Kamis, 19 Juli 2012

Pend Riang 32


MENGAPA sebelum angin badai dan hujan deras akan menjelang tiba, suasana selalu diliputi oleh keheningan yang mencekam?

Udara amat bersih, suasana amat cerah.

Tiada badai, tiada hujan deras.

Hujan badai hanya ada didalam hati ma­nusia.

Pend Riang 31


KWIK TAY‑LOK mengawasi istrinya lekat‑lekat, tanpa terasa ia menggenggam ta­ngan istrinya erat‑erat dan berkata de­ngan suara lembut:

"Terima-kasih banyak atas bantuanmu."

"Berterima kasih kepadaku?" Yan Jit me-ngerdipkan matanya dan tertawa. "Atau mung­kin kau berterima kasih kepada rantai emasku situ ?"

Pend Riang 30


K E T I G A orang itu bersama sama mengangguk.

Sebaliknya Kwik Tay lok tidak tahan segera bertanya:

"Walaupun mereka kenal aku, tapi aku tidak kenal dengan mereka, siapakah orang orang itu ?"

"orang muda jaman sekarang memang sudah tidak banyak yang kenal dengan mereka, tapi kau mungkin saja pernah mendengar tentang nama mereka."

"Oh . . . !"

Pend Riang 29


"BUKAN !"

"Memangnya kau khusus datang kemari untuk mencari aku?"

"Benar."

" Ada urusan apa mencari aku ?"

"Suruh kau pulang."

Pend Riang 28


“BETUL," sahut Sui Loan kim sambil menundukkan kepala. "lebih baik kau cepat-cepat berangkat, siapa tahu dia pun sedang menantikan kedatanganmu . . . . . ?"

Kwik Tay lok menatapnya lekat lekat, seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat tersebut diurungkan.

Pend Riang 27


BELUM lagi ucapannya selesai diucapkan, wajahnya semakin memerah, larinya semakin cepat, seakan akan takut kalau sampai dikejar orang.

"Kecil amat nyali nona cilik ini," kata Kwik Tay lok kemudian sambil tertawa.

"Melihat tampangmu yang buas dan seram, gadis yang bernyali besarpun akan ketakutan juga dibuatnya," sela Yan Jit dingin.

Rabu, 18 Juli 2012

Pend Riang 26


"TAMPAKNYA pengetahuanmu benar-benar amat cetek, sedikit keterangan tentang soal ini tidak dimiliki"

"Aku juga tahu kalau penyakitnya tidak kecil, tapi mengapa aku harus pernah mendengar tentang dirinya?"

"Sebab sejak berumur sembilan tahun, dia sudah merupakan orang yang ternama di dalam dunia persilatan"

"Umur sembilan kau maksudkan berumur sembilan?"

Yan Jit mengangguk.

Pend Riang 25


BESAR kecil dan penyakit apapun yang kuidap biasanya akan sembuh kembali bila su­dah minum arak."

"Ooooh. . . . . ."

"Sekarang, apakah kau juga minum arak barang dua cawan?"

"Tidak!"

Pend Riang 24


"HAAAHHH . . . . haaahhh . . . . . haaahhh . . . . bagus, aku tak akan bertanya, aku bi­lang tak akan bertanya tak akan berta­nya . . . . tapi, bolehkah kuajukan pertanyaan yang paling akhir ?"

"Tanyalah !"

"Tahukah kau, apa sebabnya aku sampai datang kemari sekarang?"

Pend Riang 23


ORANG itupun mustahil adalah Bwe Ji‑ka, perutnya telah kau tonjok keras‑keras, tidak balas menjotos perutmu sudah terhitung amat sungkan sekali."

Kwik Tay‑lok tertawa getir.

"Itulah sebabnya, meskipun aku kena di­desak sampai mampus oleh para penagih hutang tersebut, tak nanti dia akan mele­lehkan setitik air matapun untuk diriku."

Pend Riang 22


"BILA USIA seseorang semakin menanjak tua, seringkali jalan pikirannya menjadi bertambah sempit, tahun ini Kim toa‑siok telah berusialimapuluh tahunan lebih, maka dari itu . . . ."

"Maka dari itu kenapa?"

"Sekarang dia sudah menemukan bahwa mempermainkan berkantung‑kantung pe­luru emas­nya didalam rumah, ternyata jauh lebih me­nyenangkan daripada mempergu­nakannya untuk menimpuk orang"

Pend Riang 21


KEMBALI Kwik Tay‑lok menghela napas panjang katanya:

"Kalau begitu, bukankah kita betul‑betul sudah menemui jalan buntu ?"

"Siapa bilang kalau kita sudah menemui jalan buntu ? Jalan itu kegunaannya untuk membawa orang keluar dari kesulitan, asal kau punya tekad yang besar, asal kau bersedia me­lakukannya sudah pasti akan kau jumpai jalan­an tersebut.”

Selasa, 17 Juli 2012

Pend Riang 20


SANG SURYA lambat laun makin me­ninggi dan meninggalkan bayangan tubuh yang memanjang di atas tanah.

Punggungnya tampak sedikit membung­kuk, seolah‑olah di atas pundaknya telah diberi beban yang berat sekali.

Kwik Tay‑lok serta Yan Jit belum pernah menyaksikan keadaannya semacam itu, men­dadak merekapun merasakan hati sendiri turut menjadi berat dan gundah.

Pend Riang 19


KARENA bila kau mempergunakan senjata khusus yang aneh, seringkali kali akan ber­hasil meraih banyak keuntungan dari musuh­mu. Suatu keberuntungan yang se­ringkali di luar dugaan.

Oleh sebab itu, bila kau dapat mencipta­kan semacam senjata khusus yang bisa mem­buat orang lain di luar dugaan, kau pasti dapat mencari nama yang tenar dalam dunia persilatan . . . . . . . menggunakan darah orang lain untuk mencetak namamu.

Pend Riang 18


KENAPA ? Tanya Yan Jit dengan paras muka berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

"Sebab sebelum fajar menyingsing nanti, bila aku masih belum sampai di bawah Layang­-layang tersebut, maka Lim Tay‑peng akan mati!"

Sewaktu mengucapkan perkataan itu, wa­jahnya tampak murung dan sedih sekali.

Pend Riang 17


ORANG TUANYA bukanlah seseorang yang luar biasa.

Teman‑temannya juga tak pernah mena­nyakan soal keluarganya dan soal orang tua­nya, mereka hanya berkata:

"Darimana kau latih ilmu silatmu itu?"

Pend Riang 16


AKHIRNYA SECARA lamat‑lamat dia dapat membaca juga tulisan yang tercantum di atas kertas itu.

"Hati‑hati kakimu . . . "

Ketika membaca tulisan itu, kakinya menjadi kehilangan keseimbangan dan segera ter­jerumus ke bawah.

Ternyata di bawah sana terpasang sebuah perangkap.

Pend Riang 15


MEREKA cuma berharap Lim Tay peng bisa hidup dengan bebas merdeka persis seperti ketika berada di rumah dulu, maka dalam keadaan demikian dia pasti akan berubah menjadi lebih teguh, lebih matang dam lebih pintar ..... ....

Sebab kesemuanya itulah merupakan apa yang diharapkan Wi hujin selama ini.

Sambil tertawa kembali Kwik Tay Lok berkata:

Pend Riang 14


YAN JIT segera mengayunkan tangannya ke depan, tali yang sebetulnya digunakan untuk membelenggu kakinya itu mendadak meluncur ke depan bagaikan seekor ular berbisa, kemudian sekali menggulung, ke tujuh delapan macam hidangan yang terlempar ke udara itu sudah digulungnya.....

Sementara itu Kwik Tay lok juga sudah menyusup keluar dari dasar kolong meja.

Senin, 16 Juli 2012

Pend Riang 13


SEBILAH golok lengkung yang bersinar tajam, tahu tahu sudah kutung menjadi dua bagian dan... "Trang!" jatuh ke tanah.

Terjatuhnya persis di sisi badan si lelaki berlengan tunggal itu entah apa sebabnya tahu tahu sudah berlutut di atas tanah, berlutut di hadapan si nenek sambil bermandi keringat, tampaknya ia sedang berusaha keras untuk bangkit berdiri, tapi sayang sekalipun segenap tenaganya sudah dikerahkan, ia tetap belum berhasil untuk berdiri.