Selasa, 17 Juli 2012

Pend Riang 17


ORANG TUANYA bukanlah seseorang yang luar biasa.

Teman‑temannya juga tak pernah mena­nyakan soal keluarganya dan soal orang tua­nya, mereka hanya berkata:

"Darimana kau latih ilmu silatmu itu?"



Ilmu silatnya ia latih sewaktu masih ke­cil dulu . . . . seorang kakek yang amat miste­rius tiap hari menunggu kedatangannya dalam hutan dan memaksanya untuk ber­latih tekun.

Sampai sekarang dia tak tahu siapakah kakek itu, juga tidak tahu seberapa tinggi ilmu silat yang dia wariskan kepadanya.

`Sampai dia berkelahi untuk pertama kali­nya, dia baru tahu dengan pasti.

Itulah pengalaman aneh baginya.Yaa aneh,yaa misterius:

Maka dia tak pernah membicarakan per­soalan ini di depan orang lain, sebab walau­pun dia katakan orang lain belum tentu akan mem­percayainya . . . . . . . .

Bahkan kadangkala dia sendiripun tidak terlalu percaya.

Setiap orang tentu mempunyai masa lalu.

Setiap orang tak bisa dihindari pasti per­nah membicarakan masa lalunya di depan teman akrabnya.

Adakalanya keadaan tersebut bagaikan sedang mengisahkan suatu cerita saja.

Kisah cerita semacam ini sering kali tidak menarik perhatian orang lain . . . . dari pada mendengarkan orang lain mengibul, lebih baik dirinya sendiri yang mengibul.

Tapi entah persoalan apa, saja tentu ada pengecualiannya.

KetikaOngTiong sedang berbicara, se­tiap orang mendengarkan dengan mata terbela­lak, bahkan menukaspun tidak.

Orang pertama yang menimbrung cerita itu tentu sajaKwikTay‑lok .

Dalam kenyataan sudah lama dia mena­han diri, setelah mendengarkan sampai di situ dia baru tak tahan untuk menimbrung.

Dia menghembuskan napas panjang lebih dulu, kemudian baru bertanya:

"Apakah tiap hari orang tua itu pasti menunggumu ?"

"Yaa, setiap hari pasti menungguku da­lam hutan belakang dekat tanah pekuburan itu" sahutOngTiong .

"Dan setiap hari kau pasti pergi !"

"Baik hujan deras, atau hujan badai, tak seharipun aku absen . . . ."

"Jadi seluruhnya kau telah pergi berapa lama ?"

"Jumlah seluruhnya tiga tahun empat bu­lan. . . ."

KwikTay‑loksegera menghembuskan na­pas panjang, gumamnya:

"Waaah. . . . bukankah jumlahnya men­jadi seribu kali lebih ?"

OngTiongmanggut‑manggut.

"Aku dengar, bila belajarmu agak lamban maka kau akan menerima gebukan, bahkan tidak entenggebuknya ?" kataKwikTay‑Iok .

"Sejak tahun itu, aku hampir jarang sekali tidak kena digebuk !"

"Kalau toh setiap hari kena digebuk, ke­napa kau masih tetap pergi . . . . . . . ?"

"Sebab waktu itu aku merasa perbuatan bukan cuma misterius saja, lagi pula segar dan merangsang."

KwikTay‑lokberpikir sebentar, kemudian katanya sambil tertawa:

"Seandainya berganti aku, akupun tetap akan datang !"

LimTay‑peng juga tak kuasa menahan diri, dia lantas bertanya:

"Apakah kau belum pernah menanyakan nama dari orang tua itu ?"

"Aku sudah bertanya berapa ratus kali !"

"Tahukah kau dia berasal dari mana ?"

OngTiongmenggeleng.

"Setiap kali aku datang kesana, dia se­lalu sampai duluan."

"Kenapa kau tidak mendahuluinya ?"

"Bagaimanapun awalnya aku datang, dia selalu sampai duluan ditempat itu."

"Kenapa tidak kau kuntil dirinya, coba li­hat dia pulang ke mana?" tanyaKwikTay-lok dengan kening berkerut.

OngTiongtertawa getir.

"Tentu saja sudah kucoba !" sahutnya.

"Bagaimana hasilnya ?"

"Hasilnya tiap kali pasti kena digebuk setengah mati, kemudian pulang seorang diri tanpa banyak membantah!"

KeningKwikTay‑lok berkerut makin ken­cang, lalu gumamnya:

"Setiap kali dia menunggu kedatanganmu disana, setiap kali memaksa kau untuk berlatih silat, tapi ia enggan membiarkan kau tahu sia­pakah dia yang sebenarnya, betul‑betul meng­herankan !"

"Masih ada yang lebih mengherankan lagi yakni diapun tak pernah bertanya siapakah aku ?"

KwikTay‑loksegera menghela napas panjang.

"Kejadian aneh semacam ini memang ja­rang terjadi di dunia ini, tampaknya hanya manusia aneh semacam kau saja yang bisa bertemu dengan kejadian aneh seperti itu."

Tiba‑tibaYanJit turut bertanya:

"Ketika kau bersiap‑siap hendak mening­galkan rekan‑rekanmu, apakahAngNio ‑cu pun tidak tahu ?"

"Aku tak pernah membicarakan hal ini di hadapan siapa saja."

"TapiAngNio ‑cu . . . . bukankah ia sangat baik kepadamu ?"

Paras mukaOngTiong berubah semakin tak sedap dipandang, lewat lama sekali dia baru berkata dengan dingin:

"Kepada banyak orang pun dia selalu baik!"

AgaknyaYanJit baru merasa kalau dia telah salah berbicara, segera dia mengalih­kan pokok pembicaraannya ke soal lain, ujarnya kemudian:

"Selanjutnya dengan cara apakah kau melarikan diri ?"

"Suatu ketika mereka sedang bersiap‑siap untuk mencuri kitab didalam kuil Siau‑lim‑si, mereka suruh aku mencari info terlebih dahulu maka aku pun manfaatkan kesempatan ini un­tuk melarikan diri.

YanJitsegera menghembuskan napas panjang katanya:

"Beberapa orang itu berani juga mem­buat keonaran didalam kuil Siau‑lim‑si, nyata­nya nyali mereka tidak kecil !"

"Setelah kau melarikan diri, apakah me­reka tak pernah menemukan dirimu?"

"Tak pernah !"

Mendadak dia bangkit berdiri dan menghampiri jendela.

Malam itu sangat gelap, lagi pula dingin sekali.

Dia berdiri kaku di depan jendela, berdiri termangu‑mangu sampai lama sekali, ke­mudian baru pelan‑pelan melanjutkan:

"Sekembalinya ke rumah, aku jarang ke­luar.”

`°Apakah secara tiba‑tiba kau telah ber­ubah menjadi tak ingin bergerak lagi?"

"Aku memang telah berubah, berubah sa­ngat cepat, berubah sangat banyak . . . .”

Suaranya menjadi parau dan sedih sekali, lanjutnya:

"Karena sekembalinya kemari, aku baru tahu bahwa tahun kedua setelah kepergian­ku, ibuku telah . . . ."

Dia tidak melanjutkan kata‑katanya.

Sepasang kepalanya telah di genggam kencang‑kencang, sekujur badannya ge­metar dan ia tak mampu untuk melanjutkan kembali kata-katanya.

Kali ini, bahkanKwikTay‑lok pun tidak bertanya lagi, ia tak tega untuk bertanya, juga tak perlu bertanya.

Semua orang sudah mengetahui musibah yang menimpaOngTiong , juga memahami pe­rasaannya.

Menanti dia pulang untuk membalas budi kebaikan ayah ibunya, keadaan sudah ter­lambat.

Kenapa setiap orang baru memahami pera­saan orang tuanya dikala keadaan su­dah ter­lambat ?

LimTay‑peng menundukkan kepalanya, sepasang matanya seperti basah oleh air mata.

KwikTay‑lokmerasakan pula hatinya menjadi kecut, sepasang matanya berubah men­jadi merah membara.

Sekarang dia baru tahu, mengapaOngTiong bisa berubah menjadi begini miskin, be­gitu malas dan begitu aneh.

Sebab dia merasa amat sedih dan menye­sal.

Dia sedang menghukum dirinya sendiri.

Seandainya kau hendak mengatakan bah­wa dia sedang berusaha menghindarkan diri, maka yang dihindari bukanlahAngNio ‑cu, juga bukan ular bergaris merah, le­bih‑lebih bukan yang lainnya.

Yang dihindari sesungguhnya adalah diri sendiri.

Membayangkan kembali ketika untuk pertama kalinya dia menyaksikan orang itu berbaring seorang diri dalam kegelapan, membiarkan tubuhnya dibuat bermainnya tikus, tanpa tera­saKwikTay‑lok menghela napas panjang ......

Seandainya seseorang tidak kehilangan semangatnya, sekalipun bisa menahan la­par, dia tak akan tahan membiarkan tikus bermain di atas badannya.

Malam itu, seandainyaKwikTay‑lok tidak menyerbu kesanadan tanpa sengaja ber­sahabat dengannya, entah dia masih bisa hidup sampai hari ini atau tidak ?

Pertanyaan semacam ini bahkan dipikir­kan punKwikTaylok tidak berani.

AkhirnyaOngTiong berpaling, kemudian katanya:

"Aku sudah pulang tiga tahun, selama tiga tahun ini mereka pasti tiada hentinya men­cari aku."

KwikTayloktertawa paksa, katanya:

"Tentu saja mereka agak susah menemu­kan dirimu, siapakah yang akan menyangka kalau si raja elang IthuiciongthianEng‑tiong­-ong bisa berdiam ditempat sema­cam ini dan melewati penghidupan seperti ini ?"

"Tapi aku sudah tahu, cepat atau lambat suatu hari mereka pasti akan berhasil me­nemukan diriku."

YanJitsegera mengerdipkan matanya berulang kali, lalu katanya:

"Sudah lewat sekian lama, kenapa mereka masih belum mau juga lepas tangan ?"

"Karena perhitungan hutang piutang antara mereka denganku masih belum diselesaikan."

"Sudahkah kau perhitungkan sendiri? Adalah kau yang berhutang kepada mereka ataukah mereka yang berhutang kepadamu?"

OngTiongtermenung agak lama, kemu­dian baru sahutnya :

"Adasementara hutang piutang yang sia­papun tak dapat memperhitungkannya sam­pai beres."

"Kenapa ?".

"Sebab setiap orang tentu mempunyai cara perhitungan setiap orang selalu tidak sama."

Paras mukanya segera berubah makin se­rius dan berat, pelan‑pelan sambungnya:

"Didalam pandangan mereka, hutang pi­utang ini hanya bisa diselesaikan dengan suatu cara."

"Cara yang mana ?"

"Kau harus mengerti cara yang manakah itu"

YanJitberbicara lagi, tapi dia mengetahui dengan jelas.

Adasementara hutang yang cuma bisa di perhitungkan dengan darah, sebab hanya darahlah yang bisa menyelesaikannya.

Setetes darah masih tidak cukup, yang diperlukan adalah sejumlah darah yang cu­kup banyak. Kalau darah satu orang saja tidak cukup yang dibutuhkan adalah darah banyak.

YanJitmemandang sekejap mulut luka di tubuhKwikTay‑lok , lewat lama dia baru berkata sambil menghela napas:

"Tampaknya hutang piutang ini makin lama semakin sukar untuk diperhitungkan, en­tah sampai kapankah perhitungan ini baru bisa diselesaikan ?"

"Jangan kuatir," sahutOngTiong sambil menghela napas, "sudah pasti kita tak usah menunggu terlalu lama lagi sebab . . . ."

Mendadak ia menutup mulutnya rapat‑ rapat.

Setiap orang menutup mulut, bahkan na­paspun seakan‑akan ikut berhenti. Sebab setiap orang seperti mendengar suara lang­kah kaki.

Suara langkah kaki itu sangat enteng, se­dang berjalan menembusi halaman yang bersalju dengan langkah yang sangat lam­ban.

"Siapa yang telah datang ?"

"Apakah saat ini sudah tiba pada saatnya untuk membuat perhitungan . . . ?"

LimTay‑peng ingin meronta sambil me­nerjang keluar dari pintu, namun niat itu kembali diurungkan.

KwikTay‑lokmenunjuk keluar jendela, sedangYanJit menggelengkan kepalanya berulang kali.

Hanya sebuah langkah kaki .. . .

Orang itu sedang menaiki anak tangga dan berjalan menuju ke pintu sebelah luar.

Mendadak terdengar orang itu mengetuk pintu.

Ternyata orang tersebut datang sambil mengetuk, datang secara terang-terangan, kejadian ini benar-benar sama sekali di luar dugaan mereka.

AkhirnyaOngTiong menegur:

"Siapa ?"

"Aku !" jawab orangdiluar itu pelan.

"Siapakah kau ?"

Tiba‑tiba orang di luar itu tertawa, suara tertawanya merdu seperti keliningan, malah jauh lebih merdu dan menarik hati.

"Masa suaraku saja tidak kau kenali, kau benar-benar seorang bocah yang tak punya liangsim !"

Ternyata orang yang munculkan diri itu adalah seorang perempuan.

Seorang perempuan yang merdu suaranya dan tampaknya masih sangat muda lagi.

Menyaksikan mimik mukaOngTiong , setiap orang sudah dapat menduga siapa gerangan perempuan itu..

Paras mukaOngTiong lebih pucat dari pada mayat.

YanJitsegera menepuk bahunya, kemu­dian setelah menuding pintu depan, dia menu­ding pula pintu belakang.

"Maksudnya. . Bila kau tak ingin berjumpa dengannya, lebih baik menghindarlah lewat pintu belakang, aku akan menghadapinya untuk merintangi kedatangannya."

Tentu sajaOngTiong memahami pula ucapannya itu, hanya dia menggelengkan kepala­nya berulang kali:

Dia jauh lebih memahami keadaan diri sendiri daripada orang lain.

Dia telah mundur sampai langkah yang terakhir.

Artinya dia sudah tak dapat mundur lagi, lagi pula diapun tak ingin mundur kembali.

"Mengapa kau belum keluar untuk mem­buka pintu ?"

Siapapun belum pernah bertemu dengan perempuan yang bernamaAngNio cu itu, tapi kalau di dengar dari suaranya, entah siapa saja pasti akan membayangkan bahwa dia adalah seorang perempuan yang sedemikian cantik ser­ta mempesonakan hati.

"Apakah didalam rumahmu masih ada pe­rempuan lain, maka kau takut bertemu de­nganku? Kau harus tahu, aku tidak seperti kau yang begitu pencemburu"

MendadakOngTiong maju ke muka de­ngan langkah lebar, tapi kemudian berhenti lagi, serunya dengan suara dalam:

"Pintu itu tidak terkunci !"

Hanya didorong pelan saja, pintu itu segera terbuka.

Seseorang berdiri di depan pintu, lagi pula menyongsong sorotan cahaya lampu yang me­mancar keluar dari dalam ruangan.

Segenap sinar lentera seakan telah terpu­satkan di atas tubuhnya seorang, sinar mata setiap orang tentu terpusatkan pula di atas tu­buhnya.

Dari atas badannya seakan-akan meman­carkan pula serentetan cahaya. Semacam cahaya merah yang menyilaukan mata dan membuat jantung orang serasa berdebar.

'Pakaian yang dikenakanAng‑Nio‑cu su­dah barang tentu berwarna merah, tapi si­nar tersebut bukan memancar keluar dari bajunya itu.

Dalam kenyataan, selain pakaiannya, dari setiap bagian tubuhnya, dari setiap bagian tubuhnya itu seakan-akan terpancar keluar ca­haya yang menyilaukan mata.

Terutama sekali sepasang matanya dan senyumannya.

Setiap orang merasa bahwa sorot matanya itu seakan-akan sedang meman­dang ke arahnya merasa seakan-akan dia sedang tertawa kepa­danya.

Andaikata orang bilang dibalik senyuman terdapat daya tarik yang membetot sukma, maka sudah pasti senyuman yang dimak­sudkan semacam inilah.

YanJitmenggeserkan sedikit tubuhnya, seperti sengaja tak sengaja dia menghalangi pandanganKwikTay‑lok .

Entahbagiamanapun juga, dia tak akan membiarkan temannya itu menyaksikan senyu­man maut dari perempuan semacam itu, maka daripada membiarkan dia meli­hatnya, lebih baik tidak membiarkan dia menyaksikannya.

Bukankah setiap orang selalu berusaha untuk membawa temannya menjauhi segala dosa?

AngNio‑cu memutar sepasang biji mata­nya yang jeli, tiba‑tiba dia berkata:

"Kalian orang lelaki, mengapa selalu ber­sikap macam maknya . . . . . ."

Itulah kata‑katanya yang pertama.

Ketika berbicara sampai di situ, mendadak dia berhenti sebentar, seakan-akan sengaja hendak membuat kata "Maknya" nya itu berkesan sekali didalam benak lelaki‑lelaki itu . . . . . ..

Seakan‑akan dia tahu kalau setiap lelaki yang berada dalam ruangan itu senang sekali mendengarkan kata‑katanya itu, juga senang mendengarkan kata-kata semacam itu muncul dari balik bibirnya. Sebab kata semacam itu memang mendatangkan suatu perasaan yang lain dari pada yang lain bila muncul dari mulutnya.

Pada saat dia sedang berhenti sejenak ini­lah, terdengar seorang tak tahan sedang bertanya.

"Kau bilang, kami lelaki adalah manusia maknya macam apa?"

Suara itu muncul dari belakang tubuhYanJit .

Dia bisa saja menghalangi pandangan ma­taKwikTay‑lok , namun tak akan dapat menghalangi telinganya, juga tak dapat menghala­ngi mulutnya untuk berbicara.

AngNio‑cu segera berkata:

"Kenapa sikap kalian macam bertemu dengan setan saja bila bertemu dengan pe­rempu­an yang menarik hati? Bahkan sampai berken­tut pun tidak dapat ?"

Dia mengerutkan hidungnya, lalu mem­perlihatkan kembali sekulum senyuman yangYanJit tak ingin membiarkanKwikTay‑lok sampai melihatnya itu, kemudian baru sahutnya dengan pelan:

"Diantara kalian semua, paling tidak harus ada satu orang yang mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam lebih dahulu"

Dalam kenyataannya, sebelum dia me­nyelesaikan kata‑katanya, dia sudah melangkah ke dalam ruangan.

Setelah orang di dalam ruangan itu me­ngetahui siapakah dia, juga tahu mau apa dia da­tang ke situ, ketika menyaksikan pe­rempuan itu benar-benar masuk ke dalam, semua orang seharusnya merasa sangat gusar dan merasa sangat tegang.

Tapi, secara tiba‑tibaYanJit menemukan bahwa dibalik sorot mataKwikTay‑lok serta LimTayPeng bukan saja sama sekali tiada rasa dendam atau tegang, malahan sebalik­nya tampak sekulum senyuman.

BahkanYanJit sendiripun sudah mulai tergoda pikirannya dan mulai curiga.

Didalam anggapannya semula,AngNio ‑cu tidak seharusnya adalah manusia semacam itu.

Sejak dia mengucapkan kata "Mak‑nya" tadi, suasana didalam ruangan itu seakan‑akan sama sekali telah berubah, ke­san orang lain terhadapnya pun sama sekali berubah juga.

Seorang perempuan siluman yang berhati keji seperti ular, tidak seharusnya mengu­cap­kan kata‑katanya dengan perkataan se­macam itu .....

Sampai detik itulah,YanJit baru mene­mukan bahwa di tangannya masih mem­bawa se­buah keranjang sayur yang besar sekali.

Dia meletakkan keranjang sayur itu ke atas meja, kemudian meluruskan tangannya dan menghela napas panjang, katanya:

"Seorang perempuan, hanya demi mem­bawakan sedikit makanan buat kalian, bu­kan saja harus membawa keranjang yang berat, lagi pula harus menempuh perjalanan selama setengah jam lebih, sampai lengan seperti hampir putus rasanya, apakah kalian sama sekali tidak merasa berterima kasih barang sedikit pun jua kepadaku'.

MendadakOngTiong berkata dengan suara dingin:

"Tak ada orang yang menyuruh kau me­ngirim makanan kemari, pada hakekatnya tak seorang manusiapun yang menyuruh kau datang kemari !"

Hingga kini,AngNio ‑cu baru mengerling sekejap ke arahnya dengan ujung matanya, lalu dengan marah tak marah, tertawa tak tertawa sambil menggigit bibirnya dia ber­kata:

"Aku ingin bertanya kepadamu, apakah orang‑orang ini semua adalah sahabatmu?"

"Benar !"

AngNio‑cu segera menghela napas pan­jang, katanya lagi:

"Dapatkah kau menyaksikan teman‑temanmu kelaparan ? Kau bisa tapi aku tak dapat."

"Apakah mereka sedang kelaparan atau tidak, denganmu sama sekali tak ada sang­kut pautnya."

"Mengapa tak ada sangkut pautnya ? Te­manmu adalah temanku juga, seperti se­orang enso, mana tega menyaksikan sau­dara‑saudara­nya menderita kelaparan ?" kataAngNio ‑cu.

"Siapa sih enso itu ?" tanyaYanJit tak tahan.

AngNio‑cu segera tertawa.

"Kalian adalah teman baiknyaOng lotoa, mengapa dengan ensoOngpu tidak kenal ?"

Dia lantas menyingkap kain yang menu­tupi keranjang besarnya itu, kemudian ber­kata lagi sambil tertawa:

"Hari ini ensomu akan menjamu kalian, dan aku minta kalianpun tak usah sungkan-sungkan, tidak di makanpun sia‑sia saja tak di­makan ........"

"Setelah dimakan ?"

"Setelah di makanpun kalian akan makan dengan gratis !"

YanJitsegera tertawa dingin, serunya:

"Orang yang makan gratis, biasanya tak akan berumur panjang !"

AngNio‑cu melotot ke arahnya, kalau dili­hat tampangnya itu seakan‑akan baru saja dia kena ditempeleng orang.

Lewat lama kemudian, dia baru berpaling ke arahOngTiong sembari katanya lagi:

"Apakah kalian beranggapan bahwa ma­kanan yang ku bawa itu semuanya beracun?"

"Benar !"

"Kau mengira kedatangan kami ini ada­lah bertujuan untuk meracuni kalian semua ?"

"Benar !"

"Bukan saja meracuni orang lain, juga meracuni pula dirimu ?"

"Benar !"

SepasangAngNio ‑cu seakan‑akan beru­bah menjadi merah, mendadak dia berpaling ke arah lain dan mengeluarkan sepotong paha ayam dari dalam keranjangnya, lalu serunya­ lagi:

"Kalau begitu kau mengatakan dalam paha ayam inipun tentunya ada racunnya juga bukan?"

"Kemungkinan besar !"

"Baik, baik . . . ... . ."

Dia menggigit paha ayam itu dan ditelan­nya, kemudian mengambil sebotol arak dan ber­kata lagi:

"Apa didalam arakpun ada racunnya juga?"

"Besar kemungkinannya.!"

"Baik !"

Kembali perempuan itu meneguk arak tersebut dari dalam botol araknya . . . .

Pokoknya perempuan itu telah makan setiap hidangan yang berada di keranjang­nya itu satu demi satu, kemudian baru mendongakkan kepalanya dan melotot ke arahOngTiong , tanyanya:

"Sekarang, bagaimana pendapatmu ?"

Tanpa berpikir lagi,OngTiong segera menjawab:

"Seperti dengan jawabanku tadi."

"Kau masih menganggapnya beracun ?”

"Benar !"

Air mata telah jatuh bercucuran memba­sahi wajahAngNio ‑cu, tapi dia berusaha me­nahan diri, lewat lama kemudian dia baru pe­lan‑pelan mengangguk, katanya dengan sedih:

"Aku sudah memahami sekarang dengan jalan pemikiranmu itu."

"Seharusnya kau dapat memahaminya se­menjak dulu!"

"Kau menganggap sebelumnya aku telah makan obat penawarnya dulu baru datang ke­mari ?"

"Hmmm !"

Dengan sedih kembaliAngNio ‑cu ber­kata:

"Kau selalu menganggap aku sebagai se­orang perempuan yang berhati keji bagai­kan racun kala, selalu menganggap aku hanya berbaik kepadamu karena ingin memperalat dirimu ?"

Ketika berbicara sampai di situ, tidak ta­han lagi air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Ketika mendengar sampai di situ, baikKwikTay‑lok maupun LimTay‑peng sudah merasakan hatinya bertambah lunak, meski dimulut dia tidak berkata apa‑apa, namun dalam hati kecilnya mulai berpikir kenapa sikapOngTiong kepadanya bisa begitu keras ? Tidakkah tindakan tersebut kelewat batas ?

Bagaimanapun juga, dahulu mereka toh pernah terikat dalam suatu hubungan percintaan yang cukup mesra.

Andaikata berganti denganKwikTay‑lok mungkin sekali dia sudah memeluk perem­puan itu ke dalam pelukannya.

Tapi wajahOngTiong masih belum me­nunjukkan perubahan apa‑apa. Perasaan orang ini seakan‑akan terbuat dari baja asli.

TampakAngNio ‑cu memasukkan kembali hidangan yang telah dikeluarkannya itu ke dalam keranjang, kemudian sambil meng­gigit bi­bir dia berkata:

"Baik, kalau toh kau beranggapan bahwa makanan itu beracun semua, aku akan membawanya pergi."

"Memang paling baik kalau kau ce­pat‑cepat kau bawa pergi."

Sekujur badanAngNio ‑cu telah gemetar keras, sambil menggigil serunya lagi.

"Bila kau menganggap aku tak pernah berpikiran baik kepadamu, selanjutnya aku­pun dapat menghindari dirimu sedapatnya."

"Kau sudah seharusnya tidak datang ke­mari dan berjumpa dengan diriku ....”

"Aku . . . . aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu ......"

Mendadak ia menerjang kehadapanOngTiong , lalu teriaknya keras‑keras:

"Aku ingin bertanya kepadamu, sejak kau berkenalan denganku, pernahkah aku mela­kukan suatu perbuatan yang menyalahi dirimu atau merugikan dirimu ?"

Tiba‑tibaOngTiong tak dapat berbicara.

AngNio‑cu mengepal sepasang tinjunya kencang‑kencang, masih dengan sekujur badan yang gemetar keras, teriaknya lagi.

"Betul aku memang bukan seorang pe­rempuan baik‑baik, aku memang sudah pernah mencelakai banyak sekali lelaki yang lain, tapi sikapku kepadamu. .. .. kapan aku pernah mencelakai ? Katakan! Hayo cepat katakan !"

"Sekarang, diantara kita sudah tiada per­kataan lain yang bisa dibicarakan Lagi !" ujarOngTiong dingin.

AngNio‑cu menjadi tertegun untuk be­berapa saat lamanya, kemudian pelan‑pelan me­ngangguk, katanya dengan sedih:

"Baik, aku akan pergi, aku akan pergi . .... tak usah kuatir, kali ini aku akan pergi, se­lama hidup aku tak akan datang mencari dirimu lagi. . . . ."

Pelan‑pelan dia membalikkan badannya, mengambil keranjang dan pelan-pelan ber­jalan keluar dari situ.

Memandang bayangan punggungnya yang kesepian, kurus dan mengenaskan itu menuju ke halaman yang dingin dan gelap,KwikTay‑lok merasakan hatinya turut menjadi duka ......

Angin di halaman luar berhembus ken­cang, bunga salju berterbangan dan menye­bar kemana‑mana, suasana terasa amat mengenaskan sekali.

Bukankah perasaan manusia pun seperti keadaan tersebut ?

Cinta kasih yang telah terjalin selama banyak tahun, kadangkala seperti juga tum­pukan salju di atas pohon, bila angin ber­hembus le­wat, maka salju itu akan bergu­guran dan tersebar entah kemana.

KwikTay‑lokmerasakan hatinya menjadi pilu dan kecut, dia cuma berharap perasaanOngTiong bisa turut menjadi lembek dan bisa menahan perempuan yang mengenas­kan itu agar jangan pergi.

Tapi hatiOngTiong tampak lebih keras daripada baja, dia hanya menyaksikan kepergian perempuan tersebut dengan be­gitu saja, matanya melotot besar dan sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikap apapun juga ......

MenyaksikanAngNio ‑cu sudah melangkah keluar dari pintu, hampir sajaKwikTay‑lok tidak tahan untuk mewakiliOngTiong me­nahannya di situ .........

Mendadak, sekujur badanAngNio -cu mengejang keras, seakan‑akan seseorang yang kena di cambuk secara tiba‑tiba.

Kemudian tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah.

Begitu mencium tanah, ke empat anggota badannya segera mengejang lagi dengan kerasnya, paras mukanya yang putih ber­sihpun berubah menjadi hitam pekat, sepasang matanya melotot ke atas, buih putih tiada hentinya ke­luar dari ujung bibirnya.

Dibalik buih putih itu masih terlihat noda darah.

Dengan paras muka berubahYanJit se­gera berseru:

"Aaaah. . . . . rupanya makanan yang dia bawa itu benar‑benar ada racunnya . . . . !"

"Tapi dia sendiri pasti tidak tahu" sam­bungKwikTay‑lok dengan cepat, "kalau ti­dak, mengapa dia sendiri bisa keracunan?"

OngTiongmasih berdiri di situ bagaikan sebuah patung arca, bergerak sedikitpun tidak, seakan‑akan dia sama sekali tidak menyaksikan peristiwa itu.

BahkanYanJit sendiripun merasa agak gelisah, tak tahan dia lantas berseru:

"Onglotoa, bagaimanapun juga seharus­nya pergi menengok keadaannya. ."

"Melihat apa ?"

"Periksalah dulu apakah dia keracunan atau tidak ? Apakah masih bisa tertolong atau­ tidak ?"

"Tiada sesuatu yang perlu dilihat lagi." jawabOngTiong dengan suara dingin.

KwikTay‑lokyang mendengar jawaban tersebut, tak tahan lagi segera berteriak:

"Bagaimana sih kamu ini? Mengapa kau sama sekali tidak berperikemanusiaan ?"

SeandainyaYanJit tidak menekan tubuhnya, mungkin dia sudah meronta dan merang­kak bangun.

TampakAngNio ‑cu tiada hentinya me­ngejang keras, terengah-engah dan berseru tiada hentinya:

"OngTiong. . . .OngTiong . . . ."

AkhirnyaOngTiong tak tahan juga un­tuk menghela napas panjang, katanya lirih:

"Aku berada di sini "

AngNio‑cu segera meronta dan mengu­lurkan tangannya seraya berseru kembali :

"Kau . . . kau kemarilah . . . . . aku mohon kepadamu datanglah menjumpai aku ......"

OngTiongmenggigit bibirnya kencang-kencang, lalu berkata:

"Jika kau ingin mengucapkan sesuatu, sekarang katakan saja, aku dapat mende­ngarnya dari sini."

"Aku tidak tahu . . . . benar‑benar tidak tahu kalau makanan tersebut ada racunnya, aku benar‑benar bukan datang kemari un­tuk mencelakai dirimu, kau . . . . kau seha­rusnya percaya kepadaku."

OngTiongbelum juga menjawab.

TapiKwikTay‑lok sudah tak kuasa mena­han diri lagi, dia segera berteriak‑keras:

"Aku percaya kepadamu, kami semua percaya kepadamu,"

AngNio‑cu tertawa sedih, katanya lagi:

"Walaupun ular bergaris merah sekalian beranggapan bahwa kau telah berbuat se­suatu yang menyalahi mereka, meski mereka ingin membinasakan dirimu, tapi aku. . . aku sama sekali tidak bermaksud demikian."

Kembali dia mengejang keras, peluh di­ngin telah membasahi sekujur badannya sambil meronta, kembali katanya:

"Walaupun aku bukan seorang perempu­an baik‑baik, tapi sikapku kepadamu selalu bersungguh hati. Asal kau dapat memahami perasaanku, aku . . . . sekalipun aku harus mati juga rela, aku rela berkorban demi dirimu ......”

Ketika habis mengucapkan perkataan itu, tampaknya dia telah mempergunakan segenap tenaga yang dimilikinya, sehingga tenaga un­tuk merontapun sudah tidak dimi­likinya lagi.

KwikTay‑lokyang menyaksikan keadaan tersebut, tanpa terasa matanya ikut menjadi basah, sambil menggigit bibir katanya:

"Onglotoa, sudah kau dengarkah perka­taannya?"

OngTiongmanggut‑manggut.

KembaliKwikTay‑lak berseru sambil menggigit bibir:

"Kalau sudah kau dengar, mengapa masih berdiri tak berkutik ditempat itu ?"

"Gerakan apa yang harus kulakukan?"

"Demi kau, dia telah berubah menjadi be­gitu, apakah kau tak bisa mencarikan akal un­tuk menyelamatkan jiwanya ?"

"Kau suruh aku menolongnya dengan cara apa ?"

Tiba‑tiba LimTay‑peng berkata:

"Kalau toh kau bisa memunahkan racun senjata rahasia yang bersarang di tubuh SiauKwik , seharusnya kaupun bisa memu­nahkan racun yang mengeram didalam tubuhnya seka­rang,"

OngTiongsegera menggelengkan kepala­nya berulang kali.

"Itu mah berbeda, sama sekali berbeda !" katanya.

"Apa perbedaannya?" seruKwikTay‑lok .

Tiba‑tibaOngTiong tidak berbicara lagi.

Walaupun dia masih berusaha keras untuk mengendalikan diri, tapi dibalik sorot mata­nya itu seakan terpancar sinar air mata, bu­kan air mata kesedihan, melainkan rasa gusar yang tampaknya sudah mulai me-luap....

Jari tangannyapun turut gemetar keras.

YanJittermenung sebentar, lalu ujarnya.

"AndaikataOng lotoa tak dapat, memu­nahkan racun didalam tubuhnya, maka di dunia ini hanya ada satu orang yang bisa memunahkan racunnya itu . ."

"Siapa ?"

"Si ular bergaris merah !”

"Betul !" teriakKwikTay‑lok , "kita harus minta si ular bergaris merah itu menyerah­kan obat pemunahnya."

"Aku kuatir inipun sulit" kataYanJit sam­bil menghela napas panjang. Ingin meminta obat penawar dari ular bergaris merah, hakekatnya keadaan tersebut sama sulitnya dengan meminta harimau untuk menguliti kulitnya sendiri.

Tentu sajaKwikTay‑lok juga menyadari akan teori tersebut.

Sementara itu dengusan napasAng Nio­cu makin lama semakin lemah, tapi dia masih tiada hentinya memanggil namaOngTiong .

"OngTiong. . . .OngTiong . . . "

Suara panggilannya makin lama semakin lemah,KwikTay‑lok yang mendengarkan suara tersebut merasakan hatinya seperti hancur lebur tak tahan dia berteriak keras:

"Kalau memang kalian tak bisa menolong­nya dan tak mau memintanya obat penawar dari si ular bergaris merah, apakah kalian akan menyaksikan orang itu mati di hada­pan kalian ? Sebetulnya kalian ini manusia atau bukan ?'

YanJitmenghela napas pula, sahutnya:

"Menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan ?"

"Sekalipun si ular bergaris merah sendiri, diapun tidak akan membiarkan ia mati karena keracunan, kalian.. . . . ."

Selama ini LimTay‑peng hanya duduk di situ sambil termangu‑mangu, pada saat itulah mendadak ia menukas perkataannya sambil ber­teriak keras:

"Benar, ular bergaris merah juga tak akan membiarkan dia mati dengan begitu saja, oleh sebab itu kita harus menghantarnya pulang."

Walaupun cara ini kurang baik, tapi tak bisa dianggap sebagai suatu cara yang jelek.

Dengan kening berkerutYanJit lantas berkata.

"Persoalannya sekarang, siapa yang meng­hantarnya pulang kesana ?"

"Hmm . . . . . !"KwikTay‑lak mendengus.

Walaupun dia tidak mengatakan apa‑apa, namun ujung matanya sedang melihatOngTiong .

Tentu saja dia merasaOngTiomg yang berkewajiban untuk menghantarnya pulang.

Asal orang ini masih memiliki sedikit liang-sim, dia tak akan membiarkan perem­puan itu mati disana. .

Siapa tahuOngTiong tidak menunjukkan reaksi apa‑apa, bahkan sepasang matanya­pun tidak berkedip, seakan‑akan ia tidak mendengar apa‑apa, atau sekalipunmende-ngar seolah‑olah tidak memahami apa arti-nya, dia mirip sekali dengan sese­orang yang lemah ingatan..

Tentu sajaOngTiong bukan seseorang yang lemah ingatan.

Dia tak lebih cuma berlagak seolah‑olah bodoh.

Tak tahanKwikTay‑lok segera berteriak keras:

"Baik, kalian tak mau menghantarnya pu­lang, biar aku saja yang menghantarnya !"

Dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya, dia melompat bangun.

Dengan cepatYanJit memeluknya ken­cang‑kencang.

OngTiongberpaling memandang sekejap ke arah mereka, sorot matanya memancar­kan rasa sedih dan kasihan.

Siapapun tak ada yang tahu, sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan....

Lewat lama kemudian, akhirnya dia mendepak‑depakkan kakinya ke atas tanah seraya berseru:

"Baik, aku akan menghantarkanmu pu­lang!"

Dia membalikkan badan dan maju ke de­pan baru saja akan membopong tubuhAngNio cu ....

Mendadak LimTay‑peng melompat maju ke depan, sekuat tenaga dia menumbuknya sehingga orang itu mundur tujuh‑delapan depa dan jatuh di sudut dindingsana.

Pada saat itulah LimTay‑peng telah membopong tubuhAngNio ‑cu dari atas tanah.

Mendadak paras mukaOngTiong beru­bah hebat, teriaknya keras-keras:

"Hei, apa yang hendak kau lakukan ?"

LimTay‑peng segera menukas perkataan­nya itu.

"Hanya aku seorang yang dapat mengan­tarnya pulang,YanJit harus merawat siau­Kwik , kau adalah duri dalam mata baginya, bila kau yang pergi maka mereka tak akan me­lepaskan dirimu."

Sambil berkata dia sudah melayang keluar dari situ.

OngTiongsegera melompat bangun dan menerjang ke depan kecepatan luar biasa, ben­taknya keras‑keras:

"Cepat lepaskan dia, cepat . . . . . . ."

Ditengah bentakan keras, mendadak ter­dengar LimTay‑peng menjerit kaget.

AngNio‑cu yang sudah kempas-kempis napasnya itu mendadak melompat bangun dari bopongannya seperti seekor ular ber­bisa, ke­mudian melambung tiga kaki ke tengah udara, berjumpalitan beberapa kali dan sekejap mata kemudian lenyap dibalik kegelapansana.

Terdengar suara tertawa merdu seperti ke­leningan bergema dari kejauhansana:

"Telur busuk sheOng , kau melihat orang yang mau mati tak sudi menolong, kau betul­-betul seorang manusia yang tak punya liangsim, kau betul‑betul seorang makhluk yang tak punya perasaan."

Ketika mengucapkan kata‑kata yang ter­a­khir, orangnya sudah pergi jauh sekali. Yang tersisa hanyalah suara tertawanya yang merdu dan lengking seperti suara kehila­ngan itu menggema dari kejauhansana.

Itulah suara tertawa yang merdu seperti keleningan perenggut nyawa.

LimTay‑peng sudah tergeletak di atas permukaan salju di atas dadanya telah ber­tambah dengan setitik bekas merah yang berwarna ke hitam‑hitaman ....

Tak ada orang yang bergerak.

Tak ada orang yang berbicara.

Bahkan sekulum senyuman manisnya yang terakhirpun akhirnya terbuyar oleh hembusan angin dingin.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnyaOngTiong berjalan keluar dengan langkah pelan. kemudian membopong tubuh LimTay‑peng dan dibawa kembali.

Wajahnya jauh lebih dingin daripada hembusan angin, lebih gelap dari cahaya malam.

Air mataKwikTay‑lok telah jatuh ber­cu­curan membasahi seluruh wajahnya.

YanJitsedang memandang ke arahnya, air mata pun telah membasahi seluruh wa­jahnya dengan lembut dia berkata:

"Kau tak usah berkecil hati, soal inipun tak dapat menyalahkan dirimu!"

Seandainya dia tidak mengucapkan per­kataan itu, keadaannya masih mendingan, begitu ucapan tersebut diutarakan,KwikTay‑lok tak dapat menahan rasa sedihnya lagi.

Mendadak seperti seorang anak kecil saja, dia menangis tersedu sedu . . . . . . . . .

Entah berapa lama sudah lewat, pelan‑pelanOngTiong baru mendongakkan kepalanya seraya berkata:

"Dia belum mati !"

Kejut dan girangYanJit setelah mende­ngar perkataan itu, serunya tertahan:

"Apakah dia masih bisa tertolong ?"

OngTiongmanggut‑manggut.

"Apa yang harus dilakukan sehingga dia baru bisa tertolong ?" tanyaYanJit lagi.

Begitu ucapan itu diutarakan, sekali paras mukanya berubah hebat.

Karena dia telah menduga apa yang bakal terjadi, sebab di dunia ini hanya ada satu cara yang bisa menolong jiwa LimTay‑peng .

Itulah suatu cara yang benar‑benar mena­kutkan sekali.

Dia memandang ke arahOngTiong , sorot matanya pun tanpa terasa memancarkan rasa takut yang luar biasa, sebab dia sudah tahu apa yang sedang dipikirkanOngTiong .

Tentu sajaOngTiong juga tahu apa yang sedang dia pikirkan, paras mukanya justru kelihatan sangat tenang sekali, katanya dengan suara hambar:

"Kau harus tahu apa yang harus kulaku­kan untuk menyelamatkan jiwanya..."

Cepat‑cepatYanJit menggelengkan ke­palanya berulang kali, serunya:

"Cara ini tak bisa kau lakukan."

"Tidak bisa !" teriakYanJit dengan suara lantang.

"Tidak bisa juga harus bisa, sebab kita sudah tidak memiliki pilihan yang lain."

MendadakYanJit roboh ke bawah, roboh di atas kursi dan duduk lemas, seolah‑olah dia sudah tak sanggup lagi untuk memper­tahankan d iri,

KwikTay‑loksedang mengawasi mereka dengan mata melotot besar, noda air mata ma­sih membasahi wajahnya, tak tahan diapun bertanya:

"Sebenarnya apa yang sedang kalian bi­carakan ?"

Tiada orang yang menjawab, tiada orang yang buka suara.

Dengan gelisahKwikTay‑lok berseru kembali:

"Mengapa kalian tak mau memberitahu­kan kepadaku ?"

YanJitmenghela napas pelan, sahutnya:

"Sekalipun kau tahu juga sama sekali tak ada gunanya!"

"Kenapa tak ada gunanya ? Kalau bukan aku yang mengajukan usul tersebut, LimTaypeng tak akan berubah menjadi begitu rupa, aku lebih sedih dari pada siapapun, lebih gelisah dan ingin menolong dirinya daripada siapa pun."

"Sekarang kau hanya bisa menolong se­seorang." kataOngTiong dengan suara di­ngin.

"Siapa ?"

"Kau sendiri !"

"Luka yang kau derita tidak ringan, bila pikiran sampai melayang kemana‑mana, mung­kin nyawamu sendiripun tak bisa dipertahan­kan." bujukYanJit dengan lem­but.

KwikTay-lokmelototi sekejap ke arah arang‑orang itu, mendadak katanya:

"Senjata rahasia yang terkena di tubuhku apakah juga beracun?"

"Benar !"

"Siapa yang telah menolongku ?"

"Onglotoa ! "

"Kalau tohOng lotoa bisa memunahkan racun yang bersarang di tubuhku, mengapa dia tak dapat memunahkan racun di tubuh LimTaypeng ?"

YanJittidak menjawab.

KembaliKwikTay‑lok berkata:

"Racun yang merekapoleskan di ujung senjata rahasia mereka seharusnya berasal dari satu aliran, bukankah begitu ?"

YanJittermenung lagi sampai lama sekali, kemudian baru menghela napas panjang.

"Kenapa kau harus menanyakan kese­muanya itu sampai sedemikian jelasnya?"

"Kenapa aku tak boleh bertanya sejelas-jelasnya ?" seruKwikTay‑lok dengan suara keras, "bila kalian tidak memberitahukan lagi kepadaku, aku akan . . . . aku akan. . ."

Sekuat tenaga dia memukul‑mukul ping­giran pembaringan, saking mendongkolnya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Sambil menggigit bibir,YanJit segera berseru:

"Baik aku akan memberitahukan ke­padamu, racun yang bersarang di tubuhmu serta racun yang bersarang di tubuh LimTay ‑pang, kedua‑duanya adalah racun khusus dari si ular garis merah, oleh sebab itu hanya obat pena­war khusus darinya yang bisa menolong jiwamu.

"TapiOng lotoa . . . . ."

"KetikaOng lotoa bersiap‑siap hendak meninggalkan mereka, secara diam‑diam dia telah mencuri sedikit obat pemunah khusus dari ular garis merah dan menyem­bunyikannya, maksudnya adalah sebagai persediaan untuk menghadapi segala ke­mungkinan yang tak diingin­kan".

"Lantas dimana obat penawarnya ?"

"Telah dipakai sampai habis sewaktu menolongmu !" jawabYanJit sepatah demi se­patah.

"Sudah dipakai sampai habis ?"KwikTaylok berseru tertahan.

"Yaa, sedikitpun sudah tak ada sisanya lagi:

Sambil menggigit bibir, pelan‑pelan kata­nya lagi.

"Sebetulnya obat penawar itu dipersiap­kan untuk menolong dirinya sendiri, tapi sekarang telah digunakan semua untuk menolongmu. Sebetulnya aku mengira dia masih meninggalkan­nya sedikit, siapa tahu karena dia takut kau keracunan hebat dan takut kadar obat pemunahnya kurang, maka...."

Berbicara sampai di situ, sepasang mata­nya menjadi merah dan ia tak sanggup melanjutkan kembali . sebetulnya persoalan ini hanya dia seorang yang tahu, sebab waktu itu LimTay‑peng sedang berjaga ditempat luaran..

KwikTay‑lokmengepal sepasang tinjunya kencang‑kencang, peluh dingin membasahi sekujur badannya, lewat lama sekali dia baru bergumam:

"Akulah yang telah mencelakai LimTaypeng, obat pemunah yang bisa menyela­matkan diapun telah kupergunakan sampai habis, aku betul-betul hebat, betel‑betul luar biasa .. ..''

"Kejadian ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang sama sekali tak terduga oleh siapapun, kau sama sekali tidak . . . . "

"Betul, aku sama sekali tidak meminta kepada kalian untuk menolongku." seruKwikTay‑lok "kalian sendiri yang harus ber­buat demikian untuk menolongku, tapi mengapa kalian tidak pikirkan, dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin bisa membuat aku hidup dengan hati yang lega dan tenteram . . . . ?'

"Kau harus hidup terus," ujarOngTiong dengan wajah membesi, "setelah aku menolongmu, sekalipun kau ingin mati juga tak bisa."

"Tapi LimTay‑peng . . . ."

"Kau tak perlu menguatirkan dirinya,"' ujarOngTiong dengan suara dalam, "kalau toh aku bisa menolongmu, tentu saja aku­pun mempunyai akal untuk menolong diri­nya."

"Sekarang aku telah mengerti cara apakah yang hendak kau pergunakan itu." ujarKwikTay‑lok sambil menggigit bibirnya.

"Kau hendak meminta obat penawar ke­pada ular garis merah, bukankah begitu?"'

Setelah menggertak bibir, kembali seru­nya:

"Tadi kau tak mau pergi, lantaran kau terlalu memahami watakAngNio ‑cu, tapi se­karang, demi LimTay‑peng , sekalipun harus mengorbankan jiwa untuk mempe­roleh obat penawar itu, mau tak mau kau harus pergi juga`

OngTiongtertawa hambar.

"Kau anggap It‑hui‑ciong‑thianeng‑tiongongadalah seorang manusia baik‑baik ?"

"Aku tidak kenal siapa itu eng‑tiong‑ong, aku hanya kenal denganOngTiong , akupun memahami manusia macam apakahOngTiong itu."

"Ooooohhh. . . . ?"

Sepasang mataKwikTay‑lok kembali ber­kaca‑kaca, katanya:

"Manusia yang bernamaOngTiong itu meski dingin dan kaku mukanya, padahal dia berhati lebih lunak daripada tahu, lebih panas daripada kobaran api."

OngTiongtermenung beberapa saat la­manya, kemudian diapun berkata:

"Kalau toh kau sangat memahami diriku, tentunya kau juga harus tahu, apabila aku su­dah ingin melakukan sesuatu, maka siapa saja tak akan sanggup untuk menghalangi niatku itu.

"Kau juga harus memahami diriku" kataKwikTay‑lok pula, "bila aku ingin melaku­kan suatu pekerjaan, tak seorangpun yang dapat menghalangi diriku !"

"Kau ingin melakukan apa ?”

"Pergi mencari si ular garis merah untuk meminta obat penawar darinya .. . . . . "

"Kau mana boleh pergi ?" seruYanJit berubah.

"Kenapa aku tak boleh pergi? Pokoknya aku akan pergi, lagi pula hanya aku seorang yang dapat pergi."

"Tapi lukamu . . . . . . .. ."

"Justru karena aku terluka, maka kalian lebih‑lebih harus membiarkan aku pergi."

Tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara, dia melanjutkan kem­bali:

"Sekarang kita sudah tinggal dua orang, bila dua orang harus menghadapi tiga orang, maka jelas hal ini parah keadaannya, oleh sebab itu kalian tak boleh terluka lagi, kalau tidak kita semua hanya akan mene­mukan jalan kematian belaka."

"Walaupun perkataanmu ada benarnya juga. tapi . . . . . . . . . .”

KwikTay‑loksegera menukas kata-kata­nya itu:

"Tapi kami pun tak dapat membiarkan LimTay‑peng mati keracunan, oleh sebab itu hanya aku seorang yang boleh pergi, ba­gaimanapun juga aku toh sudah terluka, dan tak mampu menyumbang tenaga lagi, apa lagi......" Setelah tertawa:

"Paling tidak si ular garis merah sekalian juga masih terhitung manusia, bagaimana­pun juga mereka tak akan turun tangan keji terha­dap seseorang yang sudah tidak memiliki kemampuan untuk melawan bu­kan?"

OngTiongsegera tertawa dingin.

"Kau anggap mereka tak dapat membu­nuhmu ?" jengeknya.

"Aku rasa tidak"

"Kau yang lebih memahami mereka? Atau aku ?"

"Kalau begitu aku dapat memberitahukan kepadamu, mereka hanya tidak membunuh semacam manusia"

"Manusia macam apa ?"

"Orang yang sudah mati!"

Mendadak serentetan suara tertawa yang merdu bagaikan keleningan berkumandang da­tang terbawa angin.

YanJitmenerjang ke muka, diapun me­nyaksikan sebuah layang‑layang berwarna kuning sedang melayang turun dengan amat pe­lannya ditengah kegelapan malam.

Layang-layang itu berbentuk segi empat diatasnya tertera pula lukisan yang me-liuk‑li­ukseperti cacing.

SekarangYanJit sudah tahu, layang‑la­yang tersebut bukan suatu layang-layang bia­sa, melainkan sebuah tanda pembetot nyawa yang mematikan bagi siapapun yang melihatnya.

Tulisan apakah yang tertera di atas tanda pembetot nyawa itu? Siapapun tidak mema­ha­minya.

Hanya manusia yang pernah mendatangi neraka saja yang dapat memahami tulisan ter­sebut.

OngTiongjuga memahaminya.

Di atas layang‑layang berwarna kuning itu penuh berisikan gambaranHu yang ber­warna merah, merahnya seperti darah, seperti pula kobaran api dari neraka.

OngTiongmengawasinya lekat‑lekat, dari balik sorot matanya yang dingin terpancar ke­luar cahaya ngeri dan ketakutan yang luar biasa.

YanJittidak memperhatikan layang‑la­yang tersebut, dia hanya memperhatikan sepasang mataOngTiong . . . . walaupun ia tidak mengerti makna dari gambaranHu di atas layang‑layang tersebut, namun dia memahami apa arti dari sorot mataOngTiong tersebut.

Tak tahan lagi dia bertanya:

"Tulisan apakah yang tertera di atas la­yang‑layang tersebut ?"

OngTiongtermenung sampai lama sekali tanpa menjawab, dia malah membuka jendela dan memandang kegelapan malam yang mencekam.

Bintang makin redup, malampun sudah mendekati akhir.

Ditengah kegelapan malam, kembali tam­pak sebuah layang‑layang dinaikkan ke te­ngah udara.

OngTiongmenghela napas panjang, gu­mamnya:

"Fajar kembali sudah menyingsing!"

"Langit tentu akan menjadi, terang !" sambungYanJit .

"Akupun tentu akan pergi !"OngTiong menambahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar