Senin, 16 Juli 2012

Pend Riang 5


BEGITU sepasang kepalannya diayunkan ke muka, bukan cuma si tongkat saja yang kaget paras muka si anjing buldok pun berubah hebat.
Sepasang cakar baja dari si tongkat sudah jelas telah dilatih dengan ilmu Eng‑jiau‑kang atau sebangsanya, sekalipun orang buta juga dapat merasakannya, seseorang yang tidak memiliki tenaga dalam cukup sempu­rna, tak nanti berani menyambut datangnya serangan itu de­ngan keras lawan keras.

Sesungguhnya tenaga dalam yang dimiliki Kwik Tay‑lok tidak seseram apa yang mereka bayangkan, cuma saja wataknya memang ter­buka dan lurus bukan saja "berjalan lebar" da­lam menggunakan uang, "berjalan lebar" da­lam melakukan peker­jaan, ilmu silat juga ter­masuk ilmu silat yang "berjalan lebar".
Begitu tonjokan itu dilancarkan, apakah kepalannya yang akan berhasil mematahkan ca­kar elang lawan ? Ataukah cakar elang lawan yang akan melubangi tonjokannya? Berpikir sampai ke situpun ia tidak.
Pada hakekatnya ia tak ambil perduli, acuh.
Pokoknya asal dia sedang gembira, maka ju­rus serangan seperti apapun akan dilaku­kannya.
Tentu saja orang lain tak akan terbuka semacam dia, apalagi dalam ilmu silat yang dipentingkan adalah perubahan jurus sera­ngan serta kelincahan, sebelum sampai pada keadaan yang terpaksa, siapa yang bersedia untuk ber­adu kekerasan dengan lawan?
Begitu pukulan Kwik Tay‑lok dilancarkan, si tongkat segera merubah jurus serangan­nya, sikutnya menekan ke bawah, cakar membalik ke atas dan sepuluh jari tangan­nya seperti kaitan mencengkeram perge­langan ta­ngan musuh.
Kwik Tay‑lok sama sekali tidak menggu­bris datangnya ancaman itu, jurus sera­ngannya juga sama sekali tidak berubah.
"Tidak berubah adalah berubah, dengan tidak berubah menghadapi semua peru­bahan."
Inilah teori tingkat atas dari ilmu silat.
Si tongkat segera berjumpalitan ke tengah udara, hampir saja punggungnya menum­buk dinding.
Pada hakekatnya satu juruspun belum se­lesai digunakan, Kwik Tay-lok telah berhasil memaksa jagoan dari pemerintah ini mun­dur dengan menderita kekalahan total.
Ia merasa bangga sekali dengan hasil yang berhasil dicapai, maka pengejaranpun tidak di­lanjutkan.
"Mumpung menang melakukan pengejar­an", kata‑kata tersebut bukannya tidak diketahui olehnya, tapi setelah orang lain mengaku kalah dan lagi sudah mengundur­kan diri, buat apa musti dikejar lebih jauh?"
Mengejar untuk melakukan pembasmian adalah suatu perbuatan yang merupakan pan­tangan besar bagi Kwik Tay‑lok.
Setelah mendehem, si anjing buldok segera maju menyongsong kedatangannya, ia ber­kata sambil tertawa:
"Saudara cilik, bila ada persoalan mari kita bicarakan secara baik‑baik, apa sih guna­nya mengobarkan hawa amarah?"
"Dia sendiri yang marah‑marah, dia pula yang hendak menghantamku, kenapa kau malah menyalahkan diriku?°'
"Salah paham, salah paham, kita semua telah salah paham"
"Baik, ia sudah menanyai aku selama ini, sekarang akupun ingin bertanya kepadanya"
"Silahkan bertanya !"
"Benarkah seseorang yang membeli arak dan daging dengan uang emas adalah suatu perbuatan yang melanggar hukum?"
"Tentu saja tidak," jawab si anjing buldok sambil tertawa, "akupun sering kali meng­gunakan uang emas untuk membayar rekening."
"Kalau memang tidak melanggar hukum, tolong lepaskan Moay Lo‑kong, dan sekalian lepaskan diriku."
"Tentu saja, tentu saja".
Ia mengerling sekejap Ong Tiong, Yan Jit dan Lim Tay‑peng yang ada diluar pintu, kemudian katanya:
"Sore ini kami telah banyak mengganggu ketenangan dan kegembiraan kalian semua, malam nanti biarlah aku yang menjadi tuan rumah untuk mentraktir kalian minum be­berapa cawan arak, tentunya kalian semua bersedia bukan ?".
Kwik Tay‑lok masih termenung sambil memutar otak, jalan pemikirannya sudah mulai berjalan kembali.
Dia bukan seorang yang suka menerima undangan orang dan makan minum secara gratis, cuma diapun merasa kurang leluasa untuk mengucapkan kata‑kata yang sekira­nya enak untuk menampik undangan serta permin­taan orang.
"Sekarang aku tak ingin berpikif apa‑apa lagi, aku cuma ingin cepat‑cepat naik ke tempat tidur!", sela Ong Tiong dari samping dengan suara lirih:
Si anjing buldok segera tertawa:
''Bagus sekali, bagaimanapun juga kami toh sudah berjanji akan mengunjungi rumah kalian, cepat atau lambat kunjungan terse­but harus kami lakukan juga, mumpung ada kesempatan semacam ini, baiklah bila tidak mengganggu biarlah malam nanti kami akan berkunjung ke situ, sekalian minum arak sambil bercakap-cakap, entah bagaimana­kah pendapat kalian berempat ?'
Ucapannya itu bernada lembut dan penuh keramah‑tamahan, tapi justru dibalik keramah‑tamahan itu terselip sesuatu ke­kuatan yang membuat orang tak bisa menampiknya.
Setelah ia berkata demikian, maka Ong Tiong tak bisa menampik lagi .......
Jika seorang petugas hukum hendak "berkunjung" ke rumahmu, sanggupkah kau untuk menolaknya ?
Apalagi, jika mereka sudah berkunjung ke perkampungan Hok‑kui‑san‑ceng, maka mereka tak akan membunuh orang lagi di­sini.
Oleh sebab itu, merekapun berkunjung ke Hok‑kui‑san‑ceng.
Barang siapapun yang pernah mendengar nama perkampungan Hok‑kui‑san‑ceng, kemu­dian berkunjung ke situ, sedikit ba­nyak hati­nya tentu akan dibuat terperanjat.
Perkampungan yang "kaya dan terhormat" semacam ini memang jarang dijumpai dalam dunia.
Sambil tertawa Kwik Tay‑lok berkata:
"Ditempat ini bukan saja tak ada lentera, juga tak ada minyak, untung saja hari ini aku sempat membeli beberapa batang lilin dari ba­wah gunung, kalau tidak tentunya kita akan bersantap dalam kegelapan."
"Padahal bersantap dalam kegelapan juga tak berkurang gembiranya, yang dikuatirkan adalah kalau makanan sampai dimasukan ke hi­dung . .. . ... " sambung Ong Tiong.
Sebetulnya setiba dirumah, maka peker­jaan pertama yang dilakukan adalah mele­paskan se­patu dan naik keranjang, tapi hari ini dia tidak melakukan kebiasaan itu, malah mendekatipun tidak. Ia duduk ditempat ke­jauhan seraya ber­kata lagi:
“Kan saudara sekalian tidak takut kotor, silahkan duduk di lantai saja"
Si anjing buldok segera tertawa.
"Ini adalah cara yang paling kuno" kata­nya, "sejak nenek moyang kita dulu, orang memang duduknya di lantai."
"Semangat kita untuk memegang teguh tra­disi lama amat ketat, malah untuk tidur­pun kami tidur di lantai." Kwik Tay‑lok merasakan.
"Lantas buat apa ranjang itu ?"
Siapapun enggan memperhatikan ranjang tersebut, tapi siapa saja yang berkunjung ke situ, mau tak mau harus memperhatikan juga ranjang tersebut.
"Ranjang itu tempat tidurku seorang." kata Ong Tiong.
"Ini bukan disebabkan sifat tuan rumah yang bersifat sempit, adalah kita yang takut dengan dekilnya ranjang itu." Kwik Tay‑lok me­nambahkan.
Dalam ruangan itu, hanya mereka bertiga yang berbicara, Lim Tay‑peng, Yan Jit dan si tongkat sama sekali tak berbicara, sedang­kan si orang berbaju hitam itu melangkah masuk ke pintu gerbang pun tidak, sambil bergendong tangan dia cuma berdiri diluar halaman, seakan-­akan ia sudah menyatu dengan halaman yang gelap dan kegelapan malam yang pekat.
"Saudara cilik, kau memiliki kungfu yang demikian hebat, entah anak murid dari sia­pakah engkau ?" tanya si anjing buldok ke­mudian.
Dari pembicaraan soal "ranjang" secara otomatis dia mengalihkan pokok persoalan­nya ke masalah lain, sudah barang tentu orang lain pun menanggapi dengan gem­bira.
Sahut Kwik Tay‑lok dengan cepat: "Guru­ku tidak sedikit jumlahnya, tapi murid didi­kannya hanya aku seorang.!"
"Entah siapa saja gurumu itu ?"
"Pertama‑tama aku belajar dari Sin‑kun­ tay‑to (kepalan sakti tulang punggung ja­gad) Lau Pau Lau‑loya‑cu, kemudian dari Bu‑tek­ to (golok tanpa tandingan) Nyo Pin, Nyo jiya lalu diteruskan dengan belajar ilmu dari It­ ciong‑ci‑kiu‑liong ( tombak sakti pembunuh sembilan naga) Tio Kong, Tio losu, Sin‑ to‑thi­ pit (golok sakti lengan baja) Oh Tek‑yang, Oh toaya.”
Si anjing buldok mendengarkan dengan mata mendelik besar, semakin banyak nama yang disebut semakin lebar mata anjing buldok itu terbelalak, agaknya ia dibuat tertegun.
Dari deretan nama‑nama tersebut, ter­nyata tak sebuahpun yang pernah didengar olehnya.
Dalam dunia persilatan memang banyak terdapat manusia dengan julukan seram padahal kungfunya cuma cetek saja, teru­tama nama‑nama seperti tombak sakti pembunuh sembilan naga, golok sakti le­ngan baja, nama‑nama julukan itu sering dipakai oleh penjual akrobatik dijalan raya, sebab jika jago sungguhan sampai mem­per­gunakan nama julukan semacam itu, bisa jadi akan ditertawakan orang.
Dengan susah payah Kwik Tay‑lok berha­sil juga menyebut habis semua nama‑nama 'seram" dari gurunya, kemudian sambil ter­tawa dia berkata :
"Kau pernah mendengar tentang nama-nama guruku itu?"
Si anjing buldok mendehem beberapa kali, kemudian baru jawabnya:
"Sudah lama mendengarnya, hehhhh ......... heehhhh. . .. sudah lama mende­ngarnya . . . !"
Tiba‑tiba ia menjejakkan kakinya ketanah dan melompat ke depan, secepat kilat tubuh­nya menyambar ke tepi ranjang dan mengang­katnya ke atas.
Menyusul diangkatnya ranjang tersebat, Kwik Tay‑lok, Ong Tiong, Yan Sit serta Lim Tay‑peng merasakan hatinya seakan‑akan ikut terangkat pula.
Apabila ke empat buah peti yang disem­bunyikan di bawah ranjang itu sampai keta­huan orang, betul serangan dari si anjing buldok, si tongkat dan orang berbaju hitam itu bisa di­atasi sekarang, namun nama busuk mereka se­bagai penyamun tak akan bisa dicuci bersih lagi untuk selamanya ....
Usia mereka masih sangat muda, kalau sampai harus memikul kuali hitam sebagai penyamun, sampai kapan kepala mereka baru bisa didongakkan kembali ?
Siapa tahu dibawah kolong ranjang tak ­nampak sesuatu apapun, sebuah petipun tidak nampak, hampir saja Kwik Tay‑lok menjerit keras saking kagetnya.
Si anjing buldok tampak seperti agak tertegun pula, pelan‑pelan ia menurunkan pembaringan itu sambil tertawa paksa, ka­tanya:
"Dengan jelas aku lihat ada seekor tikus di bawah ranjang sana, kenapa secara tiba‑tiba bisa lenyap tak berbekas ?"
"Tikus putih atau tikus hitam?" jengek Ong Tiong ketus.
"Soal itu mah . . . . . . aku kurang begitu jelas”
"Tikus putih berarti ada harta, tempat yang dipakai menyimpan emas biasanya ada tikus putih yang muncul, besok akan kugali tempat itu, siapa tahu kalau di bawah tanah situ betul‑betul tertanam beberapa peti emas !"
Paras mukanya masih tetap dingin dan kaku, sedikitpun tiada luapan emosi.
Kwik Tay‑lok mengerling sekejap ke arah­nya, kemudian berkata pula:
"Saudara Kim, bila kau bersedia tinggal di sini, siapa tahu kalau bakal kecipratan rejeki nomplok ?"
Si anjing buldok tertawa paksa.
"Tidak usah", tampiknya, "aku memang sudah digariskan tak punya rejeki untuk me­nerima rejeki nomplok".
Gedung itu meski sudah bobrok sekarang, sesungguhnya mempunyai arsitek bangunan yang sangat kokoh dan kuat, seluruh per­mukaan lantainya dilapisi oleh batu ubin yang berwarna hijau, diantara sela‑sela ubin itu sudah penuh ditumbuhi dengan lumut.
Siapa saja yang telah melihat sendiri per­mukaan lantai dalam gedung itu, segera akan mengetahui bahwa paling tidak sudah belasan tahun lamanya ubin di sana tak pernah dibong­kar orang.
Tiba‑tiba si tongkat bangkit berdiri sam­bil bergumam: "Ooooh . . . . . . aku sudah ma­buk, ... aku sudah mabuk !”
Padahal setetes arakpun ia tak minum, padahal ia sedang bicara bohong dengan mata terbelalak, namun siapa saja tak ingin membongkar rahasianya . . . . . .
Semua orang hanya merasa bahwa kata­-kata bohongnya itu memang diucapkan te­pat pada saatnya.
Setelah si tongkat dan si anjing buldok pergi lama, Kwik Tay‑lok baru menghem­buskan napas panjang, katanya sambil ter­tawa:
"Untung saja Ong lotoa kita cukup pan­dai, kalau bukan dia telah memindahkan peti­-peti tersebut, habis sudah riwayat kita se­mua hari ini"
"Siapakah Ong lotoa itu ?" tanya Ong Tiong.
"Tentu saja kau !"
"Jadi kau anggap aku telah memindahkan keempat buah peti seorang diri, kemudian menyembunyikannya kembali ?"
Mendengar perkataan itu, Kwik Tay‑lok menjadi tertegun.
Dari pada menyuruh Ong Tiong memin­dahkan peti‑peti itu, sesungguhnya kalau lebih gampang kalau suruh peti‑peti itu memindahkan Ong Tiong. . .
Kwik Tay‑lok segera mencengkeram baju­nya sambil berseru:
"Kalau bukan kau, lantas siapa ?"
Dia berpaling dan memandang kearah Yan Jit”
"Kau tak usah memandang diriku," tukas Yan Jit cepat, "belum tentu aku lebih rajin daripada Ong Lotoa."
"Sepanjang hidup aku tak pernah memin­dah peti," Lim Tay‑peng menambahkan pula.
Sepasang tangannya putih dan lembut, hakekatnya jauh lebih halus daripada wajah seorang nona.
Kwik Tay‑lok menggaruk‑garukkan kepa­lanya yang tidak gatal, kemudian bisiknya ter­gagap.
"Kalau memang kalian tidak memindah­kan peti‑peti itu, masakah ke empat buah peti itu bisa tumbuh kaki dan lari sendiri ?"
"Sekalipun peti‑peti itu tak punya kaki, Swan Bwe‑tong mempunyai sepasang kaki, bahkan pasti sepasang kaki yang indah dan menarik".
Apa yang dikatakan Ong Tiong, kadang kala merupakan suatu kesimpulan.
Kecuali Swan Bwe‑tong, mereka memang tak bisa membayangkan siapa lagi yang bisa mengetahui kalau dikolong ranjang terdapat empat buah peti, dan siapa yang telah me­ng­angkut pergi peti‑peti tersebut.
"Sekarang tujuannya telah tercapai, sudah barang tentu dia tak akan memberikan ke empat peti emas itu kepada kita dengan be­gitu saja," kata Yan Jit.
"Oleh sebab itu setelah melihat kita turun gunung, dia menggunakan kesempatan itu untuk mengangkut pergi peti‑peti itu," sam­bung Lim Tay‑peng pula.
Ong Tiong segera menggeliat.
"Kalau sudah diangkut, ini lebih baik lagi, kalau tidak selama berbaring di atas ran­jang hatiku selalu merasa kebat‑kebit".
"Aku cuma mengherankan satu hal, pada hal tak seorangpun diantara kita yang mene­ngok sekejappun kebawah kolong ranjang, ke­napa si anjing buldok itu bisa menaruh curiga kalau dibawah kolong ran­jang ada sesuatu yang mencurigakan?"
"Mungkin oleh karena kita semua tidak menengok ke arah ranjang itu barang se­kejap­pun, maka timbul kecurigaan di­dalam hati­nya.”
Inilah kesimpulan darinya.
Semakin kau sengaja tidak menaruh per­hatian terhadap satu hal, biasanya hal mana justru semakin menarik perhatianmu untuk memperhatikannya secara khusus.
Terutama sekali para wanita.
Bila seorang gadis menaruh sikap yang sangat baik terhadap semua orang, dan ter­ha­dap kau seorang justru tidak ambil per­duli, maka besar kemungkinan kalau dalam hatinya tiada orang lain kecuali kau.
Lim Tay‑peng menghela napas panjang, ujarnya:
"Tampaknya si anjing buldok itu betul­-betul seorang manusia yang luar biasa".
"Orang itu mana licik, banyak akal, di­ balik senyumannya tersembunyi golok lagi, sesungguhnya dia memang jauh lebih lihay dari pada si tongkat . . . .." Yan Jit menam­bahkan.
Kwik Tay‑lok sudah lama tidak berbicara, pada saat itu tiba‑tiba berkata pula:
"Mungkinkah peti itu dilarikan oleh Swan Bwe tong ?”
"Kalau bukan dia, siapa lagi.?"
"Kalau dia hendak mengangkut kembali peti‑peti tersebut, kemarin seharusnya tak perlu ditinggalkan di sini".
"Kenapa ?"
"Untuk mengangkut keluar ke empat peti itu dari kota, hari ini jauh lebih sulit dari pada kemarin, kenapa kemarin ia tidak mengangkut­nya justru hari ini baru diangkut ? Masakah dia adalah seorang yang tolol?"
"Tentu saja dia bukan orang tolol", kata Yan Jit sambil tertawa dingin, "kalau mau di­cari siapa yang tolol, aku inilah orangnya, sebab aku tak bisa menduga siapa lagi yang bisa mengangkut peti‑peti itu dari sini . . . . ."
Tiba tiba Kwik Tay‑lok tertawa katanya:
"Heran kenapa setiap kali menyinggung soal Swan Bwe‑tong, kau lantas marah- marah !' Apakah secara diam-diam kau juga jatuh hati kepadanya? bagaimana kalau kuberikan dia padamu ?
“Kenapa kau mesti mengalah? memangnya dia sudah kepunyaanmu?"
Ong Tiong menghela napas katanya:
"Aaai . . . .. . kalian ini, Swan Bwe‑tong (kuah bwe kecut) belum lagi diteguk, cuka (cemburu) sudah diteguk beberapa cawan besar, apa sih gunanya?"
Yan Jit ikut tertawa pula.
Suara tertawanya sangat istimewa, dan ke­lihatan sangat menarik.
Jika orang lain tertawa, ada yang matanya tertawa dulu, ada pula yang bibirnya ter­tawa dulu.
Tapi ia mulai tertawa, hidungnya yang tertawa dulu, ujung hidungnya berkerut-kerut pelan kemudian di atas pipinya baru muncul sepasang lesung pipi yang sangat dalam.
Kwik Tay‑lok sedang memandang ke arahnya dengan terpesona, gumamnya:
"Seandainya bocah ini bukan manusia macam begini, aku tentu masih mengira dia adalah seorang gadis."
"Kalau aku seorang gadis, maka kau ada­lah seorang banci!" seru Yan Jit lagi dengan mata mendelik.
"Tentu saja akupun tahu kalau kau bukan seorang gadis, tapi sewaktu tertawa sepasang lesung pipimu itu.... "
"Kenapa dengan lesung pipiku Adanya le­sung pipi berarti orang yang pandai minum arak, mengerti !"
Tiba‑tiba Kwik Tay-lok menarik tangannya sambil berseru:
"Hayo berangkat, kita pergi minum arak."
"Mau minum arak dimana ?"
"Di bawah gunung !"
"Arak disinipun belum lagi habis diminum, kenapa harus turun gunung mencari arak?"
Kwik Tay‑lok mengedipkan matanya lalu menjawab:
"Konon panggang itik dari Moay lok‑kong selalu dibuat ditengah malam, aku ingin mencicipi panggang itik yang baru matang."
"Aku tak akan serakus dirimu, mau pergi, pergilah seorang diri."
"Kau kan tahu, aku tak pernah minum arak seorang diri."
"Kalau tidak, ajak saja Ong lotoa untuk menemanimu."
“Sekarang, sekalipun kau palangkan sebi­lah golok di atas tengkuknya, belum tentu dia mau turun dari ranjangnya."
“Kalau dia enggan pergi, akupun enggan pergi."
"Kau toh bukan seorang nona gede, kena­pa kuatir untuk pergi berduaan denganku ?"
Paras muka Yan Jit seolah‑olah berubah menjadi merah padam, serunya kembali:
"Sekali aku bilang tidak pergi yaa tidak pergi, mau apa kau menarik tanganku terus me­nerus?'
Kwik Tay‑lok tertawa, jawabnya:
"Bagaimanapun juga aku minta kau untuk menemaniku, perduli kau ini laki‑laki atau pe­rempuan, pokoknya aku tetap memilih­mu."
Ong Tiong segera menghela napas pan­jang selanya:
“Aku lihat, lebih baik kau ikut dia saja, bisa berjumpa dengan manusia semacam ini, yang bisa diperbuat hanyalah menyesal ke­napa sampai ketemu dengan orang seperti itu, aaai....! Kalau tidak pergi, aku­pun tak bakal bisa tidur."
Yan Jit menghela napas panjang pula.
"Untung saja aku adalah seorang laki‑laki, coba kalau perempuan, bisa berabe jadinya."
Kwik Tay‑lok tertawa pula.
"Kalau kau benar‑benar seorang gadis, yang tidak tahan justru adalah aku sendiri."
Bila bertemu dengan manusia seperti Kwik Tay‑lok, siapapun akan dibuat kehabisan daya dan gelengkan kepalanya berulang kali.
Akhirnya Yan Jit kena diseret pula keluar dari rumah, tapi baru saja mereka melang­kah keluar dari pintu gerbang, dengan cepat wajahnya menjadi tertegun.
Waktu itu tengah malam sudah lewat, se­harusnya orang di kota sudah pada tidur, malah ada pula yang hampir bangun dari tidurnya.
Tapi kenyataannya, suasana dibawah bukit terang benderang bermandikan caha­ya, sudah ti­ga bulan lebih Kwik Tay‑lok mengendon di situ belum pernah ia saksikan suasana yang begini terang benderang di­dalam kota.
"Masa hari ini sudah tahun baru ?" gumam Kwik Tay‑lok terheran-heran.
"Agaknya belum?"
"Kalau belum tahun baru, kenapa begini ramai suasana didalam kota sana . . . ?"
“Sekali pun di waktu tahun baru, belum tentu suasana ditempat ini bisa seramai ini"
Kwik Tay‑lok segera menyambar tangan­nya dan kembali menariknya untuk pergi dari situ.
"Hayo berangkat !" serunya, "kita harus cepat‑cepat sampai ke kota dan ikut menghadiri keramaian disana."
"Memangnya kau anggap aku tak mampu untuk berjalan sendiri? Kenapa sih kau suka amat menarik tanganku? Kau anggap aku su­dah lumpuh tak mampu bergerak?"
Kwik Tay‑lok segera tertawa haha hihi dengan wajah konyol.
"Heeehhh . . . . heeehhh. . . heehhh, kalau memang kau tak suka di gandeng olehku, baik­lah, kalau begitu kau saja yang menarik‑narik tanganku".
Yan Jit segera menghela napas panjang.
"Aaaai ! Tampaknya aku harus segera berganti nama lagi, aku harus ganti nama menjadi Yan Pat!"
"Kenapa?" tanya Kwik Tay‑lok keheranan.
"Yaaa !Setelah bertemu dengan manusia semacam kau, aku lebih suka mati sekali lagi dari pada harus hidup berdampingan denganmu setiap hari, makan hati rasanya !"
Kwik Tay‑lok tidak memberi komentar lagi, ia cuma meringis sambil tertawa getir.
Dalam kota hanya berdiam tiga ratus jiwa penduduk, sekarang dari setiap rumah me­man­carkan sinar lentera, lagi pula pintu dibentangkan lebar‑lebar, seolah‑olah mereka sedang menyambut kedatangan dewa rejeki.
Cuma yang mereka sambut kedatangan­nya bukan dewa rejeki, melainkan sumber penyakit yang jahat.
Beberapa puluh orang bertopi merah, ber­jubah gemerlapan dan menyoren golok sambil mengangkat obor tinggi‑tinggi se­dang melakukan penggeledahan rumah demi rumah.
Baru saja Yan Jit dan Kwik Tay lok turun gunung, mereka telah menyaksikan si an­jing­ buldok berdiri ditengah jalan sambil bertolak pinggang, sikapnya yang garang dan keren persis seperti seorang panglima perang dimedan laga.
Kwik Tay‑lok segera menyongsong dirinya lalu menegur sambil tertawa:
"Kim ciangkun, apakah kau bersiap‑siap membuka medan pertarungan ditempat ini?"
Paras muka si anjing buldok itu seakan­-akan dilapisi oleh hawa dingin yang me­nyeramkan, tapi setelah menjumpai keda­tangannya, se­kulum senyuman segera menghiasi wajahnya.
"Yaa, apa boleh buat ? Terpaksa aku ha­rus berbuat demikian, kalau bukan keadaan yang terpaksa, akupun tidak ingin meng­ganggu ketenangan rakyat biasa"
"Kalau sudah tahu mereka adalah rakyat biasa, kenapa kau masih mengusik kete­nangan mereka ?" tegur Yan Jit.
Si anjing buldok menghela napas panjang.
"Aaai.. . . .. kami hanya tahu kalau barang curian itu masih ada dikota dan belum diangkut pergi, tapi disimpan dimanakah ? Oleh sebab itu terpaksa aku harus mengerahkan segenap opas yang berada pada delapan belas keresidenan disekitar tempat ini untuk melakukan penggeledahan secara serentak".
Setelah tertawa, ia melanjutkan:
"Asal barang curian itu bisa ditemukan ditempat ini, jangan harap Hong Si‑hu bisa melarikan diri lagi dari sini".
"Kalau begitu, kita tak boleh masuk ke dalam kota ?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata anjing buldok itu, serunya dengan cepat:
"Malam sudah larut, mau apa kalian ber­dua memasuki kota ?"
"Minum arak."
"Minum arak di warungnya Moay Lo‑kong ?”
'Ehhmm, arak di atas bukit sudah habis, padahal kami belum terlalu cukup".
Si anjing buldok segera tertawa.
"Tempat itu sudah kami geledah hampir setengah harian lamanya, yang berhasil ditemukan cuma sekeping uang emas, kalau kalian berdua hendak berkunjung ke situ, silahkan saja !"
Ia lantas memberi tanda kepada para opas dijalan, kemudian ia sendiripun me­nyingkir ke samping.
Setelah berjalan sekian lama, Yan Jit baru berkata sambil tertawa:
"Tampaknya dia sangat memberi muka kepadamu"
"Yaa, karena ia gagal mengetahui asal-usulku".
"Benarkah nama‑nama yang kau sebutkan satu‑persatu tadi adalah nama‑nama guru­mu ?'
"Tepat sekali, aku tidak bohong".
"Sekalipun kungfumu tidak terlalu hebat, aku pikir belum tentu mereka sanggup un­tuk melatih seorang murid semacam kau".
Kwik Tay‑lok segera tertawa.
"Yang kupelajari bukan keistimewaan dari ilmu silatnya, melainkan kelemahan dari kungfu mereka."
"Kelemahan‑kelemahannya ?"
"Apabila kusaksikan dalam ilmu silat mereka terdapat titik kelemahan, maka aku akan berusaha dengan sepenuh tenaga menghin­darinya. Itulah sebabnya, diantara orang yang pernah kujumpai tentu ada seorang diantaranya adalah guruku, sebab aku telah mempelajari kele­mahan‑kelemahan tersebut dari mereka"
Ehmm . . . tak kusangka kalau kepan­daianmu lumayan juga" kata Yan Jit sambil mengerling sekejap kearahnya.
"Berada di hadapanmu, akupun tak usah berpura‑pura lagi," ujar Kwi Tay‑lok dengan serius. "ilmu pengetahuanku sesungguhnya memang luas dan dalam sekali."
Yan Jit tak tahan untuk tidak tertawa geli.
"Kalau begitu darimana kau pelajari se­mua keistimewaanmu itu?" katanya.
"Pernah aku bertanya kepadamu soal alas sepatumu? Pernahkah aku bertanya kepa­damu tentang kematianmu yang tujuh kali itu?"
"Tak pernah!"
"Kalau memang begitu, kenapa kau harus bertanya kepadaku ?"
Moay Lo‑kong adalah seorang jejaka tua, dalam warungnya besar kecil seluruhnya memi­liki empat buah kamar.
Sebuah tempat berjualan, sebuah dipakai untuk dapur, sebuah lagi untuk tempat tidur­nya.
Yang paling penting adalah yang paling belakang, disitulah dia memanggang itik dan ayam.
Kamar itu selalu berada dalam keadaan tertutup, karena bumbu Moay lo‑kong adalah menurut "resep rahasia", bila resep itu sampai tercuri orang, akibatnya mangkuk nasinya bisa pecah.
Ketika Yan Jit sekalian tiba di situ, Moay Lo‑kong sedang berada dalam kamar pang­gangnya, meski pintu ruangan tertutup ra­pat, namun terendus bau harum yang sedap mengepul keluar dari celah‑celah pintu.
Mengendus bau seharum itu, Kwik Tay‑lok segera menelan air liurnya menahan lapar, de­ngan suara keras teriaknya:
"Lo‑kong, ada relasi yang datang, kenapa kau belum muncul juga?"
Lewat beberapa saat kemudian, Moay lo-kong baru muncul dari balik ruangan, tubuhnya penuh berminyak, seakan‑akan baru keluar dari kolam minyak babi.
Setelah bartemu dengan Kwik Tay‑lok, wajah yang tidak sabar itu baru menunjuk­kan sekulum senyuman.
"Agaknya malam ini semua orang tak bisa tidur, usahaku pasti akan lebih baik, maka aku sengaja memanggang puluhan ekor itik sebagai persediaan, tak heran aku lebih re­pot dari ke­adaan biasa."
Kwik Tay‑lok tertawa.
"Lo‑kong !" katanya, "kau tak punya anak, tak punya bini, seorang diri hidup le­bih irit, kenapa tidak berganti dengan satu stel baju baru ? Buat apa hasil keuntunganmu selama ini?"
"Tiap hari kerjaku ada di dapur dan ber­teman dengan minyak, buat apa membuat baju baru ? Apalagi aku tak kuatir keba­nyakan uang, semakin banyak yang kudapat toh semakin baik.”
Yan Jit segera menyela sambil tertawa:
“Apa yang dikatakan memang kata‑kata yang sejujurnya!"
"Orang jujur tentu tak pernah berbo­hong!"
"Moay Lo‑kong memang seorang yang jujur," Kwik Tay‑lok menambahkan. "konon sudah belasan tahun dia datang kemari, tapi tempat tinggal si janda Tio yang tinggal di gang sik‑tau‑keng di belakang Kiat‑pay‑hong pun tak pernah dikunjungi."
"Dimana sih letaknya gang Sik‑tau‑keng tersebut ?"
"Sik‑tau‑keng adalah suatu tempat yang indah," jawab Kwik Tay‑lok sambil tertawa, "bukan saja penuh dengan perempuan can­tik, di situpun bisa dinikmati kehangatan dan ke­mesraan mereka".
"Kau pernah kesana?" tanya Yan Jit sam­bi1 melirik sekejap kearahnya.
"Aku bukannya tak ingin ke situ, cuma setiap kali setelah mabuk, aku selalu lupa untuk berkunjung ke situ."
"Setelah sadar, kenapa kau tidak ke situ?"
"Dalam keadaan sadar aku tak berani ke­sana.”
"Masa kau tidak berani?" Jengek Yan­-Jit dingin.
"Aku takut setelah gadis‑gadis cantik itu bertemu dengan lelaki tampan macam aku, me­reka enggan untuk melepaskan diriku lagi."
Yan Jit tak tahan untuk tidak tertawa geli.
“Tempat semacam itu kenapa harus ter­le­tak ditengah kota, apa tidak kuatir membuat istri‑istri orang yang tinggal di situ menga­muk?"
"Malam sudah begini larut, apakah kalian berdua masih ingin minum arak. . . . . . . ? " tanya Moy Lo‑kong.
"Dia ingin datang kemari untuk menik­mati ayam panggang yang baru dikeluarkan dari panggangan," kata Yan Jit.
"Baik, akan kupilihkan seekor yang paling gemuk."
Ia putar badan dan masuk ke dalam.
Ternyata Kwik Tay‑lok mengikuti di bela­kangnya sambil berkata:
"Aku juga ingin masuk kedalam untuk melihat‑lihat."
"Belakang situ kotor dan bau, apanya yang bagus dilihat?" seru Moay Lo‑kong sambil berhenti.
"Aku tidak takut kotor, bagaimanapun juga aku sudah cukup kotor."
"Aaai . . . . . ! " Yan Jit menghela napas, "Jika dia sudah berkata hendak pergi, lebih baik biarkan saja dia pergi, kalau tidak sam­pai pagipun dia tetap ngotot hendak masuk juga."
Moay Lo‑kong segera tertawa pula.
"Di belakang sana suasana gelap gulita, kalau berjalan kau musti berhati hati," kata­nya.
Suasana di halaman belakang memang cukup gelap gulita.
Kamar panggangan berada di ujung hala­man itu juga merupakan ruangan yang pa­ling gelap.
Selangkah demi selangkah Moay Lo‑kong berjalan ke belakang, ia berjalan pelan sekali.
Sambil tertawa Kwik Tay‑lok segera ber­kata:
"Kalau dilihat dari jalannya yang terhu­yung‑huyung, agaknya kau baru minum arak?"
"Malam ini udara sangat dingin, aku cu­ma minum dua cawan, siapa tahu rasanya su­dah begitu mabuk .........”
Tiba‑tiba kakinya sempoyongan seperti mau roboh ketanah.
Baru saja Kwik Tay‑lok hendak mema­yangnya, mendadak Moay Lo‑kung memba­likkan tubuhnya, seperti naga sakti yang baru keluar dari samudra, seperti juga bu­rung manyar yang terbang di angkasa, gerakan tubuhnya gesit sekali sehingga su­kar dilukiskan dengan kata­-kata.
Baru saja Kwik Tay‑lok menjulurkan ta­ngannya, nadi pada pergelangan tangannya su­dah dicengkeram.
Mimpipun Yan Jit tidak mengira kalau si kakek tua bangka yang biasanya untuk berja­lanpun susah, sekarang tiba‑tiba bisa berubah begini menakutkan.
Dalam kagetnya ia siap menerjang ke muka.
"Berhenti !" Moay Lo‑kong segera mem­bentak, "kalau tidak, akan kucabut selembar jiwanya !"
Kali ini dia berbicara dengan dialek utara­nya yang terang, sama sekali tidak mem­bawa dialek Kwang‑tongnya yang kaku.
Yan Jit menjadi tertegun, serunya ter­tahan: “Kau . . . . kau adalah. . . . !”
"Dia adalah Hong Si‑hu!" ujar Kwik Tay-lok sambil tertawa, "dia juga orang yang telah mengangkut pergi peti‑peti di bawah ranjang kita, masakah kau tak pernah ber­pikir sampai ke situ ?"
Meskipun nadinya telah dicengkeram orang, nyawanya sudah berada di ujung tan­duk, namun senyuman masih menghiasi bibirnya seakan‑akan tak acuh terhadap semuanya itu.
"Betul, akulah Hong Si‑hu, dari mana kau bisa tahu ?" kata Moay Lo‑kong ketus.
"Sebetulnya aku cuma menduga sekena­nya saja, sebab kecuali si tongkat, si anjing buldok, si orang baju hitam dan kami ber­empat hanya kau seorang yang tahu kalau kami punya uang emas, hanya kau yang mempunyai kesempatan untuk mengangkut pergi peti‑peti itu lebih dulu sementara kami pelan‑pelan naik ke atas gunung".
Hong Si‑hu mulai tertawa dingin.
'Selain itu," kata Kwik Tay‑lok lebih jauh, "kau sudah pernah dituduh secara pena­saran oleh si tongkat sekalian, sekarang mereka pasti tak akan mencurigaimu lagi, apalagi kamar panggangan tak boleh di­kunjungi siapapun, bila peti‑peti itu disim­pan di sana maka hal ini jauh lebih baik lagi".
"Masih ada?"
"Si anjing buldok tersohor karena daya penciumannya yang tajam, kalau memang ia pernah berjumpa denganmu, berarti bau badanmu tak akan bisa mengelabuhi daya pencium­annya, oleh sebab itu kau sengaja berdagang ayam dan itik panggang".
Sambil menghembuskan napas panjang ia berkata lebih jauh:
"Sebab bau badan manusia manapun tak akan setebal bau minyak dari itik panggang, sekalipun perempuan yang berbau rase juga tidak terkecuali . . .”
"Masih ada lagi?"
"Masih, aku dengar Hong Si‑hu adalah se­orang setan berjiwa sempit yang kikirnya ma­cam kacang arab, sekalipun uang yang di dapat dari hasil mencuri juga enggan di­hambur‑ham­burkan, bahkan mencari binipun enggan. Sela­ma hidup sampai sekarang, belum pernah kujumpai orang yang berjiwa sesempit kau, da­ging segar arak wangi enggan dicicipi, tapi sisa makanan orang dinikmatinya dengan lezat."
Tiba‑tiba ia tertawa dan melanjutkan:
"Sekarang aku baru merasa bahwa na­mamu itu memang cocok sekali, kalau Lim Hu mem­peristri bunga bwe dan beranak bangau, maka istrimu adalah kau sendiri, itulah sebabnya kau bernama Si‑hu (istri diri sendiri)."
Tampaknya ia merasa bangga sekali de­ngan kesimpulan yang berhasil didapatkan itu, saking gelinya air matapun sampai jatuh bercucuran.
Orang lain tak ada yang tertawa, mereka tak mampu tertawa lagi.
Hong Si‑hu memandangnya dengan sorot mata dingin, menanti pemuda itu selesai terta­wa, dia baru berkata dengan ketus:
"Masih ada yang lain ?"
"Tidak ada lagi, ini sudah lebih dari cu­kup, tiga macam persoalan kalau digabungkan menjadi satu maka Hong Si‑hu menjadi Moay lo‑kong, Moay Lo‑kong pun menjadi Hong Si‑hu".
"Tidak kusangka kau si keledai kecilpun bisa sepintar ini," jengek Hong Si‑hu.
"Sekalipun orang yang paling bodoh, se­panjang hidupnya paling tidak ada dua kali menjadi pintar, apalagi aku sesungguhnya ada­lah seorang yang berbakat bagus, cuma kadang kala suka berlagak bodoh".
"Bukankah kau ingin berkunjung ke ka­mar panggangku ?"
"Sebenarnya memang ingin!"
"Baik, masuklah !"
"Sebetulnya ingin, tapi sekarang aku tak ingin lagi, karena aku tak ingin dijadikan ayam panggang yang digantung di atas tiang panggangan."
Hong Si‑hu segera tertawa dingin.
"Sayang sekali, sekarang tak mau pergi­pun kau harus pergi juga."
"Ia kau bunuhpun tak ada gunanya" kata Yan Jit pula, "selain masih ada aku, aku toh bisa menguarkan pula rahasia ini kepada siapapun juga"
"Setelah ia masuk, tentu saja kau juga harus masuk, karena kau tak akan melepas­kan kesempatan yang baik untuk menolong temanmu, aku sudah hidup lima enam puluh tahun di dunia, kalau soal itu mah paling tidak bisa ku keta­hui!'
Yan Jit menggigit bibir menahan emosi, sepasang matanya sudah berubah menjadi me­rah padam, jangankan seorang jago ka­wakan yang sudah berusia lima‑enam puluh tahun, se­kalipun seorang bocah yang beru­sia tiga tahun juga dapat melihat betapa kuatir dan menaruh perhatiannya dia terha­dap Kwik Tay‑lok.
Terdengar Kwik Tay‑lok tertawa terbahak bahak: "jika dalam hidupnya mempunyai seorang teman akrab seperti dia, sekalipun harus mati juga tidak mengapa, cuma. . . . “
"Cuma kenapa ?'°
"Aku rasa, kau tak akan membunuh kami."
“O, ya ?”
"Sebab sekalipun kau membunuh kami berdua juga tak ada gunanya."
'Oooh"
"Bukan saja Ong lotoa tahu kalau kami datang kemari, si anjing buldok juga tahu, bila kami lenyap secara tiba‑tiba, masa mereka tak akan curiga ?"
"Itu sih urusan belakangan," kata Hong‑Si‑hu ketus.
"Kalau kau memang acuh terhadap per­soalan ini, kenapa belum juga membunuh­ku?"
"Bagaimanapun juga tak bakal ada orang orang kemari lagi, kenapa aku musti terburu napsu ?”
"Kau belum juga turun tangan karena kau belum dapat mengambil keputusan, aku tahu kau selalu berhati‑hati, kalau bukan suatu hal yang sangat meyakinkan, kau tak akan melakukannya !"
"Asal kau bersedia untuk melepaskan dia mungkin kamipun dapat merahasiakan i­denti­tasmu itu", tiba‑tiba Yan Jit berkata.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Hong Si‑hu, ia tampak seperti seekor rase tua.
Penyakit dari seekor rase tua adalah ter­lalu banyak curiga, bukan cuma curiga kepada orang lain, juga curiga terhadap diri‑sendiri.
'Kau tahu, aku tidak tertarik dalam usaha menangkap penyamun" kata Kwik Tay‑lok sambil tertawa, "tapi aku paling benci kalau diriku ditipu orang secara mentah‑mentah".
"Siapapun tak suka kalau dirinya ditipu orang", seseorang berkata pula sambil ter­tawa.
Jelas itulah suara dari si anjing buldok.
Sementara ucapan tersebut berkuman­dang, si anjing buldok, si tongkat dan si orang baju hitam pelan‑pelan masuk ke dalam halam­an.
Pada saat yang bersamaan pula dari em­pat penjuru dinding pekarangan muncul api obor yang diangkat tinggi‑tinggi, beberapa puluh orang opas yang membawa busur dan golok terhunus telah mengepung halaman kecil itu rapat-rapat.
Paras muka Hong Si‑hu bersinar terang, entah itu lantaran minyak? Atau keringat? Tiba‑tiba tangan diayunkan ke muka.
Kwik Tay‑lok yang mendekati seratus kati beratnya itu tahu‑tahu sudah terlempar ke udara dan menerjang ke arah anjing buldok dan orang yang berbaju hitam itu.
Tubuh Hong Si‑hu seperti sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya. Weess !" meluncur ke atas, dalam waktu singkat ia sudah diatas atap rumah dengan merampas dua bilah golok.
Kemudian dengan Hong‑hung‑tian‑ci (bu­rung hong menentang sayap) goloknya dite­bas ke kedua belah samping, cahaya golok menyambar lewat, dua orang opas sudah rontok dari atas rumah.
Kemudian sekali berkelebat, Hong Si-hu sudah berada sekitar tiga kaki jauhnya dari posisi semula.
Pencoleng ulung yang sudah puluhan ta­hun malang melintang dalam dunia persila­tan dan banyak melakukan pencurian ini betul‑be­tul memiliki ilmu silat yang luar bia­sa.
Bukan saja gerakan tubuhnya sangat ce­pat, serangannya juga cepat, bahkan pandai sekali memanfaatkan kesempatan.
Inilah kesempatan yang pertama baginya, tapi juga merupakan kesempatannya yang ter­akhir kali.
Sekalipun ilmu meringankan tubuh yang dimiliki si orang berbaju hitam dan si anjing buldok lebih hebat darinya, setelah terha­dang oleh tubuh Kwik Tay‑lok yang dilem­parkan ke arah mereka, sulit juga buat kedua orang itu untuk melakukan penge­jaran.
Mendadak dari balik atap rumah muncul dua sosok manusia yang menghadang jalan pergi Hong Si‑hu.
Salah seorang diantaranya seperti meng­gapekan tangannya, Hong Si‑hu tahu‑tahu sudah terpental dan terhuyung‑huyung ke belakang, kemudian "Blamm!" tubuhnya terjatuh ke tanah, kebetulan jatuh tepat diatas badan dua orang opas.
Dua orang yang baru muncul itu dengan enteng melayang turun ke dalam halaman, yang seorang berwajah dingin dan kaku, sedang yang lain berwajah halus seperti perempuan.
Ternyata Ong Tiong dan Lim Tay peng yang telah datang.
Waktu itu Kwik Tay‑lok telah berdiri tegak sambil berkeplok dan tertawa tergelak, seru­nya:
"Ong lotoa, kau betul‑betul memiliki kepandaian yang luar biasa !"
"Bukan aku!" kata Ong Tiong.
Bukan dia, berarti adalah Lim Tay‑peng.
Betulkah manusia yang halus seperti nona cilik ini memiliki ilmu silat yang begini he­bat?
Siapapun tidak menyangka, tapi siapapun tak bisa tidak harus mempercayainya.
Sementara itu tubuh Hong Si‑hu telah dii­kat kencang‑kencang bagaikan sebuah bak-cang.
Si anjing buldok mendongakkan kepalanya dan menghembuskan napas panjang, katanya sambil tertawa:
"Dua puluh tahun sudah aku melacaki je­jaknya, hari ini akhirnya berhasil juga ku­tangkap si rase tua ini",
"Barang curian itu pasti berada dalam kamar panggangnya, setiap saat barang itu bisa diangkut keluar", kata Kwik Tay‑lok.
"Ini yang dinamakan tertangkap basah!' kata si anjing buldok sambil tertawa, bukan cuma orangnya tertangkap, hasil curiannya juga tertangkap, betul‑betul suatu sukses yang luar biasa".
"Kau tak usah berterima kasih kepadaku, kalau ingin berterima kasih, berterima kasihlah kepadanya".
Ia menuding ke arah Lim Tay‑peng, dan katanya lagi sambil tertawa:
"Meskipun temanku ini berwajah halus seperti perempuan, tapi kalau sudah mi­num arak, dia seperti sebuah gentong air".
Si anjing buldok melirik sekejap ke arah si tongkat, kemudian ujarnya
"Kita memang harus baik‑baik berterima kasih kepada mereka, menurut pendapatmu bagaimana kita harus berterima kasih?"
"Tangkap semua, tangkap mereka se­mua!" sera si tongkat sambil menarik muka.
Hampir melompat Kwik Tay‑lok saking kagetnya.
"Apa kau bilang ?" teriaknya.
"Ke empat orang ini menyembunyikan ha­sil curian dalam sarangnya, kalau bukan se­komplotan dengan Hong Si‑hu tentu merupa­kan sekelompok penyamun ! Ring­kus mereka semua dengan tali yang besar, setelah pulang siksa mereka sampai menga­ku !"
Hampir meledak isi perut Kwik Tay‑lok saking gusarnya, ia tertawa bergelak, lalu se­runya:
"Ingin kulihat siapa yang berani mengu­sik diriku !"
"Kau berani melawan hukum ?" bentak si tongkat.
"Tidak berani !" tiba‑tiba Ong Tiong me­nyahut.
"Kalau memang tak berani, kenapa tidak segera menyerahkan diri !"
"Walaupun kami tak berani melawan hu­kum sayang kau bukan seorang opas, kau adalah seorang pencoleng."
"Lebih buas dari pencoleng !" Yan Jit menambahkan.
"Kalian mengejar Hong Si‑hu selama ini sesungguhnya bukan orangnya yang dicari, melainkan uangnya"
"Yaa, seorang opas berapa sih gajinya?" sambung Yan Jit, "berapa banyak uang kalian terima? Tapi kalau dilihat dari baju yang di­pakai Kim toaya ini, mungkin se­orang ciang­kunpun belum tentu bisa me­ngenakannya".
“Apalagi mereka masih bisa menyewa sau­dara berbaju hitam ini sebagai pembunuh bayaran, uang yang dikeluarkan pasti besar sekali, tak mungkin seorang hamba negara bisa sekaya ini"
"Tapi hasil curian banyak sekali, dimana-mana ada pencoleng, maka barang curian tak pernah ada habisnya"
"Kalau pencoleng kecil, memang ada baiknya dibawa pulang untuk tumbal naik pangkat, kalau pencolengnya sudah kelas kakap seperti Hong Si‑hu, lebih baik dima­kan sendiri saja"
Yan Jit manggut‑manggut, terusnya pula:
"Apalagi jika berhasil menangkap penco­leng seperti ini, paling tidak hasilnya bisa di­pakai selama dua tiga tahun."
"Tapi kalau kami dibiarkan hidup, suatu hari rahasia ini pasti bocor, maka lebih baik kalau kamipun dibunuh biar selamanya bungkam."
"Perbuatan kalian meski lebih ganas dari pencoleng, namun tidak melanggar hukum, itu baru sip namanya!"
"Aku toh sudah bilang sedari tadi, hitam makan hitam selamanya lebih menarik, ta­kutnya kalau salah masuk ke lubang hidung!"
Demikianlah, ucapan dari Yan Jit dan Ong Tiong yang saling bersahut-sahutan ini bu­kan saja membuat semua orang termangu, bahkan Kwik Tay‑lok serta Lim Tay‑Peng pun ikut tertegun.
Si tongkat beberapa kali hendak me­ngumbar hawa amarahnya, tapi selalu dicegah oleh si­ anjing buldok.
Menanti mereka sudah selesai berbicara, si­ anjing buldok baru berkata sambil ter­tawa:
"Perkataan kalian memang benar, kuakui semuanya."
Lalu sambil menuding ke arah, si tongkat katanya sambil tertawa:
"Orang ini baik di kota Kay‑hong, Lok­yang, Ki‑lam, maupun Thian‑cing semuanya punya rumah gedung, dalam gedung‑gedung itu pasti ada seorang bini mudanya, bicara dari soal gaji yang diteri­manya tiap bulan, mana mampu dia meme­liharanya ?"
"Binimu tidak lebih sedikit dariku !" seru si tongkat sambil menarik muka.
"Sayang sekali bini‑bini kalian itu sebentar lagi bakal menjadi janda semua," kata Kwik Tay‑lok dengan gusar.
Si anjing buldok segera tertawa.
"Kalian tahu, mengapa aku mau membi­carakan persoalan ini kepada kamu sekalian?"
Setelah tertawa, ia menuding ke sekeli­ling dinding pekarangan itu, lalu ujarnya le­bih lanjut:
"Di sini tersedia tiga puluh busur otomatis berpegas tinggi, empat puluh golok kilat, dan jago‑jago berilmu tinggi, mereka semua adalah anak buah kami, tak nanti kalian di­biarkan pergi dari sini dalam keadaan hidup."
"Mati karena hujan anak panah, rasanya tentu tak sedap," sambung si tongkat dingin.
"Apalagi masih ada lagi saudara hitam yang sengaja kami sewa untuk melindungi kami."
Setelah tertawa, si anjing buldok itu me­nyambung lebih jauh.
"Tentu saja kalian juga tahu kalau dia ti­dak she Hek, paling tidak sebilah pedangnya bisa menghadapi kalian bertiga, oleh karena itu aku lihat lebih baik kalian menurut per­kataanku saja, paling tidak jauh lebih ena­kan dari pada mati."
"Kentut busuk makmu !" bentak Kwik-Tay‑lok gusar.
Paras muka si anjing buldok itu segera berubah hebat, serunya dengan lantang:
"Bunuh dulu orang ini, gajimu akan ku­tambah.”
Selama ini manusia berbaju hitam itu cuma berdiri sambil bergendong tangan, tiba‑tiba ia bertanya:
"Kau suruh siapa membunuhnya ?°`
"Tentu saja menyuruh kau !"
"Membunuh satu orang berarti tiga ratus tahil uang emas."
"'Baik !"
Tiba‑tiba ia mencabut keluar pedangnya, pedangnya, lalu cahaya tajam berkelebat lewat, ia telah menusuk bahu si anjing bul­dok.
Bukan tusukan pedang panjang, melain­kan sebilah pedang pendek.
Didalam sarung pedang yang empat jeng­kal panjangnya itu, ternyata masih di sisip­kan pula dengan sebilah pedang pendek yang satu jengkal tujuh inci panjangnya.
Sesungguhnya si anjing buldok bukan se­orang jagoan yang gampang dihadapi, tapi dia tak menyangka kalau manusia berbaju hitam itu bakal melancarkan serangan kepadanya, lebih tak mengira lagi kalau pedang yang menusuk tubuhnya sebilah pedang pendek.
Dalam kagetnya, si tongkat segera mem­bentak:
"Panah !"
Ditengah bentakan tersebut, tubuhnya se­gera meluncur ke udara berusaha melarikan diri.
Tapi orang lain mana mau melepaskan­nya dengan begitu saja ?
Kwik Tay‑lok dan Yan Jit segera meng­gencet dari kedua belah sisinya mencegah si tongkat melarikan diri.
Ong Tiong sebetulnya tidak bergerak.
Sekarang secara tiba‑tiba ia bergerak, ha­nya bergerak sedikit saja. Tapi gerakannya begitu tepat, begitu cepat, pada hakekatnya sukar untuk dilukiskan dengan kata‑kata.
Si tongkat hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu‑tahu sepasang tangannya se akan‑akan sudah bertambah dengan sebuah borgol.
Jeritan kaget berkumandang datang dari atas dinding pekarangan, yang membawa busur membuang busur, yang membawa golok membuang golok, dalam waktu sing­kat kawanan opas itu sudah pada kabur dari situ. . . . kebaikan yang mereka terima masih belum cukup untuk mengorbankan nyawa dengan percuma.
Kemudian, sepasang mata setiap orang pada mendelik ke arah manusia berbaju hi­tam itu, siapapun tak tahu sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh orang ini.
Sepasang mata si anjing buldok berapi­-api, sambil menggigit bibir menahan marah se­runya:
"Kau telah menerima emasku, kenapa ma­lah menggigit aku, manusia semacam kau lebih busuk dari seekor anjing !"
"Aku memang bukan seekor anjing !" kata si orang berbaju hitam itu hambar.
"Sudah lama aku dengar orang berkata, si sukma yang lolos dari ujung pedang Lam­kiong Cho adalah seorang lelaki sejati, se­lamanya bicara satu tak pernah dua, maka dengan upah tinggi kami mengundangmu untuk melindungi kami, siapa tahu orang yang setiap hari memburu burung manyar, akhirnya kena dipatuk juga oleh burung manyar".
"Sepasang mata kalian memang sudah buta !"
"Kau . . . apakah kau . . . . . “
"Kau kira aku benar‑binar adalah Lam­kiong Cho?" ujar manusia berbaju hitam itu.
Kalau bukan Lamkiong Cho, siapa kau ?''
"Akupun seorang yang khusus mencari gara‑gara dengan orang lain, cuma kali ini aku sengaja mencari gara‑gara dengan kalian."
Sesungguhnya siapakah kau?"
"Atasan kalian Ti‑tok loya sudah lama mengetahui kalau kalian kurang beres, maka sengaja mengutusku untuk menyeli­diki sampai dimanakah ketidak-beresan kalian"
Sesudah memperdengarkan suara tertawa dingin yang pendek tapi lengking, terusnya:
"Sekarang kalian sudah mengaku semua ketidak beresan yang pernah kalian lakukan, buktipun didepan mata, inilah yang dinama­kan tertangkap basah berikut bukti keja­hatan."
Si anjing buldok melototkan matanya bu­lat‑bulat, namun ia tak sanggup berbicara lagi.
Saat itulah si manusia berbaju hitam itu baru menjura kepada Ong Tiong sekalian, katanya sambil tertawa:
"Dalam bidang manapun pasti terdapat oknum‑oknum yang tidak bertanggung jawab, tidak terkecuali didalam bidang alat hukum, moga‑moga saja bila kalian berem­pat berjumpa lagi dengan opas di kemudian hari, jangan me­nyamakan mereka dengan orang ini."
"Terus terang saja, aku sendiripun hampir saja menjadi seorang opas . . . . . . . . . ." kata Kwik Tay‑lok sambil tersenyum.
"Kalau dia sampai menjadi opas sungguh­an, berarti saat mujur bagi kaum pencoleng telah tiba," sambung Yan Jit sambil tertawa.
"Dalam peristiwa ini, beruntung kalian berempat mau membantu, sekarang aku hendak membawa mereka bertiga untuk memberi lapor­an," kata manusia berbaju hi­tam itu kemudian.
"Silahkan!"
Tiba‑tiba Kwik Tay‑lok menepuk bahu Hong Si‑hu, lalu katanya sambil tertawa:
"Padahal masuk penjara lebih enakan, tanggung kau tak usah keluar uang setengekpun."
Hong Si‑hu melototkan sepasang mata­nya bulat‑bulat.
Yaa, kecuali melototkan matanya, apa lagi yang bisa dia lakukan?
"Sedangkan mengenai hasil curian itu...," kata orang berbaju hitam itu.
"Tentu saja hasil curian itu wajib dibong­kar ke dalam kas negara".
"Berbicara sesungguhnya, kasus ini ber­hasil dibongkar oleh kalian berempat, jadi se­pantasnya kalau kalian mendapat seper­tiga ba­gian dari hasil rampokan itu sebagai imbalan, aku harap kalian berempat bersedia untuk ikut kami kekota dan mene­rima imbalan tersebut."
"Belum habis dia berkata, Ong Tiong menukas :
"Tidak usah !"
Untuk mendapat sedikit emas, mereka ha­rus melakukan perjalanan jauh, sekalipun ke­pala harus dipenggal mereka juga enggan untuk melakukan .........
Kwik Tay‑lok, Yan Jit serta Lim Tay-­peng juga enggan.
Dalam pandangan mereka, didunia masih terdapat banyak pekerjaan lain yang jauh lebih penting dari pada uang emas.
Kata Kwik Tay‑lok tertawa:
"Barang‑barang semacam itu kecuali membawa banyak kesulitan buat kami, tidak ada manfaat apa‑apa lagi, aku hanya ber­harap agar ayam‑ayam panggang dan itik‑itik panggang yang ada di kamar pang­gang itu dihadiahkan semua kepada kami, hal mana sudah cukup menggembirakan hati kami semua."
Fajar telah menyingsing.
Suasana dalam kota telah pulih kembali dalam keheningan.
Angin masih berhembus sepoi, salju masih turun dengan deras.
Di dunia ini memang terdapat beberapa macam benda yang tak bisa dirubah oleh per­soalan apapun.
Demikian juga dengan manusia.
Setelah itik‑itik tersebut di panggang se­kian waktu, inilah saatnya untuk matang.
Kwik Tay‑lok sedang merobek paha itik dan siap mendaharnya.
Mendadak, tujuh delapan potong zamrud dan berlian sebesar jari tangan berjatuhan dari dalam perut itik panggang itu.
Mata semua orang mulai terbelalak lebar.
Ketika merobek perut itik panggang lain­nya, ternyata isinya adalah ma-nau dan benda mulia lainnya.
Dari antara tiga empat puluh ekor itik panggang itu, paling tidak ada dua puluh ekor diantaranya yang berisi benda‑benda berharga itu. Yan Jit mengerdipkan matanya berulang kali, tiba tiba ia berseru:
"Mengerti aku sekarang".
"Apa yang kau pahami?"
"Sebetulnya Hong Si‑hu hendak menyem­bunyikan benda‑benda berharga itu didalam perut itik panggang agar mudah diangkut ke­luar kota, bukan saja aman, lagi pula bisa me­ngelabuhi orang lain, siapa tahu kami sudah keburu menerobos masuk, maka baru sebagian kecil dari benda‑benda itu yang disembunyi­kan"
"Masuk akal!" Kwik Tay‑lok mengangguk.
"Saudara hitam itu tak tahu berapa ba­nyak hasil rampokan yang ada di sana, sekalipun tahu juga tak dapat menghitung jumlahnya."'
"Masuk akal!"
"Kenapa kau masih berlagak pilon? pada­hal teori ini sudah kau ketahui sedari tadi" kata Yan Jit sambil tertawa.
"`Aku sudah tahu?" Kwik Tay‑lok mengerdipkan matanya berulang kali.
"Kalau kau tidak tahu, kenapa menyuruh orang untuk memberikan semua itik‑itik panggang itu kepadamu?"
Kwik Tay‑lok. segera menghela napas panjang:
"Aaaai . . . . kalau kau bersikeras untuk ber­pendapat sedemikian, akupun tak bisa apa‑apa"
Tiba‑tiba katanya sambil tertawa:
"Tapi bagaimanapun juga, kita memang berhak mendapat komisi tiga persen, jadi uang ini halal atau tidak, pokoknya kita pakai, kan beres!"
Yan Jit menatapnya tajam‑tajam, lalu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kadangkala aku sendiripun merasa tidak mengerti dengan dirimu."
“O,ya ?”
"Aku tak tahu sesungguhnya kau ini pintar ? Ataukah bodoh ?" ujar Ong Tiong pelan. Itulah kesimpulannya.
Uang adalah benda yang tak boleh ber­pisah dari tangan lelaki, demikian juga de­ngan perempuan.
Uang bisa menimbulkan gara‑gara, pe­rempuan lebih besar lagi menimbulkan gara‑gara.
Kecuali itu, uang masih mempunyai suatu persamaan dengan perempuan. Bila dida­patkan secara gampang, maka perginya juga semakin cepat.
Kwik Tay‑lok selalu menganggap dirinya adalah seorang yang mempunyai standard, perbuatan apapun yang dilakukan selalu mempu­nyai standard.
Standarnya untuk makan itik panggang adalah:
"Bila ada daging, dia tak akan mengge­rogoti tulang, bila ada kulit, dia tak akan makan daging."
Kini kulit itik panggang sudah dikelupas semua, itik yang kulitnya sudah mengelupas ibaratnya seorang perempuan yang lima puluh tahunan yang di telanjangi tubuhnya, tiba‑tiba saja berubah menjadi begitu lucu dan meng­gelikan.
Sebaliknya kalau jeruk seperti seorang gadis berumur dua puluh tahun, makin ber­sih kulitnya di kelupas, semakin menariklah kulitnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar