seorang piautau, Hu­congpiautau dari perusahaan ekspedisi Tionggoan­ piaukiok.
Seseorang yang baru terjun ke dunia per­silatan telah menjadi seorang wakil cong­piautau, kedu­dukan itu memang cukup keren dan menambah keangkerannya!
Satu‑satunya masalah yang membuat Kwik Tay‑lok kecewa adalah Tiong­goan‑piaukiok bukan perusahaan ekspedisi terbesar di daratan Tionggoan, bahkan pe­rusahaan kelas satupun tidak tergolongkan.
Setelah menunggu beberapa hari, ia baru men­dapat tugas yang pertama, lagipula ti­dak terhitung suatu transaksi yang besar, dia hanya akan mengawal beberapa ribu ta­hil perak saja kembali ke Lok‑yang.
Perjalanan tidak jauh, barang kawalannya tidak berat, ditambah lagi ada seorang wakil congpiau­tau yang begitu perkasa, tak heran kalau cong­piautaunya lantas mengendon dalam rumah sambil merawat luka yang dideritanya.
Waktu itu masih musim semi, pagi sekali, rombongan mereka telah berangkat.
Kwik Tay‑lok mengenakan baju ungu yang perlente, menyandang pedang antik, duduk diatas kuda putih yang jempolan dan di­bawah kibaran panji perusahaan serta teri­akan para peneriak jalan perusahaan yang lantang, ia merasa bertambah ke­ren dan gembira.
Ia berharap sepanjang jalan bisa bertemu de­ngan beberapa orang begal atau peram­pok kena­maan, bukan lantaran ingin mem­pamerkan kungfu­nya untuk gagah‑gagahan, tapi hanya ingin mencari beberapa orang sahabat saja.
Makin banyak teman semakin baik, ia ge­mar berteman, bisa bersahabat dengan pembegal dan perampok, bukan cuma suatu rangsangan saja, lagipula amat menarik hati, apalagi kalau bisa membawa mereka ke jalan kebenaran, tentu itu lebih menye­nangkan.
Betul juga, apa yang diharapkan akhirnya di­temukan juga.
Sayang yang ia jumpai bukan begal‑begal yang biasa makan daging besar, minum arak wangi dan membegal barang‑barang berharga, juga bukan sa­habat‑sababat liok‑lim yang setia kawan. Yang di­temui cuma serombongan penodong‑penodong u­rakan yang sudah tiga hari kelaparan, ber­baju compang camping dan bergolok berkarat.
Walaupun agak kecewa, apa boleh buat sete­lah bertemu, terpaksa Kwik Tay‑lok memperlihat­kan kungfunya yang hebat un­tuk menakut‑nakuti mereka, setelah itu baru menasehati mereka agar bertobat dan menjadi seorang rakyat yang berguna bagi nusa dan bangsa.
Mula‑mula mereka dibuat ketakutan oleh kungfunya yang hebat, lalu menangis tersedu‑sedu karena terharu, setiap orang berjanji akan hidup se­bagai manusia yang berguna.
Tapi kami tak punya kepandaian apa‑apa, apa yang harus kami kerjakan? Tidak men­jadi pe­nodong, sekeluarga tentu akan mati kelaparan! "
°Berdaganglah kecil‑kecilan, tak punya warung, jadi pedagang kaki lima, daripada menjadi peno­dong lebih baik menjadi pen­jual bak‑pao!"
"Tapi sepeserpun kami tak punya, mau da­gang apa? Lebih baik mati saja daripada kelaparan!°
Setiap orang menangis tersedu‑sedu sambil me­nyeka ingus, rupanya liangsim mereka mulai ter­sentuh.
Hampir saja Kwik Tay‑lok melelehkan air matanya karena terharu.
"Tidak punya modal? Itu mah soal gam­pang, aku punya!°
Bukankah ia sedang mengawal uang? Bu­kankah dalam kereta terdapat beberapa ribu tahil perak?
Tiada modal memang susah berdagang, selama­nya Kwik Tay‑lok memang orang yang sosial.
"Setiap orang memdapat seratus tahil perak!" ia memerintahkan.
Dengan penuh isak tangis karena terharu, me­reka menerima bagiannya dan bubar ter­cerai berai, dari kejauhan masih terdengar mereka berkata:
''In‑jin (tuan penolong) itu bukan cuma se­orang toa‑enghiong, to‑houkiat, hakekat­nya dia adalah Pousat hidup, seorang nabi yang berhati, mulia ......
Darah panas di dalam dada Kwik Tay‑lok ber­gelora, ia merasa terharu dan berterima kasih.
''Sebetulnya watak manusia itu baik dan mu­lia, bila tidak terpaksa hingga menemui jalan bun­tu, siapa yang mau menjadi begal?
Tunggu sampai perasaannya menjadi tenang kembali, tiba‑tiba ia menjumpai dua hal:
Pertama uang yang berada dalam kereta sudah berkurang separuh.
Kedua, uang itu bukan miliknya.
Para anggota perusahaan yang mengi­kutinya pada berdiri melongo dengan mata terbelalak, sia­papun tak bisa mengatakan manusia macam apakah dirinya itu?
Seorang toa‑enghiong kah? Atau seorang Nabi? Atau seorang yang goblok dan tak punya otak?
Setelah uang kawalannya berkurang separuh sang piautau harus mengganti.
Ketika pulang ke kantor, meski jantung Kwik Tay‑lok berdebar‑debar, bukan berarti hatinya amat sedih.
Ia masih mampu untuk membayar kerugian itu, setiap orang yang mempunyai kepandaian se­lalu mempunyai keyakinan semacam itu.
'Kuda ini kubeli dengan harga dua ratus de­lapan puluh tahil, dalam saku aku masih punya, sisa uang tujuh ratus tahil lebih, kalau di jumlah­kan sudah seribu tahil lebih, Biar kuserahkan lebih dulu!'
Bagaimana, dengan sisanya?
"Sisanya biar dibayar kantor, kemudian akan kuganti dengan memotong gajiku setiap bulan!
Bila Tionggoan‑piaukiok bisa memper­tahankan seorang wakil congpiautau se­macam ini, nama be­sar perusahaan pasti akan makin cemerlang dike­mudian hari, transaksi yang dibuat pasti akan se­makin baik, otomatis gajinya akan makin besar dan hutangnya makin cepat terbayar lunas.
Lo Ceng‑gi hanya mendengarkan kisah itu de­ngan mata terbelalak dan mulut melongo, seolah‑olah terpesona oleh cerita tersebut.
Kwik Tay‑lok masih yakin, sebab ia merasa cara yang diusulkan ini paling cengli dan tepat.
Mimpipun ia tak mengira kalau secara tiba-­tiba Lo Ceng‑gi menjatuhkan diri ber­lutut.
Lo Ceng‑gi berlutut bukan mohon kepadanya untuk tetap tinggal disitu, bukan pula untuk me­nyatakan rasa terima kasih karena jiwanya dito­long, tapi mohon kepadanya agar cepat‑cepat angkat kaki, makin cepat semakin baik, makin jauh se­makin baik.
“Kau telah menolongku, maka kubayarkan ke­rugian ini, anggap saja kita sudah impas. Manusia semacam Kwik toaya dulu tak per­nah kujumpai, dikemudian hari akupun ber­harap jangan menjum­pai lagi!°
Maka Kwik Tay‑lok pun angkat kaki.
Tapi kemana? Sekarang, betul pedangnya masih tersoren dipinggang, betul bajunya masih neces dan perlente, tapi kuda jem­polannya sudah kabur, sisa uang yang di­punyai cuma beberapa tahil, bukan saja tak bisa menginap di penginapan kelas satu, makan di rastoran kelas satu, sekalipun untuk ma­kan bakpao dan tidur di ubin keras juga cuma bisa bertahan beberapa hari.
Apakah Kwik Tay‑lok mulai gugup? Mulai sedih dan gelisah?
Tidak! Ia sama sekali tak ambil perduli.
Manusia yang punya kepandaian macam dia, kenapa takut tak bisa makan? Bu­kankah itu suatu lelucon yang tak lucu?
Maka diapun tetap mencari penginapan kelas satu dan memesan arak dan sayur yang paling le­zat untuk mengisi perutnya.
Buat seorang pria yang baru selesai ber­santap, biasanya perasaan waktu itu paling baik, apalagi dengan membawa enam‑tujuh bagian pengaruh arak, orang yang paling dibenci pun bisa dianggap sebagai seorang yang paling menyenangkan.
Maka semua sisa uang yang dimilikinya dibe­rikan kepada si pelayan yang menye­nangkan itu, maka sewaktu dia melangkah keluar dari situ, sa­kunya menjadi bersih seperti baru dicuci, mana bersih, kering lagi.
Bagaimana dengan santapan berikutnya? Jangankan membayangkan, setitik baya­nganpun tak ter­lintas dalam benaknya.
Tapi apa salahnya? Bukankah perahu yang tiba dijembatan akan lurus dengan sendirinya? Tiada jalan buntu di dunia, yang paling penting sekarang adalah mencari tempat yang bagus dan tidur se­puas‑puasnya.
°Besok adalah urusan besok, mau dipikir biar dipikir besok saja!°
Persoalan apapun yang akan dihadapi, setelah sampai saatnya tentu akan beres dengan sendirinya, kalau malam ini musti merisaukan urusan besok, wah, bisa cepat tua akibatnya.
Kwik Tay‑lok menguap lebar‑lebar, lalu de­ngan langkah lebar berjalan menuju ke losmen paling baik di kota itu.
Cuma dia melupakan sesuatu.
Walaupun pintu losmen selalu terbuka, meski sewaktu melangkah masuk gampang, sulitlah se­waktu akan melangkah keluar nanti. Bila dalam kocekmu tiada uang, tak nanti orang akan mem­biarkan kau keluar dengan langkah lebar.
Tentu saja Kwik Tay‑lok tak akan ming­gat, diapun tak akan mungkir, lantas apa daya?
Setelah berada dalam keadaan demikian, ia baru agak gelisah, sambil bergendong tangan ia ber­jalan bolak balik dalam hala­man.
Tiba‑tiba matanya menangkap selembar kertas merah diatas dinding, diatas kertas itu tertera be­berapa huruf besar:
DICARI SEORANG KOKI BERPENGA­LAMAN
Maka Kwik Tay‑lok menjadi seorang koki.
Selama menjadi piautau, dari awal sampai akhir dia hanya bekerja selama setengah bulan lebih.
Tapi sebagai koki, ia cuma bertahan tiga hari.
Selama tiga hari, ia memakai dua puluh kati minyak lebih banyak, memecahkan tiga puluh buah mangkuk dan empat puluh buah piring . ....
Orang lain masih bisa bersabar karena bebe­rapa macam hidangan yang dibuat Kwik Tay‑lok memang luar biasa, ada kalanya untuk mencari se­orang koki yang baik bahkan jauh lebih susah daripada men­cari seorang istri yang baik.
Sampai Kwik Tay‑lok melemparkan se­mangkuk ikan masak cuka yang baru keluar dari kuali ke wajah seorang tamu, orang lain baru betul­-betul tak kuat menahan diri.
Padahal tamu itu hanya menganggap ma­sakan ikannya kelewat tawar dan minta di­tambah sedikit garam, tapi Kwik Tay‑lok naik darah, sambil me­nuding hidung orang, dampratnya:
'Kau pernah makan ikan masak cuka ti­dak?
Kau pernah makan ikan tidak? Yang di­namakan ikan masak cuka memang tak bo­leh dibuat kele­wat asin, mengerti?"
Kalau semua koki yang ada didunia galak ma­cam dia, siapa yang berani berkunjung ke rumah makan lagi.'
Setelah berada dalam keadaan begini, sekalipun orang lain masih menahannya dia sendiri yang merasa tak betah. Setelah tiga hari bekerja seba­gai koki, satu‑satunya hasil yang diperoleh adalah selapis minyak yang mengotori badannya, sedang kantungnya masih tetap tongpes.
Tapi, meski orang disini tak maui dirinya, orang lain toh masih membutuhkannya," apa yang musti ditakuti?
Tentu saja Kwik Tay‑lok masih acuh tak acuh, kalau pekerjaan apapun bisa dikerja­kan, pekerjaan apapun pernah dilakukan, kenapa ia musti kuatir atau gelisah?
Persoalannya sekarang, apa yang harus di­lakukan?
Kwik Tay‑lok mulai putar otak setelah ber­pikir setengah harian, tiba‑tiba ia merasa bahwa semua perbuatan yang pernah ia la­kukan merupa­kan pekerjaan yang menghambur‑hamburkan u ang menung­gang kuda, minum arak, menikmati bunga, berpesiar, pekerjaan macam begitu mana mungkin bisa menghasilkan uang?
Untung masih ada satu‑dua macam pekerjaan yang bisa menghasilkan uang, misalkan menjual suara.
Dulu, kalau ia sedang menyanyi, orang orang lain bertepuk tangan sambil memuji tiada henti­nya, malah ada yang bertanya:
'Apakah kau sudah mulai belajar menya­nyi semenjak berada dalam perut ibumu?"
Malah ada pula yang berkata begini:
''Kalau membicarakan soal suaranya, di­tambah kepandaiannya dalam membawakan lagu, tak bisa disangkal lagi penjual‑penjual suara lainnya pasti akan gulung tikar!°
Walaupun Kwik Tay‑lok enggan merebut mang­kuk nasi orang, apa daya kalau perut­nya sudah mulai membawakan lagu perut kosong ......
Maka dia mencari sebuah rumah makan yang mentereng untuk menjual suara.
Baru naik ke loteng, para pelayan telah mengerubunginya, yang menuang teh menuang teh, yang menghantar sapu ta­ngan menghantar sapu ta­ngan, mereka tertawa dibuat‑buat, membungkuk­-bungkukkan badan sambil bertanya:
'Toaya, hari ini kau ingin makan apa? Mi­num apa? Hari ini ikan yang dimasak koki kami khusus didatangkan dari Kanglam, atau perlu mem­buka seguci arak Siau‑seng‑ciu yang telah berumur tiga puluh tahun?'
Terhadap orang gagah dan keren macam Kwik Tay‑lok, kalau bukan para pelayan yang menyan­jungnya, siapa lagi yang akan menyanjungnya?
Paras muka Kwik Tay‑lok langsung berubah, menjadi merah padam, seperti orang yang baru minum tiga puluh kati arak Siau‑seng‑ciu.
"Aku datang untuk menjual suara!" kata‑kata seperti itu mana tega ia ucapkan lagi?
Setelah gelagapan setengah harian, ia baru bisa mau menjawab terbata‑bata:
°Aku datang mencari orang .......”
Belum lagi ucapan itu selesai, bagaikan diha­jar dengan cambuk, ia sudah kabur ter­birit‑birit meninggalkan loteng itu.
Tentu saja ia tak bisa menyalahkan para pe­layan itu, mau menyalahkan musti me­nyalahkan diri sendiri yang sama sekali tak bertampang se­orang pengamen.
°Aai. . . ! Ternyata seseorang yang ber­tampang gantengpun kadangkala akan rugi, mungkin kalau tampangku rada jelekan dikit, keadaannya akan jauh lebih baik!"
Walaupun Kwik Tay‑tok sedang menghela na­pas, hampir saja ia tak tahan untuk men­cari cermin guna melihat tampang sendiri.
Mau menjadi pengamen gagal, lalu apa yang musti dikerjakan?
°Thian telah memberi sepasang tangan yang lincah dan bagus kepadaku, pasti ada pekerjaam yang bisa kulakukan!",
Kwik Tay‑lok memang selamanya merasa puas dengan tangan sendiri.
Memandang jari jemari sendiri yang langsing panjang dan bertenaga itu, tiba‑tiba dalam hatinya terlintas suatu cerita lama yang sering tersebar dalam dunia per­silatan: '°Seorang pendekar yang rudin se­dang menjual
kepandaiannya dengan bermain akrobatik ditepi ja­lan, kebetulan bertemu dengan seorang lo‑enghiong ­serta putrinya yang cantik, rupanya enghiong tua itu terpesona oleh ilmu silatnya yang tangguh .
Tentu saja akhirnya sang pendekar men­dapat gadis yang cantik dan hidup berba­hagia.
Benar, menjual kepandaian, aku bisa menjual kepandaian dengan bermain akro­batik ditepi jalan, dengan kepandaian yang kumiliki, siapa yang eng­gan menonton?°
Saking gembiranya Kwik Tay‑lok sampai lupa dengan perutnya yang lapar, diam‑diam ia hanya menggerutu kenapa idee sebagus ini tidak dipikirkan olehnya sejak dua hari berselang.
Meski udara sudah gelap, suasana dijalan raya masih ramai.
Kwik Tay‑lok mencari sebuah sudut jalan yang teramai untuk bersiap‑siap menjual kepandaian.
Tapi sebelum permainan dimulai, agaknya musti dibuka dulu dengan suatu pidato.
Apa yang musti dikatakan?
Kepandaian berbicara Kwik Tay‑lok bukan ter­hitung lemah, kata‑kata yang tidak se­harusnya di­ucapkan, seringkali bisa disam­paikan secara diplo­matis, tapi setelah sam­pai waktunya harus bicara, dia malah tak mampu berkata apa‑apa.
"Tanpa pidato juga tak mengapa, toh yang di­pentingkan orang adalah kungfuku bukan pidatoku, asal kudemonstrasikan kepandaianku, masa orang tidak datang mengerumun?”
Kwik Tay‑lok segera menggulung baju, me­nyincing celana dan mainkan ilmu puku­lan yang paling dibanggakan seumur hidup­nya ditepi jalan.
Gerak geriknya kuat dan perkasa bagai­kan harimau, tendangannya lincah bagaikan naga sakti, bayangan tangan menggu­lung‑gulung, angin pukulan menderu‑deru, setiap jurus setiap gerakannya be­tul‑betel merupakan kepandaian yang hebat.
Tapi orang bukan datang mengerumun, seba­liknya malah jauh‑jauh menyingkir, meski ada juga beberapa orang yang ber­nyali, mereka hanya be­rani mengintip dari balik tembok rumah.
"Orang ini tiba‑tiba bermain silat ditepi jalan, wah! Jangan‑jangan otaknya tidak waras?°
Waktu itu Kwik Tay‑lok masih memainkan ilmu pukulannya dengan bangga, tapi lama kela­maan ia baru merasa kalau gelagat kurang baik.
Untung saja dengan cepat ia sadar akan apa yang telah terjadi.
'Yang kumainkan sekarang adalah kungfu yang sebetulnya, tanpa embel‑embel kem­bangan, tentu saja orang‑orang itu tak ber­hasil melihat keindahannya. Baik, akan ku­perlihatkan ilmu yang lebih hebat lagi untuk mereka!"
Berpikir sampai disini, tiba‑tiba Kwik Tay‑lok berjumpalitan dengan gaya Yau‑cu‑huan‑sin (bu­rung belibis membalik­kan badan), Blam!" tinju­nya menghajar dinding belakang sampai berlubang, lalu "Weess!' tendangannya mampir diatas tong­gakbatu ditepi jalan sampai patah. dan roboh tentu saja celananya robek karena tendangan itu.
Jeritan kaget segera menggema dari mana‑mana, para pejalan kaki yang berada disekitar tempat itu segera sipat ekor me­ngambil langkah seribu, malah ada bebe­rapa toko yang segera menutup pintu se­bab mereka mengira tempat itu telah keda­tangan seorang gila yang sudah salah makan obat ......
Itulah pengalaman Kwik Tay‑lok ketika men­jual kepandaian, ia sudah mendemon­strasikan se­jurus Kay‑san‑kang, sejurus sa­puan Sau‑tong‑tui tapi hasil yang diperoleh cuma celana yang robek.
Kenapa kisah pengalamannya tidak se­mujur pendekar rudin yang ada dalam cerita?
Yaa, apa boleh buat, didunia memang sering terdapat cerita yang indah tapi tidak indah setelah dilaksanakan.
Malam itu, terpaksa Kwik Tay‑lok harus me­nahan lapar sambil tidur di kuil bobrok.
Tentu saja ia masih bisa mengunjungi rumah makan terbaik untuk makan dulu urusan kemu­dian, mengunjungi penginapan paling baik untuk tidur dulu urusan bela­kangan, tapi jago kita ini meski rada tolol bukan berarti nakal. Perbuatan yang me­malukan, sampai matipun tak sudi ia ker­ja­kan.
Sekalipun musti menjadi begal, aku akan menjadi begal ulung, aku tak sudi menjadi se­orang maling ayam yang kerjanya cuma menggang­sir rumah orang!
Sampai sore hari kedua, Kwik Tay‑lok baru teringat untuk menjadi seorang begal.
Ingatan semacam itu bahkan dia sendiri­pun tak tahu darimana datangnya, mungkin dari perutnya yang sudah hampir berlubang saking laparnya.
"Menjadi begalpun belum tentu jahat, dalam dunia persilatan banyak terdapat perampok budi­man yang mengambil harta milik orang kaya untuk dibagi‑bagikan kepada fakir miskin, bukankah kisah cerita mereka juga popular dalam dunia per­si­latan?'Maka Kwik Tay‑lok bertekad menjadi seorang perampok, sudah barang tentu seorang perampok budiman, seorang perampok ulung.
Kali ini ia bertekad harus berhasil, tak bo­leh gagal.
"Sebelum melakukan suatu pekerjaan, harus disusun lebih dulu suatu rencana yang matang!'
Sebelum menjadi perampok, rencana apa yang harus disusun?
Pertama, harus mempunyai sasaran yang paling tepat dan cocok, orang itu harus punya banyak uang dan lagi tidak jujur, kalau bisa memperoleh sasaran seorang pembesar yang korupsi, itu lebih baik lagi.
Sekalipun kau merampok harta kekayaan mil$ik orang macam itu, orang lain bukan saja tak akan menyalahkanmu, malah bisa jadi akan berke­plok sambil tertawa kegi­rangan.
Semangat Kwik Tay‑lok segera bangkit, ia mu­lai mencari diempat penjuru, lama, lama sakali, akhirnya ia berhasil menemukan sa­sarannya.
Itulah sebuah gedung megah yang berada diatas bukit, gedungnya besar, bangunan­nya kokoh dan mentereng lagi.
Ini menandakan kalau si tuan rumah pasti ba­nyak duit.
Gedung itu letaknya agak jauh dari pusat ko­ta, amat sepi dan terpencil, sekitarnya juga tak ada penghuni lain, sebab tetangga yang terdekat adalah sebuah kompleks tanah pekuburan.
Ini menandakan pula kalau tuan rumah­nya bu­kan seorang yang jujur dan terbuka, orang yang jujur dan terbuka tak akan ting­gat ditempat se­macam itu.
Semua syarat yang dibutuhkan sekarang sudah terpenuhi, yang harus ditunggu kini adalah saat yang paling tepat untuk turun tangan.
Tentu sa ja waktu yang paling tepat adalah malam hari.
Tapi Kwik Tay‑lok sudah kebelet, tak tahan untuk menunggu lebih lama, magrib belum lagi lewat ia sudah menyerbu ke dalami gedung terse­but ......
Benda pertama yang dilihat olehnya adalah sebuah pembaringan.
Sebuah pembaringan yang besar, besar sekali,. lagipula nyamannya bukan kepalang.
Diatas pembaringan berbaring seorang manusia.
Kecuali itu, ia tak berhasil menemukan benda lain.
Gedung itu sangat besar, bangunannya amat mentereng, dari muka sampai bela­kang paling ti­dak terdiri dari tiga puluh kamar, ruangan yang paling besar sanggup memuat belasan buah meja perjamuan sekaligus.
Tapi dari depan sampai belakang yang terdiri dari puluhan buah ruangan itu, kecu­ali pemba­ringan tersebut serta orang itu, apapun tak ada, bahkan meja dan kursi pun tak nampak sebuahpun.
Ternyata puluhan buah kamar dari depan sam­pai belakang itu semuanya kosong, dapur pun ko­song melompong.
Kwik Tay‑lok menjadi tertegun.
Orang yang berbaring diatas pembaringan itu tidak tidur, sepasang matanya terbelalak lebar‑le­bar, tapi bagaimanapun dia berlarian dari depan sampai ke belakang dari muka sampai sisi gedung, orang itu tak pernah menggubrisnya.
Sampai akhirnya, Kwik Tay‑lok sendiri yang tak tahan, ia lari ke depart pemba­ringan ingin bertanya apa gerangan yang sebetulnya telah terjadi.
Belum lagi ia bertanya, orang itu sudah ber­balik tanya lebih dulu:
“Apakah kau berhasil menemukan sesuatu ben­da yang berharga?'
Terpaksa Kwik Tay‑lok menggelengkan ke­palanya.
Orang itu menghela napas panjang, kem­bali katanya:
“Sejak tadi aku sudah tahu kalau kau tak akan berhasil apa‑apa, sudah tiga hari aku men­cari, tapi sebuah kuali bobrok yang paling akhir pun telah kugadaikan untuk di­tukar dengan bebe­rapa biji kueh. Jika kau dapat menemukan yang lain, kepandaianmu betul‑betul luar biasa!”
Tampangnya tidak terhitung jelek, cuma kulit ­mukanya memang rada kuning, kepu­cat‑pucatan, badannya lemas, tenaga untuk bicarapun tak pu­nya, tampangnya memang macam setan kelaparan, yang sudah bebe­rapa hari tak pernah makan.
Tapi pembaringan yang ditiduri tak bisa di­sangkal memang selembar pembaringan yang sangat baik.
Dalam gedung kosong ini kenapa masih ada, sebuah pembaringan sebagus ini!
Mau apa orang itu berbaring terus diatas pembaringan itu?
Tempat ini sebetulnya tempat apa?' tak ta­han lagi Kwik Tay‑lok bertanya.
'Berbicara soal tempat ini, sebetulnya bo­leh dibilang suatu tempat yang sangat ter­nama!”
“Ternama? Apa namanya?”
°Pernah dengar tentang perkampungan Hok­-kui‑san‑ceng? Nah, tempat inilah yang dinamakan Hok‑kui‑san‑ceng!
Hampir saja Kwik Tay‑lok tak bisa mena­han diri untuk berteriak.
'°Hok‑kui‑san‑ceng?° ulangnya, °tempat macam setan ini adalah perkampungan Hok‑kui‑san‑ceng?°
'Betul, si gendut saja bisa berubah men­jadi kurus, kenapa Hok‑kui‑san‑ceng (per­kampungan kaya raya) tak bisa berubah menjadi miskin? Apa yang musti kau heran­kan?'
“Lantas, siapa pula kau? Kenapa mengen­don ditempat macam setan seperti ini? Apa yang lagi kau kerjakan?°
Orang itu meluruskan napasnya untuk menyaring suaranya, setelah itu menjawab:
"Kalau aku tidak mengendon disini lantas ha­rus mengendon dimana? Aku ini adalah Cengcu angkatan ke tujuh dari perkam­pungan Hok‑kui-­san‑ceng lho, jangan menghina!"
Sekali lagi Kwik Tay‑lok tertegun.
Dengan sepasang matanya yang jeli, orang itu mengawasi pedang ditangannya, tiba‑tiba katanya lagi:
“Aku lihat pedangmu itu lumayan juga!'
“Memang lumayan, kenapa?°'
“Agaknya masih bisa laku beberapa tahil perak!"
°Beberapa tahil?" jerit Kwik Tay‑lok pena­saran, kau bisa menilai mutu pedang tidak? Te­rus, terang kuberitahu kepadamu, pedang ini kubeli dengan harga seratus tahil perak lebih!°
Sinar mata orang itu agak berkilat setelah mendengar perkataan itu, suaranya juga kedengaran lebih nyaring, katanya lagi:
"Turunlah gunung dari sini lalu berbelok ke kiri, disana ada sebuah rumah pegadaian yang me­makai merek Lip‑gwan, betul pemiliknya adalah setan penyayat kulit, tapi ia tahu mutu barang, mumpung dia belum tutup toko, cepatlah kesitu, paling tidak, pedangmu masih bisa digadaikan de­ngan harga dua puluh tahil perak!'
Setelah menelan air liur, katanya lebih lanjut:
"Tepat diseberang pegadaian ada sebuah warung penjual makaanan yang dibuka Lo‑Kong, pang­gang itik dan panggang da­ging buatannya lumayan sekali, ditetangga­nya juga menjual arak. Setelah kau menda­pat uang dari pegadaian, beli dulu dua ekor itik panggang, lima kati daging dan sepuluh kati arak, lalu cepat‑cepat kembali kesini. Aku su­dah kelaparan sekali, apalagi pang­gang itik kurang lezat kalau dimakan dingin‑dingin”
Kwik Tay‑lok membelalakkan matanya le­bar­-lebar, sikapnya sewaktu mengawasi orang ini per­sis seperti sikap Lo Ceng‑gi se­waktu mendengar­kan ceritanya dulu.
Lewat lama sekali, ia baru menghembus­kan napas panjang.
'Kau suruh aku menggadaikan pedangku untuk membeli daging dan arak bagimu?'
°Yaa, untung kau bisa mengerti!'
“Kau tahu, mau apa aku datang kesini?°
“Tentu saja tahu, kau kan mau meram­pok?”
“Kalau sudah tahu aku mau merampok, kenapa kau malah mengincar barangku . . .?° seru Kwik Tay‑lok sambil melotot.
Orang itu tertawa tergelak.
“Meskipun kau perampok, sayang aku adalah si setan miskin, kalau perampok bertemu dengan setan miskin, maka dia musti mengakui nasibnya yang lagi sial!"
Kwik Tay‑lok mengawasinya lekat‑lekat, tiba-­tiba ia merasa senyuman orang ini sa­ngat menarik, bahkan agak mempersonakan hati orang.
Tak tahan ia sendiripun tertawa tergelak.
Sekalipun kau sedang mengincar barangku, paling tidak kau harus mengga­daikan sendiri, lalu beli daging dan arak untukku, masa aku yang musti menggadai­kan barangku sendiri?°
“Kalau ingin menjadi orang baik, jadilah sam­pai selesai, lebih baik kau pergi sendiri!"
"Dan kau? Bergerak pun rasanya malas?"
Orang itu menghela napas panjang.
'Aaai, .....coba pikirlah!" ia berkata, 'kalau aku tidak malas, mana bisa jatuh miskin seperti ini?”
Untuk ketiga kalinya Kwik Tay‑lok tertegun. Dulu ia tak pernah bertemu de­ngan manusia se­macam ini, ia benar‑benar tak bisa berbuat apa-­apa terhadapnya.
Maka diapun benar‑benar pergi mengga­daikan pedangnya untuk ditukar dengan daging serta arak.
Setelah sebuah paha itik panggang dan sete­ngah kati arak masuk ke dalam perut, orang itu baru bangun duduk dari pemba­ringannya.
'Aku sudah makan makananmu, tapi be­lum tahu namamu, beritahu dulu siapa na­mamu?° katanya sambil tertawa.
'Aku bernama Kwik Tay‑lok, Tay‑lok yang berarti jalan lebar!"
'Jalan lebar . . . yaa, betul, betul, ini me­mang cocok dengan orangnya, kau memang seorang yang Tay‑lok, berjalan lebar !”
'Dan kau? Siapa namamu?”
'Aku bernama Ong Tiong, Ong yang ber­arti raja, Tiong yang berarti bergerak!'
Kwik Tay‑lok menatapnya lekat‑lekat, lama, lama sekali, tiba‑tiba ia tertawa ter­gelak.
"Haaahhh. . . . haaahhh. . . haaah. . . aku lihat nama itu kurang cocok bagimu, lebih baik diganti saja menjadi Ong Put‑tiong (ti­dak bergerak)!'
Cuma orang mati yang tidak bergerak.
Meskipun Ong Tiong bukan orarg mati, tapi ia hampir sama dengan orang mati, karena jarang bergerak.
Kalau tidak dalam keadaan yang terlalu men­desak, ia tak akan bergerak.
Dikala ia tak ingin bergerak, siapapun tak akan berhasil untuk memaksanya bergerak.
Semisalnya ada botol minyak jatuh dide­pan mata, orang lain tentu akan mengulur­kan tangan­nya, tapi Ong Tiong tak berga­rak.
Semisalnya dari langit jatuh sekeping uang emas, siapapun pasti akan mengam­bilnya, tapi Ong Tiong tak akan bergerak.
Bahkan sekalipun ada perempuan tercan­tik di dunia yang duduk dalam pelukannya dalam keada­an telanjang bulatpun, ia masih tetap tak akan bergerak.
Tapi ada saatnya juga ia bergerak, malah se­kali bergerak ternyata amat mengejutkan.
Suatu ketika, dalam sekejap mata ia telah ber­jumpalitan sebanyak tiga ratus delapan puluh dua kali, tujuannya hanya ingin mentertawakan seorang bocah yang baru kematian ibunya.
Suatu ketika diapun pernah melakukan perja­lanan sejauh seribu empat ratus lima puluh li da­lam dua hari dua malam non‑stop, tujuannya ha­nya ingin bertemu untuk terakhir kalinya dengan seorang te­man.
Temannya itu sudah lama meninggal.
Suatu ketika pula, dalam tiga hari tiga malam dia telah meratakan empat sarang penyamun di empat bukit serta bertarung melawan dua ratus tujuh puluh empat orang, diantaranya ia telah membunuh seratus tiga orang, alasannya karena ada segerombol perampok telah membunuh Tio lo‑sianseng sekeluarga dari desa Tio‑keh‑cun serta melarikan tiga orang pu­trinya.
Padahal ia tidak kenal dengan Tio lo‑sianseng maupun ketiga orang putrinya.
Sebaliknya bile ada orang mempermain­kan di­rinya, bahkan meludah diwajahnya, dia tak akan bergerak. Kalau kau merasa heran, ia memang sedikit agak mengheran­kan.
Kalau kau mengatakan dia malas, dia memang kelewat malas sampai malasnya bukan kepalang.
Sekarang, ternyata ia telah bersahabat dengan Kwik Tay‑lok. Bayangkan saja, apa yang terjadi kalau dua orang manusia macam mereka bertemu menjadi satu, kalau mereka tidak miskin, coba ka­takanlah siapa yang miskin?
Walaupun mereka miskin, mereka miskin de­ngan gembira.
Sebab mereka tak pernah menyalahi orang lain, tidak pula terhadap diri sendiri.
Karena mereka tidak melanggar ajaran Thian, tidak pula melanggar hukum negara.
Bagaimanapun besarnya kesulitan yang mereka temui, betapa pun besarnya kesu­sahan yang mere­ka jumpai, tak sebuahpun yang membuat mereka putus asa atau sedih.
Mereka tak takut menentang setiap penderita­an maupun kesedihan yang sedang dihadapi, mere­ka mengerti bagaimana menikmati keberhasilan dan kebahagiaan setelah berhasil mengatasi semua kesulitan dan kesedihan yang dihadapinya.
Sekalipun gagal, mereka tak pernah putus asa, mereka tak pernah merasa luntur se­mangatnya.
Mereka cukup memahami betapa berhar­ganya nyawa manusia, merekapun mengerti, bagaimana caranya untuk menikmati kebahagiaan serta kegem­biraan hidup.
Oleh sebab itu sepanjang sejarah kehi­dupan mereka penuh dihiasi dengan aneka ragam per­soalan yang semarak dan penuh kegembiraan.
Sepanjang hidupnya, mereka telah ba­nyak me­lakukan perbuatan yang jauh diluar dugaan orang, membuat setiap orang terce­ngang dan tertegun, bahkan kau sendiripun mungkin beranggapan bah­wa perbuatan yang mereka lakukan itu tolol, meng­gelikan.
Tapi kau tak bisa tidak harus mengakui, bah­wa pekerjaan yang bisa mereka lakukan belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain.
Kau sendiripun belum tentu bisa melaku­kannya!
Oleh sebab itu, aku percaya anda sekalian pasti amat senang untuk mengikuti kisah pengalaman mereka.
YAN JIT dan SEMUT
Pekerjaan yang dilakukan Kwik Tay-lok dan Ong Tiong saja sudah cukup memusing­kan kepala orang, apalagi kalau ditambah dengan Yan Jit seorang . . ?
Pekerjaan yang bisa dilakukan Yan Jit, hakekatnya jauh lebih bagus dan cemerlang daripada pekerjaan yang dilakukan tigi ratus orang sekaligus. Bayangkan saja apa aki­batnya kalau orang semacam itu bergabung dengan Kwik Tay‑lok dan Ong Tiong?
Tapi Thian justru telah mempertemukan me­reka bertiga, malah membiarkan mereka bergabung menjadi satu, akibatnya tentu hebat sekali.
Kwik Tay‑lok dan Ong Tiong tidak saban hari miskin, setiap saat setiap detik miskin, merekapun ada saatnya tidak miskin, cuma siapapun tak tahu kapan mereka tidak mis­kin, dan darimana uang tersebut mereka dapatkan.
Malah mereka sendiripun tidak tahu.
Uang mereka selalu datang diluar dugaan, membuat mereka sendiripun kadangkala di­bikin ke­bingungan sendiri.
Mungkin ini disebabkan karena cara mereka menghamburkan uangpun membi­ngungkan hati orang.
Kini musim gugur sudah hampir tiba, be­be­rapa batang pohon dibelakang perkam­pungan Hok-­kui‑san‑ceng telah mulai ber­buah, buah pear yang besar lagi manis bisa memenuhi beberapa puluh keranjang bila dipetik, kalau dijual bisa laku dua tiga puluh tahil perak lebih.
Buah itu tumbuh sendiri dari atas pohon, setelah berbuah maka orang datang untuk menawar harganya, kemudian memetik sendiri dari pohon dan mengangkutnya pergi.
Dari awal sampai akhir mereka tak perlu me­ngeluarkan tenaga, tak perlu membantu.
Uang itu hakekatnya seperti terjatuh dari atas langit, tentu saja rejeki nomplok sema­cam ini pan­tas kalau dirayakan.
Untuk merayakannya, tentu saja tak boleh ke­kurangan arak, setelah ada arak tentu tak bisa ke­tinggalan harus ada daging.
°Sandang menambah kegagahan, berjudi men­datangkan kemurungan, bermain pe­rempuan hanya meraih hasil yang kosong', hanya makan yang paling menghasilkan ke­beruntungan, sebab itu ma­kan juga meru­pakan kenikmatan yang paling be­sar buat Ong Tiong.
Pada mulanya ia masih makan sambil berba­ring, makan sambil tiduran, tapi sete­lah mengge­lora kegembiraannya, ia mulai duduk, tapi setelah lelah kembali ia mem­baringkan diri, makan sambil tiduran lagi.
Oleh sebab itu pembaringannya lebih berminyak, daripada meja dalam dapur, kemanapun kau meraba pasti akan mene­mukan satu‑dua potong sisa daging yang berceceran, atau tiga‑empat kerat tulang yang belum habis digerogoti.
Sekalipun Kwik Tay‑lok sendiri juga bukan seseorang yang memperhatikan soal keber­sihan, ia lebih suka tidur dilantai daripada berbaring diatas pembaringannya.
Melihat orang tak berani menjamah pem­ba­ringannya, dengan gembira Ong Tiong menikmati pembaringannya seorang diri, bukan saja pemba­ringan itu tempat tidurnya, disitu pula ruang ta­munya, kebun­nya dan meja makannya.
Yang lebih hebat lagi, ia bisa berbaring sam­bil minum arak, mula‑mula mulut botol ditempel­kan dulu dengan mulut, lalu °kluk, kluk, kluk!° meneguknya dengan lahap, tak setetespun yang tumpah keluar.
Kwik Tay‑lok sangat kagum dengan kepandai­annya itu, dia ingin belajar, tapi agak ragu, tak tahan tanyanya:
'Masa tiduranpun bisa minum arak?*
"Tentu bisa!°
“Tidak kuatir menyembur keluar dari lubang hidung?'
'Pasti tidak, sekalipun kau minum dengan ke­pala dibawah kaki diatas, tak nanti arak itu bisa menyembur keluar dari lubang hidungmu!°
''Darimana kau bisa tahu?°
"Aku pernah mencoba!"
Kwik Tay‑lok segera tertawa lebar.
'Aaah, masa iya? Duduk saja malas, masa kau bersedia menggantung diri sendiri?°
“Kalau tidak percaya, mengapa tidak kau buk­tikan sendiri?°
Maka Kwik Tay‑lok menggantung dirinya sen­diri, lalu menempelkan mulut botolnya diatas bibir dan pelan‑pelan meneguk isinya ke perut.
Baru dua tegukan, arak telah menyembur ke­luar dari lubang hidungnya.
Pada saat itulah, ia telah berjumpa de­ngan Yan Jit . . . pertama‑tama ia saksikan dulu sepasang kaki Yan Jit.
Kaki Yan Jit mungkin tidak jauh berbeda da­ripada kaki orang lain, tapi sepatunya sangat istimewa.
Sepatu itu terbuat dari kulit kerbau muda, buatannya indah dan kuat, diatasnya ada sulaman yang manis dan menarik, diban­dingkan dengan se­patu yang dipakai Tay‑ong‑ya dari luar perbatasan pun masih jauh lebih indah.
Itu masih belum mengherankan.
Yang lebih mencengangkan adalah demikian indah dan kuatnya sepatu itu, ternyata kedua‑dua­nya tanpa alas sepatu.
Pakaian yang dikenakan sebetulnya juga indah dan amat cocok dengan potongan badannya, tapi sekarang sudah terko­yak‑koyak tak karuan, hake­katnya tiada se­bagianpun yang masih utuh.
Hanya topi yang dikenakan, tak bisa disangkal lagi seratus persen indah dan menawan hati.
Perawakannya tidak terlalu tinggi, tapi kaki dan tangannya panjang sekali.
Mukanya sangat bagus, bahkan sedikit mirip wajah seorang nona, matanya besar dengan bibir yang kecil, waktu tertawa pada pipinya akan mun­cul sepasang lesung pipi yang dalam, tapi kalau tidak tertawa, mu­kanya segera akan menjadi dingin seperti es, air mukanya ikut menjadi pucat kehi­jau‑hijauan, membuat orang hampir tak berani mendekatinya.
Warna pakaian yang dikenakan sebetul­nya men­dekati warna hijau pupus, tapi sekarang sudah berubah menjadi tembong belang, sana merah sedikit, sini kuning, sedikit hingga warnanya campur aduk.
Yang kuning jelas adalah bekas lumpur, tapi yang merah karena apa? Apakah darah?
Bila ada dua orang sedang asyik minum arak, tahu‑tahu muncul seorang yang menerobos masuk, siapapun pasti akan ter­peranjat dibuatnya.
Tapi Kwik Tay‑lok dan Ong Tiong, yang satu masih tiduran sedang yang lain masih menggan­tung diri, seakan‑akan tidak meli­hat atas kedatangan orang itu.
Bila kau masuk ke suatu rumah dan menjum­pai ada seorang manusia tiduran sambil minum arak sedang yang lain minum arak sambil meng­gantung diri, tentu akan kau anggap tempat itu adalah rumah sakit jiwa, sekalipun tidak sampai kabur terbirit‑birit, paling tidak bulu kuduk akan bangun berdiri.
Tapi orang itu sedikitpun tidak merasa kaget atau tercengang, seakan‑akan dia menganggap minum arak dengan tubuh ter­gantung adalah suatu cara minum yang normal, duduk sambil minuet arak baru aneh rasanya.
Orang itu adalah Yan Jit.
Sepasang kaki Kwik Tay‑lok digantungkan pada plafon rumah.
Tiba‑tiba Yan Jit menjungkir balikkan tubuh­nya di udara dan menggantungkan pula kakinya pada tiang‑tiang rumah, lalu dengan wajah berha­dapan wajah ia me­mandang diri Kwik Tay‑lok, seakan‑akan ia merasa berbicara dengan cara ini baru asyik rasanya.
Tapi ia tak mengucapkan sepatah kata­pun.
Kwik Tay‑lok mulai merasa tertarik kepada orang ini, tiba‑tiba ia menarik muka sambil mem­buat muka setan.
Yan Jit menarik muka juga sambil meniru­kan lagaknya membuat muka setan.
''Kau baik?" tegur Kwik Tay‑lok.
°Baik!”
“Mau minum arak?° kata Kwik Tay‑lok lagi sambil memutar biji matanya.
"Mau!"
Kwik Tay‑lok segera mengangsurkan botol araknya kepada orang itu, dia ingin me­nyaksikan arak menyembur keluar dari lubang hidang o­rang itu.
Siapa tahu kepandaian yang dimiliki orang itu jauh lebih hebat darinya, 'kluk, kluk, kluk!" se­cara beruntun ia meneguk habis separuh botol arak itu, malah setetespun ti­dak tumpah.
Sepasang mata Kwik Tay‑lok segera ter­bela­lak lebar, serunya:
“Dulu, kau sudah pernah minum arak dengan cara begini?"
'Sudah beberapa kali!'
Tiba‑tiba ia tertawa, lanjutnya:
'Akupun ingin mencoba apakah minum arak dengan cara begini juga bisa dilaku­kan!'
Bila pekerjaan semacam inipun pernah di­coba oleh seseorang, ini menandakan pekerjaan yang belum pernah dilakukan olehnya tentu sedikit sekali.
Tak tahan Kwik Tay‑lok tertawa terbahak-­bahak.
'Perbuatan apa lagi yang pernah kau coba?° katanya.
"Semua perbuatan yang bisa kau sebut­kan, mungkin pernah kucoba semuanya!°
'Aku rasa didunia ini pasti jarang ada peker­jaan lain yang jauh lebih susah dari­pada minum arak sambil berjungkir balik bukan?° kata Kwik Tay‑lok sambil tertawa.
'Masih ada beberapa macam!'
'Masih? Perbuatan apa lagi yang lebih susah daripada minum arak sambil berjung­kir balik?”
"Yang paling susah adalah dimasukkan ke da­lam peti mati, dipaku dan dikubur hidup‑hidup didalam tanah!°
Kwik Tay‑lok membelalakkan sepasang mata­nya lebar‑lebar, bisiknya:
'Perbuatan semacam inipun pernah kau coba?”
"Bukan mencoba lagi, tapi sudah kulaku­kan banyak kali, paling tidak lebib dari dua kali!'
Tiba‑tiba Kwik Tay‑lok berjumpalitan di te­ngah udara dan melompat turun, dengan mata melotot diawasinya wajah orang itu tanpa berkedip. Paras muka Yan Jit tetap tenang, sedikitpun tanpa emosi.
Lewat lama sekali, Kwik Tay‑lok baru meng­hela napas panjang, katanya sambil menggeleng:
''Aku lihat, kalau kau bukan seorang raja pe­ngibul, sudah pasti adalah seekor makh­luk aneh!'
°Yaa, betul! Dia memang makluk aneh!' tiba‑tiba Ong Tiong menimpali.
°Aah, sama‑sama, sama‑sama!' Yan Jit tergelak tertawa.
Kwik Tay‑lok segera berkeplok sambil tertawa terbahak‑bahak, serunya:
'Betul, betul, kita semua memang makh­luk aneh, kalau tidak, tak nanti kita bisa berkumpul disini!"
Setelah berhenti sebentar, tiba‑tiba lan­jutnya:
"Ketika datang untuk pertama kalinya kemari, aku ingin menjadi seorang peram­pok, bagaimana dengan kau?"
"Aku mah tak ingin menjadi seorang peram­pok lagi, sebab aku memang peram­pok tulen!"
Kwik Tay‑lok mengawasinya dari atas sampai ke bawah, lalu tak tahan lagi kata­nya sambil ter­tawa:
'Kalau dilihat dari tampangmu, maka kalau kau seorang perampok, sudah pasti merupakan pe­rampok goblok!
'Bukan goblok, cuma lagi apes!"
'Lagi apes?'
Yan Jit menghela napas panjang.
'Aaai . . . . kalau bukan lagi apes, masa aku bisa sampai ketempat macam ini?"
'Aaah, betul! Mau apa kau datang kema­ri?”
"Tidak mau apa‑apa, aku cuma ingin mencari tempat untuk menyembunyikan diri!”
'Kenapa musti menyembunyikan diri?”
"Sebab ada orang hendak masukkan aku ke dalam peti mati, memantek dan me­nguburku lagi hidup‑hidup!"
"Siapa yang hendak menangkapmu kali ini?
'Semut!"
Kwik Tay‑lok membelalakkan matanya dengan mulut melongo, hampir saja mulut­nya tak bisa merapat kembali.
"Kau . . . . kau bilang apa?"
"Semut!”
"Semut . . . . ?”
Tiba‑tiba pemuda itu tertawa ter­pingkal‑ping­kal, dengan napas terengah serunya:
“Waah . . . . . waah. . . kalau sama semut pun takut, nyalimu betul‑betul lebih kecil dari upil!°
Yan Jit menghela napas panjang, sambil meng­gelengkan kepala berulang kali ia ber­kata:
"Tampaknya kau belum pernah berkelana da­lam dunia persilatan, masa "Semut" pun tidak kau ketahui!"
"Oh . . . . tidak mungkin. sejak berumur tiga tahun, aku sudah tahu apa yang dina­makan semut!
'Apa, coba?' '
°Semut adalah binatang yang kecil sekali, bi­natang yang kerjanya merangkak ditanah dan lari kesana kemari diatas tembok rumah atau lantai. Diatas pembaringan Ong Tiong pun terdapat ba­nyak makhluk kecil itu, tidak percaya? Setiap saat aku bisa menangkap beberapa ekor untukmu!"
'Bukan semut itu yang kumaksudkan, yang kumaksudkan adalah manusia !”
'Manusia? Semut juga bisa menjadi manu­sia?" seru Kwik Tay‑lok agak tertegun.
"Yaa, empat orang. Keempat orang ini adalah Raja semut, anak buahnya terdiri dari semut‑se­mut kecil!"
"Keempat orang ini, yang seorang ber­nama Semut Emas, yang kedua bernama semut perak, yang ketiga bernama semut merah dan terakhir bernama semut putih!"
Tak tahan Kwik Tay‑lok tertawa geli, se­runya:
"Setelah ada semut merah dan semut putih, seharusnya ada semut hitam baru pantas!"
'Dulu memang ada semut hitam, tapi seka­rang sudah mampus!'
'Kalau betul mereka itu manusia, kenapa di­namakan semut?° tanya Kwik Tay‑lok ke­mudian sambil mengerdipkan matanya.
"Setiap orang tentu punya julukan bukan? Nah, itulah julukan untuk mereka!'
"Kalau pingih punya julukan, paling tidak ba­rus mencari julukan yang rada keren atau gagah, misalnya Cha‑ci‑hau (harimau ber­sayap), Kim-­mao‑say (Singa bulu emas) dan lain‑lainnya, masa cari julukan kok si semut kecil, huuh, apa‑apaam itu? “
'°Kalau tidak dinamakan semut apa musti di­panggil gajah? Padahal tubah mereka ker­dil‑kerdil, sebab mereka memang si cebol semua!"
Ketika didengarnya perkataan orang makin la­ma semakin tidak genah, Kwik Tay‑lok segera ter­tawa tergelak, serunya:
'Apa yang musti ditakuti dengan seorang kerdil?”
'Apa yang musti ditakuti? Ketahuilah, ker­dil-­kerdil itu bukan cuma menakutkan, se­sungguhnya mereka kelewat menakutkan sehingga mendirikan bulu roma setiap orang, tak ada manusia kedua di dunia ini yang jauh lebih menakutkan dari mereka!"
"Oooh . ?! Masa kepandaian silat yang mereka miliki sangat hebat sekali?"
"Yaa, mereka memang memiliki kungfu yang hebat dan istimewa, jangankan jagoan biasa, tokoh nomor satu dari Go‑bi‑pay pun tewas ditangan mereka!'
'Kalau sudah tahu mereka itu lihay, kena­pa kau berani mengusik mereka .....?'
Yan Jit kembali menghela napas panjang.
'Aaai . . . . karena belakangan ini aku jatuh pailit, lagi apes, dalam setengah bulan sudah kalah lima belas kati, sampai sol sepatuku pun digadaikan untuk membayar hutang . . . °
'Apa? Kau bilang sol sepatumu kau gadai­kan untuk membayar hutang?° teriak Kwik Tay‑lok.
“Betul!'
'Kau sudah hutang berapa?”
"Yaa, kira‑kira tujuh‑delapan ribu tahil!"
'Lantas sol sepatumu laku berapa?"
"Total jendral uang yang kuterima dari pen­jualan sol sepatu itu mencapai seribu tiga ratus tahil perak!”
Makin lama bicaranya makin melantur, sam­bit menahan sabar Kwik Tay‑lok mendengarkan terus ocehan orang, dia ingin tahu ocehan apa lagi yang hendak dipropa­gandakan orang.
°Waaah. . . . kalau begitu, kau kan masih kurang enam ribu tujuh ratus tahil perak?' serunya sam­bit tertawa terbahak‑bahak.
'Justru karena itu, terpaksa aku musti men­cari jalan lain!"
Katanya kau seorang begal? Kenapa tidak merampok saja?° .
Dengan wajah serius Yan Jit berkata:
"Kau anggap begal semacam aku meram­pok barang orang tanpa pilih bulu . . . . ?°
"'Ooh . . . . . jadi kau memilih korban?"
'Bukan cuma memilih, bahkan sensorku keras sekali, kalau bukan pembesar korup aku enggan merampok, kalau bukan sauda­gar curang aku emoh merampok, kalau bu­kan perampok ulung aku tak mau meram­pok, kalau tempatnya kurang cocok akupun tak mau merampok!"
Wouw, kalau begitu kau juga merampok ba­rang milik perampok lain?°
°Benar, ini yang dinamakan hitam makan hitam!"
"Sebab itu kau lantas mengincar kawanan semut itu?' tanya Kwik Tay‑lok kemudian.
"Betul, kebetulan beberapa hari berselang aku mendapat info kalau mereka telah membuat suatu transaksi besar, maka aku­pun mendatangi mereka sambil bertanya apakah mereka bersedia memberi pinjaman sepuluh laksa tahil perak untukku!"
'Mereka setuju tidak?"
°Setujunya sih sudah setuju, cuma ada sya­ratnya!”
'Apa syaratnya?”
"'Aku harus tidur dalam peti mati dan diku­bur selama dua hari dalam tanah, mereka pingin tahu aku bakal mampus atau tidak!”
"Bukankah perbuatan semacam ini sudah per­nah kau praktekkan jauh hari sebelum­nya?'°
"Sekalipun pernah kupraktekkan, tapi rasanya betul‑betul kurang sedap untuk dinikmati!"
"Maka kau tidak menyanggupi?"
"Aku menyanggupi, karena hutang apapun bo­leh ditunda, hutang dalam judi harus dibayar kontan!''
''Kau telah menyanggupi permintaan mereka, tapi sekarang mengingkar janji, maka mereka datang mengejar dirimu?'
°Tepat sekali perkataanmu itu'
°Siapa namamu?"
"Yan Jit!”
'Kau masih ada enam orang kakak lelaki dan kakak perempuan?'
“Tidak!"
°Kalau tidak, kenapa urutanmu ke tujuh?
Kenapa kau dinamakan Yan Jit . . . ?°
°Sebab aku sudah pernah mati tujuh kali!”
'Kalau mati sekali lagi, bukankah namamu akan berubah menjadi Yan Pat (Yan ke de­lapan)?", Yan Jit tertawa getir.
“Nama Yan Jit terlalu baik, aku tak ingin untuk merubahnya lagi menjadi Yan Pat!°
Tiba‑tiba Kwik Tay‑lok membungkukkan ping­gangnya dan kembali tertawa terping­kal‑pingkal, saking gelinya sampai air mata­nya ikut bercucuran, sambil menuding ke ujung hidung orang, katanya sambil ter­tawa:
"Sekarang aku baru tahu, kau bukan makhluk aneh, kau seratus persen adalah seorang raja mengibul . . . !”
'Kau tidak percaya dengan perkataanku?"
"Sepatah katapun tidak percaya, jangan toh aku, anak yang berumur tiga tahun pun tak akan percaya dengan perkataanmu itu!'
Yan Jit kembali menghela napas panjang.
"Sebetulnya aku memang tidak bermak­sud untuk bicara terus terang, karena aku sudah tahu, kata‑kata yang bohong justru lebih gampang mem­buat orang percaya daripada berbicara terus terang!"
“Haaahhh . . . haaahhh. . . haaahhh. . . kalau kau bicara terus terang, aku bersedia untuk merangkak di tanah . . . . !
'Kalau begitu, merangkaklah!' tiba‑tiba sese­orang menanggapi.
Suara itu lengking lagi lembut, meski ti­dak keras tapi menusuk telinga hingga membuat kendang telinga serasa kese­mutan.
Ketika Kwik Tay‑lok mendongakkan kepala­nya, ia telah melihat seseorang ber­diri di sana.
Orang itu berdiri diatas daun jendela, tapi pe­rawakan tubuhnya masih kalah tingginya daripada daun jendela tersebut.
Padahal tinggi daun jendela itu paling‑paling cuma tiga depa setengah.
Ia mengenakan pakaian berwarna kuning emas, kalau mukanya tidak berkeriput dan diatas bibir­nya tak berkumis, orang pasti akan mengira dia sebagai bocah yang baru berumur lima‑enam tahun.
Kwik Tay‑lok agak tertegun sejenak, ke­mudian sambil menghembuskan napas panjang tegurnya:
'Kau yang bernama Semut emas?'
"Betul, aku bisa menjamin kalau semua per­kataannya adalah kata‑kata yang jujur, tak sepatah katapun palsu!"
Sekali lagi Kwik Tay‑lok menghembuskan pa­pas panjang, setelah tertawa getir ia ber­kata lagi:
“Sesudah Semut emas munculkan diri, kemana larinya Semut perak?'
Baru habis ia berkata, diatas daun jendela. kembali telah muncul sesosok tubuh kerdil.
Meskipun perawakan tubuh orang ini sedikit lebih tinggi daripada semut emas, tapi, itupun tak lebih cuma dua-tiga inci le­bih tinggi.
Ia mengenakan baju berwarna ke­perak‑perakan, waiahnya mengenakan to­peng dari perak , hingga kelihatan seperti makhluk aneh yang terbuat dari perak putih, rasa seram dan mengerikan yang ter­pancar keluar dari tubuhnya tak terlukiskan de­ngan kata‑kata.
Jangankan orang lain, Kwik Tay‑lok sendiripun merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, gu­mamnya kemudian:
“Kalau dugaanku tidak meleset, si Semut me­rah pasti mengenakan baju berwarna merah!'
"Tepat sekali dugaanmu!" seseorang menang­gapi sambil tertawa merdu.
Suara tertawanya nyaring, genit dan merdu merayu, jarang sekali ada orang memiliki suara yang begini merdu dan lem­but seperti apa yang dimiliki orang itu.
Cukup mendengar dari suara tertawanya, bisa dibayangkan kalau wajahnya pasti can­tik jelita bak bidadari dari kahyangan.
Semut merah memang amat cantik.
Biasanya perawakan orang kerdil tak akan tum­buh secara normal, tapi ia terkecuali dari teori tersebut.
Perempuan kerdil itu mengenakan baju ring­kas berwarna merah, bagian yang se­mestinya lang­sing ternyata memang tidak gemuk, bagian yang semestinya montok ternyata memang tidak kurus, ia memiliki potongan muka kwaci dengan alis mata ba­gaikan semut beriring, mata yang jeli bagai­kan bintang timur, bibir yang kecil bagaikan delima merekah, apalagi dikala tertawa, ke­cantikannya sukar dilukiskan dengan kata‑kata.
Semisalnya perempuan ini dilihat dengan kaca pembesar, sudah tak bisa disangkal lagi, ia adalah seorang gadis berwajah menawan hati.
Sayang tubuhnya kerdil, coba kalau badannya diperbesar beberapa kali, mung­kin laki‑laki macam Kwik Tay‑lok pun tak berani mengusik atau mem­buat kesalahan dihadapannya.
Sebab sekalipun badannya belum diperbe­sar beberapa kali, sepasang mata Kwik Tay‑lok sudah melotot besar, biji matanya nyaris melompat ke­luar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar